BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

Teks penuh

(1)

BAB 1

PENDAHULUAN

1.1 Gambaran Umum Objek Penelitian

Indeks pasar modal Indonesia merupakan sebuah indikator yang

digunakan untuk mengukur pergerakan harga saham. Hingga saat ini BEI mempunyai beberapa indeks seperti IHSG (Indeks Harga Saham Gabungan), Indeks Liquid 45, Indeks Sektoral, Indeks Jakarta Islamic, Indeks Papan Utama dan Indeks Papan Pengembang, Indeks Kompas 100, Indeks Pefindo25, Indeks SRI-KEHATI, Indeks Saham Syariah Indonesia, Indeks IDX30, Infobank 15, Smitra 18 dan MNC 36 (Hartono, 2010:150).

Indeks Bisnis 27 merupakan indeks kerjasama antara IDX dengan

koran harian Bisnis Indonesia. Indeks ini diluncurkan kepada masyarakat pada tanggal 27 Januari 2009. Indeks bisnis 27 terdiri dari 27 saham yang masuk kepada kriteria Indeks Bisnis 27 seperti kriteria fundamental, kriteria teknikal atau likuiditas transaksi. Kriteria yang digunakan dalam pemilihan saham dilihat dari fundamental seperti pendapatan operasi, laba bersih, ROA (Return On Asset), ROE (Return On Equity), DER (Debt Equity Ratio), CAR (Capital Adequancy Ratio). Kriteria yang digunakan untuk analisis teknikal seperti jumlah hari transaksi per tahun, nilai perdagangan, volume, frekuensi, dan kapitalisasi pasar. Selain itu, saham-saham yang masuk di Indeks Bisnis 27 merupakan saham-saham-saham-saham yang telah dikaji para ahli dan profesional pasar modal setiap 6 bulan pada awal bulan Mei dan November.

Peneliti menggunakan Indeks Bisnis 27 karena Indeks tersebut

masih jarang digunakan dalam analisis price reversal. Selain itu

dibandingkan dengan Indeks LQ-45 sebagai Indeks saham-saham yang paling aktif diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Saham-saham yang masuk dalam bisnis 27 memiliki kriteria yang lebih banyak dilihat dari

(2)

analisis fundamental dan analisis teknikal. Berikut pergerakan indeks bisnis 27 periode Januari 2015 – Desember 2016.

Grafik 1.1

Fluktuasi Indeks Bisnis 27 Januari 2015 – Desember 2016.

Indeks bisnis 27 mengalami fluktuasi harga saham dari Januari 2015 – Desember 2016. Oleh sebab itu peneliti ingin melihat apakah terdapat

price reversal atau pembalikan harga di Pasar Modal Indonesia khususnya saham-saham yang masuk Indeks Bisnis 27 periode Januari 2015 – Desember 2016.

1.2

Latar Belakang Penelitian

Investasi merupakan komitmen atas sejumlah dana yang didapatkan saat ini untuk mendapatkan keuntungan dimasa mendatang. Pengorbanan atas uang atau sumber daya lain dengan harapan untuk mendapatkan keuntungan dimasa mendatang menjadi pilihan investor untuk berinvestasi. Instrument pasar modal berupa saham merupakan salah satu instrument pasar modal yang paling popular di Indonesia, saham

300   320   340   360   380   400   420   440   460   480   500   Close    

(3)

menjadi alternative investasi yang dipilih investor dikarenakan saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik (Martalena, 2011:12) selain itu dengan berinvestasi di saham investor dapat membentuk portofolio untuk mengurangi resiko yang dihasilkan dari investasi saham.

Salah satu tujuan investor membeli instrument di pasar modal

berupa saham yaitu untuk memperoleh keuntungan. Investor dapat

memperoleh keuntungan dari dividen atau capital gain. Untuk

mendapatkan keuntungan atau return sesuai dengan yang diharapkan

investor melakukan analisis saham baik berupa laporan keuangan yang disebut dengan analisis fundamental. Selain itu, terdapat teknik analisis lainnya seperti analisis teknikal, makro ekonomi dan analisis psikologi (Widoatmodjo, 2015:231).

Informasi sangat diperlukan bagi investor untuk menentukan

perusahaan yang dapat memberikan keuntungan atau return yang sesuai

dengan harapan investor (Aulia, 2016). Investasi saham mengalami fluktuasi harga yang bergerak dengan cepat dan harga saham yang berfluktuasi dipengaruhi oleh permintaan dan penawaran yang dilakukan

oleh investor di pasar modal (Hiendarto, 2015). Sentiment investor

dipengaruhi oleh informasi, baik informasi mikro maupun makro. Informasi mikro merupakan informasi yang berasal dari perusahaan seperti kinerja perusahaan, laporan keuangan dan lain-lain sedangkan informasi

makro seperti inflasi, kebijakan pemerintah, BI rate, atau informasi yang

bersifat global (Hiendarto, 2015). Investor mengamati informasi untuk mengambil keputusan dalam memilih perusahaan yang memiliki tingkat keuntungan tinggi dan sesuai dengan ekspetasi investor (Aulia , 2016).

Teori pasar efisien menurut Sunariyah (2011:186) menyatakan bahwa investor yang mengetahui informasi maupun tidak mengetahui informasi tidak akan memperoleh keuntungan karena semua informasi sudah direfleksikan dalam harga sekuritas dan tidak ada harga yang dinilai

(4)

pergerakan harga saham tidak dapat diprediksi dan sifatnya bergerak

secara acak sehingga investor tidak dapat memperoleh abnormal return

(Bodie, 2014:354). Pergerakan harga saham yang berfluaktif menjadikan pasar modal abstrak sehingga untuk mengambil suatu keputusan diperlukan kemampuan untuk menaganalisis pergerakan harga saham yang memberikan keuntungan bagi investor (Widoatmodjo, 2015:231).

Terdapat hal yang bertentangan dengan teori pasar efisien dan

menyatakan pergerakan harga sekuritas tidak lagi bergerak secara random

walk namun pergerakan harga saham membentuk sebuah pola dan berulang sehingga pola tersebut dapat diindentifikasi (Widoatmodjo, 2015:244). Adanya gap antara hipotesis pasar efisien tidak dilihat sebagai penolakan terhadap pasar efisien namun dilihat sebagai anomali pasar (Hiendarto:2015). Anomali pasar menyatakan terdapat investor yang

mendapatkan abnormal return dengan memanfaatkan informasi dan

pola-pola tertentu untuk mendapatkan keuntungan. Hal tersebut membuktikan bahwa tidak semua investor bertindak rasional dapat mengambil keputusan berinvestasi.

Salah satu anomali yang bertentangan dengan pasar efisien yaitu

anomali price reversal atau pembalikan harga saham. Aulia (2016)

menyatakan bahwa pembalikan harga saham terjadi pada saham-saham

yang memiliki tingkat cumulative abnormal return atau akumulasi return

taknormal tinggi maupun rendah pada periode selanjutnya akan

mengalami pembalikan harga menjadi saham winner atau sebaliknya

menjadi saham loser dengan tingkat cumulative abnormal return rendah.

Adanya anomali price reversal di pasar modal memberikan strategi

investasi kepada pelaku pasar yaitu stratgi kontratian (Suciningtias, 2011) Berdasarkan penelitian Suciningtias (2011) menyatakan bahwa dalam berinvestasi terdapat 2 strategi yang digunakan oleh investor untuk mendapatkan keuntungan dan masih diperdebatkan sebagai strategi terbaik

yang memberikan return tinggi bagi investor. Strategi pertama yaitu

(5)

untuk membeli dan memiliki keyakinan harga saham akan terus meningkat. Kemudian investor akan menjual saham apabila momentum kenaikan akan terhenti dan harga saham berbalik menurun sehingga investor mendapat keuntungan dari selisih harga saham saat membeli dan menjual. Strategi kedua yaitu strategi kontrarian yang menyatakan bahwa investor akan menjual saham saat pasar mengalami kenaikan dan membeli saham saat pasar mengalami penurunan dengan harapan pada periode

selanjutnya harga saham loser akan berbalik menjadi saham winner.

Peneliti tertarik untuk melihat apakah terdapat pembalikan harga

atau price reversal yang di yakini oleh investor sehingga investor

mengambil keputusan untuk menggunakan strategi yang ada untuk

menghasilkan abnormal return. Apabila dilihat dari table 1.1 yang

menjelaskan mengenai perbandingan cumulative abnormal return dan

rata-rata volume saham yang memiliki tingkat pengembalian return tinggi selama 3 bulan menyatakan bahwa rata-rata investor cenderung membeli saham yang memiliki kinerja baik dan memberikan tingkat keuntungan tinggi.

Tabel 1.1

Perbandingan CummulativeAbnormal Return atau akumulasi return

taknormal dan Volume saham Winner

Periode replikasi 1

Kode Saham Emiten CAR Volume transaksi

LPKR Lippo Karawaci 0.224559 99.244.256

UNTR United Tractors 0.183359 3.204.062

BBNI Bank Negara

Indonesia

0.116981 24.139.779

BSDE Bumi Serpong

Damai

0.08958 48.434.000

BMRI Bank Mandiri 0.089177 21.043.679

(6)

Berdasarkan tabel 1.1 mengenai perbandingan tingkat cumulative abnormal return yang didapatkan oleh investor selama 3 bulan dengan rata-rata volume transaksi saham membuktikan bahwa rata-rata-rata-rata investor

cenderung membeli saham dengan tingkat abnormal return yang tinggi. Hal

tersebut ditunjukan dengan volume transaksi pada saham winner yang

memiliki return positiflebih tinggi dibandingkan dengan volume transaksi

saham loser. Volume transaksi tertinggi dipegang oleh Lippo karawaci

dengan cumulative abnormal return sebesar 0.224559 dan volume transaksi

sebesar 99.244.256.

Hal tersebut berbanding terbalik dengan rata-rata volume transaksi

pada saham losser yang memiliki tingkat cummulative abnormal return

rendah. Berdasarkan table 1.2 mengenai perbandingan cumulative abnormal

return dan volume transaksi pada saham loser. Perbandingan menunjukan

bahwa rata-rata saham yang memiliki cummulative abnormal return rendah

kurang diminati oleh investor dibuktikan dengan volume transaksi pada

saham loser lebih rendah dibandingkan dengan volume transaksi saham

winner.

Tabel 1.2

Perbandingan Cummulative Abnormal Return dan Volume saham loser

Periode Replikasi 1

Kode Saham Emiten CAR Volume

INTP Indocement Tunggal Prakarsa -0.170071 3.560.125 PTBA Tambang Batubara Bukit Asam -0.186286 2.431.480 SMGR Semen Indonesia -0.219346 8.763.585 GGRM Gudang Garam -0.235660 1.014.611

(7)

Negara

Sumber : https://finance.yahoo.com/

Namun terdapat hal yang menarik pada tabel 1.2 mengenai

perbandingan cumulative abnormal return dan volume saham loser. Saham

yang memiliki tingkat cumulative abnormal return atau akumulasi return

taknormal terendah selama 3 bulan memiliki rata-rata volume transaksi

yang tinggi dibandingkan dengan saham loser lainnya. Nilai cumulative

abnormal return terendah pada portofolio loser sebesar -0.267951 dengan tingkat volume transaksi sebesar 31.777.280,65. Hal tersebut menarik bagi

peneliti untuk mengetahui apakah terdapat pembalikan harga atau price

reversal yang diyakini oleh investor dengan menjual saham ketika pasar naik dan membeli saham pada saat pasar mengalami penurunan. Investor yang menggunakan strategi kontrarian meyakini bahwa harga saham

mengalami pembalikan harga pada periode selanjutnya atau price reversal.

Salah satu anomali mengenai market overreaction yang ada di

pasar modal dilakukan oleh Ross, dkk (2016:166) menyatakan bahwa

market overreaction menunjukan harga saham yang berreaksi secara

berlebihan terhadap suatu issue, pengumuman dan berita internal maupun

external sehingga mengakibatkan harga terkoreksi yang diakibatkan oleh

penetapan harga berada diatas atau dibawah nilai fundamentalnya. Market

overreaction terhadap suatu issue akan ditunjukan oleh investor ketika terdapat pengumuman pendapatan perusahaan atau pengumuman kebijakan pemerintah yang mengakibatkan harga saham bergerak secara berlebihan. Harga saham akan terkoreksi kembali ke harga normal dalam periode beberapa minggu setelah investor menyadari telah berreaksi secara

berlebihan. Artinya adalah investor dapat memperoleh abnormal return

dengan cara membeli saham terkoreksi dengan harga saham dibawah nilai

fundamentalnya yang diakibatkan adanya suatu issue dan menjualnya

kembali setelah harga kembali ke tingkat yang normal.

Penelitian mengenai market overreaction telah dilakukan di Luar

(8)

dilakukan di Egyptian Stock Change. Berdasarkan hasil penelitian

menyatakan bahwa saham loser cenderung memiliki pembalikan harga

yang tinggi dibandingkan dengan saham winner dan specific event di

Egyptian stock market memberikan abnormal return kepada investor.

Hasil penelitian Boubaker menunjukan bahwa Egyptian Stock Change adalah pasar efisien dengan bentuk lemah. Penelitian selanjutnya yang

mendukung adanya market overreaction dilakukan oleh Trabelsi (2010)

yang dilakukan di Tunisian Stock Market. Hasil penelitian menunjukan

bahwa saham yang memiliki kinerja kurang baik (saham loser) akan

memberikan return yang meningkat dan keuntungan pada satu periode

berikutnya. Investor akan mendapatkan abnormal return apabila

menyimpan saham loser dan menjualnya diperiode berikutnya (Trabelsi,

2010). Peneltian yang dilakukan Lobe dan Rieks (2010) di Pasar Saham

Jerman menyatakan bahwa pasar saham jerman mengalami overreaction

terhadap suatu peritiwa yang memungkinkan investor mendapatkan

abnormal return jangka pendek.

Namun terdapat penelitian yang membuktikan bahwa market

overreaction tidak terjadi di pasar modal. Salah satu Penelitian dilakukan oleh Maher dan Parikh (2011) di India yang menunjukan bahwa pada pasar modal India tidak terjadi overreaction pada perusahaan dengan tingkat kapitalisasi pasar yang rendah hingga menengah. Penelitian

membuktikan adanya underreaction terhadap peristiwa negative sesudah

terjadinya krisis secara global, terutama pada saham yang memiliki kapitalisasi rendah dan menengah.

Terdapat beberapa penelitian yang telah dilakukan di Indonesia, Salah satu penelitian dilakukan oleh Aulia, dkk (2016). Hasil penelitian

membuktikan bahwa terdapat fenomena price reversal atau pembalikan

harga saham di pasar modal Indonesia. Price Reversal dapat dilihat dari

hasil cumulative average abnormal return atau akumulasi rata-rata return

taknormal saham-saham loser yang berubah menjadi saham-saham winner

(9)

(2016) Hasil Penelitian yang dilakukan oleh Hiendarto (2015) menunjukan

bahwa terdapat market overreaction pada masa 100 hari kerja Jokowi-JK.

Fenomena market overreaction dimanfaatkan oleh investor untuk

mendapatkan abnormal return. Penelitian yang dilakukan oleh Swandewi

dan Mertha (2013) mendukung penelitian yang telah dilakukan

sebelumnya yang menunjukan bahwa terdapat market overreaction pada

saham industri manufaktur yang ditunjukan dengan adanya price reversal

atau pembalikan harga.

Terdapat perbedaan hasil penelitian yang menunjukan bahwa tidak

adanya market overreaction di Pasar Modal Indonesia yang dilakukan oleh

Widiastuti (2011). Berdasarkan hasil analisis penelitian menyatakan

bahwa tidak terdapat anomali saham winner maupun loser. Market

overreaction dibuktikan dengan kinerja saham loser tidak mampu

mengungguli saham winner.

Adanya fenomena saham loser yang memiliki cumulative

abnormal return atau akumulasi return taknormalrendah dengan volume transaksi yang tinggi dan gap antara teori dan hasil penelitian dengan terdapat beberapa penelitian yang hasilnya tidak konsisten maka peneliti

tertarik untuk melakukan penelitian mengenai market overreaction yang

ditandai dengan price reversal dengan judul “ANALISIS PRICE

REVERSAL DI BURSA EFEK INDONESIA: STUDI KASUS INDEKS BISNIS 27 PADA JANUARI 2015 – DESEMBER 2016.”

1.3

Perumusan Masalah

Perdagangan saham memilki 2 strategi yang sampai saai ini masih diperdebatkan untuk membuktikan strategi terbaik yang menghasilkan

tingkat abnormal return tinggi. Strategi pertama yaitu strategi momentum

yang menyatakan bahwa investor membeli saham pada saat harga naik dan menjual saham saat investor percaya bahwa harga saham akan bergerak menurun. Kemudian, strategi kedua yaitu strategi kontratian yang menyatakan bahwa investor membeli saham pada saat pasar mengalami

(10)

penurunan dan menjual saham pada saat pasar mengalami kenaikan. Pelaku investasi yang bersifat irasional meyakini bahwa harga saham membentuk pola-pola dan akan mengalami pembalikan harga pada periode berikutnya sehingga investor memiliki kemungkinan untuk mendapatkan

abnormal return. Hal tersebut bertentangan dengan teori efisiensi market

yang menyatakan bahwa investor tidak dapat mendapatkan abnormal

retun karna harga saham bergerak random walk dan tidak dapat diprediksi. Olek karena itu peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai

price reversal yang terjadi di pasar modal Indonesia khususnya saham yang tergabung dalam Indeks bisnis 27.

Terdapat beberapa penelitian yang dilakukan mengenai market

overreaction. Salah satu penelitian mengenai market overreaction

dilakukan oleh Maher dan Parikh (2011) di India yang menunjukan bahwa tidak terjadi overreaction pada perusahaan dengan kapitalisasi pasar

rendah sampai menengah. Penelitian membuktikan adanya underreaction

terhadap peristiwa negative sesudah terjadinya krisis secara global terutama pada saham yang memiliki kapitalisasi rendah dan menengah. Penelitian selanjutnya dilakukan oleh Lobe dan Rieks (2010) menyatakan

bahwa pasar saham jerman mengalami overreaction terhadap suatu

peritiwa yang memungkinkan investor mendapatkan abnormal return

jangka pendek.

Salah satu penelitian mengenai market overreaction di Indonesia dilakukan oleh Aulia, dkk (2016). Hasil penelitian membuktikan bahwa terdapat fenomena price reversal atau pembalikan harga saham di pasar

modal Indonesia. Price Reversal dapat dilihat dari hasil cumulative

average abnormal return saham-saham loser yang berubah menjadi

saham-saham winner pada periode selanjutnya. Namun terdapat

perbedaan hasil penelitian yang menunjukan bahwa tidak adanya market

overreaction di Pasar Modal Indonesia yang dilakukan oleh Widiastuti (2011) hasil dari penelitian menyatakan bahwa tidak terdapat anomali

(11)

saham winner maupun loser dan market overreaction dibuktikan dengan

kinerja saham loser tidak mampu mengungguli saham winner.

Adanya gap antara teori dengan hasil penelitian dan terdapat

beberapa penelitian mengenai market overreaction yang hasilnya tidak

konsisten, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan objek yang digunakan adalah 5 saham winner dan 5 saham loser pada Indeks Bisnis 27. Pemilihan indeks bisnis 27 digunakan sebagai objek penelitian

dikarenakan Indeks bisnis 27 merupakan indeks independent sehingga

dalam pengelolaan indeks dinilai lebih independent karena dikelola oleh Koran bisnis harian dan dikaji oleh ahli profesional dibidang investasi.

Alasan pemilihan objek 5 saham winner dan 5 saham loser sesuai

dengan jurnal Suciningtias (2011) yang menggunakan kategori

pembentukan saham-saham winner dan saham-saham loser menggunakan

20% desil teratas yang memiliki cummulative average abnormal return

tertinggi dan 20% desil terbawah yang memiliki tingkat cummulative

average abnormal return terbawah. Periode yang digunakan yaitu Januari 2015 – Desember 2016 dikarenakan berdasarkan Graham dalam Ottomoesoe dan Mariana Ing (2014) menyatakan bahwa periode koreksi biasanya memerlukan waktu 1.5 sampai 2 tahun. Oleh sebab itu peneliti menggunakan periode 2 tahun yaitu Januari 2015 – Desember 2016. Sedangkan metode penelitian yang digunakan untuk membentuk periode

triwulan dan semesteran mengikuti penelitian yang telah dilakukan oleh Suciningtias (2011).

1.4

Pertanyaan Penelitian

Berdasarkan uraian pada latar belakang diatas, maka pertanyaan penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada cummulative

average abnormal return saham winner periode triwulan yang termasuk dalam Indeks Saham Bisnis 27 pada periode formasi dengan

(12)

cummulative average abnormal return saham winner pada periode observasi?

2. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada cummulative

average abnormal return saham loser periode triwulan yang termasuk

dalam Indeks Saham Bisnis 27 periode formasi dengan cummulative

average abnormal return saham loser pada periode observasi?

3. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada cummulative

average abnormal return saham winner periode semesteran yang termasuk dalam Indeks Saham Bisnis 27 periode formasi dengan

cummulative average abnormal return saham winner pada periode observasi?

4. Apakah terdapat perbedaan yang signifikan pada cummulative

average abnormal return saham loser periode semesteran yang termasuk dalam Indeks Saham Bisnis 27 periode formasi dengan

cummulative average abnormal return saham loser pada periode observasi?

1.5

Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini sebagai berikut:

1. Untuk menganalis dan mengetahui apakah terdapat perbedaan yang

signifikan pada cummulative average abnormal return atau akumulasi

rata-rata return taknormal saham winner periode triwulan yang

termasuk dalam Indeks Bisnis 27 periode formasi dengan cummulative

average abnormal return saham winner pada periode observasi.

2. Untuk menganalis dan mengetahui apakah terdapat perbedaan yang

signifikan pada cummulative average abnormal return atau akumulasi

rata-rata return taknormalsaham loser periode triwulan yang termasuk

dalam Indeks Bisnis 27 periode formasi dengan cummulative average

(13)

3. Untuk menganalis dan mengetahui apakah terdapat perbedaan yang

signifikan pada cummulative average abnormal return atau akumulasi

rata-rata return taknormal saham winner periode semesteran yang

termasuk dalam Indeks Bisnis 27 periode formasi dengan cummulative

average abnormal return saham winner pada periode observasi.

4. Untuk menganalis dan mengetahui apakah terdapat perbedaan yang

signifikan pada cummulative average abnormal return atau akumulasi

rata-rata return taknormal saham loser periode semesteran yang

termasuk dalam Indeks Bisnis 27 periode formasi dengan cummulative

average abnormal return saham loser pada periode observasi.

1.6

Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi beberapa pihak, antara lain:

1. Bagi Investor

Diharapkan penelitian ini dapat memberikan manfaat dan memberikan

informasi mengenai pengaruh fenomena market overreaction di Pasar

Modal Indonesia. Sehingga investor dapat menjadikan hasil penelitian ini menjadi salah satu bahan pertimbangan untuk pengambilan keputusan dalam berinvestasi dan penyusunan strategi berinvestasi.

2. Bagi Penelitian Selanjutnya

Dapat menambah pengetahuan mengenai anomali yang terjadi di Pasar Modal Indonesia.

1.7

Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup dalam penelitian ini dibatasi pada:

1. Penelitian ini berfokus pada Indeks Bisnis 27.

2. Penelitian ini berfokus pada Januari 2015 - Desember 2016

3. Peneltian ini berfokus pada 5 saham teratas yang termasuk dalam

(14)

return atau akumulasi rata-rata return taknormal tertinggi selama periode penelitian.

4. Peneltian ini berfokus pada 5 saham terbawah yang termasuk dalam

portofolio loser yang memiliki cummulative average abnormal return

atau akumulasi rata-rata return terendah selama periode penelitian.

5.

Penelitian ini dibagi menjadi 2 periode penelitian yaitu triwulan (3 bulan) dan semesteran (6 bulan) yang terbagi menjadi 7 periode

replikasi untuk periode triwulan dan 3 periode replikasi untuk periode

semesteran.

1.8

Sistematika Penulisan

Untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai penelitian yang dilakukan, maka susunan sistematika penulisan yang berisi kajian informasi mengenai materi dan hal-hal yang akan dibahas pada tiap bab. Sistematika penulisan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

BAB 1 PENDAHULUAN

Bab 1 pendahuluan menjelaskan mengenai gambaran umum objek penelitian, latas belakang, perumusan masalah, pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan penelitian dan sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Dalam bab ini dijelaskan mengenai kajian teori yang terkait dengan masalah yang akan diteliti. Kajian teori digunakan sebagai dasar analisis

penelitian. Pada bab II menjelaskan penelitian terdahulu, kerangka

penelitian dan ruang lingkup penelitian.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

Pada bab III menjelaskan mengenai pendekatan, metode dan teknik yang digunakan untuk mengumpulkan dan menganalisis data sehingga data yang ada dapat menjawab dan menjelaskan permasalahan penelitian.

(15)

Bab IV menjelaskan mengenai pengolahan data, hasil analisis dan pembahasan mengenai hasil pengolahan data, yang disajikan secara kronologis dan sistematis yang sesuai dengan tujuan awal penelitian.

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN

Dalam bab V berisi kesimpulan dari penelitian yang telah dilakukan dan saran maupun rekomendasi yang dapat diberikan kepada pihak-pihak yang terkait seperti investor dan pihak regulasi.

(16)

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :