A. Latar Belakang
Perkawinan merupakan peristiwa penting dalam kehidupan setiap manusia. Perkawinan bertujuan untuk selamanya dan kebahagiaan yang kekal (abadi) bagi pasangan suami istri yang bersangkutan. Perkawinan menurut Hukum Islam adalah pernikahan, yaitu akad yang sangat kuat ataumiitsaaqan ghaliizhan untuk menaaati perintah Allah dan melakukannya merupakan ibadah. Perkawinan bertujuan untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yangsakinah,mawaddahdan rahmah.1
Menurut pendapat Scholten merumuskan pengertian perkawinan adalah suatu hubungan antara seorang pria dan dengan seorang wanita untuk hidup bersama dengan kekal yang diakui oleh negara.2 Dalam pandangan masyarakat, perkawinan merupakan tali ikatan yang melahirkan keluarga sebagai dasar kehidupan masyarakat dan Negara, guna mewujudkan kesejahteraan dan kebahagian masyarakat maka perlu adanya landasan yang kokoh dan kuat sebagai titik tolak pada masyarakat yang adil dan makmur, hal ini dituangkan dalam suatu Undang-undang Perkawinan yang berlaku bagi semua warga negara di wilayah negara kesatuan Republik Indonesia.3
1Sayuti Thalib,Hukum Keluarga Indonesia, (Jakarta: UI Press, 1974), hlm.47.
2 Soedharyo Soimin, Hukum Orang dan Keluarga, Perspektif Hukum Perdata Barat/BW,
Hukum Islam, dan Hukum Adat, Edisi Revisi,(Jakarta: Sinar Grafika, 2006), hlm.6.
3 Mulyadi, Hukum Perkawinan Indonesia, (Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro, 2008), hlm.6.
Dalam ketentuan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan disebutkan bahwa perkawinan adalah ikatan lahir bathin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga) yang kekal dan bahagia berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Terjalinnya ikatan lahir dan bathin tersebut merupakan fondasi dalam membentuk dan membina keluarga yang bahagia dan kekal. Perkawinan bertujuan untuk membentuk keluarga yang bahagia dan kekal merupakan tujuan ideal yang tinggi dan mencakup pengertian jasmani dan rohani yang melahirkan keturunan,4sehingga dapat diartikan bahwa perkawinan haruslah berlangsung seumur hidup dan tidak boleh diputuskan begitu saja. Pemutusan karena sebab-sebab lain selain kematian diberikan suatu pembatasan yang ketat. Sehingga suatu pemutusan ikatan perkawinan yang berupa perceraian hidup merupakan jalan terakhir, karena setelah itu tidak ada jalan yang lain.5
Namun demikian, dalam perkembangannya putusnya hubungan perkawinan karena suatu perceraian semakin meningkat dengan tajam. Data Badan Peradilan Agama (Badilag) Mahkamah Agung RI tahun 2010 dalam kurun waktu tahun 2005 sampai tahun 2010, atau rata-rata satu dari 10 pasangan menikah berakhir dengan
4Yahya Harahap,Hukum Perkawinan Nasional,(Medan: CV. Rajawali, 1986), hlm.3. 5K. Wantjik Saleh,Hukum Perkawinan Indonesia,(Jakarta: Ghalia Indonesia, 1976), hlm.16.
perceraian di pengadilan. Dari dua juta pasangan menikah pada tahun 2010, sejumlah 285.184 pasangan bercerai.6
Setelah adanya perceraian, maka timbul masalah baru yaitu bagaimana dengan pembagian harta bersama yang ada dalam perkawinan tersebut. Perceraian adalah putusnya suatu perkawinan yang sah di depan hakim pengadilan berdasarkan syarat-syarat yang ditentukan undang-undang. Oleh karena itu perlu dipahami peraturan mengenai perceraian itu serta akibat-akibat yang mungkin timbul setelah suami-isteri itu perkawinannya putus.7
Harta kekayaan dalam perkawinan merupakan hal yang penting, dimana setiap keluarga memerlukan harta kekayaan dalam menunjang kehidupan berkeluarganya. Harta kekayaan tersebut terdiri dari harta bersama maupun harta bawaan. Harta bersama ada pada saat perkawinan berlangsung, sedangkan harta bawaan diperoleh sebelum berlangsungnya perkawinan. Permasalahan terhadap harta bersama merupakan suatu hal rumit bagi suami istri yang sedang menjalani kasus perceraian. Harta bersama tersebut, menurut hukum adalah harta yang berhasil dikumpulkan selama berumah tangga sehingga menjadi hak berdua suami dan istri.8
Hubungan hukum yang muncul antara suami-isteri merupakan akibat dari perkawinan termasuk dalam lingkup hukum keluarga. Hubungan hukum yang timbul
6Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana, ”Angka Perceraian di Indonesia Tertinggi
di Asia-Pasifik”, http://www.bkkbn.go.id/ViewBerita.aspx?BeritaID=967, terakhir diakses tanggal 28 Januari 2015
7Budi Susilo,Prosedur Gugatan Cerai, (Yogyakarta: Pustaka Yustisia, 2007), hlm.11. 8 Happy Susanto, Pembagian Harta Gono Gini Saat Terjadi Perceraian, Pentingnya
Perjanjian Perkawinan Untuk Mengantisipasi Masalah Harta Gono Gini, Cet.1, (Jakarta: Visimedia, 2008), hlm.2.
tidak saja terhadap pribadi suami-isteri, tetapi juga terhadap harta kekayaan mereka. Hukum harta perkawinan adalah peraturan hukum yang mengatur akibat-akibat perkawinan terhadap harta kekayaan suami-isteri yang telah melangsungkan perkawinan. Apabila dilihat dari asalnya, maka hukum harta perkawinan termasuk dalam hukum keluarga. Hukum kekayaan merupakan juga bagian yang tidak terpisahkan dari hukum keluarga karena dilihat dari definisi hukum kekayaan adalah peraturan-peraturan hukum yang mengatur hubungan hukum kekayaan yang mempunyai nilai uang. Hubungan hukum selalu menunjukan adanya dua subjek atau lebih atas suatu objek tertentu. Perkawinan juga mengakibatkan hubungan hukum, selain terhadap pribadi suami-isteri juga terhadap harta kekayaan. Oleh karena itu hukum kekayaan dengan hukum keluarga tidak dapat dipisahkan.9
Harta bersama memiliki beragam istilah, di berbagai daerah di tanah air sebenarnya juga dikenal istilah-istilah lain yang sepadan dengan pengertian harta bersama. Misalnya di Jawa diistilahkan dengan nama harta gono gini, di Aceh harta bersama diistilahkan dengan haeruta sihareukat, di Minangkabau masih dinamakan harta suarang, di Sunda digunakan istilah guna-kaya, di Bali disebut dengan druwe gabro, dan di Kalimantan digunakan istilahbarang perpantangan.10
Harta bersama menurut Undang-undang Perkawinan adalah hanya terbatas pada harta yang diperoleh selama dalam perkawinan. Sedangkan harta yang dibawa sebelum perkawinan berlangsung disebut harta bawaan. Dalam hal terjadi perceraian
9J. Satrio,Hukum Harta Perkawinan, cet. 1, (Bandung: Citra Aditya Bakti, 1991), hlm.35. 10 Ismail Muhammad Syah, Pencaharian Bersama Suami Istri, (Jakarta: Bulan bintang, 1965), hlm.18.
maka harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing, yaitu hukum agama, hukum adat, dan hukum-hukum lainnya (Pasal 37 Undang-undang Perkawinan). Terhadap akibat hukum yang menyangkut harta bersama atau harta pencaharian ini undang-undang menyerahkan kepada para pihak yang bercerai tentang hukum mana dan hukum apa yang berlaku, dan jika tidak ada kesepakatan maka Hakim dapat mempertimbangkan menurut rasa keadilan yang sewajarnya.
Harta Bersama menurut KUHPerdata merupakan persatuan harta kekayaan yang dalam Pasal 119 KUHPerdata dikemukakan bahwa terhitung sejak saat perkawinan dilangsungkan, demi hukum terjadilah persatuan bulat harta kekayaan suami dan isteri sejauh tidak diadakan perjanjian perkawinan tentang hal tersebut, maka dapat diartikan bahwa yang dimaksud Harta Bersama adalah Persatuan harta kekayaan seluruhnya secara bulat, baik itu meliputi harta yang dibawa secara nyata (aktiva) maupun berupa piutang (pasiva), serta harta kekayaan yang akan diperoleh selama perkawinan.
Menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (UU Perkawinan) telah diatur berdasarkan Pasal 35 ayat (1) bahwa harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama, dengan catatan tidak ada perjanjian perkawinan tentang pemisahan harta. Jika dilihat dari asal usul harta yang didapat oleh suami dan istri dapat dibagi dalam tiga sumber:
a. Harta masing-masing suami istri yang telah dimilikinya sebelum kawin baik diperolehnya karena mendapat warisan atau usaha-usaha lainnya, disebut sebagai harta bawaan.
b. Harta masing-masing suami istri yang diperolehnya selama berada dalam hubungan perkawinan, tetapi diperoleh bukan karena usaha mereka bersama-sama maupun sendiri-sendiri, tetapi diperolehnya karena hibah, warisan, ataupun wasiat untuk masing-masing.
c. Harta yang diperoleh setelah mereka berada dalam hubungan perkawinan atas usaha mereka berdua atau salah satu pihak dari mereka disebut harta pencaharian.11
Pada perkawinan yang masih baru pemisahan harta bawaan dan harta bersama itu masih nampak, akan tetapi pada usia perkawinan yang sudah lama, harta bawaan maupun harta bersama itu sudah sulit untuk dijelaskan secara terperinci satu persatu. Pasangan suami istri biasanya baru mempersoalkan pembagian harta harta bersama setelah adanya putusan perceraian dari pengadilan. Bahkan, dalam setiap proses pengadilan sering terjadi keributan tentang pembagian harta harta bersama sehingga kondisi itu semakin memperumit proses perceraian di antara mereka karena masing-masing mengklaim bahwa harta “ini dan itu” merupakan bagian atau hak-haknya.12
Apabila pasangan suami istri yang bercerai, kemudian timbul masalah harta bersama maka dapat diselesaikan dengan cara musyawarah atau perdamaian, sehingga pembagiaannya bisa ditentukan berdasarkan kesepakatan atau kerelaan di antara mereka berdua. Dengan demikian, pembagian harta bersama dapat ditempuh melalui putusan pengadilan agama atau melalui musyawarah. Apabila jalan penyelesaian harta bersama melalui perdamaian tidak dapat dicapai, maka penyelesaiannya dilakukan melalui Pengadilan Agama khusus untuk Warga Negara
11 Soemiati, Hukum Perkawinan Islam Dan Undang-Undang Perkawinan, (Yogyakarta: Liberty, 1997), hlm.99.
12 Mohd.Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam (Suatu Analisis Dari Undang-Undang
Indonesia yang beragama Islam, sedang bagi Warga Negara Indonesia yang beragama non Islam penyelesaiannya dilakukan melalui Pengadilan Negeri setempat.
Penyelesaian harta bersama dalam perceraian menurut ketentuan Pasal 37 Undang-Undang Perkawinan yang menyatakan apabila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing. Dalam penjelasan Pasal 37 Undang-Undang Perkawinan, yang dimaksud dengan hukum masing-masing adalah hukum adat, agama, dan hukum lainnya.13Pembagian menurut hukum masing-masing ini yang akan menjadi benturan dalam penggunaan hukum yang berlaku yang dikenal dengan conflict of law karena pengaturan harta benda perkawinan dan pembagian harta bersama pasca perceraian menurut hukum agama dan hukum adat memiliki aturan masing-masing yang berbeda.
Penjelasan ketentuan Pasal 37 Undang-Undang Perkawinan memberi jalan pembagian sebagai berikut:
1. Dilakukan berdasarkan hukum agama jika hukum agama itu merupakan kesadaran hukum yang hidup dalam mengatur tata cara perceraian;
2. Aturan pembagiannya akan dilakukan menurut hukum adat, jika hukum tersebut merupakan kesadaran yang hidup dalam lingkungan masyarakat yang bersangkutan;
3. Atau hukum-hukum lainnya.14
Apabila dilihat dengan menggunakan hukum agama Islam jika pihak suami istri beragama Islam maka pengaturan mengenai harta benda perkawinan menurut
13 Wahyono Darmabrata, Tinjauan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang
Perkawinan Beserta Undang-Undang dan Peraturan Pelaksanaannya, (Jakarta: CV Gitama Jaya, 2003), hlm.123.
14M. Yahya Harahap, Hukum Perkawinan Nasional, (Medan: CV Zahir Trading Co, 1975), hlm.125.
hukum Islam pada dasarnya tidak mengenal adanya harta bersama. Hukum Islam di bidang perkawinan merumuskan apabila terjadi perkawinan maka tidak membawa akibat apa-apa terhadap kekayaan masing-masing pihak. Harta istri tetap menjadi hak milik yang berada dalam kekuasaan dan penguasaannya dimana ia berhak sepenuhnya untuk memindahkan, menjual atau menghibahkannya tanpa persetujuan suami, demikian juga sebaliknya suami tetap menjadi pemilik yang mutlak dari segala harta kekayaan yang dibawanya kedalam perkawinan.
Pengaturan menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang merujuk pada hukum Islam sedikit berbeda karena selain terpisahnya harta pribadi suami dan istri, KHI mengatur juga mengenai harta bersama yang tercantum dalam ketentuan pasal 85 KHI. Pada ketentuan pasal 88 KHI, apabila terjadi perselisihan antara suami dan istri tentang harta bersama maka penyelesaian perselisihan itu diajukan ke Pengadilan Agama. Bagi suami dan istri yang beragama bukan Islam mengajukan penyelesaian perselisihan ke Pengadilan Negeri.
Berdasarkan hukum adat, pengaturannya berbeda menurut hukum adatnya masing-masing. Pada pokoknya berdasarkan hukum adat, harta yang diperoleh selama perkawinan dengan sendirinya akan menjadi harta syirkah (harta bersama) sekalipun disana sini terdapat variasi, misalnya dalam masyarakat patrilinial, harta kekayaan yang berasal dari kerabat istri dalam kawin ambil anak tidak dibenarkan hukum untuk dijadikan sebagai lembaga kekayaan bersama.
Mengenai besaran porsi masing-masing pihak terkait penyelesaian pembagian harta bersama pasca perceraian suami istri di lingkungan Pengadilan Agama Medan menetapkan untuk membagi 2 (dua) bagian dan menyerahkan ½ (setengah) bagian dari harta bersama kepada suami dan menyerahkan ½ (setengah) bagian dari harta bersama kepada istri,15 hal tersebut sesuai dengan Yurisprudensi Mahkamah Agung Republik Indonesia Nomor 120K/Sip/1960 yang dalam putusannya membagi harta bersama dalam perkawinan menjadi dua bagian sama besar antara suami istri yang bercerai.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan, sampai sejauh ini hanya ada satu putusan Pengadilan Agama yang tidak membagi harta bersama menjadi dua bagian sama besar, yaitu Putusan Pengadilan Agama Bukit Tinggi Nomor 618/Pdt.G/2012/PA.Bkt yang menetapkan dalam amar putusannya bahwa harta bersama dalam perkawinan dibagi menjadi 1/3 bagian untuk suami dan 2/3 bagian untuk istri.
Hal tersebut menunjukkan, walaupun ketentuan Pasal 37 Undang-Undang Perkawinan mengatur mengenai pembagian harta bersama dalam perceraian tergantung hukum yang hidup dalam lingkungan masyarakat dimana suami istri itu tinggal, namun dalam pelaksanaannya putusan Pengadilan Agama lebih banyak berpendirian bahwa harta bersama setelah perceraian harus dibagi dua sama rata antara suami dan istri yang bercerai.
15Hasil wawancara dengan Bapak H. Abdul Halim Ibrahim, Hakim Pengadilan Agama Medan, tanggal 27 Maret 2015
Namun dalam perkembangannya, sebagaimana ternyata dalam putusan Pengadilan Agama Bukit Tinggi Nomor 618/Pdt.G/2012/PA.Bkt, pembagian harta bersama setelah perceraian lebih mempertimbangkan rasa keadilan yang dijadikan pertimbangan dalam menetapkan porsi bagian dari harta bersama tersebut. Namun demikian, putusan Pengadilan Agama Bukit Tinggi Nomor 618/Pdt.G/2012/PA.Bkt apabila dibandingkan dengan yurisprudensi Mahkamah Agung yang dilaksanakan pada hampir seluruh putusan Pengadilan Agama di Indonesia, putusan Pengadilan Agama Bukit Tinggi tersebut sangat bertolak belakang, atau dengan kata lain tidak mengikuti kaidah Yurisprudensi Mahkamah Agung yang berlaku.
Berdasarkan uraian-uraian tersebut di atas, perlu suatu penelitian lebih lanjut mengenai harta bersama pasca perceraian yang akan dituangkan ke dalam judul tesis “Analisis Yuridis Pembagian Harta Bersama Dalam Perkawinan Pasca Perceraian (Studi Kasus Putusan Pengadilan Agama Bukit Tinggi Nomor 618/Pdt.G/2012/PA.Bkt dan Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 120K/Sip/1960)”.
B. Permasalahan
Adapun permasalahan-permasalahan yang hendak diteliti lebih lanjut dalam tesis ini adalah:
1. Bagaimana ketentuan hukum pembagian harta bersama pasca perceraian suami istri menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan KHI?
2. Bagaimana pembagian harta bersama pasca perceraian suami istri dalam Putusan Pengadilan Agama Bukit Tinggi Nomor 618/Pdt.G/2012/PA.Bkt menurut Undang-Undang Perkawinan, KHI dan Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 120K/Sip/1960?
3. Bagaimana pelaksanaan pembagian harta bersama suami istri pasca perceraian di lingkungan Pengadilan Agama Medan?
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan permasalahan yang telah dikemukan di atas maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui dan menganalisa ketentuan hukum pembagian harta bersama pasca perceraian suami istri menurut Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 dan KHI.
2. Untuk mengetahui dan menganalisa pembagian harta bersama pasca perceraian suami istri dalam Putusan Pengadilan Agama Bukit Tinggi Nomor 618/Pdt.G/2012/PA.Bkt menurut Undang-Undang Perkawinan, KHI dan Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 120K/Sip/1960.
3. Untuk mengetahui dan menganalisa pelaksanaan pembagian harta bersama suami istri pasca perceraian di lingkungan Pengadilan Agama Medan.
D. Manfaat Penelitian
Tujuan Penelitian dan manfaat penelitian merupakan satu rangkaian yang hendak dicapai bersama, dengan demikian dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Secara teoritis, diharapkan penelitian ini dapat menambah bahan pustaka/literatur dalam masalah pembagian harta bersama dalam perkawinan pasca perceraian, selain itu penelitian ini diharapkan juga dapat menjadi dasar bagi penelitian pada bidang yang sama.
2. Secara praktis, dari hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi pihak-pihak yang terkait dengan harta bersama dalam perkawinan pasca perceraian.
E. Keaslian Penelitian
Berdasarkan informasi yang ada dan sepanjang penelusuran kepustakaan yang ada dilingkungan Universitas Sumatera Utara, khususnya di lingkungan Magister Kenotariatan dan Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara Medan, belum ada penelitian sebelumnya yang berjudul “Analisis Yuridis Pembagian Harta Bersama Dalam Perkawinan Pasca Perceraian (Studi Kasus Putusan Pengadilan Agama Bukit Tinggi Nomor 618/Pdt.G/2012/PA.Bkt dan Yurisprudensi Mahkamah Agung Nomor 120K/Sip/1960)”. Akan tetapi ada beberapa penelitian yang yang menyangkut harta gono gini dalam perkawinan antara lain penelitian yang dilakukan oleh :
1. Agustina Darmawati (NIM. 077011003), Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Analisis Yuridis Atas Harta Harta bersama Yang Dihibahkan Ayah Kepada Anak : Studi Kasus Putusan Pengadilan Agama Medan No.691/PDT.G/2007/PA.Medan”, dengan permasalahan yang diteliti adalah:
a. Bagaimana akibat hukum terhadap harta harta bersama yang telah dihibahkan orang tua kepada anak?
b. Bagaimana penarikan kembali orang tua yang menghibahkan harta harta bersama?
c. Bagaimana kekuatan hukum bila harta hibah tersebut tidak diaktakan di hadapan Notaris?
2. Yusriana (NIM. 047005016), Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Akibat Hukum Perceraian Terhadap Harta Bersama Di Pengadilan Agama Lubuk Pakam Dan Pelaksanaannya Pada Masyarakat (Studi Di Kecamatan Percut Sei Tuan)”, dengan permasalahan yang diteliti adalah: a. Bagaimana cara pelaksanaan penyelesaian sengketa harta bersama? b. Bagaimana dasar pertimbangan hakim dalam menetapkan putusan?
c. Bagaimana upaya hukum yang dapat dilakukan terhadap putusan tentang penyelesaian sengketa harta bersama?
3. Herwita Gunawan (NIM. 002111019), Magister Ilmu Hukum Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Akibat Hukum Perceraian Terhadap
Harta Bersama Di Pengadilan Agama Medan Dan Prakteknya Pada Masyarakat Mandailing (Studi Kasus : Kecamatan Medan Tembung)”, dengan permasalahan yang diteliti adalah:
a. Bagaimana sikap dan pandangan Hakim Pengadilan Agama Medan dalam menentukan pembagian harta bersama yang ada bila terjadi pemutusan hubungan perkawinan karena perceraian?
b. Bagaimanakah praktek pembagian harta bersama sebagai akibat putusnya hubungan perkawinan karena perceraian pada masyarakat Mandailing yang beragama Islam?
c. Upaya hukum apa yang harus ditempuh oleh seorang istri agar suami melaksanakan isi putusan Pengadilan Agama khususnya mengenai pembagian harta bersama?
4. Lusinda Maranatha Siahaan (NIM. 027011037), Mahasiwa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Pembagian Harta Bersama Dalam Hal Putusnya Perkawinan Karena Perceraian (Studi Pada Masyarakat Batak Toba Kristen Di Kota Medan)”, dengan permasalahan yang diteliti adalah: a. Apa yang menjadi penyebab terjadinya perceraian pada Masyarakat Batak
Toba Kristen di Kota Medan?
b. Bagaimana pengertian harta bersama dalam perkawinan pada Masyarakat Batak Toba Kristen di Kota Medan?
c. Bagaimana upaya yang dilakukan para pihak untuk menyelesaikan pembagian harta bersama dalam hal perkawinan putus karena perceraian pada Masyarakat Batak Toba Kristen di Kota Medan?
d. Bagaimana besarnya hak masing-masing suami istri atas harta bersama dalam hal putusnya perkawinan karena perceraian pada Masyarakat Batak Toba Kristen di Kota Medan?
5. Ismi Syafriani Nasution (NIM. 077011030), Mahasiwa Magister Kenotariatan Universitas Sumatera Utara, dengan judul penelitian “Akibat Hukum Perceraian Terhadap Harta Bersama Berdasarkan Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 Dan Kompilasi Hukum Islam”, dengan permasalahan yang diteliti adalah:
a. Bagaimana akibat hukum penyelesaian sengketa terhadap harta bersama menurut Undang-undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam ?
b. Bagaimana pertimbangan hakim dalam menentukan pembagian harta bersama akibat hukum perceraian ?
c. Bagaimanakah akibat hukum penyelesaian sengketa yang berkaitan dengan pemeliharaan anak dari pembagian harta bersama setelah terjadinya perceraian dikaitkan dengan perjanjian perkawinan ?
Permasalahan yang dibahas dalam penelitian-penelitian tersebut berbeda dengan permasalahan yang akan dibahas dalam penelitian ini. Dengan demikian
penelitian ini adalah asli baik dari segi substansi maupun dari permasalahan, sehingga penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.
F. Kerangka Teori dan Konsepsi 1. Kerangka Teori
Setiap penelitian harus disertai dengan pemikiran-pemikiran teoritis, teori adalah untuk menerangkan dan menjelaskan gejala spesifik untuk proses tertentu terjadi.16 Kerangka teori merupakan landasan dari teori atau dukungan teori dalam membangun atau memperkuat kebenaran dari permasalahan yang dianalisis. Kerangka teori dimaksud adalah kerangka pemikiran atau butir-butir pendapat, teori, tesis, sebagai pegangan baik disetujui atau tidak disetujui.17
Teori menguraikan jalan pikiran menurut kerangka yang logis artinya mendudukkan masalah penelitian yang telah dirumuskan didalam kerangka teoritis yang relevan, yang mampu menerangkan masalah tersebut. Teori yang digunakan sebagai pisau analisis dalam penelitian ini adalah Teori Kepastian Hukum.
Teori kepastian hukum oleh Roscoe Pound mengatakan bahwa dengan adanya kepastian hukum memungkinkan adanya “Predictability”.18 Sedangkan Van Kant mengatakan bahwa hukum bertujuan menjaga kepentingan tiap-tiap manusia agar kepentingan-kepentingan itu tidak diganggu. Bahwa hukum mempunyai tugas untuk
16 Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, (Jakarta: Universitas Indonesia Press, 1986), hlm.122.
17M. Solly Lubis,Filsafat Ilmu dan Penelitian,(Bandung: Mandar Maju, 1994), hlm.80. 18Peter Mahmud Marzuki,Pengantar Ilmu Hukum,(Jakarta: Kencana Prenada Media Group, 2009), hlm.158
menjamin adanya kepastian hukum dalam masyarakat.19 Dengan demikian kepastian hukum mengandung 2 (dua) pengertian, yang pertama adanya aturan yang bersifat umum membuat individu mengetahui apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan, dan kedua berupa keamanan bagi individu dari kesewenangan Pemerintah karena dengan adanya aturan yang bersifat umum itu individu dapat mengetahui apa saja yang boleh dibebankan atau dilakukan oleh Negara terhadap individu.
Ketentuan tentang harta bersama, sudah jelas dalam hukum positif yang berlaku di Indonesia, bahwa harta yang boleh dibagi secara bersama bagi pasangan suami istri yang bercerai adalah hanya terbatas pada harta bersama sepanjang tidak ditentukan lain dalam perjanjian perkawinan. Dalam hukum positif yang berlaku di Indonesia, harta bersama diatur dalam Pasal 35-37 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Pasal 119 dan Pasal 128 KUHPerdata, dan Pasal 85-97 Kompilasi Hukum Islam (KHI). Pengaturan harta bersama ini diakui secara hukum, termasuk dalam pengurusan, penggunaan, dan pembagiannya. Ketentuan tentang harta bersama juga diatur dalam hukum Islam meskipun hanya bersifat umum dan tidak diakuinya adanya percampuran harta kekayaan suami istri, namun ternyata setelah dicermati dan dianalisis yang tidak bisa dicampur adalah harta bawaan dan harta perolehan. Hal ini sama dengan ketentuan yang berlaku dalam hukum positif,
19C.S.T. Kansil,Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia,(Jakarta: Balai Pustaka, 2002), hlm.44.
bahwa kedua macam harta itu (harta bawaan dan harta perolehan) harus terpisah dari harta bersama itu sendiri.20
Para ahli hukum Islam berbeda pendapat tentang dasar hukum harta bersama itu. Sebahagian mereka mengatakan bahwa agama Islam tidak mengatur tentang harta bersama, sehingga oleh karena itu diserahkan sepenuhnya kepada mereka sendiri untuk mengaturnya. Sebahagian ahli hukum Islam yang lain mengatakan bahwa suatu hal yang tidak mungkin jika agama Islam tidak mengatur tentang harta bersama, sedangkan hal-hal lain yang kecil-kecil saja diatur secara rinci oleh agama Islam dan ditentukan dasar hukumnya.
Masalah harta bersama tidak disinggung secara jelas dan tegas dalam hukum Islam. Dengan kata lain, masalah harta bersama merupakan wilayah hukum yang belum terpikirkan (ghairu al mufakkar fih) dalam hukum Islam, karena itu, terbuka bagi ahli hukum Islam untuk melakukan ijtihad dengan pendekatan qiyas. Dalam ajaran Islam, ijtihad itu diperbolehkan asalkan berkenaan dengan masalah-masalah yang belum ditemukan dasar hukumnya. Masalah harta bersama merupakan wilayah keduniaan yang belum tersentuh oleh hukum Islam klasik. Hukum Islam kontemporer tentang harta bersama dianalisis melalui pendekatan ijtihad, yaitu bahwa harta yang diperoleh pasangan suami istri selama dalam ikatan perkawinan merupakan harta bersama.21
20 Abd. Rasyid As’ad, Gono-Gini Dalam Perspektif Hukum Islam, Makalah, Yogyakarta: Pengadilan Negeri Krasaan, 2013, hlm.4
Mengenai pembagian harta bersama pasca perceraian, Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tidak mengatur secara tegas merumuskan hukum yang berlaku dalam pembagiannya karena diserahkan pembagian tersebut kepada hukum masing-masing. Hal ini tercantum dalam ketentuan pasal 37 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menyatakan bahwa bila perkawinan putus karena perceraian, harta bersama diatur menurut hukumnya masing-masing. Yang dimaksud hukum masing-masing ini ialah hukum agama, hukum adat dan hukum lain-lainnya.22 Pembagian menurut hukum masing-masing ini yang akan menjadi benturan dalam penggunaan hukum yang berlaku yang dikenal dengan conflict of law karena pengaturan harta benda perkawinan dan pembagian harta bersama pasca perceraian menurut hukum agama dan hukum adat berbeda yang memiliki aturan masing-masing. Sedangkan ketentuan hukum sebenarnya dibuat sebagai upaya perlindungan hukum bagi warga Negara dengan menciptakan suatu kepastian hukum terhadap permasalahan pembagian harta bersama dalam perkawinan pasca perceraian.
Salah satu permasalahan yang timbul dengan adanya ketidakpastian ketentuan yang mengatur mengenai harta bersama dalam perkawinan pasca perceraian adalah kemungkinan timbulnya ketidak adilan dalam suatu putusan pengadilan. Misalnya sesuai perkembangan jaman, pihak wanita turut bekerja mencari nafkah sehari-hari sedangkan suami tidak bekerja, maka apabila terjadi perceraian kemudian harta bersama tersebut dibagi 2 bagian bagi masing-masing suami-istri, hal tersebut akan menimbulkan ketidakadilan.
2. Konsepsi
Konsepsi adalah salah satu bagian terpenting dari teori, peranan konsepsi dalam penelitian ini untuk menggabungkan teori dengan observasi, antara abstrak dan kenyataan. Konsep diartikan sebagai kata yang menyatukan abstraksi yang digeneralisasikan dari hal-hal yang khusus yang disebut definisi operasional.23 Menurut Burhan Ashshofa, suatu konsep merupakan abstraksi mengenai suatu fenomena yang dirumuskan atas dasar generalisasi dari jumlah karakteristik kejadian, keadaan, kelompok atau individu tertentu.24
Adapun uraian dari pada konsep yang dipakai dalam penelitian ini adalah: a. Perkawinan adalah perkawinan yang dilangsungkan secara sah menurut hukum
Islam.
b. Perceraian adalah putusnya perkawinan atas putusan Pengadilan Agama baik karena talak atau berdasarkan gugatan perceraian.
c. Harta Bawaan adalah harta yang diperoleh sebelum perkawinan berlangsung. d. Harta Bersama yaitu harta yang diperoleh pasangan suami istri secara
bersama-sama selama masa dalam ikatan perkawinan. Harta berbersama-sama dapat berupa benda berwujud, benda tidak berwujud (hak dan kewajiban), benda bergerak, benda tidak bergerak dan surat-surat berharga.
e. Pembagian Harta Bersama adalah pembagian yang dilakukan di luar pengadilan maupun melalui pengadilan.
23Samadi Suryabrata,Metodologi Penelitian, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1998), hlm.31. 24Burhan Ashshofa,Metodologi Penelitian Hukum, (Jakarta: Rineka Cipta, 1996), hlm.19.
f. Kaum Muslim adalah kalangan umat yang menganut agama Islam.
G. Metode Penelitian 1. Sifat Penelitian
Penelitian ini menggunakan metode yuridis normatif terutama untuk mengkaji peraturan Perundang-undangan dan Putusan Pengadilan. Metode penelitian hukum normatif adalah penelitian yang mengacu kepada norma-norma hukum yang terdapat dalam peraturan perundang-undangan dan putusan pengadilan.
Hal ini sejalan dengan pendapat Ronald Dworkin menyebut metode penelitian normatif juga sebagai penelitian doktrinal atau doctrinal research, yaitu suatu penelitian yang menganalisis baik hukum sebagai law as it’s written in the books, maupun hukum sebagailaw as it is decided by the judge through judicial process.25
Sedikitnya ada tiga alasan penggunaan penelitian hukum normatif yang bersifat kualitatif.
Pertama, analisis kualitatif didasarkan pada paradigma hubungan dinamis antara teori, konsep-konsep dan data yang merupakan umpan balik atau modifikasi yang tetap dari teori dan konsep yang didasarkan pada data yang dikumpulkan.
Kedua, data yang akan dianalisis beraneka ragam, memiliki sifat dasar yang berbeda antara yang satu dengan lainnya, serta tidak mudah untuk dikuantifisir.
Ketiga, sifat dasar data yang akan dianalisis dalam penelitian adalah bersifat menyeluruh dan merupakan satu kesatuan yang integral holistic, dimana hal itu 25Bismar Nasution,Metode Penelitian Hukum Normatif dan Perbandingan Hukum, Makalah disampaikan pada Dialog Interaktif tentang Penelitian Hukum dan Hasil Penulisan Penelitian Hukum pada Makalah Akreditasi Fakultas Hukum USU, Medan, tanggal 18 Februari 2003, hlm.1.
menunjukkan adanya keanekaragaman data serta memerlukan informasi yang mendalam atauindepth information.26
2. Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah data sekunder. Untuk menghimpun data sekunder, maka dibutuhkan bahan pustaka yang merupakan data dasar yang digolongkan sebagai data sekunder yang terdiri dari bahan hukum primer, bahan hukum sekunder dan bahan hukum tertier.27
a). Bahan hukum primer.
Yaitu bahan hukum yang mempunyai kekuatan mengikat sebagai landasan utama yang dipakai dalam rangka penelitian ini di antaranya adalah Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, Kompilasi Hukum Islam (KHI), serta peraturan-peraturan lain yang berkaitan dengan permasalahan harta bersama dalam perkawinan pasca perceraian.
b). Bahan hukum sekunder.
Yaitu bahan-bahan yang erat hubungannya dengan bahan hukum primer dan dapat membantu menganalisis dan memahami bahan hukum primer, seperti hasil-hasil penelitian, hasil-hasil seminar, hasil-hasil karya dari kalangan hukum, serta dokumen-dokumen lain yang berkaitan dengan permasalahan harta bersama dalam perkawinan pasca perceraian.
26Ibid., hlm.2.
27Ronny Hanitijo Soemitro, Metodologi Penelitian Hukum dan Juritmetri, (Jakarta: Ghalia Indonesia, 1990), hlm.53.
c). Bahan hukum tertier.
Yaitu bahan-bahan yang memberikan informasi tentang bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder seperti kamus hukum, ensiklopedia, dan lain-lain.
Selain data sekunder sebagai sumber data utama, dalam penelitian ini juga digunakan data primer sebagai data pendukung yang diperoleh dari wawancara dengan pihak yang telah ditentukan sebagai informan atau narasumber.
3. Teknik Pengumpulan Data
Untuk mendapatkan data yang diperlukan, pengumpulan data dilakukan melalui tahap-tahap penelitian antara lain sebagai berikut :
a. Studi Kepustakaan (Library Research).
Studi Kepustakaan ini dilakukan untuk mendapatkan atau mencari konsepsi-konsepsi, teori-teori, asas-asas dan hasil-hasil pemikiran lainnya yang berkaitan dengan permasalahan permasalahan harta bersama dalam perkawinan pasca perceraian.
b. Wawancara.
Hasil wawancara yang diperoleh akan digunakan sebagai data penunjang dalam penelitian ini. Data tersebut diperoleh dari pihak yang telah ditentukan sebagai informan atau narasumber yaitu Bapak Abdul Halim Ibrahim, Hakim Pengadilan Agama Kota Medan yang dianggap mengetahui permasalahan yang berkaitan dengan permasalahan harta bersama dalam perkawinan pasca perceraian.
Alat yang digunakan dalam wawancara yaitu menggunakan pedoman wawancara sehingga data yang diperoleh langsung dari sumbernya dan lebih terstruktur agar dapat dijadikan bahan guna menjawab permasalahan dalam tesis ini.
4. Analisis Data
Dalam suatu penelitian sangat diperlukan suatu analisis data yang berguna untuk memberikan jawaban terhadap permasalahan yang diteliti. Analisis data dalam penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Penelitian dengan menggunakan metode kualitatif bertolak dari asumsi tentang realitas atau fenomena sosial yang bersifat unik dan kompleks. Padanya terdapat regularitas atau pola tertentu, namun penuh dengan variasi (keragaman).28
Analisis data adalah proses mengatur urutan data, mengorganisasikannya ke dalam suatu pola, kategori dan satuan uraian dasar.29 Sedangkan metode kualitatif merupakan prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis maupun lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.30
Data sekunder yang diperoleh dari penelitian kepustakaan (library research) dan data primer yang diperoleh dari penelitian lapangan (field research) kemudian disusun secara berurutan dan sistematis dan selanjutnya dianalisis dengan menggunakan metode berpikir deduktif, yaitu menggunakan ketentuan berdasarkan pengetahuan umum seperti teori-teori, dalil-dalil, atau prinsip-prinsip yang berkaitan
28Burhan Bungin,Analisa Data Penelitian Kualitatif, Pemahaman Filosofis dan Metodologis
Kearah Penguasaan Modal Aplikasi, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2003), hlm.53. 29Lexy J. Moleong,Metode Kualitatif, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2004), hlm.103. 30Ibid., hlm.3.
dengan permasalahan harta bersama dalam perkawinan pasca perceraian dalam bentuk proposisi-proposisi untuk menarik kesimpulan terhadap fakta-fakta yang bersifat khusus.31
31Mukti Fajar, dan Yulianto Achmad, Dualisme Penelitian Hukum Normatif dan Empiris, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2010), hlm.109.