HUKUM KONSTITUSI
“ SISTEM PEMERINTAHAN DI INDONESIA”
Disusun oleh :
SILKY YOLANDA VILLINCYA 02011381621281
HK. KONSTITUSI KELAS A
FAKULTAS HUKUM KAMPUS PALEMBANG UNIVERSITAS SRIWIJAYA
DEFINISI SISTEM PEMERINTAHAN
Sistem pemerintahan terdiri dari dua kata yaitu sistem dan pemerintahan. Sistem adalah suatu keseluruhan, terdiri dari beberapa bagian yang memiliki hubungan fungsional, baik antara bagian yang satu dengan bagian yang lain maupun hubungan fungsional terhadap keseluruhan, sehingga hubungan itu dapat menimbulkan suatu ketergantungan antara bagian yang satu dengan bagian yang lainnya, akibat yang ditimbulkan jika salah satu bagian yang tidak bekerja dengan baik maka akan mempengaruhi bagian-bagian yang lainnya.1
Utrecht berpendapat bahwa istilah pemerintah itu meliputi (3) pengertian yang berbeda, yaitu:
1. Pemerintah sebagi gabungan seluruh badan kenegaraan yang berkuasa memerintah,dalam arti kata luas. Jadi termasuk seluruh badan kenegaraan yang bertugas menyelenggarakan kesejahteraan umun, yakni badan yang bertugas membuat peraturan perundang-undangan, badan yang bertugas menjalankan peraturan perundang-undangan,dan badan yang bertugas mengawasibagaimana peraturan perundan-undangan tersebut dijalankan. Dengan demikian badan-badan teersebut meliputi legislatif, eksekutif, dan yudikatif
2. Pemerintah sebagai gabungan badan kenegaraan tertinggi yang berkuasa memerintah diwilayah suatu Negara, misalnya raja, Presiden yang dipertuanagungkan.
3. Pemerintah dalam arti kepala Negara 2(Presiden) bersama-sama dengan mentrei-menterinya, yamg berarti organ eksekutif, yang bisa disebut dengan dewan menteri atau kabinet.
1 Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim,Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Sinar Bakti: Jakarta, hal 66
Jadi, dapat dikatakan bahwa sistem merujuk pada hubungan antara para lembaga negara sedangkan pemerintahan merujuk kepada badan pemerintahan atau lembaga yang bersangkutan dengan sedemikian rupa sehingga merupakan suatu kesatuan yang bulat dalam menjalankan mekanisme kenegaraan khususnya dalam pemerintahan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa sistem pemerintahan adalah pola pengaturan hubungan antara lembaga negara yang satu dengan lembaga negara yang lain atau bila disederhanakan ialah hubungan antara lembaga eksekutif, legislatif dan yudikatif.
JENIS-JENIS SISTEM PEMERINTAHAN
Terdapat banyak pandangan mengenai jenis-jenis atau pembagian dari sistem pemerintahan. Misalnya menurut Jimly Asshiddiqie sistem pemerintahan terbagi menjadi 3 kategori yaitu sistem pemerintahan Presidensial dan sistem pemerintahan parlementer dan sistem campuran.3 Sedangkan menurut Moh.Kusnardi dan Hermaily Ibrahim bahwa pada garis besarnya sistem pemerintahan yang dilakukan pada negara-negara demokrasi menganut sistem parlementer atau sistem Presidensiil, dan masih terdapat beberapa bentuk lainnya sebagai variasi, disebabkan situasi dan kondisi yang berbeda yang melahirkan bentuk-bentuk semua (quasi) karena jika dilihat dari salah satu sistem diatas dia bukan merupakan bentuk yang sebenarnya, misalnya quasi parlementer atau quasi presidensiil.4
1. Sistem Pemerintahan Parlementer
Sistem Parlementer yang merupakan sistem pemerintahan dimana hubungan antara eksekutif dan badan perwakilan (legislatif) sangat erat. Hal ini disebabkan adanya pertanggungjawaban para Menteri terhadap Parlemen.
3 Jimly Asshiddiqie,Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi, Bhuana Ilmu Populer,Jakarta, 2007, hal. 31
Maka setiap kabinet yang dibentuk harus memperoleh dukungan kepercayaan dengan suara terbanyak di parlemen. Dengan demikian kebijakan pemerintah atau kabinet tidak boleh menyimpang dari apa yang dikehendaki oleh parlemen.5 Menurut Arend Lijphart, perkembangan sistem parlementer ini pada umumnya melalui tiga fase, yaitu :
1. Pada awalnya pemerintahan dipimpin oleh seorang raja yang bertanggung jawab atas seluruh sistem politik atau kenegaraan.
2. Kemudian muncul sebuah majelis dengan anggota yang menentang hegemoni raja
3. Majelis mengambil alih tanggung jawab atas pemerintahan dengan bertindak sebagai parlemen maka raja kehilangan sebagian besar kekuasaan tradisionalnya.
Ciri-Ciri Sistem Pemerintahan Parlementer yaitu :
1. Raja, ratu, presiden dan sebagainya adalah kepala negara, dan kepala negara tidak bertanggung jawab atas kebijakan yang diambil oleh kabinet. 2. Eksekutif atau kabinet bertanggung jawab kepada legislatif, dan kabinet mengembalikan mandatnya kepada kepala negara jika parlemen mengeluarkan mosi tidak percaya kepada menteri tertentu atau seluruh anggota kabinet.
3. Dalam sistem dua partai, yang ditunjuk sebagai penyusun kabinet sekaligus perdana menteri adalah ketua partai yang menang dalam pemilu, sedangkan partai yang kalah menjadi oposisi.
4. Dalam sistem multi partai, penyusun kabinet harus membentuk kabinert secara koalisi untuk mendapatkan dukungan kepercayaan dari parlemen.
Sistem pemerintahan parlementer terbagi dua yaitu :
a. Sistem Parlementer Dua Partai
Ketua partai politik yang memenangkan pemilu sekaligus di tunjuk sebagai formatur kabinet, dan langsung sebagai perdana menteri. Seluruh menteri dalam kabinet adalah mereka yang terpilih sebagai anggota parlemen, dengan konsekuensi setelah diangkat mejadi menteri harus non aktif dalam parlemen (kabinet Parlementer). Karena partai politik yang menguasai kabinet adalah sama dengan partai politik yang memegang mayoritas di parlemen. Contoh negara yang menganut sistem ini adalah Inggris yaitu dengan partai konservatif dan partai buruh.
b. Sistem Parlementer Multi Partai
Sistem Parlementer multi partai, parlemen tidak satupun dari partai politik yang mampu menguasai kursi secara mayoritas, maka pembentukan kabinet di sini sering tidak lancar. Kepala negara akan menunjuk tokoh politik tertentu untuk bertindak sebagai pembentuk kabinet/formatur. Dalam hal ini formatur harus mengingat pertimbangan kekuatan di parlemen, sehingga setiap kabinet dibentuk merupakan bentuk kabinet koalisi (gabungan dari beberapa partai politik). Karena koalisi didasarkan pada kompromi, kadang-kadang terjadi setelah kabinet berjalan, dukungan yang diberikan oleh salah satu partai politik ditarik kembali dengan cara menarik menterinya (kabinet mengembalikan mandatnya kepada kepala negara). Sehingga dalam sistem parlemen dengan multi partai sering terjadiketidakstabilan pemerintahan (sering penggantian kabinet). Misal, Republik Indonesia tahun 1950-1959 dimana terjadi 7 kali pergantian kabinet. Contoh negara yang menganut sistem ini adalah Filipina, Belanda, Malaysia.6
Suatu pemerintahan yang dimana kedudukan eksekutif tidak bertanggung jawab kepada badan perwakilan rakyat, dengan kata lain kedudukan eksekutif berada di luar pengawasan (langsung) parlemen. Dalam sistem ini Presiden memiliki kekuasaan yang kuat, karena selain sebagai kepala negara juga sebagai kepala pemerintahan yang mengetuai kabinet (dewan menteri).Oleh karena itu agar tidak menjurus kepada diktatorisme, maka diperlukan check and balance antar lembaga negara. Contoh negara yang menganut sistem presidensiil adalah Amerika Serikat dan Indonesia.7
Ciri-Ciri Pemerintahan Presidensial yaitu :
1. Dikepalai oleh seorang presiden sebagai kepala pemerintahan
sekaligus kepala negara.
2. Kekuasaan eksekutif presiden diangkat berdasarkan demokrasi
rakyat dan dipilih langsung oleh mereka atau melalui badan perwakilan rakyat.
3. Presiden memiliki hak prerogratif (hak istimewa) untuk
mengangkat dan memberhentikan menteri-menteri yang memimpin departemen dan non-departemen.
4. Sehingga menteri-menteri hanya tunduk dan bertanggung jawab kepada kekuasaan eksekutif (bukan kepada kekuasaan legislatif). 5. Kekuasaan eksekutif tidak bertanggung jawab kepada kekuasaan
legislatif.
6. Kedudukan presiden dan parlemen tidak bisa saling menjatuhkan, karena keduanya dipilih dan bertanggung jawab kepada rakyat pemilih.
7. Kendati presiden tidak dapat dijatuhkan oleh DPR, tetapi bila presiden melakukan pelanggaran hukum, presiden dapat dikenai
Impeachment yang pelaksanaanya dilakukan oleh hakim tinggi dan tidak dilakukan oleh anggota parlemen.8
3. Sistem Pemerintahan Quasi
Sistem pemerintahan Quasi pada hakekatnya merupakan bentuk varian sistem pemerintahan parlementer dan sistem pemerintahan presidensial. Hal ini disebabkan situasi kondisi yang berbeda sehingga melahirkan bentuk-bentuk semuanya. Apabila dilihat dari kedua sistem pemerintahan di atas, sistem pemerintahan quasi bukan merupakan bentuk sebenarnya. Dalam sistem ini dikenal bentuk quasi parlementer dan quasi presidensial.
Pada pemerintahan sitem quasi presidensial, Presiden merupakan kepala pemerintahan dengan dibantu oleh kabinet (ciri presidensial). Tetapi dia bertanggung jawab kepada lembaga dimana dia bertanggung jawab, sehingga lembaga ini (legislatif) dapat menjatuhkan presiden/eksekutif (ciri sistem parlementer). Misal, sistem pemerintahan Republik Indonesia.
Pada sistem pemerintahan quasi parlementer, Presiden, Raja dan Ratu adalah kepala negara yang tidak lebih hanya sebagai kepala simbol saja. Kekuatan eksekutif adalah kabinet yang terdiri dari perdana menteri dan menteri-menteri yang bertanggugjawab secara sendiri-sendiri atau bersama kepada parlemen (ciri parlementer) sedangkan lembaga legislatifnya dipilih melalui pemilihan umum secara langsung oleh rakyat (ciri presidensial). Kedudukan sebagai kepala negara dipegang oleh presiden yang dipilih secara langsung oleh rakyat, tetap juga ada kepala pemerintahan yang pimpin oleh seorang perdana menteri yang didukung oleh parlemen sebagai seperti sistem pemerintahan parlemen biasa.9
KELEBIHAN DAN KEKURANGAN SISTEM PRESIDENSIIL DAN SISTEM PARLEMENTER
No Sistem
pemerintahan
kelebihan kelemahan
1 Presidensiil a.Adanya sistem check and balance dapat menghasilkan keseimbangan antar organ yang diserahi tugas.
b.Badan eksekutif lebih stabil kedudukannya karena tidak tergantung pada parlemen.
c.Penyusunan program mudah disesuaikan dengan masa jabatan eksekutif.
A a. Setiap keputusan adalah hasil tawar menawar antara legislatif dan eksekutif, sehingga sering kurang merupakan kehendak suara terbanyak parlemen (wakil rakyat)
b. b.Lebih mudah mencapai kesesuaian pendapat antara eksekutif dan legislatif.
c. c.Pergantian eksekutif yang mendadak membuat program kerja yang telah disusun tidak selesai terealisir.10
karena dapat dijatuhkan oleh parlemen.
PERUBAHAN SISTEM PEMERINTAHAN INDONESIA 1945-SEKARANG Periode Pemerintahan Sistem Pemerintahan Keterangan
18 Agustus 1945 – 27 Desember 1949
Sistem pemerintahan presidensiil
Sistem pemerintahan awal yang digunakan oleh Indonesia adalah sistem pemerintahan presidensial. Namun, seiring datangnya sekutu dan dicetuskannya Maklumat Wakil Presiden No.X tanggal 16 November 1945, terjadi pembagian kekuasaan dalam dua badan, yaitu kekuasaan legislatif dijalankan oleh Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan kekuasaan-kekuasaan lainnya masih tetap dipegang oleh presiden sampai tanggal 14 November 1945. Berdasarkan Maklumat Pemerintah 14 November 1945 ini, kekuasaan eksekutif yang semula dijalankan oleh presiden beralih ke tangan menteri sebagai konsekuensi dari dibentuknya sistem pemerintahan parlementer. delegasi Belanda menghasilkan keputusan pokok bahwa kerajaan Balanda mengakui kedaulatan Indonesia sepenuhnya tanpa syarat dan tidak dapat dicabut kembali kepada RIS selambat-lambatnya pada tanggal 30 Desember 1949. Dengan diteteapkannya konstitusi
10 www.fatikakfauziak92.logspogt.cg.id, diakses pada 10 November 2017 pukul 13.50
RIS, sistem pemerintahan yang digunakan adalah parlementer. Namun karena tidak seluruhnya diterapkan maka Sistem Pemerintahan saat itu disebut Parlementer semu
15 Agustus 1950 – 5
Juli 1959 Sistem pemerintahanparlementer UUDS 1950 adalah konstitusi yang berlaku di negara Republik Indonesia sejak 17 Agustus 1950 hingga dikeluarkannya Dekrit Presiden 5 Juli 1959 Pemilihan Umum 1955 berhasil memilih Konstituante secara demokratis, namun Konstituante gagal
membentuk konstitusi baru hingga berlarut-larut. Pada 5 Juli 1959 pukul 17.00, Presiden Soekarno mengeluarkan dekrit yang
diumumkan dalam upacara resmi di Istana Merdeka.Isi dekrit presiden 5 Juli 1959 antara lain :
1. Kembali berlakunya UUD 1945 dan tidak berlakunya lagi UUDS 1950
2. Pembubaran Konstituante 3. Pembentukan MPRS dan DPAS
Dikeluarkannya dekrit presiden ini diiringi dengan perubahan sistem pemerintahan dari parlementer ke presidensial.
5 Juli 1959 – 22
Februari 1966 Sistem pemerintahan presidensiil Dikeluarkannya dekrit Presiden1959 mengembalikan sistem pemerintahan Indonesia ke sistem pemerintahan presidensial.
22 Februari 1966 – 21 Mei 1998
Sistem pemerintahan presidensiil
Pada masa Orde Baru (1966-1998), Pemerintah menyatakan akan menjalankan UUD 1945 dan Pancasila secara murni dan
Pancasila dan UUD 1945 yang murni, terutama pelanggaran pasal 23 (hutang Konglomerat/private debt dijadikan beban rakyat
Indonesia/public debt) dan 33 UUD 1945 yang memberi kekuasaan pada fihak swasta untuk
menghancur hutan dan sumberalam kita. Pada masa Orde Baru, UUD 1945 juga menjadi konstitusi yang sangat "sakral", diantara melalui sejumlah peraturan:
1. Ketetapan MPR Nomor I/MPR/1983 yang
2. Ketetapan MPR Nomor IV/ MPR/1983 tentang
Referendum yang antara lain menyatakan bahwa bila MPR berkehendak
mengubah UUD 1945, terlebih dahulu harus minta pendapat rakyat melalui referendum.
3. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1985 tentang
UUD 1945 antara lain karena pada masa Orde Baru, kekuasaan tertinggi di tangan MPR (dan pada kenyataannya bukan di tangan rakyat), kekuasaan yang sangat besar pada Presiden, adanya pasal-pasal yang terlalu “luwes” (sehingga dapat menimbulkan multitafsir), serta kenyataan rumusan UUD 1945 tentangsemangat penyelenggara negara yang belum cukup didukung ketentuan konstitusi. Tujuan perubahan UUD 1945 waktu itu adalah menyempurnakan aturan dasar seperti tatanannegara, kedaulatan rakyat, HAM, pembagian kekuasaan, eksistensi negara demokrasi dannegara hukum, serta hal-hal lain yang sesuai dengan perkembangan aspirasi dan kebutuhanbangsa. Perubahan UUD 1945 dengan kesepakatan diantaranya tidak mengubah PembukaanUUD 1945, tetap mempertahankan susunan kenegaraan (staat structuur) kesatuan atau selanjutnya lebih dikenal sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), serta mempertegas sistem pemerintahan presidensial.11
DAFTAR PUSTAKA
Moh. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim,Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Sinar Bakti: Jakarta, hal 66
M. Solly Lubis,Ilmu Negara, Alumni, Bandung, 1975, hal. 23.
11http://www.zonanesia.net/2014/10/periodisasi-sistem-pemerintahan.html,diakses
Jimly Asshiddiqie,Pokok-Pokok Hukum Tata Negara Indonesia Pasca Reformasi, Bhuana Ilmu Populer,Jakarta, 2007, hal. 31
Moh.Kusnardi dan Hermaily Ibrahim, Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, Sinar Bakti, Jakarta, 1988, hlm 171
Titik Triwulan,Pokok-Pokok Hukum Tata Negara, Prestasi Pustaka, Jakarta, 2006, hal. 98
www.fatikhahfauziah92.blogspot.co.id, diakses pada 10 November 2017 pukul 13.50 WIB
http://www.zonanesia.net/2014/10/periodisasi-sistem-pemerintahan.html,diakses pada