• Tidak ada hasil yang ditemukan

II. TINJAUAN PUSTAKA. Infra Ordo : Catarrhini Super Famli : Cercopithecoidea : Cercopithecidae

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "II. TINJAUAN PUSTAKA. Infra Ordo : Catarrhini Super Famli : Cercopithecoidea : Cercopithecidae"

Copied!
21
0
0

Teks penuh

(1)

II.1 Ciri- ciri dan Morfologi Macaca fascicularis II.1.1 Klasifikasi dan Morfologi

Monyet ekor panjang (MEP) sering disebut juga long-tailed macaque, crab eating monkey, dan cinomolgus monkey. Nama lokal monyet ekor panjang di berbagai daerah di Indonesia adalah Cigaq (Minangkabau), Karau (Sumatera), Warik (Kalimantan), Warek (Dusun), Bedes (Tengger), Ketek (Jawa), Kunyuk (Sunda), Motak (Madura) dan Belo (Timor) (Suprijatna dan Wahyono 2000). Menurut Lang (2006), taksonomi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) sebagai berikut:

Kelas : Mamalia

Ordo : Primata

Sub Ordo : Anthropoidea Infra Ordo : Catarrhini Super Famli : Cercopithecoidea Famili : Cercopithecidae

Genus : Macaca

Spesies : Macaca fascicularis

Sub Spesies : M. f. atriceps, M. f. aurea, M. f. condorensis, M. f.

fascicularis, M. f. fusca, M. f. karimondjawae, M. f. lasiae, M. f. philipines, M. f. tua, M. f. umbosa.

Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) adalah satwa primata yang menggunakan kaki depan dan belakang dalam berbagai variasi untuk berjalan dan berlari (quandrapedalisme), memiliki ekor yang lebih panjang dari panjang kepala dan badan. Primata ini memiliki bantalan duduk (ischial sallosity) yang melekat pada tulang duduk (ischial) dan memiliki kantong makanan di pipi (cheek pouches). Warna bulu monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) agak kecoklatan sampai abu-abu, pada bagian punggung lebih gelap dibanding dengan bagian perut dan dada, rambut kepalanya pendek tertarik ke belakang dahi, rambut-rambut sekeliling wajahnya berbentuk jambang yang lebat, ekornya tertutup bulu halus (Napier dan Napier 1985).

(2)

Menurut Lekagul dan McNeely (1988), menyatakan bahwa Macaca fascicularis dinamakan monyet ekor panjang karena memiliki ekor panjang, yang berkisar antara 80% hingga 110% dari total panjang kepala dan tubuh. Ukuran tubuh jantan adalah 412 mm hingga 648 mm dengan bobot badan 4,7 kg hingga 8,3 kg. Betina mempunyai panjang 385 mm hingga 503 mm dan bobot badan 2,5 kg hingga 5,7 kg. Ekor berbentuk silindris dan muskular serta ditutupi oleh rambut. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) mempunyai dua warna utama yaitu coklat keabu-abuan dan kemerah-merahan serta memiliki alis dan rambut mahkota yang cukup tinggi. Menurut Suprijatna dan Wahyono (2000), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) memiliki panjang tubuh berkisar antara 385 mm hingga 668 mm. Bobot tubuh jantan dewasa berkisar antara 3,5 kg hingga 8,0 kg, sedangkan bobot tubuh rata-rata betina 3 kg. Smith dan Mangkoewidjojo (1988), menyatakan bahwa monyet jantan dewasa mempunyai bobot badan berkisar antara 5,5 kg hingga 10,9 kg dan betina antara 4,3 kg hingga 10,6 kg.

II.1.2 Pemanfaatan dan Habitat M. fascicularis

Satwa primata adalah salah satu sumber daya alam yang memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Hal ini disebabkan karena secara anatomis dan fisiologis satwa primata memiliki kemiripan dengan manusia dibandingkan dengan hewan model lainnya (Sajuthi 1984). Non-Human Primata (monyet, Macaca fascicularis) secara filogenik dan fisiologis memiliki kemiripan dengan manusia dan sangat cocok digunakan dalam penelitian biomedis (Sibal dan Samson 2001). Monyet ekor panjang memiliki ukuran yang besar dan jangka waktu hidupnya lebih lama dibandingkan hewan model lainnya memungkinkan pengambilan sampel untuk waktu yang lama (Wagner et al. 1996).

Menurut Smith dan Mangkoewidjojo (1988), jenis satwa primata yang sangat sering digunakan dalam penelitian adalah monyet asia, terutama monyet rhesus (Macaca mulata) dan monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Bennett et al. (1995), menyatakan bahwa nilai ilmiah satwa primata untuk penelitian biomedis diperoleh dari persamaan ciri anatomi dan fisiologis karena kedekatan hubungan filogenetik dan perbedaan evolusi yang pendek. Menurut Sulaksono (2002), menyatakan bahwa variasi nilai rujukan parameter faal Macaca

(3)

fascicularis menurut sentra hewan dan jenis kelamin, masih dalam batas yang dapat ditolerir untuk hewan percobaan yang dipelihara dengan kondisi pemeliharaan konvensional, sehingga dengan demikian para peneliti Indonesia yang menggunakan kera sebagai model penelitiannya dapat menggunakan nilai rujukan tersebut sebagai salah satu referensinya

Pemeliharaan monyet sebagai hewan penelitian harus memenuhi persyaratan yang telah diatur oleh sebuah komisi kesejahteraan hewan. Menurut Moss (1992), kesejahteraan dalam arti luas yaitu menyangkut masalah fisik atau mental dari hewan dan dapat bertingkah laku sesuai dengan kebiasaannya di alam bebas. Komisi kesejahteraan memperhitungkan keselamatan hewan, orang disekitarnya dan kemungkinan terjadi kecelakaan kerja. Komisi tersebut memutuskan yang terbaik bagi hewan yaitu mendapat cukup kebebasan dalam bergerak tanpa kesulitan berputar, merawat diri, berdiri, berbaring dan merengangkan badan. Komisi ini juga mempertimbangkan keadaan pakan yang diberikan. Hewan harus terbebas dari rasa lapar dan haus.

Kandang monyet harus dipertimbangkan sesuai keperluan tingkah laku, emosi, dan sosial. Monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) tidak boleh dikandangkan sendirian dan terpencil, karena akan menimbulkan suatu bentuk cekaman yang mengganggu proses tingkah laku dan fisiologi normal. Satwa primata harus dikandangkan di ruang atau daerah sejauh mungkin dari kandang hewan lain. Syarat ini untuk mengurangi resiko penularan penyakit dan keamanan dalam memelihara (Smith dan Mangkoewidjojo 1988). Menurut Sajuthi (1984), kandang monyet harus dibuat dengan konstruksi yang kuat, untuk mencegah terjadinya kerusakan yang disebabkan dari monyet itu sendiri. Jenis kandang kelompok yang terbuat dari ram kawat perlu dilengkapi tempat peristirahatan yang agak tinggi dan bentuknya harus memadai. Kandang individu harus dilengkapi dinding belakang geser (kandang jepit), sehingga monyet dapat didorong ke bagian depan kandang.

Pada umumnya, habitat asli Macaca fascicularis selalu berada disepanjang lembah yang berbatasan dengan air, baik di daratan terbuka maupun pinggiran sungai ataupun hutan, sehingga monyet ekor panjang ini dapat menyesuaikan diri pada semua peringkat ekologi (Ecologically diverse). Monyet ekor panjang aktif

(4)

secara teratur dari matahari terbit hingga tenggelam lagi, hidupnya berkelompok dengan jumlah kelompok sekitar 20 – 50 ekor dan selalu berpindah-pindah mengikuti ketersediaan pakan. Sesuai habitat aslinya diatas tadi, kemungkinan suhu yang cukup baik bagi kehidupan Macaca fascicularis berkisar diantara 25 -27°C.

Habitat monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) tersebar mulai dari hutan hujan tropika, hutan musim sampai hutan rawa-mangrove, dan juga di hutan iklim sedang (Cina dan Jepang). Habitat dan penyebarannya ditentukan oleh beberapa hal yang dibutuhkan untuk bertahan hidup yaitu sumber makanan, sungai atau mata air, dan pohon untuk tidur dan beristirahat. Keterbatasan sumber makanan dan minuman menyebabkan kemungkinan adanya daerah tertentu yang merupakan daerah jelajah dari dua kelompok atau lebih. Perkelahian kelompok sering terjadi untuk memperebutkan wilayah jelajah tersebut (Napier dan Napier 1985). Menurut Suprijatna dan Wahyono (2000), menyatakan bahwa monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) hidup pada habitat hutan primer dan sekunder mulai dari dataran rendah sampai dataran tinggi sekitar 1.000 m di atas permukaan laut.

II. 2. Parameter Fisiologis Monyet Ekor Panjang II.2.1 Tingkah Laku Macaca fascicularis

Tingkah laku dapat diartikan sebagai ekspresi hewan yang disebabkan oleh berbagai faktor, baik dari dalam tubuh maupun dari luar tubuh. Tingkah laku sebagai ekspresi suatu hewan dapat disebabkan oleh faktor yang mempengaruhinya antara lain faktor eksogenus, endogenus, pengalaman dan fisiologis (Suratmo 1979 diacu dalam Sari 2004). Tingkah laku tersebut perlu diamati agar dapat diketahui reaksi hewan atas suatu perubahan atau tekanan dari lingkungan (Bennet et al. 1995).

Aktivitas tingkah laku hewan di alam dan di kandang akan berbeda. Di kandang pola tersebut akan memunculkan tingkah laku abnormal dari hewan seperti melukai diri sendiri maupun hiperagresif dan pola ini sangat berkaitan erat dengan ukuran dari kandang yang digunakan, dalam ukuran kandang yang lebih kecil, dan lebih tinggi akan ditemukan tingkah laku abnormal dibandingkan

(5)

dengan kandang yang memiliki ukuran yang lebih kompleks (Kitchen dan Martin 1996). Röder dan Timmermans (2002) menyatakan bahwa untuk mereduksi tingkah laku abnormal maka perlu pengkayaan laboratorium meliputi kondisi sosial, ketentuan kandang, dan tehnik penyajian makanan. Pijoh (2006) menyatakan bahwa mengklasifikan aktivitas harian monyet di alam sebagai berikut:

1. Makan: aktivitas yang meliputi proses pengumpulan pakan sampai mengunyah dan dilakukan pada pohon yang sama.

2. Mencari makan: aktivitas yang meliputi pergerakan di antara sumber makanan, biasanya di antara pohon.

3. Istirahat: tidak melakukan aktivitas apapun hanya diam atau tiduran. 4. Berkelahi: aktivitas ini ditandai dengan ancaman mimik muka atau

gerakan badan, menyerang, memburu dan baku hantam.

5. Merawat diri: aktivitas mencari kotoran dari tubuh sendiri maupun dari tubuh individu lain yang sejenis.

6. Kawin: hubungan seksual yang dimulai dari pengejaran terhadap betina dan diakhiri dengan turunnya pejantan dari betina setelah kopulasi.

7. Bermain: aktivitas bermain antar individu, terutama anak monyet.

Orang yang memberi perlakuan menatap lama terhadap seekor monyet akan merasa terancam karena merasa orang tersebut akan menyerangnya sehingga monyet akan memberikan respon dengan cara balas menatap dengan mulut terbuka dan dengkuran, kemudian menyerang sambil berteriak, memukul dan menggigit, atau kemungkinan lainnya mereka menunjukkan reaksi patuh dengan tidak melihat, menghindar, atau meringis ketakutan (Pijoh 2006).

Fuentes dan Gamerl (2005) menyatakan bahwa perilaku agresif dikelompokkan menjadi empat, yaitu: 1) dalam bentuk mengancam ringan/menyeringai; 2) mendekati/mengejar tanpa kontak fisik; 3) bentuk ancaman yang meyebabkan posisi individu lain berpindah karena takut; dan 4) kontak fisik termasuk menggigit. Monyet ekor panjang pada penelitian ini dapat dikatakan dalam keadaan nyaman atau pun tidak merasa terancam akan kehadiran responden atau pun MEP sudah beradaptasi dengan lingkungan disekitarnya.

(6)

Honess et al. (2004) yang melakukan studi mengenai respon tingkah laku Macaca fascicularis pada transportasi melalui udara dan rehoushing. Hasil penelitian dari tiga fase pengamatan menunjukkan bahwa tingkah laku yang paling dominan ditunjukkan yakni tingkah laku eksplorasi dan affiliatif (meliputi: presenting, allogroming, bermain dengan air dan di tempat duduk, bermain dengan mainan, manipulasi kandang/lingkungan), perawatan diri sendiri (meliputi: self groming, minum dan makan), dan tingkah laku lainnya (meliputi: memperhatikan hewan lainnya, urinasi, defekasi, bersin, memperhatikan sekitarnya, vokalisasi, dan bersembunyi.

Habib et al. (2000) bahwa poros kelenjar hipotalamus-adrenal dan sistem saraf simpatis memegang peranan dalam mengaktifkan pengaturan metabolisme dan kardiovaskular. Kelenjar ini pada waktu yang sama berperan mengatur fungsi neurovegetatif saat terjadi penurunan kemampuan bertahan hidup pada situasi yang terancam, mekanisme endokrin untuk pertumbuhan dan reproduksi termasuk penggunaan energi untuk menghindari keadaan yang membahayakan. Beberapa substrat neuroanatomik dan sistem hormonal memberikan kontribusi yang lebih besar pada tingkah laku, neuroendokrin, autonomik, dan respon stress.

Habib et al. (2000) melihat peranan sistem hormonal dalam hubungannya dengan tingkah laku stres khususnya efek dari pemberian antalarmin untuk menghambat Corticotropin Releasing Hormon (CRH) tipe 1 dalam hubungannya dengan tingkah laku, neuroendokrin dan komponen autonomi pada respon stres dari monyet rhesus (Macaca mulatta). Hasil yang diperoleh bahwa dengan pemberian antalarmin secara nyata menghambat tingkah laku yang berhubungan dengan kecemasan dan rasa takut seperti menggigil, menyeringai, gigi berdecak, urinasi, dan defekasi terutama pada situasi dengan tingkat stres yang tinggi, meningkatkan eksplorasi dan tingkah laku seksual dibandingkan tekanan stres secara normal. Habib et al (2000) menyimpulkan bahwa CRH memiliki peranan yang besar pada respon fisiologis terutama cekaman psikologis pada primate serta menghambat peran reseptor CRH tipe-1 yang memiliki nilai terupatik pada psikologi, reproduksi dan kardiovaskuler pada manusia yang berhubungan dengan sistem hiperaktivitas dari CRH yang tidak teratur.

(7)

Tingkah laku dari hewan juga sangat dipengaruhi oleh makanan, sebagaimana Kaplan et al. (1994) melakukan penelitian untuk melihat hubungan antara makanan berkolesterol, aktivitas pusat serotogenik, dan tingkah laku sosial pada monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) remaja. Hasil yang diperoleh bahwa hewan yang mengkonsumsi makanan rendah kolesterol lebih aggresif, kurang affiliatif dan mempunyai konsentrasi cairan cerebrospinal yang rendah dibandingkan dengan yang mengkonsumsi makanan kolesterol tinggi dengan perbedaan nyata. Penelitian yang serupa dengan menggunakan spesies yang berbeda menunjukkan hasil yang tidak berbeda pula.

Pada penelitian Zakariah (2010) bahwa intervensi nikotin 0,75 mg/kg bobot badan/12 jam menyebabkan monyet ekor panjang lebih aktif. Hal ini dapat dilihat dari peningkatan frekuensi (jumlah dan persentase) makan, minum, grooming, agonistik, lokomosi, kontak, serta peningkatan waktu tingkah laku menatap. Bobot badan mempunyai hubungan yang sangat erat dengan frekuensi tingkah laku minum, akan tetapi mempunyai hubungan yang sangat erat negatif dengan limfosit. Frekuensi tingkah laku makan mempunyai hubungan erat positif dengan frekuensi tingkah laku minum dan hubungan erat negatif dengan frekuensi urinasi. Tingkah laku grooming monyet ekor panjang juga menunjukkan adanya hubungan dengan konsumsi bahan kering dan energi.

II.2.2 Pakan

Pada umumnya pengertian pakan (feed) digunakan untuk hewan, sedangkan pengertian pangan (food) digunakan untuk manusia. Bahan pakan adalah segala bahan yang dapat dimakan, disukai, dapat dicerna sebagian atau seluruhnya, bermanfaat serta tidak berbahaya atau mengganggu kesehatan ternak (Tillman et al. 1998). Bahan makanan sekurang-kurangnya mempunyai tiga fungsi/peran, yaitu peran sosial, peran psikologis, dan peran fisiologis. Zat makanan atau zat nutrisi adalah zat-zat gizi di dalam bahan pakan yang sangat diperlukan untuk hidup ternak meliputi protein, karbohidrat, lemak, mineral, vitamin dan air (Tillman et al. 1998). Zat-zat pakan dalam ransum hendaknya tersedia dalam jumlah yang cukup dan seimbang sebab keseimbangan zat-zat pakan ini sangat berpengaruh terhadap daya cerna (Tillman et al. 1998).

(8)

Beberapa faktor yang mempengaruhi kebutuhan zat gizi ternak dapat dikelompokkan sebagai berikut:

1. Tingkat Produksi 2. Umur ternak

3. Ukuran tubuh serta kondisinya 4. Kemampuan menghasilkan susu 5. Kondisi iklim

6. Lama masa kebuntingan

Sesuai dengan komposisi kimia utama tubuh, maka suatu bahan yang akan digunakan sebagai bahan pakan memiliki salah satu atau seluruh fraksi seperti karbohidrat, lemak, protein, vitamin, mineral, dan air (Tillman et al. 1998).

a. Karbohidrat

Karbohidrat atau sakarida adalah segolongan besar senyawa organik yang tersusun hanya dari atom karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O). Bentuk molekul karbohdrat paling sederhana terdiri dari satu molekul gula sederhana. Banyak karbohidrat yang merupakan polimer yang tersusun dari molekul gula yang terangkai menjadi rantai yang panjang serta bercabang-cabang (Tillman et al. 1998). Karbohidrat menyediakan kebutuhan dasar yang diperlukan tubuh. Glukosa, karbohidrat yang paling sederhana mengalir dalam aliran darah sehingga tersedia bagi seluruh sel tubuh. Sel-sel tubuh tersebut menyerap glukosa dan mengubahnya menjadi tenaga untuk menjalankan sel-sel tubuh (Tillman et al. 1998).

Karbohidrat merupakan unsur nutrisi yang sebagian besar (50 - 80%) mengisi konsentrasi bahan kering tanaman makanan ternak. Strukturnya terdiri dari selulose, hemiselulose, dan lignin. Di dalam tubuh ternak ruminansia, karbohidrat dicerna dengan bantuan enzim yang diproduksi oleh bakteri (Tillman et al. 1998). Fungsi utama karbohidrat sebagai bahan bakar utama untuk oksidasi dan menyediakan energi untuk proses metabolisme. Karbohidrat yang masuk ke dalam tubuh lebih banyak daripada yang digunakan untuk menyediakan energi, maka kelebihannya dengan segera akan disimpan dalam bentuk glikogen yang disimpan dalam hati dan otot. Namun, apabila masih terdapat kelebihan

(9)

karbohidrat, maka akan diubah menjadi trigliserida dan kemudian disimpan di dalam jaringan adipose (Guyton and Hall 1993).

b. Lemak

Lemak dalam tubuh ternak berfungsi sebagai penghasil asam-asam lemak dan energi. Unsur nutrisi ini dicerna menjadi asam-asam lemak dan gliserol yang kemudian sebagian akan dirubah menjadi energi (Tillman et al. 1998). Di dalam tubuh, lemak berfungsi sebagai sumber energi yang efisien ketika disimpan dalam jaringan adipose. Sejumlah kecil lemak dapat dicerna di dalam lambung di bawah pengaruh lipase lambung. Sebagian besar lemak dicerna di dalam usus halus yang dipengaruhi oleh lipase pancreas. Tahap awal pencernaan lemak adalah emulsifikasi lemak oleh asam empedu. Lemak yang teremulsi tersebut akan dipecah menjadi asam lemak (trigliserida dan fosfolipid), gliserol, dan gliserida (Guyton and Hall 1993).

c. Protein

Protein merupakan unsur nutrisi yang sangat dibutuhkan oleh ternak dalam jumlah relatif lebih besar, terutama ternak yang sedang dalam masa pertumbuhan, bunting dan menyusui. Kekurangan unsur nutrisi protein pada ternak cenderung mengalami hal-hal sebagai berikut : pertumbuhan terhambat, konversi pakan tinggi, pengurasan nitrogen tubuh, berat lahir rendah, produktivitas turun, dan fertilitas rendah (Tillman et al. 1998). Tubuh memerlukan protein untuk memperbaiki atau mengganti sel tubuh yang rusak serta untuk produksi. Protein dapat diubah menjadi energi jika dibutuhkan oleh tubuh. Protein dapat diperoleh dari bahan-bahan pakan yang berasal dari tumbuh-tumbuhan dan biji-bijian (Sugeng 1998).

d. Vitamin dan Mineral

Vitamin ialah senyawa organik yang dibutuhkan tubuh dalam jumlah sedikit. Berbeda dengan mineral, vitamin terdapat dalam tubuh bukan sebagai struktur dari senyawa lain serta sebagian besar vitamin mempunyai fungsi sebagai Ko-enzim (Tillman et al. 1998). Mineral berfungsi sebagai bahan pembentuk tulang dan gigi yang menyebabkan adanya jaringan yang keras dan kuat, memelihara keseimbangan asam basa dalam tubuh, sebagai aktivator sistem enzim tertentu, dan sebagai komponen dari suatu sistem enzim (Tillman et al. 1998).

(10)

Mineral harus disediakan dalam perbandingan yang tepat dan dalam jumlah yang cukup, karena apabila terlalu banyak mineral akan membahayakan tubuh (Anggorodi 1994).

e. Air

Air merupakan unsur nutrisi terpenting dan mutlak dibutuhkan oleh makhluk hidup. Unsur air mengisi sel-sel tubuh dengan konsentrasi antara 70% hingga 80%. Peran penting unsur nutrisi air adalah : sebagai bahan pelarut, sebagai media transportasi masuknya unsur-unsur lain kedalam tubuh dan pengeluarannya dari sel-sel tubuh, sebagai media transportasi sisa-sisa metabolisme, sebagai pengatur temperatur (Tillman et al. 1998).

Zat nutrisi yang perlu diperhatikan adalah bahan kering (BK), serat kasar, dan energi. Unsur-unsur ini dapat diketahui melalui proses analisa terhadap bahan pakan yang dilakukan di laboratorium.

a. Bahan Kering (BK)

Bahan kering adalah berat konstan bahan makanan setelah dihilangkan kandungan airnya dengan pemanasan 105°C. Konsumsi bahan kering menurut Lubis (1992), dipengaruhi oleh beberapa hal diantaranya: 1) faktor pakan, meliputi daya cerna dan palatabilitas, dan 2) faktor yang meliputi bangsa, jenis kelamin, umur, dan kondisi kesehatan ternak. Fungsi bahan kering pakan antara lain sebagai pengisi lambung, perangsang dinding saluran pencernaan, dan menguatkan pembentukan enzim. Kemampuan ternak untuk mengkonsumsi bahan kering berhubungan erat dengan kapasitas fisik lambung dan saluran pencernaan secara keseluruhan (Parakkasi 1999).

b. Serat Kasar

Serat kasar merupakan bahan makanan yang terdiri dari selulosa, hemiselulosa dan lignin. Fungsi utama serat kasar ada tiga yaitu, sebagai pengisi lambung, menjaga fungsi peristaltik usus dan merangsang salivasi. Hasil fermentasi komponen serat kasar adalah berupa VFA (Volatyl Fatty Acids) rantai pendek yaitu asam asetat yang berfungsi sebagai bakalan lemak susu. Oleh karena itu imbangan antara hijauan dan konsentrat dalam pakan akan berpengaruh juga terhadap kadar lemak susu (Tillman et al. 1998).

(11)

c. Energi

Energi merupakan sumber tenaga bagi semua proses hidup dan produksi. Energi diperoleh dari proses oksidasi karbohidrat, lemak, protein. Untuk penggemukan lebih disukai ransum dengan kandungan konsentrat yang lebih tinggi karena akan lebih mengarah pada pembentukan asam propionat sehingga lebih mengarah dalam pembentukan daging (Tillman et al. 1998). Kekurangan energi dapat mengakibatkan terhambatnya pertambahan bobot badan, penurunan bobot badan, dan berkurangnya semua fungsi produksi dan terjadi kematian bila berlangsung lama (Tillman et al. 1998).

Menurut McDonald et al. (2002), pakan sumber energi adalah semua bahan pakan ternak yang kandungan protein kasarnya kurang dari 20%, dengan konsentrasi serat kasar di bawah 18%. Berdasarkan jenisnya, bahan pakan sumber energi dibedakan menjadi empat kelompok yaitu kelompok serealia atau biji-bijian (jagung, gandum, sorgum), kelompok hasil sampingan serealia (limbah penggilingan), kelompok umbi (ketela rambat, ketela pohon dan hasil sampingannya) dan kelompok hijauan yang terdiri dari beberapa macam rumput (rumput gajah, rumput benggala dan rumput setaria).

Ransum berupa campuran beberapa jenis bahan pakan yang diberikan kepada hewan untuk sehari semalam untuk memenuhi kebutuhan nutrisi bagi tubuhnya. Hewan mengkonsumsi pakan bertujuan untuk mendapatkan zat-zat makanan yang berguna dalam berbagai proses dan fungsi dalam tubuhnya, seperti kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan dan reproduksi. Monyet akan menghentikan konsumsinya apabila kebutuhan energinya sudah terpenuhi (Ensminger et al. 1990).

Menurut Napier dan Napier (1985), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) termasuk hewan omnivora atau pemakan segala macam makanan. Jenis makanan yang dimakan oleh monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) antara lain buah-buahan, akar-akaran, daun-daunan, serangga, hasil pertanian dan molusca. Wheatley et al. (1996) menyatakan adanya perluasan lahan pertanian dan populasi manusia yang terus meningkat juga menyebabkan penurunan luas daerah yang dikuasai oleh monyet. Smith dan Mangkoewidjojo (1988), menyatakan bahwa dalam keadaan liar yang disebabkan karena terjadinya

(12)

kerusakan habitat asli dari tempat persediaan makanannya, monyet akan mencari berbagai makanan seperti buah-buahan, akar, daun muda, serangga, tempayah, biji-bijian, keong, bangsa udang, telur burung dan juga menyerang ladang/kebun petani.

Inglis (1980) menyatakan, bahwa kandungan zat makanan monyet terdiri 45-55% karbohidrat, 15-20% protein kasar, 3-5% lemak kasar, 2,5-5,5% serat kasar, 0,86% kalsium dan 0,47 fosfor. Makanan yang diberikan setiap hari sejumlah 4% dari bobot badan satwa (Sajuthi 1984). Kebutuhan nutrisi bagi monyet ekor panjang dewasa dapat dilihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Kebutuhan nutrisi monyet ekor panjang (MEP) dewasa

Zat makanan Kadar

Protein kasar (%) 8,00

Serat Kasar (%) 2,00-8,00

Lemak (%) 5,00-9,00

Essential n-3 fatty acids (%) 0,50

Essential n-6 fatty acids (%) 2,00

Ca (%) 0,55 P (%) 0,33 Mg (%) 0,04 Fe (mg·kg-1) 100,00 Mn (mg·kg-1) 44,00 Cu (mg·kg-1) 15,00 Vitamin A (IU·kg-1) 10.000,00-15.000,00 Vitamin D (IU·kg-1) 2.000,00-9.000,00 Vitamin K (IU·kg-1) 68,00 Thiamin (mg·kg-1) 15,00-30,00 Riboflavin (mg·kg-1) 25,00-30,00 Asam pantotenik (mg·kg-1) 20,00 Niasin (mg·kg-1) 50,00-110,00 Vitamin B6 (mg·kg-1) 4,40 Biotin (mg·kg-1) 100,00 Folasin (mg·kg-1) 1,50 Vitamin B12 (mg·kg 1) 0,01 Vitamin C (mg·kg-1) 1,00-25,00 Energi (Kal/kg/hari) 0,72-1,20

Sumber : National Research Council, 2003

Iwamoto (1980) menyatakan bahwa komposisi nutrisi pakan alami monyet pada umumnya terdiri atas daun-daunan yang banyak mengandung selulosa

(13)

struktural dan buah-buahan serta biji-bijian yang banyak mengandung lipida. Pakan yang dibuat pada umumnya memiliki kandungan sedikit serat kasar, karbohidrat yang mudah tersedia (seperti ubi jalar, apel, gandum dan padi), protein kasar (seperti kacang kedelai) atau lipid (seperti kacang tanah). Ketiga zat makanan tersebut proporsinya dalam ransum cukup tinggi dan mudah untuk dicerna di dalam tubuh.

North (1984) menyatakan bahwa jumlah ransum yang dikonsumsi tergantung pada bobot badan, galur, tingkat produksi, tingkat cekaman, aktivitas, mortalitas, kandungan energi dalam ransum dan suhu lingkungan. Wiseman dan Cole (1990) menyatakan bahwa konsumsi ransum dipengaruhi oleh palatabilitas ransum yang tergantung pada cita rasa (flavour), suhu, ukuran, tekstur dan konsistensi pakan. Mustaqimatin (1998) menyatakan ransum dengan bahan baku lokal kurang disukai oleh monyet dibanding dengan ransum impor karena ada kecenderungan untuk mengkonsumsi pakan yang sudah terbiasa diberikan kepada monyet. Astuti et al. (2007) menyatakan dengan pembiasaan pakan terlebih dahulu, konsumsi pakan lokal akan lebih tinggi daripada pakan impor (monkey chow). Monyet-monyet yang diberi ransum buatan tingkat konsumsi pakannya lebih rendah daripada yang diberi ransum alami. Hal ini diduga karena adanya serat kasar yang rendah atau kandungan energi yang tinggi pada ransum buatan (Iwamoto 1988). Mustaqimatin (1998) juga menyatakan bahwa ransum yang mempunyai kandungan protein dan energi tinggi mempunyai tingkat konsumsi yang rendah.

II.2.3 Kecernaan Pakan

Kecernaan merupakan banyaknya zat-zat makanan yang terdapat dalam makanan yang dapat dicerna dan diabsorbsi untuk metabolisme tubuh melalui proses perubahan fisik dan kimia yang dialami bahan makanan dalam alat pencernaan. Perubahan tersebut dapat berupa penghalusan makan menjadi butir-butir atau partikel kecil atau penguraian molekul besar menjadi molekul kecil (Linder 2006). Wahyu (1992) menyatakan bahwa kecernaan adalah banyaknya zat pakan yang dapat dicerna di dalam alat pencernaan makanan. Bayutriana (1995) menyatakan bahwa pada dasarnya pengukuran daya cerna adalah suatu usaha

(14)

untuk menentukan jumlah zat makanan dari bahan makanan yang diserap dalam saluran pencernaan (tractus gastrointestinalis). Peningkatan konsumsi pakan biasanya menaikkan kecepatan aliran pakan di saluran pencernaan. Selain itu kondisi biologis hewan yang berbeda-beda juga akan mempengaruhi kecernaan pakan dan zat makanan (Arora 1989).

Ada tiga faktor yang mempengaruhi kecernaan yaitu faktor mikroba, faktor ternak dan faktor pakan (Wahyu 1992). Menurut Anggorodi (1995) ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi daya cerna pakan yaitu suhu, laju perjalanan makanan melalui alat pencernaan, bentuk fisik bahan makanan dan komposisi zat-zat yang terkandung dalam bahan makanan. Kecernaan zat-zat makanan juga dipengaruhi oleh komposisi makanan, kondisi hewan, dan faktor pemberian makanan (McDonal et al. 2002). Komposisi kimia pakan terutama kadar protein kasar dan serat kasar dapat mempengaruhi daya cerna. Serat kasar yang tinggi dalam pakan akan berpengaruh pada zat makanan lain sebab bagian serat kasar yang tidak dapat tercerna akan menghalangi enzim dalam mencerna makanan (McDonal et al. 2002).

Kecernaan bahan kering merupakan indikator kualitas bahan makanan. Kecernaan bahan makanan yang tinggi menunjukkan sebagian besar dari zat-zat makanan yang terkandung di dalamnya dapat dimanfaatkan oleh hewan. Kecernaan bahan organik juga dipengaruhi oleh perlakuan terhadap bahan pakan, semakin kecil bentuk bahan pakan maka laju dalam proses pencernaan samakin cepat akibatnya kecernaan rendah (Sobri 2006).

Konsumsi yang rendah akan mengurangi tingkat kecernaan, semakin banyak serat kasar yang terdapat dalam suatu bahan makanan atau semakin tebal dan semakin tahan dinding selnya mengakibatkan semakin rendah kecernaan bahan makanan tersebut (Parakkasi 1999). Lebih lanjut Anggorodi (1995) menyatakan bahwa tingkat energi dalam bahan makanan akan mempengaruhi banyaknya makanan yang dikonsumsi. Tingkat konsumsi merupakan jumlah makanan yang terkonsumsi oleh hewan bila makanan tersebut diberikan ad libitum yang dipengaruhi oleh faktor hewan itu sendiri, makanan yang diberikan dan lingkungan sekitarnya (Parakkasi 1999).

(15)

Kecernaan suatu pakan dapat diketahui dengan mengetahui jumlah nutrien yang terdapat di dalam pakan dan jumlah nutrien yang dicerna. Jumlah nutrien yang di dalam pakan dapat diketahui dengan analisa kimia, sedangkan jumlah nutrien yang dicerna dapat diketahui apabila pakan telah mengalami proses pencernaan. Analisa secara biologis yang kemudian diikuti dengan analisa kimia untuk mengetahui nutrien yang terdapat di dalam feses. Setelah diketahuinya jumlah nutrien di dalam pakan dan feses maka dapat diketahui jumlah nutrien tercerna dari pakan tersebut (Kamal 1994). Dengan demikian syarat mutlak pengukuran kecernaan adalah feses harus terpisah dengan urin dan bahan-bahan tidak terkontaminasi dengan bahan lain yang akan menyebabkan tejadinya kesalahan dalam pengukuran.

Tabel 2. Rataan kecernaan pakan monyet ekor panjang (Suprayogi et al. 2009) Kecernaan Pakan 25oC dan 80% rel.

Asupan pakan (gram) 187,31 ± 23,87

Bahan kering (%) 78,79 ± 0,92 Serat kasar (%) 5,82 ± 0,56 Protein (%) 11,65 ± 0,59 Lemak (%) 1,96 ± 0,05 Abu (%) 1,31 ± 0,56 Energi (kkal/gram) 484,78 ± 45,39

Selisih antara zat-zat makanan yang terkandung dalam bahan pakan yang dimakan dan zat-zat makanan dalam feses adalah jumlah yang tertinggal dalam tubuh hewan atau jumlah dari zat-zat makanan yang dicerna dapat pula disebut koefisien cerna (Tillman et al. 1991). Untuk menghitung kecernaan/koefisien cerna diperlukan data jumlah pakan yang dikonsumsi, jumlah feses yang dikeluarkan, kandungan zat nutrisi pakan dan kandungan zat nutrisi feses (metode koleksi total), jumlah dan kadar indikator yang digunakan sebagai perunut (metode indikator). Kecernaan pakan diketahui dari hasil analisa proksimat yang diperoleh dari Lab. Analisa Pakan.

Konsumsi ransum/pakan harian (g/hr) merupakan jumlah konsumsi ransum dalam sehari yang diperoleh dengan cara:

(16)

Kecernaan bahan kering dan bahan kering organik (proten kasar, lemak kasar, serat kasar, abu, dan energi), kecernaannya dihitung dengan rumus:

         x100 (g) dikonsumsi yang pakan zat Σ (g) feses dalam pakan zat Σ (g) dikonsumsi yang pakan zat Σ Kecernaan

II.3 Fisiologi Adaptasi Primata II.3.1 Mikroklimat Suhu dan Kelembaban

Suhu merupakan derajat panas atau dingin yang diukur berdasarkan skala tertentu dengan menggunakan berbagai tipe Thermometer (Syarif 1990). Suhu udara berbeda-beda dari tempat ke tempat dari waktu ke waktu. Perbedaan suhu ini disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu jumlah radiasi yang diterima per hari, per musim, dan per tahun, pengaruh daratan dan lautan, pengaruh aspek kemiringan, pengaruh altitude (letak daerah), pengaruh panas laten, dan pengaruh angin. Suhu tubuh makhluk hidup merupakan suhu dalam atau suhu inti di bagian dalam makhluk hidup tersebut. Suhu tubuh normal Macaca fascicularis berada pada kisaran 37°C sampau dengan 40°C (Chantalakhana and Skunmun 2002). Nilai ini cukup serupa jika dibandingkan dengan suhu tubuh normal manusia yang berkisar antara 36°C sampai dengan 37,5°C. Sementara itu, kelembaban merupakan angka perbandingan uap air yang ada di udara dengan jumlah maksimum uap air yang dikandung pada suhu dan tekanan tertentu (Syarif 1990). Kelembaban dapat berubah sesuai tempat dan waktu. Saat siang hari kelembaban berangsur-angsur turun kemudian meningkat pada sore hari hingga menjelang pagi hari. Kelembaban berkaitan dengan suhu, semakin rendah suhu umumnya meningkatkan nilai kelembaban. Kelembaban dapat mempengaruhi kecepatan hilangnya panas dari tubuh hewan melalui kulit dan saluran pernafasan (Chantalakhana and Skunmun 2002).

Suhu tubuh merupakan suhu yang berada di bagian dalam tubuh yang disebut juga suhu inti. Kondisi suhu jenis ini relatif bersifat stabil, kecuali jika terjadi gangguan seperti demam. Suhu tubuh bukan suhu permukaan yang mengacu pada suhu kulit atau jaringan bawah kulit, sehingga suhu permukaan ini sering mengalami kenaikan dan penurunan sesuai dengan suhu lingkungan (Guyton and Hall 2008). Lebih lanjut Guyton and Hall (2008), kulit merupakan

(17)

sistem pengatur radiator panas yang efektif dan aliran darah ke kulit merupakan mekanisme penyebaran panas yang paling efektif dari inti tubuh ke kulit. Suhu tubuh dapat menjadi sedikit bervariasi pada kerja fisik dan pada suhu lingkungan yang ekstrim.

II.3.2 Pengaruh Mikroklimat Lingkungan Terhadap Kondisi Fisiologis

Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kondisi fisiologis diantaranya adalah kecepatan metabolisme basal, rangsangan saraf simpatis, hormon pertumbuhan, hormon tiroid, hormon kelamin, demam (peradangan), status gizi, aktivitas, gangguan organ, dan lingkungan. Lingkungan sangat berpengaruh terhadap perubahan kondisi fisiologis terutama suhu tubuh. Suhu tubuh dapat mengalami pertukaran dengan lingkungan, artinya suhu tubuh dapat berkurang atau hilang akibat lingkungan yang lebih dingin dan begitu juga sebaliknya (Guyton and Hall 2008). Perpindahan suhu tubuh dengan lingkungan terjadi sebagian besar melalui kulit sehingga dapat dikatakan sebagai radiator panas yang efektif untuk keseimbangan suhu tubuh. Proses kehilangan panas melalui kulit dikarenakan panas yang diedarkan melalui pembuluh darah dan dialirkan langsung ke plexus arteri kecil melalui anastomosis arteriovenosa yang mengandung banyak otot. Kecepatan aliran pada plexus arteriovenosa yang cukup tinggi (sekitar 30% total curah jantung) dapat menyebabkan konduksi panas dari inti tubuh ke kulit menjadi sangat efisien (Frandson 1986).

Mekanisme pengaturan suhu tubuh pada kondisi panas berlangsung dengan cara kelenjar keringat yang berada di bawah kulit mengeluarkan keringat yang dikirimkan ke saluran keringat melalui pori keringat menuju permukaan kulit. Hal ini mengakibatkan kehilangan panas tubuh secara evaporatif dan kehilangan banyak kandungan air yang bersifat penting (Guyton and Hall 2008). Kondisi rambut-rambut yang berbaring pada permukaan kulit merupakan suatu upaya untuk mencegah panas lingkungan terperangkap di antara rambut. Posisi rambut yang datar dapat menghambat masuknya panas lingkungan pada saat yang sama dengan terjadinya peningkatan kehilangan panas kulit melalui mekanisme konveksi. Selain itu, terjadi juga mekanisme vasodilatasi arteriol yaitu terjadi relaksasi otot polos dalam dinding arteriola yang memungkinkan peningkatan

(18)

aliran darah melalui arteri yang kemudian dialihkan ke dalam kapiler yang dangkal di kulit untuk meningkatkan kehilangan kehilangan panas melalui mekanisme konveksi dan konduksi (Guyton and Hall 2008).

Pengaturan suhu tubuh berkurang kemampuannya pada kondisi lingkungan yang panas dan lembab. Pada kondisi lingkungan yang panas dan lembab, akan menyebabkan terjadinya penguapan bahkan dapat menyebabkan stres karena panas. Mekanisme pengaturan suhu tubuh pada kondisi dingin berlangsung dengan cara produksi keringat diturunkan atau bahkan dihentikan. Mekanisme ini biasanya terjadi pada saat tubuh merinding atau gemetaran yang bertujuan untuk menghangatkan tubuh (Guyton and Hall 2008). Kondisi ini juga bertujuan untuk mencegah mekanisme kehilangan panas tubuh ke lingkungan walaupun tidak seutuhnya dan untuk mencegah suhu tubuh menurun lebih lanjut, sehingga tubuh menjadi lebih hangat.

Kondisi yang sangat dingin, mekanisme vasokontriksi (menyusut atau mengkerut) yang berlebihan dapat menyebabkan mati rasa dan kulit pucat. Selain itu, otot juga dapat menerima pesan dari pusat pengatur suhu tubuh di otak, yaitu hipotalamus, untuk menyebabkan tubuh menggigil yang cukup efektif untuk menghangatkan tubuh dibandingkan dengan melakukan latihan karena lebih sedikit panas yang hilang ke lingkungan melalui konveksi. Ada dua jenis menggigil, yaitu menggigil dengan intensitas rendah yang terjadi secara terus menerus pada kondisi lingkungan yang dingin dan menggigigl dengan intensitas tinggi terjadi untuk waktu yang relatif singkat. Kedua proses menggigil ini membutuhkan energi walaupun pada intensitas rendah menggunakan lemak sedangkan intensitas tinggi menggunakan glukosa sebagai sumber bahan bakar. Hal inilah yang merupakan alasan utama hewan menyimpan makanan pada musim dingin (Guyton and Hall 2008).

III.3.3 Termoregulasi Suhu Tubuh

Termoregulasi merupakan suatu mekanisme fisiologis yang dilakukan oleh tubuh untuk mengatur suhu internal tubuh agar selalu berada pada kisaran suhu tubuh normal. Termoregulasi pada manusia diatur pada hipotalamus anterior. Ada tiga komponen pengatur atau penyusun sistem pengaturan panas, yaitu

(19)

termoreseptor, hipotalamus, dan syaraf eferen (Swenson 1997). Pengaruh suhu tubuh hewan terhadap lingkungan dapat digolongkan menjadi hewan berdarah panas (homoiterm) dan hewan berdarah dingin (poikiloterm) (Duke 1995). Hewan berdarah panas (homoiterm) memiliki suhu stabil, karena adanya reseptor dalam otak yang dapat mengatur suhu tubuh. Hewan ini juga dapat menjaga suhu tubuh pada suhu yang konstan yang umumnya lebih tinggi dibandingkan suhu lingkungan, misalnya bangsa burung dan mamalia (termasuk Macaca fascicularis). Hewan berdarah dingin (poikiloterm) merupakan hewan yang suhu tubuhnya kurang lebih sama dengan suhu lingkungan sekitarnya (Guyton and Hall 1993).

Kulit berperan dalam proses homeostasis, yaitu suatu bentuk mekanisme tubuh untuk menjaga aspek yang berbeda dari kondisi normal tubuh, misalnya adalah pada saat menjaga suhu tubuh agar tetap konstan. Ada empat mekanisme kehilangan panas yang dapat terjadi terutama melalui kulit, yaitu konveksi, konduksi, radiasi, dan evaporasi. Radiasi adalah transfer energi secara elektromagnetik, tidak memerlukan medium untuk merambat dengan kecepatan cahaya. Konduksi merupakan transfer panas secara langsung antara dua materi padat yang berhubungan langsung tanpa ada transfer panas molekul. Konveksi merupakan suatu perambatan panas melalui aliran cairan atau gas. Besarnya konveksi tergantung pada luas kontak dan perbedaan suhu. Evaporasi adalah konveksi dari zat cair menjadi uap air, besarnya laju konveksi kehilangan panas karena evaporasi (Martini 1998). Jika suhu tubuh lebih tinggi daripada lingkungan makan tubuh akan kehilangan panas melalui mekanisme radiasi dan konduksi dan mekanisme untuk mengurangi panas tubuh adalah melalui evaporasi. Jadi, pada saat suhu lingkungan lebih tinggi terhadap suhu tubuh, apapun yang mencegah penguapan yang memadai dapat menyebabkan suhu tubuh internal meningkat. Pada saat berolahraga, penguapan menjadi jalan utama kehilangan panas (Guyton and Hall 2008).

Suhu tubuh tergantung pada keseimbangan antara panas yang diproduksi atau diabsorbsi dengan panas yang hilang. Kejadian terengah-engah diatur oleh pusat pengatur suhu di otak. Apabila darah menjadi terlalu panas, maka hipotalamus akan memberikan sinyal neurogenik untuk menurunkan suhu tubuh.

(20)

Pada kondisi ini, hewan memasukkan dan mengeluarkan udara dengan cepat sehingga sejumlah besar udara yang diterima dari luar tubuh melakukan kontak dengan bagian atas susunan sistem pernafasan. Proses ini akan mendinginkan darah di dalam mukosa akibat evaporasi air dari permukaan mukosa terutama evaporasi saliva dari lidah (Guyton and Hall 2008). Otak mendeteksi panas melalui reaksi yang terjadi tak terhitung jumlahnya, bahkan proses untuk berpikir pun menciptakan panas. Kepala memiliki sistem pembuluh darah yang kompleks, membuat otak menjadi terlalu panas dengan membawa darah ke kulit tipis di kepala. Efektivitas mekanisme ini dipengaruhi oleh iklim dan adaptasi individu terhadap lingkungannya. proses adapatasi yang dilakukan kulit untuk mengatur suhu tubuh merupakan bagian dari termoregulasi. Hal ini merupakan salah satu aspek proses homeostasis tubuh untuk mengatur dirinya sendiri demi menjaga kondisi fisiologis internal yang konstan (Guyton and Hall 2008).

III.3.4 Stres

Stress merupakan suatu gejala yang menunjukkan keadaan tidak baik berdasarkan status klinis dan fisiologis. Stress juga merupakan suatu perasaan terhadap reaksi atas suatu kejadian tertentu. Respon tubuh terhadap stres terjadi akibat adanya aktivasi sistem pembuluh syaraf dan hormon-hormon tertentu. Salah satu faktor penyebab terjadinya stress adalah suhu lingkungan, baik suhu panas maupun suhu dingin. Pada saat stress, akan terjadi stimulasi rangsangan terhadap hipotalamus yang akan memberikan sinyal kepada kelenjar adrenal untuk memproduksi lebih banyak hormon adrenalin dan kortisol yang dilepaskan ke dalam aliran darah. Hormon-hormon ini menyebabkan peningkatan denyut jantung, tekanan darah, dan metabolisme tubuh. Kondisi stress dapat mempengaruhi perilaku, penurunan kecernaan pakan, peningkatan asupan air, dan menyebabkan penurunan bobot badan (Guyton and Hall 2008).

Berdasarkan penelitian Kim et al. (2005) menyatakan bahwa terdapat suatu hubungan yang berbanding lurus antara peningkatan kadar hormon kortisol dengan peningkatan rasio netrofil:limfosit pada monyet ekor panjang yang mengalami stress ketika diberikan perlakuan transportasi, sehingga dapat dijadikan suatu indikator terhadap terjadinya peningkatan gejala stress. Bahkan

(21)

ditemukan perlakuan gejala stress transportasi dapat mempengaruhi kondisi gambaran hematologi dan penurunan bobot badan monyet.

Suprayogi et al. (2006) menyatakan bahwa mikroklimat yang baik untuk ternak di daerah tropis pada temperatur 18 – 21°C dengan kelambaban relatif 50 – 60% rel. Status fisiologis ternak yang berada pada kandang di daerah tropis menunjukkan adanya penderitaan yang disebabkan oleh stress. Kelembaban yang tinggi di wilayah tropis mengakibatkan peningkatan respirasi ternak meskipun denyut jantung dan temperatur tubuh masih dalam kisaran normal. Permasalahan kesehatan dan produksi di daerah tropis pada ternak dapat dipengaruhi oleh panas dan stress (Singh and Shukla 2003).

Referensi

Dokumen terkait

Berdasarkan fenomena diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Pengaruh Persepsi Auditor Eksternal Atas Kode Etik Terhadap Kinerja Auditor

Grant memberi contoh bagi siswa tentang bagaimana menilai proyek mereka dengan menggunakan rubrik, dan ia mengamati dan membuat catatan-catatan kecil saat mereka bekerja..

Rumusan masalah kedua tentang jenis masalah apa yang paling menonjol dari masing-masing program studi Fakultas Teknik Universitas Negeri Surabaya.. Jawaban dari

Tujuan dari penelitian ini adalah membuat inovasi material bahan bangunan berupa dinding panel semen eceng gondok (emen wall) yang difokuskan pada pemeriksaan jenis

Bahwa Pimpinan STIESIA dalam Rapat Pleno tanggal 14 September 2012 telah menerima konsep Rencana Strategis (Renstra) Prodi S3 Ilmu Manajemen Tahun 2012-2016, dan sesuai

Dan pada penelitian ini akan dilakukan penentuan fluks neutron secara tidak langsung yaitu dengan menggunakan metode aktivasi neu- tron keping (foil detector).. Bahan yang

Seperti yang telah diuraikan pada Bab I tentang tujuan yang ada dalam penelitian yaitu untuk mendeskripsikan kemampuan komunikasi matematis siswa kelas VII pada materi

Akumulasi bahan kering pada kedua pola pertanaman menunjukkan perbedaan yang nyata pada biji, akar, batang dan malai; akumulasi bahan kering yang ditanam secara