• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Computer Anxiety Terhadap Keahl

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh Computer Anxiety Terhadap Keahl"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)
(4)

PENGARUH COMPUTER ANXIETY TERHADAP KEAHLIAN PEMAKAI DALAM PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER

Riswan Yudhi Fahrianta

Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIE Indonesia) Banjarmasin Jln. H. Hasan Basry no. 9-11 Banjarmasin 70123

Abstract: The study aimed to test whether the level of fear, anxiety, or fear of one’s presence has an influence on the level of IT skills in using computers for computer-based information systems. So that it can provide empirical evidence and confirmation with consistent previous research results and can be used as input for the organization which is and will develop computer-based information systems. The results support the hypothesis that computer users with low computer anxeity shows the level of computer expertise higher than computer users who have a higher anxeity computer.

Keywords: computer anxiety, keahlian pemakai komputer

PENDAHULUAN

Empat macam teknologi yang perkem-bangannya relatif menonjol saat ini, yaitu: teknologi pemanufakturan, teknologi transpor-tasi, teknologi komunikasi dan teknologi kom-puter. Penggabungan dari kedua macam tek-nologi yang disebut belakangan, bersama-sama dengan otomatisasi kantor selanjutnya dikenal dengan istilah teknologi informasi (Indriantoro, 1996). Bahkan istilah teknologi informasi (TI) sekarang ini menjadi lebih populer dan menggantikan posisi sistem informasi (SI), meskipun keduanya sering di-gunakan secara bergantian dengan maksud sama, tetapi SI sebenarnya mempunyai pengertian yang lebih luas. SI tidak hanya ber-kaitan dengan perangkat keras dan perangkat lunak, tetapi meliputi juga perpaduan antara pengetahuan, metode dan teknik penggunaan informasi dalam dunia bisnis (Zaccharo, 1993 dalam Indriantoro, 2000).

Perkembangan teknologi komputer dan teknologi yang lain tersebut mendorong trans-formasi lingkungan bisnis, sehingga kondisi pasar pada berbagai skala (lokal, regional atau global) menjadi semakin kompetitif. Setiap pelaku bisnis berusaha menerapkan strategi efisiensi atau diferensiasi produk untuk mem-peroleh keunggulan bersaing dan lebih

ber-orientasi pada pencapaian laba dalam jangka panjang (Porter, 1980). Kehadiran dan pesat-nya perkembangan TI dewasa ini memberikan berbagai kemudahan pada kegiatan bisnis dalam lingkungan yang semakin penuh ketidakpastian. Peran TI sebagai alat bantu dalam pembuatan keputusan bisnis pada ber-bagai fungsi maupun peringkat manajerial, menjadi semakin penting bagi pengelola bisnis karena kemampuan TI dalam mengurangi ketidakpastian.

(5)

JURNAL MANAJEMEN DAN AKUNTANSI

142

PENGARUH COMPUTER ANXIETY TERHADAP KEAHLIAN PEMAKAI DALAM PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER

Riswan Yudhi Fahrianta

telah terjadi perubahan sifat dan orientasi pemanfaatan teknologi komputer.

Berbagai hasil penelitian memberikan bukti empiris mengenai semakin meningkat-nya peran teknologi komputer untuk berbagai kepentingan bisnis. Misalnya, Lovata (1990) dalam Indriantoro (2000) meneliti kemampuan teknologi komputer sebagai alat bantu dalam berbagai teknik audit. Teknologi komputer memberi dukungan pada sistem penyedia informasi yang bermanfaat dan diperlukan untuk meningkatkan kemampuan auditor melakukan analisis yang lebih kompleks (Baldwin dan Morgan 1993 dalam Indriantoro, 2000). Fungsi teknologi komputer sebagai alat bantu pembuatan keputusan juga dapat me-ningkatkan pengetahuan dan pengalaman auditor junior (Eining dan Dorr, 1991 dalam Indriantoro, 2000). Di bidang permanu-fakturan, aplikasi komputer digunakan untuk peningkatan produktivitas dan pengendalian mutu produk melalui computer aided design dan computer integrated manufac-turing (Bennett et al., 1987 dalam Indriantoro, 2000).

Penelitian Sengupta dan Te’eni (1993) dalam

Indriantoro (2000) menemukan bahwa aplikasi komputer dapat meningkatkan kualitas pem-buatan keputusan para manajer. Teknologi komputer juga berpengaruh pada dunia pen-didikan, seperti yang dikemukakan oleh Alvin et al. (1996) dalam Indriantoro (2000) bahwa aplikasi komputer memungkinkan penerapan collaborative telelearning.

Selanjutnya studi yang dilakukan oleh Myers (1994) dalam Indriantoro (2000) mene-mukan sejumlah hambatan dan bahkan kega-galan dalam penerapan TI. Penelitian Sabher-wal dan Elam (1995) dalam Indriantoro (2000), menginventarisasi berbagai problema-tik berdasarkan sejumlah temuan peneliti yang lain dan mengusulkan alternatif untuk menga-tasi problematik yang kemungkinan dapat mengganggu keberhasilan penerapan TI pada suatu organisasi. Beberapa problematik dian-taranya adalah kompleksitas dan ketidakje-lasan tujuan sistem informasi yang dikem-bangkan, tidak adanya dukungan mana-jemen puncak, kelemahan desain sistem, kurangnya pengalaman dan sikap negatif pe-makai, serta adanya masalah keterbatasan dana. Faktor

dukungan, keterlibatan, dan partisipasi manajemen pada berbagai tingkatan dan sikap pemakai merupakan faktor yang mem-pengaruhi akseptasi TI oleh pemakainya, sehingga perusahaan dapat mengimplemen-tasikan TI dengan baik (Jarvenpaa dan Ives, 1991; Raghunatan dan Raghunathan, 1988; dan Thompson et al.,1991 dalam Indriantoro (2000).

Dari berbagai faktor yang mempunyai pengaruh terhadap pemanfaatan TI, aspek si-kap pemakai merupakan faktor penting yang memberi kontribusi terhadap akseptasi TI (Igbaria, 1994 dalam Indriantoro, 2000). Se-tiap individu akan bersikap positif (attitude) terhadap kehadiran teknologi komputer, jika mereka merasakan manfaat (perceive useful-ness) TI untuk meningkatan kinerja dan produktivitas. Manfaat yang dirasakan oleh pemakai komputer disebabkan oleh kemam-puan setiap individu mengoperasikan kompu-ter dan karena adanya dukungan organisa-sional. Setiap individu yang mengalami kege-lisahan terhadap komputer (computer anxiety) akan merasakan manfaat komputer yang lebih sedikit dibandingkan dengan mereka yang tidak mengalami kegelisahan terhadap keha-diran komputer.

Berdasarkan hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa teknologi komputer telah dimanfaatkan untuk berbagai kepentingan bisnis. Manfaat yang diperoleh dari penggu-naan komputer antara lain: penghematan dan ketepatan waktu, peningkatan produktivitas, akurasi informasi yang lebih baik. Penelitian-penelitian yang telah dikemukakan di muka, meskipun demikian, menggunakan setting di negara lain di luar Indonesia. Sedangkan, penelitian-penelitian empiris yang berkaitan dengan pemanfaatan teknologi komputer di Indonesia masih relatif sedikit. Hal tersebut memberikan dorongan bagi peneliti untuk meneliti penggunaan teknologi komputer untuk berbagai kepentingan bisnis di Indonesia.

(6)

teknologi komputer tergantung pada karak-teristik teknologi komputer dan tingkat skill atau expertise dari individu pemakai kom-puter. Keahlian yang dimiliki pemakai kompu-ter, tidak saja dapat meningkatkan kinerja organi-sasional secara keseluruhan, melainkan juga dapat meningkatkan kinerja individual (Harrison dan Reiner, 1992 dalam Indriantoro (2000). Oleh karena itu, tercapainya pening-katan kinerja membutuhkan dukungan ber-bagai peringkat manajemen dan pemakai kom-puter secara individual. Adanya perbedaan karakteristik pemakai secara individual, misal: faktor sikap, demografi, kecemasan, dan cara berpikir, dapat menyebabkan perbedaan peri-laku kerja dan pencapaian kinerja individual (Terborg 1981 dalam Indriantoro, 2000).

Pemanfaatan TI dapat meningkatkan kinerja organisasional jika didukung dengan keahlian pemakai komputer. Seperti yang di-kemukakan oleh Nelson (1996) dalam Indrian-toro (2000), bahwa diterimanya teknologi komputer tergantung pada karakteristik TI dan tingkat skill atau expertise dari individu pemakai komputer. Keahlian yang dimiliki pemakai komputer tidak saja dapat mening-katkan kinerja organisasional secara keseluru-han, melainkan juga dapat meningkatkan kinerja individual (Harrison dan Reiner, 1992 dalam Indriantoro, 2000). Oleh karena itu, mengingat pentingnya faktor karakteristik individual pemakai komputer dalam peman-faatan TI, penelitian ini memberikan perhatian pada aspek computer anxiety pemakai dan pengaruhnya terhadap keahlian pemakai da-lam menggunakan komputer.

Penelitian ini adalah replikasi pene-litian yang dilakukan oleh Indriantoro (2000), 54 responden pemakai komputer yang mem-punyai profesi sebagai dosen jurusan akun-tansi pada perguruan tinggi swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta. Hasil penelitian menun-jukkan bahwa computer anxiety mempunyai hubungan negatif yang signifikan terhadap ke-ahlian seseorang dalam menggunakan kom-puter.

Penelitian yang dilakukan oleh Indriantoro (2000) tersebut hanya dilakukan terhadap dosen jurusan akuntansi, sehingga menurut penulis penelitian terhadap

peng-gunaan teknologi komputer untuk kepentingan bisnis perlu dilakukan terutama pada bisnis yang sarat dengan penggunaan teknologi komputer tersebut, yang salah satunya adalah perusahaan perbankan.

Definisi computer anxiety adalah suatu kecendrungan seseorang menjadi susah, kha-watir atau ketakutan mengenai penggunaan TI pada masa sekarang dan masa yang akan datang (Igbaria dan Pasuraman, 1989 dalam Indriantoro, 2000).

Berdasar uraian di atas, maka pene-litian ini bertujuan untuk menguji apakah tingkat kekhawatiran, kecemasan, atau keta-kutan seseorang terhadap kehadiran TI mem-punyai pengaruh terhadap tingkat keahliannya dalam menggunakan komputer pada karyawan bank swasta di Banjarmasin. Diharapkan hasil penelitian ini dapat memberikan bukti empiris dan konfirmasi konsistensi dengan hasil-hasil penelitian sebelumnya dan dapat digunakan sebagai masukan bagi organisasi yang sedang dan akan mengembangkan sistem informasi berbasis komputer.

TINJAUAN PUSTAKA

Penggunaan Teknologi Informasi dalam Bisnis Perbankan

(7)

JURNAL MANAJEMEN DAN AKUNTANSI

144

PENGARUH COMPUTER ANXIETY TERHADAP KEAHLIAN PEMAKAI DALAM PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER

Riswan Yudhi Fahrianta

Peran ketiga bidang aplikasi tersebut sama pentingnya bagi kemajuan suatu bank. Bahkan dalam era perdagangan bebas dimana tingkat persaingan semakin tinggi, peran teknologi informasi dalam mendukung ope-rasional perbankan sangat menentukan pen-capaian suatu sukses. Dalam perdagangan bebas, dengan tidak adanya batasan-batasan geografis dan adanya standarisasi kebijak-sanaan perdagangan dunia, maka kondisi demikian akan menciptakan peluang yang sama bagi setiap pelaku dalam pasar bebas ter-sebut (Munir, 1997). Untuk memanfaatkan peluang tersebut, maka hanya pelaku-pelaku pasar yang memiliki kemampuan untuk mengakses informasi dengan cepat dan tepat akan memiliki kemungkinan untuk meraih sukses yang lebih baik dari pesaing-pesaingnya. Dengan kata lain, peran teknologi informasi dalam bisnis, khususnya perbankan tidak pelak lagi akan merupakan sebuah keunggulan kompetitif (Porter dan Millar, 1985; Callon, 1996).

Berdasarkan ketiga bidang pe-manfaatan teknologi informasi tersebut di atas, tampaknya perkembangan teknologi informasi yang berkaitan dengan bidang yang langsung berhubungan dengan nasabah untuk mem-berikan pelayanan atau sering disebut dengan sistem delivery (delivery system), yang ber-kembang sangat pesat di Indonesia yang mem-bawa pengaruh terhadap sistem pembayaran yang selama ini telah berjalan (Munir, 1997).

Teknologi informasi mempunyai peran penting dalam transformasi struktur dan proses organisasional terutama sejak teknologi komputer mulai digunakan untuk kepentingan bisnis pada tahun 1950-an (Robey dan Aze-vedo, 1995 dalam Indriantoro, 2000).

Aspek Perilaku Dalam Pengembangan Teknologi Informasi

Pengembangan TI memerlukan pe-rencanaan dan implementasi yang hati-hati untuk menghindari adanya penolakan terhadap sistem yang dikembangkan. Perubahan dari sistem manual ke sistem yang berbasis kom-puter bagaimanapun tidak hanya terkait deng-an aspek perdeng-angkat keras ddeng-an perdeng-angkat lunak teknologi komputer, melainkan terkait juga

dengan perubahan perilaku secara individual dan organisasional dalam melaksanakan pekerjaannya (Boodnar dan Hopwood, 2000). Pemakai komputer merupakan salah satu kom-ponen yang menentukan keberhasilan suatu perusahaan memanfaatkan teknologi kom-puter.

Menurut Lawrence dan Lowe (1993) dalam Indriantoro (2000), untuk menghindari kemungkinan adanya penolakan terhadap pe-rubahan (resistance to change), perencanaan dan implementasi pengembangan TI memer-lukan partisipasi pemakai. Faktor lain yang mempengaruhi keberhasilan pengembangan TI menurut oleh Szajna dan Scammell (1993) dalam Indriantoro (2000) tergantung pada ke-sesuaian harapan antara analis sistem, pema-kai, sponsor dan pelanggan (customer). Pene-litian terhadap faktor-faktor yang mempenga-ruhi pemanfaatan TI di-motivasi karenanya adanya ketidaksesuaian antara hasil penerapan TI dengan yang di-harapkan (Compeau dan Higgins, 1995 dalam Indriantoro, 2000).

(8)

men-dorong sikap negatif untuk menolak penggunaan TI.

Pengaruh Sikap Terhadap Perilaku Individual

Thompson et al. (1991) dalam Indriantoro (2000) mengemukakan pentingnya aspek perilaku dalam penerapan TI. Hal tersebut berdasarkan hasil penelitian empiris yang menguji pengaruh perilaku individual pemakai terhadap penggunaan personal computer (PC) dengan landasan teori yang di-usulkan oleh Triandis (1971; 1980, dalam Indriantoro, 2000). Sikap (attitude) sebagai salah satu aspek yang mempengaruhi perilaku individual, disamping norma sosial (social norm) dan kebiasaan (habits), mencerminkan pendirian seseorang untuk mengerjakan se-suatu. Sikap seseorang terdiri atas komponen kognisi, afeksi, dan komponen-komponen yang berkaitan dengan perilaku (behavioral components). Kognisi berkaitan dengan pe-ngenalan seseorang terhadap lingkungannya sehingga menimbulkan suatu keyakinan (beliefs). Dalam konteks penerapan personal computer (PC), kemungkinan seseorang mem-punyai keyakinan bahwa penggunaan kom-puter akan memberikan manfaat bagi dirinya dan pekerjaannya. Keyakinan tersebut di-peroleh berdasarkan pada pengetahuan dan pengalamannya. Menurut Triandis (1980, dalam Indriantoro, 2000), kognisi berkaitan dengan konsekuensi yang diperoleh pada masa depan yang diyakini seseorang sehingga men-dorong untuk bersikap. Afeksi berkaitan dengan perasaan atau emosi seseorang yang mempunyai konotasi suka atau tidak suka. Sikap positif seseorang untuk menerima kehadiran teknologi komputer karena di-landasi oleh keyakinan bahwa teknologi kom-puter dapat membantu pekerjaannya, sehingga ia mempunyai perasaan suka terhadap tekno-logi komputer. Keinginan merupakan kompo-nen sikap yang lain, yang mempengaruhi sikap seseorang. Sikap positif seseorang ter-hadap teknologi komputer karena didorong oleh keinginan yang kuat untuk mem-pelajarinya.

Ketiga komponen sikap, yaitu kognisi, afeksi dan keinginan, pada dasarnya saling

terkait antara satu dengan yang lain. Ke-inginan seseorang dipengaruhi oleh keyakinan akan konsekuensi masa yang akan datang, sehingga menimbulkan afeksi seseorang yang dinyatakan dengan sikap suka atau tidak suka terhadap teknologi komputer. Ketidaksukaan seseorang terhadap teknologi komputer dapat disebabkan oleh ketakutan dan kekhawatiran yang bersangkutan terhadap penggunaan TI atau disebut dengan computer anxiety (Igbaria dan Pasuraman, 1989 dalam Indriantoro, 2000). Penelitian ini selanjutnya menitik-beratkan pada aspek computer anxiety sebagai refleksi sikap seseorang terhadap TI.

Pengaruh Sikap dan Computer Anxienty

Terhadap Keahlian

Arndt et al. (1985) dalam Indriantoro (2000) yang melakukan penelitian mengenai hubungan antara sikap individual pemakai dengan pemanfaatan teknologi komputer, me-nemukan bahwa sikap individu yang memiliki sikap positif terhadap komputer lebih banyak menggunakan komputer dibandingkan subyek yang mempunyai sikap negatif. Sikap pemakai komputer (computer attitudes) menunjukan reaksi atau penilaian seseorang terhadap kom-puter berdasarkan kesenangan atau ketidak-senangannya terhadap komputer. Sikap pema-kai terhadap komputer, dengan demikian, dapat bersifat positif atau bersifat negatif. Sikap pemakai terhadap komputer dapat pula ditunjukkan dengan sikap optimistik pemakai bahwa komputer sangat membantu dan ber-manfaat untuk mengatasi masalah atau peker-jaannya (Nickell dan Pinto, 1986 dalam Indriantoro, 2000). Sebaliknya, sikap dapat pula ditunjukkan dengan sikap pesimistik pemakai bahwa komputer dapat mendominasi dan mengendalikan kehidupan manusia, se-hingga menyebabkan pemakai terintimidasi oleh komputer.

(9)

JURNAL MANAJEMEN DAN AKUNTANSI

146

PENGARUH COMPUTER ANXIETY TERHADAP KEAHLIAN PEMAKAI DALAM PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER

Riswan Yudhi Fahrianta

Indriantoro (2000) mengemukakan penelitian yang dilakukan oleh Lyod dan Gressard (1984) dan Igbaria (1990), yang menunjukkan bahwa sikap pemakai individual terhadap komputer mempunyai pengaruh terhadap ke-ahlian individual pemakai komputer dan keberhasilan suatu sistem informasi. Sikap terhadap komputer mempunyai pengaruh ter-hadap keyakinan terter-hadap kemampuan diri dan kinerja individual yang bersangkutan (Heinssen et al., 1987 dalam Indriantoro, 2000).

Penelitian Igbaria dan Pasuraman (1989), Webster et al. (1990), dan Igbaria (1994) dalam Indriantoro (2000) menemukan bahwa kecenderungan seseorang menjadi susah, khawatir atau ketakutan terhadap kom-puter (comkom-puter anxiety) di masa sekarang dan di masa yang akan datang mempunyai penga-ruh negatif terhadap sikap pemakai terhadap teknologi komputer. Oleh karena sikap negatif pemakai mengakibatkan rendahnya tingkat keahlian dalam penggunaan komputer, tinggi-nya computer anxiety mempunyai pengaruh negatif terhadap keahlian yang bersangkutan dalam menggunakan komputer.

Hasil penelitian Heinssen et al. (1987) dalam Indriantoro (2000) menyatakan bahwa mahasiswa dengan computer anxiety yang lebih tinggi mempunyai kepercayaan pada kemampuan diri sendiri dan kinerja yang lebih rendah dibandingkan dengan mereka yang memiliki computer anxiety yang lebih rendah. Dalam kaitannya dengan pelaksanaan tugas dengan menggunakan komputer, subyek dengan computer anxiety yang lebih tinggi memerlukan waktu yang lebih lama untuk menyelesaikan tugas tersebut dibandingkan dengan subyek yang memiliki computer anxiety yang lebih rendah.

Hasil penelitian Rifa dan Gudono (1999) dalam Indriantoro (2000) yang menguji pengaruh computer anxiety dari 164 karyawan perusahaan perbankan terhadap keahliannya dalam menggunaan komputer mendukung temuan penelitian Harrison dan Rainer (1992) dan Heinssen et al. (1987), bahwa computer anxiety mempunyai hubungan negatif yang signifikan terhadap keahlian seseorang dalam menggunakan komputer.

Penelitian yang dilakukan oleh Indriantoro (2000), pada 54 responden pema-kai komputer yang mempunyai profesi sebagai dosen jurusan akuntansi pada perguruan tinggi swasta di Daerah Istimewa Yogyakarta, me-nunjukkan bahwa computer anxiety mem-punyai hubungan negatif yang signifikan ter-hadap keahlian seseorang dalam menggunakan komputer.

Hubungan variabel computer anxiety dan keahlian komputer dalam penelitian ini, berdasarkan temuan penelitian-penelitian se-belumnya dihipotesiskan, bahwa computer anxiety mempunyai pengaruh negatif terhadap keahlian dalam menggunakan komputer. Sehingga hipotesis yang akan diuji secara em-piris dalam penelitian ini dinyatakan dengan rumusan, bahwa pemakai komputer dengan computer anxiety yang lebih rendah menun-jukkan tingkat keahlian komputer yang lebih tinggi daripada pemakai komputer yang mem-punyai computer anxiety yang lebih tinggi.

METODE PENELITIAN

Populasi dan Sampel Penelitian

Obyek penelitian ini adalah karyawan bank swasta yang beroperasi di Kota Banjar-masin, yaitu karyawan yang menggunakan komputer untuk pengolahan data akuntansi. Alasan pemilihan obyek karyawan bank karena perusahaan tersebut merupakan salah satu perusahaan yang menggunakan dan sarat dengan penggunaan teknologi informasi. Pengambilan sampel atas dasar metode purposive dengan teknik jugdment sampling, yaitu dengan menyebarkan 5-10 kuesioner kepada karyawan bagian akuntansi yang menggunakan komputer dalam pengolahan data akuntansi pada bank yang beroperasi di Banjarmasin ibukota propinsi Kalimantan Selatan.

Variabel dan Pengukurannya

(10)

oleh Heinssen et al. (1987), yang juga digunakan oleh Indriantoro (2000). Instrumen ini terdiri atas 19 pertanyaan, dimana res-ponden akan diminta untuk memilih jawaban dari pertanyaan dalam bentuk skala interval lima poin. Tingkat computer anxiety yang rendah dinyatakan dengan skala rendah (1) dan skala tinggi (5) menyatakan tingkat computer anxiety yang tinggi.

Sedangkan variabel keahlian komputer diukur dengan instrumen Computer Self-Effacy Scale (CSE) yang dikembangkan oleh Murphy et al. (1989) yang berisi 32 per-tanyaan yang juga digunakan Indriantoro (2000). Respoden diminta memilih jawaban dalam bentuk skala interval lima poin, yang menunjukkan tingkat keahlian yang rendah untuk skala rendah (1) dan menunjukkan tingkat keahlian yang tinggi untuk skala tinggi (5).

Pengujian Hipotesis

Hipotesis penelitian diuji dengan menggunakan metode statistik regresi seder-hana. Variabel independen (computer anxiety) diekpektasikan akan mempengaruhi variabel dependennya (keahlian komputer). Jika

koefi-sien β negatif dan signifikan, berarti semakin

rendah computer anxiety pemakai ber-hubungan dengan semakin tinggi keahlian pemakai dalam menggunakan komputer. Atau sebaliknya, semakin tinggi computer anxiety pemakai berhubungan dengan semakin rendah keahlian pemakai dalam menggunakan kom-puter. Sebaliknya, hipotesis penelitian ini akan

ditolak jika koefisien β positif dan signifikan

yang berarti bahwa semakin tinggi computer anxiety pemakai semakin tinggi pula keahlian pemakai dalam menggunakan komputer atau sebaliknya jika computer anxiety pemakai yang rendah.

Sebelum dilakukan pengujian hipo-tesis, data hasil penelitian terlebih dahulu diuji kualitas data yang terdiri dari uji reliabilitas data dan validitas data, dan uji normalitas data.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Dari 40 kuesioner yang kembali dan layak dipakai, responden pria sebanyak 16 orang dan wanita sebanyak 24 orang. Umur responden yang berkisar kurang dari 24 tahun sebanyak 4 orang, antara 25 tahun sampai dengan 30 tahun sebanyak 18 orang dan antara 31 tahun sampai dengan 35 tahun sebanyak 10 orang, serta lebih dari 35 tahun sebanyak 8 orang. Dari semua jenjang pendidikan yang ada diketahui paling banyak responden ber-pendidikan S1 sebanyak 28 orang, sisanya jenjang pendidikan diploma dan SMU/SMK Untuk pengalaman kerja terdapat 11 orang yang mempunyai pengalaman kurang dari 5 tahun, 18 orang antara 6 sampai dengan 10 tahun, 6 orang antara 11 sampai dengan 15 tahun, dan lebih dari 15 tahun sebanyak 5 orang. Sedangkan untuk pengalaman meng-gunakan komputer terdapat 10 orang yang memiliki kurang dari 5 tahun, 21 orang antara 6 sampai dengan 10 tahun, dan 9 orang antara 11 tahun sampai dengan 15.

Statistik deskriptif jawaban responden terhadap instrumen yang mengukur computer anxeity pemakai, Rata-rata responden mempu-nyai computer anxiety yang rendah ditunjuk-kan dengan skor rata-rata 41,50 dengan devi-asi standar 5,018. Berarti rata-rata responden menjawab butir-butir pertanyaan dalam varia-bel ini dengan skor terendah. Sedangkan statistik deskriptif jawaban responden terha-dap instrumen yang mengukur keahlian kom-puter menunjukkan bahwa semua responden menjawab dari skor terendah sam-pai dengan skor tertinggi untuk semua butir pertanyaan. Responden umumnya mempunyai tingkat keahlian komputer yang tinggi, yaitu ditun-jukkan dengan skor rata-rata 124,58 dengan deviasi standar 12,418.

(11)

JURNAL MANAJEMEN DAN AKUNTANSI

148

PENGARUH COMPUTER ANXIETY TERHADAP KEAHLIAN PEMAKAI DALAM PENGGUNAAN SISTEM INFORMASI BERBASIS KOMPUTER

Riswan Yudhi Fahrianta

variabel keahlian komputer, dari 32 butir pertanyaan, hanya 28 butir yang valid untuk mengukur keahlian komputer, karena r hitung-nya positif dan lebih besar dari r-tabel. Se-dangkan hasil uji reliabilitas data, ditunjuk-kan baik variabel computer anxiety dan varia-bel keahlian komputer adalah reliable atau konsisten karena r-Alpha hitungnya positif dan lebih besar dari r-tabel.

Begitu pula dengan uji normalitas data, diperlihatkan bahwa data berdistribusi normal. Hasil analisis regresi menunjukkan R kuadrat sebesar 0,446, F = 30,564 dengan signifikansi p = 0,000 lebih kecil dari 0,05. Berarti ada pengaruh yang signifikan com-puter anxiety terhadap tingkat keahlian kom-puter. Variabel perubahan tingkat keahlian komputer dijelaskan oleh variabel computer anxiety sebesar 44,6%, sedangkan sisanya sebesar 55,4% dari variasi keahlian komputer dijelaskan oleh variabel lain di luar model.

Tabel 1 Hasil Analisis Regresi

Variabel Koefisien Nilai – t Prob. Konstanta 143,347 21,478 0,000 COMP_ANX -1,938 -5,529 0,030

R2 = 0,446; F = 30,564; Sig.F = 0,000 Sumber: data primer diolah

Berdasarkan tabel 1, maka model reg-resi antara independent variable terhadap dependent variable dapat diformulasikan dalam model persamaan sebagai berikut:

Y = 143,347 – 1,938COMP_ANX

Persamaan tersebut menunjukkan

bah-wa koefisien β negatif sebesar 1,938 dengan signifikansi p kurang dari 0,05, berarti sema-kin rendah computer anxienty pemakai mem-punyai pengaruh terhadap semakin tingginya keahlian pemakai dalam menggunakan kom-puter. Atau sebaliknya, semakin tinggi com-puter anxienty pemakai berhubungan dengan semakin rendah keahlian pemakai dalam menggunakan komputer. Dengan demikian hasil penelitian ini yang mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa pemakai komputer dengan computer anxeity yang rendah menun-jukkan tingkat keahlian komputer yang lebih

tinggi daripada pemakai komputer yang mem-punyai computer anxeity yang lebih tinggi. Hasil penelitian ini konsisten dengan temuan penelitian Indriantoro (2000) yang menguji pengaruh computer anxeity terhadap keahlian dosen dalam meng-gunakan komputer, bahwa computer anxeity mempunyai hubungan negatif yang signifikan terhadap keahlian se-seorang dalam menggunakan komputer.

Dasar pemikiran yang mendukung te-muan penelitian ini dapat dikemukakan seba-gai berikut. Sikap pemakai komputer terdiri atas tiga komponen: kognisi, afeksi dan keinginan. Pemakai yang mempunyai kognisi atau keyakinan bahwa teknologi komputer akan memberikan manfaat bagi dirinya akan menimbulkan afeksi yang mempunyai kono-tasi suka untuk menerima kehadiran kom-puter. Keyakinan dan afeksi yang menun-jukkan sikap optimistik bahwa komputer dapat membantu mengatasi masalah dalam peker-jaan sehingga seseorang merasa senang be-kerja dengan komputer. Seseorang yang mem-punyai sikap demikian tidak merasa terintimi-dasi, khawatir, susah, atau ketakutan oleh kehadiran teknologi komputer atau mempu-nyai computer anxeity yang rendah.

Pemakai dengan computer anxeity yang rendah mempunyai keyakinan bahwa teknologi komputer tidak akan mendominasi atau mengendalikan kehidupan manusia, se-hingga menimbulkan keinginan yang kuat untuk mempelajari pemanfaatan teknologi komputer. Oleh karena itu, pemakai dengan computer anxeity yang rendah akan menye-babkan tingkat keahliannya dalam meng-gunakan komputer yang relatif lebih tinggi di-bandingkan pemakai yang computer anxeity nya tinggi.

SIMPULAN

(12)

hasil-hasil penelitian sebelumnya dan dapat digu-nakan sebagai masukan bagi organisasi yang sedang dan akan mengembangkan sistem in-formasi berbasis komputer.

Hasil penelitian mendukung hipotesis yang menyatakan bahwa pemakai komputer dengan computer anxeity yang rendah menun-jukkan tingkat keahlian komputer yang lebih tinggi daripada pemakai komputer yang mem-punyai computer anxeity yang lebih tinggi. Hasil penelitian ini konsisten dengan temuan penelitian Indriantoro (2000) yang menguji pengaruh computer anxeity terhadap keahlian dosen dalam menggunakan kom-puter, bahwa computer anxeity mempunyai hubungan negatif yang signifikan terhadap keahlian seseorang dalam menggunakan komputer.

Diterimanya hipotesis penelitian mem-berikan masukan bagi manajemen bank bahwa kesesuaian computer anxeity mempunyai pe-ngaruh yang negatif dan signifikan terhadap keahlian karyawan dalam menggunakan kom-puter.

Penelitian ini mempunyai sejumlah ke-terbatasan yang memungkinkan dapat menim-bulkan bias terhadap hasil penelitian ini, antara lain, responden penelitian ini terbatas pada pemakai komputer pada bank swasta di Banjarmasin. Penggunaan sampel yang ter-batas ini kemungkinan akan mengurangi ke-mampuan hasil penelitian untuk digenerali-sasi. Selanjutnya, penggunaan instrumen beru-pa kuesioner sebagai pengukur variabel pene-litian mendasarkan pada persepsi responden dalam memahami butir-butir pertanyaan. Hal ini kemungkinan akan menimbulkan masalah jika persepsi responden berbeda dengan ke-adaan sesungguhnya. Peneliti hanya melaku-kan survei melalui kuesioner, tidak dilengkapi dengan metode pengumpulan data yang lain, misalnya observasi dan wawancara sehingga mungkin dapat memperkaya data penelitian.

DAFTAR PUSTAKA

Indriantoro, Nur. 1996. Sistem Informasi Strategik: Dampak Teknologi Informasi Terhadap Organisasi dan Keunggulan Kompetitif. Jurnal KOMPAK, No.9, Februari.

Indriantoro, Nur. 2000. Pengaruh Computer Anxiety terhadap Keahlian Dosen dalam Penggunaan Komputer. Jurnal Akuntansi & Auditing Indonesia. Vol.4 No.2. Desember. Mc.Farlan and Mc. Kenney. 1983. Corporate

Information System Management: The Issue Facing Senior Executive. Dow Jones. New York.

Referensi

Dokumen terkait

Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah pengaruh computer anxiety terhadap keahlian karyawan dalam menggunakan komputer, dalam hal ini

mengambil judul “PENGARUH COMPUTER ANXIETY DAN COMPUTER ATTITUDE TERHADAP KEAHLIAN END-USER COMPUTING PEGAWAI KECAMATAN (Survei pada Kantor Kecamatan Se-Kabupaten

Berdasarkan permasalahan diatas maka tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh computer anxiety dan pengalaman terhadap keahlian

Hansley (2000) melakukan penelitian mengenai bagaimana computer attitude, computer trust dan trust level on E-mail communication mempengaruhi penggunaan E- mail

dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul: “PENGARUH COMPUTER ANXIETY DAN PENGALAMAN TERHADAP KEAHLIAN KARYAWAN DALAM PENGGUNAAN KOMPUTER (Survey pada Bank- bank Syariah

Hasil penelitian Sudaryono (2004) yang menguji pengaruh computer anxiety dari 254 dosen perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta di wilayah Jakarta, Semarang,

Sedangkan variabel computer anxiety (anticipation) dan computer attitude (optimism) berpengaruh positif dan signifikan terhadap keahlian mahasiswa dalam menggunakan komputer

Hasil penelitian Sudaryono (2004) yang menguji pengaruh computer anxiety dari 254 dosen perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta di wilayah Jakarta, Semarang,