BAB II: TINJAUAN INTANSIONAL PROYEK
2.1. LATAR BELAKANG PERUSAHAAN.
Nama Perusahaan :PT PP (Persero) Tbk
Alamat Kantor Head Office : Plaza PP - Wisma Subiyanto Building Jl. Letjend. TB. Simatupang No. 57 Pasar Rebo - Jakarta 13760 Indonesia
Struktur Tata Kelola Perusahaan PT PP (Persero)Tbk terdiri dari Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS),Dewan Komisaris, Dewan Direksi, Komite–komitedibawah Dewan Komisaris, Sekretaris Perusahaan dan Satuan Pengawasan Intern (SPI).
Proyek yang dikerjakan oleh PT. PP (Persero), diantaranya : Apartemen Landmark Pluit – Jakarta (2012)
RSUD Kota Bekasi – Jakarta (2012)
St. Moritz Paket Struktur – Puri Indah – Jakarta Barat (2009) Bandara Kualamu – Medan (2012)
Gedung kementrian pekerjaan umum – Jakarta (2010) Islamic Center Building – Jakarta (2010)
Gedung Kedutaan Austria – Jakarta (2010)
Balcony City – Balikpapan – East Kalimantan (2010) Universitas Negeri Jakarta – Jakarta (2009)
Gedung Kementrian Pertanian – Jakarta (2007) Apartment Lexington residence (2015)
2.2.Visi dan Misi Perusahaan.
2.2.1.Visi
Menjadi perusahaan konstruksi dan investasi terkemuka di Indonesia yang berdaya saing internasional.
2.2.2.Missi.
Menyediakan jasa konstruksi bernilai tambah tinggi untuk memaksimalkan kepuasan pelanggan.
Meningkatkan kapabilitas kapasitas dan kesejah teraan karyawan secara berkesinambungan
Menyediakan nilai tambah yang tinggi bagi semua pemangku kepentingan Menciptakan sinergi strategis dengan mitra kerja,mitra usaha dank lien.
Memberikan kontribusi positif terhadap lingkungan dan masyarakat melalui pengembangan green corporation.
2.2.3.Corporate value.
PROFESSIONALISM
Disiplin (tepat waktu,tepat janji, tertib) Proaktif gesit dan fleksibel
Tanggung jawab,taat hokum,taat peraturan,dan taat kode etik perusahaan tanpa benturan kepentingan.
DETERMINATION
Kerja keras (pantang menyerah dan tangguh) Memiliki kebulatan tekad dan kegigihan Fokus dalam bekerja dan tegas
EFFICIENCY
Efisien dalam bekerja Perduli terhadap biaya Performance.
Efektif dalam bekereja
Tidak cepat Efektif dalam bekereja puas dan selalu melakukan perbaikan
Selalu berusaha mewujudkan tujuan perusahaan. Excellence
Cermat dan teliti
Menghasilkan pelanan/produk berkualitas tinggi
Selalu mencapai kinerja maksimal dengan memperhatikan keselamatan kerja dan lingkungan.
Genuineness
Efektif dalam bekerja
Tidak cepat puas dan selalu melakukan perbaikan Selalu berusaha mewujudkan tujuan perusahaan. Satisfaction
Bersyukur dan berjiwa besar Focus pada kepuasan pelanggan
2.2.4. Kebijakan Perusahaan.
Perduli keinginan dan kepuasan pelanggan. Peningkatan kualitas yang berkesinambungan Pendekatan rekayasa teknik dan bisnis
Pemanfaatan teknologi mutakhir.
Profesionalisme sdm yang berwawasan global. 2.2.5. Kebijakan Kesehatan Dan Keselamatan Kerja.
Pencegahan terhadap terjadinya cidera dan sakit akibat bekerja Perbaikan yang berkesinambungan terhadap keselamatan
Kesehatan kerja dan pengelola lingkungan dengan melibatkan pihak terkait.
Perduli akan lingkungan kerja yang sehat dan mempertimbangkan dampak lingkungan dalam setiap kegiatan kerja.
Penggunaan sumber daya yang efisien dalam setiap aktifitas untuk ikut menjaga kelestarian alam.
Penerapan sistem managemen SHE mengikuti peraturan dan persyaratan yang berlaku. 2.2.6. Logo Perusahaan.
Warna logo (lambing) biru tua berarti berkarya dengan setia dan patuh. PP adalah singkatan dari pembangunan perumahan.
8 (Delapan)garis lengkung berarti: peruasahaan berkarya di delapan penjuru angin.(dimana saja)
Peruasahan berdiri pada bula ke 8 (agustus).
Lingkaran yang terbentuk oleh 8(delapan) garis lengkung berarti kesatuan tujuan yang 2.2.7.Bentuk Logo.
1. Logo (lambang) terdiri atas 3(tiga) bagian:
Logogram,logogram terdiri dari huruf pp dan 8(delapan) garis lengkung dengan ketentuan warna sebagai berikut:
o Warna dasar putih
o Warna logo(lambang) biru tua 2. Logo type
2.3.Struktur Organisasi Perusahaan.
2.3.1.Dewan Komisaris.
Komisaris utama :Ir.djoko murjanto, M,sc
Komisaris :Ir. Hedianto W. Husaini MSCE,MSI M. Khoerur roziqin,SE,MSc
Letnan jendral (Purn) Sumardi. Komisaris Independen :Drs. Aryanto sutadi,mh,msc
Andi gani nena wea,Sh, 2.3.2.Direksi.
Presiden Direktur : Ir. Bambang triwibowo Direktur Keuangan : Ir. Tumiyana,MBA Direktur Epc : Ir.Harry Nugroho MM Direktur Pemasaran Dan Sdm : Ir. I Wayan Karioka,MH Direktur Pengembangan Bisnis : Ir. Lukman hidayat
Dan Riset Dan Teknologi
Direktur Operasional : Ir.Ketut Darmawan 2.3.3. Struktur Organisasi.
2.4. Struktur Organisasi Proyek.
Table 3. Struktur Organisasi Proyek
Di dalam Proyek Four winds Of Apartement ini terdapat beberapa pihak pihak yang terlibat. Dan dapat dijabarkan sebagai berikut :
2.4.1. Pemilik Proyek / Owner.
Pada proyek bangunan Lexington Residence Apartemen ini secara keseluruhan adalah di bawah kepemilikan dari PT.SATRIA PUSAKA PERMATA PERKASA yang berperan sebagai pemilik proyek atau owner dan konsultan MK atau juga disebut sebagai pemberi tugas. Keterangan Owner ialah sebagai berikut :
PT SATRIA PUSAKA PERMATA PERKASA Jl Deplu Raya 12 Pesanggrahan Bintaro Bintaro, Pesanggrahan
Jakarta Selatan 12330 DKI Jakarta Email : [email protected]
OWNER & MK
PT. Satria Pusaka Permata Perkasa
Konsultan Arsitektur PT. KIND Konsultan QS PT. WT Partnership Konsultan ME PT. Mepro Indo Consultant Kontraktor Utama PT.PP (PERSERO) Tbk. Konsultan Struktur PT. Wiratman
2.4.2 Konsultan Struktur.
Pada proyek bangunan Lexington Residence Apartemen ini secara keseluruhan adalah di kerjakan dari PT. Wiratman yang berperan dalam pekerjaan struktur Keterangan konsultan struktur ialah sebagai berikut :
PT. Wiratman
Jl. Letjen TB Simatupang Kav 38 Graha Simatupang Tower II Blok D Lantai Jati Pada Jakarta Barat 11610
Telp : 021 7805777,021 7813443,021 7816741,021 Email : www.wiratman.co.id
2.4.3 Konsultan Arsitektur.
Pada proyek bangunan Lexington Residence Apartemen ini pekerjaan finishing di kerjakan oleh PT KIND yang berperan dalam pekerjaan arsitektur Keterangan konsultan arsitektur ialah sebagai berikut :
PT KIND
City Lofts Sudirman, Suite 1516
Jl. KH. Mas Mansyur 121 Jakarta 10220 Telp : +62 21 299 59 825
Email : [email protected]
2.4.4. Konsultan Mekanikal & Elektrikal.
Pada proyek bangunan Lexington Residence Apartemen ini secara keseluruhan ME adalah di kerjakan dari PT MEPRO INDO CONSULTANT yang berperan dalam pekerjaan ME Keterangan konsultan ME ialah sebagai berikut :
PT. Mepro Indo Consultant
Jl. Joglo Raya No. 48 Ruko Mega Kebon Jeruk Maisonette No. 16, Jakarta Barat 11640
Telp : 021 - 5858205, 021 - 5858174 / 5858162 Email : [email protected]
2.4.5 Konsultan Quantity Surveyor.
Pada proyek bangunan Lexington Residence Apartemen ini secara keseluruhan tentang pembiayaan nilai proyek dan mutu untuk owner yang terkait dengan pekerjaan di proyek adalah di kerjakan dari PT.WT PARTNERSHIP yang berperan dalam pekerjaan QS. Keterangan konsultan Quantity Surveyor ialah sebagai berikut :
PT. WT Partnership Jakarta
Setiabudi Atrium Building, 6th Floor, Suite 609A-610 Jalan HR Rasuna Said Kav. 62
Kuningan Jakarta Selatan 12920 Indonesia T: +62 21 2932 8178
F: +62 21 2932 8177
E: [email protected] 2.4.6. Kontraktor Utama.
Pada proyek bangunan Lexington Residence Apartemen ini kontraktor utamanya ialah dari PT PP (PERSERO)Tbk. Keterangan kontraktor utama ialah sebagai berikut :
PT PP (Persero) Tbk
Plaza PP - Wisma Subiyanto Building Jl. Letjend. TB. Simatupang No. 57 Pasar Rebo - Jakarta 13760 Indonesia Telp (021)8403922
2.5. Penyelenggara Proyek.
Dalam suatu proyek konstruksi pastinya terdapat Pihak-Pihak yang terlibat dalam pembangunan suatu proyek mulai dari tahap ide sampai dengan tahap pelaksanaan secara garis besar dapat dibagi menjadi tiga pihak yaitu :
1) Pemilik Proyek / Owner
2) Pihak Konsultan (Perencana/Pengawas/MK) 3) Pihak Kontraktor (Pelaksana)
Table 4. Penyelenggara Proyek
Sumber : Modul Perkuliahan “Para Pihak Pelaku Proyek” Universitas Mercu Buana
2.5.1. Pemilik Proyek/Owner.
Menurut Rosyid (2006) Pemilik proyek adalah seseorang atau perusahaan yang mempunyai dana, dan memberikan tugas kepada seseorang atau suatu perusahaan yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam pelaksaan pekerjaan agar hasil proyek sesuai sasaran dan tujuan yang ditetapkan. untuk merealisasikan proyek, owner mempunyai kewajiban pokok yaitu menyediakan dana untuk membiayai proyek. berikut penjelasan mengenai tugas dan wewenang owner dalam pelaksanaan proyek konstruksi bangunan. Pengguna jasa Penyedia Jasa PEMILIK PROYEK
KONSULTAN
PERENCANA
KONTRAKTORMK
Tugas Pemilik Proyek / Owner :
1) Menyediakan biaya perencanaan dan pelaksanaan pekerjaan proyek. 2) Mengadakan kegiatan administrasi proyek.
3) Memberikan tugas kepada kontraktor atau melaksanakan pekerjaan proyek.
4) Meminta pertanggung jawaban kepada konsultan pengawas atau manajemen konstruksi ( MK )
5) Menerima proyek yang sudah selesai dikerjakan oleh kontraktor. Wewenang Pemilik Proyek / Owner :
1) Membuat surat perintah kerja ( SPK )
2) Mengesahkan atau menolak perubahan pekerjaan yang telah direncanakan.
3) Meminta pertanggungjawaban kepada para pelaksana proyek atas hasil pekerjaan konstruksi.
Memutuskan hubungan kerja dengan pihak pelaksana proyek yang tidak dapat melaksanakan pekerjaanya sesuai dengan isi surat perjanjian kontrak. misalnya pelaksanan pembangunann dengan bentuk dan material yang tidak sesuai dengan RKS. 2.5.2.Pihak Konsultan Perencana/Consultant.
Rosyid (2006) Juga mengatakan bahwa konsultan ialah seorang atau perusahaan yang ditunjuk oleh pemilik yang memiliki keahlian dan pengalaman merancang dan mengawasi proyek konstruksi, pengertiannya ialah sebagai berikut :
Konsultan perencana : Seseorang atau perusahaan yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam merencankan sebuah proyek konstruksi. Seperti Perencana Arsitektur, Perencana Struktur, Perencana Mekanikal dan Elektrikal dan lain sebagainy
Tugas Konsultan Perencana :
2) Membuat gambar kerja pelaksanaan.
3) Membuat rencana kerja dan syarat – syarat pelaksanan pembangunan atau RKS sebagai pedoman pelaksanaan.
4) Membuat rencana anggaran biaya bangunan.
5) Memproyeksikan ide – ide atau keinginan pemilik kedalam desain bangunan.
6) Melakukan perubahan desain bangunan jika terjadi penyimpangan atau hal – hal yang tidak memungkinkan diwujudkannya desain.
7) Mempertanggungjawabkan desain dan perhitungan struktur jika terjadi kegagalan konstruksi.
Wewenang konsultan perencana :
1) Mempertahankan desain dalam hal adanya pihak – pihak pelaksana bangunan yang melaksanakan pekerjaan yang tidak sesuai dengan rencana.
2) Menentukan warna dan jenis material yang akan digunakan dalam pelaksanaan pembangunan.
B. Konsultan Pengawas : Perusahaan yang memiliki keahlian dan pengalaman dalam pengawasan pelaksanaan proyek.
Tugas Konsultan Pengawas :
1) Menyelenggarakan administrasi umum mengenai pelaksanaan kontrak kerja 2) Melaksanakan pengawasan secara rutin dalam perjalanan pelaksanaan proyek. 3) Menerbitkan laporan prestasi pekerjaan proyek untuk dapat dilihat oleh pemilik proyek. 4) Konsultan pengawas memberikan saran atau pertimbangan kepada pemilik proyek
maupun kontraktor dalam proyek pelaksanaan pekerjaan.
5) Mengoreksi dan menyetujui gambar shop drawing yang diajukan kontraktor sebagai pedoman pelaksanaan pembangunan proyek.
6) Memilih dan memberikan pesetujuan mengenai tipe dan merek yang diusulkan oleh kontraktor agar sesuai dengan harapan pemilik proyek namun tetap berpedoman dengan kontrak kerja konstruksi yang sudah dibuat sebelumnya.
Wewenang Konsultan Pengawas :
1) Memperingatkan atau menegur pihak pelaksana pekerjaan jika terjadi penyimpangan terhadap kontrak kerja.
2) Menghentikan pelaksanaan pekerjaan jika pelaksana proyek tidak memperhatikan peringatan yang diberikan.
3) Memberikan tanggapan atas usul pihak pelaksana proyek serta berhak memeriksa gambar shop drawing pelaksana proyek.
4) Melakukan perubahan dengan menerbitkan berita acara perubahan (site instruction). 5) Mengoreksi pekerjaan yang dilaksanakan oleh kontraktor agar sesuai dengan kontrak
kerja yang telah disepakati sebelumnya.
C. Konsultan MK/Manajemen Konstruksi : Perusahaan yang mewakili pemilik dalam pengelolaan proyek, sejak awal hingga akhir proyek.
Tanggung Jawab Konsultan MK :
1) Mewakili owner dalam mengkoordinasi pelaksanaan dalam konstruksi.
2) Menjembatani hubungan antara owner dengan pihak konsultan perencana dan kontraktor serta mengatur rapat koordinasi secara rutin.
3) Memeriksa dan mengawasi selama pelaksanaan konstruksi dan memberikan laporan rutin kepada owner.
4) Memberi ijin pelaksanaan seperti ijin pengecoran, ijin pembongkaran bekisting dan sebagainya.
2.5.3. Pihak Kontraktor atau Pelaksana.
Menurut Rosyid (2006) yang disebut Kontraktor yaitu perusahaan yang dipilih dan disetujui untuk melaksanakan pekerjaan konstruksi yang direncanakan sesuai dengan keinginan pemilik proyek dan bertanggung jawab penuh terhadap pembangunan fisik proyek. Biasanya penentuan kontraktor dilakukan melalui lelang/tender atau dapat juga melalui penunjukan langsung dengan negosiasi penawaran harga.
Tugas Kontraktor :
1) Melaksanakan pekerjaan sesuai dengan peraturan dan syarat-syarat yang telah ditetapkan dalam dokumen kontrak.
2) Membuat gambar kerja (shop drawing) sebelum memulai pelaksanaan pekerjaan.
3) Membuat dokumen tentang pekerjaan yang telah dilaksanakan dan diserahkan kepada owner.
4) Membuat laporan hasil pekerjaan berupa laporan kemajuan proyek. 5) Mengasuransikan pekerjaan dan kecelakaan kerja bagi tenaga kerja.
6) Melakukan perbaikan atas kerusakan atau kekurangan pekerjaan akibat kelalaian selama pelaksanaan dengan menanggung seluruh biayanya.
7) Menyerahkan hasil pekerjaan setelah pekerjaan proyek selesai.
2.6. Metode Pengadaan Proyek.
Menurut Wikipedia Indonesia Metode Pemilihan (pengadaan)adalah tata cara untuk melakukan pemilihan penyedia barang atau jasa yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia. Metode pemilihan barang atau jasa ini disusun dan ditetapkan oleh Kelompok Kerja yang berada dalam Unit Layanan Pengadaan (ULP), pada masing masing kementerian, lembaga, daerah, instansi. Selain dari kelompok kerja didalam ULP, bisa juga penyusunan dilakukan atau ditetapkan oleh Pejabat Pengadaan.
2.6.1. Jenis Metode Pemilihan.
Menurut Peraturan Presiden no 70 tahun 2012 metode pemilihan suatu proyek dibagi beberapa jenis yaitu :
1) Pelelangan Umum adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya untuk semua pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi/Jasa Lainnya yang memenuhi syarat. (Peraturan Presiden no 70 tahun 2012 pasal 1 ayat 23 )
2) Pelelangan Terbatas adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Pekerjaan Konstruksi dengan jumlah Penyedia yang mampu melaksanakan diyakini terbatas dan untuk pekerjaan yang kompleks. (Peraturan Presiden no 70 tahun 2012 pasal 1 ayat 24 ) 3) Pelelangan Sederhana adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Jasa Lainnya untuk
pekerjaan yang bernilai paling tinggi Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). (Peraturan Presiden no 70 tahun 2012 pasal 1 ayat 25)
4) Pemilihan Langsung adalah metode pemilihan Penyedia Pekerjaan Konstruksi untuk pekerjaan yang bernilai paling tinggi Rp 5.000.000.000,00 (lima miliar rupiah). (Peraturan Presiden no 70 tahun 2012 pasal 1 ayat 26)
5) Seleksi Umum adalah metode pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi untuk pekerjaan yang dapat diikuti oleh semua Penyedia Jasa Konsultansi yang memenuhi syarat. (Peraturan Presiden no 70 tahun 2012 pasal 1 ayat 27)
6) Seleksi Sederhana adalah metode pemilihan Penyedia Jasa Konsultansi untuk Jasa Konsultansi yang bernilai paling tinggi Rp 200.000.000,00 (dua ratus juta rupiah). (Peraturan Presiden no 70 tahun 2012 pasal 1 ayat 28)
7) Sayembara adalah metode pemilihan Penyedia Jasa yang memperlombakan gagasan orisinal, kreatifitas dan inovasi tertentu yang harga/biayanya tidak dapat ditetapkan berdasarkan Harga Satuan. (Peraturan Presiden no 70 tahun 2012 pasal 1 ayat 29) 8) Kontes adalah metode pemilihan Penyedia Barang yang memperlombakan
barang/benda tertentu yang tidak mempunyai harga pasar dan yang harga/biayanya tidak dapat ditetapkan berdasarkan Harga Satuan. (Peraturan Presiden no 70 tahun 2012 pasal 1 ayat 30).
9) Penunjukan Langsung adalah metode pemilihan Penyedia Barang/Jasa dengan cara menunjuk langsung 1 (satu) Penyedia Barang/Jasa. (Peraturan Presiden no 70 tahun 2012 pasal 1 ayat 23)
Menurut Zidni (2008) Dalam Wahyudin (2004) Metode pemilihan jasa konstruksi yang sudah ditetapkan oleh Keppres No. 80/2003 dibagi 5 cara yaitu:
1) Pelelangan Umum
Metode pemilihan barang atau jasa yang dilakukan secara terbuka dengan pengumuman secara terbuka dengan pengumuman secara luas sekurang – kurangnya di suatu surat kabar nasional atau surat kabar provinsi.
2) Pelelangan Terbatas
Pelelangan terbatas dapat dilaksanakan apabila dalam hal jumlah penyedia barang atau jasa yang mampu melaksanakan diyakini terbatas dan ntuk pekerjaan yang kompleks serta diumumkan secara luas sekurang-kurangnya disuatu surat kabar nasional dana tau satu surat kabar provinsi dengan mencantumkan penyedia barang atau jasa yang mampu, sehingga memberi kesempatan kepada penyedia barang atau jasa lainnya yang memenuhi kualifikasi.
3) Pemilihan Langsung
Pemilihan langsung yaitu pemilihan penyedia barang atau jasa yang dilakukan dengan membandinkan beberapa penawaran, sekurang-kurangnya 3 penawaran dari penyedia brang atau jasa yang telah lulus prakualifikasi dan dilakukan negoisasi baik teknis maupun biayya serta harus diumumkan minimal melalui papan pengumuman resmi untuk penerangan umum dan bila memungkinkan melalui interet. Pemilihan langsung dapat dilaksanakan manakala metode pelelangan umum atau metode pelalangan terbabtas dinilai tidak efisien dari segi pelelangan.
4) Penunjukan langsung
Penunjukan langsung ini dapat dilakukan apabila dalam keadaan tertentu dan keadaan khusus terhadap 1 penyedia barang atau jasa dengan cara melakukan negoisasi baik teknis maupun biaya, sehingga diperoleh harga yang wajar dan secara teknis dapat dipertanggungjawabkan.
5) Swakelola
Swakelola adalah pekerjaan yang direncanakan, dikerjakan, dan diawasi sendiri oleh pelaksana swakelola dengan menggunakan tenaga sendiri dana tau tenaga dari luar, baik tenaga ahli maupun tenaga upah borongan. Tenaga ahli dari luar tidak boleh melebihi 50 persen dari tenaga sendiri. Metode swakelola yang kedua ialah swakelola oleh instansi pemerintah lain nonswadaya (univeritas negri, lembaga penelitian atau lembaga ilmiah pemerintah, dan lembaga pelatihan) adalah pekerjaan yang perecanaan dan pengawasannya dilakukan oleh pengguna barang atau jasa, sedangkan pelaksanaan pekerjaan dilakukan oleh instansi pemerintah yang bukan penanggung jawab anggaran.
2.7. Sistem Kontrak Konstruksi.
2.7.1. Pengertian Kontrak
Kontrak adalah sebuah kesepakatan terbentuk dalam perjanjian tertulis (dokumen) yang mengikat antara dua atau lebih pihak yang berkompeten dalam hal tertentu dan
berdasarkan hukum tertentu pulayang menciptakan kewajiban untuk berbuat atau tidak berbuat sesuatu. Kontrak konstruksi sebagai suatu proses dimana pemilik proyek membuat suatu ikatan dengan agen dengan tugas mengkoordinasikan seluruh kegiatan
penyelenggaraan proyek termasuk studi kelayakan, desain, perencanaan, persiapan kontrak konstruksi dan lain-lain, kegiatan proyek dengan tujuan meminimkan biaya dan jadwal serta menjaga mutu proyek (Soehanto, 1995).
Sedangkan, dalam standar akuntansi keuangan definisi kontrak konstruksi adalah kontrak dan dinegosiasikan secara khusus untuk konstruksi suatu asset yang berhubungan giat satu sama lain atau saling tergantung dalam hal rancangan, teknologi, fungsi dan tujuan penggunaan pokok.
Dari definisi diatas, dapat disimpulkan bahwa kontrak konstruksi adalah suatu ikatan perjanjian atau negosiasi antara pemilik proyek dengan agen-agen mengkoordinasikan seluruh kegiatan proyek dengan tujuan untuk meminimalkan biaya dan jadwal serta menjaga mutu proyek.
Sebuah perjanjian adalah suatu kontrak diberlakukan secara hukum jika:
1) Perjanjian tersebut harus "saling" (semua pihak memiliki pemahaman yang sama tentang makna perjanjian mereka - ada "pertemuan pikiran")
2) Perjanjian tersebut harus "sukarela" (tidak ada pihak yang setuju di bawah pengaruh ancaman kekerasan atau penipuan keliru dari fakta-fakta)
3) Harus ada sebenarnya "pertimbangan" dibayarkan (yaitu, masing-masing pihak harus mencapai keuntungan dengan memberikan suatu kontrol untuk mendapatkan sesuatu lain kontrol pihak dalam pertukaran: janji satu sisi sederhana untuk memberikan orang lain manfaat serampangan bukan kontrak)
4) Substansi perjanjian tidak boleh "bertentangan dengan kebijakan publik"
Kontrak merupakan dokumen yang penting dalam proyek. Segala hal terkait hak dan kewajiban antar pihak serta alokasi risiko diatur dalam kontrak. Pemahaman kontrak mutlak diperlukan oleh Tim proyek dalam menjalankan proyek agar semua masalah dan risiko yang terkandung di dalamnya dapat diatasi dan sesuai dengan kemampuan masing-masing pihak untuk mengatasinya. Kerugian proyek terbesar disebabkan oleh kegagalan dalam mengelola kontrak konstruksi.
2.7.2. Macam – Macam Kontrak.
Berdasarkan aspek perhitungan biaya, adapun beberapa bentuk-bentuk kontrak dapat dijelaskan sebagai berikut :
1. Fix Lump Sum Price
Volume kontrak tidak boleh diukur ulang, harga penawaran tidak boleh diubah kecuali pada salah satu volume dan harga satuan. Resiko akibat perubahan karena koreksi aritmatik menjadi tanggung jawab penyedia jasa. Penyedia jasa menanggung semua resiko. Jenis kontrak ini bersifat tetap dan pasti. Pemenang tender harus menyelesaikan kontrak pengadaan barang dan jasa sampai pekerjaan tersebut selesai sesuai dengan jangka waktu penyelesaian yang sudah ditentukan.
Apabila ada risiko dalam penyelesaian pekerjaan tersebut menjadi tanggungjawab pemenang tender. Dalam kontrak lump sum, pemilik dasarnya telah ditetapkan seluruh risiko kepada kontraktor, yang pada gilirannya dapat diharapkan untuk meminta markup yang lebih.
tinggi dalam rangka untuk mengurus kontinjensi yang tidak terduga. Selain harga lump sum tetap, Komitmen lainnya adalah sering dibuat oleh kontraktor dalam
bentuk submittals seperti jadwal tertentu, sistem manajemen pelaporan atau program kendali mutu. Jika biaya aktual dari proyek ini adalah rendah, mengecilkan biaya akan mengurangi keuntungan kontraktor dengan jumlah tersebut. melebih-lebihkan Suatu
memiliki efek sebaliknya, tetapi dapat mengurangi kemungkinan terjadinya penawar rendah untuk proyek tersebut.
Penjelasan Pasal 21 ayat (1) PP No. 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, tertulis :
“Pada pekerjaan dengan bentuk Lump Sum, dalam hal terjadi pembetulan perhitungan perincian harga penawaran, karena adanya kesalahan aritmatik maka harga penawaran total tidak boleh diubah. Perubahan dan semua resiko akibat perubahan karena adanya koreksi aritmatik menjadi tanggung jawab sepenuhnya Penyedia Jasa, selanjutnya harga penawaran menjadi harga kontrak/harga pekerjaan”.
Hal-hal yang harus diperhatikan dalam penggunaan system kontrak Lumpsum adalah : 1) Batasan lingkup pekerjaan yang akan dilaksanakan harus jelas dinyatakan dalam
Spesifikasi Teknis / Gambar Lelang.
2) Apabila ada perbedaan lingkup pekerjaan antara yg tercantum dalam Spesifikasi Teknis / Gambar dengan Pekerjaan yang akan dilelangkan, harus dijelaskan dalam Rapat Penjelasan Lelang (Aanwijzing) dan dibuat Addendum Dokumen Lelang yang menjelaskan perubahan lingkup pekerjaan tersebut.
3) Penggunaan Daftar Kuantitas/Bill of Quantity dalam pelelangan hanya digunakan sebagai acuan bagi kontraktor dalam mengajukan penawaran harga yang bersifat tidak mengikat & Peserta Lelang harus melakukan perhitungan sendiri sebelum mengajukan penawaran.
4) Untuk mempermudah dalam hal evaluasi penawaran harga, saat rapat penjelasan lelang (Aanwijzing) harus ditegaskan bahwa apabila terdapat perbedaan
antara volume pada Bill of Quantity (BQ) dengan hasil perhitungan peserta lelang maka peserta lelang tidak boleh merubah volume Bill of Quantity yg diberikan dan agar menyesuaikannya dalam harga satuan yg diajukan.
5) Dalam perhitungan volume pekerjaan yg akan dicantumkan & Bill of Quantity harus dihindari sampai sekecil mungkin kesalahan yang mungkin terjadi, karena setelah terjadi kontrak nantinya volume lebih/kurang tidak dapat dikurangkan/ditambahkan.
1) Permintaan dari Pemberi Tugas untuk menambah / mengurangi pekerjaan yang instruksinya dilakukan secara tertulis.
2) Adanya perubahan gambar / spesifikasi teknis dari Perencana yang sudah disetujui oleh Pemberi Tugas.
3) Adanya instruksi tertulis dari pengawas lapangan untuk menyempurnakan suatu jenis pekerjaan tertentu yg dipastikan bahwa sangat beresiko secara struktural atau system tidak berfungsi tanpa adanya penyempurnaan tersebut dimana hal tersebut sebelumnya belum dinyatakan dalam spesifikasi teknik.
2. Unit Price
Volume kontrak diukur ulang, harga penawaran dapat berubah tetapi harga satuan tidak dapat berubah. Resiko akibat perubahan karena koreksi aritmatik menjadi tanggung jawab penyedia jasa dan pengguna jasa sama-sama memikul semua resiko. Adanya opname menimbulkan peluang kolusi. Jenis kontrak ini bersifat tetap dan pasti, berdasarkan harga satuan pekerjaan dengan spesifikasi tertentu. Sehingga pembayarannya dilakukan atas dasar pengukuran bersama atas volume pekerjaan. Dalam kontrak harga satuan, risiko estimasi tidak akurat dalam jumlah yang tidak pasti untuk beberapa tugas utama yang telah dihapus dari kontraktor. Namun, beberapa kontraktor dapat mengajukan “tawaran seimbang” ketika menemukan perbedaan yang besar antara estimasi dan perkiraan pemilik dari kuantitas.
Tergantung pada kepercayaan kontraktor pada perkiraan sendiri dan kecenderungan pada risiko, seorang kontraktor bisa sedikit menaikkan harga unit pada
tugas diremehkan sambil menurunkan harga unit pada tugas-tugas lainnya. Jika kontraktor benar di dalam pengkajian,
maka dapat meningkatkan keuntungan secara substansial sejak pembayaran dilakukan pada jumlah yang sebenarnya tugas, dan jika sebaliknya adalah benar, maka bisa kehilangan atas dasar ini. Selanjutnya, pemilik mungkin mendiskualifikasi kontraktor jika tawaran tersebut tampak sangat tidak seimbang. Sejauh bahwa meremehkan atau melebih-lebihkan disebabkan oleh perubahan dalam jumlah kerja, kesalahan tidak akan mempengaruhi laba kontraktor luar me-markup harga unit.
Penjelasan Pasal 21 ayat (2) PP No. 29/2000 tentang Penyelenggaraan Jasa Konstruksi, tertulis :
“Pada pekerjaan dengan bentuk imbalan harga satuan, dalam hal terjadi pembetulan perhitungan perincian harga penawaran dikarenakan adanya kesalahan aritmatik, harga penawaran total dapat diubah, tetapi harga satuan tidak boleh diubaj. Koreksi aritmatik hanya boleh dilakukan pada perkalian antara volume dengan harga satuan. Semua resiko akibat perubahan karena adanya koreksi aritmatik menjadi tanggung jawab sepenuhnya Penyedia Jasa. Penetapan pemenang lelang berdasarkan harga terkoreksi.
Selanjutnya harga penawaran terkoreksi menjadi harga kontrak/harga pekerjaan. Harga satuan juga menganut prinsip lump sum”.
3. Kontrak Gabungan Lump Sum dan Harga Satuan
Jenis kontrak ini, merupakan gabungan antara lumpsum dengan harga satuan. 4. Kontrak Terima Jadi
Jenis kontrak ini, seluruh pekerjaan diselesaikan dengan waktu tertentu sampai kontruksi dan peralatan penunjang lainnya dapat berfungsi sesuai dengan spesifikasi yang ditetapkan. pengadaan barang/jasa atas penyelesaian seluruh pekerjaan dalam batas waktu tertentu dengan jumlah harga pasti dan tetap sampai seluruh bangunan/konstruksi peralatan dan jaringan utama maupun penunjangnya dapat berfungsi dengan baik sesuai dengan kriteria kinerja yang telah ditetapkan.
5. Kontrak Presentase
Jenis kontrak ini, pelaksana kontrak atau pekerjaan pemborongan tersebut akan menerima imbalan jasa berdasarkan persentase nilai pekerjaan konstruksi. kontrak pelaksanaan jasa konsultansi bidang konstruksi atau pekerjaan pemborongan
tertentu, dimana konsultan yang bersangkutan menerima imbalan jasa berdasarkan prosentase tertentu dari nilai pekerjaan fisik konstruksi/pemborongan tersebut.
6. Kontrak Tahun Tunggal
Jenis kontrak ini, pelaksanaan pekerjaannya mengikat dana anggaran untuk satu tahun masa anggaran negara.
7. Kontrak Tahun Jamak
Jenis kontrak ini, pelaksanaan pekerjaan mengikat dana anggaran untuk satu tahun lebih masa anggaran negara dengan persetujuan pejabat pemerintah.
8. Kontrak Pengadaan Tunggal
Jenis kontrak ini, dilaksanakan oleh satu kontraktor untuk menyelesaikan proyek dalam waktu tertentu.
9. Kontrak Pengadaan Bersama
Jenis kontrak ini, dilaksanakan oleh beberapa kontraktor untuk menyelesaikan proyek dan waktu tertentu secara bersama berdasarkan kesepakatan.
2.8. Organisasi Proyek.
Organisasi Proyek Menurut Rosyid (2006) adalah Sebagai saran dalam pencapaian tujuan dengan mengatur dan mengorganisasi sumber daya, tenaga kerja, material, peralatan, dan modal secara efektif dan efisien dengan menerapkan sistem manajemen sesuai kebutuhan proyek.Agar tujuan organisasi dapat dicapai, dilakukan proses sebagai berikut :
1) Identifikasi dan Pembagian Kegiatan
2) Pengelompokan penganggung jawab kegiatan 3) Penentuan wewenang dan tanggung jawab 4) Menyusun mekanisme pengendalian
Table 5. Organisasi proyek