1
KONSERVASI GEDUNG
ROTTERDAMSCHE LLOYD DI KAWASAN
KOTA TUA JAKARTA
Anastasia Ashary, Sigit Wijaksono,
Yanita Mila Ardiani
Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik, Universitas Bina Nusantara [email protected]
ABSTRACT
The purposed of research is to conserved Rotterdamsche lloyd building with still maintaining cultural values, historical identity, as well as the source of benefits in economic, cultural, technological, and social tourism in the old town area and also the needs of art and culture facilities like food, fashion and entertainment. The used method is qualitatively method, by analyzing macro environments of the region old town and micro enviroments which is Rotterdamsche building itself . Beside the analysis environments, writer need to analyzed building condition, users of the building, and also analysis a appropriate function for building to get suitability function to be used in the Rotterdamsche lloyd buiding. In conclusion there are various functions that can be use to fill in the building conservation, but not all of the functions are suitable for every building. It must considering the condition of each building and the surrounded location. Because of that, the needs and function to be used for building can be different in various building .(AAD)
Key words:Conservation, Function, Art and Culture
ABSTRAK
Tujuan penelitian adalah untuk mengkonservasi gedung Rotterdamsche lloyd yang tetap mempertahankan nilai budaya, historical identity, serta sumber manfaat dibidang ekonomi, budaya, teknologi, serta social tourism pada kawasan kota tua serta dapat memenuhi fasilitas kebutuhan art and culture baik dibidang makanan, fashion dan entertainment. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatatif, dengan menganalisa linkungan secara makro berupa kawasan dan mikro gedung Rotterdamsche itu sendiri. Selain analisa linkungan, analisa manusia kerusakan pada gedung, analisa terhadap pengguna gedung, dan analisa fungsi ruang juga perlu di analisa sehingga didapatkan fungsi yang sesuai untuk digunakan pada gedung Rotterdamsche lloyd. Kesimpulannya terdapat bermacam-macam fungsi yang ingin digunakan pada gedung konservasi, tetapi tidak semua fungsi cocok untuk gedung yang dipilih mengingat kondisi setiap gedung dan lokasi dari gedung berbeda. Sehingga kebutuhan dan fungsi yang dipenuhi juga berbeda. (AAD)
Kata Kunci: Konservasi, Fungsi, Seni dan Kebudayaan.
PENDAHULUAN
Setiap bangunan akan mengalami adaptasi dan penambahan seiring berjalannya waktu, begitu pula dengan fungsi bangunan yang juga mengalami perubahan disetiap periode waktu yang berbeda. Sejarah merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari lingkungan, ia menjadi salah satu jejak fisik dari masa lalu. Apa yang kita lihat saat ini bukan hanya sebuah ‘peninggalan sejarah’ melainkan sebagai warisan sebuah karakter kota, landasan penting ‘sense of place’ untuk yang masyarakat yang tinggal ditempat tersebut, maupun bagi pengunjung untuk tertarik dengan arti dan sejarahnya.
Tempat bersejarah, benda, manifestasi budaya, sains, simbol, rohani, dan agama adalah nilai yang penting dalam mengekspresikan suatu kebudayaan, identitas, kepercayaan beragama didalam masyarakat. Setiap nilai memiliki peran yang penting, khususnya dibidang identitas kebudayaan yang seiring perkembangan zaman memiliki perubahan yang harus dimajukan, seperti bangunan, ruang, tempat, serta landscape yang merupakan suatu tuntutan dari nilai agama dan rohani yang mewakili bagian penting dari keseimbangan dan kehidupan sosial serta kebanggaan masyarakat. Konservasi,
2
rehabilitasi, dan adaptive reuse merupakan bentuk kepekaan kebudayaan baik di perkotaan, pedesaan, yang berhubungan dengan warisan arsitektur yang bersifat berkelanjutan dari alam maupun sumber daya buatan manusia. Cara untuk melakukan perkembangan kebudayaan yaitu dengan melakukan pemeliharaan sehingga setiap akses dapat menikmati keuntungannya. Berdasarkan UN Habitat-conservation and rehabilitation of historical and cultural heritage (1996).
Kota tua dikenal sebagai salah satu warisan kebudayaan di Jakarta, Kawasan ini merupakan salah satu kota tertua di asia dan kota terbesar kolonial belanda dengan arsitektur dan perencanaan desain menyerupai eropa (Gill, 1993; Hajjar, 2008). Untuk melindungi warisan budaya tersebut, terdapat salah satu lembaga swasta yang bertugas dalam pengembangan kota tua yang dikenal dengan Jakarta Endowment For Art and Heritage(JOTRC). Salah satu tujuan utamannya adalah melestarikan gedung sejarah yang memiliki target 5 tahun dengan memperbaiki 85 gedung sejarah. Yang diharapkan kota tua selain menjadi warisan budaya menjadi sarana pendidikan, industri kreatif, aktivitas MICE (Meeting, Incentive, Conference, Exhibition), finansial, seni dan kebudayaan, dan lifestyle. Untuk melakukan perbaikan dan pelestarian gedung sejarah, dapat dilakukan dengan revitalisasi Kota Tua Jakarta, dengan melakukan 5 kegiatan yaitu preservasi, konservasi, renovasi dan restorasi, aktivasi, serta adaptive reuse pada bangunan di Kota Tua. Media Jaya (2014) Dengan adanya revitalisasi kawasan kota tua diproyeksikan menjadi kawasan yang layak untuk ditinggali, untuk bekerja dan juga untuk rekreasi (to live, to work and play) mengingat kawasan kota memiliki nilai historis yang tinggi yang merupkan cerminan kisah sejarah, tata hidup, budaya, dan peradaban masyarakat Jakarta pada masa lampau.
Salah satu gedung terlantar di kawasan kota tua adalah Gedung Rotterdamsche Lloyd yang terletak di Jalan Kali Besar Timur 3 No.15A, Tamansari, Kota Jakarta Barat. Gedung ini merupakan salah satu gedung yang lokasinya terdapat didalam area didalam tembok yang berada di Zona A : Core Zone.
Gambar 1 Lokasi Gedung didalam Zona A dan Gambar Bangunan Saat Ini (2015)
Sumber: JOTRC – Dokumen Pribadi
Selain lokasi pada gedung yang terdapat pada kawasan revitalisasi, terdapat nilai yang terdapat pada gedung yang menjadi pertimbangan untuk mengkonservasi gedung tersebut. Selain dari nilai umur bangunan yang hampir mencapai 100 tahun dengan kondisi yang telah mengalami perubahan bentuk dan pergantian kepemilikan, gedung ini memiliki nilai arsitektural dengan bukti style Art deco pada gedung, berikut dengan nilai artistik dari penggunaan kaca patri oleh pengrajin pada gedung tersebut. Gedung ini juga mewakili perkembangan perkantoran perdagangan internasional pada area kali besar di zaman kolonial belanda dengan mejadikannya sebagai salah satu kantor perusahaan perkapalan Rotterdamsche Lloyd yang merupakan salah satu maskapai perkapalan terbesar pada periode kolonial.
METODE PENELITIAN
Metode yang akan digunakan dalam Konservasi Gedung Rotterdamsche Lloyd di Kawasan Kota Tua Jakarta adalah metode penelitian kualitatif. Karena, semua data-data bukan merupakan angka melainkan kata-kata yang didapatkan dari catatan lapangan, observasi, studi literatur. Dengan Proses desain yang digunakan adalah discovery design, yaitu proses desain dengan tahapan pertama yaitu merumuskan masalah yang ada, setelah masalah didapat maka langkah selanjutnya mengumpulkan informasi untuk menjawab permasalahan yang ditemukan dengan cara pengambilan foto, sketsa, serta interview klien, berikut dengan lingkungan alamnya, Setelah tahap mengumpulkan data maka tahapan selanjutnya menganalisa yang dilanjutkan mengembangkan proses yang telah didapat pada proses analisa, yang sudah mencapai solusi yang spesifik hingga sampai ke tahap pembangunan.
Dalam proses pengumpulan data, data yang diperoleh adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data hasil wawancara dan observasi. Data sekunder adalah data pendukung yang didapatkan dari artikel, jurnal, peraturan pemerintah, buku, internet, dan referensi lainnya.
3
Tabel 1 Data Penelitian
DATA TUJUAN TEKNIK SUMBER/ALAT JENIS DATA
Jumlah pengunjung di kawasan kota tua Jakarta tahun 2008-2012
Mengetahui pentingnya aspek wisata di Kota Tua, Jakarta
Literature Review BPS Jakarta 2013 Data sekunder
Landasan hukum bangunan cagar budaya
Mengetahui landasan hukum yang mengatur bangunan cagar budaya
Literature Review SK GUB KDKI JKT No.475 tahun 1993, UU No.11 Tahun 2010
Data sekunder Visi Misi Kota Tua Mengetahui rencana
kedepan Kota Tua dibidang revitalisasi dan konservasi
Literature Review SK Gub DKI JKT No.36 tahun 2014 pasal 4
Data sekunder
Teori dan tahapan Konservasi dan Adaptive reuse
Mengetahui proses dan tahapan Konservasi dan Adaptive reuse
Literature Review Data
sekunder Strategi
pengembangan kawasan Kota tua
Mengetahui strategi yang ingin
dikembangkan pada kawasan kota tua
Literature Review SK Gub DKI JKT No.36 tahun 2014 pasal 20, JOTRC
Data sekunder
Foto lokasi kawasan Bangunan di kota tua (Zona 2)
Mengetahui kawasan sekitar pada bangunan dan Zona peuntukan pada bangunan
Literature Review UPK Kota Tua, Google Maps
Data sekunder
Teori Cagar Budaya Bangunan
Mengetahui tahapan cagar budaya
Literature Review Data
sekunder Sejarah dan Foto
bangunan
Rotterdamsche Lloyd
Mengetahui bentuk asli bangunan saat pertama kali
Literature Review Postcard from Jakarta Data sekunder Teori dan style pada
bangunan
Rotterdamsche Lloyd
Mengetahui style arsitektural pada bangunan
Literature Review Data
sekunder Peruntukan Bangunan Untuk mengetahui fungsi
yang sesuai dengan rencana pemerintah
Literature Review Dinas Tata Ruang DKI Jakarta, UPK Kota Tua, JOTRC
Data sekunder
Peta Kawasan Jakarta Mengetahui kondisi pada tapak dan daerah sekitarnya
Literature Review Dinas Tata Ruang DKI Jakarta
Data Sekunder Foto Kondisi
Bangunan Saat ini
Mengetahui perbedaan pada bangunan awal-sekarang
Observasi Kamera Data Primer
Denah Gedung Mengetahui layout ruang pada gedung
Survey Alat Ukur, Kamera Data Primer Detail ukuran
bangunan (eksterior dan Interior)
Proses dan
pengembangan desain
Survey Alat ukur Data Primer
Identifikasi Kerusakan Mengetahui Bagian yang harus diperbaiki
Survey Kamera Data Primer
Interior style gedung Mengetahui style yang cocok untuk diterapkan pada gedung
Literature Review Data
Sekunder Teknik-teknik
penerapan Interior
Proses dan
pengembangan desain
Literature Review Data
Sekunder Sumber: Hasil Olahan Pribadi
4
HASIL DAN BAHASAN
1. Analisa Lingkungan
Analisa lingkungan diperlukan untuk mengetahui fungsi gedung apa yang cocok untuk dimasukan kedalam gedung, yang dilihat secara lingkungan makro (kawasan kota tua) dan mikro (sekitar gedung).
a. Lingkungan Makro
Gedung Rotterdamsche Lloyd terletak di pada Jalan Kali Besar Timur 3 No.15A, Tamansari, Kota Jakarta Barat . Berdasarkan rencana pengembangan kota tua oleh Jakarta Endowment For Art and Heritage (JOTRC), Telah membuat pereancanaan untuk mengembangkan kota tua menjadi kawasan dengan 6 fungsi baik dibidang edukasi, lifestyle, seni dan kebudayaan, keuangan, industri kreatif, serta mice (meeting, Incentive, Conference, Exhibition) yang fungsinya telah dibagi berdasarkan kawasan dikota tua. Berdasarkan hal tersebut Gedung Rotterdamsche Lloyd termasuk ke dalam kawasan Art and Culture.
Gambar 2. Peruntukan Fungsi pada Gedung Rotterdamsche Llyod
Sumber: JOTRC
b. Lingkungan Mikro
Gambar 3. Peruntukan Fungsi pada Sekitar Gedung Rotterdamsche Llyod
Sumber: JOTRC
Berdasarkan gambar diatas peruntukan fungsi bangunan disekitar gedung Rotterdamsche Lloyd, didominasi oleh fungsi perkantoran dan bangunan kosong. Ruang publik dan hunian jumlahnya masih belum merata dengan jumlah fungsi perkantoran dan bangunan kosong. Karena itu peruntukan fungsi pada gedung Rotterdamsche Lloyd menjadi fungsi publik dibidang art and culture baik dibidang entertainment, fashion,maupun food.
2. Analisa Fungsi Gedung a. Kondisi Sekitar
Dalam menentukan fungsi yang akan digunakan, maka penulis melihat batasan gedung terhadap sisi disekitarnya, baik itu gedung ataupun jalan. Gedung Rotterdamsche Lloyd Berbatasan dengan gedung PT.Tjipta Niaga di sebelah selatan dan Gedung the firm of van vaulten and cox serta G.Kolff & Co yang sekarang kita sebut dengan gedung INKOPAD di sebelah barat. Gedung Rotterdamsche Lloyd mengarah ke langsung ke jalan kali besar timur, dan jalan pintu besar utara.
5 b.
Bentukan Massa Gedung
Dalam menentukan fungsi yang akan digunakan selanjutnya, maka penulis membandingkan contoh denah dari gedung yang telah diadaptasi dengan gedung Rotterdamsche Lloyd. Yaitu gedung terletak di hook jalan dan berbentuk persegi panjang.
Gambar 4. Peruntukan Fungsi pada Sekitar Gedung Rotterdamsche Llyod
Sumber: JOTRC
Gambar 5. Contoh beberapa gedung yang memiliki bentukan massa sama
Sumber: JOTRC
Dari beberapa contoh diatas,didapatkan kesimpulan fungsi media center, art spaces dan design center cocok diterapkan pada gedung Rotterdamsche Lloyd.
c. Fungsi Gedung Dahulu (Kantor) – Sekarang
Selain dari analisa bentukan denah, dalam menentukan fungsi yang akan digunakan selanjutnya penulis membandingkan fungsi yang dahulu adalah kantor dengan fungsi yang telah diadaptasi menjadi fungsi yang telah ada. Dari contoh The Digital Media Arts Center, Orange, United States AC Martin, Brasserie Kungliga Posten, Malmö, Sweden, Rocks Police Station, Sydney NSW, Australia. Dari ketiga contoh diatas didapatkan kesimpulan, gedung yang berfungsi awal sebagai kantor di adaptasi menjadi fungsi media center dan restoran. Oleh sebab itu kedua fungsi ini menjadi pilihan dalam menetapkan fungsi didalam gedung Rotterdamsche Lloyd.
3. Analisa Kerusakan Komponen Material Pembentuk Bentuk/ukuran/Pola (Kondisi Eksisting) Jenis Kerusakan /permasalahan Tindakan Eksterior Gedung Fasad gedung sisi timur
Batu Alam Kolom ukuran50 x50cm berpola kotak
Gedung sudah tidak memiliki dinding pembatas antara eksterior dan interior
Penambahan penutup dinding, yang
mempertahankan fasad yang telah ada (Kaca)
Fasad gedung sisi utara
Batu Alam Din ding
Kolom tidak selaras dengan sisi sampingnya, karena adanya
perbedaan pemilik dahulu.
dinding tambahan diantara kolom akan dihilangkan sehingga selaras dengan tampak disampingnya
6 Komponen Material Pembentuk Bentuk/ukuran/Pola (Kondisi Eksisting) Jenis Kerusakan /permasalahan Tindakan
Kusen Kayu Jendela mengalami perbedaan bentuk, dengan jendela disampingnya
Jendela akan diganti dengan bentuk yang sesuai, dengan jendela yang lainnya
Pintu entrance, pintu samping Kayu, rolling door
Pintu kayu sudah tidak memiliki gagang serta engsel pintu sudah rusak.
Penggantian engsel serta penambahan gangang pintu, dengan tetap menggunakan pintu yang ada.
Rolling door akan
dihilangkan, karena tidak sesuai dengan desain
Kanopi eksterior Beton, finishing keramik Plesteran terkelupas, kotor
pemplesteran ulang, dan bentuk keramik dipertahankan, cukup dibersihkan Interior Gedung
Lantai 1 Tidak adanya penutup lantai, serta pembatas dinding
Penutup lantai akan
ditambahkan baru, mengikuti desain. Dengan pola tetap mengikuti pola yang telah ada. Pembatas dinding menggunakan kaca Dinding bata Penambahan Toilet di
area void gedung, kaca berlubang
Toilet di void dibongkar, sehingga fungsi toilet dikembalikan ke fungsi awal, dengan tambahan penutup dinding (kaca)
Area Tangga (lantai 1)
Dinding Bata
Dari entrance utama tidak memiliki pintu penghubung ke ruang sebelahnya
Penambahan pintu penghubung dari area
entrance, dengan membongkar dinding. Keramik dinding ukuran 20x20cm
Keramik Kotor, dan sebagian ada yang retak
Keramik tetap dipertahankan, warna dan polanya. Yang kotor cukup dibersihkan, sedangkan yang retak diganti dengan yang baru mengikuti bentukan awal Keramik lantai ukuran 20x20cm, keramik ukuran 30x30cm
Keramik pada tangga
Keramik Hilang, kotor, retak, nut sudah ada yang rusak.
Keramik tetap dipertahankan, warna dan polanya. Yang kotor cukup dibersihkan, sedangkan yang hilang diganti dengan yang baru mengikuti yang awal,
7 Komponen Material Pembentuk Bentuk/ukuran/Pola (Kondisi Eksisting) Jenis Kerusakan /permasalahan Tindakan Railing tangga
Dahulu sempat adanya railing di tangga, dapat dilihat dari lubang pada dinding
Penggunaan raling akan dikembalikan, dengan bentukan mengikuti desain. Yang diusahakan tidak dominan.
Keramik, Kayu dilapisi baja
Besi sudah hilang dan pudar warnanya
Diperbaiki dengan dikembalikan ke kondisi semula. Dengan material yang sama Area Tangga (lantai 2) Keramik dinding ukuran 20x20cm Ketidaksesuaian dengan warna yang asli
Diganti model keramik, mengikuti yang asli. Apabila tidak ada dibuat replikanya yang memiliki warna mirip.
Kaca patri
Kaca patri ada yang telah berlubang, berakar dan kotor
Kaca akan diperbaiki ke kondisi semula, dan dibersihkan.
Plafond
Multipleks
Berlubang Plafond dengan material yang sama akan dikembalikan dan diperbaiki ke kondisi semula. Dinding yang kotor pun juga akan dicat kembali.
Lantai 2 Kusen kayu, mutipleks
Koridor
Jendela sudah tidak ada kacanya, plesteran rusak, pintu sudah tidak ada daun pintu, plafond berlubang
Jendela tetap menggunakan kondisi yang ada, kaca di pasang kembali, dan cat yang terkelupas di plester dan di cat kembali.
Plafond yang berlubang juga diganti dengan yang baru tetapi desain tetap seuai kondisi awal.
Multipleks, kusen kayu, dinding bata
Sisi kanan gedung
Plafond telah rusak dan berlubang, engsel pintu rusak, tidak ada daun pintu.
Terdapat penambahan ruang untuk pantry
Plafond yang telah rusak dikembalikan ke ketinggian semula, dan diperbaiki. Untuk daun pintu akan diganti sesuai dengan desain, karena yang telah ada merupakan penambahan baru . daun pintu yang telah hilang dan pantry akan dibongkar dinding sekatnya. Untuk dikembalikan ke kondisi semula. Untuk jendela yang telah ada di pantry akan tetap dipertahankan.
Keramik kotak-kotak
Toilet sisi kanan gedung Toilet sudah tidak berfungsi, akar tumbuh di dinding, keretakan pada lantai gedung
Akar akan dibersihkan dan diperbaiki ke kondisi awal.keretakan jua akan diperbaiki Tetapi material toilet berubah, mengingat banyak yang telah rusak.
8 Komponen Material Pembentuk Bentuk/ukuran/Pola (Kondisi Eksisting) Jenis Kerusakan /permasalahan Tindakan
Sisi kiri gedung Partisi ruang yang ber
style art deco, beberapa
telah rusak
Partisi tetap dipertahankan didalam gedung, dengan dikembalikan ke kondisi semula
Sisi kiri gedung
Plafond sudah
berlubang, dan bernoda. Terdapat kanopi tambahan pada area void
Plafond akan diperbaiki sesuai kondisi semula, dan dicat kembali. Untuk kanopi tambahan pada area void akan dibongkar sehingga fungsi void tetap dikembalikan
Atap Rangka baja Genting sudah tidak ada Dibiarkan saja, dan akan dijadikan skylight
Kaca Patri Beberapa kaca sudah hilang kacanya
Diperbaiki dan dikembalikan ke kondisi awal, atau ditambahkan kaca saja
Sumber: Hasil Olahan Pribadi
Setelah didapatkan data-data kerusakan dan tindakan yang ingin dilakukan, penulis membagi zona tingkat kerusakan yang terjadi dalam gedung mulai dari ringan hingga berat. Yang bertujuan menjadikan fungsi yang mengalami tingkat kerusakan yang parah menjadi ruang yang tidak memerlukan daya tekan cukup besar ke lantai.
Gambar 6. Penzoningan Tingkat Kerusakan pada Gedung Rotterdamsche Lloyd Sumber: Analisa Penulis
4. Analisa Hubungan Ruang
Hubungan antar ruang dari fungsi media center serta restoran&Bar dipengaruhi dari pengguna ruang, maksud disini yaitu pengguna ruang dari gedung Rotterdamsche Lloyd, yang dibagi menjadi pengelola dan pengunjung. Yang setiap pengguna memiliki kegiatannya masing-masing dengan jumlah kebutuhan ruang yang berbeda juga. Setiap ruangan tentu memiliki keterkaitan antar fasilitas-fasilitas ruang yang tersedia di gedung Rotterdamsche Lloyd. Untuk menentukan hubungan antar ruang dapat dilihat pada matriks dibawah yang dibuat berdasarkan keterkaitan aktivitas yang terjadi di dalamnya.
Keterangan: Ringan Sedang Berat Lantai 2 Lantai 1
9
Gambar 7. Hubungan antar Ruang dan Struktur Organisasi Ruang Gedung Sumber: Analisa Penulis
Dari hubungan serta organisasi antar ruang maka didapatkan zoning ruangan pada gedung, yaitu:
Gambar 8. Penzoningan Ruang pada Gedung Rotterdamsche Lloyd Sumber: Analisa Penulis
Setelah zoning dari ruang didapatkan maka penulis menggabungkan antara zoning dengan ruangan yang ada didalam gedung, hingga didapatkan hasil sebagai berikut:
Gambar 8. Penzoningan Ruang pada Gedung Rotterdamsche Lloyd Sumber: Analisa Penulis
5. Tindakan Perbaikan Interior
Style Interior yang digunakan adalah style art deco, oleh sebab itu perbaikan interior akan disesuaikan dengan style yang digunakan.
Keterangan Bentuk Perbaikan Nama Ruang
Lantai Menggunakan lantai eksisting yang ada berikut dengan pola lantai
akan diterapkan dilantai-lantai yang lain, apabila sudah tidak ada lantai akan ditambahkan lantai dengan pola yang sama
-Lobby -Resepsionis -Lounge dan Café
-Restoran -Media Center
Dinding
beberapa bagian dinding menggunakan dinding yang sesuai kondisi eksisting, yang kotor dibersihkan begitu pula yang rusak. Untuk yang tidak memiliki daun pintu beberapa akan dibiarkan. Selain itu
diterapkan juga wall offset maupun pengecatan
penerapan Wall Offset
Disesuaikan dengan fungsi dan desain yang akan diterapkan
10
Keterangan Bentuk Perbaikan Nama Ruang
Dinding
Penambahan ruang dapat menggunakan sekat pembatas partisi gypsum atau penambahan ruang baru
-Multifunction room
-Kelas Workshop
-Ruang pengelola -Musholla
Plafond
Akan dilakukan perbaikan, dengan mengganti plafond yang rusak sesuai kondisi eksisting saat ini.
Restoran ruang pengelola
Media Center
Melakukan Drop ceilling pada area tertentu sesuai dengan fungsi
ruang, yang akan ditambahkan corak ataupun list (lantai 1 dan area tangga)
Lounge dan Cafe Ruang Pengelola Lobby Resepsionis
Utilitas
Utilitas akan disembunyikan didalam plafond, drop ceiling, wall offset
maupun didalam build in cabinet.
Bisa juga utilitas di ekspos tetapi disusun dengan rapi
Disesuaikan dengan fungsi dan desain yang akan diterapkan
SIMPULAN DAN SARAN
1. Berdasarkan hasil analisa gedung Rotterdamsche Lloyd merupakan gedung yang difungsikan dibidang art and culture di kawasan kota Tua untuk ruang publik, yaitu media center dan restoran&bar dengan entrance dari arah jalan kali besar timur.
2. Tingkat kerusakan yang dialami gedung tidak cukup parah di lantai 1 dan pada lantai 2 parah dibagian sisi kiri gedung. Untuk penanganannya adalah dengan menjadikan fungsi yang mengalami tingkat kerusakan yang parah menjadi ruang yang tidak memerlukan daya tekan cukup besar ke lantai.
11
3. Style arsitektural dari gedung adalah art deco classical modeme, dengan penerapan interior art deco amerika.
4. Untuk mempertahankan keotentikan dari gedung beberapa ciri khas dari art deco didalam gedung diperbaiki dan dikembalikan ke kondisi semula, salah satu contohnya keramik pada dindimg serta parrtisi di lantai 2.
5. Teknik perbaikan interior menggunakan teknik Offset Wall, dan drop Ceiling 6. Penambahan ruang dapat menggunakan sekat tambahan dari gypsum
7. Berdasarkan hal tersebut fungsi media center dan restoran&bar cocok untuk dimasukan fungsi baru didalam gedung Rotterdamsche dengan style art deco.
8.
Gambar 9. Contoh Desain Tampak Depan dan Interior Art Deco pada gedung Sumber: Desain Penulis
Adapun saran yang ingin penulis sampaikan kepada beberapa pihak. Saran-saran ini diharapkan dapat menjadi masukan agar pelaksanaan tugas akhir lebih baik dikemudian hari.
1. Dari aspek ekonomi, penelitian ini belum diteliti dari aspek tersebut. Oleh sebab itu lebih baik diteliti lebih lanjut, apakah fungsi media center dan restoran&bar dapat mempengaruhi kenaikan ekonomi pada kawasan kota tua.
2. Dari aspek kekuatan gedung, penelitian ini belum meneliti dari aspek tersebut. Oleh sebab itu lebih baik diteliti lebih lanjut, apakah kekuatan gedung yang sekarang dapat menahan beban selama beberapa lama untuk fungsi baru yang akan diterapkan pada gedung. Mengingat penelitian hanya berdasarkan tingkat kerusakan, belum secara detail.
REFERENSI
Buku:Arya Abieta,Cor Passchier,Endy Subijono,Febriyanti S., Han Awal, Hubertus Sahidin, Indah Sulistiana, Nadia Purwestri. 2011. Pengantar Panduan Konservasi Bangunan Bersejarah masa kolonial. Jakarta. Pusat Dokumentasi Arsitektur
Harastoeti. 2011. 100 Bangunan Cagar Budaya di Bandung. Bandung. Bandung Society For Conservation
Hartono,Dibyo. 2014. Architectural Conservation Award Bandung. Bandung. Remaja Rosdakarya Neuferst, Ernst. 1996. Data Arsitek Jilid 1 Edisi 33. Jakarta. Erlangga
Orbasli, Aylin. 2008. Architectural Conservation. Singapore. Utopia Press
Panero, Julius, Martin Zelnik. 1979. Human Dimension and Interior Space. Canada. A Crown Publishing Book.
12
Pemerintah daerah khusus ibukota Jakarta dinas kebudayaan dan permuseuman .2005.Ensiklopedia Jakarta Culture & Heritage Buku 1. Jakarta. Yayasan Untuk Indonesia
Pemerintah daerah khusus ibukota Jakarta dinas kebudayaan dan permuseuman .2005.Ensiklopedia Jakarta Culture & Heritage Buku 2. Jakarta. Yayasan Untuk Indonesia
Pemerintah Khusus Ibukota. 1990. Jakarta Jejak Jakarta Pra 1945. Jakarta. PT. Bumi Grafika Pile, John F. 2003. A History of Interior Design 3rd Edition. London: Pearson
Sarana Informasi Pemprov DKI Jakarta, Media Jaya. 2014. Jakarta. Dinas Pemerintah DKI Jakarta.
Jurnal:
Arazi Idrus; Faris Khamidi; Mahmoud sodangi. 2010. Maintenance Management Framework for Conservation of Heritage Buildings in Malaysia. Modern Applied Science Vol. 4 No.11
Dr.Amira Elnokaly; Dr. Ahmed Elseragy. 2013. Suistainable Heritage Development: Learning from urban Conservation of Heritage Project In Non Western Contexts. European Journal of Suistanable Development, 2, 31-54
Edward Tanriady; Muhammad Solahudin, S.Sn, M.T; Grace Mulyono S.Sn. 2013 Perancangan Interior Revitalisasi gedung Kesenian Societeit de Harmonie di Makassar. Jurnal INTRA Vol.1 No.1 Koeswandi, Juan Antonio. 2013. Ekspresi Gaya Arsitektur Kolonial desain Interior. ISSN: 2301-850X. Vol. I, Issue 2, Oktober 2013
Siti Madichah Issemiarti. 2011. Revitalisasi Bangunan Lama Sebagai Upaya Konservasi Kota. Jurnal Arsitektur KOMPOSISI. Vol 9, Nomor 1 , April 2011
Sugihartoyo, Wahyu Agung Widagdo. 2010. Strategi Pengembangan Wisata Kota Tua Sebagai Salah Satu Upaya Pelestarian Urban Hertage Studi Kasus: Koridor Kali Besar, Jakarta Barat. Jurnal PLANESA Vol.1, No.1, Mei 2010.
Skripsi:
Alin Musfiroh Arun – Gedung Batavische Kunstkrig : Tinjauan Bentuk Arsitektur Amelia Nuralata – Perpaduan Arsitektur Art Deco dan Tradisional Jawa
Dra.Rr. Tjahjani Busono, MT. – Eskursi preservasi, konservasi, renovasi pada pemeliharaan bangunnan di singapura dan Malaysia
Jamila Zuraida- Pemanfaatan Kembali Arsitektur Masa Lalu Sebagai Tempat Belanja Mohammad Andri Febru – Adaptive Reuse Bangunan-Bangunan Tua
Muhammada Adri Febru - Adaptive Reuse bangunan Kota tua Parminto.B – Sekolah Seni Rupa di Jakarta
Website: http://www.jeforah.org http://abadisantosoganteng.blogspot.com/2011/04/bangunan-cagar-budaya.html https://urbanpages.wordpress.com/2008/10/21/hello-world/ http://www.jakarta.go.id/v2/news/2014/04/pariwisata-dki-jakarta-bulan-april-2014#.VPxarV1vAu8 http://download.portalgaruda.org/article.php?article=175180&val=5291&title=Ekspresi%20Gaya%20 Arsitektur%20Kolonial%20pada%20Desain%20Interior%20Gedung%20Lindeteves%20Surabaya http://archidose.blogspot.com/2009/06/half-dose-63-taets-art-and-conference.html http://digilib.itb.ac.id/files/disk1/611/jbptitbpp-gdl-amaliadefi-30545-4-2008ta-3.pdf http://news.detik.com/read/2009/11/11/085855/1239427/666/galeri-kita-dalam-bangunan-tahun-1935 http://media-kitlv.nl/all-media/indeling/detail/form/advanced/start/93?q_searchfield=kali+besar http://www.weiling-gallery.com/articles/uberchic.htm https://www.academia.edu/7145738/Jurnal_Arsitektur_SAPPK http://antariksaarticle.blogspot.com/2012/04/beberapa-teori-dalam-pelestarian.html https://gestaltaddicttd1a.wordpress.com/art-deco/. http://www.archdaily.com/627398/impact-hub-belgrade-ured-architecture-studio http://www.archdaily.com/607981/contemporary-art-space-in-the-old-convent-of-madre-de-dios-sol89 http://www.minustio.se/audrey-and-esther-at-brasserie-kungliga-posten-malmo-sweden http://www.archdaily.com/490539/national-design-centre-scda-architects http://www.archdaily.com/490539/national-design-centre-scda-architects http://www.indonesia-dutchcolonialheritage.nl
RIWAYAT PENULIS
Anastasia Ashary lahir di kota Jakarta pada tanggal 7 Mei 1993. Penulis menamatkan pendidikan S1 di Universitas Bina Nusantara dalam bidang Arsitektur pada tahun 2015.