• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sebuah Catatan Jurnalistik 153 Jejak H

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Sebuah Catatan Jurnalistik 153 Jejak H"

Copied!
389
0
0

Teks penuh

(1)

2014

Sebuah

Catatan

Jurnalistik

politikindonesia.com

[

153 Jejak Hingga ke

Gunung Padang

]

Tak ada yang berubah, khususnya prilaku para ahli-ahli

kebumian itu. Saling berdebat tajam,saling

(2)

Jangan sampai kita sudah punya arah, dia mau

arah lain. Kalau sampeyan tidak bisa bantu,

jangan ngerepoti

Tajuk ini berujung pada sebuah kebijakan dan cara

ber-koordinasi guna mencari solusi

Ujungnya dibuatlah secara senyap, tagline Jakarta

Mentawai Operation (JWO). Kenapa?

konsep dari Tim Terpadu, akan diperluas

keterlibatan para pihak dari pendekatan berbagai

disiplin keilmuan.

(3)

i

Menciptakan Arah*

Membuat pengantar buku ini, saya harus menyoroti tentang seorang Andi Arief (AA). Saya termasuk orang yang terkejut, ketika ia didaulat untuk menjalankan tugas sebagai Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam (SKP-BSB).

Pertama kali saya mengenal AA awal tahun 1999. Ketika itu, Prof. Dr. Afan Gaffar, bersama sejawatnya sedang sibuk merampungkan konsep tentang 3 paket undang-undang politik dan otonomi daerah.

Usai berdialog bersama Pak Afan, kami ngobrol pergerakan politik generasi muda saat itu. Lantas muncul nama Andi Arief. “Cuf, saya yang membimbing dia. Ujian sekali, langsung

lulus. Anak itu cerdas, coba deh anda perhatikan,” ungkap Pak Afan. (Kini Guru Besar Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada ini sudah mendahului kita menghadap Allah SWT).

Sejak itulah saya mulai “memperhatikan” Andi Arief. Dan itulah yang menjadi alasan utama mengapa saya jadi terkejut: Terlalu jauh jarak antara seorang sarjana ilmu politik dengan urusan bantuan sosial, apalagi dengan dunia bencana alam.

Saya merenung, apakah Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) sedang “bercanda” memberi penugasan tersebut? Bukankah ada posisi lain yang bisa ditugaskan kepada Andi Arief, semisal di komunikasi bidang politik.

(4)

ii

yang bergelut dibidang kebencanaan. Dan buku ini tampaknya merupakan jawaban atas renungan saya soal kata “bercanda” tadi.

Saya percaya, tentu banyak orang lain yang turut “memperhatikan” AA dalam mengemban tugasnya, termasuk jajaran wartawan yang ada di

www.politikindonesia.com yang menyusun buku ini.

Selama ini, satu hal penting yang saya catat, adalah kesungguhannya mengajak jajaran SKP-BSB untuk terus belajar tentang medan tugas yang mereka emban.

Tak ada lelah dan keluh kesah, ketika mereka menghabiskan malam, bahkan subuh di kantor, hanya untuk berdiskusi dengan berbagai pakar kebumian.

Ibarat seorang sutradara yang membenamkan emosi penonton melalui pengaturan komunikasi para aktor, perdebatan soal potensi gempa bumi, membuat saya menjadi larut dalam pengetahuan tentang kebencanaan.

Saya mencatat, dalam mengemban tugas, anak muda ini mengetahui persis apa yang ingin dicapai.

Dia melakukan inisiasi para ahli kebumian agar target kerjanya tidak menggantung diawang-awang. Jenis tindakannya dipilih, hanya yang berkemungkinan besar agar dapat menjadikan tujuan tercapai.

(5)

iii soal Gunung Padang. Sebelumnya juga muncul hal serupa, ketika AA mensosialisasikan langkah dan tindakan tentang mitigasi bencana.

Banyak pihak yang menganggap informasi tentang ancaman gempa bumi, hanya sebagai bentuk pengalihan isu politik yang sedang ramai di ruang publik. Utamanya menyangkut soal kebijakan yang diambil pemerintahan Presiden SBY.

Keyakinan dan gairah dalam bekerja, menjadi kunci keberhasilannya dalam membenamkan tema-tema mitigasi bencana.

Energinya seakan tak pernah habis. Strategi komunikasi yang dibangun dengan berbagai kalangan ahli, searah dengan alur ilmu pengetahuan. Berbagai kajian keilmuwan dilakukan, sehingga menjadi sebuah informasi yang benar.

Dengan menghargai nilai-nilai keilmuwan yang dimiliki para pakar, Andi menginisiasi banyak pihak untuk turut larut dalam bidang tugas yang diembannya.

Nah, salah satu yang kini menjadi topik hangat, adalah dugaan adanya bangunan buatan manusia dibawah situs Gunung Padang, Cianjur, Jawa Barat.

(6)

iv

Pertama, selama ini banyak peneliti “merengkuh” hasil

temuan mereka didalam kotak hitam. Hanya melaporkannya kepada pihak pemberi order penelitian saja. Buntutnya, perkembangan penelitian hanya menjadi pengetahuan “pribadi”. Tidak untuk publik.

Publikasi yang dilakukan Tim Katastrofi Purba, Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM) dan kini menjadi Tim Nasional, mulai dari hipotesa hingga perolehan-perolehan temuan, diinformasikan secara luas ke ruang publik. Sehingga wajar bila terjadi kehebohan. Selain tentang temuan-temuan, juga karena pola publikasi yang dilakukan.

Kedua, sepanjang pengetahuan saya, hingga pengantar ini dibuat, riset yang dilakukan Tim Katastrofi Purba tidak ada sponsornya. Baik swasta ataupun pemerintah.

Para ahli ini merogoh kocek pribadi atau mendapat support

dari sahabat yang tertarik untuk sekadar urunan agar riset ini terus berjalan. Memang sedikit tertatih.

Ketiga, dari point pertama dan kedua tadi, terlahir sebuah pola riset yang mandiri dan tanpa batas. Bagaimana sebuah wilayah keilmuan dan riset betul-betul terjaga kejujujuran, bersih dari motif penguasaan individu, golongan dan kepentingan.

(7)

v Dalam konteks Gunung Padang, peralatan-peralatan canggih geofisika digunakan para peneliti. Baik untuk bidang geologi maupun arkeologi. Sebuah revolusi baru dalam ilmu kebumian dan arkeologi.

Memang, bagi sebagian kalangan geolog dan arkeolog, penggunaan alat-alat canggih, seperti georadar,geolistrik, tomographi seismic, LIDAR untuk menguliti sebuah situs, hampir mustahil dilakukan. Ini kemudian menimbulkan dinamika tersendiri, terkadang menjadi tidak masuk akal.

Akhirnya, untuk mencari opini lain soal penggunaan peralatan canggih tadi, suatu malam, dua tahun yang lalu, saya merasa perlu untuk berdiskusi bersama punggawa TTRM yang bukan arkeolog atau geolog. Adalah Laksda TNI Ade Supandi, SE (kini menjadi Laksdya TNI) dan Dr.Y Paonganan, S.Si. M.Si.

Dari diskusi itu, berhasil dirangkai sebuah kalimat: Makin banyak sumber data yang diperoleh, makin kuat sesuatu itu kita rasakan. Dan itu membuat keyakinan, bahwa kita kian mampu untuk mencapai tujuan.

Karena hidup bukanlah sesuatu yang statis, maka tindakan merupakan awal dari keberhasilan. Hanya orang gila dan mati yang tak bisa mengubah pikirannya.

(8)

vi

DAFTAR ISI

01.Cincin Api ... 1

02.Mengajak Para Ahli ... 7

03.GREAT... 10

04.Mitigasi ... 12

05.Zona Merah ... 23

06.Undang Tim Harvard ... 24

07.Memetakan Bencana... 26

08.Potensi Gempa Berulang ... 30

09.Menemukan Kembali Pengetahuan ... 42

10.Tim Riset Bencana Katastrofi Purba ... 45

11. Mendalami Situs Gunung Padang ... 63

12. Ada Kearifan Lokal Purba ... 76

13.Ada Atap dan Lorong ... 77

14.Rakor Hasil Riset dan Kebencanaan ... 79

15.Berumur 10.900 SM... 81

16.Cianjur Dukung Ekskavasi ... 82

17.Gagas Tim Terpadu ... 84

18.Masih Ber-evolusi ... 85

19.Pemda Jabar Dukung Tim Terpadu ... 86

20.Rembuk di Arkenas, Core Drilling ... 86

21. Manipulatif ... 87

22.Cianjur Siapkan 50 Ha ... 89

(9)

vii

24.Tahapan Bawah Permukaan ... 93

25.BEM Cianjur Juga Sambut Baik ... 94

26.Sampel Bawah Permukaan Digali ... 95

27.Gerabah dan Tembikar ... 96

28.Luasnya Capai 75 Ha... 97

29.Bukti Peradaban Prasejarah Nusantara ... 98

30.Usia Akan Diuji Ulang ... 100

31.Batu Mengandung Limestone ... 102

32.Peneliti Asing Tertarik ... 103

33. Man made structure ... 104

34.Aksara Purba Diteliti ... 105

35.TTRM Sifatnya Transisi ... 106

36.Pintu Masuk Ditemukan ... 108

37.Selanjutnya, Silahkan Pemda ... 109

38.DPR Dukung Ekskavasi ... 109

39.Masuki Tahap Pembuktian ... 110

40.Masuki Fase Pengujian ... 113

41. Ada Beberapa Lapisan Budaya ... 114

42.Pemerintah Dukung Penelitian Lanjutan ... 117

43.Libur Lebaran, Diserbu Wisatawan ... 118

44.Perlu Secepatnya Ekskavasi ... 120

45.Umur Situs versi Batan dan Miami ... 125

46.Data IFSAR Terbaru ... 127

(10)

viii

48.Tidak Hanya Sebatas Pintu ... 130

49.Gerbang Barat Teridentifikasi... 132

50.Ada Alat Pemotong dari Logam ... 134

51.Ada Semen Purba ... 135

52.Struktur di Bawah,Buatan Manusia ... 136

53.Kesimpulan Sementara Hasil Ekskavasi ... 139

54.Semoga Menginspirasi yang Lain ... 142

55. Bertahap,Libatkan Masyarakat ... 143

56.Ini Cara Gunung Padang Dibangun ... 146

57.TNI AL Siap Bantu Ekskavasi... 148

58. Mata Air Diteliti ... 150

59.Fragmen Keramik Abad ke-16 Ditemukan ... 153

60.Jadi Wacana Dunia ... 154

61.TTRM Tak Kenal Karun ... 155

62.Ayo Hadir Petisi 34... 159

63.Tunda Ekskavasi, TTRM Dukung Arkenas ... 162

64.Jangan Mau Diadu Domba ... 165

65.Tak Ada Ancaman Longsor ... 167

66.IAGI Tak Ikut Dukung Petisi ... 168

67.Bantah Riset Liwat Riset ... 170

68.Ada Tim Lain ... 172

70.Beda Riset Arkenas dan TTRM ... 177

72.Ketum IAGI - IAAI Bertemu ... 187

(11)

ix

74.Revolusi Baru Ilmu Kebumian ... 191

75.Tim Nasional Akan Dibentuk ... 194

76.Bangunan di Bawah, Terbukti ... 195

77.Dilaporkan Ke Presiden ... 197

78.Presiden Minta Ekskavasi Tuntas ... 199

79.Pusat Studi Bencana Terbaik ... 201

80.Stop Berdebat, Ayo Beri Kontribusi ... 202

81.Ekskavasi Gunung Padang Dilanjutkan ... 205

82.Lintasan Panjang Peradaban Indonesia ... 207

83.Struktur Terasering Terkuak ... 210

84. Kuarsa Mono Kristalin ... 211

85.Tetap Dilanjutkan ... 213

86.Dua Lapisan dari Zaman Berbeda ... 214

87.Mulai Tomographi Seismic ... 216

90.Lebih Tua, Lebih Besar dari Borobudur... 223

91.Keberadaan Chamber Kian Terbukti ... 225

92.Presiden Didesak Pimpin Langsung ... 228

93.Isu Peledakan ... 229

94.Wagub Dukung Riset ... 233

95.Fatal, Riset Diadu dengan Opini ... 235

96.Jangan Sampai Terbengkalai ... 237

97.Karya Sipil Purba yang Luar Biasa ... 238

98.Perlu Penelitian Lanjutan ... 247

(12)

x

100.Terbit 2 Kepgub ... 249

101.Awal 2014, Penelitian Lanjutan ... 251

102.Ahli Berbagai Negara Ikut Membahas ... 252

103.Jadi Pusat Penelitian dan Kebudayaan ... 254

104.Ahli Asing Tak Dibayar ... 255

105.Area Riset Diperluas Jadi 25 Ha ... 257

106.Kontroversi Ilmiah ... 258

107. Terkonfirmasi, 5.200 Tahun ... 287

108.Struktur Prasejarah Terbesar di Asia ... 288

109.KA Siliwangi, Akses Lebih Mudah ... 289

110.Terinspirasi, Simponi Rilis Lagu ... 291

111.Presiden SBY Datang ... 292

112.ITB Lakukan Diskusi ... 300

113.Bakal Kuak Kebesaran Masa Silam ... 304

114.Guruh Soekarnoputra Hadiri Diskusi ... 305

115.Objek Vital Strategis Nasional ... 306

116.Iwan Fals Kunjungi Situs ... 311

117.Penting, Restorasi Situs ... 312

118.Astrologi Sunda ... 314

119.Perlu Payung Hukum Tersendiri ... 317

120.Warga Bangun Homestay ... 318

121.Perlu Tim Khusus ... 319

122.Peradaban Piramida ... 321

(13)

xi

124.Ditetapkan Sebagai Situs Nasional ... 326

125.Saatnya Riset dan Pemugaran ... 327

126.Pengunjung Belasan Ribu ... 328

127.Penelitian Lapisan 4,Dilanjutkan ... 330

128.Aster Kasad Datang ... 331

129.Paparan di Mabes TNI AD ... 332

130.Bukan Monumen Tunggal ... 334

131.Gelar Karya Bakti Skala Besar ... 335

132.Upacara Kemerdekaan RI ... 336

133.Bakal Kalahkan Borobudur ... 338

134.Kado Spesial ... 339

135.LPDP Dukung Pendanaan ... 341

136.Jangan Kembangkan Spekulasi ... 343

137.Bebaskan Lahan,Siapkan Rp3 Miliar ... 344

138.Masuk Kurikulum Sekolah ... 345

139.Panglima TNI Siap Bantu Percepatan ... 347

140.Gunakan Teknologi LIDAR ... 349

141.Ahli Rusia Mau Join ... 350

142.Artefak Unik, Anomali Magnetik ... 352

143.Mendapat Ancaman ... 353

144.Ekskavasi Seenaknya, Tidak Benar ... 355

145.Ada yang Tak Ingin Misteri Terungkap ... 357

146.Temukan Logam Pipih Beraksara ... 359

(14)

xii

148.TNI AD Bangun Helipad ... 362

149.Hentikan Propaganda Hitam ... 363

150.Lindungi Situs, BPCB Bangun Drainase ... 365

151.Timnas Bekerja, Sesuai Kaidah Akademik ... 366

152.Kalau Tak Bantu, Jangan Ngerepoti ... 368

(15)

1

01.Cincin Api

Tsunami Aceh 26 Desember 2004 mengejutkan seluruh elemen bangsa. Tak pernah terbayangkan potensi bencana bisa berwujud nyata dalam bentuk mahabencana yang sedemikian besar. Gempa bumi tektonik dengan kekuatan 8,5 Skala Richter (SR) yang berpusat di Samudra India, tepatnya 2,9 Lintang Utara dan 95,6 Bujur Timur di kedalaman 20 km dan berjarak sekitar 149 kilometer selatan kota Meulaboh, Nanggroe Aceh Darussalam, ternyata berdampak sedemikian dahsyat.

Gempa itu disertai gelombang pasang yang menyapu beberapa wilayah lepas pantai di Aceh dan Sumatera Utara. Bahkan menerjang sampai ke Sri Langka, India, Bangladesh, Malaysia, Maladewa, hingga Thailand.

Gempa yang jauh di dasar laut itu berubah menjadi malapetaka. Bak dayung raksasa bawah air yang menciptakan tsunami sangat besar. Kehancuran akibat tsunami ditemui di sepanjang garis pantai Samudera Hindia dengan gelombang tsunami hingga setinggi 30 meter. Lebih dari 230 ribu orang kehilangan jiwa dan jutaan orang kehilangan tempat tinggal.

(16)

2

Kejadian tsunami Aceh ini memilukan. Namun sekaligus menyentak kesadaran banyak pihak akan arti pentingnya untuk memahami segenap potensi bencana yang ada di Indonesia, utamanya ancaman bencana yang datang dari alam.

Perlahan-lahan, kesadaran mulai menyeruak. Tsunami jadi kosa kata baru bagi Indonesia, meski nenek moyang kita, jauh sebelumnya, sudah beberapa kali mengalami bencana serupa.

Sisi positifnya, Tsunami Aceh seakan menjadi momentum awal bangkitnya kesadaran bangsa bahwa Indonesia tak hanya “bak untaian mutu manikam” dari Sabang sampai Merauke, tapi juga sebuah negara kepulauan yang dilingkari Cincin Api Pasifik, istilah lain dari poros potensi bencana di Samudra Pasifik yang berbentuk seperti Tapal Kuda dan mencakup wilayah sepanjang 40.000 kilometer. Daerah ini juga sering disebut sebagai Sabuk Gempa Pasifik.

Sekitar 90% dari gempa bumi yang terjadi dan 81% dari gempa bumi terbesar terjadi di sepanjang Cincin Api ini. Daerah gempa berikutnya, 5–6% dari seluruh gempa dan 17% dari gempa terbesar, ada di Sabuk Alpide yang membentang dari Jawa ke Sumatra, Himalaya, Mediterania hingga ke Atlantika.

(17)

3 Wilayah pegunungan dengan lereng yang curam, menyiratkan potensi longsor yang tinggi. Kawasan landai sepanjang pantai dengan potensi ancaman banjir, penurunan tanah, dan tsunaminya. Apakah kita sudah mengenal dengan baik berbagai

jenis dan karakter bahaya alam itu? Sudah siapkah kita menyambut hadirnya beragam bencana itu?

Bencana yang terjadi beruntun setelah tsunami Aceh, juga semakin menguak kesadaran akan perlunya penanganan serius dan fokus dalam mengantisipasi bencana.

Disinilah arti pentingnya sebuah tindakan mitigasi yang ujung-ujungnya menjadi salah satu cara untuk mengurangi tingkat resiko bencana.

Dalam paradigma ini, setiap individu diperkenalkan dengan berbagai ancaman yang ada di wilayahnya. Bagaimana cara memperkecil ancaman dan kerentanan yang dimilki, serta meningkatkan kemampuan masyarakat dalam menghadapi ancaman.

(18)

4

Badan ini, selain memiliki fungsi koordinatif juga didukung oleh pelaksana harian sebagai unsur pelaksana penanggulangan bencana.

Sejalan itu, pendekatan melalui paradigma pengurangan resiko,merupakan jawaban yang tepat untuk melakukan upaya penanggulangan bencana pada era otonomi daerah.

Pada tahun 2007, Dewan Perwakilan Rakyat mensahkan undang-undang No. 24 tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana.

Undang-undang ini dibuat atas kesadaran bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) bertanggung jawab melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia.

Tujuannya adalah untuk memberikan perlindungan terhadap kehidupan dan penghidupan, termasuk perlindungan atas bencana.

Bahwa wilayah NKRI memiliki kondisi geografis, geologis, hidrologis, dan demografis yang memungkinkan terjadinya bencana. Baik disebabkan oleh faktor alam, faktor non alam maupun faktor manusia yang menyebabkan timbulnya korban jiwa, kerusakan lingkungan, kerugian harta benda, dan dampak psikologis yang dalam keadaan tertentu dapat menghambat pembangunan nasional.

(19)

5 Sehingga kurang sesuai dengan perkembangan keadaan dimasyarakat serta kebutuhan bangsa Indonesia ke depan. Dengan demikian akan menghambat upaya penanggulangan bencana secara terencana, terkoordinasi, dan terpadu.

Menindaklanjuti amanat UU No 24 tahun 2007, pemerintah membentuk Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Menyusul kemudian dibentuknya Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), yang bisa jadi hingga kini belum lengkap ada di seluruh provinsi, kabupaten dan kota.

Tak hanya itu, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono bahkan memandang perlu untuk mempunyai staf khusus bidang kebencanaan. Dalam periode keduanya (2009-2014), dibentuklah Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam (SKP-BSB), melengkapi beberapa staf khusus yang sudah ada sebelumnya.

Ruangan itu berukuran 6 x 8 meter yang dihiasi satu set meja kerja, satu set sofa berwarna coklat, ditingkahi dengan peta Indonesia yang melekat di dinding bercat putih, dan sebuah layar televisi 32 inchi.

Bila hanya ditunggu pemiliknya, ruangan ini cukup lega dan nyaman. Apalagi disejukkan oleh pendingin udara. Menjadi terasa kurang nyaman, manakala ruangan ini bertambah penghuninya, hingga lebih dari 9 orang.

(20)

6

Gunung Api, Gempa Bumi, Tanah Longsor, hingga Tsunami.

Ada Doktor ahli gempa yang juga menyandang keahlian-keahlian khusus dalam bidang kebumian. Juga ada ahli gunung api, ahli longsor, ahli arkeologi, serta ahli sosial yang turut “menyesakkan” ruangan berukuran 6 X 8 meter, di bekas Gedung Komisi Pemberantasan Korupis (KPK), dalam kawasan komplek Istana Kepresidenan, Jakarta.

Si pemilik tunggal ruangan itu adalah, Andi Arief, Staf Khusus Presiden Bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam.

“Lama-lama kita bisa menjadi “gila” dalam menghitung perilaku bumi Indonesia yang dikelilingi Cincin Api,” seloroh Andi disuatu subuh, diawal tahun 2006, sebelum kami pulang ke rumah, menuju pem-baringan.

Hampir satu tahun kami “menyesaki” ruang kerja itu, sebelum pindah ke seberang jalan, untuk “menyesaki” ruangan baru milik Andi Arief, di komplek Sekretariat Negara.

Tak ada yang berubah, khususnya prilaku para ahli-ahli kebumian itu. Saling berdebat tajam, saling memaparkan,saling menduga, dan saling menggali, tentang potensi-potensi bencana, adalah menu khusus dalam perdebatan tersebut.

(21)

7

02.Mengajak Para Ahli

Dimotori lembaga-lembaga bidang kebencanaan, pemerintah berupaya mendapatkan pengetahuan yang lebih baik tentang kondisi, potensi dan ancaman bencana yang mungkin akan terjadi di Indonesia.

Bukan itu saja, sosialisasi tentang kebencanaan pun kerap dilakukan kepada masyarakat. Mulai dari seminar pengenalan terhadap bencana, hingga pelatihan penyelamatan.

Sementara pemerintah, terus mengumpulkan infomasi dari para ahli tentang kondisi sebenarnya dari bumi nusantara.

Salah satu langkah awal yang cukup penting dilakukan kantor Staf Khusus Presiden bidang Bantuan Sosial dan Bencana Alam, adalah menginisiasi dan

mempertemukan para ahli, mengajaknya berdiskusi dan merancang langkah-langkah kebijakan dalam menghadapi persoalan kebencanaan, baik secara terbuka untuk umum, ataupun secara terbatas.

(22)

8

cukup mengejutkan: Link and Match: Usaha Pengkajian dan Mitigasi Bencana Gempa Bumi.

Mengapa mengejutkan? Pertama, Andi Arief berlatar belakang ilmu sosial politik. Tak ada latar belakang keilmuan formal yang dimilikinya secara dalam tentang kebumian. Kedua, tema ini digagas, setidaknya setelah menghabiskan 15 malam “bertempur” pandangan dengan para ahli kebumian.

Ketiga, tajuk Link and Match dan Mitigasi menunjukkan peran ilmu sosial politik. Kenapa? Tajuk ini berujung pada sebuah kebijakan dan cara berkoordinasi guna mencari solusi. Keempat, menunjukkan tekad ingin belajar memahami, khususnya bagi jajaran SKP-BSB dengan menyelipkan tajuk Usaha Pengkajian disana. (Ah, mungkin ini tidak penting dan mengada-ada. Tak perlu dibaca).

Diskusi yang dihadiri 25 orang para pakar gempa, ahli kebumian dan manajemen itu datang dari berbagai universitas ternama di Indonesia, sebut saja Institut Teknologi Bandung, Universitas Andalas, Universitas Gajah Mada, , Universitas Indonesia dan Universitas Veteran Yogyakarta.

(23)

9 Hajatan keilmuan ini dibuka Syamsul Muarif, Kepala Badan Nasional Penanggungan Bencana (BNPB), dan ditutup oleh Andi Arief. Begitulah bila diskusi dilakukan para ahli, berlangsung tajam dan menghabiskan waktu dari pagi hingga menyentuh malam, seharian penuh. Rekomendasi yang dihasilkan cukup konkrit, dan langsung disampaikan kepada Presiden SBY.

Catatan khusus dari diskusi ini adalah, selama ini di lingkungan kepresidenan belum pernah di-selenggarakannya diskusi dan pertemuan antar para pakar gempa secara terbuka, sementara korban akibat gempa telah menelan ratusan ribu orang, baik kehilangan nyawa ataupun harta benda dan sudah menghabiskan ratusan triliun rupiah dana untuk melakukan rehabilitasi akibat bencana.

Catatan pentingnya, diskusi ini memberi pencerahan bagi semua tentang apa yang harus dilakukan untuk mengantisipasi bahaya gempa, berikut langkah dan tindakan yang harus segera direalisasikan.

Kontribusi keilmuan yang dimiliki para pakar ini juga langsung disampaikan kepa-da pengambil kebijakan, agar bisa disosialisasikan ke masyarakat secara terus menerus.

Dalam hajatan keilmuan ini, muncul kesepakatan untuk membangun sebuah wadah kesamaan bagi para ahli. Sehingga bagi para ahli, keilmuannya dapat lebih bermanfaat dan dimanfatkan untuk memberi masukan bagi pengambil kebijakan dalam menghadapi persoalan pena-nganan bencana alam.

(24)

10

Para pakar yang hadir berharap agar pertemuan kali ini, menjadi awal yang baik bagi pengembangan keilmuan tentang masalah bencana alam.

Juga bisa dijadikan tempat berhimpun bagi mereka, agar bisa memberikan sumbangan pemikiran dan berkontribusi untuk Tanah Air, dalam konteks mengantisipasi resiko bencana di masa depan.

03.GREAT

Catatan khusus lainnya, dari debat keilmuan ini, dihasilkan gagasan yang menjadi cikal bakal munculnya Program Studi Gempa Bumi dan Tektonik Aktif (GREAT- Graduate Research on Earthquake and Active Tectonics) di Institut Teknologi Bandung (ITB).

Program ini diharapkan akan membantu upaya nasional yang saat ini sedang dilakukan badan-badan pemerintah untuk membangun zonasi potensi gempa yang baik. Program ini terdiri dari satu tahun perkuliahan, satu tahun penelitian dan ditujukan untuk membangun pemahaman yang komprehensif serta pengeta-huan dasar yang terkait gempa bumi dari sudut pandang ilmu geologi, geofisika dan geodesi modern.

Dengan program GREAT, diharapkan akan dilahirkan sumberdaya manusia yang mampu menjawab tantangan -tantangan di masa depan.

(25)

11 Indonesia, bahkan kalau bisa menjadi salah satu pusat riset dunia di bidang gempa bumi.

Singapore saja yang hampir tidak punya potensi bencana dibuminya, seperti Indonesia, sudah memiliki world-class research center, yaitu EOS (Earth Observatory of Singapore). Malaysia juga pernah mengatakan berminat untuk mendirikan pusat studi gempa

untuk Asia Tenggara.

Lebih jauh, GREAT bisa benar-benar dikembangkan menjadi

world-class research and education center. Dan selanjutnya, bisa dibuat program serupa untuk jenis bencana alam lainnya, seperti gunung api, gerakan tanah dan banjir.

Untuk saat ini, program GREAT sangat strategis demi membantu program nasional dalam kajian dan pembuatan peta-peta bahaya gempa., antara lain pembuatan PSHA (Probabilistic Seismic Hazard

Analysis ) dan pengembangan selanjutnya serta lebih memantapkan program AIFDR (Australia–Indonesia Facility for Disaster Reduction ) yang melibatkan beberapa institusi utama terkait, seperti, Badan Geologi, BMKG, LIPI.

(26)

12

Sebenarnya, ide awal dari pembentukan AIFDR adalah usulan Presiden SBY kepada PM Australia untuk membuat semacam pusat mitigasi bencana alam yang bercermin pada kesuksesan program Australia-Indonesia dalam bidang kepolisian, khususnya terorisme, yaitu program JCLEC (Jakarta Center for Law Enforcement Cooperation) di Akademi Kepolisian, Semarang, Jawa Tengah.

04.Mitigasi

Satu lagi gagasan penting yang muncul dalam diskusi, adalah konsep mitigasi bencana. Usulan itu datang dari Andi Arief, yang menawarkan agar konsep mitigasi dikedepankan dan diangkat kepermukaan.

Bukan apa-apa, seperti terlihat dalam Undang Undang No. 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana, persoalan mitigasi masih kurang menjadi perhatian.

Hanya sedikit sekali pasal yang menyinggung tentang persoalan mitigasi. Itulah kemudian, gagasan ini mendapat sambutan hangat dan dukungan positif dari peserta pertemuan.

(27)

13 Mengambil langkah dan tindakan untuk mengurangi pengaruh-pengaruh dari satu bahaya, sebelum bencana itu terjadi adalah hal penting. Apapun resikonya.

Darisinilah kegairahan soal mitigasi bencana muncul. Perlu tindakan cepat untuk “mensiasati” agar masyarakat jadi peduli. Ini titik krusial yang harus dilalui dalam konteks meng-komunikasikan mitigasi bencana, khususnya gempa bumi dan letusan gunung api.

Kepedulian atas soal mengimplimentasikan mitigasi bencana, tidak muncul begitu saja. Melalui berbagai perenungan atas fakta dan data-data yang ada.

Resiko negatif yang akan dituai akibat melaksanakannya, pun sudah dikalkulasi. Salah satu yang juga menjadi pemicu adalah atas “keanehan” sebuah blog yang ditemukan melalui sebuah mesin pencari:

http://richocean.wordpress.com.

Blog ini isinya rada unik. Tampilannya biasa-biasa saja, rubriknyapun cukup beragam. Terkadang tidak up-date.

Namun, layar utamanya selalu menampilkan kejadian gempa terkini diseluruh dunia, termasuk di Indonesia. Pada tampilan inilah diselipkan “warning” potensi gempa susulan be-rikutnya.

(28)

14

Mulailah upaya mencari tahu siapa gerangan tentang siapa si blogger. Singkatnya, bersualah dengan pemiliknya. Didi namanya. Pria muda berperawakan tidak terlalu besar ini, tampilannya sangat sederhana. Wajahnya ditingkahi dengan kumis yang tipis.

Setelah bincang ngalor-ngidul, ternyata Erick Ridzky, salah satu Asisten Andi Arief, satu almamater dengannya. Hanya berbeda jurusan, Didi dari elektro.

Didi ini cukup mengejutkan dan aneh. Berlatar belakang elektro, namun menseriusi soal kegempaan. Mulailah kami belajar, bagaimana ilmunya Didi membuat warning ?

Ternyata Didi melakukan pendekatan melalui ilmu statistika, teori rambatan dan teori pengulangan gempa.

Didi begitu canggih mempertontonkan kepada kami, melalui layar kaca televisi 32 inchi yang melekat didinding ruangan 6 x 8 meter itu.

Dia memainkan geoglemap dan dicumbuinya dengan garis-garis merah untuk memberi titik-titik rambatan gempa.

Lantas, disitulah Didi me-nyematkan “warning” dengan menggunakan kalimat “aman”: Akankah merambat ke..?

(Belakangan Didi menambah ilmu di GREAT- ITB.)

(29)

15 Sembari menghirup kopi Lampung yang hangat, muncul diskusi tajam tentang langkah mitigasi. Ujungnya dibuatlah secara senyap, tagline Jakarta Mentawai Operation (JWO). Kenapa? Ini ceritanya.

Kantor berita AFP, Senin 18 Januari 2010, jauh hari sebelum SKP-BSB melaksanakan diskusi para ahli bidang gempa yang bertema Link and Match: Usaha Pengkajian dan Mitigasi Bencana Gempa Bumi,

merilis pandangan yang dibuat ilmuwan terkemuka John McCloskey.

Profesor di Institut Riset Sains Lingkungan Hidup di Universitas Ulster, Irlandia Utara itu merilis potensi gempa Mentawai, Sumatera. McCloskey terkenal sejak prediksi gempa Sumatera yang cukup akurat di tahun 2005.

Peringatan McCloskey dituang-kan dalam surat untuk jurnal

Nature Geoscience dan juga dilansir kantor berita AFP. Intinya, McCloskey khawatir

akan terjadi gempa di Mentawai. Ancaman gempa akan menjadi penyebab tsunami yang dahsyat dengan skala kekuatan lebih dari 8,5 SR di tambalan Mentawai.

"Ada potensi timbulnya korban jiwa sebesar tsunami Samudera Hindia 2004," ungkap McCloskey.

(30)

16

McCloskey menuturkan, bahaya tersebut muncul dari penumpukan tekanan yang terus-menerus dalam dua abad terakhir di belahan lempeng Sunda (Sunda Trench). Itu salah satu zona gempa paling mengerikan di dunia, yang berlangsung paralel ke pantai Sumatera bagian Barat.

Memang tidak disebutkan kapan waktu kejadiannya. Namun dengan jelas diingatkan bahaya untuk Padang, kota dengan 850 ribu jiwa penduduk yang terletak di wilayah berisiko tersebut.

"Ancaman untuk peristiwa itu jelas dan kebutuhan untuk aksi mendesak sangatlah tinggi," demikian peringatan ahli Seismologi itu.

Peringatan ini merupakan hasil riset Tim McCloskey setelah menganalisa gempa Padang, 30 September 2009. Bahkan, mereka meminta pemerintah Indonesia bersiap-siap khusus untuk kawasan Mentawai dan Padang.

Nah, karena informasi potensi gempa semacam diataslah, mitigasi bencana menjadi penting dan perlu ditindaklanjuti.

Melalui perangkat handphone dan blackberry, jajaran SKP-BSB menyebarkan informasi awal potensi gempa yang diperkirakan McCloskey, (ini hanya salah satu contoh tema).

(31)

17 Tidak mengenal siang, malam, atau dini hari, prediksi tentang akan adanya gempa di Indonesia, disebar para asisten dan jajaran lainnya secara luas melalui kontak

handphone atau blackberry, termasuk juga dilakukan Andi Arief sendiri (masih ingatkah kita?).

Akibatnya apa? Ada beberapa daftar kontak didalam handphone dan blackberry mereka hilang. Tentu saja karena mendengar suara pang-ping-pong yang tak mengenal waktu dan menjadi pengganggu istirahat bagi para penerima pesan broadcast itu.

Lebih dari itu, cemooh-cemooh yang timbul, terkadang sudah diluar kontek. Namun itu bisa dipahami, sebab hampir 70 persen informasi yang di broadcast, sifat pesannya adalah sesuatu yang belum terjadi dan entah kapan akan terjadi.

Jika penerima pesan memiliki “otak” politik, informasi itu dituding sebagai bentuk pengalihan isu yang sedang ngetop di ruang publik.

Tak perlu berkecil hati karena kehilangan beberapa daftar kontak. Bahkan penyebaran informasi dini tentang potensi gempa dan tsunami serta letusan gunung api, lebih digencarkan.

(32)

18

Tentu juga dibantu segelintir wartawan di media massa yang ketika itu sudah memiliki rasa peduli cukup tinggi tentang arti pentingnya sebuah mitigasi bencana.

Bukan hanya sekadar kehilangan kontak blackberry dan

handphone, ada juga pelajaran lain yang kurang “menyenangkan”

Adalah pengalaman AK Supriyanto, salah seorang Asisten SKP. Akuat, begitu kami biasa menyapa pria yang kerap mendistribusikan informasi potensi gempa kepada rekan-rekan jurnalis.

Akuat kerap mendapat “masukan” bahwa informasi tentang potensi gempa yang disalurkannya menjadi informasi sampah.

Bahkan dinilai penerimanya sebagai sebuah pesan yang menakut-nakuti. Membuat resah masyarakat.

Ketika Akuat mendistribusikan tentang potensi ancaman gempa, salah satunya terhadap Jakarta, reaksi itu juga muncul dari Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo.

Informasi yang tersebar itu dianggap sebagai berita sampah dan menakut-nakuti warga Jakarta. Namun, kemudian apa yang terjadi?

(33)

19 Ketika merilis tentang potensi ancaman gempa bagi Jakarta, sesungguhnya ada pesan yang disampaikan. intinya agar Pemda DKI Jakarta segera membuat BPBD (Badan Penanggulangan Bencana Daerah)

dan menindaklanjuti Peta Hazard Gempa Indonesia 2010 secara serius, antara lain dengan membuat peta Microzonasi.

Bukan apa-apa, seperti kita ketahui, wilayah Jakarta yang sudah disesaki gedung-gedung yang saling berlomba untuk mencakar langit. Kondisi yang demikian ini, salah satunya akan menjadi sulit untuk menentukan dalam menentukan jalur evakuasi.

Belakangan Foke, begitu panggilan akrabnya, membuat

BPBD, entah soal peta microzonasi. (Akuat kemudian membaktikan ke-ilmuannya di Universitas Padja-djaran, Bandung dan kini meneruskan belajar di Universitas Porto, Portugal)

(34)

20

Bahkan untuk wilayah-wilayah yang masuk “zona merah” didatangi lebih dari satu kali, guna men-sosialisasikan hasil kajian para ilmuwan, soal in-formasi potensi bencana yang entah kapan akan terjadi itu.

Apa yang terjadi kemudian? Empat bulan setelah JMO, Senin, 25 Oktober 2010, dengan kekuatan 7,2 SR terjadi gempa pada pukul 21.40 WIB.

Episentrum gempa berada pada 3,61 Lintang Selatan dan 99,93 Bujur Timur dengan kedalaman laut 33 kilometer atau 78 kilometer di Barat Daya Pagai Selatan.Tsunami benar-benar terjadi, walau tidak sampai 8,5 SR seperti prediksi McCloskey.

Korban jiwanya lebih dari 400 orang dan sekitar 14.000 orang terpaksa mengungsi akibat kehilangan tempat tinggal. Tak terhitung secara pasti nilai kerugian ekonomi yang dialami, termasuk biaya yang dikeluarkan untuk melakukan rehabilitasi.

Seperti apa kita harus mempercayai potensi bencana? Bagaimana cara kita untuk menyikapi informasi awal tentang bencana? Semua tergantung pada penyikapan diri masing-masing. Waspada, lantas peduli atau sebaliknya, menjadikan informasi awal tadi, seperti sampah dan sebagai bentuk menakut-nakuti.

Sepatutnya, bila semua pihak sebelumnya sudah tanggap, korban gempa dan tsunami, mestinya bisa diminimalisir.

(35)

21 Pasca gempa Mentawai, 25 Oktober 2010, mitigasi bencana di Propinsi Sumatera Barat terus ditingkatkan secara masif. Kenapa? Inilah jawabannya:

Walaupun sudah dimuntahkan 7,2 SR, kawasan Sumatera, utamanya di wilayah Mentawai masih menyimpan energi besar yang berpotensi menimbulkan gempa bumi dalam kisaran 8,8 SR hingga 9 SR dan terjadi tsunami.

Namun kapan energi sebesar itu akan dikeluarkan, belum ada yang bisa memastikan. Energi gempa yang terlepas selama ini, mulai dari Bengkulu, Nias, Padang, Simeulue, berbeda "tabungannya" dengan Zona Subduksi yang ada di wilayah Mentawai.

Dr.Danny Hilman, pakar Geoteknik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), setidaknya dalam tiga kali pertemuan bersama pakar gempa dan Tim 9 yang menyusun Peta Hazard 2010, memaparkan potensi energi yang tersimpan di kawasan Mentawai.

Kata Danny, memang tidak bisa diperkirakan kapan energi itu akan terlepas. Hanya kalau melihat gejala terkini (kerapnya terjadi gempa), ancaman di wilayah Sumatera makin tinggi.

Danny secara rinci memaparkan potensi gempa di kawasan Mentawai, Sumatera Barat yang sudah diteliti sejak tahun 1990.

(36)

22

GPS ini digunakan untuk memonitor pergerakan lempeng yang terkait proses gempa bumi. Secara historis, wilayah barat Sumatera memang banyak dilanda gempa besar. Pada 1993, misalnya gempa tercatat 8,4 SR.

Di tahun 1833 pernah juga terjadi gempa dengan kekuatan 8,9 SR. Sementara di wilayah utara Sumatera, khususnya di kawasan Andaman - Nicobar, baru tercatat dua kali gempa besar.

Setelah rentetan gempa besar di Sumatera, mulai dari Aceh, Nias hingga Mentawai, banyak yang menilai Padang sudah aman, artinya tidak akan ada gempa besar lagi.

Tetapi, dari penelitian yang dilakukannya bersama sejumlah lembaga lain, menunjukkan bahwa perhitungan tentang kandungan energi di Mentawai, masih belum berimbang, dibandingkan dengan gempa yang terjadi pada 2007.

"Energi yang terlepas, jauh lebih kecil, hanya 1/3, artinya 2/3 masih tersimpan di sana," kata Danny.

Dari penelitian 200 tahun gempa besar di Sumatera, saat ini energi besar yang diperkirakan menjadi sumber gempa di Sumatera itu masih terkunci.

Dari hitung-hitungan, jika lempeng yang terdesak ke Sumatera rata-rata 6 cm per tahun dalam tempo 200 tahun akan mencapai 12 meter.

(37)

23 Kata Danny, ada kondisi-kondisi tertentu sebelum terjadinya gempa besar. Misalnya Pulau Siberut yang tenggelam secara perlahan-lahan.

Namun usai gempa besar, pulau ini naik hingga tiga meter. Kondisi serupa terjadi di Nias tahun 2005 silam. Sementara daratan Padang kini mengalami penurunan 1 hingga 1,5 meter.

05.Zona Merah

Dalam Peta Bahaya Gempa Indonesia 2010, yang dipaparkan di Istana Negara, beberapa waktu lalu, Sumatera Barat (Sumbar) diprediksi masih menyimpan potensi gempa besar yang berpotensi tsunami di perairan Mentawai.

Ada 637 dusun yang masuk “zona merah” tsunami ini. Serta ada 500 ribu hingga 600 ribu nelayan yang mendiami pesisir kawasan tersebut, terancam bahaya.

Menurut Probabilitic Seismic Hazard Analysis Map 2010, tingkat guncangan di Kota Padang meningkat dari 0,25 g (grafitasi) menjadi 0,32 g.

(38)

24

Dari simulasi para ahli gempa, jika energi besar di kedalaman perairan Mentawai melepaskan diri, akan terjadi gempa yang kekuatannya bisa mencapai 9,0 SR. Gempa ini juga diprediksi akan menyebabkan tsunami.

Kekuatan tsunami itu diperkirakan akan menghantam 637 dusun, yang berada di tujuh kabupaten dan kota di Sumbar. Sedikitnya, 500 ribu hingga 600 ribu jiwa yang berprofesi sebagai nelayan mendiami kawasan tersebut, terancam jiwanya.

Prediksi ini bukan untuk menakut-nakuti. Tapi untuk meningkat kesiagaan dan kewaspadaan segenap elemen yang terkait, bila potensi bencana itu menjadi kenyataan. Kebijakan Pemerintah Daerah Sumatera Barat yang menetapkan daerahnya dalam status kesiapsiagaan atas bencana, layak ditiru dan diberi penghargaan.

Ada hal lain menyangkut potensi gempa yang cukup besar, tapi sudah tersosialasi dan belum terjadi. Yakni, potensi gempa Selat Sunda yang diprediksi mencapai 9 SR, serta potensi Jakarta yang terancam gempa dari wilayah tetangganya.

06.Undang Tim Harvard

(39)

25 Tim yang dipimpin Profesor Anthony Saich memberikan pelatihan kepemimpinan dalam manajemen krisis (Crisis Management Leadership) bagi para kepala daerah se-Indonesia, pada Juni 2010.

SKP BSB mengalokasikan waktu sehari penuh untuk bupati, walikota, dan gubernur dalam pelatihan kepemimpinan dalam manajemen krisis.

Pelatihan tentang manajemen krisis sangat penting dilaksanakan. Pasalnya, dalam banyak kasus, para pemimpin di daerah kerap terlihat gamang dalam merumuskan langkah-langkah yang cepat dan tepat, bila terjadi gempa bumi atau bencana lainnya di wilayah mereka. (tidak semua petinggi itu hadir langsung, banyak yang diwakili, bahkan ada juga yang tidak berwakil)

Seperti diketahui, Profesor Anthony Saich dikenal memiliki reputasi sebagai salah satu pakar terkemuka dalam bidang hubungan pemerintah dan masyarakat di Asia, khususnya dalam studi mengenai pelayanan publik.

Tim Harvard, selain Anthony Saich, juga tampil sebagai pemberi materi adalah Edward Cunningham, David Giles, Arnold Hewutt.

(40)

26

Setidaknya, para kepala daerah mendapat pemahaman tam-bahan mengenai pentingnya mengambil inistiatif dengan tidak melupakan mekanisme koordinasi.

Tim Harvard, yang digandeng SKP BSB, sebagian besar menjadi pengajar di Sekolah Ilmu Pemerintahan John F. Kennedy, Universitas Harvard.

Selain memberikan pelatihan untuk kepala daerah se- Indonesia, mereka juga melakukan diskusi dengan para pakar gempa dari berbagai kampus dan lembaga riset di Indonesia.

Termasuk diskusi dengan pejabat-pejabat Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dan tak ketingalan mengunjungi Sekolah Pasca Sarjana Bidang Gempabumi dan Tektonik Aktif (Graduate Research School for Earthquake and Active Tectonics/GREAT) di Institut Teknologi Bandung. Sebuah program pascasarjana dengan kekhususan studi gempa, yang pertama di Asia Tenggara.

07.Memetakan Bencana

Peta rawan bencana merupakan suatu informasi fundamental untuk program pengurangan resiko bencana. Pembuatan peta rawan bencana baru, sering dibicarakan dan mulai dibuat setelah gempa dan tsunami Aceh akhir tahun 2004.

(41)

27 Nasional (Bakosurtanal). Saat itu Indonesia sadar tengah mengalami kerawanan peta rawan bencana, dalam arti keberadaan peta-peta itu belum memadai.

Peta dalam skala kecil sudah tersedia untuk wilayah Indonesia, bahkan Bakosurtanal telah meluncurkan produk peta skala 1 berbanding 1 juta yang dapat dimiliki publik secara gratis.

Untuk skala lebih besar dengan tingkat informasi yang lebih rinci, harus diketahui dan diakui, belum seluruh Indonesia dapat dipetakan.

Memang untuk Jawa, Bali, dan NTB, misalnya, skala dengan tingkat kedetailan 1:25.000 sudah tersedia, bahkan dalam versi digital.

Kalaupun semua wilayah sudah terpetakan untuk tingkat skala

tertentu, kondisi alam yang terus berubah me-nuntut dilakukan pembaruan secara kontinyu terhadap peta-peta yang ada.

Pada April 2010, pemerintah mendistribusikan Peta Rawan Bencana ke seluruh daerah. Mengacu pada dasar peta tersebut, daerah pun didorong untuk mempunyai produk sendiri peta yang lebih detail tentang peta rawan bencana dan jalur evakuasi di daerah mereka.

(42)

28

Sehingga, bila bencana datang, daerah bisa mengambil tindakan yang cepat dan tepat. Pasalnya, peta dasar rupa bumi yang diproduksi, terbatas pada skala 1:25.000.

Sedangkan untuk perencanaan antisipasi dan evakuasi bencana alam di daerah, sangat diperlukan peta yang lebih detil, microzonasi.

Sosialisasi peta rawan bencana memang diperlukan, tetapi itu saja tidak cukup. Pertama, tingkat apresiasi masyarakat terhadap peta belum seperti di negara maju.

Kemampuan masyarakat membaca dan mengekstrak informasi dari peta, mungkin masih jauh dari yang diharapkan.

Pelajaran membaca peta, yang merupakan bagian geografi atau Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), tidak terlalu mendapat perhatian di sekolah. Akibatnya, jika terjadi bencana, masyarakat tidak menggunakan peta. Itu terjadi karena masyarakat “buta” membaca peta, dalam arti tidak terlalu memahami pentingnya sebuah peta.

Kedua, yang tak kalah lebih penting adalah sosialisasi kesiapan menghadapi bencana. Kesadaran bahwa kita hidup di tengah kawasan bencana, harus ditanamkan ke masyarakat.

(43)

29 Perencanaan pembangunan dan konstruksi bangunan disesuaikan dengan kemungkinan terjadinya gempa dan tsunami.

Belajar dari masyarakat Simeulue, Aceh, ketika gempa terjadi pada tahun 2004 lalu, dengan sistem peringatan dini tradisional yaitu smoong, masyarakat segera mengambil langkah penyelamatan untuk mengurangi dampak bencana.

Ini menunjukkan, bhwa dalam penanganan bencana, manajemen, aturan dan mekanisme yang dipatuhi, ternyata lebih penting daripada teknologi yang digunakan.

Kita juga bisa belajar dari negara lain, seperti Amerika Serikat yang ancaman bencananya luar biasa dan bervariasi. Di pantai timur dan tenggara, badai selalu mengancam. Di wilayah tengah, tornado selalu muncul dari awal musim semi, hingga awal musim gugur. Wilayah barat seperti California adalah labil secara tektonik sehingga rawan gempa.

Di selatan, bahaya kebakaran hutan harus diwaspadai pada musim panas. Di sana sosialisasi bahwa bencana selalu mengancam terus dilakukan, dan yang amat efektif adalah dilakukan di sekolah-sekolah.

Drilling (latihan evakuasi kalau ada bencana) seperti fire drilling (kalau ada kebakaran) dan tornado drilling (untuk tornado) merupakan hal yang rutin dilakukan di sekolah-sekolah setiap se-mester.

(44)

30

Pesan agar informasi tentang kerawanan bencana disebar ke masyarakat, sudah sepatutnya didukung dan dilaksanakan. Akan tetapi, harus dibarengi juga dengan penyebaran informasi yang lebih gencar tentang tindakan apa yang harus diambil. Itulah langkah awal manajemen bencana.

08.Potensi Gempa Berulang

Statistik kegempaan di Tanah Air, memang belum begitu bagus. Datanya belum cukup lengkap tersedia. Masih dalam rengkuhan para peneliti dan pakar-pakar gempa.

Selain itu, juga belum maksimalnya kesatupaduan dalam penanganan, atau cara mengantisipasi masalah kegempaan.

Inisiatif SKP BSB yang mewacanakan pentingnya pembentukan Komite Nasional Gempa, setelah menggelar pertemuan para ahli gempa dari berbagai lembaga, termasuk perguruan tinggi di Tanah Air, merupakan terobosan bagus dan perlu direalisasikan dimasa mendatang.

Artinya, kalau bisa mencermati data peristiwa gempa yang ada, sedikit banyak kita bisa mengantisipasinya, meski tetap tak bisa mencegah kejadiannya. Kalau bisa memprediksi, berarti akan meminimalisir korban yang bakal jatuh sia-sia, melalui evakuasi dini atau berbagai tindakan preventif lainnya.

(45)

31 Republik Indonesia, DKI Jakarta, berada dalam posisi rawan mendapatkan ancaman gempa, atau pengulangan gempa.

Gempa 7,5 Skala Richter yang menerjang Jawa Barat, 2 September 2009, mengingatkan akan ancaman yang lebih dahsyat.

Sejarah mencatat, gempa di atas 8 Skala Richter pernah melanda Selat Sunda tahun 1908, sehingga menimbulkan kerusakan di Anyer sampai Jakarta.

Untuk memahami pola dan periode kegempaan, perlu dilakukan penelitian intensif dengan beberapa metode survei geologi.

Berkaitan dengan hal itu, LIPI bekerja sama dengan Badan Koordinasi Survei dan Pemetaan Nasional (Bakosurtanal) dan pakar gempa memasang jejaring antena global positioning system

(GPS) di Selat Sunda dan selatan Jawa Barat dalam jarak lebih rapat.

Dari hasil pemantauan, dilakukan penelitian dan analisis detail hingga tahu pola kegempaan.

Penelitian pergerakan tanah menggunakan jejaring GPS dilakukan peneliti Bakosurtanal sejak tahun 1989.

(46)

32

Hasilnya menunjukkan adanya daerah "terkunci" atau tidak ada pergerakan relatif terhadap daerah sekitarnya yang bergerak 65 mm per tahun di selatan Lampung, tepatnya di Krui, Lampung.

Saat ini di kawasan Selat Sunda dan Jawa Barat telah terpasang, setidaknya 14 stasiun atau antena referensi GPS, satu di antaranya milik Jerman yang sekarang sudah diserahkan ke Indonesia.

Meluasnya efek kegempaan, disebabkan subduksi yang melengkung atau cenderung mengarah dari barat daya ke timur laut. Hal ini menyebabkan intensitas kegempaannya meluas hampir ke seluruh Jawa, bahkan hingga ke Bali.

Selama ini diketahui subduksi lempeng di selatan Selat Sunda dan Jawa Barat mengarah dari selatan ke utara. Subduksi yang terjadi di sekitar Selat Sunda bergerak memutar searah jarum jam.

Di selatan Selat Sunda terjadi peregangan atau dilatasi. Sementara di selatan Banten mengalami kompresi-penekanan. Kawasan ini diprediksi mengalami rotasi dengan kecepatan 20 mm hingga 30 mm per tahun.

Sekadar sebagai bahan ilustrasi untuk mengurai kemungkinan pengulangan gempa, seperti terjadi di masa lalu, bisa disebutkan beberapa, di antaranya letusan Vulkanik Krakatau 27 Agustus 1883 berasal dari tiga letusan 3 kawah utama Krakatau di pulau Rakata.

(47)

33 Ledakan keras pertama terjadi pukul 00.07 WIB, pada 27 Agustus 1883. Kedua, masih di hari yang sama, pukul 12.30 WIB dan 13.44 WIB.

Setiap ledakan, mengeluarkan gas, mengangkat air di sekitar pulau menjadi kubah-kubah atau kerucut terpotong, sekitar 100 meter atau lebih tinggi.

Ledakan keempat 17.02 WIB, meruntuhkan kaldera dua per tiga Pulau Rakata, yang menghasilkan gelombang tsunami terhebat, sekaligus merusak.

Ledakan kelima, lebih kecil, 17.52 WIB, menghasilkan ge-lombang besar air berbentuk kerucut. Runtuhan terakhir dari dinding Krakatau yang masih berdiri, beberapa jam kemudian, 23.38 WIB, menghasilkan gelombang tambahan.

Dampak dekat tsunami utama terjadi disepanjang Selat Sunda, Jawa Barat dan Sumatera Selatan sangat merusak. Dalam waktu satu jam setelah ledakan keempat, atau kaldera runtuh, gelombang mencapai ke-tinggian hingga 37 meter.

Peristiwa dahsyat ini menghancurkan 295 kota dan menenggelamkan total 36.417 orang. Jika kepadatan pen-duduk meningkat sekitar 50 X, saat ini, korban menjadi setara 1.820.850 orang.

(48)

34

Gelombang tsunami besar menghancurkan semua kota dan desa-desa pesisir di Selat Sunda, dalam satu atau dua jam, setelah ledakan dan runtuhnya gunung berapi.

Gelombangnya begitu kuat, blok karang 600 ton dilempar ke darat. Karena kerasnya arus, sebuah kapal perang di wilayah itu sampai berpindah sejauh 3 kilometer. Daratan juga ditinggikan gelombang 10 meter di atas permukaan laut.

Dampak jauh tsunami terlihat di seluruh dunia, namun tidak signifikan. Osilasi kecil permukaan laut telah dicatat alat pengukur pasang surut di Port Blair di Laut Andaman, di Port Elizabeth di Afrika Selatan, dan sejauh Australia, Selandia Baru, Jepang, Hawaii, Alaska, Amerika Utara-West Coast, Amerika Selatan. Bahkan sejauh Selat Inggris, di Perancis dan Inggris.

Butuh waktu 12 jam tsunami mencapai Aden di ujung selatan Semenanjung Arab, sekitar 3.800 mil laut jauhnya.

Gelombang dilaporkan di Aden, di Port Blair dan di Port Elizabeth, salah satu yang dihasilkan di Selat Sunda. Tidak ada batas daratan di Samudera Hindia di sisi Krakatau yang menahan penyebaran energi tsunami. Perjalanan waktu tsunami sedikitnya lebih dari 300 mil laut per jam untuk sampai di Aden, wajar.

(49)

35 Kemungkinan besar, gelombang kecil yang diamati di Pasifik dan di Atlantik dihasilkan tekanan gelombang atmosfer dari ledakan besar Krakatau. Tidak dari tsunami yang dihasilkan di Selat Sunda.

.

Banjir yang tidak biasa terjadi di Teluk Cardiff di Inggris, disebabkan tekanan gelombang atmosfer dari ledakan besar Krakatau.

Krakatau salah satu gunung dari busur vulkanik Sunda di Indonesia, terletak di Selat Sunda,

di 16,7 Lintang Selatan dan 105,4 Bujur Timur, atau 40 km di lepas pantai barat Jawa. Stratovolkano ini dibentuk oleh subduksi dari lempeng India-Australia di bawah Lempeng Eurasia.

Letusan gunung api besar terjadi di wilayah ini di masa lalu geologi yang lama. Sebuah ledakan vulkanik megakolosal selama periode Kuarter Zaman Es, kira-kira 75.000 tahun lalu, menghancurkan pusat Pulau Sumatera dan menciptakan kaldera panjang 100 km, sekarang jadi situs Danau Toba. Volume

debit dari letusan gunung berapi besar ini diperkirakan 2.000 km kubik.

(50)

36

gunung Krakatau terbentuk, telah mencapai ketinggian 790 m di atas permukaan laut.

Menurut kitab suci Jepang kuno, letusan Krakatau superkolosal pertama yang diketahui terjadi pada 416. Ada juga yang melaporkan itu terjadi pada 535. Energi letusan ini diperkirakan setara sekitar 400 megaton TNT atau setara dengan 20.000 bom Hiroshima.

Awal letusan keras ini menghancurkan gunung berapi, yang runtuh dan menciptakan sebuah kaldera seluas 7 km per segi. Sisa-sisa ledakan vulkanik keras i sebelumnya, tiga pulau Krakatau, Verlaten dan Lang (Rakata, Panjang, dan Sertung).

Dipastikan letusan tahun 416 menghasilkan serangkaian bencana tsunami, yang jauh lebih besar dari pada yang dihasilkan tahun 1883.

Namun, tidak ada catatan yang mendokumentasikan ukuran tsunami awal ini atau penghancuran yang diakibatkannya.

Sesudah letusan 416 dan sebelum 1883, tiga kerucut vulkanik Krakatau dan setidaknya satu kaldera tua telah digabungkan kembali untuk membentuk pulau Rakata.

(51)

37 Pada periode panjang, relatif tidak aktifnya Krakatau terpotong oleh letusan sedang, antara Mei 1680 dan November 1681.

Aktifitas itu menghancurkan semua tumbuhan di pulau. Jumlah besar batuan, batu apung, dan abu jatuh ke laut.

Dipastikan massa vulkanik, subsidence, dan lainnya parsial yang terkait dengan kegiatan ini, menghasilkan tsunami lokal yang besar. Namun, geomorfologi pulau itu tidak berubah secara signifikan.

Jadi sebelum letusan besar 1883, Krakatau adalah sisa gunung berapi lebih tua, yang belum meledak selama 200 tahun.

Letusan besar 1883, ledakan, limbah massa dan peristiwa runtuhnya Krakatau meng-hasilkan bencana tsunami di sepanjang Selat Sunda.

Tsunami lokal berikutnya di Selat Sunda, terjadi 1927 dan 1928, letusan gunung berapi baru yang disebut Anak Krakatau, yang terbentuk di daerah tersebut.

Seperti disebutkan, setelah sekitar 200 tahun masa tidak aktif, Krakatau menjadi aktif lagi awal 1883 ketika gempa besar melanda daerah tersebut. Ada peningkatan berikutnya dalam kegiatan seismik.

(52)

38

Sebagian besar kegiatan itu dari 3 kawah utama, Perboewatan menjadi paling aktif. Selama periode itu, kawah Danan meluas karena banyaknya reruntuhan.

Sebelas kawah lainnya mengeluarkan sejumlah kecil uap, abu dan debu. Tahap paroksismal letusan Krakatau terjadi dalam waktu kurang dari satu pada 27 Agustus 1883.

Tahap akhir termasuk sejumlah letusan, tiga sub letusan Plinian udara dari tiga kawah utama, diikuti yang keempat, ledakan ultra-Plinian, limbah massa, reruntuhan, dan lainnya.

Letusan keras pertama dimulai dengan intensitas luar biasa pada 00.07 WIB, 27 Agustus 1883. Selanjutnya, letusan lebih kecil jadi lebih sering, rata-rata setiap 10 menit.

Ledakan pertama dan berikutnya, meski lebih kecil mengeluarkan volume besar udara yang menghalangi matahari dan membuat gelap Selat Sunda. Awan hitam naik 27 kilometer di atas gunung berapi. Ini dilaporkan pelaut di kapal sejauh 120 km dari lokasi kejadian.

Skema Pulau Rakata 11 Agustus 1883, atau 15 hari sebelum letusan paroksismal Krakatau 1883, lebar pulau Rakata sekitar 5 km. Saat itu, sebuah sumbatan lava padat ternyata menutup pusat kawah Krakatau. Di bawahnya tekanan dengan cepat bertambah.

(53)

39 meter. Juga, beberapa letusan phreatomagmatic dan lereng runtuh di sebagian pulau terjadi selama periode awal.

Ledakan keras kedua dan ketiga terjadi 12.30 WIB dan pada 13.44 WIB, masih 27 Agustus 1883. Akhirnya, 17.02 WIB, letusan paroksismal keempat melenyapkan dua per tiga utara Pulau Rakata.

Hampir seketika ledakan ini diikuti dengan keruntuhan sangat besar dari Krakatau. Ini membentuk kaldera yang membuat sebuah kaldera bawah air yang besar.

Masih pada 27 Agustus 1883, ledakan kelima yang lebih kecil terjadi 17.52 WIB. Runtuhan akhir dinding Krakatau terjadi beberapa jam kemudian, pukul 23.38 WIB.

Seluruh bagian utara Pulau Rakata hancur sama sekali. Gabung letusan dan runtuhnya gunung berapi menghancurkan sebagian besar pulau itu. Sisanya adalah yang sekarang dikenal sebagai pulau Krakatau.

(54)

40

Peristiwa ini diberi nama Volcanic Explosivity Index (VEI = 6) dengan tarif sebagai ‘kolosal’. Untuk diberi peringkat VEI 6, letusan gunung berapi harus memiliki tinggi lebih dari 25 km.

Butir-butir dan volume perpindahan berkisar antara 10 dan 100 km3. Letusan ukuran ini hanya terjadi sekali setiap beberapa ratus tahun di bumi.

Total energi termal dikeluarkan empat kejadian utama dari letusan 1883 diperkirakan setara dengan 200 megaton TNT. Sebagian besar energi ini dikeluarkan oleh ledakan paroksismal keempat, yang diperkirakan pelepasan energi panas dari sekitar 150 - 175 megaton TNT, atau setara dengan 7.500 - 8.750 bom atom Hiroshima (bom Hiroshima mengeluarkan sekitar 20 kiloton energi panas).

Ledakan luar biasa Krakatau terdengar di seluruh wilayah, lebih dari 1/3 permukaan bumi. Terdengar sejauh 3.540 kilometer di Australia dan bahkan sejauh Pulau Rodrigues yang 4.653 km di barat daya-barat, di Samudera Hindia, sekitar 1.000 mil timur Madagaskar.

Orang di Pulau Rodrigues menggambarkan suara berderu seperti tembakan kanon dari kejauhan. Suara terus berlanjut dengan jarak tiga sampai empat jam pada dini hari 27 Agustus 1883.

(55)

41 Sumber berikut dimensi dan mekanisme dari pembangkitan tsunami disimpulkan dari pemeriksaan terhadap catatan sejarah, kronologi peristiwa, topografi bawah air dari post Krakatau 1883 kaldera dan bukti geologis.

Kelahiran Gunung Anak Krakatau tahun 1927 di kaldera Krakatau mengubah topografi bawah air secara signifikan. Namun, pengamatan dari intensitas letusan Strombolian Anak Krakatau 1928 menjelaskan mekanisme tambahan pada pembangkitan tsunami dari ledakan gunung berapi.

Selain itu, gelombang tsunami mencapai pantai Jawa Barat, sejam setelah ledakan Krakatau. Desa Sirik hampir seluruhnya tersapu gelombang ini. Butuh waktu juga sekitar satu jam untuk gelombang tsunami destruktif mencapai Anyer, gelombang 10 meter benar-benar membinasakan bagian rendah dari kota. Di Tyringen, gelombang berkisar antara 15-20 meter, sedangkan di Merak, gelombang maksimum 35 meter.

Ledakan paroksismal gunung berapi Krakatau, 27 Agustus 1883 disebut sebagai hydromagmatic atau phreatomagmatic.

Menurut mekanisme pembangkitan ini, setelah letusan sebelumnya, air laut dingin memasuki ruang magmatik Krakatau ketika dindingnya mulai pecah di dasar yang melemah.

Uap yang dipanaskan tekanan luar biasa, pada gilirannya, mengakibatkan ledakan besar gunung berapi.

(56)

42

ini segera sejumlah kilometer kubik air laut, memenuhinya dengan cepat dan menciptakan ge-lombang dekat pusat, mencapai ketinggian mungkin beberapa ratus kaki.

Tsunami 27 Agustus 1883, ledakan dan runtuhnya gunung Krakatau dicatat pengukur pasang laut di Batavia (Jakarta). Juga tercatat di pengukur pasang laut Port Blair, kepulauan Andaman dan Port Elizabeth, Afrika Selatan. Catatan yang sama ada di pengukur pasang laut di San Francisco, Honolulu, dan Moltke Harbor, South Georgia.

09.Menemukan Kembali Pengetahuan

Sejak tahun-tahun yang sarat bencana alam, membuat kesadaran masyarakat tentang kebencanaan mulai bangkit.

Kelangkaan catatan ilmiah dan rekaman sejarah membuat Indonesia kehilangan pijakan untuk mengenali, mempelajari, menganalisis watak bencana yang terjadi di Indonesia.

Masyarakat mulai sadar akan pengetahuan umum bahwa geografis wilayah Indonesia berada di tiga lempeng tektonik utama yang aktif, yaitu lempeng Eurosia, lempeng Pasifik, dan lempeng Hindia Australia, menjadi potensi bencana.

(57)

43 Bahkan sejumlah penelitian yang selama ini pernah dilakukan, kini kembali menjadi referensi untuk memahami potensi dan watak bencana.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) mencatat, wilayah Indonesia digempur 13 tsunami selama 44 tahun terakhir, sejak 1965 hingga 2009. Dari 13 kali tsunami itu, korban terbanyak terjadi di Aceh pada 26 Desember 2006.

Peneliti tsunami LIPI, Irina Rafliana menyatakan, gelombang tsunami tertinggi yang menerjang wilayah pesisir Indonesia terjadi pada 12

Desember 1992 dengan tinggi mencapai 26 meter.

Dalam 44 tahun terakhir, tsunami pertama terjadi di Seram, Maluku, 24 Januari 1965 dengan ketinggian gelombang empat meter dan menewaskan 71 orang. Selanjutnya, pada 11 April 1967 terjadi di Tinabung, dengan jumlah korban tewas 58 orang.

Pada 14 Agustus 1968 di Tambu, Sulawesi Tengah menewaskan 200 orang dengan ketinggian

gelombang mencapai 10 meter. Kemudian 23 Februari 1969 di Majene, Sulawesi Selatan dengan tinggi gelombang mencapai 10 meter dan menewaskan 64 korban.

Pada 19 Agustus 1977, gelombang tsunami setinggi 15 meter menerjang pesisir Sumbar, Nusa Tenggara Timur

(58)

44

menewaskan 316 korban. Berikutnya, 25 Desember 1982 tsunami terjadi di Larantuka, NTT yang menimbulkan 13 korban tewas.

Pada 12 Desember 1992 terjadi tsunami dengan ketinggian mencapai 26 meter di Flores, NTT dengan korban jiwa mencapai 2.100 orang.

Pada 2 Juni 1994 tsunami setinggi 14 meter melanda Banyuwangi, Jawa Timur menyebabkan 238 korban tewas.

Pada 1 Januari 1996 tsunami setinggi enam meter melanda Palu, Sulawesi Tengah dengan sembilan korban tewas.

Kemudian 17 Februari 1996 tsunami setinggi 12 meter menerjang pesisir Biak, Papua menyebabkan 160 orang tewas dan 28 Nevember 1998 di Taliabu, Maluku Utara tsunami dengan ketinggian tiga meter menyebabkan 34 orang tewas.

Pada 4 Mei 2000 tsunami setinggi tiga meter melanda Banggai, Sulteng menyebabkan 50 korban tewas dan tsunami terbesar pada 26 Desember 2004 melanda Aceh dengan ketinggian gelombang mencapai 10 meter dan menewaskan 79.940 orang.

Sejarah tsunami yang berulang-ulang itu telah memberikan pengetahuan lokal tentang siaga bencana bagi masyarakat di daerah rawan bencana.

(59)

45 cerita daerah atau dalam bentuk praktik berlari menuju tempat yang tinggi.

Tak hanya tsunami, Pusat Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat, dalam kurun 13 tahun terakhir (1997-2009) sebanyak 6.632 kali bencana terjadi di Indonesia. Ini menunjukkan bahwa negara kepulauan ini memang rawan bencana.

Bencana paling banyak terjadi pada tahun 2008 yang mencapai 1.302 kali. Setelah 2007 bencana paling banyak kedua terjadi pada 2004 mencapai 895 kali, disusul tahun 2007 sebanyak 888 kali, tahun 2006 (851), tahun 2005 (693), tahun 2003 (532) dan tahun 1998 (497).

Sedangkan, jumlah bencana paling sedikit terjadi pada tahun 1997 yakni hanya 4 kali, disusul tahun 2000 sebanyak 82 kali dan tahun 1999 sebanyak 101 kali,

Sementara itu, jumlah bencana melanda Indonesia selama 2009 (dalam pendataan) dan telah terdata sebanyak 498 kali.

Jenis bencana yang melanda wilayah Indonesia didominasi banjir yang mencapai 35 persen dari total 6.632 kali bencana, disusul kekeringan (18 persen), tanah longsor, angin topan dan kebakaran, masing-masing 11 persen. Untuk bencana banjir yang disusul tanah longsor tercatat sebanyak 3 persen dari total jumlah bencana tersebut.

10.Tim Riset Bencana Katastrofi Purba

(60)

46

fenomena alam yang destruktif, termasuk kejadian gempa, letusan gunung api, dan tsunami.

Sudah banyak bukti ilmiah tentang peradaban di masa purba yang hancur sebagian atau total karena dilanda bencana dengan skala sangat besar atau katastrofi.

Memang memori anak bangsa tergolong pendek. Dalam 10 tahun terakhir, Indonesia dilanda oleh berbagai macam bencana alam yang mengakibatkan korban jiwa mencapai ratusan ribu dan kerugian material yang sangat banyak.

Tragedi fenomenal tsunami besar di Aceh tahun 2004 adalah contoh konkrit masa kini tentang bagaimana sebuah bencana alam dapat menghancurkan sebagian besar peradaban di Banda Aceh, hanya dalam tempo sekejap saja.

Sebelumnya masyarakat, khususnya di wilayah Aceh, hampir tidak mengenal kosa kata Tsunami. Mereka sama sekali tidak siap menghadapi bencana tsunami. Padahal dalam perbendaharaan di Aceh ada kata Ieu Beuna yang artinya air bah besar yang sama artinya dengan tsunami.

Di tempat lain, yaitu Pulau Simelue, masyarakat masih ingat akan peristiwa bencana besar tsunami di masa lalu karena kejadiannya belum begitu lama, yaitu tahun 1907.

Sehingga orang Simelue yang masih mengenal tsunami dengan istilah smong menjadi lebih siap dan banyak yang selamat ketika peristiwa mahabencana itu terjadi.

(61)

47 alam hal ini diterjemahkan menjadi: agar memahami ancaman bencana di masa datang, kita harus belajar dari bencana alam yang sudah pernah terjadi di masa lampau.

Bencana alam adalah produk dari siklus (proses) alam, seperti siklus gempabumi, siklus letusan gunung api, siklus gerakan tanah, siklus banjir dari skala kecil sampai skala yang sangat besar atau katastrofi.

Dengan meneliti sumber-sumber bencana dan jejak-jejak peradaban masa lalu yang musnah karena dilanda bencana alam, diharapkan dapat memberikan solusi untuk memperkuat ketahanan nasional dalam menghadapi ancaman bencana di masa depan.

Sejarah peradaban manusia mencatat, bahwa baik di wilayah nusantara ataupun dunia, banyak sekali peradaban kuno yang runtuh, bahkan seperti lenyap dari muka bumi karena peristiwa bencana alam katastrofi.

(62)

48

LIPI bekerjasama dengan Arkenas, berhasil menguak fakta bahwa ternyata banyak sisa-sisa bangunan kota kuno beberapa meter di dasar laut di lepas pantai Banda Aceh.

Dari data ekskavasi geologi dan radiometric dating, diketahui bahwa kota kuno tersebut musnah diterjang tsunami besar pada Abad 14.

Pembelajaran mengenai sejarah bencana alam di masa lalu dan upaya untuk mengurangi dampaknya menjadi hal yang penting untuk meningkatkan ketahanan masyarakat guna menghadapi bencana pada masa yang akan datang.

Jadi, seharusnya masyarakat dapat belajar dari sejarah bencana alam di masa lalu, sehingga bisa bersiap diri untuk masa kini.

Kurangnya data sejarah dari kejadian bencana alam di masa lalu di bumi Nusantara menyebabkan masyarakat tidak berdaya dan kehilangan memori akan pengalaman dan kearifan dari masa lalu.

Rentetan kejadian gempa besar dan tsunami, kemudian terjadi secara berantai setelah tahun 2004, termasuk kejadian gempa Nias tahun 2005, gempa Jogyakarta tahun 2006, gempa-tsunami Pangandaran tahun 2006, gempa-tsunami Bengkulu tahun 2007, dan gempa-tsunami Mentawai yang terjadi pada bulan September 2010.

Referensi

Dokumen terkait