Tugas Technopreneurship
Tugas Technopreneurship
Oleh :
Oleh :
Abiyyu Ahmad (03121403056)
Abiyyu Ahmad (03121403056)
UNIVERSI
UNIVERSITA
TAS
S SRIWIJ
SRIWIJAY
AYA
A
PALEMBANG
PALEMBANG
2014
2014
Tuhan Inilah Proposal i!up"u
Nama saya Abiyyu Ahmad, salah satu mahasiswa Teknik Kimia di Universitas Sriwijaya kampus Palembang. Sampai saat ini saya telah hidup selama 1 tahun, ! bulan, 1" hari dan, saya akui saya sangat bersyukur atas kesempatan tersebut. Saya dilahirkan #leh se#rang wanita yang sehari$harinya berpr#%esi sebagai &uru S'A N 1( Palembang yang tak lain dan tak bukan adalah S'A saya nantinya, perkenalkan )bu saya *iyantimala, dan juga akibat se#rang pria perkasa yaitu +apak saya idayat, yang sampai sekarang berpr#%esi sebagai salah satu karyawan di PT.PUS*). Saya adalah anak kedua dari tiga bersaudara dan satu$satunya anak laki$laki di keluarga tersebut. Saudari saya yang paling tua bernama Atikarida yang hanya berjarak satu tahun dari saya dan yang paling muda namanya -arras Anisah yang berada dua tahun setelah saya lahir. Saya juga adalah salah satu anak yang kebetulan sehari$harinya hidup di salah satu sudut wilayah k#ta Palembang yang sampai sekarang bernama Perumnas. alam tahun$tahun hidup saya. Saya pernah mendengar kalimat / Manusia Berusaha ,Tuhan Menentukan’. 'endengar kalimat tersebut, sebagai se#rang manusia yang di0iptakan$Nya. Saya pun pernah merasakan yang namanya berusaha. Sepuluh tahun yang lalu saya adalah se#rang anak ke0il kelas ( S, yang punya 0ita$0ita menjadi se#rang jendral p#lisi. Namun apa daya, tuhan yang menentukan. Setelah lulus S'A saya memutuskan untuk
mengikuti tes penerimaan angg#ta kep#lisian. *angkaian materi pembelajaran serta berbagai latihan %isik telah saya lahap, mulai dari mengikuti les sampai dengan #lahraga keras di pagi dan s#re hari, bahkan saya sempat tidak makan selama ( hari hanya untuk menurunkan berat badan saya yang pada waktu itu ! kg. Namun, tetap saja setelah mengikuti rangkaian tes. asilnya tetap nihil. 'ungkin memang Tuhan yang menentukan.
Saya disek#lahkan #leh #rang tua saya di S N (2 Palembang yang sekarang telah menjadi S N 113 Palembang. an yang menariknya, S itu bersebelahan dengan TK arapan +unda yang tak lain adalah TK 4Taman Kanak$kanak5 saya. Salah satu alasan yang l#gis mengapa saya bisa disek#lahkan disana adalah karena l#kasinya yang tidak terlalu jauh dari jalan raya. Sehingga siapapun yang akan menjemput, tidak kes ulitan men0ari.
i S saya tiap akhir dari semester genap selalu diumumkan siapa yang menjadi tiga siswa terbaik di sek#lah tersebut. Sayangnya, selama 3 tahun pertama duduk di bangku Sek#lah asar. Saya belum menemukan 0ara belajar yang tepat sehingga saya tidak pernah menyentuh predikat juara disek#lah itu bahkan 1" besar dikelas pun tidak. Akan tetapi, entah karena makan apa, tiba$tiba saya jadi punya semangat dan sangat berambisi untuk bisa menjadi juara pada awal semester kelas ( itu. Semangat itu didukung dengan meja belajar saya yang berada di p#j#k kiri depan yang bertepatan lurus dengan papan tulis. 6ntah apa artinya, namun itu sangat membantu saya dalam menerima setiap materi pembelajaran yang disampaikan #leh +apak dan )bu &uru yang mengajar. Namun tidak hanya itu, pada semester itu juga, entah mengapa saya jadi dekat dengan para jawara$jawara di sek#lah itu yang telah bergelar tiga rangking besar utama pada semester$ semester sebelumnya. 'ereka berturut$turut terdiri dari se#rang 0ewek gemuk, se#rang wanita 0antik dan, se#rang perempuan kutu buku. 'ungkin karena saya yang terlalu tampan ataupun sekedar menarik perhatian walaupun agak terlihat sedikir melar. Tapi yang jelas mereka satu kelas dengan saya pada waktu itu. an alhasil, saya mendapat peringkat ! umum pada akhir semester kelas ( waktu itu dan mengalahkan si wanita 0antik. +ahkan, istri dari &ubernur Sumsel sampai datang ke sek#lah. an sekali lagi, entah karena ada urusan dengan sek#lah atau sekedar mampir, yang jelas kata bu guru saya beliau datang untuk melihat para jawara di sek#lah karena S saya mendapat predikat S terbaik se$Sumsel. Artinya saya salah satu yang di0arinya.
Selama saya duduk di S keseharian saya adalah mengurus dan membersihkan beberapa tambak ikan milik kakek saya yang l#kasinya tidak terlalu jauh, hanya berjarak tiga meter dari rumah saya. Saya bersama +apak saya dan dua saudari saya setiap akhir pekan selalu menguras tambak ikan yang berjumlah k#lam itu. 7alaupun jumlahnya k#lam tapi yang berisi ikan hanya tiga atau empat k#lam saja dan sisanya ada yang digunakan untuk berternak tanaman air seperti 60eng &#nd#k dan kalau sedang malas merawat ikan kami gunakan untuk k#lam berenang umum bagi anak$anak tetangga. )kan yang pada waktu itu paling banyak adalah ikan 'as, &urami, Nila,
8ele, dan beberapa ikan hias yang berukuran ke0il yang semuanya dipelihara sebagian untuk dijual, dimakan, atau hanya untuk sekedar dipelihara karena enak dilihat atau sekedar h#bi, tergantung +apak saya.
Akibat pengaruh kebiasaan bapak saya itu, saya pun jadi tertarik untuk memelihara ikan yang lebih unik. 9adi saya dan teman masa ke0il sekaligus tetangga saya Agung, punya h#bi apabila pulang 0epat dari sek#lah kami berdua selalu menuju parit$parit di sekitar tempat tinggal kami untuk berburu ikan. engan menggunakan peralatan seadanya karena saringan dari k#lam milik bapak saya dilarang bapak saya untuk dipakai karena nanti bisa rusak kena kayu dan benda$ benda tajam yang ada di parit. Sehingga kami gunakanlah saringan plastik untuk memasak mie
yang diam$diam saya dan Agung ambil dari dapur rumah masing$masing ditambah dengan sebuah kaleng bekas tempat kue kering untuk meletakkan ikan. Setiap ikan yang kami lihat tidak akan kami beri belas kasihan, semuanya kami tangkap. iantara kami berdua Agung adalah yang paling banyak mendapat ikan meskipun hanya dengan saringan yang separuhnya sudah b#l#ng. engan perlahan dia mengayunkan saringan bersamaan dengan tangan yang satunya dia mem#j#kkan ikan yang akan dia tangkap, bahkan pada tempat yang sulit dijangkau #leh tangan kami yang pendek seperti didalam g#r#ng$g#r#ng yang dijadikan jembatan ke0il sampai ke parit bagian dalam dengan sekitarnya yang berupa hutan dan tidak banyak dijangkau 0ahaya, bagi saya dia benar$benar b#0ah petualang sejati. 'eskipun ikan yang dia dapat lebih banyak dari yang saya dapat, Agung tidak
mengambil semuanya. ia hanya mengambil satu atau dua ikan untuk dipeliharanya di sebuah vas dari ka0a jika itu ikan hias dan akan dimasukkan ke sumur belakang rumahnya apabila itu ikan &abus atau 8ele, katanya untuk memakan jentik nyamuk. Karena dia tidak punya k#lam jadi beberapa dia berikan ke saya untuk dipelihara atau bisa juga sebagai makanan bagi ikan$ikan besar
dik#lam. 9ika k#lam penuh dan tidak bisa menampung ikan lagi, saya dengan adik perempuan sa ya -arras akan menangkap ikan$ikan ke0il yang ada lalu dibungkus dengan plastik es untuk dijual ke anak$anak tetangga, kami menjualnya sepasang seharga *p.("","": dan uangnya kami gunakan untuk membeli jajanan di warung milik Agung.
Selain pandai menangkap ikan Agung juga pandai memanjat. Kebetulan dihalaman rumah saya ada p#h#n ;eri dan 9ambu Air yang batangnya besar dan tinggi. Karena saya pada waktu S lemah di #lahraga sehingga kemampuan %isik saya tidak terlalu bisa diharapkan. Akibatnya pada saat kedua p#h#n tersebut mulai berbuah, saya hanya mengandalkan sebatang kayu bekas dari pagar yang di ujungnya ditambahkan b#t#l bekas air mineral yang di belah dua lalu diikatkan pada ujung kayu sebagai pengambil buah. Karena kayunya berat, genggaman saya jadi lemah dan tidak terk#ntr#l dan sering mengenai buah walaupun ada yang masuk ke dalam b#t#l namun tidak sedikit buah yang terpukul batang kayu dan alhasil jatuh ke tanah dan akhirnya rusak tidak bisa dimakan. Tapi jika ada Agung, dia bersedia memanjat p#h#n yang tingginya hampir 1" meter itu. engan berm#dalkan sebungkus plastik ukuran jumb# dia memetik satu persatu buah dengan hati$hati dan jika lelah dia akan memakan beberapa buah di atas p#h#n saat itu juga. Saat panen p#h#n 9ambu Air di halaman kami bahkan bisa menghasilkan buah 9ambu Air sebanyak dua karung beras dan itu terjadi tiga kali setahun. Semua buah tersebut #leh )bu saya dibagikan ke tetangga dan sisanya setengah karung kami jadikan *ujak untuk di makan bersama keluarga saya.
Anak$anak tetangga di sekitar rumah saya juga punya kebiasaan bermain permainan$ permainan tradisi#nal seperti petak umpet, karet, &undu, dan masih banyak lagi. Setiap s#re hari di sebuah lapangan seukuran lapangan tenis yang terletak di tengah pemukiman atau lebih tepatnya di halaman rumah Agung, saya bersama dua saudari saya bermain dengan anak$anak tetangga yang lain untuk menghabiskan waktu s#re. an kalau hari hujan kami bersama$sama n#nt#n T< bareng di rumah Agung karena 0uma dirumahnya yang ada T< !1 in0h. Kami sering kali men#nt#n %ilm kartun seperti Tom and Jerry, Mickey Mouse, Donal Duck, dan lain$lain, juga sering kali kami men#nt#n %ilm drama india jikalau tidak ada kartun. Namun, semua h#bi tersebut saya kurangi semenjak duduk di kelas ( S. Semangat untuk bersenang$senang dengan teman yang lain mulai hilang dan berganti dengan tekad untuk menjadi juara. Penyebabnya mungkin karena saya sudah mulai berkeinginan untuk menjadi se#rang p#lisi sehingga saya ber%ikir untuk mewujudkannya saya harus menjadi lebih baik dari yang lain, atau lebih tepatnya karena pengaruh televisi.
Sampai kelulusan, saya masih memegang predikat juara umum di S saya. 8agi$lagi a0ara kelulusan saya diadakan di gedung serbaguna tepat disebelah S saya. al yang menariknya, wartawan sampai datang untuk meliput a0ara tersebut untuk di 0antumkan pada k#ran es#k harinya. Karena m#men utamanya adalah penganugerahan piagam bagi tiga juara utama, perasaan bangga pun tidak hanya hadir di diri saya tetapi juga pada #rang tua serta keluarga saya. Namun,
sampai sekarang saya sampai tak habis %ikir apa pentingnya wartawan itu meliput a0ara kelulusan anak S. Usaha saya terus berlanjut ke %ase selanjutnya, yaitu memasuki Sek#lah 'enengah Pertama. Saya yang pada waktu sedang merasa bahagia karena telah menjadi salah satu siswa terbaik di S, juga merasa kehilangan sesuatu. Setelah pembagian rap#rt dan ija=ah S, saya telah resmi untuk bisa mengikuti ujian masuk S'P. an S'P yang menjadi sek#lah saya selanjutnya adalah S'P N !> Palembang.
Alasan mengapa saya masuk S'P tersebut karena sek#lah itu merupakan salah satu ray#n dari S saya. ?ang artinya setiap siswa yang lulus dari S N (2 Palembang akan lebih diarahkan untuk masuk ke S'P N !> Palembang. Awalnya saya tidak keberatan dan bahkan merasa senang karena saya tidak perlu rep#t$rep#t mengurus berkas apabila saya masuk ke S'P lain. an bukan hanya itu, S'P itu juga bisa dibilang adalah S'P %av#rit bagi anak$anak di wilayah sekitar Perumnas termasuk anak tetangga sekitar rumah saya, yang pastinya S'P itu menjadi sek#lah yang membuat diri saya bisa menggambarkan dengan jelas k#ndisi masyarakat di sekitar rumah saya, terutama dari 0ara bergaul. Sek#lah itu adalah S'P terluas di Palembang pada waktu itu, saking luasnya S'P itu bahkan bisa punya 3 lapangan #lahraga sekaligus yaitu lapangan untuk v#li, basket, sepak b#la, dan bulu tangkis, yang semuanya terletak di tengah sek#lah. itambah lagi karena 7; di S'P itu 0uma satu dan letaknya di ujung sek#lah, sedangkan kantin sek#lah berada pada sisi yang berlawanan dengan 7; di ujung sek#lah. Sehingga pada waktu istirahat para
siswa akan ber%ikir dua kali untuk pergi kedua tempat tersebut.
Pada saat S'P saya mengira itu adalah awal bagi saya untuk bisa melanjutkan prestasi saya. Namun sepertinya apa yang saya harapkan tidak berjalan dengan mulus, entah mengapa semangat saya untuk belajar berangsur menghilang dan itu adalah masa sek#lah yang paling tidak ingin saya ulangi apabila bisa. al tersebut karena pada saat S'P saya harus bertemu dengan pergaulan yang memaksa saya untuk mengenal dunia bebas. Kalau hanya mendengar kata tersebut saja mungkin tidak banyak yang menjadi masalah dengan pergaulan seperti itu. Tapi pada kenyataannya yang saya temui setiap harinya adalah banyak siswa yang senang melakukan penindasan, ke0urangan, mementingkan kepentingan kel#mp#k pribadi saja, dan seperti ada kasta di dalam sek#lah itu. Sehingga saya memilih untuk ber%ikir dua kali dalam memilih siapa yang akan menjadi teman saya. Semua itu saya lalui setiap kalu memasuki semester dan kelas baru disana, dan akibatnya nilai saya jadi turun karena minat saya untuk sek#lah di sana saja sudah hilang. Sampau kelulusan tiba saya berubah menjadi anak yang pemalas dan punya h#bi baru, yaitu seni.
Saat S'A juga tidak jauh beda dengan saat S'P, saya jadi lebih tertarik dengan dunia seni. +ahkan sehari$hari di kelas saat yang lain sibuk menyimak pelajaran dari guru, saya sibuk dengan pena saya menggambari mulai dari kertas sampai ke tangan saya sendiri dengan gambaran yang menurut saya bagus, walaupun sebenarnya bentuknya pun tidak jelas. Tidak hanya itu, dirumah pun saya jarang sekali menyentuh buku pelajaran. Setiap pulang sek#lah saya selalu memba0a Tabulature gitar dari beberapa lagu akustik dan mempelajarinya sampai lan0ar memainkannya dengan gitar yang dibelikan #leh +apak saya pada waktu S'P. +ahkan sempat lupa waktu tidur hanya untuk mempelajari Tabulature dari sebuah lagu saja yang padahal masih ada banyak P* dari guru yang akan dikumpul es#k harinya. Akibatnya tentu saja bangun kesiangan, telat datang ke sek#lah, kena hukuman, dan yang awalnya berniat men0#ntek P* teman tapi karena tidak sempat, jadi dihukum tidak b#leh masuk pelajaran yang bersangkutan. 7alaupun sebenarnya ada niat untuk berubah dan mengembalikan semangat pada waktu S dahulu, tetapi setelah sejauh itu semuanya terasa sulit untuk dirubah karena sudah menjadi kebiasaan baru. Parahnya bahkan membuat saya melupakan impian masa ke0il saya termasuk yang ingin menjadi jendral p#lisi itu.
7alaupun selama saya duduk di bangku S'A saya selalu menyepelekan yang namanya pelajaran sek#lah. Ada sisi p#siti% dari kebiasaan baru saya itu, yaitu saya jadi mulai akti% di bidang
#rganisasi terutama di dalam sek#lah. +eberapa #rganisasi yang saya ikuti ada @ yang utama, yaitu PKS, rum +and, dan S)S. i PKS atau P#lisi Kemanan Sek#lah saya menjabat hanya sebagai angg#ta, saya pribadi tidak pernah berniat apalagi mengajukan diri menjadi bagian dari #rganisasi tersebut tetapi malah di ajak #leh salah satu sahabat saya yang bernama ?udhistrawan. 'emang pada waktu itu sedang maraknya diadakan l#mba PKS antar S'A se$Sumatera dan kebetulan PKS di S'A kami kekurangan angg#ta. PKS sendiri adalah salah satu #rganisasi di dalam sek#lah yang tugasnya adalah sebagai penjaga keamanan di sek#lah, beberapa skill yang sering diperl#mbakan di dalam PKS adalah senam t#ngkat, gerakan rambu lalu lintas, dan teatrikal Tempat Kejadian Perkara yang diperankan menjadi sebuah kejadian yang semuanya harus kami kuasai. Saya dan teman$teman saya termasuk ?udhistrawan memilih jadwal rutin latihan kami pada hari 'inggu pagi sampai dengan selesai yang isinya adalah latihan kek#mpakan dalam ke$@ skill tersebut dan jika sedang b#san kami sering iseng dengan ikut bergabung dengan latihan anak$anak Paskibra
yang kebetulan jadwal latihannya sama.
+erbi0ara s#al Paskibra, saya waktu itu juga pernah mengikuti seleksi Paskibraka tingkat Pr#vinsi yang diadakan di ;hadika. Kata teman saya, Paskibraka adalah jalan 0epat apabila ingin masuk kep#lisian, karena serti%ikatnya. Saya pun jadi tertarik untuk men0#ba, dari S'A saya sendiri mengirimkan 1" wanita dan pria termasuk saya. Tes yang dilalui dimulai dari tes tertulis, kesehatan 1, kesehatan !, gerak jalan, dan terakhir penyesuaian. Tahap awalnya kami lalui dengan baik. Namun satu persatu teman kami gugur di tahap Kesehatan1 dan menyisakan kami bertiga
yaitu Nurdiawan, N#va, dan saya. Kami bertiga bertahan sampai tahap akhir. Tapi sayang, tahap itu juga adalah tahap terakhir bagi saya. Karena pada waktu penyesuaian entah mengapa saya yang pada tahap sebelumnya berada di peringkat ke$3, tiba$tiba menjadi 0adangan pertama pada tahap tersebut. al tersebut lantas menimbulkan banyak pertanyaan di hati saya, tapi apa b#leh buat meskipun saya pr#tes hasil tetap tidak akan berubah karena keputusan panitia tidak berpihak pada siapapun. 'eskipun itu adalah tahun terakhir saya untuk bisa mengikuti Paskibraka lantas tidak membuat saya patah semangat. Tapi justru membuat saya menjadi sedikit lebih bersemangat untuk menjadi yang p#lisi lagi walaupun bukan melalui jalur Paskibraka. Karena kejadian itu saya jadi sadar kalau hidup tidak selalu berjalan mulus dengan kehendak kita. Saya pun mulai term#tivasi untuk mengejar nilai saya yang tertinggal pada semester$semester sebelumnya. an alhasil, hanya dalam waktu dua semester saya terus men0#ba kembali memba0a perlajaran yang pernah tertinggal, saya yang sebelumnya mendapat peringkat !3 di kelas ! S'A, meningkat menjadi peringkat di kelas @ S'A. 'eskipun belum memenuhi keinginan saya tapi saya sudah merasa puas karena itu adalah hasil kerja keras dan kesungguhan saya.
Kembali lagi ke PKS, PKS sering kali bekerja sama dengan p#lisi apabila ada a0ara besar seperti *a=ia Ketupat, disanalah kami diutus turun ke jalan untuk membantu p#lisi, dan itu tidak dilakukan se0ara 0uma$0uma karena sekali turun ke jalan, pertama kami dibiayai #leh sek#lah kami untuk biaya makan dan transp#rtasi, dan sering kali juga kami diberi 1" sampai (" ribu untuk uang saku #leh p#lisi sebagai tanda terima kasih, lumayan buat tambahan isi tabungan. an tidak hanya itu di PKS juga saya pernah men#rehkan banyak prestasi dalam berbagai perl#mbaan yang diadakan di sek#lah$sek#lah di palembang, dan salah satu yang paling berkesan dan terbaik diantara prestasi PKS kami yang lain yaitu kami mendapatkan peringkat ke$! se$Sumatera Selatan dalam bidang senam t#ngkat. Sebenarnya harapan kami adalah menjadi peringkat pertama, karena itulah bahkan selama sebulan sebelum perl#mbaan yang diadakan di P#lresta 9akabaring tersebut kami telah berlatih dengan keras. Selain waktu rutin latihan, di setiap waktu istirahat kami menyempatkan untuk latihan didalam gedung serbaguna di S'A kami dan juga saat usai jadwal sek#lah kami pun menyempatkan selalu berlatih mengasah kek#mpakan kami sampai larut malam. namun ternyata, hasil yang juri berikan adalah peringkat dua, padahal jika kami berhasil mendapat peringkat pertama kami akan dibiayai untuk berangkat ke 9akarta tepatnya untuk menampilkan
rganisasi saya selanjutnya adalah rum +and K#dim 31. )ni adalah salah satu #rganisasi yang sangat saya senangi, karena ini murni dibidang seni. rganisasi ini bukanlah bagian dari ekskul di S'A saya. Awalnya karena ada ajakan dari K#dim 31 yang berupa surat dan dis#sialisasikan ke setiap kelas #leh bagian Kesiswaan di S'A untuk mengirimkan 1" pria dan 1" wanita yang berp#stur tinggi dan tegap. Saya pertamanya tidak tertarik tapi #leh ajakan teman satu tim PKS saya yang lumayan banyak ikut, saya jadi tertarik juga. +ukan hanya dari S'A kami saja yang ikut dalam rum band ini, tetapiari berbagai siswa dari berbagai S'A di palembang juga ikut serta dan mereka pun rata$rata sama seperti kami, 0#ba$0#ba. Saya, ?udhis, dan Angga adalah angg#ta PKS yang ikut dan setelah beberapa kali latihan kami benar$benar menyadari bahwa #rganisasi ini menutut ketekunan, kesabaran, dan kesadaran dari diri untuk memiliki jiwa bermain alat musik mar0hing band. Tantangannya bukan hanya itu, kami yang rata$rata awalnya tidak punya pengalaman sama sekali dengan drum, tiba$tiba harus bermain drum dan harus selaras
dengan alat musik lain. Pilihan alat musik drum yang ada yaitu Ten#r dan +ass. Saya dan Angga mendapat bagian Ten#r, sedangkan ?udhis di bagian +ass. 9adwal latihan rutinnya adalah hari selasa s#re, kamis s#re, dan minggu pagi.
i @ bulan pertama kami masih latihan di K#dim 31, selama itu kami selalu dilatih #leh dua #rang pelatih yang akrab kami panggil Kak *idh# dan Kak +udi. Setelah 3 bulan berlalu, permainan kami mulai terlihat bagus dan rapi. isaat itulah Kak *idh# mulai mengajak kami untuk
melakukan parade. Tapi bukan sekedar parade biasa, karena kami harus melalui medan sejauh km dengan berjalan kaki dan sambil memainkan alat musik kami masing$masing serta hanya satu kali berhenti untuk istirahat. Tidak hanya itu langkah kami pun wajib sama semua, sehingga kami benar$benar harus ekstra sabar. )tu adalah pengalaman pertama sekaligus yang paling menguras
tenaga karena berat Ten#r yang saya bawa adalah ( kg dan itu hanya tergantung #leh selembar tali selempang yang dililitkan sekali dengan p#sisi yang berlawanan dari Ten#r. +ila dibayangkan adalah seperti membawa karung beras yang diikatkan ke badan lalu berjalan sambil memukilinya. Saya tidak bisa bayangkan bagaimana dengan yang membawa +ass yang beratnya men0apai 1 kg. Sejak saat itu kami mulai diajak #leh Kak *idh# untk tampil di a0ara$a0ara besar seperti peresmian salah satunya adalah di peresmian stadiun baru di daerah km 1!.
rganisasi saya yang terakhir adalah S)S, S)S atau rganisasi Siswa )ntra Sek#lah adalah pusat dari seluruh #rganisasi yang ada di S'A pada waktu itu karena setiap #rganisasi yang akan mengikuti l#mba, mengadakan l#mba ataupun mengadakan kegiatan di sek#lah harus memberi lap#ran kepada pihak S)S yang selanjutnya akan di ajukan ke bagian Kesiswaan sek#lah untuk diberi ijin dan bantuan untuk melakukan kegiatan tersebut. Untuk bisa menjadi bagian dari S)S, saya haruh melewati beberapa tahap yang biasa disebut Pendadaran, setelah melewati beberapa tahap yang 0ukup melelahkan seperti disuruh berdiri menghadap matahari di siang hari sambil h#rmat selama @ jam sampai dengan perang air, saya akhirnya diterima. Saya adalah angg#ta S)S di sekbid +ela Negara entah mengapa pada waktu itu saya dimasukkan ke dalam sekbid tersebut, tapi yang jelas si ketua S)S pada waktu itu saudara *idwan -abi# menganggap saya adalah #rang yang tepat dalam sekbid tersebut karena pertimbangannya terhadap #rganisasi seperti PKS yang sekaligus Paskibra yang saya ikuti. +anyak sekali pengalaman yang saya per#leh dari S)S salah satunya adalah kami semua angg#ta S)S pernah melakukan penggalangan dana yang pada waktu itu di tujukan untuk k#rban &empa di Padang, 8alu a0ara terbesar S)S yaitu Pensi atau Pentas Seni yang merupakan sebuah k#nser besar$besaran yang diadakan di dalam sek#lah dan menghadirkan banyak para seniman &ra%itti dan +and$band l#kal k#ta Palembang. Tantangannya adalah pada waktu itu banyaknya #rang yang datang untuk men#nt#n sangat sulit untuk di k#ntr#l karena k#nser pada waktu itu dilaksanakan di sek#lah, khawatirnya terjadi hal$hal yang di luar dugaan kami seperti timbulnya tawuran sampai dengan masuknya senjata tajam dan #bat$#batan terlarang. +ahkan kami pun sempat meinta bantuan preman di sekitar untk turut membantu mengamankan karena datangnya para anak berandalan
yang ingin masuk tetapi tidak mau membeli tiket.
Sebenarnya S)S ini bukanlah #rganisasi yang saya senangi, karena setiap hari kerjanya hanya rapat, dan itu sangat mengganggu kegiatan belajar saya di kelas karena banyak rapat yang
dilakukan mendadak dan bahkan sampai diberi hukuman. Karena hal itulah tidak sedikit angg#ta S)S perlahan$lahan banyak yang mulai menghilang, tidak akti% dalam pertemuan bahkan sampai mengundurkan diri tetapi jika ada a0ara besar dia menampakkan diri se0ara tiba$tiba. Saya sendiri termasuk ke dalam g#l#ngan yang ada pada setiap rapat yang benar$benar penting saja. Selain ketiga #rganisasi tersebut, saya juga sering ikut serta dalam rganisasi Teater yang pada waktu itu sedang sibuk$sibuknya mengadakan pentas tunggal mereka. 7alaupun 0uma sekedar membantu dan dibayar (" ribu untuk ! hari kerja, tapi saya melakukannya bahkan sampai saya menginjak bangku kuliah, yah, hitung hitung pengalaman dan menambah pengasilan sedikit. Saya di ajak
untuk membantu Teater karena pada waktu itu saya terkenal dengan permainan gitar akustik saya yang jarang bisa dimainkan #leh siswa lain ditambah dengan jiwa seni saya yang menurut mereka tinggi dan sangat 0#0#k apabila di0urahkan ke Teater. 9adi dengan kata lain, semua kebiasaan baru yang menurut saya mengganggu dan membuat saya menjadi malas di kelas, punya sisi p#siti% bagi #rang lain.
i S'A saya, ada peraturan kalau setiap siswa mulai masuk kel as @ harus tidak b#leh akti% lagi dan segera berhenti dari rganisasinya. Karena sek#lah mewajibkan semua siswa kelas @ untuk %#kus dalam mengahadapi UAS. an menurut s aya itu sangat mendukung ren0ana saya yang ingin berubah dan memperbaiki nilai. an tidak hanya itu sek#lah pun mendukung dengan memberikan 8es khusus untuk semua siswa kelas @ agar bisa menjawab s#al$s#al pada UAS nantinya. 9adwalnya pun tidak tanggung$tanggung, dilaksanakan pada pukul 2 pagi selama 1 jam lalu setelahnya kembali masuk ke materi sek#lah yang seharusnya. an iyu sangat menyiksa saya yang pada waktu itu sangat malas bangun pagi. Tapi saya tetap berusaha melaluinya hingga pada akhirnya semua itu berbuah manis, saya berhasil melalui UAS dan UAN dengan 0ukup lan0ar dan lulus dengan nilai yang di atas rata$rata.
Setelah lulus, itulah awal yang paling menegangkan dalam hidup saya. Karena saya hanya punya waktu @ bulan untuk mempersiapkan ilmu dan %isik untuk menghadapi tes penerimaan Akademi Kep#lisian atau biasa disingkat Akp#l. 'ulai dari mengikuti les sampai dengan segala jenis #lahraga saya lakukan mulai dari lari marath#n tiap pagi dan s#re hari sampai mengikuti latihan di tempat kebugaran atau %itness. Setelah mempersiapkan berkas dari mulai meminta 0ap dan tanda tangan atau legalisir surat$surat kelulusan dari sek#lah sampai meminta tanda tangan dari pihak berwenang setempat. Namun setelah berusaha dengan semaksimal mungkin, hasilnya tetap menge0ewakan. +elum sampai di tahap kedua, saya sudah gagal di tahap pertama. an sebab yang paling tidak masuk akal yang saya tidak akan pernah terima adalah karena penglihatan saya yang
kata mereka berbeda jarak %#kusnya, atau biasa disebut 9uling. Padahal tiga hari sebelum tes, saya sudah 0ek di rumah sakit dan terbukti hasilnya baik$baik saja. Saya sendiri tidak tahu bagaimana 0ara mereka mengukur tingkat ke$9ulingan sese#rang. Tapi kenyataan memang harus tetap di terima, mungkin ini bukan waktu yang tepat.
Akhirnya saya yang pada waktu itu sedang patah semangat diberi m#tivasi #leh kedua #rang tua saya. 'ereka menyakinkan saya kalau perjalanan hidup saya tidak b#leh hanya sampai di situ. Tahun depan masih ada pembukaan Akp#l. 'ereka menyarankan saya untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Saya yang pada waktu itu sedang kehilangan arah dan tujuan, sempat tidak peduli mau masuk perguruan tinggi mana dan jurusan apa. Sedangkan teman$teman saya banyak yang membanggakan diri bahwa mereka telah di terima di perguruan tinggi yang dipilihnya bahkan sampai memamerkannya ke situs jejaring s#sial, dan saat itu mereka sedang sibuk berduyun$duyun mempersiapkan bekal untuk masuk ke dunia Perkuliahan. Tetapi karena tidak ada pilihan lain. rang tua saya menyarankan masuk ke jurusan Teknik Kimia, dan karena jalus ujian masuk yang pertama yaitu SN'PTN sudah selesai, jadi saya mengikuti jalur yang kedua yaitu US' atau Ujian Saringan 'asuk dari Universitas Sriwijaya Kampus Palembang +ukit +esar. alam tes ujian masuknya saya tidak terlalu menemui kendala. Saya hanya mengisi yang menurut saya bisa saja dan bahkan kalau diingat lagi lebih banyak ngasalnya dibanding benarnya, disamping karena saya juga tidak terlalu serius ingin masuk ke sana. Tapi sepertinya tuhan berkehendak lain, meskipun saya tidak terlalu %#kus dalam mengisi s#al$sa#l ujian pada waktu itu, entah mengapa saat pengumuman nama saya ter0antum sebagai mahasiswa Teknik Kimia !"1!
Universitas Sriwijaya Kampus Palembang dan sampai sekarang sedang menuntut ilmu di di salah satu kelasnya.
Setelah mengetahui saya diterima, saya mengikuti SP6K yang diadakan di kampus Unsri +ukit dan )ndralaya. i hari pertama kuliah semuanya benar$benar berbeda dengan pada waktu S'A, mulai dari pakaian sampai dengan 0ara belajarnya. Sebenarnya ada satu alasan pribadi mengapa saya setiap kali mengikuti kegiatan belajar yang baru selalu merasa tidak bersemangat adalah karena sejak TK sampai dengan Kuliah, Saya selalu berada di tempat yang sama dengan saudari tertua saya Atikarida. 'ungkin menurut sebagian #rang itu adalah sebuah peluang dan rejeki karena kami dapat belajar bersama. Tapi kenyataannya berbeda, menurut saya itu adalah sebuah pintu jeruji baru yang terus memindahkan saya dari sel ke0il ke sel besar setiap kali dia masuk ke tempat menuntut ilmu yang sama dengan saya. Setiap harinya saya selalu dihantui #leh perasaan akan berkurangnya kebebasan saya dalam berekspresi dalam hidup. Tapi seiring berjalannya waktu dan mendewasanya diri masalah tersebut bukanlah menjadi pers#alan yang besar hingga sekarang.
'engenai kuliah, dikuliah pun saya tetap men0#ba tetap akti% di bidang rganisasi. Seperti +6', dan mendedikasikan diri dengan mengikuti sebuah rganisasi yang membuat majalah seputar Teknik Kimia sebagai )lustrat#r. Tujuannya adalah untuk selain memperdalam ilmu dan pengalaman juga sekaligus untuk mengembalikan semangat saya dan menemukan 0ita$ 0ita baru dengan melihat kehidupan dari #rang$#rang yang sangat hebat dan berpengalaman di sini. Karena kehidupan kuliah inilah saya mulai menyadari pentingnya untuk menikmati hidup dan membuatnya berarti bagi kehidupan banyak #rang.
Sepuluh tahun kedepan saya beren0ana untuk bisa memiliki kehidupan yang saya inginkan dan lebih dari layak, dimana saya akan tinggal dengan se#rang )stri saya serta anak$anak saya di sebuah rumah berlantai tiga dengan sebuah k#lam berenang di halaman belakangnya, di daerah pegunungan yang masih hijau tepatnya daerah Pagaralam. Semua itu alan saya awali dengan kuliah
sembari membuat usaha sendiri, karena saya pribadi h#bi melukis jadi pertama saya ingin sekali bisa membuka &aleri lukisan saya di pusat k#ta Palembang. 9adi sayapada semester ( nanti akan
mulai membuka bisnis melukis, dimana sistemnya adalah terima pesanan sembari mengasah kemampuan melukis saya. 8alu setelah merasa sudah 0ukup matang, saya akan membuka kursus menggambar yang akan saya l#kasikan di rumah #rang tua saya yang sekarang yaitu di daerah Perumnas dengan target pelanggan awal adalah masyarakat sekitar rumah. Sembari membuka kursus saya juga punya ren0ana untuk membuat desain untuk pakaian yang pertamanya akan saya 0#ba pr#duksi dengan jumlah terbatas dan skala penjualan pertamanya akan saya tawarkan pada seleruh masyarakat Universitas Sriwijaya, dan jika hasil nya diterima dengan baik, selanjutnya akan saya ajukan desain saya ke beberapa peran0ang untuk dipr#duksi dengan skala yang lebih luas. an usaha ini akan terus saya lakukan sampai saya memiliki k#munitas atau perusahaan desain yang diakui.
8alu setelah itu ter0apai akan saya lanjutkan dengan target mendapatkan beasiswa kuliah dari Pertamina, lalu lulus kuliah pada Agustus !"12 dengan target )PK @.(!. Setelah tamat saya akan bekerja di Pertamina dan saya targetkan selama lebih kurang 1( tahun saya akan men0apai p#sisi &eneral 'anager di +agian Peng#lahan 'inyak 'entah Pertamina Sungai &er#ng, ditambah sembari bekerja mengerjar target tersebut sa ya akan mengumpulkan m#dal dan membuka usaha kedua saya yaitu bisnis perkebunan k#pi di 8ampung dari tanah warisan rang tua saya, lalu setelah berkembang akan saya perluas arealnya dan membuka perkebunan karet dan sawit di daerah Padang. an Ketiga, setelah p#ndasi bisnis saya sudah 0ukup kuat, saya akan menghimpun teman, sahabat, dan kenalan untuk bersama$sama mendirikan pabrik Ka0a super kuat dan anti pe0ah yang saya ren0anakan akan dirikan di daerah Samarinda dengan nama PT. Superglass. 8alu setelah perusahaan itu berdiri dan mulai mempunyai k#nsumen serta sudah layak untuk mempr#duksi. Saya akan pensiun dini dari Pertamina dan mulai akan mengembangkan ke$@ usaha saya tersebut dengan menargetkan pangsa pasarnya sampai ke dunia )nternasi#nal. emikianlah Pr#p#sal hidup dari saya.