Nama : Rizky Mustika Fitri NPM : 170710130011
Stratifikasi Masyarakat Industri ditinjau oleh Teori Konflik Randal Collins
Stratifikasi Masyarakat Industri
Industrialisasi di Indonesia saat ini membawa dampak yang jauh lebih luas daripada industrialisasi pada masa penjajahan Belanda. Di daerah perkotaan muncul jenis-jenis pekerjaan baru yang bersifat tenaga professional seperti akuntan, konsultan, advokat, dan lain-lain. Secara umum, masyarakat industri memiliki ciri-ciri sebagai berikut :
Kebebasan yang semakin meluas, berbeda dengan masyarakat agraris yang memiliki nilai dan norma yang kuat, nilai dan norma yang dimiliki masyarakat indrustri cenderung bersifat tidak terlalu mengikat contohnya; dulu perempuan yang keluar saat malam hari akan dipandang sebagai wantita tidak baik, sekarang wanita pulang di malam hari dipandang biasa Kecilnya kepercayaan kepada pemerintah. Masyakarat industri selalu
meletakkan fokus mereka pada pekerjaan yang cenderung keras dan individualistis.
Nasionalisme mulai hilang. Bergesernya norma-norma sosial yang awalnya memiliki kebersamaan yang kuat, masyarakat yang dulunya merupakan masyarakat perkampungan telah mengubah diri mereka menjadi masyarakat yang kurang peduli kepada tanah air.
Penghormatan kepada sosok individu semakin besar. Pada masyarakat ini, yang tampak jelas adalah penghormatan atau penghargaan kepada sosok tertentu yang semakin besar. Dalam hal ini, penghormatan yang diberikan adalah antara bawahan dengan atasan, atau antara para karyawan dengan pimpinannya.
Keterlibatan individu dalam industri akan memunculkan lapisan-lapisan sosial berdasarkan fungsinya, seperti manager, direksi, karyawan dan lain-lain. Suatu industri tidak memiliki kedudukan yang sejajar dengan yang lainnya tergantung pada besarnya modal, kualitas dan kuantuitas produk yang dihasilkan. Adanya perbedaan kedudukan industri akan membedakan individu yang terlibat didalamnya, stratifikasi sosial akan muncul dalan suatu industri, begitupun masyarakat akan menilai stratifikasi sosial berdasarkan tempat kerja.
Dalam masyarakat industri, terjadinya hierarki yang mengakibatkan munculnya stratifikasi dalam masyarakat. Industrialisasi identik dengan spesialisasi pekerjaan. Berdasarkan hal tersebut, penentuan kelas sosial tidak lagi hanya ditentukan oleh aspek ekonomi semata, tetapi juga ditentukan oleh aspek yang lain seperti faktor kelangkaan dan profesionalitas seseorang. Hal ini disebabkan oleh masyarakat industri yang sangat menghargai kreativitas yang mampu menambah nilai dalam pekerjaan. Secara garis besar stratifikasi dalam masyarakat industri adalah sebagai berikut :
Stratifikasi sosial pada kehidupan masyarakat industri memiliki dampak yang sangat besar dalam tatanan kehidupan masyarakat. Dengan kelas sosial yang ada akan menyediakan masyarakat dengan apa yang mereka butuhkan. Stratifikasi sosial dalam masyarakat digambarkan mengerucut atau seperti piramida, hal ini disebabkan semakin tinggi kelas sosial, semakin sedikit pula jumlah yang menempatinya dan semakin banyak jumlahnya semakin banyak pula yang menempatinya. Adanya jenjang karir dalam masyarakat industri juga dapat menyebabkan timbulnya konflik, seperti seseorang yang mencuri ide rekan
kel
as
pro
fesi
on
al
kelas
prefesional
awal dan semi
profesional
kerjanya agar mendapatkan kenaikan jabatan. Dengan adanya stratifikasi dalam masyarakat industri, individu-individu akan terdorong untuk meningkatkan jenjang karirnya, tidak jarang hal ini akan selalu menimbulkan konflik dalam masyarakat industri.
Teori Konflik Randal Collins
Randall Collins dilahirkan pada tahun 1945 di Berlin dari lingkungan keluarga militer. Ayahnya adalah seorang intelgen militer, yang semula bertugas di Uni Soviet, kemudian kembali ke Jerman (dibawah pengaruh militer Amerika). Dari latar belakang kehidupan keluarganya yang militer, Collins juga banyak menimba pengalaman yang mendukung lahirnya pemikiran – pemikiran konflik sebagai suatu teori dalam memecahkan masalah-masalah sosial.karya tulisnya yang terkenal berjudul Conflict Sociology (1975) dan The Credential Society (1979) bahwa konflik sangat penting dan selalu memberikan alternatif dalam menyelesaikan masalah fenomena social, melalui pendekatan mikro yang bersifat emosi social (the micro details of social emotions).
Teori Collins dimulai dengan asumsi bahwa individu secara inheren bersifat sosial selain juga mementingkan kepentingan dirinya (self-interested). Terdapat tiga dasar pendekatan konflik menurut Collins yakni;
1. Individu hidup dalam dunia subjektif yang terkonstruksikan dengan sendirinya 2. Individu lebih dari sekedar aktor individual mungkin mempunyai kekuasaan
untuk memegaruhi pengelamanan subjektif aktor
3. Individu selalu berusaha untuk mengontrol pengalaman aktor, yang mendorong terjadinya konflik.
Collins kemudian merumuskan lima prinsip analisis konflik dalam stratifikasi sosial yakni; 1. Analisis tersebut harus lebih fokus pada pengalaman hidup nyata daripada
ideologi abstrak
2. Pengujian harus dilakukan untuk mengetahui bagaimana setiap aktor dapat memanipulasi atau dibatasi oleh faktor-faktor kepemilikan material
3. Sadar atau tidak sadar terdapat eksploitasi terhadap mereka yang memiliki sumber daya yang lebih sedikit dari mereka yang memiliki sumber daya yang banyak
5. Studi tentang stratifikasi harus dilakukan secara ilmiah, menggunakan uji hipotesis, riset empiris dan bila memungkinkan menggunakan pekejalsa kausal.
Collins berpendapat bahwa stratifikasi dan organisasi merupakan inti penjelasan dalam sosiologi. Dengan meminjam konsep Goffman mengenai encounter. Collins berpendapat bahwa situasi harus menjadi unit analisis interaksi mikro.
Collins mengidentifikasi unsur-unsur dari sebuah ritual interaksi, peran para partisipan dalam interaksi face to face, fokus perhatian dan dorongan emosional yang sama di kalangan partisipan, kondisi-kondisi yang dapat segala sesuatu berada dalam suasana kesedihan dan kesadaran antar partisipan. Paritisipasi dalam sebuah ritual interaksi menghasilkan perasaan memiliki terhadap kelompok, tempat pengalaman individu berada pada tingkat ketinggian yang sama dengan energi emosionalnya.
Realitas sosial berada pada tingkat mikro melalui ritual interaksi yang saling berkaitan menghasilkan stratifikasi sosial yang pada gilirannya menghasilkan struktur yang lebih makro, mulai dari negara dan ekonomi hingga dinamika sistem geopolitik. Pada semua level realitas sosial, selalu terdapat ketimpangan distribusi sumber daya, baik material, simbolik, maupun politik dengan potensi konflik selalu muncul antar-individu yang terlibat dalam interaksi face to face dalam organisasi, antara klas dan budaya klas, dan juga antar-masyarakat.
Pada tingkat mikro Collins menggambarkan individu sebagai sosok yang selalu berusaha meningkatkan modal budaya dan energi emosional dengan menggunakan sumber dayanya untuk keuntungannya dan apabila mereka tidak mempunyai sumber daya mereka membatasi pemanfaatan modal kapital dan emosinya dalam ritual interaksi tempat mereka tidak memperoleh keuntungan sumberdaya.
Collins menerapkan hipotesis umum bahwa ketimpangan sumber daya mendorong kelompok dominan mengambil keuntungan dari situasi tersebut. Tindakan tersebut tidak melibatkan perhitungan sadar, tetapi merupakan sebuah kecenderungan perasaan sadar secara otomatik untuk memperoleh keuntungan jangka pendek sebesar mungkin.
Secara eksplisit Collins mengambil pandangan interaksionisme simbolik dan fenomenologi yang megatakan bahwa individu hidup dalam suatu dunia simbol yang dikonstruksikan secara sosial. Suatu sumber konflik yang utama dalam kehidupan sosual merupakan hasil dari usahan individu untuk mempengaruhi atau mengontrol definisi-definisi dari oranglain untuk memperbesar keuntungan pribadinya dalam perjumpaan atau pertemuan antar pribadi.
Pada tingkat mikro stratifikasi tercermin dalam hubungan dominasi dan kepatuhan. Pada tingkat makro stratifikasi itu tercermin dalam perebedaan kontrol atas berbagai macam sumber oleh kelomok-kelompok yang berbeda atau kategori-kategori orang. Pada tingkat mikro hubungan dominasi dan kepatuhan disimbolkan oleh ritus-ritus rasa hormat , dimana orang yang statusnya rendah diharpakan untuk demikian juga sikap pada umumnya apabila mereka berinteraksi dengan orang yang tinggi statusnya, dalam keadaan dimana tidak ada konflik terbuka.
Collins menekankan perkerjaan (occupation) sebagai aktor penentu terhadap posisi kelas seseorang. Sejalan dengan Dahrendorf dalam melihat struktur otoritas dimana individu terlibat dalam pekerjaan sebagai dimensi yang paling penting untuk posisi kelas dan pandangan subjektif dari seseorang atau kesadaran kelasnya. Collins mengemukakan perbedaan yang paling penting diantara situasi-situasi kerja adalah hubungan kekuasaan yang terdapat didalamnya, kelas-kelas dalam pekerjaan merupakan kelas-kelas kekuasaan dalam dunia kerja.
Pembahasan dan Kesimpulan
Berdasarkan gambar hierarki yang telah dikemukakan sebelumnya, dapat dilihat ada tiga kategori kelompok pekerjaan yakni:
2. Tingkat menengah adalah mereka yang memberi perintah pada beberapa orang tetapi juga menerima perintah dari oranglain, menjalankan tugas-tugas fisik
3. Tingkat paling bawah adalah mereka yang menerima perintah dari atasan-atasannya dan menjalankan tugas-tugas fisik.
Perbedaan dari ketiga hierarki diatas hanya rasio antara yang memberi perintah dan menerima perintah. Orang-orang yang berada di hierarki atas cenderung mempunyai kontak sosial yang luas diluar kelompok atau organisasi dimana mereka lebih dominan, hal ini mempermidah mereka untuk mengontrol atas sumber-sumber untuk mengontrol berbagai kegiatan sub ordinatnya.
Individu mulai mempertahankan hubungan sosial yang memungkinkan mereka untuk memulai dan mempertahankan hubungan sosial yang memungkinkan mereka untuk mempertahankan atau memperbaiki statusnya. Individu akan memilih teman yang mererima identitas dirinya. Kelompok status muncul dari usaha mereka yang memiliki sifat-sifat yang sama untuk saling memberikan dukungan sosial dan mempertahankan klaim statusnya melawan mereka yang berbeda. Kelompok- kleomok status tidak seluruhnya harus bersifat sederajat. Meskipun mereka yang termasuk dalam suatu kelompok status tertentu dapat mengklaim superioritas umunya atas mereka yang tidak masuk didalamnya, ada diferensiasi internal yang penting dalam bidang kekuasaan dan prestise dalam kelompok-kelompok status.
Daftar Pu
Coser Lewis, The Function of Social Conflict, 1956, Free Press Paperb. Haryanto Sindung, Spektrum Teori Sosiologi, 2012, Ar-Ruzz Media
https://www.academia.edu/6755979/Industrialisasi_dan_stratifikasi_sosial