PERTEMANAN ANTAR SISWA MAN 1 YOGYAKARTA
SKRIPSI
Diajukan Kepada Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta
Untuk Memenuhi Sebagian Syarat-syarat Memperoleh Gelar Sarjana Strata 1
Oleh:
Nur Aziza Bakti Kusumastuti NIM. 14220059
Dosen Pembimbing:
Nailul Falah, S.Ag., M.Si.
NIP. 19721001 199803 1003
PROGRAM STUDI BIMBINGAN DAN KONSELING ISLAM FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA
2020
ii
iii
SURAT PERSETUJUAN SKRIPSI
iv
v
HALAMAN PERSEMBAHAN
Dengan menyebut nama Allah SWT yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang, penulis persebahkan skripsi ini kepada orangtua tersayang
Bapak Drs. Ngadiyono dan Bunda Dra. Istighnah
Terimakasih atas kesabaran dan doa yang tidak pernah putus untuk ananda, semoga Allah melimpahkan nikmat sehat, kebahagiaan dan keberkahan kepada
keluarga kami. Amiin Yaa Robbal Alamiin
vi
MOTTO
“Ya Allah, tidak ada perkara yang mudah kecuali apa yang Engkau jadikan mudah, dan Engkau jadikan sesuatu yang sulit itu mudah apabila Engkau
menghendakinya”1 (HR. Ibnu Hibban)
1Ala’uddin Ali Bin Baibab Al Farisi, Shahih Ibnu Hibban Jilid 3, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2019), hlm. 255.
vii
KATA PENGANTAR
Puji syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat, taufik, hidayah, inayah serta karunia-Nya kepada penulis sehingga dapat menyelesaikan penulisan Tugas Akhir ini yang berjudul “Konseling Sebaya dalam Mengatasi Konflik Pertemanan Antar Siswa MAN 1 Yogyakarta” dengan lancar.
Penulis menyadari banyak pihak yang membantu menyusun skripsi ini dengan sabar dan ikhlas. Untuk itu, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terima kasih kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Phil. Al Makin, S.Ag., M.A., selaku Rektor Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta.
2. Ibu Prof. Dr. Hj. Marhumah, M.Pd., selaku Dekan Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
3. Bapak A. Said Hasan Basri, S.Psi., M.Si., selaku Ketua Prodi sekaligus sebagai Dosen Pembimbing Akademik pada Prodi Bimbingan dan Konseling Islam Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta.
4. Bapak Nailul Falah, S.Ag., M.Si., selaku Dosen Pembimbing Skripsi yang sangat sabar dalam mendukung penulis dan meluangkan waktunya untuk memberikan bimbingan sehingga skripsi ini akhirnya dapat terselesaikan.
5. Segenap Bapak Ibu dosen BKI UIN Sunan Kalijaga yang telah mengajarkan berbagai pengetahuan kelimuan, semoga bermanfaat dan dapat menjadi amal jariyah di kemudian hari.
6. Bapak Drs. H. Wiranto Prasetyahadi, M.Pd selaku kepada madrasah MAN 1 Yogyakarta yang telah memberikan izin serta dukungan dalam penyusunan penelitian skripsi ini.
viii
7. Para guru pembimbing lapangan Ibu Farah Husna, M.Pd. dan Bapak Nuryo Handoko, S.Sos., yang telah meluangkan waktu dan banyak membantu penulis dalam mengumpulkan informasi untuk penelitian skripsi ini.
8. Siswa-siswi yang turut berkontribusi dan membantu memberikan informasi terkait penelitian yang penulis lakukan, Aghnia Rana, Rahmah Salsabila, Azza Nabila, Fatahanisa, IC dan SY.
9. Teman-teman BKI angkatan 2014 yang selalu memberikan semangat kepada penulis untuk terus menyelesaikan skripsi ini, Hima, Nuris dan teman-teman lainnya.
10. Abang Zulkarnain atas perhatian dan kesabarannya mendampingi penulis untuk tidak menyerah dan terus mencoba, serta tidak pernah bosan menanyakan keadaan dan perkembangan skripsi penulis.
11. Ibu-ibu Jogja Muslimah Preneur yang tidak henti-hentinya menyayangi layaknya adik sendiri dengan support dan kasih sayang. Mba Dian, Mba Nia, Mba Nadia, Teteh Wini.
12. Mokodompit Fams yaitu mba Handa, Arina, Futi, Sarah, Tari, Hadfi, Husna, Ipeh. Khususon untuk Kak Fika, Ola yang selalu hadir di saat penulis butuhkan.
13. Azura yang selalu membesarkan hati penulis untuk tidak mudah menyerah.
14. Alumni Bina Umat mendes sholihah Apid, Fadiya, Nawang, Inas, dan Dinda.
15. GK Chapter Jogja Yasin dan Angger yang selalu menemani penulis untuk mengerjakan skripsi bersama.
16. Krumy MANSA Amal, Afin, Rifa, Isna, Lina, Eva.
ix
17. Keluarga Lampung Bunda May yang selalu perhatian, Bunda Au diam-diam rajin mendoakan, Mas Anto juga supportnya, Mas Irfan yang selalu kirim paket ke kosan, Dek Nurul yang sabar sekali mengikuti banyak mau penulis, Dek Ifah yang selalu mengingatkan jadwal isi KRS, bayar UKT dan penghubung dengan dosen. Keponakan tante Sofia, Ocik, Nada, Alifa yang selalu telfon memberikan semangat untuk segera selesai dan pulang ke rumah.
18. Terakhir untuk bapak ibu tersayang, Bapak Drs. Ngadiyono dan Ibu Dra.
Istighnah yang sangat sabar menanti dan tetap percaya kepada penulis untuk menyelesaikan amanah skripsi ini dengan baik.
Dan kepada semua pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini dan tidak bisa penulis sebutakan satu persatu, semoga Allah membalas kebaikan saudara dengan berkah yang melimpah.
Akhir kata, penulis menyadari bahwa skripsi yang dibuat masih jauh dari kata sempurna. Namun penulis berharap semoga dapat bermanfaat bagi penulis dan pembaca pada umumnya.
Yogyakarta, 27 Agustus 2020 Penulis,
Nur Aziza Bakti Kusumastuti
x
ABSTRAK
Nur Aziza Bakti Kusumastuti. 14220059. Konseling Sebaya dalam Mengatasi Konflik Pertemanan Antar Siswa MAN 1 Yogyakarta. Skripsi. Yogyakarta:
Program Studi Bimbingan dan Konseling Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, 2020.
Penelitian ini dilatarbelakangi banyaknya konflik yang terjadi di usia remaja. Karena pada perkembangan seorang remaja banyak terjadi perubahan yang kompleks seperti perubahan fisik, pola perilaku, peran sosial dan masa pencarian identitas diri. Konflik dapat berakibat lebih buruk ketika remaja kesulitan untuk mengolah dan mengatasinya sehingga konselor sebaya hadir untuk membantu remaja lain dalam mengatasi konflik mereka.
Berdasarkan latar belakang tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tahapan keterampilan dasar yang digunakan konselor sebaya.
Pendekatan yang digunakan adalah metode kualitatif. Adapun subyek penelitian ini adalah guru BK, siswa sebagai konselor sebaya dan konseli. Rumusan masalah yang diteliti adalah bagaimana tahapan keterampilan dasar konseling sebaya dalam mengatasi konflik pertemanan antar siswa MAN 1 Yogyakarta.
Pengumpulan data melalui Observasi, Wawancara dan Dokumentasi. Adapun untuk analisis data dengan menggunakan deskriptif kualitatif, yaitu data yang sudah diperoleh kemudian disusun dan diklasifikasikan sehingga dapat menjawab rumusan masalah di atas.
Hasil Penelitian ini menunjukkan bahwa: tahapan keterampilan dasar konseling sebaya dalam mengatasi konflik pertemanan antar siswa MAN 1 Yogyakarta, yaitu: attending, emphatizing, summarizing, questioning, genuineness, assertiveness, confrontation dan problem solving mampu mengatasi konflik pertemanan antar siswa MAN 1 Yogyakarta dengan standar kemampuan konselor remaja.
Kata Kunci: Konselor Sebaya, Konflik Pertemanan Antar Siswa
xi
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL ... i
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
SURAT PERSETUJUAN SKRIPSI ... iii
SURAT PERNYATAAN KEASLIAN ... iv
HALAMAN PERSEMBAHAN ... v
MOTTO ... vi
KATA PENGANTAR... vii
ABSTRAK ... x
DAFTAR ISI ... xi
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Penegasan Judul ... 1
B. Latar Belakang Masalah ... 3
C. Rumusan Masalah ... 6
D. Tujuan Penelitian ... 7
E. Manfaat Penelitian ... 7
F. Kajian Pustaka ... 7
G. Kerangka Teori ... 11
H. Metode Penelitian ... 31
BAB II GAMBARAN UMUM BIMBINGAN DAN KONSELING DI MAN 1 YOGYAKARTA ... 36
A. Gambaran Umum MAN 1 Yogyakarta ... 36
xii
B. Gambaran Umum Bimbingan dan Konseling di MAN 1
Yogyakarta ... 42
C. Gambaran Umum PIK R (Pusat Informasi Konseling Remaja) ... 50
D. Gambaran Umum Kondisi Konflik di MAN 1 Yogyakarta . 55 BAB III TAHAPAN KETERAMPILAN DASAR KONSELING SEBAYA DALAM MENGATASI KONFLIK PERTEMANAN ANTAR SISWA MAN 1 YOGYAKARTA ... 58
A. Attending ... 58
B. Emphatizing ... 61
C. Summarizing ... 63
D. Questioning ... 64
E. Genuineness ... 66
F. Assertiveness ... 68
G. Confrontation ... 69
H. Problem Solving ... 70
BAB IV PENUTUP ... 77
A. Kesimpulan... 77
B. Saran ... 78
C. Penutup ... 79
DAFTAR PUSTAKA ... 80
LAMPIRAN ... 84
1
A. Penegasan Judul
Demi menghindari kerancuan dan kesalahpahaman dalam memahami judul
“Konseling Sebaya dalam Mengatasi Konflik Pertemanan Antar Siswa MAN 1 Yogyakarta”, maka penulis jelaskan beberapa hal untuk memberikan arah dan batasan pada pokok permasalahan, yaitu sebagai berikut:
1. Konseling Sebaya
Pengertian konseling sebaya menurut Tindall dan Gray merupakan suatu ragam tingkah laku membantu secara interpersonal oleh individu non- profesional yang berusaha membantu orang lain. Menurut Tindall dan Gray, konseling teman sebaya mencakup hubungan membantu yang dilakukan secara individual (one-to-one helping relationship), kepemimpinan kelompok, kepemimpinan diskusi, pemberian pertimbangan, tutorial dan semua aktivitas interpersonal manusia untuk membantu atau menolong.2
Sehingga dapat disimpulkan bahwa, konseling sebaya adalah kegiatan komunikasi interpersonal oleh teman sebaya untuk memberikan bantuan pemecahan masalah dan menyemangati individu untuk mencapai keadaan dan perasaan yang lebih baik. Keadaan yang dimaksud misalnya siswa dapat memahami dirinya sendiri dan mampu mengantisipasi permasalahan yang akan dihadapinya.
2Judith A. Tindall, Peer Power, Book One: Strategies for The Professional Leader:
Becoming an Effective Peer Helper and Conflict Mediator, (New York: Routledge, 2009), hlm. 8.
2. Mengatasi Konflik Pertemanan Antar Siswa
Mengatasi merupakan suatu menghindarkan atau melintasi kesulitan atau kesukaran.3 Konflik adalah sebuah situasi terjadinya pertentangan antara kedua belah pihak yang memiliki kepentingan berbeda. Oleh karena itu, kedua belah pihak merasa saling dirugikan. Akibatnya, terjadi pertentangan antara kedua pihak tersebut.4
Kata pertemanan berasal dari kata teman yang artinya adalah sahabat, kawan, orang-orang terdekat.5 Kata siswa berarti murid terutama pada tingkat dasar atau menengah dan merupakan seorang pelajar.6
Pertemanan antar siswa merupakan suatu ikatan yang terjalin antara siswa yang sudah saling mengenal satu sama lain. Jadi yang dimaksud dengan mengatasi konflik pertemanan antar siswa adalah suatu cara untuk melintasi sebuah situasi pertentangan yang terjadi antara siswa satu dengan siswa lainnya karena perbedaan karakter dan pendapat.
3. MAN 1 Yogyakarta
MAN 1 Yogyakarta adalah lembaga pendidikan formal yang setara dengan Sekolah Menengah Atas yang berada dibawah naungan Kementerian Agama dan beralamatkan di jalan C.Simanjuntak No. 70 Yogyakarta.
3W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1986), hlm. 64.
4Edi Santosa dan Lilin Budiati, Manajemen Konflik, (Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2013), hlm. 1.10.
5Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hlm. 912.
6Ibid., hlm. 849.
Berdasarkan penegasan istilah-istilah tersebut maka yang dimaksud dengan judul penelitian “Konseling Sebaya dalam Mengatasi Konflik Pertemanan Antar Siswa MAN 1 Yogyakarta” adalah pemberian bantuan secara interpersonal oleh teman sebaya kepada siswa MAN 1 Yogyakarta untuk menyelesaikan pertentangan karena perbedaan karakter dan pendapat.
B. Latar Belakang
Manusia merupakan makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Mereka dituntut untuk hidup bersama dan berdampingan dengan orang lain demi memenuhi tujuan hidupnya. Interaksi merupakan syarat utama terjadinya aktivitas sosial. Dengan demikian, interaksi sosial merupakan kunci utama kehidupan yang dinamis baik individu dengan individu, individu dengan kelompok, maupun kelompok dengan kelompok.7 Interaksi ini mula-mula dimulai dari lingkungan rumah sendiri kemudian berkembang lebih luas ke lingkungan sekolah, dan dilanjutkan ke lingkungan yang lebih luas lagi yaitu tempat berkumpulnya teman sebaya.
Dalam siklus kehidupan manusia, masa remaja merupakan salah satu tahapan pertumbuhan dan perkembangan. Berkaitan dengan hubungan sosial, hampir seluruh waktu yang dimiliki remaja digunakan untuk berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Hal ini dilakukan dalam rangka mengembangkan keterampilan-keterampilan sosialnya, dan sejalan dengan tugas perkembangan
7Soerjono Soekanto, Sosiologi Sebagai Pengantar, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2013), hlm. 55.
yang harus dipenuhi remaja yaitu memperluas hubungan interpersonal dan berkomuniskasi secara lebih dewasa.8
Dalam interaksi remaja, tidak semua hubungan pertemanan terjalin dengan baik. Pada kenyataannya sering terjadi konflik antar remaja yang membuat kedua belah pihak merasa saling dirugikan. Hal ini dikarenakan pada masa perkembangan remaja setiap individu mengalami perubahan yang sangat kompleks yaitu perubahan fisik jasmaniah, pola perilaku, peran sosial. Selain itu, masa remaja merupakan masa pencarian identitas untuk menjadi diri sendiri sebagai individu.9
Masa remaja tak lepas dari masalah-masalah yang dapat memicu konflik.
M. Hamdan Bakran Adz-Dzaky mengklasifikasikan masalah individu siswa menjadi lima. Pertama, masalah individu dengan Tuhannya. Kedua, masalah individu dengan dirinya sendiri. Ketiga, individu dengan lingkungan keluarga.
Keempat, individu dengan lingkungan kerjanya dan Kelima, individu dengan lingkungan sosialnya.10
Konflik yang dialami siswa dapat berdampak pada perubahan nilai akademis, perilaku membolos, kenakalan remaja hingga kekerasan. Dalam laporan penelitian Afiatin disebutkan bahwa hampir semua responden yang terdiri dari remaja memiliki masalah yang berkaitan dengan prestasi, khususnya prestasi akademik. Hal ini disebabkan karena masalah psikis dan masalah sosial seperti
8Zainul Anwar, “Strategi Penyelesaian Konflik Antar Teman Sebaya Pada Remaja”, Jurnal Psycology Forum UMM, ISBN: 978-979-796-324-8, 2015, hlm. 3.
9Elizabeth B. Hurlock, Perkembangan Anak, (Jakarta: Erlangga, 2000), hlm. 19.
10Tohirin, Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah, (Jakarta: Rajawali Press, 2009), hlm 112.
kesulitan bergaul, konflik dengan guru, orangtua dan teman sebaya.11 Tidak sedikit konflik teman sebaya berakhir dengan tindak kekerasan dan merembet pada tawuran.
Hal ini pula yang terjadi di MAN 1 Yogyakarta, tidak luput dari berbagai jenis konflik yang dialami siswa. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru BK yang dilakukan oleh penulis banyak ditemukan konflik pertemanan seperti dijauhi oleh teman dekatnya, menjadi bahan omongan orang lain, saling cekcok dalam kelas, hingga membentuk geng kelas. Konflik ini disebabkan oleh kesalahpahaman, perbedaan pendapat, dan perbedaan karakter bawaan.12
Sebagai contoh, terdapat suatu kasus yang dimuat dalam Suara Jogja, 24 September 2019 mengenai kasus kekerasan yang berawal dari saling ejek dan dendam empat pelajar yang tergabung dalam sebuah geng Respek (Remaja Islam Perempatan Kapten Tandean) berkelahi dengan pelajar lain dalam geng Morenza (Moga Raja Yogyakarta) yang berbuntut pengeroyokan sehingga salah seorang tewas karena pembacokan menggunakan senjata tajam berupa celurit.13
Dalam hasil penelitian Faturochman disebutkan penyebab utama dari perilaku negatif seperti perkelahian dan penganiayaan adalah terbatasnya kemampuan siswa dalam menghadapi masalah-masalah sosial. Mereka melakukan itu karena tidak tahu cara mengatasi konflik.14
11Tina Afiatin dan Sri Mulyani Martaniah, “Peningkatan Kepercayaan Diri Remaja Melalui Konseling Kelompok”, Jurnal Psikologika, No. 6 Tahun III, 1996, hlm 72.
12Wawancara dengan Guru BK, Ibu Farah Husna pada tanggal 7 Februari 2020 jam 10.30, di Ruang BK.
13Chandra Iswinarno, “Dendam Antar Geng di Yogyakarta, Egy Tewas Dibacok Geng Religius”, Suara Jogja, 24 September2019.
14Faturochman, dkk, Keterampilan Pemecahan Masalah Sosial Bagi Siswa SLA, Laporan Penelitian, (Yogyakarta: Fakultas Psikologi Universitas Gadjah Mada, 1995), hlm. 9.
Di sinilah pentingnya peran guru bimbingan konseling (BK) dalam mengatasi konflik yang terjadi agar dapat terselesaikan dengan baik. Namun dalam membantu siswa mengatasi konfliknya guru BK mengalami kendala yaitu sedikit sekali siswa yang sukarela datang untuk berkonsultasi. Siswa masih merasa kurang nyaman dan terbuka untuk menceritakan permasalahnnya sehingga guru BK belum maksimal dalam membantu mengatasi konflik mereka. Berangkat dari kurangnya keterbukaan siswa kepada guru BK dan sejalan dengan program BKKBN dalam pembentukan PIK R atau konselor sebaya cukup membantu guru BK dalam mengatasi konflik antar siswa.
Hal ini terdokumentasikan dalam penelitian Maryatun tentang proses penerapan konselor sebaya melalui PIK R. Hasil penelitian tersebut menyatakan bahwa 16 dari 20 kelompok PIK R telah memberdayakan konselor sebaya dengan baik. Dampaknya, terjadi perkembangan dan perubahan perilaku siswa yang lebih positif dari sebelumnya memiliki kecenderungan berperilaku negatif.15
Dengan memperhatikan fenomena di atas penulis tertarik untuk melihat tahapan keterampilan dasar yang digunakan konselor sebaya di MAN 1 Yogyakarta dalam mengatasi konflik pertemanan antar siswa.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah yang telah penulis paparkan di atas, maka penulis merumuskan masalah dari penelitian ini adalah bagaimana tahapan keterampilan dasar konseling sebaya dalam mengatasi konflik pertemanan antar siswa MAN 1 Yogyakarta?
15Sarmin, “Pemberdayaan Teman Sebaya dalam Sekolah Guna Menanggulangi Pengaruh Negatif Lingkungan”, Brilliant: Jurnal Riset dan Konseptual, Vol. 2 No 1 (Februari 2017), hlm. 108.
D. Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini yaitu untuk mengetahui dan mendeskripsikan tahapan keterampilan dasar yang digunakan dalam konseling sebaya untuk mengatasi konflik pertemanan antar siswa MAN 1 Yogyakarta.
E. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan sejumlah manfaat, antara lain:
1. Secara teoritis, penelitian ini diharapkan dapat menjadi tambahan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan konseling sebaya dalam mengatasi konflik pertemanan antar siswa di sekolah, serta menambah kontribusi literatur dalam penelitian yang relevan di masa yang akan datang.
2. Secara praktik, hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi motivasi konseling sebaya agar semakin memperbaiki kinerja dalam mengatasi konflik pertemanan antar siswa serta untuk memperkaya khasanah ilmu pengetahuan akan pentingnya konseling sebaya dalam menuntaskan masalah siswa.
F. Kajian Pustaka
Kajian pustaka atau telaah pustaka berisi tentang tinjauan atas penelitian dan karya ilmiah terdahulu (buku, skripsi, tesis, disertasi, artikel, dan sebagainya) untuk menjelaskan posisi dan titik pijak penulis di tengah penelitian sejenis yang pernah dilakukan oleh orang lain. Adapun karya ilmiah yang menjadi rujukan sebagai penelitian tentang “Konseling Sebaya dalam Mengatasi Konflik Pertemanan Antar Siswa MAN 1 Yogyakarta ”, sebagai berikut:
1. Skripsi yang ditulis oleh Reny Wisudawati Ning Arum dalam Penyesuaian Diri Remaja Akhir (Studi Kasus Santriwati Baru di Yayasan Pondok Pesantren Putri An-Nuriyah Wonocolo Surabaya) menggunakan metode penelitian kualitatif deskripstif dengan jenis penelitian studi kasus. Dari penelitian ini, diperoleh kesimpulan bahwa seorang remaja akhir di dalam Pondok Pesantren An-Nuriyah Wonocolo Surabaya mengalami permasalahan dengan penyesuaian diri dengan teman, lingkungan hingga aturan yang ada di pondok. Penelitian ini membahas tentang peran dan manfaat konseling sebaya di lingkungan pondok pesantren yaitu santri mampu memahami dirinya dan lingkungan sekitar serta merasakan apa yang berpengaruh pada kehidupan sehari-hari.16 Persamaan skripsi yang ditulis oleh saudari Reny Wisudawati Ning Arum adalah layanan yang digunakan yaitu konseling sebaya.
Perbedaannya terletak pada topik penyesuain diri remaja sedangkan dalam penelitian ini membahas tentang mengatasi konflik pertemanan antar siswa.
2. Tesis yang ditulis oleh Sri Kadarsih dengan judul Bimbingan Konseling Sebaya dalam Perkembangan Perilaku Prososial Remaja. Tesis ini menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologi, hasil penelitian ini yaitu pertama konsep bimbingan konseling sebaya merupakan keterlibatan siswa/remaja sebagai perpanjangan informasi guru bimbingan konseling, namun tidak memberikan wewenang sepenuhnya. Hasil pelaksanaan bimbingan konseling sebaya menunjukkan bahwa adanya perubahan pengembangan prilaku prososial pada pribadi konselor maupun konseli
16Reny Wisudawati Ning Arum, Peran Konseling Sebaya dalam Penyesuaian Diri Remaja Akhir, Skripsi (Surabaya: Jurusan Kependidikan Islam Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sunan Ampel, 2014).
sebaya. Hal ini ditunjukkan dengan aktivitas remaja yang lebih suka membantu sesama, peduli terhadap temannya, dan bertanggung jawab atas beban yang diberikan oleh guru bimbingan konseling.17 Persamaan penelitian saudari Sri Kadarsih adalah pada layanan yang sama yakni konseling teman sebaya. Perbedaannya terletak pada tujuan penelitian yaitu konseling sebaya sebagai tolak ukur dalam perkembangan perilaku prososial. Sedangkan penulis menjadikan konseling sebaya sebagai upaya guru bimbingan konseling (BK) dalam mengatasi konflik siswa.
3. Tesis oleh Shofi Puji Astuti dengan judul Efektivitas Konseling Sebaya dalam Menuntaskan Masalah Siswa (Studi di MAN 2 Yogyakarta). Penelitian ini memiliki beberapa fokus penelitian yakni, efektivitas pelaksanaan konseling sebaya dalam menuntaskan masalah siswa, faktor pendukung dan penghambat konseling sebaya. Efektivitas konseling sebaya dalam menuntaskan masalah siswa memiliki tiga tahapan yaitu: pemilihan konselor sebaya, pembekalan, dan pengorganisasian. Faktor penghambat dari efektivitas adalah kurangnya keterampilan konselor dan kurangnya kerja sama pihak sekolah.18Penelitian saudari Shofi masih bersifat umum jika ditinjau dari aspek penuntasan masalah. Letak perbedaan penelitian ini yakni dari sisi spesifikasi masalahnya. Dalam penelitian ini penulis ingin mengetahui bagaimana tahapan keterampilan dasar yang digunakan konselor sebaya dalam mengatasi konflik pertemanan antar siswa di sekolah.
17Sri Kadarsih, Bimbingan Konseling Sebaya dalam Perkembangan Perilaku Prososial Remaja, Tesis (Yogyakarta: Jurusan Interdisipliner Islamic Studies Konsentrasi Bimbingan dan Konseling Islam, UIN Sunan Kalijaga, 2017).
18Shofi Puji Astuti, Efektifitas Konseling Sebaya (Peer Counseling) dalam Menuntaskan Masalah Siswa, Tesis (Yogyakarta: Program Studi Pendidikan Islam Konsentrasi Pendidikan Islam UIN Sunan Kalijaga, 2015).
4. Skripsi dengan judul Metode Konseling Individu dalam Mengatasi Konflik Pertemanan Antar Siswa kelas X di MAN 2 Sleman ditulis oleh Zakka Nurlatifah Khasanah. Penelitian ini ini membahas tentang metode yang digunakan oleh guru BK dalam mengatasi siswa yang tengah mengalami konflik. Hasil dari pelaksanaan konseling individu bahwa guru BK menerapkan metode konseling direktif dan eklektif.19 Persamaan topik skripsi yang ditulis oleh saudara Zakka Nurlatifah Khasanah adalah dalam mengatasi konflik antar siswa. Sedangkan perbedaannya terdapat pada subjek, objek dan lokasi penelitian, yaitu tentang Metode Konseling Individu dalam Mengatasi Konflik Antar Siswa Kelas X di MAN 2 Sleman.
5. Artikel jurnal oleh Zainul Anwar dalam Strategi Penyelesaian Konflik antar Teman Sebaya pada Remaja menggunakan metode kuantitatif deskripstif.
Penelitian ini membahas tentang metode yang digunakan remaja dalam menyelesaikan konflik dengan teman sebayanya, hasilnya menyebutkan bahwa 72,59% menggunakan strategi penyelesaian konflik aktif konstruktif, 23,70% remaja menggunakan strategi penyelesaian konflik pasif konstruktif, 3,46% menggunakan strategi penyelesaian konflik yang aktif destruktif, dan sebanyak 7,90% menggunakan strategi penyelesaian konflik yang pasif destruktif.20 Persamaan penelitian saudara Zainul dengan penelitian ini yaitu topik yang digunakan adalah strategi remaja dalam mengatasi konflik tetapi penelitian ini tidak hanya menggunakan subyek remaja umum tetapi remaja
19Zakka Nurlatifah Khasanah, Bimbingan Individu dalam Mengatasi Konflik Pertemanan Antar Siswa di MAN 2 Sleman, Skripsi (Yogyakarta: Jurusan BKI Fakultas Dakwah dan Komunikasi, UIN Sunan Kalijaga, 2017).
20Zainul Anwar, “Strategi Penyelesaian Konflik Antar Teman Sebaya Pada Remaja”, Jurnal Psycology Forum UMM ISBN: 978-979-796-324-8, 2015.
dalam konseling sebaya di sekolah.
Dari pemaparan kajian pustaka diatas penulis penyadari bahwa ada persamaan dalam kajian konseling sebaya dan fokus penelitian tentang mengatasi konflik. Tetapi dalam penelitian ini penulis ingin membahas tentang konseling sebaya lebih spesifik melalui tahapan keterampilan dasar yang digunakan konselor sebaya dalam mengatasi konflik pertemanan antar siswa di sekolah.
G. Kerangka Teori
1. Tinjauan Tentang Konseling Sebaya
a. Pengertian Konseling Sebaya
Sebelum membahas lebih lanjut mengenai konseling sebaya, konselor sebaya menurut Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) adalah pendidik sebaya (tutor sebaya) yang secara fungsional punya komitmen dan motivasi yang tinggi untuk memberikan konseling bagi kelompok remaja/mahasiswa sebayanya yang telah mengikuti pelatihan/orientasi konseling.21
Konselor sebaya menurut Carr adalah seseorang yang terlatih dan mendapat pengawasan untuk memberikan bantuan dan dukungan kepada orang yang sama umurnya atau dalam hal yang lain. Sedangkan konseling sebaya merupakan suatu cara bagi individu untuk belajar bagaimana
21Sarmin, “Pemberdayaan Teman Sebaya dalam Sekolah Guna Menanggulangi Pengaruh Negatif Lingkungan”, Brilliant: Jurnal Riset dan Konseptual, Vol. 2 No. 1 (Febuari 2017), hlm.
107.
memperhatikan dan membantu individu lain, serta menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.22
Adapun menurut Judy konseling sebaya didefinisikan sebagai berbagai perilaku membantu interpersonal (individu lain) yang dilakukan oleh non-profesional yang melakukan peran membantu kepada orang lain.23 Selain itu unsur penting dalam konseling sebaya diantaranya, sebagai usaha yang memberikan bantuan yang bersifat interpersonal, dilakukan oleh pihak yang non-profesional namun dibawah bimbingan professional konselor, dilakukan dalam rentan usia yang relatif sama, dan pelaksanaan dibawah bimbingan konselor ahli.24
Sehingga dapat disimpulkan bahwa konseling sebaya adalah layanan bantuan konseling yang diberikan oleh teman sebayanya yang telah terlebih dahulu diberikan pelatihan-pelatihan untuk menjadi konselor sebaya sehingga dapat memberikan bantuan baik secara individual maupun kelompok kepada teman-temannya yang bermasalah atupun mengalami berbagai hambatan dalam perkembangan kepribadiannya.
b. Tujuan Konseling Sebaya
Menurut Mary Rebeca tujuan konseling sebaya adalah :25
1) Memanfaatkan proteksi kaum muda.
22Suwarjo, “Konseling Teman Sebaya (Peer Counseling) untuk Meningkatkan Resiliensi Remaja”, makalah disampaikan pada Seminar Pengembangan Ilmu Pendidikan (Yogyakarta:
Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, 29 Februari 2008), hlm. 5.
23Ibid., hlm. 6.
24Muslikah, dkk, “Pengembangan Model Peer Counseling sebagai Media Pengalaman Praktik Konseling”, Indonesian Journal Guidance and Counseling, Vol. 5 No. 3, 2016, hlm. 49.
25Mary Rebeca, Peer Counseling, A Way of Life, (Manila: The Peer Counseling Foundation, 1982), hlm. 16.
2) Sumber daya manusia yang paling berharga.
3) Mempersiapkan kaum muda menjadi pemimpin bangsanya dimasa depan.
4) Membantu kaum muda mengembangkan kepribadian mereka.
5) Membantu kaum muda menjernihkan dan membentuk nilai-nilai hidup mereka dan,
6) Meningkatkan kemampuan kaum muda melakukan perubahan di tengah masyarakat mereka.
c. Fungsi Konseling Sebaya
Fungsi dari konseling sebaya menurut beberapa ahli
1) Menurut Krumbolth fungsi Konseling Sebaya adalah:
a) Membantu individu lain memecahkan permasalahannya.
b) Membantu individu lain yang mengalami penyimpangan fisik.
c) Membantu individu-individu baru dalam menjalani pekan orientasi individu untuk mengenal sistem dan suasana sekolah secara keseluruhan.
d) Membantu individu baru membina dan mengembangkan hubungan baru dengan teman sebaya dan personil sekolah.
e) Melakukan tutorial dan penyesuaian sosial bagi individu-individu asing.
2) Fungsi konselor sebaya menurut Regation adalah sebagai:
a) Sahabat yang bersedia membantu, mendengarkan dan memahami.
b) Fasilitator yang bersedia membantu remaja untuk tumbuh dan berkembang bersama kelompoknya.
c) Sebagai pemimpin yang karena kepeduliannya pada orang lain menjadi penggerak perubahan sosial.26
d. Prinsip Konseling Sebaya
Hubungan yang terjadi dalam konseling sebaya dilakukan dengan memegang prinsip prinsip menurut Kan, sebagai berikut:27
1) Informasi (termasuk masalah) yang dibahas dalam pertemuan konseling sebaya adalah rahasia. Dengan demikian apa yang dibahas dalam kelompok haruslah menjadi rahasia kelompok, dan apa yang dibahas oleh sepasang teman menjadi rahasia bersama tidak boleh dibagikan oleh orang lain.
2) Harapan, hak-hak, nilai-nilai dan keyakinan-keyakinan konseli dihormati.
3) Tidak ada penilaian dalam pertemuan konseling sebaya.
4) Pemberian informasi dapat menjadi bagian dari konseling sebaya, sedangkan pemberian nasihat tidak.
26Kusmilah, dkk, Model Peer Counseling dalam Mengatasi Problematika Remaja Akhir, Laporan Penelitian, (Yogyakarta: FIP UNY, 2001), hlm. 3.
27Suwarjo, “Konseling Teman Sebaya (Peer Counseling) untuk Meningkatkan Resiliensi Remaja”, makalah disampaikan pada Seminar Pengembangan Ilmu Pendidikan (Yogyakarta:
Fakultas Ilmu Pendidikan UNY, 29 Februari 2008), hlm. 8.
5) Teman yang dibantu (konseli) bebas untuk membuat pilihan, dan kapan akan menghakhiri pertemuan konseling.
6) Konseling sebaya dilakukan atas dasar kesetaraan (equality).
7) Setiap saat konseli membutuhkan dukungan yang tidak dapat dipenuhi melalui konseling sebaya, tujuan, proses, dan teknik yang digunakan dalam konseling.
8) Kapanpun membutuhkan, konseli memperoleh informasi yang jelas tentang konseling teman sebaya, tujuan, proses, dan teknik yang digunakan dalam konseling teman sebaya sebelum mereka memanfaatkan layanan tersebut.
9) Selain prinsip-prinsip di atas, dalam konseling teman sebaya juga berlaku prinsip bahwa segala keputusan akhir yang diambil konseli berada pada tangan dan tanggung jawab konseli.
e. Proses Pelaksanaan Konseling Sebaya
Adapun langkah-langkah dalam membangun konseling sebaya menurut salah seorang ahli yang bernama Suwarjo adalah sebagai berikut:28
1) Pemilihan calon konselor teman sebaya. Meskipun keterampilan pemberian bantuan dapat dikuasai oleh siapa saja, faktor kesukarelaan dan faktor kepribadian pemberi bantuan (konselor sebaya) ternyata
28Suwarjo, “Konseling Teman Sebaya (Peer Counseling) untuk Meningkatkan Resiliensi Remaja”, makalah disampaikan pada Seminar Pengembangan Ilmu Pendidikan (Yogyakarta:
Fakultas Ilmu Pendidkan UNY, 29 Februari 2008), hlm. 9.
sangat menentukan keberhasilan pemberian bantuan. Oleh karena itu perlu dilakukan pemilihan calon konselor sebaya. Pemilihan didasarkan pada karakteristik-karakteristik hangat. Adapun karakteristik- karakteristik tersebut adalah; memiliki minat untuk membantu, terbuka dan mampu berempati, memiliki disiplin yang baik, dapat diterima orang lain, toleran terhadap perbedaan sistem nilai, memiliki emosi yang stabil, mampu bersosialisasi dan menjadi model yang baik bagi teman-temannya, dan memiliki prestasi belajar yang cukup baik, serta mampu menjaga rahasia.
2) Pelatihan calon konselor teman sebaya. Tujuan utama pelatihan konselor sebaya adalah untuk meningkatkan jumlah remaja yang memiliki dan mampu menggunakan keterampilan-keterampilan pemberian bantuan. Pelatihan ini tidak dimaksudkan untuk menghasilkan personal yang menggantikan fungsi dan peran konselor.
Sikap dan keterampilan dasar konseling yang meliputi kemampuan berempati, kemampuan melakukan attending, keterampilan bertanya dan keterampilan lainnya. Penguasaan terhadap kemampuan membantu diri sendiri dan kemampuan untuk membangun komunikasi interpersonal secara baik akan memungkinkan seorang remaja memiliki sahabat yang cukup.
3) Pelaksanaan dan pengorganisasian konseling teman sebaya. Dalam praktiknya, interaksi konseling teman sebaya lebih banyak bersifat spontan dan informal. Spontan dalam arti interaksi tersebut dapat terjadi
kapan saja dan dimana saja, tidak perlu menunda. Meskipun demikian prinsip-prinsip kerahasiaan tetap ditegakkan.
f. Tahapan Keterampilan Dasar Konseling Sebaya
Adapun tahapan keterampilan dasar konseling sebaya yang diberikan pada konselor sebaya menurut Tindall dan Gray yang meliputi:29
1) Attending
Attending adalah pemberian perhatian fisik kepada orang lain.
Attending juga berarti mendengarkan dengan menggunakan seluruh tubuh, attending merupakan komunikasi non-verbal yang menunjukkan bahwa konselor memberikan perhatian secara penuh terhadap lawan bicara yang sedang berbicara. Keterampilan attending meliputi:
keterlibatan postur tubuh, gerakan tubuh secara tepat, kontak mata, dan lingkungan yang nyaman. Tingkah laku attending sangat berkaitan dengan rasa hormat konselor terhadap konseli yang harus ditampakkan ketika perhatian secara penuh diberikan kepada konseli.
2) Empathizing
Empati merupakan kemampuan untuk memahami pribadi orang lain sebaik dia memahami dirinya sendiri. Tingkah laku empati merupakan salah satu keterampilan mendengarkan dengan penuh pemahaman (mendengarkan secara aktif). Seorang konselor hendaknya dapat menerima secara tepat makna dan perasaan-perasaan konselinya.
29Judith A. Tindall, Peer Power, Book One: Strategies for The Professional Leader:
Becoming an Effective Peer Helper and Conflict Mediator, (New York: Routledge, 2009), hlm. 55.
Konselor yang empati mampu melihat dunia melalui mata konseli, mampu mendengarkan konseli tanpa prasangka dan tidak menilai (jelek), dan mampu mendengarkan cerita konseli dengan baik. Konselor yang empati dapat merasakan kepedihan konseli tetapi tidak larut terhanyut karenanya. Dengan demikian konselor yang empati mampu membaca tanda-tanda (isyarat, gestur, mimik) yang menggambarkan keadaan psikologis dan emosi yang sedang dialami orang lain. Orang yang empati mampu merespon secara tepat kebutuhan-kebutuhan orang lain tanpa kehilangan kendali.
3) Summarizing
Merangkum dalam komunikasi konseling adalah aktivitas konselor mengungkapkan kembali pokok-pokok pikiran dan perasaan yang diungkapkan konseli. Keterampilan merangkum merupakan bagian dari keterampilan mendengarkan secara aktif terhadap apa yang menjadi inti pembicaraan konseli. Keterampilan ini sangat berguna bagi konselor dalam membantu konseli mengidentifikasi masalah. Selain itu, melalui keterampilan ini konselor juga menyisipkan kesadaran baru kepada konseli atas masalah yang dimilikinya. Bagi konselor keterampilan ini sangat bermanfaat untuk membantu konseli fokus pada masalah yang sedang dihadapi serta menumbuhkan kesadaran konseli untuk memandang masalah dari sudut pandang yang berbeda.
4) Questioning
Questioning yaitu keterampilan dalam mengemukakan pertanyaan efektif untuk memperoleh informasi secara mendalam dari
konseli. Dalam komunikasi antara konselor dan konseli, konselor dapat membantu konseli untuk memperoleh pemahaman yang lebih baik dengan mengajukan pertanyaan terbuka dan pertanyaan tertutup.
Pertanyaan terbuka adalah pertanyaan yang memungkinkan konseli memberikan jawaban secara terbuka dan luas. Pertanyaan terbuka dapat membantu konseli menggali dirinya guna memperoleh pemahaman diri yang lebih baik. Melalui penggunaan pertanyaan terbuka, konselor juga mengkomunikasikan minatnya untuk membantu konseli dalam mengeksplorasi diri. Pertanyaan tertutup adalah pertanyaan yang biasanya dapat dijawab dengan jawaban cenderung memutus pembicaraan. Pertanyaan tertutup lebih menekankan pada isi pembicaraan yang faktual dari pada memperhatikan perasaan. Ya atau tidak, atau dijawab dengan satu dua kata.
5) Genuineness
Genuineness yaitu keterampilan mengkomunikasikan perasaan secara jujur sehingga terjalin hubungan yang baik antara konselor dengan konseli. Perilaku jujur terhadap pikiran dan perasaan yang sedang dialami diekspresikan melalui perkataan dan tingkah laku yang apa adanya. Kejujuran konselor harus disampaikan atau diekspresikan secara tepat sehingga tidak melukai hati konseli. Sebagai konselor, sebelum mengekspresikan perasaan-perasaan tersebut maka konselor harus menyadari keberadaannya serta mampu memahami dan menguasainya.
6) Assertiveness
Keterampilan dalam mengekspresikan pemikiran dan perasaan mengenai konseli secara tegas, berani dan jujur tanpa menyakiti hati konseli. Serta tetap menjaga keharmonisan hubungan personal.
Bersikap asertif menimbulkan perasaan tidak nyaman untuk sementara waktu tetapi dalam jangka panjang akan memperkuat hubungan keduanya.
7) Confrontation
Konfrontasi adalah usaha sadar konselor untuk mengemukakan kembali dua pesan atau lebih yang saling bertentangan yang disampaikan konseli.Konfrontasi merupakan salah satu respon konselor yang sangat membantu konseli. Jika disampaikan secara tepat, konfrontasi memungkinkan konselor mengemukakan dua pesan ganda konseli (pesan yang berlawanan) tanpa menimbulkan kemarahan dan sikap bertahan konseli terhadap konselor. Konfrontasi akan membantu konseli untuk menyadari dan menghadapi berbagai pikiran, perasaan dan kenyataan yang terjadi pada dirinya, yang ingin disembunyikan atau diingkarinya. Konfrontasi juga membantu konseli untuk mencapai kesesuaian, yaitu suatu keadaan dimana kata-kata konseli sesuai dengan tingkah lakunya.
8) Problem solving
Problem solving merupakan keterampilan dalam mengeksplorasikan suatu masalah, memahami penyebab terjadinya
masalah tersebut, dan mengevaluasi tindakan yang mempengaruhi pemecahan masalah. Konselor perlu menjelajahi masalah dengan melihat dimensi yang menjadi perhatian awal munculnya masalah.
Kemudian memahami masalah secara detail melalui keterampilan empati, ketulusan, dan konfrontasi yang menjadi komponen kuat dalam pemahaman. Mendefinisikan masalahnya berarti mampu mengartikan masalah yang menyebabkan kesulitan dengan istilah yang sepesifik mungkin sehingga lebih besar peluang konselor dalam menemukan solusi. Lalu melaksanakan brainstorming tentang alternatif pemecahan masalah tanpa kritik dan komentar mengenai efektivitas penyelesaian masalah tetapi lebih mengajak konseli untuk mengungkap ide yang terlintas secara kreatif. Namun tetap dilakukan evaluasi melihat kelebihan dan kekurangan dari tiap ide, maka dapat disimpulkan alternatif mana yang terbaik dan menjadi solusi yang paling efektif untuk dilakukan.
2. Tinjauan Tentang Mengatasi Konflik Pertemanan Antar Siswa
a. Pengertian Mengatasi Konflik Pertemana Antar Siswa
Mengatasi merupakan suatu menghindarkan atau melintasi kesulitan atau kesukaran.30 Konflik berasal dari kata configere atau conficium yang artinya benturan, menunjuk pada semua benturan, tabrakan,
30W.J.S Poerwadarminta, Kamus Umum Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1986), hlm. 64.
ketidaksesuaian. Pertentangan, perkelahian, oposisi, dan interaksi-interaksi yang bersifat antagonis.31
Konflik menurut Joyce L. Hocker adalah proses pertentangan yang diekspresikan diantara dua pihak atau lebih yang saling tergantung mengenai objek konflik, menggunakan pola perilaku yang menghasilkan konflik. Konflik adalah suatu yang tidak dapat dielakkan dan sifatnya persuasif atau menyeluruh. Ia dapat muncul dalam diri individu atau antar individu baik dalam kelompok, komunitas ataupun bangsa.32
Menurut Rostiana, konflik merujuk pada suatu situasi pertentangan antara kekuatan-kekuatan yang ada pada diri individu sendiri, maupun antara individu dengan pihak lain dengan adanya pemicu berupa stimulus tertentu. Konflik bermuatan emosi dan melingkupi seluruh perilaku pada derajat yang berbeda-beda antara satu orang dengan orang lain.33
Dari berbagai pendapat ahli-ahli di atas mengenai definisi konflik, disimpulkan bahwa konflik merupakan proses yang terjadi pada individu ketika muncul pertentangan baik berupa pengaruh dari dalam diri individu sendiri maupun dari luar individu.
Sedangkan kata pertemanan berasal dari kata teman yang artinya adalah sahabat, kawan, orang-orang terdekat.34 Kata siswa menyatakan
31Wirawan, Konflik dan Manajemen Konflik, (Jakarta: Salemba Humanika, 2013), hlm. 4.
32Ibid., hlm. 5.
33Rostiana, “Deskripsi dan Dinamika Konflik Pada Boundary Role Person”,Arkhe Jurnal Ilmiah Psikologi, Th. 4 No.7, ( September, 1999), hlm. 2.
34Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1984), hlm. 912.
murid terutama pada tingkat dasar atau menengah dan merupakan seorang pelajar.35
Pertemanan antar siswa merupakan suatu ikatan yang terjalin antara siswa yang sudah saling mengenal satu sama lain. Jadi yang dimaksud dengan mengatasi konflik pertemanan antar siswa adalah suatu cara untuk melintasi sebuah situasi pertentangan yang terjadi antara siswa satu dengan siswa lainnya yang sudah saling mengenal.
b. Bentuk Bentuk Konflik
Konflik memiliki berbagai bentuk dan dapat dibedakan berdasarkan berbagai kriteria. Hakikatnya bentuk-bentuk konflik terdiri sebagai berikut:36
1) Konflik dalam diri individu
Konflik ini merupakan konflik internal yang terjadi pada diri seseorang (intrapersonal conflict). Konflik ini akan terjadi ketika individu harus memilih dua atau lebih tujuan yang saling bertentangan, lalu bimbang mana yang harus dipilih untuk dilakukan. Konflik dalam diri individu terjadi apabila seorang individu menghadapi ketidakpastian tentang pekerjaan yang diharapkan, apabila berbagai permintaan pekerjaan saling bertentangan atau apabila diharapkan untuk melakukan pekerjaan yang lebih dari kemampuannya. Remaja
35Ibid., hlm. 849.
36Edi Santosa dan Lilin Budiati, Manajemen Konflik, (Tangerang Selatan: Universitas Terbuka, 2013), hlm. 1.31
sering mengalami konflik perbedaan pendapat tentang jurusan yang diinginkan dengan jurusan pilihan orangtua.
2) Konflik antar individu
Konflik antar individu (interpersonal conflict) bersifat substansif, emosional, atau keduanya. Konflik ini terjadi ketika ada perbedaan tentang isu tertentu, tindakan dan tujuan. Dalam konflik ini, hasil bersama sangat menentukan.
3) Konflik antar anggota dalam satu kelompok
Setiap kelompok dapat mengalami konflik substansif atau efektif. Konflik substansif terjadi karena adanya latar belakang keahlian yang berbeda dan etika anggota dari suatu komite menghasilkan kesimpulan yang berbeda atas data yang sama.
Sementara itu, konflik efektif terjadi karena tanggapan emosional terhadap suatu situasi tertentu.
4) Konflik antar kelompok
Konflik intergroup terjadi karena adanya saling ketergantungan, perbedaan persepsi, perbedaan tujuan, dan meningkatnya tuntutan terhadap keahlian.
5) Konflik antar bagian dalam organisasi
Konflik yang terjadi antar seseorang tetapi dalam hal ini orang tersebut mewakili unit kerja tertentu.
6) Konflik antar organisasi
Konflik antar organisasi terjadi karena mereka memiliki saling ketergantungan pada tindakan suatu organisasi yang menyebabkan dampak negatif terhadap organisasi lain. Misalnya, konflik yang terjadi antara perguruan tinggi dengan salah satu organisasi masyarakat.
c. Faktor Penyebab Terjadinya Konflik
Konflik yang terjadi dapat disebabkan karena berbagai faktor, berikut faktor penyebab konflik secara umum:
1) Perbedaan individu
Setiap manusia adalah individu yang unik. Artinya, setiap orang memiliki pendirian dan perasaan yang berbeda-beda satu dengan lainnya. Perbedaan pendirian dan perasaan akan sesuatu hal atau lingkungan yang nyata ini dapat menjadi faktor penyebab konflik sosial. Dalam menjalani hubungan sosial, seseorang tidak selalu sejalan dengan kelompoknya.
2) Perbedaan latar belakang kebudayaan
Seseorang sedikit banyak akan terpengaruh dengan pola-pola pemikiran dan pendirian kelompoknya. Pemikiran dan pendirian yang berbeda itu pada akhirnya akan menghasilkan perbedaan individu yang dapat memicu konflik.
3) Perbedaan kepentingan antara individu atau kelompok
Manusia memiliki perasaan, pendirian maupun latar belakang kebudayaan yang berbeda. Oleh sebab itu, dalam waktu yang bersamaan, masing-masing orang atau kelompok memiliki kepentingan yang berbeda-beda. Kadang-kadang orang dapat melakukan hal yang sama, tetapi untuk tujuan yang berbeda-beda. Perubahan-perubahan nilai yang cepat dan mendadak dalam masyarakat adalah suatu yang lazim dan wajar terjadi, tetapi jika perubahan itu berlangsung cepat atau bahkan mendadak. Perubahan tersebut dapat memicu terjadinya konflik sosial bahkan akan terjadi upaya penolakan terhadap semua bentuk perubahan karena dianggap mengacaukan tatanan kehidupan masyarakat yang telah ada.37
d. Strategi Mengatasi Konflik
Menurut Dean G. Pruitt dan Jeffery Z. Rubin tindakan dalam mengatasi konflik dibagi menjadi lima:38
1) Contending (menghadapi persoalan)
Contending yaitu mencoba menerapkan solusi yang lebih disukai salah satu pihak atau pihak lain. Contending meliputi segala macam usaha untuk meyelesaikan konflik menurut kemauan seorang tanpa memperdulikan kepentingan pihak lain. Pihak-pihak yang menerapkan
37Winardi, Manajemen Konflik, (Bandung: Mandar Maju, 1994), hlm. 30-36.
38Dean G. Pruitt & Jeffrey Z. Rubin, Teori Konflik Sosial, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2004), hlm.56.
strategi ini mempertahankan aspirasinya sendiri dan mencoba membujuk pihak lain untuk mengalah.
2) Problem Solving (pemecahan masalah)
Problem solving meliputi usaha mengidentifikasi masalah yang memisahkan kedua belah pihak dan mengembangkan serta mengarah pada sebuah solusi yang memuaskan kedua belah pihak. Pihak-pihak yang menerapkan strategi ini berusaha mempertahankan aspirasinya sendiri tetapi sekaligus berusaha mendapatkan cara untuk melakukan rekonsiliasi dengan aspirasi pihak lain. Kesepakatan yang diperoleh didalam problem sovling dapat berbentuk kompromi (alternatif nyata yang berada diantara posisi-posisi yang lebih disukai oleh masing- masing pihak), atau dapat juga berbentuk sebuah solusi integratif (rekonsiliasi kreatif atas kepentingan-kepentingan mendasar masing- masing pihak).
3) Yielding (mengalah)
Yielding yaitu dimana orang harus menurunkan aspirasinya sendiri, tetapi tidak perlu berarti penyerahan total. Strategi ini juga bisa berarti konsesi parsial.
4) Withdrawing (menarik diri)
Usaha untuk mengatasi konflik, baik secara fisik maupun psikologis yang bersifat permanen. Usaha ini biasanya telah mempertimbangkan dampak paling buruk yang akan terjadi dan tetap melaksanakannya dengan menerima konsekuensinya.
5) Inaction (diam tidak melakukan apapun)
Inaction dan withdrawing adalah strategi yang sama adalam arti bahwa keduanya melibatkan usaha untuk mengatasi kontroversi namun inaction adalah tindakan temporer yang tetap membuka kemungkinan bagi upaya penyelesaian kontroversi.
e. Mengatasi Konflik menurut Perspektif BKI
Agama Islam merupakan agama yang bukan saja mengatur hubungan manusia dengan Tuhan. Tetapi juga hubungan manusia dengan manusia.
Menurut Islam, konflik adalah fenomena alami yang dapat terjadi dimana saja dan tidak dapat dihindari. Konflik sudah terjadi sejak pertama kali manusia diciptakan, Tuhan menciptakan manusia saling berbeda satu sama lain.
Konflik diantara manusia sudah terjadi pada Habil dan Qabil, putera nabi Adam. Walaupun Tuhan menciptakan manusia dengan berbagai karakteristik yang dapat memicu terjadinya konflik tetapi Tuhan lebih senang jika manusia saling bersatu.
Pada seminar Bimbingan dan Konseling Islam yang diselenggarakan oleh UII pada tahun 1985 dirumuskan bahwa konseling Islam merupakan proses pemberian bantuan terhadap individu agar menyadari kembali eksistensinya sebagai makhluk Allah yang seharusnya hidup selaras dengan ketentuan dan petunjuk Allah, sehingga dapat mencapai kebahagiaan dunia
dan akhirat. 39Konseli dapat diberikan bimbingan, nasehat, dan saran terhadap berbagai problem yang dihadapi dengan dikaitkannya problema- problema tersebut dengan semangat keberagamaan/nilai keimanan yang dimilikinya. Islam memberikan bimbingan kepada setiap individu agar dapat kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah.
Mengatasi konflik melalui konseling Islam dapat dirumuskan dengan spiritualism method, dan client-centered method (non directive approach):40
1) Spiritualism Method
Teknik ini dirumuskan atas dasar nilai yang dimaknai bersumber dari asas ketauhidan. Beberapa teknik dikelompokkan dalam spiritual method, yakni :
a) Latihan spiritual
Konseli diarahkan untuk mencari ketenangan hati dengan mendekatkan diri kepada Allah. Pada awalnya, konselor menyadarkan konseli agar dapat menerima masalah yang dihadapinya dengan perasaan lapang dada, bukan dengan perasaan benci dan putus asa. Selanjutnya, konselor menegakkan prinsip tauhid dengan meyakinkan konseli bahwa Allah adalah satu- satunya tempat mengembalikan masalah. Lebih lanjut konselor menuntun konseli untuk mendekatkan diri kepada Allah dengan merealisasikannya melalui amal ibadah.
39Said Alwi, “Pendekatan dan Metode Konseling Islam”, Jurnal ITQAN, Vol. 9 No. 2 Juli- Desember 2018), hlm. 155.
40Lubis, Konseling Islam dan Komunitas Pesantren, (Bandung: Cipta Pustaka Media, 2015), hlm. 24.
b) Menjalin kasih sayang
Penjabaran teknik ini dapat ditarik dari nilai yang dimaknai pada asas kerahasiaan, pendekatan kemandirian dan pendekatan sukarela. Keberhasilan konseling Islam juga akan ditentukan oleh terciptanya hubungan baik antara konselor dan konseli. Hubungan dimaksud adalah hubungan yang didasarkan atas kasih sayang (ukhuwah Islamiyyah).
c) Cerminan al-qudwah al-hasanah
Proses konseling Islami yang berlangsung sacara face to face menempatkan konselor pada posisi sentral dihadapan konseli.
Perhatian konseli terhadap konselor tidak hanya terbatas pada petunjuk-petunjuk yang diberikannya selama konsultasi berlangsung, tetapi juga tertuju kepada segala keadaan konselor, karena konselor dipandang dan diyakini sebagai orang yang mampu menyelesaikan masalah. Sifat keteladanan yang dimiliki konselor perlu diekspresikan dalam kehidupan sehari-hari, baik selama proses konsultasi maupun diluar kegiatan tersebut.
Minimal harus diupayakan konseli dapat terkondisikan oleh sikap dan perilaku konselor, baik disadari maupun tidak.
2) Client-Centered Method(non directive approach)
Teknik ini pertama kali diperkenalkan oleh Carl R. Roger.
Pelaksanaan teknik ini tidak bertentangan dengan prinsip Islam sebagaimana dijadikan dasar pelaksanaan teknik konseling Islami.
Islam memandang bahwa konseli adalah manusia yang memiliki kemampuan sendiri dan berupaya mencari kemantapan diri sendiri.
Sedang Roger memandang bahwa dalam proses konseling orang yang paling berhak memilih dan merencanakan serta memutuskan perilaku dan nilai-nilai mana yang dipandang paling bermakna bagi konseli, adalah konseli itu sendiri.
Konseli dipandang sebagai individu dengan memiliki kemampuan inheren untuk menghindari dari maladjustment (penyesuaian diri yang salah) menuju kepada kondisi psikis yang sehat. Dengan demikian konselor bukan menempati posisi otoritas mengetahui terbaik, dan konseli bukan menempati posisi orang pasif yang mengikuti perintah- perintah konselor semata.
H. Metode Penelitian
Untuk memperoleh data yang berhubungan dengan permasalahan yang dirumuskan penulis menggunakan metode penelitian sebagai berikut :
1. Jenis Penelitian
Penulis menggunakan penelitian kualitatif karena penelitian ini membutuhkan penjabaran-penjabaran naratif terhadap berbagai argumentasi, wacana dan problem solving terkait masalah yang dibahas. Di samping itu, Penelitian kualitatif memuat prosedur penelitian yang menghasilkan data
deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati.41
Tujuan utama penelitian kualitatif adalah untuk menggambarkan (to describe), memahami (to understand) dan menjelaskan (to explain) tentang suatu fenomena yang unik secara mendalam dan lengkap dengan prosedur dan teknik yang khusus sesuai dengan karakteristik penelitian kualitatif, sehingga menghasilkan sebuah teori yang grounded, yaitu teori yang dibangun berdasarkan data yang diperoleh selama penelitian berlangsung.42
Metode penelitian kualitatif deskriptif yang digunakan dalam penelitian ini dimaksudkan untuk melihat dan mengamati tahapan keterampilan dasar konselor sebaya dalam mengatasi konflik pertemanan antar siswa MAN 1 Yogyakarta.
2. Subjek dan Objek Penelitian a. Subjek
Subjek dalam penelitian adalah orang-orang yang menjadi sumber dan dapat memberikan data terkait dengan penelitian yang dilaksanakan.
Adapun subyek dalam penelitian ini adalah:
1) Guru BK di MAN 1 Yogyakarta sebagai subyek dengan kompetensi dan keahliannya dalam membantu siswa menyelesaikan masalahnya. Penulis memilih Ibu Farah Husna, M. Pd. mewakili guru BK dan sesuai dengan
41S. Margono, Metode Penelitian Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 2004), hlm. 36.
42Zainal Arifin, Penelitian Pendidikan: Metode dan Paradigma Baru, (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2011), hlm.141.
kriteria penelitian ini. Kemudian Bapak Nuryo Handoko, S. Sos. sebagai pendamping ekstrakulikuler PIK R.
2) Konselor Sebaya PIK R berjumlah 15 orang, penulis memilih empat subyek sesuai dengan pertimbangan dan kriteria tertentu yaitu: anggota PIK R, telah melakukan pelatihan Pendidik/Konselor Sebaya, sering melakukan konseling sebaya dan memiliki pengalaman mengatasi konflik pertemanan. Subyek dipilih berdasarkan rekomendasi Pembina PIK R sebagai siswa yang cukup aktif melakukan konseling sebaya.
Subyek tersebut yaitu Azza Nabila, Aghnia Rana, Rahmah Salsabila dan Fatahanisa.
3) Konseli Sebaya berjumlah dua orang dengan inisial SY dan IC. Dengan kriteria siswa MAN 1 Yogyakarta, pernah melakukan konseling sebaya, dan memiliki konflik pertemanan. Penulis mengambil dua subyek tersebut dengan menetapkan pertimbangan-pertimbangan yang sesuai dengan penelitian ini. SY dan IC pernah melakukan konseling sebaya lebih dari satu konselor sehingga subyek memiliki pengalaman konsultasi lebih luas. Selain itu, konflik yang dialami SY dan ZR merupakan konflik pertemanan yang sering terjadi di lingkungan siswa MAN 1 Yogyakarta.
b. Objek
Objek dalam penelitian ini adalah tahapan keterampilan dasar yang digunakan konselor PIK R dalam mengatasi konflik pertemanan antar siswa MAN 1 Yogyakarta.
3. Metode Pengumpulan Data
Penelitian ini menggunakan metode pengumpulan data sebagai berikut:
a. Observasi
Metode observasi merupakan suatu teknik pengumpulan data yang mengharuskan penulis turun ke lapangan mengamati hal-hal yang berkaitan dengan ruang, tempat, pelaku, kegiatan, benda-benda, waktu, peristiwa, tujuan dan perasaaan. Dalam metode ini penulis bersifat pasif artinya penulis tidak terlibat dalam kegiatan subjek penelitian dan tidak berinteraksi dengan mereka secara langsung, penulis hanya mengamati interaksi sosial yang mereka ciptakan atau disebut dengan metode non partisipan.43
Metode ini bertujuan untuk mengetahui keadaan lokasi penelitian, pengamatan sekolah secara umum dan selanjutnya yaitu proses konseling sebaya berkaitan dengan tahapan keterampilan dasar yang digunakan konselor sebaya dalam mengatasi konflik pertemanan antar siswa.
b. Wawancara
Wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu, percakapan ini dilakukan oleh dua pihak, yaitu pewawancara yang mengajukan pertanyaan dan yang diwawancarai sebagai pemberi jawaban atas pertanyaan itu.44
43M. Djunaidi Ghony dan Fauzan Almanshur, Metode Penelitian Kualitatif, (Yogyakarta:
Ar-Ruz Media. 2016), hlm. 16
Wawancara yang digunakan penulis adalah wawancara bebas terpimpin, yaitu pertanyaan yang diajukan bersifat bebas tetapi sesuai dengan data yang diteliti yakni mengenai tahapan keterampilan dasar yang digunakan konselor sebaya dalam mengatasi konflik pertemanan antar siswa.45
c. Dokumentasi
Metode ini merupakan suatu cara pengumpulan data yang menghasilkan catatan-catatan penting yang berhubungan dengan masalah yang diteliti, sehingga akan diperoleh data yang lengkap, sah dan bukan berdasarkan perkiraan.46 Dengan kata lain metode dokumentasi digunakan penulis bertujuan untuk mencari data dalam bentuk catatan, transkip, buku, surat kabar, majalah, modul dan laporan.
Metode dokumentasi ini bertujuan untuk mendapatkan sejumlah data yaitu, tentang letak geografis, sejarah berdiri dan berkembangnya sekolah, visi, misi, struktur organisasi, sarana dan prasarana, kondisi guru maupun siswa dan data lainnya yang berkaitan dengan konseling sebaya di MAN 1 Yogyakarta.
4. Metode Analisis Data
Analisis data adalah proses yang sistematis dalam pencarian dan transkip wawancara, catatan lapangan, dan materi-materi lain yang dapat mendukung objektivitas data. Dengan analisis data akan mempermudah penulis dalam menyajikan hasil penelitian secara naratif dan sistematis.
45Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 87.
46Juliansyah Noor, Metodologi Penulisan: Skripsi, Tesis, Disertasi dan Karya Ilmiah, (Jakarta: Kencana, 2012), hlm. 158.
Analisis data dalam penelitian ini mencocokan hasil data yang diperoleh dari teknik pengumpulan data. Berikut adalah langkah-langkah dalam analisis data kualitatif, yaitu:
a. Reduksi Data
Reduksi data adalah suatu bentuk analisis yang mempertajam, memilih, memfokuskan, membuang, menyusun data dalam suatu cara dimana kesimpulan akhir dapat digambarkan dan diverifikasikan.47
b. Penyajian Data
Selanjutnya langkah yang dilakukan oleh penulis yakni penyajian data. Dalam penyajian data ini penulis menguraikan data-data yang telah dirangkum dan dipilih dari data yang diperoleh saat penelitian di lapangan dengan menggunakan kalimat-kalimat berbentuk naratif dan berdasarkan fokus penelitian yaitu tentang bagaimana tahapan keterampilan dasar yang digunakan konselor sebaya dalam mengatasi konflik pertemanan antar siswa MAN 1 Yogyakarta.
c. Penarikan Kesimpulan
Langkah analisis selanjutnya yang dilakukan penulis adalah penarikan kesimpulan yaitu diharapkan dengan penarikan kesimpulan tersebut dapat menjawab rumusan masalah yaitu tentang bagaimana tahapan keterampilan dasar yang digunakan konselor sebaya dalam mengatasi konflik pertemanan antar siswa MAN 1 Yogyakarta. Dari hasil pengelolaan dan
47Nana Syaodih Sukmadinata, Metode Penelitian Pendidikan, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2009), hlm. 130.
penganalisaan data kemudian digunakan penulis sebagai dasar untuk menarik kesimpulan.
5. Uji Keabsahan Data
Pemeriksaan terhadap keabsahan data pada dasarnya, selain digunakan untuk menyanggah balik yang dituduhkan kepada penelitian kualitatif yang mengatakan tidak ilmiah, juga merupakan sebagai unsur yang tidak terpisahkan dari tubuh pengetahuan penelitian kualitatif.48
Pengujian keabsahan data dalam penelitian kualitatif ini menggunakan teknik triangulasi. Triangulasi adalah teknik pemeriksaan keabsahan data dengan memanfaatkan berbagai sumber di luar data sebagai bahan perbandingan. Kemudian dilakukan cross check agar hasil penelitian dapat dipertanggungjawabkan.49 Adapun data yang dibandingkan yaitu data observasi, wawancara dan dokumentasi. Observasi ini untuk menjelaskan keadaan di lapangan seperti visi misi, program kerja dan jenis layanan. Sedangkan wawancara adalah bentuk pernyataan guru BK, konselor sebaya dan konseli terkait dengan tahapan keterampilan dasar yang digunakan konselor sejalan atau tidak dengan yang disampaikan konseli (cross check reference). Sedangkan dokumentasi dilakukan dengan cara membandingkan hasil pengamatan dengan data-data yang berhasil dihimpun oleh penulis seperti arsip.
48Lexy J Moleong, Metodologi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya, 2013), hlm. 320.
49Ibid., hlm. 294.
BAB IV PENUTUP
A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang penulis lakukan, tentang Konseling Sebaya dalam Mengatasi Konflik Pertemanan antar Siswa MAN 1 Yogyakarta, maka dapat diambil kesimpulan, bahwa tahapan keterampilan dasar yang digunakan konselor sebaya adalah :
1. Attending menjadi tahap penting yang merupakan pembuka pintu awal keberhasilan konselor dalam menyelesaikan konflik. Konselor sebaya mampu hadir saat dibutukan konseli dengan membuka diri lebih dulu, pembawaan yang santai, dan mood yang baik.
2. Empathizing merupakan tahapan dasar yang dimiliki tiap konselor sebaya dan diakui guru BK sebagai poin penting dalam mendengarkan dengan baik.
Karena empati mampu mempengaruhi kondisi konseli nyaman atau tidak ketika bercerita.
3. Summarizing yaitu kemampuan merangkum, dalam tahap ini konselor lebih mengedepankan rasa nyaman konseli dan dapat sedikit meringankan beban dalam bercerita walaupun belum bisa merangkum dan mengidentifikasi masalah dengan baik.
4. Questioning yaitu keterampilan pertanyaan terbuka dan tertutup sudah diterapkan dalam proses konseling.
5. Genuineness menyampaikan perilaku dan perasaan dengan jujur, tulus apa adanya sedangkan Assertiveness menyampaikan pikiran dan perasaan dengan