BAB I PENDAHULUAN
Ketuban pecah dini terjadi pada 10 % kehamilan, dan 2% terjadi pada kehamilan preterm. Pada kehamilan aterm angka insiden mencapai 30-40 %. Ketuban pecah dini / prematur rupture of membrans (PROM) adalah pecahnya selaput ketuban secara spontan pada saat belum menunjukkan tanda-tanda persalinan/inpartu (keadaan inpartu didefinisikan sebagai kontraksi uterus teratur dan menimbulkan nyeri yang menyebabkan terjadinya effacement atau dilatasi serviks), atau bila satu jam kemudian tidak timbul tanda-tanda awal persalinan. Pecahnya selaput ketuban dapat terjadi kapan saja baik pada kehamilan aterm maupun preterm.
Penyebab ketuban pecah dini belum diketahui secara pasti, namun ada beberapa faktor risiko yang menyebabkannya, antara lain adalah infeksi, defisiensi vitamin c, faktor selaput ketuban, hormon, faktor umur dan paritas, kehamilan kembar dan polihidramnion, faktor tingkat sosio-ekonomi, dan faktor-faktor lain. Ketuban pecah dini ini merupakan suatu komplikasi yang sering terjadi pada kehamilan preterm dan dapat mengancam terjadinya persalinan prematur. Komplikasi dapat terjadi pada keadaan ketuban pecah dini, misalnya infeksi yang dapat terjadi pada plasenta, disebut korioammnionitis, yang dapat sangat berbahaya bagi ibu dan janin. Komplikasi yang lain yang dapat terjadi adalah terjadinya solusio plasenta (yaitu lepasnya plasenta dari uterus), terjadinya kompresi tali pusat, serta infeksi postpartum.
Penatalaksanaan pada ketuban pecah dini didasarkan atas beberapa pertimbangan, yaitu usia kehamilan, status kesehatan ibu secara umum, komplikasi yang telah terjadi, keadaan janin, prosedur tetap yang berlaku pada masing-masing tempat pelayanan.
BAB II LAPORAN KASUS
2.1 Identitas
Nama : DPL
Umur : 22 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Suku : Timor
Bangsa : Indonesia
Agama : Kristen Protestan Pendidikan : Tamat SMP Status perkawinan : Sudah menikah Pekerjaan : Wiraswasta
Alamat : Jalan Pulau Moyo, Sesetan, Denpasar
2.2 Anamnesis
1. Keluhan Utama : Keluar air per vaginam
2. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke RSUP Sanglah pada tanggal 18 Februari 2013 pukul 13.00 WITA dengan keluhan utama keluar air per vaginam pada pukul 09.00 WITA (18 februari) atau 4 jam SMRS. Cairan yang keluar dari kemaluan dikatakan berwarna bening dengan konsistensi cair. Cairan tidak berwarna kehijauan dan tidak ada darah. Pasien juga mengatakan tidak ada riwayat sakit perut hilang timbul dan demam sebelum maupun satu jam setelah keluarnya cairan per vaginam tersebut. Gerak janin dirasakan baik oleh pasien. Pasien juga memiliki riwayat gatal pada daerah genital sejak 1 minggu yang lalu.
3. Riwayat Menstruasi
• Menarche umur ± 14 tahun, siklus teratur 28-30 hari , lamanya 3-5 hari tiap kali mentruasi.
• Hari pertama haid terakhir : 17 Juni 2012
• Taksiran persalinan : 20 Februari 2013
4. Riwayat Perkawinan
Pasien menikah pada usia 21 tahun dan sampai sekarang telah menikah satu kali. Pasien menikah selama 1 tahun dengan suaminya yang sekarang.
5. Riwayat Kehamilan 1. Ini No Tahun Umur kehamilan BBL Sex Cara Persalinan Penolong Persalinan Tempat Persalinan Abortus Komplikasi/ Keterangan L P 1 Ini
6. Riwayat Kehamilan Ini
Pasien melakukan kontrol (antenatal care) secara rutin sebanyak 5 kali di bidan. Pasien mengatakan pernah melakukan USG 2 kali di rumah sakt. Prima Medika. Pasien juga mengatakan telah melakukan imunisasi TT dan mendapat suplemen besi, kalsium dan vitamin C satu kali sehari selama 5 bulan. Pasien mengaku tidak pernah mengalami keluhan seperti mual, muntah, pusing, sakit kepala, maupun perdarahan selama kehamilan ini.
7. Riwayat Pemakaian KB
Penderita tidak memakai KB sebelumnya.
8. Riwayat Penyakit Terdahulu
Pasien mengatakan tidak pernah menderita penyakit kronis misalnya hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, asma, varises, keganasan, penyakit jiwa,dan lain-lain. Tidak ada riwayat alergi terhadap obat,
makanan, dan lain-lain. Pasien mengatakan tidak pernah menjalani operasi sebelumnya.
9. Riwayat Penyakit Keluarga
Pasien mengatakan tidak ada anggota keluarganya yang menderita penyakit misalnya hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, TB, epilepsi, kelainan bawaan, dan lain-lain.
10. Riwayat Sosial
Pasien merupakan seorang wiraswasta yang bekerja dalam proses pengemasan ikan tuna di daerah Benoa. Suami pasien bekerja sebagai seorang penangkap ikan. Suami pasien sedang berlayar ke jepang selama 2 tahun untuk bekerja. Suami pasien memiliki penghasilan yang cukup sehingga pasien memiliki status ekonomi yang cukup. Pasien tidak memiliki kebiasaan merokok, minum minuman keras, dan mengonsumsi obat-obatan tertentu, akan tetapi, suami pasien memiliki kebiasaan merokok.
2.3 Pemeriksaan Fisik STATUS PRESENT
Keadaan umum : Baik
GCS : E4V5M6 Tekanan darah : 120/80 mmHg Nadi : 84 x/mnt Respirasi : 20 x/mnt Suhu aksila : 36,5 °C Berat badan : 65 kg Tinggi badan : 152 cm STATUS GENERAL
Mata : anemia +/+, ikterus , odem palpebra -/-THT : kesan tenang
Thorax:
Cor : S1 S2 tunggal regular, murmur (-)
Pulmo : suara nafas vestibuler +/+, rhonki-/-,
wheezing-/-Mamae : bentuk simetris, puting susu menonjol, pengeluaran (-), kebersihan cukup
Abdomen : massa (-), nyeri tekan (-), bising usus (+) normal, distensi (-), hepar tidak teraba, lien tidak teraba
Ekstremitas : akral hangat ++/++, edema
--/--STATUS OBSTETRI Pemeriksaan luar Inspeksi
Tampak hiperpigmentasi pada areola mamae
Tampak perut membesar dengan striae gravidarum (livide dan striae albikantus)
Tidak tampak bekas luka SC Palpasi
Pemeriksaan Leopold
I. Teraba bagian bulat dan lunak (kesan bokong)
II. Teraba tahanan keras di kanan (kesan punggung) dan bagian kecil di kiri
III. Teraba bagian bulat, keras (kesan kepala)
IV. Bagian bawah sudah masuk 4/5 bagian dari pintu atas panggul His tidak ada
Tinggi fundus uteri 3 jari dibawah procesus Xiphoideus (31 cm) Auskultasi
DJJ (+), punctum maksimum pada abdomen bawah bagian kiri 145 x/menit
Pemeriksaan dalam
VT: Cairan keluar dari ostium uteri eksterna, lakmus (+), pembukaan 1 jari, penipisan 30%, konsistensi sedang, arah portio medial, ketuban (-),
teraba kepala, denominator belum jelas, penurunan Hodge I, tidak teraba bagian kecil maupun tali pusat
2.4 Pemeriksaan Penunjang Hematologi Rutin WBC : 9,82 x 103/µL RBC : 3,92 x 106/µ HGB : 7,64 g/dL HCT : 26,58 % MCV : 67,65 fL MCH : 19,47 pg MCHC: 28,78 g/dL PLT : 150,90 x 103/L BT/CT : 1’00’’ / 9’00’’ FE : 18,90 μg/dL TIBC : 600,40 μg/dL 2.5 Diagnosa
G1P0000, 39-40mg, Tunggal/Hidup + Ketuban Pecah Dini (KPD), Anemia Sedang Hipokromik Mikrositer ec Defisiensi Besi
2.6 Penatalaksanaan
Tx : Expectative pervaginam Ampicillin 4 x 500 mg Persiapan darah (PRC) 4 kolf
Mx: Keluhan, Vital Sign, DJJ, dan tanda-tanda inpartu Konsul TS Penyakit Dalam
KIE : Pasien dan keluarga dijelaskan tentang keadaan janin dan rencana tindakan.
2.7 Perjalanan Pengobatan
Tgl 19 Februari 2013, Pukul 01.45 WITA S: Ibu lega bayi lahir selamat
O: Lahir spontan belakang kepala, bayi perempuan, 2800 gram, Apgar Score 8,9, anus ada, keluhan kongenital tidak ada
Dilakukan managemen aktif kala III: - Injeksi oksitosin 10 IU
- Peregangan tali pusat terkendali - Massase fundus uteri
Lahir plasenta spontan, kesan komplit, kalsifikasi (-), hematoma (-) pada pukul 01.50
Evaluasi:
- Kontraksi uterus (+) baik
- Ruptur perineum grade II -> Hecting - Pendarahan aktif (-)
A : P1001 p Spt B PP Hari 0, Anemia Sedang Hipokromik Mikrositer ec Defisiensi Besi
Terapi : - Ampicilin tablet 4x500 mg
- Asam mefenamat tablet 3x500 mg - Methyl ergometrin tablet 3x0,125 mg - Sulfas Ferosus tablet 2x200 mg - Vitamin C tablet 3x100 mg
- Infus NaCl 0,9% 20 tetes per menit Mx : observasi 2 jam post partum
Pdx: Periksa DL ulang 6 jam post partum
KIE : ASI Eksklusif, mobilisasi dini, KB post partum
Tgl 19 Februari 2012, Pukul 06.00 WITA
S : Keluhan subjektif (-), BAK (+), BAB (-), mobilisasi (+), makan-minum (+), nyeri luka jahitan (+)
O : Status Present
Nadi : 80 x/menit Temp. Aksila : 36,50 C
Status General: Mata: an+/+; ikt
-/-Thorax: Cor : S1S2 tunggal, regular, murmur (-)
Pulmo : vesikuler (+)/(+), rhonki (-)/(-), wheezing (-)/(-) Status Obstetri:
Abdomen: tinggi fundus uteri 2 jari di bawah pusat, kontraksi (+) baik Vagina: lochea (+), perdarahan aktif (-)
A : P1001 pspt B pp hari I , anemi Anemia Sedang Hipokromik Mikrositer ec Defisiensi Besi a sedang hipokromik mikrositer
Terapi: - Ampicilin 4x500 mg - Terapi lain lanjut Mx : keluhan, vital sign
KIE : KB post partum, ASI Eksklusif, mobilisasi dini
Tgl 20 Februari 2012, Pukul 06.00 WITA S : Nyeri luka jahitan masih
O : Status Present
Tekanan darah : 120/70 Respirasi : 18 x/menit mmHg Nadi : 80 x/menit Temp. Aksila : 36,50 C
Status General: Mata: an+/+; ikt
-/-Thorax: Cor : S1S2 tunggal, regular, murmur (-)
Pulmo : vesikuler (+)/(+), rhonki (-)/(-), wheezing (-)/(-) Status Obstetri:
Abdomen: tinggi fundus uteri 2 jari di bawah pusat, kontraksi (+) baik Vagina: lochia (+), perdarahan aktif (-)
A : P1001 pspt B pp hari II, Anemia Sedang Hipokromik Mikrositer ec Defisiensi Besi
Terapi : - Ampicilin 4x500 mg - Asam mefenamat 3x500mg - Methyl ergometrin 3x0,125mg
- Sulfas Ferosus 2x200mg - Vitamin C 3x100 mg
- IVFD NaCl 0,9% 20 tetes per menit
Mx : pemeriksaan kembali ke poli kebidanan dan kandungan seminggu lagi KIE : KB post partum, ASI Eksklusif, mobilisasi dini
BAB III PEMBAHASAN 3.1 Daftar Permasalahan
Pasien didiagnosis saat masuk rumah sakit dengan ketuban pecah dini disertai dengan anemia sedang et causa anemia defisiensi besi (Hb: 7,69 mg/dL, MCV: 67,65 fL, MCH 19,47 pg, Fe 18,90 µg/dL, TIBC 600,40 µg/Dl). Anemia defisiensi zat besi (kejadian 62,30%) adalah anemia dalam kehamilan yang paling sering terjadi dalam kehamilan akibat kekurangan zat besi. Kekurangan ini disebabkan karena kurang masuknya unsur zat besi dalam makanan, gangguan reabsorbsi, dan penggunaan terlalu banyaknya zat besi. Anemia defisiensi besi sangat erat keterkaitannya dengan pola makan. Pola makan adalah pola konsumsi makan sehari-hari yang sesuai dengan kebutuhan gizi setiap individu untuk hidup sehat dan produktif. Untuk dapat mencapai keseimbangan gizi maka setiap orang harus menkonsumsi minimal 1 jenis bahan makanan dari tiap golongan bahan makanan yaitu Karbohidrat, protein hewani dan nabati, sayuran, buah dan susu. Seringnya ibu hamil mengkonsumsi makanan yang mengandung zat yang menghambat penyerapan zat besi seperti teh, kopi, kalsium. Wanita hamil cenderung terkena anemia pada triwulan III karena pada masa ini janin menimbun cadangan zat besi untuk dirinya sendiri sebagai persediaan bulan pertama setelah lahir. Pada saat kunjungan awal pasien untuk memeriksakan diri ke puskesmas (10/10/2012), didapatkan temuan Hb pasien 11,8 mg/Dl dan pada saat di rumah sakit (18/2/2013) Hb pasien berkurang menjadi 7,649 mg/dl. Hal ini menunjukkan terjadinya penurunan kadar Hb selama masa kehamilan. Pasien juga mengakui sering sekali mengkonsumsi teh dan kopi setelah makan. Sehingga hal ini dapat menghambat penyerapan besi di tubuh. Selama ini pasien juga mengaku hampir tidak pernah mengkonsumsi daging merah seperti sapi, kambing dan sejenisnya, dimana dalam daging tersebut terkandung kadar zat besi yang cukup tinggi. Pasien lebih sering mengkonsumsi daging ayam untuk sehari-harinya.
Saat ini pasien tidak mengalami suatu keluhan fisik yang berarti. Pasien sedang mengalami masa nifas, dimana pasien harus lebih memperhatikan kesehatannya maupun kesehatan anaknya. Ini merupakan pertama kalinya pasien memiliki anak sehingga pasien masih kurang mengerti bagaimana mengusahakan kesehatan yang baik bagi anaknya. Selain itu pasien juga tinggal sendiri di tempat kost nya saat ini, karena suaminya sedang bekerja berlayar selama 2 tahun di Jepang, sehingga hal ini mewajibkan pasien untuk bisa semandiri mungkin mengatur rumah tangga serta merawat bayinya. Pasien saat ini hanya mampu berkomunikasi dengan suami melalui telepon, selain itu pasien tidak memiliki sanak saudara di Bali, karena pasien merupakan pindahan dari Sumba. Kondisi perekonomian pasien tergolong cukup, pasien selalu mendapatkan kiriman uang dari suaminya selain itu juga pasien bekerja di perusahaan ikan untuk menopang kondisi perekonomian keluarganya.
3.2 Analisis Kebutuhan Pasien 1. Kebutuhan Fisik-Biomedis
Kecukupan Gizi
Pasien mengaku penghasilan yang diperoleh suaminya sebagai penangkap ikan yang berlayar ke Jepang adalah cukup untuk kehidupan sehari-hari mereka berdua. Menurut pengakuan pasien, dalam sehari pasien biasa makan 3 kali sehari dengan uraian menu berupa nasi, tempe, tahu, ayam, sayur-sayuran. Tetapi pasien jarang mengkonsumsi daging merah serta hati yang dimana di dalamnya terkandung kadar zat besi yang tinggi. Selain itu pasien juga sering mengkonsumsi teh setelah makan dan kopi yang dimana di dalamnya terkandung zat yang dapat menghambat penyerapan besi dalam tubuh. Pasien juga dikatakan jarang mengkonsumsi buah-buahan serta sayur sayuran, hal ini memiliki keterkaitan dengan kandungan vitamin C dalam tubuh, dan defisiensi vitamin C menjadi salah satu faktor risiko terjadinya ketuban pecah dini.
Status nutrisional pada masa laktasi memiliki dampak langsung pada kesehatan maternal dan bayi selama masa nifas. Intake nutrisi pascapersalinan harus ditingkatkan untuk mengatasi kebutuhan energi selam menyusui. Tiga defisiensi vitamin dan mineral adalah kelainan yang terjadi sebagai akibat kekurangan iodin, kekurangan vitamin A, serta anemia defisiensi Fe. Defisiensi yang terjadi terutama disebabkan karena intake yang kurang, gangguan penyerapan, atau enggunaan. Upaya pencegahan dapat dilakukan dengan makan akanan yang sesuai, makanan difortifikasi, penggunaan obat suplemen selama kehamilan, menyusui dan pada masa bayi serta anak-anak.
Pasien saat ini memiliki seorang bayi yang tentunya wajib mendapatkan ASI eksklusif sehinga diperlukan kecukupan nutrisi pada ibu yang menyusui.
Akses pelayanan kesehatan
Akses pelayanan kesehatan pasien terbilang cukup mudah, karena pasien tinggal di daerah perkotaan dimana sangat mudah untuk mendapatkan akses pelayanan kesehatan. Hanya saja sarana transportasi yang dimiliki pasien tidak ada sehingga jika ingin ke tempat pelayanan kesehatan, pasien akan meminta tolong kepada tetangga ataupun teman dekatnya.
Lingkungan
-Rumah : Pasien tinggal berdua dengan bayi yang baru dilahirkannya di sebuah kos-kosan yang beralamat di Jalan Pulau Moyo, Sesetan, Denpasar. Pada kos pasien tersebut terdiri dari 1 kamar tidur, 1 dapur dan 1 kamar mandi dalam. Keadaan kamar kos pasien kurang tertata rapi dan ventilasi kos cukup. Sumber air minum dan MCK untuk keluarga pasien adalah dari air PDAM. Penerangan di dalam kos cukup baik. Dalam 1 pekarangan terdapat 10 kamar kost yang dihuni penuh oleh tetangga.
- Ortu/keluarga : Pasien hanya tinggal berdua dengan anaknya yang baru lahir. Tidak ada sanak saudara yang tinggal di Bali, karena pasien merupakan perantauan. Sedangkan suami pasien sedang bekerja di luar negeri.
Kebutuhan emosi/kasih sayang
Pasien baru menjalani hubungan pernikahan selama 1 tahun. Saat usia kehamilan 4 bulan, pasien ditinggal suaminya untuk berlayar. Sehingga komunikasi dengan suamipun hanya bisa dilakukan melalui telepon. Sanak saudara pasien berada jauh di Sumba, sehingga pasien biasanya berkomunikasi melalui telepon. Namun pasien merupakan orang yang ramah sehingga pasien memiliki banyak teman. Selain itu hubungan pasien dengan tetangga kostnyapun tergolong dekat, terbukti pasien sering berkomunikasi dengan tetangganya dan dikatakan tetanggannya sering membantu pasien dalam banyak hal.
2. Analisa Bio-Psikososial Lingkungan biologis
- Penyebab : Vitamin c banyak diperlukan untuk pembentukan kolagen, pada penderita dengan defisiensi vitamin c sering menderita KPD. Pada kasus pasien sangat jarang mengkonsumsi buah-buahan dan sayur-sayuran. ibu hamil dengan anemia sangat riskan terjadi infeksi, dimana infeksi diatas dapat merangsang terjadinya KPD.
- Pemenuhan gizi : Pasien tergolong mengalami kekurangan zat besi. Hal ini dapat diakibatkan karena asupan zat besi yang kurang, akibat pola makan dari ibu pasien, dimana pasien jarang mengkonsumsi makanan yang mengandung kandungan zat besi yang tinggi seperti daging merah dan hati. Selan itu pasien juga sering mengkonsumsi teh setelah makan dan kopi, dimana teh dan kopi mengandung tannin yang dapat menghambat penyerapan dari besi. Keadaan anemia defisiensi besi yang
berlanjut terus menerus dapat memberikan dampak negatif apalagi saat masa menyusui. Penghasilan yang diperoleh suaminya dikatakan cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan makan 3x sesehari-hari.
- Akses pelayanan kesehatan : Rumah pasien dengan Puskesmas Denpasar Selatan tergolong dekat, pasien rutin mengikuti kegiatan yang ada di puskesmas di daerah tempat dia tinggal, hal ini terlihat melalui kunjungan yang teratur yang dilakukan pasien selama masa kehamilan. Hal yang menjadi kendala adalah transportasi, namun pasien mampu mengatasinya dengan meminta tolong dengan teman maupun tetangga untuk mengantarkan pasien.
Faktor psikososial
Hubungan pasien dan suaminya dikatakan baik dan harmonis. Hubungan pasien dengan tetangga kos juga cukup baik. Namun keberadaan pasien yang tinggal berdua dengan anaknya membuat pasien merasa cemas, karena masih belum mengetahui cara merawat bayi yang baik dan benar dan kurangnya dukungan psikis secara langsung yang diterima pasien. Namun pasien sudah memiliki rencana untuk mengajak adiknya ke Bali untuk membantu pasien dalam merawat anaknya dan memberikan dukungan psikis kepada pasien, selain itu juga pasien selalu berusaha untuk meningkatkan komunikasi dengan suaminya yag ada di luar negeri.
3.3 Saran
1. Edukasi yang tepat kepada pasien tentang pentingnya memperhatikan kesehatan dan asupan gizi yang cukup dan seimbang, serta mempersering konsumsi makanan yang mengandung kadar zat besi yang tinggi serta sayur, buah-buahan. Asupan nutrisi pasien harus dipertahankan terutama pada masa kehamilan dan pasca melahirkan agar tidak terjadi gangguan baik kondisi ibu dan bayi.
2. Menganjurkan ibu untuk cukup istirahat karena kurang istirahat dapat mengakibatkan berkurangnya jumlah ASI yang diproduksi dan menyebabkan depresi dan ketidakmampuan untuk merawat bayi dan dirinya sendiri.
3. Meyaranka ibu untuk menjaga kebersihan diri dan lingkungan. Hal ini disebabkan karena infeksi tetap menjadi penyebab kematian bayi baru lahir di negara berkembang. Seperti pada infeksi nifas upaya mencuci tangan dapat menurunkan angka kematian secara drastis. Pasien harus menjaga kebersihan dilingkungan serta kebersihan pada daerah kewanitaan, tidak disarankan untuk membilas vagina dengan air hangat karena akan membuat jahitan lepas sehingga daerah kewanitaan dibersihkan dengan air dingin biasa. Sarankan kepada ibu untuk membersihkan daerah disekitar pulva terlebih dahulu, dari depan ke belakang, baru kemudian membersihkan daerah di sekitar anus. Menyarankan kepada ibu untuk membersihkan vulva setiap kali selesai buang ai kecil
4. Memberikan penjelasan mengenai pentingnya pemberian ASI eksklusif dan penggunaan KB kepada ibu. Bila ibu menyusui secara maksimal (8-10 kali selama sehari), selama 6 minggu ibu akan mendapat efek kontrasepsi dari Lactational Amenorrhea (LAM). Mengajarkan kepada ibu cara memposisikan dan melekatkan bayi pada payudara, karea seringkali kegagalan menyusui disebabkan oleh kesalahan memposisikan dan melekatkan bayi. Puting ibu menjadi lecet dan ibu menjadi segan menyusui sehingga produksi ASI berkurang dan ibu menjadi malas menyusui.
Langkah menyusui yang benar:
- Cuci tangan dengan air yang bersih yang mengalir - Ibu duduk dengan santai kaki tidak boleh menggantung
- Perah sedikit ASI dan oleskan ke puting dan aerola sekitranya. Manfaatnya adalah sebagai disinfektan dan menjaga kelembapan
- Posisikan bayi dengan benar:
o Bayi dipegang dengan satu lengan. Kepala bayi diletakkan dekat lengkungan siku ibu, bokong bayi ditahan dengan telapak tangan ibu
o Perut bayi menempel ketubuh ibu
o Mulut bayi berada di depan puting ibu
o Lengan yang di bawah merangkul tubuh ibu, jangan berada di antara tubuh ibu dan bayi. Tangan yang di atas boleh dipegang ibu atau diletakkan di atas dada iu
o Telinga dan lengan yang di atas berada dalam 1 garis lurus - Bibir bayi dirangsang dengan puting ibu dan akan membuka lebar, kemudian dengan cepat kepala bayi dilekatkan ke payudara ibu dan puting serta areola dimasukkan ke dalam mulut bayi.
- Cek apakah perlekatan sudah benar:
Dagu menempel ke payudara ibu, mulut terbuka lebar, sebagian besar areola terutama yang di bawah masuk ke dalam mulut bayi, bibir bayi terlipat keluar, pipi bayi tidak boleh kempot, tidak boleh terdengar bunyi decak, hanya boleh terdengar bunyi menelan, ibu tidak kesakitan dan bayi tenang.
5. Jika kedepannya pasien hamil lagi maka sebaiknya kontrol kehamilan dilakukan secara lebih teratur untuk mengetahui karena jika adanya hipertensi pada kehamilan ataupoun gangguan lainnya dapat dicegah dengan penanganan antenatal yang baik. Pada kehamilan selanjutnya, disarankan pasien untuk melakukan antenatal care dan USG secara rutin serta menghindari faktor risiko yang membahayakan kehamilan.
6. Pasien diingatkan kembali untuk kontrol ke poli kebidanan dan kandungan seminggu setelah pulang dari rumah sakit.
7. Pentingnya untuk menjalin komunikasi yang lebih sering antara pasien dengan suaminya. Hubungan dengan keluarga terdekat agar lebih dipererat
agar dapat diperoleh dukungan dan saran dari keluarga yang mungkin lebih berpengalaman, terutama dalam mempertimbangkan untuk hamil kembali.
LAMPIRAN
DENAH RUMAH PASIEN
Kamar Penghuni Kos Lain Halaman + Tempat Parkir
Kamar Penghuni Kos Lain
KAMAR TIDUR
DAPUR KAMAR
MANDI