• Tidak ada hasil yang ditemukan

Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. 1, 2, 3.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Universitas Pendidikan Ganesha Singaraja, Indonesia. 1, 2, 3."

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE

COURSE

REVIEW HORAY

(CRH) TERHADAP HASIL BELAJAR IPA PADA

SISWA KELAS V SD TAHUN PELAJARAN 2013/2014

DI GUGUS IV KECAMATAN BULELENG

1

Ni Made Marteni Dewi,

2

Desak Putu Parmiti,

3

Putu Nanci Riastini

1,3

Jurusan Pendidikan Guru Sekolah Dasar,

2

Jurusan TP, FIP

Universitas Pendidikan Ganesha

Singaraja, Indonesia

e-mail: [email protected]

1

, [email protected]

2

,

[email protected]

3

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui adanya perbedaan yang signifikan pada hasil belajar kognitif IPA antara kelompok siswa yang belajar mengikuti model pembelajaran kooperatif tipe Course Review Horay (CRH) dan kelompok siswa yang belajar mengikuti model pembelajaran konvensional di kelas V SD Tahun pelajaran 2013/2014 di Gugus IV Kecamatan Buleleng. Rancangan penelitian ini adalah eksperimen semu (Quasi Eksperimen), dengan desain post test only control group desain. Populasi penelitian ini adalah seluruh kelas V SD di Gugus IV Kecamatan Buleleng. Sampel dalam penelitian ini adalah kelas V SDN 1 Alasangker dan kelas VSDN 3 Alasangker. Sampel ditentukan menggunakan teknik simple random sampling. Data hasil belajar dikumpulkan dengan menggunakan tes pilihan ganda satu jawaban benar. Data yang diperoleh dianalisi menggunakan teknik analisis statistik deskriptif dan statistik inferensial uji-t dengan rumus

separated varians. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang

signifikan pada hasil belajar IPA antara kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran

Course Review Horay (CRH) dan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran

konvensional pada siswa kelas V SD di Gugus IV Kecamatan Buleleng. Berdasarkan hasil uji-t, diperoleh t hitung sebesar 4,46, sedangkan t tabel dengan db = 37 pada taraf signifikansi

5% adalah 1,74. Hasil perhitungan tersebut menunjukkan bahwa t hitung lebih besar dari t tabel.

Disamping itu, rata-rata skor hasil belajar IPA kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran CRH (21,83) lebih tinggi daripada rata-rata skor kelompok siswa yang belajar dengan model pembelajaran konvensional (15,2). Dengan demikian, model pembelajaran CRH berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V SD tahun pelajaran 2012/2013 di Gugus IV Kecamatan Buleleng.

Kata kunci: Model CRH, Hasil Belajar

Abstract

The research aims to determine the existence of significant differences in the cognitive science of learning outcomes between students who learn to follow the group cooperative learning model Course Review Horay (CRH) and a groups of students who learn to follow the conventional model of learning 5th grade elementary school academic year 2013/2014 in cluster IV on Buleleng District. The design of this reseach is Quasi Eksperimen with post test only control group design. Population of this research is all in 5th grade elementary school in cluster 4 Buleleng district. The sample of this research is 5th SDN 1 Alasangker and 5th SDN 3 Alasangker.Sample determin by using simple random sampling. Learning outcomes data were collected using a multiple-choice test answer correct. Data were analyzed using descriptive statistical analysis techniques and inferential statistical t-test by formula

separated varians. The results showed there are significant diffrences on learning

outcomes of natural science between students who are learning to follow the model of the

(2)

Course Review Horay (CRH) cooperative learning type and students who are learning to follow the conventional of learning in 5th grade elementary school academic year 2013/2014 in cluster IV on Buleleng District. Based on the results of the test-t, with tvalue amount 4,46

and ttable with db = 37 at signifikan level 5% is 1,74. The calculation results show that tvalue is

greater from ttable. Beside that, average science achievement scores of between students

who learning models CRH (21,92) higher than the average score of the group of student who studied with conventional learning models (15,2). The consclusion, learning model CRH have influence on science learning outcome student of 5th grade elementary school academic year 2013/2014 in cluster IV on Buleleng District.

Key word: Model CRH, learning outcomes

PENDAHULUAN

Kualitas pendidikan merupakan salah satu faktor yang menentukan kualitas sumber daya manusia suatu bangsa. Berkaitan dengan tuntutan untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, maka kualitas pendidikan perlu ditingkatkan secara berkesinambungan. Kualitas tersebut harus ditingkatkan pada semua mata pelajaran, termasuk pada mata pelajaran IPA.

IPA merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuan yang memegang peranan penting dalam perkembangan IPTEKS. Menurut Iskandar (1996: 2)

IPA merupakan singkatan dari kata Ilmu Pengetahuan Alam. Ilmu Pengetahuan Alam merupakan terjemahan dari kata-kata Bahasa Inggris “Natural Science”. Natural

artinya ilmiah, berhubungan dengan alam. Science artinya ilmu pengetahuan. Jadi Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) atau Science itu secara harfiah dapat disebut sebagai ilmu tentang alam ini, ilmu yang mempelajari peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam.

Berdasarkan pendapat tersebut, pembelajaran IPA lebih menekankan pada peristiwa-peristiwa yang terjadi di alam. Selain itu pembelajaran IPA seharusnya diupayakan mengarah pada pencapaian tujuan IPA sehingga terbentuk pengalaman belajar yang lebih bermakna. Pembelajaran demikian perlu dilakukan pada semua jenjang pendidikan, termasuk di SD.

Tujuan pembelajaran IPA di SD adalah pemahaman terhadap disiplin keilmuan IPA dan keterampilan berkarya (proyek) untuk menghasilkan suatu produk sebagai hasil belajarnya (Sukra, 2006). Tujuan tersebut dapat tercapai jika

pembelajaran IPA diorientasikan pada aktivitas-aktivitas yang mendukung terjadinya pemahaman terhadap konsep, prinsip, dan prosedur dalam kaitannya dengan konteks kehidupan mereka sehari-hari. Dengan demikian, pembelajaran IPA menjadi bermakna dan menyenangkan.

Namun kenyataannya di lapangan, pembelajaran IPA masih jauh dari harapan. Berdasarkan hasil observasi di 6 SD yang ada di gugus IV Kecamatan Buleleng pada tanggal 25 Februari 2013, pembelajaran IPA belum mencerminkan kegiatan yang bermakna dan menyenangkan. Hal ini disebabkan karena guru selalu menggunakan model pembelajaran konvensional. Pembelajaran konvensional yang dimaksud adalah pembelajaran yang menggunakan metode yang biasa dilakukan oleh guru, yaitu memberi materi melalui ceramah, latihan soal, kemudian pemberian tugas. Akibatnya, guru terkesan lebih aktif dalam pembelajaran daripada siswa. Pembelajaran yang demikian membuat siswa tidak menyukai IPA.

Berdasarkan hasil wawancara dengan 12 siswa yang ada di gugus IV Kecamatan Buleleng, mereka mengaku kurang menyenangi pembelajaran IPA. Kurangnya rasa senang terhadap pembelajaran IPA dikarenakan mereka merasa bosan saat pembelajaran berlangsung. Berdasarkan pengamatan, ada beberapa akibat yang muncul karena hal tersebut, diantaranya sebagai berikut.

1. Siswa belum mampu memahami penjelasan konsep oleh guru dengan baik. Hal ini terlihat pada saat guru memberikan contoh soal yang persis sama dengan buku siswa, namun ketika soal dikembangkan siswa tidak mampu menyelesaikannya.

(3)

2. Siswa menganut “sistem ketok pintu”, dalam artian siswa hanya akan mengerjakan latihan soal yang ada di buku jika ditugaskan oleh guru. Pembelajaran yang selama ini disajikan guru belum mampu menyadarkan siswa untuk mau belajar.

3. Siswa sangat pasif dalam proses pembelajaran.

4. Siswa hanya mencatat semua tulisan guru di papan tulis dalam buku catatannya.Tidak ada motivasi dari dalam diri siswa untuk mengetahui dan menganalisis apa yang disampaikan guru. Siswa hanya menerima begitu saja tanpa adanya timbal balik berupa komentar, tambahan, atau berupa pertanyaan.

5. Daya nalar maupun kreativitas siswa dalam menyelesaikan permasalahan yang ada tidak bisa berkembang

karena soal-soal latihan yang diberikan terlalu sederhana. Mereka dimanjakan dengan soal-soal yang sudah biasa ditebak cara penyelesaiannya.

Permasalahan yang demikian kompleks menyebabkan keaktifan siswa dalam pembelajaran rendah. Berdasarkan hasil observasi tanggal 25 Februari 2013 di gugus IV Kecamatan Buleleng, siswa yang aktif berada pada rentangan 20-22,7%. Jika dikonversikan dalam PAP skala 5, rentangan tersebut berada pada tahap sangat kurang aktif (rendah).

Rendahnya keaktifan siswa tersebut ternyata berpengaruh besar terhadap hasil belajar kognitif siswa. Hal ini terlihat dari data hasil tes ulangan harian siswa yang tercantum pada dokumen nilai guru tanggal 25 Februari 2013, rata-rata nilai siswa dapat dilihat pada tabel 1 berikut.

Tabel 1 Data Hasil Studi Dokumen Guru

No Nama Sekolah Rata-Rata Nilai Siswa

1 SD No. 1 Penglatan 62 2 SD No. 2 Penglatan 63 3 SD No. 3 Penglatan 60 4 SD No. 1 Alasangker 60 5 SD No. 2 Alasangker 62 6 SD No. 3 Alasangker 62

(Sumber : Dokumen Guru SD gugus IV Kec. Buleleng) Berdasarkan tabel di atas, dapat

diketahui bahwa rata- rata nilai siswa berada pada rentangan 60-63. Rentangan tersebut masih di bawah 65. Jika dikonversikan terhadap PAP, rentangan tersebut berada pada kategori kurang.

Mengacu pada permasalahan di atas, salah satu solusi yang dapat ditawarkan adalah menggunakan model Course Review Horay (CRH) dalam pembelajaran. Model CRHmerupakan suatu pembelajaran yang menggunakan kotak berisi soal dan diberi nomor untuk menuliskan jawabannya. Siswa dalam suatu kelompok yang terlebih dahulu mendapatkan tanda benar langsung berteriak “horay” (Suyatno, 2009). Melalui

pembelajaran CRH, siswa diharapkan dapat berlatih untuk menyelesaikan

pertanyaan-pertanyaan bersama

kelompoknya.

Suyatno (2009:129) menyebutkan langkah-langkah umum dari model pembelajaran CRH adalah sebagai berikut.

(1) Guru menyampaikan

kompetensi yang ingin dicapai. (2)

Guru mendemonstrasikan/

menyajikan materi. (3) Memberikan kesempatan siswa untuk tanya jawab. (4) Siswa disuruh membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan dan tiap kotak diisi angka sesuai dengan selera masing-masing siswa. (5) Guru membaca soal secara acak dan siswa menulis jawaban di dalam kotak yang nomornya disebutkan guru dan langsung didiskusikan. Kalau benar diisi tanda benar (√) dan salah diisi tanda silang (x); (6) siswa yang sudah mendapat tanda √ vertikal atau horisontal, atau diagonal harus

(4)

berteriak “horay...” atau yel-yel

lainnya. (7) Nilai siswa dihitung dari jawaban benar jumlah horay yang diperoleh. dan (8) Penutup. Dengan kegiatan demikian, diyakini aktivitas siswa meningkat sehingga hasil belajar kognitifnyapun menjadi optimal.

Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian ini difokuskan pada pengaruh model pembelajaran CRH terhadap hasil belajar IPA siswa.

METODE

Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen semu (quasi eksperimen). Dikatakan eksperimen semu karena tidak semua variabel dikontrol dengan ketat. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh kelas V SD di Gugus IV Kecamatan Buleleng Tahun Pelajaran 2012/2013. Distribusi anggota populasi dapat dilihat pada tabel 2 berikut.

Tabel 2 Distribusi Anggota Populasi Penelitian

No Sekolah Dasar Jenis Kelamin Jumlah Siswa

L P 1 SD No.1 Penglatan 6 16 22 2 SD No.2 Penglatan 17 9 26 3 SD No.3 Penglatan 15 12 27 4 SD No.1 Alasangker 12 19 31 5 SD No.2 Alasangker 21 20 41 6 SD No.3 Alasangker 11 9 20 Total 172

Untuk mengetahui kesetaraan hasil belajar kognitif IPA siswa kelas V di masing-masing sekolah dasar tersebut, maka terlebih dahulu dilakukan uji kesetaraan dengan menggunakan analisis varians satu jalur (ANAVA A). Berdasarkan hasil analisis dengan ANAVA A pada taraf signifikansi 5%, didapatkan nilai Fhitung sebesar 0,016. Nilai Ftabel pada taraf signifikansi 5% dengan dbA = 6, dan dbdalam = 166 sebesar 2,16, artinya Ftabel>Fhitung sehingga Ho diterima. Dengan demikian, dapat ditarik kesimpulan bahwa hasil

belajar kognitif IPA siswa kelas V sekolah dasar di Gugus IV Kecamatan Buleleng adalah setara.

Berdasarkan hasil kesetaraan tersebut, maka sampel ditentukan dengan teknik simple random sampling, tetapi yang dirandom adalah kelas. Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti (Arikunto, 2006). Dengan teknik ini dapat ditentukan satu kelas sebagai kelas eksperimen dan satu kelas sebagai kelas kontrol. Sampel penelitian dapat dilihat pada tabel 3 berikut.

Tabel 3 Distribusi Sampel Penelitian

No. Nama Sekolah Dasar Banyak Siswa

1 SDN 1 Alasangker 24

2 SDN 3 Alasangker 15

Total Sampel 39

Rancangan penelitian yang digunakan adalah Post Test Only Control

Group Design. Langkah-langkah tersebut dapat diilustrasikan pada tabel 4.

Tabel 4 Desain Penelitian

Kelompok Perlakuan Post-Test

E X O

K - O

(5)

Berdasarkan tabel di atas, kelompok pertama merupakan kelompok eksperimen yang diberikan perlakuan berupa pembelajaran dengan model CRH, sedangkan kelompok kedua merupakan kelompok kontrol sehingga tidak diberi perlakuan (berupa pembelajaran konvensional). Masing-masing kelompok diberikan post test setelah mengalami perlakuan dalam jangka waktu tertentu.

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah tes. Menurut Nurkancana dan Sunartana (1990:34),

Tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus dikerjakan oleh anak atau

sekelompok anak sehingga

menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut, yang dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau dengan nilai standar yang ditetapkan.

Tes yang digunakan untuk mengukur hasil belajar adalah tes yang berbentuk pilihan ganda terdiri dari 4 pilihan jawaban yang berjumlah 30 butir. Jawaban yang benar mendapat skor 1 dan jawaban yang salah mendapat skor 0. Skor benar tiap butir kemudian dijunlahkan. Jumlah tersebut merupakan skor variabel hasil belajar kognitif IPA. Dengan demikian, rentangan skor berjarak dari 0 sampai 30 (SMi=30). Tes pilihan ganda dibuat berdasarkan jenjang taksonomi Bloom pada ranah kognitif, yang meliputi ingatan (C1), pemahaman (C2) dan analisis (C3).

Setelah instrumen tersusun, agar instrumen itu memenuhi syarat instrumen yang baik, maka dilakukan uji validitas butir, indeks daya beda untuk data yang berbentuk dikotomi digunakan teknik

korelasi Point Biserial, indeks kesukaran butir, dan uji reliabilitas. Namun, sebelum melakukan uji lapangan, terlebih dahulu dilakukan uji validitas isi oleh para ahli

(expert judgement) di bidang IPA.

Selanjutnya, instrumen yang telah mendapat pertimbangan pakar kemudian diujicobakan untuk mendapatkan gambaran secara empirik tentang kelayakan instrumen tersebut dipergunakan sebagai

instrumen penelitian. Hasil uji coba dianalisis lebih lanjut untuk mendapatkan validitas dan reliabilitas instrumen.

Untuk mendeskripsikan data yang diperoleh digunakan teknik analisis statistik deskriptif yang meliputi: mean, median, modus, standar deviasi, dan varians. Sebelum dilakukan pengujian untuk mendapatkan kesimpulan, terlebih dahulu dilakukan uji coba normalitas menggunakan uji Chi-Kuadrat (x2) pada taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan db = (k-1). Rumus yang digunakan, yaitu sebagai berikut.

(dalam Koyan, 2009:86) Keterangan

= Chi Kuadrat

= frekuensi yang diperoleh sampel

= Frekuensi yang diharapkan

Kriteria pengujian, data berdistribusi normal jika hitung< tabel pada taraf signifikansi 5% dan derajat kebebasan dk-(k-1). Dilanjutkan dengan dilakukannya uji

homogenitas varian kelompok

menggunakan uji F dengan rumus:

(dalam Sugiyono, 2011a:231) Kriteria pengujian, tolak H0 jika Fhitung ≥ Fα (n1 – 1, n2 - 1).Uji dilakukan pada taraf signifikansi 5% dengan derajat kebebasan untuk pembilang n1 – 1 dan derajat kebebasan untuk penyebut n2 – 1.

Setelah data diketahui normal dan tidak homogen maka selanjutnya dilakukan uji hipotesis menggunakan uji-t independent

(t-test). Dalam penelitian ini rumus t-test

yang digunakan untuk menguji hipotesis adalah separated varians yang ditulis sebagai berikut. Separated Varians 2 2 2 1 2 1 2 1 n s n s X X t (dalam Sugiyono, 2011b:138)

(6)

Sesuai dengan hipotesis penelitian yang telah diajukan, maka dapat dirumuskan hipotesis nol (H0) dan hipotesis alternatif (H1) sebagai berikut.

H0 : Tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar kognitif IPA antara kelompok siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran Course Review Horay

dengan siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD tahun pelajaran 2013/2014 di gugus IV Kecamatan Buleleng.

H1 : Terdapat perbedaan yang signifikan pada hasil belajar kognitif IPA antara kelompok siswa yang belajar menggunakan model pembelajaran

Course Review Horay dengan siswa yang belajar menggunakan model

pembelajaran konvensional pada siswa kelas V SD tahun pelajaran 2013/2014 di gugus IV Kecamatan Buleleng.

Hipotesis stastistiknya adalah sebagai berikut.

H0: μ1 = μ2 Ha: μ1 ≠ μ2 Keterangan

μ1 = rata-rata hasil belajar kognitif IPA kelompok eksperimen

μ2 = rata-rata hasil belajar kognitif IPA kelompok control

HASIL DAN PEMBAHASAN

Data analisis deskriptif dapat di lihat pada tabel 5

.

Tebel 5 Deskripsi Data hasil belajar IPA Kelompok Eksperimen dan Kelompok Kontrol

Statistik Kelompok Eksperimen Kelompok Kontrol Mean 21,83 15,62 Median 23,26 15,60 Modus 23,50 14,50 Varians 4,92 12,39 Standar deviasi 2,22 3,52 Skor maksimum 25 16 Skor minimum 23 9

Mean, median, modus hasil belajar IPA siswa kelompok eksperimen selanjutnya disajikan ke dalam kurva poligon berikut.

Gambar 4.1 Kurva Poligon Data Hasil

Belajar IPA Siswa

Kelompok Eksperimen Berdasarkan kurva poligon di atas, tampak bahwa kurva sebaran data kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran Course Review Horay (CRH) merupakan juling negatif karena Mo > Md > M (23,50 > 23,26 > 21,83). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar skor siswa kelompok eksperimen cenderung tinggi.

Selanjutnya mean, median, modus hasil belajar kognitif IPA siswa kelompok kontrol disajikan ke dalam kurva poligon sebagai berikut.

Mo = 23,50

M= 21,83

(7)

Gambar 4.2 Kurva Poligon Data Hasil Belajar IPA Siswa Kelompok Kontrol

Berdasarkan kurva poligon di atas, tampak bahwa kurva sebaran data kelompok siswa yang mengikuti model pembelajaran konvensional merupakan juling positif karena Mo < Md < M (14,50 <15,60 < 15,62). Hal ini menunjukkan bahwa sebagian besar skor siswa kelompok kontrol cenderung rendah.

Selanjutnya sebelum melakukan uji hipotesis, dilakukan uji normalitas sebaran data dan homogenitas kelompok varians. Berdasarkan analisis data yang dilakukan, data berdistribusi normal dan tidak homogen sehingga bisa dilanjutkan pada pengujian hipotesis.

Pengujian hipotesis dilakukan menggunakan uji-t sampel independent

(tidak berkolerasi) dengan rumus separated varians. Kriterianya H0 ditolak jika thitung > ttabel dan H0 diterima jika thitung < ttabel. Hasil ringkasan perhitungan dapat dilihat pada tabel 6.

Tabel 6 Ringkasan Hasil Uji-t Sampel Tak Berkorelasi/Independent

Kelas Varians N Db thitung ttabel Kesimpulan

Kelas

Eksperimen 4,92 24 37 4,38 1,68 thitung > ttabel H0 ditolak Kelas Kontrol 12,39 15

Berdasarkan tabel di atas, diperoleh thitung sebesar 4,38, sedangkan, ttabel dengan db = 37 pada taraf signifikansi 5% adalah 1,68. Hal ini berarti thitung lebih besar dari ttabel (thitung > ttabel), sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Dengan demikian, dapat diinterpretasikan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model pembelajaran Course Review Horay (CRH) dan kelompok siswa yang dibelajarkan melalui model konvensional pada siswa kelas V SD tahun pelajaran 2013/2014 di gugus IV Kecamatan Buleleng.

Berdasarkan deskripsi data hasil penelitian, kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model Course Review Horay (CRH) memiliki hasil belajar kognitif IPA yang lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok siswa yang mengikuti pembelajaran dengan model konvensional.

Tinjauan ini didasarkan pada rata-rata skor hasil belajar kognitif IPA dan kecenderungan skor hasil belajar kognitif IPA. Rata-rata skor hasil belajar kognitif IPA kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model Course Review Horay (CRH) adalah 20,13 berada pada katagori sangat tinggi. Sedangkan, rata-rata skor hasil belajar kognitif IPA kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional adalah 15,60 berada pada katagori tinggi.

Begitu pula hasil berdasarkan analisis uji-t, diketahui thitung = 4,38 dan ttabel (db = 38 dan taraf signifikansi 5%) = 1,68 (thitung> ttabel). Hal ini berarti, terdapat perbedaan hasil belajar kognitif IPA yang signifikan antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Course Review Horay (CRH) dan kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model Konvensional. Adanya perbedaan yang

Mo = 14,50

M= 15,62

(8)

signifikan menunjukkan bahwa penerapan model Course Reniew Horay (CRH) berpengaruh terhadap hasil belajar kognitif IPA siswa.

Perbedaan hasil belajar IPA yang signifikan pada kedua kelompok disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, model pembelajaran Course Review Horay

(CRH) memberikan kesempatan kepada siswa untuk membentuk kelompok dan berdiskusi. Hal tersebut menyebabkan siswa terlatih berpartisipasi dalam kelompoknya secara demokratis. Pendapat tersebut sejalan dengan pernyataan Herbert Thelen dan Jhon Dewey (dalam Rusman 2012:136) yang menyatakan bahwa “model pembelajaran dengan berkelompok dirancang untuk melatih partisipasi dalam kelompok secara demokratis”. Kedua, pemberian kesempatan kepada siswa untuk membuat kotak 9/16/25 sesuai dengan kebutuhan serta mengisi tiap kotak dengan angka sesuai dengan selera masing-masing siswa. Dengan demikian, siswa menjadi lebih aktif dalam proses pembelajaran. Hal tersebut sejalan dengan pendapat Moedjono dan Dimyati (2009) yang menyatakan bahwa keaktifan bagi siswa berwujud perilaku-perilaku seperti mencari sumber informasi yang dibutuhkan, menganalisis hasil percobaan, ingin tahu hasil dari suatu reaksi, membuat karya tulis yang menuntut keterlibatan langsung siswa dalam proses pembelajaran sehingga pembelajaran menjadi lebih menyenangkan dan bermakna. Ketiga, keterlibatan guru dalam permainan dapat membuat suasana belajar di kelas menjadi lebih hidup. Hal ini karena siswa dan guru dapat berinteraksi satu dengan yang lain sehingga terjadi sebuah ikatan diantara mereka yang dapat menciptakan suasana belajar yang menyenangkan. Hal tersebut sejalan dengan pernyataan Arends (dalam Trianto, 2007:120) yang menyatakan bahwa “pembicaraan antara guru dan para siswanya menjadi banyak ikatan sosial sehingga kelas menjadi hidup”. Keempat, pemberian reinforcement kepada siswa berupa tanda benar (√) pada jawaban benar serta teriakkan “horay...” atau yel-yel

lainnya dapat memberikan suasana belajar yang menyenangkan sehingga perhatian

siswa terpusat pada kegiatan pembelajaran dan siswa akan berusaha meningkatkan perilaku tersebut. Pendapat ini sesuai dengan pendapat Barnawi dan Arifin (2012) menyatakan penguatan dalam bentuk simbol dapat berupa tanda cek (√) pada hasil pekerjaan siswa dalam pembelajaran yang diberikan guru terhadap perilaku peserta didik yang positif, dengan tujuan mempertahankan dan meningkatkan perilaku tersebut. Dengan kegiatan demikian, diyakini aktivitas siswa meningkat sehingga hasil belajar kognitifnyapun menjadi optimal.

Temuan penelitian tersebut sesuai dengan hasil penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Angraeni (2011) yang membuktikan bahwa model Course Review Horay (CRH) dapat meningkatkan ketuntasan belajar hingga 93%. Penelitian serupa juga dilakukan oleh Pratiwi (2011) bahwa penerapan model Course Review Horay (CRH) dapat meningkatkan keaktifan siswa menjadi sebesar 84,97% dan hasil belajar meningkat hingga 58,7%.

Berdasarkan paparan di atas, dapat

diintepretasikan bahwa model

pembelajaran Course Review Horay (CRH) berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V SD tahun pelajaran 2013/2014 di Gugus IV Kecamatan Buleleng.

SIMPULAN DAN SARAN

Berdasarkan rumusan masalah dan pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar kognitif IPA yang signifikan antara kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Course Review Horay (CRH) dan kelompok siswa yang dibelajarkan menggunakan model konvensional pada siswa kelas V SD tahun pelajaran 2013/2014 di gugus IV Kecamatan Buleleng. Hasil uji-t menunjukkan bahwa thitung adalah 4,38, sedangkan ttabel pada taraf signifikansi 5% dan db = 38 adalah 1,68. Di samping itu, rata-rata skor hasil belajar IPA kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Course Review Horay (CRH) (21,83) lebih tinggi dari pada rata-rata skor kelompok siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran konvensional (15,2).

(9)

Dengan kata lain, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran Course Review Horay

(CRH) berpengaruh terhadap hasil belajar IPA siswa kelas V SD tahun pelajaran 2013/2014 di Gugus IV Kecamatan Buleleng.

Beberapa saran yang dapat diajukan adalah sebagai berikut.

1. Kualitas siswa sangat ditentukan oleh kualitas pembelajaran. Oleh karena itu, para guru IPA di SD hendaknya menggunakan model pembelajaran inovatif yang disesuaikan dengan kondisi sekolah dan peserta didik demi peningkatan kualitas proses dan hasil belajar. 2. Terbatasnya waktu penelitian

menyebabkan penelitian hanya dilakukan pada bidang IPA. Untuk itu, perlu dilakukan penelitian lebih luas oleh penulis lain, yang mana, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi awal bagi penelitian lebih lanjut.

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik (Edisi Revisi VI). Jakarta: PT Rineka Cipta.

Anggraeni, Dessy. 2011. Peningkatan Kualitas Pembelajaran IPS melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Course Review Horay pada siswa kelas IV SD Negeri Sekaran 01 Semarang. Jurnal Kependidikan

Dasar Volume1

nomer2(diterbitkan).http://journal.un nes.ac.id/nju/index.php/kreatif/article /view/1681.(diakses tanggal 2 Februari 2013).

Barnawi dan Mohammad Arifin. 2012. Etika dan Profesi Kependidikan. Jakarta: Ar-Ruzz Media.

Dimyati dan Moedjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: PT Rineka Cipta.

Iskandar, Srini M. 1996. Pendidikan Ilmu Pengetahuan Alam. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Direktorat Jenderal pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Pendidikan Guru Sekolah Dasar.

Koyan, Wayan. 2009. Statistik Dasar dan Lanjut (Teknik Analisis Data Kuantitatif). Singaraja.Departemen Pendidikan Nasional.

Moedjiono. 1995. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Proyek Pembinaan dan Peningkatan Tenaga Kependidikan.

Nurkancana, W. & Sunartana, P. P. N. 1990. Evaluasi Hasil Belajar. Usaha Nasional: Surabaya.

Pratiwi, Lika. 2011. Penerapan Model Course Review Horay (CRH) untuk meningkatkan pembelajaran IPA siswa kelas IV SDN Merjosari 1 Malang.http://library.um.ac.id/ptk/ind ex.php. Tugas Akhir (diterbitkan) (diakses tanggal 2 Februari 2013). Rusman. 2012. Model-model Pembelajaran

Mengembangkan Profesionalisme Guru. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.

Sugiyono. 2011a. Metode Penelitian Administrasi. Bandung: Alfabeta.

Sugiyono. 2011b. Statistika untuk Penelitian. Bandung: Alfabeta.

Sukra, Warpala. 2006. Pengaruh Pendekatan Pembelajaran dan Strategi Belajar Kooperatif yang Berbeda terhadap Pemahaman dan Keterampilan Berpikir Kritis dalam Pembelajaran IPA SD. Disertasi (tidak diterbitkan). Universitas Negeri Malang.

Suyatno. 2009. Penjelajah Pembelajaran Inovatif. Sidoarjo: Mas Media Buana Pustaka.

(10)

Trianto. 2007. Model-model Pembelajaran Inovatif Berorientasi Kontruktivistik. Jakarta : Prestasi Pustaka

Gambar

Tabel 2 Distribusi Anggota Populasi Penelitian
Gambar  4.1  Kurva  Poligon  Data  Hasil
Gambar 4.2 Kurva Poligon Data Hasil      Belajar  IPA  Siswa  Kelompok  Kontrol

Referensi

Dokumen terkait

Peramalan adalah kegiatan mengestimasi apa yang akan terjadi pada masa yang akan datang dengan waktu yang relatif lama (Assauri, 1991). Sedangkan ramalan adalah situasi atau

institusi hukum dan profesi hukum, Pembangunan yang komprehensif harus memperhatikan hak-hak azasi manusia, keduanya tidak dalam posisi yang berlawanan, dan dengan

Dari semua faktor yang diteliti baik jenis kelamin, umur, pendidikan formal, status pekerjaan, pengalaman gula darah rendah, kepemilikan alat pengukur gula darah,

SABRI SYUKUR, M.H.I.. JAJAT

Hal inilah yang kemudian ingin kita kembangkan di dalam Rencana Aksi Nasional Pemerintahan Terbuka 2016 – 2017. Rencana Aksi ini bertujuan mengakselerasi komitmen pemerintah di

Menurut PIC ESAP, seiring berjalannya waktu pada program ESAP, timbul berbagai permasalahan seperti peningkatan kemampuan dari para peserta berkemampuan lebih tinggi dan

variable, karena variabel ini tergantung dari Jenis Sekolah. Misal untuk jenis sekolah SMA, data 31 tidak dapat dimasukkan, karena data tersebut masuk pada jenis se- kolah SMK.

PEMBELI dan SKK Migas atau auditor independen yang ditunjuk oleh PEMBELI dan/atau SKK Migas dari waktu ke waktu dan pada setiap waktu tanggal surat penunjukan pemenang