• Tidak ada hasil yang ditemukan

COMMONSENSE DAN PENALARAN ILMIAH pak MUR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "COMMONSENSE DAN PENALARAN ILMIAH pak MUR"

Copied!
20
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS OLEH

(2)

COMMON SENSE DAN PENALARAN ILMIAH

A. PENDAHULUAN

1. Latar Belakang Masalah

Manusia yang merupakan makhluk ciptaaan Alloh S.W.T yang sempurna dengan dianugerahi akal fikiran . Otak manusia dengan berat tak kurang dari satu setengah kilogram tercatat dan tersimpan berbillun ingatan, kebiasaan, kemampuan, keinginan, harapan dan ketakutan.

Kemajuan peradaban dipicu oleh kemampuan otak manusia dalam berfikir. Menurut Higher (dalam Wibowo, 2011:100) bahwa, kita menjadi manusia seperti sekarang berkat proses belajar yang kita lakukan. Contohnya manusia jaman prasejarah membentuk bongkahan menjadi alat yang dapat digunakan untuk dapat bertahan hidup (berburu, menggali, memotong, dan lain-lain). Dalam perkembangan pemikirannnya akhirnya manusia setelah mengalami berbagai proses berhasil menggunakan daya nalarnya (ratio) dalam memecahkan persoalannya. Seperti yang terjadi pada Abad Pertengahan dengan penemuan-penemuan ilmiah oleh Copernicus dan Edison. Sebagaimana pendapat seorang filosof Rene Descartes yang mengatakan “COGITO ERGO SUM” (Aku ada karena berpikir) maka manusia mulai menggunakan pikirannya yang luar biasa ajaibnya. Seiring dengan perjalanan waktu manusia belajar dengan otaknya, melalui trial and error, akhirnya timbullah manusia seperti sekarang.

(3)

kebebasan . Anehnya, mereka berkesan tersaruk-saruk mencari bentuk demokrasi untuk dicocok-cocokkan di Indonesia. Dikatakan aneh karena mereka “tidak belajar” dengan cara menyelami sejarah terbentuknya Negara Keasatuan Republik Indonesia, missal melalui siding-sidang pada 1940-an tentang penyusunan naskah Pembukaan UUD 1945. Proses belajar semacam ini khususnya dalam rangka membangun argumentasi melalui konteks, yang akan memudahkan untuk emahami suasana kebatinan (suasana ontologis) para Bapak Bangsa kita saat merumuskan demokrasi Indonesia (Wibowo, 2011).

Dalam hal penulisan karya tulis ilmiah, semangat “tidak belajar” akan menyulitkan diri kita, karena cenderung menggunakan akal sehat (commonsense).

2. Rumusan Masalah

Pada makalah ini, masalah dibatasi pada: a. Commonsense dan Kebenaran ilmiah b. Penalaran ilmiah

c. Karya tulis ilmiah dalam komunitas social d. Kategorisasi dan Ideologi

3. Tujuan

Tujuan penulisan makalah ini adalah;

a. Mengetahui commonsense dan Kebenaran Ilmiah b. Mengetahui Penalaran ilmiah

c. Mengetahui karya tulis ilmiah dalam komunitas social

d. Mengetahui kategorisasi dan Ideologi dalam karya tulis ilmiah

B. TINJAUAN PUSTAKA

1. Common sense dan kebenaran Ilmiah

(4)

umum tentang sesuatu, dimana mereka akan berpendapat sama semuanya. common sense diperoleh dari pengalaman sehari-hari. Menurut Harold H. Titus (dalam Mubarok, 2010) dalam artikel common sense dan science, mengemukakan beberapa ciri khusus dari common sense, diantaranya:

1. Common sense cenderung menjadi biasa dan tetap, atau bersifat peniruan, serta pewarisan dari masa lampau.

2. Common sense sering kabur atau samar dan memiliki arti ganda (ambiguous)

3. Common sense merupakan suatu kebenaran atau kepercayaan yang tidak teruji, atau tidak pernah teruji kebenarannya.

Menurut Atmadilaga (dalam Wibowo, 20110:102) bahwa kebenaran yang dihaasilkan melalui akal sehat (common sense) pada umumnya sangat dipengaruhi oleh kepentingan dari orang yang menggunakannya. Hal ini mirip dengan acara talk show di TV yang menampilkan debat para politikus, yang saat acaranya

berakhir, isi pembicaraan mereka hanya didasarkan atas common sense belaka, sehingga informasi yang disampaikan tidak berguna bagi khalayak pemirsa. Kebenaran common sense dalam karya tulis ilmiah, posisinya hanya serupa dengan asumsi dan hipotesis.

Menurut Fisher (dalam Wibowo, 2011:102), asumsi adalah keyakinan yang dianggap jelas oleh penulis dan tidak dieksplisitkan, sedangkan hipotesis adalah klaim yang dikemukakan untuk pertimbangan atau untuk diinvestigasi dan tidak pula dianggap sebagai kebenaran.

(5)

menegaskan bahwa penulis karya ilmiah adalah pengamat, penemu yang tajam, dan selalu berfikir secara kritis-reflektif.

Pertentangan pendapat bahwa akal sehat bukan kebenaran ilmiah sudah berakar sejak abad ke-17 di Eropa ketika terjadi tarik menarik antara aliran rasionalisme dan aliran pemikiran empirisme.. Selanjutnya filosuf jerman Immanuel Kant (1724-1804) mengawinkan kedua aliran tersebut menjadi kritisisme dengan prinsip bahwa ilmu pada dasarnya bersifat rasional-empiristik, yang bersumber dari rasio(fakta) dan empiri (pengalaman indrawi). Peran rasio memberikan bentuk pengetahuan, sedangkan empiri memberi isi pengetahuan.

Menurut Sofyan (dalam Wibowo, 2011) bahwa kebenaran ilmiah berbeda dengan akal sehat, pasalnya pengetahuan tidak timbul dari dirinya sendiri. Anggapan bahwa dunia “hanya” bersifat rasional tidak mungkin dapat diterima karena di dalam rasio pasti muncul hal-hal yang tidak rasional, yang mau tidak mau harus diterima oleh rasio, yakni melalui pencerapan panca indera.

Kebenaran ilmiah muncul dari hasil penelitian ilmiah, yang diperoleh melalui aktivitas ilmiah yang strukturnya terdiri dari dua bagian yaitu bagian substantive (isi) dan bagian procedural

(metode). Jika aktivitas ilmiah dipandan dari sudut proses, ia merujuk pada penelitian ilmiah, dan bila dipandang sebagai prosedur , ia mengacu pada metode ilmiah.

Aktivitas ilmiah selalu menampilkan kebenaran ilmiah, yang dalam konteksnya, dikelompokkan menjadi dua jenis:

a. Kebenaran Korespondensi

(6)

menyatakan bahwa segala sesuatu yang kita ketahui adalah sesuatu yang dapat dikembalikan pada kenyataan yang dikenal oleh subyek.

b. Kebenaran Koherensi

Prinsip kebenaran koherensi adalah suatu pernyataan cenderung benar apabila pernyataan tersebut dalam keadaan saling berhubungan (koherens) dengan pernyataan-pernyataan lain yang dianggap benar.

Pengetahuan ilmiah sebagai perwujudan metode ilmiah harus memiliki obyektivitas (dapat ditangkap nalar) dan mengandung intersubyektivitas. Obyektivitas merujuk pada pemahaman bahwa pengetahuan ilmiah harus dilandaskan pada metode dan teori relevan, sedangkan intersubyektivitas memperlihatkan bahwa pengetahuan ilmiah dapat dimengerti, dipahami, dan dapt diuji oleh ilmuwan lain yang terkelompok ke dalam komunitas bidang keilmuwan yang bersangkutan. Pengujian tersebut dapat dikontrol melalui penelitian lanjutan, diskusi kritis, atau seminar ilmiah. Itu sebabnya ilmu dikatakan memiliki dua karakter, yaitu general dan spesifik. General karena teori-teori yang digunakan untuk menjelaskan suatu fenomena harus dapat diverifikasi dan sekaligus dapat diterima oleh masyarakat akademis. Dikatakan spesifik karena teori-teori yang digunakan harus memnuhi segi-segi praktisnya, yakni dapat diaplikasikan untuk menjelaskan kecenderungan fenomena tertentu masyarakatnya.

Hal-hal pokok yang tersaji dalam bagian substantive (isi) karya ilmiah terdiri dari:

a. Analisis

(7)

menyajikan data melalui metode yang relevan yang sesuai dengan paradigm penelitian.

b. Pembahasan

Di dalam pembahasan, peneliti dapat lebih jauh melakukan penafsiran melalui sejumlah metode yang relevan, sudah dikenal umum, dan dapat dipilih misalnya metode interpretasi, metode hermeneutika, metode analitika bahasa, metode historis, metode abstraksi, atau metode heuristika, dan kemudian mendiskripsikannya guna menjelaskan suatu pola berkenaan dengan obyek material penelitiannya atau guna mencari hubungan diantara unsure-unsur obyek material penelitiannya tersebut.

Pada hakekatnya, pembahasan mencerminkan kecendekiaan peneliti karena hal-hal berikut ini:

1) Kelogisan argumentasi peneliti dalam menjelaskan pola atau kategorinya

2) Kemanfaatan tafsiran peneliti sehubungan dengan penjelasan pola atau kategorinya

3) Penyajian atau pendeskripsian pendapat peneliti melalui paragraph yang baik

c. Hasil Pembahasan

Hasil pembahasan merupakan argumentative yang disajikan secara bersistem berdasarkan konstruksi teori yang digunakan dalam rangka pengujian atau pengkajian hal-hal yang telah diperoleh dari analisis dan pembahasan, yang disesuaikan dengan rumusan masalah. Oleh karena itu, hasil pembahasan harus didukung oleh olahan data dan deskripsi yang baik berdasarkan pendapat peneliti karena disitulah akan terungkap”penemuan” si peneliti.

(8)

tersebut kemudian ditafsirkan melalui pertaliannya dengan struktur pengetahuan yang telah mapan sehingga secara elektik (memadukan) atau heuristic (menemukan jalan baru), dimungkinkan dimunculkan suatu penemuan baru.. Implikasi dari hal ini, bagian hasil pembahasan dapat mengungkapkan keterkaitannya dengan bidang lain atau cabang keilmuwan lain yang relevan sebagai penguat penemuan si peneliti. Bagian ini pada dasarnya dapat disebut dalam istilah “hasil penelitian” karena merupakan cerminan dari hasil penafsiran si peneliti sendiri.

Dari ilustrasi di atas, kebenaran ilmiah harus dibedakan dari kebenaran yang diberangkatkan dari akal sehat. Dengan demikian, tindak tutur ilokasi, yang bertalian dengan otoritas keilmuan kita, dapat dievaluasi melalui kejelasan analisis, pembahasan yang dilakukan melalui sejumlah pertanyaan kunci.

Tabel 1. Ilokusi

ILOKUSI (Otoritas Keilmuwan) Kejelasan analisis:

- Apakah peneliti melakukan penafsiran, menjelaskan pola uraiannya, dan mencari hubungan diantara dimensi-dimensi uraiannya

- Apakah peneliti menyajikan secara deskriptif rancangan analisis datanya

Kejelasan pembahasan:

- Apakah peneliti melakukan penafsiran lebih jauh melalui sejumlah metode penunjang

Kejelasan hasil pembahasan:

- Apakah peneliti melakukan pengolahan data melalui deskripsi yang baik

- Apakah peneliti melakukan pertaliannya dengan bidang keilmuan lain atau fakta lain yang relevan dalam rangka memunculkan suatu penemuan baru?

(9)

Penalaran, seperti yang oleh Rom Harre (dalam Wahidin, 2009) dikatakan sebagai: “typically a passage of thougt from some given or assumed statements to other” . Selanjutnya menurut Yuyun S.S. (dalam Wahidin, 2009) menyatakannya sebagai proses berpikir menurut alur kerangka berpikir tertentu, merupakan kunci pembuka gerbang ke arah kemajuan seperti apa yang dicapai oleh manusia sekarang ini.

Penalaran sebagai sebuah kemampuan berpikir, memiliki dua ciri pokok, yakni logis dan analitis. Logis artinya bahwa proses berpikir ini dilandasi oleh logika tertentu, sedangkan analitis

mengandung arti bahwa proses berpikir ini dilakukan dengan langkah-langkah teratur seperti yang dipersyaratkan oleh logika yang

dipergunakan..

Baik penalaran deduktif maupun penalaran induktif keduanya memiliki kebaikan dan kelemahan masing-masing, namun dengan segala kelebihan dan kelemahannya keduanya telah mewarnai babak-babak awal sejarah perkembangan ilmu pengetahuan modern.Berpijak pada deduktif semata, ilmu pengetahuan tidak akan maju, demikian pula jika berpijak pada induktif semata ilmu pengetahuanbagai berjalan dalam kegelapan. dengan melihat kelebihan dan kekurangan dari kedua penalaran itu, orang kemudian mencoba memodifikasi keduanya, bahkan kemudian untuk memperbesar keunggulan kedua logika itu dan memperkecil kelemahan masing-masing maka kedua logika itu digabungkan. Upaya penggabungan itu dilakukan oleh Charles Darwin si penggagas teori evolusi saat mencoba membuktikan konsep Malthus tentang struggle for existence yang kemudian

menghasilkan teori baru seleksi alam yang terkenal itu. Dalam hal ini Darwin menggunakan penemuan orang lain untuk menemukan teori baru. Inilah sebenarnya essensi dari penggabungan deduktif dan induktif. Gabungan penalaran deduktif dan induktif inilah yang

(10)

ilmiah. Mengenai hal ini Herbert L. Searles (dalam Wahidin, 2009) dengan artikel yang berjudul metode ilmiah mengungkapkan bahwa: “ Iduction provides the groundwork for hypotheses, in order to eliminate those that are inconsistence with the facts, while induction again contributes to verification of remaining hypotheses”.

Selanjutnya John Dewey (dalam Wahidin, 2009) meramu gabungan penalaran tersebut ke dalam langkah-langkah berpikir yang dikenal sebagai berpikir reflektif (reflective thinking). Langkah-langkah berpikir reflektif inilah yang kemudian menjadi cikal bakal metode ilmiah (scientific method).

Menurut Anderson (dalam Wahidin, 2009) mengemukakan urutan langkah-langkah metode ilmiah sbb:

a). Perumusan masalah. b). Penyusunan hipotesis.

c). Melakukan eksperimen/pengujian hipotesis. d). Mengumpulkan dan mengolah data.

e). Menarik kesimpulan.

Penalaran ilmiah atau metode ilmiah yang menghendaki pembuktian kebenaran secara terpadu antara kebenaran rasional dan kebenaran faktual, mengggabungkan penalaran deduktif dan induktif dengan menggunakan hipotesis sebagai jembatan penghubungnya. Dari sinilah lahir alur penalaran ilmiah yang dikenal dengan ungkapan : “Logico hypothetico verifikatif” yang kemudian telah melahirkan banyak penemuan ilmiah dan telah memacu perkembangan ilmu pengetahuan ke tingkat yang sekarang ini.

3. Karya Tulis ilmiah dalam Komunitas Sosial

(11)

ilmiah di dalam komunitas sosialnya dapat dilihat secara kritis melalui perspektif komunikasi antarbudaya.

Menurut Fiske (dalam Wibowo, 2011:113) bahwa komunikasi dewasa ini bukan lagi sekadar tindakan menyampaikan pesan, melainkan representasi “ritual” atau keyakinan bersama. Media komunikasi seperti jurnal perguruan tinggi dapat membuka peluang bagi interaksi dan memungkinkan adanya dialog, diskusi antara penerima dan pengirim pesan.

Menurut Wibowo (2011) dalam perspektif filsafat bahasa biasa, konteks social budaya karya tulis ilmiah terwujud sebagai teks yang memiliki ciri-ciri tersendiri, yaitu:

a. Cerminan dari komunitas social wacana

Hal ini menunjukkan bahwa terdapat berbagai latar belakang keilmuan sesuai dengan komunitas social wacananya. Artinya ada komunitas ilmu sastra, ilmu ekonomi, komunitas ilmu biologi, dan seterusnya. Disebut dalam istilah komunitas karena istilah ini merujuk pada makna”kekerabatan”, “public” dan “populasi” sehingga dimungkinkan terjadi perbedaan penerimaan dan juga penolakan tingkat wacana diantara anggotanya terhadap suatu hasil penelitian ilmiah. Hal tersebut menyebabkan di ranah akademik dikenal bentuk seminar, atau diskusi ilmiah sesuai dengan komunitas ilmunya, yang pada hakikatnya merefleksikan aktivitas komunikasi. Dalam konteks ini, komunikatif-tidaknya sebuah karya tulis ilmiah tergantung apakah penulisnya memiliki bahan yang memadai dan tujuan yang khusus.

b. Pesan yang diungkapkan mengandung makna social

(12)

diwujudkan melalui penggunaan bahasa Indonesia. Itu sebabnya pesan yang diungkapkan ilmuwan Indonesia dalam karya tulis ilmiahnya mengandung makna social dengan tujuan dibaca luas oleh masyarakat Indonesia. Makin tinggi derajat intelektualitas , seorang ilmuwan semakin dikatakan mampu berkomunikasi dengan masyarakatnya. Seperti apa yang dikatakan Wittgenstein (dalam Wibowo, 2011:115) bahwa batas bahasaku adalah batas duniaku, yakni apapun yang kita ketahui terbatas pada ungkapan bahasa yang kita gunakan.

Berimplikasi dengan hal di atas, tujuan penulisan karya tulis ilmiah mesti dilandasi oleh prinsip yang jelas, yang tidak saja dipijakkan pada nilai kebenaran ilmiah (epistemologis), tetapi juga dilandasi oleh nilai etis atau nilai kesusilaan (aksiologis). Sebuah contoh kutipan Jurnal Ilmu dan Budaya 2006 (dalam Wibowo, 2011:115) mengandung prinsip yang jelas, yaitu ketika penulisnya mengatakan bahwa terorisme harus dihadapi bersama melalui kerja sama.

Pembahasan ini menjelaskan bahwa masalah terorisme adalah masalah bersama yang harus dihadapi bersama melalui kerjasama. Disini dituntut keefektifan peran Asean Security Community (ASC) dalam mengatasi terorisme di kawasan Asia Tenggara.

c. Memiliki laras dan sosioretorik tersendiri

Laras dan sosioretik dalam pertaliannya dengan prinsip filsafat bahasa biasa merujuk pada tata permainan bahasa, yaitu aturan-atuan bahasa yang terkonteks pada tiap-tiap bentuk bahasa dalam kehidupan. Implikasi dari hal itu, tata permainan bahasa artikel untuk surat kabar berbeda dengan tata permainan bahasa untuk karya tulis ilmiah. Beberapa contoh permainan bahasa diungkapkan Rifai (dalam Wibowo, 2011:116) sebagai berikut: 1) Potongan sebuah percakapan antara seorang anak dan Ibunya

(13)

“Ke mana, Bu?” “Ke pasar!” “Ngapain?”

“Ah, udah tahu pakai tanya-tanya segala . Mau jual terasi!” 2) Potongan percakapan yang sama dengan di atas dalam tata

permainan bahasa tulis:

“Ibu mau berangkat ke mana?” “Aku mau pergi ke pasar.”

“Untuk apa Ibu berkunjung ke pasar?”

“Ah, engkau pasti sudah mengetahuinya, jadi untuk apa menanyakannya? Aku menjual terasi yang selalu kuperdagangkan untuk menghidupimu.”

3) Contoh permainan bahasa pengetahuan:

Pasar merupakan tempat orang memperjualbelikan terasi setiap pecan atau pada hari pasar. Terasi yang diperjualbelikan di pasar dibuat dari sisa udang dan ikan yang tidak habis terjual. 4) Contoh tata permainan bahasa ilmiah:

Pasar merupakan salah satu system ekonomi tempat melakukan transaksi berdasarkan asas pasokan dan permintaan. Terasi yang dijadikan komoditas perdagangan di pasar dibuat melalui proses fermentasi aerob dan anaerob berbahan baku surplus udang dan ikan.

d. Penulisannya dilandasi oleh prinsip pembingkaian

Untuk mewujudkan sebuah karya tulis ilmiah yang jelas dan komunikatif, dapat dilakukan strategi pembingkaian (framing), yakni menggarisbawahi perspektif kita terhadap gagasan inti penelitian agar pembaca terpengaruh pada “ideology” kita.

(14)

lebih ditonjolkan sehingga mampu mempengaruhi pembacanya. Pada proses pembingkaian karya tulis ilmiah, penulis harus mampu membedakan antara kebenaran ilmiah dan common sense. Kemampuan ini, selain mencerminkan derajat aksiologis peneliti, sekaligus menegaskan pula bahwa ia memahami adanya “habitus” dan “pasar bahasa”.

Menurut Pierre Bourdieu (dalam Wibowo, 2011), bahwa istilah habitus merujuk pada kondisi penampakan atau situasi yang habitual, khususnya pada tubuh, Habitus hanya ada di dalam melalui dan disebabkan oleh praksis individu akibat interaksinya dengan lingkungannya, termasuk caranya berbicara, caranya bergerak, dan caranya berbuat sesuatu. Dalam kaitan dengan bahasa, bahasa tidak dapat dianalisis atau dipahami secara terpisah dari konteks budaya dan kondisi social produksi dan penerimaannya karena semua tindak bahasa merupakan hasil dari dua hal yang bersifat kausal. Pertama, terdapat “habitus bahasa” yang meliputi kecenderungan budaya untuk mengatakan hal-hal tertentu, atau suatu kompetensi linguistic yang spesifik yang tidak lepas dari konteks sosialnya. Kedua, terdapat “pasar bahasa” yang berbentuk sanksi, sensor, dan yang mengatur apa yang boleh dituturkan .

Habitus bahasa dan pasar bahasa, jika dihubungkan dengan perangkat pembingkai yang digunakan dalam strategi pembingkaian karya tulis ilmiah, dapat dipertalikan dengan hal-hal berikut:

1) Pengulangan kata

Hubungan antar kalimat yang dilakukan dengan cara melakukan pengulangan kata, mampu menonjolkan gagasan inti.

(15)

masalah. Berbagai teori feminis kini juga dihadapkan pada berbagai kritik.

Selain hal itu, bisa digunakan kolokasi (kata sanding), yakni asosiasi kata dengan sesuatu yang lain dalam situasi yang serupa, Kiat kolokasi diantaranya dengan menggunakan antonym (mempertentangkan sesuatu demi menonjolkan gagasan inti). Contoh : Agenda apa yang mendesak dikerjakan oleh gerakan perempuan pada saat ini, sementara pengidentifikasian watak ideology maskulin telah merasuki berbagai bidang kehidupan.

2) Sinonim

Penggunaan bentuk sinonim sebagai penghubung antar kalimat diyakini sangat efektif dalam strategi pembingkaian. Contoh: Jean Paul Sartre lahie di Paris 21 Juni 1905. Ayahnya seorang perwira angkatan laut dan pengamat agama Kristen. Sartre ditinggal mati oleh ayahnya ketika masih kecil. Ia lalu diasuh oleh kakeknya seorang professor bahasadi Universitas Sorbone, Prancis. Di bawah asuhan sang kakrk, Sartre terdidik menjadi ilmuwan.

3) Kesamaan topic

Kesamaan topic merupakan salah satu strategi pembingkaian untuk menghubungkan kalimat satu dengan lainnya dan untuk kesegaran kalimat.

(16)

4. Kategorisasi dan Ideologi

Strategi pembingkaian, sebagaimana telah dijelaskan dilakukan demi menonjolkan perspektif kita terhadap gagasan inti penelitian agar pembaca terpengaruh pada ideologi kita dan juga pada visi institusi pendidikan tinggi tempat penulis bekerja.

Dari sudut teknis-strategis, perspektif penulis karya tulis ilmiah yang hendak ditonjolkan itu melalui:

a. Pengidentifikasi masalah yaitu dengan menetapkan atau mengarahkan perspektif penulis terhadap gagasan inti penelitiannya seraya menentukan apa yang dianggap “pantas” sebagai pemicu masalah penelitian.

b. Pengevaluasi nilai-nilai moral atas pemicu masalah c. Pengajuan solusi atau pemecahan masalah

Dalam karya tulis ilmiah, ketiga hal tersebut dapat diletakkan pada : 1) judul; 2) tujuan penelitian; 3) simpulan. Dari sudut empiric-positivistik, strategi pembingkaian dalam rangka menonjolkan perspektif penulis agaknya kurang dapat diterima, mengingat karya tulis ilmiah dianggap hanya sebagai saluran informasi yang dapat disebarkan seluas mungkin , sehingga dikatakan karya tulis ilmiah bersifat netral. Sebaliknya, dari sudut pandang kritis, karya tulis ilmiah adalah agen konstruksi yang tidak bersifat netral dan oleh karena itu dilengkapi dengan bias dan keberpihakan.

(17)

Sehubungan dengan pendapat Hall, bahwa karya tulis ilmiah adalah cerminan upaya penulis dalam menghadirkan subyektivitasnya (berkaitan dengan kategori dan Ideologi individu).

Menurut Wittngenstein (dalam Wibowo,2011:123) bahwa kategori dapat dimaknai sebagai penetapan yang dilakukan penulis terhadap suatu bentuk permainan bahasa.

Seperti yang diucapkan oleh Wittngestian, bahwa fakta, realitas atau suatu permainan bahasa berakibat pada terjadinya suatu inovasi dalam penggunaan bahasa yang sifatnya tidak dapat diprediksi sehingga maknanya tidak dapat dicari hanya dengan mengaitkannya dengan realita tersebut. Menurut Lull (dalam Wibowo, 2011), bahwa masalah kategori berkaitan dengan masalah ideology karena pengkategorian atas fakta-fakta atau fenomena (obyekmaterial penelitian) dalam perspektif filosofis dimaknai sebagai system ide-ide atau system cita-cita yang diungkapkan dalam komunikasi.

Menurut Laurer (dalam Wibowo, 2011) bahwa system cita-cita yang terwujud sebagai ideology tersebut akan mendorong para pelakunya untuk mempertahankan tatanan yang ada, yang berarti ideology yang dijadikan unsure pembingkaian oleh penulis memiliki kekuasaan logis untuk memotivasi, memaksa, atau bahkan memperalat pembacanya.

Perihal pentingnya masalah ideology kiranya dapat dilihat lagi melalui hubungan antara etika penulisan karya tulis ilmiah dan kesadaran berbahasa penulisnya. Kesadaran berbahasa dapat dimaknai sebagai totalitas sikap, pendapat, dan perasaan penulis karya tulis ilmiah terhadap bahasa bertalian dengan ideologinya. Menurut Austin (dalam Wibowo, 2011) , sehubungan dengan kategori dan Ideologi dapat ditegaskan bahwa apa yang dituliskan oleh seorang penulis karya tulis ilmiah adalah apa yang sekaligus menjadi tindakannya.

(18)

fenomena, tetapi juga turut mendefinisikan masalah atau peristiwa yang hanya terkonteks dengan fakta atau fenomena tersebut.

Dalam proses pendefinisian masalah, selalu muncul nilai-nilai moral yang pada hakikatnya terkait dengan pertimbangan kategori, ideology dan keberpihakan etis penulis karya tulis ilmiah. Ketika penulis mengungkapkan bahwa penelitiannya hanya memfokus pada kegunaan botol plastic aqua bekas, misalnya, sebenarnya di dalamnya terkandung pertanyaan etis, mengapa harus menyebut merek botol plastic itu secara terang-terangan. Sehingga dalam karya tulis ilmiah harus menjaga obyektivitasnya dan oleh karena itu penulisnya “hanya” dituntut piawai membedakan mana kebenaran ilmiah dan mana kebenaran akal sehat.

Sehubungan dengan hal di atas, kita harus memahami bahwa kebenaran ilmiah merupakan penyeimbang dalam menghadapi kategori dan ideology yang dijadikan elemen pembingkaian oleh penulis karya tulis ilmiah memiliki kekuatan logis untuk memotivasi, memaksa, atau bahkan memperlambat pembacanya.

Menurut Van Peursun (dalam Wibowo, 2011:130) bahwa penelitian ilmiah harus mencerminkan nilai-nilai etis yang menjadi norma kehidupan khalayak pembacanya. Hal ini selaras dengan pendapat Wittgenstein (dalam Wibowo, 2011) bahwa untuk mengetahui hakikat makna yang terkandung sebelumnya kita harus memahami nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan manusia dalam hubungannya dengan penggunaan ungkapann bahasa tersebut.

C. SIMPULAN

1. Kebenaran ilmiah muncul dari hasil penelitian ilmiah, yang diperoleh melalui aktivitas ilmiah yang strukturnya terdiri dari dua bagian yaitu bagian substantive (isi) dan bagian procedural (metode).

Posisi kebenaran akal sehat merupakan perantara bagi lahirnya

(19)

diperoleh dari aktivitas ilmiah yang stukturnya terdiri dari dua bagian yaitu bagian substantive (isi) dan bagian procedural (metode).

2. Penalaran ilmiah atau metode ilmiah yang menghendaki pembuktian kebenaran secara terpadu antara kebenaran rasional dan kebenaran faktual, mengggabungkan penalaran deduktif dan induktif dengan menggunakan hipotesis sebagai jembatan penghubungnya.dengan langkah-langkah berpikir reflektif yaitu:

a). Perumusan masalah. b). Penyusunan hipotesis.

c). Melakukan eksperimen/pengujian hipotesis. d). Mengumpulkan dan mengolah data.

e). Menarik kesimpulan.

3. Peran dan fungsi karya tulis ilmiah di dalam komunitas sosialnya dapat dilihat secara kritis melalui perspektif komunikasi antarbudaya.

4. Karya tulis ilmiah adalah cerminan upaya penulis dalam menghadirkan subyektivitasnya (berkaitan dengan kategori dan Ideologi individu).

DAFTAR PUSTAKA

Khaidir Al Lumbuky,Yusran. 2009. Dasar-dasar Pengetahuan. Diakses tanggal 02 April 2011 dari http://yusrankhaidir.blogspot.com/2009/05/dasar-dasar-pengetahuan.html

Mubarok, Moh Hifni, 2011. Common sense dan science. Diakses tanggal 03 April 2011 dari http://blog.uin-malang.ac.id/hifniashter/2011/03/16/6/

Wahidin, Didin. 2009. Metode Ilmiah. Diakses tanggal 03 April 2011 dari http://didin-uninus.blogspot.com/2009/10/metode-ilmiah.html

(20)

Gambar

Tabel 1. Ilokusi

Referensi

Dokumen terkait