• Tidak ada hasil yang ditemukan

Revitalisasi Peran Pegawai Syarak dalam

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Revitalisasi Peran Pegawai Syarak dalam"

Copied!
25
0
0

Teks penuh

(1)

Revitalisasi Per an Pegawai Syar ak dalam

Penguatan K em bali Kar akter M

elayu-I slam M asyar akat Jam bi: Studi

Pem ber dayaan I nstitusi Tr adisional

dalam M endukung Pencapaian Tujuan

Otonom i D aer ah

I r m aw at i Sagal a

Fakultas Syariah I AI N Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

A bst r a k :

Pem ber d ayaan Pegawai Syar ak m er u p ak an sal ah sat u kebi j ak an yan g di ambi l ol eh sebagi an besar pem er i n t ah kabu ap t en / kot a di Pr ovi n si J am bi u n t u k men i n gkat k an p en yel en ggar aan d an p em bi n aan i badah kei sl am an d i masj id. Pegawai Syarak merupakan i nsti tusi tradisional yang p er n ah h i d u p dal am si st em sosi al - pem er i n t ah an Jambi d en gan f u n gsi m em i m p i n u r u san i badah dan pem ber i per t i mban gan aspek syar i ah pada pemer i n t ah. Bagai man a i m pl emen t asi , dampak ser t ap el u an g dan t an t an gan dar i kebi j akan t ersebut meru pakan foku s di sku si dal am art i kel i ni , yang mana data-dat a di dalamnya di dasarkan pada hasi l p en el i t i an t ah u n 20 11 l al u . K aj i an m en u n j u kk an i mplementasi kebij akan sudah berj alan lancar namun belum m em ber i k an d amp ak si gn i f i kan t er h ad ap p en i n gk at an kuali t as kehi dupan ber agama masyarakat . Set i dakn ya ada empat h al yan g per lu di anali si s pemer i n t ah daerah un t u k peni ngkat an daya guna kebi j akan masa mendat ang, yai t u 1) r edef en i si per an dan f u n gsi Pegawai Syar ak , 2) pr i or i t as al okasi anggaran ban t uan, 3) pen egasan kebi j akan sampai pada level provi nsi, dan 4) alternati f i nst itusi lain yang lebih m em u n gk i n kan di ber d ayak an u n t u k t u j u an yan g sam a seper t i M aj eli s Ul ama I n don esi a.

K ata-k ata K un ci : Pegawai Syarak, Karakt er M elayu-I slam,

(2)

Pendahuluan

Otonomi daerah, memberikan pel uang secara luas kepada daerah untuk mengembangkan daerahnya dengan menggali secar a opti mal sumber daya daerah berdasar kan ni lai -ni lai kear ifan l okal.1 Ji ka dicermati secara mendalam, dibukanya peluang untuk menghidupkan kembali nilai-nilai dan karakteristik daerah pada era otonomi daerah, tidak hanya bermakna pengakuan terhadap hak asal-usul daer ah. Namun lebi h jauh, hal i ni dapat di maknai sebagai sebuah upaya menghidupkan kembali karakteristik khas setiap daerah yang pernah ada untuk mendukungterciptanya ikli m sosial yang kondusif bagi pencapaian tuj uan otonomi daer ah.

Nil ai -ni lai M el ayu-I sl am, adalah ni l ai -ni l ai yang sej ak l ama mel ekat dan menj adi kar akter i sti k masyar akat Pr ovi nsi Jambi . Penduduk asli Propinsi Jambi adalah suku M elayu yang kemudian banyak mendapat pengaruh dar i pendatang Arab-Turki. Sebel um I ndonesi a mer deka, Pr ovi nsi Jambi mer upakan bekas wi l ayah Kesul tanan M el ayu I sl am Jambi (1500-1901). M eski pun sempat ber ada di bawah kekuasaan Sriwij aya dan M aj apahit, Jambi sebagai daerah berdaulat l ebi h di kenal dal am sejarah Kesul tanan M elayu I slam. M enurut Locher -Scholten, sejar ah awal Kesultanan M el ayu I sl am Jam bi bi sa di pr edi ksi kur ang l ebi h ber samaan dengan kebangkitan I sl am secara umum di Sumatera. I slami sasi di Sumatra diyakini bermula pada abad kelima belas.2 Pendapat yang mengatakan I sl am mul ai tersebar di Sumater a Pada abad XV didukung dengan fakta ki sah per j al anan L aksam ana Cheng H o dar i Ci na, yang di kabar kan menyi ar kan agam a I sl am di Sum ater a, khususnya Palembang. Laksamana Chengho memulai ekspedisi pertamanya pada tahun 1405-1407.3 M eskipun, ada pendapat l ain yang menyatakan bahwa I sl am mul ai tersebar di Sumater a pada abad ke-VI I , dimana tel ah ditemukan makan seor ang muslim dari abad ketujuh di daerah Bar us, Sumater a Utara.

(3)

Paduko Berhalo pertama kali mendarat di selat Berhala, dan kemudian menikah dengan seorang putri dari Minangkabau yang bernama Puteri Selaras Pinang Masak. Ajaran I slam kemudian berkembang di Jambi, hingga terbentuk Kesultanan M elayu M uda.4

Kuatnya penerapan aj aran I slamdalam kehidupan masyarakat ter lihat dari falsafah hidup masyarakat Jambi yaitu “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”. Falsafah hidup ini bermakna bahwa kehidupan masyarakt berdasar pada adat yang ber landaskan syariat I slam, dimana syar iat I slam i tu sendiri berlandaskan pada al-Qur ’an. Falsafah hidup ini juga dikenal dal am masyarakat M inang-kabau dan daer ah berpenduduk M elayu lainnya.

(4)

M eskipun kondisi di perkotaan lebih parah, pengikisan nilai-nilai adat dan agama juga terjadi di daerah Kabupaten/ Kota. Asisten I I I Kabupaten Tanj ung Jabung Timur menilai, generasi muda I slam di Tanjung Jabung Timur saat ini juga sudah terkena demoralisasi. Cara berpakaian, sopan santun dan pola pergaulan bebas menjadi masalah yang mengkhawatirkan. Permasalahan prostitusi dan pergaulan bebas juga cukup mer esahkan di daerah Batanghari dan M erangin.

Data-data permasalahan mor al dan kemaksiyatan di Provi nsi Jambi ber ikut i ni semakin mengukuhkan saat ini masyarakat Jambi sudah jauh dari karakter aslinya yaitu M elayu-I slam. Pada tahun 2011 l al u, Jambi menempati ur utan ke-15 pender ita AI DS terti nggi di I ndonesi a.6 Arsip data KPA yang bersumber dari Dinas Kesehatan Provinsi Jambi, menunjukkan bahwa sampai M aret 2012 pengi dap H I V-AI DS (ODH A) yang terl aporkan ber j uml ah 613 or ang, dar i estimasi awal tahun 2009 sejumlah 1200 orang. Dari jumlah tersebut, bahkan sebanyak 12 orang adalah bali ta usi a 0-5 tahun. Keker asan dan pelecehan seksual terhadap anak juga sering terjadi . Bahkan, tahun 2011 Pr ovi nsi Jambi ber ada pada ur ut an ke-6 pengguna Narkoba tertinggi di I ndonesia.7 Kondisi ini harus disikapi dengan ser ius ol eh pemerintah. Sebab, j ika permasalahan degradasi moral tidak seger a diatasi , kewaj i ban pemer i ntah untuk meni ngkatkan kual itas kehi dupan masyar akat sebagaimana diamanatkan dal am Pasal 22 UU RI No. 32 Tahun 2004 tentang Pemeri ntahan Daer ah, mustahil bisa diwujudkan.8

(5)

guru-guru juga banyak bersikap bukan layaknya seorang guru-guru. Seperti kata pepatah, “guru kencing tegak, murid kencing berlar i”.

Oleh karena itu, berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah untuk mengatasi masalah-masalah tersebut, mulai dari program pembinaan keagam aan seper t i hi m bauan Guber nur unt uk m engakt i f kan Pengajian Antara M aghrib dan I sya (PAM I ) serta penunj ukan Da’i Desa oleh pamerintah daer ah di beberapa Kabupaten/ Kota, sampai pada pembuatan Per da tentang penanggulangan maksiyat seper ti Per da tentang M inuman Ker as pada tahun 2003 dan direvisi pada akhi r t ahun 20 10 di Kot a Jam bi . Pr ogr am -pr ogr am t er sebut di har apkan mampu ber kontr i busi ter hadap penguatan kembal i kar akteri stik M elayu-I slam masyarakat Jambi.

Sal ah sat u k ebi j akan yang m en ar i k adal ah upaya unt uk menghi dupkan kembali institusi tr adisional Pegawai Syarak ol eh pemer intah daerah di sebagi an besar kabupaten/ kota se-Provinsi Jambi. Pada masa lalu, Pegawai Syarak merupakan kelengkapan peme-rintahan Dusun sebel um kel uarnya UU RI No. 5 Tahun 1779 tentang Desa yang secar a paksa menyeragamkan seluruh bentuk pemer in-tahan ter endah di I ndonesia menjadi Desa.9 Pegawai Syarak pada awalnya bertanggung jawab terhadap urusan penerapan agama I slam dan sekal igus menjadi semacam dewan perti mbangan syariah pada pemerintah Dusun10 dalam menjalankan roda pemerintahan. Namun saat ini, pengertian dan fungsi Pegawai Syarak tersebut sudah meng-alami perubahan. Para Pegawai Syarak ini diangkat melalui SK Bupati mel iputi I mam, Khati b, Bi lal, dan mudim (penjaga) masjid. Saat i ni, secar a um um Pegawai Syar ak di paham i m asyar akat sebagai penanggung jawab kegiatan ibadah ritual semata, atau lebih tepatnya shalat berjamaah.

(6)

m en an ggul an gi per m asal ah an - per m asal ah an m or al i t as di masyarakat. Sejauh mana peluang ini bisa dioptimalkan, menj adi fokus bahasan dalam artikel ini. Sebagian besar data dalam artikel ini didasarkan pada penelitian yang dilakukan tahun 2011 dan 2010 lalu tentang Pegawai Syarak di Provinsi Jambi dan Perda I slami di Kota Jambi.11

Pr ogr am Pem ber d ayaan Pegaw ai Syar ak di Pr ovin si

Jam bi

I sti l ah Pegawai Syar ak bukanl ah isti lah bar u di Pr ovinsi Jambi . M enurut Ketua Penasehat LAM Kota Jambi, H . Sulaiman Hasan, sejak zaman dahulu sebelum Republik I ndonesia ini terbentuk, masyarakat M el ayu Jambi sudah mengenal isti lah Pegawai Syarak sebagai salah satu pilar penyangga tata kehidupan masyarakat.12 H al senada juga di sampaikan Sekr etar i s LAM se-Sumater a, H . Azr a’i Al -Basyar i . M enurutnya, istilah Pegawai Syarak sudah sej ak lama dikenal dalam masyarakat M elayu Jambi yang terdiri dari I mam, Khatib (Ketib) dan Bil al. Namun fungsinya ti dak hanya sekedar urusan shalat, tapi j uga menjalankan fungsi mengelola segala urusan keagamaan, seperti ibadah, penyel enggar aan j enazah, ceramah dakwah, bahkan sampai urusan pernikahan. Lebih lanjut, H . Azra’i Al-Basyari menjelaskan bahwa Pegawai Syarak juga memil iki peran penting dal am satuan pemerintahan terendah (setara Desa). Pada masa lalu, pemerintahan di Jambi dipimpin oleh Rio atau Penghulu yang memegang kekuasaan pemerintahan sekaligus adat. H ukum yang diterapkan adalah hukum adat yang sesuai dengan syaraiat I slam. Dalam menetapkan hukum dan kebij akan, Rio senanti asa berkoor dinasi dan meminta semacam fatwa kepada Pegawai Syar ak, sehingga apa yang di lakukan oleh pemerintah tidak bertentangan dengan syariat I slam. Di samping itu, pemerintahan juga memperhatikan pertimbangan cerdik pandai. Oleh karena itu, dalam tata pemerintahan dan kemasyarakat Jambi dahulu dikenal i stilah Tigo Tali Sapil in.”13

(7)

Syarak sangat strategis dalam pembentukan karakteristik masyarakat yang berbudaya dan beragama. Dengan sejarah demi kian, tidaklah mengherankan j ika kemudian pemerintah daer ah di Provi nsi Jambi melihat pemberdayaan institusi Pegawai Syarak ini sebagai salah satu sar ana yang bisa dipakai untuk penguatan kembali karakter M elayu-I sl am masyarakat Jambi.

Program pemberdayaan Pegawai Syarakdi Provi nsi Jambi lahir dal am ben t uk kebi j ak an daer ah k abupat en/ k ot a. Pada l evel pemerintahan Provinsi Jambi sendiri, belum memiliki kebijakan yang berhubungan dengan Pegawai Syarak tersebut. Namun demikian, Waki l Guber nur Jambi meni l ai bahwa meni ngkatnya per hati an pem er i nt ah k abupat en/ k ot a t er h adap Pegawai Syar ak saat inidikatali sasi oleh himbauan Pemerintah Provinsi Jambi pada masa kepem i m pi nan Zul ki fl i N ur di n yang m encan angkan pr ogr am Pengaji an Antara M aghri b dan I sya (PAM I ), dan himbauan bagi pem er i ntah daer ah agar m em ber i kan per hati an pada Pegawai Syarak.14

Kebijakan pemberdayaan ol eh pemerintah kabupaten/ kota di Provinsi Jambi i ni secara umum dituangkan dalam Peraturan Kepala Daerah. Dalam sistem hukum Indonesia, kepala daerah bisa membuat peraturan yang dibutuhkan di daer ahnya, bai k berupa Per atur an Kepal a Daer ah, Keput usan Kepal a Daer ah at au hanya ber upa himbauan.15 Kebij akan yang dibuat oleh Kepala Daerah ber fungsi sebagai aturan pelaksanaan Perda, atau dapat juga berupa kebijakan bar u yang belum ada Perdanya jika dibutuhkan masyarakat, dengan tetap berpegang pada ketentuan tidak bertentangan dengan azas-azas dan peratur an yang ber laku. Namun, posi si per aturan/ keputusan yang dikeluarkan oleh kepal a daer ah secara hi rarki berada di bawah Per atur an Daer ah dan l ebi h um um di sebut dengan Per at ur an Kebijaksanaan. Oleh karena itu, kekuatan mengikatnya lebih lemah di bandi ng Per atur an Daer ah. Dengan posi si sebagai Per atur an Kebijaksanaan, kekuatan peraturan kepala daerah tergantung pada penerimaan masyarakat terhadap substansi aturan tersebut.16

(8)

meningkatkan kual itas moral itas masyarakat baik secara ekspli sit maupun impl i si t di sebutkan dal am kebi jakan-kebi j akan ter kai t. Dal am konsi der an “ m eni mbang” pada sur at keput usan Bupat i Sar olangun ter kai t Pegawai Syarak di sebutkan bahwa keputusan tersebut dibuat dalam rangka meningkatkan penyelenggaraan ibadah ser t a m endor ong pel aksanaan kegi at an pada set i ap masj i d di Kabuapten Sarolangun. H al senada juga dimuat dalam konsideran “ m eni m ban g” pada sur at keput usan Bupat i M er an gi n bahwa keputusan tersebut dibuat dalam rangka usaha meningkatkan kualitas pel ayanan kepada masyarakat di bidang keagamaan. Demi kian j uga hal nya dengan konsideran “menimbang” keputusan Bupati M uaro Jam bi di sebut k an bahwa k eput usan di buat dal am r an gk a m eni ngkat kan dan m ember i kan bi m bi ngan dal am kehi dupan beragama di 11 (sebelas) Kecamatan dalam Kabupaten M uaro Jambi. Dar i beber apa contoh t er sebut dapat di pahami bahwa m aksud pemerintah memberikan perhatian terhadap Pegawai Syarak tidaklah semata untuk penyelenggaraan ibadah ritual shalat semata, melainkan l ebi h j auh m en j al ank an f un gsi pem bi n aan k eagam aan bagi masyar akat.

Sampai tahun 2011, dari 11 kabupaten/ kota yang ada di Provisi Jam bi , ada 7 kabupat en/ k ot a sudah m el ak sanakan pr ogr am pemberdayaan Pegawai Syar ak, meskipun kebij akan ter kait yang ber hasiil diinvetari sir peneliti pada tahun 2011 hanya 5 kebijakan. Lahirnya kebijakan sejenis tidak sama di seluruh kabupaten/ kota. Sebagi an daer ah sudah m ener apkan sej ak tahun 20 0 9 seper t i Kabupaten Batanghari, sementara sebagi an lainnya baru mulai pada tahun 2010 dan bahkan tahun 2011 seper ti Kabupaten M erangin dan Tebo. Namun demikian, sampai penghuj ung tahun 2011, kebijakan ter kait Pegawai Syarak ini belum diinventari s dan dieval uasi oleh Pemer i ntah Pr ovi nsi Jambi . Daer ah yang m em i l i ki kebi j akan pemberdayaan Pegawai Syar ak dapat di lihat dalam tabel 1.

(9)

besaran insentif yang diberikan berbeda antara masing-masing daerah dengan ki sar an Rp. 50 .0 0 0 ,- sam pai dengan Rp. 150 .0 00 ,-.17 Pemberian insentif ini dilakukan pemerintah daerah dengan harapan dapat meningkatkan semangat Pegawai Syarak dalam memakmurkan masjid. Jumlah insentif masing Pegawai Syarak pada masing-masing daerah di Provinsi Jambi dapat dilihat dalam tabel 2.

Umumnya, bantuan insentif dianggarkan dari Alokasi Dana Desa seperti di Kabupaten Tanjung Jabung Ti mur dan M er angin atau dari alokasi hibah bantuan sosial. Daerah yang belum memiliki kebijakan

N o Kab up aten/ Ko ta K eb ij akan Pegawai Syar ak/ D a’i

1. Merangin Keputusan Bupat i M erangin N o. 323/ KESRA/ 2011 T ent ang Penunjuk an Petugas Pegawai Syarak dan Guru M engaji se-Kabupaten M erangin Tahun 2011.

2. Sarolangun Keputusan Bupati Kabupat en Sarolangun No. 133 Tahun 2011 Tent ang Penet apan Penunjukan Nam a-N ama Pegaw ai Syarak (I m am, Khat ib dan Bil al) dal am Kabupat en Sar olangun Tahun Anggaran 2011.

3. Muaro Jambi Keputusan Bupat i No. 213 Tahun 2011 Tent ang Penunjuk an Petugas Syarak dan Guru N gaj i dal am Kabupat en M uaro Jambi Tahun Anggaran 2011

4. Tanjung Jabung Tim ur

Perat uran Bupati T anj ung Jabung Tim ur No. 3 Tahun 2011 Tent ang Pedoman Pengelolaan Keuangan Desa yang dit indaklanj uti dengan Keputusan Bupati Tanjung Jabung T im ur No. 28 Tahun 2011 Tent ang Penetapan dan Pet unj uk Pel aksanaan Alokasi Dana D esa. Salah sat u poinnya mengat ur m asalah honor Pegawai Syarak . 5. Tanjung Jabung

Barat

Keputusan Bupati Tanjung Jabung Barat No. 548 Tahun 2011 Tentang Pem berian Bantuan/ Insent if K epada Para I m am Masj id, Guru Ngaji dan Petugas Mudim (Kaum M asji d) di Kabuaten T anjung Jabung Barat Tahun Anggaran 2011.

(10)

pember dayaan Pegawai Syar ak adal ah Kabupaten Ker i nci , Kota Sungai Penuh, Kabupaten Tebo dan Kota Jambi. H al ini kemungkinan disebabkan oleh keterbatasan anggaran daerah seperti yang dijelaskan oleh Kepala Desa Koto Salak, Kecamatan Danau Kerinci.

Penunj ukan Pegawai Syar ak di l akukan mel al ui mekani sme usulan pemerintah desa sesuai dengan quota yang disampaikan pada pemerintah kecamatan. Data dari kecamatan kemudian direkap oleh petugas di kabuapten untuk kemudian dikeluarkan SK Bupati. Setelah SK dikeluarkan, kemudian disosialisasi kan kembali sampai tingkat desa. Sedikit berbeda dengan daer ah lainnya, di Kabupaten Tanj ung N O D AER A H PEGA W AI SYA R AK I N SE N T I F

(11)

Jabung Ti mur penetapan nama Pegawai Syarak langsung dilakukan mel alui SK kepala desa, kar ena al asan sumber alokasi anggaran dari Alokasi Dana Desa (ADD). Jumlah quota per desa berbeda setiap daerahnya. Di Kabupaten Tanjung Jabung Timur misalnya, ditetapkan quota untuk imam sebanyak 5 orang dan penjaga masjid 5 orang untuk setiap desa.

Penyalur an insentif Pegawai Syarak dilakukan oleh petugas dari Bagian Kesra pemerintah kabupaten/ kota dengan bantuan pegawai kantor Camat, kecual i di Kabupaten dan Tanj ung Jabung Ti mur di m ana al okasi anggar an ber asal dar i ADD. Waktu penyal ur an dilakukan secara bertahap setiap triwulan kecuali Kabupaten Tanjung Jabung Bar at yang di l akukan seti ap 1 kal i setahun. Lebi h r i nci mekanisme penyaluran bantuan insenti f untuk petugas keagamaan dapat dil ihat dalam tabel 3.

Tabel 3: M ekanisme Penyalur an I nsentif Pegawai Syarak

Dari data-data di atas, dapat dikatakan bahwa pemerintah daerah memiliki semangat yang cukup tinggi untuk memberdayakan Pegawai Syar ak. M eski pun secar a for mal insti tusi Pegawai Syar ak dal am konsep bagian dari pemeri ntahan Dusun sudah lama hilang, namun istilah Pegawai Syarak masi h sangat familiar di tengah masyarakat. H al i ni m enj adi fakt or penentu kebi j akan pem er i nt ah t er kai t pemberdayaan Pegawai Syarak mudah diter ima masyarakat.

N O. D AER A H M EK A N I SM E PEN YA LU R AN I N SE N T I F

1. M uaro Jam bi Per t r iwul an m el al ui Kecam atan 2. Batanghari Per t r iwul an m el al ui Kecam atan 3. Tanj ung Jabung Ti m ur Per t r iwul an m el al ui Desa

4. Tanj ung Jabung Bar at Per t ahun m el al ui Bag. AKRK dan Kecam at an 5. Sarol angun Per t r iwul an m el al ui Kecam atan

(12)

Per an Pegaw ai Syar ak dalam Pem bin aan K eagam aan

M asyar akat

Jika dihitung besarnya anggaran yang di habiskan untuk insenti f Pegawai Syar ak se-Pr ovi nsi Jambi , j uml ahnya ti dakl ah sedi ki t. Sebagai contoh dapat dilihat anggaran di beberapa daerah seperti K abupat en Tan j aung Jabung Bar at yan g m en gh abi sk an Rp. 1.260.000.000,- untuk 1050 orang, Kabupaten Sarolangun sebesar Rp. 1.350.000.000,- untuk 1125 or ang dan Kabupaten M er angi n sebesar Rp. 973.728.000,- untuk 1127 orang Pegawai Syarak. Jika dir ata-ratakan setiap daerah menghabiskan Rp. 1 M il yar, maka total anggaran se-Provinsi Jambi mencapai angka Rp. 7 M iliyar. Jumlah i ni akan semaki n besar j i ka di akumul asi dengan bi aya petugas penyalur an i nsenti f. Dengan j umlah anggar an yang cukup besar tersebut, pencapaian tujuan program pemberdayaan Pegawai Syarak m el al ui bantuan i nsent i f sangat l ayak unt uk di eval uasi secar a komprehensif.

(13)

mengevaluasi kebijakan bantuan, namun j uga belum sampai pada tahap mengukur dampak yang dihasilkan.

Proses penyalur an insentif Pegawai Syarak umumnya berjalan l an car dan cen der un g m en j adi sebuah r ut i n i t as bi asa. Permasalahannya hanya pada kevalidan data.19 Masih terjadi berbagai k esal ah an pen ul i san dat a dan j uga ban yak dat a bel um dimutakhirkan.20 Namun, jika dihubungkan dengan upaya penguatan kembali karakter M elayu-I sl am masyarakat Jambi, bel um nampak adanya hasil signifikan yang dicapai. Sejauh ini, fungsi Pegawai Syarak yang didefenisi kan sebagai I mam, Khati b dan Bilal, masih berjalan sebagai mana sebel umnya. Kegi atan-kegi atan masj i d j uga masi h berjalan sebagaimana biasa, sesuai dengan program pengurus masjid dan -jika ada- bersama Remaj a M asj id.

Sebelum l ahirnya kebi jakan-kebijakan terkait Pegawai Syar ak, kegiatan masji d secara umum dikelola oleh pengur us masjid yang diantaranya terdapat I mam, Khatib dan Bilal. Fungsi pengurus masjid antara lain mel iputi pelaksanaan shalat berj amaah, kegiatan bulan Ramadhan dan har i r aya, pengelolaan zakat, per ayaan hari besar I sl am, pendidikan al -Qur’an anak-anak, pembinaan remaj a masj id, pengajian kaum ibu/ bapak, dan serikat tolong-menolong kemati an. Beberapa masji d yang di kelola secar a pr ofessional bahkan mul ai mel akukan akti fitas pemberdayaan ekonomi syariah. Pelaksanaan seluruh kegi atan dikelola secar a swadaya oleh pengur us ber sama masyar akat, dan bel akangan mul ai i ntensi f ada pembinaan dar i Kementeri an Agama Republi k I ndonesia. Kondisi yang sama masih terjadi setelah adanya kebijakan-kebijakan tersebut. Dengan kata lain, per ubahan yang dihasilkan kebij akan pemeri ntah daerah hanyalah penambahan i nsenti f untuk I mam , Khati b dan Bi l al , dar i yang sebel umnya hanya ber asal kas masj i d tempat ber tugas ber ubah menjadi ada tambahan rutin dari keuangan daer ah.

(14)

jumlah bantuan memang masi h belum memadai. Namun mengingat keter batasan anggar an, maka untuk sekarang i ni lah kemampuan pemerintah daerah. Salah seorang I mam Masjid di Lembah Kuamang, Suwadi, j uga menyatakan bantuan dari pemer intah untuk kegiatan keagamaan masi h sangat kurang, bahkan ter kadang ada kebijakan tapi ti dak teri mplementasi dengan baik. Sel ama ini, pembi ayaan kegiatan keagamaan dilakukan secara mandir i swadaya masyarakat dengan ulamanya.

Tapi jika dianalisis lebih mendal am, permasal ahan sebenar nya tidak hanya mengenai besaran insentif, tapi lebih jauh menyangkut per untukan bantuan. Tentu saj a, j uml ah bantuan i nsenti f yang diangarkan pemerintah daer ah untuk insentif Pegawai Syarak harus di sesuai k an dengan k em apuan k euan gan daer ah. D i si ni l ah dibutuhkan perencanaan dan skala prior itas yang lebih matang dari pemer i ntah daer ah dal am menentukan pol a bantuan yang l ebi h m am pu mem ber dayakan dan m endi di k m asyar akat . Pr ogr am pemberian insentif selama ini terkesan merupakan insentif hanya untuk melakukan tugas sebagai I mam, Khatib dan Bilal dalam shalat, dan lebih khusus lagi dalam shalat Jumat. Sehingga, bantuan insentif hampir ti dak memberi kan perubahan ber arti terhadap ki nerja dan i novasi pr ogr am Pegawai Syar ak dal am m embangun kar akt er masyar akat.

Padahal, jika dilihat dari sejarah sebelumnya Pegawai Syarak dal am pengerti an petugas I mam, Khati b dan Bilal tidak mendapat honor dari pemerintah daerah. Namun jika dibanding dengan kegiatan keagamaan lainnya, fungsi Pegawai Syarak tersebut justeru tergolong paling lancar. Kegiatan masjid yang beberapa tahun belakangan mulai m el em ah adal ah k egi at an pendi di kani l m u agam a -t er m asuk pendidikan al-Qur’an- untuk anak dan pembinaan remaja masjid, di sampi ng kegi atan pember dayaan ekonomi syari ah yang memang masih sangat terbatas. Tingginya beban biaya hidup menj adi salah satu faktor menurunnya minat dan kemampuan masyarakat untuk membiayai pendidikan diniyah dan mengaji anak-anak.

(15)

oper asi onal madrasah memang sangat di butuhkan masayar akat. Sayangnya, temuan data penelitian ini menunjukkan alokasi bantuan insentif untuk Guru Ngaji dan operasional madrasah tergolong relatif keci l dan t i dak j auh ber beda dengan Pegawai Syar ak. Dal am per spekti f ini , eval uasi terhadap peruntukan bantuan insentif lebih penting ketimbang evaluasi terhadap besaran bantuan.

Faktor lain yang mempengaruhi ki nerja Pegawai Syar ak adalah mi ni mnya pembi naan dan/ atau pel at i han yang di ber i kan ol eh pemerintah terhadap petugas, termasuk dalam penyamaan perspektif terhadap tugas Pegawai Syarak yang diharapkan pemerintah daerah. M enurut Ali, perhatian pemerintah daer ah terhadap Pegawai Syarak sudah ada, namun sekedarnya saja. Ke depan diharapkan pemerintah lebih meningkatkan perhati an ter utama dalam peningkatan kuali tas sumber daya manusia Pegawai Syarak sehingga kinerjanya lebih baik. Lebi h l anj ut Al i m engatakan sel am a i ni Pegawai Syar ak sudah ber usaha melakukan kegiatan-kegi atan kei slaman secara i ntensi f seperti peringatan tahun baru Islam, maulid Nabi, isra’ mi’raj nuzulul-Qur’an dan sebagainya.21

Per nyataan yang hampir sama juga diberikan H amdi, bahwa sel ama i ni pembi naan bagi Pegawai Syar ak bel um ada. Padahal , pembinaan ini tentu dibutuhkan guna peningkatan kualitas Pegawai Syarak dalam menjalankan amanahnya.22 Belum adanya pembinaan bagi Petugas Syarak ini memang diakui oleh PJs. Kepala Desa Tanjung. H addad mengatakan dar i pemer i ntah desa sendi r i ti dak per nah mel akukan kegiatan khusus pembinaan Pegawai Syarak, demikian juga dengan pembinaan dari pemerintah daerah. Namun menurutnya, urusan Pegawai Syar ak ber jalan dengan bai k.23 Per lunya pembinaan dar i pem er i nt ah daer ah j uga di sam pai kan ol eh Al -Fi kr i yang mengatakan, selai n bantuan i nsenti f, pr ogr am yang j uga sangat di but uhkan unt uk m eni ngkat kan kual i t as pengam al an agam a masyarakat adalah pelatihan untuk pengurus masjid dan juga remaja masj i d. Adanya pel ati han i ni di har apkan menj adi sti mulan bagi peni ngkatan kegiatan pemakmuran masj id.24

(16)

tugas sebagai I mam, Khatib dan Bi lal shalat tentulah tidak terl alu mendesak. M enurut penulis, tidak bisa dijadikan sebagai pembenaran terhadap kurang optimalnya pelaksanaan fungsi Pegawai Syarak. Jika kembali merujuk pada sejarah, Pegawai Syarak dahulunya adalah mitra pemerintah, bahkan lebih dari itu Pegawai Syarak adalah tempat pemerintah bertanya urusan fatwa agama. Dengan fungsi demiki an, maka sudah bisa disi mpulkan bahwa Pegawai Syarak adal ah orang-or ang yang memi liki kuali fikasi il mu baik tanpa adanya pr ogr am pendi dikan dar i pemeri ntah.

Sehubungan dengan program-progr am bantuan i nsentif dari pemerintah, Ketua DPRD Tanjung Jabung Bar at menilai perbai kan kualitas keberagamaan masyarakat yang sangat penting saat ini adalah m em bangun m ent al i t as um at I sl am yan g l ebi h m andi r i dan ber m ar t abat . H al yang saat i ni m enj adi per masal ahan adal ah kurangnya pemahaman dan kesadaran beragama masyarakat. Untuk itu, sangat di harapkan sekali per an ulama, khususnya juga I AI N, untuk memberikan pencerahan pada ummat. Di samping i tu, perlu juga ada upaya formal dari pemerintah, misalnya penertiban peminta-minta di jalan seper ti mi nta sumbangan pembangunan masjid dan sumbangan kematian. Dengan kata lain, Ketua DPRD Tanjung Jabung Barat menilai yang lebih mendesak diberikan pada masyarakat adalah program-program pembi naan yang l ebih komprehensif ketimbang bantuan untuk i badah ritual semata.

P el u an g R evi t a l i sa si Per an Pegaw a i Sya r a k d a l a m

Penguatan K em bali K ar akter M elayu-I slam M asyar akat

Jam bi M asa M endatang

(17)

daya guna kebi j akan bel um opt i m al m encapai n i l ai gun anya di sebabkan ol eh faktor -faktor penghambat . M aka, j i ka sebuah kebijakan masih diyakini memiliki nilai guna, hal yang perlu dilakukan adalah memperl uas peluang agar daya gunanya meningkat melalui sej umlah strategi.

Kebijakan terkait Pegawai Syarak jika dilihat dar i akar sejar ah, pada haki katnya memi l i ki ni l ai guna yang sangat penti ng bagi peningkatan kualitas pengamalan agama masyarakat Jambi. Nilai guna ini dapat di lihat dalam tugas dari Pegawai Syarakyang dijel askan dal am kebi jakan pemeri ntah daerah. Beri kut i ni di uraikan tugas Pegawai Syarak dalam beberapa kebijakan terkait:

1 Keputusan Bupati M er angi n No. 323/ KESRA/ 2011 Tentang Penunj ukan Pet ugas Pegawai Syar ak dan Gur u M engaj i se-Kabupaten M er angi n Tahun 2011: Pegawai Syar ak memi li ki tugas:

a. M elaksanakan pengurusan jenazah b. M el aksanakan kegiatan rutin masjid c. M el aksanakan pengaj ian pada masyarakat d. M emelihara kebersihan masjid

e. M el aksanaan tugas keagamaan lainnya

2. Kepurusan Bupati No. 213 Tahun 2011 Tentang Penunj ukan Petugas Syarak dan Guru Ngaji dalam Kabupaten M uaro Jambi Tah un An ggar an 20 11: Pegawai Syar ak ber t ugas un t uk menyel enggar akan/ menyi apkan kegi atan masj i d, dan waj i b mel aporkan kegiatan kepada Badan Pemberdayaan M asyarakat dan Pemer intahan Desa Kabupaten M uaro Jambi.

3. Keputusan Bupati Tanjung Jabung Timur No. 28 Tahun 2011 Tentang Penetapan dan Petunjuk Pelaksanaan Alokasi Dana Desa: Gur u Ngaj i ber tugas untuk menggal akkan pengaj i an antar a M aghrib dan I sya sedangkan pengurus masji d mel aksanakan kegiatan masj id.

(18)

Tanjung Jabung Bar at Tahun Anggaran 2011 dan Keputusan Bupati Tanj ung Jabung Bar at No. 211 Tahun 20 11 Tentang Pengangkatan Da’i Pembina Desa/ Kelur ahan dalam Kabupaten Tanjung Jabung Barat Tahun 2011: I mam bertugas mengel ola shalat lima waktu dan shalat Jumat; Guru Ngaji mengajar mengaji anak-anak dan kaum muslimin; mudim masjid bertugas menajga dan member sihkan masji d serta memberi tahu masuknya waktu shal at ; sedangkan Da’i ber t ugas mel akukan dakwah unt uk meningkatkan iman dan taqwa, membimbing umat untuk menjaga per sat uan dan kesatuan ser t a menumbuhkan pr i badi yang lingkungan sehat.

Dar i ur aian tugas yang ada, dapat di li hat bahwa tugas yang diharapkan pemerintah daer ah ter hadap Pegawai Syarak j auh lebih luas dari sekedar pel aksanaan shalat berjamaah. Walaupun, fungsi sebagai mitra pemerintah Desa yang per nah diemban oleh institusi tersebut sama sekali belum Nampak. Padahal, penul is menilai fungsi ini memiliki nilai strategis yang sangat tinggi. Sistem kehidupan adat, yang banyak dilaksanakan di berbagai daerah di I ndonesia pada masa lal u, mer upakan sebuah sistem kehidupan yang terintegrasi seluruh aspeknya. Ber j al annya ni l ai -ni l ai adat dal am kehi dupan sosi al masyarakat selalu ber hubungan (terkait) dengan struktur pemer in-tahan dan hukum yang juga dibangun ber dasar kan ni lai-ni lai adat. Jika salah satu pranata adat rusak, maka akan ber dampak terhadap keselur uhan pelaksanaan adat. Di si ni lah pentingnya pemeri ntah daer ah di Pr ovi nsi Jam bi secar a kol ekt i f per l u m engeval uasi kemungkinan memberdayakan fungsi Pegawai Syar ak yang lebi h menyentuh substansi dan akar sejar ah.

(19)

Pegawai Syar ak tersebut di pandang lebih rumi t, sebagai per tim-bangan kebijakan pemerintah daer ah dapat mencari alter nati l ain yang mendekati kepentingan tersebut.

Sal ah sat u al t er nat i f yang l ayak di per t i m bangkana dal ah reaktualisasi fungsi Pegawai Syarak pada masa l alu melalui l embaga-l em baga keumm at an yang ada saat i ni . Saat i ni , fungsi -fungsi Pegawwai Syar ak dalam skal a terbatas sebagian tetap berj al an di institusi keummatanlain seperti M ajelis Ulama I ndonesia. Walaupun fungsi-fungsi ter sebut tidak sepenuhnya sama dan setar a, namun dengan sedikit pengokohan posisi dalam mekanisme kebijakan publik, keberadaan M UI dapat dini lai hampi r menyamai per an Pegawai Syarak pada masa lalu.

M el al ui m odel i ni , M U I di posi si k an pada per an ur usan pembinaan keisl aman secara makro dan mi tra pemerintah daerah dalam mengawal kebijakan publik yang responsif terhadap penguatan kembal i kar akter M el ayu-I sl am m asyar akat Jambi . Sedangkan kegiatan mikro pemakmuran masjid tetap dilaksanakan oleh pengurus masjid yang di dalamnya tercakup pengertian Pegawai Syarak saat ini. Tentu saja, model ini memiliki kelemahan tidak lagi memiliki ruh sej arah dengan kekuatan emosial mengi kat yang kuat sebagaimana diuraikan di atas.

(20)

pun, kegiatan masjid dan madrasah sudah berjalan dengan baik melalui swadaya masyar akat dan keikhlasan petugas.”25

Sebagaimana telah diuraikan di atas, kendala paling umum yang dihadapi oleh pengur us masjid adalah agenda pendidikan anak dan r em aj a ser t a pem ber dayaan ekonomi syar i ah ber basi s masj i d. Ar ti nya, j i ka anggar an bel um memungki nkan untuk membantu keseluruhan kegiatan pembinaan keislaman berbasi s masjid, maka keter sediaan dana yang ter batas tersebut layak diper ti mbangkan per untukannya.

Penutup

Kebijakan pemerintah daer ah di Provi nsi Jambi untuk member da-yakan i nst i t usi t r adi si onal Pegawai Syar ak dal am m em bant u mengatasi permasalahan sosial dan menguatkan kembali karakter M elayu-I slam masyarakat Jambi pada dasarnya penting dan memiliki pel uang yang baik. Namun, masih perlu dilakukan redefenisi terkait dengan pember dayaan Pegawai Syar ak t er sebut , apakah akan mengembai kan fungsi secar a utuh sebagaimana sejar ahnya, atau hanya sebatas mendukung pelaksanaan ibadah mahdhah. Tujuan yang terkahir, menurut penul is, adalah pemberdayaan setengah hati ter hadap insti tusi tradisional Pegawai Syarak. Akhirnya, hasil yang dicapai pun akan kurang opti mal.

Redefi ni pember dayaan i ni nant i nya akan m em pengar uhi kebijakan anggaran pemerintah daerah. Dari ur aian di atas terli hat bahwa efektifitas dan efisi ensi bantuan insentif pemerintah daerah terhadap Pegawai Syarak perlu dikaji ulang prioritas per untukannya. Tanpa ber m aksud m engeci l kan per an Pegawai Syar ak dal am pengertian saat ini, penulis menilai pembi ayaan ibadah mahdhah -shalat berjamaah- masih sangat mampu ditanggulangi secara swadaya oleh masyarakat. Apalagi, kesadaran terhadap tanggung jawab ibadah mahdhahbisa dikatakan cukup baik dibandingkan dengan kesadaran masyarakat akan pendidikan ilmu dan moral gener asi muda.

(21)
(22)
(23)

Kabupat en Sar ol an gu n

24 . Wawancara dengan Deni Al-Fi kri, I mam M asj id Nurul I man, Rt 13 Kelurahan Solok Si pi n Kot a Jambi .

(24)

DAFTAR PUSTAKA

Afr izal, “Adat Basandi Syar ak - Syarak Basandi Kitabullah; Sebagai Vi si Pem ban gunan Suk u Ban gsa M i n angk abau” , dal am Reaktualisasi Adat Basandi Syar ak - Syar ak Basandi Kitabullah, (Padang: PPI M Sumater a Barat, 2003).

Asshiddiqie, Jiml y, Per ihal Undang-Undang di I ndonesia, (Jakarta: Sekretariat Jendral dan Kepaniteraan M ahkamah Konstitusi RI , 2006).

Br yant, Coralie dan Louise G. White, M anajemen Pembangunan untuk Negar a Ber kembang, (Jakarta: LP3ES, 1987).

D., Riant Nugroho, Kebij akan Publ ik; For mulasi, I mplementasi dan Evaluasi, (Jakarta: Elex M edi a Komputindo, 2003).

Fauzi, M oh., For mali sasi Syari at I slam di I ndonesia, (Semar ang: Wal isongo Press, 2008).

I sr a, Sal di , “ Tekni k M enganal i sa dan M engeval uasi Per atur an Per undang-Undangan” dal am Tekni k Penyusunan Pr oduk H ukum Daer ah, ed. Sal di I sr a dan Suhari zal, (Padang: Anggrek L aw Fi r m bek er j a sam a den gan Pem da Kabupat en Pasaman2001).

Kamal, M i ko, “ M ekani sme Konsultasi Publik, Pembuatan Perda dan Good Governance” dalam Teknik Penyusunan Pr oduk H ukum Daer ah, ed. Saldi I sra dan Suharizal, (Padang: Anggrek Law Firm bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Pasaman, 2001). K oswar a, E., K ebi j aksanaan D esent r al i sasi Dal am Ran gka

M enunj ang Pem bangunan Daer ah, dal am Pem bangunan Administr asi I ndonesi a,(Jakarta : LP3ES, 1998).

Lati f, Abdul, H ukum dan Per atur an Kebijaksanaan (Beleidsr egel) Pada Pemer intaha Daer ah, (Yogyakarta: UI I Press, 2005). Locher, El sbeth dan Scholten, Kesultanan Sumatr a dan Kolonial;

H ubungan Jam bi -Bat av i a ( 1830 - 190 7) dan Ban gki t ny a I nper ial isme Belanda (Jakarta: Banana KI TLV, 2008).

N. Dunn, William,Pengantar Analisis Kebijakan Publik, terj. Samodra Wi bawa, dkk., (Jogj akar ta: Gadj ah M ada Uni ver si ty Pr ess, 2003).

(25)

Sidik, M achfud, Per i mbangan Keuangan Pusat dan Daer ah Dalam pr oses Otonomi Daer ah, Wor kshop M anajemen Perencanaan Penerimaan daerah, (Yogyakar ta: Si aga-UGM , 2001).

Suharadi, Adi, “Sej arah Jambi” , www.google.com, diakses tanggal 26 Agustus 2010.

Topatimasang, Roem, dkk., M er ubah Kebijakan Publik, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2001).

Utomo, Warsito,I mplementasi Desentr alisasi dan Otonomi Daer ah Tingkat I I M asa Or de Bar u (Studi Kasus di Dati I I Ci lacap dan Dati I I Kudus) dalam JKAP Volume 1 Nomor 2 (Juli 1997) M AP UGM Yogyakarta.

Yul i andr i, “ Pembentukan Peratur an Daer ah dan Pr oduk H ukum Daerah Lai nnya” dalam Teknik Penyusunan Pr oduk H ukum Daer ah, ed. Saldi I sra dan Suharizal, (Padang: Anggrek Law Firm bekerja sama dengan Pemda Kabupaten Pasaman, 2001).. UU No. 12 tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan

Gambar

Tabel 1:  Kebijakan Pemberdayaan Pegawai Syarak di Provinsi
Tabel 2: Besaran Insentif Pegawai Syarak Per Bulan
Tabel 3: Mekanisme Penyaluran Insentif Pegawai Syarak

Referensi

Dokumen terkait