PERATURAN
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 9/PERMEN-KP/2015
TENTANG
STANDAR KOMPETENSI KERJA KHUSUS PENGELOLAAN PERIKANAN DENGAN PENDEKATAN EKOSISTEM
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa pembangunan sektor kelautan dan perikanan di Indonesia melalui pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem memerlukan standar kompetensi kerja khusus; b. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana
dimaksud pada huruf a, perlu menetapkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan tentang Standar Kompetensi Kerja Khusus Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan Ekosistem;
Mengingat : 1. Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 118, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4433), sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2009 Nomor 154, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5073);
2. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 84, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4739 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 2, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5490);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 60 Tahun 2007 tentang Konservasi Sumber Daya Ikan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 134, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4779);
4. Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan, Pelatihan, dan Penyuluhan Perikanan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 174, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5564);
5. Peraturan Presiden Nomor 24 Tahun 2010 tentang Kedudukan, Tugas dan Fungsi Kementerian Negara, serta Susunan Organisasi, Tugas dan Fungsi Eselon I Kementerian Negara sebagaimana telah beberapa kali diubah, terakhir dengan Peraturan Presiden Nomor 80 Tahun 2014 (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2014 Nomor 189);
6. Peraturan Presiden Nomor 7 Tahun 2015 tentang Organisasi Kementerian Negara (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2015 Nomor 8); 7. Keputusan Presiden Nomor 121/P Tahun 2014 tentang Pembentukan Kementerian dan Pembentukan Kabinet Kerja 2014-2019;
8. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.15/MEN/2010 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan;
9. Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.25/MEN/2012 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan di Lingkungan Kementerian Kelautan dan Perikanan (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 1); 10. Peraturan Menteri Kelautan Perikanan Nomor 18/PERMEN-KP/2014 Tentang Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia (Berita Negara Republik Indonesia Tahun 2013 Nomor 503);
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN TENTANG STANDAR KOMPETENSI KERJA KHUSUS PENGELOLAAN PERIKANAN DENGAN PENDEKATAN EKOSISTEM.
Pasal 1
Standar Kompetensi Kerja Khusus Pengelolaan Perikanan Dengan Pendekatan Ekosistem dimaksudkan sebagai acuan bagi pengembangan dan penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan berbasis kompetensi kerja pada bidang pengelolaan perikanan.
Pasal 2
Standar Kompetensi Kerja Khusus Pengelolaan Perikanan Dengan Pendekatan Ekosistem sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 3
Standar Kompetensi Kerja Khusus Pengelolaan Perikanan Dengan Pendekatan Ekosistem berlaku untuk pengelolaan perikanan di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
Pasal 4 Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta pada tanggal 21 April 2015
MENTERI KELAUTAN DAN PERIKANAN REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
SUSI PUDJIASTUTI Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 5 Mei 2015
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
ttd.
YASONNA H. LAOLY
REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 9/PERMEN-KP/2015 TENTANG
STANDAR KOMPETENSI KERJA KHUSUS PENGELOLAAN PERIKANAN DENGAN PENDEKATAN EKOSISTEM
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) merupakan syarat mutlak untuk melakukan pembangunan sektor kelautan dan perikanan di Indonesia. Secara formal, pihak Kementerian Kelautan Perikanan (KKP) memiliki mekanisme dalam pengembangan sumber daya manusia. Formalitas dalam bentuk Peraturan Menteri ini merupakan mekanisme yang akan mengatur standar kemampuan SDM yang melakukan pekerjaan pada bidang kelautan perikanan.
Salah satu bidang dalam pengelolaan kelautan perikanan yang membutuhkan kompetensi khusus dalam implementasinya adalah pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem Ecosystem Approach to Fisheries Management). Kebutuhan SDM bidang ini disebabkan oleh perubahan paradigma pengelolaan perikanan yang meletakkan pada pendekatan parsial misalnya untuk mencapai tujuan ekologi atau tujuan ekonomi saja. Hal ini tidak relevan lagi dan tidak dapat digunakan lagi. Salah satu pendekatan yang saat ini dipandang penting adalah pendekatan ekosistem di mana tujuan perikanan dicapai dengan melihat perikanan sebagai sebuah kesatuan sosial ekologis, di mana ekosistem perairan dengan segenap komponennya menjadi perhatian utama tanpa mengurangi perhatian terhadap pencapaian tujuan sosial ekonomi.
Menurut FAO (2003), pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem (Ecosystem Approach to Fisheries Management) merupakan suatu pendekatan yang berusaha untuk menyeimbangkan tujuan sosial yang beragam, dengan memperhatikan pengetahuan dan ketidakpastian yang terdapat pada sumberdaya biotik, abiotik dan manusia sebagai komponen ekosistem dan interaksi mereka dan menerapkan pendekatan yang terintegrasi untuk perikanan di dalam batas-batas ekologis yang berarti. Implementasi pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem di Indonesia menggunakan pendekatan indikator yang digunakan sebagai alat monitoring dan evaluasi mengenai sejauh mana pengelolaan perikanan sudah menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan berbasis ekosistem.
Pengelolaan perikanan merupakan sebuah kewajiban seperti yang telah diamanatkan oleh Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan kembali pada perbaikannya, Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009. Secara alamiah, pengelolaan sistem perikanan tidak dapat dilepaskan dari tiga dimensi yang tidak terpisahkan satu sama lain yaitu: (1) dimensi sumberdaya perikanan dan ekosistemnya; (2) dimensi pemanfaatan sumberdaya perikanan untuk kepentingan sosial ekonomi masyarakat; dan (3) dimensi kebijakan perikanan itu sendiri.
Dalam konteks ini, pengelolaan perikanan yang tujuan ultimatnya adalah memberikan manfaat sosial ekonomi yang optimal bagi masyarakat tidak dapat dilepaskan dari dinamika ekosistem yang menjadi media hidup bagi sumberdaya ikan itu sendiri.
Implementasi pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem memerlukan perangkat indikator yang dapat digunakan sebagai alat monitoring dan evaluasi mengenai sejauh mana pengelolaan perikanan sudah menerapkan prinsip-prinsip pengelolaan berbasis ekosistem. Selanjutnya, dalam konteks manajemen perikanan sebuah indikator dikatakan sebagai sebuah indikator yang baik apabila memenuhi beberapa unsur seperti: (1) menggambarkan daya dukung ekosistem; (2) relevan terhadap tujuan dari ko-manajemen; (3) mampu dimengerti oleh seluruh stakeholders; (4) dapat digunakan dalam kerangka monitoring dan evaluasi;
(5) long-term view; dan (5) menggambarkan keterkaitan dalam sistem
ko-manajemen perikanan.
Pengelolaan perikanan di Indonesia dengan kompleksitas masalah dan bersifat lintas sektoral, sangat membutuhkan kemampuan sumberdaya manusia dengan kompetensi multi dimensi dalam bidang perikanan agar bisa melakukan pengelolaan dengan mempertimbangkan semua aspek ekosistem. Dalam rangka pengembangan dan penyelenggaraan Sumber Daya manusia (SDM) kelautan perikanan berbasis kompetensi kerja pada bidang pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem di Indonesia, perlu disusun Standar Kompetensi Kerja Khusus.
Guna mendorong dan merealisasikan SDM yang kompeten tersebut harus dipersiapkan dan dirancang standar kerja SDM pelaku utama secara sistematis yang dijadikan standar bagi sertifikasi/uji kompetensinya, selanjutnya menjadi acuan program pelatihan beserta perangkat pendukungnya (kurikulum, modul, materi, tata penyelenggaraan, sarana, ketenagaan). Dengan standar tersebut, akan dihasilkan sumber daya manusia yang handal untuk mengelola secara profesional dan kredibel kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, sehingga amanat Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan kembali pada perbaikannya, Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 dapat dilaksanakan untuk mewujudkan pengelolaan yang efektif. Upaya untuk mewujudkan amanat tersebut memerlukan kerja sama di antara kalangan praktisi perikanan, pemanfaat sumberdaya ikan dan kelautan, akademisi pendidik, pelatih dan peneliti, perekayasa, dunia usaha/industri untuk merumuskan standar kompetensi yang bersifat nasional.
Standar Kompetensi Kerja Khusus Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan Ekosistem merupakan rincian kemampuan yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang harus dimiliki setiap pejabat yang bertanggungjawab dan/atau mereka yang terlibat memfasilitasi proses penyusunan rencana pengelolaan, pelaksana pengelolaan, dan evaluasi pengelolaan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Standar Kompetensi Kerja Khusus Pengelolaan Perikanan Dengan Pendekatan Ekosistem ini diperlukan untuk mewujudkan pengelolaan perikanan melalui perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi pengelolaan perikanan. Institusi pelaksana amanat konservasi perairan ini mencakup Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah, Peneliti, Akademisi, Lembaga Swadaya Masyarakat, Kelompok masyarakat, Perusahaan atau institusi yang diberi kewenangan.
Keberadaan Standar Kompetensi Kerja Khusus Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan Ekosistem akan memudahkan perencanaan SDM untuk setiap institusi atau stakeholder tersebut. Sesuai dengan kondisi sumberdaya yang dimiliki dan visi Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) yang dibangun antara lain mewujudkan tercapainya pengelolaan perikanan berkelanjutan di Indonesia, setiap institusi atau stakeholder tersebut akan melakukan berbagai kegiatan terkait dalam Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP).
B. Pengertian
1. Perikanan adalah semua kegiatan yang berhubungan dengan pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya ikan dan lingkungannya mulai dari praproduksi, produksi, pengolahan sampai dengan pemasaran yang dilaksanakan dalam suatu sistem bisnis perikanan. 2. Ikan adalah segala jenis organisme yang seluruh atau sebagian dari
siklus hidupnya berada di dalam lingkungan perairan.
3. Pengelolaan Perikanan adalah semua upaya, termasuk proses yang terintegrasi dalam pengumpulan informasi, analisis, perencanaan, konsultasi, pembuatan keputusan, alokasi sumber daya ikan, dan implementasi serta penegakan hukum dari peraturan perundang-undangan di bidang perikanan, yang dilakukan oleh pemerintah atau otoritas lain yang diarahkan untuk mencapai kelangsungan produktivitas sumberdaya hayati perairan dan tujuan yang telah disepakati.
4. Ekosistem adalah interaksi dan interelasi antara makhluk hidup dengan lingkungannya.
5. Pendekatan Ekosistem adalah upaya untuk melibatkan komponen ekosistem dengan suatu proses pengambilan keputusan terhadap sumberdaya, ekosistem dan lingkunganya.
6. Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan Ekosistem (Ecosystem Approach to Fisheries Management) selanjutnya disebut EAFM adalah sebuah pendekatan pengelolaan yang menitikberatkan pada pentingnya keterkaitan (konektivitas) antara sumberdaya ikan dan komponen ekosistem perairan termasuk aspek sosial, ekonomi, dan kelembagaan.
7. Konektivitas adalah keterkaitan fungsional antar komponen EAFM yang turut mempertimbangkan prinsip kehati-hatian (precautionary) dan ketidakpastian (uncertainty).
8. Keterkaitan Fungsional adalah hubungan timbal balik antara komponen EAFM yang bersifat saling mempengaruhi dan tidak tergantikan (irreversible).
9. Prinsip kehati-hatian (precautionary) adalah sebuah pendekatan yang mempertimbangkan resiko dari sebuah aksi pengelolaan.
10. Prinsip ketidakpastian (uncertainty) adalah prinsip yang mempertimbangkan sifat ekosistem yang dinamis dan tidak dapat diprediksi.
11. Unit Pengelolaan perikanan (Fisheries Management Unit) yang selanjutnya disebut FMU adalah satuan pengelolaan perikananyang didefinisikan menurut ruang dan spesies sumberdaya ikan, dimana setiap unit pengelolaan perikanan memiliki unit pengelola perikanan.
12. Unit pengelolaan perikanan menurut ruang adalah satuan pengelolaan perikanan yang didefinisikan berdasarkan ruang ekologis atau administratif.
13. Unit pengelolaan perikanan menurut spesies sumberdaya ikan adalah satuan pengelolaan perikanan yang didefinisikan berdasarkan unit stok spesies dan atau grup spesies tertentu.
14. Wilayah Pengelolaan Perikanan atau WPP (Fisheries Management Area/FMA) adalah merupakan wilayah pengelolaan perikanan untukpenangkapan ikan, pembudidayaan ikan, konservasi, penelitian, danpengembangan perikanan yang meliputi perairan pedalaman,perairan kepulauan, laut teritorial, zona tambahan, dan Zona EkonomiEksklusif Indonesia.
15. Unit pengelola perikanan adalah satuan kelembagaan yang merencanakan, melaksanakan, dan mengevaluasi pengelolaan perikanan pada unit pengelolaan perikanan tertentu.
16. Domain adalah kelompok dari berbagai indikator yang saling berinteraksi membentuk karakteristik tertentu.
17. Domain sumberdaya ikan adalah kumpulan dari berbagai indikator sumberdaya ikan yang tergabung dalam suatu kelompok tertentu dan dapat saling berinteraksi.
18. Domain habitat adalah kumpulan dari berbagai indikator habitat yang tergabung dalam suatu kelompok tertentu dan dapat saling berinteraksi.
19. Domain teknik penangkapan adalah kumpulan dari berbagai indikator penangkapan ikan yang tergabung dalam suatu kelompok tertentu dan dapat saling berinteraksi.
20. Domain sosial adalah kumpulan dari berbagai indikator sosial yang tergabung dalam suatu kelompok tertentu dan dapat saling berinteraksi.
21. Domain ekonomi adalah kumpulan dari berbagai indikator ekonomi yang tergabung dalam suatu kelompok tertentu dan dapat saling berinteraksi.
22. Domain kelembagaan adalah kumpulan dari berbagai indikator kelembagaan yang yang tergabung dalam suatu kelompok tertentu dan dapat saling berinteraksi.
23. Indikator adalah nilai yang menjadi acuan (reference point) untuk menunjukkan karakteristik domain.
24. Indikator kunci adalah indikator ranking pertama dan memiliki bobot penilaian paling tinggi dalam suatu domain.
25. Parameter adalah variabel yang digunakan untuk mengukur kualitas indikator.
26. Pemantauan Kapal Penangkapan dan Pengangkutan Ikan adalah kegiatan pemantauan secara langsung di atas kapal penangkap ikan dan kapal pengangkut ikan dengan melakukan pencatatan terhadap ikan hasil tangkapan, daerah penangkapan, waktu penangkapan ikan, jenis alat penangkapan ikan dan alat bantu penangkapan ikan, termasuk kegiatan pemindahan ikan hasil tangkapan dari kapal penangkap ikan ke kapal penangkap ikan dan/atau ke kapal pengangkut ikan yang diperbolehkan
C. Penggunaan Standar Kompetensi Kerja Khusus EAFM
Standar Kompetensi Kerja Khusus EAFM dibutuhkan oleh beberapa lembaga/institusi yang berkaitan dengan pengembangan sumber daya manusia, sesuai dengan kebutuhan masing-masing, untuk:
1. kementerian/lembaga pemerintah pengelolaan perikanan: a.Kementerian Kelautan dan Perikanan;
b.Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi;
c. Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota; 2. lembaga pengelolaan perikanan lainnya:
a.lembaga pendidikan kelautan dan perikanan; b.lembaga pelatihan kelautan dan perikanan; c. LSM/NGO;
d.kelompok masyarakat; e. profesional;
3. institusi pendidikan, pelatihan, dan penyuluhan;
4. dunia usaha/industri dan penggunaan tenaga kerja; dan 5. institusi penyelenggara pengujian dan sertifikasi.
D. Komite Standar Kompetensi
1. Komite Standar Kompetensi Kerja Nasional pada Kegiatan Penyusunan Rancangan Standar Kompetensi Kerja Khusus kategori pertanian, kehutanan dan perikanan golongan pokok perikanan golongan perikanan tangkap sub golongan jasa penangkapan ikan di laut kelompok usaha pengelolaan perikanan dengan pendekatan ekosistem (EAFM).
Komite Standar Kompetensi Bidang Kelautan dan Perikanan dibentuk berdasarkan Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 17/KEPMEN-KP/2013 tanggal 20 Mei 2013.
Susunan Komite Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (RSKKNI) sebagai berikut:
NO NAMA JABATAN INSTANSI/INSTITUSI JABATAN DALAM PANITIA/TIM 1. Kepala Badan
Pengembangan SDM KP
Badan Pengembangan SDM KP
Pengarah
2. Kepala Pusat Pelatihan KP
Badan Pengembangan SDM KP
Ketua 3. Kepala Bidang
Kelembagaan dan Ketenagaan, Badan Pengembangan SDM KP
Badan Pengembangan SDM KP
Sekretaris
4. Sekretaris Badan Pengembangan SDM KP
Badan Pengembangan SDM KP
Anggota
NO NAMA JABATAN INSTANSI/INSTITUSI JABATAN DALAM PANITIA/TIM 5. Sekretaris Ditjen
Perikanan Tangkap 7. Direktur Pengolahan
Hasil
Ditjen Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perikanan
Anggota
8. Direktur Konservasi Kawasan dan Jenis
10. Sekretaris Badan Penelitian dan
11. Sekretaris Badan Karantina Ikan,
13. Dekan Fakultas Ilmu Kelautan dan
Perikanan
Institut Pertanian Bogor
Anggota
14. Dekan Fakultas Teknologi Kelautan
Institut Teknologi Surabaya
Anggota 15. Dekan Fakultas
Perikanan dan Ilmu Kelautan
Universitas Brawijaya Anggota
16. Ketua Sekolah Tinggi Perikanan
Sekolah Tinggi Perikanan
Anggota 17. Direktur Lembaga
Sertifikasi Profesi
NO NAMA JABATAN INSTANSI/INSTITUSI JABATAN DALAM PANITIA/TIM 20. Ketua Kesatuan
Pelaut Perikanan Indonesia
Kesatuan Pelaut Perikanan Indonesia
Anggota
21. Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia
Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia
Anggota
22. Ketua Asosiasi Pengusaha Rumput
23. Ketua Asosiasi Tuna Long Line Indonesia
Asosiasi Tuna Long Line Indonesia
Anggota
24. Ketua Masyarakat Akuakultur
Indonesia
Masyarakat
Akuakultur Indonesia
Anggota
25. Ketua Masyarakat Perikanan
Nusantara
Masyarakat
Perikanan Nusantara
Anggota
2. Tim Perumus RSKKK.
Susunan tim perumus dibentuk berdasarkan surat keputusan Ketua
Komite Standar Kompetensi Bidang Kelautan dan Perikanan KEP.No: KEP.05/KOMITE-KP/2013 tanggal 25 November 2013.
Susunan tim perumus sebagai berikut:
NO NAMA INSTANSI JABATAN DALAM 2. Bambang Murtiyoso G,
A.Pi, MM 8. Ir. Zarochman, M.Si BBPPI Semarang Anggota 9. Imam Mustofa Z, S.T,
M.Si
WWF-Indonesia Anggota 10. Dr. Suharyanto STP Jakarta Anggota
NO NAMA INSTANSI JABATAN DALAM PANITIA 11. Dr. Sonny
Koeshendrajana
BBRSE KP – Balitbang KP
Anggota 12. M. Yusuf, S.Pi, M.Si WWF-Indonesia Anggota 13. Dr. Zahri Nasution BBRSE KP –
Balitbang KP
Anggota 14. Jimmi, S.Pi, M.Si Direktorat SDI,
DJPT
Anggota 15. Dr. Yon Vitner FPIK IPB /PKSPL
IPB
Anggota 16. Aris Budiarto, S.Pi Direktorat SDI,
DJPT
Anggota 17. Priyantini Dewi, MM Pusat Pelatihan
KP, BPSDM KP
Anggota 18. Praatma Prihadi, A.Pi,
MM
Pusat Pelatihan KP, BPSDM KP
Anggota 19. Ir. Herry Maryuto,
MMA
LSP Kelautan dan Perikanan
Anggota 20. Setia Dharma Pusat Pelatihan
KP, BPSDM KP
Anggota
3. Tim Verifikasi RSKKK
Susunan tim verifikasi dibentuk berdasarkan surat keputusan Ketua
Komite Standar Kompetensi Bidang Kelautan dan Perikanan KEP.No: KEP.06/KOMITE-KP/2013 tanggal 25 November 2013. Susunan
tim verifikator sebagai berikut:
NO NAMA INSTANSI
JABATAN DALAM PANITIA 1. Lusia Dwi Hartiningsih,
A.Pi, M.Si
BPSDM KP Ketua
2. Ady Sabana, S.Pi, M.Sc BPSDM KP Sekretaris 3. Wahyu Jati
Purnaningsih, S. Sos, M. Si
BPSDM KP Anggota
4. Suhana, SE BPSDM KP Anggota
5. Evy Mariani, S.Pi BPSDM KP Anggota
6. Ratna Mariyana, A.Md BPSDM KP Anggota
BAB II
STANDAR KOMPETENSI KERJA KHUSUS A. Peta Kompetensi
TUJUAN UTAMA
FUNGSI KUNCI
FUNGSI UTAMA FUNGSI DASAR Melakukan
2. Mengidentifikasi isu dan permasalahan prioritas
3. Mengidentifikasi isu dan permasalahan prioritas sosial ekonomi, yang dibangun dari domain sosial dan ekonomi 4. Mengidentifikasi isu dan
permasalahan prioritas
TUJUAN UTAMA
FUNGSI KUNCI
FUNGSI UTAMA FUNGSI DASAR 3. Menyusun tujuan sosial
ekonomi, yang dibangun dari domain sosial dan ekonomi
1. Menyusun rencana aksi perbaikan pengelolaan
1. Menjelaskan peran dan tanggung jawab
pemangku kepentingan untuk pelaksanaan aksi perbaikan perikanan berdasarkan EAFM 2. Membangun komitmen
pemangku kepentingan
1. Menyediakan bahan aksi perbaikan perikanan
4. Melakukan monitoring pelaksanaan aksi
TUJUAN UTAMA
FUNGSI KUNCI
FUNGSI UTAMA FUNGSI DASAR 4. Menilai kinerja
pengelolaan perikanan dengan indikator pada domain habitat
5. Menilai kinerja
pengelolaan perikanan dengan indikator pada domain teknik
penangkapan 6. Menilai kinerja
pengelolaan perikanan dengan indikator pada domain sosial
7. Menilai kinerja
pengelolaan perikanan dengan indikator pada domain ekonomi
8. Menilai kinerja
pengelolaan perikanan dengan indikator pada domain kelembagaan Melakukan
desiminasi
laporan evaluasi EAFM
1. Melaporkan kesimpulan evaluasi agregat/
komposit semua domain EAFM
2. Merekomendasikan saran tindak lanjut EAFM
B. Pemetaan dan Kemasan Standar Kompetensi 1. Kerangka Kualifikasi Nasional Indonesia (KKNI)
Kategori : Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok : Perikanan
Golongan : Jasa Penangkapan Ikan di Laut
Sub Golongan : Jasa Produksi Penangkapan Ikan di Laut Nama Pekerjaan/Profesi : Pelaksana pada Kegiatan Perencanaan EAFM Area Pekerjaan : Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan
Ekosistem Jenjang KKNI : Sertifikat 2
No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi
1. A.03132.001.01 Menyiapkan bahan identifikasi ruang lingkup pengelolaan
2. A.03132.005.01 Menyiapkan data penentuan isu dan permasalahan berdasarkan domain EAFM 3. A.03132.009.01 Menyediakan data penyusunan tujuan
pengelolaan berdasarkan indikator kunci EAFM
Kategori : Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok : Perikanan
Golongan : Jasa Penangkapan Ikan di Laut
Sub Golongan : Jasa Produksi Penangkapan Ikan di Laut Nama Pekerjaan/Profesi : Pelaksana pada Kegiatan Pelaksanaan EAFM Area Pekerjaan : Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan
Ekosistem Jenjang KKNI : Sertifikat 2
No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi
1. A.03132.017.01 Menyediakan perikanan berdasarkan EAFM bahan aksi perbaikan
Kategori : Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok : Perikanan
Golongan : Jasa Penangkapan Ikan di Laut
Sub Golongan : Jasa Produksi Penangkapan Ikan di Laut Nama Pekerjaan/Profesi : Pelaksana pada Kegiatan Evaluasi EAFM Area Pekerjaan : Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan
Ekosistem Jenjang KKNI : Sertifikat 3
No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi
1. A.03132.021.01 Menyediakan data pemantauan kapal penangkap dan pengangkut ikan
2. A.03132.022.01 Menyiapkan data untuk menilai kinerja pengelolaan perikanan dengan indikator EAFM
Kategori : Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok : Perikanan
Golongan : Jasa Penangkapan Ikan di Laut
Sub Golongan : Jasa Produksi Penangkapan Ikan di Laut Nama Pekerjaan/Profesi : Teknisi pada Kegiatan Perencanaan EAFM Area Pekerjaan : Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan
Ekosistem Jenjang KKNI : Sertifikat 4
No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi
1. A.03132.002.01 Menentukan batas wilayah/kawasan unit EAFM
2. A.03132.003.01 Mengidentifikasi pemangku kepentingan dan keterkaitannya dalam EAFM
3. A.03132.004.01 Mengidentifikasi sumberdaya ikan dan lingkungan di wilayah EAFM
Kategori : Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok : Perikanan
Golongan : Jasa Penangkapan Ikan di Laut
Sub Golongan : Jasa Produksi Penangkapan Ikan di Laut Nama Pekerjaan/Profesi : Teknisi pada Kegiatan Perencanaan EAFM Area Pekerjaan : Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan
Ekosistem Jenjang KKNI : Sertifikat 5
No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi
1. A.03132.006.01 Mengidentifikasi isu dan permasalahan prioritas ekologi, yang dibangun dari domain sumberdaya ikan, habitat dan ekosistem, serta teknik penangkapan ikan 2. A.03132.007.01 Mengidentifikasi isu dan permasalahan
prioritas sosial ekonomi, yang dibangun dari domain sosial dan ekonomi
3. A.03132.008.01 Mengidentifikasi isu dan permasalahan prioritas kelembagaan, yang dibangun dari domain kelembagaan
Kategori : Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok : Perikanan
Golongan : Jasa Penangkapan Ikan di Laut
Sub Golongan : Jasa Produksi Penangkapan Ikan di Laut Nama Pekerjaan/Profesi : Teknisi pada Kegiatan Perencanaan EAFM Area Pekerjaan : Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan
Ekosistem Jenjang KKNI : Sertifikat 6
No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi
1. A.03132.013.01 Menyusun rencana aksi perbaikan pengelolaan perikanan secara kolaboratif 2. A.03132.014.01 Menyusun mekanisme aksi perbaikan
pengelolaan perikanan
Kategori : Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok : Perikanan
Golongan : Jasa Penangkapan Ikan di Laut
Sub Golongan : Jasa Produksi Penangkapan Ikan di Laut Nama Pekerjaan/Profesi : Teknisi pada Kegiatan Palaksanaan EAFM Area Pekerjaan : Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan
Ekosistem Jenjang KKNI : Sertifikat 6
No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi
1. A.03132.015.01 Menjelaskan peran dan tanggung jawab pemangku kepentingan untuk pelaksanaan aksi perbaikan perikanan berdasarkan EAFM
2. A.03132.018.01 Melakukan sosialisasi rencana kerja perbaikan perikanan berdasarkan EAFM 3. A.03132.019.01 Melakukan aksi perbaikan pengelolaan
perikanan
Kategori : Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok : Perikanan
Golongan : Jasa Penangkapan Ikan di Laut
Sub Golongan : Jasa Produksi Penangkapan Ikan di Laut Nama Pekerjaan/Profesi : Teknisi pada Kegiatan Evaluasi EAFM Area Pekerjaan : Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan
Ekosistem Jenjang KKNI : Sertifikat 6
No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi 1. A.03132.023.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan
dengan indikator pada domain sumberdaya ikan
2. A.03132.024.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan dengan indikator pada domain habitat 3. A.03132.025.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan dengan indikator pada domain teknik penangkapan
4. A.03132.026.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan dengan indikator pada domain sosial 5. A.03132.027.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan
dengan indikator pada domain ekonomi 6. A.03132.028.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan
dengan indikator pada domain kelembagaan
Kategori : Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok : Perikanan
Golongan : Jasa Penangkapan Ikan di Laut
Sub Golongan : Jasa Produksi Penangkapan Ikan di Laut Nama Pekerjaan/Profesi : Ahli pada Kegiatan Palaksanaan EAFM Area Pekerjaan : Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan
Ekosistem Jenjang KKNI : Sertifikat 7
No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi 1. A.03132.016.01 Membangun komitmen pemangku
kepentingan untuk pelaksanaan aksi perbaikan perikanan berdasarkan EAFM
2. A.03132.020.01 Melakukan monitoring pelaksanaan aksi perbaikan perikanan berdasarkan EAFM
Kategori : Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok : Perikanan
Golongan : Jasa Penangkapan Ikan di Laut
Sub Golongan : Jasa Produksi Penangkapan Ikan di Laut Nama Pekerjaan/Profesi : Ahli pada Kegiatan Perencanaan EAFM Area Pekerjaan : Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan
Ekosistem Jenjang KKNI : Sertifikat 8
No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi
1. A.03132.010.01 Menyusun tujuan ekologi, yang dibangun dari domain sumberdaya ikan, habitat dan ekosistem, serta teknik penangkapan ikan
2. A.03132.011.01 Menyusun tujuan sosial ekonomi, yang dibangun dari domain sosial dan ekonomi
3. A.03132.012.01 Menyusun tujuan kelembagaan, yang dibangun dari domain kelembagaan
Kategori : Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok : Perikanan
Golongan : Jasa Penangkapan Ikan di Laut
Sub Golongan : Jasa Produksi Penangkapan Ikan di Laut Nama Pekerjaan/Profesi : Ahli pada Kegiatan Evaluasi EAFM
Area Pekerjaan : Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan Ekosistem
Jenjang KKNI : Sertifikat 8
No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi
1. A.03132.029.01 Melaporkan kesimpulan evaluasi agregat/ komposit semua domain EAFM
2. A.03132.030.01 Merekomendasikan saran tindak lanjut EAFM
2. Pemaketan Berdasarkan Jabatan/Okupasi
Kategori : Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok : Perikanan
Nama Pekerjaan/Profesi : Perencana EAFM
Area Pekerjaan : Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan Ekosistem
No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi
1. A.03132.001.01 Menyiapkan bahan identifikasi ruang lingkup pengelolaan
2. A.03132.002.01 Menentukan batas wilayah/kawasan unit EAFM
3. A.03132.003.01 Mengidentifikasi pemangku kepentingan dan keterkaitannya dalam EAFM
No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi
4. A.03132.004.01 Mengidentifikasi sumberdaya ikan dan lingkungan di wilayah EAFM
5. A.03132.005.01 Menyiapkan data penentuan isu dan permasalahan berdasarkan domain EAFM 6. A.03132.006.01 Mengidentifikasi isu dan permasalahan
prioritas ekologi, yang dibangun dari domain sumberdaya ikan, habitat dan ekosistem, serta teknik penangkapan ikan 7. A.03132.007.01 Mengidentifikasi isu dan permasalahan
prioritas sosial ekonomi, yang dibangun dari domain sosial dan ekonomi
8. A.03132.008.01 Mengidentifikasi isu dan permasalahan prioritas kelembagaan, yang dibangun dari domain kelembagaan
9. A.03132.009.01 Menyediakan data penyusunan tujuan pengelolaan berdasarkan indikator kunci EAFM
10. A.03132.010.01 Menyusun tujuan ekologi, yang dibangun dari domain sumberdaya ikan, habitat dan ekosistem, serta teknik penangkapan ikan 11. A.03132.011.01 Menyusun tujuan sosial ekonomi, yang
dibangun dari domain sosial dan ekonomi 12. A.03132.012.01 Menyusun tujuan kelembagaan, yang
dibangun dari domain kelembagaan
13. A.03132.013.01 Menyusun rencana aksi perbaikan pengelolaan perikanan
14. A.03132.014.01 Menyusun mekanisme aksi perbaikan pengelolaan perikanan
Kategori : Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok : Perikanan
Nama Pekerjaan/Profesi : Pelaksana EAFM
Area Pekerjaan : Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan Ekosistem
No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi
1. A.03132.015.01 Menjelaskan peran dan tanggung jawab pemangku kepentingan untuk pelaksanaan aksi perbaikan perikanan berdasarkan EAFM
2. A.03132.016.01 Membangun komitmen pemangku kepentingan untuk pelaksanaan aksi perbaikan perikanan berdasarkan EAFM 3. A.03132.017.01 Menyediakan bahan aksi perbaikan
perikanan berdasarkan EAFM
4. A.03132.018.01 Melakukan sosialisasi rencana kerja perbaikan perikanan berdasarkan EAFM 5. A.03132.019.01 Melakukan aksi perbaikan pengelolaan
perikanan secara kolaboratif
6. A.03132.020.01 Melakukan monitoring pelaksanaan aksi perbaikan perikanan berdasarkan EAFM
Kategori : Pertanian, Kehutanan dan Perikanan Golongan Pokok : Perikanan
Nama Pekerjaan/Profesi : Evaluator EAFM
Area Pekerjaan : Pengelolaan Perikanan dengan Pendekatan Ekosistem
No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi
1. A.03132.021.01 Menyediakan data pemantauan kapal penangkap dan pengangkut ikan
2. A.03132.022.01 Menyiapkan data untuk menilai kinerja pengelolaan perikanan dengan indikator EAFM
3. A.03132.023.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan dengan indikator pada domain sumberdaya ikan
4. A.03132.024.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan dengan indikator pada domain habitat 5. A.03132.025.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan
dengan indikator pada domain teknik penangkapan
6. A.03132.026.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan dengan indikator pada domain sosial 7. A.03132.027.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan
dengan indikator pada domain ekonomi 8. A.03132.028.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan
dengan indikator pada domain kelembagaan
9. A.03132.029.01 Melaporkan kesimpulan evaluasi agregat/ komposit semua domain EAFM
10. A.03132.030.01 Merekomendasikan saran tindak lanjut EAFM
C. Daftar Unit Kompetensi
No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi
1. A.03132.001.01 Menyiapkan bahan identifikasi ruang lingkup pengelolaan
2. A.03132.002.01 Menentukan batas wilayah/kawasan unit EAFM
3. A.03132.003.01 Mengidentifikasi pemangku kepentingan dan keterkaitannya dalam EAFM
4. A.03132.004.01 Mengidentifikasi sumberdaya ikan dan lingkungan di wilayah EAFM
5. A.03132.005.01 Menyiapkan data penentuan isu dan permasalahan berdasarkan domain EAFM. 6. A.03132.006.01 Mengidentifikasi isu dan permasalahan
prioritas ekologi, yang dibangun dari domain sumberdaya ikan, habitat dan ekosistem, serta teknik penangkapan ikan.
7. A.03132.007.01 Mengidentifikasi isu dan permasalahan prioritas sosial ekonomi, yang dibangun dari domain sosial dan ekonomi
No. Kode Unit Judul Unit Kompetensi
8. A.03132.008.01 Mengidentifikasi isu dan permasalahan prioritas kelembagaan, yang dibangun dari domain kelembagaan
9. A.03132.009.01 Menyediakan data penyusunan tujuan pengelolaan berdasarkan indikator kunci EAFM
10. A.03132.010.01 Menyusun tujuan ekologi, yang dibangun dari domain sumberdaya ikan, habitat dan ekosistem, serta teknik penangkapan ikan. 11. A.03132.011.01 Menyusun tujuan sosial ekonomi, yang
dibangun dari domain sosial dan ekonomi 12. A.03132.012.01 Menyusun tujuan kelembagaan, yang
dibangun dari domain kelembagaan
13. A.03132.013.01 Menyusun rencana aksi perbaikan pengelolaan perikanan
14. A.03132.014.01 Menyusun mekanisme aksi perbaikan pengelolaan perikanan.
15. A.03132.015.01 Menjelaskan peran dan tanggung jawab pemangku kepentingan untuk pelaksanaan aksi perbaikan perikanan berdasarkan EAFM 16. A.03132.016.01 Membangun komitmen pemangku
kepentingan untuk pelaksanaan aksi perbaikan perikanan berdasarkan EAFM
17. A.03132.017.01 Menyediakan bahan aksi perbaikan perikanan berdasarkan EAFM
18. A.03132.018.01 Melakukan sosialisasi rencana kerja aksi perbaikan perikanan berdasarkan EAFM
19. A.03132.019.01 Melakukan aksi perbaikan pengelolaan perikanan secara kolaboratif
20. A.03132.020.01 Melakukan monitoring pelaksanaan aksi perbaikan perikanan berdasarkan EAFM
21. A.03132.021.01 Menyediakan data pemantauan kapal penangkap dan pengangkut ikan
22. A.03132.022.01 Menyiapkan data untuk menilai kinerja pengelolaan perikanan dengan indikator EAFM
23. A.03132.023.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan dengan indikator pada domain sumberdaya ikan
24. A.03132.024.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan dengan indikator pada domain habitat dan ekosistem 25. A.03132.025.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan dengan
indikator pada domain teknik penangkapan 26. A.03132.026.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan dengan
indikator pada domain sosial
27. A.03132.027.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan dengan indikator pada domain ekonomi
28. A.03132.028.01 Menilai kinerja pengelolaan perikanan dengan indikator pada domain kelembagaan
29. A.03132.029.01 Melaporkan kesimpulan evaluasi agregat/ komposit semua domain EAFM
30. A.03132.030.01 Merekomendasikan saran tindak lanjut EAFM
D. Unit-Unit Kompetensi
1. KODE UNIT : A.03132.001.01
JUDUL UNIT : Menyiapkan Bahan Identifikasi Ruang Lingkup Pengelolaan
DESKRIPSI UNIT : Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang dibutuhkan dalam menyiapkan bahan identifikasi ruang lingkup pengelolaan.
ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA 1. Menyediakan peta tata ruang
wilayah fungsional perikanan dan non perikanan
a. Sumber peta tata ruang wilayah diidentifikasi
b. Peta tata ruang wilayah disediakan
2. Mengumpulkan data dan informasi pendukung ruang lingkup pengelolaan
a. Sumber data dan informasi pendukung ruang lingkup pengelolaan diidentifikasi;
b. Data dan informasi pendukung ruang lingkup pengelolaan dikumpulkan
1) Batasan Variabel a) Konteks Variabel
Unit ini bermaksud untuk menyediakan peta tata ruang wilayah fungsional perikanan dan non perikanan, mengumpulkan data dan informasi pendukung ruang lingkup pengelolaan dalam rangka menyiapkan bahan identifikasi ruang lingkup pengelolaan.
b) Peralatan dan perlengkapan: (1). peralatan:
(a). komputer; (b). printer; dan
(c). penyimpanan data (file). (2). Perlengkapan
(a). data sekunder tentang dari statistik perikanan, dokumen renstra, dokumen zonasi, dokumen tata ruang, dan rencana pengelolaan kawasan, data social ekonomi, data kelembagaan;
(b). peta topografi; (c). peta korografi; (d). peta geografi; dan
(e). peta tematik (RBI, LPI, ekosistem pesisir dan laut, distribusi dan biologi spesies ikan, tata ruang wilayah, peta pelayaran, kawasan strategis nasional, peta ekoregion).
c) Peraturan yang diperlukan untuk menyiapkan bahan identifikasi ruang lingkup pengelolaan, meliputi:
(1). Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009;
(2). Undang-undang 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014;
(3). Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 Tentang Tata Ruang Wilayah; dan
(4). Peraturan Menteri Kelautan Perikanan Nomor 18/PERMEN-KP/2014 Tentang Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
d) Norma dan standar untuk menyiapkan bahan identifikasi ruang lingkup pengelolaan, meliputi:
(1). Norma:
(a). Jalur formal antar instansi;
(b). Prosedur permintaan data dari setiap instansi dan atau lembaga terkait;
(c). Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) tahun 1995 oleh FAO; dan
(d). Deklarasi Juanda 1981, Tentang Batas-Batas Laut Nusantara.
(2). Standar:
(a). Ruang lingkup pengelolaan berdasarkan tata ruang wilayah unit EAFM;
(b). FAO. 2012. EAF Toolbox: The ecosystem approach to fisheries. Rome
(c). Buku 1, Manual Pengkajian Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis. FAO, 1999;
(d). English, Elementary survei sampling;
(e). TERANGI (Indonesian Coral Reef Foundation). 2004. Panduan Dasar untuk Pengenalan Ikan Karang Secara Visual di Indonesia. Jakarta;
(f). Guidelines for the routine collection of capture fishery
data.FAO Fisheries Technical Paper.No. 382, Rome, FAO
1999;
(g). Quantitative Fisheries Stock Assessment. Choice, Dynamics
& Uncertainty. 1992. London, Chapman Hall;
(h). A Handbook for Rapid Appraisal of Fisheries Management
Systems (Version 1). 1996. ICLARM Education Series16;
dan
(i). Guidelines for designing data collection and sharing systems
for co-managed fisheries. FAO, 2005. Part 1: Practical guide.
2) Panduan Penilaian (a). Konteks penilaian:
(1). Kondisi penilaian merupakan aspek dalam penilaian yang sangat berpengaruh atas tercapainya kompetensi ini terkait dengan penyiapan bahan identifikasi ruang lingkup pengelolaan; dan
(2). Penilaian dapat dilakukan dengan cara : lisan, tertulis, demonstrasi/praktek, dan simulasi di workshop dan atau di tempat kerja dan atau di Tempat Uji Kompetensi (TUK).
(b). Persyaratan Kompetensi: Tidak ada
(c). Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan adalah: (1). Pengetahuan:
- membaca peta administrasi, peta tata ruang wilayah, peta ekoregion, peta rupa bumi, peta ekosistem pesisir dan laut, peta distribusi ikan, peta pelayaran, peta kawasan strategis nasional; dan
- pengumpulan data peta dan statistik dan data sekunder lainnya.
(2). Keterampilan:
- mampu mengoperasikan komputer tingkat dasar
- mampu melakukan pengumpulan data berdasarkan domain dan indikator EAFM
(d). Sikap kerja yang diperlukan:
(1). Rajin dalam pengumpulan data dan peta sesuai target; dan (2). Teliti dalam memastikan akurasi data yang diambil.
(e). Aspek kritis:
Kelengkapan bahan identifikasi yang menentukan proses analisis selanjutnya
2. KODE UNIT : A.03132.002.01
JUDUL UNIT : Menentukan Batas Wilayah/Kawasan Unit Pengelolaan EAFM
DESKRIPSI UNIT : Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang dibutuhkan dalam menentukan batas wilayah/kawasan unit pengelolaan EAFM.
ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA 1. Menentukan batasan wilayah
sistem sosial-ekologi unit pengelolaan
a. tipologi ekosistem diidentifikasi. b. batasan wilayah konektivitas
ekosistem dipetakan.
c. batasan wilayah konektivitas sistem sosial dipetakan.
2. Mengidentifikasi batasan wilayah
fungsional perikanan
(administratif, Geografis, Zona penangkapan ikan, WPP)
a. batasan wilayah administratif berdasarkan peta dijelaskan.
b. titik-titik koordinat wilayah geografis ditentukan.
c. batasan wilayah zona penangkapan ikan berdasarkan peraturan diidentifikasi.
d. batasan WPP dan sub-WPP berdasarkan peraturan diidentifikasi.
e. batasan wilayah unit pengelolaan berdasarkan spesies dan kelompok spesies diidentifikasi. 3. Mengindentifikasi tata ruang
wilayah non perikanan (lindung dan budidaya)
a. batasan wilayah lindung dijelaskan berdasarkan peta RTRW.
b. batasan wilayah budidaya dijelaskan berdasarkan peta RTRW.
1) Batasan Variabel a) Konteks Variabel
Unit ini bermaksud untuk menentukan batasan wilayah sistem sosial-ekologi unit pengelolaan, mengidentifikasi batasan wilayah fungsional perikanan (administratif, Geografis, Zona penangkapan ikan, WPP), mengidentifikasi tata ruang wilayah non perikanan (lindung dan budidaya) dalam rangka menentukan batas wilayah/kawasan unit pengelolaan EAFM
b) Peralatan dan perlengkapan: (1). Peralatan
(a). GPS
(b). Komputer dan perangkat lunak analisis GIS (c). Alat tulis
(d). Printer (2). Perlengkapan
(a). Hasil pengumpulan data identifikasi ruang lingkup (b). Peta administrasi
(c). Peta ekosistem
(d). Peta tata ruang wilayah
(e). Statistik perikanan dan kependudukan
c) Peraturan yang diperlukan untuk menentukan batas wilayah/kawasan unit pengelolaan EAFM, meliputi:
(1). Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1973 tentang Landasan Kontinen Indonesia;
(2). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1983 Tentang Zona Ekonomi Ekslusif Indonesia;
(3). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 1985 Tentang Pengesahan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut Tahun 1982;
(4). Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan, sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009;
(5). Undang-undang 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014;
(6). Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Rencana Tata Ruang;
(7). Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2008 Tentang Pelayaran (8). Peraturan Pemerintah Nomor 26 Tahun 2008 Tentang Rencana
Tata Ruang Nasional;
(9). Peraturan Pemerintah Nomor 61 Tahun 2009 Tentang Kepelabuhan;
(10). Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2010 Tentang Perlindungan Lingkungan Maritim;
(11). Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung;
(12). Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2005 Tentang Pengelolaan Pulau-Pulau Kecil Terluar; dan
(13). Peraturan Menteri Kelautan Perikanan No 1 Tahun 2009 Tentang Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik IndonesiaI.
d) Norma dan standar untuk menentukan batas wilayah/kawasan unit pengelolaan EAFM, meliputi:
(1). Norma:
(a). United Nations Convention on the Law of the Sea of 10 December 1982 (UNCLOS); dan
(b). Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) tahun
1995 oleh FAO. (2). Standar:
(a). Koordinat peta WPP berdasarkan Peraturan;
(b). SNI 19-6502.4-2000 Spesifikasi Teknis Peta Rupabumi Indonesia Skala 1:250.000;
(c). Indonesia Skala 1:250.000;
(d). SNI 19-6728.1-2002 Penyusunan Neraca Sumber Daya– Bagian 1: Sumber Daya Air Spasial; dan
(e). SNI 6502.4-2010 Spesifikasi penyajian peta rupa bumi 250.000.
2) Panduan Penilaian a) Konteks penilaian:
(1). Penilaiannya di lakukan atas hal kemampuan mengenali struktur batasan wilayah dan zonasi di kawasan perencanaan perikanan, baik dengan membuat peta sendiri atau pun sumber yang ada dari pihak lainnya; dan
(2). Penilaian dapat dilakukan dengan cara: lisan, tertulis, demonstrasi/praktek, dan simulasi di workshop dan atau di tempat kerja dan atau di Tempat Uji Kompetensi (TUK).
b) Persyaratan Kompetensi: Tidak ada
c) Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan adalah: (1). Pengetahuan:
(a). tipologi ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut dan batas batasnya;
(b). hubungan, struktur dan konektivitas ekosistem dan sumberdaya pesisir dan laut;
(c). karakteristik aktivitas di setiap batasan wilayah;
(d). peraturan nasional dan daerah di kawasan perencanaan; dan
(e). Alur Laut Kepulauan Indonesia (ALKI). (2). Keterampilan:
(a). mampu mengoperasikan software pemetaan (GIS) lanjutan atau advance;
(b). mampu membaca peta tematik; dan
(c). mampu melakukan interpretasi peta perencanaan, sumberdaya dan ekosistem.
(3). Sikap kerja yang diperlukan:
(a). Teliti terhadap semua faktor penentuan unit wilayah pengelolaan; dan
(b). Adaptif terhadap semua data dan informasi yang telah tersedia.
d) Aspek kritis
Ketepatan dalam menentukan titik koordinat wilayah pengelolaan. 3. KODE UNIT : A.03132.003.01
JUDUL UNIT : Mengidentifikasi Pemangku Kepentingan dan Keterkaitannya dalam EAFM
DESKRIPSI UNIT : Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang dibutuhkan dalam mengidentifikasi pemangku kepentingan dan keterkaitannya dalam EAFM.
ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA 1. Mengidentifikasi pemangku
kepentingan EAFM
a. Pemangku kepentingan diidentifikasi. b. Karakteristik pemangku kepentingan
diidentifikasi. 2. Memetakan peran
pemangku kepentingan EAFM
a. Peran pemangku kepentingan diidentifikasi.
b. Peran pemangku kepentingan dipetakan.
1) Batasan Variabel a) Konteks Variabel
Unit ini bermaksud untuk mengidentifikasi pemangku kepentingan EAFM, dan memetakan peran pemangku kepentingan EAFM, dalam rangka mengidentifikasi pemangku kepentingan dan keterkaitannya dalam EAFM.
b) Peralatan dan perlengkapan: (1). Peralatan:
(a). alat tulis (buku, pulpen);
(b). alat peraga (leaflet, poster dan film) ; (c). alat perekam dan dokumentasi; dan (d). metaplan (karton, lem, lakban dll). (2). Perlengkapan:
(a). kuisioner atau panduan wawancara; dan (b). hasil-hasil penelitian antropologi.
c) Peraturan yang diperlukan untuk mengidentifikasi pemangku kepentingan dan keterkaitannya dalam EAFM, meliputi :
(1). Undang-Undang Nomor 14 Tahun 2008 tentang Keterbukaan Informasi Publik;
(2). Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 08 Tahun 2009 Tentang Peran Serta dan Pemberdayaan Masyarakat Dalam Pengelolaan Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil;
(3). Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor PER.15/MEN/2010 Tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kelautan dan Perikanan; dan
(4). Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 38 Tahun 2013 Tentang Kebijakan dan Strategi Penyuluhan Perikanan. d) Norma dan standar untuk mengidentifikasi pemangku kepentingan
dan keterkaitannya dalam EAFM, meliputi: (1). Norma:
(a). Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) tahun
1995 oleh FAO;
(b). hukum adat, kearifan, local, Right Based Management (RBM); dan
(c). Method of Concesus Building for Community Based Fisheries Management in Bangladesh and the Mekong Delta. Parvin et al. Worldfish Centre, IFPRI, CGIAR. Working Paper.
(2). Standar:
(a). Aturan mengenai partisipasi Pemangku kepentingan di suatu proses perencanaan; dan
(b). Stakeholder Analysis Guidelines. Kam. Schmeer.
2) Panduan Penilaian a) Konteks penilaian
(1). Aspek yang dinilai adalah kemampuan dalam membedakan, mengelompokkan, dan memetakan kondisi stakaholdes.
(2). Penilaian dapat dilakukan dengan cara : lisan, tertulis, demonstrasi/praktek, dan simulasi di workshop dan atau di tempat kerja dan atau di Tempat Uji Kompetensi (TUK).
b) Persyaratan Kompetensi
A.03311.002.01 : Menentukan Batas Wilayah/Kawasan Unit Pengelolaan EAFM
c) Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan adalah: (1). Pengetahuan:
(a). pengetahuan sosiologi masyarakat;
(b). antropologi dan budaya lokal (local culture) dari masyarakat di wilayah WPP;
(c). konsep proses analisis hierarki; dan
(d). analisis stakeholder untuk menentukan peran dan status semua stakeholder yang ada.
(2). Keterampilan:
(a). mampu berkomunikasi dengan baik dan efektif; (b). mampu menganalisis karakter stakeholder; dan
(c). mampu menjalankan software dan atau teknik proses analisis hierarki.
d) Sikap kerja yang diperlukan:
(1). komunikatif menyampaikan ide dan rencana pengelolaan;
(2). responsif, peka dan terbuka terhadap partisipasi setiap pihak dalam menyampaikan pendapat; dan
(3). independen yang tidak berpihak pada golongan tertentu. e) Aspek kritis
(1). Waktu dan lokasi yang tepat agar semua stakeholder penting dapat dipetakan secara merata dan seimbang.
(2). Komunikasi yang bersifat mandatory dalam melakukan mekanisme pemetaan tugas dan tanggungjawab stakeholder.
4. KODE UNIT : A.03132.004.01
JUDUL UNIT : Mengidentifikasi Sumberdaya Ikan dan Lingkungan di Wilayah EAFM
DESKRIPSI UNIT : Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang dibutuhkan dalam mengidentifikasi sumberdaya ikan dan lingkungan di wilayah pengelolaan EAFM.
ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA 1. Mengidentifikasi sumberdaya
ikan di wilayah EAFM
a. tipologi sumberdaya ikan diidentifikasi.
b. karakteristik sumberdaya ikan diidentifikasi.
2. Menjelaskan karakteristik dan dinamika lingkungan di wilayah EAFM
a. tipologi dan karakteristik lingkungan diidentifikasi.
b. dinamika lingkungan diidentifikasi.
3. Menjelaskan keterkaitan sumberdaya ikan dan lingkungan di wilayah EAFM
a. keterkaitan antar spesies sumberdaya ikan di wilayah EAFM dijelaskan.
b. pengaruh dinamika lingkungan terhadap sumberdaya ikan di wilayah EAFM dijelaskan.
1) Batasan Variabel
a) Konteks Variabel
Unit ini bermaksud untuk mengidentifikasi sumberdaya ikan di wilayah EAFM, menjelaskan karakteristik dan dinamika lingkungan di wilayah EAFM, menjelaskan keterkaitan sumberdaya ikan dan lingkungan di wilayah EAFM, dalam rangka mengidentifikasi sumberdaya ikan dan lingkungan di wilayah EAFM.
b) Peralatan dan perlengkapan: (1). Peralatan:
(a). peralatan survei ekosistem mangrove; (b). peralatan survei terumbu karang;
(c). peralatan survei sumberdaya non hayati; (d). peralatan survei dan identifikasi ikan; (e). kapal survey; dan
(f). peralatan survei lingkungan perairan dan oseanografi. (2). Perlengkapan:
(a). bahan survei ekosistem dan non hayati; (b). buku identifikasi ikan dan lingkungan; dan (c). bahan pengawet dan preservasi biota.
c) Peraturan yang diperlukan untuk mengidentifikasi sumberdaya ikan dan lingkungan di wilayah pengelolaan EAFM, meliputi:
(1). Undang-undang 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014;
(2). Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
(3). Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2010 Tentang Perlindungan Lingkungan Maritim;
(4). Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung;
(5). Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 200 Tahun 2004 Tentang Kriteria Kerusakan Lamun;
(6). Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 2004 Tahun 2004 Tengang Kriteria Kerusakan Mangrove;
(7). Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 1996 Tentang Kriteria Kerusakan Karang;
(8). Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 115 Tahun 2003 Tentang Penentuan Status Mutu Air;
(9). Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No 15 Tahun 2009 Tentang Jenis Ikan Dan Wilayah Penebaran Kembali Serta Penangkapan Ikan Berbasis Budidaya; dan
(10).Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 10 Tahun 2010 Tentang Tata Cara Dan Persyaratan Perizinan Penelitian Dan Pengembanan Perikanan.
d) Norma dan standar untuk mengidentifikasi sumberdaya ikan dan lingkungan di wilayah pengelolaan EAFM, meliputi:
(1). Norma:
(a). United Nations Convention on the Law of the Sea of 10
December 1982 (UNCLOS);
(b). Code of Conduct for Responsible Fisheries (CCRF) tahun
1995 oleh FAO (2). Standar:
(a). Identifikasi ikan dan standar pedoman pengenalan jenis-jenis ikan di perairan Indonesia;
(b). Keselamatan dalam penelitian dan riset di bawah air, diatas air dan di daerah pantai;
(c). TERANGI (Indonesian Coral Reef Foundation). 2004. Panduan Dasar untuk Pengenalan Ikan Karang Secara Visual di Indonesia. Jakarta;
(d). International union concervation nation (IUCN). 2008. www.iucnredlist.org;
(e). Guidelines for designing data collection and sharing systems
for co-managed fisheries. FAO, 2005. Part 1: Practical guide;
(f). An Approach to ecosystem based Fishery Management.
WWF. RFF.ORG. James et al. 2006;
(g). Ecosystem Approach to Fisheries: A Review of
Implementation Guidelines. ICES Journal of Marine Sciences (62), 2005;
(h). FAO. 2003. Ecosystem Approach to Fisheries. FAO Technical Paper; dan
(i). Guidelines for designing data collection and sharing systems
for co-managed fisheries. FAO, 2005. Part 1: Practical guide.
2) Panduan Penilaian a) Konteks penilaian:
(1). Kondisi penilaian merupakan aspek penting yang sangat berpengaruh atas tercapainya kompetensi ini terkait dengan melaksanakan tugas survei dan identifikasi ekosistem dan sumberdaya ikan dan lingkungan perairan; dan
(2). Penilaian dapat dilakukan dengan cara: lisan, tertulis, demonstrasi/praktek, dan simulasi di workshop dan atau di tempat kerja dan atau di Tempat Uji Kompetensi (TUK).
b) Persyaratan Kompetensi
A.03311.002.01: Menentukan Batas Wilayah/Kawasan Unit Pengelolaan EAFM
c) Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan adalah: (1). Pengetahuan:
(a). ruang lingkup, pemangku kepentingan, dan unit EAFM; (b). ekologi ikan;
(c). jenis-jenis sumberdaya ikan; (d). tipe tipe ekosistem; dan
(e). lingkungan (ilmu lingkungan). (2). Keterampilan:
(a). mampu mengidentifikasi jenis ikan di air; (b). mengidentifikasi jenis ikan di daratan;
(c). mampu melakukan sampling kualitas lingkungan; dan (d). mampu berkomunikasi dan berinteraksi dengan pemangku
kepentingan.
d) Sikap kerja yang diperlukan:
(1). hati-hati dalam mengenali ciri primer dan sekunder tiap jenis ikan;
(2). teliti dalam menelaah setiap parameter kunci;
(3). cermat dalam melakukan klasifikasi perbedaan setiap jenis ikan dan data lingkungan;
(4). kritis terhadap perbedaan kondisi lingkungan; dan
(5). analitis dari terhadap berbagai data, fakta dan informasi. e) Aspek kritis
Pengaruh dari lingkungan/cuaca dalam proses pengumpulan data dan kemampuan dalam menjustifikasi dari kelompok ikan dan status lingkungan.
5. KODE UNIT : A.03132.005.01
JUDUL UNIT : Menyiapkan Data Penentuan Isu dan Permasalahan Berdasarkan Domain EAFM
DESKRIPSI UNIT : Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang dibutuhkan dalam menyiapkan data penentuan isu dan permasalahan berdasarkan domain EAFM.
ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA 1. Mengidentifikasi sumber data
penentuan isu dan
permasalahan berdasarkan domain EAFM
a. Sumber-sumber data penentuan isu dan permasalahan berdasarkan domain EAFM diidentifikasi.
b. Waktu dan lokasi pendataan isu dan permasalahan berdasarkan domain EAFM ditentukan.
2. Melakukan pengumpulan data
penentuan isu dan
permasalahan berdasarkan domain EAFM
a. Tim dan perlengkapan pengumpulan data isu dan permasalahan berdasarkan domain EAFM disiapkan.
b. Data isu dan permasalahan berdasarkan domain EAFM dikumpulkan.
1) Batasan Variabel a) Konteks Variabel
Unit ini bermaksud untuk mengidentifikasi sumber data penentuan isu dan permasalahan berdasarkan domain EAFM, melakukan pengumpulan data penentuan isu dan permasalahan berdasarkan domain EAFM, dalam rangka menyiapkan data penentuan isu dan permasalahan berdasarkan domain EAFM
b) Peralatan dan perlengkapan: (1). Peralatan:
(a). alat tulis;
(b). komputer dan printer; dan (c). penyimpanan data/file. (2). Perlengkapan:
(a). data sekunder dan informasi masyarakat dan instansi terkait; dan
(b). media informasi (surat elektronik dan media massa).
c) Peraturan yang diperlukan untuk menyiapkan data penilaian isu dan permasalahan indikator EAFM untuk semua domain, meliputi: (1). Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 Tentang Perikanan,
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009;
(2). Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir danPulau-Pulau Kecil sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014; dan
(3). Peraturan Menteri Kelautan Perikanan Nomor 18/PERMEN-KP/2014 Tentang Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia.
d) Norma dan standar untuk menyiapkan data penilaian isu dan permasalahan indikator EAFM untuk semua domain, meliputi :
(1). Norma:
(a). Code of Conduct for Responsible Fisheries, 1995;
(b). FAO. 2012. EAF Toolbox: The ecosystem approach to fisheries. Rome; dan
(c). Deklarasi Juanda 1981, Tentang Batas-Batas Laut Nusantara.
(2). Standar:
(a). Pengaturan Pemanfaatan Sumberdaya Laut dan Pesisir oleh Adat, dengan SASI, Awig-awig, Panglima Laot, hak ulayat laut serta aturan adat lainnya yang berlaku;
(b). FAO. 2012. EAF Toolbox: The ecosystem approach to fisheries. Rome;
(c). Buku 1, Manual Pengkajian Introduksi Pengkajian Stok Ikan Tropis. FAO, 1999;
(d). English, Elementary survei sampling;
(e). TERANGI (Indonesian Coral Reef Foundation). 2004. Panduan Dasar untuk Pengenalan Ikan Karang Secara Visual di Indonesia. Jakarta;
(f). Guidelines for the routine collection of capture fishery
data.FAO Fisheries Technical Paper.No. 382, Rome, FAO
1999;
(g). Quantitative Fisheries Stock Assessment. Choice, Dynamics
& Uncertainty. 1992. London, Chapman Hall;
(h). A Handbook for Rapid Appraisal of Fisheries Management
Systems (Version 1). 1996. ICLARM Education Series16;
dan
(i). Guidelines for designing data collection and sharing systems
for co-managed fisheries. FAO, 2005. Part 1: Practical guide.
2) Panduan Penilaian a) Konteks penilaian:
(1).kondisi penilaian merupakan aspek dalam penilaian yang sangat berpengaruh atas tercapainya kompetensi ini terkait dalam menyiapkan data penilaian indikator EAFM untuk semua domain; dan
(2).penilaian dapat dilakukan dengan cara: lisan, tertulis, demonstrasi/praktek, dan simulasi di workshop dan atau di tempat kerja dan atau di Tempat Uji Kompetensi (TUK).
b) Persyaratan Kompetensi Tidak ada
c) Pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan adalah: (1). Pengetahuan:
(a) karakteristik isu dan permasalahan wilayah pesisir;
(b) pemahaman dalam mengeksploirasi data setiap domain EAFM;
(c) statistik perikanan; dan (d) peta unit wilayah EAFM. (2). Keterampilan:
(a) mampu melakukan rapid assessment lapangan dari setiap domain;
(b) mampu melakukan pengumpulan data berdasarkan domain dan indikator EAFM;
(c) mampu mengkomunikasikan sumber sumber data sekunder; dan
(d) mampu mendekati dan adaptasi dengan masyarakat. (3). Sikap kerja yang diperlukan:
(a) cermat dan teliti dalam pengambilan dan pemilahan jenis data; dan
(b) tepat waktu dalam pengumpulan data. (4). Aspek kritis.
d) Kelengkapan dan akurasi data yang menentukan proses selanjutnya yang akan dilakukan oleh pihak lain.
6. KODE UNIT : A.03132.006.01
JUDUL UNIT : Mengidentifikasi Isu dan Permasalahan Prioritas Ekologi, yang Dibangun dari Domain Sumberdaya Ikan, Habitat dan Ekosistem, serta Teknik Penangkapan Ikan
DESKRIPSI UNIT : Unit ini berhubungan dengan pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang dibutuhkan dalam mengidentifikasi isu dan permasalahan prioritas ekologi, yang dibangun dari domain sumberdaya ikan, habitat dan ekosistem, serta teknik penangkapan ikan.
ELEMEN KOMPETENSI KRITERIA UNJUK KERJA 1. Menjelaskan isu dan
permasalahan ekologi, yang dibangun dari domain sumber daya ikan, habitat dan ekosistem, serta teknik penangkapanikan
a. Isu dan permasalahan ekologi diuraikan.
b. Isu dan permasalahan ekologi dikelompokkan.
2. Menentukan skala priorotas terhadap is dan permasalahan prioritas ekologi, yang dibangun dari domain sumber daya ikan , habitat, dan ekosistem, serta teknik penangkapan ikan
a. Skala prioritas terhadap isu dan permasalahan ekologi ditentukan.
b. Skala prioritas terhadap isu dan permasalahan ekologi dijelaskan.
1) Batasan Variabel a) Konteks Variabel
Unit ini bermaksud untuk menjelaskan isu dan permasalahan ekologi, yang dibangun dari domain sumberdaya ikan, habitat dan ekosistem, serta teknik penangkapan ikan, menentukan skala prioritas terhadap isu dan permasalahan prioritas ekologi, yang dibangun dari domain sumberdaya ikan, habitat dan ekosistem, serta teknik penangkapan ikan, dalam rangka mengidentifikasi isu dan permasalahan prioritas ekologi, yang dibangun dari domain sumberdaya ikan, habitat dan ekosistem, serta teknik penangkapan ikan.
b) Peralatan dan perlengkapan: (1). Peralatan:
(a). metaplan untuk proses FGD (Focus Group Discussion); (b). alat perekam untuk wawancara;
(c). kuisioner untuk proses wawancara terstruktur; (d). kamera dan alat dokumentasi; dan
(e). komputer untuk analisis isu prioritas. (2). Perlengkapan:
(a). hasil identifikasi sumber daya ikan dan lingkungan;
(b). hasil pengumpulan data identifikasi isu dan permasalahan EAFM;
(c). laporan monitoring dan evaluasi EAFM; dan (d). data sekunder dari berbagai pihak dan sumber.
c) Peraturan yang diperlukan untuk mengidentifikasi isu dan permasalahan prioritas ekologi, yang dibangun dari domain sumberdaya ikan, habitat dan ekosistem, serta teknik penangkapan ikan, meliputi:
(1). Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007 Tentang Rencana Tata Ruang;
(2). Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 Tentang Pengelolaan Wilayah Pesisir danPulau-Pulau Kecil sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2014;
(3). Undang-Undang No 32 Tahun 2009 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup;
(4). Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1994 Tentang Pengesahan United Nation Convention on Biological Diversity (Konvensi Peserikatan Bangsa-Bangsa mengenai Keanekaragaman Hayati);
(5). Peraturan Pemerintah Nomor 21 Tahun 2010 Tentang Perlindungan Lingkungan Maritim;
(6). Peraturan Pemerintah Nomor 54 Tahun 2003 Tentang Usaha Perikanan;
(7). Keputusan Presiden Nomor 32 Tahun 1990 Tentang Pengelolaan Kawasan Lindung;
(8). Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 1999 Tentang Pengendalian Pencemaran Dan/Atau Perusakan Laut;
(9). Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.01/Men/2009 Tentang Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia;
(10). Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Kep.06/Men/2010 Tentang Alat Penangkapan Ikan Di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia;
(11). Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Kep. 45/Men/2011 Tentang Estimasi Potensi Sumber Dayaikan Di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia ;
(12). Keputusan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Kep.50/Men/2012 Tentang Rencana Aksi Nasional Pencegahan Dan Penanggulangan Illegal, Unreported, And Unregulated Fishing Tahun 2012-2016;
(13). Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Per.05/Men/2012 Tentang Perubahan Kedua Atas Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor Per.02/Men/2011 Tentang Jalur Penangkapan Ikan Dan Penempatan Alat Penangkapan Ikan dan Alat Bantu Penangkapan Ikan Di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia;
(14). Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 26/Permen-Kp/2013 Tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Nomor Per.30/Men/2012 Tentang Usaha Perikanan Tangkap Di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia; (15). Peraturan Menteri Kelautan Dan Perikanan Republik Indonesia
Nomor Per.18/Men/2010 Tentang Log Book Penangkapan Ikan;
(16). Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor Kep. 45/Men/2011 Tentang Estimasi Potensi Sumber Dayaikan Di Wilayah Pengelolaan Perikanan Negara Republik Indonesia;
(17). Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 200 Tahun 2004 Tentang Kriteria Kerusakan Lamun;
(18). Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 2004 Tahun 2004 Tengang Kriteria Kerusakan Mangrove;
(19). Keputusan Menteri Lingkungan Hidup Nomor 16 Tahun 1996 Tentang Kriteria Kerusakan Karang; dan