• Tidak ada hasil yang ditemukan

ProdukHukum BankIndonesia

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "ProdukHukum BankIndonesia"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

LIKUIDASI TERHADAP BANK YANG BERBENTUK HUKUM PERUSAHAAN DAERAH :

Suatu Upaya Perlindungan Hukum Terhadap Kepentingan Lembaga Penjamin Simpanan dalam Pelaksanaan Program Penjaminan Simpanan

Oleh : Rizal Ramadhani, S.H., LL.M 1

I. Pendahuluan

Berlakunya Undang-Undang No. 24 Tahun 2004 tentang Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) sejak

tanggal 22 September 2006

menandai mulainya babak baru

rezim penjaminan simpanan

nasabah (deposit guarantee

scheme)2

dan resolusi bank (bank

resolution)3

oleh LPS sebagai suatu

1

Kepala Divisi Peraturan LPS.

2

Sebelumnya berdasarkan Keputusan Presiden No. 26 Tahun 1998 tentang Jaminan terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Umum dan Keputusan Presiden No. 193 Tahun 1998 tentang Jaminan Terhadap Kewajiban Pembayaran Bank Perkreditan Rakyat, Pemerintah melaksanakan Program Penjaminan Pemerintah berupa blanket guarantee. Walaupun program ini dinilai berhasil mengembalikan kepercayaan masyarakat pasca krisis moneter yang terjadi sejak tahun 1997, namun efek buruk terhadap keuangan negara dan timbulnya moral hazard dari pemilik dan pengurus bank untuk melakukan tindakan yang tidak berhati-hati dalam pengelolaan bank menyebabkan Pemerintah berkeputusan untuk mengeluarkan skim penjaminan simpanan yang bersifat terbatas. Lihat Tim Penyusun RUU tentang Lembaga Penjamin Simpanan, “Naskah Akademik RUU tentang Lembaga Penjamin Simpanan”, Jakarta, 2003.

3

Federal Deposit Insurance Corporation (FDIC),

lembaga penjamin simpanan di AS, menggolongkan resolusi bank (bank resolution) dalam 2 (dua) tahap, yaitu resolution process dan receivership process.

Resolution process merupakan kegiatan untuk menilai

harga dari bank atau thrift yang mengalami kegagalan, memasarkannya dan kemudian melakukan penawaran penjualannya kepada pihak lain. Receivership process

merupakan tindakan untuk melakukan penutupan terhadap bank atau thrift yang gagal, melakukan

lembaga yang independen. Rezim ini tidak memisahkan resolusi bank dari

penjaminan nasabah penyimpan

dengan pemahaman bahwa

keduanya memiliki hubungan yang sangat erat dalam upaya untuk meningkatkan kepercayaan nasabah penyimpan terhadap bank yang memang sangat diperlukan untuk

mewujudkan stabilitas sistem

perbankan.

Sebelum berlakunya UU LPS,

kewenangan untuk melakukan

tindakan dalam mengatasi kesulitan yang membahayakan kelangsungan usaha suatu bank hanya dimiliki oleh Bank Indonesia (BI) sebagai otoritas pengawas perbankan berdasarkan amanat Pasal 37 UU No. 7 Tahun

1992 tentang Perbankan

sebagaimana telah diubah dengan

UU No. 10 Tahun 1998.

Restrukturisasi perbankan kemudian dilakukan oleh Badan Penyehatan

likuidasi terhadap asetnya dan membagikan hasil penjualan asset kepada seluruh kreditor. Lihat

(2)

Perbankan Nasional (BPPN) yang dibentuk berdasarkan UU Perbankan dan Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 1999. Setelah berlakunya UU LPS, kewenangan untuk melakukan restrukturisasi perbankan dilakukan

oleh LPS yang diberikan

kewenangan untuk melakukan

tindakan penyelamatan atau

penanganan suatu bank dalam hal tindakan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 37 UU Perbankan tersebut di atas tidak cukup untuk mengatasi kesulitan yang dihadapi

bank dan/atau keadaan bank

tersebut membahayakan sistem

perbankan berdasarkan penilaian BI.

Dalam rezim resolusi bank yang dianut UU LPS, kewenangan untuk melakukan likuidasi bank berada di

tangan LPS yang sebelumnya

merupakan kewenangan penuh

pemegang saham bank, termasuk pengawasan terhadap pelaksanaan likuidasi yang sebelumnya berada di BI. Dengan kata lain, UU LPS

memberikan kewenangan yang

sangat besar kepada LPS untuk menangani seluruh aspek likuidasi

bank, baik yang upstream maupun

yang downstream4

. Tujuan

4

Kewenangan LPS dimulai dengan pengambilalihan wewenang pemegang saham, termasuk untuk melakukan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) sebagai pemegang kedaulatan tertinggi dalam suatu perseroan terbatas (PT), memberikan talangan pembayaran gaji dan pesangon pegawai bank, memutuskan pembubaran badan hukum bank, membentuk tim likuidasi sampai dengan meminta pertanggungjawaban pelaksanaan likuidasi dari tim likuidasi serta membubarkan tim likuidasi.

pembentuk UU memberikan

kewenangan yang sangat luas

kepada LPS sangat mungkin

dilandasi pemikiran untuk mengatasi hambatan-hambatan yang pernah dialami oleh BI dalam menjalankan

fungsinya sebagai otoritas

pengawasan likuidasi bank

berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 1999 tentang Pencabutan Izin Usaha, Pembubaran dan Likuidasi Bank (PP Likuidasi Bank) yang telah dicabut oleh UU LPS.

Di sisi lain, terkait dengan

pelaksanaan fungsi penjaminan

simpanan, LPS melakukan

pembayaran klaim penjaminan

kepada nasabah penyimpan dari bank yang dicabut izin usahanya

sepanjang telah memenuhi

persyaratan yang telah ditetapkan

oleh UU LPS. Melalui asset recovery,

pembayaran klaim penjaminan

tersebut di kemudian hari

diupayakan diperoleh kembali oleh

LPS dengan cara melakukan

pencairan aset dan/atau penagihan

piutang kepada debitur sesuai

urutan preferensi yang ditentukan UU LPS.

(3)

II. Permasalahan

Secara tersurat pengaturan resolusi bank dalam UU LPS cenderung dilakukan dengan pendekatan bank sebagai perseroan terbatas (PT), padahal UU No. 7 Tahun 1992 tentang Perbankan sebagaimana Telah Diubah dengan UU No. 10

Tahun 1998 juga mengakui

eksistensi bank yang berbentuk hukum koperasi dan perusahaan daerah (PD), selain bank yang berbentuk hukum PT. Oleh karena itu, pendekatan ini menimbulkan

implikasi hukum yang cukup

kompleks yaitu apakah kewenangan LPS yang luas dalam likuidasi bank dimaksud dapat pula berlaku secara efektif terhadap bank gagal yang

berbentuk hukum perusahaan

daerah (PD) yang didirikan

berdasarkan peraturan daerah

(Perda). Dalam hal kewenangan ini tidak dapat secara efektif dilakukan, masalah yang muncul adalah apakah

asset recovery berupa perolehan kembali atas pembayaran klaim penjaminan yang telah dikeluarkan LPS masih tetap terjamin.

III. Pembahasan

1. Pengaturan RUPS dalam UU PT

Dalam UU No. 1 Tahun 1995 tentang Perseroan Terbatas, RUPS menduduki tempat yang sangat sakral sebagai organ PT yang

memiliki kekuasaan tertinggi,

sehingga sebetulnya di luar RUPS, pemegang saham PT tidak memiliki kekuasaan apa pun terhadap

perseroan. RUPS memiliki

kewenangan yang tidak diberikan

kepada direksi dan komisaris.

Persetujuan RUPS mutlak

dibutuhkan dalam hal PT

memutuskan kebijakan-kebijakan

umum (penggabungan, peleburan

dan pengambilalihan PT serta

pembubaran PT), pengangkatan dan

pemberhentian direksi dan

komisaris, serta pengesahan laporan tahunan direksi/komisaris.

Disamping itu, kesakralan RUPS juga terlihat dari proses penyelenggaraan RUPS yang wajib didahului dengan adanya pemanggilan kepada seluruh

pemegang saham.5

Ketentuan ini bersifat memaksa, sehingga apabila hal ini tidak terpenuhi dalam

konteks tidak dilakukan

pemanggilan sebelum RUPS

diselenggarakan atau tidak

mememenuhi syarat-syarat yang

telah ditentukan dalam Akte

Pendirian/Anggaran Dasar PT yang bersangkutan, maka akan berakibat hukum pada dapat dibatalkannya

RUPS oleh pengadilan.6

5

UU PT membedakan jenis RUPS menjadi RUPS Tahunan dan RUPS Lainnya (RUPS Luar Biasa). Total jumlah hari yang dibutuhkan untuk melaksanakan RUPS Tahunan adalah paling lama 35 hari (vide Pasal 73).

6

(4)

2. Pengaturan PD dalam UU PD

Sampai saat ini pengaturan

mengenai PD masih didasarkan pada

peraturan perundang-undangan

yang merupakan produk Orde Lama yaitu UU No. 5 Tahun 1962 tentang PD. Pada dasarnya tujuan dari pengaturan PD dalam suatu UU adalah untuk melaksanakan amanat Pasal 33 UUD 1945 (yang belum diamandemen) dengan memberikan otonomi yang luas kepada daerah swatantra yang berhak mengatur dan mengurus rumah tangganya sendiri.

Sebagian atau seluruh permodalan PD berasal dari kekayaan daerah yang dipisahkan dan seperti halnya PT, modal PD terdiri dari saham-saham. Dalam UU PD, diatur bahwa saham-saham tersebut digolongkan dalam 2 jenis, yaitu saham prioriteit

yang hanya dapat dimiliki oleh daerah, dan saham biasa yang dapat dimiliki oleh daerah, warganegara,

dan/atau badan hukum Indonesia.7

Anisitus Amanat, SH., CN, Pembahasan Undang-undang Perseroan Terbatas 1995 dan Penerapannya

dalam Akta Notaris, PT. RajaGrafindo Persada, Jakarta,

1996.

7

Secara common practice, penggolongan saham semacam ini memang sudah lazim dikenal dalam praktek, terutama di negara-negara maju, yang membagi jenis saham menjadi saham biasa (common stock) dan saham preferen (preferred stock). UU PT sendiri menggolongkan menjadi klasifikasi saham biasa dan klasifikasi saham lain (vide Pasal 46). Penggolongan ini menjadi penting dalam konteks resolusi bank dalam hal LPS melakukan penyertaan modal sementara terhadap bank gagal yang sedang dilakukan penyelamatan atau penanganannya oleh LPS. Jaminan terhadap pengembalian dana yang telah disuntikkan oleh LPS tersebut lebih terlindungi apabila

Suatu hal yang perlu digarisbawahi dalam mencermati ketentuan dalam UU PD ini adalah bahwa Kepala Daerah sebagai pemegang saham

prioriteit memiliki kedudukan

istimewa, misalnya dalam

mengangkat dan memberhentikan direksi PD. Kewenangan Rapat

Pemegang Saham (RPS) bagi

pemegang saham prioriteit serta

RUPS bagi pemegang saham

prioriteit dan pemegang saham biasa, yang identik dengan RUPS dalam UU PT, untuk memutuskan suatu kebijakan dapat “dikalahkan” oleh kewenangan Kepala Daerah sebagaimana diatur dalam Pasal 18 dalam hal RPS/RUPS PD tidak bermufakat dalam mengambil suatu keputusan. Dengan demikian RUPS bukanlah suatu forum yang memiliki

kedaulatan yang tertinggi

sebagaimana halnya RUPS dalam UU PT.8

Dalam mekanisme pembubaran

badan hukum PD, pembubaran dan penunjukan likuidator ditetapkan dengan Perda, setelah mendapat pengesahan oleh instansi atasan (Presiden, Menteri Dalam Negeri atau Gubernur) sesuai ketentuan

LPS berkedudukan sebagai pemegang saham preferen pada bank tersebut.

8

(5)

Pasal 29 UU PD, bukan kewenangan

dari pemegang saham dalam

RPS/RUPS. UU No. 32 Tahun 2004

tentang Pemerintahan Daerah

(Pemda) mengatur bahwa Perda

merupakan peraturan daerah

provinsi dan/atau peraturan daerah

kabupaten atau kota yang

ditetapkan oleh kepala daerah

setelah mendapat persetujuan

bersama DPRD dan berlaku setelah

diundangkan dalam lembaran

daerah. Artinya, prosedur yang

ditempuh untuk melakukan

pembubaran dan pembentukan PD

tidaklah sesederhana seperti

mekanisme pada pembubaran PT karena tidak hanya membutuhkan kontrol dari pemegang saham PD, melainkan juga kontrol wakil rakyat di lembaga legislatif.

3. Efektivitas Kewenangan LPS

Sebagaimana telah disinggung di

atas, kewenangan LPS dalam

likuidasi bank mencakup pula

wewenang LPS untuk mengambil alih dan menjalankan segala hak dan

wewenang pemegang saham,

termasuk hak dan wewenang RUPS. Dengan pemberian wewenang ini kepada LPS, diharapkan agar LPS

dapat menjalankan proses

pemberesan aset dan penyelesaian kewajiban dari bank yang dicabut izin usahanya secara efektif dan

efisien sesuai ketentuan yang

berlaku serta dapat mengoptimalkan

tingkat pengembalian dana

penjaminan yang telah dikeluarkan oleh LPS, tanpa intervensi dari

pemegang saham.9

Penggunaan istilah RUPS dalam UU

LPS dapat ditafsirkan sebagai

keinginan pembentuk UU untuk menyerahkan forum pengambilan keputusan tertinggi pada bank

sebagai legal entity kepada LPS.

Pengambilalihan wewenang RUPS dari pemegang saham menyebabkan pemegang saham menjadi invalid,

dengan tidak menghilangkan

kewajiban tanggung jawab pribadi

pemegang saham apabila di

kemudian hari terbukti bahwa kegagalan bank juga disebabkan adanya kontribusi dari pemegang saham.

Apabila kewenangan LPS untuk mengambil alih dan menjalankan

segala hak dan wewenang

pemegang saham, termasuk hak dan wewenang RUPS, tersebut di

atas ditafsirkan secara gramatikal10

,

kewenangan LPS hanyalah

melakukan Rapat Pemegang Saham

9 Per tanggal 1 November 2006 terdapat 2 (dua) buah

BPR yang telah dicabut izin usahanya oleh BI, masing-masing PD BPR Cimahi, Kabupaten Bandung yang dicabut izin usahanya berdasarkan SK Gubernur BI No. 8/3/KEP.GBI/2006 tanggal 25 Januari 2006 dan PD BPR Gununghalu yang dicabut izin usaha berdasarkan SK Gubernur BI No. 8/74/KEP.GBI/2006 tanggal 11 Oktober 2006.

10

(6)

dengan agenda misalnya

mengangkat semacam Tim

Pemberes Sementara, sebagai

kepanjangan tangan LPS untuk melakukan penagihan kredit kepada debitor tanpa memiliki kewenangan untuk membubarkan badan hukum bank, membentuk Tim Likuidasi, menetapkan status bank sebagai “BDL”, dan menonaktifkan seluruh direksi dan komisaris sebagaimana diatur dalam UU LPS. Bahkan untuk

melakukan perbuatan hukum

berupa pencairan aset bank dalam

rangka pengembalian dana

penjaminan pun, LPS akan terkena ketentuan Pasal 178 UU Pemda yang mengatur bahwa barang milik daerah yang dipergunakan untuk melayani kepentingan umum tidak dapat dijual, diserahkan haknya

kepada pihak lain, dijadikan

tanggungan, atau digadaikan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan. Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 152/2004 tentang

Pengelolaan Barang Daerah

menegaskan bahwa perubahan

status hukum barang daerah berupa

penghapusan barang, penjualan

kendaraan dinas, penjualan rumah daerah dan pelepasan hak atas tanah dan atau bangunan harus dalam bentuk Keputusan Kepala Daerah atau Keputusan Kepala Daerah dengan persetujuan DPRD.

Hambatan yang akan dihadapi oleh LPS berasal dari pihak legislatif dan

eksekutif di daerah berupa

kemungkinan terjadinya

keterlambatan proses penyusunan perda sebagai dasar hukum dari

pembubaran suatu bank yang

berbadan hukum PD. Berdasarkan pengalaman BI sebagai otoritas pengawas perbankan, alasan yang dikemukakan oleh DPRD antara lain adalah bahwa pembahasan perda mengenai pembubaran PD tidak termasuk salah satu agenda rapat DPRD pada tahun berjalan atau tidak

termasuk agenda yang

diprioritaskan, sedangkan pemda memberikan alasan antara lain bahwa tidak tersedianya anggaran pada APBD tahun berjalan untuk penyusunan perda atau satu perda mengatur lebih dari satu bank berbentuk hukum PD, sehingga menyulitkan pembuatan perda baru yang hanya mengatur pembubaran satu atau beberapa PD yang merupakan bagian dari perda yang lama.11

Sebaliknya apabila dianut penafsiran ekstensif12

dimana RUPS dalam UU

11

Berdasarkan data DPBPR BI, terdapat lebih kurang 24 buah BPR yang berbentuk PD yang tersebar di Kabupaten Sumedang, Kabupaten Garut, Kabupaten Bandung dan Kabupaten Purwakarta, Propinsi Jawa Barat yang telah dicabut izin usahanya oleh BI yang sampai saat ini belum dilakukan pembubarannya melalui perda. Beberapa BPR tersebut telah dicabut izin usahanya oleh BI sejak tahun 2001.

12

(7)

LPS ditafsirkan sebagai forum pengambilan keputusan tertinggi

pada bank sebagai business entity,

seyogianya proses pembubaran bank cukup diawali dengan Rapat Dewan Komisioner (RDK) LPS sebagaimana layaknya RUPS dari suatu PT dengan agenda sebagaimana diatur dalam UU LPS, tanpa perlu mendapatkan pengesahan dari instansi atasan dan persetujuan dari DPRD, serta diakhiri

dengan pengundangan dalam

lembaran daerah. Dengan

dilatarbelakangi oleh pertimbangan

untuk melakukan penyelamatan

terhadap kekayaan negara yang telah digunakan sebagai semacam

“dana talangan” berupa

pembayaran terlebih dahulu kepada nasabah penyimpan dari bank yang dicabut izin usahanya, penggunaan istilah RUPS oleh pembentuk UU LPS dapat ditafsirkan sebagai ketentuan horizontal yang berlaku terhadap semua bentuk hukum bank yang

diatur dalam UU Perbankan.

Disamping itu dalam rangka

pelaksanaan resolusi bank yang dijalankan oleh LPS, UU LPS dapat

ditafsirkan sebagai lex specialis

terhadap peraturan

perundang-undangan yang mengatur PT,

1576 KUH Perdata yang mengatakan bahwa “penjualan barang yang disewakan tidak memutuskan hubungan hukum sewa menyewa” ditafsirkan oleh HogeRaad tidak hanya sebagai perbuatan hukum penjualan, melainkan mencakup setiap perbuatan hukum yang bertujuan untuk mengalihkan kepemilikan barang yang disewakan. Lihat Prof. Dr. H. Muchsin, SH, op.cit.

koperasi, PD dan peraturan

perundang-undangan lainnya yang

mengatur hal-hal umum yang

berkaitan dengan bank sebagai legal

entity.

Walaupun dari sisi LPS penafsiran secara luas ini membawa dampak positif bagi terselenggaranya tugas LPS, namun implikasi negatif dari penafsiran secara luas ini adalah dapat berupa terjadinya dampak politis kepada pihak legislatif dan eksekutif (DPRD maupun pemda tempat bank beroperasi), sehingga

dapat terjadi semacam konflik

kelembagaan dengan LPS yang pada gilirannya akan mempersulit tugas Tim Likuidasi sebagai kepanjangan

tangan LPS dalam melakukan

tindakan pemberesan terhadap

harta kekayaan bank. Penerapan

adagium “lex specialis derogat legi

generali” dalam kasus ini sangat

mungkin menimbulkan polemik

mengingat kewenangan pemda dan DPRD dalam membubarkan badan hukum PD telah diatur secara eksplisit dalam UU PD, sedangkan kemungkinan pembubaran badan

PD oleh LPS dengan hanya

melakukan RDK baru pada tataran

interprestasi/penafsiran hukum.

Oleh karena itu kemungkinan

(8)

Hambatan lain yang akan dihadapi

LPS yang berkaitan dengan

penerapan adagium “lex specialis

derogat legi generali” dalam kasus ini dipastikan juga akan datang dari

pihak yudikatif, misalnya

kemungkinan dari hakim untuk

mengatakan bahwa adagium

dimaksud dapat diaplikasikan

sepanjang UU yang mengatur

sesuatu hal yang bersifat sangat khusus yang akan menyimpangi dalil yang umum yang diatur dalam UU lain menegaskan secara eksplisit pemberlakuan adagium tersebut. Dalam hal ini, apabila penafsiran secara luas tersebut di atas akan dianut, maka seharusnya UU LPS menyebutkan secara eksplisit untuk menyimpangi UU PT, UU Koperasi, UU PD dan UU lain yang mengatur

mengenai hal-hal umum yang

berkaitan dengan bank sebagai legal

entity, termasuk UU Pasar Modal dan UU BUMN.

4. Pelaksanaan Pembayaran atas

Klaim Penjaminan

Secara yuridis, pengembalian aset kepada LPS dari hasil pencairan aset dan/atau penagihan piutang kepada debitur bank dapat mengalami

hambatan yang disebabkan

ketidakefektifan pelaksanaan fungsi,

tugas dan wewenang LPS

sebagaimana telah dibahas di atas. Padahal proses pembubaran badan

hukum bank merupakan pintu

masuk untuk dilakukannya

pemberesan harta kekayaan bank

yang akan digunakan untuk

pembayaran tagihan kreditur,

termasuk kepada LPS.

Dapat dibayangkan masalah yang akan dihadapi oleh LPS apabila di kemudian hari terdapat banyak bank yang berbentuk PD yang masuk

dalam pengawasan khusus (special

surveillance) BI yang tersebar di berbagai daerah di seluruh Indonesia dicabut izin usahanya oleh BI, sedangkan kewajiban pembayaran klaim penjaminan simpanan nasabah harus segera dilakukan oleh LPS.

Mengingat kekayaan LPS adalah kekayaan negara yang dipisahkan yang termasuk ke dalam cakupan

pengertian piutang negara

berdasarkan UU No. 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara, maka hambatan yang timbul dalam

proses asset recovery tersebut di atas

berpotensi menimbulkan kerugian

negara sebagai akibat dari

tertundanya pemasukan sejumlah uang kepada negara yang tidak tertutup kemungkinan ditafsirkan sebagai akibat perbuatan melawan hukum baik sengaja maupun lalai

yang dapat dikriminalisasi

berdasarkan UU No. 31 Tahun 1999

tentang Pemberantasan Tindak

(9)

Diubah dengan UU No. 20 Tahun 2001.13

IV. Kesimpulan

Beberapa ketentuan yang diatur dalam UU LPS yang berkaitan dengan resolusi bank, termasuk ketentuan mengenai likuidasi bank, memberikan ruang yang terlalu luas terhadap penafsiran yang beragam

yang menimbulkan potensi

perbedaan pandangan di kalangan ahli hukum korporasi. Hal ini jelas akan melahirkan kondisi yang tidak

kondusif dalam melindungi

kepentingan negara, terkait dengan pelaksanaan fungsi, tugas dan

wewenang LPS di bidang

penjaminan simpanan nasabah

bank.

Oleh karena itu seyogianya LPS dalam jangka pendek, terhadap

hambatan yang timbul dari

penafsiran secara sempit dapat dieliminir dengan jalan melakukan

koordinasi dengan pihak-pihak

13

Dalam kaitan ini perlu disimak kasus penahanan mantan Ketua Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), Syafruddin Temenggung, oleh Kejaksaan Tinggi DKI Jakarta atas sangkaan melakukan penjualan pabrik gula PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) atau Rajawali III di Gorontalo. Pabrik strategis yang asetnya lebih Rp 600 milyar dijual oleh BPPN pada 2003 dengan harga Rp 84 milyar. Kejaksaan Tinggi beranggapan bahwa negara dirugikan Rp 500 milyar

lebih. Lihat

http://www.balipost.co.id/BaliPostcetak/2006/2/4/n1.ht m. Padahal Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 1999 tentang BPPN telah menegaskan bahwa BPPN berwenang untuk menjual aset dalam restrukturisasi BPPN di bawah nilai buku.

terkait seperti dengan Departemen Dalam Negeri serta Departemen Hukum dan HAM. Disamping itu

dapat pula dilakukan usaha

permintaan opini hukum kepada

Mahkamah Agung (MA)

berdasarkan Pasal 37 UU No. 14 Tahun 1985 tentang Mahkamah Agung sebagaimana telah diubah dengan UU No. 5 Tahun 2004 yang

mengatur bahwa MA dapat

memberikan pertimbangan dalam bidang hukum baik diminta maupun

tidak kepada Lembaga Tinggi

Negara yang lain. Oleh karena LPS merupakan bagian dari kekuasaan eksekutif di bawah Presiden, LPS seyogiyanya dapat memanfaatkan ketentuan ini.

Dalam jangka panjang, UU LPS perlu disempurnakan guna memberikan landasan hukum yang lebih jelas dan lebih tegas kepada LPS khususnya

dalam rangka melakukan

kewenangan resolusi bank.

Terkait dengan itu, rencana

Amandemen UU Perbankan dan RUU tentang Perbankan Syariah

yang antara lain mengusulkan

muatan mengenai keharusan bentuk hukum bank berupa PT patut

didukung untuk memperoleh

ketegasan mengenai tanggung

(10)

Referensi

Dokumen terkait

Ketentuan Pasal 2 dalam Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 1999 tentang Pengalihan Kedudukan, Tugas dan Kewenangan Menteri Keuangan Selaku Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS)

Kedudukan, Tugas dan Kewenangan Menteri Keuangan selaku Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atau Pemegang Saham pada Perusahaan Perseroan (PERSERO) dan Perseroan Terbatas yang

Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 1999 tentang Pengalihan Kedudukan, Tugas dan Kewenangan Menteri Keuangan Selaku Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atau Pemegang Saham pada

Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 1999 tentang Pengalihan Kedudukan, Tugas dan Kewenangan Menteri Keuangan Selaku Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atau Pemegang Saham pada

Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 1999 tentang Pengalihan Kedudukan, Tugas dan Kewenangan Menteri Keuangan Selaku Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atau Pemegang Saham pada

Peraturan Pemerintah Nomor 98 Tahun 1999 tentang Pengalihan Kedudukan, Tugas dan Kewenangan Menteri Keuangan Selaku Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) atau Pemegang Saham pada

surat pernyataan dari calon pemegang saham non bank (apabila terdapat calon pemegang saham selain BUK) mengenai sumber dana yang digunakan dalam rangka2.

Dewan Komisaris, Direksi, dan Dewan Pengawas Syariah. Yang dimaksud dengan kebijakan remunerasi dan fasilitas. lainnya yang ditetapkan Rapat Umum Pemegang Saham