• Tidak ada hasil yang ditemukan

Sintesis Polimer Konduktif sebagai Bahan Baku untuk Perangkat Penyimpan Energi Listrik

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Sintesis Polimer Konduktif sebagai Bahan Baku untuk Perangkat Penyimpan Energi Listrik"

Copied!
5
0
0

Teks penuh

(1)

Sintesis Polimer Konduktif sebagai Bahan Baku

untuk Perangkat Penyimpan Energi Listrik

Berlian Sitorus

1)

, Veinardi Suendo

2)

dan Ferdinand Hidayat

3)

1)Jurusan Kimia, Fakultas MIPA Universitas Tanjungpura Jl. Ahmad Yani – Pontianak – 78124

e-mail: [email protected] 2)

Departemen Kimia, Institut Teknologi Bandung Jl. Ganesha 10 – Bandung – 40132

Abstract– Penggunaan material anorganik menjadi

sebuah masalah ketika baterai tidak dapat diolah secara alamiah, efisiensinya yang rendah dan biaya produksi yang tinggi. Solusi alternatif pembuatan baterai adalah dengan menggunakan material organik berupa polimer konduktif sebagai bahan baku. Polimer konduktif dapat secara luas diproduksi dengan biaya yang relatif lebih murah, dan bersifat organik. Akan tetapi polimer konduktif memiliki keterbatasan dalam hal konduktivitas yang relatif rendah sehingga perlu dilakukan proses doping untuk meningkatkan konduktivitasnya. Pada penelitian ini dilakukan sintesis untuk menghasilkan polimer konduktif yang merupakan perpaduan polianilina dan selulosa dengan dua metoda perlakuan yang berbeda yakni menggunakan sonik dan tanpa sonik. Dari hasil analisis terhadap frekuensi, hambatan maupun konduktifitas terhadap polimer yang dihasilkan dari kedua perlakuan disimpulkan bahwa polimer yang dihasilkan dengan menggunakan sonik akan menghasilkan polimer dengan sifat konduktifitas yang lebih baik yakni 1,02x10-4dibandingkan 1,79x10-5tanpa sonik. Nilai hambatan.

Kata kunci- Polimer konduktif, konduktifitas, sonik

1. Pendahuluan

Krisis energi yang merupakan salah satu isu permasalahan global yang terjadi dewasa ini telah memunculkan alternatif pengembangan perangkat penyimpan energi yang terbarukan. Salah satu perangkat penyimpan energi yang menjadi fokus pengembangan adalah baterai. Pengembangan baterai masih terfokus pada material berbasis anorganik seperti baterai Ni, Ni-Cd, dan Li-ion. Penggunaan material anorganik menjadi sebuah masalah ketika baterai tidak dapat diolah secara alamiah, efisiensinya yang rendah dan biaya produksi yang tinggi. Solusi alternatif pembuatan baterai adalah dengan menggunakan material organik berupa polimer konduktif sebagai bahan baku [1].

Pengembangan baterai dari bahan organik menjadi pilihan alternatif sejak publikasi nobel oleh [2]. Polimer konduktif seperti polianilina, poliasetilena, polipirole, merupakan polimer organik yang memiliki kemampuan menghantarkan arus listrik dengan sistem konjugasi ikatan rangkap. Polimer konduktif dapat secara luas diproduksi dengan biaya yang relatif lebih murah, dan

bersifat organik. Akan tetapi polimer konduktif memiliki keterbatasan dalam hal konduktivitas yang relatif rendah sehingga perlu dilakukan proses doping untuk meningkatkan konduktivitasnya.

Pada penelitian [3] dilaporkan bahwa nilai hambatan pada polianilina (PANI) yang didoping satu kali adalah sebesar 1240 Ω/cm2. Nilai hambatan mengalami penurunan saat polianilina didoping dua kali menjadi 108 Ω/cm2. Hal tersebut menunjukkan bahwa proses doping dapat menurunkan nilai hambatan polianilina. 2. Teori Dasar

2.1 Konduktivitas Material Polimer

Sifat elektronik suatu bahan dapat ditentukan berdasarkan struktur elektroniknya. Pada suatu senyawa logam, terjadi overlap antara orbital-orbital sejenis dengan atom berlainan untuk membentuk orbital molekul. Proses ini akan membuat rapatan struktur yang tinggi pada logam, sehingga elektron dapat dengan mudah mengalir secara terus-menerus pada logam. Pada logam, celah pita antara HOMO dan LUMO mendekati nol, sehingga dengan medan listrik yang kecil sekalipun, elektron akan terdistribusi dengan mudah. Hal ini membuat sifat logam menjadi lebih konduktor. Pada material semikonduktor, celah pita antara HOMO dan LUMO lebih besar dibandingkan dengan logam. Aliran elektron akan lebih mudah mengalir bila terjadi peningkatan temperatur pada material semikonduktor. Hal ini dikarenakan energi kalor akan memaksa elektron dari HOMO menuju orbital LUMO, sehingga elektron dapat mengalir. Gambar 1 oleh [2] memperlihatkan bahwa material isolator memiliki celah pita paling lebar dibandingkan dengan semikonduktor dan konduktor. Perbedaan jarak yang relatif jauh antara orbital HOMO dan LUMO, memperkecil kemungkinan perpindahan elektron. Perpindahan elektron membutuhkan energi yang sangat tinggi, sehingga material seperti ini lebih digolongkan sebagai isolator.

Pada polimer konduktif, perpindahan elektron dari orbital HOMO menuju LUMO, dibantu oleh suatu atom dopan. Berdasarkan jenis atom dopannya, semikonduktor terbagi menjadi semikonduktor tipe p dan tipe n. Semikonduktor tipe n terjadi pada suatu material dengan memiliki banyak elektron sehingga atom dopan berada dekat dengan orbital LUMO, sedangkan pada semikonduktor tipe p terjadi pada

(2)

material dengan kondisi sedikit elektron sehingga atom dopan berada dekat dengan orbital HOMO.

Gambar 1. Perbedaan celah pita konduktor, semi konduktor dan isolator

2.2 Polimer Konduktif

Beberapa jenis polimer memiliki daya hantar listrik yang mirip dengan daya hantar listrik senyawa logam. Polimer dengan potensial konduktivitas menjadi penelitian setelah adanya publikasi oleh [2] yang memaparkan tentang pengembangan senyawa-senyawa organik yang dapat menghantarkan arus listrik seperti sifat logam. Contoh polimer yang dapat menghantarkan arus listrik antara lain adalah polipirole, poliasetilena, dan polianilina. Prinsip kerja polimer konduktif adalah karena adanya karena ikatan rangkap terkonjugasi pada suatu rantai polimer. Sehingga atom karbon mengikat atom karbon lain dengan ikatan tunggal dan ganda secara bergantian (berselang-seling) yang dapat mempengaruhi sifat konduktif pada polimer terkonjugasi. Penambahan senyawa kimia berupa doping akan merubah kerapatan elektron pada ikatan π atau π* polimer terkonjugasi sehingga terjadi perubahan konduktifitas polimer dari semikonduktif menjadi konduktif.

Dewasa ini, polimer konduktif menjadi fokus yang mulai dikembangkan dalam skala laboratorium, dengan polimerisasi pirole dan anilina pada larutan elektrolit [1-4]. Polianilina merupakan polimer konduktif dengan tipe p yang mana pada kondisi normal akan memiliki jumlah hole yang lebih banyak dibandingkan dengan elektron. Hal ini akan menyebabkan dominasi hole sebagai pembawa muatan, sehingga konduktivitas sampel dapat diintrepretasi sebagai konduktivitas hole.

Polimer konduktif menjadi salah satu alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi masalah penyimpanan energi listrik, karena sifatnya yang ringan, fleksibel, murah dan gampang untuk diproduksi. Selain itu penggunaan polimer yang berasal dari alam merupakan salah satu solusi untuk menggunakan material yang ramah lingkungan.

2.3 Pengukuran Konduktivitas Polimer

Pengukuran konduktivitas sampel material pada penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode EIS (Electrochemical Impedance System). Penggunaan EIS dimaksudkan untuk menghindari terjadinya penumpukan pembawa muatan pada salah satu elektroda

sehingga hasil yang dimunculkan akan menjadi lebih akurat. Prinsip dasar metode ini adalah pengukuran impedansi sel pada rentang frekuensi tertentu, yang dianalisis dengan model sirkuit elektronik khusus bagi sistem untuk menentukan nilai-nilai parameter pada sirkuit sel tersebut. Nilai impedansi terdiri dari nilai real dan nilai imajiner. Bagian real menyatakan resistansi bahan dan bagian imajiner menyatakan kapasitansi dari bahan. Konfigurasi kedua nilai tersebut pada suatu sirkuit dapat diketahui setelah dilakukan pengukuran dan analisis bentuk kurva impedansi.

Hasil yang ditampilkan pada EIS adalah nilai sudut dan nilai hambatan. Nilai tersebut kemudian dikonversi menjadi nilai hambatan real dan nilai hambatan imaginer. Melalui hasil pengolahan EIS, dapat diketahui konduktivitas sampel dari konversi hambatan real menggunakan persamaan :

... (1)

dimana:

σ : konduktivitas (S/cm)

R : resistansi real (Ω)

l : jarak antar elektroda / ketebalan smapel (cm) A : luas permukaan sampel (cm2)

Hubungan antara frekuensi pengukuran terhadap konduktivitas material secara umum dapat dijelaskan dengan persamaan :

E = h. f ... (2) E : energi

h : konstanta planck f : frekuensi

Berdasarkan persamaan tersebut, terlihat bahwa semakin besar nilai frekuensi, maka energi yang dipancarkan akan semakin besar. Hal ini mempengaruhi nilai resistansi dan konduktivitas, dimana :

E = V2. t . R-1 ... (3) V : Tegangan (V)

t : waktu (s) R : hambatan (Ω)

Kenaikan frekuensi akan meningkatkan energi kinetik spesi pada material sehingga terjadi transfer muatan yang tinggi pada daerah antar muka. Kondisi ini menjelaskan terjadinya aliran elektron dari kondisi HOMO menuju kondisi LUMO semakin besar. Sehingga dapat disimpulkan bahwa semakin besar frekuensi yang diberikan kepada material, maka akan meningkatkan aliran muatan atau nilai konduktivitas material tersebut.

2.4 Swelling dan Sonik

Swelling atau pengembangan selulosa merupakan suatu metode yang digunakan untuk mendapatkan serat selulosa yang teregenerasi, delignifikasi selulosa dan modifikasi selulosa pada kondisi fase reaksi homogen maupun heterogen. Pada selulosa yang sudah mengalami pengembangan umumnya akan terjadi perubahan supramolekul pada strukturnya [5].

Sifat kristalin alami pada material menyebabkan material tersebut memiliki tingkat kelarutan yang rendah

A l x R 1 

(3)

pada pelarut konvensional. Penetrasi pelarut ke dalam material memerlukan interaksi molekul yang kuat. Pengukuran interaksi pelarut dengan selulosa dapat dianalisis melalui pengukuran volume pengembangan. Interaksi antara selulosa dan pelarut dipengaruhi oleh volume molar, kelarutan, dan interaksi dipole cairan. Pada proses pengembangan, pelarut harus masuk ke dalam jaringan serat selulosa. Mekanisme masuknya suatu pelarut ke dalam serat selulosa dapat terjadi melalui tiga mekanisme. Pertama, aliran bebas pelarut dibawah tekanan gradien dan kapilaritas material. Kedua, pelarut diuapkan masuk ke dalam jaringan selulosa. Ketiga, difusi pelarut melalui dinding sel selulosa.

Proses pengembangan bertujuan sebagai tahap aktivasi sampel selulosa yang akan digunakan. Pada proses ini, swelling agent akan berpenetrasi ke dalam struktur serat selulosa yang memiliki banyak ikatan silang antar struktur. Swelling agent akan membantu pemutusan ikatan hidrogen antar molekul pada selulosa sehingga terdapat ruang antar struktur yang cukup besar untuk dimasuki oleh molekul anilina.

Sonokimia merupakan suatu metode sintesis material dengan menggunakan energi ultrasonik (sonik) pada proses sintesisnya. Ultrasonik dalam bentuk gelombang akan ditransimisikan melewati suatu media menggunakan tekanan gelombang dari induksi gerakan vibrasi molekul. Pada keadaan tersebut gelombang akan menyebabkan molekul melakukan bending (penekukan) dan stretching (perengganggan) stuktur molekul medium dengan variasi waktu. Secara umum, frekuensi ultrasonik berada pada rentang 20kHz-10MHz dan terbagi menjadi 3 bagian, yaitu ultrasonik frekuensi rendah (20 – 100 kHz), ultrasonik frekuensi sedang (100 kHz - 2 MHz) dan ultrasonik frekuensi tinggi (2 - 10 MHz). Frekuensi yang memiliki rentang 20kHz - 2MHz inilah yang digunakan dalam sonokimia.

Prinsip dasar sonokimia adalah penggunaan frekuensi ultrasonik untuk membentuk gelembung udara pada cairan yang kemudian gelembung akan pecah secara mikroskopik dalam rentang waktu yang singkat. Pecahan ini akan memberikan efek tekanan yang tinggi dan efek kimia. Umumnya energi ultrasonik ini dapat digunakan untuk modifikasi senyawa organik maupun anorganik seperti proses aglomerasi, difusi, reduksi material dan pemecahan mekanik.

3. Metode Penelitian

3.1 Pembuatan Komposit Dengan Swelling Sonic + Asam Sonic

Sebanyak 0,5 gr sampel selulosa di swelling dengan 35 ml DMSO selama 1 jam menggunakan ultrasonic 220W. Campuran kemudian ditambahkan dengan 50 ml HCl 2M dan disonic selama 1 jam. Selanjutnya ditambahkan anilina dengan variasi konsentrasi 0,1 g; 0,2 g; 0,3 g dan ditetesi dengan Ammonium persulfate dengan perbandingan mol terhadap anilina 3:4. Polimerisasi dilakukan selama 150 menit dengan variasi suhu (suhu ruang dan suhu 00C) kemudian campuran disaring menggunakan corong bunchner. Hasil komposit

kemudian dicuci dengan HCl sebanyak 100 ml dan dilanjutkan dengan aseton 100 ml. Komposit kemudian dikeringkan pada suhu 600C selama 3 jam. Sampel selanjutnya disebut sebagai A.

3.2 Pembuatan Komposit Tanpa Swelling

Sebanyak 0,5 gr sampel selulosa ditambahkan dengan anilina dengan variasi konsentrasi 0,1 g; 0,2 g; dan 0,3 g dan didiamkan selama 1 jam. Selanjutnya dimasukkan dalam 50 ml HCl dan ditetesi dengan Ammonium persulfate dengan perbandingan mol terhadap anilina 3:4. Polimerisasi dilakukan selama 150 menit kemudian campuran disaring menggunakan corong bunchner. Hasil komposit kemudian dicuci dengan HCl sebanyak 100 ml dan dilanjutkan dengan aseton 100 ml. Komposit kemudian dikeringkan pada suhu 600C selama 3 jam. Sampel selanjutnya disebut sebagai B.

3.3 Pengukuran Konduktifitas, Hambatan dan Frekuensi Pada penelitian ini digunakan sinyal gelombang dari potensial AC dengan amplitudo 1 V dan rentang frekuensi dari 20 kHz hingga 200 MHz. Grafik yang dimunculkan pada hambatan real terhadap hambatan imaginer menunjukkan grafik semi lingkaran. Perilaku ini dapat dihubungkan dengan disperse frekuensi akibat dari kekasaran permukaan material.

4. Hasil dan Pembahasan

Pada penelitian ini, dilakukan variasi perlakuan pada proses sintesis material komposit antara lain proses swelling, sonikasi dan jumlah anilina yang ditambahkan. Perlakuan awal pada sampel selulosa adalah proses penggembungan (swelling) sebelum digunakan sebagai matriks material komposit. Selulosa memiliki ikatan silang antar molekul yang menghalangi suatu molekul untuk masuk dan berinteraksi dengan selulosa. Oleh karena itu, perlu suatu proses untuk memutuskan ikatan hidrogen dan mengaktifkan gugus hidroksil pada selulosa sehingga molekul anilina dapat masuk ke dalam selulosa. Penggembungan serat selulosa dapat dilakukan dangan bantuan swelling agent [5].

Pada penelitian ini dilakukan variasi proses perlakuan sonikasi terhadap bahan-bahan. Pada perlakuan sonikasi, terjadi induksi vibrasi ultrasonik pada medium cair sehingga muncul tekanan yang menyebabkan kecepatan alir cairan ke dalam padatan menjadi lebih tinggi. Proses sonikasi akan membuat penetrasi DMSO lebih mudah untuk memasuki daerah antar jaringan selulosa sehingga dengan adanya tahapan ini, proses penggembungan akan menjadi lebih cepat dan efisien.

Berdasarkan hasil penelitian [6] yang menggunakan proses sonikasi untuk penetrasi anilina ke dalam matriks TiO2, anilina dapat masuk ke dalam pori TiO2 dengan lebih optimal. Hal tesebut menjadi acuan untuk penetrasi anilina dan asam menggunakan sonikasi ke dalam selulosa yang sudah mengalami penggembungan. Tabel 1 menunjukkan pengaruh perbedaan konsentrasi anilina terhadap frekuensi offset dengan dua perlakuan yang

(4)

berbeda yakni A : swelling + sonikasi sedangkan B : dengan melalui tanpa sonikasi. Frekuensi offset merupakan frekuensi pengukuran pada saat nilai hambatan paling minimum. Pada keadaan tersebut, konduktivitas material berada pada kondisi optimum. Nilai hambatan real berbanding terbalik dengan nilai konduktivitas. Konduktivitas merupakan ukuran kemampuan suatu material untuk menghantarkan arus listrik.

Hasil pengolahan data pada Tabel 1 menunjukkan bahwa kenaikan konsentrasi anilina sebanding dengan kenaikan frekuensi offset. Berdasarkan hasil pengamatan, terlihat bahwa nilai frekuensi offset kondisi B adalah lebih optimal dibandingkan dengan kondisi A. Nilai tertinggi dengan perlakuan A = 141600 sedangkan B = 474300. Keduanya dicapai pada konsentrasi 0,3 mol anilina. Pengaruh protonasi pada selulosa yang sudah menggembung meningkatkan jumlah anilina yang masuk ke dalam struktur selulosa sehingga polianilina yang terbentuk mencapai kondisi optimal. Kondisi tersebut memerlukan frekuensi yang semakin besar untuk meningkatkan energi kinetik elektron pada polianilina.

Tabel 1. Konsentrasi vs Frekuensi Offset Mol anilina C aniline F A F B

0,001 0,0066667 8934 7096 0,002 0,0133333 22440 59710

0,003 0,02 141600 474300

Berdasarkan hasil percobaan, terlihat bahwa pada setiap kondisi perlakuan terdapat kenaikan nilai frekuensi kritis terhadap konsentrasi. Peningkatan konsentrasi anilina akan meningkatkan jumlah polianilina yang terbentuk, sehingga memerlukan frekuensi yang semakin besar untuk mengeksitasi elektron dari kondisi HOMO menuju kondisi LUMO. Hal ini akan meningkatkan konduktivitas masing-masing bahan.

Pengaruh frekuensi offset yang berbeda pada konsentrasi yang sama tersebut dapat diakibatkan adanya pengaruh DMSO sebagai swelling agent pada larutan. Keberadaan senyawa lain pada proses polimerisasi akan menurunkan kristalinitas bahkan jumlah yield yang didapatkan. Kondisi tersebut menyebabkan frekuensi yang dibutuhkan untuk menentukan nilai kapasitansi polianilina tidak lebih besar dibandingkan dengan perlakuan tanpa DMSO. Secara umum kapasitansi material meningkat sebanding dengan konsentrasi anilina yang ditambahkan.

Pengaruh antara konsentrasi terhadap R offset digambarkan pada Tabel 2. R offset merupakan hambatan real pada material. Pada kondisi tersebut hambatan mulai mengalami penurunan hambatan secara drastis. Saat hambatan paling menurun, konduktivitas material akan meningkat hingga kondisi maksimum. Kenaikan konsentrasi anilina berbanding terbalik terhadap hambatan realnya. Peningkatan konsentrasi anilina akan meningkatkan jumlah polianilina yang

terbentuk sehingga jumlah elektron yang mengalir semakin besar dan hambatan real menjadi semakin kecil.

Tabel 2. Konsentrasi vs Hambatan Offset Mol anilina C anilina R A R B

0,001 0,006667 1,25 x 104 4,45 x 105 0,002 0,013333 8,3 x 102 6 x 103 0,003 0,02 3,3 x 102 2 x 103 Nilai hambatan yang menurun dengan baik adalah pada perlakuan A yaitu saat selulosa yang sudah di swelling mengalami protonasi oleh asam klorida. Hal ini menunjukkan nilai konduktivitas maksimum terjadi saat perlakuan A dengan konsentrasi tertinggi. Penambahan asam pada selulosa dapat mengaktivasi selulosa dengan memutuskan ikatan hidrogen sehingga anilina dapat masuk dengan mudah ke dalam jaringan selulosa kemudian berinteraksi dengan asam dan selulosa [7]. Sedangkan pada kondisi B yang tidak mengalami swelling dan sonikasi, memberikan hasil hambatan yang lebih besar dibandingkan dengan kondisi A.

Perbedaan perlakuan menunjukkan bahwa perlakuan sonikasi mempengaruhi konduktifitas. Pada perlakuan A, pengasaman selulosa dengan sonikasi akan membuat asam terpenetrasi pada setiap bagian selulosa, kemudian anilina yang ditambahkan akan berinteraksi lebih baik dengan selulosa terasamkan. Polimerisasi polianilina berlangsung dengan optimal pada setiap bagian selulosa, sehingga menghasilkan konduktifitas yang lebih baik.

Sedangkan pada perlakuan B, tanpa pengasaman dan tanpa sonikasi menjangkau setiap bagian selulosa sehingga anilina hanya berada pada beberapa bagian selulosa yang terasamkan. Pengaruh ini hanya akan membentuk polianilina pada selulosa yang terasamkan.

Hal ini membuktikan bahwa perlakuan sonikasi dapat membantu molekul asam untuk terpenetrasi dengan baik pada molekul selulosa sehingga polimerisasi anilina akan menghasilkan polianilina yang optimal dan konduktifitas yang lebih tinggi.

0,00E+00 2,00E-05 4,00E-05 6,00E-05 8,00E-05 1,00E-04 1,20E-04 0 0,005 0,01 0,015 0,02 0,025 konsentrasi k o n d u k ti fi ta s A B

Gambar 2. Grafik perubahan konduktivitas Vs konsentrasi dengan 2 perlakuan (A & B)

Pada hasil penelitian terlihat kenaikan konsentrasi anilina sebanding dengan konduktifitas sampel. Nilai Semakin banyak anilina yang ditambahkan, maka

(5)

jumlah polianilina yang terbentuk akan semakin banyak dan meningkatkan konduktifitas polimer.

4. Kesimpulan

1. Semakin besar konsentrasi anilina yang ditambahkan, maka konduktifitas semakin besar.

2. Perlakuan sonikasi akan meningkatkan konduktifitas polimer.

Referensi

[1] Nystrom G., Razaq, A.; Strømme, M.; Nyholm, L.and Mihranyan, 2009. Ultrafast All-Polymer Paper-Based Batteries. Nano Letters. Vol 9, No.10 3635-3639, 2009. [2] Heeger, A. Conductive polymers , The Nobel Prize in

Chemistry, 2000.

[3] Li J., Xueren Qian., Wang LiJuan., dan An, XianHui. XPS Characterization and Percolation Behavior of Polyaniline-Coated Conductive Paper. Bioresource Technology, 2010. [4] Nystrom, G., Razaq, A., Strømme, M., Nyholm, dan L. Mihranyan. A Nanocellulose Polypyrrole Composite Based on Microfibrillated Cellulose from Wood. J. Phys. Chem. B, 114, 4178–4182, 2010.

[5] Ludmila C. Fidale, Naiara Ruiz, Thomas Heinze, Omar A and El Seoud. Cellulose Swelling by Aprotic and Protic Solvents: What are the similarities and Differences? Macromol. Chem. Phys. 209, 1240–1254, 2008.

[6] Baig S, Farooq R, and Rehman F. Sonochemistry and its industrial applications. World Applied Sciences Journal. 10(8) : 936 – 944, 2010.

[7] Mo, Z., Zhao, Z., Chen, H., Niu, G., Shi, H., 2009, Heterogeneous preparation of cellulose–polyaniline conductive composites with cellulose activated by acids and its electrical properties, Carbohydrate Polymers, 75:660–664, 2009.

Biography

Berlian Sitorus lahir di Barus, Indonesia, 10 Oktober 1974.

Memperoleh gelar Sarjana Sains dari Institut Teknologi Bandung, Indonesia, 1998, M.Si dari Institut Teknologi Bandung, Indonesia, 2001 bidang ilmu Kimia Fisika Material dan M.Sc dari Universiteit Gent, Belgia, 2006. Sejak tahun 2002 menjadi dosen di Jurusan Kimia Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura. Bidang penelitian saat ini adalah kimia fisika material dan lingkungan.

Veinardi Suendo lahir di Jakarta, Indonesia, 7 November

1975. Memperoleh gelar Sarjana Sains dari Institut Teknologi Bandung, Indonesia, 1998, M. Eng dari teknik material di Tokyo Institute of Technology hingga Dr. (doktor) dalam bidang fisika di Ecole Polytechnique, Perancis. Sejak tahun 1999 menjadi dosen di Jurusan Kimia Fakultas MIPA, di Institut Teknologi Bandung. Bidang penelitian saat ini adalah kimia fisika material.

Ferdinand Hidayat lahir di Pontianak, Indonesia, 2 Februari

1990. Mahasiswa S1 Universitas Tanjungpura jurusan Kimia Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura. Bidang penelitian saat ini adalah kimia fisika material.

Gambar

Gambar 1. Perbedaan celah pita konduktor, semi konduktor dan isolator

Referensi

Dokumen terkait