D
alam era globalisasi yang ditandai dengan persaingan ketat dan terbuka ini memaksa setiap negara untuk mempersiapkan diri sebaik‐baiknya. Berkaca pada sejumlah fenomena sepuluh tahun terakhir belakangan ini, terbukti bahwa kunci sukses dalam bersaing terletak pada kualitas sumber daya manusia yang dimiliki sebuah negara. Artinya adalah bahwa negara yang bersangkutan harus memiliki sebanyak mungkin manusia kompeten yang bekerja dan berkarya di berbagai bidang sektor industri. Sumber daya manusia ini haruslah mampu dan memiliki kuali�ikasi atau kapabilitas untuk melakukan suatu atau sejumlah pekerjaan secara baik dan bermutu. Untuk dapat menjadi profesional seperti ini, individu yang bersangkutan haruslah dibekali dengan pengetahuan, keterampilan, dan sikap kerja yang memadai.Berdasarkan aksioma di atas, timbulah pertanyaan mendasar, yaitu: “Bagaimana bisa diketahui bahwa seorang individu itu kompeten atau tidak?”. Cara yang paling sederhana adalah lakukan saja sejumlah tes terhadapnya. Kalau semua hal yang diminta dapat dilakukan sesuai dengan harapan sang pemberi tes, maka dapat diketahui kompeten tidaknya seseorang. Tapi apakah memang setiap organisasi atau perusahaan memiliki dana, waktu, keahlian, dan sumber daya lain untuk melakukan uji kompetensi terhadap seluruh calon karyawan yang akan direkrutnya? Oleh karena itulah kemudian ditempuh cara yang lain, yaitu dengan meminta yang bersangkutan untuk memperlihatkan dokumen kredentialnya, yaitu berupa serti�ikat profesi atau serti�ikat kompetensi.
Serti�ikat kompetensi adalah sebuah dokumen legal formal yang dikeluarkan oleh lembaga yang memiliki otoritas untuk melakukan proses serti�ikasi sebagai sebuah pengakuan bahwa pemegangnya telah memiliki kompetensi untuk melaksanakan sejumlah pekerjaan dalam bidang tertentu dengan baik (sesuai dengan skema atau ruang lingkup serti�ikasinya). Adapun institusi yang berhak dan diberikan otoritas oleh negara untuk mengeluarkan serti�ikat kompetensi ini kerap disebut sebagai Lembaga Serti�ikasi Profesi (LSP), yang telah mendapatkan lisensi untuk melakukan proses serti�ikasi oleh Badan Nasional Serti�ikasi Profesi (BNSP), yang dibentuk oleh Pemerintah Republik Indonesia berdasarkan UU Nomor 13 tahun 2005 mengenai Ketenagakerjaan dan PP Nomor 23 tahun 2006 mengenai Badan Nasional Serti�ikasi Profesi.
Dalam uji kompetensinya, asesor kompetensi akan melakukan tes terhadap seorang asesi berdasarkan standar kompetensi kerja yang telah disepakati oleh sektor industri yang bersangkutan, dan telah disahkan sebagai Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia
SERI 999 E-ARTIKEL SISTEM DAN TEKNOLOGI INFORMASI PROF. RICHARDUS EKO INDRAJIT
HALAMAN 1 DARI 2 (C) COPYRIGHT BY RICHARDUS EKO INDRAJIT, 2013
Sertifikat Profesi Berbasis Kompetensi
oleh Prof. Richardus Eko Indrajit - [email protected]
EKOJI
999
Nomor 372, 15 September 2013
Artikel ini merupakan satu dari 999 bunga rampai pemikiran Prof. Richardus Eko Indrajit di bidang sistem dan
(SKKNI) oleh Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Republik Indonesia dalam bentuk Peraturan Menteri (Permen). Hasilnya hanya dua jenis, bahwa yang bersangkutan berdasarkan uji kompetensi dinyatakan kompeten atau belum kompeten (tidak kompeten). SKKNI ini sendiri biasanya disusun, diusulkan, dan disepakati oleh komuntitas industri melalui asosiasi yang terkait dengannya.
Berbeda dengan ijasah yang diberikan oleh lembaga sebagai tanda tamat belajar pada tingkat pendidikan tertentu, serti�ikat kompetensi ini memiliki ciri khas sebagai berikut:
Diberikan kepada mereka yang telah lulus uji kompetensi sesuai dengan skema
serti�ikasi yang diujikan, dimana ruang lingkupnya dapat bermacam‐macam sesuai dengan standar yang dipergunakan.
Standar yang dipakai merupakan standar kompetensi kerja yang berlaku secara
nasional dan telah disepakati serta diakui bersama oleh industri terkait dan disahkan/ diketahui oleh pemerintah Republik Indonesia.
Pengakuan tersebut memiliki batas waktu (misalnya dua atau tiga tahun) tertentu –
tidak berlaku seumur hidup, sehingga yang bersangkutan harus senantiasa aktif memelihara kompetensinya melalui berbagai cara dan mekanisme yang telah diatur.
Status standar dan skema serti�ikasi yang ada dapat berubah menyesuaikan
perkembangan jaman karena pada dasarnya terjadi perubahan dinamika industri karena pertumbuhannya.
Lembaga Serti�ikat Profesi yang menyelenggarakan proses serti�ikasi secara berkala
diperbaharui lisensinya setelah lulus surveilans, dan dapat sewaktu‐waktu dicabut lisensinya apabila tidak beroperasi berdasarkan standar dan peraturan yang berlaku.
Dalam bidang informatika, saat ini paling tidak telah dilisensi dua buah LSP, masing‐masing adalah LSP Telematika yang berpusat di Jakarta dan LSP TIK yang berkantor di Surabaya. LSP ini sesuai dengan karakteristiknya merupakan LSP Third Party, karena memiliki kewenangan untuk melakukan serti�ikasi secara nasional – dalam arti kata menggunakan standar nasional dan serti�ikatnya diakui secara nasional. Sebagai tambahan, dikenal pula LSP First Party dan LSP Second Party, yaitu lembaga serti�ikat profesi yang memiliki ruang lingkup serti�ikasi terbatas pada lingkungan internal organisasi (�irst party) atau bersama dengan mitra strategisny (second party), dimana standar yang dipergunakan bersifat khusus dan terbatas pula pemberlakuannya. LSP Telkom merupakan salah satu contoh dari LSP Second Party yang telah mendapatkan lisensi dari BNSP.
Berkaca pada aturan di atas, dimana posisi serti�ikat internasional atau serti�ikat kompetensi lainnya? Pada dasarnya, lembaga manapun di Indonesia ini berhak untuk memberikan serti�ikat kompetensi atau profesi kepada masyarakat. Namun jika yang diharapkan adalah suatu pengakuan secara nasional (dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia) dan juga diakui secara internasional dalam konteks bilateral atau mulilateral (melalui skema Mutual Recognition Arrangement), maka lembaga tersebut harus memiliki lisensi dari BNSP sebagai institusi dengan otoritas tertinggi dan satu‐satunya di republik ini.
‐‐‐ akhir dokumen ‐‐‐
SERI 999 E-ARTIKEL SISTEM DAN TEKNOLOGI INFORMASI PROF. RICHARDUS EKO INDRAJIT