• Tidak ada hasil yang ditemukan

Peran Strategis Epidemiologi dalam Penun (1)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Peran Strategis Epidemiologi dalam Penun (1)"

Copied!
34
0
0

Teks penuh

(1)

DR.dr. Hariadi Wibisono MPH

Ketua Umum

Perhimpunan Ahli Epidemiologi Indonesia

(2)
(3)

H1N1

H2N2

H3N2

1918

: “Spanish Flu”

1957: “Asian Flu”

1968

: “Hong Kong Flu”

40-50 million deaths*

CFR 2-3%*

Most affected Young Adult

1-4 million deaths*

CFR < 0.2%*

All age groups

1 -4 million deaths*

CFR < 0.2%*

All age groups

2009: “Swine Flu”

100,000-400,000 deaths*

CFR 0.02%*

Children & Young Adult

H1N1

*) Estimated

H5N1

H7N9

HxNy

(4)

Avian Flu, EU

$10-13bn Foot&Mouth Disease Taiwan, $5-8bn

1992 1993 1994 1995

Foot-and-Mouth Disease

UK

BSE, Canada $1.5bn

Lyme disease US, $2.5bn

SARS

China, Hong Kong,

Singapore, Canada,…

$50bn+

(5)

Faktor Risiko

Munculnya Penyakit EID

Exploitasi lingkungan

,

Polusi

Pembangunan daerah

Urban/ Periurban

Praktek

praktek

pertanian

(irigasi, pilihan tanaman)

Ekspansi /

berkurangnya area

Spesies Invasive

Kondisi lingkungan

untuk hidup hewan

(Vektor)

Kepemilikan hewan,

hewan sebagi bahan

makanan,

peternakan ,

Manajemen Wildlife

Gangguan Habitat

Hewan

Lingkung

an

(6)

Sumber :

Emerging & Re-Emerging Infectious Disease Challenges

. Nature 430: 242-49 (Morenz. DM et al,

2004

)

Lassa

Fever

Ebola

MERS-CoV*

Zika

Virus

*

(7)

Surveillance ,

Infection Prevention & Control

Health Promotion, Collaboration human-animal

animal early warning

Epidemiological Investigation Specimen

Collection/shipment Assess need and resources

Interpret laboratory result

Take a decision

Implement control strategies

Coordination, Media Surveillance,

laboratory

Social intervention Case management, IPC

(8)

Modified from slide Rick Brown, WHO

WEPRO

Agen

(Virology, chemical,

radiology, etc), severity,

klinis

Transmission

Host (Comorbid,

susceptible,

Technical Capacity

Economy

Environment

Policy

Public health

response

(9)

Ebola:

Failure in Early Response to Outbreak

A „mysterious disease spread in Guinea

on

26 December 2013

, and identified as

Ebola on

21 March 2014

Spread

of the

Disease

Ebola

Identification

Ebola confirmed

by

PHEIC

26 Dec 2013

21 Mar 2014

8 Aug 2014

Failure in IHR 2005 implementation

2012

79% member countries

failed to achieve targets

2014

69% member countries

failed to achieve targets

GHSA declaration

to accelerate the

implementation of

the IHR 2005

2014

(10)

Legally-binding global agreement to protect public

health

The international commitment for shared

responsibilities and collective defence against disease

spread

Collective effort based on agreed rules

(11)

IHR(2005): a paradigm shift

From

control of borders

to

(also)

containment at source

From

diseases list

to

all threats

From

preset measures

to

adapted and real time response

(12)

Emergence/re-emergence of infectious

diseases and increased pace of spread

Globalisation

public health event in one

location can be a threat to others.

Serious and unusual disease events are

increasing and inevitable

Threat of deliberate use of biological and

chemical agents; laboratory and industrial

accidents

(13)
(14)

Aktivitas Global yang penting berdasarkan konsep

bahwa kesehatan manusia, hewan dan lingkungan /

ekosistem bersifat saling bergantung satu sama lain /

interdependen

Tenaga profesional yang bekerja dalam area tersebut

akan dapat memberikan pelayanan terbaik dengan saling

berkolaborasi untuk dapat mencapai pengalaman yang

lebih baik melalui semua faktor yang terlibat dalam

penyebaran penyakit, kesehatan ekosistem, serta

kemunculan patogen baru dan agen zoonotik, juga

kontaminan dan toksin lingkungan yang dapat

menyebabkan morbiditas dan mortalitas substansial serta

berdampak pada pertumbuhan sosioekonomic.

(15)

Globalisasi di seluruh dunia meningkatkan

perpindahan penduduk lintas negara

termasuk perpindahan penyakit menular

Kejadian penyebaran Ebola, MERS-CoV, Flu

Burung, dan penyakit zoonotic dan EID

lainnya membutuhkan keterampilan tenaga

kesehatan

Keterampilan tenaga kesehatan perlu

didukung oleh sistem perguruan tinggi sebagai

lembaga pendidikan calon tenaga kesehatan

Peningkatan kapasitas mahasiswa menjadi isu

penting

(16)
(17)
(18)
(19)
(20)

20

Identifikasi masalah.

Menentukan cara penanggulangan,

Surveilans,

SKD KLB,

PE-KLB,

Memantau dan menilai program,

Pengajaran dan pelatihan,

Audit manajeman dan

pemberdayaan.

(21)

Transisi Epidemiologi.

Transisi Lingkungan.

Transisi Geografi.

Transisi Sosial budaya.

Transisi Politik

(22)

SISTEM SURVEILLANCE DAN TANGGAP

NASIONAL

SISTEM KEWASPADAAN DAN

TANGGAP WHO

Risiko yang

semakin luas

INTERNATIONAL TRAVELS

AND TRANSPORTS

INTERNATIONAL HEALTH REGULATION 2005

Early detection and rapid response

(23)

Negara anggota diharapkan melaporkan setiap kejadian yang

kemungkinan menjadi

Public Health Emergency of International Concern

“an extraordinary event which constitutes a public health risk to other

States through the international spread of disease and potentially

require a coordinated international response”

Kejadian luar biasa, yang berisiko mengancam negara lain

(ditentukan oleh WHO setelah melalui proses konsultasi), serta

membutuhkan respon internasional yang terkoordinasi.

Negara anggota melaporkan kejadian yg ber potensi untuk

menjadi PHEIC

(dg. batas ambang yang lebih rendah

dibanding PHEIC yang sebenarnya).

(24)

24

Risk Communication and International Cooperation

Early Detection

and Early

Warning through

Integrated

Surveillance and

Laboratory

Quarantinne

and Mobility

Control of

people and

goods (Border

Control)

Social

Distancing

Continuity of

Essential

Public Service

Post

Pandemic

Medical dan

Public Health

Response.

Coordination Command and

Control

Activate the Incident Command System

(ICS)

(25)

Tantangan kedepan peranan epidemiologist

(26)

….. Epide iologist have to sift through i co siste t

versio a d ru ours to get the story right ….

……. Epide iologist eed to ask, ask a d keep aski g ….

( story from the Ebola hit area Sierra Leone)

(27)

Pasal 14:

Ayat 1:

Kementerian Kesehatan, Dinas Kesehatan Kab/Kota, Instansi Kesehatan

pemerintah lainnya dan fasilitas pelayanan kesehatan wajib

menyelenggarakan surveilans kesehatan sesuai kewenangan.

Ayat 2:

Penyelenggara surveilans kesehatan pada Kementerian Kesehatan,

Dinas Kesehatan Provinsi, Dinas Kesehatan Kab/kota dan instansi

kesehatan pemerintah lainnya sebagaimana dimaksud pada ayat 1

dilaksanakan oleh masing masing pengelola Program.

(28)

Membuat pernyataan tentang situasi dan kecenderungan masalah

kesehatan dan faktor risikonya (Predictive).

Menganalisis terjadinya kondisi luar biasa penyakit menular dan masalah

kesehatan lainnya yang dihadapi.( anticipative)

Menganalisis potensi ancaman penyakit, sumber dan cara penularan serta

faktor faktor yang berpengaruh.

Menyusunrancangan rencana tindak dan respon cepat terhadap faktor risiko,

penyakit serta masalah kesehatan lainnya. (reactive & responsive)

(29)

Menyajikan data sebagai dasar pengambilan keputusan.

Secara kritis dalam mendeteksi, penanggulangan dan

pencegahan masalah kesehatan masyarakat, termasuk

kemampuan melakukan komunikasi risiko.

Menghadapi tantangan Emerging Infectious diseases,

neglected diseases, disease outbreak, pollutions dan

non communicable diseases.

Berbagai aspek : klinis, kesehatan komunitas dan Lapangan.

Beberapa tingkat kualifikasi: Diploma, S1, S2 dan doctor.

(30)

TINGKATAN

TABEL KEBUTUHAN TENAGA EPIDEMIOLOGI KESEHATAN

(31)

TENAGA

PENEMPATAN

PELATIHAN

RELAWAN BID EPID

DESA /PUSKESMAS

Community based

surveillance

FUNGSIONAL

EPIDKES

RS, DINKES

KAB/KOTA/PROV

PAEL, FETP

MANAGER

BERBASIS EPID

PUSAT/ DINKES

PROV/KAB/KOTA

PENTALOKA

(32)

“...

Ladies and gentlemen, you might know how happy

I am that I can see the establishment of PAEI and that I

still have an opportunity to help developing

epidemiology in solving health problems for health

pla i g i I do esia…. “

Prof Dr. Sulianti Saroso MPH, DR,

PH (the pioneer of Epidemiology development in Indonesia )

(33)

Sudah ada jabatan fungsional epidemiologi yang disahkan oleh

MenPan.

Jabatan fungsional ini memberi kesempatan petugas epidemiologi

baik yang bekerja dilingkungan Kemenkes untuk membangun karier

disamping mereka yang menduduki jabatan struktural, serta mereka

yang bekerja di sektor swasta.

Cakrawala yang terbentang didepan

(34)

Gambar

TABEL KEBUTUHAN TENAGA EPIDEMIOLOGI KESEHATAN

Referensi

Dokumen terkait