MAKALAH PSIKOLOGI FAAL
PENGENDALIAN INTERNAL
OLEH
Frederick Rado Kladonri
Indah Yulia Sagala
Jihan Rizki
Koesrina Rahma
Nisrina Firdausi
Shofura Hanifah
Universitas Brawijaya
PENGENDALIAN SUHU
Suhu memengaruhi perilaku dalam berbagai cara, dan hal itu seringkali tidak kita sadari. Pengendalian suhu ternyata memiliki peran dan daya tarik yang lebih tinggi daripada yang disadari oleh para psikolog.
Homeostasis dan Alostasis
Homeostasis adalah pengendalian suhu dan semua proses biologi yang mempertahankan keadaan tubuh tertentu dalam kisaran tertentu. Sebagai contoh, banyak hewan yang meningkatkan lemak di tubuhnya pada musim gugur dan menurunkannya di musim semi
Alostasis adalah istilah yang digunakan untuk menggambarkan perubahan dinamis pada nilai yang dikehendaki sebagai bentuk respon terhadap kehidupan pendukung tubuh tersebut
Pengendalian Suhu
Ada dua macam mekanisme suhu pada hewan, yaitu poikilotermik (atau yang biasa disebut hewan berdarah dingin) contohnya amfibi dan pisces, dan homeotermik (atau yang biasa disebut hewan berdarah panas) contohnya mamalia dan burung.
Pada mekanisme poikilotermik, hewan akan memiliki suhu tubuh yang sama dengan
lingkungannya sehingga menimbulkan perilaku – perilaku tertentu untuk mempertahankan suhu tubuhnya. Misalkan, pada saat suhu gurun sedang panas maka kadal akan menggali liang dan berdiam diri di dalam agar suhu tubuhnya tidak panas. Sedangkan pada mekanisme
Selain melalui mekanisme fisiologis, individu juga melakukan mekanisme perilaku. Misalkan dengan berpelukan satu sama lain untuk menghangatkan badan atau mengenakan pakaian dengan bahan tipis untuk menyejukkan diri ketika cuaca panas.
Penggabungan antara Mekanisme Fisiologis dan Perilaku
Terkadang, individu melakukan penggabungan mekanisme untuk mendapatkan suhu tubuh konstan. Fungsinya adalah untuk memaksimalkan pendapatan suhu tubuh yang konstan. Karena bisa saja ketika hanya satu mekanisme yang digunakan, hal itu tidak dapat mencapai suhu tubuh konstan. Contohnya: ketika panas maka akan menggunakan pakaian tipis dan tubuh juga akan berkeringat. Atau ketika dingin bulu – bulu halus di tubuh akan menegang dan akan memakai baju hangat.
Hypothermia adalah suatu keadaan dimana suhu tubuh jauh lebih rendah dari normal dan mekanisme fisiologis serta perilaku tidak sanggup menormalkan keadaan tersebut. Hipotermia terjadi jika suhu inti tubuh < 35°C. Hipotermia berawal dari gejala kedinginan biasa seperti menggigil, gigi bergemeretuk, namun pada puncak serangan hipothermia, penderita tidak akan merasa kedinginan lagi melainkan kepanasan.. Hipothermia menyerang saraf secara perlahan. Pada akhirnya detak jantung, nafas dan metabolism tubuh melambat sehingga dapat
menyebabkan kematian
Demam adalah suatu keadaan saat suhu badan melebihi 370C yang disebabkan
Demam karena infeksi: Demam infeksi merupakan demam yang disebabkan karena
adanya infeksi, salah satunya akibat masuknya kuman, bakteri, virus atau binatang kecil lainnya ke dalam tubuh, misalnya Tetanus, Rubella, Demam Berdarah, dan TBC
Demam karena non-infeksi: Demam yang terjadi karena adanya kelainan pada tubuh yang dibawa sejak lahir, dan tidak ditangani dengan baik. Contoh : demam karena penyakit berat seperti leukimia atau kanker darah, tumor, atau adanya penyakit autoimun seseorang seperti rematik, lupus
Demam karena fisiologis: Demam fisiologis disebabkan hal – hal seperti kekurangan cairan (dehidrasi) atau suhu udara yang terlalu panas.Hyperthermia adalah suatu keadaan dimana suhu tubuh >37.5–38.3 °C dan mekanisme
fisiologis serta mekanisme perilaku tidak sanggup menormalkan keadaan tersebut. Hyperthermia dapat berlanjut dengan hyperpyrexia yang nantinya akan menyebabkan heat stroke atau serangan panas yang dapat berujung pada kematian.
HAUS
Sekitar 70% bagian dari tubuh manusia terdiri dari air. Maka dari itu keseimbangan kandungan air dalam tubuh harus selalu terjaga. Tubuh membuat sebuah isyarat ketika kandungan air dalam tubuh mulai tidak normal yaitu dengan haus.
Mekanisme Pengendalian Kandungan Air
Setiap spesies memiliki mekanismenya sendiri sendiri dalam mempertahankan kandungan air dalam tubuhnya. Tikus gurun mempertahankan kandungan air dalam tubuhnya dengan
mengurangi keringat yang keluar dari tubuhnya dan menyimpan kandungan air yang didapat dari makanannya. Sedangkan pada manusia, jika tidak dapat menemukan air untuk diminum atau airnya terasa aneh, maka kita akan mengkonservasi air dengan cara mengeluarkan urine
Haus ada dua tipe, yaitu:
Haus Osmotik
Adalah haus yang terjadi karena dipicu oleh neuron – neuron tertentu yang mendeteksi hilangnya air dari dalam dirinya. Biasanya disebabkan karena memakan makanan yang asin. Kandungan garamnya dapat menghasilkan tekanan osmotic yaitu kecendrungan air untuk berpindah dari bagian yang konsentrasinya rendah ke bagian yang konsentrasinya tinggi, melintasi membran semi permabel. Membran semi permabel adalah membran yang dapat dilintasi oleh air tetapi tidak dapat dilintasi molekul terlarut
Haus Hipovolemik dan Lapar Spesifik Terhadap Natrium
Haus hipovolemik adalah haus yang dipicu oleh volume cairan yang rendah. Bisa disebabkan karena berdarah, diare atau berkeringat. Jantung kesulitan memompa darah ke otak dan nutrien tidak mengalir ke dalam sel dengan kecepatan normal, sehingga tubuh bereaksi dengan
mengeluarkan hormon yang mempengaruhi konstriksi pembuluh darah, contohnya hormone vasopresin dan angiotensin II.
Kemudian, lapar spesifik terhadap natrium adalah sebuah preferensi dimana ketika individu mengalami peningkatan preferensi terhadap air yang sedikit asin. Individu akan meminum air murni dan air garam sampai menemukan konsistensi yang tepat.
Perbedaan antara haus osmotic dan haus hipovolemik
Tipe Haus Stimulus Sebaiknya Minum
Lokasi Reseptor Pengaruh Hormon
terlarut lebih tinggi
Adalah suatu keadaan dimana tubuh kehilangan cairan tubuh secara ekstrim. Dehidrasi ada 3 macam, yaitu:
Dehidrasi ringan : jika kandungan air yang hilang sekitar 5% dari massa tubuh
Dehidrasi sedang : jika kandungan air yang hilang sekitar 5 – 10% dari massa tubuh
Dehidrasi berat : jika kandungan air yang hilang sekitar > 10% dari massa tubuh
Penyebab dehidrasi adalah karena melakukan aktivitas yang banyak mengeluarkan cairan tubuh tanpa mengonsumsi air, diare, perdarahan hebat atau karena konsumsi obat – obatan dan zat tertentu seperti amphetamine, methamphetamine, dan kafein
Gejala dehidrasi diantaranya adalah penurunan kesadaran, penurunan tekanan darah, pusing dan mata berkunang – kunang, kulit mengering dan tidak elastis, dan jarang buang air kecil
Tindakan yang harus dilakukan jika terkena dehidrasi adalah mengonsumsi cairang yang serupa komposisinya dengan cairan tubuh dan mengurangi laju pengeluaran air dari tubuh
Tiap spesies memiliki caranya sendiri – sendiri dalam hal makan untuk memenuhi kebutuhan tubuhnya. Ada yang makan hanya sekali, namun dalam porsi yang sangat besar dan dapat bertahan hidup tanpa makan selama berbulan – bulan. Namun ada juga yang makan sedikit – sedikit tapi sering dan mereka hanya sedikit menyimpan cadangan lemak.
Bagaimana Sistem Pencernaan Memengaruhi Pilihan Makanan
Enzim dan Konsumsi Produk Olahan Susu
Ketika lahir, mamalia bertahan hidup dengan minum air susu ibu. Seiring bertambahnya umur mereka akan berhenti menyusu dan pada masa itu mereka akan kehilangan enzim laktase yang menyebabkan mereka kehilangan kemampuan mencerna laktosa (protein dalam susu) sehingga akan mengalami kram perut ketika minum susu. Namun pada manusia, tingkat toleransi terhadap laktosa bervariasi. Sehingga pada beberapa ras, mereka dapat mengkonsumsi susu dan produk olahannya seumur hidup tanpa ada keluhan apapun seperti pada ras kaukasoid atau orang – orang yang hidup di daerah eropa. Sedangkan pada ras mongoloid atau orang – orang asia, cenderung memiliki tingkat toleransi terhadap laktosa yang rendah.
Pengaruh Lain
o Kebudayaan
o Meniru orang yang lebih tua
o Cenderung memilih makanan yang memiliki rasa manis
o Cenderung memilih makanan yang rasanya dikenal
o Tidak akan memilih makanan yang ketika pertama dimakan menimbulkan keluhan
Pengendalian Makanan Jangka Pendek dan Jangka Panjang
Faktor Oral
seseorang akan merasa kenyang ketika makan junk food padahal makanan itu tidak mengandung nutrisi sama sekali.
o Citarasa dan sensasi mulut berkontribusi dalam rasa kenyang
Perut dan Usus
o Perut dan duodenum yang mengembang (kembung) akan menyebabkan rasa kenyang
o Perut menyampaikan sinyal kenyang ke otak melalui saraf vagus dan saraf splanknik
Saraf vagus: meneruskan informasi tentang perenggangan dinding perut
Saraf splanknik: meneruskan informasi tentang kandungan nutrient di
dalam perut
o Makanan dicerna dalam duodenum akan menghasilkan beberapa peptide, salah satunya adalah cholecyctokin ( CCK ) yang akan mengurangi porsi makan dengan beberapa cara yaitu:
Penutupan otot spinker oleh CCK. Akibatnya makanan tidak bisa mengalir
dari perut, perut akan terisi lebih cepat. Otot spinker adalah otot yang terletak di antara perut dan duodenum
Stimulasi saraf vagus oleh CCK, saraf mengirim sinyal ke hipotalamus
yang kemudian memicu hipotalamus melepaskan neurotransmitter yang serupa dengan CCK karena CCK tidak dapat menembus sawar darah otak. Namun, CCK dapat menstimulasi hipotalamus
Glukosa, Insulin dan Glukagon
o Glukosa: adalah sebagian besar hasil pencernaan yang masuk ke dalam darah, tetapi tidak dapat langsung dimanfaatkan oleh sel. Namun, glukosa dapat langsung masuk ke sel – sel otak tanpa bantuan insulin
o Insulin: adalah hormone yang menyebabkan glukosa dapat masuk ke dalam sel. Jika insulin berlimpah, maka glukosa mudah memasuki sel. Kadar insulin meningkat selama dan setelah makan. Kadar insulin yang tiggi bisa mengurangi nafsu makan.
o Glucagon: memicu hati mengubah sebagian cadangan glikogen menjadi glukosa
Keterkaitan antara Glukosa, Insulin dan Glukagon adalah:
Jika kadar glukosa dalam darah tinggi, maka kelebihan gula akan diubah menjadi lemak.
Ada 2 hormon yang dilepaskan oleh pancreas, yaitu insulin dan glukagon. Setelah makan,
lama kelamaan kadar insulin turun sehingga glukosa lambat masuk ke dalam sel maka akan timbul rasa lapar. Glukagon memicu hati untuk mengubah sebagian cadangan glikogen jadi glukosa sehingga gula darah normal kembali.
Jika kadar insulin terus tinggi maka tubuh akan memasukkan gula darah ke sel secara
cepat. Akibatnya kadar gula darah turun dan rasa lapar meningkat meskipun kadar insulin tinggi. Contohnya pada hewan yang akan melakukan hibernasi. Hal ini terajadi agar hewan tersebut makan secara terus menerus sebagai cadangan makanan ketika berhibernasi
Jika kadar insulin terus rendah, maka jumlah gula darah yang masuk ke sel sedikit
Leptin
dihasilkan. Ternyata, kadar leptin yang rendah meningkatkan rasa lapar, namun belum tentu kadar leptin yang tinggi dapat menurunkan rasa lapar.
Mekanisme Otak
Nukleus Arkuat dan Hipotalamus Paraventrikular
Nukleus Arkuat pada hipotalamus memiliki satu rangkaian neuron yg sensitif thdp lapar dan satu rangkaian yg sensitif thdp kenyang. Sel – sel yang sensitif thdp rasa lapar menerima input dari lintasan citarasa, input lain untuk sel yg sensitif thdp rasa lapar datang dari akson yg melepaskan neurotransmitter ghrelin. Perut melepaskan ghrelin selama periode kekurangan makanan yg memicu kontraksi pada perut. Input yang menuju sel yg sensitif thdp rasa kenyang di nukleus arkuat adalah sinyal – sinyal lapar jangka pendek maupun jangka panjang
Sinyal jangka pendek: rasa kembung yg memicu keluarnya neurotransmitter CCK, gula darah yg meningkatkan pelepasan hormon insulin
Sinyal jangka panjang: kadar lemak tubuh melepaskan leptin
Gangguan Makan
• Genetika dan Berat Badan
– Pada beberapa kasus, penyebab obesitas adalah gen tunggal. Gen tunggal yang paling umum ditemukan adalah sebuah gen termutasi yang mengkode reseptor melanokortin (salah satu meuropeptida yg bertanggung jawab terhadap rasa lapar) individu yang memiliki gen termutasi tersebut akan menderita obesitas mulai dari anak – anak. Tapi hanya 5% penderita obesitas yang punya gen itu.
– Sindrom prader – will adalah kondisi genetik yang ditandai dengan
kadar ghrelin, penderita obesitas memiliki kadar ghrelin yang rendah. Penderita sindrom Prader – Will makan berlebih tapi kadar ghrelin tetap tinggi, indikasi bahwa masalah mereka berkaitan dengan ketidakmampuan menghentikan pelepasan ghrelin.
– Kecenderungan mengonsumsi Fruktosa. Fruktosa terasa lebih manis daripada sukrosa atau glukosa tanpa harus menambahkan ekstra kalori. Namun jika fruktosa masuk terlalu banyak, akan disimpan menjadi lemak oleh tubuh. Oleh karenanya konsumsi fruktosa tidak akan mengenyangkan dan menyebabkan kecenderungan makan berlebih juga meningkatkan berat badan.
• Anoreksia Nervosa
Penderita anoreksia memiliki kelainan biokimia pada darah dan otak mereka. Pada dasarnya mereka memiliki ketertarikan dengan makanan namun juga diiringi dengan ketakutan akan menjadi gemuk. Sebagaian penderita anoreksia adalah orang yang perfeksionis dan pekerjaannya menuntut mereka untuk tampil sempurna secara fisik.
• Bulimia Nervosa
Adalah sebuah kondisi ketika seseorang berganti – ganti perilaku antara diet ekstrem dan makan yang berlebihan atau sebaliknya. Terkadang mereka memuntahkan kembali makanannya setelah makan dalam porsi besar.
• Compulsive Eating Disorder
• Pica
Adalah sebuah gangguan dimana seseorang yg menderita pica akan memakan sesuatu yang bukan makanan. Seperti misalnya deterjen, sabun, mur, besi, bensin, bedak dan lain sebagainya. Dalam beberapa kasus, pica ini banyak dikaitkan dengan kekurangan mineral tertentu dan masalah perkembangan.
• Penggunaan obat – obatan dalam menurunkan berat badan
Menurunkan berat badan secara permanen tidaklah mudah. Pada akhirnya banyak orang yang menggunakan obat – obatan dengan berbagai sensasinya seperti:
• Fenfluramin : menimbulkan pengaruh pada otak yang serupa seperti orang yang sudah makan
• Sibutramin (Meridia) : menghalangi proses pengambilan kembali serotonin dan norepinefrin
• Orlistat (Xenical) : mencegah usus menyerap lemak
Namun obat – obatan tersebut juga memiliki efek samping, yaitu:
• Fenfluramin menyebabkan komplikasi
• Orlistat (Xenical) menyebabkan rasa tidak enak pada usus karena lemak yang menggumpal
• Teknik – teknik penurunan berat badan
– Minum air putih 5 – 10 menit sebelum makan
– Ganti beras putih dengan beras merah
– Ketika makan, pakailah piring yang berukuran kecil
Daftar Pustaka
Kalat, James W. 2010. Biopsikologi. Jakarta: Salemba Humanika
Anonym. 2013. Hyperthermia. http://en.wikipedia.org/wiki/Hyperthermia (diakses pada 15 November 2013)
Anonym. 2013. Gangguan makan. http://www.unikgaul.com/2012/08/5-penyakit-kelainan-makan-paling-aneh.html (diakses pada 17 November 2013)