• Tidak ada hasil yang ditemukan

FILSAFAT SEJARAH MARX tentang materialisme

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "FILSAFAT SEJARAH MARX tentang materialisme "

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH

Untuk memenuhi tugas matakuliah Filsafat Sejarah

yang dibina oleh Bapak Prof. Dr. Haryono

Oleh

Aulia Kurnia Fajar 309832416939

Andik Widiantoro 309832416944

Muhammad Soalihin 108831410767

UNIVERSITAS NEGERI MALANG FAKULTAS ILMU SOSIAL

(2)

BAB I

Latar Belakang

Filsafat merupakan embrio dari ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan yang kita ketahui dewasa ini merupakan pertanyaan-pertanyaan sederhana yang dilontarkan para filsuf pada masa-masa awal perkembangan filsafat. Filsafat berkembang di Yunani sekitar abad ke 7 SM.

Beberapa filsuf yang dikenal pada saat itu seperti Thales, Plato, Aristoteles, dan lainnya. Secara etimologis, kata filsafat berasal dari dua kata, yaitu “philia” yang berarti “cinta” atau

“persahabatan”, dan “sophia” yang berarti “kebenaran” atau “kebijaksanaan”. Jadi filsafat bisa dikatakan sebagai usaha untuk mencari kebenaran atau kebijaksanaan.

Dalam perkembangannya, masing-masing disiplin ilmu memiliki filsafatnya sendiri. Termasuk didalamnya sejarah. Dalam disiplin ilmu sejarah kita mengenal Filsafat Sejarah, yang bisa dikatakan sebagai pengamatan akan kejadian-kejadian dalam sejarah atau teori tentang jatuh bangunnya suatu peradaban (gerak peradaban) berdasarkan kajian filosofis.

Walaupun banyak tokoh-tokoh filsafat tidak secara eksplisit menyatakan bahwa mereka adalah seorang “filsuf sejarah”, namun kita bisa melacak pemikiran filosofis mereka tentang sejarah melalui karya-karyanya.

Salah satu dari sekian banyak filsuf itu adalah Karl Heinrich Marx (1818-1883). Marx merupakan tokoh besar yang menyumbangkan banyak pikiran-pikirannya dalam bidang

ekonomi, politik, agama, bahkan sejarah. Tokoh yang terkenal dengan karya-karyanya yang “garang” dan ideologinya yang “revolusioner” ini berjasa dalam memberikan sebuah ideologi bagi perjuangan kaum buruh sedunia, sampai sekarang. Walaupun melalui serangkaian

modifikasi yang tak dikehendakinya, namun Marxisme tetap merupakan motor penggerak bagi kaum tertindas, seperti yang pernah dikatakan dalam pamfletnya yang dikenal dengan “pamflet paling garang yang pernah ditulis manusia1”, “kaum buruh sedunia, bersatulah!”2

Pandangan Marx tentang sejarah bisa dilihat dari teorinya yang terkenal, yaitu Materialisme Dialektis dan Materialisme Historis. Secara umum, Materialisme Dialektis bisa dikatakan sebagai sebuah “antitesis” dari pendapat Hegel (1770-1831) yang menyatakan bahwa sejarah merupakan pertentangan ide-ide untuk menuju apa yang disebutnya sebagai roh absolut.

1 Agama Marxis, hal 34

(3)

seperti yang dikatakan Hegel. Mengenai hal ini Marx berkata bahwa “bukanlah kesadaran manusia yang menentukan adanya mereka, akan tetapi sebaliknya. Adanya mereka dalam penghidupan sosiallah yang menentukan kesadaran mereka” (Ebenstein 2006:6). Karena itulah filsafat Marx disebut dengan ‘materialisme dialektik’ (K. Bertens, dalam Santoso, Listiyono, dkk 2010: 42). Pandangan inilah yang menurutnya menentukan gerak sejarah.

(4)

BAB 2

Mengenal Karl Marx

Untuk mengetahui secara komprehensif mengenai filsafat Marx, kita tidak mungkin melihatnya dari satu sisi saja. Pengetahuan tentang latar belakang Karl Marx dan latar politik kehidupan awalnya sangat menentukan pikiran-pikirannya dikemudian hari. Latar ini sangat membantu untuk memahami lebih jelas mengenai gagasan-gagasan Karl Marx tentang ekonomi, politik, dan sejarah.

2.1 kehidupan Karl Marx

Karl Marx lahir di Trier, Prusia, pada tanggal 5 Mei 1818. Ayahnya seorang pengacara, yang merupakan ciri khas kehidupan kelas menengah. Orang tuanya adalah dari pendeta Yahudi (rabbi). Tetapi, karena alasan bisnis ayahnya menjadi penganut ajaran Luther ketika Karl Marx masih sangat muda. Pendidikan tinggi diperolehnya dari Universitas Bohn untuk bidang hukum, kemudian pindah dan menerima gelar doktor filsafat dari Universitas Jena di Berlin, universitas yang dipengaruhi oleh pikiran-pikiran Hegel. Disinilah Hegel berperan sebagai guru pertama bagi Marx, walau secara tidak langsung. Pikiran Hegel menjadi dasar bagi pemikiran Marx dikemudian hari.

Setelah tamat dari universitas ia menjadi penulis untuk sebuah koran liberal radikal (Allgemeine Literature-Zeitung) dan dalam tempo sepuluh bulan ia menjadi editor kepala koran itu. Tetapi karena pendirian politiknya, koran itu kemudian di tutup pemerintah. Pandangan politik Karl marx terkenal radikal hingga ia banyak mendapat tentangan, dan ancaman yang membuatnya berkelana ke Paris. Di Paris ia bertemu donatur dan kolabolatornya yakni Frederich Engels (seorang yang berpadangan politik serupa). Hubungan keduanya sangat erat terutama dalam pandangan politik dan karya-karya tulis yang dihasilkan. Engels anak penguasa pabrik tekstil menjadi seorang sosialis yang mengkritik kondisi kehidupan yang di hadapi kelas buruh. Tahun 1844 Marx dan Engels mengadakan diskusi panjang di sebuah Café terkenal di Paris dan meletakkan landasan kerja untuk bersahabat seumur hidup. Selama periode itu Marx

(5)

pada tahun 1844 yang menandakan perhatiannya terhadap bidang ekonomi semakin meningkat. Setelah beberapa waktu tinggal di Paris, Marx kemudian pindah ke Brussel (Belgia) hingga tahun 1847 menerbitkan karya besarnya berjudul Kemiskinan filsafat (The Poverty of Philosophy). Setahun kemudian (1848) ia bersama Friederich Engels menerbitkan buku paling populer Communist Manifesto (manifesto komunis). Marx kemudian hidup berpindah-pindah lagi akibat ajaran dan ideologi kontroversialnya. Setelah di usir dari Brussel, kembali lagi ke Prancis tepatnya di kota Cologne, kemudian menetap di London hingga meninggal.

Marx banyak menulis buku tentang ekonomi dan politik di London antara lain Das Kapital, terbit di tahun 1867. Jilid pertama diterbitkan tahun 1867; kedua jilid lainnya diterbitkan sesudah ia hidup dalam kemiskinan, membiayai hidupnya secara sederhana dari honorarium tulisannya dan bantuan dana dari Engels. Tahun 1864 Marx terlibat kembali dalam kegiatan politik, bergabung dengan “The International”, sebuah gerakan buruh internasional. Ia segera menonjol dalam gerakan itu dan mencurahkan perhatian selama beberapa tahun untuk gerakan itu. Ia mulai mendapat popularitas, baik sebagai pemimpin internasional maupun sebagai penulis

das Kapital. Perpecahan gerakan Internasional tahun 1876, kegagalan berbagai gerakan revolusioner dan penyakit-penyakit, akhirnya membuat Mark ambruk.Namun saat Marx

meninggal tahun 1883, Jilid kedua dari buku tersebut belum selesai yang kemudian disusun dan diterbitkan oleh Engels dengan berpedoman pada naskah dan draft yang ditinggalkan Marx.

Kehidupan Marx banyak dipengaruhi oleh kondisi Eropa saat itu seperti revolusi industri, lahirnya usaha kritik Injil seperti yang dilakukan David Friedrich Strauss (1808-1874), ketimpangan sosial di Eropa akibat munculnya kaum pemodal, dan sebagainya. Mengenai hal ini Hashem. O (2008: 35) menyebutkan bahwa : “Dengan demikian jelaslah alam pikiran Marx diwarnai oleh revolusi industri di Inggris, Revolusi politik dan aliran sosialis di Prancis serta revolusi intelektual di Jerman yang menggugat keaslian Bibel sebagai pencatatan kata-kata Tuhan.” Marx menganggap bahwa gereja telah gagal mengatasi problem sosial Eropa pasca revolusi industri. Bukannya menghindari penghisapan manusia oleh manusia, gereja justru dipakai sebagai alat golongan berkuasa untuk mengeruk tenaga kaum buruh.

2.2 Karya-karya Karl Marx

(6)

Selama hidupnya, Marx banyak menulis buku yang mewakili pandangannya, baik buku yang ditulisnya sendiri maupun yang ditulisnya bersama dengan Engels. Beberapa buku itu diantaranya:

 A Contribution to the Critique of Hegel’s Philosophy of Right (1843)

 The Economic and Philosophic Manuscripts (1844)

 De Heilige Familie (Keluarga Suci). Ditulis bersama Engels (1845)

 The German Ideology (1846)

 The Poverty of Philosophy (1847)

 Manifest der Komunistischen Partei - Manifesto Partai Komunis (1848)

 Das Kapital (1867)

(7)

Pandangan Karl Marx tentang sejarah

Telah disinggung sebelumnya bahwa basis pemikiran Marx bersumber pada pikiran Hegel tentang dialektika yang diwujudkannya dalam roh absolut. Marx menerima dialektika sebagai sebuah pertentangan unsur-unsur yang ada guna mencapai kebenaran, namun menolak bahwa pertentangan itu terjadi dalam dunia ide. Menurutnya pertentangan terjadi dalam dunia materi (benda). Karena menurut Marx semua prestasi dan pencapaian manusia selama ini terjadi akibat keadaan sosial manusia, dan interpretasinya terhadap realitas alamnya.4

Hegel sendiri dalam pikirannya banyak memadukan unsur-unsur kristiani untuk

membentuk dialektikanya. Pikirannya tentang roh absolut sepertinya adalah kepanjangan tangan tidak langsung terhadap konsepsi roh kudus. Hal ini pernah dia singgung dalam catatannya ketika pertempuran Jena 1806 ketika Napoleon mengalahkan Prussia. Dalam catatannya tertanggal 13 Oktober 1806 ia menulis: “saya melihat kaisar, Jiwa Dunia, keluar kota untuk mengamati keadaan. Sungguh merupakan pengalaman mengangumkan melihat satu orang berkonsentrasi ke satu titik, melebar ke seluruh dunia dan menguasainya”.5 Menurut Hegel,

Napoleon adalah realisasi diri Tuhan. Pandangan Hegel ini nantinya dia bakukan dalam konsepsinya akan negara.

Kembali ke pikiran Marx, dia melihat bahwa bukan idelah yang menentukan jalannya sejarah, namun kekuatan-kekuatan ekonomi yang berperan. Sejarah adalah pertentangan kelas-kelas ekonomi, penindas melawan tertindas, majikan lawan buruh. Karena pikirannya yang bersifat serba-benda ini, maka teorinya adalah Materialisme dialektis. Materialisme dialektis berarti proses dialektika berlangsung pada tataran benda (materi), bukan tataran ide. Selain materialisme dialektis, Marx juga merumuskan Materialisme Historis, yang menurut penulis menerangkan pandangan Marx tentang sejarah. Menurutnya bahwa kenyataan atau pergerakan sejarah terjadi pada tataran materi, dan merupakan pertentangan dari hal-hal yang bersifat serba-benda (Marx memakai kata ‘perjuangan kelas’). Mengenai hal ini Marx menulis dalam

Manifesto Komunis (1848) “Sejarah dari semua masyarakat yang ada sekarang ini adalah sejarah

4 Marx’s Critique of Hegel's Philosophy of Right (1843). Part 1b The State as Manifestation of Idea or product of man? http://www.marxists.org/archive/marx/works/1843/critique-hpr/index.htm

(8)

perjuangan kelas. Seluruh masyarakat makin lama makin terpecah menjadi dua kubu besar yang langsung berhadap-hadapan, kelas borjuis dan kelas proletar”6

Dengan melihat pandangan Marx tentang sejarah, kita bisa merumuskan gerak sejarah menurut filsafat Marxis. Karena basis pemikiran Marx berangkat dari pandangan Hegel, maka bisa dikatakan kalau gerak sejarah menurut filsafat Marx dan Hegel itu serupa, yaitu linier progresif. Linier progresif berarti jika digambarkan dalam sebuah kurva, sejarah menurut filsafat Marxis adalah sebuah garis lurus yang mengalami kemajuan (keatas).

Menurut Marx tujuan dari sejarah adalah membuktikan kebenaran-kebenaran (menuju kearah kemajuan). Sejarah itu ada untuk mengabdi sebagai tindak penggenapan santapan teori - membuktikan teori yang telah ada (Marx, Engels 2005: 108)

(9)

Ebenstein, William. 2006. Isme-isme yang mengguncang dunia. Narasi : Jakarta

Hashem, O. 2008. Agama Marxis: asal-usul ateisme & penolakan kapitalisme. Nuansa : Surabaya

Marx, Karl. Engels, Frederick. 2005. Keluarga Suci. Jakarta: Hasta Mitra Santoso, Listiyono, dkk. 2010. Epistemologi Kiri. Arruzz Wacana : Yogyakarta Marxist.org, 2000, Critique of Hegel’s Philosophy of Right,

http://www.marxists.org/archive/marx/works/1843/critique-hpr/index.htm (online), diakses tanggal 27 Februari 2012

Marxist.org, 2000, Manifesto of the Communist Party,

Referensi

Dokumen terkait