• Tidak ada hasil yang ditemukan

SMI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "SMI"

Copied!
27
0
0

Teks penuh

(1)

Disusun Oleh1 : Faisal Andrean

Hamimi Aryani Pohan

Maria Magdalensa

Siti Yulia Wulandari

T. M. Putra Bachdar Johan

Yuliana Harahap

FAKULTAS ILMU SOSIAL

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2015

1 B - Reguler

INDUSTRI RUMAH TANGGA

SAPU IJUK

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa,karena berkat rahmat dan karunianya kami dapat menyelesaikan mini riset mengenai “Industri Rumah Tangga Sapu Ijuk di Desa Medan Sinembah, Kec. Tanjung Morawa, Kab. Deli Serdang”.

Mini riset ini kami selesaikan dengan tujuan dan harapan agar penulis dan pembaca mengetahu bagaimana proses pembuatan sapu ijuk di desa Medan sinembah dan juga untuk menambah wawasan bagi penulis dan pembaca.

Dalam kesempatan ini kami mengucapkan terima kasih kepada dosen Studi Masyarakat Indonesia yang sudah memberikan arahan dan bimbingan kepada kami penulis untuk dapat mengerjakan mini riset ini dengan baik. Kami juga berterima kasih kepada kedua orang tua kami yang memberi dukungan dan semangat serta dana yang kami butuhkan untuk menyelesaikan mini riset ini. Dan kami berterima kasih kepada teman-teman yang sudah berpartisipasi dan memberi dukungan sehingga kami dapat menyelesaikan mini riset ini.

Untuk itu kami memohon maaf kepada para pembaca dan teman-teman sekalian apabila terjadi kesalahan dalam penulisan mini riset ini. Kami mengarapkan kritik dan saran dari pembaca dan teman-teman sekalian untuk menyempurnakan laporan penelian ini.

Medan, April 2015

(3)

DAFTAR ISI

2.1.2 Industri Berdasarkan Tempat Bahan Bakunya...3

2.1.3 Golongan / Macam Industri Berdasarkan Besar Kecil Modal...4

2.1.4 Jenis-Jenis / Macam Industri Berdasarkan Klasifikasi Atau Penjenisannya...4

2.1.5 Jenis-Jenis / Macam Industri Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja...4

2.1.6 Pembagian / Penggolongan Industri Berdasakan Pemilihan Lokasi...5

2.1.7 Macam-Macam / Jenis Industri Berdasarkan Produktifitas Perorangan...5

(4)

3.2.1 Populasi...10

3.2.2 Sampel...10

3.3 Sumber Data...10

3.3.1 Data Primer...10

3.4 Alat Pengumpul Data...11

3.4.1 Observasi...11

3.4.2 Wawancara...11

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN...12

4.1 Hasil Dan Pembahasan...12

4.1.1 Letak Dan Batas – Batas Desa...12

4.1.2 Faktor Penyebab Memilih Industri Rumah Tangga Pengerajin Sapu Ijuk...12

4.1.3 Proses Pembuatan Sapu Ijuk...13

4.1.4 Biaya Produksi Usaha Kerajinan Sapu Ijuk...15

4.1.5 Masalah-Masalah Yang Di Hadapi Industri Rumah Tangga Pengerajin Sapu Ijuk 19 BAB V PENUTUP...20

5.1 Kesimpulan...20

5.2 Saran

(5)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Usaha kerajinan banyak tersebar di seluruh daerah di Indonesia. Baik usaha kerajinan skala besar maupun skala kecil.atau bahkan skala sebagai usaha kerajinan usaha rumah tangga. Usaha – usaha kerajinan ini sebagian bergerak dalam skala kecil. Namun mereka tetap bisa bertahan diantara usaha – usaha besar yang lain. Begitu pula di Sumatra Utara, terdapat berbagai usaha atau industri yang tersebar di daerah Sumatra Utara.

Keadaan industri kecil di Sumatera Utara terdiri dari industri kerupuk, kerupuk opak, keripik ubi, keramik gerabah, sepatu, kerajinan rotan, batu bata, ulos, makanan ringan, minuman, sapu ijuk. Diantara industri kecil di Kabupaten Deli Serdang adalah industri sapu ijuk. Industri Sapu Ijuk ini terdapat di Kecamatan Tanjung Morawa dan menyebar di Desa Medan Senembah.

Keadaan industri kecil sapu ijuk di Desa Medan Senembah ini di mulai sejak tahun 1990. Pada awalnya kegiatan industri sapu ijuk ini merupakan mata pencaharian tambahan namun seiring meningkatnya permintaan akan sapu ijuk kegiatan industri ini berkembang hingga menjadi mata pencaharian pokok. Sapu ijuk, terdiri dari ijuk aren sebagai bahan baku. Dalam pembuatan sapu ijuk dibutuhkan keterampilan khusus untuk bisa menghasilkan sapu yang memiliki nilai jual.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa factor yang membuat warga medan senembah memilih usaha kerajinan sapu ijuk ?

2. Bagaimana proses pembuatan sapu ijuk ?

(6)

1.3 Tujuan Penelitian

1. Untuk mengetahui Apa factor yang membuat warga medan senembah memilih usaha kerajinan sapu ijuk

2. Untuk mengetahui Apa sajakah komponen biaya produksi dalam usaha kerajinan sapu ijuk

3. Untuk mengetahui Bagaimana tingkat pendapatan kerajinan sapu ijuk

4. Untuk mengetahui masalah apa yang dihadapi pengrajin sapu ijuk di daerah penelitian

1.4 Manfaat Penelitian

(7)

BAB II KAJIAN TEORI

2.1Industri

2.1.1 Pengertian Industri

Industri adalah suatu usaha atau kegiatan pengolahan bahan mentah atau barang setengah jadi menjadi barang jadi barang jadi yang memiliki nilai tambah untuk mendapatkan keuntungan. Usaha perakitan atau assembling dan juga reparasi adalah bagian dari industri. Hasil industri tidak hanya berupa barang, tetapi juga dalam bentuk jasa.

2.1.2 Industri Berdasarkan Tempat Bahan Bakunya

a. Industri ekstraktif

Industri ekstraktif adalah industri yang bahan baku diambil langsung dari alam sekitar. Contoh : pertanian, perkebunan, perhutanan, perikanan, peternakan, pertambangan, dan lain lain.

b. Industri nonekstaktif

Industri nonekstaktif adalah industri yang bahan baku didapat dari tempat lain selain alam sekitar.

c. Industri fasilitatif

Industri fasilitatif adalah industri yang produk utamanya adalah berbentuk jasa yang dijual kepada para konsumennya. Contoh : Asuransi, perbankan, transportasi, ekspedisi, dan lain sebagainya.

2.1.3 Golongan / Macam Industri Berdasarkan Besar Kecil Modal

a. Industri padat modal

Adalah industri yang dibangun dengan modal yang jumlahnya besar untuk kegiatan operasional maupun pembangunannya

b. industri padat karya

(8)

b.1.4 Jenis-Jenis / Macam Industri Berdasarkan Klasifikasi Atau Penjenisannya

Berdasarkan SK Menteri Perindustrian No.19/M/I/1986

a. Industri kimia dasar

Contohnya seperti industri semen, obat-obatan, kertas, pupuk, dsb. b. Industri mesin dan logam dasar

Misalnya seperti industri pesawat terbang, kendaraan bermotor, tekstil, dll. c. Industri kecil

Contoh seperti industri roti, kompor minyak, makanan ringan, es, minyak goreng curah, dll.

d. Aneka industri

Misalnya seperti industri pakaian, industri makanan dan minuman, dan lain-lain.

b.1.5 Jenis-Jenis / Macam Industri Berdasarkan Jumlah Tenaga Kerja

a. Industri rumah tangga

Adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 1-4 orang. b. Industri kecil

Adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 5-19 orang. c. Industri sedang atau industri menengah

Adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 20-99 orang.

d. Industri besar

Adalah industri yang jumlah karyawan / tenaga kerja berjumlah antara 100 orang atau lebih.

b.1.6 Pembagian / Penggolongan Industri Berdasakan Pemilihan Lokasi

1. Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada pasar (market oriented industry) Adalah industri yang didirikan sesuai dengan lokasi potensi target konsumen. Industri jenis ini akan mendekati kantong-kantong di mana konsumen potensial berada. Semakin dekat ke pasar akan semakin menjadi lebih baik.

2. Industri yang berorientasi atau menitikberatkan pada tenaga kerja / labor (man power oriented industry)

Adalah industri yang berada pada lokasi di pusat pemukiman penduduk karena bisanya jenis industri tersebut membutuhkan banyak pekerja / pegawai untuk lebih efektif dan efisien.

(9)

Adalah jenis industri yang mendekati lokasi di mana bahan baku berada untuk memangkas atau memotong biaya transportasi yang besar.

b.1.7 Macam-Macam / Jenis Industri Berdasarkan Produktifitas Perorangan

1. Industri primer

Adalah industri yang barang-barang produksinya bukan hasil olahan langsung atau tanpa diolah terlebih dahulu

Contohnya adalah hasil produksi pertanian, peternakan, perkebunan, perikanan, dan sebagainya.

2. industri sekunder

Industri sekunder adalah industri yang bahan mentah diolah sehingga menghasilkan barang-barang untuk diolah kembali. Misalnya adalah pemintalan benang sutra, komponen elektronik, dan sebagainya.

3. industri tersier

Adalah industri yang produk atau barangnya berupa layanan jasa. Contoh seperti telekomunikasi, transportasi, perawatan kesehatan, dan masih banyak lagi yang lainnya.

2.2 Ijuk

2.2.1 Pengertian Ijuk

Ijuk seperti yang kita ketahui merupakan tanaman yang banyak tumbuh di dataran

tinggi. Meskipun banyak ditemukan di dataran tinggi, ijuk dapat tumbuh pula di dataran rendah. Pohon yang menghasilkan ijuk memiliki bentuk mirip pohon kelapa. Ijuk tumbuh di antara sela-sela batang dengan pohon. Pohon ijuk disebut juga pohon aren. Ijuk bisa tumbuh dengan lebat waktu di musim penghujan. Ijuk yang siap di panen adalah ijuk yang menjulang keluar dari pohon aren dan ijuk yang sudah kering. Untuk mendapatkan ijuk yang baik, tanaman harus dirawat dengan baik dan di butuhkan teknik khusus, dalam ijuk dari pohon.

(10)

kualitas nomor empat. Di setiap jenis kualitas ijuk memiliki kegunanan dan manfaat yang berbeda yang disesuaikan dengan tingkat kebutuhan masing-masing konsumen.

2.3 Desa

2.3.1 Pengertian Desa

Desa atau kampung merupakan kata yang tidak asing lagi bagi kita. Dalam kehidupan sehari-hari desa sering diartikan sebagai suatu wilayah yang letaknya jauh dari keramaian kota, serta dihuni oleh sekelompok masyarakat yang sebagian besar mata pencahariannya adalah di sektor pertanian. Ada kalanya wilayah pedesaan digambarkan sebagai daerah yang masih alami dan sebagian besar arealnya dimanfaatkan untuk persawahan, ladang, serta kebun penduduk.

Pengertian desa menurut para ahli kependudukan dan undang- undang sebagai berikut.

1. Menurut UU No. 5 tahun 1979, desa merupakan suatu wilayah yang ditempati oleh sejumlah penduduk, sebagai satu kesatuan hukum yang mempunyai organisasi pemerintahan terendah langsung di bawah kecamatan dan mempunyai hak otonomi dalam ikatan Negara Republik Indonesia.

(11)

satu kesatuan hukum dan didalamnya bertempat tinggal sekelompok masyarakat yang berkuasa mengadakan pemerintahan sendiri.

3. Menurut Bintarto, desa merupakan suatu perwujudan geografis yang ditimbulkan oleh unsur-unsur fisiografis sosial, ekonomi politik budaya dan memiliki hubungan timbal balik dengan daerah lain.

4. Menurut undang-undang nomor 22 tahun 1948 menyatakan bahwa desa adalah daerah yang terdiri dari satu atau lebih dukuh atau dusun yang digabungkan hingga merupakan suatu daerah yang memiliki syarat-syarat cukup untuk berdiri menjadi daerah otonom yang berhak mengatur rumah tangganya sendiri.

Berdasarkan pengertian diatas, pada dasarnya desa merupakan gabungan beberapa dusun. Istilah dusun itu sendiri berbeda di massing-masing daerah. Di Sunda misalnya, dusun lebih sering disebut kampung, Di Berastagi sering disebut Di Madura sering disebut kanpong yang dikepalai Bapak Klebun. Di daerah Aceh dnamakan Gampong, di Padang disebut Nagari dan sebagainya.

Menurut R. Bintarto dalam bukunya “Pengantar Geografi Desa” paling sedikit ada tiga (3) unsur-unsur desa yang kita ketahui, yaitu:

 Daerah, suatu wilayah pedesaan pasti memiliki daerah tersendiri

dengan berbagai aspeknya seperti lokasi, luas, bentuk lahan, keadaan tanah, keadaan tata air, dan lain-lain.

 Penduduk, unsur penduduk yang perlu diperhatikan dalam

(12)

jenis kelamin, mata pencaharian, struktur penduduk menurut umur dan sebagainya.

 Tata kehidupan, tata kehidupan berkaitan erat dengan adat istiadat,

norma-norma yang berlaku didaerah tersebut, pola pengaturan sistem pergaulan warga masyarakat dan pola-pola budaya daerah lainnya.

Desa sebagai suatu kesatuan wilayah geografis tentu memiliki ciri-ciri khas yang dapat dibedakan dengan daerah-daerah lain disekitarnya. Ciri khas tersebut dapat berupa kondisi alamiah ataupun kondisi penduduknya. Menurut dirjen bangdes ciri-ciri wilayah pedesaan, antara lain:

 Perbandingan lahan dengan manusia cukup besar, artinya bahwa

lahan-lahan di wilayah pedesaan masih relatif luas dibandingkan dengan jumlah penduduk yang menepatinya sehingga kepadatan penduduk masih rendah

 Lapangan kerja yang dominan adalah sektor pertanian (agraris)

 Hubungan antar warga desa masih sangat akrab,

(13)

Ciri-ciri wilayah pedesaan yang lainnya dikemukakan oleh Surjono Sukamto (1982). Dia memberikan ciri-ciri khas desa berdasarkan kondisi masyarakatnya,antara lain:

 Warga masyarakat pedesaan memiki hubungan kekerabatan yang kuat, karena umumnya berasal dari satu keturunan. Karena itu biasanya dalam suatu wilayah pedesaan, antara sesama warga masyarakat masih memiliki hubungan keluarga atau saudara.

 Karena mereka berasal dari satu keturunan, maka corak

kehidupannya bersifat gameinschaft, yaitu diikat oleh sistem kekeluargaan yang kuat. Selain itu penduduk desa juga merupakan masyarakat yang bersifat face to face group, artinya bahwa antara penduduk yang satu dengan yang lainnya saling mengenal.

 Penduduk masyarakat pedesaan pada umumnya hidup dari sektor pertanian dan perkebunan. Walaupun ada sebagian penduduk yang bekerja sebagai tukang kayu (buruh bangunan), tukang genteng, memenuhi kebutuhannya sendiri atau sering disebut subsistance farming.

 Sifat gotong royong masih tertanam kuat pada warga masyarakat. Dalam sistem gotong rooyong ini, warga masyarakat tidak lagi memikirkan masalah untung rugi tetapi lebih mengutamakan unsur kekeluargaan dan kebersamaan.

(14)

 Masyarakat desa masih memegang norma-norma agama secara

kuat.

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Lokasi Dan Waktu 3.1.1 Lokasi

Dalam Melakukan penelitian ini, penulis memilih daerah Kec. Tanjung Morawa, Kab. Deli Serdang, tepatnya di Desa Medan Sinembah.

3.1.2 Waktu

Untuk melengkapi hasl penelitian ini, penulis mengadakan observasi lapangan pada hari Jumat dan Sabtu pada tanggal 24-25 April 2015.

3.2 Populasi dan Sampel 3.2.1 Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh masyarakat yang berada di Desa Medan Sinembah, Kec. Tanjung Morawa, Kab. Deli Serdang.

3.2.2 Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah penulis mengambil dempat orang penduduk Desa Medan Sinembah untuk bersedia di minta untuk melakukan wawancara.

(15)

3.3.1 Data Primer

Data primer merupakan sumber data yang diperoleh langsung dari sumber asli (tidak melalui media perantara). Data primer dapat berupa opini subjek (orang) secara individual atau kelompok, hasil observasi terhadap suatu benda (fisik), kejadian atau kegiatan, dan hasil pengujian. Metode yang digunakan penulis untuk mendapatkan data primer yaitu dengan menggunakan metode observasi langsung ke tempat tujuan penelitian yakni Desa Medan Sinembah, Kec. Tanjung Morawa, Kab. Deli Serdang.

3.4 Alat Pengumpul Data 3.4.1 Observasi

Pada dasarnya observasi bertujuan untuk mendeskripsikan setting yang dipelajari, aktivitas-aktivitas yang berlangsung, orang-orang yang terlibat dalam aktivitas, dan makna kejadian dilihat dan perspektif mereka terlibat dalam kejadian yang diamati tersebut. Deskripsi harus kuat, faktual, sekaligus teliti tanpa harus dipenuhi berbagai hal yang tidak relevan. Untuk itu penulis mengadakan observasi langsung ke Desa Medan Sinembah, unutk melakukan pengamatan langsung mengenai industry rumah tangga sapu ijuk.

3.4.2 Wawancara

(16)

BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Dan Pembahasan

4.1.1 Letak Dan Batas – Batas Desa

Penelitian ini dilakukan di desa Medan Senembah, Kec.Tanjung Morawa, Kab.Deli Serdang, terletak kurang lebih 12 Km dari kota Medan dan 16 Km dari ibukota Kab. Deli Serdang. Batas – batas Geografis kecamatan adalah sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kecamatan Batang Kuis, Kecamatan Beringin Sebelah Selatan : Kecamatan STM Hilir

Sebelah Barat : Kecamatan Patumbak, Kecamatan Medan Amplas Sebelah Timur : Kecamatan Merbau, Kecamatan Galang

Desa Medan Sinembah adalah satu – satunya desa di wilayah kecamatan Tanjung Morawa, yang penduduknya mengusahakan kerajinan sapu ijuk sebagai usaha pokok dan usaha sampingan. Usaha industry kerajinan pembuatan sapu ijuk udah berlangsung sejak lama yang diperkenalkan oleh seorang pendatang di desa Medan Sinembah dan kerajinan sapu ijuk ini terus berlangsung hingga sekarang.

4.1.2 Faktor Penyebab Memilih Industri Rumah Tangga Pengerajin Sapu Ijuk

Dari hasil wawancara dan observasi langsung tehadap warga desa Medan Senembah, adapun hal – hal yang mendasari menggeluti usaha sapu ijuk :

(17)

- Karena awalnya diajak oleh teman membantu membuat sapu ijuk, hingga berkelanjutan membuka usaha sapu ijuk sendiri

- Karena turun – temurun dari keluarga, atau melanjutkan usaha keluarga.

- Karena merasa lebih menguntungkan untuk usaha sapu ijuk daripada usaha yang lain.

Namun hal – hal yang paling mendasari mereka menggeluti perkejaan ini adalah ketiadaan pekerjaan lain yang mereka dapat.

4.1.3 Proses Pembuatan Sapu Ijuk

Sapu ijuk adalah perpaduan dari beberapa bahan seperti ijuk, kayu/tangkai, tali nilon tali raffia, sehingga menghasilkan daya daya dan hasil guna yang lebih besar.

Pada awalnya pengerajin memanfaatkan bahan yang ada disekitar desa atau diusahakan sendiri, naumn lama kelamaan usaha ini berkembang dan bahan dari sekitar desa tidak mencukupi lagi sehingga kemudian dibeli bahan dari luar desa Medan Sinembah,

Adapaun proses atau cara kerja pembuat sapu ijuk adalah sebagai berikut.

4.1.3.1 Memotong Dan Membersihkan Ijuk

Ijuk yag dibeli dari pedagang dari Sipirok, adalah ijuk yang diambil dari pohon aren sehingga masih perlu dipotong dan dibersihkan. Sapu yang dihasilkan pada dasarnya sudah mempunyai ukuran tertentu, baik itu ijuk, tangkaidan lainnya. Pemotongan ijuk sesuai ukuran yang telah ditentukan.

Tujuan dari membersihkan ijuk ini adalah untuk memisahkan ijuk dengan lidi karena disamping tidak bermanfaat pada sapu, lidi juga dapat mengganggu kelanccaran dalam pembuatan sapu serta mencargah tangan tertusuk oleh lidi tersebut. Disamping memisahkan ijuk dan lidi, sekaligus juga memilih ijuk antara kualitas yang baik dan yang kurang baik. Ini berhubungan juga dengan klasifikasi sapu ijuk yakni kualitas tempahan dan kualitas biasa.

4.1.3.2 Menjalin Ijuk (Jahit Pinggir)

(18)

dimana setelah dijalain bentuknya seperti sigitiga, memperindah bentuk dari sapu, karena jalinan tali nilon menambah nilai keindahan dari sapu.

Proses penjalinan sanagat membutuhkan kesabaran serta keterampilan. Penjalinan dilakukan dengan menggunakan jarum sebagai alat peusuk (jarum yang dipakai adalah jarum goni) yang dimulai dari samping bawah (batas segitiga, bagi sapu yang menggunakan segitiga/kipas ) menuju ke atas. Penjalinan dilakukan secara teratur, sehingga di sisi kiri akan terbentuk jalinan tali nilon yang rapi demikian juha dengan bagaian depan dan belakang.

4.1.3.3 Jahit Tengah

Apabila sapu ijuk telan di jalin dengan baik, sebenarnya bentuk sapu telah kokoh. Pada tahapan ini tujuannya adalah memperkokoh jahitan dan memantapkan bentuk dari jahitan ijuk. Pada bagian tengah ijuk yang berbentuk segitiga, penjalinan dilakukan dengan jarum dan mengguanakan tali raffia.

4.1.3.4 Membungkus Tangkai, Memasang Tangkai Dan Segitiga/Kipas

Tangkai yang terbuat dari bambu atau rotan sebelum diletakkan pada sapu dibungkus terlebih dahulu dengan kapsup (sejenis plastic yang kaku) yang memiliki warna yang beraneka ragam. Caranya dengan melilitkan sesuai ukuran yang telah ditetrapkan dan melekankan dengan paku. Hal ini berguna untuk mempercantik penampilan sapu dan menjaga tangkai agar tidak cepat lapuk.

Pemasangan segitiga/kipas berguna untuk menahan ijuk agar tidak berputar pada tangkai sehingga ijuk tidak lepas, juga mempermudah pembuatan bentuk dari sapu, dimana apabila ijuk sudah siap dijalinkan akan menyerupai segitiga.

(19)

Bila proses perpaduan antara ijuk terhadap tangkai serta segitiga telah selesai maka lebih boleh dikatakan pembuatan sapu sudah rampung hanya tinggaal menyisir dan meratakan ujung dari ijuk.

4.1.3.5 Menyisir dan Meratakan Ijuk

Setelah selesai pemasangan tangkai, maka sapu tersebut disisir dengan tujuan untuk merapikan susunan daripada ijuk tersebut serta mengeluarkan kotoran yang masih tersisa. Hal ini dilakukan dengan mengguanakan sisir yang agak kasar yang dimulai dari bagian atas menuju bagian bawah

Sapu yang telah selesai dijalin biasanya ujung dari ijuk poermukaan ijuk yang bersentihan dengan lantai) belum benar sehingga masih perlu dipotong sampai benar-benar rata dengan tujuan untuk efektifitas penggunaan sapu tersebut

4.1.4 Biaya Produksi Usaha Kerajinan Sapu Ijuk

Biaya produksi adalah biaya yang dikeluarkan oleh pengusaha selama proses produksi berlangsung untuk menghasilkan sapu ijuk. Komponen-komponen biaya produksi yang digunakan dalam usaha dalam kerajinan sapu ijuk.

4.1.4.1 Kebutuhan dan Biaya Bahan Baku

Bahan baku yang digunakan untuk menghasilkan sapu ijuk adalah ijuk yang berasal dari pohon aren. Bahan baku bersumber dari pedagang yang berasal dari Sipirok yang datang ke Desa Medan Sinembah. Berikut ini adalah tabel jumlah sapu ijuk yang dihasilkan responden dalam waktu satu bulan

Tabel 1 Jumlah Sapu Ijuk Yang Dihasilkan Setiap Responden Perbulannya.

No Responden Jumlah Sapu per Batang

1 1 400

(20)

3 3 480

4 4 720

Dari table 1 diatas dapat dilihat bahwa jumlah sapu yang dihasilkan terbanyak tiap bulannya pada industri rumah tangga pengerajin sapu ijuk terdapat pada responden ke 2 sebesar 960 batang, diikuti oleh responden ke 4 sebesar 720 batang, lalu diikuti oelh responden ke 3 yaitu sebesar 480 batang, dan yang terakhir adalah responden ke 1 yaitu sebesar 400 batang.

Kebutuhan bahan baku usaha kerajinan sapu ijuk berdasarkan skala usaha dan jenis sapu yang dihasilan pada table berikut ini.

Tabel 2 Kebutuhan Bahan Baku Usaha Kerajinan Sapu Ijuk Industri Rumah Tangga Perbulannya

Dari table 2 diatas dapat dilihat bahwa kebutuhan bahan baku terbesar perbulannya pada industri rumah tangga pengerajin sapu ijuk terdapat pada responden ke 2 sebesar 60 kg, diikuti oleh responden ke 4 sebesar 45 kg, lalu diikuti oelh responden ke 3 yaitu sebesar 30 kg, dan yang terakhir adalah responden ke 1 yaitu sebesar 25 kg.

Biaya bahan baku adalah biaya yang dikeluarkan oelh pengusaha untuk memperoleh bahan baku yaitu ijuk sesuai kebutuahannya. Biaya bahan baku usaha kerajinan sapu ijuk berdasarkan industry rumah tangga yang dihasilkan dapat dilihat pada table 2 berikut.

Tabel 3 Jumlah Biaya Bahan Baku Usaha Kerajinan Sapu Ijuk Perbulannya Berdasarkan Usaha Industri Rumah Tangga (Rupiah)

No Responden Biaya

1 1 Rp 600.000

2 2 Rp 1.440.000

3 3 Rp 720.000

(21)

Dari table 3 diatas dapat dilihat bahwa biaya bahan baku terbesar perbulannyaa pada industry rumah tangga pengerajin sapu ijuk terdapat pada responden ke 2 sebesar Rp 1.440.000, diikuti oleh responden ke 4 sebesar Rp 1.080.000, lalu diikuti oelh respnden ke 3 yaitu sebesar Rp 720.000, dan yang terakhir adalah responden ke 1 yaitu sebesar Rp 600.000

4.1.4.2 Modal

Penyaluran modal dari pemerintah kepada pengusaha kerajinan sapu ijuk di Desa Medan Sinembah ini belum pernah mereka terima. Semua Modal dalam memproduksi sapu ijuk berasal dari modal sendiri. Pengusaha kerajinan sapu ijuk di daerah ini sebagian besar bergerak dalam skala kecil dan rumah tangga (RT), dan keluarga yang mengusahakannya adalah keluarga yang sederhana yang kurang memili simpanan yang dapat dipakai sebagai modal.

Mereka hanya mengandalakan produksi sapu sebelumnya untuk dijadikan modal untuk memproduksi sapu berikutnya.Modal dari setiap responden dalam memproduksi sapu ijuk beserta biaya bahan-bahan lain yang diperlukan perbulannya dapat dilihat dari tabel berikut ini

Tabel 4 Modal Setiap Responden dalam Memproduksi Sapu Ijuk Perbulannya

No Responden Modal

1 1 Rp 1.500.000 - Rp 2.000.000

2 2 Rp 3.500.000 – Rp 5.000.000

3 3 Rp 1.800.000 – Rp 2.200.000

4 4 Rp 2.540.000 - Rp 3.400.000

(22)

4.1.4.3 Pendapatan

Pendapatan yaitu keuntungan yang didapatkan dari hasil menjual sapu ijuk. Untuk meningkatkan pendapatan dapat dilakuakan dengan cara meningkatkan jumlah sapu yang diproduksi serta model sapu yang bervariasi sehingga menarik minat konsumen untuk membeli sapu ijuk tersebut.Pendapatan yang didapat setiap responden dalam menjual sapu ijuk perbulannya dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini.

Tabel 5 Pendapatan Setiap Responden Dalam Menjual Sapu Ijuk Hasil Produksi Perbulannya

No Responden Pendapatan

1 1 Rp 4.000.000

2 2 Rp 9.600.000

3 3 Rp 4.800.000

4 4 Rp 7.200.000

(23)

4.1.5 Masalah-Masalah Yang Di Hadapi Industri Rumah Tangga Pengerajin Sapu

Bahan baku usaha kerajinan sapu ijuk adalah ijuk. Ijuk ini merupakan produksi dari pohon aren. Sedangkan pohon aren sebagian beasr merupakan tanaman yang tumbuh dihutan. Jikalau ada tumbuh dimasyarakat bukanlah secara sengaja. Ijuk yang didatangkan dari Sipirok ini diperoleh pengusaha tidak selalu pada waktunya dan sesuai dengan jumlah yang dibuthkan, khususnya yang tidak mempunyai pedagang ijuk yang tetap. Hal ini disebabkan karena pengambila ijuk dilakukan tidak secara kontinu dan bukan merupakan mata pencaharian utama, sebagaian besar penghasil ijuk adalah petani padi. Sehingga pada masa turun ke sawah bahan baku ijuk sulit diperoleh.

Fluktuasi pengadaan bahan baku ini dirasakan oleh 4 responden pada suatu waktu sebagai suatu masalah dalam pembuatan sapu ijuk.

4.1.5.2 Persaingan Dengan Sapu Plastik

Sapu yang diperjual belikan di pasar tidak hanya satu jenis dan tidak hanya terbuat dari sapu ijuk. Ada sapu yang terbuat dari plastik dan sebagian besar penduduk akhir-akhir ini lebih menggmari sapu tersebut, karena daya tahan yang lebih kuat dan juga pnempilannya yang lebih menarik sehingga produksi ini semakin meningkat. Sebailiknya pengusaha sapu ijuk khawatir masyarakat tidak memakai lagi sapu produk mereka.

(24)

BAB V PENUTUP

5.1 Kesimpulan

 Desa Medan Sinembah adalah satu – satunya desa di wilayah kecamatan Tanjung

Morawa, yang penduduknya mengusahakan kerajinan sapu ijuk sebagai usaha pokok dan usaha sampingan. Usaha industry kerajinan pembuatan sapu ijuk udah berlangsung sejak lama yang diperkenalkan oleh seorang pendatang di desa Medan Sinembah dan kerajinan sapu ijuk ini terus berlangsung hingga sekarang.

 Dalam membuat sapu ijuk, ada beberapa tahapan proses dalam pembuatannya yaitu a. Memotog dan membersihkan ijuk

b. Menjalin ijuk (jaiht pinggir) c. Jahit tengah

d. Membungkus tangkai, memasang tangkai, dan segitiga/kipas e. Menyisir dan meratakan ijuk

 Ada beberapa faktor yang menyebabkan industry rumah tangga penggerajin sapu ijuk

dapat berkembang di wilayah desa Medan Sinembah

a. Karena ketiadaan pekerjaan lain, sehingga mereka memilih usaha ini.

b. Karena awalnya diajak oleh teman membantu membuat sapu ijuk, hingga berkelanjutan membuka usaha sapu ijuk sendiri

c. Karena turun – temurun dari keluarga, atau melanjutkan usaha keluarga. d. Karena merasa lebih menguntungkan untuk usaha sapu ijuk daripada usaha

yang lain.

 Selain itu terdapat permasalahan dalam pembuatan sapu ijuk, diantarrnya a. Fluktuasi pengadaan bahan baku

b. Persaingan dengan sapu plastik

5.2 Saran

 Kepada pengusaha kerajinan sapu ijuk di desa Medan Sinembah agar lebih teliti

dalam membaca situasi pasar dan selera konsumen, secara khusus dalam hal penampilan (mode) dan variasi sapu yang diproduksikan.

 Kepada pemerintah, untuk membantu pengusaha kerjinan sapu ijuk melalui

(25)

DAFTAR PUSTAKA

https://bandungrcmbisnis.wordpress.com/2012/03/17/definisi-ijuk/

http://jualhasilkomoditi.blogspot.com/2012/11/pengertian-dan-berbagai-macam-kualitas.html

(26)

http://geografi-geografi.blogspot.com/2010/11/pengertian-industri-menurut-uu-no.html

https://subiantogeografi.wordpress.com/pengertian-desa-dan-kota/

http://www.pengertianahli.com/2014/03/pengertian-ciri-jenis-desa.html

Lampiran

(27)

2. Bahan Penunjang Pembuatan Sapu Ijuk

3.

Proses Pembuatan Ijuk

Ijuk

Plastik Penutup Tongkat

Gambar

Tabel  3  Jumlah  Biaya  Bahan  Baku  Usaha  Kerajinan  Sapu  Ijuk  PerbulannyaBerdasarkan Usaha Industri Rumah Tangga (Rupiah)
Tabel 4 Modal Setiap Responden dalam Memproduksi Sapu Ijuk Perbulannya
Tabel  5  Pendapatan  Setiap  Responden  Dalam  Menjual  Sapu  Ijuk  Hasil  Produksi

Referensi

Garis besar

SMI

Dokumen terkait