• Tidak ada hasil yang ditemukan

Tabel 1.1 Komposisi Gas Alam. Komponen Persentase mol (%)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Tabel 1.1 Komposisi Gas Alam. Komponen Persentase mol (%)"

Copied!
6
0
0

Teks penuh

(1)

SIMULASI TEKNO-EKONOMI UNTUK MODIFIKASI RANCANGAN PADA PROSES REGENERASI GLIKOL DI FASILITAS PENGOLAHAN GAS ALAM

Akbar Jati, Bambang Heru Susanto, ST., MT.

Teknik Kimia, Fakultas Teknik Kimia, Universitas Indonesia, Kampus UI, Depok 16424, Indonesia

Abstrak: Pengolahan gas alam bertujuan memenuhi spesifikasi gas jual. Dehidrasi absorpsi menggunakan glikol mampu menghasilkan kadar air di dalam gas alam kurang dari 7 lb/MMscf dan kehilangan glikol maksimum adalah 0,10 gal/MMscf saat regenerasi. Namun, proses regenerasi glikol dengan metode konvensional destilasi atmosferik saat ini terjadi kehilangan glikol sebesar 56,37 gal/MMscf. Simulasi

modifikasi rancangan pada kolom stripping gas dan penambahan unit TEG cooler pada masukan TEG flash

drum mampu mengurangi kehilangan glikol sebesar 0,0849 gal/MMscf. Analisa kelayakan ekonomis menunjukkan bahwa IRR yang didapat sebesar 27,42 % dengan MARR sebesar 21,87 % sehingga modifikasi layak untuk dijalankan.

Kata kunci: Modifikasi, Glikol, Stripping gas I. Pendahuluan

Kebutuhan energi di Indonesia akan semakin meningkat dari tahun ke tahun yang mana diprediksi pada tahun 2015 kebutuhan energi Indonesia akan meningkat sebesar 1,7 MMSBM. Saat ini gas alam mendapatkan perhatian dan menjadi pilihan alternatif utama energi dunia karena lebih murah dan ramah lingkungan, serta lebih mudah dalam pengolahannya. Secara umum pengolahan gas alam dilakukan melalui beberapa proses, yaitu: purifikasi (pemurnian), separasi (pemisahan), dan liquefaction (pencairan) untuk gas yang didistribusikan dalam bentuk cair. Uap air dapat menyebabkan korosi ketika berhubungan

dengan hidrogen sulfida (H2S) dan karbondioksida

(CO2) yang senantiasa terkandung didalam gas

alam. Uap air juga dapat menyebabkan pembentukan hidrat pada temperatur rendah dan

tekanan tinggi. Metode umum untuk

menghilangkan kandungan air dari gas alam adalah dehidrasi absorpsi menggunakan glikol. Dalam

proses ini glikol yang dipakai adalah triethylene

glikol (TEG). TEG yang telah menyerap kandungan air akan mengalir ke kolom regenerasi untuk proses pemurnian TEG (regenerator) yang selanjutnya

dialirkan kembali ke kolom TEG contactor

sehingga tetap mampu bekerja mengurangi kadar

air didalam sale gas kurang dari 7 lb/MMscf.

permasalahan yang sedang terjadi pada proses

regenerasi glikol di PT X, yaitu hilangnya TEG

saat proses regenerasi TEG (Loss of Glycol), dekomposisi atau kerusakan TEG akibat temperatur berlebih pada kolom reboiler ( Thermal Decomposotion of Glycol ), pH Control dan Dew Point Control. Penelitian ditujukan pada pencarian

solusi untuk mengatasi hilangnya TEG saat

regenerasi. Sebagian besar proses regenerasi TEG dirancang untuk kerugian TEG kurang dari 0,10 gal/MMscf gas alam. Saat ini kehilangan TEG dapat mencapai 1,39 usgpm atau sebesar 2000 gal/hari. Dengan laju alir gas 35,48 MMscfd, maka kehilangan TEG mencapai 56,37 gal/MMscf. II. Metode

Pada penelitian ini dilakukan simulasi modifikasi

untuk mencari rancangan yang mampu

menghasilkan kehilangan TEG kurang dari 0,10

gal/MMscf. Tahapan penelitian meliputi proses pengumpulan data, dew point control, simulasi dan optimasi rancangan proses regenerasi TEG, modifikasi rancangan dilakukan sampai kehilangan TEG memenuhi spesifikasi, dilanjutkan analisis kelayakan ekonomi pada tahap akhir.

III. Hasil dan Pembahasan

A. Proses Penentuan Terjadinya Hidrat (Dew Point Control)

Karakteritis sale gas yang ada di proses dehidrasi

absorpsi PT X memiliki tekanan 3,8 MPa [556

psia] dan temperatur 47oC [116,6oF] dengan laju

alir gas dari sumur minyak 1.000.000 std m3/day

[35,48 MMscfd]. Untuk mengetahui kondisi dimana akan terjadi hidrat maka kita perlu terlebih dahulu mengetahui pada kondisi tekanan dan temperatur berapa gas tersebut akan dialirkan dan

komposisi sale gas. Untuk mengetahui kadar air

maksimum tersebut maka simulasi dapat dilakukan dengan menggunakan basis massa gas kering (dry

gas atau sale gas) dan kondisi tekanan dan

temperatur operasi didalam jaringan pipa distribusi.

Tabel 1.1 Komposisi Gas Alam Komponen Persentase mol (%)

Metana 85,5458 Etana 5,4178 Propana 3,6390 i-butana 0,9555 n-butana 0,1047 i-pentana 0,0356 n-pentana 0,0142 Heksana 0,0284 Nitrogen 2,1244 Karbondioksida 2,1346 Air 0,0000

Umumnya keberadaan air dalam gas akan mempercepat proses terjadinya hidrat, semakin

(2)

tinggi kadar air yang terkandung didalam aliran gas, maka pada tekanan yang sama akan mudah terjadi proses hidrat. Hasil fluida gas yang telah mengalami kesetimbangan uap air jenuh tersebut

sekaligus dapat dijadikan sebagai fluida inlet wet

gas pada simulasi dehidrasi gas. Hasil simulasi

kesetimbangan uap air jenuh dapat dilihat pada

tabel 1.2

Tabel 1.2 Kesetimbangan Uap Air Jenuh Gas

Parameter Data

Kadar Air inlet Wet Gas (lb/day) 5099,27

Laju Alir inlet Wet Gas (MMscf) 35,48

Kadar Air (lb/MMscf) 143,72

Hasil simulasi dew point control menunjukkan

bahwa dengan kadar air sale gas 7 lb/MMscf dan

tekanan operasi 3,8 MPa [556,1 psia] maka hidrat (dew point) akan terjadi saat gas berada pada

temperatur 25,24oF [-3,76oC]. Untuk mencegah hal

tersebut maka ada beberapa hal yang bisa dilakukan, yaitu menjaga temperatur gas diatas

25oF (10oF diatas temperatur hidrat) dan menaikkan

tekanan operasional diatas 3,8 MPa [556,1 psia].

Gambar 1.1 Grafik Dew Point Control pada Aliran Gas

B. Simulasi dan Optimasi Rancangan Proses Regenerasi TEG

Gambar 1.2 Diagram Alir Proses Regenerasi Glikol

B.1 Tekanan dan Temperatur Inlet Wet Gas Pada temperatur tertentu suatu zat akan memiliki

tekanan parsial yang merupakan titik

kesetimbangan dinamis gas zat tersebut pada bentuk cair

Gambar 1.3 Grafik Hubungan Temperatur dengan Kadar Air Sale Gas

Pada kenaikan temperatur maka fase cair dari air akan berubah pada fase gas. Sebaliknya pada penurunan temperatur akan membuat zat pada fase gas tersebut akan kembali mengembun dan menaikkan kadar air didalam fase gasnya. Dengan menaikkan tekanan akan membuat air terpisah karana perbedaan tekanan uap.

Gambar 1.4 Grafik Hubungan Tekanan dengan Kadar Air Sale Gas

Dengan menurunkan temperatur maka uap air yang telah terpisah akan berubah ke fase cair sebelum dikontakkan dan diserap larutan inhibitor (glikol). Dengan menaikkan tekanan maka uap air didalam akan berkurang. Hal ini disebabkan pada perbedaan tekanan uap antara gas hidrokarbon dengan air. Gas yang memiliki tekanan uap lebih besar akan melepaskan air yang terserap didalamnya.

B.2 Laju Alir Sirkulasi TEG

Penentuan laju alir Kolom TEG Contactor yang digunakan dalam proses dehidrasi memiliki jumlah tray sebanyak 12 tray [N=3]. Hasil perhitungan manual menggunakan rumus persamaan dasar

absorpsi didalam buku Gas Conditioning and

Processing (Campbell, 2002) didapat nilai laju alir

6.90  

6.95  

7.00  

7.05  

7.10  

24.90  

25.20  

25.50  

25.80  

W ater Dew Point (lb/ MMscf)

Temperatur-­‐Inlet  Wet  Gas  

(  o

F)  

0  

50  

100  

150  

200  

500   550   600   650   700   750   800  

Kadar  Air  (

lb/MMscf

)  

Tekanan  -­‐  Inlet  Wet  Gas    (Psia)  

0  

50  

100  

150  

200  

80   100   120   140   160   180  

Kadar  Air  ( lb/MMscf )  

(3)

lean TEG 99,8% sebesar 20 usgpm yang dibutuhkan untuk mengurangi dan mendapatkan spesifikasi kadar air 7lb/MMscf.

Gambar 1.5 Grafik Hubungan Laju Sirkulasi TEG vs Dew Point & Kehilangan TEG B.3 Temperatur Lean TEG

  Gambar 1.6 Grafik Hubungan Temperatur TEG vs

Dew Point dan Kehilangan TEG Salah satu variabel bebas yang sangat berpengaruh didalam proses dehidrasi dan regenerasi TEG adalah temperatur TEG. Temperatur kolom absorpi harus diusahakan memiliki temperatur minimum 10 °C lebih tinggi daripada suhu terbentuknya hidrat.

Sementara Wet gas yang masuk ke dalam inlet

contactor harus berada pada temperatur yang lebih rendah sekitar 10°F dari temperatur inlet lean TEG.

Apabila lean TEG berada pada temperatur yang

lebih rendah dari wet gas, maka gas akan

terkondensasi (Polak, 2009). Hasil simulasi

menunjukkan bahwa dengan meningkatnya

temperatur maka efektifitas TEG dalam mengabsorpsi gas semakin turun. Hal ini disebabkan dengan meningkatnya temperatur TEG maka viskositas TEG semakin turun sehingga tidak mampu mengkondensasikan air didalam wet gas. B.4 Laju Stripping Gas

Gambar 1.5 menunjukkan bahwa dengan

meningkatnya laju stripping gas, maka efektifitas pemisahan air dari TEG semakin besar. Hal ini dapat dilihat dengan kecenderungan nilai kadar air

di dalam TEG semakin menurun. Namun hasil dari peningkatan laju stripping gas dapat meningkatkan kehilangan TEG di dalam kolom stripping gas. Hal ini kemungkinan besar karena TEG ikut terbawa

oleh aliran stripping gas yang mengalir secara

counter current.

Gambar 1.7 Grafik Hubungan Laju Alir Stripping Gas vs Dew Point dan Kehilangan TEG Hasil optimasi menunjukkan bahwa kadar air sale gas yang didapat adalah 6,683 lb/MMscf dengan kehilangan TEG sebesar 4,92 gal/MMscf.

C. Modifikasi Rancangan Proses Regenerasi Glikol.

Gambar 1.8 Diagram Alir Proses Regenerasi Glikol Setelah Modifikasi Modifikasi difokuskan untuk menyediakan reflux condensor yang mampu menangkap uap TEG yang kemungkinan besar dapat terbawa oleh aliran

stripping secara counter current. Modifikasi

dilakukan dengan cara memutus keluaran kolom stripping gas yang masih terhubung dengan unit acid gas flare header untuk dipindah dan disambungkan dengan unit TEG flash drum.

Unit TEG flash drum adalah unit yang memiliki

fungsi seperti expander dan pressur valve yang

mampu memberi efek joule thompson pada aliran fluida fase gas. Penurunan tekanan pada TEG flash drum sebesar 10 psia diharapkan mampu mengakibatkan uap TEG terkondensasi dan

6.6  

6.8  

7  

7.2  

7.4  

7.6  

7.8  

0  

2  

4  

6  

8  

10  

15  

20  

25  

W at er  Con ten t  ( lb/MMscf )  

TEG  CirculaBon  Rate  (  USGPM  )  

Water   Content   Make  up   TEG  

Make  up  TEG   (gal/MMscf)

 

0  

1  

2  

3  

4  

5  

6  

7  

8  

0  

1  

2  

3  

4  

5  

6  

7  

100  125  150  175  200  225  250  

Wa te r  C on te nt    ( lb/MMscf )  

Temperatur    TEG  (oF)   Water  Content  

Make  Up  TEG   Make  up  TEG   (gal/MMscf)

 

0  

5  

10  

15  

20  

0  

1  

2  

3  

4  

5  

6  

7  

0.00  0.02  0.04  0.06  0.08  0.10  

W at er  Con ten t  ( Lb/MMscf )  

Laju  Stripping  Gas  (MMscf)  

Water   content   Make  up   TEG   Make  up   TEG  (

gal

/

MMscf)

(4)

terpisah dari fase uap air sebelum dialirkan kembali menuju reboiler. Pemisahannya didasarkan pada perbedaan tekanan uap yang mana air memiliki tekanan uap yang lebih rendah daripada TEG. Uap air yang terpisah selanjutnya mengalir kebagian atas TEG flash drum menuju acid gas flare header,

sedangkan TEG yang terkondensasi akan

bercampur kembali dan masuk bersama aliran fluida rich TEG menuju kolom regenerator.

Modifikasi dengan menghubungkan kolom

stripping gas dengan unit TEG flash drum sebagai

media reflux tentu saja mengakibatkan temperatur

didalam unit TEG flash drum meningkat.

Temperatur fluida yang tinggi dari kolom stripping gas akan meningkatkan temperatur didalam TEG flash drum dan ada kecenderungan tekanan didalam TEG flash drum akan meningkat pula. Jika hal ini

terjadi maka TEG flash drum akan mengalami

penurunan efektifitas didalam proses pemisahan antar fase fluida. Untuk mencegah hal tersebut maka modifikasi selanjutnya adalah menambah unit

pendingin (Rich TEG cooler) yang dipasang untuk

mendinginkan fluida keluaran TEG reflux condensor dan Cold TEG exchanger sebelum memasuki TEG flash drum. Fluida tersebut terdiri dari uap air, uap TEG, dan gas stripping. Hal yang diharapkan dengan penurunan temperatur dan tekanan tersebut adalah kondisi operasi didalam

TEG flash drum akan berada pada kondisi

maksimum yang mampu melakukan pemisahan antar fase material stream uap air dan Uap TEG berdasarkan perbedaan tekanan uap.

Gambar 1.9 Grafik Hubungan Rich TEG Cooler dengan Temperatur Inlet

TEG Flash Drum dan Kehilangan TEG Gambar 1.7

menunjukkan pengaruh rich TEG cooler terhadap

temperatur inlet TEG flash drum dan kehilangan

TEG. Meningkatnya kinerja rich TEG cooler akan

menyebabkan penurunan temperatur didalam inlet TEG flash drum yang merupakan kolom separator 3 fase. Temperatur yang rendah menyebabkan kehilangan TEG dalam fase uap akan dapat di-recovery pada fase cair didalam TEG flash drum.

Tabel 1.3 Hasil Modifikasi Regenerasi Glikol

Parameter Sebelum Modifikasi Setelah Modifikasi Temp- TEG (oF) 240 245 Laju Alir-TEG (USGPM) 20 20 Temp-Reboiler (oF) 380 380

Kadar Air Sale Gas

(lb/MMscf) 6,682 4,229

Kehilangan TEG

(gal/MMscf) 4,92 0,0894

Hasil modifikasi menunjukkan kehilangan TEG kurang dari 0,1 gal/MMscf terjadi pada kondisi operasi rich TEG rich cooler sebesar 0,1650 MMBtu/hr dengan laju alir stripping 0,028

MMscfd, Temperatur dan laju alir Lean TEG 110oF

dan 20 usgpm, dan Temperatur 380oF.

D. Analisis Kelayakan Ekonomi

Base Premium for Equity Market atau Indonesia Government Bond Rate Seri FR0053, Rf = 10,25%

Equity Beta, β (HESS) = 1,33 (Nasdaq, 2013) Indonesia Country Risk Premium, RICRP =

2,66% Didapat

Total Equity Market = 12,91%

Dengan menggunakan model CAPM, target IRR atau Cost of Equity dapat dihitung sebagai berikut:

IRR equity = Rf + β ( Total Equity Risk Premium)

IRR equity = 10,25% + 1,33 ( 12,91) = 27,42% Weighted Average Cost of Capital (WACC) atau Minimum Attractive Rate of Return (MARR) tersusun oleh komponen Cost of Equity (IRR) yang

besarnya 27,42% dan Cost of Debt yang besarnya

dihitung dari bunga bank yang diasumsikan sebesar 15% dan pajak pendapatan sebesar 30% sesuai undang-undang dirjen pajak. Maka struktur pendanaannya akan optimum pada persentase pinjaman 32,78% dari bank komersial dan 67,22 %

dari ekuitas. Besarnya Cost of Debt dan WACC

(MARR) dapat dihitung dengan persamaan sebagai berikut:

Cost of Debt = Interest of Debt x (1-Income Tax Rate) Cost of Debt = 15% x (1-30%) = 10,50% !"## = !"#$  !"#$%"& !"#$%  !"#$%"& !"#$  !"  !"#$ + !"#$%&  !"#$%"& !"#$%  !"#$%"& !"#$  !"  !"#$%& WACC = 32,78% x 10,50% + 67,22% x 27,42% = 21,87%

Kriteria kelayakan investasi proyek modifikasi adalah

NPV ≥ 0, dan IRR ≥WACC

0  

0.5  

1  

1.5  

2  

2.5  

3  

3.5  

0  

50  

100  

150  

200  

250  

300  

2.00E+04   1.70E+05   3.20E+05  

Temp-­‐  TE

G  Flash  Drum  (

F)

 

Q-­‐Rich  TEG  Cooler  (btu/hr)  

Temp-­‐Inlet   TEG  Flash   Drum  

Make  up   TEG  (

gal

/

MMscf)

(5)

Diketahui harga TEG (PT X, 2013) adalah US$ 2,5 per mol liter atau $ 0, 66 per galon, dengan indek harga 2015 maka didapat harga TEG sebesar US$ 0,74 per gal. Berdasarkan data simulasi diketahui penghematan TEG sebanyak 56,37 gal/MMscf atau 18.602 gal/tahun maka penerimaan awal dari proyek modifikasi regenerasi TEG di tahun pertama adalah sebesar US$ 13.790/tahun. Karena proyek modifikasi adalah sebuah investasi yang dikerjakan pada suatu industri atau perusahaan yang sudah berjalan maka beberapa komponen dalam TCI sudah tidak perlu dimasukkan dalam perhitungan. Total modal investasi sebesar US$ 1.988.267 yang dibutuhkan pada proyek modifikasi regenerasi TEG. Dengan umur operasi selama 7 tahun maka

nilai Capital Expenditure (CAPEX) per tahun

adalah sebesar US$ 443.185 dengan tingkat bunga

15%. Total biaya operasional atau Operational

Expenditure (OPEX) yang dibutuhkan pada proses hasil modifikasi sebesar US$ 217.127.

Gambar 1.10 Grafik Net Cash Flow Modifikasi Regenerasi TEG

Suatu proyek dianggap layak apabila IRR lebih besar daripada MARR yang mencerminkan tingkat resiko dari proyek serta ditambah tingkat keuntungan yang diharapkan perusahaan. Adapun Net Present Value (NPV) yang mampu didapat adalah sebesar US$ 72.295. Dalam hal situasi

beresiko tinggi, payback period menjadi indikator

yang lebih menentukan, didapat nilai pengembalian modal investasi terjadi pada tahun ke-3 dengan tingkat profitabilitas pada proyek modifikasi regenerasi TEG adalah sebesar 17,28%.

E. Kesimpulan

Hasil modifikasi rancangan proses regenerasi glikol menghasilkan kehilangan TEG sebesar 0,0894 gal/MMscf dan kadar air didalam sales gas saat dehidrasi absorpsi sebesar 4,229 MMscf. Hasil

modifikasi dilakukan dengan menyambung

keluaran gas stripping pada kolom stripping untuk

dimasukkan kedalam unit TEG flash drum dan

melakukan penambahan unit TEG cooler pada

keluaran cold TEG exchanger. Untuk mencapai

hasil optimum tersebut maka kondisi operasi yang

disyaratkan antara: laju alir lean TEG 20 usgpm

dengan temperatur 245oF dan tekanan 556 psia, laju

alir inlet wet gas 35,48 MMscfd pada temperatur

110,6oF dan tekanan 700 psia, laju alir stripping

gas sebesar 0,028 MMscfd, tekanan dan temperatur TEG flash drum 10 psia dan 212oF, serta kondisi

operasi TEG reboiler pada tekanan 15 psia dan

temperatur 380oF.

Analisa kelayakan ekonomi menghasilkan total biaya investasi yang dibutuhkan pada modifikasi rancangan proses regenerasi TEG sebesar US$ 1.988.267 dan total biaya operasional sebesar US$

217.127. Berdasarkan total equity risk premium

sebesar 12,91% untuk masa investasi selama 7 tahun (2015-2022) dan bunga pinjaman bank sebesar 15% maka hasil optimum investasi akan tercapai apabila perusahaan melakukan pinjaman modal ke bank sebesar 32,78% dari total biaya investasi yang dibutuhkan dengan IRR yang akan didapat sebesar 27,42% dan NPV US$ 72.295 dengan MARR sebesar 21,87% dan masa balik modal selama 3 tahun.

F. Daftar Pustaka

Assosiation, G. P. 2002. GPSA Engineering Data

Book Ed:12. Tulsa: Gas Processor Supplier Assosiation. 201-248.

Campbell, J. M. 2004. Gas Conditioning and

Processing Vol 2: The Equipment Modules. Texas: John M Campbell and Company. 305-315.

Hicks, R. L., and Senules, E. A. 1991. New Gas-Water-TEG Equilibria. Hydrocarbon Processing. 55–58.

Kazemi P and Hamidi R. 2011. Sensitivity Analysis of A Natural Gas Try Ethylene Glikol Dehydration Plant in Persian Gulf Region, Petroleum & Coal. 71-77.

Luyben, W. L. 1996. Process Modelling, Simulation, and Control for Chemical Engineers. Singapore: McGraww-Hill Inc. 300-307.

Manning, W. P., and Wood, H. S. 1993. Guidelines

for Glikol Dehydrator Design—Part 1.

Hydrocarbon Processing . 106–114.

Mohamadbeigy, K. 2008. Studying of Effectiveness

Paramaters on Gas Dehydration Plant. Petroleum

and Coal. 47-51.

P. Gandhidasan. 2011. Parametric Analysis of Natural Gas Dehydration by a Tri Ethylene Glikol Solution, Energy Sources. 189-201.

Seider, W. D., Seader, J.d., Lewin, D. R. 2003. Product and Process Design Principles. John Wiley & Sons. 736-801.

 $(600,000.00)  

 $(400,000.00)  

 $(200,000.00)  

 $-­‐        

 $200,000.00    

 $400,000.00    

0   1   2   3   4   5   6   7  

BTCF  

ATCF  

(6)

Gambar

Tabel 1.1 Komposisi Gas Alam  Komponen  Persentase mol (%)
Tabel 1.2 Kesetimbangan Uap Air Jenuh Gas
Gambar 1.5 Grafik Hubungan Laju Sirkulasi TEG  vs Dew Point & Kehilangan TEG   B.3 Temperatur Lean TEG
Gambar 1.9  Grafik Hubungan Rich TEG Cooler    dengan Temperatur Inlet
+2

Referensi

Dokumen terkait