• Tidak ada hasil yang ditemukan

ANALISIS FUND TRANSFER PRICING (FTP) YANG WAJAR DAN PENERAPANNYA SEBAGAI PENGUKURAN KINERJA CABANG: STUDI KASUS PADA BANK AGRO

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "ANALISIS FUND TRANSFER PRICING (FTP) YANG WAJAR DAN PENERAPANNYA SEBAGAI PENGUKURAN KINERJA CABANG: STUDI KASUS PADA BANK AGRO"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

ANALISIS FUND TRANSFER PRICING (FTP) YANG WAJAR DAN

PENERAPANNYA SEBAGAI PENGUKURAN KINERJA CABANG:

STUDI KASUS PADA BANK AGRO

Natasha Amanda Thamrin dan Thomas Honggo Secokusumo (Program Studi Akuntansi, Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia)

Abstrak: Jurnal ini membahas tentang sistem harga transfer dana dan penilaian kinerja cabang pada Bank Agro. Penelitian dilakukan untuk mengetahui metode penentuan harga transfer dana yang sesuai dengan kondisi Bank Agro. Harga transfer dana tersebut juga terkait dengan pengukuran kinerja masing-masing cabang Bank Agro. Dengan menerapkan metode penentuan harga transfer yang sesuai, pengukuran kinerja masing-masing cabang Bank Agro menjadi lebih adil dan tidak bias. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan menyertakan perhitungan-perhitungan untuk mengeksplorasi metode penentuan harga transfer dana yang sesuai untuk Bank Agro. Hasil penelitian menyarankan bahwa Bank Agro sebaiknya memakai metode multiple pool dalam menentukan harga transfer dananya.

Kata kunci: Harga transfer dana; pengukuran kinerja cabang; single pool; split single pool; multiple pool; matched rate

Abstract: The focus of this journal is the fund transfer pricing system and branch performance evaluation in Bank Agro. The purpose of this study is to assess appropriate fund transfer pricing method in Bank Agro. Fund transfer pricing is also correlate with branch performance evaluation. After Bank Agro implements the appropriate fund transfer pricing method, each branch of Bank Agro performance evaluation will be fairer and unbiased. This study is a qualitative research with some calculations to explore the appropriate method of fund transfer pricing in Bank Agro. The researcher suggests that Bank Agro should implement multiple poolmethod in determining its fund transfer price.

Keywords: Fund transfer pricing; branch performance evaluation; single pool; split single pool; multiple pool; matched rate

1. LATAR BELAKANG

Dewasa ini industri perbankan memiliki peranan penting dalam mendukung sistem perekonomian suatu negara. Karena peran penting tersebut, industri perbankan telah mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir sehingga menjadi lebih kompetitif. Kinerja masing-masing bank menjadi penting untuk dinilai di tengah kompetisi yang terjadi ini. Salah satu hal yang paling diperhatikan tentunya penilaian kinerja bank cabang agar tidak di bawah standar, sehingga dapat mendukung kinerja bank secara keseluruhan. Penilaian kinerja cabang ini dapat dilakukan dengan berbagai metode, baik dari segi finansial maupun operasional. Salah satu metode yang dapat diterapkan yaitu fund transfer pricing (FTP).

(2)

Fungsi utama dari FTP adalah untuk mempertukarkan dana antara cabang dengan Asset Liability Management (ALM) – Kantor Pusat. Defisit yang dialami cabang harus segera didanai dan setiap kelebihan likuiditas yang diperoleh cabang harus segera diinvestasikan melalui ALM. Kelebihan likuiditas dan defisit yang dialami cabang ini disebabkan oleh adanya perbedaan lingkungan perdagangan dan industri di masing-masing cabang. Kantor cabang yang lingkungan perdagangannya kondusif dan aktif akan mempunyai kemampuan laba yang tinggi, mengingat banyaknya kredit yang dapat disalurkan dan jasa perbankan yang dapat ditawarkan. Namun bank cabang ini akan menghadapi kendala terbatasnya dana yang dapat dihimpun dari masyarakat. Sebaliknya, kantor cabang yang berlokasi di daerah non-industri dan perdagangan akan menghimpun dana relatif lebih banyak, namun sedikit menyalurkan kredit. Untuk mengoptimalkan laba bank secara keseluruhan, maka dilakukanlah pentransferan dana dari cabang yang kelebihan likuiditas (banyak menghimpun dana) ke cabang yang defisit (banyak menyalurkan kredit).

Seperti bank-bank pada umumnya, Bank Agro (PT Bank Agroniaga Tbk) juga menerapkan manajemen aset dan liabilitas yang salah satunya bertujuan untuk menetapkan fund transfer price tersebut. Namun, metode yang digunakan oleh tim manajemen aset dan liabilitas di Bank Agro masih sangat sederhana dan perlu untuk terus dikembangkan, agar pada akhirnya didapatkan fund transfer price yang dapat mengoptimalkan profit dan kinerja Bank Agro, termasuk masing-masing cabangnya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana hasil perhitungan profitabilitas cabang di Bank Agro dengan mempergunakan berbagai metode FTP dan menentukan metode FTP yang paling sesuai untuk diterapkan dalam penilaian profitabilitas cabang di Bank Agro.

2. TINJAUAN TEORITIS 2.1. Fund Transfer Pricing

Istilah Fund Transfer Pricing (FTP) muncul sebagai bentuk pengembangan dari transfer pricing antar divisi dalam akuntansi manajemen. Namun dalam industri perbankan, produk yang ditransfer dalam sebuah institusi yaitu berupa dana, sehingga dinamakan fund transfer pricing. Manfaat, pendekatan, dan penerapan yang ada dalam sistem fund transfer pricing ini cukup berbeda dengan transfer pricing yang ada dalam industri manufaktur.

Fund Transfer Pricing (FTP) adalah sebuah alat dalam akuntansi manajemen yang digunakan dalam industri perbankan, yang dapat digunakan untuk meningkatkan profitabilitas

(3)

(Rice & Kocakulah, 2009). Sistem FTP dilaksanakan berdasarkan harga transfer. Harga transfer merupakan suku bunga internal yang digunakan untuk menghitung besarnya transfer pendapatan atau beban yang timbul akibat adanya aliran dana dalam suatu intitusi keuangan. Sama seperti pendapatan bunga yang dicatat oleh bagian akuntansi berdasarkan suku bunga yang dikenakan, pendapatan atau beban transfer dana antar divisi atau unit bisnis dihitung berdasarkan harga transfer. Harga transfer ini menjadi dasar untuk pengalokasian kontribusi kepada margin keseluruhan sebuah institusi keuangan. Melalui sistem FTP, sebuah bank dapat menganalisis net interest margin-nya dengan lebih baik. Net interest margin sendiri merupakan persentase pendapatan bunga bersih terhadap earning asset rata-rata.

FTP dikenakan kepada seluruh earning asset untuk merefleksikan cost of funding yang sebenarnya. Sebaliknya, FTP kredit juga dikenakan kepada seluruh kewajiban yang berbunga untuk merefleksikan keuntungan bank dari pengumpulan dana (Rice & Kocakulah, 2009). Untuk pemberian kredit, semakin lama jangka waktunya, semakin tinggi pula cost of fund yang ditimbulkan, sehingga tarif FTP yang dikenakan juga semakin besar. Demikian pula untuk deposito, semakin lama jangka waktunya, semakin tinggi pula cost of borrowing yang ditimbulkan, sehingga tarif FTP kredit yang dikenakan juga semakin besar.

Gambar 1. Ilustrasi Sistem Funds Transfer Pricing Sumber: Ilustrasi oleh penulis

2.2. Manfaat Fund Transfer Pricing

FTP digunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, mengawasi, dan membuat akuntabilitas manajemen untuk komponen net interest margin berdasarkan nilai dan risiko yang melekat (inherent value and risk) yang berhubungan dengan penggunaan dana dalam proses intermediasi finansial (AMIfs Research Committee, 2001). Jadi dengan menggunakan FTP, sebuah bank juga mengontrol beban yang ada, yaitu cost of fund, dan tidak hanya

(4)

mengontrol pendapatannya saja, yaitu yield yang didapatkan. Tarif FTP yang dikenakan ke berbagai produk juga membuat bank dapat mengelola risiko suku bunga.

Tidak hanya memungkinkan penghitungan profitabilitas atas kredit yang diberikan, deposito, dan produk lainnya, FTP juga memungkinkan pengukuran pendapatan bunga berdasarkan cabang, lini bisnis, dan nasabah. Pada tahun 2001, Coffey menyatakan bahwa FTP mengukur profitabilitas sampai kepada tingkat produk dan nasabah individual. Dengan begitu, informasi yang diberikan sistem FTP sangat bernilai bagi manajemen yang dapat membantu mereka dalam membuat keputusan bisnis. Kumpulan informasi tersebut memberikan dasar untuk mengukur profitabilitas dari keseluruhan hubungan dengan nasabah (kredit yang diberikan, deposito, dan jasa perbankan lainnya). Pengukuran profitabilitas pada tingkat yang berbeda ini memungkinkan perbandingan internal atas efektivitas, evaluasi, dan pengukuran kinerja (Kocakulah & Egler, 2006).

2.3. Metode Penentuan Fund Transfer Pricing

2.3.1. Metode Single Pool

Metode single pool merupakan pendekatan FTP yang paling mendasar karena berdasarkan konsep bahwa hanya ada satu kelompok pembelian dan penjualan dana, serta semua transaksi diperlakukan sama, sehingga dimasukkan ke dalam satu kelompok dana. Penyedia dana akan menempatkan dananya ke dalam kelompok dana, kemudian pengguna dana akan mengambil dana dari kelompok dana tersebut. Maka dari itu, penyedia dan pemakai dana dikenakan bunga dengan tingkat yang sama.

Metode ini biasanya menggunakan rata-rata suku bunga tertimbang dari produk-produk bank yang ada sebagai dasar penentuan harga transfer. Harga transfer tersebut kemudian akan dikalikan dengan besaran saldo produk. Nilai saldo yang dipakai merupakan rata-rata untuk suatu periode tertentu. Dengan menggunakan metode single pool ini, bank tidak memerlukan investasi yang besar untuk sistem data karena database yang diperlukan kecil. Perhitungan matematis pun mudah dilakukan dan laporannya mudah untuk dibaca serta dimengerti. Oleh karena itulah metode ini sangat mudah untuk digunakan dan diimplementasikan.

Meskipun sangat mudah digunakan, metode inilah yang paling banyak mempunyai kelemahan. Metode single pool meninggalkan seluruh risiko tingkat suku bunga pada unit, produk, atau konsumen. Hal ini dikarenakan instrumen keuangan dengan jangka waktu panjang akan terkena fluktuasi tingkat suku bunga bulanan. Kelemahan lainnya yaitu tidak

(5)

adanya pemisahan antara risiko kredit dan risiko tingkat suku bunga. Dengan menggunakan metode ini, maka sebuah bank tidak mungkin menciptakan insentif untuk mencari deposito tanpa menciptakan juga disinsentif untuk menyalurkan kredit, dan begitu pula sebaliknya. Jika dikaitkan dengan pengukuran kinerja manajemen, pendekatan ini juga tidak dapat menyediakan perhitungan yang adil untuk pengukuran kinerja cabang atau lini bisnis. Oleh karena segala kelemahan-kelemahan tersebut, metode ini hanya direkomendasikan untuk bank dengan ukuran yang relatif kecil, tidak mempunyai banyak cabang atau lini bisnis, dan mempunyai sumber dana yang stabil, dengan sedikit penyedia dan pemakai dana.

2.3.2. Metode Split Single Pool

Untuk menanggulangi kelemahan tersebut, harga transfer juga dapat dihitung dengan mengenakan harga transfer yang berbeda untuk dana yang disalurkan dan untuk penyedia dana. Produk yang dimiliki oleh bank dikelompokkan menjadi dua, yaitu kredit dan deposito. Dalam metode split single pool atau sering disebut juga double pool, harga transfer yang digunakan untuk pinjaman ditentukan berdasarkan rata-rata cost of fund dan harga transfer yang digunakan untuk deposito ditentukan berdasarkan rata-rata yield on earning assets.

Dengan menggunakan pendekatan split single pool, evaluasi profitabilitas dapat dilakukan dengan lebih baik. Metode ini juga dapat diterima karena tergolong mudah dimengerti. Akan tetapi, pendekatan ini menyebabkan adanya perbedaan antara harga transfer aset dan kewajiban yang tidak dialokasikan ke produk manapun. Kelemahan lainnya yaitu pengakuan atas jangka waktu dan karakterikstik produk lainnya masih belum tercakup dalam pendekatan split single pool ini. Produk yang memiliki jangka waktu pendek dikenakan harga transfer yang sama dengan produk yang memiliki jangka waktu panjang.

2.3.3. Metode Multiple Pool

Kedua metode sebelumnya menyingkapkan fakta bahwa jatuh tempo dan repricing characteristic berbeda untuk setiap instrumen keuangan, dan hal ini seharusnya direfleksikan dalam harga transfer dana. Metode multiple pool menjawab perbedaan ini dengan membagi semua produk dari bank, baik aset maupun kewajiban, menjadi beberapa kelompok. Pembagian ini didasarkan oleh beberapa kriteria, contohnya yaitu berdasarkan jatuh tempo awal atau repricing term, tipe produk, dan atribut lainnya.

Pendekatan multiple pool ini memerlukan juga suatu set harga transfer, yaitu satu harga transfer untuk masing-masing kelompok. Harga transfer ini dapat ditetapkan

(6)

berdasarkan rata-rata suku bunga aset dan kewajiban seperti dalam pendekatan single pool dan split single pool, namun cara ini kurang objektif dan dapat berdampak pada pengambilan keputusan bisnis oleh manajemen yang salah. Metode yang jauh lebih baik untuk mencari harga transfer ini yaitu dengan menggunakan harga transfer pasar. Harga transfer pasar memberikan verifikasi yang objektif atas kebijakan pricing produk, sehingga kinerja manajemen juga dapat dievaluasi dengan lebih baik. Oleh karena itu, harga transfer ini harus merefleksikan suku bunga pasar atas instrumen keuangan yang ada seperti treasuries, pinjaman antar bank, atau derivatif. Sebuah bank harus menetapkan harga transfer dalam bentuk kurva yield yang paling akurat merefleksikan cost of funds pasar, misalnya dengan menggunakan kurva JIBOR. Namun, hal ini akan meninggalkan sebagian besar risiko suku bunga kepada instrumen keuangan dengan jangka waktu yang panjang, sehingga mengurangi kredibilitas keseluruhan proses funds transfer pricing. Pendekatan yang lebih baik agar kredibilitas proses funds transfer pricing tetap terjaga yaitu dengan menggunakan rata-rata tertimbang cost of fund. Pendekatan ini memang lebih rumit untuk dilakukan, namun masih dapat diterapkan, apalagi dengan software atau program-program komputer yang telah canggih saat ini.

Dengan menggunakan metode multiple pool, risiko suku bunga dapat lebih baik dialokasikan. Suku bunga yang dikenakan pun lebih merefleksikan kenyataan di pasar. Kelebihan lainnya yaitu metode ini memperhatikan struktur jangka waktu aset dan kewajiban, serta memungkinkan adanya penyesuaian lainnya. Metode ini juga menyebabkan evaluasi kinerja yang lebih objektif. Sistem funds transfer pricing dengan menggunakan metode multiple pool ini direkomendasikan untuk bank dengan banyak cabang dan bisnis, berbagai penyedia atau sumber dana dan pemakai dana, serta portofolio produk yang kompleks.

Namun ditengah segala kelebihan yang ada, pendekatan multiple pool masih mempunyai banyak kelemahan, yaitu profitabilitas produk dipengaruhi oleh perubahan suku bunga pasar, risiko suku bunga tidak dipisahkan dari risiko kredit, memerlukan sumber daya teknologi yang lebih daripada metode single pool dan double pool. Metode ini juga tidak cocok untuk transaksi dengan suku bunga tetap jangka panjang (long term fixed rate).

Walaupun masih mempunyai kelemahan, metode ini sukses diterapkan pada banyak bank. Saat ini, bank-bank besar sedang berusaha untuk mengimplementasikan pendekatan yang lebih kompleks, namun tentu saja hal ini akan memerlukan perubahan atas software yang telah ada sekarang. Perubahan tersebut relatif berbiaya besar, memakan waktu, dan

(7)

terkadang membuat pemrosesan data menjadi lebih lambat. Akan tetapi, metode yang lebih kompleks pasti mempunyai kelebihan tersendiri.

2.3.4. Metode Matched Rate

Metode matched rate merupakan pendekatan penentuan harga transfer yang lebih spesifik lagi dari metode multiple pool. Hal ini dikarenakan harga transfer langsung ditentukan untuk setiap transaksi bank pada pendekatan ini, dan bukan menggunakan kelompok-kelompok transaksi lagi. Hal ini memberikan harga transfer yang menggambarkan suku bunga pasar dengan lebih baik.

Dampak utama dari metode matched rate ini terhadap cabang dan unit bisnis yaitu seluruh margin dari pinjaman dan deposito menjadi konstan selama durasi transaksi. Pada saat terjadinya transaksi, harga transfer ditentukan berdasarkan karakteristik repricing, dengan tujuan untuk ‘membekukan’ keuntungan suku bunganya. Sebagai akibatnya, unit bisnis mengetahui net interest margin sebuah transaksi pada awal terjadinya sehingga memungkinkan analisis kontribusi profit yang lebih rinci. Kontribusi tersenbut dapat diukur pada level lini bisnis, level cabang, dan level nasabah tanpa adanya bias dari keberagaman suku bunga pasar. Hal ini merupakan perubahan yang signifikan dalam pengevaluasian hasil bisnis, jika dibandingkan dengan pendekatan multiple pool.

Dalam pendekatan ini, risiko kredit dan risiko suku bunga telah dipisahkan. Unit penjualan hanya bertanggung jawab atas risiko kredit saja, dan risiko suku bunga disentralisasikan dan dipindahkan ke unit lain yang bertanggung jawab. Evaluasi keputusan bisnis juga menjadi tidak bias. Hal ini membuat perencanaan keuangan dapat diatur dan dievaluasi walaupun terjadi perubahan kondisi pasar. Perkiraan hasil bisnis tetap dapat dikatakan valid, walaupun jika pada kenyataannya nanti suku bunga sangat berbeda dari prediksinya.Metode matched rate menawarkan kelebihan yang signifikan, namun membutuhkan biaya yang besar untuk mengimplementasikannya. Metode ini terutama direkomendasikan untuk bank-bank yang berukuran besar, yang mempunyai database rinci.

3. FUND TRANSFER PRICING DI BANK AGRO

Untuk menjalankan proses manajemen aset dan kewajiban, Bank Agro membentuk suatu komite independen yang bertanggung hawab penuh dalam penerapan manajemen aset dan kewajiban tersebut, yaitu Asset Liability Committee (ALCO). Komite ALCO ini diketuai

(8)

oleh direktur utama, sekretaris oleh kepala bagian treasury, dan beranggotakan kepala divisi bisnis komersial, kepala divisi bisnis ritel, kepala divisi operasional, kepala divisi satuan kerja audit internal (SKAI), kepala divisi bisnis kemitraan, kepala divisi sekretariat perusahaan, kepala bagian AMK (akuntansi manajemen dan keuangan), kepala divisi KMH (kepatuhan, manajemen risiko & hukum), dan kepala divisi KPO (kantor pusat operasional).

Bank Agro menerapkan bunga Rekening Antar Kantor (RAK) dalam rangka mengelola aset dan kewajibannya. Penentuan suku bunga RAK di Bank Agro ditentukan pada rapat yang dilakukan oleh anggota asset liability committee (ALCO). Dalam menentukan suku bunga RAK tersebut, keputusan tertinggi ada pada rapat ALCO ini, bahkan melebihi wewenang direktur Bank Agro sendiri. Dalam pelaksanaannya, penghitungan dan penyesuaian RAK ini dilakukan oleh bagian akuntansi manajemen dan keuangan (AMK).

Suku bunga RAK di Bank Agro ditentukan berdasarkan loan to deposit ratio (LDR). Masing-masing cabang dinilai berdasarkan dana pihak ketiga yang diperolehnya, kredit yang diberikan, jumlah aset, dan beberapa indikator keuangan lainnya, termasuk LDR. Setiap cabang tersebut harus memenuhi target yang ditetapkan oleh kantor pusat operasional.

Bank Indonesia menetapkan LDR setiap bank secara ideal yaitu sebesar 78%-100%. Bank Indonesia juga menetapkan giro wajib minimum (GWM) yang harus ditempatkan setiap bank di Bank Indonesia sebesar 8% dari dana pihak ketiga yang masuk. Jika LDR suatu bank kurang dari 78%, maka bank tersebut harus membayar selisihnya sebagai penambahan giro wajib minimum. Sama halnya jika LDR suatu bank lebih dari 100%, maka bank tersebut harus membayar selisihnya sebagai penambahan giro wajib minimum juga. Logika dibaliknya yaitu, jika LDR rendah, maka dana pihak ketiga lebih besar daripada kredit yang diberikan, sehingga harus dimotivasi untuk menyalurkan kredit. Sebaliknya, jika LDR tinggi, maka kredit yang diberikan lebih besar daripada dana pihak ketiga yang didapatkan dan kondisi ini sangat berisiko karena dapat menyebabkan kesulitan likuiditas. Kedua hal ini menyebabkan LDR harus dijaga sedemikian rupa agar tetap ideal.

Dengan logika yang sama, maka Bank Agro menetapkan suku bunga RAK bagi setiap cabangnya dengan berdasarkan LDR tersebut, baik RAK penempatan (dana dari kantor cabang ke kantor pusat operasional) maupun RAK peminjaman (dana dari kantor pusat operasional ke kantor cabang). Bagian akuntansi manajemen dan keuangan Bank Agro akan melihat posisi LDR setiap cabangnya secara harian, sehingga suku bunga RAK dapat berubah setiap harinya, sesuai dengan posisi LDR cabang tersebut di hari itu.

(9)

Sebagai contoh, misalkan cabang A mempunyai LDR yang tinggi yang berarti kredit yang disalurkan lebih banyak daripada dana pihak ketiga yang didapatkan, sehingga cabang A perlu meminjam dana dari kantor pusat operasional. Cabang A ini akan diberikan kesempatan untuk mencari dana dari sumber lain yang lebih murah, atau dengan kata lain diberikan motivasi untuk lebih mencari dana pihak ketiganya sendiri. Jadi, jika diasumsikan suku bunga di pasar sebesar 7%, maka suku bunga RAK peminjaman yang akan diberikan kepada cabang A akan lebih besar yaitu misalkan sebesar 8%. Cabang A akan termotivasi untuk mencari sumber dana murah sendiri daripada meminjam kepada kantor pusat dengan bunga yang tinggi agar profit yang didapatkan cabang tersebut juga semakin besar.

Contoh sebaliknya yaitu misalkan cabang B mempunyai LDR yang rendah yang berarti kredit yang diberikan lebih sedikit daripada dana pihak ketiga yang didapatkan, sehingga cabang B perlu menempatkan kelebihan dana tersebut di bagian treasury kantor pusat operasional. Cabang B ini akan diberikan suku bunga RAK penempatan yang relatif lebih rendah daripada suku bunga pasar. Hal ini bertujuan agar cabang B termotivasi untuk menyalurkan kelebihan dananya sendiri melalui kredit. Jadi, jika suku bunga masih diasumsikan 7%, maka suku bunga RAK penempatan yang akan diberikan kepada cabang B akan lebih kecil yaitu misalkan sebesar 6%. Cabang B akan lebih memilih untuk menyalurkan kreditnya sendiri dengan bunga yang lebih besar daripada menempatkan kelebihan dananya di kantor pusat operasional yang hanya memberikan suku bunga yang kecil, agar profit yang didapatkan cabang tersebut juga lebih besar.

4. HASIL PENELITIAN

Untuk mengetahui metode penentuan harga transfer apakah yang sesuai untuk diterapkan oleh Bank Agro, maka diperlukan perhitungan profitabilitas dari masing-masing metode yang telah dijelaskan dalam teori. Penghitungan profitabilitas tersebut akan dilakukan dengan mengambil sampel sebanyak dua cabang, yaitu satu cabang yang secara keseluruhan selama satu tahun lebih banyak menghimpun dana (Cabang Medan) dan satu cabang yang secara keseluruhan selama satu tahun lebih banyak menyalurkan kredit (Cabang Pekanbaru). Pemilihan sampel ini dilakukan secara acak dari antara seluruh cabang Bank Agro. Data yang digunakan untuk melakukan penelitian ini yaitu detail posisi per bulan dari deposito, giro, tabungan, dan kredit yang diberikan. Jangka waktu penelitian yaitu selama tahun 2011.

(10)

4.1. Penghitungan Harga Transfer 4.1.1. Metode single pool

Dalam metode ini, biasanya digunakan rata-rata suku bunga tertimbang dari produk-produk bank yang ada dalam penentuan harga transfer. Seluruh pendapatan bunga dari kredit yang diberikan dan beban bunga untuk dana pihak ketiga akan diproporsikan berdasarkan jumlah dana pihak ketiga dan kredit yang beredar. Hasilnya merupakan suku bunga rata-rata tertimbang dari bunga atas seluruh aset dan kewajiban bank.

Karena suku bunga deposito, giro, dan tabungan masing-masing berbeda, maka akan dilakukan penghitungan interest expense untuk masing-masing produk tersebut, untuk kemudian dijumlahkan. Dalam penelitian ini interest income akan dihitung dengan menggunakan rata-rata suku bunga SBI selama tahun 2011 untuk setiap item kredit yang diberikan, kemudian dijumlahkan dengan total interest expense yang telah dihitung, dan dibagi dengan jumlah dana pihak ketiga dan kredit yang diberikan agar didapatkan suku bunga rata-rata. Suku bunga rata-rata SBI tahun 2011 yaitu sebesar 6,5155425% (Bank Indonesia, 2011).

Interest Expense & Income = 276.739.858.471,47 DPK & KYD = 4.359.292.958.164,72 Suku bunga rata-rata tertimbang = 6.348273932%

Dari hasil perhitungan tersebut didapatkan suku bunga rata-rata tertimbang sebesar 6.348273932%. Suku bunga ini akan dijadikan dasar penentuan harga transfer, baik peminjaman dana dari treasury kantor pusat maupun penempatan dana di treasury kantor pusat yang dilakukan oleh kantor cabang.

4.1.2. Metode split single pool

Penghitungan harga transfer menggunakan metode ini mirip dengan pendekatan single pool, hanya saja aset dan kewajiban dipisahkan. Jadi, pendapatan bunga akan diproporsikan berdasarkan jumlah kredit yang diberikan dan beban bunga akan diproporsikan berdasarkan jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun. Dengan demikian akan didapatkan dua suku bunga, yaitu suku bunga rata-rata tertimbang dari pendapatan bunga atas kredit yang diberikan dan juga dari beban bunga atas dana pihak ketiga yang ada. Untuk menghitung pendapatan bunga juga akan digunakan suku bunga SBI.

(11)

Interest Expense = 153.805.307.428,18 Dana Pihak Ketiga = 2,472,503,776,093.02 Suku bunga rata-rata tertimbang = 6.220629829%

Interest Income = 122,934,551,043.29

Kredit yang Diberikan = 1.886.789.182.071,71 Suku bunga rata-rata tertimbang = 6.5155425%

Suku bunga rata-rata tertimbang dari pendapatan bunga atas kredit yang diberikan, yaitu sebesar 6.5155425%, sesuai dengan rata-rata suku bunga SBI. Suku bunga tersebut akan digunakan sebagai dasar penentuan harga transfer untuk penempatan dana di treasury kantor pusat.. Sebaliknya, suku bunga rata-rata tertimbang dari beban bunga atas dana pihak ketiga yang dihimpun, yaitu sebesar 6.220629829%, akan digunakan sebagai dasar penentuan harga transfer untuk peminjaman dana dari kantor pusat (treasury) yang dilakukan oleh cabang

4.1.3. Metode multiple pool

Penentuan harga transfer dalam pendekatan ini memerlukan kelompok-kelompok dana yang ditentukan berdasarkan waktu jatuh temponya. Karakteristik repricing tidak dimasukkan sebagai kriteria pembagian kelompok dana dalam kasus ini karena adanya keterbatasan data. Berikut ini merupakan pembagian kelompok dana dari produk-produk Bank Agro.

Tabel 1. Kelompok Dana Berdasarkan Jangka Waktu pada Bank Agro

Deposito (bulan) Kredit (tahun)

< 1 < 1 1 1 - 2 3 3 - 4 6 5 12 > 5 - 10 > 10

Sumber: Data dari Bank Agro yang telah diolah penulis

Pada metode ini, jangka waktu antara dana yang dihimpun dengan dana yang disalurkan akan disesuaikan. Dana yang dihimpun dengan jangka waktu satu bulan akan dipakai untuk menyalurkan kredit dengan jangka waktu satu bulan dan dana yang dihimpun dengan jangka waktu satu tahun akan dipakai untuk menyalurkan kredit dengan jangka waktu satu tahun. Terlihat pada Tabel 1 bahwa jangka waktu deposito dan kredit tidak sama,

(12)

sehingga diperlukan asumsi lebih lanjut agar didapatkan kelompok dana yang sama. Deposito hanya mempunyai jangka waktu maksimal satu tahun, sedangkan sebagian besar kredit mempunyai jangka waktu lebih dari satu tahun. Oleh karena itu akan dibentuk kelompok dana kurang dari satu tahun dan lebih dari satu tahun untuk deposito dan kredit. Gambar 2 mengilustrasikan hal ini.

Gambar 2. Kelompok Dana yang Digunakan untuk Metode Multiple Pool Sumber: ilustrasi oleh penulis

Selanjutnya akan dihitung jumlah nominal dana pihak ketiga dan kredit sesuai dengan kelompok-kelompok dana tersebut untuk setiap cabang. Untuk penempatan dana, kembali digunakan rata-rata suku bunga SBI, yaitu 6,515543%. Hal ini dilakukan karena diasumsikan setiap dana yang berlebih biasanya diinvestasikan ke bank lain, seperti SBI. Untuk peminjaman dana akan digunakan rata-rata suku bunga pinjaman Bank Agro kepada Bank Indonesia dan Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) yaitu sebesar 6,75%.

4.1.4. Metode Matched Rate

Metode matched rate ini bersifat semakin spesifik dibandingkan metode multiple pool. Tidak lagi berdasarkan kelompok dana, namun kini harga transfer ditentukan berdasarkan setiap transaksi yang ada. Transaksi deposito berjangka waktu satu bulan akan digunakan untuk membiayai suatu transaksi kredit berjangka waktu satu bulan. Transaksi deposito berjangka waktu enam bulan akan digunakan untuk membiayai suatu transaksi kredit berjangka waktu enam bulan juga.

Untuk mencocokkan jangka waktu dari masing-masing transaksi tersebut tentunya membutuhkan data terperinci dan sistem yang memadai. Karena keterbatasan tersebut, dalam penelitian ini diasumsikan bahwa transaksi-transaksi tersebut akan dikelompokkan berdasarkan jangka waktunya sehingga lebih memudahkan perhitungan. Dengan demikian perhitungan yang akan dilakukan sama halnya dengan perhitungan pada pendekatan multiple pool, sehingga perhitungan tidak perlu dilakukan lagi.

(13)

4.2. Perhitungan Profitabilitas

Profitabilitas dihitung dengan mengurangi pendapatan bunga dengan beban bunga, termasuk pendapatan dan beban bunga akibat transfer dana dari dan ke kantor pusat. Selain itu pendapatan dan beban operasional dan non operasional lainnya juga turut diperhitungkan. Suku bunga yang telah didapatkan dari perhitungan sebelumnya akan dikalikan dengan jumlah dana yang akan ditempatkan di kantor pusat atau dipinjam dari kantor pusat oleh masing-masing cabang sampel, sehingga didapatkan harga transfer dananya.

4.2.1. Metode Single Pool

Suku bunga rata-rata tertimbang berdasarkan perhitungan dengan menggunakan metode ini yaitu 6.348273932%. Dengan menggunakan suku bunga tersebut, profitabilitas kedua sampel cabang yaitu sebagai berikut.

Tabel 2. Profitabilitas dengan Menggunakan Metode Single Pool (jutaan rupiah)

Medan Pekanbaru

Dana Pihak Ketiga 463,581 324,395

Kredit Yang Diberikan 254,827 380,196

Pendapatan Bunga 28,727 69,164

Beban Bunga 25,356 19,014

PENDAPATAN BUNGA BERSIH 3,371 50,150

Pendatapan Operasional Lainnya 482 1,288 Beban Operasional Lainnya 16,845 12,368

LABA (RUGI) OPERASIONAL (12,992) 39,070

Pendapatan Non Operasional

- Pendapatan Bunga RAK* 13,252 0

- Pendapatan Non Operasional Lainnya 0 0 Beban Non Operasional

- Beban Bunga RAK** 0 3,542

- Beban Non Operasional Lainnya 18 28

Hasil Revaluasi 0 (27)

LABA (RUGI) NON OPERASIONAL 13,234 (3,597)

LABA (RUGI) 242 35,473

PROFITABILITAS (%) 0.83 50.35

* suku bunga rata-rata x (KYD-DPK) ** suku bunga rata-rata x (DPK-KYD)

(14)

4.2.2. Metode Split Single Pool

Suku bunga rata-rata tertimbang berdasarkan perhitungan dengan menggunakan metode ini yaitu 6.220629829% untuk peminjaman dana dari kantor pusat dan 6.5155425% untuk penempatan dana di kantor pusat. Dengan menggunakan suku bunga tersebut, profitabilitas kedua sampel cabang yaitu sebagai berikut.

Tabel 3. Profitabilitas dengan Menggunakan Metode Split Single Pool (jutaan rupiah)

Medan Pekanbaru

Dana Pihak Ketiga 463,581 324,395

Kredit Yang Diberikan 254,827 380,196

Pendapatan Bunga 28,727 69,164

Beban Bunga 25,356 19,014

PENDAPATAN BUNGA BERSIH 3,371 50,150

Pendatapan Operasional Lainnya 482 1,288 Beban Operasional Lainnya 16,845 12,368

LABA (RUGI) OPERASIONAL (12,992) 39,070

Pendapatan Non Operasional

- Pendapatan Bunga RAK* 13,601 0

- Pendapatan Non Operasional Lainnya 0 0 Beban Non Operasional

- Beban Bunga RAK** 0 3,471

- Beban Non Operasional Lainnya 18 28

Hasil Revaluasi 0 (27)

LABA (RUGI) NON OPERASIONAL 13,583 (3,526)

LABA (RUGI) 591 35,544

PROFITABILITAS (%) 2.02 50.45

* suku bunga rata-rata x (KYD-DPK) ** suku bunga rata-rata x (DPK-KYD)

Sumber: Data dari Bank Agro yang telah diolah penulis

4.2.3. Metode Multiple Pool

Berdasarkan perhitungan dengan menggunakan metode multiple pool yang telah dilakukan sebelumnya, suku bunga rata-rata untuk penempatan dana yaitu 6,515543% dan untuk peminjaman dana yaitu 6,75%. Dengan suku bunga tersebut, maka pendapatan dan beban bunga RAK untuk cabang Medan dan Pekanbaru dapat dilihat pada Tabel 4.

(15)

Tabel 4 Pendapatan & Beban Bunga RAK dengan Metode Multiple Pool (jutaan rupiah) MEDAN

DPK Kredit Selisih Rate (%) Bunga RAK

≤ 1 tahun 463,581 5,642 457,939 6.515543 29,837

> 1 tahun 0 249,284 (249,284) 6.75 (16,827)

PEKANBARU

DPK Kredit Selisih Rate (%) Bunga RAK

≤ 1 tahun 324,395 60,779 263,616 6.515543 17,176

> 1 tahun 0 320,012 (320,012) 6.75 (21,601)

Sumber: Data dari Bank Agro yang telah diolah penulis

Pendapatan bunga RAK merupakan perkalian antara suku bunga rata-rata dengan selisih antara dana pihak ketiga dan kredit, dengan kondisi dana pihak ketiga melebihi kredit. Beban bunga RAK merupakan perkalian antara suku bunga rata-rata dengan selisih antara kredit dan dana pihak ketiga, dengan kondisi kredit melebihi dana pihak ketiga. Dengan demikian, perhitungan profitabilitas untuk cabang Medan dan Pekanbaru dengan menggunakan metode multiple pool ialah sebagai berikut.

Tabel 5. Profitabilitas dengan Menggunakan Metode Multiple Pool (jutaan rupiah)

Medan Pekanbaru

Dana Pihak Ketiga 463,581 324,395

Kredit Yang Diberikan 254,827 380,196

Pendapatan Bunga 28,727 69,164

Beban Bunga 25,356 19,014

PENDAPATAN BUNGA BERSIH 3,371 50,150

Pendatapan Operasional Lainnya 482 1,288 Beban Operasional Lainnya 16,845 12,368

LABA (RUGI) OPERASIONAL (12,992) 39,070

Pendapatan Non Operasional

- Pendapatan Bunga RAK 29,837 17,176 - Pendapatan Non Operasional Lainnya 0 0 Beban Non Operasional

- Beban Bunga RAK 16,827 21,601

- Beban Non Operasional Lainnya 18 28

Hasil Revaluasi 0 (27)

LABA (RUGI) NON OPERASIONAL 12,993 (4,480)

LABA (RUGI) 1 34,590

PROFITABILITAS (%) 0.00 49.10

(16)

4.2.4. Penentuan Harga Transfer Berbasis LDR

Penentuan harga transfer di Bank Agro saat ini menggunakan loan to deposit ratio sebagai dasarnya. Penentuan harga transfer ini sebenarnya merupakan penerapan dari metode single rate, namun disesuaikan dengan LDR masing-masing cabang. Meskipun metode ini tidak terdapat dalam teori-teori penentuan harga transfer yang dikembangkan oleh para ahli, tidak berarti metode yang diterapkan Bank Agro ini salah atau tidak baik. Hal ini dikarenakan penggunaan metode-metode yang ada pada teori belum tentu sesuai dengan keadaan dari masing-masing bank. Oleh karena itu, kita juga perlu membandingkan profitabilitas-profitabilitas yang telah dihitung dengan profitabilitas-profitabilitas jika menggunakan metode penentuan bunga RAK yang diterapkan oleh Bank Agro saat ini.

Tabel 6. Profitabilitas dengan Harga Transfer Berbasis LDR (jutaan rupiah)

Medan Pekanbaru

Dana Pihak Ketiga 463,581 324,395

Kredit Yang Diberikan 254,827 380,196

Pendapatan Bunga 28,727 69,164

Beban Bunga 25,356 19,014

PENDAPATAN BUNGA BERSIH 3,371 50,150

Pendatapan Operasional Lainnya 482 1,288 Beban Operasional Lainnya 16,845 12,368

LABA (RUGI) OPERASIONAL (12,992) 39,070

Pendapatan Non Operasional

- Pendapatan Bunga RAK 18,068 7,304 - Pendapatan Non Operasional Lainnya 0 0 Beban Non Operasional

- Beban Bunga RAK 2,277 12,075

- Beban Non Operasional Lainnya 18 28

Hasil Revaluasi 0 (27)

LABA (RUGI) NON OPERASIONAL 15,773 (4,826)

LABA (RUGI) 2,781 34,244

PROFITABILITAS (%) 9.52 48.61

Sumber: Data dari Bank Agro yang telah diolah penulis

5. PEMBAHASAN

Kinerja Bank Agro cabang Medan dapat dikatakan tidak baik. Hal ini disebabkan oleh jumlah dana pihak ketiga dan kredit yang diberikan sangat tidak seimbang. Cabang Medan mempunyai banyak dana pihak ketiga, namun hanya sedikit menyalurkan kredit. Hal ini

(17)

membuktikan bahwa cabang Medan tidak mampu memutar dana yang dimilikinya secara mandiri. Lain halnya dengan cabang Pekanbaru yang lebih seimbang dalam menghimpun dana pihak ketiga dan menyalurkan kredit, namun tetap mengalami lebih banyak permintaan kredit daripada mendapat dana untuk membiayai kredit tersebut. Hal ini berarti cabang Pekanbaru tidak dapat memenuhi kebutuhan dananya sendiri sehingga harus meminjam agar dapat menyalurkan kredit.

Dari penjelasan di atas, maka dapat disimpulkan dengan segera bahwa profitabilitas cabang Pekanbaru lebih tinggi daripada cabang Medan. Hal ini didukung pula dengan pengenaan suku bunga kredit cabang Pekanbaru yang lebih besar daripada cabang Medan, yaitu 18,19% dan 11,27%. Sementara itu, beban bunga cabang Pekanbaru dan Medan tidak berbeda jauh, yaitu 5,86% dan 5,47%. Spread cabang Pekanbaru yang lebih besar daripada cabang Medan ini mengakibatkan profitabilitas cabang Pekanbaru yang lebih besar daripada cabang Medan. Jika diteliti lebih lanjut, kinerja cabang Pekanbaru relatif lebih baik daripada cabang Medan juga dapat dijelaskan oleh pendapatan dan beban operasional lainnya. Cabang Pekanbaru mendapat lebih besar pendapatan operasional lainnya dibandingkan cabang Medan. Di sisi lain, cabang Pekanbaru mengeluarkan lebih sedikit beban operasional lainnya dibandingkan cabang Medan. Hal ini dapat mengindikasikan bahwa cabang Pekanbaru lebih efektif dalam mengelola bebannya.

Baik metode single pool, split single pool, multiple pool, ataupun metode yang diterapkan Bank Agro saat ini, semuanya menujukkan profitabilitas cabang Pekanbaru yang jauh melebihi cabang Medan. Hasil perhitungannya pun tidak berbeda jauh. Hal ini disebabkan oleh suku bunga yang digunakan juga terletak pada kisaran yang sama, yaitu 6,22% sampai 6,75%. Atas dasar tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa metode single pool, split single pool, dan multiple pool dapat diterapkan oleh Bank Agro.

6. KESIMPULAN

Berdasarkan perhitungan dan analisis yang telah dilakukan, maka didapatkan kesimpulan yang akan dijelaskan berikut ini.

1. Setelah melakukan perhitungan matematis akan profitabilitas dari kedua cabang sampel Bank Agro yang dipilih, dapat disimpulkan bahwa penentuan harga transfer dana dengan menggunakan metode single pool, split single pool, dan multiple pool

(18)

memberikan hasil yang konsisten. Hal ini dikarenakan hasil perhitungan suku bunga yang digunakan pada ketiga metode tersebut tidak berbeda jauh.

2. Oleh karena hasil perhitungan yang konsisten, maka dapat disimpulkan juga bahwa Bank Agro dapat menerapkan salah satu dari ketiga metode ini. Metode yang paling mempunyai banyak kelebihan yaitu metode multiple pool. Oleh karena itu, Bank Agro sebaiknya menerapkan metode ini. Penilaian kinerja cabang sendiri menjadi lebih baik dengan menggunakan sistem fund transfer pricing. Cabang yang memiliki kelebihan dana tidak serta merta berarti baik, karena hal ini berarti cabang tersebut tidak dapat menyalurkan kredit dengan baik. Sebaliknya, cabang yang mengalami kekurangan dana tidak serta merta buruk. Dengan menerapkan fund transfer pricing, analisis profitabilitas untuk mengukur kinerja cabang dapat dilakukan dengan lebih adil.

7. SARAN

Metode penentuan harga transfer yang sebaiknya diterapkan oleh Bank Agro yaitu metode multiple pool. Hal ini dikarenakan oleh banyaknya kelebihan metode multiple pool dibandingkan dengan metode single pool dan split single pool. Suku bunga yang digunakan pada metode multiple pool yaitu suku bunga pasar, seperti suku bunga SBI, suku bunga pinjaman BI, dan suku bunga pinjaman LPEI, sehingga lebih menggambarkan keadaan pasar. Hal ini didukung oleh profitabilitas Kantor Cabang Medan dan Kantor Cabang Pekanbaru dengan menggunakan metode multiple pool yang menggambarkan dengan baik tentang kinerja masing-masing cabang tersebut. Implementasi metode ini pun tidak memerlukan investasi yang besar dan rumit, sehingga masih realistis untuk diterapkan.

Jika Bank Agro melihat bahwa menerapkan metode multiple pool ini merupakan hal yang kompleks, maka disarankan setidaknya Bank Agro menerapkan metode split single pool. Dibandingkan dengan metode single pool, metode ini lebih baik karena adanya pemisahan antara aset dan kewajiban. Metode ini juga dapat diterapkan di Bank Agro karena ukuran Bank Agro yang tergolong kecil, yaitu mempunyai total aset di bawah lima triliun rupiah.

Namun dengan menggunakan metode multiple pool ataupun split single pool, manajemen risiko Bank Agro yang tadinya tercermin dalam harga transfer berdasarkan loan to deposit ratio kini tidak ada lagi, padahal hal ini penting untuk penilaian kinerja cabang. Oleh karena itu, agar Bank Agro tetap dapat mengelola risiko dan menilai kinerja cabang

(19)

dengan baik, maka disarankan untuk menambah key performance indicator bagi setiap cabang berdasarkan loan to deposit ratio-nya.

KEPUSTAKAAN

AMIfs Research Committee. (2001). Introduction to funds transfer pricing. Journal of Bank Cost & Management Accounting, 14, 3, 7-11.

Coffey, John J. (2001). What is fund transfer pricing?. ABA Bank Marketing, 33, 9.

Kawano, Randall T. (2005). Funds transfer pricing. Journal of Performance Management, 18, 2, 35-42.

Kocakulah, Mehmet C. & Egler, M. (2006). Funds transfer pricing: how to measure branch profitability. Journal of performance management.

Kugiel, Lukasz. (2009). Fund transfer pricing in a commercial bank. Trinidad: Aarthus School of Business.

Rice, Jennifer D. & Kocakulah, Mehmet C. (2004). Funds transfer pricing: a management accounting approach within the banking industry. Journal of Performance Management, 17, 2, 17-26.

Weiner, Jerry. (1997). Choosing a funds-transfer-pricing method: practical considerations. Journal of Bank Accounting & Finance, 10, 4, 33-45.

Whitney, Cole T. & Alexander, Woody. (2000). Funds transfer pricing: a perspective on policies and operations. Journal of Bank Cost & Management Accounting, 13, 3

www.bi.go.id

Gambar

Gambar 1. Ilustrasi Sistem Funds Transfer Pricing
Tabel 1. Kelompok Dana Berdasarkan Jangka Waktu pada Bank Agro
Gambar 2. Kelompok Dana yang Digunakan untuk Metode Multiple Pool
Tabel 2. Profitabilitas dengan Menggunakan Metode Single Pool (jutaan rupiah)
+4

Referensi

Dokumen terkait