PENDAHULUAN
Mahasiswa adalah peserta didik yang terdaftar dan belajar pada suatu perguruan tinggi (Paryati Sudarman, 2004: 32). Mahasiswa juga dapat diartikan sebagai orang yang belajar di perguruan tinggi, baik di Universitas ataupun Akademik, mereka yang terdaftar sebagai murid di Perguruan Tinggi (Afrida, 2013:15). Menurut Afrida (2013:15) mahasiswa pada umumnya dikategorikan dalam usia dewasa, namun tidak semua dari mereka cukup dewasa untuk memilah pengaruh gaya hidup dalam suatu lingkungan dalam tempat kampusnya. Perkembangan zaman juga menimbulkan pengaruh besar bagi gaya hidup mahasiswa pada saat sekarang. Hal ini disebabkan karena mahasiswa tersebut langsung terkena dampak dari perubahan zaman dari informasi dan teknologi. Kondisi seperti ini hampir semua lapisan dan generasi dalam masyarakat salah satunya mahasiswi, fenomena dari mahasiswa sekarang tercemin dalam berpakaian dan penampilan yang terkadang sangat berlebihan (Yumida, 2014: 1).
Menurut Faiqoh (2013: 19) Pakaian atau busana sangat berkaitan dengan mode, karena pakaian dan mode satu sama lain tidak dapat dipisahkan, berbagai macam cara di lakukan orang-orang untuk bisa menunjukkan jati dirinya masing-masing, baik dari segi pola hidup maupun cara berpakaian. Apalagi dizaman modern saat ini, begitu banyak mode pakaian sudah diciptakan orang, mulai yang sempit sampai yang sangat longgar, mulai dari bahan yang sangat sederhana sampai bahan yang sangat mahal. Terutama untuk kaum hawa ini dianggap hal yang sangat penting dizaman sekarang. Mulai dari mode yang terbuka menampakkan perhiasannya, lalu yang sangat sempit yang menonjolkan lekuk tubuhnya sampai kepada mode yang sangat tertutup.
Saat ini fashion semakin beragam dan menarik, apalagi dengan adanya trend fashion para perempuan Muslim yang menggunakan jilbab. Penggunaan hijab saat ini semakin bertambah dan bervariasi dengan tetap menggunakan pakaian Muslim yang menutupi seluruh tubuh. Jilbab berasal dari dalam
bahasa Arab kata jamaknya jalaabiib artinya pakaian yang lapang/luas. Defenisi jilbab adalah pakaian yang lapang dan dapat menutup aurat wanita, kecuali muka dan telapak tangan, jilbab yaitu pakaian lebar yang dipakai wanita untuk menutupi kepala, dada dan bagian belakang tubuh (Zami, 2014: 3).
Meski demikian, tidaklah sedikit muslimah zaman sekarang yang telah menyimpang dari aturan memakai jilbab sesuai dengan arti jilbab itu, karena mereka telah terkontaminasi oleh budaya baru. Mereka lebih bangga mengikuti trend zaman dalam berpakaian yang sebenarnya tidaklah sesuai dengan syariat Islam. Masalah berpakaian yang saat ini sedang marak terjadi diantara para muslimah Indonesia adalah gaya berbusana ala ‘Jilboobs’. Istilah Jilboobs muncul pada tahun 2014 yang berkembang didunia maya, dengan akun facebook bernama Jilboobs Community dengan deskripsi “Indahnya saling berbagi”, akun itu memuat sejumlah foto wanita yang mengenakan jilbab dengan pakaian ketat. ‘Jilboobs’ diadopsi dari gabungan kata jilbab (kerudung/penutup kepala) dan boobs (payudara). Maksudnya, jilbab yang mereka pakai tidak difungsikan sebagai penutup aurat, melainkan hanya sebagai pembungkus sebagian tubuhnya saja. Gaya berpakaian ini memang tidaklah sesuai, karena meski mereka memakai jilbab, namun mereka membiarkan bagian lekak-lekuk dadanya itu tetap terlihat dengan jelas (Pratomo: 2014/ republika.co.id).
Fenomena jilboobs juga menjadi perhatian serius Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), menyatakan bahwa jilbab dengan pakaian yang ketat atau tembus pandang tidak memenuhi standar kewajiban. Penggunaan jilboobs dipengaruhi oleh ragam busana masa kini yang kian modern, yang mampu membuat penggemar fashion tergiur untuk mengenakanya.
Gaya hidup didukung oleh perkembangan zaman dan teknologi, yang telah merubah budaya sebagian masyarakat terutama yang tinggal di perkotaan. Hal ini disebabkan karena mereka langsung terkena dampak dari informasi dan teknologi, kondisi ini melanda hampir semua lapisan dan generasi dalam masyarakat. Khususnya
mahasiswi STKIP PGRI Sumatera Barat, fenomena ini telah tercemin dalam cara berpakaian, berpenampilan yang terkadang terlihat berlebihan dalam memilih gaya untuk dirinya sendiri. Pakaian merupakan kebutuhan primer, seiring dengan berkembangnya dunia industri, hiburan, informasi dan teknologi, gaya berpakaian menjadi media untuk menunjukkan eksistensi seseorang dalam komunitasnya, dengan mengikuti gaya berpakaian tertentu, seseorang bisa menunjukkan jati dirinya. Hal ini menunjukkan bahwa saat ini gaya berpakaian sudah menjadi bagian dari gaya hidup seseorang.
Sebagai mahasiswa STKIP PGRI yang melahirkan calon pendidik, yang siap nantinya terjun kelapangan sebagai guru yang profesional. Untuk itu para calon pendidik diwajibkan berpakaian rapi dan sopan, bagi laki-laki berpakain kemeja dan celana dasar sedangkan perempuan berpakaian baju kemeja/baju kurung dan berpakain rok, serta memakai jilbab bagi yang beragama Islam. Peraturan tata tertib bagi mahasiswa nomor 099/STKIP-AK/PGRI/2005 dalam BAB VI dalam menerapkan disiplin mahasiswa pasal 16 no 2 yang menyatakan mahasiswa berpenampilan diri yang tidak senonoh, yang tidak sesuai dengan norma adat dan agama, artinya bagi mahasiswa atau mahasiswi tidak boleh menggunakan kaos oblong, celana jeans/levis, baju transparan, pakaian ketat, rok transparan ketika barada di kampus STKIP PGRI Sumatera Barat.
Berdasarkan latar belakang di atas rumusan masalah penelitian ini adalah apa motif mahasiswi STKIP PGRI menggunakan cara berpakaian jilboobs ke kampus ?
Sebagaimana yang telah penulis uraikan dalam penulisan perumusan masalah di atas, maka adapun tujuan penelitian yaitu mendeskripsikan motif mahasiswi STKIP PGRI menggunakan cara berpakain jilboobs. Manfaat Penelitian yaitu :
1. Manfaat Akademis
Secara akademis, manfaat yang diharapkan dari peneliti ini dapat memberikan kontribusi ilmu terhadap perkembagan ilmu pengetahuan tentang fenomena penggunaan jilboobs dikalangan
mahasiswi, khususnya yang berhubungan dengan disiplin ilmu sosial terutama bagi sosiologi perilaku menyimpang.
2. Manfaat Praktis.
Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan referensi ataupun perbandingan dalam penelitian selanjutnya. serta memberikan masukan bagi mahasiswa, bahwa mahasiswa yang menggunakan pakaian seperti jilboobs tidak mencerminkan seorang calon pendidik yang baik.
TEORI PENELITIAN
Teori yang digunakan dalam penelitian yaitu teori fenomenologi yang dikemukakan oleh Alfred Schutz. Schutz menyatakan bahwa tindakan manusia memberikan arti makna tertentu terhadap tindakannya itu dan manusia lain memahami pula tindakannya itu sebagai sesuatu yang penuh arti (Ritzer, 2002: 59). Pemahaman secara subyektif terhadap sesuatu tindakan sangat menentukan terhadap kelangsungan proses interaksi sosial.
Menurut Alfred Schutz tindakan manusia ditentukan oleh makna yang dipahami tentang sesuatu yang disebut dengan motif, dimana mereka dalam melakukan tindakan mempunyai alasan tertentu. Bahwa tindakan subyektif para aktor tidak muncul begitu saja, tetapi harus melalui proses panjang. Dengan kata lain, sebelum masuk pada tataran in order motive menurut schutz ada tahapan because motive yang mendahuluinya (wirawan, 2012: 137). Because motive yaitu motivasi yang tumbuh melalui pengalaman dan masa lalu individu sebagai anggota masyarakat. In order motive yaitu motivasi yang tumbuh karena melihat adanya nilai-nilai terhadap tindakan sekarang untuk jangkauan masa depan. METODE PENELITIAN
Penelitian ini dilakukan selama dua bulan yakni yang dimulai dari bulan Juni-Juli 2015. Penelitian ini dilaksanakan di kampus STKIP PGRI Sumatera Barat.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata
tulisan atau lisan dari orang-orang dan prilaku yang dapat diamati, penelitian ini bertipe deskriptif yang menggambarkan berbagai kondisi dan sesuatu hal seperti apa adanya.
Teknik pengumpulan informan menggunakan Snowballing. Jumlah informan dalam penelitian ini adalah 21 orang, terdiri dari 1 informan inti, 14 informan berpakaian jilboobs, 6 informan biasa.
Jenis data yang digunakan yaitu data primer dan data skunder. Data primer adalah data yang diperoleh dari responden. Menurut Bungin (2011:122) data primer adalah data yang langsung diperoleh dari sumber data atau subjek penelitian. Adapun data primer pada penelitian ini yaitu hasil wawancara yang dilakukan oleh penulis terhadap 21 informan mahasiswi di STKIP PGRI Sumatera Barat. Data sekunder menurut Arikunto (2010:22) adalah data yang diperoleh untuk melengkapi data primer yang ada. Adapun data-data tersebut berupa gambaran umum STKIP PGRI Sumatera Barat.
Metode pengumpulan data adalah observasi, wawancara, studi dokumen. Dalam penelitian ini peneliti melakukan observasi dengan menggunakan bentuk non-participant observer, yaitu suatu bentuk observasi dimana pengamat (peneliti) tidak terlibat langsung dalam kegiatan yang diamati (Yusuf, 2005:292). Peneliti mengamati cara berpakaian jilboobs mahasiswi, cara berjalan, dengan mendengarkan dan mengamati secara langsung penjelasan dari masing-masing informan. Wawancara merupakan suatu pengumpulan data atau informasi dengan cara langsung bertatap muka dengan informan, dengan maksud mendapatkan gambaran lengkap tentang topik yang diteliti (Bungin, 2011: 157-158). Dokumen adalah metode penelitian yang dilakukan terhadap informasi yang didokumentasikan dalam bentuk rekaman, gambar, suara, tulisan, dan dokumen-dokumen lainya.
Analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data dalam penelitian kualitatif, dimana peneliti akan mencari data melalui hasil dari pengamatan atau observasi dan melalui wawancara dan studi dokumen. Analisis data pada penelitian ini menggunakan
model interaktif dari Miles dan Huberman melalui tiga tahap, yaitu: pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Mahasiswa STKIP PGRI.
Mahasiswa merupakan suatu kelompok dalam masyarakat yang memperoleh statusnya karena ikatan dengan perguruan tinggi. Sebagai mahasiswa STKIP PGRI Sumatera Barat yang merupakan Sekolah Tinggi yang melahirkan calon pendidik yang siap nantinya terjun kelapangan sebagai guru yang profesional yang nantinya terjun untuk mengabdi. Untuk itu calon pendidik diwajibkan berpakaian yang sesuai dengan aturan serta berpakaian baik dan sopan. Aturan yang dibuat oleh STKIP PGRI bagi laki-laki berpakaian kemeja dan celana dasar, sedangkan bagi mahasiswa perempuan berpakaian kemeja atau baju kurung dan berpakaian rok, serta bagi yang beragama Islam menggunakan jilbab.
B. Motif Mahasiswa STKIP PGRI Menggunakan Cara Berpakaian
Jilboobs.
1. Because motive.
Because motive yaitu motivasi yang tumbuh melalui pengalaman dan masa lalu individu sebagai anggota masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan adapun motif berdasarkan pengalamannya adalah a). Tampil cantik dan modis, b). Nyaman, c). Meniru trend fashion. Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut : a). Tampil Cantik dan Modis.
Cantik adalah elok rupa, molek, bagus, (KKBI, 2013 : 152). Cantik adalah kata yang tidak pernah terlepas dari seorang wanita. Memberikan pesona agar menjadi cantik dan menarik bagi orang yang melihatnya. Saat ini menjadi cantikpun bukan sesuatu yang sulit atau tidak mungkin. Dari banyak cara, wanita
dapat membuat dirinya menjadi cantik dengan memedulikan busana yang dipakainya.
Berdasarkan penelitian, mahasiswa perempuan sangat memperhatikan berpenampilan cantik dan modis dalam kehidupan sehari-hari, mereka beranggapan bahwa berpenampilan cantik dan modis itu sesuai dengan keinginannya, dan diperhatikan oleh orang-orang sekitar. Berdasarkan hasil wawancara dapat disimpulkan bahwa tampil cantik dan modis merupakan motif mahasiswa dalam berpakaian jilboobs, karena tampil cantik dan modis mereka merasa menjadi pusat perhatian oleh orang yang ada dilingkungan banyak orang.
b). Nyaman.
Nyaman adalah segar, sehat, sedap, enak (KBBI, 2007 : 604). Kenyamanan/ rasa nyaman adalah suatu keadaan telah terpenuhinya kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan akan ketentraman (suatu kepuasan yang meningkatkan penampilan sehari-hari). Kenyamanan yang diperoleh mahasiswi yaitu merupakan keinginan batin yang tercapai, yang merupakan kehendak yang mereka rencanakan ketika menggunakan sesuatu yang melekat pada tubuhnya. Ada banyak cara yang dilakukan orang untuk memenuhi keinginan yang membuat mereka merasa nyaman, serta keinginan yang hendak dicapai itupun dilakukan dengan cara yang berbeda-beda pula.
Keinginan yang timbul dari dalam diri merupakan keinginan batin seseorang yang tercapai sesuai dengan kehendak yang telah ia rencanakan sebelumnya. Kenyamanan yang diperoleh merupakan kehendak yang mereka rencanakan ketika menggunakan sesuatu yang melekat pada tubuhnya.
Berdasarkan pengamatan dan wawancara dapat disimpulkan bahwa disaat mahasiswa memakai pakaian yang lebih bagus dan menarik dibandingkan orang lain, maka disaat itu mereka merasa puas dan nyaman dengan apa yang telah mereka lakukan dan pergunakan. Nyaman menggunakan sesuatu yang melekat pada tubuh sangat
mempengaruhi rasa kepercayaan diri seseorang.
c). Meniru Trend Fashion.
Trend yaitu merupakan bentuk nomina yang bermakna ragam cara atau bentuk terbaru pada suatu waktu tertentu (tata pakaian, potongan rambut, corak, hiasan, dan sebagainya). Trend merupakan gaya penampilan yang dianggap indah pada suatu masa digemari dan diikuti oleh orang banyak. Istilah fashion/ mode secara konotasi memiliki arti berbusana dengan memperhatikan gaya atau dandanan yang „ap to date‟ atau sesuai dengan ide-ide masa kini. Fashion atau mode menjadi sarana bagi orang untuk menciptakan identitas diri seutuhnya. Perkembangan fashion saat ini sangat berkembang pesat, khususnya dalam berpakaian dilingkungan mahasiswa, dan banyak kalangan yang menikmati bentuk pakaian yang semakin ternd tanpa terkecuali.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pada saat sekarang perkembangan berpakaian sangat mempengaruhi penampilan seseorang. Apalagi dikalangan mahasiswi yang pada dasarnya ingin terlihat berbeda dengan orang lain. mereka berfikir jika mereka mengikuti trend fashion yang lagi berkembang mereka dianggap modren jika dibandingkan dengan memakai pakaian yang model biasa. Kepercayaan diri lebih tinggi ketika apa yang dipakai tersebut terlihat bagus dihadapan orang lain, sehingga ketika melakukan aktifitas baik dilingkungan kampus.
2. In order motive.
In order motive yang berarti motivasi yang tumbuh dan timbul karena melihat adanya nilai-nilai terhadap tindakan sekarang untuk jangkauan masa depan. In order motive merupakan tujuan yang digambarkan sebagai maksud, makna, harapan, minat yang diinginkan dan karena itu berorientasi kemasa depan. Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan adapun in order motive adalah a). Ingin diperhatikan lawan jenis, b). Ingin lebih disayang pacar, c). Ingin tampil beda dan gaul. Hal ini dapat diuraikan sebagai berikut.
a). Ingin diperhatikan lawan jenis.
Berdasarkan penelitian yang peneliti lakukan ada beberapa motif mahasiswa menggunakan berpakaian jilboobs, antara lain mahasiswa sangat memperhatikan penampilan dalam kehidupan sehari-hari apalagi didepan lawan jenis, mereka beranggapan bahwa berpenampilan menarik dan cantik itu sesuai dengan perkembangan busana sekarang. Keinginan merupakan sebuah tujuan, adanya rasa ingin diperhatiakan lawan jenis merupakan salah satu alasan atau motif mahasiswi menggunakan cara berpakaian jiilboobs. Rasa keinginan tersebut merupakan suatu hasrat yang ada dalam diri seseorang. Adanya rasa ingin untuk diperhatikan merupakan rasa yang ada didalam setiap diri individu tak terkecuali mahasiswi.
b). Ingin Lebih Disayang pacar.
Pakaian yang dipakai oleh mahasiswa pada dasarnya agar terlihat berbeda dengan orang lain dari segi berpenampilan menunjukkan mereka mempunyai alasan tersendiri untuk memakai busana atau pakaian dan karena ingin lebih disayang pacar, apapun dilakukan agar pasangan atau pacar terlihat senang ketika saat bersama, sehingga cara berpakaian ini harus mereka gunakan oleh mahsiswi agar pasangannya semakin sayang. Berpakaian yang digunakan dan dipilih oleh mahasiswi merupakan kesadaran yang mhasiswi inginkan tanpa diperintahkan oleh siapapun. Karena tujuannya yaitu biar tetap dipuji sama orang terdekat.
c). Ingin Tampil Beda dan gaul.
Bagi mahasiswa yang berpakaian jilboobs ingin tampil beda dan gaul dihadapan orang lain, tampil beda dan gaul menurut mereka akan bisa menimbulkan kepercayaan diri dengan apa yang dipakai oleh mahasiswa tersebut, selain itu barang yang dipakai dapat memberikan gambaran kepribadian, menunjukkan identitas diri dilingkungan mereka salah satunya di kampus. Motivasi seseorang dalam berpakaian sangatlah berbeda-beda, ada yang berpakaian mengikuti mode, menampakkan status, kekayaan, kesombongan, dan juga berpenampilan salah satunya berpenampilan berbeda yang ingin tampak gaul dari orang lain, yang lebih
kelihatan cantik, modis, keren, elegan. Tindakan yang dilakukan mahasiswi ini berdasarkan in order motive merupakn tujuan atau motif ingin tampil beda dan gaul agar kelihatan keren dihadapan orang lain, hal ini merupakan tujuan mereka, selain itu juga timbul harapan agar dipandang bagus dan berkelas.
KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan.
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dan telah diuraikan pada pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa motif mahasiswi STKIP PGRI menggunakan cara bepakain jilboobs, berdasarkan realita yang terjadi dilapangan bahwa mahasiswi mempunyai motif menggunakan cara berpakaian jilboobs adalah :
1. Because motive, yang berarti motivasi yang tumbuh melalui pengalaman dan masa lalu individu sebagai anggota masyarakat. Berdasarkan hasil penelitian yang peneliti lakukan adapun motif berdasarkan pengalamannya, a). Tampil cantik dan modis, b). Nyaman, c). Meniru trend fashion.
2. In order motive, yang berarti motivasi yang tumbuh dan timbul karena melihat adanya nilai-nilai terhadap tindakan sekarang untuk jangkauan masa depan seperti, a). Ingin diperhatikan lawan jenis, b). Ingin lebih disayang pacar, c). Ingin tampil beda dan gaul.
B. Saran.
1. Kepada institusi, pimpinan kampus, diharapkan memberikan sanksi yang tegas kepada mahasiswa yang melanggar tata tertip kampus salah satu seperti melanggar aturan berpakaian.
2. Kepada mahasiswi yang menggunakan cara berpakaian jilboobs diharapkan supaya tidak menggunakan cara berpakaian jilboobs pada saat ke kampus karena STKIP PGRI Sumatera Barat merupakan salah satu LPTK (Lembaga Perguruan Tinggi Keguruan) yang melahirkan calon pendidik yang baik, baik itu cara bebicara, berpakaiannya, tidak menggunakan pakaian yang tidak
sesuai dengan cara berpakaian seorang pendidik.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT raja Grafindo.
Bungin, Burhan. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo.
Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi
Ke Tiga (2007).
Jakarta: Balai
Pustaka.
Miles, Matthew dan Michael Huberman. (1992). Analisis Data Kualitatif. UI Pers, Jakarta.
Wirawan, I.B. (2013). Teori-Teori Sosial Dalam Tiga Paradigma : Fakta Sosial, Defenisi Sosial dan Perilaku Sosial. : Kencana Prenada Media Group.
Zami, Elzam. (2014). A-Z Hijab: Panduan Lengkap Hijab. Jakarta : Pustaka Oasis. SKRIPSI
Sari, Rora Yumida. 2014. Motif Mahasiswi STKIP PGRI Padang Memakai Busana Manset Ke Kampus STKIP PGRI Sumatera Barat Kota Padang.