• Tidak ada hasil yang ditemukan

Apresiasi Sastra Dalam Cerpen Cendrillio

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Apresiasi Sastra Dalam Cerpen Cendrillio"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

1 I. Pengantar

1.1Apresiasi Sastra

Apresiasi Karya Sastra adalah pembelajaran sastra. Menurut Roestam Effendi dkk.(1998), “Apreasisi adalah kegiatan mengakrabi karya sastra secara sungguh-sungguh. Di dalam mengakrabi tersebut terjadi proses pengenalan, pemahaman, penghayatan, penikmatan, dan setelah itu penerapan.” Pengenalan terhadap karya sastra dapat dilakukan melalui membaca, mendengar, dan menonton. Kesungguhan dalam kegiatan tersebut akan menuju tingkat pemahaman. Pemahaman terhadap karya sastra akan membuat penghayatan. Indikator yang dapat dilihat setelah menghayati karya sastra adalah jika bacaan, dengaran, atau tontonan sedih ia akan ikut sedih, jika gembira ia ikut gembira, begitu seterusnya. Hal itu terjadi seolah-olah ia melihat, mendengar, dan merasakan dari yang dibacanya. Ia benar-benar terlibat dengan karya sastra yang digeluti atau diakrabinya.

1.2Biografi Pengarang

(2)

2 Andrew Lang pada tahun 1889 kemudian menyatukan cerita dari Perrault dan Grimm ke dalam beberapa seri buku cerita dongeng yang dikenal sebagai Andrew

Lang’s Fairy Books (Buku Cerita Peri dari Andrew Lang).

Terkadang cerita dongeng yang asli dari Charles Perrault memiliki sedikit perbedaan dengan versi yang telah diterjemahkan oleh Grimm (Jerman) dan diterjemahkan ulang ke bahasa Inggris. Versi dari Grimm sendiri biasanya lebih singkat karena faktor penterjemahan yang kurang akurat (Perancis – Jerman – Inggris) dibandingkan dengan penterjemahan dari bahasa Perancis – Inggris.

Charles Perrault sendiri lahir di kota Paris dan berasal dari kalangan atas sehingga Charles Perrault bisa mendapatkan pendidikan yang terbaik di Perancis. Charles mengambil jurusan hukum sebagai mata pelajarannya sebelum terjun menjadi pegawai pemerintahan.Saat berumur 62 tahun, dia berhenti bekerja di pemerintahan dan memutuskan untuk mendedikasikan dirinya pada anak-anaknya dan saat itulah dia menerbitkan buku Tales and Stories of the Past with Morals (Histoires ou Contes du Temps passé) (1697), dengan subtitle: Tales of Mother

(3)

3 II. Pembahasan

PENDEKATAN DALAM MENGAPRESIASI SASTRA

Pendekatan sebagai suatu prinsip dasar atau landasan yang digunakan oleh seseorang sewaktu mengapresiasi karya sastra dapat bermacam-macam. Keanekaragaman pendekatan yang digunakan itu dalam hal ini lebih banyak ditentukan oleh (1) tujuan dan apa yang akan di apresiasi lewat teks sastra yang dibacanya, (2) kelangsungan apresiasi itu terproses lewat kegiatan bagaimana, dan (3) landasan teori yang digunakan dalam kegiatan apresiasi. Pemilihan dan penentuan pendekatan tersebut tentu sangat ditentukan oleh tujuan pengapresiasi itu sendiri.

Bertolak dari tujuan dan apa yang akan diapresiasi, pembaca dapat menggunakan sejumlah pendekatan meliputi

1. Pendekatan parafratis 2. Pendekatan emotif 3. Pendekatan analitis 4. Pendekatan historis

5. Pendekatan sosiopsikologis 6. Pendekatan dikdatis

Cerpen Cendrillon yang akan dibahas ini bukanlah cerita asli dari Charles Perrault, melainkan telah terjadi perubahan karena cerita Cendrillon sekarang merupakan acuan dari cerita Disney yang menjadi standar cerita dongeng saat ini.

1. Pendekatan parafratis

(4)

4 akhir dari pendekaran parafratis itu adalah untuk menyederhanakan pemakaian kata atau kalimat seorang pengarang sehingga pembaca lebih mudah memahami kandungan makna yang terdapat dalam suatu cipta sastra.

Prinsip dasar dari penerapan pendekatan parafratis pada hakikatnya berangkat dari pemikiran bahwa gagasan yang sama dapat disampaikan lewat bentuk yang berbeda, simbol-simbol yang bersifat konotatif dalam suatu cipta sastra dapat diganti dengan lambang atau bentuk lain yang tidak mengandung ketaksaan makna, kalimat-kalimat atau baris dalam suatu cipta sastra mengalami pelepasan dapat dikembalikan lagi kepada bentuk dasarnya, pengubahan suatu cipta sastra baik dalam hal kata maupun kalimat yang semula simbolik dan eliptis menjadi suatu bentuk kebahasaan yang tidak lagi konotatif akan mempermudah upaya sesorang untuk memahami kandungan makna dalam suatu bacaan, dan pengungkapan kembali suatu gagasan yang sama dengan menggunakan media atau bentuk yang tidak sama oleh seorang pembaca akan mempertajam pemahaman gagasan yang diperoleh dari pembaca itu sendiri.

Dari prinsip dasar pada butir 5 itu dapat disimpilkan juga bahwa penerapan pendekatan parafratis selain untuk mempermudah upaya pemahaman makna suatu bacaan, juga digunakan untuk mempertajam, memperluas dan melengkapi pemahaman makna yang diperoleh pembaca itu sendiri. Sebab itu, dalam pelaknsanaannya nanti, pendekatan parafratis ini, selain dapat dilaksanakan pada awal kegiatan mengapresiasi sastra, juga dapat dilaksanakan setelah kegiatan apresiasi berlangsung.

Contoh dari kutipan cerpen Cendrillon, sebagai berikut :

“Il était un brave homme qui vivait dans un pays lointain. Il avait une belle maison et une ravissante fille.

Il lui donnait tout ce qu'il pouvait.

Alors pour lui faire plaisir, il épousa une veuve qui avait deux filles. Ainsi avec une nouvelle maman et deux soeurs sa fille aurait tout pour être heureuse.”

(5)

5 Dia memiliki rumah yang indah dan cantik.

Dia memberinya semua yang dia bisa.

Kemudian untuk menyenangkannya, dia menikahi seorang janda yang memiliki dua anak perempuan. Jadi dengan ibu baru dan dua saudara perempuannya, putrinya akan memiliki segalanya untuk bahagia.”

Di dalam kutipan di atas dapat dipahami bahwa penulis membuat cerita ini lebih sederhana dan langsung menuju topik awal cerita tanpa ada kalimat yang bertele-tele.

2. Pendekatan emotif

Pendekatan emotif dalam mengapresiasi sastra adalah suatu pendekatan yang berusaha menemukan unsur-unsur yang mengajuk emosi atau perasaan pembaca. Ajukan emosi itu dapat berhubungan dengan keindahan penyajian bentuk maupun ajukan emosi yang berhubungan dengan isi atau gagasan yang lucu dan menarik.

Prinsip-prinsip dasar yang melatarbelakangi adanya pendekatan emotif ini adalah pandangan bahwa cipta sastra merupakan bagian dari karya seni yang hadir diahadapan masyarakat pembaca untuk dinikmati sehingga mampu memberikan hiburan dan kesenangan. Dan dengan pendekatan emotif inilah diharapkan pembaca mampu menemukan unsur-unsur keindahan maupun kelucuan yang terdapat dalam suatu karya sastra.

Sebab itulah dalam pelaksanaannya pendekatan emotif ini pembaca akan dihadapkan pada pertanyaan-pertanyaan tentang : ada kah unsur-unsur keindahan dalam cipta sastra yang akan saya baca ini? Bagaimana cara pengarang menampilkan keindahan itu? Dan bagaimana wujud keindahan itu sendiri setelah digambarkan pengarangnya? Bagaimana cara pembaca menemukan keindahan itu ? serta berapa banyak keindahan itu dapat ditemukan?

(6)

6 penaraan setting yang mampu menghasilkan panorama yang menarik. Penikmatan keindahan itu juga dapat berhubungan dengan penyampaian cerita, peristiwa, maupun gagasan tertentu yang lucu dan menarik sehingga mampu memberikan hiburan dan kesenangan kepada pembaca.

Untuk menemukan dan menikmati cipta sastra yang mengandung kelucuan, anda tentunya juga harus memilih cipta sastra yang termasuk dalam ragam-ragam tertentu. Ragam itu misalnya humor, satirik, sarkasme, maupun ragam komedi.

Berikut kutipan Cendrillon :

“Mais hélas, le brave homme mourut peu après. Tout

changea pour la fillette. Sa belle-mère n'aimait que ses deux filles, Anastasia et Javotte, égoîstes, laides et

méchantes.”

“Tapi sayang, pria pemberani itu meninggal tak lama setelahnya. Semuanya berubah untuk gadis kecil itu. Ibu tirinya hanya mencintai kedua putrinya, Anastasia dan Javotte, yang egois, jelek dan jahat.”

Dari kutipan tersebut dapat dilihat bahwa penulis mengajuk pembaca pada emosninya dalam penderitaan kehidupan Cendrillon yang begitu sengsara.

3. Pendekatan Analitis

Pendekatan analitis merupakan suatu pendekatan yang berusaha memahami gagasan, cara pengarang menampilkan gagasan atau mengimajikan ide-idenya, sikap pengarang dalam menampilkan gagasan-gagasan, elemen intrinsik dan mekanisme hubungan dari setiap elemen intrinsik itu sehingga mampu membangun adanyan keselarasan dan kesatuan dalam rangkan membangun totalitas bentuk maupun totalitas makna.

(7)

7 definisi yang terdapat dalam kajian teori sastra. Selain itu, pembaca juga dapat memahami bagaimana fungsi setiap elemen cipta sastra dalam rangka membandung keseluruhannya. Dengan kata lain, pendekatan analitis ini adalah suatu pendekatan yang bertujuan menyusun sintetis lewat analisis. Lewat penerapan pendekatan ini diharapkan pembaca pada umumnya menyadari bahwa cipta sastra itu pada dasarnya diwujudkan lewat kegiatan yang serius dan terencana sehingga tertanamkanlah rasa penghargaan atau sikap yang baik terhadap karya sastra.

Dalam kehadiran pendekatan analitis ini, prinsip dasar yang melatarbelakanginya adalah anggapa bahwa (1) cipta sastra itu dibentuk oleh elemen-elemen tertentu, (2) setiap elemen dalam cipta sastra memiliki fungsi tertentu dan senantiasa memiliki hubungan antara yang satu dengan lainnya meskipun karakteristik masing-masing berbeda, (3) dari adanya ciri karakteristik setiap elemen itu, maka antara elemen yang satu dengan elemen yang lain, pada awalnya dapat dibahas secara terpisah meskipun pada akhirnya setiap elemen itu harus dilengkapi sebagai suatu kesatuan.

Dalam pelaksanaannya, penerapan pendekatan analitis ini diawali dengan kegiatan membaca teks secara keseluruhan. Setelah itu, pembaca menampilkan beberapa pertyanyaan yang berhubungan dengan unsur-unsur intrinsik yang membandung cipta sastra yang dibacanya. Setelah itu, pembaca kembali membaca ulang sambil berusaha menganilis setiap unsur yang telah ditetapkannya. Dari hasil analisis setiap unsur itu, pembaca lebih lanjut berusaha memahami bagaimana mekanisme hubungan. Lewat analisis mekanisme hubungan ini lebih lanjut pembaca menganlisis bagaimana fungsi setiap elemen itu dalam rangka mewujudkan suatu cipta sastra.

(8)

8 Berikut kutipan Cendrillon :

“Il était un brave homme qui vivait dans un pays lointain.

Il avait une belle maison et une ravissante fille. Il lui donnait tout ce qu'il pouvait.

Alors pour lui faire plaisir, il épousa une veuve qui avait deux filles. Ainsi avec une nouvelle maman et deux soeurs sa fille aurait tout pour être heureuse.”

“Dia adalah orang baik yang tinggal di negeri yang jauh.

Dia memiliki rumah yang indah dan cantik. Dia memberinya semua yang dia bisa.

Kemudian untuk menyenangkannya, dia menikahi seorang janda yang memiliki dua anak perempuan. Jadi dengan ibu baru dan dua saudara perempuannya, putrinya akan memiliki segalanya untuk bahagia.”

Dari kutipan di atas dapat terbaca bahwa salah satu unsur intrinsik yang tersemat pada cerpen itu adalah penggunaan le temps passé simple, hal ini biasa digunakan dalam penulisan karya sastra fiksi yang menggambarkan kejadian lampau namun seolah-olah menggiring pembaca merasakan keikutsertaan dalam suatu peristiwa dalam karya sastra tersebut.

4. Pendekatan historis

Pendekatan historis adalah suatu pendekatan yang menekankan pada pemahaman tentang biografi pengarang, latar belakang peristiwa kesejarahan yang melatarbelakangi terwujudnya cipta sastra yang di baca, serta tentang bagaimana perkembangan kehidupan penciptaan maupun kehidupan sastra itu sendiri pada umumnya dari zaman ke zaman.

(9)

9 penting dalam upaya memahami kandungan makna dalam suatu cipta sastra. Sebab itulah telaah makna suatu teks dalam pendekatan sosiosemantik sangat mengutamakan konteks, baik konteks sosio-budaya, situasi zaman maupun konteks kehidupan pengarangnnya sendiri.

Berikut contoh dari kutipan cerpen Cendrillon :

“Tout, sauf, l'autre pantoufle de vair qu'elle put conserver en souvenir de cette merveilleuse soirée. Au Palais Royal, un serviteur trouva la pantoufle perdue et l'apporta au Prince. son père le Roi avec l'approbation de la Reine donna ordre de faire essayer la pantoufle à toutes les filles du Royaume et demanda qu'on ramène au Palais Royal celle qui pourrait la chausser. Au hasard de ses recherches, le Prince arriva à la demeure de Cendrillon. Ses soeurs, Anastasia et Javotte, essayèrent la pantoufle mais leurs pieds étaient trop grands. Le Prince allait partir quand Cendrillon demanda de chausser la pantoufle de verre. Sa marraine la Fée apparut et d'un dernier coup de baguette transforma Cendrillon.” “Segalanya, kecuali sepatu yang tertinggal, yang bisa dia ingat malam yang indah ini. Di Istana Kerajaan, seorang pelayan menemukan sepatu yang tertinggal dan membawanya ke Pangeran. Ayahnya, sang Raja, dengan persetujuan Ratu, memerintahkan semua gadis di kerajaan untuk mencoba sepatu itu, dan meminta agar mereka dibawa kembali ke Istana Kerajaan. Secara acak, Pangeran tiba di rumah Cinderella. Saudara perempuannya, Anastasia dan Javotte, mencoba sepatu itu tapi kaki mereka terlalu besar. Pangeran hendak pergi saat Cinderella meminta untuk mengenakan sepatu kaca. Ibu peri muncul dan dengan lambaian tongkat sihirnya merubah Cinderella.”

Dari kutipan tersebut terlihat jelas bahwa dari biografi pengarang cerita hidup pada zaman kerajaan yang notabene familiar dengan hal berbau kerajaan monarki serta banyak cerita-cerita fiksi tentang ibu peri yang melekat dan terkenal pada zamannya.

5. Pendekatan soisopsikologis

(10)

10 kehidupannya ataupun zamannya pada saat cipta sastra itu diwujudkan. Dalam pelaksanaannya pendekatan ini memang sering tumpang tindih dengan pendekatan historis. Dalam pendekatan sosiopsikologis apresiator berusaha memahami bagaimana kehidupan sosuak masyarakat pada masa itu, bagaimana sikap pengarang terhadap lingkungannya, serta bagaimana hubungan antara cipta sastra itu dengan zamannya.

Berikut kutipan dari cerpen Cendrillon :

“Cendrillon s'ennuyait, un jour le roi dit à son majordome, il est grand temps que le Prince mon fils se marie, nous allons organiser un bal aujourd'hui même. Ce soir-là, alors que la cruelle marâtre et ses filles s'apprêtaient à partir pour le bal, Cendrillon, meurtrie et désespérée, s'enfuit dans la cour et se mit à pleurer.”

“Cinderella bosan, suatu hari sang raja berkata kepada kepala pelayannya, sudah saatnya sang Pangeran, anak laki-lakiku, menikah, kita akan mengatur perayaan pesta hari ini. Malam itu, saat ibu tiri yang kejam dan anak perempuannya bersiap untuk berangkat ke pesta, Cinderella, yang terluka dan putus asa, melarikan diri ke halaman dan mulai menangis.”

Kutipan ini kontras memperlihatkan bahwa cerpen ini berlatar belakang kerajaan monarki yang dipimpin oleh raja. Di dalam kutipan itu terlihat permasalahan bahwa sang pangeran, anak laki-laki raja ingin anaknya menikah dengan membuat sebuah perayaan pesta dengan mengundang gadis-gadis di kerajaan itu. Hal ini juga terlihat pada latar belakang pengarang yang hidup di jaman kerajaan monarki.

6. Pendekatan didaktis

(11)

11 etis, filosofis, maupun agamis sehingga akan mengandung nilai-nilai yang mampu memperkaya kehidupan rohaniah pembaca

Dalam pelaksanaanya, penggunaan pendekatan dikdaris diawali dengan upaya pemahaman satuan-satuan pokok pikiran yang terdapat dalam suatu cipta sastra. Satuan pokok pikiran itu pada dasarnya disarikan dari paparan gagasan pengarang, baik berupa tuntutan ekspresif, komentar, dialog, lakuanm maupun deskripsi peristiwa dari pengarang atau penyairnya. Dalam penerapan pendekatan didaktis ini, sebagai pembimbing kegiatan berpikirnya, pembaca dapat berangkat dari pola berpikir, misalnya jika malin kundang itu akhirnya matu karena durhaka kepada ibunya, maka dalam hidupnya, manusia itu harus bersifat baik kepada orang tua.

Berikut kutipan cerpen Cendrillon :

“Tout, sauf, l'autre pantoufle de vair qu'elle put conserver en souvenir de cette merveilleuse soirée. Au Palais Royal, un serviteur trouva la pantoufle perdue et l'apporta au Prince. son père le Roi avec l'approbation de la Reine donna ordre de faire essayer la pantoufle à toutes les filles du Royaume et demanda qu'on ramène au Palais Royal celle qui pourrait la chausser. Au hasard de ses recherches, le Prince arriva à la demeure de Cendrillon. Ses soeurs, Anastasia et Javotte, essayèrent la pantoufle mais leurs pieds étaient trop grands. Le Prince allait partir quand Cendrillon demanda de chausser la pantoufle de verre.Sa marraine la Fée apparut et d'un dernier coup de baguette transforma Cendrillon.

Le Prince, qui en était déjà amoureux, la demanda en mariage.Le Roi et la Reine était très heureux. Cendrillon et le Prince vécurent une longue vie de bonheur.”

(12)

12 Secara acak, Pangeran tiba di rumah Cinderella.

Saudara perempuannya, Anastasia dan Javotte, mencoba sepatu itu tapi kaki mereka terlalu besar. Pangeran hendak pergi saat Cinderella meminta untuk mengenakan sepatu kaca. Ibu peri muncul dan dengan lambaian tongkat sihirnya merubah Cinderella. Pangeran, yang sudah mencintainya, memintanya untuk menikah. Raja dan Ratu sangat bahagia. Cinderella dan sang Pangeran hidup dalam kehidupan bahagia yang panjang.”

(13)

13 III. Lampiran

IV.

Cendrillon

Il était un brave homme qui vivait dans un pays lointain. Il avait une belle maison et une ravissante fille.

Il lui donnait tout ce qu'il pouvait.

Alors pour lui faire plaisir, il épousa une veuve qui avait deux filles. Ainsi avec une nouvelle maman et deux soeurs sa fille aurait tout pour être heureuse.

Mais hélas, le brave homme mourut peu après. Tout changea pour la fillette. Sa belle-mère n'aimait que ses deux filles, Anastasia et Javotte, égoîstes, laides et

(14)

14 Sa marâtre qui était fort méchante, lui confia des tâches les plus rudes, la faisait

coucher au grenier et la malmenait sans cesse. Les filles de la méchante femme traitaient Cendrillon plus mal encore.

Cendrillon s'ennuyait, un jour le roi dit à son majordome, il est grand temps que le Prince mon fils se marie, nous allons organiser un bal aujourd'hui même. Ce soir-là, alors que la cruelle marâtre et ses filles s'apprêtaient à partir pour le bal, Cendrillon,

meurtrie et désespérée, s'enfuit dans la cour et se mit à pleurer.

Soudain, Cendrillon entendit une voix. C'était sa marraine la Fée, qui lui dit: "Sèche tes larmes, tu iras au bal, je te le promets, n'oublies pas que j'ai un pouvoir magique.

"

Et d'un coup de baguette, elle transforma une citrouille en un élégant carrosse, des souris en fiers chevaux, un chien en cocher et les petites grenouilles en valets de

pieds.

Mais Cendrillon était triste de se voir si mal vêtue. Un autre coup de baguette magique, et apparurent de magnifiques pantoufles de verre. Puis la fée changea la

vieille robe de Cendrillon en une somptueuse robe de bal. Quand Cendrillon fut prête, la Fée lui donna un avertissement... Sois de retour ici à minuit sonnant....car

(15)

15 Et le carosse partit vers le château.

Sitôt que Cendrillon apparut au Palais du Roi, le Prince sut que c'était elle qu'il attendait. La musique commença et le Prince l'invita à danser. Ils dansèrent toute la

soirée. Le coeur de Cendrillon chantait de joie.

Tout à coup, Cendrillon entendit l'horloge du clocher qui sonnait minuit. Oh! il faut que je m'en aille, dit-elle. Le Prince voulut l'empêcher de partir, mais Cendrillon

était déjà sortie de la salle de bal et, sans s'apercevoir qu'elle perdait une de ses pantoufles, avait bondi dans son carosse, qui la ramena chez elle en toute hâte. Le

dernier coup de minuit venait à peine de sonner que tout redevint comme avant.

Tout, sauf, l'autre pantoufle de vair qu'elle put conserver en souvenir de cette merveilleuse soirée. Au Palais Royal, un serviteur trouva la pantoufle perdue et l'apporta au Prince. son père le Roi avec l'approbation de la Reine donna ordre de faire essayer la pantoufle à toutes les filles du Royaume et demanda qu'on ramène

(16)

16 essayèrent la pantoufle mais leurs pieds étaient trop grands. Le Prince allait partir

quand Cendrillon demanda de chausser la pantoufle de verre.Sa marraine la Fée apparut et d'un dernier coup de baguette transforma Cendrillon.

(17)

17 Cinderella

Dia adalah orang baik yang tinggal di negeri yang jauh. Dia memiliki rumah yang indah dan cantik.

Dia memberinya semua yang dia bisa.

Kemudian untuk menyenangkannya, dia menikahi seorang janda yang memiliki dua anak perempuan. Jadi dengan ibu baru dan dua saudara perempuannya, putrinya akan memiliki segalanya untuk bahagia.

Tapi sayang, pria pemberani itu meninggal tak lama setelahnya. Semuanya berubah untuk gadis kecil itu. Ibu tirinya hanya mencintai kedua putrinya, Anastasia dan Javotte, yang egois, jelek dan jahat.

Ibu tirinya, yang sangat jahat, mempercayakannya dengan tugas yang paling berat, membuatnya tidur di loteng, dan terus-menerus menganiayanya. Anak-anak perempuannya yang jahat juga memperlakukan Cinderella lebih parah lagi.

Cinderella bosan, suatu hari sang raja berkata kepada kepala pelayannya, sudah saatnya sang Pangeran, anak laki-lakiku, menikah, kita akan mengatur perayaan pesta hari ini. Malam itu, saat ibu tiri yang kejam dan anak perempuannya bersiap untuk berangkat ke pesta, Cinderella, yang terluka dan putus asa, melarikan diri ke halaman dan mulai menangis.

Tiba-tiba Cinderella mendengar sebuah suara. Itu adalah ibu baptisnya peri, yang berkata kepadanya: "Keringkan air matamu, kamu akan pergi ke pesta itu, aku berjanji, jangan lupa bahwa aku memiliki kekuatan sihir."

Dan dengan tongkat sihir ia mengubah labu menjadi kereta yang elegan, tikus menjadi kuda yang gagah, seekor anjing menjadi kusir, dan kodok kecil berubah menjadi pelayan.

Tapi Cinderella sedih melihat dirinya berpakaian kurang baik. Dengan goyangan tongkatnya, muncullah sepatu kaca cantik. Kemudian peri mengubah gaun tua Cinderella menjadi gaun pesta yang mewah. Saat Cinderella siap, sang peri memberinya peringatan ... Kembali ke sini pada dentangan tengah malam terdengar ... karena setelah tengah malam semuanya akan kembali seperti sebelumnya. Jangan khawatir ibu peri, aku akan mengingatnya.

Dan kereta pun berangkat ke kastil.

Begitu Cinderella muncul di istana Raja, Pangeran tahu bahwa dia menunggunya. Musik dimulai dan Pangeran mengundangnya untuk menari. Mereka menari sepanjang malam. Jantung Cinderella bernyanyi dengan sukacita.

(18)

18 tapi Cinderella sudah meninggalkan ruang pesta, dan tanpa menyadari bahwa dia kehilangan salah satu sepatunya, ia telah memasuki kereta kudanya, yang membawanya pulang dengan tergesa-gesa. Dentangan terakhir tengah malam hampir tidak terdengar hingga semuanya kembali seperti sebelumnya.

Segalanya, kecuali sepatu yang tertinggal, yang bisa dia ingat malam yang indah ini. Di Istana Kerajaan, seorang pelayan menemukan sepatu yang tertinggal dan membawanya ke Pangeran. Ayahnya, sang Raja, dengan persetujuan Ratu, memerintahkan semua gadis di kerajaan untuk mencoba sepatu itu, dan meminta agar mereka dibawa kembali ke Istana Kerajaan. Secara acak, Pangeran tiba di rumah Cinderella. Saudara perempuannya, Anastasia dan Javotte, mencoba sepatu itu tapi kaki mereka terlalu besar. Pangeran hendak pergi saat Cinderella meminta untuk mengenakan sepatu kaca. Ibu peri muncul dan dengan lambaian tongkat sihirnya merubah Cinderella.

Referensi

Dokumen terkait

Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan, dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan intern merupakan suatu kegiatan penilaian yang independen dan objektif, memberikan

Setelah mengikuti perkuliahan ini mahasiswa diharapkan mampu merencanakan bangunan-bangunan yang ada di jaringan irigasi termasuk diantaranya bangunan bagi/sadap,

www.rb.lapan.go.id | 10 2011 2014 2019 2025 Seluruh Kementerian dan lembaga (K/L) serta pemda ditargetkan telah memiliki komitmen dalam melaksanakan proses

Permasalahan-permasalahan yang dialami guru dalam proses pembelajaran antara lain, (1) guru masih menggunaan strategi pembelajaran yang monoton, guru dalam

Sehingga, dalam proses pembelajaran, dibutuhkan suatu media pembelajaran yang mampu meningkatkan hasil belajar peserta didik sesuai dengan standar KKM (Kriteria

Karena hasil pengujian piezoelektrik menggunakan tekanan air hujan lebih besar dari hasil pengujian piezoelektrik menggunakan tekanan pegas dan putaran disk baik

Selain itu, persepsi bahwajumlah honor yang diterima oleh perawat senior dan junior tidak jauh berbeda nilainya.Hal ini dianggap sebagai pemicu bahwa perawat