LIKUIDASI TERHADAP BANK YANG BERBENTUK HUKUM PERUSAHAAN DAERAH :
Suatu Upaya Perlindungan Hukum Terhadap Kepentingan Lembaga Penjamin Simpanan dalam Pelaksanaan Program Penjaminan Simpanan
Oleh : Rizal Ramadhani, S.H., LL.M 1
I. Pendahuluan
Berlakunya Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sejak
tanggal 22 September 2006
menandai mulainya babak baru
rezim penjaminan simpanan
nasabah (deposit guarantee
scheme)2
dan resolusi bank (bank
resolution)3
oleh LPS sebagai suatu
1
Kepala Divisi Peraturan LPS.
2
Sebelumnya berdasarkan Keputusan Presiden No. 26 Tahun 1998 tentang Jaminan terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum dan Keputusan Presiden No. 193 Tahun 1998 tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Perkreditan Rakyat, Pemerintah melaksanakan Program Penjaminan Pemerintah berupa blanket guarantee. Walaupun program ini dinilai berhasil mengembalikan kepercayaan masyarakat pasca krisis moneter yang terjadi sejak tahun 1997, namun efek buruk terhadap keuangan negara dan timbulnya moral hazard dari pemilik dan pengurus bank untuk melakukan tindakan yang tidak berhati-hati dalam pengelolaan bank menyebabkan Pemerintah berkeputusan untuk mengeluarkan skim penjaminan simpanan yang bersifat terbatas. Lihat Tim Penyusun RUU tentang Lembaga Penjamin Simpanan, “Naskah Akademik RUU tentang Lembaga Penjamin Simpanan”, Jakarta, 2003.
3
Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC),
lembaga penjamin simpanan di AS, menggolongkan resolusi bank (bank resolution) dalam 2 (dua) tahap, yaitu resolution process dan receivership process.
Resolution process merupakan kegiatan untuk menilai
harga dari bank atau thrift yang mengalami kegagalan, memasarkannya dan kemudian melakukan penawaran penjualannya kepada pihak lain. Receivership process
merupakan tindakan untuk melakukan penutupan terhadap bank atau thrift yang gagal, melakukan
lembaga yang independen. Rezim ini tidak memisahkan resolusi bank dari
penjaminan nasabah penyimpan
dengan pemahaman bahwa
keduanya memiliki hubungan yang sangat erat dalam upaya untuk meningkatkan kepercayaan nasabah penyimpan terhadap bank yang memang sangat diperlukan untuk
mewujudkan stabilitas sistem
perbankan.
Sebelum berlakunya UU LPS,
kewenangan untuk melakukan
tindakan dalam mengatasi kesulitan yang membahayakan kelangsungan usaha suatu bank hanya dimiliki oleh Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas pengawas perbankan berdasarkan amanat Pasal 37 UU No. 7 Tahun
1992 tentang Perbankan
sebagaimana telah diubah dengan
UU No. 10 Tahun 1998.
Restrukturisasi perbankan kemudian dilakukan oleh Badan Penyehatan
likuidasi terhadap asetnya dan membagikan hasil penjualan asset kepada seluruh kreditor. Lihat
Perbankan Nasional (BPPN) yang dibentuk berdasarkan UU Perbankan dan Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 1999. Setelah berlakunya UU LPS, kewenangan untuk melakukan restrukturisasi perbankan dilakukan
oleh LPS yang diberikan
kewenangan untuk melakukan
tindakan penyelamatan atau
penanganan suatu bank dalam hal tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 UU Perbankan tersebut di atas tidak cukup untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi
bank dan/atau keadaan bank
tersebut membahayakan sistem
perbankan berdasarkan penilaian BI.
Dalam rezim resolusi bank yang dianut UU LPS, kewenangan untuk melakukan likuidasi bank berada di
tangan LPS yang sebelumnya
merupakan kewenangan penuh
pemegang saham bank, termasuk pengawasan terhadap pelaksanaan likuidasi yang sebelumnya berada di BI. Dengan kata lain, UU LPS
memberikan kewenangan yang
sangat besar kepada LPS untuk menangani seluruh aspek likuidasi
bank, baik yang upstream maupun
yang downstream4
. Tujuan
4
Kewenangan LPS dimulai dengan pengambilalihan wewenang pemegang saham, termasuk untuk melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam suatu perseroan terbatas (PT), memberikan talangan pembayaran gaji dan pesangon pegawai bank, memutuskan pembubaran badan hukum bank, membentuk tim likuidasi sampai dengan meminta pertanggungjawaban pelaksanaan likuidasi dari tim likuidasi serta membubarkan tim likuidasi.
pembentuk UU memberikan
kewenangan yang sangat luas
kepada LPS sangat mungkin
dilandasi pemikiran untuk mengatasi hambatan-hambatan yang pernah dialami oleh BI dalam menjalankan
fungsinya sebagai otoritas
pengawasan likuidasi bank
berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank (PP Likuidasi Bank) yang telah dicabut oleh UU LPS.
Di sisi lain, terkait dengan
pelaksanaan fungsi penjaminan
simpanan, LPS melakukan
pembayaran klaim penjaminan
kepada nasabah penyimpan dari bank yang dicabut izin usahanya
sepanjang telah memenuhi
persyaratan yang telah ditetapkan
oleh UU LPS. Melalui asset recovery,
pembayaran klaim penjaminan
tersebut di kemudian hari
diupayakan diperoleh kembali oleh
LPS dengan cara melakukan
pencairan aset dan/atau penagihan
piutang kepada debitur sesuai
urutan preferensi yang ditentukan UU LPS.
II. Permasalahan
Secara tersurat pengaturan resolusi bank dalam UU LPS cenderung dilakukan dengan pendekatan bank sebagai perseroan terbatas (PT), padahal UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana Telah Diubah dengan UU No. 10
Tahun 1998 juga mengakui
eksistensi bank yang berbentuk hukum koperasi dan perusahaan daerah (PD), selain bank yang berbentuk hukum PT. Oleh karena itu, pendekatan ini menimbulkan
implikasi hukum yang cukup
kompleks yaitu apakah kewenangan LPS yang luas dalam likuidasi bank dimaksud dapat pula berlaku secara efektif terhadap bank gagal yang
berbentuk hukum perusahaan
daerah (PD) yang didirikan
berdasarkan peraturan daerah
(Perda). Dalam hal kewenangan ini tidak dapat secara efektif dilakukan, masalah yang muncul adalah apakah
asset recovery berupa perolehan kembali atas pembayaran klaim penjaminan yang telah dikeluarkan LPS masih tetap terjamin.
III. Pembahasan
1. Pengaturan RUPS dalam UU PT
Dalam UU No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, RUPS menduduki tempat yang sangat sakral sebagai organ PT yang
memiliki kekuasaan tertinggi,
sehingga sebetulnya di luar RUPS, pemegang saham PT tidak memiliki kekuasaan apa pun terhadap
perseroan. RUPS memiliki
kewenangan yang tidak diberikan
kepada direksi dan komisaris.
Persetujuan RUPS mutlak
dibutuhkan dalam hal PT
memutuskan kebijakan-kebijakan
umum (penggabungan, peleburan
dan pengambilalihan PT serta
pembubaran PT), pengangkatan dan
pemberhentian direksi dan
komisaris, serta pengesahan laporan tahunan direksi/komisaris.
Disamping itu, kesakralan RUPS juga terlihat dari proses penyelenggaraan RUPS yang wajib didahului dengan adanya pemanggilan kepada seluruh
pemegang saham.5
Ketentuan ini bersifat memaksa, sehingga apabila hal ini tidak terpenuhi dalam
konteks tidak dilakukan
pemanggilan sebelum RUPS
diselenggarakan atau tidak
mememenuhi syarat-syarat yang
telah ditentukan dalam Akte
Pendirian/Anggaran Dasar PT yang bersangkutan, maka akan berakibat hukum pada dapat dibatalkannya
RUPS oleh pengadilan.6
5
UU PT membedakan jenis RUPS menjadi RUPS Tahunan dan RUPS Lainnya (RUPS Luar Biasa). Total jumlah hari yang dibutuhkan untuk melaksanakan RUPS Tahunan adalah paling lama 35 hari (vide Pasal 73).
6
2. Pengaturan PD dalam UU PD
Sampai saat ini pengaturan
mengenai PD masih didasarkan pada
peraturan perundang-undangan
yang merupakan produk Orde Lama yaitu UU No. 5 Tahun 1962 tentang PD. Pada dasarnya tujuan dari pengaturan PD dalam suatu UU adalah untuk melaksanakan amanat Pasal 33 UUD 1945 (yang belum diamandemen) dengan memberikan otonomi yang luas kepada daerah swatantra yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.
Sebagian atau seluruh permodalan PD berasal dari kekayaan daerah yang dipisahkan dan seperti halnya PT, modal PD terdiri dari saham-saham. Dalam UU PD, diatur bahwa saham-saham tersebut digolongkan dalam 2 jenis, yaitu saham prioriteit
yang hanya dapat dimiliki oleh daerah, dan saham biasa yang dapat dimiliki oleh daerah, warganegara,
dan/atau badan hukum Indonesia.7
Anisitus Amanat, SH., CN, Pembahasan Undang-undang Perseroan Terbatas 1995 dan Penerapannya
dalam Akta Notaris, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta,
1996.
7
Secara common practice, penggolongan saham semacam ini memang sudah lazim dikenal dalam praktek, terutama di negara-negara maju, yang membagi jenis saham menjadi saham biasa (common stock) dan saham preferen (preferred stock). UU PT sendiri menggolongkan menjadi klasifikasi saham biasa dan klasifikasi saham lain (vide Pasal 46). Penggolongan ini menjadi penting dalam konteks resolusi bank dalam hal LPS melakukan penyertaan modal sementara terhadap bank gagal yang sedang dilakukan penyelamatan atau penanganannya oleh LPS. Jaminan terhadap pengembalian dana yang telah disuntikkan oleh LPS tersebut lebih terlindungi apabila
Suatu hal yang perlu digarisbawahi dalam mencermati ketentuan dalam UU PD ini adalah bahwa Kepala Daerah sebagai pemegang saham
prioriteit memiliki kedudukan
istimewa, misalnya dalam
mengangkat dan memberhentikan direksi PD. Kewenangan Rapat
Pemegang Saham (RPS) bagi
pemegang saham prioriteit serta
RUPS bagi pemegang saham
prioriteit dan pemegang saham biasa, yang identik dengan RUPS dalam UU PT, untuk memutuskan suatu kebijakan dapat “dikalahkan” oleh kewenangan Kepala Daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 18 dalam hal RPS/RUPS PD tidak bermufakat dalam mengambil suatu keputusan. Dengan demikian RUPS bukanlah suatu forum yang memiliki
kedaulatan yang tertinggi
sebagaimana halnya RUPS dalam UU PT.8
Dalam mekanisme pembubaran
badan hukum PD, pembubaran dan penunjukan likuidator ditetapkan dengan Perda, setelah mendapat pengesahan oleh instansi atasan (Presiden, Menteri Dalam Negeri atau Gubernur) sesuai ketentuan
LPS berkedudukan sebagai pemegang saham preferen pada bank tersebut.
8
Pasal 29 UU PD, bukan kewenangan
dari pemegang saham dalam
RPS/RUPS. UU No. 32 Tahun 2004
tentang Pemerintahan Daerah
(Pemda) mengatur bahwa Perda
merupakan peraturan daerah
provinsi dan/atau peraturan daerah
kabupaten atau kota yang
ditetapkan oleh kepala daerah
setelah mendapat persetujuan
bersama DPRD dan berlaku setelah
diundangkan dalam lembaran
daerah. Artinya, prosedur yang
ditempuh untuk melakukan
pembubaran dan pembentukan PD
tidaklah sesederhana seperti
mekanisme pada pembubaran PT karena tidak hanya membutuhkan kontrol dari pemegang saham PD, melainkan juga kontrol wakil rakyat di lembaga legislatif.
3. Efektivitas Kewenangan LPS
Sebagaimana telah disinggung di
atas, kewenangan LPS dalam
likuidasi bank mencakup pula
wewenang LPS untuk mengambil alih dan menjalankan segala hak dan
wewenang pemegang saham,
termasuk hak dan wewenang RUPS. Dengan pemberian wewenang ini kepada LPS, diharapkan agar LPS
dapat menjalankan proses
pemberesan aset dan penyelesaian kewajiban dari bank yang dicabut izin usahanya secara efektif dan
efisien sesuai ketentuan yang
berlaku serta dapat mengoptimalkan
tingkat pengembalian dana
penjaminan yang telah dikeluarkan oleh LPS, tanpa intervensi dari
pemegang saham.9
Penggunaan istilah RUPS dalam UU
LPS dapat ditafsirkan sebagai
keinginan pembentuk UU untuk menyerahkan forum pengambilan keputusan tertinggi pada bank
sebagai legal entity kepada LPS.
Pengambilalihan wewenang RUPS dari pemegang saham menyebabkan pemegang saham menjadi invalid,
dengan tidak menghilangkan
kewajiban tanggung jawab pribadi
pemegang saham apabila di
kemudian hari terbukti bahwa kegagalan bank juga disebabkan adanya kontribusi dari pemegang saham.
Apabila kewenangan LPS untuk mengambil alih dan menjalankan
segala hak dan wewenang
pemegang saham, termasuk hak dan wewenang RUPS, tersebut di
atas ditafsirkan secara gramatikal10
,
kewenangan LPS hanyalah
melakukan Rapat Pemegang Saham
9 Per tanggal 1 November 2006 terdapat 2 (dua) buah
BPR yang telah dicabut izin usahanya oleh BI, masing-masing PD BPR Cimahi, Kabupaten Bandung yang dicabut izin usahanya berdasarkan SK Gubernur BI No. 8/3/KEP.GBI/2006 tanggal 25 Januari 2006 dan PD BPR Gununghalu yang dicabut izin usaha berdasarkan SK Gubernur BI No. 8/74/KEP.GBI/2006 tanggal 11 Oktober 2006.
10
dengan agenda misalnya
mengangkat semacam Tim
Pemberes Sementara, sebagai
kepanjangan tangan LPS untuk melakukan penagihan kredit kepada debitor tanpa memiliki kewenangan untuk membubarkan badan hukum bank, membentuk Tim Likuidasi, menetapkan status bank sebagai “BDL”, dan menonaktifkan seluruh direksi dan komisaris sebagaimana diatur dalam UU LPS. Bahkan untuk
melakukan perbuatan hukum
berupa pencairan aset bank dalam
rangka pengembalian dana
penjaminan pun, LPS akan terkena ketentuan Pasal 178 UU Pemda yang mengatur bahwa barang milik daerah yang dipergunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijual, diserahkan haknya
kepada pihak lain, dijadikan
tanggungan, atau digadaikan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 152/2004 tentang
Pengelolaan Barang Daerah
menegaskan bahwa perubahan
status hukum barang daerah berupa
penghapusan barang, penjualan
kendaraan dinas, penjualan rumah daerah dan pelepasan hak atas tanah dan atau bangunan harus dalam bentuk Keputusan Kepala Daerah atau Keputusan Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD.
Hambatan yang akan dihadapi oleh LPS berasal dari pihak legislatif dan
eksekutif di daerah berupa
kemungkinan terjadinya
keterlambatan proses penyusunan perda sebagai dasar hukum dari
pembubaran suatu bank yang
berbadan hukum PD. Berdasarkan pengalaman BI sebagai otoritas pengawas perbankan, alasan yang dikemukakan oleh DPRD antara lain adalah bahwa pembahasan perda mengenai pembubaran PD tidak termasuk salah satu agenda rapat DPRD pada tahun berjalan atau tidak
termasuk agenda yang
diprioritaskan, sedangkan pemda memberikan alasan antara lain bahwa tidak tersedianya anggaran pada APBD tahun berjalan untuk penyusunan perda atau satu perda mengatur lebih dari satu bank berbentuk hukum PD, sehingga menyulitkan pembuatan perda baru yang hanya mengatur pembubaran satu atau beberapa PD yang merupakan bagian dari perda yang lama.11
Sebaliknya apabila dianut penafsiran ekstensif12
dimana RUPS dalam UU
11
Berdasarkan data DPBPR BI, terdapat lebih kurang 24 buah BPR yang berbentuk PD yang tersebar di Kabupaten Sumedang, Kabupaten Garut, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Purwakarta, Propinsi Jawa Barat yang telah dicabut izin usahanya oleh BI yang sampai saat ini belum dilakukan pembubarannya melalui perda. Beberapa BPR tersebut telah dicabut izin usahanya oleh BI sejak tahun 2001.
12
LPS ditafsirkan sebagai forum pengambilan keputusan tertinggi
pada bank sebagai business entity,
seyogianya proses pembubaran bank cukup diawali dengan Rapat Dewan Komisioner (RDK) LPS sebagaimana layaknya RUPS dari suatu PT dengan agenda sebagaimana diatur dalam UU LPS, tanpa perlu mendapatkan pengesahan dari instansi atasan dan persetujuan dari DPRD, serta diakhiri
dengan pengundangan dalam
lembaran daerah. Dengan
dilatarbelakangi oleh pertimbangan
untuk melakukan penyelamatan
terhadap kekayaan negara yang telah digunakan sebagai semacam
“dana talangan” berupa
pembayaran terlebih dahulu kepada nasabah penyimpan dari bank yang dicabut izin usahanya, penggunaan istilah RUPS oleh pembentuk UU LPS dapat ditafsirkan sebagai ketentuan horizontal yang berlaku terhadap semua bentuk hukum bank yang
diatur dalam UU Perbankan.
Disamping itu dalam rangka
pelaksanaan resolusi bank yang dijalankan oleh LPS, UU LPS dapat
ditafsirkan sebagai lex specialis
terhadap peraturan
perundang-undangan yang mengatur PT,
1576 KUH Perdata yang mengatakan bahwa “penjualan barang yang disewakan tidak memutuskan hubungan hukum sewa menyewa” ditafsirkan oleh HogeRaad tidak hanya sebagai perbuatan hukum penjualan, melainkan mencakup setiap perbuatan hukum yang bertujuan untuk mengalihkan kepemilikan barang yang disewakan. Lihat Prof. Dr. H. Muchsin, SH, op.cit.
koperasi, PD dan peraturan
perundang-undangan lainnya yang
mengatur hal-hal umum yang
berkaitan dengan bank sebagai legal
entity.
Walaupun dari sisi LPS penafsiran secara luas ini membawa dampak positif bagi terselenggaranya tugas LPS, namun implikasi negatif dari penafsiran secara luas ini adalah dapat berupa terjadinya dampak politis kepada pihak legislatif dan eksekutif (DPRD maupun pemda tempat bank beroperasi), sehingga
dapat terjadi semacam konflik
kelembagaan dengan LPS yang pada gilirannya akan mempersulit tugas Tim Likuidasi sebagai kepanjangan
tangan LPS dalam melakukan
tindakan pemberesan terhadap
harta kekayaan bank. Penerapan
adagium “lex specialis derogat legi
generali” dalam kasus ini sangat
mungkin menimbulkan polemik
mengingat kewenangan pemda dan DPRD dalam membubarkan badan hukum PD telah diatur secara eksplisit dalam UU PD, sedangkan kemungkinan pembubaran badan
PD oleh LPS dengan hanya
melakukan RDK baru pada tataran
interprestasi/penafsiran hukum.
Oleh karena itu kemungkinan
Hambatan lain yang akan dihadapi
LPS yang berkaitan dengan
penerapan adagium “lex specialis
derogat legi generali” dalam kasus ini dipastikan juga akan datang dari
pihak yudikatif, misalnya
kemungkinan dari hakim untuk
mengatakan bahwa adagium
dimaksud dapat diaplikasikan
sepanjang UU yang mengatur
sesuatu hal yang bersifat sangat khusus yang akan menyimpangi dalil yang umum yang diatur dalam UU lain menegaskan secara eksplisit pemberlakuan adagium tersebut. Dalam hal ini, apabila penafsiran secara luas tersebut di atas akan dianut, maka seharusnya UU LPS menyebutkan secara eksplisit untuk menyimpangi UU PT, UU Koperasi, UU PD dan UU lain yang mengatur
mengenai hal-hal umum yang
berkaitan dengan bank sebagai legal
entity, termasuk UU Pasar Modal dan UU BUMN.
4. Pelaksanaan Pembayaran atas
Klaim Penjaminan
Secara yuridis, pengembalian aset kepada LPS dari hasil pencairan aset dan/atau penagihan piutang kepada debitur bank dapat mengalami
hambatan yang disebabkan
ketidakefektifan pelaksanaan fungsi,
tugas dan wewenang LPS
sebagaimana telah dibahas di atas. Padahal proses pembubaran badan
hukum bank merupakan pintu
masuk untuk dilakukannya
pemberesan harta kekayaan bank
yang akan digunakan untuk
pembayaran tagihan kreditur,
termasuk kepada LPS.
Dapat dibayangkan masalah yang akan dihadapi oleh LPS apabila di kemudian hari terdapat banyak bank yang berbentuk PD yang masuk
dalam pengawasan khusus (special
surveillance) BI yang tersebar di berbagai daerah di seluruh Indonesia dicabut izin usahanya oleh BI, sedangkan kewajiban pembayaran klaim penjaminan simpanan nasabah harus segera dilakukan oleh LPS.
Mengingat kekayaan LPS adalah kekayaan negara yang dipisahkan yang termasuk ke dalam cakupan
pengertian piutang negara
berdasarkan UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, maka hambatan yang timbul dalam
proses asset recovery tersebut di atas
berpotensi menimbulkan kerugian
negara sebagai akibat dari
tertundanya pemasukan sejumlah uang kepada negara yang tidak tertutup kemungkinan ditafsirkan sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai
yang dapat dikriminalisasi
berdasarkan UU No. 31 Tahun 1999
tentang Pemberantasan Tindak
Diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001.13
IV. Kesimpulan
Beberapa ketentuan yang diatur dalam UU LPS yang berkaitan dengan resolusi bank, termasuk ketentuan mengenai likuidasi bank, memberikan ruang yang terlalu luas terhadap penafsiran yang beragam
yang menimbulkan potensi
perbedaan pandangan di kalangan ahli hukum korporasi. Hal ini jelas akan melahirkan kondisi yang tidak
kondusif dalam melindungi
kepentingan negara, terkait dengan pelaksanaan fungsi, tugas dan
wewenang LPS di bidang
penjaminan simpanan nasabah
bank.
Oleh karena itu seyogianya LPS dalam jangka pendek, terhadap
hambatan yang timbul dari
penafsiran secara sempit dapat dieliminir dengan jalan melakukan
koordinasi dengan pihak-pihak
13
Dalam kaitan ini perlu disimak kasus penahanan mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Syafruddin Temenggung, oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta atas sangkaan melakukan penjualan pabrik gula PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) atau Rajawali III di Gorontalo. Pabrik strategis yang asetnya lebih Rp 600 milyar dijual oleh BPPN pada 2003 dengan harga Rp 84 milyar. Kejaksaan Tinggi beranggapan bahwa negara dirugikan Rp 500 milyar
lebih. Lihat
http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2006/2/4/n1.ht m. Padahal Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 1999 tentang BPPN telah menegaskan bahwa BPPN berwenang untuk menjual aset dalam restrukturisasi BPPN di bawah nilai buku.
terkait seperti dengan Departemen Dalam Negeri serta Departemen Hukum dan HAM. Disamping itu
dapat pula dilakukan usaha
permintaan opini hukum kepada
Mahkamah Agung (MA)
berdasarkan Pasal 37 UU No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan UU No. 5 Tahun 2004 yang
mengatur bahwa MA dapat
memberikan pertimbangan dalam bidang hukum baik diminta maupun
tidak kepada Lembaga Tinggi
Negara yang lain. Oleh karena LPS merupakan bagian dari kekuasaan eksekutif di bawah Presiden, LPS seyogiyanya dapat memanfaatkan ketentuan ini.
Dalam jangka panjang, UU LPS perlu disempurnakan guna memberikan landasan hukum yang lebih jelas dan lebih tegas kepada LPS khususnya
dalam rangka melakukan
kewenangan resolusi bank.
Terkait dengan itu, rencana
Amandemen UU Perbankan dan RUU tentang Perbankan Syariah
yang antara lain mengusulkan
muatan mengenai keharusan bentuk hukum bank berupa PT patut
didukung untuk memperoleh
ketegasan mengenai tanggung