• Tidak ada hasil yang ditemukan

produksi kubis bunga (Brassica oleracea var. botrytis L.) dalam polibag.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "produksi kubis bunga (Brassica oleracea var. botrytis L.) dalam polibag."

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

PENGARUH PEMBERIAN JENIS BOKASHI TERHADAP PERTUMBUHAN DAN PRODUKSI KUBIS BUNGA (Brassica oleracea L. Var. Botrytis)

NELLY PAKPAHAN1

A. Latar Belakang

Kesadaran masyarakat perkotaan akan usaha perbaikan gizi keluarga mulai mengalami perkembangan yang signifikan. Salah satu langkah yang dapat ditempuh yakni dengan menanam dan mengkonsumsi sayur sayuran yang dibudidayakan secara personal. Namun, lahan perkotaan yang terbatas menjadi salah satu penghambat yang menyebabkan sulitnya mencanangkan program tersebut. Budidaya sayuran dengan menggunakan polibeg/pot dinilai dapat menjadi jawaban dari kebutuhan masyarakat perkotaan. Dengan memanfaatkan lahan yang tidak luas, beberapa jenis tanaman bisa ditempatkan dalam lokasi yang berdekatan (Dewi & Nugroho, 2014).

Pemanasan global yang sedang berlangsung saat ini menyebabkan ketersediaan air semakin menipis di musim kemarau dan melimpah dimusim penghujan. Lahan-lahan pertanian juga mengalami kerusakan akibat penggunaan pupuk kimia secara terus menerus. Sehingga perlu dilakukan budidaya yang mengarah pada penggunaan pupuk berbahan organik untuk mengembalikan ketersediaan air tanah dan kesuburan tanah. Salah satu pupuk organik yang dapat dijadikan alternatif untuk budidaya adalah pupuk bokashi. Beberapa jenis bokashi yang dapat digunakan oleh petani antara lain bokashi jerami, bokashi pupuk kandang, bokashi pupuk kandang arang, bokashi legume, dan lain-lain (Agustina, 2000). Upaya penggunaan pupuk bokashi dapat ditempuh melalui prinsip tepat jenis, tepat dosis sesuai kebutuhan tanaman. Selain memperbaiki struktur tanah, pupuk bokashi juga dapat menambah unsur hara makro dan mikro dalam jumlah yang sedikit (Lingga dan Marsono, 2013).

Kubis bunga adalah salah satu tanaman sayuran yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Dalam program perbaikan gizi keluarga, kubis bunga dapat memberikan sumbangan berharga bagi kesehatan karena banyak mengandung vitamin dan mineral. Komposisi kandungan gizi kubis bunga per 100 gram yaitu kalori 25 kal, karbohidrat 4,9 gr, lemak 0,2 gr, protein 2,4 gr, kalsium 22 mg, fosfor 72 mg, besi 1,1 mg, vitamin A 90 IU, vitamin B1 0,11 mg, vitamin C 69 mg, air 91,7 % (Sunarjono, 2013). B. Tujuan Penelitian

Untuk mengetahui pengaruh pemberian

jenis bokashi terhadap pertumbuhan dan

produksi kubis bunga (Brassica oleracea

var. botrytis L.) dalam polibag.

C. Hipotesis Penelitian

Ada pengaruh pemberian jenis bokashi terhadap pertumbuhan dan produksi kubis bunga (Brassica oleracea var. botrytis L.) dalam polibag.

D. Manfaat Penelitian

Manfaat penelitian ini adalah :

1. Sebagai bahan penelitian ilmiah dalam rangka penyusunan skripsi yang merupakan salah satu syarat untuk menempuh program studi (S1) pada Fakultas Pertanian Universitas Asahan di Kisaran.

2. Hasil penelitian dapat dijadikan bahan informasi bagi petani dan pihak lain yang berhubungan dengan budidaya tanaman jagung manis.

BAHAN DAN METODE A. Tempat dan Waktu

Penelitian ini dilaksanakan di jalan Durian Lk. I, Kel. Kisaran Naga Kec. Kisaran Timur Kabupaten Asahan Propinsi Sumatera Utara. Penelitian dilaksanakan pada bulan Agustus sampai Oktober 2014.

B. Bahan dan Alat

Bahan-bahan yang digunakan dalam penelitian ini adalah bibit kubis bunga dari varieas Balotta, polybag 10 kg, bokashi kandang sapi, bokashi enceng gondok, bokashi legum, pupuk NPK, air, dan insektisida Meothrin, fungisida Delsene-MX, dan bahan lain yang mendukung pelaksanaan penelitian ini.

Alat-alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah cangkul, gembor, meteran, sprayer, kalkulator, papan plot penelitian, papan judul penelitian, patok sampel, bambu, dan parang. C. Metode Penelitian

Penelitian dilakukan dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) non faktorial yang terdiri 10 perlakuan, yaitu :

T0 = Tanpa Bokashi (kontrol)

K1 = Bokashi kandang sapi 350 gr/polybag

K2 = Bokashi kandang sapi 700 gr/polybag

K3 = Bokashi kandang sapi 1050 gr/polybag

E1 = Bokashi enceng gondok 350 gr/polybag

E2 = Bokashi enceng gondok 700 gr/polybag

E3 = Bokashi enceng gondok 1050 gr/polybag

L1 = Bokashi legum 350 gr/polybag

L2 = Bokashi legum 700 gr/polybag

(2)

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Asahan Susunan plot percobaan berikut:

Jumlah ulangan

Jumlah kombinasi perlakuan Jumlah plot penelitian Jumlah tan. per plot Jumlah tan. sampel per plot Jumlah tan. sampel seluruhnya Jumlah tan. seluruhnya Jarak antar ulangan Jarak antar plot Jarak tanam Panjang plot Lebar plot

Model linier rancangan acak kelompok (RAK) Nonfaktorial adalah sebagai berikut:

Yij = µ + ρi + αj + εij

Yij = Hasil pengamatan dari faktor perlakuan pada taraf ke-i dalam ulangan ke

µ = Efek dari nilai tengah ρi = Efek dari ulangan ke

αj = Efek faktor dari faktor perlakuan pada taraf ke-j

εij = Efek galat dari ulangan ke mendapat perlakuan pada HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil

1. Tinggi tanaman (cm)

Berdasarkan sidik diperoleh rataan hasil perlakuan jenis bokashi terhadap pertumbuhan tinggi tanaman pada umur 2, 3 dan 4 minggu setelah tanam seperti pada Tabel 1. berikut ini. Tabel 1. Rataan Pengaruh Pemberian Jenis

Bokashi Terhadap Tinggi Tanaman Pada Umur 2, 3 dan 4 Minggu Setelah Tanam.

Perlakuan Tinggi Tanaman (cm) 2 MST 3 MST T0 12.8 d 21.2 E1 13.8 cd 24.7 E2 15.8 abc 25.8 E3 17.5 ab 25.6 K1 15.7 bc 25.7 K2 15.8 abc 26.7 K3 18.7 a 27.7 L1 16.8 ab 23.9 L2 16.6 abc 25.3 L3 17.6 ab 26.8 F. Hit **

Keterangan : Angka – angka yang diikuti huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5%.

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Asahan

Susunan plot percobaan adalah sebagai : 3 ulangan : 10 perlakuan : 30 plot : 4 tanaman : 2 tanaman sampel seluruhnya :60 tanaman

: 120 tanaman : 100 cm : 50 cm : 70 x 50 cm : 140 cm : 100 cm Model linier rancangan acak kelompok (RAK)

aktorial adalah sebagai berikut:

Hasil pengamatan dari faktor perlakuan i dalam ulangan ke-j Efek dari nilai tengah

Efek dari ulangan ke-i

Efek faktor dari faktor perlakuan pada = Efek galat dari ulangan ke-i yang

mendapat perlakuan pada taraf ke-j HASIL DAN PEMBAHASAN

Berdasarkan sidik diperoleh rataan hasil perlakuan jenis bokashi terhadap pertumbuhan tinggi tanaman pada umur 2, 3 dan 4 minggu setelah tanam seperti pada Tabel 1. berikut ini.

Pengaruh Pemberian Jenis Bokashi Terhadap Tinggi Tanaman Pada Umur 2, 3 dan 4 Minggu Setelah

Tinggi Tanaman (cm) 3 MST 4 MST C 30.3 b Ab 32.6 ab Ab 33.6 a Ab 32.9 ab Ab 32.9 ab Ab 34.1 a A 35.1 a Bc 33.7 a Ab 34.7 a Ab 35.1 a * *

angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5%.

Pada Tabel 1. dapat dilihat bahwa pemberian jenis bokashi menunjukkan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada semua umur amatan. Dimana K3 menunjukkan rataan hasil

yang lebih tinggi dari perlakuan jenis lainnya serta berbeda nyata dengan kontrol (T

Pengaruh pemberian jenis bokashi terhadap tinggi tanaman pada umur 4 minggu setelah tanam dapat dilihat pada Histogram Gambar 1. berikut ini.

Gambar 1. Histogram Pengaruh Pemberian Jenis Bokashi Terhadap Tinggi Tanaman (cm) Umur 4 Minggu Setelah Tanam.

2. Jumlah Daun (helai)

Berdasarkan sidik ragam pada

14 dan 16 diperoleh rataan hasil perlakuan jenis bokashi terhadap pertumbuhan jumlah daun pada umur 2, 3 dan 4 minggu setelah tanam seperti pada Tabel 2. berikut ini.

Tabel 2. Rataan Pengaruh Pemberian Jenis Bokashi Terhadap Jumlah Daun Pada Umur 2, 3 dan 4 Minggu Setelah Tanam.

Perlakuan Jumlah Daun (helai) 2 MST 3 MST T0 5.83 a 8.17 E1 6 a 8.17 E2 6.33 a 8.17 E3 7 a 8.83 K1 6.33 a 8.67 K2 7 a 8.83 K3 7.33 a 9.83 L1 6.33 a 8.17 L2 6.83 a 8.33 L3 7.17 a 9.33 F. Hit tn

Keterangan : Angka – angka yang diikuti huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5%.

26.00 28.00 30.00 32.00 34.00 36.00 T0 E1 E2 E3 K1 b ab a ab ab T in g g i T a n a m a n ( c m )

Jenis Bokashi (kg/plot)

Pada Tabel 1. dapat dilihat bahwa pemberian bokashi menunjukkan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman pada semua umur menunjukkan rataan hasil yang lebih tinggi dari perlakuan jenis lainnya serta berbeda nyata dengan kontrol (T0).

Pengaruh pemberian jenis bokashi terhadap tanaman pada umur 4 minggu setelah tanam dapat dilihat pada Histogram Gambar 1.

Histogram Pengaruh Pemberian Jenis Bokashi Terhadap Tinggi Tanaman (cm) Umur 4 Minggu

Berdasarkan sidik ragam pada lampiran 12, 14 dan 16 diperoleh rataan hasil perlakuan jenis bokashi terhadap pertumbuhan jumlah daun pada umur 2, 3 dan 4 minggu setelah tanam seperti Rataan Pengaruh Pemberian Jenis Bokashi Terhadap Jumlah Daun Pada Umur 2, 3 dan 4 Minggu Setelah

Jumlah Daun (helai) 3 MST 4 MST 8.17 b 11.2 a 8.17 b 11.8 a 8.17 b 12.2 a 8.83 ab 12.2 a 8.67 ab 11.7 a 8.83 ab 12.3 a 9.83 a 13.8 a 8.17 b 12 a 8.33 b 12.5 a 9.33 ab 12.7 a * tn

angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5%.

K1 K2 K3 L1 L2 L3 ab a a a a a

(3)

Pada Tabel 2. dapat dilihat bahwa pemberian jenis bokashi menunjukkan pengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun pada semua umur 2 dan 4 minggu setelah tanam, namun berpengaruh nyata pada umur 3 minggu setelah tanam. Dimana, K menunjukkan rataan hasil yang lebih tinggi dari perlakuan jenis lainnya serta berbeda nyata dengan kontrol (T0).

Pengaruh pemberian jenis bokashi terhadap jumlah daun pada umur 3 minggu setelah tanam dapat dilihat pada Histogram Gambar 2. berikut ini.

Gambar 2. Histogram Pengaruh Pemberian Jenis Terhadap Jumlah Daun (helai) Umur 4 Minggu Setelah Tanam

3. Produksi per Tanaman Sampel (g)

Berdasarkan sidik ragam pada lampiran 18 dapat dilihat bahwa pemberian jenis bokashi menunjukkan pengaruh nyata terhadap produksi per tanaman sampel.

Berdasarkan hasil sidik ragam tersebut, selanjutnya dilakukan uji beda rata

Duncan’s Multiple Range Test

Tabel 3, disajikan data rataan produksi per tanaman sampel terhadap perlakuan jenis bokashi.

Tabel 3. Rataan Pengaruh Pemberian Jenis Bokashi Terhadap Produksi per Tanaman Sampel (g)

Perlakuan Rataan Produksi per Tan. Sampel (g) T0 320 E1 363.33 E2 368.33 E3 426.67 K1 368.33 K2 430 K3 456.67 L1 375 L2 451.67 L3 456.67 Uji F **

Keterangan : Angka – angka yang diikuti huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5%.

7.50 8.00 8.50 9.00 9.50 10.00 T0 E1 E2 E3 K1 K2 b b b ab ab ab J u m la h D a u n ( h e la i)

Jenis Bokashi (kg/plot)

dilihat bahwa pemberian jenis bokashi menunjukkan pengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun pada semua umur 2 dan 4 minggu setelah tanam, namun berpengaruh nyata pada umur 3 minggu setelah tanam. Dimana, K3

menunjukkan rataan hasil yang lebih tinggi dari erlakuan jenis lainnya serta berbeda nyata Pengaruh pemberian jenis bokashi terhadap jumlah daun pada umur 3 minggu setelah tanam dapat dilihat pada Histogram Gambar 2. berikut

Histogram Pengaruh Pemberian Jenis Bokashi Terhadap Jumlah Daun (helai) Umur 4 Minggu

Produksi per Tanaman Sampel (g)

Berdasarkan sidik ragam pada lampiran 18 dapat dilihat bahwa pemberian jenis bokashi menunjukkan pengaruh nyata terhadap produksi an hasil sidik ragam tersebut, selanjutnya dilakukan uji beda rata-rata dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Pada Tabel 3, disajikan data rataan produksi per tanaman sampel terhadap perlakuan jenis

Pengaruh Pemberian Jenis Bokashi Terhadap Produksi per Tanaman Sampel (g)

Rataan Produksi per

Tan. Sampel (g) Notasi d cd cd ab cd a a bc a a **

angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5%.

Pada Tabel 3. dapat dilihat bahwa perlakuan K3, K2, L3, L2, dan E3 saling berbeda tidak nyata

namun berbeda nyata dengan T berbeda tidak nyata dengan K namun berbeda nyata dengan T

E2, E1, dan T0 saling berbeda tidak nyata.

Pengaruh pemberian jenis bokashi terhadap produksi per tanaman sampel dapat dilihat pada Histogram Gambar 3. berikut ini.

Gambar 3. Histogram Pengaruh Pemberian Jenis Bokashi Terhadap Produksi per Tanaman Sampel (g) 4. Produksi per Plot (kg)

Berdasarkan sidik ragam pada lampiran 18 dapat dilihat bahwa pemberian jenis bokashi menunjukkan pengaruh nyata terhadap produksi per plot.

Berdasarkan hasil sidik ragam tersebut, selanjutnya dilakukan uji beda rata

Duncan’s Multiple Range Test

Tabel 4, disajikan data rataan produksi per plo terhadap perlakuan jenis bokashi.

Tabel 4. Rataan Pengaruh Pemberian Jenis Bokashi Terhadap Produksi per Plot (kg)

Perlakuan Rataan Produksiper Plot (kg)

T0 1.23 E1 1.5 E2 1.61 E3 1.62 K1 1.6 K2 1.77 K3 1.81 L1 1.65 L2 1.75 L3 1.82 Uji F

Keterangan : Angka – angka yang diikuti huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5%.

K2 K3 L1 L2 L3 ab

a

a b

ab

Jenis Bokashi (kg/plot)

300.00 320.00 340.00 360.00 380.00 400.00 420.00 440.00 460.00 T0 E1 E2 E3 K1 d cd cd ab cd P r o d u k si p e r T a n a m a n S a m p e l

Jenis Bokashi (g/polybag)

Pada Tabel 3. dapat dilihat bahwa perlakuan saling berbeda tidak nyata namun berbeda nyata dengan T0. Perlakuan L1

berbeda tidak nyata dengan K1, E3, E1 dan E2

namun berbeda nyata dengan T0. Sedangkan K1,

saling berbeda tidak nyata. Pengaruh pemberian jenis bokashi terhadap

per tanaman sampel dapat dilihat pada Histogram Gambar 3. berikut ini.

Histogram Pengaruh Pemberian Jenis Bokashi Terhadap Produksi per Tanaman Sampel (g).

Berdasarkan sidik ragam pada lampiran 18 pemberian jenis bokashi menunjukkan pengaruh nyata terhadap produksi Berdasarkan hasil sidik ragam tersebut, selanjutnya dilakukan uji beda rata-rata dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Pada Tabel 4, disajikan data rataan produksi per plot terhadap perlakuan jenis bokashi.

Pengaruh Pemberian Jenis Bokashi Terhadap Produksi per Plot

Rataan Produksi

per Plot (kg) Notasi d c abc abc bc ab ab abc abc a **

angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang sama menunjukkan tidak berbeda nyata pada taraf 5%.

K1 K2 K3 L1 L2 L3 cd a a bc a a

(4)

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Asahan

Pada Tabel 4. dapat dilihat bahwa tiap perlakuan jenis bokashi berbeda nyata

kontrol (T0).

Pengaruh pemberian jenis bokashi terhadap produksi per plot dapat dilihat pada Histogram Gambar 4. berikut ini.

Gambar 4. Histogram Pengaruh Pemberian Jenis Bokashi Terhadap Produksi per Plot (kg).

Pembahasan

Berdasarkan hasil penelitian pemberian jenis bokashi menunjukkan pengaruh tidak nyata pada jumlah daun diawal dan diakhir pertumbuhan sehingga dapat disimpulkan pemberian jenis bokashi tidak berpengaruh pada jumlah daun karena hanya berbeda nyata pada dip

fase pertumbuhan tanaman. Hal ini disebabkan faktor genetik dari tanaman kubis bunga itu sendiri. Dengan terpenuhinya kebutuhan unsur hara dan air yang cukup serta didukung oleh faktor genetik tanaman, maka jumlah daun akan berjalan optimal dan seragam. Keseragaman penampilan tanaman akibat susunan genetik tanaman selalu mungkin dapat terjadi (Zuhry. 2010).

Perlakuan jenis bokashi menunjukkan pengaruh nyata pada parameter tinggi tanaman, produksi per tanaman dan produksi per plot. Seperti diketahui atas dasar teori bahwa bahan organik dapat berperan memperbaiki daya mengikat air tanah, merangsang granulasi agregat tanah, menurunkan plastisitas, kohesi dan sifat buruk tanah lainnya (Lumbanraja, 2000), hal ini lah yang tidak dimilliki oleh tanaman kontrol sehingga terjadi perbedaan yang nyata pada produksi per tanaman dan produksi per plot. Selain itu dalam pupuk bokashi yang diberikan juga terkandung mikroorganisme EM4 yang memiliki peran yang sangat penting dalam meyuplai unsur hara. Kinjo (1990)

bahwa pemberian EM4 pada bahan organik akan meningkatkan bakteri pengikat nitrogen didalam tanah sehingga akan berakibat pada peningkatan produksi tanaman secara nyata dan meningkatkan aktivitas fotosintesis.

Berdasarkan Gambar 1, 2, 3 dan 4 ba pemberian bokashi legume dan kotoran sapi dengan taraf 1.050 g/polybag memiliki produksi

1.00 1.10 1.20 1.30 1.40 1.50 1.60 1.70 1.80 1.90 T0 E1 E2 E3 K1 K2 d c abc abc bc ab P r o d u k si p e r P lo t (k g )

Jenis Bokashi (g/polybag)

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Asahan

Pada Tabel 4. dapat dilihat bahwa tiap perlakuan jenis bokashi berbeda nyata dengan Pengaruh pemberian jenis bokashi terhadap produksi per plot dapat dilihat pada Histogram

Histogram Pengaruh Pemberian Jenis Bokashi Terhadap Produksi per Plot (kg).

Berdasarkan hasil penelitian pemberian jenis bokashi menunjukkan pengaruh tidak nyata pada jumlah daun diawal dan diakhir pertumbuhan sehingga dapat disimpulkan pemberian jenis bokashi tidak berpengaruh pada jumlah daun karena hanya berbeda nyata pada dipertengahan fase pertumbuhan tanaman. Hal ini disebabkan faktor genetik dari tanaman kubis bunga itu sendiri. Dengan terpenuhinya kebutuhan unsur hara dan air yang cukup serta didukung oleh faktor genetik tanaman, maka jumlah daun akan seragam. Keseragaman penampilan tanaman akibat susunan genetik tanaman selalu mungkin dapat terjadi (Zuhry. Perlakuan jenis bokashi menunjukkan pengaruh nyata pada parameter tinggi tanaman, produksi per tanaman dan produksi per plot. ahui atas dasar teori bahwa bahan organik dapat berperan memperbaiki daya mengikat air tanah, merangsang granulasi agregat tanah, menurunkan plastisitas, kohesi dan sifat buruk tanah lainnya (Lumbanraja, 2000), hal ini lah yang tidak dimilliki oleh kontrol sehingga terjadi perbedaan yang nyata pada produksi per tanaman dan produksi per plot. Selain itu dalam pupuk bokashi yang diberikan juga terkandung mikroorganisme EM4 yang memiliki peran yang sangat penting dalam meyuplai unsur hara. Kinjo (1990) melaporkan bahwa pemberian EM4 pada bahan organik akan meningkatkan bakteri pengikat nitrogen didalam tanah sehingga akan berakibat pada peningkatan produksi tanaman secara nyata dan meningkatkan aktivitas fotosintesis.

Berdasarkan Gambar 1, 2, 3 dan 4 bahwa pemberian bokashi legume dan kotoran sapi dengan taraf 1.050 g/polybag memiliki produksi

per tanaman dan produksi per plot paling baik dibanding kontrol. Legum merupakan jenis tanaman yang biasa digunakan sebagai pupuk hijau karena mengandung bakteri

yang dapat mengikat nitrogen dari udara bebas (Lingga dan Marsono, 2013). Tentunya pengolahan tanaman legume menjadi bokashi dapat membentuk humus yang kaya bahan organik dan hara nitrogen yang cukup tinggi. Sedangkan kotoran sapi adalah pupuk

yang kaya akan unsur hara N, P dan K serta hara mikro karena berasal dari berbagai jenis tanaman yang dimakan oleh ternak sapi. Hasil feses ternak tersebut juga mengandung berbagai mineral hasil sisa-sisa pembentukan jaringan tubuhnya. Sehingga bokashi kotoran sapi cepat terurai untuk menyediakan unsur hara yang lengkap dan cepat diserap oleh akar tanaman. Hal ini sesuai dengan Sutedjo (2010), bahwa pupuk kandang dapat dianggap sebagai pupuk yang lengkap, karena selain menghasilkan hara yang tersed juga meningkatkan aktivitas mikroorganisme di dalam tanah.

Selain berpengaruh nyata pada produksi per tanaman dan produksi per plot, pemberian jenis bokashi juga bepengaruh pada umur panen tanaman. Tanaman yang tidak mendapatkan perlakuan (kontrol) memiliki umur panen yang lebih lama dari pada tanaman yang diberi perlakuan. Pada tanaman yang memperoleh perlakuan, pemanenan dilakukan pada umur 72 hari mulai dari pembibitan, sedangkan tanaman kontrol dipanen pada umur 78 hari mulai dari pembibitan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa perlakuan jenis bokashi dapat meningkatkan efisiensi waktu panen dalam budidaya tanaman kubis bunga.

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Pemberian jenis bokashi berpengaruh tidak nyata pada pertumbuhan tinggi tanaman dan jumlah daun namun berpengaruh nyata pada produksi per tanaman dan produksi per plot B. Saran

Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang bokashi legum atau bokashi kotoran sapi yang di kombinasikan dengan perlakuan lain untuk mengetahui pengaruhnya pada pertumbuhan tanaman. K2 K3 L1 L2 L3 ab ab abc abc a

Jenis Bokashi (g/polybag)

per tanaman dan produksi per plot paling baik dibanding kontrol. Legum merupakan jenis tanaman yang biasa digunakan sebagai pupuk hijau karena mengandung bakteri Rhizobium sp. yang dapat mengikat nitrogen dari udara bebas (Lingga dan Marsono, 2013). Tentunya pengolahan tanaman legume menjadi bokashi dapat membentuk humus yang kaya bahan organik dan hara nitrogen yang cukup tinggi. Sedangkan kotoran sapi adalah pupuk kandang yang kaya akan unsur hara N, P dan K serta hara mikro karena berasal dari berbagai jenis tanaman yang dimakan oleh ternak sapi. Hasil feses ternak tersebut juga mengandung berbagai mineral hasil sisa pembentukan jaringan tubuhnya. kashi kotoran sapi cepat terurai untuk menyediakan unsur hara yang lengkap dan cepat diserap oleh akar tanaman. Hal ini sesuai dengan Sutedjo (2010), bahwa pupuk kandang dapat dianggap sebagai pupuk yang lengkap, karena selain menghasilkan hara yang tersedia, juga meningkatkan aktivitas mikroorganisme di Selain berpengaruh nyata pada produksi per tanaman dan produksi per plot, pemberian jenis bokashi juga bepengaruh pada umur panen tanaman. Tanaman yang tidak mendapatkan miliki umur panen yang lebih lama dari pada tanaman yang diberi perlakuan. Pada tanaman yang memperoleh perlakuan, pemanenan dilakukan pada umur 72 hari mulai dari pembibitan, sedangkan tanaman kontrol dipanen pada umur 78 hari mulai dari gga dapat disimpulkan bahwa perlakuan jenis bokashi dapat meningkatkan efisiensi waktu panen dalam budidaya tanaman

KESIMPULAN DAN SARAN

jenis bokashi berpengaruh tidak nyata pada pertumbuhan tinggi tanaman dan aun namun berpengaruh nyata pada produksi per tanaman dan produksi per plot

Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang bokashi legum atau bokashi kotoran sapi yang di kombinasikan dengan perlakuan lain untuk mengetahui pengaruhnya pada pertumbuhan

(5)

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, L. 2000. Dasar Nutrisi Tanaman. Rineka Cipta. Jakarta.

Cahyono, B. 2001. Kubis Bunga dan Broccoli. Kanisius. Yogyakarta.

Dewi T.Q. dan Nugroho S. 2014. Tips Membuahkan Tanaman Dalam Pot. Penebar Swadaya. Jakarta.

Fitriani M.L. 2009. Budidaya Tanaman Kubis Bunga (Brassica oleraceae var botrytis L.) Di Kebun Hortikultura (KBH) Tawamangu. Tugas Akhir Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret.

Kinjo, S. 1990. Studies on EM or organik Matter by Lactis AcidFermentation M.S. Thesis. Departement of Agricultre, University of The Ryukyus Okinawa Japan.

Lembah Pinus, 2013. Ramah Membuat Kompos

Enceng Gondok.

http://www.lembahpinus.com/index.php/8- uncategorised/artikel/759-ramah-membuat-kompos-eceng-gondok. Diakses 03 Juni 2014.

Lingga P. dan Marsono 2013. Petunjuk Penggunaan Pupuk. Penebar Swadaya. Jakarta.

Lumbanraja, P. 2000. Pengaruh Pemberian Pupuk Kandang Sapi dan Jenis Mulsa Terhadap Kapasitas Pegang Air Tanah dan Pertumbuhan Tanaman Kedelai (Glycine

max l) var. Willis Pada Tanah Ultisol

Simalingkar. Jurnal Ilmu Pendidikan Tinggi (JURIDIKTI). Vol.5, no.2.

Pracaya, 2000. Kol alias kubis. Penebar swadaya. Jakarta.

Rozaq, A. dan Novianto, G. 2010. Pemanfaatan Tanaman Enceng Gondok Sebagai Pupuk Cair. Skripsi. Jatim: Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknologi Industri Universitas Pembangunan Nasional “Veteran”. Jawa Timur.

Sastrosupandi, A. 2000. Rancangan Percobaan Praktis Bidang Pertanian. Kanisius. Yogyakarta.

Sugeng, 1981. Bercocok tanam sayuran. Aneka ilmu. Semarang.

Sunarjono H.H. 2013. Pedoman Bertanam Kubis. Nuansa Aulia. Bandung

Sulistyowati, Emma. 2007. Skripsi : Pengaruh Pemberian Kompos Enceng Gondok (Eichhornia crassipes (Mart) Solms) Dan Pupuk Kandang Sapi Terhadap Agregasi Tanah dan Pertumbuhan Tanaman Jagung (Zea mays) Pada Alfisol Pagak, Malang Selatan. Jurusan Tanah Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya, Malang.

Sutedjo. M. M. 2010. Pupuk dan Cara Pemupukan. Rineka Cipta. Jakarta.

Tola, Hamzah F., Dahlan, dan Kaharuddin. 2006. Pengaruh Penggunaan Dosis Pupuk Bokashi Kotoran Sapi Terhadap Pertumbuhan dan Produksi Tanaman Jagung. Jurnal Agrisistem, Juni 2007, Vol. 3 No. 1.

Wikipedia, 2014. Bokashi.

http://id.wikipedia.org/wiki/Bokashi. Diakses tanggal 01 Juli 2014.

Wordpress, 2012. Cara Pembuatan Bokashi. http://jualqurban.wordpress. com/tag/cara-pembuatan-bokashi. Diakses tanggal 01 Juli 2014.

Zuhry Elza. 2010. Aplikasi Kno3 Terhadap Pertumbuhan dan Hasil Tanaman Kailan (Brassica albohlabra L.).

Zulkarnain. H. 2013. Budidaya Sayuran Tropis. Bumi Aksara. Jakarta.

Gambar

Tabel  1.  Rataan  Pengaruh  Pemberian  Jenis  Bokashi  Terhadap  Tinggi  Tanaman  Pada  Umur  2,  3  dan  4  Minggu  Setelah  Tanam
Tabel 3. Rataan  Pengaruh  Pemberian  Jenis  Bokashi  Terhadap  Produksi  per  Tanaman Sampel (g)
Gambar  4.  Histogram  Pengaruh  Pemberian  Jenis  Bokashi  Terhadap Produksi per Plot (kg).

Referensi

Dokumen terkait

Kembali seperti siklus I, bahwa tahapan pertama dalam penelitian tindakan kelasa adalah perencanaan dan dilanjutkan dengan pelaksanaan dengan menjelaskan materi pelajaran sebelum

Dengan kondisi sekarang, maka setiap pengguna internet dimungkinkan untuk melakukan penyerangan ke jaringan Intranet STM IK Amikom, padahal jaringan intranet menjadi

第 6

Pada penelitian ini, digunakan soda abu tungku kopra asap sebagai bahan pengenyal dan asap cair sebagai bahan pengawet mi basah.. Penambahan soda abu 4 o Baume

Menyadari bahwa resolusi konflik penting dalam mendukung pekerjaan seorang guru. Prodi PGSD STKIP Weetebula menyelenggarakan atau menyediakan matakuliah khusus yang

Banyak masyarakat pejalan kaki yang di temui di pedestrian pada Pusat Kota Pekanbaru tidak tahu bahwa jalan keramik tersebut atau jalur tersebut adalah

Hal ini menunjukkanbahwa hipotesis pertama dalam penelitian ini dapat diterima, yaitu terdapat hubungan positif antar efikasi diri dan dukungan social keluarga

Benih kacang hijau dimasukkan ke dalam stoples sebanyak 500gr, kemudian dimasukkan insektisida nabati yakni serbuk biji jarak, sirsak, dan mengkudu sesuai dengan