• Tidak ada hasil yang ditemukan

* correspondence author: Handphone: , ABSTRAK

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "* correspondence author: Handphone: , ABSTRAK"

Copied!
10
0
0

Teks penuh

(1)

104 Hubungan Teknik Cuci Tangan, Teknik Aseptik Dan Dressing Dengan Kejadian Phlebitis Di

Rsud Ulin Banjarmasin Paul Joae Brett Nito1, Dewi Wulandari2

1,2Universitas Sari Mulia Banjarmasin

* correspondence author: Handphone: +6282155609724, E-mail: [email protected]

ABSTRAK

Latar Belakang: Terapi intravena merupakan terapi umum yang diberikan rumah sakit dengan pemberian cairan, obat, transfusi darah, nutrisi ke dalam pembuluh darah vena dalam jumlah dan waktu tertentu melalui pemasangan infus atau kateter vena yang dapat menimbulkan komplikasi salah satunya adalah phlebitis. Phlebitis adalah peradangan atau iritasi pada dinding pembuluh darah vena yang disebabkan oleh faktor mekanik, kimia, bakteri atau internal. Kejadian phlebitis di Indonesia tahun 2013 sekitar 50,11% untuk Rumah Sakit Pemerintah dan 32,70% Rumah Sakit Swasta.

Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan teknik cuci tangan, teknik aseptik, dan dressing dengan kejadian phlebitis di ruang rawat anak rumah sakit di Banjarmasin.

Metode: Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan pendekatan kohort. Sampel penelitian ini adalah anak-anak yang mendapatkan terapi intravena (80 sampel). Teknik sampling yang digunakan adalah konsekutif sampling dengan kriteria yang telah ditentukan. Instrumen yang digunakan adalah lembar observasi responden dan Visual Infusion Phlebitis Scale (VIP Scale). Analisa data menggunakan uji chi square.

Hasil: Tidak ada hubungan yamg siginifikan antara teknik cuci tangan, teknik aseptik, dan dressing dengan kejadian phlebitis (p > 0,05).

Kesimpulan: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara teknik cuci tangan, teknik aseptik, dan dressing dengan kejadian phlebitis.

(2)

105 Pendahuluan

Terapi intravena merupakan terapi umum yang diberikan rumah sakit berupa pemberian cairan, obat, transfusi darah, atau nutrisi ke dalam pembuluh darah vena dalam jumlah dan waktu tertentu melalui pemasangan infus atau kateter vena.1,2,3 Terapi intravena tentu akan menimbulkan distress fisik bagi anak dan komplikasi salah satunya adalah phlebitis.1,4, 5, 6

Phlebitis menjadi salah satu komplikasi yang sering terjadi pada terapi intravena.7,8 Angka kejadian phlebitis yang terlaporkan dalam penelitian Nagpal et al (2015) berkisar 2,3 - 67%9, di Indonesia menurut Depkes RI tahun 2013 adalah sebesar 50,11% untuk Rumah Sakit Pemerintah, sedangkan Rumah Sakit Swasta adalah 32,70%.10 Phlebitis adalah suatu keadaan dimana vena mengalami inflamasi, yang ditandai dengan nyeri didaerah penusukan, nyeri tekan, bengkak, eritema, kemerahan dan vena teraba keras11 yang disebabkan faktor internal (usia, status nutrisi, stress, keadaan vena, penyakit pasien) dan

faktor eksternal (mekanis, kimia, bakterial).4,12,13,14,15,16

Hasil penelitian Erdogan BC dan Denat Y (2016), dengan judul penelitian “The

Development of Phlebitis and Infiltration in

Patients with Peripheral Intravenous

Catheters in the Neurosurgery Clinic and Affecting Factors” menyebutkan beberapa

faktor yang menyebabkan terjadinya phlebitis, yaitu umur dan jenis kelamin, penyakit yang diderita, daerah penusukan kateter/ anatomi, lama penggunaan kateter, penggunaan daerah yang sama sebagai penusukan kateter, metode administrasi obat dan prosedur terapi serta, status pendidikan dan pengalaman tenaga medis.

Bahan dan Metode

Penelitian dilakukan di ruang rawat anak RSUD Ulin Banjarmasin Kalimantan Selatan. RSUD Ulin Banjarmasin merupakan rumah sakit rujukan tipe A dengan karakteristik pasien, penyakit dan metode perawatan yang bervariasi. Peneliti menggunakan metode analitik observasional dengan jenis studi cohort, data dikumpulkan sejak Mei – Juni 2017 menggunakan teknik

(3)

106

consecutive sampling dengan kriteria inklusi:

1) Anak usia 0-14 tahun; 2) Anak yang akan mendapatkan terapi intravena; 3) Orangtua anak setuju anaknya menjadi responden penelitian; 4) Tidak sedang dalam terapi kemoterapi; 5) Perawat yang melakukan pemasangan kateter IV adalah perawat yang mempunyai pengalaman minimal 2 (dua) tahun diruang anak; 5) Insersi kateter IV maksimal dilakukan sebanyak 2 (dua) kali; 6) Insersi kateter IV dilakukan pada daerah ekstremitas atas; 7) Anak mendapatkan cairan isotonik/ hipotonik/ hipertonik; 8) Anak tidak memiliki gangguan hematologi.

Jumlah sampel sebanyak 80, terdiri dari 43 aki-laki dan 37 perempuan. Observasi dilakukan kepada sampel penelitian dengan cara menilai derajat phlebitis menggunakan

VIP Scale selama 24 jam penuh oleh peneliti/

asisten peneliti (sebelumnya telah dilakukan uji inter-rater reliability, nilai koefesien kappa 0,894). Nekuzad (2012) telah mengkonfirmasi validitas dan realibilitas VIP

Scale dengan nilai correlation coeffecient

0,93.17,18,19

Penelitian ini telah dilakukan uji etik oleh Komite Etik Rumah Sakit dan institusi. Selama proses penelitian, tujuan dan prosedur penelitian telah dijelaskan kepada partisipan dan disetujui sebelum melakukan penelitian. Partisipan berhak menolak ataupun mengundurkan diri selama proses penelitian tanpa unsur paksaan dari peneliti ataupun pihak lainnya. Segala unsur-unsur yang dapat merugikan partisipan telah dilakukan upaya pencegahan dan perlindungan oleh peneliti.

Hasil

Tabel 1.1 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan Usia dan Jenis Kelamin (N=80) No Variabel Frekuensi % Usia 1 Remaja 6 7,5 2 Sekolah 20 25 3 Pra Sekolah 11 13,8 4 Toodler 23 28,8 5 Bayi 20 25 Jenis Kelamin 1 Laki-laki 43 53,8 2 Perempuan 37 46,2

Distribusi responden (tabel 1.1) terbanyak pada penelitian adalah anak dengan usia

toodler sebanyak 23 orang (28,8%) dengan

jenis kelamin terbanyak adalah laki-laki, 43 orang (53,8%).

(4)

107 Tabel 1.2 Distribusi Frekuensi Responden Berdasarkan

Teknik cuci tangan, Teknik aseptik dan dressing (N=80).

No Variabel Frekuensi % Teknik Cuci Tangan

1 Dilakukan 54 67,5 2 Tidak dilakukan 26 32,5 Teknik Aseptik 1 Dilakukan 19 23,8 2 Tidak dilakukan 61 76,2 Dressing 1 Dilakukan 22 27,5 2 Tidak dilakukan 58 72,5 Phlebitis 1 Tidak 68 85 2 Ya 12 15

Distribusi responden (tabel 1.2) 54 sampel (67,5%) dilakukan pemasangan infus dengan menerapkan teknik cuci tangan sesuai prosedural, 61 sampel (76,3%) dilakukan pemasangan infus dengan tidak menerapkan teknik aseptik sesuai prosedural, 58 sampel (72,5%) dilakukan pemasangan infus dengan tidak melakukan dressing sesuai prosedural dan angka kejadian phlebitis adalah 12 orang (15%).

Tabel 1.3 Hubungan variabel penelitian dengan kejadian phlebitis Variabel Phlebitis p Value Ya (n=12) Tidak (n=68) f (%) f (%) Teknik cuci tangan

Dilakukan 7 (13) 47 (87) 0,512a Tidak dilakukan 5 (19,2) 21 (80,8) Teknik aseptik Dilakukan 1 (5,3) 18 (94,7) 0,276a Tidak dilakukan 11 (18) 50 (82) Dressing Dilakukan 1 (4,5) 21 (95,5) 0,164c Tidak dilakukan 11 (19) 47 (81)

a Fisher’s Exact Test

Berdasarkan hasil uji bivariat didapatkan nilai p value dari variabel teknik cuci tangan, teknik aseptik, dan dressing

adalah > 0,05 hal ini berarti tidak ada hubungan antara teknik cuci tangan, teknik aseptik, dan dressing terhadap kejadian phlebitis.

Pembahasan

a. Hubungan teknik cuci tangan dengan kejadian phlebitis

Berdasarkan hasil analisa bivariat didapatkan bahwa teknik cuci tangan tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian phlebitis (p value > 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel yang mengalami phlebitis pada teknik cuci tangan yang dilakukan ada sebanyak 7 orang (13%) sedangkan pada teknik cuci tangan yang tidak dilakukan ada sebanyak 5 orang (19,2%). Cuci tangan merupakan prosedur yang harus dilakukan secara rutin dan benar untuk mencegah infeksi pada pasien, hal ini merupakan upaya pencegahan komplikasi dari terapi intravena salah satunya adalah phlebitis.17,20

Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Saini R et al (2011) dan

(5)

108 Kaur P et al (2011) yang menyebutkan

bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara aplikasi teknik cuci tangan dengan kejadian phlebitis.21,22 Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan peneliti, beberapa peneliti menyimpulkan hasil penelitian bahwa cuci tangan berhubungan dengan kejadian phlebitis. Penelitian yang mendukung adanya hubungan signifikan antara cuci tangan dengan kejadian phlebitis antara lain adalah penelitian oleh Zhang L et al (2016), Loveday HP et al (2014), dan Hadaway L (2012).23,24,25 Hasil penelitian yang dilakukan oleh Neopane A (2013) menyebutkan bahwa cuci tangan merupakan faktor resiko yang jika dilakukan dapat mengurangi resiko terjadinya trombophlebitis.26

Selama pemasangan kateter IV dilakukan, peneliti mengobservasi bagaimana SOP pemasangan infus dilakukan oleh perawat ruangan. Hasilnya, perawat yang melakukan cuci tangan, teknik aseptik dan dressing tidak sesuai dengan SOP yang berlaku di ruangan khususnya teknik aseptik. Terdapat 26

(32,5%) orang yang tidak melakukan cuci tangan dengan benar (6 langkah cuci tangan). Teknik cuci tangan yang dilakukan menurut WHO terdapat dua metode, yaitu handwashing dan handscrub. Cuci tangan merupakan tindakan yang wajib dilakukan dalam SOP pemasangan infus/ kateter IV. Selain itu, cuci tangan merupakan salah satu tindakan pencegahan infeksi yang telah direkomendasikan oleh CDC.17,19

b. Hubungan teknik aseptik dengan kejadian phlebitis

Berdasarkan hasil analisa bivariat didapatkan bahwa teknik aseptik tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian phlebitis (p value > 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel yang mengalami phlebitis pada teknik aseptik yang dilakukan ada sebanyak 1 orang (5,3%) sedangkan pada teknik aseptik yang tidak dilakukan ada sebanyak 11 orang (18%). Teknik aseptik merupakan prosedur yang harus dilakukan secara rutin dan benar untuk mencegah

(6)

109 infeksi pada pasien. Teknik aseptik

dilakukan untuk mencegah adanya kontaminasi pada area insersi kateter IV yang berkontribusi menyebabkan phlebitis khususnya phlebitis yang diakibatkan oleh bakteri. Hal ini merupakan upaya pencegahan komplikasi dari terapi intravena salah satunya adalah phlebitis.

17,19

Sejauh peneliti ketahui belum ada hasil penelitian yang menyatakan tidak ada hubungan yang signifikan antara teknik aseptik dengan kejadian phlebitis. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan peneliti, beberapa peneliti menyimpulkan hasil penelitian bahwa teknik aseptik berhubungan dengan kejadian phlebitis. Penelitian yang mendukung adanya hubungan signifikan antara teknik aseptik dengan kejadian phlebitis antara lain adalah penelitian oleh Zhang L et al (2016), Loveday HP et al (2014), dan Hadaway L (2012). 23,24,25

Selama pemasangan kateter IV dilakukan, peneliti mengobservasi bagaimana SOP pemasangan infus

dilakukan oleh perawat ruangan. Hasilnya, banyak perawat yang tidak melakukan teknik aseptik (khususnya no re-touch) sebanyak 61 (76,3%) orang. Padahal teknik aseptik merupakan tindakan yang wajib dilakukan dalam SOP pemasangan infus/ kateter IV dan merupakan salah satu tindakan pencegahan infeksi yang telah direkomendasikan oleh CDC. 17,19

c. Hubungan dressing dengan kejadian phlebitis

Berdasarkan hasil analisa bivariat didapatkan bahwa dressing tidak mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian phlebitis (p value > 0,05). Hasil penelitian menunjukkan bahwa sampel yang mengalami phlebitis pada

dressing dengan area insersi terlihat ada

sebanyak 1 orang (4,5%) sedangkan pada

dressing dengan area insersi tidak terlihat

ada sebanyak 11 orang (19%). Dressing yang tidak tepat dapat menyebabkan mudahnya mikroorganisme masuk ke dalam pembuluh darah dan menyebabkan phlebitis. Dressing kateter IV harus selalu

(7)

110 dipantau keefektifannya dan termasuk

dalam perawat kateter IV untuk mencegah adanya kontaminasi pada area insersi kateter IV yang berkontribusi menyebabkan phlebitis khususnya phlebitis yang diakibatkan oleh bakteri. Hal ini merupakan upaya pencegahan komplikasi dari terapi intravena salah satunya adalah phlebitis. 17,19

Sejalan dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Salgueiro Oliveira A et al (2013), dan Machado AF et al (2008) dengan hasil penelitian bahwa tidak ada hubungan yang signifikan antara pengunaan dressing dengan kejadian phlebitis.25,26 Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Gorski L et al (2016) dan Helm RE et al (2015) yang menyatakan bahwa dressing mempunyai hubungan yang signifikan dengan kejadian phlebitis. Dressing yang benar (area insersi kateter IV dapat terlihat) merupakan prosedur yang harus dilakukan secara rutin untuk mencegah infeksi pada pasien. 17,19

Selama pengamatan peneliti, peneliti menemukan bahwa aplikasi dressing yang

diterapkan oleh perawat ruangan paling banyak menerapkan dressing dengan cara menggulungkan kassa pada daerah insersi (72,5%), dalam kasus ini terbanyak adalah daerah dorsum (72,5%). Kassa digulungkan seluas dorsum tangan pasien. Seharusnya, dressing yang digunakan adalah dressing yang dapat dilihat area insersi kateter IV untuk observasi phlebitis atau komplikasi lainnya. Menurut perawat ruangan, hal ini dilakukan untuk mencegah lepasnya kateter IV yang diakibatkan oleh aktifitas anak yang dinilai sangat aktif dan tidak kooperatif. Akibatnya, area insersi yang harusnya dapat terlihat untuk memantau area insersi tidak dapat dillakukan oleh perawat. Padahal, observasi area insersi merupakan langkah penting dalam pencegahan komplikasi pemasangan kateter IV. 17,19

Walaupun hasil penelitian tidak ada hubungan antara variabel penelitian dengan kejadian phlebitis, perawat tetap harus melaksanakan tindakan keperawatan sesuai dengan standar operasional prosedural serta melakukan perawatan

(8)

111 pada area insersi kateter IV sebagai upaya

pencegahan komplikasi.

Penelitian lanjutan terkait faktor penyebab phlebitis perlu dilakukan. Peneliti berpendapat, selama penelitian pemenuhan jumlah sampel sesuai dengan karakteristik yang diharapkan menjadi keterbatasan dalam penelitian ini. Meskipun memenuhi jumlah sampel yang dibutuhkan penelitian (80 sampel), jumlah sampel yang telah digunakan peneliti masih sedikit, mengingat penelitian ini merupakan penelitian cohort, tentunya memerlukan sampel yang lebih besar dan waktu penelitian yang lebih lama.

Ucapan Terimakasih

Penelitian ini berjalan dengan bantuan dari berbagai pihak. Peneliti mengucapkan terimakasih kepada pihak RSUD Ulin Banjarmasin yang memfasilitasi dalam penelitian dan teman sejawat yang membantu dan mensupport peneliti selama proses penelitian.

Daftar Pustaka

Potter AP, Perry GA, Stockert AP, Hall MA. Fundamentals of nursing. Ninth

Edition.USA: Elsevier; 2016. p

675-987.

Tee FY, Siew C, Low L, Matizha P. Patient Perceptions and Experience of Pain, Anxiety and Comfort during Peripheral Intravenous Cannulation in Medical Wards: Topical

Anaesthesia, Effective

Communication, and Empowerment.

International Journal of Nursing Science, 2015;5 (2):41–46.

Daud A, Mohamad F, Sowtali SN. Incidence of Phlebitis Among Adult Patients with Peripheral Intravenous Catheter in an East Coast Hospital Malaysia. International Journal of

Care Scholars, 2018;1 (2).

Craven FR, Hirnle JC, Jensen S.

Fundamentals of nursing: human health and function. China: Wolters

Kluwer Healty/Lippincott Williams & Wilkins, 2013.

Phillips DL. & Gorski L. Manual of I.V.

Therapeutics, evidence-based

practice for ınfusion therapy. F.A.

Philadelphia: Davis Company, 2014. Groll D, Davies B, Donald MJ, Nelson S,

Virani T. Evaluation of the psychometric properties of the phlebitis and infiltration scales for the assessment of complications of peripheral vascular access devices.

Infusion Nurses Society, 2010;33(6),

385-390.

Nagpal P, Khera GK, Kumar Y. A study Assess the Clinical Pattern of Phlebitis among children admitted in selected hospital of Ambala, Haryana.

Nursing and Midwifery Research Journal, 2015;11(2): 68-77.

Rizky W. Analsis faktor yang berhubungan dengan kejadian phlebitis pada pasien yang terpasang kateter intravena di ruang bedah rumah sakit Ar. Bunda Prabumulih. Journal Ners

(9)

112

and Midwifery Indonesia, 2016;4(2);

102-108.

Ray-Barruel G, Polit DF, Murfield JE, and Rickard CM. “Infusion phlebitis assessment measures: a systematic review,” Journal of Evaluation in

Clinical Practice, 2014;20(2): 191–

202.

Laudenbach N, Braun C, Klaverkamp L & Hedman-Dennis S. Peripheral IV stabilization and the rate of complications in children: An exploratory study. Journal of Pediatric Nursing, 2014;29: 348-353.

Erdogan BC, DenatY. The development of phlebitis and infiltration in patients with peripheral intravenous catheters in the neurosurgery clinic and affecting factors. International

Journal of Caring Sciences,

2016;9:619.

Anderson J, Greenwell A, Louderback J, Polivka BJ, Behr JH. Comparison of

Outcomes of Extended

Dwell/Midline Peripheral Intravenous Catheters and Peripherally Inserted Central Catheters in Children. JAVA, 2016;21(3):158-164.

Wallis MC, M. McGrail, J. Webster et al . “Risk factors for peripheral intravenous catheter failure: a multivariate analysis of data from a randomized controlled trial”.

Infection Control and Hospital Epidemiology, 2014;35(1): 63–68.

Cicollini G, Manzoli L, Simonetti V, Flacco M E, Comparcini D, Capasso L, Di Baldassarre A and Elta J I Elfarouki G. Phlebitis Risk Varies By Peripheral Venous Catheter Site And Increases After 96 Hours: A Large Multi-Center Prospective Study. Journal Of Advanced Nursing, 2014. Doi: 10.1111/Jan.12403.

Ray-Barruel G, Polit DF, Murfield JE, and Rickard CM. “Infusion phlebitis assessment measures: a systematic review,” Journal of Evaluation in

Clinical Practice, 2014;20(2): 191–

202.

Gorski L, Hadaway L, Hagle ME, McGoldrick M, Orr M, Doellman D. Infusion Therapy Standards of Practice. Journal of Infusion Nursing.

Infusion Nurses Society, 2016;39(1S):

S95-S98. ISSN 1533-1458.

Bagheri-Nesami M, Shorofi SA, Hashemi-Karoie SZ, Khalilian A. The effect of sesame oil on the prevention of amiodarone-induced phlebitis. Iran J

Nurs Midwifery Res,

2015;20(3):365-370.

Helm RE, Klausner JD, Klemperer JD, Flint LM, Huang E. Accepted but Unacceptable: Peripheral IV Catheter Failure. Infusion Nurses Society, 2015;38(3): 189-203.

Saini R, Agnihotri M, Gupta A, Walia I. Epidemiology of infiltration and phlebitis. Nursing and Midwifery

Research Journal, 2011;7(1), 22-33.

Kaur P, Thakur R, Kaur S, and Bhalla A. Assesment of Risk Factors of Phlebitis Amongst Intravenous Cannulated Patient. Nursing and

Midwifery Research Reporting of Medication Errors in Critical Access Journal, 2011;7(3): 106-114.

Zhang L, Cao S, Marsh N, Ray-Barruel G, Flynn J, Larsen E, Rickard CM. Infection risks associated with peripheral vascular catheters.

Journal of Infection Prevention,

SAGE, 2016;1–7.

Loveday HP, Wilson JA, Pratt RJ, Golsorkhi M, Tingle A, Bak A, Browne J, Prieto J, Wilcox M and UK Department of Health. National

(10)

113 evidence-based guidelines for

preventing healthcare-associated infections in NHS hospitals in England. Journal of Hospital Infection, 2014;86 (Suppl. 1): S1–70.

Hadaway L. Short peripheral intravenous catheters and infections. Journal of

Infusion Nursing, 2012;35: 230–240.

Neopane A. Peripheral venous thrombophlebitis risk and the role of hand washing. Nepal Journal of

Medical Sciences, 2013;2(1):26-29.

Salgueiro Oliveira A, Parreira P, Veiga P. Incidence of phlebitis in patients with peripheral intravenous catheters: The influence of some risk factors.

Australian Journal Of Advanced Nursing, 2013;30(2): 32-39.

Referensi

Dokumen terkait

Jika suatu kegiatan Eksplorasi yang sudah dilakukan tidak berlanjut ke tahap Eksploitasi karena pertimbangan keekonomian, maka biaya-biaya yang telah dikeluarkan

Hasil penelitian ini tidak sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Martin (dalam Wiseman, 1981) dan Erlina (2011). Berdasarkan hasil analisis terhadap hasil tes

Buruh Harapkan Prabowo Bisa Perbaiki Kesejahteraan Ribuan buruh yang hadir dalam acara peringatan Hari Buruh Sedunia di Gelora Bung Karno mengharapkan calon Presiden dari

Peran Baznas Kabupaten Batu Bara dalam pendayagunaan zakat sebagai upaya pengentasan kemiskinan menurut Undang-undang Nomor 23 Tahun 2011 mengalami kegagalan, sebab

TUN ABDUL RAZAK NO... GRAND

Dari percobaan di atas dapat disimpulkan bahwa ayunan konis yaitu sebuah benda bermassa m Dari percobaan di atas dapat disimpulkan bahwa ayunan konis yaitu sebuah benda bermassa

Teknologi informasi yang canggih akan membantu perusahaan dalam melakukan seluruh kegiatan operasional perusahaan, semua aktivitas yang dilakukan oleh manusia pada

a.. +uatu perusahaan akan memproduksi 9 macam barang.. yang jumlahnya tidak boleh lebih dari&L unit. "euntungan dari kedua produk tersebut masing- masing adalah