• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH T.A. 2016

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "LAPORAN KINERJA INSTANSI PEMERINTAH T.A. 2016"

Copied!
30
0
0

Teks penuh

(1)

PUSAT KAJIAN REFORMASI ADMINISTRASI

DEPUTI BIDANG KAJIAN KEBIJAKAN

LEMBAGA ADMINISTRASI NEGARA

LAPORAN KINERJA

INSTANSI PEMERINTAH

T.A. 2016

(2)

Segala puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas izinNya Laporan Kinerja Instansi Pemerintah (LKIP) Pusat Kajian Reformasi Administrasi Tahun Anggaran 2016 telah selesai disusun sesuai dengan yang direncanakan.

Laporan Kinerja Instansi Pemerintah T.A 2016 Pusat Kajian Reformasi Administrasi merupakan bentuk pertanggungjawaban formal atas semua kegiatan yang dilakukan guna mengetahui tingkat keberhasilan pencapaian sasaran dikaitkan dengan visi, misi, dan tujuan yang telah ditetapkan. Penyusunan laporan kinerja ini merupakan analisis realisasi kinerja capaian sasaran strategis Pusat Kajian Reformasi Administrasi, sekaligus sebagai bahan untuk mengupayakan perbaikan dan peningkatan kinerja secara berkelanjutan.

Dalam LKIP Pusat Kajian Reformasi Administrasi T.A 2016 ini disusun berbagai informasi mengenai hasil/realisasi dari rencana capaian kinerja tahun 2016, untuk seluruh indikator kinerja yang ada pada tingkat sasaran dan kegiatan. Penyusunan LKIP ini dilakukan seiring dengan agenda penyusunan laporan diawal tahun 2017.

Dengan disusunnya LKIP Pusat Kajian Reformasi Administrasi T.A. 2016, diharapkan pelaksanaan tugas, fungsi, dan kewenangan dalam pengelolaan sumber daya seluruh kegiatan dapat terevaluasi guna peningkatan kinerja di tahun-tahun yang akan datang.

Dalam penyusunan laporan ini tentunya masih banyak kekurangan maupun kesalahan, sehingga kami berharap adanya saran, kritik dan masukan yang bersifat konstruktif guna menyempurnakan penyusunan laporan di waktu mendatang, kami tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada berbagai pihak atas bantuannya sehingga laporan ini dapat terselesaikan. Semoga laporan ini bermanfaat bagi berbagai pihak yang membutuhkan.

Jakarta, Januari 2017

Kepala Pusat Kajian Reformasi Administrasi

(3)

KATA PENGANTAR i DAFTAR ISI DAFTAR TABEL DAFTAR GAMBAR ii iii iv BAB I PENDAHULUAN 1 A. Latar Belakang 1

B. Tugas dan Fungsi 2

C. Analisis Perkembangan Strategik 3

BAB II PERENCANAAN KINERJA 6

A. Rencana Strategis 6

B. Perencanaan Kinerja Tahunan 9

C. Penetapan Kinerja 10

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA 12

A. Capaian Kinerja Organisasi 12

B. Analisis Permasalahan dan Upaya Penanggulangan 19

C. Realisasi Anggaran 21

BAB IV PENUTUP 23

A. Kesimpulan 23

B. Saran 24

(4)

Tabel 3.1 Capaian Perjanjian Kinerja PRAKSIS Tahun 2016 13 Tabel 3.2 Capaian Kinerja PRAKSIS Berdasarkan IKU Tahun 2016 14 Tabel 3.3 Perbandingan Capaian Kinerja Tahun 2014, 2015 dan 2016 14 Tabel 3.4 Kegiatan Advokasi PRAKSIS Tahun 2016 18 Tabel 3.5 Perbandingan Rencana, Pagu Optimalisasi dan Realisasi Anggaran

(5)

Gambar 3.1 Konsolidasi Rencana Pengembangan Link-Kebijakan 16 Gambar 3.2 Pelaksanaan Workshop Penyusunan Indeks 17 Gambar 3.3 RB Learning Box yang Terintegrasi dalam K.M 8.7 PUSAKA 18

(6)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Dalam rangka mencapai visi reformasi birokrasi yaitu “mewujudkan pemerintahan kelas dunia”, Pemerintah menerbitkan Undang-Undang Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN). Tujuan dari penerbitan Undang Undang ASN ini adalah untuk mewujudkan tata kelola aparatur sipil negara sebagai profesi yang memiliki kewajiban mengelola dan mengembangkan dirinya dan mempertanggungjawabkan kinerjanya serta menerapkan prinsip merit dalam pelaksanaan manajemen aparatur sipil Negara.

Kebutuhan pengembangan kompetensi bagi ASN memang menjadi hal yang penting untuk dilakukan. Sumber daya aparatur perlu disiapkan untuk menjawab berbagai tantangan pembangunan yang ada. Namun kondisi hari ini, kinerja penyelenggeraan pemerintahan belum begitu menggembirakan. Laporan yang dikeluarkan oleh The World Bank terkait Doing Business misalnya, telah menempatkan Indonesia pada peringkat ke 91 dalam peringkat kemudahan berusaha atau Ease of Doing Business (EODB) pada tahun 2017, hanya sedikit lebih baik dari peringkat 106 pada tahun 2016.

Masih rendahnya tingkat kemudahan berusaha di Indonesia juga telah menjadi perhatian pemerintah, khususnya pada pemerintahan Presiden Joko Widodo saat ini. Keseriusan Presiden Joko Widodo dalam meningkatkan kemudahan berusaha salah satunya ditunjukkan dengan dikeluarkannya Paket Kebijakan Ekonomi sejak September tahun 2015. Sampai dengan September 2016, sudah terdapat 13 Paket Kebijakan Ekonomi yang sudah dikeluarkan oleh Pemerintahan Joko Widodo.

Lemahnya penyelenggaraan pemerintahan “diperkuat” oleh buruknya integritas birokrasi. Hingga akhir 2014, Indonesia masih mengalami korupsi yang

(7)

relatif tinggi. Dalam Corruption Perception Index 2014, Indonesia menempati posisi 117 dari 175 negara di dunia dengan skor 34 dari skala 0-100 (0 berarti sangat korup dan 100 berarti sangat bersih). Dalam data tersebut juga diungkapkan bahwa korupsi menempati urutan teratas dari 18 (delapan belas) faktor penghambat kemudahan berusaha di Indonesia.

Terkait permasalahan-permasalahan di atas, maka Pusat Kajian Reformasi Administrasi pada tahun 2016 melakukan 2 kajian yang saling terkait, yaitu Kajian pedoman pengembangan kompetensi ASN dan kajian pengukuran indeks kompleksitas dalam pelayanan publik.

Kajian pedoman pengembangan kompetensi ASN berfokus hanya pada pengembangan kompetensi bagi PNS. Tujuan dari penyusunan pedoman dimaksud adalah: pertama, untuk menjadi panduan umum dalam menyusun perencanaan, pelaksanaan, dan monitoring evaluasi pengembangan kompetensi PNS yang meliputi kompetensi manajerial, sosio kultural, dan teknis. Kedua, menyusun instrumen dalam pembinaan sumber daya manusia aparatur berbasis kompetensi. Adapun kajian pengukuran indeks kompleksitas dalam pelayanan public bertujuan: pertama, menyusun instrument pengukuran indeks kompleksitas pelayanan administrasi perizinan dalam memulai usaha. Kedua, menyusun rekomendasi kebijakan dan strategi simplifikasi pelayanan administrasi perizinan khususnya dalam memulai usaha.

B. Tugas dan Fungsi

Peraturan Kepala Lembaga Administrasi Negara Nomor 14 Tahun 2013 tentang Organisasi dan Tata kerja LAN pasal 52 menyatakan bahwa Pusat Kajian Reformasi Administrasi selanjutnya disingkat PRAKSIS berkedudukan di bawah Deputi Bidang Kajian Kebijakan. Tugas PRAKSIS berdasarkan pasal 53 Peraturan Kepala LAN tersebut adalah meliputi:

(8)

2. Penelaahan kebijakan, pengkajian, dan evaluasi pelaksanaan program kajian reformasi administrasi,

3. Bimbingan teknis dan fasilitasi di bidang kajian kebijakan reformasi administrasi,

4. Serta pemberian bantuan teknis dan administratif kepada Pusat dan kelompok jabatan fungsional di lingkungannya.

Adapun fungsi Pusat Kajian Reformasi Administrasi berdasarkan pasal 54 Keputusan Kepala LAN adalah sebagai berikut:

1. Penyusunan rencana program, kegiatan, dan anggaran di bidang kajian kebijakan reformasi administrasi;

2. Pelaksanaan kajian kebijakan di bidang reformasi administrasi 3. Pelaksanaan koordinasi kegiatan di lingkungan Pusat

4. Pengendalian pelaksanaan kegiatan di lingkungan Pusat

5. Pelaksanaan evaluasi kajian kebijakan di bidang reformasi administrasi 6. Pelaksanaan konsultasi, advokasi dan asistensi di bidang kajian kebijakan

reformasi administrasi

7. Penyusunan dan pengembangan sistem informasi

8. Pelaksanaan pemberian dukungan teknis dan administrative kepada Pusat dan kelompok jabatan fungsional di lingkungan Pusat

9. Pembinaan kelompok jabatan fungsional di lingkungan Pusat; dan 10. Pelaksanaan tugas kedinasan lain yang diberikan pimpinan.

C. Analisis Perkembangan Strategik

Kelahiran UU Nomor 5 Tahun 2014 tentang Aparatur Sipil Negara (ASN) pada tahun 2014 merupakan sebuah momentum penting untuk perubahan manajemen ASN di Indonesia. Ditindaklanjuti dengan Sasaran pokok RPJMN 2016 – 2019 Indonesia yang mengamanatkan tercapainya Aparatur negara yang profesional di pusat dan daerah yang mendukung pembangunan nasional, mengarahkan

(9)

pembangunan dalam rangka pelaksanaan reformasi birokrasi pada tercapainya sasaran program Reformasi Birokrasi yaitu: 1) Birokrasi yang bersih dan akuntabel; 2) Birokrasi yang efektif dan efisien; dan 3) Pelayanan Publik yang berkualitas.

Sehubungan dengan hal tersebut, dalam proses pelaksanaan Reformasi Birokrasi, isu-isu strategik mewarnai Birokrasi dalam RPJMN 2016 – 2019 baik yang berasal dari faktor internal dan faktor eksternal. Permasalahan- permasalahan yang belum tuntas dari faktor internal meliputi : 1) Demokratisasi; 2) Desentralisasi dengan fokus Partisipasi, Pro Rakyat dan keadilan sosial; 3) Birokrasi dengan fokus KKN, Tidak efisien/efektif, Kapasitas Rendah, Politisasi Birokrasi. Adapun dari faktor eksternal meliputi isue 1) Globalisasi dengan fokus Ketidakpastian, Integrasi Ekonomi, Kompetisi Global (Middle Income Trap, AEC, Asian Century); 2) Revolusi ICT dengan fokus Dampak e-Government, Faster-Cheaper-Better, Keterbukaan informasi. Isue-isue internal dan eksternal dapat bermuara pada Pelayanan Publik dan Kompetensi Aparatur Sipil Negara.

Pada sembilan Program Nawa Cita yang terkait dengan tugas dan fungsi

PRAKSIS adalah: membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif,

demokratis dan terpercaya; dan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan; serta mereformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya.

Selanjutnya, bila perhatian kita diarahkan kepada RPJMN 2016-2019 yang relevan dengan tugas dan fungsi PRAKSIS yaitu percepatan reformasi birokrasi dan tatakelola pemerintahan. Di sisi lain, Pidato kenegaran Presiden tahun 2016 mengamanatkan PRAKSIS untuk berperan aktif dalam: (1) sinkronisasi dan harmonisasi kelembagaan; (2) kerangka nasional revolusi mental (ASN); (3) Pembangunan Demokrasi (Pemilu dan Pilkada); (4) Pemantapan peran Indonesia di G20 dan MEA; (5) Kemandirian Ekonomi; dan (6) Meningkatkan kinerja sektoral: Infrastruktur, Kedaulatan Pangan, Kemaritiman, Kesehatan, Ekonomi Kreatif, Penegakan Hukum, Pertahanan Negara, Pemberantasan Korupsi, Pengalihan Subsidi BBM dan subsidi lainnya.

Sementara itu, Prolegnas yang berpengaruh dan menjadi landasan pelaksanaan tugas dan fungsi yakni: (1) kebijakan yang telah menjadi

(10)

undang-undang: UU Nomor 39/2008 tentang Kementerian Negara; UU Nomor 25/2009 tentang Pelayanan Publik; UU Nomor 30/2004 tentang Administrasi Pemerintahan; UU Nomor 5/2016 tentang Aparatur Sipil Naegara; (2) kebijakan yang telah selesai draft RUU Etika Penyelenggara Negara; RUU Tata Hubungan Kewenangan antara Pusat dan Daerah; RUU Sistem Pengendalian Internal Pemerintahan; RUU tentang Akuntabilitas Penyelenggara Negara; dan (3) Kebijakan berupa RUU Tata Pemerintahan Elektronis.

Terkait tugas dan fungsi Pusat Kajian Reformasi Administrasi, penyusunan dokumen LKIP (Laporan Kinerja Instansi Pemerintah) merupakan penjabaran dari pelaksanaan fungsi manajemen kegiatan, yakni Pelaporan pelaksanaan kegiatan. Di samping itu, dokumen LKIP ini adalah salah satu media penyampaian informasi capaian kinerja yang telah dihasilkan Pusat Kajian Reformasi Administrasi kepada Deputi Bidang Kajian Kebijakan dan sebagai bentuk akuntabilitas organisasi. Melalui LKIP 2016 ini, Pusat Kajian Reformasi Administrasi berharap selanjutnya menerima masukan-masukan penting yang dapat digunakan sebagai feedback dan bahan perbaikan kinerja dalam pelaksanaan tugas dan fungsi unit kajian di waktu-waktu mendatang.

Adapun rujukan kebijakan dalam penyusunan LKIP ini adalah Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Pelaporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah. Berdasarkan rujukan tersebut, informasi yang dimuat dalam LKIP mencakup: 1) rencana kinerja, 2) penetapan kinerja, dan 3) akuntabilitas kinerja. Dari unsur-unsur tersebut diungkapkan tentang sasaran strategis Pusat Kajian Reformasi Administrasi beserta indikator dan targetnya, serta realisasi dan capaian dari masing-masing indikator sasaran tersebut.

(11)

BAB II

PERENCANAAN KINERJA

A. Rencana Strategis

Berdasarkan Undang-Undang No 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional dan Peraturan Presiden No.2 Tahun 2015 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Nasional Tahun 2015-2019 telah disusun Renstra LAN 2015-2019. Disamping itu, Renstra LAN 2015-2019 juga disusun dalam rangka mendukung agenda prioritas NAWACITA. Sesuai dengan mandatnya, LAN mendukung nawacita kedua yakni Membangun Tata Kelola Pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis, dan terpercaya. Selain itu LAN juga berkomitmen untuk berkontribusi dalam upaya memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka Negara Kesatuan serta melakukan revolusi karakter bangsa, khususnya Aparatur Sipil Negara. Renstra LAN 2015 – 2019 tersebut telah dikukuhkan dalam Peraturan Kepala LAN Nomer 11 Tahun 2015 tentang Rencana Strategis Lembaga Administrasi Negara Tahun 2015 – 2019.

Guna mewujudkan Agenda tersebut, LAN menyatakan Visi nya: ”Menjadi rujukan bangsa dalam pembaharuan Administrasi Negara”. LAN mempunyai Misi “Memberikan kontribusi nyata dalam pengembangan kapasitas aparatur negara dan sistem administrasi negara guna mewujudkan tata pemerintahan yang baik, melalui:

1. Pengembangan Inovasi Administrasi Negara; 2. Pengkajian Kebijakan;

3. Pembinaan dan Penyelenggaraan pendidikan dan pelatihan aparatur negara;

4. Pengembangan dan Penerapan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi Administrasi.

(12)

Berkenaan dengan hal di atas, dalam rangka mendukung pencapaian Visi dan Misi-2 LAN, dalam Renstra Kedeputian Deputi Bidang Kajian Kebijakan telah menetapkan visi yang merupakan cascading dari visi LAN.

Penyusunan LKIP ini tidak terlepas dari Rencana Strategis (selanjutnya disebut Renstra) yang telah disusun oleh Kedeputian Bidang Kajian Kebijakan dan Pusat Kajian Reformasi Administrasi. Adapun visi dan misi Deputi Bidang Kajian Kebijakan adalah:

“Menjadi Kampiun dalam Rekomendasi dan Advokasi

Kebijakan”

Misi yang akan dilaksanakan dalam upaya mewujudkan visi tersebut adalah: 1. Penyelenggaraan kajian dan advokasi kebijakan bidang reformasi

administrasi.

2. Penyelenggaraan kajian dan advokasi kebijakan bidang desentralisasi dan otonomi daerah.

3. Penyelenggaraan kajian dan advokasi kebijakan bidang sistem administrasi negara dan hukum administrasi negara.

4. Penyelenggaraan pembinaan analis kebijakan bagi peningkatan kualitas kebijakan di Indonesia.

5. Penguatan kapasitas organisasi kedeputian yang berorientasi pada peningkatan nilai tambah bagi stakeholders.

Berkaitan dengan hal di atas, Sebagai cascading dari Visi dan Misi Kedeputian Bidang Kajian Kebijakan terutama misi pada poin (1) dan (5) serta Tujuan, Sasaran dan Indikator (1), Pusat Kajian Reformasi Administrasi memiliki Visi dan Misi sebagai berikut:

1. Visi

“Menjadi referensi dan mitra yang andal dalam studi

reformasi administrasi di Indonesia”

Visi sebagai cara memandang diri dan menempatkan serta mengambil peran dalam lingkungan strategisnya. Untuk mewujudkan Visi Pusat Kajian

(13)

Reformasi Administrasi (PRAKSIS) Kedeputian Bidang Kajian Kebijakan, dijabarkan dalam misi yang berisikan kejelasan peran, arah dan tolak ukur yang dapat dijadikan pedoman bagi pengelola PRAKSIS dalam menjalankan tugasnya.

2. Misi

Dalam rangka mewujudkan visi sebagaimana yang telah dikemukakan di atas, maka telah dirumuskan misi untuk mendukung terwujudnya visi tersebut yaitu sebagai berikut:

1) Menyediakan pelayanan konsultasi dan advokasi yang user friendly dan berkualitas dalam implementasi program reformasi birokrasi.

2) Menyediakan rekomendasi kebijakan di bidang reformasi administrasi yang handal bagi pemerintah.

3) Menyediakan pelayanan hasil informasi kajian yang bermanfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan dan rapktek terkait dengan penyelenggaraan reformasi administrasi di Indonesia.

4) Menyediakan pelayanan program bimbingan teknis dan pendampingan bagi instansi pemerintah pusat maupun pemerintah daerah dalam merancang dan melaksanakan reformasi birokrasi.

3. Tujuan

Guna terwujudnya Visi dan tercapainya Misi Pengkajian Kebijakan, dikaitkan dengan ruang lingkup bidang yang dimiliki oleh Pusat Kajian Reformasi Administrasi, terdapat tujuan yang diharapkan yaitu Meningkatkan kualitas hasil kebijakan di bidang Reformasi Administrasi. Hal ini sejalan dengan salah satu tujuan LAN yaitu meningkatkan: 1) Persentase hasil kajian LAN yang didiseminasikan kepada stakeholders; dan 2) Persentase policy paper/

policy brief yang dihasilkan dari kajian kebijakan.

4. Sasaran

Ukuran kinerja pencapaian tujuan organisasi dirumuskan dalam sasaran strategis yakni Meningkatnya kualitas hasil kajian kebijakan. Untuk menilai keberhasilan sasaran strategis digunakan indikator keberhasilan yang telah dituangkan dalam Rencana Strategis PRAKSIS tahun 2015-2019. Sebagai

(14)

cascading IKU Kedeputian Bidang Kajian Kebijakan, telah ditetapkan

Indikator Kinerja Pusat Kajian Reformasi Administrasi, yaitu jumlah rekomendasi kebijakan administrasi negara yang menjadi wacana publik dan jumlah policy paper/policy brief dibidang reformasi administrasi yang didiseminasikan kepada stakeholders.

B. Perencanaan Kinerja Tahunan (Perencanaan Kinerja)

Dokumen LKIP Tahun Anggaran 2016 memuat hasil pelaksanaan Perencanaan Kinerja Tahunan Pusat Kajian Reformasi Administrasi Tahun 2016 yang telah ditetapkan dalam Penetapan Kinerja Pusat Kajian Reformasi Administrasi Tahun 2016.

Dari sisi sasaran kinerja LAN, sasaran kinerja Pusat Kajian Reformasi Administrasi yang relevan adalah “Persentase hasil kajian yang didiseminasikan kepada stakeholders” dan “Persentase policy paper/ policy brief yang dihasilkan dari kajian kebijakan”. Pencapaian sasaran tersebut selanjutnya akan diukur melalui indikator jumlah telaahan kebijakan di bidang reformasi administrasi.

Indikator tersebut merupakan indikator kinerja utama (IKU) Kedeputian Kajian Kebijakan. Adapun arah kebijakan dan strategi Lembaga Administrasi Negara pada tahun 2015-2019 dalam peningkatan kualitas kajian kebijakan adalah Ketepatan perencanaan dan pelaksanaan kajian dan litbang melalui konsolidasi dan kepatuhan pelaksanaan sesuai dengan kaidah akademik dan akuntabilitas.

Indikator sasaran strategis tersebut di atas dituangkan dalam perencanaan kinerja yang selanjutnya ditetapkan dalam ketetapan Kinerja Pimpinan unit yang ditandatangani oleh Kepala Pusat Kajian Reformasi Administrasi dan Deputi Bidang Kajian Kebijakan.

Selain itu, Perencanaan Kinerja yang secara formal memiliki implikasi anggaran APBN. Dari sisi kinerja unit PRAKSIS memiliki target-target kinerja yang tidak didasarkan anggaran dan tidak tertuang dalam Penetapan Kinerja namun merupakan amanah LAN yang harus diemban melalui kegiatan Proyek Perubahan. Pada tahun 2016 PRAKSIS menetapkan 3 program inovasi, yaitu:

(15)

1. Lingkaran Kajian Kebijakan (Link-Kebijakan), program ini merupakan forum untuk mensinergikan, memperkuat dan mengoptimalkan keberadaan dan kontibusi unit kelitbangan dan kajian pemerintah melalui penguatan jejaring dan kerjasama baik antara instansi pemerintah di level pusat dan daerah maupun mitra pembangunan lainnya dalam rangka penguatan pemberian rekomendasi kebijakan dan knowledge repository bagi pemerintah dan dan stakeholder.

2. Pengembangan Kapasitas SDM DKK, merupakan rangkaian program pengembangan kapasitas SDM di lingkungan DKK khususnya bagi peneliti, analis kebijakan maupun calon peneliti dan calon analis kebijakan yang dapat dilakukan melalui pelatihan, workshop, bimbingan teknis, maupun kegiatan pengembangan kompetensi lainnya dalam rangka mengakselerasi terwujudnya aparatur pemerintah yang berkelas dunia.

3. RB-Learning Box, merupakan wadah referensi bagi Kementerian, Lembaga, dan Daerah terutama terkait karya ilmiah, instrumen, serta pedoman pelaksanaan program reformasi birokrasi.

C. Penetapan Kinerja (Perjanjian Kinerja)

Substansi yang dimuat dalam perjanjian kinerja Pusat Kajian Reformasi Administrasi pada hakekatnya adalah substansi dari rencana kinerja Pusat Kajian Reformasi Administrasi yang sudah mendapatkan kepastian hukum dari sisi anggaran (dimuat dalam DIPA). Substansi tersebut kemudian menjadi bahan utama yang diperjanjikan antara Kepala Pusat Kajian Reformasi Administrasi dengan Deputi Bidang Kajian Kebijakan, untuk digunakan sebagai tolak ukur kinerja PRAKSIS.

Pada tahun anggaran 2016, substansi yang dicantumkan dan besarnya anggaran dalam dokumen penetapan kinerja Pusat Kajian Reformasi Administrasi tanggal 11 Januari 2016 adalah sebagai berikut:

a. Sasaran strategis awal yang disusun adalah “Tersusunnya rekomendasi kebijakan di bidang reformasi administrasi”.

b. Indikator kinerja adalah sebagai berikut: 1) jumlah laporan pelaksanaan kegiatan Kajian dibidang Reformasi Administrasi yang menjadi wacana

(16)

publik; 2) Jumlah policy brief di bidang Reformasi Administrasi yang menjadi wacana publik.

Adapun target dari Kinerja Pusat Kajian Reformasi Administrasi tahun 2016 adalah 2 (dua) laporan dengan capaian 100% dan policy brief yang mencapai 100% juga. Dengan total anggaran kegiatan berdasarkan hasil optimalisasi untuk unit Pusat Kajian Reformasi Administrasi yaitu Rp. 1.064.785.000,- terbilang Satu Milyar Enam

(17)

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

A. Capaian Kinerja Organisasi

Kinerja Pusat Kajian Reformasi Administrasi tahun 2016 dinilai berdasarkan pencapaian sasaran strategis Pusat Kajian Reformasi Administrasi yang diukur melalui kinerja kegiatannya, yaitu Telaahan kebijakan di bidang Reformasi Administrasi dengan sub kegiatan atau output kegiatan Kajian Pengukuran Indeks Kompleksitas dalam Pelayanan Publik dan Pedoman Pengembangan Kompetensi ASN.

Oleh karena itu, uraian tentang Akuntabilitas Kinerja Pusat Kajian Reformasi Administrasi pada bagian ini merujuk pada Indikator Kinerja dari sasaran strategis Pusat Kajian Reformasi Administrasi, yaitu:

a. Tersedianya hasil Kajian Pengukuran Indeks Kompleksitas dalam Pelayanan Publik.

b. Tersedianya Pedoman Pengembangan Kompetensi ASN.

Adapun Jumlah output kegiatan Telaahan kebijakan di bidang reformasi administrasi sebagaimana tertuang dalam Rincian Kertas Kerja Satker T.A. 2016 yaitu sebanyak 2 (dua) buah, yaitu:

a. Kajian Pengukuran Indeks Kompleksitas dalam Pelayanan Publik. Indikator output ini berhasil diwujudkan oleh Pusat Kajian Reformasi Administrasi. Output ini diwujudkan dengan adanya laporan Kajian Pengukuran Indeks Kompleksitas dalam Pelayanan Publik.

b. Pedoman Pengembangan Kompetensi ASN, dengan output dokumen Pedoman Pengembangan Kompetensi ASN.

(18)

Capaian kinerja Pusat Kajian Reformasi Administrasi di tahun 2016 sesuai dengan Perjanjian Kinerja Kepala Pusat Kajian Reformasi Administrasi adalah sebagai berikut:

Tabel 3.1 Capaian Perjanjian Kinerja PRAKSIS Tahun 2016

No Sasaran Program/ Kegiatan

Indikator Kinerja Target Realisasi Capaian

% Tersusunnya rekomendasi kebijakan dibidang reformasi administrasi 1. Jumlah laporan pelaksanaan kegiatan Kajian dibidang Reformasi Administrasi yang menjadi wacana publik 2 laporan 2 laporan 100% 2. Jumlah Policy Brief dibidang Reformasi Administrasi yang menjadi wacana publik 3 policy brief 3 Policy brief 100% Terlaksananya pengembangan kapasitas organisasi penguatan kompetensi sumber daya manusia dan

business process secara berkelanjutan yang berorientasi kepada stakeholders Jumlah kegiatan pengembangan kapasitas organisasi yang diikuti oleh Pegawai dilingkungan PRAKSIS 6 kegiatan 6 kegiatan 100% Terlaksananya konsultasi, advokasi dan/atau asistensi dengan stakeholders PRAKSIS Jumlah konsultasi, advokasi dan/atau asistensi dibidang Reformasi Administrasi 7 kegiatan 7 kegiatan 100%

(19)

Adapun capaian kinerja Pusat Kajian Reformasi Administrasi di tahun 2016 berdasarkan IKU adalah sebagai berikut:

Tabel 3.2 Capaian Kinerja PRAKSIS Berdasarkan IKU Tahun 2016 No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Utama Target 2016 Realisasi 2016 % Capaian 2016 1 Tersedianya rekomendasi kebijakan di bidang Reformasi Administrasi Jumlah rekomendasi kebijakan yang menjadi wacana public 2 Rekomendasi kebijakan 2 Rekomendasi kebijakan yang menjadi wacana publik 100% Jumlah policy brief di bidang reformasi administarsi yang didiseminasikan kepada stakeolders

2 Policy brief 3 policy brief 100%

Selanjutnya perbandingan capaian kinerja PRAKSIS antara tahun 2014, 2015 dan 2016 semuanya berhasil dicapai 100%. Dengan rincian dapat dilihat dalam tabel berikut:

Tabel 3.3 Perbandingan Capaian Kinerja Tahun 2014, 2015 dan 2016 No Sasaran Strategis Indikator Kinerja Utama Target Realisasi % Capaian Tahun 2014 1 Tersedianya hasil kajian Model Reformasi Birokrasi di Indonesia Jumlah laporan kajian 1 laporan 1 laporan 100% Tersedianya hasil kajian Strategi Jumlah laporan kajian 1 laporan 1 laporan 100%

(20)

Reformasi Birokrasi Pembangunan Infrastruktur Tahun 2015 2 Tersedianya rekomendasi kebijakan di bidang Reformasi Administrasi Jumlah rekomendasi kebijakan yang menjadi wacana publik 1 Rekomenda si kebijakan 1 Rekomendasi kebijakan yang menjadi wacana publik 100% Jumlah policy paper/policy brief di bidang Reformasi Administrasi 1 policy paper/ policy brief 7 policy brief 100% Tahun 2016 3 Tersedianya rekomendasi kebijakan di bidang reformasi administrasi Jumlah rekomendasi kebijakan di bidang reformasi administrasi yang menjadi wacana publik 2 Rekomenda si kebijakan 2 Rekomendasi kebijakan yang menjadi wacana publik 100% Jumlah policy brief di bidang reformasi administarsi yang didiseminasikan kepada stakeolders 2 Policy brief 3 policy brief 100%

Selanjutnya, apabila dikaitkan dengan Rencana Strategis Organisasi, sampai pada tahun 2016 ini target capaian masih sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan. Walaupun pada perkembangannya terdapat beberapa perubahan Indikator Kinerja Utama, namun pada dasarnya secara capaian target setiap tahunnya telah tercapai dengan baik atau memenuhi target.

(21)

Selain itu, disamping capaian kinerja program yang pembiayaannya teralokasi dalam APBN, PRAKSIS juga telah melaksanakan 3 (tiga) program inovasi yaitu sebagai berikut:

1. Lingkaran Kajian Kebijakan (Link-Kebijakan)

Link-Kebijakan merupakan forum untuk mensinergikan, memperkuat dan megoptimalkan keberadaan dan kontribusi unit kelitbangan dan kajian Pemerintah melalui penguatan jejaring dan kerjasama baik antara instansi pemerintah di level Pusat dan Daerah maupun mitra pembangunan lainnya dalam rangka penguatan pemberian rekomendasi kebijakan dan knowledge

repository bag Pemerintah dan stakeholder. Dari kegiatan ini telah dihasilkan

beberapa hal sebagai berikut:

a. Telah terjalinnya komunikasi dan konsolidasi rencana pengembangan Link-Kebijakan yang diinisiasi PRAKSIS-LAN. Pertemuan dihadiri oleh anggota Forum Komunikasi Kelitbangan Kementerian dan Lembaga. b. Dukungan dari stakeholder untuk pembentukan Link-Kajian Kebijakan di

Indonesia dengan memanfaakan Forum Komunikasi Kelitbangan.

c. Telah disetujuinya gagasan “one door policy” untuk mengintegrasikan hasil-hasil kajian kebijakan yang dilakukan Kementerian maupun Lembaga.

d. Telah tersusunnya Roadmap Inovasi Link-Kebijakan tahun 2016-2020.

(22)

2. Pengembangan Kapasitas SDM Deputi Bidang Kajian Kebijakan

Pengembangan SDM DKK merupakan rangkaian program pengembangan kapasitas SDM di lingkungan DKK khususnya bagi peneliti, analis kebijakan maupun calon peneliti dan calon analis kebijakan yang dilakukan melalui pelatihan, workshop, bimbingan teknis, maupun kegiatan pengembangan kompetensi lainnya dalam rangka mengakselerasi terwujudnya aparatur pemerintahan berkeas dunia. Dai kegiaan ini telah dihasilkan beberapa hal sebagai berikut:

a. Terbentuknya program dan PIC pelaksanaan kegiatan pengembangan. b. Terlaksananya pelatihan bahasa inggris secara berkala.

c. Terlaksananya pelatihan penulisan di media online. d. Terlaksananya workshop penyusunan indeks

e. Tersusunnya Roadmap Inovasi Pengembangan Kapasitas Deputi Bidang Kajian Kebijakan tahun 2016-2020

Gambar 3.2 Pelaksanaan Workshop Penyusunan Indeks

3. RB Learning Box

RB Learning Box merupakan instrumen dalam melakukan transfer pengetahuan kepada K/L/D terkait pelaksanaan Reformasi Birokrasi (tools, dokumen pendukung, dll). Dengan alasan efisiensi, transfer knowledge dilakukan dengan sistem e-learning dengan coba memanfaatkan free software yang ada, yang kemudian diberi nama “RB Learning Box”.

(23)

a. Tersedianya informasi-informasi terkait dengan reformasi birokrasi baik dalam bentuk konseptual, yuridis maupun empiris.

b. Terciptanya RB Learning Box yang telah terintegrasi dengan web K.M 8.7 sehingga memudahkan stakeholder untuk mengaksesnya.

Gambar 3.3 RB Learning Box yang Terintegrasi dalam K.M 8.7 PUSAKA

Selain itu, apabila dilihat dari sisi advokasi yang telah dilakukan oleh Pusat Kajian Reformasi Administrasi yang juga merupakan bagian dari kinerjanya, namun tidak dibiayai dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara PRAKSIS, Pusat ini telah melakukan advokasi ke beberapa Kementerian dan Pemerintah Derah. Beberapa aktivitas advokasi yang telah dilakukan pada tahun 2016 antara lain:

Tabel 3.4 Kegiatan Advokasi PRAKSIS Tahun 2016

Kegiatan Sumber Dana

Fasilitator Penyusunan Manpower Planning Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi

KDPDTT Fasilitator Penyusunan SOP Pegawai

Berprestasi

KDPDTT Fasilitator Penyusunan Modul Diklat

Pengelolaan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah

Badiklat Provinsi Banten

Fasilitator Penyusunan Modul Diklat Peningkatan Daya Saing Daerah

Badiklat Provinsi Banten Fasilitasi Penyusunan Roadmap Inovasi

Pelayanan Publik Kab. Bintan Tahun 2017-2021

(24)

B. Analisis Permasalahan dan Upaya Penanggulangan

Dalam pelaksanaan kegiatan selama kurun waktu tahun 2016, tentu PRAKSIS mengalami berbagai hambatan dan kendala, beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

1. Pada penyusunan Kajian Pengukuran Indeks Kompleksitas, secara substansi merupakan hal yang cukup baru bagi PRAKSIS sehingga Tim Penyusun harus benar-benar mengetahui terlebih dahulu permasalahan dan metodologi kajiannya. Untuk memahami masalah ini dibutuhkan waktu yang tidak sebentar sehingga membuat skenario kegiatan berubah. Selain itu, dari sisi administratif, terdapat oprimalisasi anggaran yang berdampak pada perlunya penyesuaian kegiatan. Padahal kegiatan telah direncanakan sedemikian rupa sehingga sempat menghambat pelaksanaan kegiatan.

2. Pada penyusunan Pedoman Pengembangan Kompetensi ASN, secara substansi cukup sulitnya menyamakan persepsi pedoman khususnya dengan stakeholder di Kedeputian Diklat LAN, selain itu diperlukan instrument teknis yang mendukung sehingga diperlukan tenaga ahli yang tepat dan kompeten dari luar PRAKSIS. Sementara dari sisi administratif, sama seperti yang dikemukakan sebelumnya, terdapat penyesuaian anggaran yang membuat skenario kegiatan berubah.

3. Terkait kegiatan advokasi dan fasilitasi, dikarenakan load pekerjaan di internal organisasi, menyebabkan pelaksanaan kegiatan advokasi menjadi terhambat.

4. Terkait program inovasi, pada Link-Kebijakan sulitnya melakukan pertemuan intensif dengan para stakeholder karena kesibukan masing-masing sehingga kegiatan konsolidasi menjadi kurang optimal tindak lanjutnya. Pada kegiatan pengembangan kapasitas, sulit menumbuhkan pentingnya pengembangan kapasitas bagi pegawai yang menyebabkan kurangnya antusiasme dan komitmen peserta. Selanjutnya pada kegiatan

(25)

RB Learning Box, PRAKSIS belum memiliki software tersendiri untuk mengelola RB Learning Box. Selain itu, dari sisi anggaran, karena kegiatan ini merupakan Non APBN, maka biaya kegiatan menjadi sangat terbatas. Berkaitan dengan berbagai permasalahan yang telah dikemukakan di atas, maka terdapat beberapa upaya penanggulangan yang dilakukan oleh PRAKSIS antara lain sebagai berikut:

1. Dalam penyusunan Kajian Pengukuran Indeks Kompleksitas dalam Pelayanan Publik, Tim mengundang para narasumber atau ekspert untuk melakukan transfer knowledge kepada Tim Penulis sehingga membuat Tim memiliki pemahaman yang cukup terkait substansi kajian. Sementara itu, terkait optimalisasi anggaran, Tim berupaya menyesuaikan kembali skenario kegiatan dengan anggaran yang tersedia tanpa mengurangi kualitas capaian produk dan juga dilakukan kerjasama dengan lembaga donor sehingga mampu memberikan kontribusi finansial yang mendukung kegiatan PRAKSIS.

2. Dalam penyusunan Pedoman Pengembangan Kompetensi ASN, Tim melakukan koordinasi secara intensif dengan Kedeputian Diklat dan pihak terkait untuk menyamakan persepsi. Selain itu, PRAKSIS mengundang Tim Narasumber untuk turut membantu penyusunan pedoman dengan disertai konsultasi secara berkelanjutan dengan pimpinan sehingga substansinya dapat lebih jelas dan terarah. Sementara dari sisi anggaran, Tim berupaya menyesuaikan kembali skenario kegiatan dengan anggaran yang tersedia tanpa mengurangi kualitas capaian produk dan juga dilakukan kerjasama dengan lembaga donor sehingga mampu memberikan kontribusi finansial yang mendukung kegiatan PRAKSIS.

3. Terkait advokasi, agar pekerjaan tetap seimbang antara kegiatan unit dan kegiatan di luar unit , maka PRAKSIS menyusun pembagian Tim Kerja secara proporsional, khusus untuk advokasi atau kegiatan fasilitasi Tim Kerja ini melibatkan pihak di luar PRAKSIS sehingga load pekerjaan dapat dikelola dengan baik.

(26)

4. Terkait program inovasi, pada Link-Kebijakan senantiasa dilakukan koordinasi khususunya bagi tim internal dengan unsur pimpinan untuk mendapatkan arahan yang jelas mengenai visi dan misi Link-Kebijakan. Selanjutnya terkait pengembangan kapasitas, agar menumbuhkan minat peserta, maka program pengembangan kapasitas dipilih berdasarkan kebutuhan kerja sehari-hari dan juga menyeimbangkan antara teori dan praktek. Adapun terkait RB Learning Box, PRAKSIS memanfaatkan

software Pusat Pembinaan Analis Kebijakan melalui K.M 8.7, sehingga RB

Learning Box terintegrasi dalam web tersebut. Selain itu, dalam Link-Kebijakan dan Pengembangan Kapasitas SDM DKK telah dilakukan penyusunan rencana kerja yang tertuang dalam Roadmap Inovasi tahun 2016-2020, sehingga kegiatan dan capaian per-tahun dapat lebih jelas dan terarah.

C. Realisasi Anggaran

Pada akhir triwulan 4 dari total anggaran yang dialokasikan yakni sebesar Rp. 1.064.785.000,- telah diserap dan direalisasikan dalam dua kegiatan sebesar Rp. 1.053.295.600,- atau sebesar 98,92% dengan capaian target 100% untuk kedua kegiatan. Pagu anggaran sebesar Rp. 1.064.785.000,- merupakan pagu hasil optimalisasi kegiatan yang semula memiliki budget sebesar Rp. 1.170.000.000,-.

Apabila dibandingkan dengan tahun 2015 lalu yang serapan anggarannya mencapai 94,55%, pada tahun 2016 ini kemampuan serapan anggaran meningkat 4,37%, namun capaian target tetap berhasil 100% pada dua tahun ini.

Kinerja Keuangan Pusat Kajian Reformasi Administrasi dapat dilihat dari Tabel 3. 5 di bawah ini:

(27)

Tabel 3.5 Perbandingan Rencana, Pagu Optimalisasi dan Realisasi Anggaran Kegiatan Tahun 2016

PROGRAM KEGIATAN ANGGARAN (Rp.) KET RENCANA PAGU OPTIMALISASI REALISASI SISA Program Telaahan Kebijakan di bidang Reformasi Administrasi Kajian Pengukuran Indeks Kompleksitas dalam Pelayanan Publik 600.000.000 567.459.000 562191700 (99,07%) 5.222.300 ( (0,93%) APBN Kajian Pedoman Pengembang an Kompetensi ASN 570.000.000 497.326.000 491103900 (98,75%) 6.222.100 (1,25%) APBN TOTAL 1.170.000.000 1.064.785.000 1.053.295.6 00 (98,92%) 11.489.40 0 (1,08%)

Jumlah anggaran Pusat Kajian Reformasi Administrasi pada tahun Anggaran 2016 pagu awal adalah Rp. 1.170.000.000,-. Kemudian dilakukan optimalisasi anggaran sebesar Rp. 1.064.785.000. Dari total anggaran tersebut, berhasil dibelanjakan atau direalisasikan senilai Rp. 1.053.295.600,- atau sebesar 98,92%. Kinerja keuangan ini diperoleh dari kinerja keuangan masing-masing kegiatan yaitu:

a. Kajian Pengukuran Indeks Kompleksitas dalam Pelayanan Publik adalah 99,07%

(28)

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan capaian kinerja sasaran strategis Pusat Kajian Reformasi Administrasi Tahun 2016, maka dapat disimpulkan bahwa Pusat Kajian Reformasi Administrasi pada tahun 2016 memiliki kinerja yang baik. Kinerja tersebut dihasilkan dari pencapaian 100% pada kedua indikator output Pusat Kajian Reformasi Administrasi dalam arti tersedianya dua laporan Program Telaahan Kajian Kebijakan. Sementara dari sisi keuangan, Pusat Kajian Reformasi Administrasi juga menunjukkan kinerja yang baik. Penyerapan anggaran PRAKSIS mencapai 98,92% dari dua kegiatan yang dilaksanakan PRAKSIS. Tingkat penyerapan tertinggi adalah kegiatan Kajian Pengukuran Indeks Kompleksitas dalam Pelayanan Publik sebesar 99,07%, sedangkan kegiatan yang memiliki tingkat penyerapan berikutnya adalah kegiatan Pedoman Pengembangan Kompetensi ASN sebesar 98,75%. Kedua angka tersebut menunjukkan ketepatan perencanaan dengan dinamika pelaksanaan penelitian yang terjadi selama kurun waktu tahun 2016.

Secara umum, capaian kinerja PRAKSIS telah sejalan dalam mendukung kinerja Kedeputian Bidang Kajian Kebijakan secara khusus dan LAN secara umumnya. Selain itu, upaya pencapaian Sasaran Strategis Pusat Kajian Reformasi Administrasi Tahun 2016 tidak terlalu mengalami hambatan yang berarti. Dalam upaya membangun networking, Pusat Kajian Reformasi Administrasi sebagai unit yang baru 2 tahun terbentuk, telah berhasil menjalin kerjasama dengan beberapa organisasi Non Pemerintah seperti AIPEG, OECD dan UID. Selain itu, Pada tahun 2016, PRAKSIS juga telah menjalin kerjasama dengan beberapa instansi seperti Kementerian Desa, PDT dan Transmigrasi, Pemerintah Provinsi Banten, Kabupaten Bintan dan lain-lain, artinya PRAKSIS juga telah berkontribusi dan berperan aktif dalam membenahi dan membangun tata kelola pemerintahan dalam koridor good governance.

(29)

B. Saran

Dalam rangka menjaga kinerja dan bahkan peningkatan kinerja Kajian kebijakan pada masa mendatang, perlu kiranya beberapa hal berikut mendapatkan perhatian, yaitu sebagai berikut:

a) Pengembangan kompetensi SDM yang terintegrasi

Pengelolaan sumber daya manusia menjadi keharusan dalam setiap organisasi. Organisasi berbasis kompetensi menempatkan pengembangan pegawai sebagai salah satu instrumen dalam meningkatkan kinerja organisasi. Melalui perencanaan pengembangan manusia yang terintegrasi dengan kebijakan SDM lainnya dan sejalan dengan perancanaan strategis organisasi, menghasilkan kompetensi yang dikembangkan sesuai dengan sasaran kinerja organisasi.

b) Sinergisitas pelaksanaan kegiatan

Perlu adanya sinergisitas antara fungsi kajian dengan fungsi lain di LAN. Hasil kajian belum mampu menunjang kinerja unit kediklatan, sekretariatan, dan unit-unit kajian yang lain. Upaya koordinasi diantara stakeholder perlu dilakukan.

c) Peningkatan komposisi SDM Peneliti

Komposisi SDM Pusat Kajian Reformasi Administrasi pada tahun 2016 sejumlah 11 orang, dan didalamnya hanya memiliki 2 orang Peneliti. Minimnya jumlah peneliti tentu menjadi hambatan tersendiri dalam pelaksanaan kegiatan kajian, hal ini perlu menjadi perhatian agar beban kerja dan komposisi SDM dapat seimbang.

d) Penguatan budaya organisasi

LAN telah memiliki nilai-nilai organisasi, yaitu Integritas, Profesional, Inovatif dan Peduli (IPIP). Nilai-nilai ini harus senantiasa diinternalisasikan dalam pelaksanaan kerja sehari-hari baik secara individu maupun kelompok dalam organisasi, sehingga akan tumbuh komitmen dan budaya kerja yang handal dan profesional.

(30)

Gambar

Tabel 3.1 Capaian Perjanjian Kinerja PRAKSIS Tahun 2016  No  Sasaran Program/
Tabel 3.2 Capaian Kinerja PRAKSIS Berdasarkan IKU Tahun 2016  No  Sasaran  Strategis  Indikator  Kinerja Utama  Target 2016  Realisasi 2016  %  Capaian  2016  1  Tersedianya  rekomendasi  kebijakan  di  bidang  Reformasi  Administrasi  Jumlah  rekomendasi
Gambar 3.1 Konsolidasi Rencana Pengembangan Link-Kebijakan
Gambar 3.2 Pelaksanaan Workshop Penyusunan Indeks
+3

Referensi

Dokumen terkait

Trans 7 (Analisis Tema Authentic Halal Greek Food Yunani) karya Umrotul Fadilah mahasiswa jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam Universitas Islam Negeri Walisongo

Beberapa penelitian telah melaporkan prevalensi HPV yang lebih rendah signifikan pada pria yang disirkumsisi dibandingkan pria yang tidak disirkumsisi, sementara

Telah dilakukan kegiatan pembuatan dokumen perancangan sistem elektrode ignitor untuk perangkat sistem iradiator elektron pulsa, yang meliputi: pembuatan deskripsi sistem

Teknologi co-processing dalam industri semen didefinisikan sebagai teknik pemakaian kembali limbah suatu industri sebagai substitusi bahan bakar fosil dan bahan baku semen

KWEK SEO GAIK SJK(C) CONVENT DATUK KERAMAT TIMUR

Pandangan Integrasi juga disebut sebagai tuntutan alamiah dari pendekatan Dialog karena telah disadari bahwa sains dan agama merupakan dua wilayah yang kita alami

Data hasil penelitian menggiring bola zig-zag menggunakan satu kaki berikut hasil keseluruhan tes menggiring bola menggunakan satu kaki siawa kelas V putra SD Negeri 69

Berdasarkan potensi yang ada pada pangan tradisional Bali dan prospek pengembangan pangan fungsional yang baik dimasa yang akan datang, maka pengembangan pangan