• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lumbung Desa Ketahanan Pangan Dan Sarana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Lumbung Desa Ketahanan Pangan Dan Sarana"

Copied!
17
0
0

Teks penuh

(1)

TABLOID ALHIKMAH EDISI 103 FEBRUARI 2015 | RABIUL AKHIR 1435 H

Kiprah Fenomenal Wakafpro 99

Amal Abadi

Sahabat Nabi

“Di Madinah, yang

Diwakafkan itu Hotel”

Cerita Hijab

Ratu Catwalk

Tabloid Alhikmah Edisi 103

Februari 2015 / Rabiul Akhir 1436 H

Pulau Jawa & Bali

Rp

(2)
(3)

4

TABLOID ALHIKMAH EDISI 103 FEBRUARI 2015 | RABIUL AKHIR 1436 H TABLOID ALHIKMAH EDISI 103 FEBRUARI 2015 | RABIUL AKHIR 1435 H

5

INSPIRASI UTAMA

salam

SALAM adalah rubrik yang berisi saran, kritik bagi Tabloid Alhikmah, Surat Anda dapat dikirim melalui: email: [email protected], SMS ke: 022 7083 1050

Caranya: ketik ALHIKMAH (spasi) KOMENTAR ANDA diakhiri dengan NAMA dan ALAMAT Anda.

SURAT PEMBACA YANG DIMUAT BERHAK MENDAPATKAN

1 BUAH T-SHIRT persembahan dari Cipta Cekas Grafika. Hadiah dapat diambil di kantor redaksi Alhikmah Jalan Sidomukti No. 99 H Bandung dengan membawa

fotokopi KTP. Batas maksimal pengambilan terhitung sebulan dari waktu pemuatan.

SELAMAT ATAS KOMENTAR YANG DIMUAT!

DOA

BERANDA REDAKSI

Produktif

Dewan Redaksi: Prof. Dr. KH. Miftah Faridl; KH. Athian Ali M. Da’i, MA; Dr. KH. Aminuddin Saleh; Prof. Dr. H. Asep S. Muhtadi; Drs. Sepriyanto; Ima Rachmalia; Arie Suryani; Luthfi A. F. ; Hendi Suhendi; Asep Irawan; H. Bhakti S. Pemimpin Umum: Hendi Suhendi Pemimpin Redaksi: Handono Bhakti S. Redaktur Pelaksana: Rizki Lesus. Tim Redaksi: M. Rizki Utama, Habe Sung-karyo, Pipin Nurullah, ; Kontributor: Gamapinsa, Dita, Aghniya. Visual Editor: Winny. Desain & Tata Letak: yat hidayat. Adm & Keuangan: Winda Koordinator Marketing: Ayub S Ibrahim. Tim Marketing: Aris Sirkulasi: Humam Firmansyah.

Penerbit: Yayasan Semai Sinergi Umat (Sinergi Foundation). Percetakan: Cipta Cekas Grafika

Alamat Redaksi: Gedung Wakaf 99 Jl. Sidomukti No. 99 H Bandung 40123

Alamat Pemasaran: Jl. HOS Tjokroaminoto (Pasirkaliki) No. 143 Bandung

Tlp/SMS: 022-70831050/022-2513991/3992, Fax: 022-2508790

email: [email protected] | [email protected]

Website: www.alhikmah.co FB: Tabloid Alhikmah Twitter: @tabloidalhikmah

Tabloid Alhikmah terbit satu bulan sekali. Diterbitkan oleh Yayasan Semai Sinergi Umat (Sinergi Foundation) sebagai Media Dakwah inspirasi bagi setiap generasi.

Wartawan Tabloid Alhikmah dibekali kartu pers (press card) atau surat tugas dalam menjalankan liputan dan tidak diperkenankan menerima, apalagi meminta pemberian apapun dari narasumber.

TABLOID

member of

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rizki yang halal, dan amal yang diterima.” (HR Ahmad & Ibnu Majah )

Do’a Mohon Kebaikan

Desain Sampul : Win Cover : Digital Imaging

W

akaf (Harus) Produktif?” Headline Inspirasi Utama tabloid

Alhikmah edisi 103, Februari 2015. Boleh jadi dahi pembaca sekalian, sedikit berkernyit. Atau bisa saja tidak sedikit, melainkan selipat dua. Tapi harus diakui, istilah Wakaf Produktif belum banyak dikenal di tengah masyarakat muslim tanah air. Selama ini, istilah wakaf lekat dengan fungsi sosial keagamaan. Dirikan masjid, pesantren, dan fasilitas keagamaan lainnya yang dipergunakan untuk kemaslahatan umat, yang ‘melulu’ bersifat transendental.

Wajar, jika kaum muslim kebanyakan di negeri ini mencoba membuat kesimpulan sendiri, bahwa wakaf itu 100 persen harus berfungsi sosial, dan tak boleh bersentuhan dengan hal ihwal yang bersifat komersial. Maka tatkala istilah wakaf produktif mulai dimunculkan ke permukaan, jangan heran jika banyak yang kulit-kulit di keningnya berlipat tiga, atau lebih kerap dari itu.

Padahal, jika menengok sejarahnya, bahkan di masa Rasulullah dan para Sahabat, praktik wakaf produktif secara esensial sudah dilakukan. Dalam sebuah Hadist, dari Ibnu Umar ra, berkata : “Bahwa sahabat Umar ra, memperoleh sebidang tanah di  Khaibar, kemudian Umar ra, menghadap Rasulullah SAW untuk meminta petunjuk, Umar berkata : “Hai Rasulullah SAW., saya mendapat sebidang tanah di Khaibar, saya belum mendapat harta sebaik itu, maka apakah yang engkau perintahkan kepadaku?” Rasulullah SAW. bersabda: “Bila engkau suka, kau tahan (pokoknya) tanah itu, dan engkau sedekahkan (hasilnya), tidak dijual, tidak dihibahkan dan tidak diwariskan.  Ibnu Umar berkata: “Umar menyedekahkannya (hasil pengelolaan tanah) kepada orang-orang fakir, kaum kerabat, hamba sahaya, sabilillah, Ibnu sabil dan tamu. Dan tidak dilarang bagi yang mengelola (nazhir) wakaf makan dari hasilnya dengan cara yang baik (sepantasnya) atau memberi makan orang lain dengan tidak bermaksud menumpuk harta” (HR.Muslim).

Tidak hanya Umar ra, sahabat lainnya pun, semisal Utsman melakukan hal yang sama. Dalam salah satu artikel Inspirasi Utama edisi 103 yang berjudul “Amal Abadi Sahabat Nabi”, jejak-jejak wakaf Utsman bahkan masih tampak dan terasa manfaatnya hingga beribu tahun setelahnya. “Membeli sumur Raumah, lalu digratiskan untuk kepentingan umat. Menumbuhsuburkan kebun kurma, yang berdampak peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dan kini, ribuan tahun berlalu, manfaatnya tak berhenti, terus mengalir. Hotel berbintang atas nama beliau pun berdiri megah, tempat singgah para peziarah. Hasilnya? Tentu untuk kemanfaatan umat yang seluas-luasnya.”

Di negeri ini, wakaf produktif yang demikian potensial, mulai menarik minat institusi-istitusi dakwah sosial, untuk menyemai benih edukasi ke tengah masyarakat. Ada Tabung Wakaf Indonesia (TWI), yang berdiri tahun 2005, ada pula Lembaga Wakaf Produktif (WakafPro 99) – Sinergi Foundation, yang masih seumur jagung, namun boleh dikata cukup fenomenal dengan program-programnya yang monumental di ranah pendayagunaan dana-dana wakaf, termasuk Wakaf Produktif.

Silahkan buka halaman selanjutnya, dan selamat menikmati edisi “Wakaf (Harus) Produktif”. Tak mengapa, meski dahi sedikit berkernyit. Wallahu a’lam.

Usul Bahas Majalah Penghina Nabi

Charlie Hebdo

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Kepada Alhikmah, saya usul, khususnya MUI Jabar, agar membahas ihwal majalah penghina Nabi asal Prancis Charlie Hebdo. Coba oleh Alhikmah dipertajam terkait

Charlie Hebdo itu, sekarang setelah kasus penembakan itu terbit lagi karikatur Nabi Muhammad. Luar biasa mereka menghina nabi, sekarang katanya seolah-olah dalam karikatur itu, kata nabi Muhammad seseolah-olah-seolah-olah saya itu Charlie.

(H Rafani Achyar, Sekretaris Umum MUI Jawa Barat)

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

Terima kasih kepada ustadz Rafani Achyar yang sudi kiranya memberi masukan kepada Alhikmah dan menikmati Alhikmah selama ini. Insha Allah, ihwal penghinaan majalah Charle Hebdo yang membuat kartun Nabi kami bahas secara mendalam di www.alhikmah.co. Dan sarannya menjadi masukkan kami ke depan. Terima kasih.

Alhikmah Enak Dibaca & Menginspirasi

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Saya pembaca setia Alhikmah. Alhamdulillah, sejak dulu tema-tema

Alhikmah menginspirasi dan membuat kita ingin beramal walau pun dengan kemampuan terbatas kita. Bahasanya enak dibaca, dan mudah dipahami oleh masyarakat. Terima kasih Alhikmah, semoga ke depan terus menginspirasi.

Wa’alaikumussalam Warahmatullahi Wabarakatuh

(4)

PROLOG

segi benda yang diwakafkan.

“Sekarang dilihat dari aspek bendanya, dari benda yang diwakafkan, itu telah diatur dalam Undang-undang (UU) Perwakafan kita. UU Perwakafan mengacunya ke fiqh Islam,” katanya.

Menurutnya, pada tahun 2004 pasca reformasi, keluar UU Wakaf no. 41 tahun 2004. Di situ ditegaskan wakaf dibagi menjadi: wakaf tidak bergerak, seperti tanah; bangunan. Ada juga

wakaf bergerak, termasuk di dalamnya wakaf uang dan saham.

“Lalu nanti wakaf yang tidak bergerak juga ada yang pasif dan ada yang produktif. Yang pasif itu untuk masjid, pemakaman. Sedangkan yang produktif itu wakaf tanah untuk perkebunan, gedung untuk perkantoran atau ruko,” tegas ustadz Jeje Zaenudin. Begitu pun wakaf bergerak, dibagi menjadi wakaf bergerak pasif dan produktif.

“Maka perkembangan wakaf di Indonesia itu dilihat dari segi pengelolaannya dan jenisnya, itu berkembang dari: Pertama pola tradisional, yaitu wakaf hanya dipahami sebagai tanah, untuk konsumtif, seperti masjid, mushala, dll. Kemudian memasuki fase pra-modern, disitu tidak hanya dipahami sebagai wakaf konsumtif, tidak hanya tanah, tapi mulai ke bangunan dan diproduktifkan. Tapi di situ belum menyeluruh. Nah, memasuki tahap modern, sudah profesional pengelolaannya. Wakaf tidak lagi dimaknai sebagai yang tidak bergerak, tapi juga wakaf emas, perak, uang, saham, dll,” kata ustadz Jeje.

Pengelolaan wakaf lebih professional di Indonesia menurut ustadz Jeje ditandai dengan adanya UU Wakaf no. 41 tahun 2004 yang salah satu amanatnya melahirkan BWI. Diikuti oleh Peraturan Pemerintah no. 73 tahun 2006, diikuti oleh Peraturan Menteri Agama, yang kemudian melahirkan Badan Wakaf Indonesia (BWI).

Wakaf Produktif

“Wakaf harus produktif. Kalau tidak produktif,

nggak mengalirkan pahala. Tujuan wakaf itu

‘menahan pokoknya, mengalirkan manfaatnya’, Itu esensi dari wakaf. Maka kalau tidak ada manfaatnya, tidak menghasilkan apa-apa, malah membiayai yang mengurusnya, jadinya kan tidak produktif. Sekarang itu era bagaimana wakaf diproduktifkan,” tegas ustadz Jeje Zaenudin.

Di tempat yang berbeda, Sekretaris Umum MUI Jawa Barat, HM Rafani Achyar mengatakan ihwal wakaf produktif telah diatur dalam rekomendasi MUI tentang wakaf. Menurutnya, wakaf yang diproduktifkan

harus sesuai syariah, mulai dari pengelolaanya hingga hasilnya yang halal dan tidak mengurangi pokok wakafnya, khususnya dalam wakaf benda bergerak seperti uang.

“Seiring dengan perkembangan transaksi ekonomi, termasuk di dalamnya investasi, maka muncul pemikiran untuk menginvestasikan benda-benda wakaf agar lebih produktif sehingga nilai kemanfaatannya bisa lebih besar. Penukaran benda wakaf (istibdal al-waqf) diperbolehkan sepanjang untuk meralisasikan kemashalahatan karena untuk mempertahankan keberlangsungan manfaat wakaf

(istimrar baqai al-manfa’ah), dan dilakukan dengan ganti yang mempunyai nilai sepadan atau lebih baik,” kata ustadz HM Rafani Achyar membacakan rekomendasi MUI tentang wakaf.

MUI menegaskan bahwa wakaf uang boleh diubah menjadi wakaf benda, atau sebaliknya wakaf benda boleh diubah menjadi wakaf uang. Syaratnya bahwa manfaatnya lebih besar dan harus seizin menteri, sebagaimana ketentuan perundang-undangan dan pertimbangan MUI.

Nazir (pengelola wakaf ) pun harus mengerti benar tugas dan tanggungjawabnya sebagai

nazir. Ia juga wajib menguasai norma-norma

investasi. Selama nazir mengikuti norma-normanya, maka kerugian investasinya tidak menjadi tanggungjawabnya.

“Jadi intinya itu tadi, kalau dalam dagang modal utamanya tidak boleh hilang, kemudian harus terus bersifat produktif, dan hasilnya dimanfaatkan untuk kemashalahatan umat,” tegas HM Rafani Achyar.

Menurut ustadz Rafani, nazir (pengelola wakaf ) haruslah lembaga, bukan perorangan. “Dalam wakaf itu ada wakif yaitu orang yang mewakafkan dan nazir adalah yang menerima wakafnya. Nazir

ini bukan perorangan tapi harusnya organisasi, lembaga, atau institusi,” tegasnya. Menurut MUI,

nazir harus mengelola wakaf sesuai amanat wakif. “Kalau yang dalam wakaf produktif, Nazir harus mengingatkan dan memberi penjelasan pada wakif, bahwa wakaf ini akan diproduktifkan untuk apa dan harus ada persetujuan dari wakif,” kata ustadz Rafani.

Dalam wakaf produktif pun, MUI berpandangan bahwa usaha tersebut harus sesuai dengan ketentuan syariah. Ustadz Rafani mencontohkan ada yang mewakafkan

hotel. “Maka hotelnya juga harus yang sesuai syariah, bukan hotel umum yang banyak melakukan kegiatan yang tidak sesuai dengan syariah, mohon maaf misalnya, dipakai sebagai prostitusi atau karaoke. Jadi wakaf produktif itu digandengkannya dengan prinsip-prinsip ekonomi syariah. Kalau dicampur, ya tidak boleh,” tegasnya.

MUI pun merekomendasikan agar wakaf memang bersifat produktif. “Harus dijelaskan kepada masyarakat, Jangankan wakaf ya, memberikan barang saja misalnya ‘saya mau membagikan baju bekas, kan harus yang masih layak, kalau yang tidak layak mah tidak ada manfaatnya’. Kalau mau ngasih barang itu yang masih dicintai oleh pemiliknya (kita). Itu lebih bagus dan utama. Wakaf juga begitu, jangan karena misalnya, saya punya tanah dibiarkan daripada tidak bermanfaat sama sekali ya saya wakafkan saja. Dari sisi niat memang dapat pahala, tapi saya yakin pahalanya berbeda dengan wakaf yang lebih produktif,” tegasnya.

Potensi Menjanjikan

Sesuai dengan rekomendasi MUI ihwal wakaf produktif, Sekretaris BWI Jawa Barat, H. Dr. Tatang Astarudin mengatakan kepada Alhikmah bahwa BWI di daerah-daerah dan pusat terus berupaya memaksimalkan potensi yang besar dari wakaf produktif ini. Mulai dari sosialisasi hingga perapihan administrasi dan pendataan.

“Aset wakaf kita ini luar biasa, sampai tiga kali negara Singapura, artinya pemerintah itu harus peduli karena ini bisa menjadi alternatif ekonomi. Ibarat “raksasa tidur” (the sleeping giant), wakaf memiliki potensi luar bisa, jika mampu dikelola secara baik dan profesional serta diinvestasikan pada sektor yang produktif. Dalam perspektif

“economic corporation”, wakaf ibarat modal raksasa yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan yang keuntungannya dapat digunakan bagi kepentingan umat,” tegas Dr. Tatang.

BWI sendiri, menurut Dr. Tatang, memulai program transformasi (peralihan) pengelolaan wakaf dari wakaf sosial menjadi wakaf produktif. Menurutnya, jika pun ada wakaf sosial, misalnya seperti masjid, maka BWI akan mengarahkan agar sekaligus dibuat kawasan terpadu seperti perkantoran, kawasan bisnis yang menjanjikan.

BWI sendiri, menurut Dr. Tatang sedang memulai program transformasi pengelolaan wakaf, dari wakaf sosial menjadi wakaf produktif. Jadi fungsi masjid-masjid di tengah kota kawasan strategis, selain fungsi ibadah ada fungsi yang menguntungkan misalnya

terpadu dengan perkantoran/kawasan bisnis.

“BWI melakukan sosialisasi kepada masyarakat untuk dari wakaf sosial ke produktif, dari wakaf individu ke wakaf kolektif,” pungkasnya.

Penulis: Rizki Lesus

Tim Liputan: Pipin Nurullah, Aghniya Ilma Hasan,

Dita Fitri Alverina

Penyunting: HB Sungkaryo

PROLOG

M

adinah al Munawarrah. Masjid Nabawi itu kian ramai, hidup, tempat sang Nabi mengatur segala urusan. Mulai urusan di dalam rumah, bertetangga, bermasyarakat, berpolitik, berperang, hingga ekonomi negara pun semua dibahas di sana, dan diaplikasikan. Dan, salah satu sistem ekonomi yang menopang Negara Madinah ialah wakaf, sebuah gagasan yang pertama kali muncul yang dibawa risalah Islam.

Dalam waktu singkat, wakaf menjadi sumber dana andalan Negara Madinah, juga negara-negara Islam setelahnya, dan retribusi yang cakupannya luas. Sang Nabi kini menahan tujuh petak perkebunan kurma yang diwasiatkan Mukhairiq setelah ia syahid dalam Perang Uhud. Dikelola langsung oleh beliau sesuai petunjuk Allah, dan inilah wakaf pertama dalam Islam.

Al Waqidi menyebutkan Rasulullah mewakafkan berpetak-petak perkebunan kurma, sebidang tanah liat, sebidang tanah, barang lelangan, tanah yang telah ditinggalkan penduduknya, dan tempat minum istri beliau dan ibu Ibrahim, Mariyah al Qibtiyah. Semua ini berlangsung pada tahun ketujuh Hijriah.

Langkah sang Nabi diikuti para sahabat yang ingin mendapatkan pahala yang terus mengalir walau dirinya telah tiada, karena kebermanfaatan wakaf. Abu Thalhah misalnya, mewakafkan kebun kesayangannya, Baihara. Rasul nan mulia pernah berteduh di Taman Baihara, dan turunlah surat Al Imran : 92

“Kamu sekali-kali tidak sampai kepada kebajikan (yang sempurna), sebelum kamu menafkahkan sehahagian harta yang kamu cintai. Dan apa saja yang kamu nafkahkan maka sesungguhnya Allah

mengetahuinya.” Segera Abu Thalhah berkata

kepada Nabi.” Sungguh, harta yang paling kucintai adalah Baihara. Ia kusedekahkan untuk Allah, mudah-mudahan menjadi sumber kebaikan dan simpanan di sisi Allah. Kelolalah, wahai Rasulullah, sesuai yang ditunjukkan kepadamu.”

“Hebat!” kata sang Nabi. “itu harta yang menjanjikan keuntungan yang besar. Hai Abu Thalhah, sudah kudengar apa yang kau katakan barusan. Menurutku, sebaiknya ia diberikan kerabatmu dengan ketetapan bahwa ia diwakafkan kepada mereka,” sabda sang Nabi pada Abu Thalhah.

Dari perkataan Nabi ini, nampak karena tanah sahabat mulia Abu Thalhah dapat dikelola dan menjanjikan keuntungan bisnis yang besar, maka Nabi menetapkan tanah ini sebagai wakaf yang diproduktifkan (wakaf produktif ) yang keuntungannya digunakan untuk umat. Ini pula yang dilakukan para sahabat.

Umar misalnya, saat mendapatkan harta ghanimah berupa tanah di Khaibar, ia kebingungan dan meminta saran Nabi diapakan tanah bagiannya itu. “Jika kau mau, tahan (pokok) tanahnya, sedekahkan hasilnya,” kata Sang Nabi. Tanah itu pun dicatatkan sebagai wakaf Umar Ibn Khattab. Setelah Umar wafat, oleh Abdullah, putranya, hasil

pemanfaatan untuk air dan kebun digunakan untuk membiayai kebutuhan kaum muslimin.

Pemuka-pemuka sahabat lain tak ketinggalan dalam urusan wakaf produktif ini. Utsman mewakafkan hartanya di Baradis, Khaibar, dan Wadil Qura senilai dua ratus ribu dinar. Zubair mewakafkan rumahnya. Abbas Ibn Abdul Muthallib mewakafkan rumahnya pada masa pemerintahan Umar.

Setelah turun Surat al Baqarah ayat 245, tentang rezeki, Abu al Dahdah langsung turun ke kebunnya. Kepada istrinya yang sedang berada di sana ia berkata,” Keluarlah, kebun ini telah kupinjamkan kepada Allah.”

Sebuah rumah di Shafa, Makkah, diwakafkan oleh al Arqam Ibn Abi al Arqam. Ali dan Fathimah mewakafkan hartanya pada Bani Hasyim dan Bani Muthalib. Demikian para sahabat lain berlomba-lomba mewakafkan harta yang mereka miliki, Jabir mengatakan, “Tidak ada seorang pun sahabat Nabi yang diperkirakan memiliki kekayaan, kecuali dia mewakafkannya. Subhanallah!

***

“Jika seorang manusia meninggal dunia, maka terputuslah amal perbuatannya, kecuali tiga hal; sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang selalu mendoakannya.” (HR Muslim)

Imam as Suyuthi mengatakan,  “Adapun yang dimaksud dengan sedekah jariyah di sini adalah wakaf.” Imam Nawawi dalam Syarh Shahih Muslimnya mengatakan: “ Para ulama menyatakan bahwa amal perbuatan orang yang telah meninggal dunia terputus dengan kematiannya, kecuali tiga hal ini… Sesungguhnya, anak shaleh termasuk hasil usahanya; demikian pula dengan ilmunya yang terus diajarkan atau dikaji setelah kematiannya, dan sedekah jariyah, yakni wakaf.”

Al Hafidz Ibn Katsir menyebutkan,” Sedekah jariyah, seperti wakaf dan lain sebagainya, merupakan bekas-bekas amal perbuatannya dan peninggalannya.” Ihwal wakaf, pertengahan Januari silam, Alhikmah berkesempatan mewawancari Divisi Humas Badan Wakaf Indonesia (BWI), Ustadz Dr. Jeje Zaenudin, MA, di bilangan Taman Mini Jakarta Timur.

“Shadaqah jariyah ini shadaqah yang mengalir, dalam konteks fiqh disebut dengan wakaf,” kata Ustadz Jeje mengawali perbincangan. Wakaf, berasal dari kata “waqafa” yang bermakna penahanan, atau menahan, walaupun masih banyak lainnya.

Konsep wakaf mengacu pesan Rasulullah kepada Umar, ketika Umar hendak mewakafkan tanahnya. “Nah sebab itu konsep wakaf diambil dari kasus Umar bin Khattab yang menyedekahkan kebun kurmanya ke Rasul, begitupun dengan Thalhah. Maka Rasul mengatakan,’Tahan kebunnya, tanahnya, dan sedekahkan buahnya,’. Jadi konsepnya itu mengekalkan manfaat dari benda yang disedekahkan. Itu hakikat dari wakaf. Maka para ulama merumuskan konsep sederhana wakaf, yaitu baqaul ‘ain, atau habsul ‘ain wa tasbilul

manfaat. Jadi menahan zat bendanya, dan

mengalirkan manfaatnya.,” tegas pakar wakaf yang juga Kabid Hukum Majelis Intelektual dan Ulama Muda Indonesia (MIUMI) ini.

Dari konsep habsul ‘ain wa tasbilul

manfaat (menahan pokoknya,

mengalirkan manfaatnya), para ulama pun dapat merumuskan jenis-jenis wakaf. Ada tiga jenis wakaf yaitu yang pertama, aspek si waqif-nya atau pemberi wakafnya. Kedua, aspek yang menerima wakafnya. Ketiga, aspek benda yang diwakafkan. Dan ustadz Jeje lebih mengkhususkan pembahasan yang ketiga, dari

WAKAF

(harus)

PRODUKTIF?

WAKAF

(harus)

PRODUKTIF?

dok.alhikmah

dok.alhikmah

“Wakaf harus produktif. Kalau tidak produktif, nggak mengalirkan pahala. Kan

(5)

8

TABLOID ALHIKMAH EDISI 103 FEBRUARI 2015 | RABIUL AKHIR 1436 H TABLOID ALHIKMAH EDISI 103 FEBRUARI 2015 | RABIUL AKHIR 1435 H

9

P

anas terik menggantung di langit kota–

kota seantero Jazirah Arab. Angin panasnya membelai tiap jengkal Madinah. Sumur-sumur melompong, kering. Satu-satunya sumur yang ada airnya hanya sumur Raumah, milik seorang Yahudi. Sang Nabi dan rakyat Madinah mulai merasa dahaga, kehausan.

Berduyun warga Madinah antre, berbaris rapi membeli air kepada si Yahudi pemilik sumur. Rasul bersabda lirih, tak sanggup melihat umatnya menderita, “Wahai Sahabatku, siapa saja diantara kalian yang menyumbangkan hartanya untuk dapat membebaskan sumur itu, lalu menyumbangkannya untuk umat, maka akan mendapat surgaNya Allah Ta’ala” (HR. Muslim).

Tetiba, siapa lagi kalau bukan pengusaha kesohor Madinah, sahabat terbaik Nabi setelah Abu Bakar dan Umar, yang segera menyambut seruan sang Nabi. Utsman Ibn Affan langsung mendatangi si Yahudi tersebut. Ia segera menawari harga sangat tinggi, hingga puluhan ribu dinar!

“Seandainya sumur ini saya jual kepadamu wahai Utsman, maka aku tidak memiliki penghasilan yang bisa aku peroleh setiap hari,” kata Yahudi itu ‘kekeuh’ tak ingin melepaskan sumurnya. Utsman tak kehabisan cara, mengingat balasan surga yang begitu jelas di hadapannya.

“Bagaimana kalau aku beli setengahnya saja dari sumurmu?” Utsman, gaya seorang pedagangnya mulai beraksi. “Maksudmu?” tanya Yahudi keheranan. “Begini, jika engkau setuju maka kita akan memiliki sumur ini bergantian. Satu hari sumur ini milikku, esoknya kembali menjadi milikmu kemudian lusa menjadi milikku lagi. Demikian selanjutnya berganti satu-satu hari. Bagaimana?” jelas Utsman.

Yahudi itu pun terbengong heran, sambil berguman,”… saya mendapatkan uang besar dari Utsman tanpa harus kehilangan sumur milikku”. Akhirnya si Yahudi setuju menerima tawaran Utsman tadi dan disepakati pula hari ini sumur Raumah adalah milik Utsman bin Affan Radhiyallahu ‘anhu.

Utsman pun segera mengumumkan kepada penduduk Madinah yang mau mengambil air di sumur Raumah, silahkan mengambil air untuk kebutuhan mereka semua Gratis! Rakyatpun berbondong datang ke sumur Utsman.

Keesokan hari Yahudi mendapati sumur miliknya sepi pembeli, karena penduduk Madinah masih memiliki persedian air di rumah. Yahudi itupun mendatangi Utsman dan berkata “Wahai Utsman belilah setengah lagi sumurku ini dengan harga sama seperti engkau membeli setengahnya kemarin”. Utsman setuju, lalu dibelinya seharga 20.000 dirham, maka sumur Raumah pun menjadi milik Utsman secara penuh.

Utsman pun secara resmi mewakafkan sumur Raumah tersebut untuk kaum muslimin. Per detik itu, sumur dapat dimanfaatkan untuk kepentingan umat, seluruh rakyat Madinah. Sumur itu menjadi sumber mata air lahan sekitarnya, hingga ditanam kebun kurma. Rakyat Madinah memanfaatkan kurma untuk berdagang, dan hasilnya dimanfaatkan untuk umat.

Pohon kurma terus bertambah, hingga diwa-riskan dari generasi ke generasi. Dari para Khalifah, hingga Daulah Utsmaniyyah, dan terakhir dikelola oleh pemerintah Arab Saudi. Departemen Pertanian

Saudi menjual hasil dari ribuan pohon ke pasar-pasar. Setengah keuntungannya disalurkan ke anak yatim.

Setengahnya lagi disimpan dalam bentuk rek-ening di bank atas nama Utsman Ibn Affan, dibawah pengawasan Departemen Pertanian. Uang yang mampir di rekening Ridwanullah Utsman Ibn Af-fan terus membengkak, hingga pemerintah Sau-di memutuskan membelikan tanah dekat Masjid Nabawi atas nama Utsman bin Affan.

Tanah tersebut dibangun hotel bintang lima ha-sil wakaf Utsman. Hotel milik Utsman bin Affan pun kini berdiri kukuh di samping Masjid Nabi. Peziarah berdatangan menginap di sana, hingga omzet ho-telnya bisa mencapai puluhan juta per bulan. Seten-gah keuntungannya lagi-lagi digunakan untuk ke-giatan sosial.

Setengahnya lagi, disimpan di rekening atas nama Utsman bin Affan. Subhanallah, walau jasad tertimbun tanah, namun amal Utsman bin Affan ter-us mengalir. Manfaatnya terter-us dirasakan hingga kini. Hotel dan rekening atas nama Utsman, menjadi saksi kedermawanan sahabat nabi ini. Wallahua’lam.

(rizki lesus/dbs)

Sumber: kisahmuslim.com

Utsman Ibn Affan

Utsman Ibn Affan

Membeli sumur Raumah, lalu digratiskan untuk kepentingan umat. Menumbuhsuburkan kebun kurma,

yang berdampak peningkatan kesejahteraan masyarakat. Dan kini, ribuan tahun berlalu, manfaatnya

tak berhenti, terus mengalir. Hotel berbintang atas nama beliau pun berdiri megah, tempat singgah para

peziarah. Hasilnya? Tentu untuk kemanfaatan umat yang seluas-luasnya.

INSPIRASI UTAMA

P

embaca mungkin sudah tak asing lagi dengan Lembaga Zakat kesohor di tanah air, Dompet Dhuafa (DD) yang sudah dua dekade berdiri. DD, yang sedianya didirikan untuk menghimpun zakat, ternyata pada perjalanannya mulai melirik potensi wakaf.

Selain aspirasi beberapa donatur yang berkeinginan untuk berwakaf, beberapa aset wakaf ternyata malah ada yang kurang terawat, hingga tidak terurus. Akhirnya, pada tahun 2005, Dompet Dhuafa mendirikan Tabung Wakaf Indonesia (TWI) sebagai program wakaf yang direncanakan tidak seperti wakaf sosial pada umumnya, tetapi sebagai lembaga wakaf produktif.

“Sejarahnya ada tabung wakaf, kita melihat wakaf lebih kepada sosial, orang berwakaf tidak menghasilkan surplus, tapi mengeluarkan biaya operasional, akhirnya ada masjid yang minta sumbangan di jalan-jalan. Terpikir, kenapa tidak bangun wakaf yang diproduktifkan?” kenang Direktur Tabung Wakaf Indonesia, Parmuji Abbas di kantornya bilangan Ciputat, Tangerang sepenggal Januari 2015 lalu.

Dalam perjalanannya, ternyata Parmuji mengakui potensi wakaf jauh lebih besar dari zakat yang selama ini dihimpun DD. “Wakaf prospeknya lebih bagus dibanding zakat dan infak. Zakat harus dihabiskan dalam waktu satu tahun, dan ada delapan asnaf yang harus dipenuhi. Sedangkan wakaf nggak, kita bisa gunakan untuk membuat hal bermanfaat, bisa diproduktifkan,” katanya.

TWI sejak didirikan memang menerapkan konsep wakaf produktif, bukan wakaf sosial. Ranah penggarapan wakaf sosial dilakukan induk TWI, alias Dompet Dhuafa. “Kita awal-awal berdiri mensosialisasikan wakaf produktif. Masuk ke pengajian-pengajian, tebar flyer, ceramah di majelis taklim. Mengenalkan wakaf produktif,” kenangnya.

Menurutnya, dari pengalaman proses sosialisasi wakaf produktif, banyak masyarakat yang kurang paham, dan malah memertanyakan mengapa wakaf malah dibisniskan? “Ada yang bilang.’ Kita

capek-capek wakaf, situ yang dapat untung’, Di sini kita jelaskan detail, bahwa wakaf itu lebih baik

Tabungan

Hari Depan

produktif. Kalau donatur sudah paham, malah mereka lebih memilih wakaf produktif saja, ogah

wakaf sosial,” kata Parmuji tersenyum.

Diakui Parmuji, sejak 2005 didirikan, TWI sendiri mulai lebih efektif berjalan pada 2009, setelah perapihan administrasi dan pendataan aset-aset wakaf produktif. Dalam prosesnya, TWI banyak melakukan survei pengelolaan wakaf hingga ke mancanegara seperti: Mesir, Turki, Singapura, dan beberapa negara lainnya.

Sejak 2005, sudah cukup banyak aset wakaf produktif yang dikelola TWI sebagai aset. Mulai dari bisnis properti hingga kuliner. “Kita punya bisnis lapangan futsal, kemudian kita bangun 14 unit rumah sewa, ruko 6 unit di Parung, food court di Bekasi, gedung filantropi. Kita bangun lagi, 12 unit rumah sewa di dekat sini, masih banyak lagi,” katanya.

“Dari awal, kita memang fokus wakaf properti. Tahun 2011 kita sudah mendapat sertifikat dari BWI sebagai nazir aset,” kata Parmuji. Mengenai wakaf uang tunai, menurut Parmuji TWI masih dalam proses sertifikasi nazir uang oleh BWI, namun program wakaf uang tunai terus berjalan.

“Tentang wakaf uang, pokok wakafnya ya uangnya itu tak boleh berkurang. Karenanya, dari keuntungan surplus wakaf, kita di TWI sengaja simpan 40 persennya untuk ditahan atau re-investasi, untuk menjaga pokok wakafnya,” kata Parmuji.

Sebut saja keuntungan tahun 2014 silam, dari wakaf produktif TWI yang berupa properti, menghasilkan 2 Miliar, maka 40 persen ditahan untuk maintenance aset dan re-investasi, 50 persen untuk wakaf sosial yang diserahkan kepada DD, dan 10 persen sisanya untuk operasional pengelola, sesuai dengan Undang-undang.

Banyak Tantangan

Hampir satu dekade, Parmuji mengatakan banyak tantangan yang dihadapi dalam mengelola TWI. Mulai dari sulitnya birokrasi keluar akta dan Sertifikat Wakaf untuk wakif, hingga masyarakat yang belum banyak memahami wakaf produktif.

Proses wakif mendapatkan Akta Wakaf dari KUA dan sertifikat atas nama TWI memang cukup panjang. Sebagai contoh, ada wakif yang ingin mewakafkan tanahnya. Maka Tim TWI harus melakukan survei, uji kelaikan, hingga keluar rekomendasi bisnis apa yang cocok di sana. Jika Direksi DD menyetujui, maka usaha bisa dijalankan.

“Kita produktifkan, lalu ikrar wakaf di KUA. Harus ada proses dari RT, RW, Lurah, Kecamatan. Tahu sendiri, Indonesia seperti apa. Prosesnya masih panjang. Setelah beres, harus ke BPN, balik nama bahwa tanah ini wakaf. Keluar sertifikat atas nama DD. Kalau sudah keluar, berarti sudah tanah wakaf, tidak bisa diagunkan, dijual, sudah milik umat,” kata Parmuji.

Tantangan selain birokrasi, ialah bagaimana meyakinkan calon wakif bahwa memang wakaf harus diproduktifkan. “Kalau bisnisnya dirasa laik, sebenarnya banyak yang tertarik. Ada juga yang tidak, dia bilang kita ngasih uang, tapi tidak dapat apa-apa,” kenang Parmuji.

“Kalau berpikiran tabungan akhirat, pahala mengalir abadi, memikirkan masa depan akhirat ya dia mau. Tapi kalau masih mikir dunia yang susah, banyak macam-macamnya,” tambahnya.

Ke depannya, TWI menurut Parmuji mungkin hanya fokus mengelola aspek legal dari wakaf, karena untuk bisnis, akan bekerjasama dengan PT Wasilan Nusantara, DD Corpora yang akan turun mengelolanya. Pun untuk fundraising, timnya bergabung dengan fundraising DD.

Hasil keuntungan properti wakaf pun akan diserahkan 50 persen ke DD yang dipercaya akan menggunakannya untuk program-program pemberdayaan Bidang Ekonomi, Pendidikan, dan Sosial.

“Untuk surplus wakaf tahun 2013 dan 2014 akan kami berikan ke DD, dan mereka yang akan mengelolanya,” tegas Parmuji. (Rizki/alhikmah)

Tabung Wakaf Indonesia (TWI)

… banyak masyarakat yang kurang paham,

dan malah mempertanyakan mengapa wakaf malah dibisniskan

(red: diproduktifkan).

“Ada yang bilang.’ Kita capek-capek wakaf, situ yang dapet untung.’ Di sini kita jelaskan detail,

bahwa wakaf itu lebih baik produktif. Kalau donatur sudah paham, malah mereka lebih memilih

wakaf produktif saja, ogah wakaf sosial,”

dok.alhikmah Parmuji Abbas (Direktur TWI)

(6)

D

emikian sepenggal pendapat yang menjadi spirit Direktur Lembaga Wakaf Produktif (WakafPro 99) - Sinergi Foundation, Asep Irawan dalam menakhodai program lembaganya yang concern di bidang wakaf.

“Bagaimana tidak, bila berbicara potensi, wakaf memiliki sumber yang lebih besar dari Zakat Infak Shadaqah (ZIS). Selain ia tidak dibatasi oleh persentase, dan waktunya tidak mengenal haul atau waktu,” ungkap Asep Irawan di sepenggal Januari 2015.

Apalagi, tambah Asep, wakaf memiliki dampak berkelanjutan. Bisa jadi wakafnya sekali, tapi dampaknya berkali-kali, berkelanjutan. Sehingga kebaikan demi kebaikan dari para wakif terus berjalan.

Hanya saja, Menurut Asep bagaimana kemudian keberadaan lembaga wakaf itu sendiri bisa menumbuhkan kepercayaan, agar pewakif (orang yang berwakaf ) mau menyalurkan dananya. Satu di antara hal yang dapat menjaga kepercayaan wakif dengan terdaftar di Badan Wakaf Indonesia (BWI).

“Alhamdulillah, kita sudah mendapatkan izin operasional berupa Sertifikat Wakaf dengan Nomor Pendaftaran; 3.00056/15 April 2015-2019,” lanjutnya.

Wakafpro99 sendiri lahir dari rahim Dompet Dhuafa Jabar – Sinergi Foundation yang saat itu, masih fokus mengelola dana Zakat Infak Wakaf (Ziswaf ). Sejak digulirkan program wakaf produktif pada 2009, Wakafpro99 mulai khusus dan serius mengurus wakaf dan terpisah dari penghimpunan dana zakat, infak, dan shadaqah.

Mulailah WakafPro 99 – Sinergi Foundation berkiprah. Di tahun itu pula, ia mendapati mindset

dan paradigma baru tentang dunia wakaf. Bahwasannya wakaf itu bisa diproduktifkan, dan bahkan memang secara fikih, wakaf itu

memang harus berkembang. Namun demikian, wakaf produktif masih menjadi barang baru bagi masyarakat. Maka tatkala digulirkan, memang dari awal masih butuh diedukasi. Mengajak mereka, bahwa ternyata wakaf dalam bentuk uang itu bisa. Dan wakafnya itu sendiri bisa diusahakan dalam pelbagai bidang.

Berdasarkan tren yang ada sejak 2005-2011, Asep menyebutkan program wakaf memang punya tren kenaikan signifikan daripada ZIS. Setidaknya Asep mencatatkan, untuk 2014, kenaikan penghimpunan Wakaf Wakafpro99 – Sinergi Foundation ada di angka 70 persen. Tahun 2013, kenaikannya sebesar 89,43 persen. Sementara di tahun 2012, kenaikan di angka 46,8 persen. Artinya, Asep menyimpulkan, di tahun-tahun terakhir wakaf memiliki tren kenaikan positif, dan terus berkembang.

Aset yang dimiliki Wakafpro99 – Sinergi Foundation pun terus bertambah. Mulai dari wakaf gedung yang disewakan dan menghasilkan profit yang lumayan besar dari gedung yang dinamakan Gedung Wakaf. Ada juga pengelolaan Apotek, hingga usaha pakaian dan makanan yang terus dikelola secara profesional.

“Di Sinergi Foundation ada fenomena, dulu kata Ziswaf itu karena memang perolehan zakat nomor satu, infak nomor dua, dan wakaf nomor tiga. Tapi di tahun 2014 tren itu berubah, wakaf naik satu tingkat. Saya optimis, dengan target dan strategi fundraising, wakaf bisa leading,” lanjut Asep.

Di tahun 2015, Sinergi Foundation sebagai lembaga yang menaungi Wakafpro99 ini menargetkan penghimpunan sebesar 25 miliar. Dengan rincian wakaf 14 miliar, zakat 6,5 miliar, dan infak 4,5 miliar. Tentunya ini menjadi tantangan tersendiri, dan membutuhkan strategi khusus. Karena dibandingkan tahun lalu, prosentase kenaikannya di atas 100 persen.

Tentu tak sembarang angka itu dicantumkan. Bersama tim, ia sudah menyiapkan beberapa strategi agar dapat menghimpun dana dari masyarakat. Satu di antaranya, tahun 2015 nanti, Sinergi akan masuk ke Jakarta, khusus menggalang dana wakaf.

“Mengapa jakarta, karena di dunia perzakatan, sebenarnya perputaran uang kepedulian masyarakat, secara makro menyeluruh, kurang lebih 90 persen beredar di Jakarta. Dengan perputaran itu, ini pasti berdampak pada kepedulian sosial yang ada di Jakarta, baik personal maupun corporate,” lanjut Asep.

Pendapat ini juga didukung oleh hasil dari pendapatan lembaga ZISWAF lainnya yang, menurut Asep, berhasil menghimpun dana hingga 200 miliar. Angka itu 60 persennya didapatkan di Jabodetabek. Artinya, lanjut Asep, strategi Sinergi di tahun 2015 harus melangkah ke sana, untuk menebarkan manfaat lebih besar. Juga lingkup Sinergi kini lebih luas, tak sekadar Jawa Barat.

Sementara di Bandung sendiri, Asep mengatakan, geliat wakaf masih bagus dan akan dikembangkan terus. Karena potensinya masih besar dan belum tergali secara maksimal. Diharapkan dengan pelbagai varian program di tahun 2015 ini, Wakafpro99 bisa menghimpun donasi lebh besar lagi, karena program yang disajikan ada dari pelbagai aspek.

Beberapa wakaf produktif yang dikelola di tahun 2015 sudah mulai berjalan dan menghasilkan seperti : Wakaf kebun dan pohon, wakaf peternakan kambing, wakaf penyewaan ruko dan bangunan, wakaf penyewaan gedung kantor, wakaf pengelolaan bisnis pakaian muslim. Hasil dari wakaf tersebut akan dioptimalkan untuk membiayai wakaf-wakaf sosial, pendidikan, dan kesehatan.

Di bidang kesehatan misalnya, ada mega proyek

Lembaga Wakaf Produktif (WakafPro 99) Sinergi Foundation

INSPIRASI UTAMA

“Potensi wakaf ini seperti ‘harimau tidur’.

Selama ini yang digemborkan adalah zakat-infak, padahal bila potensi ini digali lebih maksimal, sangat

mungkin berdampak bagi kesejahteraan masyarakat,”

Kiprah Fenomenal

WAKAFPRO

99

Kiprah Fenomenal

WAKAFPRO

99

INSPIRASI UTAMA

produktif kambing, wakaf produktif sawah 10 hektare,

program wakaf produktif Pohon Jabon. Adapun program pengembangan sosial (Social Development)

ada program Taman Wakaf Pemakaman Muslim Firdaus Memorial Park (FMP) dan Madinatul Quran. “Seluruhnya bersentuhan langsung dengan kebutuhan masyarakat,” tandas Asep.

“Untuk sosialisasi akan kita kuatkan di media, yakni dengan membuat situs khusus di setiap programnya. Termasuk untuk media di darat seperti Rumah Bersalin Cuma-Cuma (RBC) update dan FMP update,” kata Asep.

Ke depannya, Asep Irawan juga menerangkan modifikasi program, yakni penambahan nilai wakaf sebesar 10 persen untuk operasional. “Karena pokok wakaf tidak boleh digunakan untuk operasional. Dengan demikian, wakif juga ikut berpartisipasi dalam mensosialisasikan program wakaf sebagai amal mereka,” tandas Asep.

Program Fenomenal

Pembaca tentu pernah mendengar Taman Wakaf Pemakaman Muslim Firdaus Memorial Park. Program fenomenal yang digagas WakafPro 99 –

Sinergi Foundation, lalu kemudian diluncurkan di pengujung 2013 lalu ini demikian menyedot perhatian segenap kaum peduli.

“Masalah pemakaman ini rupanya sudah menjadi masalah yang begitu kompleks bagi seluruh lapisan masyarakat. Bagi kaum dhuafa bahkan jauh lebih rumit, sebab mereka harus sanggup menyediakan dana yang mencapai jutaan rupiah untuk dapat memakamkan sanak saudaranya dengan layak,”ungkap Direktur WakafPro 99 – Sinergi Foundation, Asep Irawan.

Selain tingginya biaya pemakaman yang menjadi permasalahan pemakaman di Indonesia, beberapa faktor lain yang juga cukup berpengaruh, dan penting untuk dipikirkan solusinya antara lain: Ketersediaan lahan pemakaman yang semakin sempit, suasana pemakaman yang memunculkan kesan angker, hingga penanganannya yang tidak sesuai syariat. Padahal bagi kaum muslim, mengurus jenazah dan menyediakan lahan pemakaman hukumnya adalah fardhu kifayah. Wajib bagi orang-orang muslim di sekitar tempat tinggalnya.

Ikhtiar mewujudkanTaman Wakaf Pemakaman Muslim “Firdaus Memorial Park”, Lembaga Wakaf Produktif (WakafPro 99), sebagai penggagas sekaligus pengelola, menggalang dana wakaf dari segenap kaum peduli. Dengan Rp 10 juta, para pewakaf (waqif), akan memeroleh benefit, antara lain: 2 kavling pemakaman untuk pihak keluarga waqif, 2 kavling pemakaman untuk keluarga dhuafa.

Untuk lahan Taman Wakaf Pemakaman Muslim “Firdaus Memorial Park”, kata Asep, Alhamdulillah saat ini telah dibebaskan lahan seluas 7 ha di Desa Ciptagumati Kec. Cikalong Wetan Kab. Bandung Barat. “Apabila Anda melalui tol Cipularang, lahan ini terletak tepat di KM 106,300-105,700 Tol Purbaleunyi arah Jakarta. Lahan pun tengah dalam proses land clearing dan pematangan,” katanya.

(pipin nurullah/alhikmah)

Rumah Sehat Ibu dan Anak (RSIA) Wakaf. Di ranah pendidikan ada rencana membangun Beasiswa Pemimpin Bangsa (BPB) Building. Di lingkup pemberdayaan ekonomi masyarakat, ada sedekah

Asep Irawan (Direktur Wakafpro99)

dok. alhikmah

(7)

12

TABLOID ALHIKMAH EDISI 103 FEBRUARI 2015 | RABIUL AKHIR 1436 H TABLOID ALHIKMAH EDISI 103 FEBRUARI 2015 | RABIUL AKHIR 1435 H

13

INSPIRASI UTAMA

Bagaimana konsep wakaf produktif?

Ya wakaf produktif itu sebetulnya wakaf yang tidak dirumuskan secara konvensional yang ada da-lam Kitab Fiqh maupun Wakaf. Kalau wakaf produktif itu ya wakaf yang diproduktifkan dan digunakan un-tuk kegiatan-kegiatan yang sifatnya produktif.

Nah pemaknaan wakaf dalam konvensional itu peruntukkannya sesuai dengan tujuan yang ditetap-kan waqif. Kalau tujuan wakaf ini untuk Al Qur’an, ya sudah al Qur’an saja. Kalau wakaf itu diperuntukkan untuk membangun mushala, ya sudah mushala saja, meskipun tidak terpakai. Jadi, makna harfiah wakaf itu kan al-habs, atau mempertahankan, jadi berhenti dari kepemilikan dari waqif atau orang lain. Yang memilik-inya adalah maslahatul ummah, jadi untuk kemasla-hatan umat saja. Itu tidak berfungsi produktif, hanya digunakan untuk ibadah saja.

Tapi kalau wakaf produktif, di sana ada pengem-bangan paradigma bahwa wakaf yang dikembang-kan itu budikembang-kan formalnya, tapi esensinya. Esensi wakaf itu apa? Kepentingan umat. Tujuan wakaf itu kan un-tuk kepentingan umat, sehingga wakaf itu tidak ha-nya dalam bentuk yang material, sebagaimana yang konvensional disebutkan dalam kitab-kitab fiqh, sep-erti: madrasah, tanah, bangunan, atau benda yang digunakan secara konsumtif.

Yang seperti ini kan, misalkan wakaf dipakai mushala, kalau roboh, ya, selesai. Tapi wakaf produk-tif itu bisa digunakan untuk pemberdayaan umat, ka-takanlah untuk modal bagi masyarakat miskin. Yang seperti ini mengupayakan bagaimana masyarakat miskin lebih makmur dari segi ekonominya.

Bentuk dari wakaf produktif ini kan berupa wakaf tunai, atau cash wakaf, atau waqfun naqt. Wakaf dalam bentuk uang tunai. Dalam makna yang konvensional, wakaf uang itu kan tidak ada, yang ada itu dalam ben-tuk benda. Konteksnya itu uang hanya digunakan se-bagai alat tukar menukar saja, dan bisa berpindah-pin-dah. Sementara wakaf kan tidak bisa dipindah-pinberpindah-pin-dah. Itu kalau menurut makna konvensional.

Lebih dari itu, esensi wakaf produktif adalah kepentingan umat. Sehingga akhirnya wakaf produk-tif dikembangkan dalam bentuk uang. Tetapi uang ini tidak boleh hilang dan berkurang, karena syarat wakaf itu al-habs, harus tetap nilainya. Artinya, yang asal dan pokok itu tidak boleh hilang. Kalau wakaf uang digu-nakan untuk modal sebesar 10 juta, maka saat bisnisn-ya berjalan, uang 10 juta ini harus tetap ada.

Modal ini kan akan menghasilkan kelebihan, nan-ti kelebihannya ini dipakai untuk usaha-usaha kecil masyarakat, yang bergerak di bidang ekonomi. Tapi yang pokoknya tidak hilang, dan tetap saja sebagai

Pakar Perwakafan, Prof. Dr. H. Moh. Najib, M. Ag yang juga Guru Besar UIN Sunan Gunung

Djati Bandung memberikan pandangannya ihwal wakaf produktif. Ketua ICMI Orwil

Ja-bar ini menegaskan bahwa wakaf memang sebaiknya diproduktifkan, bisa ke pelbagai

jenis usaha seperti pertokoan, properti, olahrga, dsb. Keuntungan hasil usaha tersebut,

diharapkan kembali kepada umat dan proses usahanya dapat memberdayakan umat.

Berikut petikan wawancara Alhikmah dengan beliau di UIN Bandung.

wakaf, tidak dikembalikan ke siapa-siapa, dan digu-nakan sebagai modal untuk yang lain supaya bisa lebih berkembang. Sepuluh juta itu bukan milik dia, harus dikembalikan lagi dan tidak berkurang. Kalau wakaf digunakan untuk modal kan bisa berkembang menjadi modal usaha.

Bisa digunakan sejauh mana uang atau modal untuk wakaf produktif?

Wakaf produktif bukan hanya yang tadi disebut-kan, tapi juga wakaf yang berorientasi kemanfaatan-nya untuk digunakan pada kegiatan yang sifatkemanfaatan-nya produktif. Kalau misalnya wakaf masjid, nah di wakaf tersebut juga harus dibangun pertokoannya.

Aset-aset yang dimiliki toko ini kan milik wakaf. Jadi yang dihasilkan oleh toko ini, selain untuk men-gurusi biasa operasional masjid, ya kembali lagi sebagai wakaf. Jadi untuk yang produktif, peman-faatan wakafnya digunakan untuk kegiatan yang bersifat profit oriented.

Kalau hanya masjid kan ya begitu-begitu saja. Tidak akan bertambah. Tapi kalau wakaf produktif digunakan untuk modal usaha. Dari uang 10-20 juta, digunakan untuk modal pertokoan, nanti kan bisa bertambah. Kalau wakaf konvensional itu ya al-habs, tertahan, kepemilikannya tidak boleh berubah-ubah.

Aturan wakaf itu tidak pernah berubah, jadi al-waqfu la yuuba’u walaa yuuratsu walaa yunfakhu, artinya tidak boleh dibelikan, diwariskan, dan tidak boleh diperjualbelikan. Kalau wakaf produktif ini me-mang untuk modal, dan jual beli.

Wakaf produktif juga bisa digunakan dalam ben-tuk perbankan, keuangan syari’ah, atau modal usaha, atau bisa juga kredit pembiayaan masyarakat kecil dan menengah. Wakaf produktif itu sendiri sebetuln-ya pengistilahan dari wakaf tunai, atau cash waqf tadi itu. Tujuannya untuk kegiatan yang produktif.

Dari kebermanfaatan, wakaf produktif dibanding zakat?

Kalau zakat itu digunakan untuk kegiatan kon-sumtif. Misalnya zakat fitrah, ya berasnya dikonsumsi sendiri. Zakat uang, zakat emas, zakat hasil pertani-an, zakat hasil peternakpertani-an, zakat hasil panen. Begitu panen, harus wajib zakat 2.5%, dikasih ke masyarakat dan langsung dimakan, habis.

Tapi kalau wakaf itu tidak boleh habis. Maka sebetul-nya, potensi yang sangat besar untuk dijadikan pengem-bangan pemberdayaan umat sebetulnya wakaf. Tapi wakaf yang harus dikembangkan itu harus wakaf pro-duktif. Wakaf ini yang berorientasi pada pemberdayaan umat, ekonomi, juga modal usaha, dan kegiatan produk-tif, yang bisa memberdayakan masyarakat.

Kegiatan apa saja yang bisa dikembangkan dari wakaf produktif?

Pokoknya segala kegiatan yang menghasilkan, bersifat produktif, menghasilkan keuntungan dan laba, juga value adding, atau nilai tambah. Bisa saja sebetulnya, misalnya dipakai membuat jongko. Kan tadinya orang-orang itu seringkali memahami wakaf itu untuk masjid, atau madrasah. Itu saja. Tapi kalau ini dibuat ruko, ya untuk umat. Silakan masyarakat miskin yang tidak punya modal, berdagang disitu. Kan bisa begitu.

Nah kalau zakat, ada muzakki dan ada mustahiq. Mustahiq itu yang menerima harta zakat. Setelah menerima, bisa dipakai apa saja. Mau dimakan, mau dijual, gak jadi masalah. Tapi kalau wakaf tidak boleh.

Al-habs itu harus terpelihara, terjaga. Tapi itu makna yang konvensional begitu. Sekarang itu, tidak begitu. Disamping modal dasar atau pokoknya itu tetap ter-jaga, tapi juga bertambah.

Misalnya, tempat olahraga. Bisa juga jadi produktif, tempat olahraga yang menghasilkan keuntungan. Atau katakanlah tanah sawah, silakan dipakai usaha. Hasil dari usaha tersebut hasilnya wakaf.

Wakaf apa saja dibolehkan sepanjang untuk kepentingan umat. Tapi kalau ada wakaf yang digu-nakan untuk maksiat, jatuhnya malah haram.

Bagaimana cara menjelaskan pada masyarakat bahwa ada wakaf selain yang bersifat sosial?

Tinggal disosialisasikan saja. Bisa melalui buku-buku panduan, penjelasan pada masyarakat melalui pengajian-pengajian, dan informasi-informasi publik.

Bagaimana perkembangan wakaf produktif di Indonesia?

Sudah ada. Memang tidak ada data yang pasti, tapi memang sudah banyak berkembang. Ada beberapa wakaf yang dikerjakan beberapa lembaga, termasuk juga oleh lembaga pendidikan dan sosial, juga pesantren. Itu seperti pesantren kan, tanahnya semua wakaf, ada usahanya yang hasilnya untuk pesantren lagi, karena modalnya dari wakaf.

Waktu zaman sahabat, banyak yang memberikan wakaf dalam bentuk bibit tanaman dan hewan ternak. Hasilnya terus berkembang biak, dan bisa dipakai umat.

Wakafnya tidak hanya terbatas pertokoan saja, bisa juga untuk pertanian, perikanan, modal usaha bisnis, produksi, industri, atau perbankan. Atau bisa juga seperti tadi, usaha jasa hotel. Dompet Dhuafa Jabar, misalnya juga kan membangun rumah sakit bersalin dari wakaf. Hasilnya bisa untuk orang miskin.

(aghniya/ ed: rizki)

Wakaf Produktif

Untuk

Pemberdayaan Umat

Prof. Dr. H. Moh. Najib, M.Ag

Guru Besar UIN Sunan Gunung Djati Bandung,

Ketua Ikatan Cendikiawan Muslim Indonesia (ICMI) Orwil Jawa Barat)

(8)

Jadi, sebenarnya bisa dibilang lebih penting wakaf produktif?

Sekarang, kalau wakaf-wakaf yang dalam pen-gertian tidak produktif, ya itu juga penting. Wakaf masjid juga penting. Tapi manfaat di situ kan man-faat ukhrawiyah; untuk shalat. Atau kuburan. Jelas manfaatnya. Sekarang kalau ada yang mening-gal, harus beli tanah. Di Sandiego Hills, harganya Rp80juta/kav. Coba kalau di kampung, 1 rumah per-keluarga, luasnya 100 meter. Jadi besar man-faatnya. Hanya saja, itu sekali pakai, ya sudah.

Ada anggapan sebagian masyarakat bahwa ‘Wakaf Produktif adalah wakaf yang dibisniskan’, bagaimana BWI menjelaskan ini kepada masyarakat?

Ya jika yang dimaksud dengan bisnis itu keun-tungan materi ya jelas. tidak bisa produktif kalau ti-dak dibisniskan. Kalau dibisniskan misal ada tanah ditanami sawi dan menghasilkan sawi, lalu diolah dan diekspor.

Berapa keuntungannya? Apalagi kalau posisinya strategis, di perkotaan dan dibangun gedung-ge-dung perkantoran, atau ruko-ruko. Tanah wakaf itu ya tidak bakal berubah. Tapi dengan dikerjasamakan dengan investor dalam kerangka bisnis, maka ini akan mendorong wakaf produktif itu, pahala akan terus mengalir. Sehingga bukan saja memberi man-faat pada yang mewakafkan, tapi juga orang-orang mendapatkan manfaatnya dari wakaf itu sendiri.

Jadi, wakaf produktif adalah sebuah keharusan?

Iya. Dalam wakaf itu tidak mungkin akan ter-dorong untuk diproduktifkan, jika tidak memberi keuntungan. Bisnis itu kan bicara tentang keuntun-gan. Tapi tentunya keuntungan di sini harus tetap dalam kerangka syar’i. Misalnya tanah wakaf dipro-duktifkan untuk mendapatkan keuntungan, dipa-kai gedung karaoke, judi, kan tidak mungkin. Tetap semuanya produktif yang halal.

Bagaimana batasan dan proses untuk bisa disebut wakaf produktif?

Konsepnya harus sesuai syari’ah, dan produk yang dihasilkan juga halal. Menurut peraturan pe-merintah, peraturan menteri, peraturan BWI, dibuat juga batasan-batasan dalam pengelolaan wakaf

pro-duktif. Jangan sampai wakaf tersebut keluar syari’ah. Contohnya, wakaf tidak boleh berubah statusnya.

Itu ada aturannya. Karena mau dibisniskan, di-ubah statusnya. Itu harus melalui persetujuan BWI. Dari BWI direkomendasikan, baru oleh menteri, dan baru bisa dibisniskan.

Apa saja yang bisa dimanfaatkan sebagai wakaf? Ada tuntunan dari Rasulullah dan Sahabat?

Ketika zaman Rasulullah, lembaga seperti itu belum dibutuhkan. Artinya, kenapa sekarang diper-lukan adanya institusi, perlu adanya pembaharuan. Rasulullah itu menetapkan dasar-dasar hukumnya. Apa fungsi wakaf, tujuannya untuk apa, apa yang boleh dan tidak boleh diwakafkan, atau seperti wakaf tidak boleh dijual; tidak boleh diwariskan; ti-dak boleh dihadiahkan, itu harus dijaga.

Esensi wakaf untuk memberi manfaat harus dip-ikirkan. Kalau zaman rasul pemanfaatannya itu ke-bun kurma dengan kurmanya, nah zaman sekarang mana mau tanam kurma? Sekarang itu yang bisa melahirkan manfaat itu ya membangun gedung. Disewakan sebagai kantor, jadi ruko, jauh lebih be-sar daripada panen kurma. Jadi pada masa rasul, orientasi pemanfaatannya itu langsung dengan buah-buahan. Nah kita sekarang orientasinya lebih pada kebutuhan masyarakat.

Dulu zaman Rasul menyesuaikan dengan kondisi masyarakat yang masih sederhana. Di masa itu apa kebutuhan masyarakatnya? Butuh tempat ibadah, makanan yang cukup, butuh pakaian yang cukup. Nah kebutuhan itu kan berkembang. Apa kebutuhan itu saja yang dibutuhkan sekarang? Kan bukan.

Sekarang kaum muslimin butuh permodalan, pendidikan yang memadai, keahlian, butuh juga lembaga-lembaga dan badan usaha. Maka karena kebutuhan itu berubah, pengelolaan juga berubah. Yang tidak boleh berubah itu pokok-pokok dasar wakafnya; jenis benda yang diwakafkan, laran-gan-larangannya, peruntukannya. Itu yang harus tetap dijaga. Tapi pengelolaannya ada di wilayah pengembangan. Wilayah ijtihad itu namanya.

(pipin/aghniya/ed: rizki lesus/Alhikmah)

INSPIRASI UTAMA

INSPIRASI UTAMA

M

edio Januari 2015, wartawan

Alhikmah, Pipin Nurullah

berkesempatan mewawancarai Divisi Hubungan Masyarakat Badan Wakaf Indonesia (BWI), Ustadz Dr. Jeje Zaenudin di kantor BWI bilangan Taman Mini, Jakarta Timur. Berikut petikan wawancaranya.

Apa sebenaranya BWI dan mengapa harus ada BWI?

Nah kalau ada pertanyaan “Kenapa harus ada BWI?” BWI itu ada karena tuntutan UU. Jadi untuk meningkatkan pengelolaan dan pemberdayaan. Karena itulah, perlu ada lembaga yang berskala na-sional yang mengurusi perihal wakaf. Nah kalau BWI itu dibentuk atas perintah UU, maka disahkan dan ditunjuknya oleh Presiden.

Dalam UU Wakaf No. 41 Tahun 2004 itu harus membentuk BWI. Itu di bab 6 pasal 47 mengenai badan wakaf, dalam rangka memajukan perwakaf-an nasional

BWI ini baru tiga periode; mulai dari pembentu-kan dan penataannya belum terkonsentrasi penuh pada pemberdayaan, tapi sudah mengalami ke-majuan yang luar biasa. Salah satunya pencanan-gan wakaf uang pada tahun 2010, oleh Presiden SBY. Mudah-mudahan pada periode ketiga ini akan ter-realisasi program-programnya itu, karena sudah mulai tertib, mulai dari UU dan keorganisasiannya. Tinggal bagaimana menggalakkan program. Itu ba-rang kali secara globalnya.

Tugas dan wewenang BWI diatur dalam pasal 49: Pertama, yaitu memberikan pembinaan pada para pengelola wakaf (nazir). Kedua, melakukan pengelolaan harta benda skala nasional dan inter-nasional. Ketiga, memberikan persetujuan dan izin terhadap perubahan peruntukan khusus wakaf.

Misalnya untuk masjid, namun ketika meli-hat pengurusnya, mau untuk ruko saja. Itu boleh, tapi harus dengan persetujuan BWI. Atau pesant-ren yang bangkrut tidak ada muridnya, kapesant-rena di tengah kota. Lebih baik diubah menjadi ruko, lalu hasilnya bisa untuk santri. Nah itu lebih bagus lagi. Itu juga diizinkan. Keempat, memberhentikan dan mengganti nadzir yang mengelolanya tidak benar. Umpamanya ia tidak amanah, uang hasil wakaf dikonsumsi sendiri, bisa diganti oleh BWI. Kelima, memberikan saran pada pemerintah dalam meny-usun kebijakan di bidang wakaf. Misalnya di Jabar, ada kebijakan yang merugikan, karena ada yang menyerobot tanah wakaf, BWI terlibat di situ.

Undang undang (UU) Wakaf No.41 Tahun 2004 mengamanatkan agar

dibentuknya sebuah lembaga independen yang bertugas memajukan dan

mengembangkan perwakafan di Indonesia. Maka dibentuklah Badan Wakaf

Indonesia (BWI) yang bertugas untuk memajukan perwakafan di tanah air,

ikhtiar menyejahterakan umat dengan potensi wakaf yang sangat besar.

Bagaimana cara kerja BWI?

BWI untuk membagi kerjanya, membentuk per-wakilan dari provinsi sampai kota, karena banyakn-ya nazir. Tidak seluruhnya yang ada di provinsi, ada di kota juga. Karena adanya BWI sesuai kebutuhan, jadi bukan seperti lembaga pemerintah. Kalau di daerahnya kering wakaf, ya buat apa BWI di situ.

Tapi sebetulnya, kalau kita sifatnya terbuka, itu diupayakan ada di setiap provinsi. Jadi sifatnya itu bukan lagi menunggu, tapi jemput bola. Nah itu yang kita belum sampai sana. Soalnya pengelola yang sekarang saja masih sangat berat. Sebetulnya kalau sambil merekrut (pewakaf ) waqif-waqif baru di Indonesia, pasti akan dibentuk sampai kota-kota dan kabupaten.

Bagaimana hubungan BWI dengan lembaga-lembaga sosial pengelola wakaf Lainnya?

Kalau dengan lembaga lain, BWI sebagai payun-gnya, yang mengelola wakaf harus sepengetahuan BWI, tidak boleh tidak. Terutama yang menyangkut peralihan fungsi, tukar guling, harus ada BWI. Kalau tidak demikian, ilegal. Yang swasta juga tetap, kare-na kalau wakaf itu perorangan, atau ormas, kalau ingin dapat pengesahan, harus lewat BWI.

Untuk yang ingin daftar wakaf, pengesahannya kan harus ke BWI data sertifikatnya itu. Karena dalam Kementrian Agama tidak akan mengeluarkan serti-fikat wakaf, kalau tidak ada persetujuan dari kita.

Bekerjasama dengan Kemenag yang paling pokok, yang mengatur izin-izin perwakafan. Yang kedua, bekerjasama dengan lembaga-lembaga pe-merintah, terutama untuk wakaf uang. Itu kan ada 14 bank yang menerima wakaf uang yang ditunjuk pemerintah sebagai penerima.

Bagaimana BWI memandang wakaf produktif?

Dalam Undang-undang tentang wakaf dise-butkan wakaf benda tidak bergerak dan bergerak. Nanti yang bergerak itu, ada yang uang dan non-uang. Kemudian ada istilah wakaf produktif, itu untuk memberikan pemahaman pada masyarakat bahwa ketika seseorang mewakafkan suatu benda, benda tersebut tidak dianggurkan, tapi dikelola dengan produktif.

Misalnya kalau tanah dijadikan perkebunan. Maka kekayaan wakaf umat itu bisa riil menjadi suatu alat pemberdayaan ekonomi, karena tujuan wakaf itu tadi, menahan pokoknya dan mengalir-kan manfaatnya.

Karena itu harus ada subversi di masyarakat, agar jangan sampai ada kesan bahwa wakaf itu ha-rus tanah yang tidak terpakai, atau kebun yang mati. Justru bukan seperti itu yang disebut wakaf. Justru yang produktif itu yang kebunnya subur, yang bisa menghasilkan buah-buahan, atau yang lainnya un-tuk pemberdayaan umat.

Jadi wakaf itu lebih leluasa dibanding zakat. Ka-lau zakat kan distribusinya diatur oleh Al-qur’an, di surat At-Taubah : 60. Dengan adanya delapan golon-gan yang diatur untuk mendapatkan zakat. Semen-tara wakaf itu lebih leluasa, termasuk membangun pesantren, perpustakaan, atau kantor, itu kelelua-saannya wakaf. Kalau zakat, ulama bisa ikhtilaf.

“Boleh tidak zakat dipakai untuk penerbitan?” bisa ribut jika masalahnya seperti itu. Kalau wakaf, uangnya bisa dipakai percetakan tabloid, buku, dan lain sebagainya.

Berarti wakaf bisa bentuk uang? Bagaimana prosedurnya?

Nah sekarang yang perlu dipahami masyarakat justru perlu disosialisasikan bahwa wakaf tidak ha-nya berbentuk tanah. Bahkan wakaf uang itu seka-rang lebih bagus, karena bisa dibelikan gedung atau kebun. Atau wakaf uang yang disimpan di lembaga keuangan syari’ah penjamin wakaf. Itu ada khusus.

Lalu, untuk mereka yang sudah wakaf dahulu dan belum melalui prosedur wakaf perundang-undan-gan. Mereka – misalnya - melalui tabloid Alhikmah

itu harusnya diimbau bahwa kaum muslimin yang sudah mewakafkan, atau lembaga yang menerima wakaf, belum dikelola administrasinya; pendaftaran-nya, dan lain sebagaipendaftaran-nya, harus segera dikelola.

Karena ini jangka panjang. Kalau tidak ada bukti serah terima, atau sertifikat wakafnya, akan terbuka peluang gugat-menggugat tanah wakaf.

Untuk mereka yang akan melakukan wakaf, ha-rus melalui prosedur yang benar, supaya sekali dia mengerjakan wakaf, tanahnya aman, manfaatnya mengalir, dan tidak membuka peluang kemudian hari terjadinya sengketa.

Nah dengan cara seperti itu, Insha Allah wakaf di Indonesia lebih terasa manfaatnya. Makanya sesuai dengan ketentuan wakaf dalam UU kita, yaitu wakaf sebagai salah satu dari institusi Islam yang bisa di-jadikan sarana pemberdayaan ekonomi umat, dan kesejahteraan. Wakaf itu manfaatnya besar, makan-ya perlu sosialisasi pada masmakan-yarakat.

Wawancara Ekslusif dengan Dr. Jeje Zaenudin

(Humas Badan Wakaf Indonesia (BWI) Pusat)

Wakaf Produktif

,

SebuahKeharusan!

dok.alhikmah

(9)

21

TABLOID ALHIKMAH EDISI 103 FEBRUARI 2015 | RABIUL AKHIR 1435 H

DKM AL MI’RAJ

Rest Area KM 97

Purbaleunyi

Jadwal Khatib Jumat :

Februari 2015

Tgl

Khatib

6

13

20

27

-Ustd. Drs. Ade Bunyamin

Ustd. H. Budi Prayitno

Ustd. Ayi Muchtar

Ustd. Budi Hataat

---INSPIRASI UTAMA

Selain BWI, Ketua harian MUI Pusat, Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc, M. Ag

pun memberikan pandangan MUI ihwal wakaf produktif. MUI secara

tersendiri telah mengeluarkan rekomendasi ihwal Wakaf Produktif. Berikut

petikan wawancara wartawan Alhikmah, Aghniya dengan

Prof. Yunahar Ilyas.

Prof. Dr. Yunahar Ilyas, LC, M.Ag.

(Ketua Harian MUI Pusat)

“Di Madinah,

Yang Diwakafkan

Itu

Hotel

Bagaimana tanggapan MUI mengenai Wakaf Produktif?

Jadi sekarang itu, ada baiknya wakaf bersifat produktif. Misalkan orang wakaf pokok, dan jika pokok itu menghasilkan uang, uang itu lah yang ia pakai. Biasanya kan orang wakaf lahan kosong untuk masjid, atau sekolah. Nah di negara kita ini, hampir tidak pernah ditemukan wakaf yang bersifat produktif.

Padahal di luar negeri, di Madinah misalnya, yang diwakafkan itu hotel. Tak hanya di sana, di India juga. Wakaf dibisniskan dan dijadikan hotel. Nah nanti keuntungan itu dipakai untuk kepentingan umat Islam, sesuai dengan apa yang diamanahkan oleh waqif.

Saya setuju sekali kalau di Indonesia digalakkan wakaf produktif. Kan kalau semua wakaf dijadikan masjid, nanti kesulitan membiayai urusan operasional. Atau bisa juga dibagi-bagi. Kalau kita ingin membangun lahan wakaf yang terdiri dari dua kavling, satu kavling bisa digunakan untuk masjid, dan sisanya bisa digunakan pusat bisnis. Nanti keuntungannya bisa dialokasikan mem-biayai masjid itu sendiri.

Bagaimana kedudukan wakaf produktif dibanding dengan

se-dekah lain, misalnya Infaq?

Bedanya, kalau Infaq kan bebas kegunaannya. Panitia Infaqnya bisa lebih le-luasa menggunakan Infaq itu. Tapi kalau wakaf kan amanah yang harus di-jalankan sesuai dengan akad wakafnya.

Misalkan wakaf untuk dibangun toko, dan hasilnya untuk rumah sakit, ya tidak boleh untuk hal lain keuntungannya. Itu saja bedanya. Kalau untuk yayasan, dia lebih leluasa diberi Infaq dibanding wakaf. Kalau wakaf kan tidak boleh dijual, kalau infaq kan boleh ditempatkan dan dikelola secara lebih leluasa.

Hanya saja, untuk menjaga keabadian pahala dan manfaatnya, wakaf lebih abadi. Karena ia kan tidak boleh dipindahkan hak miliknya dan tidak bisa dijual.

Bagaimana potensi wakaf produktif di Indonesia. Apa sudah

di-anggap strategis untuk dikembangkan?

Di Indonesia tidak seperti di Timur Tengah. Kalau di sana sudah Kementrian Wakaf yang mengurus. Di Saudi, atau Mesir, ada Menteri Wakaf. Kalau di kita pengelolanya baru di tingkat direktur di Kemenag itu.

Potensinya strategis, namun perlu disosialisasikan, dikampanyekan bahwa wakaf itu ada yang bersifat produktif. Agar jangan sampai lembaga Islam menunggu sumbangan terus untuk membiayai amal usahanya. Jadi bisa saja sebuah pondok pesantren punya wakaf perkebunan. Nah dari hasil perkebu-nan itu bisa untuk membiayai pondok pesantren. Misalnya saja, Pesantren Gontor kan banyak disokong oleh wakaf mereka.

16

Rubrik Ini Terselenggara Berkat Kerja Sama Antara DKM Masjid Al-Mi’raj Rest Area 97

Pur-baleunyi-Tabloid Alhikmah

Oleh:

USTADZ H. BUDI PRAYITNO

INSPIRING QUR’AN

“Dan orang-orang yang berkata: “Ya

Rabb kami, jauhkan azab jahannam

dari kami, sesungguhnya azabnya

itu adalah kebinasaan yang kekal”.

Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk

tempatmenetap dan tempat kediaman.”

(QS. Al Furqan: 65-66)

Allah

memberitahukan kepada kita bahwa ada makanan halal dan ada yang haram. Ada yang diperbolehkan untuk dimakan serta ada yang dilarang.

Memasukkan makanan atau minuman yang baik ke dalam tubuh kita, adalah adab yang ditekankan dalam Islam. Tentu kita boleh bertanya, mengapa keduanya diciptakan Allah? Sedangkan yang satu adalah hal yang baik dan satu yang lain adalah buruk.

Dahulu selalu dikatakan bahwa makan yang haram adalah berbahaya sedangkan makanan yang halal tidak mengandung bahaya. Sesederhana itulah pemahaman pada awalnya.

Larangan mengonsumsi makanan atau minuman yang haram dan anjuran mengonsumsi yang halal, sesungguhnya pada awalnya adalah sebagai ujian.

Hidup di dunia hanya sebentar dan Allah ingin menguji siapa yang amalnya paling baik.

Alladzii khalaqal mauta wal hayya liyabluwaqul ayyukum ahsanu ‘amalaa wahuwal aziizul ghafuur.

(QS. Al Mulk)

Jadi sebelum kita mengetahui hikmah mengapa suatu makanan dan minuman itu haram pada dasarnya hanyalah sebuah ujian dari Allah.

Boleh jadi mungkin ada cara untuk menghilangkan mudharat yang ada pada makanan yang disebut haram.

Namun demikian, bagi kita yang ingin menjadi kekasih Allah, terhadap larangan itu kita langsung menjauhinya. Jumlah yang halal jauh lebih berlimpah ketimbang yang haram. Karena banyaknya, kita lebih sulit menyebutkan makanan yang halal daripada yang haram.

Dan tentu saja dalam Islam tidak sekadar mengedepankan kehalalan, melainkan juga harus yang thayyib (baik).

Adab mengonsumsi makanan/minuman halal dan thayyib ini menjadi salah satu kunci terkabulnya doa-doa yang kita panjatkan. Sebab. bagaimana Allah akan mengabulkan doa-doa kita selagi kita masih memasukkan asupan yang haram ke dalam badan kita. Kiranya ini menjadi sebuah renungan mendalam tatkala kita belum mendapatkan berbagai keinginan kita lewat doa-doa.

Adab kedua, yang sederhana tetapi juga bisa menentukan kualitas hidup kita sebagai muslim adalah adab kepada hewan.

Rasulullah Saw., adalah pribadi yang lembut dan santun. Karenanya Allah Swt., memuji kelembutan dan kesantuan beliau. Ajaran yang sampai kepada kita adalah, kepada siapa kita berlaku lembut dan santun? Apakah hanya kepada sesama manusia? Tentu saja tidak.

Manusia ditugaskan untuk menjadi rahmat

bagi seluruh alam. Ketika kita menjalankan tugas

rahmatan lil ‘aalamiin, kita membawa tugas dan fungsi-fungsi ilahiyah. Jikalau Allah Maha Lembut, Allah Maha Penyantun, maka kita juga diajari berlaku lembut dan santun, bahkan kepada hewan sekalipun.

Seorang perempuan dikisahkan masuk neraka karena dia mengurung serta menyiksa seekor kucing, hingga itu tak bisa mendapatkan makanan dan akhirnya mati kelaparan.

Suatu ketika pula, Rasulullah Saw., melarang orang-orang menjadikan hewan sebagai sasaran berlatih memanah. Pada saat yang lain Rasul juga melarang hewan yang akan disembelih diperlakukan dengan kasar.

Islam mengajarkan kesantunan bahkan kepada hewan yang akan dikurbankan.

Begitu luas ajaran Islam melingkupi segala sendi kehidupan. Bahkan Rasulullah mengajarkan untuk berbuat santun kepada kucing. Rasul memberi nama unta yang sangat berjasa. Kuswa adalah unta yang sangat berharga dengan insting luar biasa yang dijadikan sebagai kendaraan ketika hijrah dari Mekkah ke Madinah.

Dalam kisah yang lain, seorang pelacur bahkan dapat diganjar surga karena mengutamakan memberi minum anjing yang kehausan.

Nilai-nilai kebaikan di atas adalah contoh kecil ajaran yang berdampak luar biasa. Dampaknya bahkan sampai kepada sisi ritual tertinggi. Dampaknya sampai kepada keputusan ridlo atau tidaknya Allah kepada kita, kepada doa-doa kita, kepada pahala kita.

Semoga kita selalu diberi kekuatan mencermati hal-hal kecil untuk menghindarkan kita dari azab.

Wallaahu a’lam bishshawaab.

Manusia ditugaskan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam. Ketika kita menjalankan

tugas rahmatan lil ‘aalamiin, kita membawa tugas dan fungsi-fungsi ilahiyah. Jikalau Allah

Maha Lembut, Allah Maha Penyantun, maka kita juga diajari berlaku lembut dan santun,

bahkan kepada hewan atau binatang.

Dua Adab

yang

Menjauhkan

dari

Azab

TABLOID ALHIKMAH EDISI 103 PEBRUARI 2015 | RABIUL AKHIR 1436 H

(10)

Karyawan

P

erjalanan spiritual yang luar biasa, pembaca. Ibadah lebih sempurna dan terasa lebih sempurna. Ditambah dengan jalinan silahturahmi, di mana saya bisa melaksanakan ibadah umroh bersama dengan klub yang saya cintai, Persib Bandung.

Ya, maklum saja, pembaca, saya ini Bobotoh. Saat itu, solidaritas dan kebersamaan begitu terasa. Para pemainnya juga ramah, bukan hanya di lapangan saja tapi dengan orang lain pun mereka ramah. Hingga sekarang kita masih silaturahim, selalu ada komunikasi.

Selain itu, yang membuat ibadah umroh tahun 2014 ini begitu berkesan, tak lain atas bimbingan pembimbing umroh saat itu, yang begitu memerhatikan tata cara ibadah kami, memberikan saran di mana tempat-tempat yang lebih mustajab memanjatkan doanya. Apalagi pada saat tausiah di bis, kami dikisahkan tentang sakaratul Nabi Muhammad, bergetar hati saya mendengar tausiyah beliau.

Bukan hanya itu, sebelumnya saat saya umroh bersama istri, biasanya sesudah Thawaf, saat mau berdoa kita langsung ke pinggir dan langsung berada di belakang. Tapi pada saat umroh kali itu, ketika Thawaf, kita benar-benar berdoa di depan Kabah, di depan Multazam. Sungguh kedamaian yang tiada terkira, tak tertahankan tetiba air mata ini mengalir. Subhanallah, kami seperti baru merasa rindu terhadap Baitullah. Padahal, kami sendiri sudah beberapa kali menunaikan haji dan umroh. Tapi, ya, seperti yang tadi dikatakan, kami belum pernah merasakan ketika berdoa selepas Thawaf benar-benar di depan Kabah. Bergetar hati saya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

“Jadi yang namanya kita kecil itu memang benar. Kita tidak ada apa-apanya, kita kecil di hadapan Tuhan...,” ungkap batin saya kala itu, pembaca. Iya, kita di depan Tuhan itu kecil tidak ada apa-apanya, keagungan Tuhan itu luar biasa, kebaikan yang diberikanNya juga luar biasa.

Keberkahan Berangkat ke Tanah Suci

Pertama kali saya berangkat ke Tanah Suci itu tahun 1994. Saat itu seperti mimpi, saya yang biasanya melihat Kabah di TV, koran, ternyata menjadi kenyataan di usia saya saat itu yang memasuki 34 tahun. Itupun tidak dicita-citakan jauh-jauh hari.

Dan saya masih ingat betul permintaan tempo hari itu. Yakni ingin mendirikan sebuah akademi keperawatan (Akper), karena saya seseorang yang

berkiprah di dunia kesehatan. Jadi setelah Thawaf itu, saya tak henti-hentinya melafalkan doa meminta itu. “Ya Allah saya ingin mendirikan Akper khusus muslim, yang mana di dalamnya muslim-muslimat memakai busana syar’i, dan ini akan menjadi syiar Islamku,” saya ungkapkan itu berkali-kali.

Begitu saya berdoa, satu hari sesudah itu, saat masih di Makkah, saya bermimpi setelah shalat dhuha ada sosok seorang tinggi putih memberikan sertifikat yang sudah terstempel. Awalnya saya tidak tahu tabir mimpi itu. ketika datang ke Indonesia,

alhamdulillah, izin Akper yang sudah diajukan

selama tiga tahun keluar begitu saja. Dari situ, sampai sekarang terbitlah sekolah Akper pertama saya di bilangan Ujung Berung. Sampai sekarang mahasiswa dan karyawannya, khusus muslim. Niat awal sampai sekarang saya pertahankan, karena itu bagian syiar Islam.

Pembaca, itu keberkahan pertama, tapi bukan yang terakhir. Wallahu’allam, tapi setiap saya berangkat ke Tanah Suci, baik berniat umrah atau haji, ada saja kejadian di luar nalar yang menunjukkan kuasaNya. Jalan saya di pendidikan, Allah mudahkan, pembaca. Lalu saya mendirikan sekolah dan perguruan lainnya. Subhanallah, maka nikmat mana lagi yang kan kita dustakan? Tidak ada, pembaca.

Pembaca, kenapa saya tertarik dengan pendidikan? Karena saya merasa mendirikan pendidikan juga termasuk jihad fii sabilillah. Memang berat, tetapi kepuasan bathin tidak bisa diukur materi. Hati ini merasa aman dan tenang. Saat bertemu alumni di jalan atau di mana, itu

sudah seperti keluarga saja. Alhamdulillah se-Jabar tiap Kabupaten ada alumni.

Agar yang Lain pun Merasakan Kenikmatan Ke Tanah Suci

Alhamdulillah, pembaca, dengan adanya

lembaga pendidikan yang saya kelola secara syariah, itu tiap tahunnya saya bisa bawa lebih dari 40 karyawan untuk umrah. Saya sisihkan 2.5% dari pendapatan sini untuk kegiatan dakwah. Termasuk dari pendapatan-pendapatan, lainnya seperti sewa gerai untuk membangun masjid.

Awalnya juga saya sempat berpikir, untuk apa para karyawan saya umrahkan tapi rumah masih mengontrak? Gaji di bawah standar? Saya pernah memberikan dalam bentuk uang tunai, tapi entah ada apa, hati saya seperti tidak senyaman memberikan kesempatan umrah, hati terasa berbeda.

Setidaknya saya berpikir, berangkat saja dulu, baru di sana bermunajatlah pada Allah, Dzat yang Maha Kuasa mengabulkan sesuatu. Jangankan untuk sekadar membayar cicilan rumah, Allah bisa lebih dari itu. Dan, Alhamdulillah, ketika pulang dari sana, ada yang bisa nyicil rumah atau motor. Yah, bagaimanapun juga saya ingin berbagi pengalaman, agar keberkahan ini tidak saya alami seorang diri, melainkah orang lain pun merasakan kenikmatan bertandang ke Tanah Suci. Amin. []

*Seperti yang dikisahkan jamaah safari suci, H. Mulyana kepada jurnalis Alhikmah Pipin Nurullah

INSPIRING JOURNEY

H. Mulyana

Didepan Jabal Rahmah

Bersama tim Persib Bandung

Rubrik ini terselenggara atas kerjasama

Tabloid Alhikmah dengan Biro Haji UmrohSAFARI SUCI

Berkah

Mengumrohkan

“Jadi yang namanya kita kecil itu memang benar.

Kita tidak ada apa-apanya, kita kecil di hadapan Tuhan...,”

dok.pribadi

Referensi

Dokumen terkait

dapat dimodelkan dengan input lokasi beban relatif terhadap panjang frame (relative distance from end-I) atau lokasi beban berjarak sejauh tertentu dari titik

2010 penelitian ini berjudul “Evaluasi Program Pos Pemberdayaan Keluarga (Posdaya) : Studi Kasus Posdaya Bina Sejahtera di Kelurahan Pasirmulya, Kecamatan Bogor

Penghargaan yang diraih wardah setiap tahunnya secara berurut-turut, menggambarkan bentuk positif merek produk Wardah memiliki citra merek yang baik dan diterima

Dalam kegiatan ini siswa: a) Membentuk kelompok b) Mendapatkan.. materi yang akan dibahas. c) Menjelaskan materi tentang operasi hitung penjumlahan dan pengurangan

bahwa untuk melaksanakan ketentuan Pasal 184 ayat (1) Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah sebagaimana telah diubah dan terakhir dengan

Fungsi kemandirian pada lansia mengandung pengertian yaitu kemampuan yang dimiliki oleh lansia untuk tidak tergantung pada orang lain dalam melakukan aktivitasnya, semuanya

Sesuai dengan masalah yang telah dipaparkan di atas, peneliti memiliki gagasan untuk mengembangkan modul buta aksara yang telah disesuaikan dengan kondisi dan lingkungan masyarakat

[r]