eksistensi laporan nilai tambah syari ah berbasis rezeki

Loading.... (view fulltext now)

Loading....

Loading....

Loading....

Loading....

Teks penuh

(1)

EKSISTENSI LAPORAN NILAI TAMBAH SYARI’AH BERBASIS REZEKI Oleh: Aji Dedi Mulawarman1

Universitas Cokroaminoto Yogyakarta

Abstract

The objective of this research is to prove the existence of Shari’ate Value Added Statement from the real transaction and business habitus of Indonesian Moslem Society. Study is conducted by utilising Hyperphenomenology Methods. The major result shows that rizq becomes a substance of Shari’ate Value Added concept. This means that rizq is actually value added gained (financial, social and environmental) and has been purified (becomes halal, thoyib and free from riba) in every process of its attainment, result to distribution. The consequences of the major result are that the form of the Shari’ate Value Added Statement have quantitative and qualitative elements that must be stated in one form, not separated.

Keywords: Rizq, Shari’ate Value Added, Shari’ate Value Added Statement.

1. PENDAHULUAN

Penelitian ini bertujuan untuk meneliti lebih jauh eksistensi Laporan Nilai Tambah Syariah sebagai bagian dari Laporan Keuangan Syariah. Pengembangan laporan keuangan syari’ah banyak dilakukan misalnya oleh Gambling dan Karim (1991); Baydoun dan Willett (1994; 2000); perluasan Baydoun dan Willett (1994) oleh Sulaiman (2000; 2001); Sulaiman dan Willett (2003); dan Mulawarman (2006; 2007a; 2007b). Pengembangan laporan keuangan syari’ah oleh Mulawarman (2007c) disebut Laporan Keuangan Syariah. Laporan Keuangan Syariah terdiri dari Laporan Nilai

(2)

Tambah Syariah (Mulawarman 2006), Neraca Syariah (Mulawarman 2007a) dan Laporan Arus Kas Syariah (Mulawarman 2007b).

Khusus mengenai Laporan Nilai Tambah Syariah (2006) terdiri dari laporan kuantitatif dan kualitatif yang saling terikat satu sama lain dan bersifat mandatory (wajib). Laporan kuantitatif mencatat aktivitas finansial-sosial-lingkungan (akun kreativitas) dan bersifat halal-thoyib-bebas riba (akun ketundukan) (Tabel 1). Laporan kualitatif berupa catatan laporan yang tidak dapat dimasukkan dalam laporan kuantitatif serta berkenaan dengan bentuk transaksi batin-spiritual.

Hanya masalahnya terpisahnya laporan tersebut apabila diterapkan di lapangan dapat memberi peluang perusahaan mementingkan penyampaian akuntabilitas dan informasi kuantitatif. Laporan kualitatif meskipun bersifat mandatory akhirnya kembali menjadi laporan pseudo-mandatory. Pseudo-mandatory di sini dapat diartikan bahwa laporan kualitatif secara substansial bersifat mandatory, tetapi praktiknya di lapangan menjadi “mandul”, bahkan akan tergeser menjadi laporan voluntary. Dengan demikian, perlu penyesuaian bentuk laporan nilai tambah syari’ah secara teknologis menjadi satu kesatuan tak terpisah secara konkrit.

(3)

dengan kontrak atau akad2). Dengan demikian pembentukan, proses dan distribusi

nilai tambah syari’ah (baik ekonomi, mental dan spiritual) harus memenuhi prinsip halal, thoyib dan bebas riba.

Konsep nilai tambah syariah Triyuwono (2007) bila dilihat lebih jauh juga masih melihat shariate enterprise theory sebagai basis akuntansi syariah idealis3 yang

memiliki asumsi dasar manusia sebagai khalifatullah fil ardh (wakil Allah di bumi). Dijelaskan Mulawarman (2007b) bahwa shariate enterprise theory bila memang memiliki substansi akuntansi berpasangan, maka harus melihat asumsi dasar manusia dalam substansi akuntansi berpasangan pula. Asumsi dasar manusia dalam Islam di samping sebagai khalifatullah fil ardh juga memiliki asumsi dasar pasangannya, yaitu manusia sebagai abd’ Allah (konsep kepatuhan dan ketundukan manusia kepada Allah). Prinsip berpasangan abd’ Allah dan khalifatullah fil ardh telah memberikan solusi implementasi konsep teknologi akuntansi syariah yang memiliki dua akun utama, yaitu akun ketundukan (representasi abd’ Allah) dan akun kreativitas (representasi khalifatullah fil ardh)4.

Laporan Nilai Tambah Syari’ah juga perlu diuji secara empiris. Desain Laporan Nilai Tambah Syari’ah sebenarnya masih menyisakan masalah berkaitan realitas akuntansi, terutama realitas masyarakat Muslim Indonesia. Artinya, nilai tambah syari’ah sebagai basis konseptual laporan perlu dilihat secara kontekstual dari nilai-nilai masyarakat Muslim Indonesia.

2 Riba berarti menetapkan bunga/melebihkan jumlah pinjaman saat pengembalian berdasarkan

persentase tertentu dari jumlah pinjaman pokok, yang dibebankan kepada peminjam. Ada beberapa pendapat dalam menjelaskan riba, namun secara umum terdapat benang merah yang menegaskan bahwa riba adalah pengambilan tambahan, baik dalam transaksi jual-beli maupun pinjam-meminjam secara bathil atau bertentangan dengan prinsip muamalat dalam Islam.

(4)

Mulawarman (2007c) telah melakukan studi empiris bahwa terdapat keserasian antara sirah Muhammad saw. dan realitas empiris saat ini yang dapat dijadikan source bentuk Trilogi Laporan Keuangan Syari’ah. Trilogi Laporan Keuangan Syari’ah merupakan kesatuan konsep ma’isyah (bekerja) untuk mencari rezeki (rizq) sehingga berdampak pada maal (kekayaan) penuh barokah. Konsep ma’isyah dijadikan sebagai basis aliran kas syari’ah, rizq basis nilai tambah syari’ah, dan maal basis neraca syari’ah. Untuk memudahkan lihat gambar di Gambar 1 (Lampiran).

(5)

2. LAPORAN NILAI TAMBAH SYARI’AH: IN THE BEGINNING

Konsep nilai tambah berasal dari implementasi penghitungan GNP (Gross National Product) ekonomi makro, dan diterapkan dalam dunia akuntansi (Staden 2000; Glautier dan Underdown 1992, 409). Beberapa pemikir ekonomi kritis seperti Ormerod (1998), Daly dan Cobb (1989) dalam Ormerod (1998), Axelrod (1984) dalam Ormerod (1998), dan banyak lainnya memandang bahwa pengukuran GNP hanya dapat memotret ekonomi dan kemakmuran masyarakat suatu negara secara kuantitatif. GNP tidak dapat melihat transaksi non ekonomi seperti pencemaran lingkungan dan pekerjaan rumah tangga, maupun black economy.

Mudahnya GNP hanya dapat mengukur pertumbuhan ekonomi tetapi tidak dapat mengukur yang dikatakan Dixon (2004) sebagai “overall social well-being”, seperti degradasi sosial dan lingkungan akibat aktivitas perusahaan. Ketidakmampuan GNP mengukur kepentingan sosial dan lingkungan menurut Bev (2007) karena GNP hanya didasarkan pada pengukuran kuantitatif.

Perkembangan terbaru berkenaan pengukuran tingkat kemakmuran suatu negara memerlukan bentuk baru disebut Gross National Happiness (GNH) 5. GNH

mengadopsi baik pendekatan kuantitatif maupun kualitatif dan berbasis perspektif holistik. Pendekatan tersebut disebut Bev (2007) sebagai pendekatan keseimbangan yang baik antara pikiran dan hati. GNH memiliki empat pilar utama, yaitu: “promotion of equitable and sustainable socio-economic development; preservation and promotion cultural values; conservation of natural development; and esthablishment of good-governance” (lihat juga misalnya Hirata 2005; Frey and Stutzer 2007; Revkin 2005 dan banyak lainnya). Perubahan pola pengukuran nilai tambah dalam konteks ekonomi makro dapat kita lihat telah berubah dari pengukuran

(6)

bersifat ekonomi dan kuantitatif menuju model pengukutan bersifat holistik dan mengadopsi secara kuantitatif-kualitatif.

Demikian pula konsep nilai tambah dari domain akuntansi. Penggunaan konsep nilai tambah biasanya digunakan oleh aliran akuntansi sosial-lingkungan. Hanya masalahnya terdapat dua aliran akuntansi sosial-lingkungan, yaitu aliran middle ground dan non middle ground (Gray et al. 1995; 1996). Aliran middle ground menggunakan konsep nilai tambah berbasis kepentingan perusahaan, sehingga mengkreasi informasi dan pertanggungjawaban ekonomi-sosial-lingkungan juga berbasis kepentingan keuntungan stockholders. Aliran non middle ground di sisi lain menggunakan nilai tambah untuk informasi dan akuntabilitas sosial lingkungan berbasis kuantatif maupun kualitatif, untuk kepentingan lebih luas, yaitu stakeholders. Meskipun seperti ditegaskan Mulawarman (2006) penggunaan konsep nilai tambah berbasis stakeholders oleh aliran non-middle ground, ternyata masih menekankan kepentingan bersifat materi. Aliran non middle ground tidak dapat memotret realitas di luar materi. Memaknai laba akuntansi tanpa terjebak materialitas sebenarnya telah digali secara mendalam oleh Subiyantoro dan Triyuwono (2004). Penafsiran ini pada dasarnya merupakan konsepsi atas ekspresi kebebasan manusia dari sebuah interaksi sosial yang menghasilkan nilai lebih (value added/VA). Laba, sebagaimana merupakan ekspresi kebebasan manusia, merupakan representasi nilai kebebasan manusia yang sekaligus menjunjung tinggi hakikat manusia dari esensi kemanusiaannya. Mengembalikan hakikat manusia tidak saja berpedoman pada aspek fisiologis dan psikologis, tetapi juga pada aspek religius.

(7)

menurut Mulawarman (2006, 292-303) adalah pertambahan nilai (zaka) material (baik finansial, sosial dan lingkungan) yang telah disucikan (tazkiyah) mulai dari pembentukan, hasil sampai distribusi (zakka), kesemuanya harus halal dan tidak mengandung riba (spiritual) serta thoyib (batin). Implikasinya, pertama, proses pembentukan VA dalam batas-batas yang diperbolehkan syara’ (halal) dan bermanfaat/menenangkan batin (thoyib). Sebaliknya aktivitas ekonomi yang melanggar ketentuan adalah Haram. Kedua, pertumbuhan harta dan mekanisme usaha harus dilakukan untuk menghilangkan sifat berlebihan dalam perolehan harta dan menjalankan aktivitas usaha bebas riba6. Ketiga, distribusi VA harus dilakukan secara

optimal untuk kebaikan sesama, merata dan tidak saling menegasikan. Seberapapun keikutsertaan harus dicatat dan diakui sebagai potensi mendapat hak pembagian VA.

3. KONSEP REZEKI DALAM ISLAM

Mencari rezeki dalam perspektif Islam adalah bentuk ma’isyah setiap Muslim yang berdampak kekayaan penuh berkah. Perolehan rezeki berbentuk uang atau harta jika tanpa niatan untuk beribadah menuju ketakwaan, maka niat tersebut hanya sebatas keuntungan yang didapat. Ketika mencari rezeki diniatkan dan diibadahkan untuk selalu mengharap ridha Allah, maka rezeki tersebut memberi keuntungan atau laba dalam arti bernilai lebih dan barakah.

Bila dilihat lebih lanjut, sifat Allah yang Maha memberi Rahmat, Rahman dan Berkah hanya diperuntukkan bagi manusia yang memang bekerja dengan orientasi ketakwaan. Sedangkan sifat Allah yang Maha memberi Rahim memang diperuntukkan untuk seluruh manusia. Artinya, bila manusia mencari rezeki tetapi

(8)

tidak disertai takwa, mereka tetap mendapatkan rezeki sesuai dengan kerjanya, tetapi tidak mendapatkan berkah, rahmat dan rahman dari Allah.

Konsep Rezeki7 sebenarnya bersandarkan pada kata utama dari satu nama

Allah, yaitu Rabb. Kata Rabb dapat ditemukan misalnya dalam Al Qur’an Surat Al Fathihah ayat 2, Rabb yang berada dalam satu kalimat Rabbil’alamin, menunjuk Tuhan sebagai Tuhan Yang Ditaati, Yang Memiliki, Yang Mendidik dan Yang Memelihara. Sedangkan dalam etimologi Arab dapat berarti dua hal, yaitu Penguasa (Sovereign) dan Pemberi Rezeki (Sustainer) (Muslehudin 2004, 100). 8

Rezeki dalam kata Rabb di sini bermakna bahwa Allah adalah tempat dan pusat dari rezeki itu sendiri. Hanya Allah pemilik dan pemberi Rezeki atau kenikmatan baik dunia maupun akhirat. Rezeki dengan demikian terikat dengan konteks spiritualitas. Kita tidak dapat memisahkan konteks rezeki atau kehidupan dunia yang penuh kenikmatan misalnya dengan kehidupan di akherat. Artinya, dalam makna rezeki itu sendiri telah melekat dua prinsip akuntansi yang tak terpisahkan. Dalam nash Qur’an makna rezeki atau penghidupan seperti tertulis dalam Surat An-Naba’ ayat 11 ”Dan kami jadikan siang untuk mencari penghidupan”

Dari penelusuran konsep Qur’an tersebut dapat dimaknai bahwa sebenarnya konsep rezeki atau penghidupan memang sangat sarat dengan nilai-nilai Ketuhanan (Ilahiyyah), sarat-sarat nilai kesucian atas apa yang kita lakukan dalam menjalani hidup. Semua ini menurut Muslehudin (2004, 102) merupakan implementasi dari Keadilan Ilahi yang bertujuan untuk keadilan sosial yang diupayakan oleh Hukum

7 Beberapa konsep kunci penting mengenai rezeki menurut Al Qur’an, pertama, rezeki berasal dari Allah (QS. 51: 22, Huud: 6, Az Zukhruf: 32). Kedua, rezeki harus dihitung sesuai akhlak Islami (QS. 14: 34). Ketiga, semua perolehan rezeki berkaitan dengan penegasan keimanan dan ketakwaan seseorang (QS. 7:96). Keempat, rezeki yang berorientasi ketakwaan akan memunculkan berkah (QS. Huud: 73; QS. 7: 96) dan kemenangan yang besar (QS. Al Ahzaab: 70-71).

(9)

Ilahi. Allah menjanjikan penghidupan kepada semua makhlukNya bahkan membagi berdasarkan kebutuhan dan kapasitasnya. Kepada sebagian orang, Allah memberi kelimpahan, sementara kepada sebagian lainnya memberikan keterbatasan, tetapi dengan janji Allah bahwa Allah akan menjaga semua bertahan dengan tidak mengalami pengurangan. Prinsip keadilan dalam akuntansi seperti juga dijelaskan (Irianto 2003; 2006) adalah bentuk perilaku bisnis dan pencatatan dalam melihat perolehan keuntungan harus tetap mengedepankan amanat Tuhan, dan bahkan menghadirkanNya dalam proses pencatatan transaksi bisnis itu sendiri.

4. METODE PENELITIAN: HYPERPHENOMENOLOGY METHODS

Penelitian ini menggunakan Hyperphenomenology Methods, yaitu salah satu pengembangan lanjut metode fenomenologi untuk menggali lebih jauh makna aksiologis Nilai Tambah Syari’ah dalam akuntansi syari’ah. Artinya fenomenologi di sini tidak hanya berpaku pada Paradigma Interpretif yang diturunkan dari Germanic Philosofical Interests yang menekankan pada peranan bahasa, interpretasi dan pemahaman atas subyek materi dan mental (Hardiman 2003, 60).

(10)

Menurut Sanders (1982) esensi analisis intensional adalah analisis korelasi antara obyek yang dipersepsikan (Noema) dan pemahaman subyekif (Noesis) pada obyek atau pengalaman. Intensionalitas merupakan arti keseluruhan dari obyek, dimana yang biasanya hanya dipahami atau dipersepsikan secara parsial. Intensionalitas adalah bentuk langsung dan internal dari pengalaman atau kesadaran. Dalam penelitian ini akan dilakukan pemahaman konsep laba (Noema) dalam pengalaman bisnis (Noesis). Meskipun hal itu perlu dilakukan Analisis pelampauan (Hyper Analysis) ekspektasi dan bentuk pengalaman yang masih berbasis nilai obyek laba yang materi saja. Hal itu hanya kana menggali makna laba materi (obyek) dan tidak dapat menggali makna laba yang bersifat non materi (non obyek) seperti aspek Realitas Absolut (Allah) sebagai pintu utama masuknya teori dan pengetahuan (akuntansi) dan makna Tazkiyah An Nafs (Pensucian) setiap individu. Pemaknaan teknis SVA adalah Realitas Absolut dan Tazkiyah An Nafs dalam konsep Rezeki.

Berkaitan dengan perilaku peneliti dalam melakukan penggalian data lapangan menurut Sanders (1982) disebut Epoche atau disebut Husserl sebagai Bracketing (Prasenjit 2002). Epoche adalah prosedur dan perilaku (attitude) peneliti yang digunakan dalam bentuk pertanyaan yang harus dimunculkan berkaitan dengan masalah metafisika yang sebenarnya terikat dalam mental individu.

(11)

Terdapat tiga komponen fundamental dalam desain riset fenomenologi, yaitu menetapkan batasan apa dan siapa yang diinvestigasi, koleksi data dan analisis fenomenologis data (Sanders 1982).

4.1. Penetapan Batasan

Konsep laba digali secara empiris di lapangan dengan informan pemilik (Pak Abbas) sebuah perusahaan di Malang yang bergerak di bidang real estat dan pertambangan batubara, leveransir bahan bangunan di Malang (Pak Ishar), produsen alat bantu mebelair di Jepara (Pak Aziz), manajer BMT di Pasuruan (Pak Dumairi). Disamping itu juga akan dilakukan penggalian makna laba dalam konteks rezeki dari konteks nash Al Qur’an dan Sunnah.

4.2. Koleksi Data

Koleksi data dilakukan dengan tiga langkah (Stone 1979 dalam Sanders 1982): 1. Interview historis langsung dengan cara semistruktur dengan subyek

menggunakan tape recorder dan pencatatan.

2. Studi dokumentasi apa yang telah ditulis dari hasil wawancara (langkah pertama) dengan subyek untuk menderivasikan ‘makna’.

3. Teknik observasi sebagai partisipan, yaitu observasi subyek dalam situasi aktual di lapangan untuk melihat secara langsung perilaku yang berhubungan dengan fenomena yang diinvestigasi. Hal ini juga menggunakan interview untuk mengeksplorasi perilaku secara mendalam. 4.3. Analisis Fenomenologis Data

Tahap ketiga fenomenologi adalah melakukan analisis isi transkripsi hasil koleksi data. Terdapat empat langkah yang harus dilakukan:

(12)

kualitas pengalaman dan kesadaran manusia yang memunculkan keunikan identitas dan pandangan subyek.

2. Identifikasi tema-tema atau invariants yang muncul dalam deskripsi. Tema-tema merujuk ‘pesan-pesan’ umum yang muncul di dalam dan antar narasi. Tema-tema diidentifikasi berbasis pada kepentingan sentral pemikiran subyek.

3. Pengembangan korelasi noetic/Noematic. Korelasi tersebut merupakan refleksi tema-tema yang muncul. Korelasi noetic/Noematic merepresentasikan persepsi individual atas realitas dari fenomeman yang diinvestigasi. Interpretasi korelasi merupakan langkah yang penting untuk mengidentifikasi esensi fenomena atau apa yang menjadi esensi dari pengalaman.

4. Abstraksi esensi atau universalitas dari korelasi noetic/Noematic. Langkah ini memerlukan kemampuan intuitif dan refleksi atau eidetic reduction. Jika Noema adalah melakukan deskripsi “what of experience” dan Noesis melakukan “how of experience”, maka kemudian yang harus dilakukan kemudian adalah esensi “why of experience”.

(13)

Rezeki menjadi bermanfaat bagi kita ketika kita melihat kebahagiaan, kebaikan bagi kita di dalamnya. Sekaligus kebaikan dan kebahagiaan bagi orang lain.

Nilai tambah kebaikan sekaligus nilai tambah materi. Hal ini nampak ketika pak Abbas mendefinisikan rezeki yang mirip dengan konsep nilai tambah syari’ah:

Rezeki menjadi tidak bermanfaat ketika hanya mengejar keuntungan semata. Rezeki menjadi bermanfaat bagi kita ketika kita melihat kebahagiaan, kebaikan bagi kita di dalamnya. Sekaligus kebaikan dan kebahagiaan bagi orang lain. Contohnya, ketika saya didatangi kontraktor untuk melakukan penelitian dan eksplorasi awal areal batubara di Tenggarong. Saya selalu mengatakan, mas jangan dilihat apakah kerjasama kita ini bermanfaat bagi saya aja atau menguntungkan anda saja. Tapi kerjasama ini harus memberi manfaat dan rezeki yang barokah bagi anda juga dan terutama bagi penduduk sekitar. Saya dapat berapa dari situ ya tergantung hitungan dan studi anda di lapangan. Saya juga sudah ketemu dengan lurah dan teman-teman dayak di sana, mereka mau membantu di lapangan asal jangan seperti MHU9 yang tugasnya Cuma ngeruk batu bara terus tinggal gelanggang colong playu.

Ditegaskan pak Abbas:

Setiap orang harus kaya, setiap orang harus berbagi dengan sesamanya, dan setiap orang harus menjalankannya dengan berorientasi pada hari akhir.

Pandangan mirip Pak Abbas dijelaskan oleh Pak Ishar:

Kalo cari rejeki itu memang untuk usaha memperoleh kekayaan ya memang itu kan tujuan kita usaha, bisnis, bekerja, meskipun itu tetap berpedoman pada tujuan ibadah kita kepada Allah.

Pandangan menarik mengenai konsep rezeki yang lebih dekat dengan konsep nilai tambah adalah komentar dari Pak Aziz . Menurutnya rezeki adalah:

Rejeki yang saya dapat dari usaha saya jelas harus memiliki nilai tambah yang penting karena menjalankan aktivitas berdasarkan ibadah yang saya lalukukan setiap waktu. Ibadah itu semoga saja berdampak pada nilai tambah usaha saya, keluarga, orang-orang yang memanfaatkan produk saya . Nah kalo sudah gitu artinya ibadah saya memang bermanfaat secara sosial kan?

(14)

Lebih lanjut Pak Aziz melihat bahwa rezeki itu tidak hanya berbasis tumpukan materi: Cari rejeki itu karena Allah, jadi gak perlu ngoyo. Yang penting

lumintu, dapat rejeki supaya ada nilai tambah yang bisa ditabung dan dibelikan perangkat pabrikan. tetapi tidak serakah dan harus tetap bernilai barokah. Gak etis kalo misalnya sudah punya langganan untuk memasok barang saya, tapi hanya karena perbedaan price lebih menguntungkan terus langsung pindah. Itu namanya memutus silaturrahim.. asal cukup untuk biaya makan, anak sekolah, keperluan sehari-hari, ya syukur Alhamdulillah.

Pak Aziz memandang mencari rejeki sebagai bentuk pengabdian kepada Allah perlu mendapat aset, ekuitas dan keuntungan bersifat nilai tambah.

Pendapat mengenai rezeki lebih konkrit dalam bentuk akuntansi diungkapkan Pak Dumairi, mengenai kesatuan dakwah-bisnis dalam laporan keuangan:

laporan keuangan penting untuk mengaplikasikan pencatatan sebagai kalkulasi bisnis sekaligus untuk aktivitas dakwah di dunia kerja orientasinya harus mengarah pada peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Prinsip pelaporan berhubungan dengan kesatuan bisnis-da’wah mirip gagasan rezeki bernilai tambah. Bahwa bisnis sekaligus dakwah adalah kesatuan antara materi-spiritual untuk mendapatkan rezeki bernilai tambah bagi semua, bukan hanya kita, tetapi masyarakat luas sebagai bentuk ketundukan menjalankan dakwah bil-haal (dakwah langsung). Hal menarik adalah dimasukkannya qardh hassan dalam struktur pembiayaan dan bukan struktur laporan tambahan seperti tertuang dalam PSAK 59 maupun SAK 101-106 dari IAI. Dalam ketentuan syari’ah menurut Pak Dumairi lagi:

...orientasi sosial tidak dapat dipisahkan dengan orientasi keuntungan. Qardhul hasan (hutang untuk kebajikan) dianggap pembiayaan dan pendapatan yang harus masuk masing-masing dalam neraca dan laba rugi. Karena qardhul hasan bukanlah aktivitas bisnis yang terpisah. Bahkan disitulah pusat pemberdayaan masyarakat dan target pengentasan masyarakat atau pedagang pasar dari bahaya rentenir.

(15)

meski keuntungan tersebut harus berdasarkan keridhaan peminjam. Sehingga jelas bahwa dalam qardh yang penting adalah nadzarnya harus produktif dan bukan qardhnya yang produktif.

Berdasarkan praktik bisnis di atas dapat ditarik benang merah, bahwa rizq (rezeki) merupakan bentuk nilai tambah aktivitas bisnis (ma’isyah) bernilai barakah yang didapatkan sesuai ketentuan syari’ah untuk kesejahteraan bersama (mashlaha). Rizq merupakan nilai tambah syari’ah nilai tambah yang didapatkan (baik finansial, sosial dan lingkungan) dan telah disucikan/tazkiyah (secara halal, thoyib dan bebas riba) mulai dari pembentukan, hasil sampai distribusinya.

(16)

pembagian nilai tambah. Artinya, bukan meletakkan prinsip keadilan berdasarkan etika Barat (berdasar utilitas, konsensus dan disahkan melalui hukum positif). Tetapi keseimbangan dan keadilan berdasar ‘Adalah/Keadilan Ilahi yang berwujud kesejahteraan sosial untuk semua dan harus selalu melalui proses tazkiyah.

Nilai tambah syari’ah dari nilai-nilai empiris telah memberikan gambaran sesuai nilai tambah syari’ah secara normatif. Nilai tambah berpusat pada konsep tazkiyah, yaitu penyucian proses pencarian rezeki untuk mendapat barokah baik secara kuantitatif maupun kualitatif. Inilah yang disebut dengan Rizq Income. Nilai tambah syari’ah memang tidak menganut model economic income atau accounting income, tetapi dapat disebut menganut model income yang khas Islam, rizq income.

(17)

SVA maupun VA berbeda dengan pendekatan mainstream akuntansi berkenaan dengan konsep laba. Laba biasanya berkaitan dengan prinsip penandingan (matching), pengakuan biaya pada dasarnya sejalan dengan pengakuan pendapatan. Pendapatan merupakan hasil yang dituju perusahaan, sementara biaya untuk memperoleh pendapatan merupakan upaya yang dilakukan perusahaan. Dengan demikian, pendapatan harus ditandingkan dengan biaya yang diperkirakan telah menghasilkan pendapatan tersebut, agar dihasilkan besarnya laba yang tepat10. Pendekatan pendapatan dan biaya dalam konteks seperti ini menurut Mulawarman (2006) masih memunculkan tiga hal yang tidak sesuai dengan nilai-nilai Islam dan tujuan syari’ah. Pertama, pengakuan pendapatan yang berkaitan dengan realisasi pendapatan yang akan berimplikasi pada sifat dasar halal (permitted). Kedua, pengakuan pendapatan dalam proses pembentukan pendapatan yang berbasis akrual dan ditetapkannya time value of money berujung pada riba (interest). Ketiga, prinsip penandingan pendapatan dan biaya juga masih belum sesuai dengan tujuan syari’ah. Dalam penandingan tidak nampak aspek keadilan sosial, tetapi hanya muncul sifat egositik akuntansi (Triyuwono 2004). Pengakuan hanya berkaitan dengan biaya dan manfaat yang bersifat privat. Privat di sini diartikan sebagai pencatatan biaya dan pendapatan dari sudut pandang kepentingan perusahaan. Dapat dikatakan pendekatan yang dilakukan adalah dalam kerangka Entity Theory. Sedangkan pendapatan dan biaya yang sifatnya publik sama sekali tidak disajikan. Sifat egoistik akuntansi berimplikasi pada masalah ketimpangan keadilan dan tidak sesuai dengan tujuan akuntansi syari’ah dan terutama tujuan syari’ah. Untuk memudahkan ditampilkan Tabel 2 berkenaan perbedaan tiga

(18)

konsep laba seperti dijelaskan di atas (Lampiran). Konsep laba seperti di atas jelas berpengaruh terhadap bentuk laporan kinerja keuangan yang dihasilkan. Perbandingannya dapat dilihat di Tabel 3 (Lampiran).

Berdasarkan laporan nilai tambah syari’ah awal (Mulawarman 2006) dilakukan penyesuaian dari sesuai realitas empirisnya, yaitu secara konseptual dan bentuk laporannya. Bentuk laporan nilai tambah syari’ah juga mengalami penyesuaian atas pemisahan laporan kuantitatif dan kualitatif menjadi penyatuan laporan kuantitatif dan kualitatif. Kedua bentuk laporan tersebut bersifat mandatory (wajib). Penggabungan laporan kuantitatif dan kualitatif seperti telah dijelaskan di atas untuk menghindari perilaku pragmatis perusahaan. Laporan kualitatif meskipun bersifat mandatory, bila disajikan terpisah akan mengarah pada sifat pseudo-mandatory. Pseudo-mandatory di sini dapat diartikan laporan kualitatif secara substansial memang bersifat mandatory, tetapi praktiknya di lapangan menjadi “mandul”, bahkan akan tergeser kembali menjadi laporan voluntary.

Sementara pembagian akuntabilitas tetap mengacu pada Mulawarman (2006), yaitu akuntabilitas ketundukan (spiritual) dibagi menjadi ketundukan primer dan ketundukan sekunder. Akuntabilitas kreativitas (mental dan material) juga dibagi menjadi primer dan sekunder. Lengkapnya lihat Tabel 4 (Lampiran).

(19)

syari’ah. Untuk keperluan implementasi output ketundukan proses Sertifikasi Halal perusahaan obat, kosmetik, makanan/minuman, restoran dan peternakan atau pencapaian kualitas karyawan berupa peningkatan skill/kemampuan, kursus serta training berkaitan pencapaian produk halal.

Pencatatan bentuk ketundukan sekunder secara finansial (halal zamany) dan sosial/lingkungan (halal makany) untuk pencapaian halal atas aktivitas ekonomi. Bentuknya merupakan input berupa proses produksi yang dilakukan oleh perusahaan yang harus memenuhi Sistem Jaminan Halal dan Standar Operasi Prosedur Halal (SOP) Halal sebagai implementasi Total Quality Management (TQM) perusahaan.

Akuntabilitas kreativitas (mental dan material) dibagi menjadi output kreativitas primer dan output kreativitas sekunder. Pencatatan bentuk kreativitas primer secara finansial yaitu reduksi riba ekonomi berbentuk bai’, dan sosial/lingkungan yaitu reduksi riba sosial berbentuk Profit Loss Sharing System. Bentuknya dapat berupa reduksi bunga/interest, reduksi prinsip time value of money dalam penentuan penyusutan aset, tidak melakukan penimbunan, penipuan, monopoli, oligolopi, judi dan kepastian penentuan bagi hasil saham preference maupun saham biasa. Serta menjalankan aktivitas perusahaan dalam penyuluhan dan kursus maupun peningkatan kemampuan masyarakat sekitar dalam memahami kesadaran bersama menjaga keseimbangan ekologis dan menjaga keserasian hubungan dengan masyarakat sekitar perusahaan. Pencatatan bentuk kreativitas sekunder yaitu dalam bentuk kreativitas sosial dan lingkungan, seperti hasil dari pengolahan limbah, berupa lingkungan bersih.

(20)

proses relasi sosial dan penanganan lingkungan. Laporan kualitatif juga berisi tentang ketenangan melaksanakan ibadah mahdah di dalam lingkungan perusahaan, keselarasan hubungan antar stakeholders (pemilik, pemegang saham, manajemen, karyawan, masyarakat sekitar, konsumen dan lingkungan), maupun kenikmatan atas hasil aktivitas bisnis halal, reduksi riba dan gharar.

6. SIMPULAN

Konstruksi khusus laporan nilai tambah syari’ah dalam penelitian ini merupakan implementasi kedua dari trilogi laporan keuangan syari’ah berbasis ma’isyah-rizq-maal (Mulawarman 2007c). Laporan nilai tambah syari’ah diturunkan dari salah satu trilogi, yaitu rizq. Rizq merupakan bentuk laba yang disebut rizq income sebagai penjelasan lebih lanjut dari konsep nilai tambah syari’ah (shari’ate value added/SVA). Meskipun konsep rizq di sini memang lebih mengakomodasi realitas empiris. Meskipun rizq tergali dari realitas masyarakat Muslim Indonesia, ternyata hal tersebut memiliki kesesuaian dengan konsep SVA.

Hasilnya adalah bahwa rizq income sebagai konsep rezeki bernilai tambah (sebagai basis laporan nilai tambah syari’ah dalam perspektif akuntansi syari’ah) merupakan nilai tambah yang didapatkan (baik finansial, sosial dan lingkungan) dan telah disucikan/tazkiyah (secara halal, thoyib dan bebas riba) mulai dari pembentukan, hasil sampai distribusinya

DAFTAR PUSTAKA

Baydoun, N., and Roger Willett. 1994. Islamic accounting theory. The AAANZ Annual Conference.

(21)

Belkaoui, AR. 2000. Teori Akuntansi Jilid 1. Terjemahan. Jakarta. Salemba Empat. Jakarta.

Bev, Jennie S. 2007. GDP, Poverty and Gross National Happiness. The Jakarta Post. Monday, November, 12.

Capra, Fritjof. 1999. The Tao of Physics. 4th Edition. Terjemahan. 2005. Jalasutra.

Yogyakarta.

Diefenbach, Thomas. 2003. Internal value added and profit distribution. www.econ.cam.ac.uk.

Firer, Steven. 2004. Does Value Added Beat Earnings? Empirical Evidence from South Africa. www.wits.ac.za

Frey, Bruno S. and Alois Stutzer. 2007. Should National Happiness be Maximized? Working Paper Series. Institute for Empirical Research in Economics. University of Zurich. March.

Gambling, Trevor and Rifaat AA Karim. 1991. Business and Accounting Ethics in Islam. London: Mansell.

Glautier, MWE. B. Underdown. 1991. Accounting Theory and Practice. 4th Edition. ELBS With Pitman.

Gray, Rob., R. Kouhy, S. Lavers. 1995. Corporate social and environmental reporting: a review of the literature and a longitudinal study of UK disclosure. Accounting, Auditing and Accountability Journal. 8 (2). pp. 47-77.

Gray, Rob., D. Owen, C. Adams. 1996. Accounting and Accountability: Changes and Challenges in corporate social and environmental reporting. Prentice Hall. Haller, Axel. Herve Stolowy. 1995. Value Added Accounting in Germany and France:

A Conceptual and Empirical Comparison. Annual Congress of the European Accounting Association. Birmingham, United Kingdom, May 10-2. campus.hec.fr.

Hardiman, F. Budi. 2003. Melampaui Positivisme dan Modernitas: Diskursus Filosofis tentang Metode Ilmiah dan Problem Modernitas. Penerbit Kanisius. Jogjakarta.

Hendriksen Eldon S., M. V. Breda. 2000. Teori Akunting. Buku Kesatu. Edisi Kelima. Terjemahan. Interaksa. Jakarta.

Hirata, Johannes. 2005. How Should Happiness Guide Policy?: Why Gross National Happiness is not opposed to democracy. 2nd International Conference on

Gross National Happiness “Rethinking Development: Local Pathways to Global Wellbeing”. St. Francis Xavier University. Antogonish, Nova Scotia, Canada. 20-24 June.

Irianto, Gugus. 2003. Skandal Korporasi dan Akuntan. Lintasan Ekonomi. LPPI-FE Unibraw. Vol. XX (2) Juli pp 104-114.

Irianto, Gugus. 2006. Privatisasi BUMN di Indonesia: Pilihan atau Keniscayaan? Telaah dari Perspektif PEA. Proceeding The 2nd Postgraduate Consortium on Accounting 2006. Brawijaya University Malang. June, 14-15.

Matthews, MR., MHB Perera. 1996. Accounting Theory and Development. 3rd edition. Thomas Nelson Australia.

Meek Gary K., Sydney J. Gray. 1988. The value added statement: an innovation for U.S. companies? Accounting Horizon. June. pp. 73-81.

Morley, Michael F. 1979. The value added statement in Britain. The Accounting Review. July. pp. 618-629.

(22)

Mulawarman, Aji Dedi. 2007a. Menggagas Laporan Arus Kas Syari’ah. Simposium Nasional Akuntansi X. Unhas Makassar. 26-28 Juli

Mulawarman, Aji Dedi. 2007b. Menggagas Neraca Syari’ah Berbasis Maal: Kontekstualisasi “Kekayaan Altruistik Islami”. The 1st Accounting Conference. FE-UI Depok. 7-9 Nopember.

Mulawarman, Aji Dedi. 2007c. Menggagas Laporan Keuangan Syari’ah Berbasis Trilogi Ma’isyah-Rizq-Maal. Simposium Nasional Ekonomi Islam 3. Unpad. Bandung. 14-15 Nopember.

Muslehuddin, Muhammad. 2004. Sistem Perbankan dalam Islam. Penerbit Rineka Cipta. Jakarta.

Ormerod, Paul. 1999. Matinya Ilmu Ekonomi. Jilid 1. Terjemahan. Cetakan Keempat. Kepustakaan Populer Gramedia. Jakarta.

Pransejit, Biswas. 2002. Historicizing Reason: Husserl’s Transcendental Phenomenology. Prague, Czech Republic, Seminar “Issues Confronting the Post-European World”, November

Revkin, Andrew. 2005. A New Measure of Well-Being from a Happy Little Kingdom. New York Times. Oktober, 4.

Sanders, Patricia. 1982. Phenomenology: A new way of viewing organizational research. Academy Management Review 1982, Vol 7 no.3.

Staden, Chris. 2000. The Value Added Statement: Bastion of Social Reporting or Dinosaur of Financial Reporting? Massey University, New Zealand. www.accountancy.massey.ac.nz

Sulaiman, Maliah. 2000. Corporate Reporting From An Islamic Perspective. Akauntan Nasional. Oktober (18-22)

Sulaiman, Maliah. 2001. Testing a Model of Islamic Corporate Financial Reports: Some Experimental Evidence. IIUM Journal of Economics and Management 9 (2) pp. 115-39

Sulaiman, Maliah. Roger Willett. 2003. Using the Hofstede-Gray Framework to Argue Normatively for an Extension of Islamic Corporate Reports. Malaysian Accounting Review. Vol 2 (1).

Subiyantoro, Eko B. Iwan Triyuwono. 2004. Laba Humanis: Tafsir Sosial atas Konsep Laba dengan Pendekatan Hermeneutika. Bayumedia. Malang.

Suojanen, Waino W. 1954. Accounting Theory and The Large Corporation. The Accounting Review. pp. 391-398.

Triyuwono, Iwan. 2004. Formulasi Karakter Laporan Akuntansi Syari’ah dengan Pendekatan Filsafat Manunggaling Kawulo Gusti (Syekh Siti Jenar). Simposium Nasional Sistem Ekonomi Islami II. PPBEI, Universitas Brawijaya. Malang. h. 79-94.

Triyuwono, Iwan. 2007. Konsep Nilai Tambah Syariah. Simposium Nasional Akuntansi X Universitas Hassanudin. Makassar.

LAMPIRAN

Tabel 1. Laporan Nilai Tambah Syari’ah Kuantitatif

Penciptaan VA Finansial

Sosial-Lingkunga

(23)

n

Output Ketundukan Primer Xa - Xa

Ketundukan Primer Xb - Xb

Kreativitas Primer - Ya Ya

Kreativitas Sekunder - Yb Yb

Jumlah Output Xc Yc Za

Input Ketundukan

Sekunder

Xd - Xd

Revaluation Kreativitas Primer Xe - Xe

VA Kotor Xf Yd Zb

TAZKIYAH (Zc)

Pembayaran Zakat kepada 8 Asnaf (Zd) VA HALAL DAN THOYIB (Ze)

Distribusi VA Finansial Sosial & Lingkunga

n

Combine d

Internal

Karyawan Ketundukan

Sekunder Xg - Xg

Ketundukan Primer Xh Xh

Owners Kreativitas Primer Xi - Xi

Reinvestment Funds

Kreativitas Sekunder Xj - Xj

Eksternal

Pemerintah Ketundukan Primer Ye Ye

Kreativitas Sekunder Yf Yf

Residents Ketundukan Sekunder

- Yg Yg

Masyarakat Kreativitas Sekunder - Yh Yh

(24)

Tabel 2. Perbandingan Konsep Laba

Konsep Laba Konsep DasarTeoritis Mekanisme PenciptaanLaba Penerima Laba

Shari’ate Value

Value Added EnterpriseTheory Output-InputConcept EconomicIncome Stakeholderssesuai Keadilan Barat

Tabel 3. Perbandingan Substansi Laporan Kinerja Keuangan

Akuntansi

Utama Laba VA penentu Laba sebagaizakat Zakapenentu VAt sebagai

Laporan

Laba Bottom Line Bagian dariVA Setelah dikurangizakat dikurangi Bagian dari VAzakat

Sasaran

Teoritis Entity Theory EnterpriseTheory Entity Theory Enterprise TheoryShari’ate

Bentuk

(25)

Penciptaan VA Kuantitatif Kualitatif Output Ketundukan

X1 Y1

Kreativitas

Jumlah Output X2 Y2

Input Ketundukan

X3 Y3

Revaluation Kreativitas

VA Kotor X4 Y4

TAZKIYAH (Za)

Pembayaran Zakat kepada 8 Asnaf (Zb) VA HALAL DAN THOYIB (Zc)

Distribusi VA Kuantitatif Kualitatif Internal

Karyawan Ketundukan

X5 Y5

Owners Kreativitas

Reinvestment

Funds Kreativitas

Eksternal

Pemerintah Ketundukan

X6 Y6

Kreativitas

Figur

Gambar 1. Trilogi Teknosistem Laporan Keuangan Syari’ah
Gambar 1 Trilogi Teknosistem Laporan Keuangan Syari ah. View in document p.23
Tabel 2. Perbandingan Konsep Laba
Tabel 2 Perbandingan Konsep Laba. View in document p.24
Tabel 3. Perbandingan Substansi Laporan Kinerja Keuangan
Tabel 3 Perbandingan Substansi Laporan Kinerja Keuangan. View in document p.24
Tabel 4. Penyesuaian Shari’ate Value Added Statement Berbasis Rizq
Tabel 4 Penyesuaian Shari ate Value Added Statement Berbasis Rizq. View in document p.24

Referensi

Memperbarui...