“
FENOMENA FOBIA
”
Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Psikoterapi Fakultas Psikologi Universitas Diponegoro
Disusun oleh:
NUR ANIS ELFA WALUYA N1M: 15010110120055
FAKULTAS PSIKOLOGI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
KATA PENGANTAR
Penulis panjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT, karena atas limpahan berkah dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan makalah dengan judul :
“Fenomena Fobia”
Penulis sadar bahwa tanpa bantuan dari pihak lain, rasanya sulit dapat menyelesaikan tugas ini. Maka pada kesempatan kali ini atas bantuan dan dorongan moril maupun materiil, penulis menyampaikan rasa hormat dan terima kasih yang mendalam kepada Ibu Farida Hidayati, S. Psi, M.Si selaku dosen pengampu mata kuliah Pengantar Psikoterapi, terimakasih pula kepada orang tua dan keluarga, serta rekan-rekan yang selalu memberikan semangat dan perhatian.
Dalam penyusunan makalah ini, penulis menyadari masih banyak kekurangan. Maka dari itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari pembaca.
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Permasalahan remaja saat ini begitu komplek dengan jumlah remaja yang semakin banyaknya. Jumlah remaja yang semakin banyak ini merupakan potensi bagi pembangunan, mengingat remaja merupakan penerus bangsa di masa depan. Namun ternyata, ada sisi lain dari gambaran remaja Indonesia yang membuat para orang tua dan orang disekitar merasakan ketidaknyamana dengan suatu perilaku yang dimunculkan oleh remaja yaitu masalah fobia. Fobia merupakan rasa takut yang berlebih-lebihan dan berkepanjangan karena rasa takut yang sangat
tidak rasional. Fobia kebanyakan dialami oleh perempuan meskipun para
laki-laki pun juga ada yang mengalami phobia. Orang yang mengalami
fobia biasanya ketika bertemu dengan benda atau hal yang ditakutinya
maka ia akan berteriak sekeras mungkin, berlari, mencari perlindungan
kepada orang lain, menangis, bahkan sampai pingsan.
B. Rumusan Masalah
Dalam makalah ini akan dipaparkan mengenai hal-hal sebagai berikut.
1. Masalah psikologis apa yang terjadi?
2. Pendekatan apa yang paling sesuai digunakan untuk mengatasi masalah psikologis tersebut?
3. Bagaimana aplikasi psikoterapi untuk penderita fobia?
C. Tujuan
D. Manfaat
Dengan adanya makalah ini, diharapkan dapat memberikan berbagai macam manfaat bagi pembaca, diantaranya yaitu:
1. Memahami masalah psikologis yang terjadi di lingkungan kita, yaitu masalah fobia dikalangan remaja.
2. Mampu memahami penjelasan mengenai fenomena fobia.
3. Mampu memahami pendekatan yang digunakan untuk mengatasi masalah psikologis tersebut.
E. Sistematika Penulisan
Sistematika makalah dibagi dalam beberapa bab, yaitu:
Bab I Pendahuluan, bab ini menguraikan Latar belakang masalah, tujuan, manfaat, dan sistematika penulisan makalah.
Bab II Isi, bab ini menguraikan teori yang hendak dipakai untuk meninjau kasus dalam makalah ini.
Bab III Pembahasan, bab ini berisi fenomena mengenai phobia yang terjadi dikalangan remaja, serta pendekatan yang digunakan untuk mengatasi masalah psikologis tersebut.
Bab IV Penutup, bab ini berisi simpulan.
BAB II TEORI
1. FENOMENA FOBIA
Gangguan Anxietas Fobix (Panduan Diagnostik-PPDGJ)
Anxietas dicetuskan oleh adanya situasi atau objek yang jelas (dari luar
individu itu sendiri), yang sebenarnya pada saat kejadian ini tidak membahayakan.
Kondisi lain (dari diri individu itu sendiri) seperti perasaan takut akan adanya penyakit (nosofobia) dan ketakutan akan perubahan bentuk badan (dismorfofobia) yang tak realistik dimasukkan dalam klasifikasi F45.2 (gangguan hipokondrik).
Sebagai akibatnya, objek atau situasi tersebut dihindari atau dihadapi dengan rasa terancam.
Secara subjektif, fisiologik dan tampilan perilaku, anxietas fobik tidak
berbeda dari anxietas yang lain dan dapat dalam bentuk yang ringan sampai yang berat (serangan panik).
Anxietas fobik seringkali berbarengan (coexist) dengan depresi. Suatu
episode depresif seringkali memperburuk keadaan anxietas fobik yang sudah ada sebelumnya. Beberapa episode depresif dapat disertai anxietas fobik temporer, sebaliknya afek depresif seringkali menyertai berbagai fobia, khususnya agorafobia. Pembuatan diagnosis tergantung darimana yang jelas-jelas timbul lebih dahulu dan mana yang lebih dominan pada saat pemeriksaan.
1) F40.0 Agorafobia
Semua kriteria dibawah ini harus dipenuhi untuk diagnosa pasti:
b) Anxietas yang timbul harus terbatas pada (terutama terjadi dalam hubungan dengan) setidaknya dua dari situasi berikut: banyak orang/ keramaian, tempat umum, bepergian keluar
rumah, dan bepergian sendiri; dan
c) Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan gejala yang menonjol (penderita menjadi “house-bound”).
2) F40.1 Fobia sosial
Semua karakter dibawah ini harus dipenuhi untuk diagnosa pasti:
a) Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul harus merupakan manifestasi primer dari anxietasnya dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain seperti misalnya waham atau pikiran obsesif;
b) Anxietas harus mendominasi atau terbatas pada situasi sosial tertentu (outside the family circle); dan
c) Menghindari situasi fobik harus atau sudah merupakan gejala yang menonjol.
Bila terlalu sulit membedakan antara fobia sosial dengan agorafobia, hendaknya diutamakan diagnosis agorafobia (F40.0).
3) F40.2 Fobia khas (Terisolasi)
Semua kriteria dibawah ini harus dipenuhi untuk diagnosis pasti:
a) Gejala psikologis, perilaku atau otonomik yang timbul harus merupakan manifestasi primer dari anxietasnya dan bukan sekunder dari gejala-gejala lain seperti misalnya waham atau pikiran obsesif;
c) Situasi fobik tersebut sedapat mungkin dihindarinya.
Pada fobia khas ini umumnya tidak ada gejala psikiatrik lain, tidak seperti halnya agorafobia dan fobia sosial.
2. PENDEKATAN BEHAVIORISTIK
Pendekatan Behavioral
Konseling behavior tidak dapat dipisahkan dengan riset-riset perilaku belajar pada binatang, sebagaimana yang dilakukan Ivan Pavlov (abad ke-19) dengan teorinya classical conditioning. Berikutnya adalah Skinner yang mengembangkan teori belajar operan, dan sejumlah ahli yang secara terus-menerus melakukan riset dan mengembangkan teori belajar berdasarkan hasil eksperimennya (Hackmann, 1993).
Teori belajar itu menjadi mantap untuk diterapkan ke perilaku manusia setelah behaviorisme yang dipelopori oleh psikolog Amerika, J. B. Watson melakukan riset terhadap anak yang bernama Albert dan publikasi artikelnya “Psychology as the behaviorist views it”. Publikasi dan penelitian yang dilakukan oleh Watson dan lainnya secara sistematik mengembangkan dan menyempurnakan prinsip-prinsip behaviorisme. Teori-teori behaviorisme menjadi amat populer dan memberi inspirasi bagi upaya-upaya pengubahan perilaku, termasuk di dalamnya melalui proses konseling.
Sejalan dengan pendekatan yang digunakan dalam teori behavioral, konseling behavioral menaruh perhatian pada upaya perubahan perilaku. Sebagai sebuah pendekatan yang relatif baru, perkembangannya sejak 1960-an, konseling behavioral telah memberi implikasi yang amat besar dan spesifik pada teknik dan strategi konseling dan dapat diintegrasikan ke dalam pendekatan lain.
transferensi dan teknik-teknik analisis sebagaimana yang diterapkan psikoanalisis tidak banyak membantu mengatasi masalah perilaku klien.
Saat ini konseling/terapi behavioral berkembang pesat dengan ditemukannya sejumlah teknik-teknik pengubahan perilaku, baik yang menekankan pada aspek fisiologis, perilaku, maupun kognitif (Hackmann, 1993). Rachman (1963) dan Wolpe (1963) mengemukakan bahwa terapi behavioral dapat menangani masalah perilaku mulai kegagalan individu untuk belajar merespon secara adaptif hingga mengatasi gejala neurotik.
Konselor yang mengambil pendekatan behavioral membantu klien untuk belajar cara bertindak yang baru dan pantas, atau membantu mereka untuk memodifikasi atau mengeliminasi tingkah laku yang berlebih. Dengan perkataan lain, membantu klien agar tingkah lakunya menjadi lebih adaptif dan menghilangkan yang maladaptif (Gladding, 2004).
Pendekatan behavioral merupakan pilihan untuk membantu klien yang mempunyai masalah spesifik seperti gangguan makan, penyalahgunaan zat, dan disfungsi psikoseksual. Juga bermanfaat untuk membantu gangguan yang diasosiasikan dengan anxietas, stress, asertivitas, berfungsi sebagai orang tua dan interaksi social (Gladding, 2004).
Ahli behavioral yang berjasa mengembangkan konseling di antaranya adalah Wolpe, Lazarus, Bandura, Krumboltz, Rachman, dan Thoresen.
A. Tujuan Konseling
Corey (1997) dan George dan Cristiani (1990) mengemukakan bahwa konseling behavioral itu memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1) Berfokus pada perilaku yang tampak dan spesifik; 2) Memerlukan prosedur perlakuan spesifik sesuai dengan masalah klien; dan 3) penaksiran objektif atas tujuan terapeutik.
prosedur tertentu. Kecermatan penentuan tujuan sangat membantu konselor dan klien dalam memilih prosedur perlakuan yang tepat, dan sekaligus mempermudah mengevaluasi keberhasilan konseling. Perumusan tujuan secara spesifik dianggap lebih penting dibandingkan dengan proses hubungan konseling.
Secara singkat dapat dipahami bahwa tujuan konseling behavior adalah mencapai kehidupan tanpa mengalami perilaku simtomatik, yaitu kehidupan tanpa mengalami kesulitan atau hambatan perilaku, yang dapat membuat ketidakpuasan dalam jangka panjang dan/atau mengalami konflik dengan kehidupan sosial.
Secara khusus, tujuan konseling behavioral mengubah perilaku salah dalam penyesuaian dengan cara-cara memperkuat perilaku yang diharapkan, dan meniadakan perilaku yang tidak diharapkan serta membantu menemukan cara-cara berperilaku yang tepat.
Pada dasarnya tujuan konseling, rumusan tentang perilaku yang hendak dicapai dirumuskan secara spesifik, dibuat secara berbeda pada setiap klien sesuai dengan masalahnya. Kalangan penganut konseling behavioral menegaskan bahwa tujuan konseling harus dirumuskan secara spesifik, dapat diobservasi, dan terukur. Spesifik artinya rumusan perilakunya khusus dan bukan yang bersifat umum, dapat diobservasi (observable) artimya perilaku yang hendak diubah dan arah perubahannya dapat dilihat atau diobservasi, sedangkan terukur (measurable) artinya intensitas perilaku itu dapat diukur intensitasnya, kekuatannya atau frekuensinya. Tujuan yang bersifat umum tidak akan dapat dicapai dalam jangka yang singkat. Rumusan menjadi spesifik merupakan strategi untuk mencapai tujuan-tujuan yang lebih umum.
dapat menghasilkan perubahan-perubahan perilaku yang jelas. Krumboltz (Pietrofesa dkk., 1978) menegaskan tiga kriteria tujuan konseling, yaitu : 1. Tujuan konseling harus dibuat secara berbeda untuk setiap klien.
2. Tujuan konseling untuk setiap klien akan dapat dipadukan dengan nilai-nilai konselor, meskipun tidak perlu identik.
3. Tujuan konseling disusun secara bertingkat, yang dirumuskan dengan perilaku yang dapat diamati dan dicapai klien.
Selanjutnya Krumboltz mengemukakan bahwa dengan dirumuskannya perubahan perilaku dalam bentuk operasional sebagai tujuan konseling, maka akan menimbulkan konsekuensi sebagai berikut :
1. Konselor dan klien akan lebih jelas mengantisipasi apa yang akan diproses dalam konseling, yang telah dan yang tidak akan diselesaikan. 2. Psikologi konseling menjadi lebih terintegrasi dengan teori-teori
psikologi beserta hasil penelitiannya.
3. Perbedaan kriteria harus diaplikasikan secara berbeda dalam mengukur keberhasilan konseling.
B. Peranan Konselor
Pada umumnya konselor yang mempunyai orientasi behavioral bersikap aktif dalam sesi-sesi konseling. Klien belajar, menghilangkan atau belajar kembali bertingkah laku tertentu. Dalam proses ini, konselor berfungsi sebagai konsultan, guru, penasihat, pemberi dukungan dan fasilitator. Ia bisa juga memberi instruksi atau mensupervisi orang-orang pendukung yang ada di lingkungan klien yang membantu dalam proses perubahan tersebut. Konselor behavioral yang efektif beroperasi dengan perspektif yang luas dan terlibat dengan klien dalam setiap fase konseling (Gladding, 2004).
Dalam hal ini menciptakan iklim yang baik adalah sangat penting untuk mempermudah melakukan modifikasi perilaku. Konselor lebih berperan sebagai guru yang membantu klien melakukan teknik-teknik modifikasi perilaku yang sesuai dengan masalah, tujuan yang hendak dicapai.
C. Teknik-Teknik Konseling
1. Teknik-Teknik Tingkah Laku Umum
a. Skedul penguatan bila suatu tingkah laku baru saja dipelajari, maka tingkah laku itu harus diperkuat setiap kali muncul – dengan perkataan lain penguatan yang berlangsung terus. Setelah terbentuk, frekuensi penguat dapat dikurangi – dengan perkataan lain memakai penguat intermiten, supaya tingkah laku tetap bertahan.
b. Shaping tingkah laku yang dipelajari secara bertahap dengan pendekatan suksesif, disebut sebagai shaping. Untuk mempelajari keterampilan baru, konselor dapat memecah-mecah tingkah laku ke dalam unit-unit, dan mempelajarinya dalam unit-unit kecil.
c. Ekstingsi eliminasi dari tingkah laku karena penguat tidak diberikan lagi. Hanya sedikit individu yang mau melakukan sesuatu yang tidak memberi keuntungan.
2. Teknik-Teknik Spesifik
a. Desensitisasi sistematik dirancang untuk membantu klien mengatasi anxietas dalam situasi-situasi tertentu. Klien diminta supaya menggambarkan situasi yang menimbulkan kecemasan dan kemudian harus membuat urutan situasi yang paling menimbulkan kecemasan (100), sampai yang tidak menimbulkan keprihatinan (0). Konselor mengajar klien untuk rileks secara fisik dan mental. b. Pelatihan asertivitas klien belajar untuk membedakan tingkah
c. Time-out teknik aversif yang sangat ringan. Klien dipisahkan dari kemungkinan mendapatkan penguat positif. Sangat efektif bila digunakan untuk waktu ang singkat, misalnya 5 menit.
d. Implosion dan flooding Gladding (2004) menjelaskan terapi implosif sebagai suatu teknik yang sudah lanjut (advanced) yang mencakup mendesensitisasi klien dengan cara meminta klien membayangkan suatu situasi penimbul anxietas yang bisa berakibat parah. Klien tidak diajarkan untuk rileks terlebih dahulu (seperti dalam desensitisasi sistematik). Flooding lebih ringan sifatnya, karena situasi penimbul anxietas yang dibayangkan tidak menimbulkan konsekuensi yang parah.
e. Pengkondisian aversi dilakukan untuk meredakan perilaku simptomatik dengan cara menyajikan stumulus yang tidak menyenangkan (menyakitkan) sehingga perilaku yang tidak dikehendaki (simptomatik) tersebut terhambat kemunculannya. Stimulus dapat berupa sengatan listrik atau ramuan-ramuan yang membuat mual.
f. Pembentukan perilaku model perilaku model digunakan untuk : (1) membentuk perilaku baru pada klien, dan (2) memperkuat perilaku yang sudah terbentuk. Konselor menunjukkan kepada klien tentang perilaku model, dapat menggunakan model audio, model fisik, model hidup, atau lainnya yang teramatu dan dipahami jenis perilaku yang hendak dicontoh. Perilaku yang berhasil dicontoh memperoleh ganjaran dari konselor. Ganjaran dapat berupa pujian sebagai ganjaran social.
(konselor dan klien) untuk mengibah perilaku tertentu pada klien. Konselor dapat memilih perilaku yang realistik dan dapat diterima oleh kedua belah pihak. Setelah perilaku dimunculkan sesuai dengan kesepakatan, ganjaran dapat diberikan kepada klien. Ganjaran positif terhadap perilaku yang dibentuk lebih dipentingkan daripada pemberian hukuman jika kontrak perilaku tudak berhasil.
D. Prosedur dan Tahapan Konseling Behavioral
Untuk para ahli behavioris, konseling dilakukan dengan menggunakan prosedur yang bervariasi dan sistematis yang disengaja secara khusus untuk mengubah perilaku dalam batas-batas tujuan yang disusun secara bersama-sama konselor dan klien. Tokoh aliran psikologi behavioral John D. Krumboltz dan Carl Thoresen (Gibson dan Mitchell, 1981) menempatkan prosedur belajar dalam empat kategori, sebagai berikut :
1. Belajar operan (operant learning) belajar didasarkan atas perlunya pemberian ganjaran (reinforcement) untuk menghasilkan perubahan perilaku yang diharapkan. Ganjaran dapat diberikan dalam bentuk dorongan dan penerimaan sebagai persetujuan, pembenaran atau perhatian konselor terhadap perilaku yang dilakukan klien.
2. Belajar mencontoh (imitative learning) cara dalam memberikan respon baru melalui menunjukkan atau mengerjakan model-model perilaku yang diinginkan sehingga dapat dilakukan oleh klien.
3. Belajar kognitif (cognitive learning) belajar memelihara respon yang diharapkan dan boleh mengadaptasi perilaku yang lebih baik melalui instruksi sederhana.
Teori behavioral berasumsi bahwa perilaku klien adalah hasil kondisi konselor. Oleh karena itu, konselor dalam setiap menyelenggarakan konseling harus beranggapan bahwa setiap reaksi klien adalah akibat dari situasi (stumulus) yang diberikannya.
Tujuan konseling behavioral dalam pengambilan keputusan adalah secara nyata membuat keputusan. Konselor behavioral bersama klien bersepakat menyusun urutan prosedur pengubahan perilaku yang akan diubah, dan selanjutnya konselor menstimulasi perilaku klien.
kONKK
Konselor memulai pembicaraan dan merespon secara sensitif untuk menangkap masalah utama
Konselor dan klien menyetujui masalah mana yang akan diatasi
Klien setuju dengan tujuan
konseling termasuk
memperhitungkan perubahan dan faktor-faktor lain
Konselor dan klien menyetujui sub tujuan sebagai prasyarat mencapai tujuan akhir
Konselor dan klien menyetujui tindakan mana yang akan dicoba pertama kali
Menyusun tujuan baru
dikembangkan dan disetujui
Tindakan klien yang baru diseleksi bersama dan disetujui
Konselor dan klien menyetujui bahwa tujuan telah tercapai
Konselor membuktikan bahwa perubahan perilaku telah dipelihara tanpa konselor
Klien menyatakan masalah lain yang berhubungan dengan masalah utama
Tindakan alternatif pemecahan masalah dipertimbangkan klien dan konselor
Klien menyediakan bukti bahwa dia menyadari konsekuensi setiap tindakan yang dipertimbangkan
Konselor dan klien menyetujui terhadap evaluasi kemajuan pencapaian tujuan
Klien dan konselor memonitor kemajuan (perilaku klien)
Klien dan konselor memonitor kemajuan (perilaku klien)
Klien dan konselor menerapkan perubahan dari belajar ke pemeliharaan perubahan
(Sumber: Pietrofesa 1978) Authentic Counselor. Chicago: Rand McNally College Publishing Company, hlm. 100-101)
E. Aplikasi Konseling
BAB III PEMBAHASAN
A. Aplikasi dengan Terapi Behavioristik
Terapi behavioristik merupakan suatu usaha untuk memahami dan menyembuhkan pola tingkah laku abnormal yang terjadi pada seseorang. Terapi ini bertujuan untuk menghilangkan simptom-simptom maladaptif dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks, serta membentuk tingkah laku baru yang sesuai. Prinsip utama dari terapi ini ialah reinforcement (penguatan) sebagai alat pengatur pembentukan tingkah
laku baru. Dalam terapi ini, konselor behavioral bersama klien bersepakat menyusun urutan prosedur pengubahan perilaku yang akan diubah, dan selanjutnya konselor menstimulasi perilaku klien.
Fobia adalah ketakutan yang disebabkan oleh adanya situasi atau objek yang jelas, yang sebenarnya tidak berbahaya. Adanya situasi atau objek yang jelas (dari luar individu itu sendiri), yang sebenarnya tidak membahayakan.
Kondisi lain (dari diri individu itu sendiri) seperti perasaan takut akan adanya penyakit (nosofobia) dan ketakutan akan perubahan bentuk badan (dismorfofobia) yang tak realistik. Penanganan yang dapat dilakukan pada individu yang mengalami fobia yaitu dengan terapi behavioristik, dimana subjek diberi stimulus dan respon. Stimulus yang diberikan bertahap dan caranya pun disesuaikan dengan objek atau situasi yang ditakuti. Kemudian selain itu dapat juga diberikan terapi dengan menggunakan beberapa teknik spesifik dalam terapi behavioristik diantaranya yaitu:
a) Desensitisasi sistematik
Desensitisasi sistematik merupakan proses penggalian individu terhadap apa yang ditakutinya pada objek atau situasi dan proses tersebut mengubah perilaku yang spesifik dari individu tersebut (National Institute of Mental Health, 2006).
Joseph Wolpe menyatakan dari hasil eksperimen yang telah dilakukan terhadap binatang membuatnya menyatakan bahwa individu menghadapi situasi yang serentak membangkitkan sejumlah respon yang bersaing kuat dapat mengakibatkan ketakutan ataupun kecemasan neurotik. Bagi Wolpe, terapis dan klien harus membentuk hubungan pribadi yang baik karena hal ini merupakan satu aspek esensial dalam proses terapeutik.
Desensitasi sistematik diperkenalkan pertama kali oleh Joseph Wolpe pada tahun 1958 (Rainey, 1997) dimana tahap-tahap yang dilakukan Wolpe yaitu melatih pasien relaksasi fisik, membangun hirarki kecemasan dari stimulus yang ada dan yang terakhir melakukan relaksasi counter-conditioning sebagai respon atas stimulus yang muncul pada
ketakutannya pertama kali. Relaksasi counter-conditioning diharapkan klien dapatr mengurangi intensitas kecemasan dengan melakukan proses relaksasi pada objek yang ditakuti (Richmond, 2007). Adapun prosedur-prosedur yang dapat dilakukan dalam Desensitasi sistematik yaitu:
1) Relaksasi.
Relaksasi dapat dilakukan dengan menggunakan metode relaksasi yang mampu merelaksasikan pikiran dan melawan kecemasan misalnya dengan progressive muscle relaxation. Disini konselor dapat meminta klien untuk rileks secara fisik dan mental.
2) Membentuk hirarki kecemasan.
merupakan sumber ketakutan dari klien agar mampu berimajinasi. Terapis membuat kartu-kartu indek dari nol (tanpa kecemasan sampai seratus (sangat cemas) untuk mengetahui seberapa besar ketakutan yang dimiliki klien.
3) Memasangkan relaksasi dengan situasi yang tergambar dalam hirarki kecemasan.
Pada tahap terakhir ini, klien harus dapat mengurangi kemampuannya dalam menghadapi situasi yang membuatnya cemas dan diharapkan dapat menyelesaikannya dengan mengkonfrontasikan beberapa aitem pada hirarki kecemasan yang telah dibuat saat klien berada dalam tingkat relaksasi.
Pengaruh dari desentisasi sistematik mampu memberikan kepastian pada kien untuk membentu kekuatan yang ada dalam dirinya dalam menghadapi ketakutan. Klien diharapkan mampu mengkonfrontasi ketakutan dan mengurangi simptom-simptom ketakutannya sendiri. Proses relaksasi sangat berpengaruh pada gangguan kecemasan fobia. Relaksasi mampu memutuskan kecemasan yang terjadi pada diri klien. Saat klien melihat objek yang ditakutinya, kecemasan dan ketegangan yang dimiliki klien bertahap dapat mulai berkurang hingga akhirnya bisa hilang.
b) Implosion dan flooding
c) Kontrak perilaku
BAB IV PENUTUP
A. SIMPULAN
Anxietas dicetuskan oleh adanya situasi atau objek yang jelas (dari luar individu itu sendiri), yang sebenarnya pada saat kejadian ini tidak membahayakan. Kondisi lain (dari diri individu itu sendiri) seperti perasaan takut akan adanya penyakit (nosofobia) dan ketakutan akan perubahan bentuk badan (dismorfofobia) yang tak realistik. Anxietas dibagi menjadi tiga pembagian, diantaranya yaitu:
a. Agorafobia b. Fobia Sosial c. Fobia Khas
Terapi behavioristik merupakan suatu usaha untuk memahami dan menyembuhkan pola tingkah laku abnormal yang terjadi pada seseorang. Terapi ini bertujuan untuk menghilangkan simptom-simptom maladaptif dari yang sederhana sampai dengan yang kompleks, serta membentuk tingkah laku baru yang sesuai. Prinsip utama dari terapi ini ialah reinforcement (penguatan) sebagai alat pengatur pembentukan tingkah laku baru. Dalam terapi ini, konselor behavioral bersama klien bersepakat menyusun urutan prosedur pengubahan perilaku yang akan diubah, dan selanjutnya konselor menstimulasi perilaku klien. Fobia termasuk abnormal dan merupakan gangguan kecemasan. Disebut gangguan karena mengganggu kegiatan sehari-hari individu.
Mental Health, 2006). Adapun prosedur-prosedur yang dapat dilakukan
dalam Desensitasi sistematik yaitu: a. Relaksasi.
b. Membentuk hirarki kecemasan.
BAB V
DAFTAR PUSTAKA
Corey, Gerald. (2010). Teori dan Praktek Konseling dan Psikoterapi. Bandung: Refika Aditama.
Cottone, R.R. (1992). Theories and Paradigms of Counseling and Psychotherapy. Boston: Allyn and Bacon.
Gunawinata, Vensi Anita Ria. (2011). Terapi Perlaku untuk Fobia Lift. http://repository.ubaya.ac.id/2942/1/Terapi20Perilaku_Abstract_2011.pdf. Diunduh pada tanggal 30 April 2013.
Hartono dan Soedarmadji, B. (2012). Psikologi Konseling. Jakarta:Kencana Prenada Media Group.
Komalasari, G. Wahyuni, E. dan Karsih. (2011). Teori dan Teknik Konseling. Jakarta: Indeks.
Latipun. (2011). Psikologi Konseling. Malang: UMM Press.
Lesmana, J.M. (2006). Dasar-Dasar Konseling. Jakarta: Universitas Indonesia Press.
Tarsidi, Iding. (2002). Jawaban Ujian Tengah Semester (Aplikasi Statistik Penelitian.
http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196601041993 011-IDING_TARSIDI/BEHAV_TRP.pdf.
Diunduh pada tanggal 30 April 2013.