• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kedudukan Debitur dan Bank Sebagai Kreditur Dalam Halwanprestasi Developer (Studi di PT. Bank X., Cabang Tebing Tinggi)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "Kedudukan Debitur dan Bank Sebagai Kreditur Dalam Halwanprestasi Developer (Studi di PT. Bank X., Cabang Tebing Tinggi)"

Copied!
35
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

HUBUNGAN HUKUM DEBITUR DAN BANK SEBAGAI KREDITUR

DENGANDEVELOPERSAAT OBJEK JAMINAN

BELUM DIBANGUN

A. Tinjauan Umum Tentang Jaminan

Dunia perbankan yang semakin menunjukan kemajuannya terutama dalam hal

pemberian fasilitas kredit baik kredit investasi, modal kerja maupun pemilikan

rumah, pihak bank selalu memulainya dengan pemberian surat penawaran kredit

(offering letter) dari bank kepada debitur yang telah lolos seleksi dari bank, yang

berisi tentang syarat-syarat maupun bunga dan biaya-biaya serta yang menjadi

prioritas bank adalah jaminan debitur yang kemudian akan menjadi agunan kepada

bank.

Adapun setelah pemberitahuan melalui surat penawaran kredit(offering letter)

diterima dan disetujui oleh debitur, maka akan dilanjutkan dengan pelaksanaan

pengikatan kredit berupa akta perjanjian kredit maupun akta pengakuan hutang yang

merupakan hubungan hukum terdahulu antara bank dan debitur, yang kemudian

dilakukan pengikatan jaminan yang merupakan hubungan hukum lanjutan antara

bank dengan debitur. Mengenai hal jaminan akan diuraikan lebih jelas pada bagian

berikut ini.

1. Makna Umum Jaminan

Kata “Jaminan” dalam peraturan perundang-undangan dapat dijumpai pada

(2)

namun dalam kedua peraturan tersebut tidak menjelaskan apa yang dimaksud dengan

jaminan. Meskipun demikian dari kedua ketentuan diatas dapat diketahui bahwa

jaminan erat hubungannya dengan masalah utang. Biasanya dalam perjanjian pinjam

meminjam uang, pihak kreditur meminta kepada debitur agar menyediakan jaminan

berupa sejumlah harta kekayaannya untuk kepentingan pelunasan hutang, apabila

setelah jangka waktu yang diperjanjikan ternyata debitur tidak melunasi.53

Dalam kehidupan sehari-hari, jaminan adalah benda atau barang yang

dijadikan sebagai tanggungan dalam bentuk pinjaman uang. Jaminan menurut kamus

diartikan sebagai tanggungan atau sesuatu yang diberikan kepada kreditur untuk

menimbulkan keyakinan bahwa debitur akan memenuhi kewajiban yang dapat dinilai

dengan uang yang timbul dari suatu perikatan.54

Menurut kamus perbankan, jaminan yang diberikan oleh bank yang dapat

berupa jaminan fisik atau non fisik. Jaminan fisik berbentuk barang dan jaminan non

fisik berupaavalist55. Djuhaendah Hasan memberikan pengertian hukum jaminan dan

pengertian jaminan yaitu:

“sarana perlindungan bagi keamanan kreditur yaitu kepastian akan pelunasan hutang debitur atau pelaksanaan suatu prestasi oleh debitur atau oleh penjamin debitur dan hukum jaminan adalah perangkat hukum yang mengatur tentang jaminan dari pihak debitur atau dari pihak ketiga bagi kepastian pelunasan piutang kreditur atau pelaksanaan suatu prestasi.56

53

Gatot Supramono,Perbankan Dan Masalah Kredit,(Jakarta : Karya Unipress, 1995), hal. 56

54Hartono Hadisoeprapto, Pokok-pokok Hukum Perikatan dan Jaminan,

http://kuliahade.wordpress.com/2010/04/18/hukum-jaminan-pengertian-dan-macam-macam-jaminan/, terakhir kali diakses pada tanggal 09 Desember 2014

55Avalist,disebut penanggung atau penjamin. (J.C.T. Simorangkir, Rudy T.Erwin,

J.T.Prasetyo,Kamus Hukum, (Jakarta : Bumi Aksara, 1995), hal.11)

(3)

Undang-Undang Perbankan yang berlaku saat ini masih sangat menekankan

pada arti pentingnya collateral sebagai salah satu sumber pemberian kredit dalam

rangka pendistribusian dana nasabah yang terkumpul olehnya, serta untuk

menggerakkan roda perekonomian. Salah satu bentuk collateral dalam bentuk

jaminan khusus di luar jaminan yang berlaku umum menurut ketentuan Pasal 1311

Kitab Undang Undang Hukum Perdata.57

Menurut ketentuan Pasal 2 Ayat (1) Surat Keputusan Direksi Bank Indonesia

No. 23/69/KEP/DIR tanggal 28 Februari 1991 tentang Jaminan Pemberian Kredit,

bahwa yang dimaksud dengan jaminan adalah “suatu keyakinan bank atas

kesanggupan debitor untuk melunasi kredit sesuai dengan yang diperjanjikan”.58

Menurut Subekti bahwa:

“Kalau ingin mencari sistem Hukum Jaminan Nasional, maka yang

dimaksudkan adalah mencari kerangka daripada seluruh perangkat peraturan yang

mengatur tentang jaminan dalam hukum nasional kita dikemudian hari.”59 Jadi

hukum jaminan mengatur tentang jaminan piutang seseorang.

Dalam Pasal 1131 KUH Perdata diletakkan asas umum hak seorang kreditur

terhadap debiturnya, dalam mana ditentukan bahwa: “Segala kebendaan si berhutang,

baik yang bergerak maupun tak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang baru

akan ada dikemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatannya

perseorangan.”

57Kartini Muljadi dan Gunawan Widjaja [1], Hak Istimewa, Gadai, Dan Hipotik, (Jakarta:

Kencana Prenada Media Group, 2007), hal. 63

58Hermansyah [2], loc.cit

59J. Satrio [1],Hukum Jaminan, Hak-Hak Jaminan Kebendaan, (Bandung: PT. Citra Aditya

(4)

Jadi hak-hak tagihan seorang kreditur dijamin dengan:60

a. Semua barang-barang debitur yang sudah ada, artinya yang sudah ada pada saat hutang dibuat;

b. Semua barang yang akan ada; di sini berarti: barang-barang yang pada saat pembuatan hutang belum menjadi kepunyaan debitur, tetapi kemudian menjadi miliknya. Dengan perkataan lain hak kreditur meliputi barang-barang yang akan menjadi milik debitur, asal kemudian benar-benar menjadi miliknya;

c. Baik barang bergerak maupun tak bergerak.

Dengan demikian disadari bahwa piutang kreditur menindih pada seluruh

harta debitur tanpa kecuali.

Sesuai dengan tujuannya, barang jaminan bukan untuk dimiliki kreditur

karena perjanjian utang-piutang bukan perjanjian jual beli yang mengakibatkan

perpindahan hak milik atas suatu barang. Barang jaminan digunakan untuk melunasi

hutang dengan cara sebagaimana peraturan yang berlaku, yaitu barang jaminan dijual

lelang. Hasilnya untuk melunasi hutang, dan apabila masih ada sisanya dikembalikan

kepada debitur.61

Dalam perjanjian hutang-piutang, jaminan atau agunan adalah aset pihak

peminjam yang dijanjikan kepada pemberi pinjaman jika peminjam tidak dapat

mengembalikan pinjaman tersebut. Jika peminjam gagal bayar, pihak pemberi

pinjaman dapat mengeksekusi agunan tersebut dengan cara lelang. Dalam

pemeringkatan kredit jaminan sering menjadi faktor penting untuk meningkatkan

hasil kredit perseorangan ataupun perusahaan. Bahkan dalam perjanjian kredit gadai,

60Ibid

(5)

jaminan merupakan satu-satunya faktor yang dinilai dalam menentukan besarnya

pinjaman.62

Dengan demikian dapat diberikan pengertian, bahwa jaminan adalah suatu

perikatan antara kreditur dengan debitur, dimana debitur memperjanjikan sejumlah

hartanya untuk pelunasan utang menurut ketentuan perundang-undangan yang

berlaku, apabila dalam waktu yang ditentukan terjadi kemacetan pembayaran utang si

debitur.

Berdasarkan hasil analisis terhadap berbagai peraturan perundang-undangan

yang mengatur tentang jaminan maupun kajian terhadap berbagai literatur tentang

jaminan, maka ditemukan 5 asas penting dalam hukum jaminan, yakni:63

a. Asaspubliciet, yaitu asas bahwa semua hak, baik hak tanggungan, hak fidusia, dan hipotik harus didaftarkan. Pendaftaran ini dimaksudkan supaya pihak ketiga dapat mengetahui bahwa benda jaminan tersebut sedang dilakukan pembebanan jaminan. Pendaftaran hak tanggungan di kantor Badan Pertanahan Nasional Kabupaten/Kota, pendaftaran fidusia dilakukan di Kantor Pendaftaran Fidusia pada Kantor Departemen Kehakiman dan Hak Asasi Manusia, sedangkan pendaftaran hipotik kapal laut dilakukan di depan pejabat pendaftaran dan pencatat balik nama, yaitu: syahbandar;

b. Asasspecialitet, yaitu bahwa hak tanggungan, hak fidusia, dan hipotik hanya dapat dibebankan atas persil atau atas barang-barang yang sudah terdaftar atas nama orang tertentu;

c. Asas tidak dapat dibagi-bagi, yaitu asas dapat dibaginya hutang tidak dapat mengakibatkan dapat dibaginya hak tanggungan hak fidusia, hipotik, dan hak gadai walaupun telah dilakukan;

d. Asas inbezittstelling, yaitu barang jaminan (gadai) harus berada pada penerima gadai;

62 Mahrina Adibah Nasution,

Penerapan The five C’s Of Credit (5C) Dalam Pemberian Kredit Sebagai Salah Satu Upaya Mengurangi Kemungkinan Terjadinya Kredit Bermasalah (Studi Di PT. Bank Bni Persero Tbk. Cabang Medan),Skripsi Universitas Sumatera Utara, 2012.

(6)

e. Asas horizontal, yaitu bangunan dan tanah bukan merupakan satu kesatuan. Hal ini dapat dilihat dalam penggunaan hak pakai, baik tanah negara maupun tanah hak milik. Bangunannya milik dari yang bersangkutan atau pemberi tanggungan, tetapi tanahnya milik orang lain, berdasarkan hak pakai.

Mariam Darus Badrulzaman mengemukakan asas-asas hukum jaminan.

Asas-asas itu meliputi Asas-asas filosofis, Asas-asas konstitusional, Asas-asas politis, dan Asas-asas operasional

(kongkrit) yang bersifat umum. Asas operasional dibagi menjadi asas sistem tertutup,

asas absolut, asas mengikuti benda, asas publisitas, asas spesialitas, asas totalitas, asas

asessi perlekatan, asas konsistensi, asas pemisahan horizontal, dan asas perlindungan

hukum.64Keempat asas itu disajikan berikut ini:65

a. Asas filosofis, yaitu asas dimana semua peraturan perundang-undangan yang berlaku di Indonesia harus didasarkan pada filsafah yang dianut oleh bangsa Indonesia, yaitu Pancasila;

b. Asas konstitusional, yaitu asas dimana semua peraturan perundang-undangan dibuat dan disahkan oleh pembentuk undang-undang harus didasarkan pada hukum dasar (konstitusi). Hukum dasar yang berlaku di Indonesia, yaitu: UUD 1945. Apabila undang-undang yang dibuat dan disahkan tersebut bertentangan dengan konstitusi, undang-undang tersebut harus dicabut;

c. Asas politis, yaitu asas dimana segala kebijakan dan teknik di dalam penyusunan peraturan perundang-undangan didasarkan pada TAP MPR; d. Asas operasional (konkret) yang bersifat umum merupakan asas yang dapat

digunakan dalam pelaksanaan pembebanan jaminan.

2. Jenis-Jenis Jaminan Secara Umum Menurut Hukum Positif

Pengaturan hukum jaminan terdapat di dalam Buku II KUH Perdata dan di

luar Buku II KUH Perdata. Ketentuan Hukum Jaminan yang terdapat di dalam Buku

II KUH Perdata merupakan kaidah-kaidah hukum yang terdapat dan diatur di dalam

64Mariam Darus Budrulzaman [2],

Benda-Benda Yang Dapat Diletakkan Sebagai Obyek Hak Tanggungan Dalam Persiapan Pelaksanaan Hak Tanggungan di Lingkungan Perbankan, (Bandung : PT. Citra Aditya Bakti, Bandung, 1996), hal. 23

(7)

Buku II KUH Perdata. Ketentuan-ketentuan hukum yang erat kaitannya dengan

hukum jaminan, yang masih berlaku dalam KUH Perdata, adalah gadai (Pasal

1150-1161 KUH Perdata) dan Hipotik (Pasal 1162-1232 KUH Perdata).66

a. Jaminan Perorangan (Personal Guaranty)

Istilah jaminan perorangan berasal dari kata borgtocht. Ada juga yang

menyebutkan dengan istilah jaminan imateriil. Pengertian jaminan perorangan dapat

dilihat dari berbagai pandangan dan pendapat para ahli.67 Sri Soedewi M Sofwan,

mengartikan jaminan imateriil (perorangan) adalah: “Jaminan yang menimbulkan

hubungan langsung pada perorangan tertentu, hanya dapat dipertahankan terhadap

debitur tertentu, terhadap harta kekayaan debitur umumya.”68

Jaminan perorangan atau pribadi adalah jaminan seorang pihak ketiga yang

bertindak untuk menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban dari debitur. Dalam

pengertian lain dikatakan bahwa jaminan perseorangan adalah suatu perjanjian antara

seorang berpiutang (kreditur) dengan seorang pihak ketiga, yang menjamin

dipenuhinya kewajiban-kewajiban si berutang (debitur). Ia bahkan dapat diadakan di

luar (tanpa) pengetahuan si berutang tersebut.69

Unsur-unsur yang terdapat pada jaminan perorangan, yaitu:70

1) Mempunyai hubungan langsung kepada orang tertentu;

2) Hanya dapat dipertahankan terhadap debitur tertentu; dan

66Ibid,hal 11 67Ibid,hal. 217

68 Sri Soedewi Masjchoen Sofwan,

Hukum Jaminan di Indonesia Pokok-Pokok Hukum Jaminan Dan Jaminan Perseorangan,(Yogyakarta: Liberty Offset Yogyakarta, 2001), hal. 46-47

(8)

3) Terhadap harta kekayaan debitur umumnya.

Subekti mengartikan jaminan perorangan adalah: “ Suatu perjanjian antara

seorang berpiutang (kreditur) dengan seorang ketiga, yang menjamin dipenuhinya

kewajiban si berhutang (debitur). Ia bahkan dapat diadakan di luar (tanpa) si

berhutang tersebut.”71

Subekti mengkaji jaminan perorangan dari dimensi kontraktural antara

kreditur dengan pihak ketiga. Selanjutnya ia mengemukakan, bahwa maksud adanya

jaminan ini adalah untuk pemenuhan kewajiban si berhutang, yang dijamin

pemenuhannya seluruhnya, atau sampai suatu bagian tertentu, harta benda si

penanggung (penjamin) dapat disita dan dilelang menurut ketentuan perihal

pelaksanaan eksekusi putusan pengadilan.72

Pada jaminan perorangan selalu dimaksudkan bahwa untuk pemenuhan

kewajiban-kewajiban si berutang, yang dijamin pemenuhan seluruhnya atau sampai

suatu bagian (jumlah) tertentu, harta benda si penanggung (penjamin) bisa disita dan

dilelang menurut ketentuan-ketentuan perihal pelaksanaan (eksekusi)

putusan-putusan pengadilan.73

Jaminan perorangan ini dapat dibagi menjadi 4 macam, yaitu:74

1) Penanggung (borg) adalah orang lain yang dapat ditagih;

2) Tanggung-menanggung, yang serupa dengan tanggung renteng; dan 3) Akibat hak dari tanggung renteng pasif;

71Subekti [1],

op.cit,hal. 17

72 Ibid

73Hermansyah [2],loc.cit

(9)

Hubungan hak bersifat ekstern: hubungan hak antara para debitur dengan pihak lain (kreditur)

Hubungan hak bersifat intern: hubungan hak antara sesama debitur itu satu dengan yang lainnya.

4) perjanjian garansi (Pasal 1316 KUH Perdata), yaitu yang bertanggung jawab guna kepentingan pihak ketiga.

Perjanjian penanggungan utang diatur di dalam Pasal 1820 sampai dengan

Pasal 1850 KUH Perdata. Yang diartikan dengan penanggungan adalah: “Suatu

perjanjian, di mana pihak ketiga, demi kepentingan kreditur, mengikatkan dirinya

untuk memenuhi perikatan debitur, bila debitur itu tidak memenuhi perikatannya.”

(Pasal 1820 KUH Perdata)

Jika diperhatikan defenisi tersebut, maka jelaslah bahwa ada tiga pihak yang

terkait dalam perjanjian penanggungan utang, yaitu pihak kreditur, debitur dan pihak

ketiga. Kreditur disini berkedudukan sebagai pemberi kredit atau orang berpiutang,

sedangkan debitur adalah orang yang mendapat pinjaman uang atau kredit dari

kreditur. Pihak ketiga adalah orang yang akan menjadi penanggung utang debitur

kepada kreditur, manakala debitur tidak memenuhi prestasinya.

Adanya perjanjian penanggungan ini antara lain karena si penanggung

mempunyai persamaan kepentingan ekonomi dalam usaha dari peminjam (ada

hubungan kepentingan antara penjamin dan peminjam), misalnya si penjamin sebagai

direktur perusahaan selaku pemegang saham terbanyak dari perusahaan tersebut

secara pribadi ikut menjamin hutang-hutang perusahaan tersebut dari kedua

perusahaan induk ikut menjamin hutang perusahaan cabang.75 Sifat perjanjian

(10)

penanggungan utang adalah bersifat accesoir76, sedangkan perjanjian pokoknya

adalah perjanjian kredit atau perjanjian pinjam uang antara debitur dengan kreditur.

Apabila dikemudian hari seorang debitur telah tidak menepati janji dengan

tidak membayar piutangnya sesuai waktu yang diperjanjikan, untuk itu kreditur tidak

dapat meminta kepada penaggung utang untuk membayar utang debitur, sebab

ketentuan Pasal 1831 KUH Perdata menghendaki supaya harta kekayaan debitur

harus lebih dahulu disita dan dijual lelang untuk melunasi utangnya. Kalau hasilnya

tidak cukup, baru penanggung diwajibkan membayar kepada kreditur.77

Pada dasarnya penanggung utang tidak wajib membayar utang debitur kepada

kreditur, kecuali jika debitur lalai membayar utangnya. Untuk membayar utang

debitur tersebut, maka barang kepunyaan debitur harus disita dan dijual terlebih

dahulu untuk melunasi utangnya (Pasal 1831 KUH Perdata78).

Hapusnya penanggung utang diatur dalam Pasal 1845 KUH Perdata sampai

dengan Pasal 1850 KUH Perdata. Di dalam Pasal 1845 KUH Perdata disebutkan

bahwa perikatan yang timbul karena penanggungan, hapus karena sebab-sebab yang

sama dengan yang menyebabkan berakhirnya perikatan lainnya. Pasal ini menunjuk

kepada Pasal 138179, Pasal 140880, Pasal 142481, Pasal 142082, Pasal 143783, Pasal

144284, Pasal 157485, Pasal 184686, Pasal 193887, dan Pasal 198488KUH Perdata.

76Accesoiradalah perjanjian yang bersifat tambahan dan dikaitkan dengan perjanjian pokok 77Gatot Supramono,op.cit,hal. 81-82

78 “Si penanggung tidaklah diwajibkan membayar kepada si berpiutang, selainnya jika si

berutang lalai, sedangkan benda-benda si berutang ini harus lebih dahulu disita dan dijual untuk melunasi utangnya.”

79“Perikatan hapus: karena pembayaran; karena penawaran pembayaran tunai, diikuti dengan

(11)

b. Jaminan Kebendaan

Dalam KUH Perdata mengenai hak kebendaan harus dibedakan antara

genotsrechten” (hak menikmati) dan “zakerheidsrechten” (hak jaminan). Yang

termasuk “genotsrechten” (hak menikmati) adalah erfpacht (guna usaha), opstal

(guna bangunan), vruchtgebruik(guna hasil) dangebruik en bewoning (pakai)”. Yang

dimaksud “zakerheidsrechten” (hak jaminan) adalah “pand” (gadai) dan hipotik.

karena percampuran utang; karena pembebasan utangnya; karena musnahnya barang yang terutang; karena kebatalan atau pembatalan; karena berlakunya suatu syarat-batal, yang di atur dalam Bab kesatu; karena liwatnya waktu, hal mana akan diatur dalam suatu bab tersendiri.”

80

“Selama apa yang dititipkan tidak diambil oleh si berpiutang, si berutang dapat mengambilnya kembali; dalam hal itu orang-orang yang turut berutang dan para penanggung utang tidak dibebaskan”

81“Karena adanya pembaharuan hutang antara si berpiutang dan salah satu dari orang-orang

yang berutang secara tanggung-menanggung, maka orang-orang lainnya yang turut berutang dibebaskan dari perikatannya. Pembaharuan hutang yang dilakukan terhadap si berutang-utama membebaskan para penanggung utang. Jika meskipun demikian, dalam hal yang pertama, si berpiutang telah menuntut orang-orang lainnya yang turut berutang, atau dalam hal yang kedua, telah menuntut para penanggung utang supaya mereka turut-serta pada perjanjian baru, dan orang-orang itu menolak, maka perikatan-utang lama tetap berlaku.”

82“Dengan hanya adanya si berutang menunjuk seorang lain yang harus membayar untuk dia,

tidak diterbitkan atau pembaharuan hutang. Hal yang sama berlaku terhadap hanya adanya si berpiutang menunjuk seorang lain, yang diwajibkan menerima untuk dia.”

83“Percampuran utang yang terjadi pada dirinya si berutang-utama, berlaku juga untuk

keuntungan para penanggung utangnya. Percampuran yang terjadi pada dirinya salah satu dari orang-orang yang berutang secara tanggung menanggung hingga melebihi bagiannya dalam utang yang ia sendiri menjadi orang berutang.”

84“Pembebasan sesuatu utang atau penglepasan menurut persetujuan, yang diberikan kepada

si berutang utama, membebaskan para penanggung utang. Pembebasan yang diberikan kepada si penanggung utang, tidak membebaskan si berutang utama. Pembebasan yang diberikan kepada salah seorang penanggung utang, tidak membebaskan para penanggung lainnya.”

85“Dalam halnya penanggung utang yang dibuat untuk sewanya tidak meliputi

kewajiban-kewajiban yang terbit dari perpanjangan sewa.”

86“Percampuran yang terjadidiantara pribadinya si berutang-utama dan pribadinya si

penanggung utang, sekali-kali tidak mematikan tuntutan hukum si berpiutang terhadap orang yang telah memajukan diri sebagai penanggungnya si penanggung.”

87 “Seorang berutang yang diperintahkan bersumpah oleh salah seorang berpiutang dalam

suatu perikatan tanggung-menanggung, dan mengangkat sumpahnya, tidaklah dibebaskan untuk jumlah yang lebih daripada bagian orang yang berpiutang tersebut. Sumpah yang diangkat oleh si berutang-utama, membebaskan para penanggung utang.”

88 “Pemberitahuan yang dilakukan kepada si berutang-utama atau pengakuan orang ini,

(12)

Berdasarkan Pasal 1150 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata bahwa :

“Gadai adalah suatu hak yang diperoleh kreditur atas suatu benda bergerak, yang diberikan kepadanya oleh debitur atau orang lain atas hutang debitur sebagai jaminan pembayaran dan memberikan hak kepada kreditur untuk mendapatkan pembayaran lebih dahulu daripada kreditur-kreditur lainnya atas penjualan benda jaminan”

Sebagaimana terlihat dari definisi gadai, yang menjadi objek hak gadai adalah

benda bergerak. Benda bergerak yang dimaksud meliputi benda bergerak yang

berwujud berupa kenderaan bermotor dan benda bergerak yang tidak berwujud

berupa hak untuk mendapat pembayaran uang yang berbentuk surat berharga.

Praktek dunia perbankan saat ini, gadai jarang digunakan dikarenakan adanya

lembaga jaminan lainnya yang lebih menguntungkan bank dengan debiturnya seperti

apabila debitur menjaminkan kenderaan, maka bank akan menggunakan lembaga

jaminan fidusia, berbeda halnya jika barang yang dijaminkan emas, saham dan

deposito maka lembaga gadai yang dipakai. Lembaga fidusia berbeda dengan gadai

dimana jika gadai maka barang jaminan harus diserahkan kepada penerima gadai,

sedangkan fidusia, pemberi fidusia tetap dalam menikmati barang yang difidusiakan

atau dikenal pinjam pakai. Bank lebih suka menggunakan lembaga fidusia

dibandingkan gadai dikarenakan sering kali barang yang diagunkan tersebut

merupakan satu-satunya barang dari pemberi fidusia, jika barang tersebut diambil

oleh bank maka perputaran bisnis debitur akan terkendala dan kemungkinan

pengembalian pinjaman akan terhambat.

Di samping gadai sebagai hak jaminan yang diatur dalam Kitab

(13)

Hukum Perdata yang berbunyi “Hipotik adalah suatu hak kebendaan atas

benda-benda tak bergerak, untuk mengambil penggantian dari padanya bagi pelunasan suatu

perikatan”. Sebelum keluarnya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang Hak

Tanggungan, hipotik berlaku untuk jaminan seperti tanah, kapal laut, pesawat

terbang. Tapi setelah dikeluarkannya Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang

Hak Tanggungan maka hipotik atas tanah tidak berlaku lagi. Sehingga lembaga

hipotik hanya dibebankan kepada :

1) kapal-kapal dalam bobot mati 20 meter kubik;

2) kapal laut;

3) pesawat udara.

Pertanda dari hak kebendaan (zakelijk recht) ialah bahwa itu dapat

dikemukakan terhadap semua “rechtsopvolgers” dari “wederparty” (pihak lainnya).89

Jaminan kebendaan merupakan suatu tindakan berupa suatu penjaminan yang

dilakukan oleh kreditur terhadap debiturnya, atau antara kreditur dengan seorang

pihak ketiga guna menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban dari debitur. Jaminan

kebendaan dapat diadakan antara kreditur dengan debiturnya, tetapi juga dapat

diadakan antara kreditur dengan seorang pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya

kewajiban-kewajiban dari si berutang (debitur).90

Pemberian jaminan kebendaan selalu berupa menyendirikan suatu bagian dari

kekayaan seseorang, si pemberi jaminan, dan menyediakannya guna pemenuhan

(pembayaran) kewajiban (utang) dari seorang debitur. Kekayaan tersebut dapat

berupa kekayaan si debitur sendiri atau kekayaan seorang pihak ketiga. Penyendirian

89

Hartono Soerjopratiknjo,Hutang Pihutang Perjanjian-Perjanjian Pembayaran Dan Jaminan Hypotik,

(Yogyakarta : Seksi Notariat Fakultas Hukum Universitas Gadjah Mada, 1984), hal. 29

(14)

atau penyediaan secara khusus itu diperuntukkan bagi keuntungan seorang kreditur

tertentu yang telah memintanya, karena bila tidak ada penyendirian atau penyediaan

khusus itu, bagian dari kekayaan tadi, seperti halnya dengan seluruh kekayaan si

debitur dijadikan jaminan untuk pembayaran semua utang debitur.91

Pemberian jaminan kebendaan kepada seorang kreditur tertentu, memberikan

kepada kreditur tersebut suatu privilege atau kedudukan istimewa terhadap kreditur

lainnya. Seperti halnya kasusdeveloperwanprestasi ini, jaminan yang diberikan oleh

developer kepada bank sebagai kreditur dalam hal bangunan dalam proses

pembangunan adalah deposito milikdevelopersebagaimana yang telah diperjanjikan

oleh mereka dalam akta perjanjian kerja sama bank dengandeveloper sehingga bank

sebagai kreditur mempunyai kedudukan istimewa dibandingkan kreditur lain jika

developertersebut wanprestasi. Akan tetapi tidak selamanya jaminan yang diberikan

oleh developer adalah deposito, semua itu adalah kesepakatan para pihak.92 Ada

kalanya, bank melakukan pencairan bertahap kepada developer apabila bangunan

sudah sampai tahap tertentu. Terkadang ada juga pemblokiran rekening developer

yang dilakukan oleh bank sebagaimana yang telah diperjanjikan dalam akta kerja

samanya sehingga bank juga tidak dirugikan jika suatu saat developer nya

wanprestasi.93

3. Penggolongan Jaminan Dari Lembaga-Lembaga Jaminan di Indonesia

Pada umumnya jenis-jenis lembaga jaminan sebagaimana dikenal dalam Tata

Hukum Indonesia dapat digolong-golongkan menurut cara terjadinya, menurut

sifatnya, menurut objeknya, menurut kewenangan menguasainya dan lain-lain.94

91 Ibid

92Wawancara dengan EK selaku

legal officerPT.Bank X, tanggal 02 Pebruari 2015

(15)

a. Jaminan yang Lahir Karena Undang Undang dan Karena Perjanjian

Jaminan yang ditentukan oleh Undang Undang ialah jaminan yang adanya

ditunjuk oleh Undang Undang tanpa adanya perjanjian dari para pihak yaitu misalnya

adanya ketentuan Undang Undang yang menentukan bahwa semua harta benda

debitur baik benda bergerak maupun benda tetap, baik benda-benda yang sudah ada

maupun yang masih akan ada menjadi jaminan bagi seluruh perutangannya. Berarti

bahwa kreditur dapat melaksanakan haknya terhadap semua benda debitur, kecuali

benda-benda yang dikecualikan oleh Undang Undang (Pasal 1131 KUH Perdata).

Disamping itu juga ada benda-benda dari debitur dimana oleh Undang Undang

ditentukan bahwa kreditur sama sekali tak mempunyai hakverhaalterhadapnya. Juga

oleh Undang Undang ditentukan bahwa hasil penjualan dari benda-benda tersebut

harus dibagi antara para kreditur seimbang dengan besarnya piutang masing-masing.

(Pasal 1132 KUH Perdata).95

Kreditur yang kedudukannya sama berhak (kreditur bersama) dan tak ada

yang harus didahulukan dalam pemenuhan piutangnya disebut kreditur konkuren.

Selanjutnya oleh undang undang juga ditentukan ada jenis-jenis lembaga jaminan

yang pemenuhannya didahulukan dari piutang-piutang yang lain. Kreditur pemegang

hak yang pemenuhannya harus didahulukan demikian disebut kreditur preferen, ialah

pemegang hakprivilege, pemegang gadai dan pemegang hipotik.96

Oleh undang-undang ditentukan bahwa hak privilege adalah suatu hak yang

diberikan kepada seorang kreditur, didahulukan pemenuhannya daripada

kreditur-kreditur yang lain semata-mata berdasarkan sifat piutangnya. Adapun

(16)

macamnya privilege itu sudah ditentukan secara berurutan oleh undang undang ada

yang tergolong privilege umum, privilegi khusus (Pasal 1134 KUH Perdata, pasal

1139 KUH Perdata, pasal 1149 KUH Perdata). Juga hak retensi tergolong hak

jaminan yang ditentukan oleh Undang-Undang dan diatur dalam sejumlah pasal-pasal

yang cerai berai, yang dijumpai dalam perjanjian sewa menyewa (Buku III KUH

Perdata), pada gadai, padabezitteryang jujur (Buku II KUH Perdata), pada perjanjian

pemberian kuasa, pada perjanjian perburuhan (Buku III KUH Perdata) dalam KUHD

dan lain-lain.97

Selain jaminan yang ditunjuk oleh undang-undang, sebagai bagian dari asas

konsensualitas dalam hukum perjanjian, undang-undang memungkinkan para pihak

untuk melakukan perjanjian pemberian jaminan yang ditunjukan untuk menjamin

pelunasan atau pelaksanaan kewajiban debitur kepada kreditur. Perjanjian penjaminan

ini merupakan perjanjian accessoir, yaitu perjanjian yang mengikuti, dan yang

melekat pada perjanjian dasar atau perjanjian pokok yang menerbitkan utang atau

kewajiban atau prestasi bagi debitur terhadap kreditur. KUH Perdata memberikan

beberapa jenis penjaminan, misalnya hipotik, gadai, perjanjian penanggungan

(borgtocht), perjanjian garansi, perutangan tanggung-menanggung (tanggung

renteng) dan lain-lain.98

Selain itu diluar KUH Perdata juga dikenal adanya jaminan dan bentuk Hak

Tanggungan dan jaminan fidusia, jaminan yang lahir dari perjanjian tersebut, dapat

97Ibid

(17)

terdiri dari penjaminan yang mengikuti suatu objek benda tertentu (jaminan

kebendaan), maupun jaminan yang melekat pada diri subjek hukum yang

memberikan jaminan (jaminan perorangan).99

b. Jaminan Umum dan Jaminan Khusus

Jaminan umum adalah jaminan dimana semua krediturnya mempunyai

kedudukan yang sama terhadap kreditur-kreditur lainnya. Hal ini tercermin dalam

Pasal 1131 KUH Perdata yang menjelaskan bahwa “segala kebendaan si berutang,

baik yang bergerak maupun yang tidak bergerak, baik yang sudah ada maupun yang

baru akan ada di kemudian hari, menjadi tanggungan untuk segala perikatan

perseorangan.”

Debitur dalam hal ini cukup pasif, tidak perlu membuat perjanjian jaminan,

karena perikatannya sudah diatur oleh undang-undang. Tanpa adanya perjanjian yang

diadakan para pihak lebih dulu, para kreditur konkuren semuanya secara

bersama-sama memperoleh jaminan umum yang diberikan oleh undang-undang itu.100

Jadi dalam jaminan umum ini, semua barang-barang milik debitur merupakan

jaminan bagi para kreditur tanpa memandang siapa kreditur yang membuat perikatan

lebih dahulu. Semua kreditur mempunyai hal yang sama, namun mengenai

pembayaran utang tidak dibagi rata dari hasil penjualan barang-barang tersebut.101

Menurut Pasal 1132 KUH Perdata, hasil penjualan barang-barang itu dibagi-bagikan

menurut keseimbangan, yaitu menurut besar kecilnya piutang masing-masing

kreditur, kecuali diantara kreditur mempunyai hak untuk didahulukan.102

99 Ibid

100Sri Soedewi M Sofwan,

op.cit,hal. 45

(18)

Para kreditur itu mempunyai kedudukan yang sama, tidak ada yang lebih

didahulukan dalam pemenuhan piutangnya. Kreditur demikian disebut kreditur

konkuren, lawannya ialah kreditur preferen. Para kreditur konkuren dalam

pemenuhan piutangnya dikalahkan dari para kreditur preferen (pemegang Hipotik,

Gadai, dan Privilege 103). Sedang diantara para kreditur preferen sendiri para

pemegang Hipotik dan Gadai lebih diutamakan dari pemegangprivilege.104

Privilege bukan jaminan yang bersifat kebendaan dan bukan jaminan yang

bersifat perorangan tetapi bagian jaminan juga. Privilege berbeda dengan hak

kebendaan, dimana hak kebendaan itu adalah hak atas sesuatu benda, sedang

privilegeadalah hak terhadap benda yaitu terhadap benda debitur. Jika perlu benda itu

dapat dilelang untuk melunasi piutangnya.105

Adanya privilege itu diberikan oleh undang undang bukan diperjanjikan

seperti pand (gadai) dan, hipotik. Mana yang lebih didahulukan antara privilege di

satu pihak denganpand dan hipotik di lain pihak, ini diatur dalam Pasal 1134 ayat 2

KUH Perdata. Pand dan hipotik lebih didahulukan daripada privilege kecuali jika

ditentukan lain oleh undang undang (Pasal 1139 ayat 1, Pasal 1149 ayat 1 KUH

Perdata). Antara pand dan hipotik tak pernah ada persoalan mana yang harus

didahulukan sebabpanditu mengenai benda bergerak, hipotik benda tetap.106

103 Privilegediatur dalam Pasal 1134 ayai 1 KUH Perdata: “Privilegeadalah suatu hak yang

diberikan oleh Undang Undang kepada kreditur yang satu di atas kreditur lainnya semata-mata berdasarkan sifat dari piutangnya.”

104Sri Soedewi M Sofwam, loc.cit 105Ibid, hal. 61

(19)

Jaminan umum dalam praktek perkreditan (perjanjian peminjaman uang) tidak

memuaskan bagi kreditur, kurang menimbulkan rasa aman dan terjamin bagi kredit

yang diberikan. Kreditur memerlukan adanya benda-benda tertentu yang ditunjuk

secara khusus sebagai jaminan piutangnya dan itu hanya berlaku bagi kreditur

tersebut. Dengan lain perkataan memerlukan adanya jaminan yang dikhususkan

baginya baik yang bersifat kebendaan maupun perorangan.107

Dalam praktek perbankan adanya jaminan yang dikhususkan itu diisyaratkan

oleh suatu prinsip sebagaimana tercantum dalam undang undang pokok perbankan

yaitu ketentuan Pasal 24 Undang-Undang Nomor 14 tahun 1967 tentang

Pokok-Pokok Perbankan yang melarang adanya pemberian kredit tanpa jaminan. Jadi

jaminan disini maksudnya adalah jaminan yang dikhususkan untuk bank dimana

pertelaan barang-barang jaminan itu disebutkan secara terperinci.

Pada jaminan khusus pihak debitur memperjanjikan kepada debitur atas suatu

barang-barang tertentu khusus diperuntukkan sebagai jaminan utang debitur. Selain

dapat berupa barang, jaminan khusus juga dapat berupa orang. Meskipun dapat

berupa orang, tetapi pada akhirnya harta benda orang yang bersangkutan yang dapat

disita dan dijual lelang untuk pelunasan utang.108 Untuk dapat membuat jaminan

khusus, maka pada perjanjian pokoknya harus diperjanjikan tentang adanya hal itu,

baru kemudian dibuat perjanjian jaminannya yang bersifataccessoir.

107Ibid,hal. 45-46

(20)

Adapun macam-macam jaminan khusus terdapat dalam KUH Perdata maupun

peraturan diluar KUH Perdata, jaminan khusus yang diatur dalam KUH Perdata

adalah:109

1. Hipotik;110

2. Gadai;

3. Penanggungan (borgtocht).

Sedangkan jaminan khusus yang diatur diluar KUH Perdata, terdapat

dalamKoninklijk Besluit,yaitu:111

4. Credietverband;

5. Oogstverband.

Selain itu masih ada jaminan diluar KUH Perdata, yang timbul dalam praktek

kemudian diakui yurisprudensi yaitu fiduciarie eigendoms overdracht dan Hak

Tanggungan sebagaiman telah diatur Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1996 tentang

Hak Tanggungan.

Dari macam-macam jaminan tersebut, hipotik, credietverband dan Hak

Tanggungan merupakan jaminan terhadap barang-barang tidak bergerak. Gadai,

Oogstverband dan fiduciarie eigendoms overdracht sebagai jaminan barang-barang

bergerak. Sedangkan penanggungan merupakan jaminan perorangan.

c. Jaminan yang Bersifat Kebendaan dan Jaminan yang Bersifat Peorangan

Hukum perdata mengenal jaminan yang bersifat hak kebendaan dan hak

perorangan. Jaminan yang bersifat kebendaan ialah jaminan yang berupa hak mutlak

109

Ibid,hal. 59-60

110 Pemilik benda yang dibebani hypotik, dinamakan pemberi hypotik. Kreditur untuk siapa

diadakan hipotik itu, dinamakan pemegang hipotik.

(21)

atas sesuatu benda, yang mempunyai ciri-ciri: mempunyai hubungan langsung atas

benda tertentu dari debitur, dapat dipertahankan terhadap siapapun, selalu mengikuti

bendanya (droit de suite) dan dapat diperalihkan (contoh Hipotik, gadai dan

lain-lain).112

Jaminan perorangan atau jaminan pribadi adalah jaminan seorang pihak ketiga

yang bertindak untuk menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban dari debitur.

Dalam pengertian lain dikatakan bahwa jaminan perseorangan adalah suatu perjanjian

antara seorang berpiutang (kreditur) dengan seorang pihak ketiga, yang menjamin

dipenuhinya kewajiban-kewajiban si berutang (debitur). Ia bahkan dapat diadakan di

luar (tanpa) pengetahuan si berutang tersebut.113

Sehubungan dengan itu, Sri Soedewi M Sofwan mengatakan bahwa “jaminan

yang bersifat perorangan, ialah jaminan yang menimbulkan hubungan langsung pada

perorangan tertentu, hanya dapat dipertahankan terhadap debitur tertentu, terhadap

harta kekayaan debitur seumumnya, contoh:borgtocht”.114

Asas prioriteit / hak utama adalah asas yang membedakan antara hak

kebendaan dengan hak perorangan, yang dikenal pada hak kebendaan dan asas

kesamaan pada hak perorangan. Jadi pada hak kebendaan mengenal asas bahwa hak

kebendaan yang lebih tua (lebih dulu terjadi) lebih diutamakan daripada hak

kebendaan yang terjadi kemudian. Sedangkan pada hak perorangan mengenal asas

kesamaan (Pasal 1131, 1132 KUH Perdata), dalam arti bahwa tidak membedakan

112Hermansyah [2],

op.cit, hal. 74

113Ibid

(22)

mana piutang yang lebih dulu terjadi dan piutang yang terjadi kemudian. Semuanya

mempunyai kedudukan yang sama, tidak mengindahkan urutan terjadinya, semua

mempunyai kedudukan yang sama terhadap harta kekayaan debitur.115

Jika kemudian terjadi kepailitan, hasil penjualan benda-benda tersebut

dibagi-bagi antara mereka bersama secara “ponds-ponds gelijk” seimbang dengan besarnya

piutang masing-masing. Kecuali jika undang-undang untuk perjanjian mereka

menetapkan lain maka azas kesamaan tersebut dapat diterobos (contoh padaprivilege,

hipotik, gadai), pada orang yang mempunyai hak kebendaan atas sesuatu benda yang

berada pada orang yang jatuh pailit, hak kebendaan tersebut berada di luar kepailitan.

Hak kebendaan tersebut tetap ada (droit de suite) sekalipun benda tersebut oleh

curator kepailitan dijual kepada orang lain.116

Pada jaminan perorangan kreditur mempunyai hak menuntut pemenuhan

piutangnya selain kepada debitur yang utama juga kepada penanggung atau dapat

menuntut pemenuhan kepada debitur lainnya. Jaminan perorangan demikian dapat

terjadi jika kreditur mempunyai seorang penjamin (borg) atau jika ada pihak ketiga

yang mengikatkan diri secara tanggung menanggung dalam debitur.117

Jaminan kebendaan merupakan suatu tindakan berupa suatu penjaminan yang

dilakukan oleh kreditur terhadap debiturnya, atau antara kreditur dengan seorang

pihak ketiga guna menjamin dipenuhinya kewajiban-kewajiban dari debitur. Jaminan

kebendaan dapat diadakan antara kreditur dengan debiturnya, tetapi juga dapat

(23)

diadakan antara kreditur dengan seorang pihak ketiga yang menjamin dipenuhinya

kewajiban-kewajiban dari si berutang (debitur).118

Pada jaminan kebendaan kreditur mempunyai hak untuk didahulukan

pemenuhan piutangnya terhadap pembagian hasil eksekusi dari benda-benda tertentu

dari debitur. Jadi kreditur tidak mempunyai hak pemenuhan atas bendanya,

melainkan melulu atas hasil eksekusi dari bendanya, diperhitungkan dari hasil

penjualan atas benda tersebut.

Kreditur pemegang hak kebendaan tersebut juga mempunyai hak pemenuhan

terhadap benda-benda lainnya dari debitur, bersama-sama dengan kreditur lainnya

selaku kreditur bersama (kreditur konkuren). Tetapi kemungkinan tersebut hanya

terjadi jika pemenuhan piutang kreditur tersebut dengan hasil eksekusi terhadap

benda-benda tertentu itu saja masih belum mencukupi. Maka dalam keadaan

demikian bersama-sama dengan para kreditur konkuren dia masih dapat meminta

pemenuhan atas hasil penjualan terhadap benda-benda jaminan yang lain itu.119

Jadi jika pada jaminan perorangan kreditur merasa terjamin karena

mempunyai lebih dari seorang debitur yang dapat ditagih untuk memenuhi

piutangnya, maka pada jaminan kebendaan kreditur merasa terjamin karena

mempunyai hak didahulukan (preferensi) dalam pemenuhan piutangnya atas hasil

eksekusi terhadap benda-benda debitur.

118Hermansyah,loc.cit

(24)

Dengan adanya jaminan perorangan dan jaminan kebendaan memberikan

suatu perlindungan hukum kepada seorang kreditur dimana kredit yang dicairkan oleh

kreditur kepada debitur berpotensi tertagih kembali. Seperti pada kasus ini, bahwa

dengan adanya jaminan kebendaan berupa sertifikat dari debitur yang telah dipasang

hak tanggungan dan jaminan deposito yang disimpan di bank yang bersangkutan oleh

developerkepada bank memberikan suatu perlindungan hukum kepada kreditur atau

bank dalam menerima kembali kredit yang telah dicairkan. Jadi teori perlindungan

hukum yang dipakai dalam kasus ini melindungi kreditur selaku bank dalam

mencegah wanprestasi yang dilakukan oleh debitur maupundevelopernya.

d. Jaminan yang Mempunyai Objek Benda Bergerak dan Jaminan atas Benda

Tak Bergerak

Penggolongan atas benda yang penting menurut sistim hukum perdata yang

berlaku kini di Indonesia adalah penggolongan atas benda bergerak dan benda tak

bergerak. Karenanya juga dikenal adanya pembedaan jaminan atas benda bergerak

dan jaminan atas benda tak bergerak. Pembedaan atas benda bergerak dan tak

bergerak, juga pembedaan atas jaminan benda bergerak dan tak bergerak demikian itu

juga dikenal hampir di seluruh perundang-undangan modern di berbagai Negara di

dunia ini.

Menurut sistem Hukum Perdata pembedaan atas benda bergerak dan tak

bergerak itu mempunyai arti penting dalam berbagai bidang yang berhubungan

dengan penyerahan, daluwarsa (verjaring), kedudukan berkuasa (bezit),

(25)

penting sekali arti pembagian benda bergerak dan benda tak bergerak dimana atas

dasar pembedaan tersebut, menentukan jenis lembaga jaminan/ ikatan kredit yang

mana yang dapat dipasang untuk kredit yang akan diberikan.120

Jika benda jaminan itu berupa benda bergerak, maka dapat dipasang lembaga

jaminan yang berbentuk gadai atau fidusia, sedang jika benda jaminan itu berbentuk

benda tetap, maka lembaga jaminan dapat dipasang hipotik atau credietverband.

Pembedaan atas benda bergerak dan benda tak bergerak demikian, dalam hukum

perdata mempunyai arti penting dalam hal-hal tertentu, yaitu mengenai:121

1) Cara pembebanan/ jaminan;

2) Cara penyerahan;

3) Dalam hal daluarsa;

4) Dalam halbezit.

Mengenai lembaga fidusia didalam teori dimungkinkan tertuju terhadap benda

bergerak dan tak bergerak, namun dalam praktek di negara-negara Eropa fidusia

hanya tertuju atas benda-benda bergerak. Pada umumnya menurut pertumbuhan dan

praktek di Eropa, bentuk penjaminan dengan fidusia meskipun dengan penyebutan

nama yang berbeda-beda dan persyaratan yang agak berlebihan, pada umunya tertuju

pada benda bergerak. Namun beberapa penulis di Netherland, mengemukakan

kemungkinannya fidusia juga dapat tertuju pada benda tak bergerak. Pitlo dalam

tulisannya dengan tegas mengemukakan bahwa:

(26)

“Fidusia juga dapat dilaksanakan terhadap benda-benda tetap, meskipun

dalam praktek tidak banyak terjadi, karena jika dibandingkan dengan hipotik

bagi para berpiutang bentuk jaminan ini lebih kuat memberikan jaminan.”122

Pada praktek di Indonesia dalam perkembangannya sekarang fidusia juga

dapat tertuju atas benda tak bergerak yaitu fidusia atas rumah diatas tanah hak sewa,

fidusia atas bangunan di atas tanah hak pakai, fidusia atas bangunan di atas hak

pengelolaan. Perkembangan demikian kiranya sangat memenuhi kebutuhan

masyarakat dan perlindungan terhadap pihak ekonomi lemah, dimana justru tidak

mempunyai hak milik diatas tanah yang dapat dijaminkan melalui lembaga Hipotik

dancredietverband, sedangkan barang jaminannya cukup berharga (bangunan) maka

jalan keluarnya ialah lewat fidusia.123

Cara penyerahan benda bergerak dilakukan dengan cara-cara yang berlainan

dengan benda tak bergerak. Penyerahan benda bergerak menurut jenisnya dapat

dilakukan dengan penyerahan nyata, penyerahan simbolis (penyerahan kunci

gudang), traditio brevimanu, constitutum possessorium (penyerahan dengan terus

melanjutkan penguasaan atas benda itu),cessie, endosemen. Sedangkan untuk benda

tak bergerak dilakukan dengan balik nama, yaitu harus dilakukan penyerahan juridis

yang bermaksud memperalihkan hak itu, dibuat dengan bentuk akta otentik dan

didaftarkan.124 Dengan adanya lembaga pendaftaran benda tak bergerak berupa

fidusia maupun hak tanggungan, maka seorang kreditur dapat sedikit lega karena

jaminan benda tak bergerak yang diagunkan dapat dilakukan eksekusi apabila

sewaktu-waktu seorang debitur melakukan wanprestasi sehingga terlihat

122 A. Pitlo,

Tafsiran Singkat tentang Beberapa Bab dalam Hukum Perdata,terjemahan : M. Moerasad, (Jakarta : PT INTERMASA, 1979), hal. 40

(27)

perlindungan hukum kepada seorang kreditur dalam memberikan kredit kepada

debiturnya.

Kebebasan para pihak untuk membuat janji-janji yang mereka anggap perlu,

hanya dibatasi oleh asas, bahwa beberapa peraturan undang-undang bersifat

ketertiban umum sehingga tidak boleh disimpangi. Undang-undang melarang

misalnya, untuk membuat janji bahwa pemegang hipotik mempunyai hak untuk

memiliki benda jaminan apabila debitur lalai memenuhi kewajibannya (Pasal 1178

KUH Perdata).

Dalam hal daluwarsa untuk benda bergerak tidak mengenal daluwarsa, sedang

untuk benda tak bergerak mengenal lembaga daluwarsa. Kemudian dalam hal

kedudukan berkuasa (bezit), untuk benda bergerak berlaku azas sebagaimana

tercantum dalam Pasal 1977 KUH Perdata, bahwa bezit atas benda bergerak berlaku

sebagai alas hak yang sempurna, sedang untuk benda tetap tidak berlaku azas yang

demikian. Sedang dalam hal pembebanan, untuk benda-benda bergerak dilakukan

dengan lembaga jaminan gadai, fiducia. Sedang untuk benda-benda tak bergerak

dilakukan dengan lembaga jaminan hipotik,credietverband.125

e. Jaminan yang Menguasai Bendanya dan Jaminan Tanpa Menguasai

Bendanya

Jaminan yang merupakan cara menurut hukum untuk pengamanan

pembayaran kembali kredit yang diberikan dapat juga dibedakan atas jaminan dengan

menguasai bendanya dan jaminan dengan tanpa menguasai bendanya. Jaminan yang

(28)

diberikan menguasai bendanya misalnya pada gadai (pand, pledge), hak retensi.

Sedang jaminan yang diberikan dengan tanpa menguasai bendanya dijumpai pada

hipotik, credietverband (ikatan kredit), fidusia, privilege dan hak tanggungan.

Penjaminan dengan menguasai bendanya dan tanpa menguasai bendanya demikian

dikenal di seluruh perundang-undangan modern sekarang ini, hanya bentuknya yang

agak berbeda-beda.

Jaminan dengan menguasai bendanya terutama pada gadai yang tertuju

terhadap benda bergerak memberikan hak preferensi (droit de preference) dan hak

yang senantiasa mengikuti bendanya (droit de suite). Juga pemegang gadai mendapat

perlindungan terhadap pihak ketiga seperti seolah-olah pemiliknya sendiri dari benda

tersebut. Ia mendapat perlindungan jika menerimanya benda tersebut dengan itikad

baik (te goeder trouw; in good faith), yaitu mengira bahwa si debitur tersebut adalah

pemilik yang sesungguhnya dari benda itu.126

Jaminan dengan menguasai bendanya terutama pada gadai di Indonesia

mengalami pertumbuhannya yang tidak semarak. Dalam praktek perbankan di

Indonesia gadai sedikit sekali dipergunakan paling-paling hanya sebagai jaminan

tambahan di samping adanya jaminan pokok yang lain. Hal demikian terjadi terutama

karena terbentur pada syarat inbezitstelling pada gadai yang lama kelamaan dalam

perkembangan perkreditan di Indonesia dirasakan berat untuk dilaksanakan. Karena

debiturnya biasanya justru memerlukan benda jaminan itu untuk dipakai sehari-hari

dalam rumah atau untuk dipakai dalam pekerjaan atau perusahaan.127

(29)

Jaminan dengan tanpa menguasai bendanya dalam praktek banyak terjadi. Hal

ini menguntungkan debitur si pemilik benda jaminan yang justru memerlukan

memakai benda jaminan itu. Tetapi tidak gampang menjaminkan sesuatu benda

dengan tetap menguasai benda itu oleh debitur, tanpa menimbulkan resiko bahaya

bagi kreditur jika tidak disertai alat pengamanan yang ketat.128

Diluar negeri jaminan dengan menguasai bendanya umumnya juga berupa

gadai (pledge) dan hak retensi (possessory liens). Sedang yang tergolong jaminan

tanpa menguasai bendanya umumnya terdiri atas Mortgage, Chattel mortgage (Ship

mortgage dan Aircraft mortgage), Fidusia (fiduciary transfer of ownership), hire

purchase (sewa beli), preferential rights (hak privilege). Penggolongan dan jenis

jaminan seperti tersebut di atas dikenal hampir di semua negara hanya dengan

sedikit-sedikit variasi di sana-sini.129

B. Hubungan Hukum Antara Debitur Dan Bank Sebagai Kreditur Dengan

Developer

Dengan semakin berkembangnya era globalisasi, maka semakin berkembang

pula hubungan-hubungan perdata yang terjadi dalam masyarakat. Seiring

perkembangan era globalisasi tersebut, masyarakat juga mempunyai kesadaran lebih

tinggi dalam melakukan hubungan-hubungan hukumnya, baik hubungan hukum

dalam bisnis, perbankan, maupun dalam kegiatan-kegiatan sosial. Dalam melakukan

hubungan hukum tersebut sering kali melibatkan notaris dalam pembuatan akta

otentik maupun legalisasi akta dibawah tangan.130

128 Ibid 129

Ibid

(30)

Hubungan Hukum merupakan hubungan antara dua subjek hukum atau lebih

mengenai hak dan kewajiban di satu pihak berhadapan dengan hak dan kewajiban di

pihak yang lain. Subjek hukum dalam hal ini adalah debitur, bank selaku kreditur dan

developer.Adapun hubungan hukum diantara subjek hukum tersebut yakni:

1. Hubungan Hukum antara bank dengandeveloper

Dalam dunia perbankan yang semakin menunjukan kemajuannya terutama

dalam hal pemberian fasilitas kredit baik kredit investasi, modal kerja maupun

pemilikan rumah. Dalam pemberian kredit pemilikan rumah atau dikenal KPR,

perbankan kebanyakan bekerja-sama dengan developer-developer dimana bank dan

developer sama-sama memiliki kepentingan masing-masing sehingga hubungan

hukum diantara mereka perlu dilindungi untuk mencegah terjadinya kerugian

masing-masing pihak.

Adapun hubungan hukum antara developer dengan bank untuk menjamin

berlangsungnya kerja-sama tersebut berjalan lancar tanpa merugikan hak-hak

masing-masing pihak diperlukan suatu bukti yang mengikat kedua belah pihak. Bank merasa

perlu mengikat developerdengan akta otentik yang dibuat oleh notaris. Adapun akta

otentik yang dibuat bank dengandeveloper adalah Akta Perjanjian Kerja Sama. Ada

juga bank pada waktu yang bersamaan dengan dibuatnya Akta Perjanjian Kerja Sama

juga membuat Akta Buy Back Guarantee dimana bank tidak mau dirugikan dan

dipusingkan apabila suatu saat debitur wanprestasi.131

131Wawancara dengan Notaris Tjong, Deddy Iskandar, Notaris di Kota Medan, tanggal 06

(31)

Akta Perjanjian Kerja Sama yang dibuat bank dengan developer menunjukan

kerelaaan kedua belah pihak untuk saling terikat dalam melaksanakan hak dan

memenuhi kewajiban masing-masing pihak. Tapi dalam prakteknya, pembuatan akta

perjanjian kerja sama lebih menguntungkan pihak bank dibadingkan pihakdeveloper

karena biasanya draft perjanjian kerja sama tersebut berasal dari bank yang

bersangkutan yang dituangkan notaris dalam bentuk akta otentik132 meskipun pihak

bank mengklaimdraft tersebut telah didiskusikan sebelumnya dengan developer dan

sesuai dengan kesepakatan diantara mereka.133

PT. Bank X hanya mengikatdeveloperdengan akta perjanjian kerja-sama tapi

tidak membuat aktaBuy Back Guarantee,dan di dalam klasula akta perjanjian kerja

sama tidak tersirat keharusan developer membeli kembali bangunannya jika debitur

wanprestasi. Akan tetapi dicantumkan keharusandeveloper melunasi seluruh hutang

debitur jika debitur wanprestasi. Walaupun PT. Bank X hanya mengikat developer

dengan 1 (satu) akta perjanjian kerja sama tapi mencakup semua celah yang mungkin

bisa merugikan bank.134Tetapi kebanyakan bank mengikatdeveloperdengan 2 (dua)

akta tersebut yaitu akta kerja sama dan aktabuy back guaranteediesebabkan dengan

dibuatnya akta buy back guarantee menunjukan bank tidak menginginkan haknya

untuk memperoleh kembali kredit yang telah dicairkan kepada debitur untuk

developer tidak dapat ditagih kembali. Maka dengan dibuatnya akta buy back

132 Ibid

(32)

guarantee, developer menjadi terikat untuk membeli kembali unit rumah yang telah

dijual kepada debitur jika suatu saat debitur wanprestasi.

Selain kewajiban developer membeli kembali bangunannya jika debitur

wanprestasi, bank dalam memberikan kredit juga melakukan seleksi terhadap calon

debitur yang telah disetujui developer.135 Apabila bank menolak memberikan kredit

terhadap debitur/ pembeli yang ditunjuk developer karena dianggap kurang sesuai

dengan pertimbangan bank maka developer tidak mempunyai hak untuk menuntut

bank. Bank dalam hal ini mempunyai wewenang yang sangat besar dalam akta

perjanjian kerja sama tersebut.136 Sebagaimana pada pasal 1 akta Perjanjian Kerja

Sama berbunyi :

“Pihak Kedua menyetujui, dengan memperhatikan tersedianya dana pada Pihak Kedua untuk memberikan Fasilitas KPR kepada Pembeli yang direkomendasikan oleh Pihak Pertama dan telah memenuhi syarat-syarat dan ketentuan-ketentuan pemberian Fasilitas KPR yang berlaku pada Pihak Kedua, dengan ketentuan bahwa keputusan mengenai persetujuan atau penolakan terhadap setiap permohonan Fasilitas KPR yang diajukan oleh Pembeli dalam rangka kerja sama berdasarkan Perjanjian Kerja Sama sepenuhnya berada pada Pihak Kedua.”

Pasal tersebut menunjukan bahwa Pihak Pertama (developer) mempunyai

batasan dalam penunjukan calon debitur kepada bank. Apabila permohonan KPR

calon debitur ditolak oleh bank maka developer harus menerima keptusan tersebut.

Padahal dengan adanya klausula pada pasal 6 yang menyatakan “developer

bertanggung jawab atas segala kerugian dan wajib membayar lunas segala hutang

debitur apabila debitur wanprestasi” maka bank tidak perlu takut akan tidak tertagih

kembali kredit yang telah dicairkan tersebut.

(33)

Selain itu dapat dalam pasal 7 ayat 2 akta Perjanjian Kerja Sama terlihat

dominannya bank dalam mengikatdeveloper,dimana berbunyi :

“2.Pengakhiran Perjanjian Kerja Sama tidak menghapuskan kewajiban-kewajiban Para Pihak yang tidak/belum dilaksanakan pada saat berakhirnya Perjanjian Kerja Sama yang berkenaan dengan Fasilitas KPR yang telah-diberikan kepada Pembeli, dan oleh karenanya pihak yang masih mempunyai kewajiban yang tidak/belum dilaksanakan terhadap pihak lainnya, tetap terikat-atas pelaksanaan kewajiban-kewajiban yang diperjanjikan dalam Perjanjian Kerja Sama.”

Pasal tersebut menunjukan bahwa Bank menginginkan developertetap terikat

dengan tanggung jawabnya walaupun kerja sama diantara mereka telah berakhir.

Bank tidak mau dirugikan dalam hal apapun dengan dibuatnya akta perjanjian kerja

sama tersebut.

Walaupun demikian hak developerjuga tidak dihilangkan, dimana pada pasal

4 ayat 3, developer berhak mendapat pembayaran secara sekaligus atau 100 %

(seratus persen) dari nilai kredit setelah penandatanganan akta jual beli oleh debitur.

Pasal tersebut menunjukan bahwa developer tidak dirugikan dalam hal pembayaran

karena bank langsung mencairkan kredit yang dimhonkan debitur kepada bank secara

penuh kepada developer, sehingga developer dapat melaksanakan kewajibannya

dalam pembangunan bangunan tersebut.

2. Hubungan hukum antara debitur dengan bank dandeveloper

Dalam konteks ini, debitur adalah orang yang membeli rumah dari developer

dan persetujuan kreditnya telah disetujui oleh PT. Bank X. Sebelum pencairan kredit

dilakukan oleh bank, bank mengikat debitur dengan akta perjanjian kredit dan akta

(34)

(SKMHT) dan Akta Pemberian Hak Tanggungan (APHT). Setelah penandatangan

akta-akta tersebut, bank mencairkan seluruh nilai kredit yang dimohonkan debitur dan

disetujui oleh bank kepada debitur dan dipindah-bukukan ke rekeningdeveloper.

Di samping itu, sebelum penandatanganan akta-akta tersebut, debitur dan developer

jauh-jauh hari sebelumnya telah melakukan penandatanganan akta pengikatan jual

beli tidak lunas tapi setelah kredit disetujui oleh bank maka akta pengikatan jual beli

tidak lunas dibatalkan kemudian dibuat akta jual beli supaya sertifikat bisa

dibalik-namakan ke atas nama debitur dan menjadi jaminan PT. Bank X.137 Selain

penadatanganan akta jual beli, debitur dalam hal ini mengikat developer dengan

sebuah addendum perjanjian yang dibuat dalam bentuk dibawah tangan dan telah

disepakati oleh kedua belah pihak kemudian dilegalisasi oleh notaris.

Adapun hak dan kewajiban yang tercantum dalam perjanjian tersebut

yakni:138

a. syarat-syarat pembangunan139;

Dalam pasal ini terlihat bahwa kewajibandeveloperuntuk membangun bangunan dan menambah luas bangunan dari bangunan standartnya.

b. jangka waktu penyelesaian bangunan140;

Kewajiban pihakdeveloper menyelesaikan dan menyerahkan bangunan tersebut kepada debitur sesuai tanggal yang telah ditentukan.

c. tata-cara pembayaran dan denda keterlambatan pembayaran141;

Pasal tersebut menguraikan kewajiban debitur dalam melaksanakan pembayaran kepadadeveloperdalam beberapa tahap yakni ;

a. sebesar Rp.320.000.000,- (tiga ratus dua puluh juta rupiah) pada waktu penanda-tanganan surat ini;

137 Wawancara dengan Notaris Tjong, Deddy Iskandar, Notaris di Kota Medan, tanggal 06

Januari 2015

138Surat Perjanjian antara

developerdengan debitur.

139Pasal 1 Surat Perjanjian antara

developerdengan debitur.

(35)

b. sebesar Rp.2.200.000.000,- (dua milyar dua ratus juta rupiah) pada waktu pencairan fasilitas kredit yang dimohon oleh Pihak Pertama dari Bank tersebut;

c. sebesar Rp.1.280.000.000,- (satu milyar dua ratus delapan puluh juta rupiah) akan dicicil oleh Pihak Pertama sebanyak 15 (lima belas) kali cicilan dengan memakai Bilyet Giro Bank Permata, Cabang Iskandar Muda Medan.

Adapun hakdeveloperdalam hal ini dimanadevelopermendapat jaminan bahwa 15 (lima belas) lembar bilyet giro yang telah diserahkan oleh debitur kepada

developer dapat dicairkan oleh developer tepat pada waktunya, apabila

developertidak dapat mencairkan bilyet giro tersebut tepat pada waktunya, maka debitur dikenakan olehdevelopersesuai suku bunga bank yakni 1‰ / bulan (satu permil per bulan).

d. denda keterlambatan penyelesaiaan bangunan142;

Pasal tersebut menunjukan kewajibandeveloper untuk membayar denda sebesar Rp.1.000.000,- kepada debitur jika tidak mampu menyerahkan bangunan tepat pada waktunya dan juga hak debitur untuk menunjuk kontraktor laen untuk melanjutkan pembangunan bangunan tersebut setelah 30 hari sejak developer

lalai.

e. tanggung jawab developer terhadap bangunan yang dibangun143;

Pasal tersebut mewajibkandeveloperuntuk memberikan jaminan kepada debitur bahwasannya bangunan tersebut bebas dari kerusakan untuk jangka waktu 3 bulan sejak tanggal serah terima.

f. penyelesaian sengketa144

Adapun ketentuan dalam pasal terakhir ini yakni hak masing-masing pihak melakukan gugatan ke pengadilan apabila mengalami kebuntuan dalam jalur musyawarah.

Berdasarkan uraian tersebut diatas, terlihat adanya hubungan timbal balik

antara debitur dandeveloperdalam perjanjian yang dibuat dan masing-masing pihak

memperoleh hak dan kewajibannya walaupun hak debitur berupa pegangan jaminan

tidak diuraikan dalam perjanjian. Walaupun demikian, perjanjian tersebut dianggap

perlu oleh debitur karena dianggap memberikan kepastian hukum akan

terselesaikannya bangunan tersebut.

142Pasal 6 Surat Perjanjian antara

developerdengan debitur.

Referensi

Dokumen terkait

Tidak ada kata lain yang bisa penulis ucapakan selain rasa Syukur dan terima kasih penulis kepada sang Juru Selamat penulis, Guru dari segala Guru, dan Pribadi yang selalu ada

(5) Belum optimalnya pembinaan sumber daya manusia (tokoh kesenian, pelaku seni lainnya) dalam upaya pengembangan seni budaya di Kabupaten Grobogan.. (6) Belum optimalnya

Pengeplotan ini adalah untuk memvisualisasikan hasil pengolahan data, yanag pertama yaitu nilai anomali TEC di setiap stasiun pengamatan, dan yang kedua adalah posisi

Oleh karena itu penelitian selanjutnya disarankan untuk melibatkan sempel lainnya seperti , auditor dan dosen jurnal ini juga hanya fokus membahas PSAK No.55(revisi 2006)

Melihat pada konsepsi yang dipunyai oleh agama Islam, maka agama Islam memberikan pedoman hidup yang sesuai dengan waktu monokronik , yang menganggap waktu sebagai berjalan lurus

Pihak manajemen Citilink perlu terus memotivasi personilnya untuk dapat memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan, sehingga diharapkan pelanggan dapat terus menggunakan

Dalam kaitannya dengan anak diluar perkawinan, maka perwaliannya akan dipegang oleh ibu berdasarkan pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang

Komputer adalah salah satu dari produk teknologi yang selalu mengalami perkembangan, salah satu dari bagian tersebut adalah teknologi informasi. Dimana teknologi