Tipologi Kitab Hadits Pasca Masa
Tadwîn
Oleh: H. Sutoyo* Abstrak
Al-Hadits merupakan sumber hukum kedua dalam dimensi hukum Islam. Meskipun demikian posisi dan fungsinya sangatlah penting karena al-Hadits selalu dijadikan sebagai alternatif dasar hukum yan tidak ada dasarnya di dalam Al-Qur’an. Karena demikian pentingnya maka studi-studi dan diskusi-diskusi terhadap al-Hadits ini selalu dilakukan. Salah satu aspek kajian terhadap al-Hadits ini adalah tentang kitab-kitab hadists. Setelah munculnya proyek kodifikasi hadits pada masa Khalifah ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz, ternyata bentuk kitab-kitab hadits ini sangatlah variatif yang secara umum dapat diklasifikasikan menjadi dua, yakni tipe
al-tasnif dan tipe al-ta‘lif. Tulisan berikut akan mengelaborasi kedua model ini secara konprehensif menyangkut karakteristiknya, kelemahan dan kelebihannya, serta contoh-contoh kitabnya.
Kata kunci : tipe kitab hadits, al-tasnif,al-ta‘lif.
A. Pra Wacana
Al-Hadits atau disebut juga dengan Sunnah adalah segala sesuatu yang bersumber dari Nabi SAW, baik berupa perkataan, perbuatan, atau
taqrirnya. Sebagai salah satu sumber ajaran Islam, disamping al-Qur’an, sejarah perjalanan al-hadits tidak terpisahkan dari perjalanan Islam itu sendiri. Tidak sebagaimana al-Qur’an yang sudah ditulis sejak masa Nabi, al-hadits pada masa Nabi dan sahabat hanya berpijak pada hafalan, dan hanya sebagian kecil saja yang ditulis oleh sahabat. Penulisan itu pun hanya bersifat individual dan untuk koleksi pribadi. Dengan demikian, hadits-hadits yang ada berbeda-beda redaksinya. Sebab, diantara para sahabat ada yang meriwayatkannya bi al-lafdhi dan ada juga juga yang bi al-ma’na.
Dengan demikian, kodifikasi al-hadits telah terjadi sejak masa Rasulullah. Namun kodifikasi al-hadits pada masa itu masih kontroversial karena ada al-hadits yang melarang kodifikasi al-hadits namun ada pula yang memerintahkannya. Menurut beberapa ulama, larangan penulisan al-hadits pada masa Nabi karena adanya kekhawatiran-kekhawatiran yang muncul, yaitu khawatir perhatian para sahabat terpecah antara al-Qur’an dan al-hadits dan kekhawatiran bercampurnya al-Qur’an yang merupakan wahyu ilahi dengan hadits Nabi. Secara resmi, kodifikasi hadits secara
resmi terjadi pada abad ke-II H sesuai dengan data-data yang ada. Sehingga kodifikasi hadits secara resmi inilah yang kemudian disebut dengan masa al-tadwin.
B. Wacana Al-Hadits pada masa
al-Tadwin
Al-Tadwin merupakan masdar dari Dawwana-Yudawwinu yang berarti mencatat atau menulis dalam suatu kumpulan. Sedangkan yang dimaksud dengan masa al-Tadwin disini adalah kodifikasi al- hadits secara resmi atas instruksi khalifah dengan melibatkan beberapa personil ahli dalam persoalan ini, bukan dilakukan secara perseorangan.
Sepeninggal Nabi, Islam semakin berkembang dan wilayahnya menyebar ke beberapa wilayah diluar Arab. Seiring dengan penyebaran itu semakin banyak pula pemeluk Islam yang baru. Al-Qur`an yang menjadi sumber ajaran Islam telah dibukukan sejak masa awal sepeninggal Nabi, disamping banyak para sahabat yang menghafalnya, sehingga kaum muslimin dapat membacanya tanpa kekhawatiran adanya perubahan redaksi. Namun hadits Nabi sebagai sumber ajaran Islam kedua yang salah satu fungsinya adalah menjelaskan redaksi al-Qur’an belumlah terkodifikasikan dalam sebuah buku yang layak untuk dipertanggungjawabkan. Oleh karena itulah, sangat dibutuhkan pembukuan hadits karena ada beberapa faktor yang mengharuskannya, yaitu:
1. Tersebarnya para sahabat/tabi’in di berbagai wilayah Islam yang baru, sejalan dengan perluasan wilayah Islam. Konsekwensinya, hadits Nabi yang dihapal oleh para sahabat/tabi’in juga tersebar berserakan di berbagai wilayah. Sehingga untuk mendapatkan satu al- hadits yang diriwayatkan oleh sahabat tertentu harus menempuh jarak jauh yang memakan waktu dan tenaga yang banyak.
2. Wafatnya banyak para sahabat/tabi’in dalam peperangan, sehingga dikhawatirkan suatu al-hadits akan hilang bersama wafatnya para sahabat/tabi’in di peperangan tersebut.
3. Bermunculannya para pemalsu al-hadits yang menyandarkannya kepada Rasulullah untuk kepentingan golongan dan legitimasi suatu pendapat atau tindakan.
4. Semakin melemahnya kemampuan hafalan karena adanya percampuran perkawinan antara orang Arab yang dikenal mempunyai kemampuan hafalan yang tinggi dengan non-Arab yang lemah daya hapalnya.1
1 Muhammad Muhammad Abu Zahw, al-Hadits wa al-Muhaddithun (Beirut : Dar
Kodifikasi al-hadits walaupun telah dilakukan oleh beberapa sahabat secara individual sejak masa Nabi, namun secara resmi baru terjadi pada masa Khalifah ‘Umar bin Abd ‘Aziz2 melalui instruksinya kepada
Abu Bakr bin Muhammad bin ‘Amr bin Hazm3 dan para ulama Madinah
untuk memperhatikan dan mengumpulkan al-hadits dari para penghafalnya. Instruksinya kepada para ulama Madinah itu ialah:
ﺮﻈﻧﺍ
ﺎﻣ
ﻥﺎﻛ
ﻦﻣ
ﺚﻳﺪﺣ
ﻝﻮﺳﺭ
ﷲﺍ
ﻰﻠﺻ
ﷲﺍ
ﻪﻴﻠﻋ
ﻢﻠﺳﻭ
ﻪﺒﺘﻛﺎﻓ
ﱐﺈﻓ
ﺖﻔﺧ
ﺱﻭﺭﺩ
ﻢﻠﻌﻟﺍ
ﺏﺎﻫﺫﻭ
ﺀﺎﻤﻠﻌﻟﺍ
ﻻﻭ
ﻞﺒﻘﻳ
ﻻﺇ
ﺚﻳﺪﺣ
ﱯﻨﻟﺍ
ﻰﻠﺻ
ﷲﺍ
ﻪﻴﻠﻋ
ﻢﻠﺳﻭ
ﺍﻮﺸﻔﻴﻟﻭ
ﻢﻠﻌﻟﺍ
ﺍﻮﺴﻠﺠﻴﻟﻭ
ﱴﺣ
ﻢﻠﻌﻳ
ﻦﻣ
ﻻ
ﻢﻠﻌﻳ
ﻥﺈﻓ
ﻢﻠﻌﻟﺍ
ﻻ
ﻚﻠﻬﻳ
ﱴﺣ
ﻥﻮﻜﻳ
ﺍﺮﺳ
Carilah hadits Rasulullah, kemudian tulislah. Sesungguhnya saya khawatir akan musnahnya ilmu bersama wafatnya para ulama. Dan janganlah diterima selain hadits Nabi. Hendaknya para ulama menyebarkan ilmu dan mempelajarinya serta mengajari orang yang belum tahu. Sesungguhnya ilmu itu tidak akan musnah, hanya akan mengendap.4
‘Umar menginstruksikan kepada Ibn Hazm agar mengumpulkan hadits yang ada pada ‘Amrah binti ‘Abd al-Rahman al-Ansariyyah (w. 98 H, murid kepercayaan ‘Aisyah) dan al-Qasim bin Muhammad bin Abi Bakr (w. 107 H). Instruksi yang sama juga diberikan oleh ‘Umar kepada Muhammad bin Shihab al-Zuhri (w. 124 H) 5 yang dinilai sebagai orang
yang paling banyak mengetahui al-hadits pada saat itu.6
Ibn Hazm berhasil menghimpun al-hadits dalam jumlah yang menurut para ulama kurang lengkap. Sedang Ibn Shihab al-Zuhri berhasil menghimpunnya yang dinilai oleh para ulama lebih lengkap. Hanya dua kitab inilah yang terungkap dalam sejarah pada masa al-Tadwin ini. Akan tetapi sayangnya kedua kitab hasil kodifikasi resmi pertama yang monumental ini lenyap dan tidak terwariskan untuk generasi sekarang ini.7
2‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz adalah khalifah ke-VIII dari Dinasti Umayah. Dia
memerintah sejak tahun 717-720 M.
3 Ibn Hazm meninggal pada tahun 117 H dan ketika itu dia menjabat sebagai
Gubernur Madinah
4 Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Isma’il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, (Beirut:
Dar al-Fikr, 1981) I, 33
5 al-Zuhri adalah salah seorang ulama Hijaz
6 Muhammad Muhammad Abu Shuhbah, Fi Rihab Sunnah: Kutub Sihah
al-Sittah (Kairo: al-Azhar Majma’ al-Buhuth al-Islamiyah, 1969), 22
C. Kodifikasi al-Hadits Pasca masa
al-Tadwin
1. Kodifikasi al-Hadits pada Abad ke-II H.
Pasca kodifikasi hadits secara resmi di atas, semaraklah pembukuan hadits dan perhatian para ulama tertuju pada trend baru ini. Tidaklah mengherankan jika setelah ada lampu hijau pengkodifikasian hadits, bermunculan para ulama yang berusaha untuk mengumpulkan dan membukukan hadits. Mereka itu tidak hanya terbatas di Madinah, tetapi juga di kota-kota Islam lainnya.
Para ulama hadits pada masa ini bersungguh-sungguh dalam upaya pengumpulan hadits dan pembukuannya. Bahkan mereka rela menghabiskan banyak waktu, tenaga serta harta untuk mendapatkan sebuah hadits. Hal ini karena mayoritas hadits tidak diriwayatkan secara mutawatir, tetapi secara ahad sehingga memungkinkan salah satu hadits hanya dimiliki oleh salah seorang sahabat atau tabi’in yang tinggal jauh dari ibukota dan di tempat yang belum tentu jelas rimbanya.
Dalam satu satu hadits riwayat al-Bukhari disebutkan bahwa Sahabat Jabir bin ‘Abd Allah al-Ansari pernah bepergian selama satu bulan mencari ‘Abd Allah bin Unays yang berada di Sham hanya untuk mengklarifikasi satu hadits.8 Hal yang sama pernah juga dilakukan oleh
banyak ulama hadits untuk mengklarifikasi kebenaran suatu hadits.
Beberapa ulama pada masa ini yang berhasil membukukan hadits adalah:
1. Muhammad bin Ishaq (w. 151 H) di Madinah,
2. Abu Muhammad ‘Abd al-Malik bin ‘Abd al-‘Aziz bin Jurayj (80-150 H) di Makkah,
3. Ibn Abi Dhi’bin (80-158 H) di Madinah, 4. al-Rabi’ bin Shabih (w. 160 H) di Basrah 5. Sa’id bin Abi ‘Urubah (w. 156 H) di Basrah 6. Hammad bin Salamah (w. 176 H) di Basrah, 7. Sufyan al-Thawri (97-161 H) di Kufah,
8. Abu ‘Amr Abd al-Rahman al-Awza’i (88-157 H) di Sham, 9. Ma’mar bin Rashid (93-153 H) di Yaman,
10. ‘Abd Allah bin al-Mubarak (118-181 H) di Khurasan, 11. Abdullah bin Wahhab (125-197 H) di Mesir,
12. Jarir bin Abd al-Hamid (110-188 H) di Rei, 13. Hushaym bin Bashir (w. 188 H) di Wasit,
8 Hadits tersebut berbunyi :ﺕﻭﺼﺒﻡﻬﻴﺩﺎﻨﻴﻓ ﺩﺎﺒﻌﻝﺍ ﷲﺍ ﺭﺸﺤﻴ Keterangan selengkapnya
lihat di Abu al-‘Abbas Shihab al-Din Ahmad al-Qastalani, Irshad al-Sari, vol. 1 (Beirut: Dar al-Fikr, 1990), 308-309
14. al-Layth bin Sa’ad (w. 175 H) di Mesir.
15. Malik bin Anas (93-179 H) di Madinah dengan kitabnya al-Muwatta`.9 Mereka semua di atas dalam satu masa, dan tidak diketahui siapa yang paling dahulu berhasil menyusun kitab hadits. Hanya saja, seperti buku-buku hadits karya sebelumnya, buku-buku hadits pada masa ini kebanyakan juga tak bisa dinikmati oleh generasi kita sekarang. Memang ada beberapa manuskrip kitab hadits yang bisa ditemukan, namun kondisinya sudah usang dan berserakan di berbagai perpustakaan. Dari beberapa kitab hadits peninggalan masa ini, hanya satu kitab hadits saja yang masih bisa kita baca secara utuh, yaitu Muwaththa’ karya Malik bin Anas.10 Di samping itu, kodifikasi hadits pada masa ini masih belum bisa
murni, tetapi masih tercampur aduk dengan perkataan sahabat dan fatwa tabi’in.11
2. Kodifikasi al-Hadits Pasca abad ke-II H
Kodifikasi al-hadits pasca abad ke-II berkembang pesat. Perhatian dan usaha para ulama dalam pengumpulan dan pembukuan hadits semakin besar. Oleh karena itu tidak mengherankan jika banyak bermunculan kitab-kitab hadits dengan berbagai macam tipologi.
Periode ini sebagai kelanjutan dari periode sebelumnya di mana kodifikasi hanya terfokus pada usaha pengumpulan hadits yang berserakan tanpa ada kesempatan untuk melakukan penyaringan, sehingga banyak hadits dha’if ataupun maudhu’ bercampur dengan hadits shahih dalam suatu kitab tadwin.
Pasca abad kedua, ulama bersungguh-sungguh mengadakan penyaringan hadits yang diterima. Melalui kaidah masing-masing yang belum baku, para ulama pada masa ini berusaha menyaring hadits yang diterima sehingga mulai ada pemisahan hadits-hadits yang dha’if dari yang shahih, pemisahan hadits yang mauquf atau maqtu’ dari yang marfu’, meskipun belum bisa murni seratus persen karena masih ada beberapa hadits dha’if yang masih saja tersisipkan di antara hadits yang telah
9 Ajjaj al-Khatib, Ushul al-Hadits, terj. H.M. Qodirun Nur,(Jakarta: Gaya Media
Pratama, 1998), 155
10 Malik bin Anas menulis kitab Muwaththa’ atas permintaan Abu Ja’far
al-Manshur (754-775 M), Khalifah ke II Daulah Abbasyiyah. Sebagaimana yang diriwayatkan dari al-Suyuti dalam pendahuluan Sharah al-Muwatta yang ditulisnya, Kitab Malik ini dinamakan Muwatta karena hadits-hadits dalam kitab Muwatta telah dikoreksikan kepada 70 fuqaha Madinah dan mereka menyetujuinya (Wata’a). Maka dinamakanlah kitab ini dengan al-Muwaththa’ (yang disepakati). Lebih lengkapnya lihat Abu Zahw, al-Hadits, 245-246
disaring tersebut karena adanya beberapa pertimbangan. Hal ini bisa dimaklumi, karena menentukan dan memisahkan hadits yang shahih itu bukanlah hal yang mudah, tetapi memerlukan kehati-hatian dan analisa yang maksimal dalam memilih dan memilah, terutama analisa para perawi hadits yang jumlahnya ratusan bahkan ribuan dari beberapa generasi.
Secara garis besar, tipologi pembukuan hadits pasca abad kedua dapat dibagi dua, yaitu al-Tasnif dan al-Ta’lif.
Pertama, al-Tasnif. al-Tasnif adalah model penulisan dan pembukuan hadits dengan disertai mata rantai sanad yang meriwayatkan suatu hadits mulai dari penyusun kitab tersebut sampai dengan Nabi. Model penulisan
al-Tasnif ini muncul lebih dulu dalam sejarah pembukuan hadits. Ada beberapa macam kitab hadits yang bertipologi al-tasnif, yaitu:
1. al-Musnad
al-Musnad adalah penulisan hadits dengan cara mengumpulkan hadits Nabi berdasarkan nama sahabat. Hadits-hadits yang berasal dari seorang sahabat ditulis menjadi satu, walaupun temanya berbeda, dan kemudian diikuti hadits-hadits yang berasal dari sahabat lainnya. Contohnya, dimulai dari Abu Bakr. Semua hadits yang berasal dari Abu Bakr dikumpulkan menjadi satu, baik itu berkaitan dengan salat, puasa haji, dan lain-lainnya. Setelah semua hadits yang berasal dari Abu Bakr telah disebutkan semua, kemudian baru beralih ke hadits yang diriwayatkan oleh ‘Umar. Semua hadits yang berasal dari ‘Umar dengan berbagai tema dikumpulkan menjadi satu. Setelah itu baru beralih kepada hadits yang diriwayatkan oleh sahabat lainnya. Dan demikian seterusnya. Sedangkan urutan sahabat yang disebutkan dalam kitab musnad bervariasi. Di antaranya, klasifikasi sahabat berdasarkan suku dimulai dari Bani Hasyim, kemudian diikuti suku terdekat dari nasab Nabi sampai akhirnya suku yang terjauh. Klasifikasi yang lain adalah berdasarkan kronologi keislaman dengan urutan:
a. al-‘Asharat al-Mubashshirin bi al-Jannah(sepuluh sahabat ahli surga)12 b. Ahl Badr
c. Ahl al-Hudaybiyah
d. Sahabat yang masuk Islam antara masa Hudaybiyah dan penaklukan Mekah
e. Sahabat yang masuk Islam ketika penaklukan Mekah f. Sahabat kecil (berusia muda) pada masa Nabi g. Sahabat perempuan13
12 Mereka itu adalah Abu Bakr, ‘Umar, ‘Uthman, ‘Ali, Talhah bin ‘Ubaid Allah,
al-Zubair bin al-‘Awwam, ‘Abd al-Rahman bin ‘Auf, Sa’d bin Abi Waqqas, Sa’id bin Zayd bin ‘Amr, dan Abu ‘Ubaidah ‘Amir bin al-Jarrah.
Namun ada juga yang tidak menggunakan dua klasifikasi di atas. Tetapi klasifikasi yang dipakai adalah urutan abjad, mulai dari alif, ba’, ta’,
dan seterusnya dengan diakhiri dengan ya’. Di antara kitab musnad yang muncul pada masa ini adalah Musnad ‘Ubaid Allah bin Musa (w. 213 H), Musnad al-Humaydi (219 H), Musnad Musaddad bin Musarhad al-Asadi al-Basri (w.228 H), Musnad Ishaq bin Rahawiyah (w. 237 H), Musnad ‘Uthman bin Abi Shaybah (239 H) Musnad Ahmad bin Hanbal (241 H), Musnad ‘Abd bin Humayd (249 H), al-Musnad al-Kabir karya Ya’qub bin Shaybah (262 H), Musnad Muhammad bin al-Mahdi (272 H), dan al- Musnad al-Kabir karya Baqi bin Mukhallid al-Qurtubi.14
Musnad terbaik pada masa ini dengan model kronologi keislaman sahabat adalah Musnad Ahmad bin Hanbal, sedangkan musnad terbaik model urutan abjad adalah al-Mu’jam al-Kabir karya Abu Qasim al-Tabrani (260 H).15
Kitab hadits dengan model musnad memiliki beberapa kelebihan, di samping beberapa kelemahan yang dimilikinya. Beberapa kelebihan penulisan hadits dengan model musnad adalah hadits Nabi tidak akan tercampur dengan perkataan sahabat ataupun fatwa tabi’in, sehingga yang tercantum dalam kitab musnad semuanya adalah marfu’. Namun kitab musnad juga memiliki kelemahan, di antaranya adalah kesulitan mencari hadits dengan topik tertentu sebagai dasar suatu hukum. Selain itu, kelemahan kitab musnad adalah sulitnya membedakan hadits shahih dan hadits dha’if, karena bercampurnya hadits-hadits tersebut menjadi satu. Padahal mengetahui derajat suatu hadits sangatlah dibutuhkan untuk dijadikan dasar suatu hukum.
Mungkin hal ini tidak menjadi persoalan bagi ulama hadits yang sudah mengetahui dengan baik mana hadits shahih dan mana hadits dha’if, siapa yang layak meriwayatkan hadits dan siapa yang tidak. Namun hal itu menjadi persoalan yang pelik bagi generasi berikutnya yang tidak paham mana hadits yang shahih dan mana hadits yang dha’if, tidak mengenal siapa yang layak meriwayatkan hadits dan siapa yang tidak bisa dipercaya meriwayatkannya.
Kitab hadits model musnad ini cukup populer di masa awal pembukuan hadith karena sesuai dengan kebutuhan pada saat itu yang berorientasikan sebagai kitab pedoman dalam penghafalan hadits Nabi beserta sanadnya, dan kurang populer pada masa modern ini yang lebih menjadikan kitab hadits sebagai sarana rujukan untuk mencari hadits Nabi,
13 Abu Syuhbah, Fi Rihab, 25-26 14 Abu Zahw, al-Hadits, 365 15 Abu Shuhbah, Fi Rihab, 26
bukan untuk menghafalkannya beserta sanadnya, tetapi untuk menjadikannya sebagai landasan hukum dan dasar bertindak.
2. al-Jawami’
al-Jawami’ yaitu penyusunan berbagai macam hadits Nabi diklasifikasikan sesuai dengan babnya masing-masing.16 Maka hadits yang berkaitan dengan salat dijadikan satu dan tidak akan bercampur dengan hadits yang berkaitan dengan puasa, begitu juga dengan hadits yang berkaitan dengan ilmu tidak akan bercampur dengan hadits yang berkaitan dengan zakat. Begitu juga bab-bab yang lain.
Namun ulama hadits yang memilih pembukuan seperti ini tidak sama dalam mencantumkan hadits-hadits yang ada dalam kitab hadits mereka secara kwalitas hadits. Ada yang mengutamakan hadits shahih saja tanpa mencampurnya dengan hadits yang lain dan ada pula yang mencampurnya dengan beberapa hadits dha’if. Ulama hadits yang memfokuskan pada penyusunan hadits shahih saja ini di antaranya Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin al-Mughirah bin Bardizbah al-Bukhari (194-252 H) dengan kitabnya al-Jami’ al-Shahih dan Abu Husayn Muslim bin al-Hajjaj al-Qushayri al-Naysaburi (204-261 H) dengan kitabnya yang disebut juga dengan al-Jami’ al-Shahih. Sedangkan beberapa pakar hadits yang menulis secara tematik tanpa membatasi pada hadits shahih saja adalah ‘Abd al-Razzaq, al-Thawri, Ibn ‘Uyaynah, dan lain-lainnya.17
3. al-Sunan
Kitab al-Sunan adalah jenis kitab hadits yang disusun secara tematik menurut tema-tema fiqh.18 Kitab al-jawami’ memiliki persamaan dengan al-sunan, yaitu penyusunan dengan sistematika secara tematik, hanya saja al-jawami’ tidak menutup diri pada tema-tema tertentu, sedangkan al-sunan
hanya terdiri dari tema-tema fiqh saja.
Di antara ulama hadits yang menyusun kitab hadits model al-sunan
adalah Abu Dawud Sulaiman bin al-Ash’ath bin Ishaq al-Sijistani (202-275 H), Abu Isa Muhammad bin Isa bin Surah al-Turmudhi (200-279 H), Abu ‘Abd al-Rahman Ahmad bin ‘Ali bin Shu’aib al-Khurasani al-Nasa`i (215-303 H) dan Abu ‘Abd Allah bin Yazid bin Majah (207-273 H). Keempat ulama ini mengumpulkan hadits kemudian membukukannya dan kitab mereka kemudian dikenal dengan al-Sunan al-‘Arba’ah.19 Selain keempat
ulama tersebut masih ada beberapa ulama hadith yang membukukan
16 Mahmud al-Tahhan, Usul, 97 17 Abu Shuhbah, Fi Rihab, 27 18 al-Thahhan, Ushul, 115 19 Abu Shuhbah, Fi Rihab, 27
hadith model al-sunan, seperti Shafi’i, Bayhaqi, Dar Quthni, al-Darimi, dan lain-lainnya.20
4. al-Ajza’
Kitab al-Ajza’ dibagi menjadi dua macam,21 yaitu :
a. Pengumpulan hadith yang diriwayat oleh satu sahabat atau satu tabi’in saja. Contohnya adalah Kitab Juz’ Ma Rawahu Abu Hanifah‘an Shahabah
karangan Abu Ma’shar al-Thabari (w. 178).
b. Pengumpulan hadith berdasarkan tema khusus yang dipilih. Contohnya adalah Kitab al-Targhib wa al-Tarhib karya Ibn Shahin. Termasuk juga dalam Kitab al-ajza’ model kedua ini adalah al-tafasir22
dan al-Maghazi wa al-Siyar.
5. al-Mustakhraj
Kitab Mustakhrajat adalah kitab hadits yang menyebutkan suatu hadits dari kitab asal namun melalui sanad yang berbeda. Beberapa contoh kitab Mustakhrajat adalah:
a. Terhadap Jami’ al-Bukhari 1. Mustakhraj al-Isma’ili (371 H),
2. Mustakhraj al-Ghitrifi (377),
3. Mustakhraj Ibn Abi Dhuhl (378 H).
b. Terhadap Jami’ al-Muslim
1. Mustakhraj Abu ‘Uwanah al-Isfirayini (310 H),
2. Mustakhraj al-Hiri (311 H)
3. Mustakhraj Abu Hamid al-Harwi (355 H)
c. Terhadap Jami’ al-Bukhari dan Muslim
1. Mustakhraj Abu Nu’aym al-Asbahani (430 H)
2. Mustakhraj Ibn al-Akhram (344 H)
3. Mustakhraj Abu Bakr al-Barqani (425 H)23
6. al-Mustadrak
Kitab Mustadrak adalah kitab yang menyebutkan hadits-hadits yang tidak dicantumkan dalam suatu kitab hadits. Contoh dari kitab mustadrak adalah al-Mustadrak ‘ala al-Sahihayn karya Abu ‘Abd Allah al-Hakim (405 H).24
20 al-Thahhan, Ushul, 116 21Ibid., 121
22 Kitab al-Tafasir ini adalah kitab-kitab tafsir yang menggunakan hadith Nabi
sebagai sarana penafsiran. Kitab tafsir bertipe ini dikenal dengan tafsir bi al-ma’thur, seperti Tafsir al-Thabari.
23 Mahmud al-Thahhan, Ushul, 100-102
24 Dalam kitab Mustadrak ‘ala al-Shahihayn karya Abu ‘Abd Allah al-Hakim ini ada
Kedua, al-Ta’lif. Al-Ta’lif adalah model penulisan dan pembukuan hadits yang bukan merupakan hadith hasil periwayatan pengarang kitab, sehingga kitab al-ta’lif ini menyebutkan hadith tanpa mata rantai sanad, atau disertai mata rantai sanad tetapi bukan sanad yang berawal dari sang pengarang. Hadith-hadith yang disebutkan dalam kitab tipologi ini biasanya diambil dari kitab-kitab hadith yang telah ada (kitab hadith yang bertipologi al-tasnif). Ada beberapa macam kitab hadits yang bertipologi al-ta’lif, yaitu :
1. al-Majami’
Kitab Majami’ adalah kitab hadits yang disusun sebagai kumpulan dari hadits-hadits yang terdapat dalam kitab-kitab hadits yang sudah ada. Banyak sekali kitab al-Majami’ yang muncul setelah abad ke III, di antaranya adalah:
a. Mengumpulkan hadits-hadits al-Bukhari dan Muslim.
Di antara ulama yang berusaha mengumpulkan hadits-hadits yang terdapat dalam Shahih Bukhari dan Muslim adalah:
1) Isma’il bin Ahmad (w. 414 H),
2) Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Abi Nashr al-Humaydi (w. 488 H), 3) Husayn bin Mas’ud al-Baghawi (w. 516 H),
4) Muhammad bin ‘Abd al-Haq al-Ishbili (w. 582 H), 5) Ahmad bin Muhammad al-Qurtubi (w. 642 H)
6) al-Hasan bin Muhammad al-Saghani (650 H) dengan karyanya Mashariq Anwar Nabawiyyah min Sihah Akhbar al-Nabawiyyah25
b. Mengumpulkan hadits-hadits yang ada di al-Kutub al-Sittah.
Di antara ulama yang mengumpulkan hadits yang terdapat dalam al-Kutub al-Sittah adalah:
1) Abu al-Hasan Rozin bin Mu’awiyah al-Andalusi (w. 535 H) dalam kitabnya al-Tajrid li al-Sihhah wa al-Sunan,
2) Abu al-Sa’adat Mubarak bin Muh}ammad yang terkenal dengan Ibn al-Athir (w. 606 H) dengan kitabnya Jami’ al-Ushul min Ahadith al-Rasul,
1. Hadits shahih sesuai kriteria al-Bukhari dan Muslim atau salah satu dari keduanya dan tidak diriwayatkan oleh mereka berdua.
2. Hadits shahih menurut Hakim, walaupun tidak shahih menurut kriteria al-Bukhari dan atau Muslim. Hadits shaihh yang dimaksud di sini adalah Shahihul Isnad
3. Hadits yang tidak shahih, tetapi disertai dengan penjelasan tentang hal itu. Lihat Mahmud al-Tahhan, Ushul, 102
25 Abu Zahw, al-Hadits, p. 430; Mahmud al-Tahhan, Ushul Takhrij wa Dirasat
3) Abdul Haq bin ‘Abd Rahman Ishbili yang terkenal dengan Ibn al-Kharat (w. 582 H).
c. Mengumpulkan hadits dari berbagai macam kitab hadits.
Di antara kitab-kitab hadits yang disusun sebagai kumpulan dari berbagai kitab hadits adalah Mashabih al-Sunnah26 yang dikarang oleh Husayn Bin Mas’ud al-Baghawi (w. 516 H), Jami’ al-Masanid wa al-Alqab susunan Abu al-Farj ‘Abd al-Rahman bin ‘Ali al-Jawzi (w. 597 H), dan Bahr al-Asanid27 karya al-Hasan bin Ahmad al-Samarqandi (w. 491 H).28
2. al-Athraf
Kitab Athraf adalah kitab hadits yang menyebutkan nama sahabat kemudian menyebutkan penggalan hadits yang diriwayatkan oleh sahabat tersebut. Setelah itu barulah diperinci siapa saja yang meriwayatkan hadits tersebut melalui jalur penyusun kitab asal.29 Beberapa contoh dari kitab Athraf adalah:
a. Athraf Sahihayn karya Abu Mas’ud Ibrahim bin Muhammad al-Dimashqi (w. 401 H),
b. Atraf Sahihayn karya Abu Muhammad Khalf bin Muhammad al-Wasithi (w. 401 H),
c. Athraf Shahihayn karya Abu Na’im Ahmad bin ‘Abd Allah al-Ashfahani (w. 430 H)
d. Athraf al-Sunan al-Arba’ah karya Abu al-Qasim ‘Ali bin al-Hasan yang terkenal dengan nama Ibn ‘Asakir (w. 571 H)
e. Athraf al-Kutub al-Sittah karya Muhammad bin Thahir al-Muqaddasi (w. 507 H)
f. Tuhfat al-Ashraf bi Ma’rifat al-Atraf karya Abu al-Hujjaj Yusuf ‘Abd al-Rahman al-Mizzi (742 H)
g. Ithaf al-Maharah bi Atraf al-‘Ashrah30 karya Ahmad bin ‘Ali bin Hajar
al-‘Asqalani (852 H)
26 Kitab ini berisi 4484 hadits yang diambil dari berbagai kitab hadits.
Hadits-hadits yang disebutkan dalam kitab ini bermacam-macam, ada yang shahih, hasan dan juga da’if
27 Kitab ini berisi 100.000 hadits Nabi yang diambil dari berbagai Kitab hadits
yang sudah ada
28 Abu Zahw, al-hadits, 430-432
29 Kitab Athraf memiliki beberapa kelebihan, yaitu :
1. Bisa mengetahui sanad-sanad suatu hadits dalam satu tempat
2. Mengetahui perawi yang meriwayatkan hadits melalui jalur penyusun kitab asal.
3. Mengetahui jumlah hadits yang diriwayatkan oleh seorang sahabat yang disebutkan dalam kitab asal
30 Kesepuluh kitab tersebut adalah Muwatta’, Musnad al-Shafi’i, Musnad Ahmad,
h. Atraf al-Masanid al-‘Ashrah 31 karya Abu al-‘Abbas Ahmad bin Muhammad al-Bushiri (840 H).32
3. al-Zawaid
Kitab Zawaid adalah kitab yang menyebutkan hadits-hadits yang ada dalam suatu kitab yang tidak terdapat dalam kitab yang lain. Contoh dari kitab Zawaid adalah:
a. Misbah al-Zujajah fi Zawaid Ibn Majah karangan Abu al-‘Abbas Ahmad bin Muhammad al-Busiri (840 H). Dalam kitab ini disebutkan hadits-haditsdalam Sunan Ibn Majah yang tidak terdapat dalam al-Kutub al-Sittah selain Sunan Ibn Majah.
b. Ithaf al-Sadah al-Maharah al-Khayrah bi Zawaid al-Masanid al-‘Ashrah karangan al-Busiri. Al-Busiri dalam kitabnya ini menyebutkan hadits-hadits yang terdapat dalam sepuluh musnad33 yang tidak dijumpai dalam al-Kutub al-Sittah.
c. Majma’ Zawaid wa Manba’ Fawaid karya ‘Ali bin Abi Bakr al-Haythami (807 H). Hadits-hadits yang ada dalam kitab ini merupakan hadits-hadits yang terdapat dalam Musnad Ahmad, Musnad Abu Ya’la al-Mawsili, Musnad Abu Bakr al-Bazar dan ketiga Mu’jam al-Tabrani (Kabir, Awsath dan Shaghir) yang tidak tercantum dalam al-Kutub al-Sittah.34
4. al-Syuruh
Pada periode ini juga semarak munculnya kitab-kitab syarh hadits. Di antara kitab-kitab itu adalah:
a. Sharh Shahih al-Bukhari
Beberapa kitab sharh Bukhari yang muncul adalah Kawakib al-Durari karya Shams al-Din Muhammad bin Yusuf bin ‘Ali al-Kirmani (w. 786 H), Fath} al-Bari karya Abu al-Fadl Ahmad bin ‘Ali bin Muhammad
Mustakhraj Abu ‘Uwanah, Sharh Ma’ani Athar karya Tahawi dan Sunan Dar al-Quthni.
31 Sepuluh kitab yang dijadikan rujukan dalam kitab Atraf ini adalah Musnad Abu
Dawud al-Tayalisi, Musnad Abu Bakr al-Humaydi, Musnad Musaddad bin Musarhad, Musnad Muhammad bin Yahya al-‘Adani, Musnad Ishaq bin Rahawiyah, Musnad Abu Bakr bin Abi Shaybah, Musnad Ahmad bin Mani’, Musnad ‘Abd bin H{mayd, Musnad al-Harith bin Muhammad bin Abi Usamah dan Musnad Abu Ya’la al-Mawsili.
32 Abu Zahw, al-Hadits, 433-434
33 Kesepuluh musnad tersebut adalah Musnad Abu Dawud al-Tayalisi, Musnad
Abu Bakr al-Humaydi, Musnad Musaddad bin Musarhad, Musnad Muhammad bin Yahya al-‘Adani, Musnad Ishaq bin Rahawiyah, Musnad Abu Bakr bin Abi Shaybah, Musnad Ahmad bin Mani’, Musnad ‘Abd bin Humayd, Musnad al-Harith bin Muhammad bin Abi Usamah dan Musnad Abu Ya’la al-Mawshili
bin Muhammad bin Hajar al-Asqalani (w. 852 H), ‘Umdat al-Qari karya Badr al-Din Mahmud bin Ahmad al-‘Ayni (w. 855 H), dan Irshad al-Sari yang ditulis oleh Shihab al-Din Ahmad bin Muhammad al-Mishi (w. 922 H).35
b. Sharh Shahih Muslim
Beberapa ulama yang memberikan sharh terhadap shahih Muslim adalah al-Mu’allim bi Fawaid Kitab Muslim yang disusun oleh Abu ‘Abd Allah Muhammad bin ‘Ali al-Maziri (536 H), al-Minhaj fi Sharh Shahih Muslim bin Hajjaj yang ditulis oleh Abu Zakariya Muhy al-Din bin Sharf al-Nawawi (676 H), dan Ikmal al-Mu’allim fi Sharh Sahih Muslim karya Iyad bin Musa al-Yahsabi al-Maliki (544 H).36
c. Sharh Sunan Abu Dawud
Di antara sharh Sunan Abu Dawud adalah Ma’alim al-Sunan karangan Abu Sulaiman Ahmad bin Ibrahim bin Khattab (388 H), ‘Awn al-Ma’bud karangan Muhammad Asharaf bin ‘Ali Haidar (w. abad 14 H), dan al-Manhal al-‘Adhb al-Mawrud karangan Mahmud bin Muhammad bin Khaththab al-Subki.37
d. Sharh Sunan al-Turmudhi
Sunan al-Turmudhi juga disharh oleh beberapa ulama hadits, di antaranya adalah Aridat al-Ahwadhi karya Abu Bakr Muhammad bin Abd Allah al-Ishbili (543 H) dan Qut al-Mughtadhi karya Jalal al-Din al-Suyuti (911 H).38 Dan masih banyak kitab-kitab sharh hadits yang lainnya.
5. al-Mukhtasharat
Di samping kitab sharh, banyak juga kitab mukhtasar yang bermunculan. Beberapa contoh dari kitab mukhtasar adalah:
a. Mukhtasar Sahih al-Bukhari karya Abu Muhammad ‘Abd Allah bin Sa’d bin Abi Jamrah al-Andalusi (695 H)
b. Mukhtasar Sahih Muslim karya Abu ‘Abd Allah Sharaf al-Din Muhammad bin ‘Abd Allah (656 H)
c. Mukhtasar Sunan Abu Dawud karya ‘Abd al-‘Azim bin ‘Abd al-Qawi al-Mundhiri (656 H).39
6. al-Mawdu’i
Kitab al-mawdu’i atau Kitab hadith tematik cukup populer pada masa sekarang. Cukup banyak kitab hadith tipe ini yang bermunculan karena cukup efisien bagi para pencari hadith -khususnya pemula- untuk
35 Abu Syuhbah, Fi Rihab, 75-78; Mahmud al-Tahhan, Ushul, 48-49 36Ibid., 97-98
37Ibid., 114 38Ibid., 125-126 39Ibid., 78-79,101, 115
menemukan hadith-hadith sesuai dengan tema yang diinginkan. Sebenarnya tipe Kitab hadith al-mawdhu’i dan al-ajza’ sama, yang membedakan adalah dari sisi sanadnya. Kalau Kitab hadith al-ajza’
sanadnya muttashil dari pengarang kitab sampai Nabi, sedangkan Kitab hadith al-mawdhu’i tanpa disertai sanad, atau disertai sanad tapi bukan mata rantai sanad yang dimulai dari pengarang kitab. Hadith-hadith yang terdapat dalam kitab hadith al-mawdhu’i ini diambil dari kitab-kitab hadith
al-tashnif.
D. Purna Wacana
Hadits sebagai sabda Nabi mendapatkan perhatian yang besar dari para ulama. Perhatian ini mendapatkan legitimasi dari khalifah pada masa ‘Umar bin ‘Abd al-‘Aziz dan mencapai puncaknya pada abad ke-III H dengan munculnya al-Kutub al-Sittah yang menjadi rujukan hadits para ulama sekarang karena kwalitasnya yang bagus dan sistematika penulisannya yang tematik. Periode ini dikenal dengan periode keemasan pembukuan hadits. Pasca abad ke-III H, hadits mengalami perkembangan variasi penulisan.
Secara global, kitab-kitab hadith yang berkembang bisa diklasifikasikan menjadi dua tipologi, yaitu al-tashnif dan al-ta’lif. Dari kedua tipologi tersebut berkembanglah macam-macam kitab hadith. Dengan munculnya berbagai macam variasi penyusunan kitab hadits ini, sangatlah mudah bagi generasi sekarang ini untuk mencari suatu hadits yang diinginkan, menentukan derajat suatu hadits dan mengetahui perawi yang meriwayatkan. Apalagi dengan perkembangan teknologi, adanya CD hadits lebih memudahkan dan sangat membantu bagi pemerhati hadits.
Daftar Pustaka
Abu Shuhbah, Muhammad Muhammad. Fi Rihab Sunnah : Kutub al-Sihah al-Sittah. Kairo: al-Azhar Majma’ al-Buhuth al-Islamiyah, 1969. Abu Zahw, Muhammad Muhammad. al-Haidth wa al-Muhaddithun. Beirut:
Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1984.
al-Bukhari, Abu ‘Abd Allah Muhammad bin Isma’il. S{ahi<h al-Bukha<ri. Beirut : Dar al-Fikr, 1981.
al-Khatib, Ajjaj. Ushul al-Hadits. terj. H.M. Qodirun Nur. Jakarta: Gaya Media Pratama, 1998.
al-Qastalani, Abu al-‘Abbas Shihab al-Din Ah{mad. Irshad al-Sari. Beirut: Dar al-Fikr, 1990
Ranuwijaya, Utang. Ilmu Hadis. Jakarta: Gaya Media Pratama, 2001. al-Sisi, Muhammad Hilal Hilal Muhammad. ‘Aqd Thamin fi Manahij
al-Muhaddithin. Shubra: Maktabat al-Amanah, 1994.
al-Tahhan, Mahmud. Ushul al-Takhrij wa Dirasat al-Asanid. Riyad: Maktabah al-Ma’arif, 1991.