PENGARUH MANAJEMEN RISIKO KREDIT UNTUK MENEKAN KREDIT MACET PADA BANK TABUNGAN PENSIUNAN NASIONAL TBK.
ADHI WINARKO UNIVERSITAS TRILOGI
1. LATAR BELAKANG MASALAH
Pertumbuhan ekonomi dan pembangunan ekonomi suatu negara sangat memerlukan adanya dana. Sedangkan pada kenyataannya tidak semua negara mampu mencukupi kebutuhan dana tersebut, sehingga membutuhkan mobilisasi dana dari masyarakatnya.Itulah sebabnya dibutuhkan adanya peran perbankan yang sehat dan efektif untuk dapat menghimpun dana dari masyarakat dan menyalurkannya dalam bentuk kredit.
Manajemen Resiko Bagi Bank Umum dengan tujuan untuk menghindari kerugian.
2. TUJUAN PENELITIAN
a. Untuk mengetahui pengertian resiko kredit dan kredit yang dilakukan oleh Bank.
b. Untuk mengetahui metode manajemen resiko kredit yang digunakan oleh Bank BTPN.
3. LITERATUR (ISI/PEMBAHASAN) a. Kredit dan Resiko Kredit
Kredit berasal dari bahasa Yunani (
credere)
yang berarti kepercayaan. Oleh karena itu dasar dari kredit adalah kepercayaan yang diberikan oleh Bank kepada nasabah yang melakukan kredit. Maka dari itu dalam suatu kredit yang dilakukan harus ada perjanjian hitam diatas putih yang dimaksudkan untuk membuat kredit dapat dipertanggungjawabkan di masa yang akan datang. Sedangkan Resiko Kredit adalah risiko kerugian yang diderita oleh bank, terkait dengan kemungkinan bahwa pada saat jatuh tempo,counterparty
-nya gagal memenuhi kewajiban kepada bank atau yang biasa dikenal sebagai kredit macet.a. Pengawasan aktif komisaris dan direksi b. Organisasi dan fungsi manajemen resiko c. Kebijakan, Prosedur dan penerapan limit d. Proses Penerapan Manajemen Resiko
e. Pengendalian internal dalam penerapan Manajemen Resiko b. Penerapan Manajemen Resiko pada Kredit Pensiun Sejahtera
Penelitian ini mengungkapkan di akhir tahun 2017 Bank BTPN berhasil menjaga resiko kredit macetnya di angka 0,9 persen (Sumber : Kompas). Hal ini menjelaskan bahwa pihak bank BTPN dapat menjalankan manajemen resiko secara optimal. Padahal kredit yang disalurkan juga lumayan besar, hal ini terjadi karena pihak bank dapat mengelola restrukturisasi/penjadwalan ulang untuk menyelamatkan kredit yang dilakukan oleh bank terhadap debitur. Langkah yang dilakukan oleh Bank BTPN dapat dijadikan contoh oleh bank lainnya.
4. REKOMENDASI
a. Bagian pemberian kredit harus memiliki sikap kehati-hatian dan objektif dalam menghadapi permasalahan kredit.
b. Pemeriksaan dokumen kelengkapan dan pengecekan harus dilakukan lebih mendalam sebelum akad kredit dilakukan.
perusahaan tempat bekerja dan tanggungan yang dimiliki oleh nasabah tersebut.
5. DAFTAR PUSTAKA
1. Kisman, Z. Model For Overcoming Decline in Credit Growth (Case Study of Indonesia with Time Series Data 2012M1-2016M12). Journal of Internet Banking and Commerce.Vol.22, No. 3,2017.
2. Kisman, Z., & Shintabelle Restiyanita, M. The Validity of Capital Asset Pricing Model (CAPM) and Arbitrage Pricing Theory (APT) in
Predicting the Return of Stocks in Indonesia Stock Exchange.
American Journal of Economics, Finance and Management Vol. 1, No. 3, 2015, pp. 184-189
3. Kisman, Z.Disappearing Dividend Phenomenon: A Review of Theories and Evidence.Transylvanian Review.Vol XXIV, No. 08,2016.
4. Dwiatmanto, Topowijono Mustikawati Nisa. Penerapan Manajemen Resiko Kredit Untuk Meminimalisir Resiko Kredit Macet. Universitas Brawijaya;2012.
5. Prasetyo, Eka Adhi.Faktor yang Mempengaruhi Kondisi Financial Distress Perusahaan Perbankan yang Listing di BEI Tahun 2006 – 2008. Universitas Diponegoro, 2011.
6. Bank Indonesia. 2003.