GANGGUAN JIWA SEBAGAI BENTUK PERLAWANAN PEREMPUAN DALAM “THE YELLOW WALLPAPER” KARYA CHARLOTTE PERKINS
GILMAN, SEBUAH PENDEKATAN FEMINIS PSIKOANALISIS *) (Neurotik-Insanity as a Woman’s Resistance in Charlotte Perkin Gilman’s “The
Yellow Wallpaper”, A Feminist Psychoanalysis Approach) Eka Harisma W
Universitas Islam Negeri Walisongo
Jalan Prof. Dr. Hamka Kampus III, Semarang, Indonesia Telepon penulis (WhatsApp) +6285641987411
Pos-el: [email protected]
*) Diterima: 14 Februari 2021, Disetujui: 9 Mei 2021
ABSTRAK
Tulisan ini mengkaji cerpen “The Yellow Wallpaper” karya Charlotte Perkins Gilman dengan menggunakan pendekatan feminis psikoanalisis Karen Horney. Pendekatan teori ini digunakan untuk menganalisis bahwa bentuk perlawanan perempuan yang tecermin dalam cerpen ini antara lain perlawanan mendekati orang lain, perlawanan melawan orang lain, dan perlawanan menjauhi orang lain. Bentuk perlawanan mendekati orang lain adalah dengan aktivitas memunculkan teman khayalan yang dianggap nyata; Perlawanan melawan orang lain ditunjukkan dengan kembalinya aktivitas menulis dan aktivas yang menunjukkan gangguan jiwa; Perlawanan menjauhi orang lain adalah dengan aktivitas mengunci pintu kamar dan tidak ingin bertemu dengan orang lain. Bentuk perlawanan yang paling kuat adalah ketika tokoh perempuan dianggap mengidap gangguan jiwa. Perlawanan-perlawanan perempuan tersebut disebabkan oleh dominasi atau belenggu patriarki dalam masyarakat. Belenggu-belenggu patriarki yang tecermin dalam cerpen ini antara lain subordinasi peran perempuan, alienasi/pengasingan perempuan dari masyarakat, dan perempuan dianggap sebagai liyan.
Kata kunci: feminis psikoanalisis, perlawanan, gangguan jiwa ABSTRACT
This paper examines the short story "The Yellow Wallpaper" by Charlotte Perkins Gilman using the feminist approach of Karen Horney's psychoanalysis. This theoretical approach is used to analyze that the forms of women's resistance reflected in this short story include resistance to approaching others, resistance against other people, and resistance to staying away from others. The form of resistance to approaching others is through the activity of bringing up imaginary friends who are considered real; Resistance against others is shown by the return to writing and activities that indicate mental disorders; The resistance to staying away from others is by locking the bedroom door and not wanting to meet other people. The strongest form of resistance is when the female character is considered to have mental disorders. The women's resistance was caused by the dominance or the shackles of patriarchy in society. The patriarchal shackles that are reflected in this short story include the subordination of the role of women, alienation / alienation of women from society, and women being considered as others.
74 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 1, Mei 2021
Keywords: literary history, Modern Indonesian Literature, Popular Malay Literature, Chinese Malayit
PENDAHULUAN
Sebuah karya sastra tidak lahir begitu saja dari seorang pengarang. Pengarang dengan segala imajinasinya menciptakan tokoh-tokoh imajiner ke dalam karyanya, dan memasukkan pengalaman-pengalaman pribadi ke dalam karya sastra sehingga membuat karyanya menjadi nyata. Menurut Minderop para tokoh imajiner tersebut menampilkan watak dan perilaku yang terkait dengan psikologis atau konflik-konflik sebagaimana yang dialami oleh manusia dalam kehidupan nyata (Minderop, 2011: 1). Pendapat ini diperkuat oleh Ratna yang menyatakan bahwa tokoh-tokoh yang diciptakan pengarang dalam karya sastra/fiksi mengalami gelaja-gejala kejiwaan seperti obsesi, kontemplasi, sublimasi, bahkan neurosis (Ratna, 2004: 62). Endraswara juga menyatakan bahwa karya sastra dipandang sebagai kreativitas kejiwaan pengarang. Pengarang menggunakan segala cipta, rasa, dan karsa dalam menciptakan karyanya (Endraswara, 2008: 96).
Penelitian ini menggunakan sumber data primer berupa cerpen “The Yellow Wallpaper” (Gilman, 1892) karena tokoh utama dalam cerpen ini adalah seorang perempuan yang memiliki konflik kejiwaan serius sampai dianggap menderita gangguan jiwa atau gila. Penulis melihat bahwa pengarang perempuan lebih dapat menceritakan tentang tokoh perempuan dengan sangat teliti dan detail. Pendapat ini dipertegas dengan
pernyataan Khamis yang memandang karya sastra perempuan dapat
mengeksplorasi berbagai
permasalahan kehidupan yang dia alami, seperti pengalamannya sehari-hari, relasi antara dirinya dan
anak-anaknya, khususnya anak
perempuannya, dan relasi antara dirinya dengan laki-laki di sekelilingnya, baik dengan ayah, suami maupun anak laki-lakinya. Selain itu, Emosi tokoh perempuan dengan segala pergumulannya selama berinteraksi dengan para tokoh, khususnya para tokoh laki-laki menyuarakkan emosi yang hanya diungkap oleh pengarang perempuan (dalam Handayani, 2021).
Cerpen ini bercerita tentang seorang tokoh perempuan, istri dokter, yang menderita depresi berat setelah melahirkan. Berdasar pada tindakan medis waktu itu, suami membawanya ke tempat peristirahatan, yaitu di lantai atas rumahnya supaya dia dapat beristirahat total. Akan tetapi, si istri mengalami keadaan sebaliknya, yaitu merasa terisolasi, terkungkung secara fisik, psikis, emosional, dan intelektual. Dalam keadaan tertekan terus menerus, tokoh istri ini memusatkan perhatiannya pada kertas
dinding kamarnya. Dengan
imajinasinya, dia mengidentifikasi sosok perempuan dalam kertas dinding tersebut dan merasa senasib dengan sosok perempuan imajinernya. Perempuan ini selalu merangkak karena mengikuti tingkah perempuan imajiner dalam kertas dinding tersebut.
Gangguan Jiwa sebagai Bentuk Perlawanan Perempuan... (Eka Harisma W.) 75 Hal ini membuat suaminya pingsan
dan menganggapnya menderita gangguan jiwa.
Melahirkan adalah peristiwa yang menyenangkan bagi sebagian kaum perempuan. Akan tetapi bagi sebagian perempuan lain, peristiwa melahirkan merupakan suatu peristiwa yang menakutkan dan mencemaskan. Ketakutan dan kecemasan tersebut menurut penelitian Hoe, dkk. terhadap ibu postpartum blues di diakibatkan adanya perasaan tidak mampu untuk merawat bayinya, atau faktor lingkungan dan kurangnya partisipasi suami dalam merawat anaknya (dalam Djami, 2018).
Tidak sedikit perempuan yang dapat menyesuaikan diri dalam melakukan suatu aktivitas dan peran barunya sebagai ibu sehingga tidak sampai menderita depresi berat. Menurut teori kebidanan, (dalam Djami, 2018) depresi ringan, rasa murung yang dialami oleh ibu di masa nifas merupakan hal yang wajar. Keadaan itu akan kembali pulih dalam dua minggu setelah melahirkan dan tidak memerlukan penanganan yang serius. Namun, jika keadaan itu berlanjut dan menetap dalam diri ibu pada masa nifas, akan berakibat pada postpartum psikosis. Pospartum psikosis merupakan gangguan jiwa serius yang dialami oleh ibu setelah melahirkan dengan ditandai adanya ketidakmampuan membedakan antara khayalan dan kenyataan. Berdasarkan data statistik 10% kondisi kecemasan ibu setelah melahirkan berlanjut pada kondisi postpartum psikosis Kondisi ibu yang mengalami postpartum
psikosis, tecermin pada tokoh perempuan dalam cerpen “The Yellow Wallpaper”.
Cerpen ini cukup terkenal di Amerika, sehingga sudah banyak tulisan yang menganalisisnya. Tulisan-tulisan tersebut antara lain, (1) “Deconstruction Prespective Towards The Characters in Gilman’s The Yellow Wallpaper Short Story” (Imas, dkk., 2019); (2) “Keterpenjaraan Tokoh Perempuan dalam Cerpen The Yellow Wallpaper Karya Charlotte Perkin Gilman” (Ratna, 2015); dan (3) “The Yellow Wallpaper”: The Symbols that Represent Gilman’s Messages for Women in Patriarchal Society” (Zakarias, 2008); (4) “A Reflection of patriarchal Society in the Nineteenth Century Amerika: A Case Study of Charlotte Perkins Gilman’s The Yellow Wallpaper” (Nurhayati, dkk., 2005). Beberapa kajian tersebut menggunakan kajian kritik sastra feminis. Perbedaan penelitian ini dengan penelitian terdahulu adalah penulis akan menggabungkan dua teori, yaitu feminis psikoanalisis untuk menganalisis cerpen ini, karena penulis beranggapan bahwa kondisi psikis atau gangguan jiwa yang dialami oleh tokoh istri merupakan bentuk dari perlawanan perempuan terhadap tokoh suami sebagai representasi budaya patriarki.
Setiap kekuasaan dalam masyarakat yang menganut sistem patriarki dikontrol oleh laki-laki. Perempuan hanya memiliki sedikit pengaruh dalam masyarakat atau bisa dikatakan tidak memiliki hak pada wilayah-wilayah umum dalam
76 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 1, Mei 2021 masyarakat. Mereka secara ekonomi, sosial, politik, dan psikologi tergantung pada laki-laki, khususnya dalam institusi pernikahan. Dalam keluarga maupun masyarakat, perempuan diletakkan pada posisi subordinat atau inferior. Hal ini sesuai dengan pengertian patriarki yang terdapat dalam Oxford Advanced
Learner’s Dictionary yang
menyebutkan patriarchy refers to a society, a system, or a country that is ruled or controlled by men yang bermakna patriarki mengacu pada masyarakat, sistem, atau negara yang diatur atau dikontrol oleh laki-laki (Hornby, 2000: 1110).
Menurut Madsen pekerjaan perempuan hanya pada wilayah domestik, mengurus suami, menjadi ibu dengan mengurus anak-anaknya (Madsen, 2000: 2). Peran-peran domestik tersebut dilekatkan pada sosok perempuan oleh masyarakat yang menganut sistem patriarki.
Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini, penulis menggunakan menggunakan disiplin ilmu-ilmu lain untuk membedah karya sastra. Harsono menyatakan bahwa dalam mendekati karya sastra terdapat pendekatan lain selain pendekatan instrinsik, yaitu dengan menggunakan pendekatan ekstrinsik yang merupakan pendekatan teoritis dengan menggunakan teori-teori dari disiplin ilmu lain, meliputi: pendekatan kontekstual, hermeunetik, psikologis, filosofis, dan sebagainya (Harsono, 1999: 20). Teori yang digunakan penulis untuk mengkaji cerpen ini adalah teori feminisme psikoanalisis.
Feminisme biasa didefinisikan sebagai the belief, a movement, atau awareness yang berasal dari persepsi ketidaksetaran perempuan terhadap laki-laki dalam masyarakat. Mankiller, dkk. mendeskripsikan feminisme sebagai:
’the belief in economic, political, and social equality of males and females as a modern movement to transform the male-dominant past and create an egalitarian future’ (Mankiller, 1998: 187).
Terjemahan:
’keseteraan di antara laki-laki dan perempuan dalam bidang ekonomi, politik, dan sosial sebagai sebuah pergerakan modern kepada perubahan dominasi laki-laki masa lampau dan menciptakan masa depan yang sederajat’ (Mankiller, 1998: 187).
Feminisme psikoanalisis banyak diilhami dari pemikiran-pemikiran Freud tentang determinisme. Menurut Freud seperti dikutip Tong, secara biologis laki-laki memiliki penis dan perempuan tidak memiliki penis. Pandangan ini menjadi dasar penindasan terhadap kaum perempuan (dalam Tong, 2006). Pandangan mengenai determinisme ditolak oleh penganut feminisme psikoanalisis, antara lain Karen Horney yang menyatakan bahwa rasa iri perempuan terhadap laki-laki lebih disebabkan peran laki-laki dalam konstruksi sosial lebih superior, sehingga menyebabkan perempuan dinomorduakan dan dikesampingkan hak-haknya (dalam Rosa, 2019).
Gangguan Jiwa sebagai Bentuk Perlawanan Perempuan... (Eka Harisma W.) 77 Laki-laki dianggap memiliki
kekuatan lebih dibandingkan perempuan. Di semua lini kehidupan, masyarakat memandang perempuan sebagai seorang yang lemah dan tidak berdaya. Artinya, kehadirannya tidak dilihat sebagai makhluk yang memiliki hak sama atau setara. Perempuan diletakkan pada wilayah domestik dan ruang geraknya untuk berkreasi dipangkas oleh laki-laki.
Pembatasan-pembatasan peran perempuan oleh laki-laki yang terjadi secara terus-menerus dapat mengakibatkan depresi bagi perempuan. Mereka harus patuh pada perintah laki-laki atau suaminya meskipun dalam dirinya mereka menolak. Hal ini dapat mempengaruhi kondisi kejiwaan perempuan. Kondisi ini seperti yang dialami oleh tokoh istri dalam cerpen “The Yellow Wallpaper”. Tokoh istri dalam cerpen ini kemudian melakukan perlawanan terhadap tokoh suami, John.
Horney berasumsi bahwa konflik neurotik dapat muncul dari hampir semua tahapan perkembangan manusia, tetapi masa kanak-kanak adalah saat sebagian besar masalah timbul. Peristiwa traumatis yang berbeda-beda, seperti pelecehan seksual, pemukulan, penolakan atau pengabaian, dapat mempengaruhi perkembangan anak di masa depan.
Pengalaman-pengalaman yang
merusak ini hampir selalu ditimbulkan oleh kurangnya kehangatan dan kasih sayang yang tulus (dalam Feist, 2010: 197–198).
Lingkungan keluarga menjadi tempat perkembangan kondisi
seseorang dibentuk. Misalnya seorang istri membutuhkan dukungan suami dan bekerja sama dalam merawat
anak-anaknya. Metode yang
digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kepustakaan atau library research. Menurut Semi, metode penelitian ini dilakukan dengan cara mengumpulkan data-data dan informasi tertulis mengenai objek yang sedang diteliti. Dari segi tempat, penelitian pustaka dilakukan di dalam kamar kerja atau ruang perpustakaan dan peneliti dapat mengakses data serta informasi objek yang ditelitinya dari buku maupun media lainnya (Semi, 1993: 6). Teori yang digunakan untuk mengkaji cerpen ini adalah feminisme psikoanalisis Karen Horney yang sudah penulis jelaskan sebelumnya. Metode pendekatan ini sesuai untuk melihat bagaimana bentuk dominasi atau belenggu patriarki yang dialami oleh tokoh perempuan dan bagaimana tokoh perempuan ini melakukan perlawanan sehingga dapat keluar dari belenggu patriarki tersebut dan memperoleh kebahagiaan.
Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis deskriptif yang bertujuan untuk mengungkap faktor penyebab perlawanan perempuan dan bentuk perlawanannya dengan menggunakan pendekatan feminis psikoanalisis. Adapun prosedurnya adalah: 1. membaca teks sastra, yaitu cerpen ”The Yellow Wallpaper”; 2. menganalisis faktor penyebab perlawanan perempuan; 3. menganalisis bentuk perlawanan tokoh
78 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 1, Mei 2021 perempuan; dan 4. membuat simpulan hasil analisis.
HASIL DAN PEMBAHASAN Faktor Penyebab Perlawanan Tokoh Perempuan
Ketidakadilan dalam menjalankan peran antara perempuan dan laki-laki yang terjadi terus menerus mengakibatkan perempuan dalam cerpen ini mengalami depresi yang sangat berat. Ketidakadilan tersebut merupakan bentuk dari dominasi atau belenggu dari suatu masyarakat yang menganut sistem patriarki. Bentuk dominasi patriarki yang tecermin
dalam cerpen “The Yellow
Wallpaper” antara lain subordinasi
tokoh perempuan,
alienasi/keterasingan tokoh perempuan, dan anggapan tokoh perempuan sebagai the other atau liyan yang pendapatnya tidak perlu didengarkan.
Subordinasi Tokoh Perempuan Subordinasi posisi peran perempuan dalam cerpen ini sangat jelas terlihat. Posisi perempuan yang subordinat membuatnya tidak memiliki hak untuk menentukan apa pun termasuk terhadap dirinya sendiri. Hak-hak perempuan dikebiri oleh dominasi laki-laki dan juga stereotipe masyarakat yang cenderung bias gender. Masyarakat yang menganut sistem patriarki menganggap bahwa maskulinitas (laki-laki) lebih baik daripada feminitas (perempuan).
Perempuan harus mengikuti semua perintah suaminya meskipun dia sadar hal itu tidak disukainya.
“I have a schedule prescription for each hour in the day; he takes all cares fo me, and I feel so basely ungrateful not to value it more” (Gilman, 1892: 2)
Terjemahan:
“Saya memiliki jadwal minum obat setiap jam dalam sehari; dia merawatku dalam hal apapun, dan saya merasa tak berterima kasih atas itu semua dan tidak menghargainya” (Gilman, 1892: 2). Dalam cerpen ini ditemukan stratifikasi posisi antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki diletakkan pada posisi yang lebih tinggi sementara perempuan tidak. Pengarang cerpen ini tidak dapat lepas dari budaya patriarki yang ada pada masyarakat sekitarnya. Nalar dan paradigma masyarakat pada cerpen ini cenderung menempatkan perempuan pada tempat kedua.
“John is a physician… If a physician of high standing, and one’s own husband…
My brother is also a physician and also high standing…” (Gilman, 1892: 1).
Terjemahan:
“John adalah seorang dokter...jika seorang dokter memiliki kedudukan yang tinggi, dan suamiku…
Saudaraku juga seorang dokter dan memiliki kedudukan tinggi …” (Gilman, 1892: 1)
Perempuan dianggap tidak memiliki posisi lebih dalam masyarakat dan
Gangguan Jiwa sebagai Bentuk Perlawanan Perempuan... (Eka Harisma W.) 79 harus dilindungi. Suami menganggap
istrinya sebagai angsa kecil yang terberkati dan membutuhkan perlindungan (Gilman, 1892: 4). Selain itu, hal yang menunjukkan posisi perempuan yang subordinat adalah pada saat tokoh perempuan ingin melakukan sesuatu demi kesenangan suaminya dan bukan untuk kesenangan dirinya sendiri (Gilman, 1892: 7).
Alienasi terhadap Tokoh Perempuan Alienasi dan isolasi mengacu pada perilaku yang membatasi ruang gerak perempuan dalam mengaktualisasikan dirinya sebagai individu. Dalam cerpen ini tokoh perempuan diisolasi dari dunia luar oleh tokoh laki-laki, suaminya. Keputusan laki-laki seperti tokoh John yang menempatkan istrinya dalam sebuah ruangan yang jauh dari dunia luar dengan alasan untuk memulihkan kondisi kejiwaan istrinya adalah simbolisasi dari pengasingan kaum perempuan dari peran-peran publik. Perempuan masuk dalam wilayah domestik, sedangkan laki-laki di wilayah publik. Hal ini tampak dalam cerpen ketika narator menceritakan detail letak rumah yang digunakan tokoh John untuk mengasingkan istrinya.
“It is quite alone, standing well back from the road, quite three mites from the village. It makes me think of English that you read, for there are hedges and walls and gates that lock, and tots of separated little houses for the
gardeners and people” (Gilman, 1892: 2).
Terjemahan:
“tampak hanya satu rumah, berdiri jauh membelakangi jalan, sepanjang 3 mite dari desa. Itu membuat saya berpikir tentang Bahasa Inggris yang kau baca, karena ada dinding, pagar, yang mengunci, dan banyak rumah kecil yang terpisah untuk tukang kebun dan orang-orang” (Gilman, 1892: 2).
Pembatasan-pembatasan ruang gerak terhadap tokoh perempuan yang dilakukan oleh tokoh laki-laki terdapat
pada hak perempuan untuk
mengembangkan diri, berkreasi, dan berpikir yang dipangkas oleh laki-laki dalam hubungannya sebagai suami istri. Dalam cerpen ini ditunjukkan ketika tokoh John melarang istrinya untuk menulis dengan alasan kegiatan menulis dan berpikirnya itu akan menjadikannya sakit.
“There comes John, and I must put this away, --he hates to have me write a word” (Gilman, 1892: 3) Terjemahan: “Ada John, dan aku harus menyembunyikannya, dia sangat tidak senang jika aku menulis” (Gilman, 1892: 3). Istrinya juga tidak berani melawan tokoh John.
“The fact is I am getting a little afraid of john.” (Gilman, 1892: 9) Terjemahan:
“Kenyataannya saya sedikit takut pada John” (Gilman, 1892: 9).
80 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 1, Mei 2021 Sebenarnya tidak hanya tokoh John yang menganggap kegiatan menulis tokoh utama membuatnya sakit. Tokoh utama yakin bahwa saudara perempuan John juga menyangka bahwa yang menyebabkan dirinya sakit adalah karena menulis.
“I verily believe she thinks it is the writing which made me sick!” (Gilman, 1892: 5).
Terjemahan:
“Saya yakin dia menganggap bahwa kegiatan menulisku yang memebuatku sakit!” (Gilman, 1892: 5).
Keadaan ini menunjukkan begitu kuatnya budaya patriarki mengakar pada pikiran masyarakat dalam cerpen ini, baik tokoh laki-laki maupun tokoh perempuan.
Sangat sulit untuk melepaskan diri dari jerat patriarki. Keadaan itu dirasakan oleh tokoh utama karena lingkungan selalu menekannya. Perempuan secara tidak sadar terhegemoni oleh sistem patriarki karena dikuatkan oleh kepercayaan terhadap ajaran agama yang seringkali berpihak pada laki-laki.
Ketika tokoh perempuan mulai berpikir dan berkarya dianggap oleh tokoh laki-laki sebagai kekonyolan dan sebuah mimpi atau keinginan yang
bodoh. Kegiatan untuk
mengembangkan diri tokoh
perempuan dibatasi dan ditekan oleh suaminya dengan alasan apa pun. Seperti terlihat dalam kutipan,
“…that you with never for one instant let that idea enter your
mind! it is a false and foolish fancy. Can you not trust me as a physician when I tell you so?” (Gilman, 1892: 8).
Terjemahan:
“…bahwa kamu tidak pernah membiarkan ide untuk memasuki pikiranmu! …itu merupakan khayalan yang palsu dan bodoh. Tidakkah kau mempercayaiku sebagi seorang dokter saat aku berbicara padamu” (Gilman, 1892: 8).
Pembatasan-pembatasan peran perempuan yang dilakukan oleh laki-laki merupakan ketakutan-ketakutan laki-laki terhadap tumbangnya kekuasaan laki-laki atau budaya patriarki.
Tokoh Perempuan dianggap sebagai The Other
Ada dua tokoh yang menonjol dalam cerpen ini, yaitu tokoh perempuan yang tidak memiliki nama dan tokoh suami, John. Pengarang menggunakan sudut pandang orang pertama I sebagai tokoh utama dan tidak memberikannya sebuah nama untuk merepresentasikan seluruh perempuan yang ada pada masyarakat dalam cerpen itu. Tokoh John, suaminya, mewakili seluruh tokoh laki-laki dalam masyarakat patriarki dalam cerpen itu. Tokoh John memosisikan dirinya sebagai
subjek/penguasa, sedangkan
perempuan diposisikan sebagai orang lain atau the other. Kondisi ini ditunjukkan melalui kepasrahan tokoh utama (tokoh perempuan) yang
Gangguan Jiwa sebagai Bentuk Perlawanan Perempuan... (Eka Harisma W.) 81 sekaligus sebagai narator dalam
menerima perlakuan suaminya.
Perempuan tidak dapat berbuat apa-apa atau tunduk (submissive) pada kehendak laki-laki. Hal ini ditunjukkan Gilman dalam cerpennya ketika tokoh perempuan tidak dapat menolak ditempatkan di sebuah rumah yang terisolasi dari dunia luar dan dia harus menuruti perintah suaminya. Selain itu, perkataannya juga tidak didengarkan. Keluhannya tentang dekorasi dinding rumahnya yang sangat menakutkan dan keinginannya supaya diubah atau dia pindah dari rumah itu tidak dihiraukan suaminya. Suaminya menanggapinya secara dingin dan menertawakannya.
“I don’t like our room a bit. I wanted one downstairs that opened on the pizza and had roses all over the window, and such pretty old-fashioned chintz hangings! But John would not hear it.”
“He laughs at me so about this wall-paper!
“At the first he meant to repaper the room, but afterwards he said that I was letting it get the better of me …
“You know the place is doing you good, he said, and realty, dear, I don’t care to renovate the house …”
“Then do let us go downstairs, I said…” (Gilman, 1892: 2–4). “The repairs are not done at home, and I cannot possibly leave town just no. …I feel realty much easter about you (Gilman, 1892: 8). Terjemahan:
“Aku tidak menyukai kamar kita. Aku ingin satu lantai bawah yang
terbuka di atas pizza dan memiliki mawar di setiap jendela, dan hiasan chintz yang cantik! Tetapi John tidak menghiraukannya.”
“Dia menertawakanku tentang pendapatku soal dinding kamar!” Awalnya dia ingin mengganti dinding kamar ini, tetapi beberapa saat dia mengatakan bahwa dinding kamar lama akan membuatku menjadi lebih baik…
“Kau tahu tempat ini bagus untukmu, dan aku tak ingin merenovasi rumah ini…”
“ayo kita ke bawah, kataku ….” (Gilman, 1892: 2–4).
“perbaikan rumah tak mungkin dilakukan, … dan aku sungguh pasrah padamu (Gilman, 1892: 8). Kutipan-kutipan itu menunjukkan bahwa perempuan dianggap sebagai the other dan suaranya atau pendapatnya mengenai sesuatu dalam hal ini desain rumah tidak dipedulikan karena dianggap tidak penting. Kondisi perempuan yang selalu menjadi objek dan keberadaannya seperti tidak dianggap itu, disebabkan oleh budaya patriarki yang begitu kuat mengakar pada cara berpikir masyarakat termasuk pada pola pikir perempuan sendiri.
Begitu kuatnya pengaruh budaya patriarki dalam masyarakat menjadikan perempuan sebagai objek kekuasaan. Masyarakat khususnya laki-laki menganggap perempuan tidak dapat berbuat apa pun meskipun sebenarnya dia mampu. Hal ini ditunjukkan dalam cerpen ketika tidak ada seorang pun yang mengakui kemampuan yang dimiliki tokoh
82 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 1, Mei 2021 utama untuk keluar dari depresi setelah melahirkan putranya.
“Nobody would believe what an effort it is to do what little I am able, --to dress and entertain, and order things” (Gilman, 1892: 3) Terjemahan:
“Tak ada seorangpun yang percaya pada usahaku dan kemampuanku, untuk berpakaian dan bersenang-senang, dan melakukan sesuatu” (Gilman, 1892: 3).
Bentuk Perlawanan Tokoh
Perempuan
Representasi nilai-nilai feminisme yang dilakukan oleh tokoh perempuan dalam cerpen ini, yaitu dengan melakukan perlawanan terhadap dominasi atau belenggu patriarki. Bentuk perlawanan menurut Horney (dalam Feist, 2010: 143) antara lain perlawanan mendekati orang lain (moving forward people), melawan orang lain (against people), dan menjauhi orang lain (moving away from people).
Perlawanan Mendekati Orang lain (Moving Forward People)
Tokoh perempuan ini berusaha menjelaskan kepada suaminya bahwa tindakan medis rest cure yang dijalaninya tidak dapat membuat kondisinya membaik. Isolasi yang diterapkan oleh John, suaminya yang seorang dokter membuatnya semakin tertekan dan terpasung.
Dia berusaha menjelaskan kepada suaminya bahwa tindakan medis ini tidak efektif.
““I don’t weight a bit more.” Said I. “nor as much; and my appetite may be better in the evening when you are here, but it is worse in the morning when you are away!”” (Gilman, 1892: 4).
Terjemahan:
“berat badanku tak bertambah.” Kataku. “sama sekali; dan perutku mungkin lebih baik di sore hari saat kau ada di sini, tetapi itu akan memburuk di pagi hari saat kau pergi!” (Gilman, 1892: 4).
Tokoh ini berusaha menjelaskan bahwa pengisolasian dirinya membuatnya semakin terpuruk. Ia membutuhkan sosialisasi dan bertemu dengan orang lain karena itu membuatnya merasa lebih nyaman sehingga selera makannya membaik. Akan tetapi, pendapat tokoh ini tidak dihiraukan oleh suaminya. Atas nama tindakan medis saat itu dan kuatnya dominasi laki-laki, maka perempuan tidak memiliki pendapat yang harus dihiraukan meskipun pendapat tentang kondisi dirinya sendiri.
Upaya yang dilakukan tokoh perempuan ini akhirnya dengan memunculkan teman imajinernya yang menurutnya senasib dengannya. Objek yang menimbulkan imajinasinya adalah kertas dinding kamarnya. Tiap malam hari imajinasi tokoh
perempuan menguat dalam
menginterpretasi kertas dinding kamarnya. Ia mengidentifikasi pola kertas dinding tersebut dan tampak
Gangguan Jiwa sebagai Bentuk Perlawanan Perempuan... (Eka Harisma W.) 83 sosok perempuan di baliknya.
Interpretasi yang terus menerus terhadap kertas dinding membuat tokoh perempuan semakin jelas melihat sosok perempuan khayalan di balik sulur-sulur tanaman yang menjadi pola kertas dinding tersebut.
“I see her in that long-shaded lane, creeping up down, I see her in those dark grabe arbors, creeping all around the garden,” (Gilman, 1892: 14).
Terjemahan:
“Aku melihatnya di jalur berbayang yang panjang, merayap ke atas dan ke bawah, Aku melihatnya di sebuah ujung yang gelap, merayap di sekitar taman,”(Gilman, 1892: 14).
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa tokoh perempuan ini berusaha melakukan perlawanan dengan cara ingin bersosialisasi atau mendekati orang lain. Namun, ketika hal itu dilarang oleh suaminya, tokoh tersebut
secara diam-diam berusaha
memunculkan teman khayalan.
Perlawanan Melawan Orang Lain (Moving Against People)
Dalam upaya melakukan perlawanan terhadap dominasi laki-laki yang merupakan representasi dari patriarki, tokoh ini mulai melakukan kegiatan berpikirnya kembali dan tidak mendengarkan perintah dari suaminya. Kegiatan yang dilakukannya adalah menulis.
Tokoh utama dalam cerpen ini berusaha melakukan kembali aktivitas
menulisnya secara sembunyi-sembunyi.
“But I can write when she is out…” (Gilman, 1892: 5).
Terjemahan:
“tetapi aku dapat menulis saat dia sedang keluar” (Gilman, 1892: 5). Dia juga melanjutkan kegiatan berpikirnya. Hal ini menunjukkan bahwa tokoh utama berusaha untuk keluar dari tekanan dan pembatasan ruang gerak terhadap dirinya.
Perlawanan tokoh perempuan ini dilakukan secara diam-diam. Hal ini menujukkan masih ada ketakutan-ketakutan tokoh istri terhadap tokoh suami ketika dia mulai menulis. Keberanian yang dirasakan oleh tokoh ini muncul dengan luar biasa ketika tokoh ini dianggap oleh dianggap mengidap penyakit psikis/ gangguan jiwa.
Tokoh perempuan dalam cerpen ini mengalami depresi berat setelah melahirkan putranya.
“…temporary nervous depression – a slight hysterical tendency – what is one to do?” (Gilman, 1892: 1). Terjemahan:
depresi sementara – kecenderungan histeris- apa yang dilakukan?” (Gilman, 1892: 1).
Kondisi kejiwaannya tersebut menyebabkan dirinya ditempatkan dalam rumah yang terpencil dari masyarakat. Tokoh utama merasa tertekan, terisolasi, dan terkungkung dari dunia luar dan hal itu yang
84 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 1, Mei 2021 menyebabkan keadaannya bertambah buruk.
“I sometimes fancy that in my condition if I had less opposition and more society and stimulus-but John says the very worst thing I can do is to think about my condition, and I confess it always makes me bad” (Gilman, 1892: 1).
Terjemahan:
“Aku terkadang membayangkan tentang kondisiku jika saya memiliki banyak stimulus dan bermasyarakat-tetapi John mengatakan itu merupakan sesuatu hal yang buruk untuk memikirkan tentang kondisiku, dan saya sadar itu selalu membuatku sedih” (Gilman, 1892: 1).
Tokoh utama merasa dirinya dikelilingi oleh warna dekor dinding yang sangat menakutkan. Semakin ditatapnya dinding itu, dia merasakan sesuatu yang aneh dalam dirinya. Dia seolah-olah melihat keberadaan seorang perempuan yang lehernya patah dengan mata seperti bola menatap ke arahnya dalam posisi terbalik.
“There is a recurrent spot where the pattern lolls like a broken neck and two bulbous eyes stare at you upside and down” (Gilman, 1892: 4).
Terjemahan:
“ada lobang di mana polanya seperti leher patah dan dua mata bulat menatap Anda dari atas ke bawah” (Gilman, 1892: 4).
Tokoh utama seperti dihantui oleh aturan dan warna kuning dari
ruangan kertas dinding karena tidak ada yang menstimulasinya atau tidak ada yang mendorongnya untuk keluar dari depresi. Pengurungan dirinya pada sebuah tempat yang terpencil dan terisolasi menambah depresiya semakin berat.
“It is the strangest yellow, that wall-paper! It makes me think of all the yellow things I ever saw – not beautiful ones like buttercups, but old foul, bad yellow things. But there is something else about that paper – the smell!..(Gilman, 1892: 11).
Terjemahan:
“Itu kuning teraneh, kertas dinding itu! Itu membuatku memikirkan semua hal kuninng yang pernah aku lihat – bukan sesuatu yang indah seperti kue mentega, tetapi sesuatu yang busuk tua, kuning yang jelek. Tetapi ada hal lain tentang kertas itu – baunya!...(Gilman, 1892: 11). Dari kutipan tersebut dapat dilihat bahwa tokoh utama mendapatkan sesuatu yang sangat aneh dari kertas dinding rumahnya. Selain warna, tokoh utama seperti melihat perempuan yang merangkak di belakang kertas dinding itu dan ingin melarikan diri. Dia merasa dirinya termasuk perempuan itu.
“There are so many of those creeping women, and they creep so fast.” (Gilman, 1892: 14).
Terjemahan:
“ada banyak perempuan yang merangkak, dan mereka merangkak sangat cepat” (Gilman, 1892: 14).
Gangguan Jiwa sebagai Bentuk Perlawanan Perempuan... (Eka Harisma W.) 85 Tokoh perempuan mengikuti apa yang
dilihatnya.
“But here I can creep smoothly on the floor, and my shoulder just fits in that long smooch around wall…” (Gilman, 1892: 15).
Terjemahan:
“tetapi disini saya dapat merangkak pelan-pelan di lantai, dan bahuku sesuai dengan sekeliling dinding...” (Gilman, 1892: 15).
Tekanan atau represi yang dilakukan tokoh John secara terus menerus mulai dari pengasingan dirinya, dekorasi rumah yang sangat menakutkan, istirahat total yang harus dijalani, tidak boleh menulis, berpikir, dan lain-lain menyebabkan dirinya mengalami depresi yang sangat berat dan terus bertambah sehingga memengaruhi kondisi kejiwaan dan akhirnya mengalami gangguan jiwa/gila. Hal ini sesuai dengan teori kebidanan yang mengatakan bahwa tokoh perempuan tidak dapat membedakan antara khayalan dan kenyataan yang diakibatkan karena depresi yang sangat berat akibat tekanan, kurangnya stimulasi dan dukungan orang sekitar terutama suami untuk dapat membantunya pulih dari depresi.
Pada akhir musim panas, sehari setelah masa sewa rumah yang digunakan untuk istirahat totalnya, tokoh utama senang jika banyak wanita yang dilihatnya di belakang kertas dinsing merangkak sangat cepat untuk keluar dari kertas dinding sebagaimana dia ingin keluar dari kertas dinding. Kertas dinding
merupakan simbol kekuasaan laki-laki.
Dirinya dan banyak wanita tersebut merangkak pelan-pelan dan merobek-robek kertas dinding itu.
“I pulled and she shook, I shook and she pulled, and before morning we had peeled off yard of that paper” (Gilman, 1892: 13).
Terjemahan:
“aku menarik dan dia mengguncang, aku mengguncang dan dia menarik, dan sebelum pagi kami telah melepas kertas itu” (Gilman, 1892: 13).
Dalam cerpen ini tokoh utama berhasil keluar dari tekanan suaminya. “I’ve got out last,” said I, “in spite of you and Jane. And I’ve pulled off most of the paper, so you can’t put me back!” (Gilman, 1892: 15). Terjemahan:
“aku telah mendapatkan yang terakhir,” kataku, “terlepas kamu dan Jane. Dan aku telah menarik sebagian besar kertas itu, sehingga
kamu tidak dapat
mengembalikanku ke dalam kertas itu!” (Gilman, 1892: 15).
Maksud dari pernyataan tokoh istri tersebut adalah dia dapat terbebas dari tekanan suaminya yang merupakan representasi dari masyarakat patriarki. Keberanian tokoh istri ini untuk melawan lantaran dia dianggap gila
atau menderita gangguan
jiwa/psikosis. Namun, dengan gangguan jiwa yang diderita oleh tokoh istri, dia dapat melawan dan merobek dinding kertas kamarnya.
86 ALAYASASTRA, Volume 17, No. 1, Mei 2021
Perlawanan Menjauhi Orang Lain (Moving Away from People)
Bentuk realisasi perlawanan menjauhi orang lain dalam cerpen tercermin dalam keberanian tokoh perempuan untuk berkuasa atas dirinya sendiri. Tokoh ini berani melawan dominasi atau belenggu patriarki atas nama tindakan medis atau perawatan yang dialami oleh tokoh ini “rest cure”. Dia diceritakan menjadi pengendali atas dirinya, tubuh, dan pikirannya.
Perlawanan tersebut ditunjukkan melalui peristiwa tokoh perempuan sengaja mengunci pintu kamarnya dan membuang kuncinya melalui jendela.
“I have looked the door and thrown the key down into front path. I don’t want to go out, and I don’t want to have anybody come in, till John comes” (Gilman, 1892: 14).
Terjemahan:
“Aku telah mengunci pintu dan melemparkan kunci itu ke bawah. Aku tidak ingin keluar, dan aku tak ingin seorangpun masuk, sampai John datang” (Gilman, 1892: 14)
Tindakan yang dilakukan oleh tokoh perempuan ini merupakan bentuk perlawanan menjauhi orang lain. Dia betindak sebagai pengendali atau penguasa atas kamarnya sendiri. Dia tidak ingin bertemu dengan orang lain, saudara perempuan suaminya yang biasa merawatnya setiap hari. Kondisi ini menunjukkan adanya penolakan terhadap tindakan “rest cure” yang dijalaninya selama ini. Keberanian tokoh perempuan ini untuk mengunci kamarnya
merupakan bentuk kekuasaan dan kebebasan atas diri tokoh ini sendiri. Dia tidak lagi diatur oleh orang lain yang merupakan lingkaran dari patriarki. SIMPULAN
Dari hasil analisis yang dilakukan terhadap cerpen “The Yellow Wallpaper” karya Charalotte Perkins
Gilman dengan menggunakan
pendekatan feminisme psikoanalisis Karen Horney ditemukan bahwa tokoh perempuan dalam cerpen ini melakukan perlawanan terhadap dominasi atau belenggu patriakri yang dialaminya. Dominasi atau belenggu tersebut merupakan faktor penyebab perlawanan tokoh perempuan. Belenggu tersebut antara lain perempuan dianggap sebagai other dan tidak memiliki suara apa pun dalam keluarga. Selain itu, subordinasi posisi tokoh istri yang merupakan representasi perempuan dalam cerpen dan alienasi/ pengasingan tokoh istri terhadap dunia luar.
Dominasi atau belenggu yang dialami oleh tokoh istri ini membuatnya sangat tertekan dan depresi, terlebih setelah melahirkan
anaknya. Pembatasan dan
pengisolasian dengan tanpa dukungan dan motivasi yang baik dari tokoh suami membuat tokoh istri melakukan perlawanan. Bentuk perlawanan yang tecermin dalam cerpen ini antara lain perlawanan mendekati orang lain (moving forward people), perlawanan melawan orang lain (against people), dan perlawanan menjauhi orang lain (moving away from people).
Gangguan Jiwa sebagai Bentuk Perlawanan Perempuan... (Eka Harisma W.) 87 DAFTAR PUSTAKA
Djami, M. E. 2018. “Proses Adaptasi Fisiologi dan Psikologi Ibu Nifas”.
https://moudyamo.wordpress.co m/2018/06/29/proses-adaptasi-fisiologi-dan-psikologi-ibu nifas. Diunduh pada tanggal 11 Februari 2021, pukul 13.00 WIB.
Endraswara, S. 2008. Metodologi Penelitian Satra: Epistemologi, Model, Teori, dan Aplikasi. Univeritas Negeri Yogyakarta Press.
Feist, J. G. 2010. Teori Kepribadian (Edisi 7). Salemba Humanika. Gilman, C. P. 1892. The Yellow
Wallpaper.
http://etext.virginia.edu/toc/mode ng/public/Gilyell.html. Diunduh pada tanggal 9 Januari 2021, pukul 09.00 WIB.
Handayani, R. 2021. “Sastra Feminis Indonesia: Dulu dan Kini”. http://repository.uinjkt.ac.id/dspa ce/bitstream/123456789/32191/1. pdf. Diunduh pada tanggal 25 Maret 2021, Pukul 9.14 WIB. Harsono, S. 1999. Metodologi
Penelitian Sastra. Yayasan Deaparamartha.
Hornby, AS. 2000. Oxford Advanced Learner’s Dictionary. Oxford University Press.
Madsen, L. D. 2000. Feminist Theory and Literary Practice. Pluto Press.
Mankiller, W. dkk. 1998. Women’s
History. Houghton Mifflin Company.
Minderop, A. 2011. Psikologi Sastra. Yayasan Pustaka Obor Indonesia. Ratna, N. K. 2004. Teori, Metode, dan
Teknik Penelitian Sastra. Pustaka Pelajar.
Rosa, N. 2019. “Karen Horney:
Mengenal The Feminist
Psychoanalysist.”
https//psikomedia.net/2019/05/26 . Diunduh pada tanggal 11 Februari 2021, pukul 09.00 WIB. Semi, M. A. 1993. Metodologi
Penelitian sastra. Angkasa. Tong, R. P. 2006. Feminisme Thought:
Pengantar Paling Komprehensif kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis. Jalasutra.