27
untuk Meningkatkan Kecepatan Pelayanan, Mempermudah
Pendataan dan Pengambilan Keputusan Status Kesehatan
di Posyandu
Onny Priskila dan Arief WibowoDepartemen Biostatistika dan Kependudukan FKM UNAIR Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
Alamat korespondensi: Onny Priskila
E-mail: [email protected]
Departemen Biostatistika dan Kependudukan FKM UNAIR Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga
Kampus C Unair Mulyorejo Surabaya 60115
ABSTRACT
Monitoring the child's growth and development can be done in many ways, one of them is to look at changes in body weight (BW). Changing in body weight (BW) is one of the indicators that is assumed providing suffi cient result to monitor the development of the child. One way to monitored body weight (BW) of the child is to look at Kartu Menuju Sehat (KMS). Data collection conducted in posyandu each month which were using KMS Sehat manual. Research done by developing a program of "Kartu Menuju Sehat Electronic (E-KMS)", then conducted trials to the respondents. Respondents were mothers and mothers cadre mothers with toddlers in the posyandu cemara III, Jl. Ngagel Tirto III. The research was conducted using descriptive. Interviews were conducted to study the response of the respondents regarding E-KMS. In E-KMS there are 4 forms created, select the form, male, female, and a report form. 100% of respondents stated that cadre E-KMS was easy to use, it could also increase the speed of service at the neighborhood health center, facilitate the process of data collection in posyandu infants and toddlers, and be used to make decisions about the health status of children. At 85% of respondents, toddler caregivers prefered E-KMS and 15% prefered KMS manual. Respondents said that E-KMS is better than manual KMS and preferable to KMS manual. E-KMS needed to be equipped with charts and if possible, using other indicators. Keywords: E-KMS, speed of service in posyandu, body weight
ABSTRAK
Memantau tumbuh kembang anak dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya adalah dengan melihat perubahan berat badan (BB). Perubahan berat badan (BB) merupakan salah satu indikator yang dapat dikatakan cukup sensitif untuk memantau tumbuh kembang anak. Salah satu cara untuk memantau kenaikan berat badan (BB) anak adalah dengan melihat Kartu Menuju Sehat (KMS). Pendataan yang dilakukan di posyandu setiap bulannya menggunakan KMS bersifat manual. Penelitian dilakukan dengan mengembangkan sebuah program berupa Kartu Menuju Sehat (KMS) Elektronika, kemudian dilakukan uji coba kepada responden. Responden merupakan ibu kader dan ibu yang mempunyai balita yang ada di posyandu cemara III di Jl. Ngagel Tirto III. Penelitian dilakukan dengan metode deskriptif. Wawancara dilakukan untuk mengetahui respons responden mengenai E-KMS. Pada E-KMS ada 4 form yang dibuat yaitu, form pilih, laki-laki, perempuan, dan form laporan. 100% responden kader berpendapat bahwa E-KMS mudah digunakan, dapat meningkatkan kecepatan pelayanan di posyandu, mempermudah proses pendataan bayi dan balita di posyandu, dan dapat digunakan untuk mengambil keputusan tentang status kesehatan balita. Pada responden pengasuh balita 85% lebih menyukai E-KMS dan 15% lebih menyukai KMS manual. Kesimpulan yang dapat ditarik responden berpendapat bahwa E-KMS lebih baik dari KMS manual dan lebih disukai dibanding KMS manual. E-KMS perlu dilengkapi dengan grafi k dan jika memungkinkan menggunakan indikator yang lain.
PENDAHULUAN
Kesehatan merupakan hal yang penting bagi setiap manusia. Banyak cara yang dilakukan untuk memantau kesehatan orang di sekitar kita. Salah satu cara untuk memantau kesehatan anak-anak adalah dengan melihat tumbuh kembangnya. Jika tumbuh kembangnya baik maka dapat dikatakan anak tersebut dalam kondisi sehat. Memantau tumbuh kembang anak dapat dilakukan dengan banyak cara, salah satunya adalah dengan melihat perubahan berat badan. Perubahan berat badan merupakan salah satu indikator yang dapat dikatakan cukup sensitif untuk memantau pertumbuhan anak. (Kemenkes, 2010)
Salah satu cara untuk memantau kenaikan berat badan anak adalah dengan melihat Kartu Menuju Sehat (KMS), merupakan kartu yang memuat kurva pertumbuhan normal anak berdasarkan indeks antropometri berat badan menurut umur (Kemenkes, 2010).
Pada saat ini sudah era modernisasi, namun pendataan yang dilakukan di posyandu setiap bulannya bersifat manual. Melihat peluang itu peneliti ingin mengembangkan sebuah aplikasi yang dapat digunakan untuk kegiatan pendataan status gizi anak di posyandu. Program yang dikembangkan berupa “Kartu Menuju Sehat Elektronik”. Program yang dapat digunakan untuk mendukung terciptanya aplikasi Kartu Menuju Sehat Elektronik (E-KMS) adalah dengan menggunakan bahasa pemrograman visual basic dan bahasa pemrograman database my SQL access. Bahasa pemrograman visual basic mudah digunakan dan memiliki fitur-fitur yang baik untuk mengembangkan sebuah aplikasi (Juniar, 2010).
E-KMS merupakan aplikasi yang dapat digunakan untuk membantu pendataan bayi dan balita di posyandu. Penelitian ini bertujuan membuat aplikasi E-KMS dengan menggunakan bahasa pemrograman visual basic. Melakukan uji coba kepada ibu kader posyandu cemara III mengenai kemudahan menggunakan E-KMS, dapat meningkatkan kecepatan pelayanan di posyandu dan dapat mempermudah pendataan bayi dan balita yang datang ke posyandu. Mengetahui respons ibu yang datang ke posyandu mengenai E-KMS dibanding KMS manual.
METODE PENELITIAN
Pada penelitian ini digunakan metode deskriptif. Penelitian ini dibagi menjadi 2 tahap, pada tahap 1 yaitu mendiskripsikan pembuatan aplikasi Kartu Menuju Sehat dengan menggunakan bahasa pemrograman
visual basic. Pada tahap ke-2 ingin diperoleh
gambaran mengenai bagaimana E-KMS dapat diterapkan di posyandu dan melihat tanggapan ibu tentang adanya E-KMS. Subjek penelitian yang digunakan adalah seluruh ibu kader yang ada di Posyandu Cemara III yang berjumlah 5 orang dan seluruh ibu yang datang ke posyandu yang berjumlah 20 orang.
Pembuatan program E-KMS di mulai bulan Maret 2013–Mei 2013. Kemudian melakukan uji aplikasi coba kepada ibu kader di Posyandu Cemara III pada Bulan Juli 2013. Terakhir membagikan kuesioner kepada ibu kader dan peserta posyandu. Variabel yang diukur adalah adalah kemudahan dan kefektifan waktu penggunaan aplikasi dibandingkan KMS manual dan reaksi ibu yang datang ke posyandu tentang adanya E-KMS.
Cara pengukuran menggunakan kuisoner. Kuisoner diberikan kepada ibu kader dan ibu pengasuh balita. Pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara dengan menggunakan kuisoner. Pada tahapan analisis data dilakukan proses penyederhanaan data ke dalam bentuk yang mudah dipahami.
HASIL PENELITIAN
Desain Form Kartu Menuju Sehat Elektronik
Pada Desain form E-KMS dibagi dalam 5 bagian yaitu form database, form pilih KMS, form KMS laki-laki, form KMS perempuan dan form laporan.
Pada form database terdapat kolom database yang nantikan jika form E-KMS laki-laki dan perempuan diisi, maka data yang sudah diisikan
akan masuk ke dalam database sesuai dengan kolomnya masing-masing.
Pada desain form pilih KMS terdapat 2 tombol yaitu laki-laki dan perempuan. Tombol laki-laki berwarna biru digunakan untuk membuka form E-KMS laki-laki. Tombol perempuan berwarna merah muda digunakan untuk membuka form E-KMS perempuan.
Pada form E-KMS laki-laki dan perempuan terdapat kolom text box. Pada kolom tersebut diisikan sesuai dengan label yang ada di samping kiri. Terdapat 2 bagian yang harus diisikan yaitu biodata dan kunjungan. Di sebelah kanan terdapat tombol yang dapat digunakan untuk simpan, cetak, kembali dan laporan.
Pada form laporan terdapat kolom- kolom yang sama dengan database. Form ini akan terisi data yang sudah diketikkan pada form E-KMS laki-laki dan perempuan.
Hasil uji coba Kartu Menuju Sehat Elektronik
Uji coba E-KMS dilakukan kepada 2 kategori responden. Kategori 1 adalah ibu kader dan kategori 2 adalah ibu yang aktif datang ke posyandu. Kepada ibu kader selain dilakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner, dilakukan juga praktek singkat menggunakan E-KMS sedangkan kepada ibu selain kader hanya dilakukan wawancara menggunakan kuesioner tanpa disertai praktek. Tabel 1 menguraikan tentang karakteristik pendidikan ibu kader.
Diketahui distribusi kader berdasarkan pendidikan diketahui bahwa 2 orang (40%) ibu
kader berpendidikan S1, dan sisanya (60%) merupakan D3, SLTA dan SLTP.
Berdasarkan intensitas penggunaan komputer 2 orang (40%) kader sering menggunakan komputer, 1 orang (20%) kader kadang-kadang menggunakan komputer dan 2 orang (40%) sisanya tidak pernah menggunakan komputer. Berdasarkan 3 orang yang menggunakan komputer, aplikasi yang digunakan 2 orang hanya menggunakan untuk internet dan 1 orang menggunakan untuk internet dan MS. Offi ce.
Gambar 3. Desain E KMS perempuan
Gambar 4. Desain E KMS laki-laki Gambar 2. Desain form pilih KMS
Berdasarkan penggunaan komputer untuk input data 3 orang (60%) pernah menggunakan komputer untuk input data sedangkan 2 lainnya (40%) tidak.
Setelah dilakukan praktek singkat menggunakan E-KMS semua (100%) berpendapat bahwa E-KMS mudah digunakan, dapat meningkatkan kecepatan pelayanan di posyandu, mempermudah proses pendataan bayi dan balita, dan dapat digunakan untuk mengambil keputusan tentang status kesehatan balita. Jika E-KMS akan diterapkan di posyandu semua (100%) ibu kader menjawab bahwa E-KMS
akan mudah digunakan pada saat pelayanan di posyandu. Berdasarkan kecepatan pelayanan di posyandu dengan menggunakan E-KMS 4 kader (80%) berpendapat bahwa E-KMS dapat mempercepat pelayanan di posyandu dan 1 kader (20%) berpendapat tidak. Tabel 4 merupakan distribusi frekuensi usia ibu peserta posyandu yang akan diwawancarai terkait kenyamanan dengan fasilitas E-KMS.
Dari tabel 4 diperoleh hasil 10 orang ibu pengasuh balita berusia ≤ 30 tahun, 8 orang berusia 31–50 tahun dan 2 orang sisanya berusia ≥ 51 tahun.
Dari tabel 5 diketahui bahwa 17 responden lebih menyukai E-KMS dan 3 responden lebih menyukai KMS Manual.
PEMBAHASAN
Pembuatan form E-KMS
Pembuatan form E-KMS terdiri dari 4 form, yaitu form pilih, form laki-laki, form perempuan dan form laporan. Form pilih digunakan untuk memilih KMS mana yang akan digunakan, laki-laki atau perempuan. Jika tombol laki- laki ditekan maka form laki-laki akan terbuka. Begitu juga jika tombol perempuan ditekan maka form perempuan akan terbuka. Didalam form laki-laki dan perempuan terdapat tombol laporan, jika tombol laporan ditekan maka form laporan akan terbuka dan menampilkan laporan atau data yang sudah dimasukkan melalui form laki-laki dan perempuan. Ketelitian dibutuhkan pada saat membuat aplikasi E-KMS, khususnya pada saat koding. Pada saat pembuatan aplikasi coding harus dicek beberapa kali untuk memastikan bahwa coding yang diberikan dapat berjalan dengan baik. Coding merupakan kode atau perintah yang harus diberikan agar aplikasi berjalan sesuai dengan apa yang diinginkan pembuat aplikasi (Juniar, 2010).
Gambar 5. Desain form laporan E-KMS
Tabel 1. Distribusi frekuensi tingkat pendidikan ibu kader
Tingkat pendidikan Frekuensi % S1 D3 SLTA SLTP 2 1 1 1 40 20 20 20 Total 5 100
Tabel 2. Distribusi frekuensi intensitas penggunaan komputer oleh ibu kader Intensitas penggunaan komputer Frekuensi % Sering Sekali Sering Kadang-kadang Jarang Tidak Pernah 0 2 1 0 2 0 40 20 0 40 Total 5 100
Tabel 3. Distribusi frekuensi penggunaan komputer untuk input data
Penggunaan komputer
untuk input data Frekuensi % Ya Tidak 3 2 60 40 Total 5 100
Uji coba E-KMS pada kader dan ibu peserta posyandu
Pada uji coba E-KMS terlebih dahulu dijelaskan tentang pengertian, kegunaan dan cara menggunakan E-KMS, kemudian dilakukan praktek singkat menggunakan E-KMS dan terakhir dilakukan wawancara dengan menggunakan kuesioner. Setelah melakukan praktek singkat menggunakan E-KMS, semua responden berpendapat bahwa E-KMS mudah digunakan, dapat meningkatkan kecepatan pelayanan di posyandu dan dapat mempermudah pendataan bayi dan balita yang datang ke posyandu.
Faktor manusia akan memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan IPTEK, (Purnomo, 2009). Kendala yang dihadapi ibu kader adalah belum terbiasa menggunakan komputer untuk melakukan input atau pengolahan data menggunakan komputer, hal tersebut dapat dilihat dari intensitas penggunaan komputer, 2 responden sering menggunakan komputer, 1 responden kadang-kadang dan 2 responden tidak pernah menggunakan komputer. Dari 3 responden yang menggunakan komputer 2 responden menggunakan hanya untuk internet (facebook, twitter, browsing, dan lain-lain) dan 1 responden yang menggunakan komputer untuk internet dan MS. Offi ce seperti MS. Word, MS. Excel, P. Point, dan lain-lain. Selain dilihat dari intensitas penggunaan komputer intensitas penggunaan komputer untuk input data atau memasukkan
data juga berpengaruh dalam keberhasilan penggunaan E-KMS, sebagian besar responden kadang-kadang menggunakan komputer untuk input atau memasukkan data dan sisanya tidak pernah menggunakan komputer untuk input atau memasukkan data. Namun beberapa ibu kader berpendapat bahwa jika terus mempelajari dan berlatih menggunakan E-KMS mereka akan terbiasa menggunakannya.
Jika E-KMS akan diterapkan di posyandu sebagian besar responden setuju bahwa E-KMS dapat meningkatkan kecepatan pelayanan di posyandu. Jika nantinya E-KMS akan diterapkan maka perlu adanya pelatihan kepada ibu kader tentang penggunaan E-KMS dan penambahan perangkat komputer dan print untuk menunjang pelayanan di posyandu. Pelatihan Masyarakat Tahun Anggaran 2012 adalah secara umum bertujuan untuk meningkatkan fungsi dan kinerja Posyandu agar dapat memenuhi kebutuhan tumbuh kembang anak sejak dalam kandungan dan agar status gizi maupun derajat kesehatan ibu dan anak dapat dipertahankan serta ditingkatkan (Rifai, 2013)
Salah satu cara untuk mengevaluasi keberhasilan perangkat lunak adalah melalui persepsi penggunanya (Baroudi, 2005). Jika E-KMS akan diterapkan di posyandu, sebagian besar responden setuju dan berpendapat bahwa E-KMS dapat meningkatkan pelayanan di posyandu dan dapat mempermudah proses pendataan di posyandu. Jika dibandingkan dengan KMS manual sebagian besar responden lebih menyukai E-KMS dibanding KMS manual.
Evaluasi kepuasan pengguna akhir informasi dapat dijadikan sebagai tolok ukur keberhasilan sistem (Pearson, 2005). Hasil wawancara menunjukkan adanya tanggapan yang positif dengan adanya E-KMS. Sebagian besar berpendapat bahwa E-KMS lebih baik dibanding KMS manual dikarenakan dapat memperkecil peluang kesalahan perhitungan umur dan ibu kader langsung dapat melihat catatan imunisasi dan catatan pemberian vitamin A yang harus diberikan kepada bayi atau balita. Responden juga berpendapat bahwa E-KMS dirasa dapat membantu tugas ibu kader dalam melakukan pendataan bayi dan balita. Saran dari responden untuk E-KMS adalah masih perlu dilengkapi Tabel 4. Distribusi frekuensi usia ibu peserta
posyandu
Usia (tahun) Frekuensi %
≤ 30 31–50 ≥ 51 10 8 2 50 40 10 Total 20 100
Tabel 5. Distribusi frekuensi perbandingan respons E-KMS dengan KMS manual
Perbandingan E-KMS
dengan KMS Manual Frekuensi %
E-KMS KMS Manual 17 3 85 15 Total 20 100
dengan grafik pertumbuhan bayi atau balita. Pemahaman para ibu terhadap grafi k pertambahan berat badan ini penting agar ibu bisa melakukan tindakan sedini mungkin jika pertumbuhan anak yang tidak sesuai dengan usianya (Kuntari, 2009).
SIMPULAN DAN SARAN Kesimpulan
Pembuatan aplikasi E-KMS dengan menggunakan bahasa pemrograman visual basic telah dibuat dan kemudian dilakukan uji coba kepada ibu kader dan pengasuh balita. Semua responden ibu kader berpendapat bahwa E-KMS mudah digunakan, dapat meningkatkan kecepatan pelayan dan dapat mempermudah pendataan bayi dan balita yang datang ke posyandu. Namun jika E-KMS akan diterapkan di posyandu, ibu kader masih perlu membiasakan diri berlatih menggunakan Kartu Menuju Sehat Elektronik.
Dilihat dari respons ibu pengasuh balita yang datang ke posyandu semua responden lebih menyukai E-KMS dibanding KMS manual dikarenakan dapat memperkecil peluang kesalahan perhitungan umur dan ibu kader langsung dapat melihat catatan imunisasi dan catatan pemberian vitamin A yang harus diberikan kepada bayi atau balita.
Saran
Jika E-KMS akan diterapkan di posyandu maka setiap bulan kader harus mengetik biodata bayi dan balita. Hal ini kurang efektif karena tujuan E-KMS adalah meningkatkan kecepatan dalam proses pendataan bayi dan balita. Sehingga E-KMS ini perlu dibuat agar data balita yang sudah diketikkan pada awal kunjungan dapat dimunculkan kembali pada saat kunjungan berikutnya. Pada E-KMS ini digunakan indikator BB/U sama seperti Kartu Menuju Sehat
manual. Apabila memungkinkan pada E-KMS tidak hanya menggunakan 1 indikator untuk menentukan status balita yang diukur tetapi juga bisa dilengkapi dengan indikator yang lain. Perlu adanya pelatihan lebih mendalam dan ibu perlu membiasakan diri dalam menggunakan aplikasi E-KMS.
DAFTAR PUSTAKA
Baroudi, J.J. 2005. An Empirical Study of the
Impact of User Involvement on System Usage and Information Satisfaction. Communication
of ACM.
Juniar. 2010. Learning and Practising Visual
Basic + Microsoft Access. Klaten: PT Skripta
Media Creative.
Kemenkes. 2010. Peraturan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia tentang Penggunaan Kartu Menuju Sehat (KMS) bagi Balita.
Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia Direktorat Jenderal Bina Kesehatan Masyarakat.
Kuntari. Mengoptimalkan Fungsi KMS untuk
Mengurangi Gizi Buruk pada Balita.
http://medicine.uii.ac.id/index.php/Artikel/ m e n g o p t i m a l k a n f u n g s i k m s u n t u k -mengurangi-gizi-buruk-pada-balita.html. (sitasi 10 Agustus 2013)
Pearson. 2005. Sistem Informasi. Jakarta: Salemba.
Purnomo, S. 2009. Sistem Operasi. Jakarta: Andi.
Rifai. Pelatihan Kader Kesehatan dalam
Rangka Revitalisasi Posyandu Bersama PNPM Generasi Kecamatan Pagak–Malang untuk Mewujudkan Pencapaian Millenium Development Goals (MDGS) Tahun 2015.
http://pnpm-jatim.blogspot.com/2013/02/ pelatihan-kader-kesehatan-dalam-rangka. html. (sitasi 20 Agustus 2013)