1
TYPES OF EMOTIONS THAT EXPERIENCED BY TEACHER OF SMPN 3 BANGKINANG SEBERANG
Yelfita N.1) Prof Dr. Zulfan Saam, MS. 2) Dra. Hj. Elni Yakub, M.Si. 2) 1)
Mahasiswa Pendidikan Bimbingan dan Konseling, Email : [email protected] 2)Dosen Program Studi Pendidikan Bimbingan Konseling FKIP Universitas Riau
ABSTRACT
The results showed that the teachers at SMP 3 Bangkinang Seberang show very prominent types of positive emotions on frequency often and very often, reaching 78.4% for teachers who have work under 10 years old, and 85.52% for teachers which have work 10 years and over.
For negative emotions, teachers SMP 3 Bangkinang Seberang generally display sometimes, good teachers who have work under 10 years and the teachers who have work 10 years and over. And There are different types of emotions experienced by teachers at SMP 3 Bangkinang Across the years of service that have under 10 years with that have a service life of 10 years and above aspect of the percentage frequency of occurrence or the emotions, while the emotional aspect of it's own kind , almost all experienced it, both types of positive emotion and negative emotion types.
2 A.PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan suatu proses yang komplek yang melibatkan berbagai pihak, khususnya keluarga, sekolah dan masyarakat sebagai ruang lingkup pendidikan yang dikenal dengan istilah tri pusat pendidikan. Fumgsi dan peran tri pusat pendidikan, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama merupakan faktor penting dalam mencapai tujuan pendidikan yakni membangun manusia seutuhnya serta menyiapkan sumber daya manusia pembangunan yang bermutu. Dengan demikian pemenuhan fungsi dan peranan secara optimal merupakan salah satu faktor penentu keberhasilan pembangunan nasional.
Dalam strategi pelaksanaan pendidikan di sekolah terdapat tiga variabel utama yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain dan saling berkaitan, ketiga variabel tersebut adalah kurikulum, guru atau tenaga pendidik dan pembelajaran. (Sudjana, 2006:1)
Menjadi seorang guru bukan hal yang mudah, karena guru mempunyai tugas yang banyak sekali. Selain sebagai pendidik, guru juga dituntut untuk mengerti dunia anak, tidak hanya itu guru juga harus mampu mendorong siswanya menyadari akan jati diri dan kemampuannya. Sistem pembagian tugas guru pada dasarnya tidak sama, karena tugas guru didasarkan pada mata pelajaran yang sesuai dengan keahliannya. Moh Uzer Usman (2002:6-7) mengatakan bahwa seorang guru merupakan profesi yang meliputi mendidik, mengajar, dan melatih, 1) mendidik berarti meneruskan dan mengembangkan nilai- nilai hidup, 2) mengajar berarti meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, dan 3) melatih mengembangkan keterampilan pada siswa.
Dari uraian di atas, maka guru selain dituntut untuk menguasai materi pembelajaran dan teori mendidik, juga harus memiliki kemampuan untuk mengontrol emosi atau perasaan yang membuat kecendrungan yang mengarah terhadap sesuatu yang secara intuitif dinilai sebagai hal yang baik atau bermanfaat, atau menjauhi sesuatu yang secara intuitif dinilai sebagai hal yang buruk atau berbahaya, sebab tindakan tersebut diikuti oleh pola-pola perubahan fisiologi sejalan dengan mendekati atau menjauhi objek, maka akan terjadi pola tindakan yang berbeda untuk emosi yang berbeda pula.
Penguasaan terhadap emosi atau kecerdasan emosi sangatlah penting, karena pembelajaran yang menjadi strategi utama digunakan guru untuk memotivasi belajar, sikap belajar, berpikir kritis, memiliki keterampilan sosial bagi para peserta didik di sekolah. Pembelajaran adalah interaksi antara anak didik dengan lingkungannya, sehingga terjadi perubahan prilaku ke arah yang lebih baik. Tugas pokok guru dalam pembelajaran adalah bagaimana mengkondisikan lingkungan agar menunjang terjadinya perubahan tingkah laku bagi anak didik.
Pola tindakan yang didasarkan kepada emosi sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari termasuk di lembaga pendidikan. Seperti yang terjadi di SMPN 3 Bangkinang Seberang, peneliti menemukan beberapa guru yang terkadang mengeluarkan kata-kata yang tidak pantas (kasar), acuh tak acuh terhadap bunyi bel sebagai tanda masuk kelas dan asyik mengobrol dengan teman sesama guru, jika diingatkan oleh guru piket, justru menampilkan muka tidak senang dan berkata-kata dengan nada kesal.
3
Contoh lain juga di SMPN 3 Bangkinang Seberang, ada diantara guru-guru, terutama yang perempuan berkelompok-kelompok berdasarkan status sosial atau kekayaan yang dimiliki, yang kaya suka memamerkan kekayaannya dan berkumpul dengan yang kaya juga, sementara yang kurang kaya merasa tersisih dan berkelompok dengan guru yang kurang juga, sehingga kondisi tersebut sering menimbulkan perasaan kecewa, takun atau marah dan lain sebagainya.
Fenomena tersebut tidak berlaku untuk semua guru di SMPN 3 Bangkinang Seberang, banyak juga di antara mereka yang mampu mengendalikan emosinya dan tetap tenang dalam mengadapi persoalan di sekolah, responsif terhadap hal-hal yang menyebabkannya senang, ceria dan bahagia, serta tetap tenang dalam merespon hal-hal yang dapat menjadikannya memunculkan emosi marah, takut atau sedih, sehingga prilaku yang muncul dapat menjaga kedudukannya sebagai seorang guru yang patut dicontoh dan diteladani oleh anak didik.
Keragaman emosi yang dimiliki oleh guru-guru di SMPN 3 Bangkinang Seberang yang tentunya berpengaruh terhadap keberhasilan guru dalam melaksanakan tugas sebagai pendidik, pengajar dan pelatih, mendorong peneliti untuk melakukan penelitian tentang jenis-jenis emosi yang muncul pada diri guru-guru berada dan berinteraksi dengan komponen lainnya di Sekolah yang dituangkan dalam sebuah karya ilmiah skripsi dengan judul; “JENIS-JENIS EMOSI YANG DIALAMI GURU-GURU SMPN 3 BANGKINANG SEBERANG”.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah 1) Bagaimana gambaran jenis-jenis emosi positif yang dialami guru-guru SMPN 3 Bangkinang Seberang? 2) Bagaimana gambaran jenis-jenis emosi negatif yang dialami guru-guru SMPN 3 Bangkinang Seberang?
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) Gambaran jenis-jenis emosi positif yang dialami guru-guru SMPN 3 Bangkinang Seberang dan 2) Gambaran jenis-jenis emosi negatif yang dialami guru-guru SMPN 3 Bangkinang Seberang.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi manfaat bagi para pembaca secara umum dan khususnya bagi pihak, antara lain: 1) sebagai bahan untuk menambah pengetahuan tentang jenis-jenis emosi yang dialami dalam kehidupan sehari-hari, 2) Dengan pengetahuan tersebut, maka guru-guru yang sudah biasa dengan emosi positif dapat dikembangkan dan dipelihara, sementara yang terbiasa dengan emosi negatif dapat mengendalikan emosinya. 3) Sebagai acuan bagi kepala sekolah dalam melaksanakan manajemen sumber daya manusia guru dilihat dari jenis-jenis emosi yang sering dialami untuk membina mereka ke arah yang lebih baik.
4 B.METODOLOGI PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan jenis penelitian deskriptif, yakni penelitian yang menggambarkan atau menjelaskan fakta-fakta yang terjadi di lapangan dan berkaitan dengan pokok permasalahan. Selanjutnya disusun dan diklasifikasikan secara sistematis dan dianalisa berdasarkan teori yang ada untuk selanjutnya ditarik kesimpulan.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh guru yang bertugas di SMPN 3 Bangkinang Seberang Kabupaten Kampar, berjumlah 38 orang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 28 orang perempuan, dengan masa kerja yang bervariasi antara 3 tahun sampai dengan 26 tahun, sekaligus menjadi sampel, karena peneliti menggunakan teknik total samplin.
Alat pengumpulan data digunakan angket dengan indikator mengacu kepada pendapat Saam (2012) tentang jenis emosi dasar dan pengembangannya. Berikut kisi-kisi angket:
Tabel 1,
Kisi-Kisi Angket Tentang Jenis-Jenis Emosi Guru
No Jenis Emosi Indikator Situasi/Aspek No. Item
1 Senang
Gembira a. Hubungan dgn Pimpinan sekolah
b. Pergaulan dengan para siswa
7, 8 11, 12
Bahagia Interaksi sesama guru di sekolah 1, 2, 3
Cinta a. Pergaulan dengan para siswa b. Kehidupan di sekolah
21 20
Suka Profesi sebagai guru 15, 16
Riang Kehidupan di sekolah 18, 19
Sayang Pergaulan dengan para siswa 13, 14
Takjub Hubungan dengan Pimpinan sekolah 9, 10
Kagum Interaksi sesama guru di sekolah 4, 5, 6
Damai Kehidupan di sekolah 17
2 Sedih
Galau Interaksi sesama guru di sekolah 22
Hampa a. Interaksi sesama guru di sekolah b. Profesi sebagai guru
23, 24 34
Kecewa a. Hubungan dgn Pimpinan sekolah
b. Kehidupan di sekolah
25, 26 28
Merana c. Hubungan dgn Pimpinan sekolah 27
Frustasi Pergaulan dengan para siswa 33
Rindu Interaksi sesama guru di sekolah 29
Duka Interaksi sesama guru di sekolah 30
Putus Asa
a. Pergaulan dengan para siswa b. Profesi sebagai guru
31 32
3 Takut
Cemas a. Interaksi sesama guru di sekolah b. Profesi sebagai guru
35 38
Cemburu Interaksi sesama guru di sekolah 36
5
b. Profesi sebagai guru 40
Ragu Profesi sebagai guru 41
Gelisah Kehidupan di lingkungan sekolah 42
4 Marah
Jengkel a. Interaksi sesama guru di sekolah b. Hubungan dgn Pimpinan sekolah
43 50
Dendam Interaksi sesama guru di sekolah 44
Benci Hubungannya dengan Pimpinan sekolah 45
Kesal Hubungan dgn Pimpinan sekolah 46
Dongkol Pergaulan dengan para siswa 49
Geram Pergaulan dengan para siswa 47
Muak Kehidupan di lingkungan sekolah 48
Untuk mengolah data penelitian tentang jenis-jenis emosi guru-guru di SMPN 3 Bangkinang Seberang menggunakan rumus statistik (persentase) yang digunakan untuk mendeskripsikan hasil penelitian dengan rumus sebagai berikut:
f
P = x 100 % N
P : Persentase Jawaban f : frekuensi
N : Number of Cases (banyaknya responden) (Sudjijono, 1992:40) selanjutnya dianalisa dan diinterpretasikan dengan menggunakan metode analisa data kualitatif, yaitu dengan cara mengklasifikasikannya dan diuraikan secara gamblang sehingga diperoleh gambaran yang utuh tentang jenis-jenis emosi yang dialami guru-guru dalam berhubungan dengan warga sekolah lainnya.
Beberapa langkah yang dilakukan dalam pengumpulan data antara lain:
1. Menyusun instrumen penelitian berupa angket dengan jumlah pertanyaan sebanyak 50 pertanyaan.
2. Berkoordinasi dengan Kepala SMPN 3 Bangkinang Seberang sebagai
pimpinan lembaga untuk pelaksanaan penelitian.
3. Menginformasikan kepada guru-guru tentang maksud dan tujuan
penelitian serta data yang dibutuhkan untuk penelitian ini.
4. Pada tanggal 18-23 Februari 2013, peneliti memberikan angket kepada guru untuk mengisi angket dengan sebenarnya.
5. Menghitung jumlah angket yang telah terkumpul untuk memastikan
jumlahnya sesuai dengan jumlah sampel.
6. Mengelompokan angket yang telah terisi oleh guru berdasarkan masa kerja sebagai guru.
7. Memeriksa setiap angket untuk mengetahui jawaban yang diberikan oleh guru dan menghitungnya dengan memakai sistem tally untuk mengetahui jumlah masing-masing jawaban dalam angket.
6
8. Menghitung persentase masing-masing jawaban yang diberikan guru pada
setiap indikator emosi.
9. Mentabulasikan setiap indikator beserta jumlah jawaban dan persentase masing-masing.
10. Menganalisa hasil pengolahan data dengan mendeskripsikannya secara gamblang dan jelas
11. Membandingkan hasil analisis data tentang jenis-jenis emosi antara guru-guru yang memiliki masa kerja di bawah 10 tahun dengan guru-guru-guru-guru yang memiliki masa kerja 10 tahun ke atas di SMPN 3 Bangkinang Seberang. 12. Menarik kesimpulan penelitian
C.HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
HASIL PENELITIAN
1. Gambaran emosi guru yang memiliki masa kerja di bawah 10 tahun
Berdasarkan data yang terkumpul, maka dapat dikemukakan tentang jenis-jenis emosi yang dialami guru-guru bermasa kerja di bawah 10 tahun di SMPN 3 Bangkinang Seberang melalui tabel di bawah ini:
Tabel 2,
Jenis emosi guru-guru yang memiliki masa kerja di bawah 10 tahun di SMPN 3 Bangkinang Seberang
No
Emosi guru masa kerja dibawah 10
tahun
S.Sering Sering Kadang2 Jarang T. Pernah
Rerata % Rerata % Rerata % Rerata % Rerata %
1 Senang 27,9 50,5 17,4 3,42 0,79
2 Sedih 5,7 25,9 37,28 21,48 8,78
3 Takut 6,77 19,5 26,3 13,6 33,8
4 Marah 6,58 27,6 37,49 17,1 11,2
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa jenis emosi senang lebih sering bahkan sangat sering dialami oleh guru-guru di SMPN 3 Bangkinang Seberang yang memiliki masa kerja di bawah 10 tahun dalam berinteraksi atau bergaul dengan komponen lainnya seperti siswa, kepala sekolah atau lingkungan sekolah, sedikit sekali diantara mereka yang menyatakan kadang-kadang, jarang apalagi yang tidak pernah.
Untuk jenis emosi sedih para guru mengalaminya kadang-kadang atau pun jarang merasakan sedih, jika dilihat secara keseluruhan, namun apabila dilihat per indikator sebagian besar juga ada yang menyatakan sering tergantung kepada situasi atau stimulus yang dihadapinya dalam berinteraksi atau bergaul dengan komponen lainnya di sekolah. Untuk itu, dapat dirangkum bahwa sebagian besar guru yang bermasa kerja di bawah 10 tahun di SMPN 3 Bangkinang Seberang kadang-kadang dan sering mengalami
7
emosi sedih, hanya sebagian kecil yang jarang atau tidak pernah mengalami sedih.
Untuk jenis emosi takut guru-guru di SMPN 3 Bangkinang Seberang yang memiliki masa kerja di bawah 10 tahun, sebagian besar menyatakan bahwa mereka tidak pernah, jarang dan kadang-kadang mengalami rasa takut, sementara sebagian kecil lainnya mengalami sering dan sangat sering. Sedangkan untuk jenis emosi marah paling banyak menyatakan kadang-kadang dan sering sementara sebagian kecil lainnya menyatakan tidak pernah, jarang dan sangat sering. Hal ini dapat disimpulkan bahwa untuk jenis emosi takut sebagian besar guru yang memiliki masa kerja di bawah 10 tahun kadang-kadang mengalaminya.
Demikian frekwensi jenis-jenis emosi yang dialami oleh guru-guru yang bermasa kerja di bawah 10 tahun di SMPN 3 Bangkinang Seberang yang pada umumnya mereka mengalami jenis emosi tersebut hanya frekwensinya yang berbeda-beda antara satu sama lain. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Grafik di bawah ini:
GRAFIK 1,
PERSENTASE JENIS EMOSI YANG DIALAMI GURU SMPN 3 BANGKINANG SEBERANG YANG MEMILIKI
MASA KERJA DI BAWAH 10 TAHUN
Keterangan: SS : Sangat Sering S : Sering K : Kadang-Kadang J : Jarang TP : Tidak Pernah 0.00% 10.00% 20.00% 30.00% 40.00% 50.00% 60.00%
Emosi Senang Emosi Sedih Emosi Takut Emosi Marah
SS S K J TP
8
2. Gambaran jenis emosi guru yang memiliki masa kerja 10 tahun ke atas. Untuk jenis emosi yang dialami guru-guru SMPN 3 Bangkinang Seberang yang memiliki masa kerja 10 tahun ke atas dapat dilihat pada tabel di bawah ini:
Tabel 3,
Perbandingan jenis emosi guru-guru di SMPN 3 Bangkinang Seberang
No
Jenis emosi guru bermasa kerja 10 tahun ke atas
S.Sering Sering Kadang2 Jarang T. Pernah
Rerata % Rerata % Rerata % Rerata % Rerata %
1 Senang 42,63 42,89 14,5 - -
2 Sedih 5,26 21,5 42,6 13,2 16,7
3 Takut 3,01 20,3 33,8 15,8 27,1
4 Marah 15,1 17,75 40,1 11,8 15,1
Berdasarkan tabel di atas, dapat diketahui bahwa jenis emosi senang lebih sering bahkan sangat sering dialami oleh guru-guru di SMPN 3 Bangkinang Seberang yang memiliki masa kerja 10 tahun ke atas dalam berinteraksi atau bergaul dengan komponen lainnya, sedikit sekali diantara mereka yang menyatakan kadang-kadang dan tidak ada satu pun yang menyatakan jarang atau tidak pernah. Sebagian besar dari mereka menyatakan sangat sering dan sering. Hal ini berarti bahwa mereka sering mengalami emosi senang dalam pergaulan di sekolah.
Untuk jenis emosi sedih, mereka mengalaminya kadang-kadang atau pun jarang merasakan sedih, jika dilihat secara keseluruhan, namun apabila dilihat per indikator sebagian besar juga ada yang menyatakan sering tergantung kepada situasi atau stimulus yang dihadapinya dalam berinteraksi atau bergaul dengan komponen lainnya di sekolah.
Berdasarkan persentase rata-rata jenis emosi sedih yang dialami guru-guru yang bermasa kerja 10 tahun ke atas di SMPN 3 Bangkinang Seberang, maka dapat disimpulkan bahwa sebagian besar kadang-kadang dan sering mengalaminya, hanya sebagian kecil yang menyatakan tidak pernah, jarang ataupun sangat sering.
Untuk jenis emosi takut yang dialami guru-guru SMPN 3 Bangkinang Seberang yang memiliki masa kerja 10 tahun ke atas. Sebagian besar mereka kadang-kadang mengalami jenis emosi takut. Sementara untuk jenis emosi marah, paling banyak dari mereka menyatakan kadang-kadang, sementara sebagian lagi menyebar pada pernyataan sering, sangat sering, tidak pernah dan jarang.
Demikian frekwensi jenis-jenis emosi yang dialami oleh guru-guru yang bermasa kerja 10 tahun ke atas di SMPN 3 Bangkinang Seberang yang pada umumnya mereka mengalami jenis emosi tersebut hanya frekwensinya
9
yang berbeda-beda antara satu sama lain dan sebagian besar menyatakan kadang-kadang sebanyak 40,1%. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Grafik di bawah ini:
GRAFIK 2,
PERSENTASE JENIS EMOSI YANG DIALAMI GURU SMPN 3 BANGKINANG SEBERANG YANG MEMILIKI
MASA KERJA 10 TAHUN KE ATAS
Keterangan: SS : Sangat Sering S : Sering K : Kadang-Kadang J : Jarang TP : Tidak Pernah
3. Perbandingan jenis emosi antara guru yang bermasa kerja di bawah 10 tahun dengan guru yang bermasa kerja 10 tahun ke atas di SMPN 3 Bangkinang Seberang.
Tabel 4,
Perbandingan jenis emosi guru-guru di SMPN 3 Bangkinang Seberang N
o Emosi
Masa Kerja Responden
S.Sering Sering Kadang2 Jarang T. Pernah
Rerata % Rerata % Rerata % Rerata % Rerata %
1 Senang Di bawah 10 tahun 27,9 50,5 17,4 3,42 0,79 0.00% 5.00% 10.00% 15.00% 20.00% 25.00% 30.00% 35.00% 40.00% 45.00%
Emosi Senang Emosi Sedih Emosi Takut Emosi Marah
SS S K J TP
10 10 tahun ke atas 42,63 42,89 14,5 - - 2 Sedih Di bawah 10 tahun 5,7 25,9 37,28 21,48 8,78 10 tahun ke atas 5,26 21,5 42,6 13,2 16,7 3 Takut Di bawah 10 tahun 6,77 19,5 26,3 13,6 33,8 10 tahun ke atas 3,01 20,3 33,8 15,8 27,1 4 Marah Di bawah 10 tahun 6,58 27,6 37,49 17,1 11,2 10 tahun ke atas 15,1 17,75 40,1 11,8 15,1
* Catatan: perbandingan data lebih disederhanakan menjadi 3 klasifikasi, yakni: 1. sangat sering dan sering
2. kadang-kadang
3. jarang dan tidak pernah
Berdasarkan tabel 4 di atas, dapat dibandingkan tentang jenis emosi yang dialami oleh guru-guru di SMPN 3 Bangkinang Seberang antara yang bermasa kerja di bawah 10 tahun dengan yang guru-guru bermasa kerja 10 tahun ke atas sebagai berikut:
1. Untuk jenis emosi senang terlihat perbedaan yang cukup mencolok, bahwa guru-guru yang memiliki masa kerja 10 tahun ke atas lebih sering mengalami emosi senang dibanding guru-guru yang memiliki masa kerja di bawah 10 tahun.
2. Untuk jenis emosi sedih dapat dilihat perbedaannya bahwa guru-guru yang memiliki masa kerja di bawah 10 tahun terlihat hampir merata berkisar 30-an pada setiap pernyataan. Sedangkan untuk guru-guru yang memiliki masa kerja 10 tahun ke atas sebagian besar menyatakan kadang-kadang dan sebagian kecilnya menyatakan sering mengalaminya. 3. Untuk jenis emosi takut dapat dilihat perbedaannya bahwa guru-guru yang memiliki masa kerja di bawah 10 tahun, sebagian besar menyatakan kadang-kadang mengalaminya. Sedangkan untuk guru-guru yang memiliki masa kerja 10 tahun ke atas paling banyak menyatakan jarang dan tidak pernah mengalaminya.
4. Untuk jenis emosi marah dapat dilihat perbedaannya bahwa guru-guru yang memiliki masa kerja di bawah 10 tahun lebih banyak menyatakan kadang-kadang mengalaminya sama halnya dengan guru-guru yang memiliki masa kerja 10 tahun ke atas.
11 PEMBAHASAN
Guru-guru SMPN 3 Bangkinang Seberang mengalami emosi dalam berinteraksi dengan anggota lainnya di sekolah. Untuk jenis emosi positif yaitu senang hampir seluruhnya sering bahkan sangat sering mengalaminya, baik yang bermasa kerja di bawah 10 tahun dengan persentase rata-rata 27,9% sangat sering dan 50,5% sering mengalaminya, maupun yang bermasa kerja 10 tahun ke atas dengan persentase rata-rata 42,63% sangat sering dan 42,69% sering mengalaminya.
Ini menunjukan bahwa guru-guru SMPN 3 Bangkinang Seberang telah menampilkan jenis emosi positif, yang berpengaruh terhadap terciptanya suasana yang kondusif.
Selanjutnya untuk jenis emosi negatif, yang terdiri dari emosi sedih, takut dan marah dapat dikatakan bahwa guru-guru SMPN 3 Bangkinang juga mengalaminya namun dalam skala intensitas kadang-kadang. Seperti emosi sedih yang dialami guru-guru yang bermasa kerja di bawah 10 tahun di SMPN 3 Bangkinang Seberang, sebagian besar yakni 37,28% menyatakan kadang-kadang mengalaminya, 25,9% menyatakan sering, 21,4% menyatakan jarang mengalaminya, 8,78% tidak pernah mengalaminya serta 5,7% sangat sering mengalaminya. Atau juga sebagian besar rata-rata mereka tidak pernah, jarang dan kadang-kadang mengalaminya, sementara sebagian kecil lainnya mengalami sering dan sangat sering sekitar 26,27% saja.
Begitu juga dengan guru -guru yang bermasa kerja 10 tahun ke atas di SMPN 3 Bangkinang Seberang intensitas mengalami jenis emosi negatif yakni sedih, sebagian besar yakni 42,6% menyatakan kadang-kadang mengalaminya, 21,5% menyatakan sering, 16,7 % menyatakan tidak pernah dan 13,2% menyatakan jarang mengalaminya, serta 5,7% sangat sering mengalaminya. Juga jenis emosi takut, sebagian besar rata-rata mereka kadang-kadang mengalami jenis emosi takut dan mencapai 33,8%.
Selanjutnya tentang perbanding antara jenis emosi yang dialami oleh guru-guru di SMPN 3 Bangkinang Seberang antara yang memiliki masa kerja di bawah 10 tahun dengan yang memiliki masa kerja 10 tahun ke atas terdapat perbedaan ditinjau dari aspek frekwensi atau persentase kemunculan emosi tersebut, sedangkan dari aspek jenis emosi itu sendiri, hampir semuanya mengalaminya, baik jenis emosi positif maupun jenis emosi negatif.
D.KESIMPULAN DAM REKOMENDASI
Kesimpulan
1. Guru-guru di SMPN 3 Bangkinang Seberang sebagian besar sering
mengalami emosi positif (senang), baik guru-guru yang bermasa kerja di bawah 10 tahun maupun guru-guru yang bermasa kerja 10 tahun ke atas.
2. Guru-guru SMPN 3 Bangkinang Seberang secara umum kadang-kadang
mengalami emosi negatif dalam pergaulan di sekolah, baik guru yang bermasa kerja di bawah 10 tahun maupun guru-guru yang bermasa kerja 1o tahun ke atas.
12
3. Terdapat perbedaan jenis emosi yang dialami oleh guru-guru di SMPN 3 Bangkinang Seberang antara yang memiliki masa kerja di bawah 10 tahun dengan yang memiliki masa kerja 10 tahun ke atas dari aspek frekwensi atau persentase kemunculan emosi tersebut, sedangkan dari aspek jenis emosi itu sendiri, hampir semuanya mengalaminya, baik jenis emosi positif maupun jenis emosi negatif.
Berdasarkan temuan penelitian yang telah digambarkan di atas, tentang jenis-jenis emosi yang dialami oleh guru-guru di SMPN 3 Bangkinang Seberang, maka peneliti mengemukakan saran sebagai berikut:
1. Kepada Kepala SMPN 3 Bangkinang Seberang agar dapat memperhatikan tentang masalah emosi guru-guru untuk dapat meningkatkan kemampuan mereka dalam menampilkan emosi positif, dengan menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif baik secara fisik maupun secara psikis untuk menunjang ketenangan dalam kegiatan pendidikan.
2. Kepada para guru, khususnya di SMPN 3 Bangkinang Seberang agar selalu
berusaha mengelola emosi dengan sebaik-baiknya dan selalu menampilkan emosi positif serta menahan dari emosi negatif agar terjadi kegiatan pembelajaran yang baik yang mendorong siswa untuk meningkatkan potensi diri ke arah yang lebih baik.
3. Kepada instansi pemerintah terkait, dalam hal ini Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Kampar untuk mengadakan pelatihan-pelatihan yang bertujuan meningkatkan kemampuan guru dalam mengelola emosi untuk meningkatkan kecerdasan emosional mereka yang sangat bermanfaat dalam kegiatan pendidikan di sekolah.
UCAPAN TERIMAKASIH
Ucapan terimakasih peneliti sampaikan kepada Bapak Prof. Dr. Zulfan Saam, MS. Selaku pembimbing I dan Ibu Dra. Hj. Elni Yakub, M.Si selaku pembimbing II yang dengan segala kemurahan hati telah memberikan bimbingan dan arahan untuk penulisan skripsi dan karya ilmiah ini, kepada orang tua dan keluarga peneliti yang selalu memberikan dorongan atau motivasi dalam penyelesaian studi ini, juga kepada kawan-kawan seperjuangan yang telah membantu peneliti dalam menyelesaikan skripsi dan karya ilmiah ini.
13
DAFTAR PUSTAKA
Agustian, Ari Ginanjar. (2003). Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosi
dan Spiritual. Jakarta: Arga, Cet. Ke-14
Echols, John M. dan Hassan Shadaly. (1981). Kamus Inggris-Indonesia, Jakarta : PT. Gramedia, cet. Ke-10
Goleman, Daniel. (2000). Working with Emotional Intelligence, edisi terjemahan, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka
________, (200). Emotional Intellegence, terj. T. Hermaya Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
Hidayat, Komaruddin. (2002). Psikologi Agama; Menjadikan Hidup Lebih Ramah
dan Santun, Jakarta: Hikmah
Hornby, AS., (1990). Oxford Advanced Dictionary of English, London: Oxford University Press
Mulyasa, E., (2007). Standar Kompetensi Sertifikasi Guru, Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, Cet. Ke-1
Saam, Zulfan. (2009). Psikologi Keperawatan, Pekanbaru: UNRI Press.
Saphiro, Lawrence E., (1998). Mengajarkan Emotional Intelligence Pada Anak, Jakarta: Gramedia
Undang-Undang RI. Nomor 15 Tahun 2005 Tentang Guru dan Dosen, Jakarta: Sinar Grafika, 2006
Wirawan, Sarlito. (1997). Psikologi Remaja, Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada
Yulisubandi, (2011). Kecerdasan emosi menurut Daniel Goleman.
http://yulisubandi.blog. binusian.org. Diakses pada tanggal 8 November 2011.