• Tidak ada hasil yang ditemukan

SECANGKIR KOPI MERACIK TRADISI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SECANGKIR KOPI MERACIK TRADISI"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

F

u

n

|

R

e

l

a

x

|

L

o

w

B

u

d

g

e

t

F

e

b

r

u

a

r

i-M

a

r

e

t

2

0

1

2

Tak hanya pantai, snorkeling, diving, sea

food, bintang laut, mi aceh, kopi, tugu nol

kilometer, bahkan hingga hiu!

SABANG

NOL KILOMETER

BULOK

SECANGKIR KOPI MERACIK TRADISI

KOMUNITAS

ACEHFOTOGRAFER.NET

PROFIL

HIJRAH SAPUTRA

FR

EE

(2)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N 1

CATPER

15 JELAJAH KEINDAHAN SABANG

GALERI

47 INTERAKSI DENGAN PENDUDUK

AKSESORIS

49 KELAMBU CEGAH MALARIA

PENGANAN

51 COBAIN YANG MANGAT-MANGAT

INTERAKSI

33 ACEHFOTOGRAFER.NET

PROFIL

Pantai, snorkeling, diving, sea food, bintang laut, mi aceh, kopi, tugu nol kilometer, hiu!

11

PANDU

MENUJU SABANG

Penerbangan dari Medan dan atau Jakarta bisa langsung ke Aceh

WEBSITE

SEJAK MASUK PELABUHAN Balohan (Sabang) saja kita sudah bisa dengan mudah melihat ikan-ikan besar. Manc-ing di pelabuhan dapat ikan sebesar betis, itu biasa. Terumbu karang tersebar di sekeliling pulau. Ferry 18 ribuan dari Ulee lhee (Banda Aceh) ke Balohan ada setiap hari. Penginapan 40 ribuan gampang dicari. Sewa motor juga ada.

Dengan banyaknya spot diving dan snorkeling saja sebetulnya sudah cukup alasan buat ke Sabang. Ditambah lagi adanya tugu nol kilometer, gunung berapi mini, dan danau an-euk laot. Sedap!

Selamat berpetualang!

REDAKSI

Dari

Redaksi

PIMPINAN UMUMKhemal Nugroho [email protected] Redaksi menerima saran, kritik,

dan artikel dari BM Readers yang bisa dikirim melalui

(3)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

S A B A N G

N O L K I L O M E T E R

ORDINAT

KATANYA, ORANG ACEH pemalas ya? Sukanya nongkrong di warung kopi berjam-jam? Hmm, bisa iya bisa enggak, tergantung di warung kopinya ngapain. Kalau ngurus bisnis online, diskusi bahan kuliah, atau lagi ta’aruf mau nikah, masa iya sih dibilang pemalas?

Oleh: Muhammad Iqbal | Foto: Amelia, Ima, Ghamal, Sastri, dan Siti

F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N 4

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2

(4)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

5 6

Budaya-budaya kehidupan orang Aceh yang begitu bisa kita amati di Sabang. Kenapa di Sabang doang? Karena Back-packin’ bahasnya Sabang…=p Bukan deng, karena daerah Aceh lain gak punya pantai sebanyak dan sebagus Sabang, dan juga gak punya Tugu Nol Kilometer. Jadi, selain me-ngamati budaya Aceh, kita bisa juga jalan-jalan dengan destinasi yang lebih banyak.

Sabang bukanlah nama pulau. Pulau-nya namaPulau-nya Weh (bahasa IndonesiaPulau-nya: pergi sana!), Sabang itu nama kotanya. Memang, hitungannya Sabang ini masuk pulau terluar Indonesia yang mepet dengan Banda Aceh, kota terujung Sumatera, tapi kehidupan di sini gak terlalu beda dengan di

pulau bukan terluar. TV, internet, dan koran sebagai media “penyamaan konsep berpikir” sudah diadopsi dengan baik, walaupun koran baru datang jam 10 pagi karena itu kapal pa-ling pagi yang sampai ke Sabang dari Banda Aceh.

SABANG FAIR

Beda dengan pantai-pantai di Pulau Jawa yang berpasir, di Sabang mayoritas pantainya punya karang dan batu. Pantai berkarang lebih banyak binatang lautnya daripada pantai berpasir.

Contoh paling jelas di Sabang Fair, pantai yang paling dekat dengan kota yang berarti paling banyak dikunjungi, terutama oleh warga lokal. Di pantai ini, mudah di-temui macam-macam binatang laut. Cacing laut paling mendominasi. Dia wara-wiri di sela-sela karang batu.

Bintang laut gampang ditemui dan paling sok cool kalau dikagetin. Teripang juga ada. Ikan? Jelas banyak. Biasanya dia ngum-pet di balik karang batu.

Banyak penjual makanan di seke-liling Sabang Fair. Aceh itu khasnya mi Aceh dan kopinya. Jadi kalau pesan, mending itu aja. Mi Aceh khas dengan bumbunya yang macam-macam dan kuahnya yang kental. Pada umumnya ada pilihan pakai cumi-cumi atau kepiting.

PANTAI IBOIH DAN GAPANG

Dua pantai ini jadi destinasi yang pa-ling sering dikunjungi turis, motif utamanya biasanya snorkeling dan diving. Dua-duanya punya penginapan (di Gapang lebih banyak), punya tempat penyewaan alat snorkeling, punya pasir putih, dan punya karang bejibun. Alat-alat snorkeling (snorkle, life jacket, kaki katak) harga sewanya Rp 45.000/hari.

Di sini lebih banyak bule daripada orang Indonesia. Orang-orang asli Sabang biasanya mainnya di Sabang Fair, bukan di dua pantai ini.

Iboih indahnya bukan main, tapi ha-rus hati-hati. Yang indah itu sering kali me-matikan. Arusnya lumayan kuat membawa ke laut lepas. Ada orang lokal yang bilang, “Waktu Tsunami, ada yang pernah kebawa sampai Madagaskar!” Entah benar atau eng-gak, tapi ngomongnya pakai tampang serius. Dari pantai Iboih, bisa terlihat pulau Rubiah yang itu jaraknya paling 100 meter, berenang nyebrang ke sana mungkin banget.

(5)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

7 8

Tengah-tengah perjalanan 100 meter itu ada palung yang banyak hiunya, tapi bukan jenis hiu yang ganas.

Buat nyeberang ke Rubiah dari Iboih, bisa sewa kapal yang bagian bawahnya ada kacanya supaya bisa lihat biota bawah laut. Kalau punya kemampuan dan mental yang cukup, bisa saja berenang ke Rubiah dari Iboih, banyak kok bule yang begitu.

TUGU NOL KILOMETER

(6)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

9 10

Di sekeliling tugu, banyak batu yang dicoret-coret nama orang. Malah banyak yang bawa batu sendiri yang isinya nama-nama rombongan yang ikut ke situ (serius loh!). Mungkin mereka pikir, jarang-jarang ke Sabang, jadi harus “meninggalkan” sesuatu, biar dunia tahu mereka pernah ke Sabang.

Perjalanan menuju tugu dan sunset menjadi daya tarik dari tugu ini. Menuju ke sana, dari kota Sabang, harus lewat hu-tan dengan jalanan aspal berbelok-belok. Di sepanjang jalan ini, berkali-kali terlihat

pemandangan laut lepas. Berkali-kali juga kera-kera godain orang yang lewat. Dia kadang gak mau minggir dari jalan, kadang lompat dari pohon ke pohon, ngagetin orang yang lewat.

(7)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

PANDU

TIGA TAHUN KEMUDIAN, Januari 2012, saya balik lagi ke Sabang. Main ke Pantai Pasir

Putih yang ternyata biasa banget (dibanding

Gapang dan Iboih), terus ke Gunung Api mini

di Jaboi. Bau belerangnya lumayan kuat. Saya

gak nyangka, di pulau yang dari ujung ke ujung

(Balohan ke KM 0) cuma 40 km ini ada juga

gunung berapi.

Lanjut saya jalan ke Danau Aneuk Laot

(artinya: Danau Anak Laut). Maunya sih

be-renang, tapi karena tidak ada yang berenang

dan saya tidak tahu karakteristik danaunya,

enggak dulu deh.

Jalan sudah makin tembus ke

pelosok-pelosok Pulau Weh. Di peta yang saya pegang,

jalan ke beberapa tempat masih digambarkan

kecil, tapi kenyataannya jalan sudah besar.

Jalannya besar-besar dan sedikit orang saja

yang lewat. Itupun pembangunannya masih

terus jalan.

SABANG

SUDUT LAIN

12

11 B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

(8)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N 13

Beberapa penerbangan dari Medan dan atau Jakarta bisa langsung ke Bandara Sultan Iskan-dar Muda di Aceh Besar:

Pesawat : Garuda, Air Asia, Batavia, Lion, Sri-wijaya.

Taksi: bandara – kota Banda Rp 70 ribu, lanjut ke Ulee Lhee naik labi-labi Rp 6 ribu; atau ban-dara – pelabuhan ulee lhee Rp 100 ribu.

MENUJU BANDA ACEH

Kapal cepat (Expres Bahari): setiap hari; eko-nomi (Non AC; Rp 55.000), eksekutif (AC; Rp 65.000), VIP (AC + Snack; Rp 85.000); 45 menit; dari Balohan (Sabang) pkl 8.00 dan 14.30, dari Ulhee-lee (Banda) pkl 9.45 dan 16.00 (Jumat pkl 16.30).

MENUJU BANDA ACEH

Kapal lambat (BRR): setiap hari; ekonomi (Rp 18.500), bisnis (Rp 27.500), eksekutif (Rp 36.500); 1,5 jam. Senin, Selasa, Kamis, Jumat: dari Balohan pk 8.00, dari Ulee-lee pkl 14.00. Rabu, Sabtu, Minggu: dari Balohan pkl 8.00 dan pk 14.00, dari Ulee lhee pk 11.00 dan pk 16.00

Tidak ada transportasi lain dari Balohan ke mana-mana, kecuali mobil Colt, becak motor, dan RBT (ojeg). Colt adalah yang termurah, dengan tarif: Balohan – Kota Sabang Rp 15.000, Balohan – Gapang/Iboih Rp 50.000.

Keliling pulau bisa sewa motor (Rp 80 ribu dari pagi sampai sore; Rp 120 ribu 24 jam) atau sewa Colt (Rp 400 ribu dari pagi sampai sore, belum bensin)

1. Hotel Pulau Jaya (Jl Teuku Umar no 21), - Rp 40 ribu buat 1 single bed, ada fan. 2. Hotel Kartika (Jl Teuku Umar no 17-19), - Rp 80 ribu buat 2 single bed, ada fan. 3. Losmen Pum (Jl Teuku Umar), - Rp 60 ribu buat 2 single bed,

- Rp 80 ribu buat 3 single bed, ada fan. 4. Losmen milik Fauzi di Iboih.

PENGINAPAN

Musim kemarau, waktu air laut jernih.

WAKTU TERBAIK

1. Snorkeling dan diving di Pantai Iboih, Pantai Gapang, Pulau Rubiah.

2. Sunset di Sabang Fair, Sabang Hill, Tugu Sa-bang Merauke, dan di Tugu Nol Kilometer. 3. Makan Mi Aceh di dekat losmen Pum (Jl Teuku Umar) dan Café Jack (Jl S Parman). Standar Rp 8 ribu (gak pakai apa-apa).

4. Ngopi di warung-warung kopi yang tersebar di seluruh kota. Standar 1 gelas Rp 5 ribu. 5. Makan sate gurita, mie jalak, dan mie ping-sun di kota Sabang. Coba juga bakpia sabang, dodol sabang, dan salak sabang.

6. Lihat-lihat danau Aneuk Laot di dekat kota dan gunung berapi mini di Jaboi.

7. Mandi air panas di Keunekai

PENGINAPAN

1. Kalau mau bertanya, matikan mesin, turun dari kendaraan, baru tanya. Itu kalau gak mau dicemooh.

2. Pantai timur (Anoi Itam, dll) bagus buat snorkeling dan diving tapi gak ada operator, jadi mending sewa dulu di Gapang/Iboih, baru ke timur.

3. Sampai kota Sabang, ke Piyoh dulu (toko souvenir di kota Sabang, Jl Teuku Umar) buat minta peta dan “nasihat” dari yang jaga (tidak harus beli), kalau beruntung bisa ketemu Hij-rah (yang punya Piyoh).

4. Sewa motor buat ngirit keliling. Banyak di hotel-hotel sekitar Jl Teuku Umar.

TIPS

4. Putra (becak motor) 085277253526

5. Hotel Pulau Jaya

(9)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

Jelajah Keindahan Pulau

S A B A N G

SAYA KENAL BANYAK orang Aceh karena dulu sempat tinggal di asrama Aceh waktu kuliah di Bogor. Saya provokasi sedikit, dapat 2 orang yang mau ikutan ke Sabang: Bang Faisal dan Bang Rifqi. Mereka berdua posisinya sudah ada di Banda Aceh, titik terakhir sebelum nyeberang ke Sabang.

Oleh : Muhammad Iqbal|Foto: Amelia, Ima, Iqbal, Ghamal, Sastri, dan Siti

CATPER

(10)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

Tadinya saya kira jalan-jalan ke Aceh itu perlu 3 juta lewat, tapi gak juga tuh. Karena ada… “Nanti di Sabang nginep di tempat ade gw aja, Bal. Muter-muternya pake motor dia aja.” Dan… “Di Banda aman deh, Bal. Mau makan mi Aceh macam apa? Minum kopi di mana?” Dan ini… “Kita punya saudara loh bang di Takengon.”

Jadi saya kalkulasi cuma butuh 2 juta buat muter Sabang dan Takengon. Kom-ponen terbesarnya apalagi kalau bukan transport. Pesawat PP sudah sejuta sendiri. Bis Medan-Banda-Takengon-Medan sudah Rp 400 ribu. Kita berangkat…

18

Sampai di Medan, saya langsung cari bus ke Krueng Mane (30 menit setelah Lhokseumawe) buat setor muka dulu ke nenek saya yang tinggal di situ, juga ke Ayah Mama yang sudah lama ada di Krueng Mane buat siapin pesta kakak.

Gak lama kemudian, saya langsung cabut ke Banda. Kami janjian di Pelabuhan Ulhee-Lee, tempat nyeberang ke Sabang. Saya dan Bang Faisal sudah sampai duluan, jadi bisa ikut kapal lambat yang jam 2 siang. Bang Rifqi telat, jadi dia nyusul pakai kapal cepat yang jam 4 sore. Bang Rifqi ini rada-rada juga, dia ke Banda naik motor 6 jam dari

rumahnya di Lhokseumawe, dengan alasan, “Enak, bisa mampir beli es tebu di Seu- lawah.”

Sambil nunggu jemputan adiknya Bang Rifqi yang memang kerja di Sabang, kami nongkrong di warung Balohan, tempat kapal merapat. Saya pesan mi Aceh cumi. Harganya Rp 13.000 dan potongan cuminya banyak banget. Keliatannya konsep “hitung biaya produksimu sebelum sampai meja” ditinggalin sama pemilik warung, saking murahnya harga hasil laut di sini.

(11)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

19 20

penawaran jasa pembuatan sertifikat bahwa pengunjung pernah sampai ke titik nol kilo-meter. Yang saya bingung itu bukan orang yang jualan sertifikat, tapi yang beli. Ada spanduk begitu kan berarti ada permintaan. Kira-kira buat apa ya sertifikatnya? Ah, gak usah dipikirin, itu adiknya Bang Rifqi sudah datang. Kami berangkat ke kosannya.

Taruh barang, langsung berangkat lagi ke Sabang Fair. Saya langsung jalan ke pantainya yang penuh karang. Di celah-celah

karang itu saya nemu bintang laut sama teripang. Teripangnya saya godain dikit pakai kayu, dia langsung nyemprot cairan biru. Wih, galak amat ni teripang.

Inilah kerennya Sabang Fair, bisa nemu binatang macam-macam di pantainya, walau kaki gak nyentuh air sedikitpun. Tam-bah keren, ada meriam-meriam di pinggir pantai. Dulu tempat ini jadi benteng per-tahanan, kalau tidak Belanda ya Jepang.

Besoknya, pagi-pagi kami berangkat ke Pantai Iboih buat snorkeling. Iboih ini seru kalau punya nyali. Kalau cuma snorkeling di pinggir-pinggir aja sih aman. Yang ngeri itu ke tengah, ke arah pantai Rubiah yang jarak-nya gak jauh dari Iboih. Kata temen di sana itu banyak ikan hiunya kalau lagi musim. “Tapi gak papa kok, hiunya kecil-kecil, gak ganggu,” dia mencoba menenangkan kea-daan yang sudah terlanjur gak tenang.

(12)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

CATPER

21 22

Alhamdulillah saya sampai Rubiah! Hutannya masih lebat banget, dan suara serangga yang kedengarannya ada ribuan itu bikin saya lima menit kemudian ngajak balik lagi ke Iboih.

Di Iboih juga keren banget. Dari dermaga mini, saya bisa lihat dasar karang 2 meter di bawah permukaan, karena airnya jernih banget. Ikan pun seliweran sudah gak kehitung. Kami bertiga berkali-kali lompat

dari Dermaga, naik lagi, lompat lagi, sampai cape.

Selama snorkeling, saya nemu ikan warna-warni ratusan! Katanya, Bang Faisal nemu ikan lepu atau scorpion fish. Itu loh, ikan yang racunnya bisa bikin orang sakratul maut. Makin ke tengah, variasi biotanya ma-kin beragam. Saya sangat nyaman dengan posisi lepas di permukaan laut, memandang biota wara-wiri di depan muka saya. Paling

seru kalau ikan yang lewat bergerombol. Ka-rang yang warna-warni bikin suasana terasa makin syahdu. Selesai snorkeling tujuan kami berikutnya ke Tugu Nol Kilometer.

Kata Bang Rifqi, ke Sabang ya harus ke tugu ini. Jaraknya sekitar 10 km dari Iboih, lewat hutan. Namanya juga hutan, jadi masih banyak kera-kera seliweran di jalan atau lom-pat dari pohon ke pohon di atas kita. Saya cuma takut mereka lompat, terus

garuk-KARANG YANG WARNA-WARNI

BIKIN SUASANA

(13)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

CATPER

23

garuk muka saya. Mereka itu tenaganya kuat loh. Kalau berantem mungkin saya yang kalah, tapi kalau lomba nulis pasti dia yang kalah.

Tugu itu buat saya gak ada apa-apa-nya dibanding sunset di seputaran tugu. Sepi, samudra luas, awan bersih, dan sunset! Saya duduk di atas batu kokoh di ujung tebing yang kalau jatuh, hmm, teri-pang itu gak bisa nyemprot saya lagi, kera-kera itu gak bisa godain saya lagi. Tapi pe- mandangan di situ terlalu bikin saya nyaman, walau duduk di atas tebing curam.

Itu jadi akhir dari liburan saya ke Sabang. Besok paginya saya kejar kapal pagi, langsung ke Takengon, di sana ada Danau Lut Tawar yang keren banget. Baru deh pu-lang ke Krueng Mane.

PEMANDANGAN DI SITU TERLALU

BIKIN SAYA NYAMAN

(14)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

BAWAH LAUT

FOTO : IMA SARI MAHARANI

PANORAMA

FOTO : AMELIA ALBERTINA

NYIUR DI SABANG

FOTO : SITI ZULAEHA

25 26

Kirimkan foto koleksi kamu ke redaksi Backpackin Magazine melalui email kami [email protected]

GALERI

KARANG DI S

ABANG

FOTO :

(15)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

BULOK

M E R A C I K T R A D I S I

Banda Aceh dijuluki kota 1000 warung kopi. Memang pas, karena warung kopi lebih banyak daripada warung makan, dan warung kopi adalah yang paling ramai dari warung apapun di Aceh.

Oleh : Muhammad Iqbal| Foto: Muhammad Iqbal dan Galih Permadi

(16)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

29 30

SEBETULNYA BUKAN CUMA Banda Aceh. Hampir semua wilayah Aceh ramai dengan warung kopi. Ada 3 jalan utama masuk Aceh dari Sumatera Utara, yaitu dari Sibolga lewat Tapaktuan, dari Sidikalang lewat Kutacane, dan dari Medan lewat Kuala Simpang.

Ketiganya seperti etalase Aceh yang punya banyak warung kopi di kanan kiri jalan. Dan ketiganya bermuara di satu titik: Banda Aceh, kota paling ramai se-Aceh, kota paling modern, kota 1000 warung kopi.

BULOK

Tradisi ngopi begitu populer dan digemari masyarakat Aceh. Sampai-sampai, pada zaman konflik dulu, antara TNI dan GAM punya semacam kesepakatan, bahwa kalau di lapangan bolehlah perang, tapi semua gencatan senjata di warung kopi.

Mahasiswa ngopi, orang tua ngopi, tentara ngopi, pejabat ngopi. Semua ngopi. Hampir semua bahan diobrolin di warung kopi, termasuk ngobrolin politik. Sampai ada yang namanya wartawan warung kopi, yaitu wartawan yang menulis berita atas dasar apa yang didengarnya di warung kopi. Berita keluarannya belum tentu tidak valid, karena banyak keputusan dan hasil musyawarah yang keluar dari warung kopi.

Standar harga segelas kopi adalah lima ribu. Kalau di kampung-kampung ada yang cuma seribu perak segelas. Dengan uang segitu, orang bisa duduk berjam-jam.

Itu sama sekali tidak dilarang oleh si pemilik warung kopi.

Memang hampir semuanya begitu. Malahan, kalau dia mau keluar sebentar dari warung kopi, tapi masih mau balik, dia ting-gal tutup mulut gelas dengan piring tatakan gelas. Si pelayan tidak akan berani meng-ganggu gugat. Tapi ini berlaku tidak di semua tempat.

Para pemilik warung kopi biasanya menambahkan fasilitas wifi dan TV layar lebar buat menarik pengunjung. Ada juga koran harian yang bisa pengunjung baca. Ini biasanya loh, karena ada juga yang mem-pertahankan tidak banyak memberi fasilitas karena ingin pengunjung yang datang itu memang hanya untuk menikmati kopi.

Ada kopi hasil racikan sendiri yang beredar di warung kopi Aceh, ada juga kopi instan. Kopi racikan sendiri ini yang mem-buat semua warung kopi punya rasa yang berbeda. Biasanya biji kopi diambil dari da-erah Takengon (Aceh Tengah). Peramu kopi di Banda Aceh mirip pemain bola, ada trans-fer peramu segala. Terkadang warung kopi yang baru buka “meminjam” peramu kopi professional dari warung kopi yang sudah, katakanlah mapan. Lalu dikembalikan setelah dirasa cukup menarik pengunjung.

Rasa begitu berpengaruh buat yang betul-betul penikmat warung kopi. Mereka tidak akan mau masuk warung kopi yang mereka anggap rasanya main-main. Untuk bisa berkomentar “rasanya main-main” ini butuh waktu lama. Kalau yang sudah pecinta kopi betul, dia bisa bedakan mana kopi yang

HAMPIR SEMUA BAHAN DIOBROLIN

DI WARUNG KOPI,

(17)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

BULOK

31

ADA YANG BILANG,

SOLONG PUNYA RASA

YANG SELALU STABIL

keluar dari saringan pertama, mana yang dari saringan terakhir. Bahkan mereka bisa merasakan kalau kopi itu bukan hasil racikan koki yang biasa meracik kopi di situ.

Ada ratusan warung kopi di Banda Aceh. Solong adalah yang paling sering di-sebut-sebut. Kenapa begitu? Padahal Solong pusat yang di Ulee Kareng (ada beberapa cabang Solong yang tersebar di Banda Aceh) tidak punya wifi dan tidak ada koran harian. Dan dia juga bukan warung kopi pertama di Banda Aceh. Apa yang membuatnya spe-sial?

Ada yang menganalisis, Solong adalah yang pertama meracik dari biji kopi sampai kopi siap hidang. Ada yang bilang, itu karena Solong punya rasa yang selalu sta-bil, kopi yang dipesan hari ini rasanya sama dengan yang dipesan minggu depan dan tahun depan. Ada juga yang berpendapat, Solong paling sering disebut karena di sana

ada segala segmen. Sebagian warung kopi mengambil segmen anak muda saja, atau segmen menengah ke atas saja. Tidak de-ngan Solong.

Orang gila pun ada yang jadi pela-nggan Solong. Sudah jadi rutinitas si orang gila buat ke Solong tiap pagi. Dia datang, langsung duduk. Dia tidak buat gaduh sama sekali. Si pelayan juga sudah tahu pelanggan spesialnya yang satu ini. Pelayan langsung ambil segelas kopi lalu diberikan ke si orang gila secara cuma-cuma. Si orang gila minum glek begitu saja panas-panas, terus cabut dari meja itu. Begitu setiap hari.

(18)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

ACEH

FOTOGRAFER.NET

KOMUNITAS

KECEMPLUNG KE FOTOGRAFI karena suka

jalan-jalan, itu biasa. Jalan-jalan adalah salah satu media yang bikin orang suka dengan fotografi. Banyak juga media lain. Makanya,

(19)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

KOMUNITAS

AFN, singkatan dari Aceh Fotografer dot Net, merupakan sebuah komunitas foto-grafi yang beranggotakan tidak hanya orang-orang Aceh. Maimun Riansyah, satu dari tiga pendiri AFN yakni Aldy Fithrico, dan Fachrul Razi.

Penghujung Januari 2012, saya bikin janji dengan Maimun untuk ‘membongkar’ AFN. Sambil menyeruput kopi di Tower Pre-mium, warung kopi di Banda Aceh, Maimun cerita, “Biasanya kami sama anak-anak AFN nongkrongnya di warung kopi.”

AFN awalnya dari beberapa anggota Aceh Forum –semacam Kaskus regional

Aceh, tempat orang Aceh bertukar pendapat tentang segala hal: politik, warung kopi, kriminal, macam-macam deh- yang sering unggah foto. Di room Fotografi, mereka mengkritik dan dikritik, tentang foto yang dikirimkan itu.

Ketiga pendiri berpikir: ini kan ba-nyak yang respon, baba-nyak peminat, kenapa kita nggak bikin wadah spesial buat

orang-35

orang kayak kita aja? Orang-orang yang mau belajar dan mengajar fotografi. Orang-orang yang suka mengkritik dan rela dikritik. Maka mereka membuat forum online AFN ini, tanggal 1 Juni 2008.

Sebulan kemudian, dibuat gathering. Semua saling tidak kenal di awal. Hunting terus-menerus membuat mereka semakin dekat dan hawa komunitas semakin terasa. Hunting, diskusi. Hunting, diskusi. Itu saja kerjaannya.

Kebanyakan hunting dilakukan di Banda Aceh dan sekitarnya: Pantai Lhok Nga, Bandara Blang Bintang, Hotel Grand Nangroe, Taman Putro Phang, Ulee Lhee, dan pasar tradisional. Pernah juga di perumahan Arun Lhokseumawe dan di Sabang.

Sebelum hunting, mereka duduk diskusi, besok kita hunting apa di mana. Ka-lau perlu model, patungan buat bayar model berapa-berapa. “Setelah hunting, kita suruh mereka pilih 2 foto terbaik.

Dikumpulin sama kita, terus kita bahas. Siapa dulu mau dibahas? Kita bahas,

kita tampilkan di infocus,” jelas Maimun. Pembahasan dilakuakn oleh anggota yang dianggap senior, misalnya Ferry Ibenz dan Juliansyah Aji (senior fotografi wedding). Mereka berdua memberi pengalaman dunia fotografi.

AFN membuat gathering besar dan gathering kecil. Gathering kecil dilakukan sub AFN, beberapa spesialis komunitas, secara rutin (malah tiap minggu) : Aceh Wildlife Photography (AWP) untuk pecinta wildlife (agak terfokus ke burung), XShoot untuk foto model, dan beberapa sub komunitas tanpa nama.

Komunikasi anggota, dilakukan di facebook atau di www.acehfotografer.net sendiri. Pada laman itu terlihat beberapa aktivitas utama: saling kritik foto, jual beli, dan diskusi fotografi (ada materinya). Web-sitenya begitu hidup dan sudah autopilot, tidak terlalu membutuhkan moderator. Kalau mau hunting ke Aceh, silakan hubungi kawan-kawan AFN.

KOMUNITAS FOTOGRAFI YANG

BERANGGOTAKAN TIDAK HANYA

ORANG-ORANG ACEH

(20)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N 38 SEBELUM 2008, SABANG tidak punya yang

sekarang dikenal dengan Agam Inong Aceh (semacam Abang None Jakarta). Hijrah maju menawarkan diri menjadi, awalnya, Duta Sabang, lalu menang. Dan selanjutnya menjadi Agam Aceh dan maju ke tingkat Nasional di tahun yang sama.

Rally panjang memperkenalkan Aceh membuat Hijrah matang dengan pariwisata Aceh. Tapi tidak ada uang di situ. Malahan beberapa kali Hijrah harus buka dompet sendiri buat mempromosikan Aceh. Dia bukan ingin menjadi orang terkenal di Aceh, tapi orang yang mau memperkenalkan Aceh.

Sehari-hari, Hijrah menjalankan bisnisnya membuat dan menjual bermacam souvenir tentang Sabang. Dia ikut

meng-Hijrah Saputra

HIJRAH SAPUTRA

S A B A N G M A S U K

1 0 D I V E S I T E D U N I A

godok pembuatan peta wisata Banda Aceh dan bergerak sendiri dalam membuat peta wisata Pulau Weh dan kota Sabang, yang sekarang sudah tersebar luas di internet dan juga dicetak (pakai duit sendiri, bukan duit pemerintah).

Backpackin’ mampir ke tempat Hijrah di Jl Cut Meutia, Kota Sabang, dan ngobrol:

Kenapa sih sebegitu pinginnya mengangkat

pariwisata Aceh, khususnya Sabang?

Aku mau jadi putra daerah yang berguna untuk pengembangan pariwisata Sabang, dan kota halamanku ini memang memiliki banyak sekali potensi pariwisata yang harus diketahui banyak orang, biar kecil tetap Sabang.

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I _ M A R E T 2 0 1 2 37

(21)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

Hijrah Saputra

PROFIL

39 B A C K P A C K I N I M A R E T - A P R I L 2 0 1 1

Sabang, atau Aceh, bisa kita bilang wilayah

islam. Dengan adanya turis yang sering

ber-pakaian minim begitu, ada benturan gak?

Tidak masalah kalau sesuai den-gan tempatnya seperti di pantai, kecuali berpakaian minim di tempat-tempat yang dilarang seperti di masjid.

Tsunami 2004 pengaruh ke budaya

orang-orang Sabang gak sih?

Mungkin shock

culture seperti

di Banda Aceh, yang

mem-buat budaya islam sedikit

luntur dan pola pikir makin global?

Tsunami tidak berdampak terhadap budaya Sabang, karena Sabang multi et-nis, bahasa yang digunakan pun mayoritas Bahasa Indonesia. Ini terbentuk bahkan sebelum pelabuhan bebas diberlakukan di Sabang. Banyak etnis.

Kok kelihatannya ramai banget bule yang ke

Sabang. Kebanyakan mereka cari apa?

Keindahan bawah lautnya, ada seki-tar 20 dive site menarik. Menurut majalah di

Eropa, Sabang masuk 10 list tempat me-nyelam yang harus dikunjungi di dunia.

Jadi tidak heran setiap harinya ada bule yang datang menyelam.

Apa yang berbeda antara turis luar dan

lokal?

Turis luar lebih tertarik dengan ke-indahan bawah laut, sedangkan turis lokal ke titik Nol Indonesia, setelah itu baru me-nikmati keindahan alamnya, mencoba kuliner khas dan berbelanja oleh-oleh.

Sabang, atau Pulau Weh, punya jalan yang

lebar-lebar dan bagus-bagus. Tapi kata orang,

trans-portasi di Sabang itu susah, atau mahal, betul?

Dibilang susah, tidak juga, asal tahu jadwal dan tempat di mana transportasi itu ada, bagus bila sudah punya nomor yang bisa dihubungi. Ka-lau mahal, relatif, karena harga tarif di sini menye-suaikan dengan tingkat kebutuhan masyarakat.

Eh, denger-denger mau bikin buku? Tentang apa

dan kenapa?

Iya, buku panduan traveling ke Sabang, sekarang lagi riset mengumpulkan bahan tulisan dan foto-foto yang menarik dan dibutuhkan se-lama berada di Sabang, Mudah-mudahan buat orang makin mau ke Sabang.

Okay Hijrah, goodluck buat bukunya. Hidup Sabang!

Contact Hijrah:

Email: [email protected]

FB: Hijrah Saputra Yunus

Twitter: @hijrahheiji

Blog: www.piyoh.blogspot.com

ADA SEKITAR 20 DIVE SITE MENARIK

SABANG MASUK 10 LIST TEMPAT MENYELAM

YANG HARUS DIKUNJUNGI DI DUNIA

(22)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

(23)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

RESENSI FILM

43

Kenalkan

Sabang

Lewat

Layar Lebar

PRODUSER Ina Limbong Riung

SUTRADARA Andhy Pulung

ABIMANA ARYASATYA Sebagai Langit

NADIA VEGA Sebagai Keumala

PRODUKSI Indira Films

DURASI 100 menit

KAMIS

01 MARET

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2

SENJA. MOMEN ALAM paling indah. Setidaknya itu menurut Langit, sang fotografer. Awalnya senja cuma pelarian atas kekecewaannya terhadap masa lalunya Pelarian yang justru mengajarkannya banyak makna kehidupan. Jadilah ia mengadakan pameran foto bertema langit senja di sebuah kapal

Siapa sangka, di kapal ia justru terlibat perdebatan menyebalkan yang mengusik idealismenya sebagai fotografer dengan seorang penulis dan pembuat sketsa yang cantik tapi kepala batu bernama Keumala.

Itu sekilas sinopsis film Keumala. Selain film tentang cinta, film ini bakal menyajikan keindahan alam kota Sabang, Aceh sebagai background ceritanya. Masyarakat luar masih awam dengan keindahan Sabang, ketidaktahuan tersebut menjadi ide awal film ini.

Lina Limbong Riung selaku produser Keumala seperti dikutip dalam www.21cineplex.com, mengatakan,

“Awalnya pas kita main kesini (Sabang), kok

keren banget ya, kita harus buat sesuatu di pulau ini. Akhirnya terpikirlah untuk membuat film, semua tim produksi setuju bahwa pemandangan indah Sabang sangat berpotensi untuk di jadikan lokasi syuting film ini,” jelasnya

“Film ini berbeda dengan yang lainnya, karena akan ada narasi yang

memperkuat cerita film. Adegan percintaan nya pun ngga ada ciuman, benar-benar romance. Film ini menggambarkan cinta sejati, kedamaian, kebahagian, dan ketenangan. Dan satu lagi penggunaan bahasa sastra pun memperkaya dialog film,” tambah Ina.

“Kita ingin membuka mata

masyarakat bahwa Aceh itu indah dan aman, tidak hanya hal negatif saja. Dengan film ini orang ingin lebih tahu tentang Aceh,” ujarnya. (www.21cineplex.com)

FILM INI MEMANFAATKAN KEINDAHAN

ALAM KOTA SABANG, ACEH SEBAGAI

LATAR BELAKANG CERITANYA

(24)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

RESENSI

43 46

W

i s a t a k e

K

e p u l a u a n

TUJUH BELAS RIBUAN pulau yang ada di Indonesia punya karakteristik yang berbeda-beda, punya keindahan laut yang

macam-macam, juga punya budaya yang beragam. Semua menarik untuk dikunjungi. Menarik, sekaligus perlu persiapan yang matang. Berikut beberapa tips berwisata ke daerah kepulauan:

1. Perhatikan jadwal kapal. Kapal ferry kadang docking (tidak ada kapal pengganti). Kapal nelayan bisa saja diandalkan, tapi harus tahu betul kebiasaan berangkat kapal hari apa jam berapa, kalau perlu tanya sama pemilik kapalnya langsung. Perhatikan juga jadwal

pulang, jangan-jangan kapal itu cuma seminggu sekali, padahal kita niatnya

cuma 2 hari. Bisa berabe.

2. Waspada malaria.

Banyak daerah kepulauan yang jadi wilayah endemik malaria. Walaupun risiko kena bagi yang cuma datang

sehari dua hari lebih kecil dari yang berlama-lama, tapi

pencegahan itu lebih bijak.

3. Siapkan alat. Ada ke-pulauan yang tidak punya operator diving atau snorkel-ing. Daripada nyesal, mending

bawa sendiri alat-alatnya.

TIPS

4. Jangan petantang-petenteng.

Penduduk lokal bisa baik kalau kita baikin, sekaligus bisa lebih jahat kalau kita jahatin. Terkadang mereka punya “ilmu” yang bisa

me-ninggalkan pengalaman buruk.

5. Lapor ke pejabat setempat.

Bisa kepala desa atau ketua RT. Beberapa pulau terluar jadi tempat

penyeberangan teroris atau yang kriminal-kriminal gitu deh. Lapor

dari-pada dituduh macam-macam

6. Siapkan uang tunai. Jarang ada ATM di kepulauan

TRACKPACKING

.COM

SOSIAL MEDIA

BUAT TRAVELLER

ANAK MUDA JAMAN sekarang umumnya gak lepas dari social media, tapi udah nemu belum social media yang khusus buat travelling? Nah, yang ini patut dicoba.

Trackpacking adalah social media, selayaknya facebook, yang memuat segala macam fitur menarik mengenai dunia travelling. Disini kamu bisa berbagi pengalaman travelling kamu ke para

trackpackers yang lain. Penasaran? Cekidot!

DESTINATION

Menyajikan informasi lengkap mengenai destinasi-destinasi wisata. Cukup ketik kemana tujuanmu, sedetik kemudian akan muncul info lengkap mulai dari gambaran umum, peta, foto-foto, tips, track GPS, info paket tur, hingga catper-catper dari semua trackpacker yang sudah pernah kesana. Sekaligus bisa tanya-tanya juga lho!

EXPEDITION

Isinya info-info ajakan trip ke suatu tempat. Jadi buat kamu yang mau cari teman nge-trip, disini tempatnya!

TRIBES

Merupakan tempat nongkrong grup-grup yang dikelompokkan berdasarkan kesamaan

hobi, atau lainnya. Misal ada tribes

backpacker buat yang suka backpack, ada tribes gallawers yang suka galau, dll. Dapet temen baru, sharing segala macam info, seru kan!

ASK ME

Lagi bingung? Pegangan! Pegang komputer trus kesini deh. Tanya apa aja yang mau kamu tahu tentang travelling. Rute, ongkos, penginapan, dll? Jangan ragu, tanya semua disini. Niscaya, pertanyaan kamu bakal dijawab. Amin.

BLOG

Ini yang paling seru. Seperti layaknya blog, disini isinya segala macam catatan perjalanan teman-teman trackpackers yang sudah melanglang buana kemana-mana. Segala macam info atau tips tentang travelling juga bisa ditemui disini, suka-suka yang nulis aja. Kamu juga bisa banget meramaikan blog ini.

ROUTE

Mau ke Bromo tapi bingung gimana rutenya? Fitur ini memungkinkan kamu sampai

ke tujuan dengan selamat tanpa nyasar. Silahkan mencoba.

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2

(25)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

EDUKASI

47 48

MOTIVASI SESEORANG UNTUK melakukan traveling sangat bervariasi. Mulai dari sarana relaksasi, melihat hal-hal baru (to discover), menjelajah dan mempelajari hal-hal yang baru (to explore), bahkan mungkin untuk cari jodoh?

Definisi “to discover” dan “to explore” dalam traveling menentukan sejauh mana kualitas traveling yg dilakukan seseorang. Menurut kamus Mirriam Webster,

“discover” berarti to make known or visible — to obtain knowledge or sight for the first time. Sementara “explore” definisinya to investigate, analyze and study. Nah ini yang membuat beda!

Sebagian traveler bisa jadi punya konsep bahwa traveling itu adalah ketika kamu secara fisik sampai di tempat tujuan (entah gunung, danau, pantai, dll), beraktivitas (rafting, camping, dll), menikmati kuliner lokal, beli oleh-oleh, foto-foto, kemudian pulang. Menurut saya konsep traveling seperti ini baru sampai

Travel is

more than

the seeing

of sights

Oleh

:

Dheva Ibnu

pada tatanan “to discover” saja, tahapan paling dasar dari sebuah perjalanan. Well, pemikiran ini sangat wajar sih dan sama sekali gak salah. Tetapi rasanya sungguh rugi kalau kita hanya mendapatkan pengalaman dangkal seperti ini.

Lain dengan “to explore”.

Kemampuan untuk mengeksplorasi adalah tingkatan yang lebih tinggi dari proses “to discover” yang hanya sekedar perpindahan fisik saja. Quotes ini menjelaskan definisi traveling yang lebih dalam:

“Travel is more than the seeing

of sights; it is a change that goes

on, deep and permanent, in the

ideas of living.” – Miriam Beard

Jelas sekali dikatakan bahwa traveling itu bukan sekedar “seeing of sights” –

melihat pemandangan, happy-happy dan foto-foto. But it goes beyond that. Kunci dari proses eksplorasi adalah “interaksi”. Kamu gak bisa eksplor sebuah tempat tanpa ada interaksi dengan penduduk setempat.

Dengan mencari tahu sejarah dari tempat tersebut sebelum melakukan perjalanan, mengetahui kearifan lokal serta budaya setempat melalui percakapan dengan penduduk lokal, itu membuat seorang traveler mendapatkan pemahaman yang lebih kaya dari perjalanan yang

dilakukannya.

“.. change that goes on, deep and permanent, in the ideas of living” – Bisa diartikan bahwa ketika melakukan sebuah perjalanan setidaknya ada sebuah “change” yang kita rasakan sebagai akibat dari interaksi kita dengan budaya masyarakat setempat. Ketika kita berinteraksi dengan guide atau tetua adat di gunung misalnya, selalu disampaikan tata cara pendakian yang

baik menurut kearifan lokal: misalnya tidak boleh berbicara kotor, tidak boleh kemping di area tertentu, tidak boleh pakai baju berwarna hijau, dan lain-lain.

Misalnya di China, ternyata

menyisakan makanan di piring merupakan sebuah pujian bagi tuan rumah, padahal di Indonesia justru dianggap tidak sopan. Itu semua adalah norma/nilai kearifan lokal yang kita dapatkan melalui proses eksplorasi/ interaksi dengan penduduk yang mampu membuat kita menjadi lebih terbuka dan menghargai nilai, keyakinan serta pendapat orang lain. Membantu kita mengkoreksi diri sendiri, memahami pandangan hidup orang lain terhadap hal-hal yang sebelumnya kita anggap remeh.

Kehidupan tidak bisa kita generalisasikan dari nilai dan keyakinan yang kita miliki sendiri. Hidup itu sangat kaya perbedaan, dan traveling membantu kita untuk menghargai semua perbedaan itu. Seyogyanya setiap perjalanan bisa memberikan pengaruh positif bagi yang menjalankannya, setidaknya ada nilai yang dapat dipelajari dari sebuah perjalanan.

“If you reject the food, ignore

the customs, fear the religion

and avoid the people, you might

better stay at home.” – James

Michener

So you’d better stay at home aja klo traveling masih dengan filosofi seperti diatas :)

KAMU GAK BISA EKSPLOR SEBUAH

TEMPAT TANPA ADA INTERAKSI

DENGAN PENDUDUK SETEMPAT

(26)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

AKSESORIS

49 50

KELAMBU CEGAH

MALARIA

LOTION ANTI NYAMUK, obat nyamuk bakar dan semprot, semua punya efek samping buat kesehatan. Masyarakat Indonesia sudah mengenal yang namanya kelambu sebagai pengusir nyamuk, sebelum segala obat itu bermunculan.

Sampai sekarangpun, mereka banyak yang masih pakai kelambu kalau tidur. Para NGO yang datang memberikan bantuan waktu tsunami datang menghempas Aceh, mereka memberikan kelambu sebagai pencegah malaria, bukan obat nyamuk.

Lazimnya, backpacker yang mau ke pulau-pulau kecil yang biasanya masih

POIN KURANG PRAKTIS DIHILANGKAN,

KELAMBU NYARIS TIDAK

PUNYA KELEMAHAN

50 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

banyak malarianya, mengonsumsi obat-obat anti malaria. Ini memang praktis, tinggal beli, terus makan, tapi kurang sehat. Peringatan “awas obat keras” dan list efek samping yang panjang dan ngeri-ngeri, harusnya membuat backpacker berpikir dua kali untuk mengonsumsinya.

Kelambu datang menjadi salah satu solusi. Kalau poin kurang praktis dihilangkan, kelambu nyaris tidak punya kelemahan. Itu pun bisa diminimalisir, karena sudah banyak

yang jual kelambu lipat. Selain lebih ringkas, kelambu lipat juga mudah untuk dibongkar pasang. Kalau sudah dipasang, kelambu lipat bentuknya seperti tenda dome yang mampu diisi maksimal 3 orang.

Tidak sulit untuk mencari kelambu lipat. Banyak penjual on line yang bisa ngirim sampai ke

rumah. Dengan googling “kelambu lipat” saja sudah banyak referensi tempat kita bisa beli barang tradisional yang ternyata modern itu. Harga standardnya Rp 200 ribu – Rp 300.000, tergantung bahan, model, dan ukuran. Tentu dengan prinsip ada kualitas ada harga.

Foto: Istimewa

Foto: Istimewa

Foto: Istime

wa

(27)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

WALAU KECIL, KOTA Sabang punya makanan khas dan mangat-mangat (enak). Jika master kuliner mencicipinya, pasti akan berkata, “Endang Bambang Gulindang,” atau bahasa gaulnya, enak banget gila!

Oleh : Hijrah Saputra| Foto: Hijrah Saputra

MIE PINGSUN

Selain terkenal juga dengan sebutan Mie Bang Mandra, karena penjualnya mirip Mandra, mie ini juga dikenal dengan Mie Seafood, karena dicampur bermacam sea-food, seperti cumi-cumi, udang, dan ikan, juga ada daging dan sayur. Mie ini dapat dibeli di Toko Aneka Ria, mulai berjualan jam 7 malam sampai 11 malam. Seporsinya Rp 10.000. Pokoknya sip deh.

MIE JALAK

Nama Mie Jalak ini berasal dari nama si penemunya, Pak Jalak. Walaupun tampi-lannya sederhana, hanya terdiri dari Mie yang berwana kuning, kuah bening, tauge, daun bawang, dan taburan daging ikan yang dipotong kecil-kecil serupa dadu, tapi rasa-nya nikmat sekali.

Mie ini ada di Toko Pulau Baru, Jalan Perdagangan, Kota Sabang. Toko ini buka mulai jam 8 pagi hingga 12 siang, buka lagi jam 5 sore sampai 10 malam. Seporsi harga-nya Rp 8.000. Datang ke Sabang, musti, kudu, wajib nyobain Mie Jalak.

SATE GURITA

Yang menjadi keunikkan dari Sate Gurita adalah rasa dari daging gurita itu sendiri. Jangan bayangin daging gurita yang kenyal atau alot. Justru kita bisa merasakan daging gurita yang lembut, plus bumbu ka-cang yang pas.

Seporsi Sate Gurita harganya Rp 10.000. Biasa dinikmati dengan lontong ataupun nasi dengan alternatif bumbu yang berbeda, bumbu Jawa atau Bumbu Padang.

Sate ini bisa dijumpai di Pujasera (Pusat Jajanan Selera Rakyat) Kota Sabang, yang buka mulai pukul jam 7 malam sampai 10 malam.

Sate Gurita

(28)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

VISIT

OUR SITE

.COM

WWW.

BACKPACKINMAGAZINE

.COM

FIND THE BEAUTY OF INDONESIA

“THE LOST ATLANTIS”

ON OUR SITE

53

INTERAKSI

Naik RBT Nyok!

@Backpackin_magz Sebutan ojeg di Aceh adl RBT, tp org Aceh ditanya kepanjangannya RBT apa sih? Dia gak tau. tukang RBT nya jg gak tau, pokoknya naik RBT deh.

INTERACTION

@Tyspratama Remaja Banting Tulang

@MinoPueblo yoi.. dari thn 90an waktu kuliah udh pake istilah itu

@aditramadhan Kalo angkot nya disebut Labi-Labi :)

@moeldjanee kayaknya ada juga sih yang tau kepanjangannya RBT, saya pernh dikasi tau yaitu: Rakyat Banting Tulang

@qurni RBT=Rakyat Banting Tulang (info:tukang ojek simpang bambi,sigli:)

@akhmalnov Rakyat Banting Tulang

@iloveaceh dan sudako juga ada lho (istilah jrg dikenal)

@MinoPueblo Sumatera Daihatsu Company (sudaco). dulunya pkai Daihatsu Hijet. cirinya supir n penumpang dipisah

@arifadlillah sudako d adopsi dri istlah angkot d prbtasan sumut, org bnda bnyak yg gk tau sudako lho.. d lsm udh biasa :)

@Hijrahheiji Jauh deket 3rb :D (re: labi-labi)

Thanks buat reply tweet dari temen-temen diatas

jangan ketinggalan obrolan seru dan info-info menarik tentang backpacker, follow kami di @Backpackin_magz

(29)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N 56

6. 7.

1. HIJRAH SAPUTRA

Doyan desain, buka toko aksesoris

Sa-bang, namanya Piyoh. Mampir ya kalo ke Sabang!.

2. IMA SARI

MAHARANI

Pecinta diving. Foto underwater disini semua dari dia.

Ajib kan?! (vanillasea.tumblr.com).

3.

SASTRI

Sudah layak

menyan-dang gelar travel writer! Tulisannya bisa dinikmati di travel.detik.com..

4. DHEVA IBNU

Cowok. Gagah. Jomblo. Anyone?

.

5. GHAMAL SATYA

Baru saja wisuda S1 Sejarah di UI, selamat yah ghamal...

6. AMELIA

ALBERTINA

Cewe tomboy tapi melow ini doyan maen sampe jauh

ban-get, ke luar angkasa, eh luar negeri deng.

7.

SITI ZULAEHA

Sekilas

me-mang feminim, tapi cewe satu ini juga bolang dan hobi mendaki gunung!

1. 2.

4. 5.

3.

KONTRIBUTOR

CARI ILMU BOLEH

SAMPAI CHINA

CARI PANORAMA

(30)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2 I B A C K P A C K I N

57 58

BM

EDISI

DEP

AN!

U J U N G G E N T E N G

BACKPACKIN MAGAZINE

SIMAK!

(31)

B A C K P A C K I N I F E B R U A R I - M A R E T 2 0 1 2

BACA ISU

TERKINI

BACKPACKIN

MAGAZINE

Referensi

Dokumen terkait