• Tidak ada hasil yang ditemukan

Analisis Dampak IJEPA Terhadap Indonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Analisis Dampak IJEPA Terhadap Indonesia"

Copied!
3
0
0

Teks penuh

(1)

Analisis Dampak IJEPA Terhadap Indonesia dan Jepang

Sumber: http://www.fiskal.depkeu.go.id/2010/m/edef-konten-view-mobile.asp? id=20140206144826395532025

Kamis, 06 Februari 2014

Kesepakatan perdagangan bebas dalam bingkai kesepakatan kerjasama ekonomi secara bilateral yang pertama kali Indonesia lakukan dengan negara mitra adalah IJEPA (Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement). Perjanjian tersebut disusun guna menghasilkan manfaat bagi kedua pihak secara fair, seimbang, dan terukur melalui liberalisasi akses pasar, fasilitasi, dan kerjasama melalui pengembangan kapasitas untuk sektor-sektor industri prioritas. Terdapat 11 bidang yang dicakup dalam kesepakatan IJEPA antara lain perdagangan barang, pengaturan terkait asal barang dan prosedur kepabeanan. Penandatanganan perjanjian tersebut telah dilakukan oleh baik kepala negara Indonesia dan Jepang pada tanggal 20 Agustus 2007 di Jakarta.

Dalam sektor perdagangan barang IJEPA, Indonesia dan Jepang sama-sama menyepakati adanya konsesi khusus yang diberikan. Konsesi tersebut berupa penghapusan atau penurunan tarif bea masuk dalam tiga klasifikasi : fast–track, normal track, dan pengecualian, dengan memasang rambu-rambu tindakan pengamanan (emergency and safeguard measures) untuk mencegah kemungkinan dampak negatifnya terhadap industri domestik. Untuk produk klasifikasi fast-track, persentase tertentu dari total pos tarif akan diturunkan ke 0% pada saat berlakunya IJEPA. Bagi produk klasifikasi normal-track, tarif diturunkan menjadi 0% pada jangka waktu tertentu yang bervariasi dari minimal tiga tahun hingga maksimal 10 tahun (bagi Jepang) atau 15 tahun (bagi Indonesia) sejak berlakunya IJEPA bagi persentase tertentu dari total pos tarif. Di samping konsesi tarif tersebut, diatur pula suatu skema konsesi tarif khusus bagi sektor-sektor industri tertentu dan kompensasinya melalui fasilitasi pusat pengembangan industri manufaktur.

Neraca perdagangan antara Indonesia dan Jepang pada tahun 2010 mencatat surplus bagi Indonesia sebesar US$ 8,7 miliar. Angka surplus ini merupakan peningkatan sebesar 8,9% dibandingkan surplus perdagangan tahun 2009 yang tercatat sebesar US$ 9,6 miliar. Pada tahun 2010 nilai perdagangan kedua negara secara keseluruhan telah mencapai angka US$ 42,3 miliar. Indonesia mengekspor ke Jepang sebesar US$ 25,5 miliar dan mengimpor dari Jepang sebesar US$ 16,8 miliar. Nilai total perdagangan tersebut merupakan kenaikan sebesar 45,6% dibanding total perdagangan pada tahun 2009 sebesar US$ 29 miliar. Sementara itu pada periode Januari-Oktober 2011, total perdagangan kedua negara telah berjumlah US$ 43,8 miliar atau naik 27% dibanding periode yang sama pada tahun 2010 sebesar US$ 34,4 miliar. Nilai total perdagangan antar kedua negara menunjukkan kecenderungan positif, di mana rata-rata pertumbuhannya selama lima tahun terakhir (2006-2010) tercatat sebesar 8,4%.

(2)

perlakuan khusus tarif di 93% dari jumlah pos tarif tahun 2006 yang sebanyak 11.163 pos tarif. Ekspor Jepang ke Indonesia dalam pos-pos tarif khusus tersebut telah mencakup 93% dari nilai ekspor Jepang ke Indonesia. Untuk produk klasifikasi fast-track, sekitar 35% dari pos tarif akan diturunkan hingga 0% pada saat berlakunya IJEPA. Untuk produk klasifikasi normal track, sekitar 58% dari pos tarif secara bertahap akan diturunkan menjadi 0% dalam masa tiga hingga 15 tahun sejak berlakunya IJEPA. Sisanya yang 7% merupakan produk yang dikecualikan dari pos tarif IJEPA.

IJEPA Tak Berikan Manfaat Signifikan bagi Indonesia Sumber : Bisnis Indonesia

http://www.kemenperin.go.id/artikel/8198/IJEPA-Tak-Berikan-Manfaat-Signifikan-bagi-Indonesia

JAKARTA-Menteri Perindustrian M.S. Hidayat menilai Indonesia tidak mendapatkan keuntungan signifikan atas kerja sama ekonomi dengan Jepang dalam kerangka IJEPA yang diimplementasikan sejak 2008.

Oleh karena itu, ujarnya, Menperin telah mengusulkan agar Indonesia Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA) dikaji ulang sehingga kedua negara memperoleh manfaat secara seimbang (equal).

"Sesuai basic agreement, IJ-EPA bisa di-review setelah 5 tahun berjalan. Selama ini IJEPA belum memberi manfaat yang memuaskan bagi Indonesia karena ekspor menurun sedangkan impor terus meningkat. Jadwalnya [review] sedang kami minta," kata Hidayat seusai rapat koordinasi renegosiasi kontrak karya migas di kantor Kemenko Perekonomian, Selasa (17/12).

Salah satu fokus kerja sama dalam im plementasi IJEPA yakni memperkuat daya saing industri di Indonesia lewat program yang disebut Manufacturing Industrial Development Center (MIDEC).

Namun, selama 5 tahun pertama, program tersebut tidak memberikan hasil optimal. Dari 13 industri yang menjadi fokus, ternyata hanya lima sektor yang implementasinya cukup baik yakni pengelasan; pencetakan dan pemotongan logam; otomotif; elektronik; dan konservasi energi.

Di bidang perdagangan, IJEPA juga tidak memberikan manfaat yang optimal di mana ekspor Indonesia ke Jepang masih didominasi ba rang-barang mentah berbasis sumber daya alam (SDA). Kondisi ini tidak beda dengan sebelum diberlakukannya IJEPA.

(3)

Sebaliknya, pertumbuhan impor Indonesia dari negara mitra tersebut justru meningkat pesat dengan rerata pertumbuhan 25% per tahun.

Berdasarkan data Kemenperin, pemanfaatan skema tarif preferensi (preferential tariff) IJEPA cenderung fluktuatif dan terbilang masih rendah.

Pada 2008, dari total ekspor produk manufaktur Indonesia, hanya sekitar 15,25% yang memanfaatkan tarif preferensi (tarif bea masuk yang telah diturunkan/dihapuskan), sedang 2009 (28,16%), 2010 (21,30%) dan 2011 tercatat 27,63%.

Kerja sama ekonomi yang berlaku per 1 Juli 2008 tersebut dilandasi tiga pilar penting yakni liberalisasi pasar, fasilitasi sejumlah sektor tertentu dan kerja sama peningkatan kapasitas dan daya saing. (Chamdan Purwoko)

Kadin Setuju IJEPA Dikaji Ulang

JAKARTA - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia meminta kerja sama ekonomi bilateral Indonesia-Japan Economic Partnership Agreement (IJEPA] dikaji ulang. Sebab, perdagangan Indonesia dengan Jepang masih defisit.

Sejak perjanjian ini berlaku pada 2008, masih ada plus minus yang dinilai Kadin perlu dikaji lebih jauh bagi Pemerintah Indonesia. Dalam data yang diterima Kadin, neraca perdagangan Indonesia dan Jepang masih defisit 825 juta dolar AS. Ekspor Jepang ke Indonesia mencapai 2.207 juta dolar AS sedangkan impor Jepang dari Indonesia hanya mencapai 1.381 juta dolar AS. "Kadin setuju langkah yang akan dilakukan pemerintah untuk mengkaji ulang plus minus perjanjian bilateral ini, minimal ada keseimbangan perdagangan Indonesia-Jepang," kata Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan Distribusi dan Logistik Natsir Mansyur.

Jepang, kata Natsir, secara bilateral diuntungkan karena bisa mendapat kemudahan bea masuk sampai not persen.

Referensi

Dokumen terkait

Dari hasil analisis tersebut dapat diketahui bahwa pertumbuhan ekonomi di Indonesia dalam jangka pendek dipengaruhi oleh instrumen kebijakan fiskal berupa

Maka dari itu dalam pengolahan datanya membutuhkan data Tabel Input-Output Indonesia tahun 2005 klasifikasi 66 sektor karena pada tabel Input-Output Indonesia tahun 2005

latar belakang diatas, peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan menganalisis pengaruh IJEPA terhadap volume dan nilai perdagangan Indonesia-Jepang

Variabel transaksi SKNBI melalui proxy volume transaksi SKNBImemberikan pengaruh positif terhadap M2 dalam jangka pendek namun tidak signifikan dalam jangka panjang,

IJEPA memiliki tiga pilar yang dijadikan landasan bagi kedua negara dalam mengim- plementasikan kerja sama ekonomi ini, yaitu (i) Liberalisasi Perdagangan, yaitu Jepang me- nurunkan

Standar deviasi yang terlihat lebih kecil dibandingkan dengan rata –ratanya, sehingga dapat dikatakan bahwa nilai auditor tidak begitu bervariasi untuk setiap observasinya...

Produksi minyak Indonesia pada tahun 1977 adalah sekitar 1.686,2 ribu barel per hari dan jumlah ini terus merosot hingga menjadi 1.094,4 ribu barel per hari pada tahun 2004.7 Dengan

Menyadari bahwa siklus keuangna total kredit, pertumbuhan kredit dan indeks harga properti memiliki dampak jangka panjang dan jangka pendek terhadap perekonomian, maka kredit seharusnya