• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETINGGIAN SASTRA AL-QURAN DAN KAIDAH MEMAHAMI AYAT-AYAT PADA ASPEK TEKSTUAL-KONTEKSTUAL. Mukmin UIN Raden Fatah Palembang

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "KETINGGIAN SASTRA AL-QURAN DAN KAIDAH MEMAHAMI AYAT-AYAT PADA ASPEK TEKSTUAL-KONTEKSTUAL. Mukmin UIN Raden Fatah Palembang"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

599

KETINGGIAN SASTRA AL-QURAN DAN KAIDAH MEMAHAMI AYAT-AYAT PADA ASPEK TEKSTUAL-KON TEKSTUAL

Mukmin

UIN Raden Fatah Palembang

[email protected]

Abstrak: Bangsa Arab memiliki kultur bahasa yang sangat dinamis dibanding masyarakat lainnya. Sebelum turun Al-Quran, bangsa Arab sedang berada pada puncak ketinggian nilai bahasa dan sastra Arab. Konsekuensi logis dari kond isi ini adalah diutusnya Nabi Muhammad dengan bekal kekuatan yang sumbernya adalah kitab suci yaitu Al-Quran yang mengandung nilai sastra tinggi. Kitab suci tersebut membuat bangsa Arab tereperangah dan kagum. Hal ini disebabkan bahwa mereka yang sudah terbiasa dengan karya sastra berupa syiir (khususnya) dihadapkan dengan sesuatu yang berada di luar daya nalar dan intelektual mereka pada aspek bahasa dan sastra. Ketinggian nilai bahasa dan sastra Al-Quran bukanlah hal yang diperdebatkan baik bagi yang beriman maupun yang tidak (pada waktu itu) karena setiap ayat yang tersebar di berbagai surat dalam Al-Quran sarat akan makna dan disajikan dengan cara yang luar biasa. Untuk sampai kepada makna tersebut (baik tekstual maupun kontekstual), bagi kita yang hidup berjarak 1400 tahun setelah turunnya AlQuran tentu membutuhkan pemahaman kaidah atau rumusan pola -pola kalimat dan ungkapan Al-Quran. Secara umum, Kaidah-kaidah untuk menentukan makna tekstual ditentukan oleh ilmu tata bahasa (nahwu dan sho rf) sedangkan kaidah-kaidah untuk menentukan makna kontekstual erat kaitannya dengan ilmu balaghoh.

Kata kunci: makna tekstual, makna kontekstual, sastra

Pendahuluan

Al-Quran adalah mukjizat Nabi Besar Muhammad Saw yang dijamin dan terjaga hingga akhir zaman. Sebagai seorang muslim, tentu tidak ada keraguan sedikitpun dalam diri kita mengenai aspek i‟jaz kitab suci ini.

Setiap hari , kitab suci ini dibaca oleh milyaran manusia di bumi baik dalam shalat maupun di luar shalat. Tidak ada satupun kitab atau buku mampu menyamai Al-Quran yang dicetak milyaran exemplar dan tersebar ke berbagai penjuru dunia, dikaji dan diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa,serta dihapal oleh jutaan manusia. Fenomena yang luar biasa ini tentu dalil secara “de facto” betapa Al-Quran sangat istimewa.

Ada dua hal penting yang akan dipaparkan dalam makalah ini, pertama : aspek sastra Al-Quran, kedua; aspek makna ayat ayat Al-Quran yang memiliki dua dimensi yaitu tekstual dan kontekstual.

Secara sederhana definisi Sastra/sas•tra/ n1 bahasa (kata-kata, gaya bahasa) yg dipakai dalam kitab-kitab bukan bahasa sehari-hari

kata yang sepadan dengan kata ini dalam bahasa arab adalah adab yang didefinisikan sebagai:

ملاك

نم

ملاكلا

،

ونكل

سنج

صوصمخ

نم

ملاكلا

،

زيمتي

وصئاصبخ

ةيعادبلاا

تىلا

لعبذ

ونم

اعادبا

ايليبز

،

وتادا

ةملكلا

تىلا

هزيبس

نع

هيرغ

نم

عاونأ

عادبلاا

نيفلا

Sastra adalah perkataan atau redaksi yang khas, memiliki karakteristik di luar kebiasaan sehingga terasa keindahannya dan ini berkaitan dengan pilihan kata yang dapat membedakan tingkat atau level keindahan tersebuti

(2)

600

Ada beberapa perbedaan para ahli tentang pengertian Sastraii, diantaranya adalah Mursal Esten; Sastra atau Kesusastraan adalah pengungkapan dari fakta artistik dan imajinatif sebagai manifestasi kehidupan manusia melalui bahasa sebagai medium dan memiliki efek yang positif terhadap kehidupan manusia (kemanusiaan). Semi; Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya menggunakan bahasa sebagai mediumnya.

Panuti Sudjiman; Sastra sebagai karya lisan atau tulisan yang memiliki berbagai

ciri keunggulan seperti keorisinalan, keartistikan, keindahan dalam isi, dan

ungkapannya. Ahmad Badrun: Kesusastraan adalah kegiatan seni yang

mempergunakan bahasa dan simbol-simbol lain sebagai alat, dan bersifat imajinatif. Sastra atau kesusastraan merupakan ungkapan lisan dan tulisan yang terkandung di dalamnya kekhususan, keistimewaan, keindahan sangat erat kaitannya dengan kehidupan manusia baik konkrit maupun abstrak. Karena sastra tidak hanya bicara kehidupan nyata namun juga kehidupan yang tidak nyata, karenanya sastra bersifat imajinatif.

Pembicaraan tentang aspek sastra Al-Quran tidaklah semata-mata murni kajian linguistik. Lebih dari itu, ketinggian nilai sastra tersebut merupakan implikasi dari terwujudnya aspek i‟jaz pada diri al-Quran.

Muhammad Aly as-Shobuny menjelaskan pandangan Ulama mengenai mukjizat Al-Quran pada Aspek bahasaiii:

1

.

وجو

زاجعلإا

في

نآرقلا

وى

ام

لمتشا

ويلع

نم

مظنلا

بيرغلا

فلاخلدا

مظنل

برعلا

و

مىرثن

في

وعلاطم

و

وعطاقم

و

ولصاوف

2

.

وجو

زاجعلإا

انمإ

نمكي

في

ةحاصف

وظافلأ

و

ةغلاب

وتارابع

و

هوجو

وتكبس

ذا

وى

في

ةجردلا

ايلعلا

نم

ةغلابلا

تيلا

لم

دهعي

اهلثم

3

.

زاجعلإا

في

هولخ

نم

ضقانتلا

و

ضراعتلا

و

ولامتشا

ىلع

نياعلدا

ةقيقتلا

و

روملأا

ةيبيغلا

تيلا

تسيل

رودقبد

رشبلا

و

لا

في

مهتعاطتسا

اهتفرعم

امك

ونأ

ميلس

نم

ضقانتلا

و

ضراعتلا

.

4

.

وجو

زاجعلإا

وى

ام

ونمضت

نآرقلا

نم

ياازلدا

ةرىاظلا

و

عئادبلا

ةقئارلا

في

حتاوفلا

و

دصاقلدا

و

ميتاولخا

في

لك

ةروس

و

لوعلدا

ويلع

مىدنع

ام

يلي

:

‌أ.

ةحاصفلا

في

ظافللأا

ب

.

ةغلابلا

في

نياعلدا

ج

.

.

ةروص

مظنلا

عيدبلا

.

Demikian juga Husein Salamah menjelaskan tentang mukjizat al-Qur‟aniv:

نإ

ةزجعم

نآرقلا

يى

ىبرك

تازجعلدا

تيلا

ديأ

الله

ابه

ولوسر

ىلص

الله

ويلع

ملسو

ذإ

ىدبر

وب

ةلاق

رعشلا

و

لىأ

ةغلابلا

و

وى

زجعم

في

وتياأ

و

زجعم

في

وتغل

و

زجعم

(3)

601

في

هدرس

ثادحلأل

و

زجعم

في

ويدبر

لكل

رشبلا

في

نأ

اوتيأ

ولثبد

.

ونإ

نم

عنص

قلالخا

يذلا

لا

كليم

قللخا

وتاكامح

و

لا

كليم

سنلإا

و

نلجا

.

نإ

زاجعإ

نآرقلا

دعبأ

ىدم

نم

زاجعإ

ومظن

و

ويناعم

.

A

spek ketinggian sastra Al-Quran tidak hanya terwujud pada aspek linguistik saja (pilihan kata dan pola ungkapan yang indah) namun lebih jauh dari itu; keselarasan antar makna (tidak saling bertentangan) dan tantangannya kepada para ahli bahasa agar mendatangkan semisal ayat Al-Quran (tetap tidak ada yang mampu) merupakan fakta yang membuktikan keluarbiasaan bahasa Al-Quran.

Pada saat bangsa arab mengalami kemajuan pesat di bidang bahasa dan sastra dengan syiir dan nitsrnyav, maka Allah menghadirkan sesuatu yang sangat spesial yang tak bisa ditiru apalagi dikalahkan karena justeru Al-Quran mengalahkan dan menampakkan kelemahan manusia untuk bisa membuat semisalnya.

Sedangkan makna yang terkandung dalam ayat-ayat Al-Quran, terkadang dapat dipahami secara mudah dan terkadang tidak. Dalam memahaminya berkaitan erat dengan unsur- unsur bahasa (kalam) yang terdiri dari tiga hal, yaitu: lafazh (terucap/tertulis) , makna (terpikir/yang ada dalam jiwa) dan madlul (konkrit/abstrak).

Fenomena Sastra Al-Quran Dalam Konteks I’jaz Lughowi

Pertama; pengakuan ahli bahasa Arab pada saat Al-Quran diturunkan. Sholahuddin Muhammad Abdut Tawwab menjelaskan beberapa riwayat berkenaan dengan hal inivi:

بىذ

ةبتع

نب

ةعيبر

لىإ

لوسر

الله

ىلص

الله

ويلع

ملسو

ويوليل

نع

هدصق

امف

نأ

عسم

ونم

عضب

تياآ

تىح

دوعي

لىإ

وموق

لائاق

:

دقل

تعسم

ونم

املاك

ام

وى

رعشب

و

لا

ةناهك

و

لا

رحس

.

و

عسم

رخأ

ولوق

لىاعت

:

و

في

مكقزر

و

ام

نودعوت

بروف

ءامسلا

و

ضرلأا

ونإ

قلح

لثم

ام

مكنأ

نوقطنت

.

حاصف

:

يا

ناحبس

الله

نم

اذ

يذلا

بضغأ

ليللجا

تىح

فلح

.

و

تصنأ

مهضعب

لىإ

ولوق

لىاعت

(

املف

ا

اوسئيتس

ونم

اوصلخ

اينج

)

لاقف

:

دهشأ

نأ

اقولمخ

لا

ردقي

ىلع

لثم

اذى

ملاكلا

.

و

اذكى

ناك

لك

نم

تصني

لىإ

نآرقلا

حملي

ويف

نم

وسم

ةغلابلا

و

زاجعإ

نايبلا

و

ةراضن

بولسلأا

ام

ولعيج

دهشي

ونبأ

لا

ردصي

لاإ

نع

الله

بر

ينلداعلا

.

Pengakuan ini menunjukkan bahwa bahasa arab yang digunakan oleh Al-Quran (pemilihan kata, susunan, dan keseimbangan) adalah hal baru bagi mereka dan betul-betul di luar dugaan mereka. Bagi yang membuka jendela fithrah tauhidnya maka akan langsung bersaksi bahwa ini memang kalamullah . Demikian yang terjadi pada diri Umar bin Khatab, beliau sangat menentang dakwah Rasulullah Saw dan tatkalah diperdengarkan oleh adiknya beberapa ayat di bagian awal surat Toha, beliau terdiam dan mengakui bahwa ini bukanlah perkataan manusia, yang demikian pastilah berasal dari Allah, Tuhan alam semesta.

(4)

602

Kedua: Keseimbangan Makhorijul Huruf. Bandingkan ayat-ayat di bawah ini yang berasal dari dua surat berbeda;

                        

‌:‌سي‌ةروس(

1

-6

)

                         

‌:‌ق‌ةروس(

1

-3

)

Keduanya sama di bagian awal, yaitu dimulai dengan huruf muqotthoah. Ayat-ayat berikutnya berakhir dengan huruf huruf yang berdekatan makhrojnya dengan ayat pertama. Hal ini juga yang menambah keindahan Al-Quran baik ketika dibaca maupun pada saat didengar.

Ketiga : Tepat memilih huruf untuk terwujudnya makna yang diinginkan. Sebagai contoh; pemilihan huruf: ول

اذإ

نإ , Semuanya bermakna; jika/apabila. Namun jika kita perhatikan ayat-ayat yang menggunakan kata ini, akan nampak perbedaannya:

                                 

‌:تافاصلا‌ةروس(

139

-144

.)

139. Sesungguhnya Yunus benar-benar salah seorang rasul, 140.(ingatlah) ketika ia lari, ke kapal yang penuh muatan

141. kemudian ia ikut berundi lalu Dia Termasuk orang -orang yang kalah dalam undian. 142. Maka ia ditelan oleh ikan besar dalam Keadaan tercela.

143. Maka kalau Sekiranya Dia tidak Termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah, 144. niscaya ia akan tetap tinggal di perut ikan itu sampai hari berbangkit.

                         

‌:‌ءارسلإا‌ةروس(

7

)

7. jika kamu berbuat baik (berarti) kamu berbuat baik bagi dirimu sendiri dan jika kamu berbuat jahat, Maka (kejahatan) itu bagi dirimu sendiri, dan apabila datang saat hukuman bagi (kejahatan) yang kedua, (kami datangkan orang-orang lain) untuk menyuramkan muka-muka kamu dan mereka masuk ke dalam mesjid, sebagaimana musuh -musuhmu memasukinya pada kali pertama dan untuk membinasakan sehabis -habisnya apa saja yang mereka kuasai.

           (

‌:‌ةعقاولا‌ةروس

1

-3

)

1. apabila terjadi hari kiamat,

2. tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya.

3. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain),

(5)

603

Dari ketiga kelompok ayat tersebut, ulama mengkaji dan memperdalam perbedaan ketiga huruf ini, sehingga disimpulkan bahwa huruf

(ول),

digunakan untuk dua kalimat (syarthi/jawab syarthi) yang sama-sama tidak terwujud. Asumsi yang mengatakan bahwa ikan yang perutnya dimasuki Nabi Yunus masih hidup hingga sekarang, terbantahkan baik secara saintifik maupun secara linguistik. Sedangkan huruf (

نإ

) digunakan untuk dua kalimat yang sama sama terwujud jika syaratnya terwujud. Terwujudnya kebaikan akan melahirkan kebaikan pula dan sebaliknya. Sementara (

اذإ

) tidak digunakan kecuali untuk dua pernyataan yang sama-sama akan terwujud di masa depan. Hari kiamat, akan datang dan benar-benar terjadi, ketika telah terjadi maka ada dua konsekuensi bagi manusia yang juga pasti terjadi yaitu sorga dan neraka.

Keempat: Memilih kata yang unik untuk memastikan terwujudnya makna yang diinginkan. Seperti kata dhiza (paling unik karena jarang digunakan) dalam kelompok ayat berikut ini, untuk menjelaskan keanehan pola pikir orang-orang musyrik :

                                         

‌:‌مجنلا‌ةروس(

22

-23

)

20. dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? 21. Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? 22. yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil.

23. itu tidak lain hanyalah Nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka.

Kelima: Keseimbangan jumlah kata dengan antonimnya. Dalam Al-Quran; kata al-Hayah dan al-Maut, masing-masing berjumlah 145, kata an-Naf’ dan al-Madhorroh; masing-masing berjumlah 50 kali, kata as-sholihat dan as-Sayyiat masing-masing berjumlah 167 kali, kata tuma’ninah dan dhiq masing-masing berjumlah 13 kali, kata rohbah (cemas) dan roghbah (harap) masing 8 kali, kata kufr dan iman

masing-masing berjumlah 17 kalivii. Dan masih banyak lagi bentuk-bentuk keseimbangan

lainnya baik secara lafzhi maupun maknawi. Kesemuanya menunjukkan bahwa bahasa Arab Al-Quran sangat istimewa dan memukau bagi siapa saja yang memahaminya.

KAIDAH-KAIDAH MEMAHAMI AYAT AL-QURAN

Berikut ini, perlu dikemukakan beberapa poin penting berkaitan dengan ad-Dirosat al-Lughowiyah al-Arobiyah dalam konteks pola menentukan makna ayat (tekstual dan kontekstual) .

Pertama; Perlu dipahami dengan baik ayat-ayat dengan uslub yang menggunakan makna ashli dan makna siyaqi. Hal ini berkaitan erat dengan uslub khobar dan uslub insya, sebagai contoh:

Uslub khobar dengan makna insya. Terkadang pola kalimatnya berbentuk khobar namun bermakna insya‟ seperti:

الله َكَقَّ فَو

كيف ُالله َكَرَبَ

(6)

604

Dengan maksud optimis dan penuh harap atas terwujudnya sesuatu, secara sederhana ia bermakna doa. Biasanya kita pahami dengan kata “semoga”. Semoga Allah memberikan taufiqnya kepadamu, Semoga Allah memberkahimu. Dengan demikian pola kalimat seperti ini tidak bisa dipahami secara tekstual, yaitu; Allah telah memberimu taufiq, Allah telah memberkahimu, karena secara factual memang harapan itu belum terjadi.

berikut ini contoh ayat:

                             

‌:ةرقبلا‌ةروس(

83

)

83. dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling.

Ayat ini, pola kalimatnya menggunakan uslub khobar tapi maknanya insya’, yaitu

Nahyu (larangan) karena jika dipahami secara tekstual (kalian tidak menyembah kecuali

Allah) maka tidak tepat dan memang bukan itu makna yang dibidik oleh ayat. Hal ini

terbukti dengan urutan kalimat yang diselingi oleh huruf

و

(athof) yang

konsekuensinya adalah keseragaman arah makna yaitu makna insya‟walaupun berbeda format.

Demikian juga ayat berikut ini:

                   

رونلا‌ةروس(

‌:

3

)

3. laki-laki pezina , jangan mengawini perempuan kecuali perempuan pezina atau perempuan yang musyrik; dan perempuan pezina, jangan dikawinkan kecuali laki-laki pezina atau laki-laki musyrik. dan yang demikian itu diharamkan atas oran -orang yang beriman.

Menurut Basyuni Abdul Fattah, guru besar Ilmu Balaghoh Universitras al-Azharviii;

ولوقف

لىاعت

حكنيلا

,

لا

اهحكني

)

برخ

ديرأ

وب

يهنلا

و

في

ضعب

تاءارقلا

مزلجبا

ىلع

يهنلا

و

ىلع

ةءارق

عفرلا

نوكي

يربعتلا

برلخبا

في

عضوم

ءاشنلإا

غلبأ

في

رجزلا

و

دكآ

ونلأ

زبري

يهنلدا

ونع

في

ضرعم

عقاولا

ققلمحا

ةبغر

في

وثودح

و

اصرح

ىلع

وقيقبر

و

اثح

ىلع

لاثتملإا

و

ةعرس

ةباجلإا

.

Ayat tersebut mengungkap makna larangan dengan menggunakan uslub khobar. Sehingga tidak bisa dipahami secara tekstual (laki laki pezina tidak akan kawin kecuali dengan perempuan pezina atau musyrik dan perempuan pezina tidak akan dinikahi kecuali dengan pria pezina pula atau musyrik ). Dapat dikatakan bahwa larangan

(7)

605

merupakan makna kontekstual yang terwujud dalam ayat tersebut dengan menggunakan uslub khobar adalah makna yang sesungguhnya diinginkan dan disampaikan kepada lawan bicara.

Kedua; Perlu kejelian dalam memahami ayat-ayat yang menggunakan uslub insya yang terkadang mengandung makna siyaqi, seperti pertanyaan

نوهتن

م

متنأ

لهف

dalam ayat:                                      

‌:ةدئالدا‌ةروس(

92

-91

)

90. Hai orang-orang yang beriman, Sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah, adalah Termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.

91. Sesungguhnya syaitan itu bermaksud hendak menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu lantaran (meminum) khamar dan berjudi itu, dan menghalangi kamu dari mengingat Allah dan sembahyang; Maka berhentilah kamu (dari mengerjakan pekerjaan itu)!.

Bagian ujung atau akhir ayat ini, zahirnya dapat dipahami secara tekstual yaitu pertanyaan (Apakah kalian akan berhenti (minum khomer)?. Namun bukan itu makna sesungguhnya yang diinginkan. Kalimat demi kalimat yang tersusun dalam kelompok ayat ini menegaskan betapa bahayanya mengkonsumsi khomer (narkoba). Oleh karenanya, untuk memahami haruslah menggunakan perspektif kontekstual yang melahirkan makna sesungguhnya yaitu ; berupa perintah (berhentilah mengkonsumsi minuman memabukkan!.

Masih banyak ayat yang mengandung makna siyaqi, seperti:

رشب

‌اميلأ‌بااذع‌ملذ‌نبأ‌ينقفانلدا

‌:‌ءاسنلا‌ةروس(

138

)

138. Sampaikan lah kabar gembira kepada orang-orang munafik bahwa mereka akan mendapat siksaan yang pedih.

Bandingkan dengan ayat ini:

                                       

‌:‌ةرقبلا‌ةروس(

25

)

25. dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan berbuat baik, bahwa bagi mereka disediakan surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya. Setiap mereka diberi rezki buah-buahan dalam surga-surga itu, mereka mengatakan : "Inilah yang pernah diberikan kepada Kami dahulu." mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada isteri-isteri yang suci dan mereka kekal di dalamnya.

(8)

606 Muhammad Aly As-Shobuny menjelaskan ayat iniix:

‌ ب"‌ظفلب‌لىاعت‌برع

‌ ش

‌ ر

!‌ميلأ‌باذعب‌ينقفانلدا‌محمد‌يا‌برخأ‌:‌يأ‌مبه‌امكته‌"

Dengan demikian, busyro (kabar gembira) untuk orang-orang munafiq adalah bukan makna sesungguhnya yang diinginkan. Orang-orang munafik tidak mungkin mendapat kabar gembira atau balasan kebaikan akibat kemunafikannya. Ada makna lain yang diinginkan dari kata ini, yaitu; ejekan dan hinaan bagi orang-orang yang menghalang-halangi jalan kebaikan,menampakkan keimanan di hadapan Rasul namun kufur dan menyusun rencana jahat ketika kembali kepada kaum mereka. Orang seperti ini mendapat “kabar gembira” yaitu berupa azab yang sangat menyakitkan. Adapun untuk orang-orang beriman maka kata

رشب

digunakan untuk makna tekstual yaitu kabar atau berita gembira (balasan berupa surga dan berbagai kenikmatan).

Demikian juga dengan ayat;

    

‌:‌ينتلا‌ةروس(

8

)

8. Bukankah Allah hakim yang seadil-adilnya?

Secara tekstual ayat ini bertanya namun makna sesungguhnya yang terkandung dan ingin disampaikan kepada lawan bicara adalah menetapkan (itsbat), dengan demikian makna ayat secara kontekstual adalah Hanyalah Allah Hakim yang Maha adil. Ketiga : Perhatikan huruf huruf yang digunakan dalam sebuah uslub yang terkandung

dalam ayat, seperti perbedaan ;

نإ , امنإ :

inna memiliki makna taukid sedangkan innama memiliki makna qoshr. Ayat yang terdapat di dalamnya kata tersebut terkadang dipahami sama antara keduanya yaitu sesungguhnya:

   



‌:‌ملقلا‌ةروس(

4

)

4. dan Sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung.

           

‌:‌تارجلحا‌ةروس(

12

)

10. orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.                       

‌:‌ةنحتملدا‌ةروس(

9

-8

)

8. Allah tidak melarang kamu untuk berbuat baik dan Berlaku adil terhadap orang -orang yang tiada memerangimu karena agama dan tidak (pula) mengusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang Berlaku adil.

9. Sesungguhnya Allah hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang -orang yang memerangimu karena agama dan mengusir kamu dari negerimu, dan membantu (orang lain) untuk mengusirmu. dan Barangsiapa menjadikan mereka sebagai kawan, Maka mereka Itulah orang -orang yang zalim.

                         

‌:فهكلا(

112

)

110. Katakanlah: Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: "Bahwa Sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan yang Esa". Barangsiapa

(9)

607

mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya".

Padahal ada perbedaan konsekuensi makna ketika menggunakan kata

نإ

dan

اموإ

dalam sebuah kalimat. Untuk kata inna, digunakan untuk penekanan makna

(sering dipahami dengan kata „sesungguhnya‟. Sementara innama, digunakan untuk penekanan dan pembatasan, maka idealnya kata ini dipahami dengan “sesungguhnya – hanyalah”. Pemahaman dan terjemahan ayat-ayat yang di dalamnya terkandung dua kata tersebut terkadang sama-sama dipahami dengan “sesungguhnya”.

Menurut Abdul A‟ly Salim Mukarromx terdapat huruf-huruf lainnya yang perlu diamati dengan baik menggunakan berbagai persfektif untuk mendapatkan makna yg lebih dekat kebenaran, seperti kata (له) maknanya (دق)dalam ayat:

                      

‌:‌ناسنلإا‌ةروس(

1

)

1. Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang Dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?

2. Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan Dia mendengar dan melihat.

Karena ayat ini tidak pada posisi bertanya namun menginformasikan kepada lawan bicara bahwa telah berlalu masa, yaitu pada waktu manusia belum disebut sama sekali (tercipta).

contoh lain : kata (ىلع) bermakna (ل) dalam ayat:

                      

‌:‌جلحا‌ةروس(

37

‌‌.)

37. Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi Ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah -Nya kepada kamu. dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.

Kata “ىلع “ dalam ayat ini lebih tepat dipahami dengan terjemahan “karena “ bukan “atas”. Kata (وأ) bermakna (و), seperti dalam ayat berikut:

         

‌:‌ناسنلإا‌ةروس(

24

)

24. Maka bersabarlah kamu untuk (melaksanakan) ketetapan Tuhanmu, dan janganlah kamu ikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka.

Kata “وأ “ dalam ayat ini tidak dalam posisi takhyir atau memilih. Sehingga lebih tepat dipahami dengan terjemahan “dan” bukan “atau”.

Keempat: Perhatikan pola taqdim dan ta‟khir dalam berbagai uslub yang berimplikasi kepada makna ikhtishos atau qoshr.

           

‌:ةبرافلا‌ةروس(

3

-5

)

(10)

608 4. yang menguasai di hari Pembalasan.

5. hanya Engkaulah yang Kami sembah, dan hanya kepada Engkaulah Kami meminta pertolongan.                

‌:ماعنلأا‌ةروس(

42

)

40. Katakanlah: "Terangkanlah kepadaku jika datang siksaan Allah kepadamu, atau datang kepadamu hari kiamat, Apakah kamu menyeru (tuhan) selain Allah; jika kamu orang-orang yang benar!"           

‌:رمقلا‌ةروس(

24

)

24. Maka mereka berkata: "Bagaimana kita akan mengikuti seorang manusia (biasa) di antara kita?" Sesungguhnya kalau kita begitu benar-benar berada dalam Keadaan sesat dan gila".

Walaupun sebenarnya, tidak semua taqdim mewujudkan makna qoshr atau ikhtishos, bisa juga mewujudkan tujuan lain yaitu keseimbangan susunan kata ( قساىت ظافللأا و هسح مظىلا );

Seperti ayat berikut ini:

                                            

‌:سي‌ةروس(

37

-42

)

37. dan suatu tanda (kekuasaan Allah yang besar) bagi mereka adalah malam; Kami tanggalkan siang dari malam itu, Maka dengan serta merta mereka berada dalam kegelapan.

38. dan matahari berjalan ditempat peredarannya. Demikianlah ketetapan yang Maha Perkasa lagi Maha mengetahui.

39. dan telah Kami tetapkan bagi bulan manzilah-manzilah, sehingga (setelah Dia sampai ke manzilah yang terakhir) Kembalilah Dia sebagai bentuk tandan yang tua 40. tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan dan malampun tidak dapat mendahului siang. dan masing-masing beredar pada garis edarnya.

Kata syams dan qomar dalam ayat tersebut tidak mesti diartikan ikhtishos, karena konteksnya lebih menonjolkan keserasian susunan kata.

Kelima ; sangat perlu memperhatikan aspek shorf (morfhologi) yang juga memiliki

implikasi atas penetapan makna; Sebagai contoh;                      

‌:نارمع‌لأ‌ةروس(

1

-3

)

1. Alif laam miim.

2. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya.

(11)

609

3. Dia menurunkan Al kitab (Al Quran) kepadamu dengan sebenarnya; membenarkan kitab yang telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil,

Fadhil Sholeh menjelaskanxi:

نأ

ظفل

لزن

ىضتقي

راركتلا

لجلأ

فيعضتلا

,

لوقت

(

برض

)

اففمخ

نلد

عقو

ونم

كلذ

ةرم

ةدحاو

و

لمتيح

ةديازلا

و

ليليقتلا

بسنأ

و

ىوقأ

.

امأ

اذإ

انلق

برض

ديدشتب

ءارلا

لاف

لاقي

لاإ

نلد

رثك

كلذ

ونم

.

ولوقف

لىاعت

لزن

كيلع

باتكلا

,

يرشي

لىإ

ليصفت

لزنلدا

و

وميجنت

بسبح

يعاودلا

و

ونأ

لم

لزني

ةعفد

ةدحاو

امأ

ظفل

"

لزنأ

"

لاف

يطعي

كلذ

ءاطعإ

لزن

و

نإ

ناك

لامتمح

.

نإف

ةاروتلا

انمإ

اهيتوأ

ىسوم

ويلع

ملاسلا

ةلجم

ةدحاو

في

تقو

دحاو

.

Kata “ لزو“ menunjukkan turunnya Al-Quran secara berangsur-angsur sedangkan kata “لزوأ “ menunjukkan bahwa wahyu Allah berupa Taurot dan Injil diturunkan sekaligus dalam satu waktu. Perbedaan bentuk kata (walau sama artinya yaitu “turun”) memberikan perbedaan makna juga.

Demikian juga contoh dalam ayat berikut:

                          

‌:‌فسوي‌ةروس(

23

)

23. dan wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk menundukkan dirinya (kepadanya) dan Dia menutup pintu-pintu, seraya berkata: "Marilah ke sini." Yusuf berkata: "Aku berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik." Sesungguhnya orang-orang yang zalim tiada akan beruntung.

                                 

‌:‌فسوي‌ةروس(

31

)

31. Maka tatkala wanita itu (Zulaikha) mendengar cercaan mereka,

diundangnyalah wanita-wanita itu dan disediakannya bagi mereka tempat duduk, dan diberikannya kepada masing-masing mereka sebuah pisau (untuk memotong jamuan), kemudian Dia berkata (kepada Yusuf): "Keluarlah (nampakkanlah dirimu) kepada mereka". Maka tatkala wanita-wanita itu melihatnya, mereka kagum kepada (keelokan rupa) nya, dan mereka melukai (jari) tangannya dan berkata: "Maha sempurna Allah, ini bukanlah manusia. Sesungguhnya ini tidak lain hanyalah Malaikat yang mulia."

Ada beberapa kata dalam ayat tersebut di atas yang satu timbangan dengan “ َلَّعَف “ yang arah maknanya adalah banyak dan berulang. Contoh; kata “قَّلغ “ yang dapat dipahami bahwa banyak pintu yang harus ditutup dan melakukannya tidak bisa

(12)

610

sekaligus dalam satu waktu. Demikian juga dengan kata “هعطق “ , menunjukkan bahwa nabi Yusuf AS sangatlah tampan (di luar kebiasaan) sehingga para wanita di istana ketika melihat beliau , tidak hanya memuji akan tetapi sempat hilang kesadaran sehingga mereka melukai tangan mereka dengan pisau (berkali-kali(.

Penutup

Bahasa Arab Al-Quran dihadirkan di tengah masyarakat yang sedang mengagumi dunia bahasa dan sastra. Para penyair di masa jahiliah dianggap sebagai anggota masyarakat kelas atas/elit. Karya-karya sastra mereka dinanti, diminati dan dihapal. Bagi bangsa Arab terutama dari kalangan ahli bahasa dan sastra, suka atau tidak suka , mereka mengakui ketinggian sastra Al-Quran. Kajian bahasa dan sastra Al-Quran ibarat sungai yang tidak pernah berhenti mengalir. Bahasa Arab Al-Quran akan senantiasa dikaji dari berbagai aspek; tata bahasa,morfhologi,balaghoh dan sastranya.

Upaya menggali makna yang terkandung dalam setiap ayat Al-Quran tidaklah cukup berhenti di level tekstual saja. Sebagaimana yang telah dipaparkan sebelumnya, betapa banyak ayat yang secara tekstual bermakna A namun sesungguhnya makna B yang diinginkan atau diniatkan untuk dipahami oleh lawan bicara, ini yang disebut dengan makna yang diperoleh secara kontekstual. Ada dua jenis makna kontekstual yaitu internal dan eksternal. Kontekstual internal atau (

لاقلدا‌ قايس

) diperoleh melalui redaksi atau teks itu sendiri. Sedangkan kontekstual eksternal (

لالحا‌ قايس

) adalah sebuah teks yang tidak berdiri sendiri sehingga harus memahami teks sebelum dan sesudahnya untuk mendapatkan makna yang sesungguhnya.

R E F E R E N S I

(http://hasan-sadili.blogspot.com/2009/10/pengertian-sastra-secara-umum-dan.html)

(http://kbbi.web.id)

Abdul Aly Salim Mukarrom. al-Quranul Karim Wa Atsaruhu Fi ad-Dirosah An-Nahwiyah. Kairo: Darul Maarif

Ali As-Shobuny, Muhammad, Shofwa at-Tafasir “Tafsir al-Quranil Karim-Jami Bainal Ma’tsur wal Ma’qul”, Dar as-Shobuny, Madinat an-Nashr, Kairo, Republik Arab Mesir

Basyuni Abdul Fattah. 1998. Ilmu Ma’ani “Dirosah Balaghiyah wa Naqdiyah Limasai al-Ma’ani. Mesir

Fadhil Sholeh. 2006. Balaghotul Kalimah Fi at-Ta’bir al-Qurani, Kairo: Atik Lishinaatil Kitab

Husein Salamah. 2003. Fi Riyadhil Quran. Kairo: Al-Haiah al-Mishriyah al-Ammah Lil kitab

Jabir Ushfur. 2002. Qiroatun Naqdil Adabi. Kairo: Maktabatul Usroh

Muhammad Ali As-Shobuny. 2016. Tibyan Fi Ulumil Quran. Beirut: al-Maktabah at-Taufiqiyyah

Shihab, M. Quraish, Membumikan AL-Quran, PT Mizan Pustaka, Bandung,2007

Sholahuddin Muhammad Abdu at-Tawwab. 1991. al-Adab al-Islami Fi Ashrihil Awwal. Mesir

Yayasan Penyelenggara Penterjemah Al-Quran, Al-Quran dan Terjemahannya, CV Penerbit Diponegoro, Bandung, 2007

i

(13)

611

ii

. http://hasan-sadili.blogspot.com/2009/10/pengertian-sastra-secara-umum-dan.html iii

. Muhammad Ali As -Shobuny. 2016. at-Tibyan Fi Ulumil Quran. Beirut: al-Maktabah at-Taufiqiyyah. Hlm. 104

iv

. Husein Salamah. 2003. Fi Riyadhil Quran. Kairo: Al-Haiah al-Mishriyah al-Ammah Lil kitab. Hlm 243

v

Sejarah mencatat bahwa ada dua macam Satra periode jahiliah yaitu: رعشلا و رثنلا; syiir adalah pola ungkapan yang diekspresikan oleh penyair berpatokan kepada wazan atau timbangan tertentu. Sedangkan Nitsr adalah pola ungkapan yang diekspresikan oleh seseorang tanpa terikat dengan wazan atau timbangan tertentu.

vi

. Sholahuddin Muhammad Abdu at-Tawwab. 1991. al-Adab al-Islami Fi Ashrihil Awwal. Mesir. Hlm 11

vii

. M. Quraish Shihab. 2007. Membumik an AL-Quran. Bandung: PT Mizan Pustaka. Hlm40

viii

. Basyuni Abdul Fattah. 1998. Ilmu Ma’ani “Dirosah Balaghiyah wa Naqdiyah Limasai al -Ma’ani. Mesir. Hlm163

ix

.AS-shobuny. Hlm. 311

x

. Abdul Aly Salim Mukarrom. al-Quranul Karim Wa Atsaruhu Fi ad-Dirosah An-Nahwiyah. Kairo: Darul Maarif. Hlm 308

xi

Referensi

Dokumen terkait