BERITA NEGARA
REPUBLIK INDONESIA
No.1349, 2012 KEMENTERIAN KEUANGAN. Sistem Akuntansi.
Belanja Subsidi. Laporan. Pencabutan.
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 241/PMK.05/2012
TENTANG
SISTEM AKUNTANSI BELANJA SUBSIDI DAN BELANJA LAIN-LAIN
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA,
Menimbang : a. bahwa dalam rangka pelaksanaan ketentuan Pasal 17A ayat (5) Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 233/PMK.05/2011, telah ditetapkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 196/PMK.05/2008 tentang Tata Cara Penyusunan Dan Penyajian Laporan Keuangan Belanja Subsidi Dan Belanja Lain-Lain Pada Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan;
b. bahwa pada saat ini belanja subsidi dan belanja lain-
lain ditetapkan dalam bagian anggaran yang terpisah
yaitu bagian anggaran belanja subsidi dan bagian
anggaran belanja lain-lain sehingga perlu dilakukan
penyempurnaan dan mengatur kembali ketentuan
mengenai tata cara penyusunan dan penyajian
laporan keuangan belanja subsidi dan belanja lain-
lain pada bagian anggaran pembiayaan dan
perhitungan sebagaimana diatur dalam Peraturan
Menteri Keuangan Nomor 196/PMK.05/2008;
c. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a dan huruf b, perlu menetapkan Peraturan Menteri Keuangan tentang Sistem Akuntansi Belanja Subsidi dan Belanja Lain- Lain;
Mengingat : 1. Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 123, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5165);
2. Peraturan Menteri Keuangan Nomor 171/PMK.05/2007 tentang Sistem Akuntansi Dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 233/PMK.05/2011;
MEMUTUSKAN:
Menetapkan : PERATURAN MENTERI KEUANGAN TENTANG SISTEM AKUNTANSI BELANJA SUBSIDI DAN BELANJA LAIN- LAIN.
BAB I
KETENTUAN UMUM Bagian Kesatu
Definisi Pasal 1
Dalam Peraturan Menteri ini, yang dimaksud dengan:
1 Sistem Akuntansi Belanja Subsidi yang selanjutnya disebut SA BS adalah serangkaian prosedur manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan atas transaksi belanja subsidi.
2 Sistem Akuntansi Belanja Lain-Lain yang selanjutnya disebut SA BL adalah serangkaian prosedur manual maupun yang terkomputerisasi mulai dari pengumpulan data, pencatatan, pengikhtisaran, sampai dengan pelaporan posisi keuangan dan operasi keuangan atas transaksi belanja lain-lain.
3 Belanja Subsidi adalah pengeluaran pemerintah yang diberikan
kepada perusahaan/lembaga tertentu yang bertujuan untuk
membantu biaya produksi agar harga jual produk/jasa yang
dihasilkan dapat dijangkau oleh masyarakat.
4 Belanja Lain-Lain adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa dan tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam, bencana sosial, dan pengeluaran tidak terduga lainnya yang sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan kewenangan pemerintah pusat/daerah.
5 Kementerian Negara/Lembaga adalah Kementerian Negara/Lembaga Pemerintah non Kementerian Negara/Lembaga Negara.
6 Pihak Lain adalah instansi/unit organisasi di luar Kementerian Negara/Lembaga dan berbadan hukum yang menggunakan anggaran yang bersumber dari APBN dan bukan Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) sebagai entitas Pemerintah Daerah, dan karenanya wajib menyelenggarakan Sistem Akuntansi Instansi (SAI) sesuai ketentuan yang berlaku.
7 Entitas Akuntansi adalah unit pemerintah Pengguna Anggaran yang berkewajiban menyelenggarakan akuntansi dan menyusun laporan keuangan untuk digabungkan pada entitas pelaporan.
8 Entitas Pelaporan adalah unit pemerintah yang terdiri dari satu atau lebih entitas akuntansi yang berkewajiban menyampaikan laporan pertanggungjawaban berupa laporan keuangan.
9 Unit Akuntansi Bendahara Umum Negara yang selanjutnya disebut UA BUN adalah unit akuntansi pada Kementerian Keuangan, yang melakukan koordinasi dan pembinaan atas kegiatan akuntansi dan pelaporan keuangan tingkat UAP BUN dan sekaligus melakukan penggabungan laporan keuangan sekuruh UAP BUN.
10 Unit Akuntansi Pembantu Bendahara Umum Negara Belanja Subsidi yang selanjutnya disebut UAP BUN BS adalah unit akuntansi pada Unit Eselon I Kementerian Keuangan yang melakukan penggabungan laporan keuangan seluruh UAPPA BUN PBS.
11 Unit Akuntansi Pembantu Bendahara Umum Negara Belanja Lain-Lain yang selanjutnya disebut UAP BUN BL adalah unit akuntansi pada Unit Eselon I Kementerian Keuangan yang melakukan penggabungan laporan keuangan seluruh UAPPA BUN PBL.
12 Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Bendahara Umum Negara Pengguna Belanja Subsidi yang selanjutnya disebut UAPPA BUN PBS adalah Unit Akuntansi pada Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain yang melakukan penggabungan laporan keuangan seluruh UAPPA E1 BUN PBS yang berada di bawahnya.
13 Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Bendahara Umum
Negara Pengguna Belanja Lain-Lain yang selanjutnya disebut UAPPA
BUN PBL adalah Unit Akuntansi pada Kementerian
Negara/Lembaga/Pihak Lain yang melakukan penggabungan laporan
keuangan seluruh UAPPA E1 BUN PBL yang berada di bawahnya.
14 Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Tingkat Eselon I Bendahara Umum Negara Pengguna Belanja Subsidi yang selanjutnya disebut UAPPA-EI BUN PBS adalah unit akuntansi pada Unit Eselon I Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain yang membidangi kesekretariatan yang melakukan penggabungan laporan keuangan seluruh UAKPA BUN PBS yang berada di bawahnya.
15 Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran Tingkat Eselon I Bendahara Umum Negara Pengguna Belanja Lain-Lain yang selanjutnya disebut UAPPA-EI BUN PBL adalah unit akuntansi pada Unit Eselon I Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain yang membidangi kesekretariatan yang melakukan penggabungan laporan keuangan seluruh UAKPA BUN PBL yang berada di bawahnya.
16 Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran Bendahara Umum Negara Pengguna Belanja Subsidi yang selanjutnya disebut UAKPA BUN PBS adalah unit akuntansi instansi yang melakukan akuntansi dan pelaporan keuangan pada tingkat satuan kerja Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara Pengguna Belanja Subsidi.
17 Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran Bendahara Umum Negara Pengguna Belanja Belanja Lain-Lain yang selanjutnya disebut UAKPA BUN PBL adalah unit akuntansi instansi yang melakukan akuntansi dan pelaporan keuangan pada tingkat satuan kerja Bagian Anggaran Bendahara Umum Negara Pengguna Belanja Lain-Lain.
18 Neraca adalah laporan yang menyajikan informasi posisi keuangan suatu entitas pelaporan mengenai aset, utang, dan ekuitas dana pada tanggal tertentu.
19 Laporan Realisasi Anggaran yang selanjutnya disingkat LRA adalah laporan yang menyajikan informasi realisasi pendapatan, belanja, transfer surplus/defisit dan pembiayaan, sisa lebih/kurang pembiayaan anggaran yang masing-masing diperbandingkan dengan anggarannya dalam satu periode.
20 Catatan atas Laporan Keuangan yang selanjutnya disebut CaLK adalah laporan yang menyajikan informasi tentang penjelasan atau daftar terinci atau analisis atas nilai suatu pos yang disajikan dalam Laporan Realisasi Anggaran, Neraca dan Laporan Arus Kas dalam rangka pengungkapan yang memadai.
21 Barang Milik Negara, yang selanjutnya disingkat BMN, adalah semua barang yang dibeli atau diperoleh atas beban APBN atau berasal dari perolehan lainnya yang sah.
22 Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran yang selanjutnya disingkat DIPA
adalah dokumen pelaksanaan anggaran yang disusun oleh Pengguna
Anggaran/Kuasa Pengguna Anggaran dan disahkan oleh Menteri
Keuangan selaku Bendahara Umum Negara.
23 Surat Perintah Membayar yang selanjutnya disingkat SPM adalah dokumen yang diterbitkan/digunakan oleh PA/Kuasa PA/Pejabat Penandatangan SPM untuk mencairkan alokasi dana yang sumber dananya dari DIPA atau dokumen lain yang dipersamakan.
24 Surat Perintah Pencairan Dana yang selanjutnya disebut SP2D adalah surat perintah yang diterbitkan oleh KPPN selaku Kuasa BUN untuk pelaksanaan pengeluaran atas beban APBN berdasarkan SPM.
25 Arsip Data Komputer yang selanjutnya disingkat ADK adalah arsip data berupa Compact Disc, USB Flash Disc, atau media penyimpanan digital lainnya yang berisikan data transaksi, data buku besar, dan/atau data lainnya.
26 Reviu adalah prosedur penyelusuran angka-angka dalam Laporan Keuangan, permintaan keterangan, dan analitik yang harus menjadi dasar memadai bagi Aparat Pengawasan Internal untuk memberi keyakinan terbatas bahwa tidak ada modifikasi material yang harus dilakukan atas laporan keuangan agar laporan keuangan tersebut sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.
27 Rekonsiliasi adalah proses pencocokan data transaksi keuangan yang diproses dengan beberapa sistem/subsistem yang berbeda berdasarkan dokumen sumber yang sama.
28 Dokumen Sumber adalah dokumen yang berhubungan dengan transaksi keuangan yang digunakan sebagai sumber atau bukti untuk menghasilkan data akuntansi.
29 Standar Akuntansi Pemerintahan adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah.
Bagian Kedua Ruang Lingkup
Pasal 2
(1) Peraturan Menteri ini mengatur mengenai sistem akuntansi:
a. Belanja Subsidi; dan b. Belanja Lain-Lain.
(2) BS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a terdiri atas:
a. Belanja Subsidi Lembaga Keuangan Perusahaan Negara;
b. Belanja Subsidi BBM;
c. Belanja Subsidi Non BBM-Harga/Biaya;
d. Belanja Subsidi Non BBM-Pajak;
e. Belanja Subsidi Non BBM-Lainnya;
f. Belanja Subsidi Non BBM-Harga/Biaya II;
g. Belanja Subsidi dalam Rangka PSO;
h. Belanja Subsidi Lembaga Keuangan Perusahaan swasta;
i. Belanja Subsidi Bunga Kredit;
j. Belanja Subsidi Kredit Program II; dan k. Belanja Subdisi Lembaga Non-Keuangan.
(3) BL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b terdiri atas:
a. Belanja Lain-Lain Dana Cadangan I;
b. Belanja Lain-Lain Dana Cadangan II;
c. Belanja Lain-Lain Lembaga Non Kementerian;
d. Belanja Lain-Lain Jasa Pelayanan BUN;
e. Belanja Lain-Lain BUN;
f. Belanja Lain-Lain Tanggap Darurat; dan g. Belanja Lain-Lain Lainnya.
BAB II
SISTEM AKUNTANSI Pasal 3
(1) BS dan SA BL merupakan sub sistem dari Sistem Akuntansi Bendahara Umum Negara (SA BUN).
(2) SA BS dan SA BL masing-masing menghasilkan laporan keuangan yang terdiri atas:
a. LRA;
b. Neraca; dan c. CaLK.
BAB III UNIT AKUNTANSI
Bagian Kesatu
Unit Akuntansi Belanja Subsidi dan Unit Akuntansi Belanja Lain-Lain Pasal 4
(1) Dalam rangka pelaksanaan SA BS, dibentuk unit akuntansi yang terdiri atas:
a. UAP BUN BS;
b. UAKPA BUN PBS;
c. UAPPA-E1 BUN PBS; dan d. UAPPA BUN PBS.
(2) Dalam rangka pelaksanaan SA BL, dibentuk unit akuntansi yang terdiri atas:
a. UAP BUN BL;
b. UAKPA BUN PBL;
c. UAPPA-E1 BUN PBL; dan d. UAPPA BUN PBL.
(3) UAP BUN BS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf a dan UAP BUN BL sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a dilaksanakan oleh Direktorat Jenderal Anggaran.
(4) Penanggung jawab unit akuntansi pada Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain selaku pengguna Belanja Subsidi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) bertanggungjawab atas:
a. Pelaksanaan anggaran Belanja Subsidi pada unitnya; dan b. Pelaporan kepada UAP BUN BS.
(5) Penanggung jawab unit akuntansi pada Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain selaku pengguna Belanja Lain-Lain sebagaimana dimaksud pada ayat (2) bertanggungjawab atas:
a. Pelaksanaan anggaran Belanja Lain-Lain pada unitnya; dan b. Pelaporan kepada UAP BUN BL.
Bagian Kedua
Unit Akuntansi Penatausahaan Barang Milik Negara Pasal 5
(1) Dalam hal unit akuntansi pada Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain selaku pengguna Belanja Subsidi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) menatausahakan BMN, unit akuntansi dimaksud juga bertindak sebagai Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Barang Belanja Subsidi.
(2) Dalam hal unit akuntansi pada Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain selaku pengguna Belanja Lain-Lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (2) menatausahakan BMN, unit akuntansi dimaksud juga bertindak sebagai Unit Akuntansi Pembantu Penguna Barang Belanja Lain-Lain.
(3) Unit Akuntansi sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2)
melaksanakan:
a. Pencatatan perolehan BMN dalam laporan BMN; dan
b. Penyampaian laporan BMN secara berjenjang kepada unit akuntansi pengguna barang di atasnya untuk dilakukan penggabungan.
Pasal 6 (1) BMN yang berasal dari:
a. Belanja Subsidi diserahkan dari Direktorat Jenderal Anggaran selaku UAP BUN Belanja Subsidi kepada Satuan Kerja Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain yang mengelola Belanja Subsidi; dan
b. Belanja Lain-Lain diserahkan dari Direktorat Jenderal Anggaran selaku UAP BUN Belanja Lain-Lain kepada Satuan Kerja Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain yang mengelola Belanja Lain-Lain.
(2) Penyerahan BMN sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam Berita Acara Serah Terima (BAST) yang ditandatangani oleh Direktur Jenderal Anggaran dan Pejabat Eselon I di Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain yang melaksanakan fungsi kesekretariatan.
(3) Penyerahan BMN sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dilaksanakan paling lambat tanggal 31 Desember tahun berkenaan atau sampai dengan berakhirnya kegiatan.
(4) Berita Acara Serah Terima (BAST) sebagaimana dimaksud pada ayat (3) ditembuskan kepada Direktur Jenderal Kekayaan Negara selaku Pengelola Barang.
(5) Bentuk dan isi Berita Acara Serah Terima (BAST) dibuat sesuai format sebagaimana tercantum dalam Modul yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
BAB IV
DOKUMEN SUMBER Pasal 7
(1) Laporan keuangan Belanja Subsidi dan laporan keuangan Belanja Lain-Lain sebagaimana dimaksud dalam pasal 3 ayat (2) masing- masing disusun berdasarkan Dokumen Sumber tahun anggaran berkenaan.
(2) Dokumen Sumber sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:
a. DIPA;
b. Revisi DIPA;
c. SPM; dan
d. SP2D.
(3) Selain Dokumen Sumber sebagaimana dimaksud pada ayat (2), unit akuntansi belanja subsidi dan unit akuntansi belanja lain-lain menyusun laporan keuangan dengan Dokumen Sumber yang terdiri atas:
a. Memo Penyesuaian;
b. Bukti Penerimaan Negara;
c. Surat Setoran Pengembalian Belanja (SSPB);
d. Surat Perintah Pembukuan Pengesahan (SP3) dan/atau Notice of Disbursement (NoD);
e. Berita Acara Serah Terima Aset (BAST);
f. Surat Perintah Pengesahan Hibah Langsung (SP2HL) dan Surat Pengesahan Hibah Langsung (SPHL); dan/atau
g. Memo Pengesahan Hibah Langsung Barang/Jasa/ Surat Berharga (MPHL-BJS),
berdasarkan jenis transaksi sesuai dengan ketentuan perundang- undangan.
BAB V
PENYUSUNAN DAN PENYAMPAIAN LAPORAN KEUANGAN Bagian Kesatu
Penyusunan Dan Penyampaian Laporan Keuangan Belanja Subsidi
Paragraf Kesatu
Penyusunan Laporan Keuangan Tingkat UAKPA BUN PBS Pasal 8
(1) UAKPA BUN PBS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf b memproses dokumen sumber sebagaimana dimaksud pada Pasal 7 untuk disusun menjadi laporan keuangan.
(2) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun secara:
a. bulanan;
b. triwulanan;
c. semesteran; dan d. tahunan.
Pasal 9
(1) Laporan keuangan bulanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 8
ayat (2) huruf a dan laporan keuangan triwulanan sebagaimana
dimaksud pada pasal 8 ayat (2) huruf b terdiri atas:
a. LRA PBS; dan b. Neraca PBS.
(2) UAKPA BUN PBS melakukan rekonsiliasi atas laporan keuangan bulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN).
(3) Hasil rekonsiliasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan dalam Berita Acara Rekonsiliasi.
(4) Bentuk dan isi Berita Acara Rekonsiliasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibuat sesuai format sebagaimana tercantum dalam Modul yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(5) Setelah melakukan rekonsiliasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2), UAKPA BUN PBS menyampaikan laporan keuangan bulanan dan laporan keuangan triwulanan beserta ADK ke UAPPA-E1 BUN PBS.
(6) Laporan keuangan bulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) disampaikan kepada UAPPA-E1 BUN PBS paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.
(7) Laporan keuangan triwulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) disampaikan kepada UAPPA-E1 BUN PBS paling lambat:
a. tanggal 12 April tahun berkenaan untuk triwulan I;
b. tanggal 10 Juli tahun berkenaan untuk triwulan II;
c. tanggal 12 Oktober tahun berkenaan untuk triwulan III; dan d. tanggal 20 Januari tahun berikutnya untuk triwulan IV
Pasal 10
(1) Laporan keuangan semesteran sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 ayat (2) huruf c dan laporan keuangan tahunan sebagaimana dimaksud pada pasal 8 ayat (2) huruf d terdiri atas:
a. LRA PBS;
b. Neraca PBS; dan c. CaLK PBS.
(2) Laporan keuangan semesteran dan laporan keuangan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada UAPPA-E1 BUN PBS disertai dengan ADK dan pernyataan tanggung jawab.
(3) Laporan keuangan semesteran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada UAPPA-E1 BUN PBS paling lambat tanggal 10 Juli tahun berkenaan.
(4) Laporan keuangan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2)
disampaikan kepada UAPPA-E1 BUN PBS paling lambat tanggal 20
Januari tahun berikutnya.
Paragraf Kedua
Penyusunan Laporan Keuangan Tingkat UAPPA-E1 BUN PBS Pasal 11
(1) UAPPA-E1 BUN PBS melakukan penggabungan laporan keuangan seluruh UAKPA BUN PBS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (1) dan Pasal 10 ayat (1) untuk menyusun laporan keuangan tingkat UAPPA-E1 BUN PBS.
(2) Laporan keuangan tingkat UAPPA-E1 BUN PBS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. triwulan;
b. semester; dan c. tahunan.
(3) Laporan keuangan triwulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a terdiri atas:
a. LRA PBS; dan b. Neraca PBS.
(4) Laporan keuangan semesteran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan laporan keuangan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c terdiri atas:
a. LRA PBS;
b. Neraca PBS; dan c. CaLK PBS.
(5) Laporan keuangan triwulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan kepada UAPPA BUN PBS disertai dengan ADK paling lambat:
a. tanggal 20 April tahun berkenaan untuk triwulan I;
b. tanggal 15 Juli tahun berkenaan untuk triwulan II;
c. tanggal 20 Oktober tahun berkenaan untuk triwulan III; dan d. tanggal 29 Januari tahun berikutnya untuk triwulan IV.
(6) Laporan keuangan semesteran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disampaikan kepada UAPPA BUN PBS disertai dengan ADK dan pernyataan tanggung jawab paling lambat tanggal 15 Juli tahun berkenaan.
(7) Laporan keuangan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (4)
disampaikan kepada UAPPA BUN PBS disertai dengan ADK dan
pernyataan tanggung jawab paling lambat tanggal 29 Januari tahun
berkenaan.
Paragraf Ketiga
Penyusunan Laporan Keuangan Tingkat UAPPA BUN PBS Pasal 12
(1) UAPPA BUN PBS melakukan penggabungan laporan keuangan seluruh UAPPA-E1 BUN PBS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11 ayat (3) dan ayat (4) untuk menyusun laporan keuangan tingkat UAPPA BUN PBS.
(2) Laporan keuangan tingkat UAPPA BUN PBS sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. triwulan;
b. semester; dan c. tahunan.
(3) Laporan keuangan triwulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a terdiri atas:
a. LRA PBS; dan b. Neraca PBS.
(4) Laporan keuangan semesteran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan laporan keuangan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c terdiri atas:
a. LRA PBS;
b. Neraca PBS; dan c. CaLK PBS.
(5) Laporan keuangan triwulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan kepada UAP BUN BS disertai dengan ADK paling lambat:
a. tanggal 26 April tahun berkenaan untuk triwulan I;
b. tanggal 20 Juli tahun berkenaan untuk triwulan II;
c. tanggal 29 Oktober tahun berkenaan untuk triwulan III; dan d. tanggal 9 Pebruari tahun berikutnya untuk triwulan IV.
(6) Laporan keuangan semesteran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disampaikan kepada UAP BUN BS disertai dengan ADK dan pernyataan tanggung jawab paling lambat tanggal 20 Juli tahun berkenaan.
(7) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disampaikan
kepada UAP BUN BS disertai dengan ADK dan pernyataan tanggung
jawab paling lambat tanggal 9 Februari tahun berikutnya.
Paragraf Keempat
Penyusunan Laporan Keuangan Tingkat UAP BUN PBS Pasal 13
(1) UAP BUN BS melakukan penggabungan laporan keuangan seluruh UAPPA BUN PBS sebagaimana dimaksud dalam Pasal 12 ayat (4).
(2) Berdasarkan hasil penggabungan laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), UAP BUN menyusun laporan keuangan semesteran dan laporan keuangan tahunan tingkat UAP BUN BS . (3) Laporan keuangan semesteran dan laporan keuangan tahunan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:
a. LRA BS;
b. Neraca BS; dan c. CaLK BS.
(4) UAP BUN PBS melakukan rekonsiliasi atas laporan keuangan semesteran dan laporan keuangan tahunan dengan Direktorat Jenderal Perbendaharaan c.q. Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan selaku UA BUN.
(5) Hasil rekonsiliasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dituangkan dalam Berita Acara Rekonsiliasi.
(6) Bentuk dan isi Berita Acara Rekonsiliasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dibuat sesuai format sebagaimana tercantum dalam Modul yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(7) Setelah melakukan rekonsiliasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4), UAP BUN BS menyampaikan laporan keuangan semesteran dan laporan keuangan tahunan kepada UA BUN.
(8) Laporan keuangan semesteran sebagaimana dimaksud pada ayat (7) disampaikan kepada UA BUN paling lambat tanggal 27 Juli tahun berkenaan.
(9) Laporan Keuangan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) disampaikan kepada UA BUN paling lambat tanggal 25 Februari tahun berikutnya.
Paragraf Kelima
Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain yang Tidak Mendapat Alokasi Anggaran Belanja Subsidi
Pada Tahun Berikutnya Pasal 14
(1) Entitas Akuntansi dan/atau Entitas Pelaporan yang tidak mendapat
alokasi anggaran Belanja Subsidi pada tahun berikutnya harus
membuat laporan keuangan penutup dan laporan keuangan likuidasi.
(2) Tata cara penyusunan dan penyajian laporan keuangan bagi Entitas Akuntansi dan/atau Entitas Pelaporan pengguna Belanja Subsidi yang tidak mendapat alokasi anggaran Belanja Subsidi tahun anggaran berikutnya dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang- undangan yang mengatur mengenai pelaksanaan likuidasi entitas akuntansi dan entitas pelaporan pada Kementerian Negara/Lembaga.
Bagian Kedua
Penyusunan Dan Penyampaian Laporan Keuangan Belanja Lain-Lain
Paragraf Kesatu
Penyusunan Laporan Keuangan Tingkat UAKPA BUN PBL Pasal 15
(1) UAKPA BUN PBL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) huruf b memproses dokumen sumber sebagaimana dimaksud pada Pasal 7 untuk disusun menjadi laporan keuangan.
(2) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disusun secara:
a. bulanan;
b. triwulanan;
c. semesteran; dan d. tahunan.
Pasal 16
(1) Laporan keuangan bulanan sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat (2) huruf a dan laporan keuangan triwulanan sebagaimana dimaksud pada pasal 15 ayat (2) huruf b terdiri atas:
a. LRA PBL; dan b. Neraca PBL.
(2) UAKPA BUN PBL melakukan rekonsiliasi atas laporan keuangan bulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan Kantor Pelayanan Perbendaharaan Negara (KPPN).
(3) Hasil rekonsiliasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dituangkan dalam Berita Acara Rekonsiliasi.
(4) Bentuk dan isi Berita Acara Rekonsiliasi sebagaimana dimaksud pada ayat (3) dibuat sesuai format sebagaimana tercantum dalam Modul yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(5) Setelah melakukan rekonsiliasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2),
UAKPA BUN PBL menyampaikan laporan keuangan bulanan dan
laporan keuangan triwulanan beserta ADK ke UAPPA-E1 BUN PBL.
(6) Laporan keuangan bulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) disampaikan kepada UAPPA-E1 BUN PBL paling lambat tanggal 10 bulan berikutnya.
(7) Laporan keuangan triwulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (5) disampaikan kepada UAPPA-E1 BUN PBL paling lambat:
a. tanggal 12 April tahun berkenaan untuk triwulan I;
b. tanggal 10 Juli tahun berkenaan untuk triwulan II;
c. tanggal 12 Oktober tahun berkenaan untuk triwulan III; dan d. tanggal 20 Januari tahun berikutnya untuk triwulan IV
Pasal 17
(1) Laporan keuangan semesteran sebagaimana dimaksud dalam pasal 15 ayat (2) huruf c dan laporan keuangan tahunan sebagaimana dimaksud pada pasal 15 ayat (2) huruf d terdiri atas:
a. LRA PBL;
b. Neraca PBL; dan c. CaLK PBL.
(2) Laporan keuangan semesteran dan laporan keuangan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disampaikan kepada UAPPA-E1 BUN PBL disertai dengan ADK dan pernyataan tanggung jawab.
(3) Laporan keuangan semesteran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada UAPPA-E1 BUN PBL paling lambat tanggal 10 Juli tahun berkenaan.
(4) Laporan keuangan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) disampaikan kepada UAPPA-E1 BUN PBL paling lambat tanggal 20 Januari tahun berikutnya.
Paragraf Kedua
Penyusunan Laporan Keuangan Tingkat UAPPA-E1 BUN PBL Pasal 18
(1) UAPPA-E1 BUN PBL melakukan penggabungan laporan keuangan seluruh UAKPA BUN PBL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 16 ayat (1) dan 17 ayat (1) untuk menyusun laporan keuangan tingkat UAPPA- E1 BUN PBL.
(2) Laporan keuangan tingkat UAPPA-E1 BUN PBL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. triwulan;
b. semester; dan
c. tahunan.
(3) Laporan keuangan triwulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a terdiri atas:
a. LRA PBL; dan b. Neraca PBL.
(4) Laporan keuangan semesteran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan laporan keuangan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c terdiri atas:
a. LRA PBL;
b. Neraca PBL; dan c. CaLK PBL.
(5) Laporan keuangan triwulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan kepada UAPPA BUN PBL disertai dengan ADK paling lambat:
a. tanggal 20 April tahun berkenaan untuk triwulan I;
b. tanggal 15 Juli tahun berkenaan untuk triwulan II;
c. tanggal 20 Oktober tahun berkenaan untuk triwulan III; dan d. tanggal 29 Januari tahun berikutnya untuk triwulan IV.
(6) Laporan keuangan semesteran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disampaikan kepada UAPPA BUN PBL disertai dengan ADK dan pernyataan tanggung jawab paling lambat tanggal 15 Juli tahun berkenaan.
(7) Laporan keuangan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disampaikan kepada UAPPA BUN PBL disertai dengan ADK dan pernyataan tanggung jawab paling lambat tanggal 29 Januari tahun berkenaan.
Paragraf Ketiga
Penyusunan Laporan Keuangan Tingkat UAPPA BUN PBL Pasal 19
(1) UAPPA BUN PBL melakukan penggabungan laporan keuangan seluruh UAPPA-E1 BUN PBL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 18 ayat (3) dan ayat (4) untuk menyusun laporan keuangan tingkat UAPPA BUN PBL.
(2) Laporan keuangan tingkat UAPPA BUN PBL sebagaimana dimaksud pada ayat (1) terdiri atas:
a. triwulan;
b. semester; dan
c. tahunan.
(3) Laporan keuangan triwulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf a terdiri atas:
a. LRA PBL; dan b. Neraca PBL.
(4) Laporan keuangan semesteran sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b dan laporan keuangan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf c terdiri atas:
a. LRA PBL;
b. Neraca PBL; dan c. CaLK PBL.
(5) Laporan keuangan triwulanan sebagaimana dimaksud pada ayat (3) disampaikan kepada UAP BUN BL disertai dengan ADK paling lambat:
a. tanggal 26 April tahun berkenaan untuk triwulan I;
b. tanggal 20 Juli tahun berkenaan untuk triwulan II;
c. tanggal 29 Oktober tahun berkenaan untuk triwulan III; dan d. tanggal 9 Pebruari tahun berikutnya untuk triwulan IV.
(6) Laporan keuangan semesteran sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disampaikan kepada UAP BUN BL disertai dengan ADK dan pernyataan tanggung jawab paling lambat tanggal 20 Juli tahun berkenaan.
(7) Laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (4) disampaikan kepada UAP BUN BL disertai dengan ADK dan pernyataan tanggung jawab paling lambat tanggal 9 Februari tahun berikutnya.
Paragraf Keempat
Penyusunan Laporan Keuangan Tingkat UAP BUN BL Pasal 20
(1) UAP BUN BL melakukan penggabungan laporan keuangan seluruh UAPPA BUN PBL sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 ayat (4).
(2) Berdasarkan hasil penggabungan laporan keuangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), UAP BUN BL menyusun laporan keuangan semesteran dan laporan keuangan tahunan tingkat UAP BUN BL . (3) Laporan keuangan semesteran dan laporan keuangan tahunan
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) terdiri atas:
a. LRA BL;
b. Neraca BL; dan
c. CaLK BL.
(4) UAP BUN BL melakukan rekonsiliasi atas laporan keuangan semesteran dan laporan keuangan tahunan dengan Direktorat Jenderal Perbendaharaan c.q. Direktorat Akuntansi dan Pelaporan Keuangan selaku UA BUN.
(5) Hasil rekonsiliasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4) dituangkan dalam Berita Acara Rekonsiliasi.
(6) Bentuk dan isi Berita Acara Rekonsiliasi sebagaimana dimaksud pada ayat (5) dibuat sesuai format sebagaimana tercantum dalam Modul yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
(7) Setelah melakukan rekonsiliasi sebagaimana dimaksud pada ayat (4), UAP BUN BL menyampaikan laporan keuangan semesteran dan laporan keuangan tahunan kepada UA BUN.
(8) Laporan keuangan semesteran sebagaimana dimaksud pada ayat (7) disampaikan kepada UA BUN paling lambat tanggal 27 Juli tahun berkenaan.
(9) Laporan Keuangan tahunan sebagaimana dimaksud pada ayat (7) disampaikan kepada UA BUN paling lambat tanggal 25 Februari tahun berikutnya.
Paragraf Kelima
Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain yang Tidak Mendapat Alokasi Anggaran Belanja Lain-Lain
Pada Tahun Berikutnya Pasal 21
(1) Entitas Akuntansi dan Entitas Pelaporan yang tidak mendapat alokasi anggaran Belanja lain-Lain pada tahun berikutnya harus membuat laporan keuangan penutup dan laporan keuangan likuidasi.
(2) Tata cara penyusunan dan penyajian laporan keuangan bagi Entitas Akuntansi dan Entitas Pelaporan pengguna Belanja Lain-Lain tahun anggaran berikutnya dilaksanakan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan yang mengatur mengenai pelaksanaan likuidasi entitas akuntansi dan entitas pelaporan pada Kementerian Negara/Lembaga.
BAB VI
PERNYATAAN TANGGUNG JAWAB DAN REVIU Bagian Kesatu
Pernyataan Tanggung Jawab Pasal 22
(1) UAKPA BUN PBS dan UAKPA BUN PBL selaku Entitas Akuntansi
membuat Pernyataan Tanggung Jawab (Statement of Responsibility).
(2) UAPPA-E1 BUN PBS, UAPPA-E1 BUN PBL, UAPPA BUN PBS, UAPPA BUN PBL dan UAP BUN
BS, danUAP BUN
BLselaku Entitas Pelaporan membuat Pernyataan Tanggung Jawab (Statement of Responsibility).
(3) Pernyataan Tanggung Jawab (Statement of Responsibility) sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2) memuat pernyataan bahwa pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) telah diselenggarakan berdasarkan sistem pengendalian internal yang memadai dan akuntansi keuangan telah diselenggarakan sesuai dengan Standar Akuntansi Pemerintahan.
(4) Pernyataan Tanggung Jawab (Statement of Responsibility) dapat diberikan paragraf penjelasan atas suatu kejadian yang belum termuat dalam laporan keuangan.
(5) Pernyataan Tanggung Jawab (Statement of Responsibility) dilampirkan pada saat penyampaian laporan keuangan semesteran dan tahunan.
(6) Bentuk dan isi Pernyataan Tanggung Jawab (Statement of Responsibility) dibuat sesuai format sebagaimana tercantum dalam Modul yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Bagian Kedua
Pernyataan Telah Direviu Pasal 23
(1) Sebelum Laporan Keuangan Belanja Subdisi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 ayat (1), Pasal 11 ayat (4), Pasal 12 ayat (4) dan Laporan Keuangan Belanja Lain-Lain sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1), Pasal 18 ayat (4), Pasal 19 ayat (4) disampaikan secara berjenjang kepada unit akuntansi dan unit pelaporan di atasnya, laporan keuangan tersebut harus direviu terlebih dahulu oleh Aparat Pengawasan Internal Pemerintah pada Kementerian Keuangan.
(2) Hasil reviu sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dituangkan dalam laporan hasil reviu berupa Pernyataan Telah Direviu sebagai bagian dari laporan keuangan.
(3) Pernyataan Telah Direviu sebagaimana dimaksud pada ayat (2) ditandatangani oleh Aparat Pengawasan Internal Pemerintah pada Kementerian Keuangan.
(4) Aparat Pengawasan Internal Pemerintah pada Kementerian Keuangan dapat meminta bantuan kepada Aparat Pengawasan Internal Pemerintah di Kementerian Negara/Lembaga dan/atau aparat pengawas internal pada Pihak Lain untuk melakukan reviu dan menandatangani Pernyataan Telah Direviu atas laporan keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain pada Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain.
(5) Bentuk dan isi Pernyataan Telah Direviu dibuat sesuai format
sebagaimana tercantum dalam Modul yang merupakan bagian yang
tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
BAB VII
KETENTUAN PENUTUP Pasal 24
SA BS dan SA BL dilaksanakan sesuai dengan Modul Sistem Akuntansi Belanja Subsidi dan Sistem Akuntansi Belanja Lain-Lain sebagaimana tercantum dalam Lampiran yang merupakan bagian tidak terpisahkan dari Peraturan Menteri ini.
Pasal 25
Pada saat Peraturan Menteri ini mulai berlaku, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 196/PMK.05/2008 tentang Tata Cara Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain pada Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan, dicabut dan dinyatakan tidak berlaku.
Pasal 26
Peraturan Menteri ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan.
Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Menteri ini dengan penempatannya dalam Berita Negara Republik Indonesia.
Ditetapkan di Jakarta
pada tanggal 27 Desember 2012 MENTERI KEUANGAN
REPUBLIK INDONESIA,
AGUS D.W. MARTOWARDOJO
Diundangkan di Jakarta
pada tanggal 27 Desember 2012
MENTERI HUKUM DAN HAK ASASI MANUSIA REPUBLIK INDONESIA,
AMIR SYAMSUDIN
MODUL
SISTEM AKUNTANSI BELANJA SUBSIDI DAN BELANJA LAIN-LAIN
LAMPIRAN
PERATURAN MENTERI KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 241/PMK.05/2012
TENTANG
SISTEM AKUNTANSI BELANJA SUBSIDI DAN BELANJA LAIN-LAIN
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang
Dalam rangka mewujudkan tata kelola yang baik (good governance), pemerintah terus melakukan usaha-usaha untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan keuangan negara. Salah satu upaya konkrit untuk mewujudkan transparansi dan akuntabilitas pengelolaan Keuangan Negara adalah penyampaian laporan pertanggungjawaban keuangan pemerintah yang memenuhi prinsip tepat waktu dan disusun dengan mengikuti standar akuntansi pemerintahan.
Hal tersebut sesuai dengan Undang-Undang Keuangan Negara Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang mengatur bahwa bentuk dan isi laporan pertanggungjawaban pelaksanaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara disusun dan disajikan sesuai dengan standar akuntansi pemerintahan.
Pertanggungjawaban penggunaan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara atas transaksi Belanja Subsidi dan transaksi Belanja Lain-lain pada Direktorat Jenderal Anggaran selaku unit Eselon I yang melaksanakan kewenangan Menteri Keuangan dan selaku Pengguna Anggaran/Barang Belanja Subsidi dan Pengguna Anggaran/Barang Belanja Lain-Lain serta Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lainnya selaku Kuasa Pengguna Anggaran/Barang Belanja Subsidi dan Kuasa Pengguna Anggaran/Barang Belanja Lain-lain, Direktorat Jenderal Anggaran dan Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lainnya harus menyelenggarakan sistem akuntansi dan pelaporan keuangan atas transaksi keuangan yang meliputi: transaksi pendapatan, belanja, aset, utang, dan ekuitas dana yang berada dalam tanggung jawabnya.
Kode Bagian Anggaran untuk Belanja Subsidi adalah 999.07 (Bendahara Umum Negara-Belanja Subsidi) dan untuk Belanja Lain-lain adalah 999.08 (Bendahara Umum Negara-Belanja Lain-lain).
B. Ruang Lingkup
Ruang lingkup dalam Modul Sistem Akuntansi Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain mencakup pengelolaan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain, Pemisahan Bagian Anggaran antara Belanja Subsidi dan Bagian Anggaran Belanja Lain-Lain, Unit akuntansi dan Unit Pelaporan, Penatausahaan Barang Milik Negara yang berasal dari Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain yang dilaksanakan oleh Kementerian Negara/Lembaga/Pihak lain dan Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan.
C. Maksud
Modul ini dimaksudkan sebagai petunjuk operasional bagi petugas pelaksana akuntansi Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain untuk memahami dan mengimplementasikan proses akuntansi Belanja Subsidi dan akuntansi Belanja Lain-Lain secara tepat waktu, transparan, dan akurat sehingga hasilnya dapat dipertanggungjawabkan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
D. Tujuan
Adapun tujuan dari Modul Sistem Akuntansi Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain adalah memberikan aturan mengenai perlakukan akuntansi Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain yang meliputi penetapan saat pengakuan, pengukuran, penyajian dan pelaporan belanja subsidi dan belanja lain-lain.
E. Pengertian
1. Anggaran merupakan pedoman tindakan yang akan dilaksanakan pemerintah meliputi rencana pendapatan, belanja, transfer dan pembiayaan yang diukur dalam satuan rupiah, yang disusun menurut klasifikasi tertentu secara sistematis untuk satu periode.
2. Anggaran dan Pendapatan Belanja Negara yang selanjutnya disingkat APBN adalah rencana keuangan tahunan pemerintahan negara yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat.
3. Belanja adalah semua pengeluaran dari Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang mengurangi ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran
bersangkutan yang tidak akan diperoleh pembayarannya kembali oleh pemerintah.
4. Pendapatan adalah semua penerimaan Rekening Kas Umum Negara/Daerah yang menambah ekuitas dana lancar dalam periode tahun anggaran yang bersangkutan yang menjadi hak pemerintah dan tidak perlu dibayar kembali oleh pemerintah.
5. Kementerian Negara/Lembaga yang selanjutnya disingkat K/L adalah Kementerian Negara/Lembaga Pemerintah Non Kementerian Negara/lembaga Negara.
6. Rekonsiliasi adalah proses pencocokan data transaksi keuangan yang diproses dengan beberapa sistem/sub sistem yang berbeda berdasarkan dokumen sumber yang sama.
7. Berita Acara Serah Terima yang selanjutnya disingkat BAST adalah dokumen serah terima barang/jasa sebagai bukti penyerahan dan peralihan hak/kepemilikan atas barang/jasa.
8. Kantor Pelayanan Perbendaharan Negara yang selanjutnya disingkat KPPN adalah instansi vertikal Direktorat Jenderal Perbendaharaan yang memperoleh kewenangan selaku Kuasa Bendaharan Umum Negara.
F. Sistematika
Untuk memberikan kemudahan kepada pemangku kepentingan dalam memahami, maka modul ini disusun dengan sistematika sebagai berikut:
BAB I Pendahuluan
Meliputi Latar Belakang, Ruang Lingkup, Maksud, Tujuan, Pengertian dan Sistematika.
BAB II Akuntansi Belanja Subsidi dan Belanja Lain-lain
Meliputi Definisi, Perlakuan Akuntansi, Dokumen Sumber, Entitas Akuntansi dan Entitas Pelaporan untuk Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain.
BAB III Bagan Akun Standar
Meliputi Bagan Akun Standar, Jurnal Standar Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain, Simulasi dan Laporan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain.
BAB IV Mekanisme Pelaksanaan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain BAB V Sistem dan Prosedur Rekonsiliasi
BAB VI Pelaporan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain
Meliputi Periode Pelaporan, Komponen laporan yang terdiri dari LRA, Neraca dan CaLK.
BAB VII Ilustrasi Transaksi dan Pencatatan
Lampiran Contoh format laporan yang terdiri dari LRA, Neraca, Surat Pernyataan Telah Direviu, Surat Pernyataan Tanggung Jawab, Berita Acara Serah Terima Barang, Berita Acara Rekonsiliasi.
BAB II
AKUNTANSI BELANJA SUBSIDI DAN BELANJA LAIN-LAIN A. Definisi
Subsidi adalah alokasi anggaran yang diberikan kepada perusahaan/lembaga yang memproduksi, menjual, mengekspor, atau mengimpor barang dan jasa untuk memenuhi hajat hidup orang banyak sedemikian rupa sehingga harga jualnya dapat dijangkau masyarakat. Belanja ini antara lain digunakan untuk penyaluran subsidi kepada masyarakat melalui BUMN/BUMD dan perusahaan swasta.
Dengan demikian, Belanja Subsidi adalah Pengeluaran Pemerintah yang diberikan kepada perusahaan/lembaga tertentu yang bertujuan untuk membantu
biaya produksi agar harga jual produk/jasa yang dihasilkan dapat dijangkau oleh masyarakat.
Pada Pemerintah Pusat, pengeluaran anggaran untuk belanja subsidi dikelola oleh bagian anggaran tersendiri, yaitu BA 999.07 (Bagian Anggaran Belanja Subsidi), dari sebelumnya BA 999.06 (Bagian Anggaran Belanja Subsidi dan Belanja Lain- Lain), yang merupakan bagian dari Bagian Anggaran Pembiayaan dan Perhitungan.
Pengeluaran untuk belanja subsidi pada Pemerintah Pusat digunakan juga untuk tujuan yang sama bagi pemerintah daerah. Mulai tahun anggaran 2010 Bagian Anggaran Belanja Subsidi dan Bagian Anggaran Belanja Lain-Lain dipisah guna memberikan pengelolaan dan pertanggungjawaban laporan keuangan yang lebih baik. Bagian Anggaran untuk Belanja Subsidi adalah BA 999.07 sedangkan Bagian Anggaran untuk Belanja Lain-Lain adalah BA 999.08.
Belanja Lain-Lain adalah pengeluaran anggaran untuk kegiatan yang sifatnya tidak biasa dan tidak diharapkan berulang seperti penanggulangan bencana alam, bencana sosial, dan pengeluaran tidak terduga lainnya yang sangat diperlukan dalam rangka penyelenggaraan kewenangan Pemerintah Pusat/Daerah.
B. Kebijakan Akuntansi
Basis akuntansi yang digunakan dalam laporan keuangan Bagian Anggaran Belanja Subsidi dan Bagian Anggaran Belanja Lain-Lain adalah cash toward accrual.
Basis kas digunakan untuk pengakuan belanja dan pendapatan dan pembiayaan dalam laporan realisasi anggararan (LRA), sedangkan basis akrual untuk pengakuan aset, kewajiban dan ekuitas dalam neraca.
Basis kas untuk laporan realisasi anggaran berarti bahwa pendapatan, belanja dan pembiayaan diakui pada saat kas diterima atau dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara, sedangkan berdasar basis akrual berarti bahwa aset, kewajiban, dan ekuitas dana diakui dan dicatat pada saat terjadinya transaksi atau saat kejadian atau kondisi lingkungan berpengaruh pada keuangan pemerintah tanpa memperhatikan saat kas atau setara kas diterima atau dikeluarkan dari Rekening Kas Umum Negara.
C. Penyajian dan Pengungkapan
Direktorat Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan selaku Pengguna Anggaran/Barang Belanja Subsidi dan Pengguna Anggaran/Barang Belanja Lain-
Lain serta Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lainnya selaku Kuasa Pengguna Anggaran (Penerima) Belanja Subsidi dan Kuasa Pengguna Anggaran (Penerima) Belanja Lain-Lain harus menyelenggarakan akuntansi atas transaksi keuangan dan barang yang berada dalam tanggung jawabnya.
Direktorat Jenderal Anggaran yang juga selaku Unit Akuntansi Pembantu Bendahara Umum Negara atas Belanja Subsidi (UAP BUN-BS) dan Unit Akuntansi Pembantu Bendahara Umum Negara atas Belanja Lain-Lain (UAP BUN-BL) menghimpun Laporan Keuangan dan Laporan Barang dari seluruh Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lainnya Penerima Belanja Subsidi dan Penerima Belanja Lain-lain untuk menyusun Laporan Keuangan Belanja Subsidi dan Laporan Keuangan Belanja Lain-Lain sebagai bentuk pertanggungjawaban dalam pengelolaan anggaran dan barang. Adapun jenis laporan yang disajikan dan diungkapkan dalam laporan keuangan sebagai berikut:
1. Laporan Keuangan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain masing-masing terdiri atas: Laporan Realisasi Anggaran (LRA), Neraca, dan Catatan atas Laporan Keuangan (CaLK) disertai Pernyataan Telah Direviu yang ditandatangani oleh Aparat Pengawasan Intern, Pernyataan Tanggung Jawab yang telah ditandatangani oleh Direktur Jenderal Anggaran selaku Pengguna Anggaran Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain serta oleh Menteri/Pimpinan Lembaga selaku Kuasa Pengguna (Penerima) Belanja Subsidi dan Kuasa Pengguna (Penerima) Belanja Lain-Lain.
2. Laporan Barang Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain masing-masing terdiri atas: Laporan Persediaan, Laporan Barang Milik Negara, Laporan Aset Tidak Berwujud, Laporan Kontruksi dalam Pengerjaan, dan Catatan atas Laporan Barang Milik Negara (CaLBMN).
D. Dokumen Sumber
Dokumen Sumber adalah dokumen yang berhubungan dengan transaksi keuangan yang digunakan sebagai sumber atau bukti untuk menghasilkan data akuntansi. Dokumen sumber yang digunakan dalam proses penyusunan laporan keuangan Belanja Subsidi dan laporan keuangan Belanja Lain-Lain meliputi:
1. Daftar Isian Pelaksanaan Anggaran (DIPA);
2. Revisi DIPA;
3. Surat Perintah Membayar (SPM); dan 4. Surat Perintah Pencairan Dana (SP2D).
Selain dokumen sumber di atas Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain menyusun Laporan Keuangan Belanja Subsidi dan Laporan Keuangan Belanja Lain- Lain dengan dokumen sumber yang terdiri atas:
1. Memo Penyesuaian;
2. Bukti Penerimaan Negara;
3. Surat Setoran Pengembalian Belanja (SSPB);
4. Berita Serah Terima (BAST);
5. Surat Perintah Pembukuan/Pengesahan (SP3) dan/atau Notice of Disbursement (NoD).
6. Surat Perintah Pengesahan Hibah Langsung (SP2HL) dan Surat Pengesahan Hibah Langsung (SPHL); dan/atau
7. Memo Pengesahan Hibah Langsung Barang/Jasa/ Surat berharga (MPHLBJS).
E. Kerangka Umum Sistem Akuntansi Instansi
1. Unit Akuntansi dan Penanggung jawab Unit Akuntansi
Direktorat Jenderal Anggaran dan Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain perlu menetapkan pembentukan dan penunjukan penanggungjawab unit akuntansi keuangan dan unit akuntansi barang serta menetapkan hubungan kerja antara unit organisasi tersebut. Berikut diilustrasikan hubungan antara unit akuntansi yang ada pada organisasi.
Direktorat Jenderal Anggaran dan Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain:
a) Tingkat Satuan Kerja.
Kepala Kantor SAI
Kasubag Keuangan/
Pejabat yang menangani keuangan
Kasubag Tata Usaha/
Pejabat yang menangani barang
SAI
Sistem Akuntansi Keuangan
SIMAK BMN
b) Tingkat Kementerian Negara/Lembaga/Pihak Lain.
c) Tingkat Pembantu BUN–Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain.
2. Tugas dan Fungsi Unit Akuntansi Keuangan dan Unit Akuntansi Barang a. Unit Akuntansi Kuasa Pengguna Anggaran – Bendahara Umum Negara
Pengguna Belanja Subsidi (UAKPA-BUN PBS) dan Unit Akuntansi Kuasa Direktorat Jenderal
Anggaran selaku UAPBUN BS/
Menteri/ Pimpinan Lembaga UAPPA- BUN PBS/
Pejabat Eselon 1 yang membidangi
kesekretariatan UAPPA-E1 BUN-PBS/
SATKER SATKER
Menteri/ Pimpinan Lembaga UAPPA BUN-PBS/
Pejabat Eselon 1 yang membidangi kesekretariatan UAPPA-
E1 BUN-PBS/
SATKER SATKER
Pengguna Anggaran – Bendahara Umum Negara Pengguna Belanja Lain-Lain (UAKPA-BUN PBL)
Tugas pokok penanggung jawab UAKPA-BUN Pengguna Belanja Subsidi dan UAKPA-BUN Belanja Lain-Lain adalah menyelenggarakan akuntansi keuangan dan barang di tingkat Satuan Kerja Pengguna Belanja Subsidi dan Pengguna Belanja Lain-Lain, dengan fungsinya sebagai berikut:
1) menyelenggarakan akuntansi keuangan dan barang;
2) menyusun dan menyampaikan laporan keuangan dan laporan barang; dan 3) memantau pelaksanaan akuntansi keuangan dan barang.
Penanggung jawab UAKPA-BUN PBS dan UAKPA-BUN PBL adalah Kepala Kantor/ Kepala Sub Bagian/ Pejabat yang ditunjuk menangani keuangan/barang.
Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi tersebut, Penanggung jawab UAKPA- BUN Pengguna Belanja Subsidi dan UAKPA-BUN Pengguna Belanja Lain-Lain melaksanakan kegiatan dengan dibantu Petugas Akuntansi Keuangan dan Petugas Akuntansi Barang.
Pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan di tingkat UAKPA-BUN PBS dan UAKPA-BUN PBL mengacu kepada Peraturan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Nomor: 65/PB/2010 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 120/PMK.06/2007 tentang Penatausahaan Barang Milik Negara.
b. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran tingkat Eselon I – Bendahara Umum Negara Pengguna Belanja Subsidi (UAPPA-E1-BUN PBS) dan Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran tingkat Eselon I – Bendahara Umum Negara Pengguna Belanja Lain-Lain (UAPPA-E1-BUN PBL).
Tugas pokok Penanggung jawab UAPPA-E1-BUN Belanja Subsidi dan UAPPA- E1-BUN Belanja Lain-Lain adalah menyelenggarakan akuntansi keuangan dan barang di tingkat Eselon I Pengguna Belanja Subsidi dan Eselon I Pengguna Belanja Lain-Lain, dengan fungsinya sebagai berikut:
1) menyelenggarakan akuntansi keuangan dan barang;
2) menyusun dan menyampaikan laporan keuangan dan laporan barang; dan 3) memantau pelaksanaan akuntansi keuangan dan barang.
Penanggung jawab UAPPA-E1-BUN PBS dan UAPPA-E1-BUN PBL adalah Direktur Jenderal/Kepala Badan/Pejabat yang ditunjuk menangani keuangan di tingkat Eselon I.
Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi tersebut, Penanggung jawab UAPPA-E1- BUN PBS dan UAPPA-E1-BUN PBL melaksanakan kegiatan dengan dibantu Sekretaris Direktorat Jenderal/ Sekretaris Badan, Kepala Bagian dan/ Kepala Sub Bagian yang menangani bidang keuangan/barang, Petugas Akuntansi Keuangan dan Petugas Akuntansi Barang.
Pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan di tingkat UAPPA-E1-BUN PBS dan UAPPA-E1-BUN PBL mengacu kepada Peraturan Direktorat Jenderal Perbendaharaan No. 65/PB/2010 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga dan Peraturan Menteri Keuangan No.
120/PMK.06/2007 tentang Penantausahaan Barang Milik Negara.
c. Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran – Bendahara Umum Negara Pengguna Belanja Subsidi dan Unit Akuntansi Pembantu Pengguna Anggaran–
Bendahara Umum Negara Pengguna Belanja Lain-Lain (UAPPA BUN PBS dan UAPPA BUN PBL)
Tugas pokok Penanggung jawab UAPPA BUN PBS dan UAPPA BUN PBL adalah menyelenggarakan akuntansi keuangan dan barang di tingkat Kementerian Negara/Lembaga Penerima Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain, dengan fungsinya sebagai berikut:
1) menyelenggarakan akuntansi keuangan dan barang;
2) menyusun dan menyampaikan laporan keuangan dan laporan barang; dan 3) memantau pelaksanaan akuntansi keuangan dan barang.
Penanggung jawab UAPPA-BUN PBS dan UAPPA-BUN PBL adalah Menteri Teknis/Pimpinan Lembaga.
Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi tersebut, Penanggung jawab UAPPA-BUN PBS dan UAPPA-BUN PBL melaksanakan kegiatan dengan dibantu Pejabat Eselon I/ Kepala Biro yang membidangi keuangan/barang, Kepala Bagian/
Kepala Sub Bagian yang membidangi keuangan/barang, Petugas Akuntansi Keuangan dan Petugas Akuntansi Barang.
Pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan di tingkat UAPPA-BUN PBS dan UAPPA-BUN PBL mengacu kepada Peraturan Direktorat Jenderal
Perbendaharaan Nomor. 65/PB/2010 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga dan Peraturan Menteri Keuangan No.
120/PMK.06/2007 tentang Penatausahaan Barang Milik Negara.
d. Unit Akuntansi Pembantu Bendahara Umum Negara – Belanja Subsidi dan Unit Akuntansi Pembantu Bendahara Umum Negara - Belanja Lain-Lain (UAP BUN-BS dan UAP BUN-BL)
Tugas pokok Direktorat Jenderal Anggaran selaku Pengguna Anggaran/Barang Belanja Belanja Subsidi dan Pengguna Anggaran/Barang Belanja Lain-Lain adalah menyelenggarakan akuntansi keuangan dan barang di tingkat UAPBUN-BS dan UAPBUN-BL, dengan fungsinya sebagai berikut:
1) menyelenggarakan akuntansi keuangan dan barang;
2) menyusun dan menyampaikan laporan keuangan dan laporan barang; dan 3) memantau pelaksanaan akuntansi keuangan dan barang.
Penanggung jawab UAPBUN-BS dan UAPBUN-BL adalah Direktur Jenderal Anggaran.
Dalam pelaksanaan tugas dan fungsi tersebut, Penanggung jawab UAPBUN-
BS dan UAPBUN-BL melaksanakan kegiatan dengan dibantu Pejabat Eselon I, Kepala Bagian/Kepala Sub Bagian yang membidangi
keuangan/barang, Petugas Akuntansi Keuangan dan Petugas Akuntansi Barang.
Pelaksanaan kegiatan yang dilaksanakan di tingkat UAPBUN-BS dan UAPBUN-BL mengacu kepada Peraturan Menteri Keuangan Nomor:
233/PMK.05/2011 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor: 171/PMK.05/2011 tentang Sistem Akuntansi dan Pelaporan Keuangan Pemerintah Pusat, Peraturan Direktorat Jenderal Perbendaharaan Nomor: 65/PB/2010 tentang Pedoman Penyusunan Laporan Keuangan Kementerian Negara/Lembaga, dan Peraturan Menteri Keuangan Nomor:
120/PMK.06/2007 tentang Penantausahaan Barang Milik Negara.
BAB III
BAGAN AKUN STANDAR
A. Bagan Akun Standar
Bagan Akun Standar adalah daftar perkiraan buku besar yang ditetapkan dan disusun secara sistematis untuk memudahkan dalam perencanaan, pelaksanaan anggaran, serta pertanggungjawaban dan pelaporan keuangan pemerintah pusat.
Pembentukan Bagan Akun Standar bertujuan untuk:
1) Memastikan rencana keuangan (anggaran) realisasi dan pelaporan keuangan dinyatakan dalam istilah yang sama;
2) Meningkatkan kualitas informasi keuangan; dan 3) Memudahkan dalam pengawasan keuangan.
a) Akun DIPA untuk Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain
Kode Akun
Uraian Belanja Subsidi 55111 Allotment Belanja Subsidi Lembaga Keuangan 55121 Allotment Belanja Subsidi BBM
55131 Allotment Belanja Subsidi Non BBM-Harga/Biaya 55132 Allotment Belanja Subsidi Non BBM–Pajak
55133 Allotment Belanja Subsidi Non BBM Lainnya 55134 Allotment Belanja Subsidi Non BBM – Harga Biaya II 55141 Allotment Belanja Subsidi dalam Rangka PSO 55211 Allotment Belanja Subsidi Lembaga Keuangan 55212 Allotment Belanja Subsidi Bunga Kredit
55214 Allotment Belanja Subsidi Kredit Program II 55221 Allotment Belanja Subsidi Lembaga Non Keuangan Kode Akun
Uraian Belanja Lain-Lain 58111 Allotment Belanja Lain-Lain Cadangan I
58112 Allotment Belanja Lain-Lain Cadangan II
58121 Allotment Belanja Lain-Lain Lembaga Non Kementerian 58131 Allotment Belanja Lain-Lain Jasa Pelayanan BUN 58141 Allotment Belanja Lain-Lain BUN
58151 Allotment Belanja Lain-Lain Tanggap Darurat 58191 Allotment Belanja Lain-Lain Lainnya
b) Akun Belanja untuk Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain
B. Jurn al
Standar
1. Allotment/DIPA Belanja Subsidi
Allotment Belanja Subsidi Lembaga Keuangan Perusahaan Negara/Swasta No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
1. Piutang dari KPPN xxx
Allotment Belanja Subsidi
Lembaga Keuangan
Perusahaan Negara/Swasta
xxx
Allotment Belanja Subsidi BBM………….
No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
2. Piutang dari KPPN xxx
Allotment Belanja Subsidi BBM………..
xxx Allotment Belanja Subsidi Non BBM Harga/Biaya
No. Nama Perkiraan Debet Kredit
Kode Akun
Uraian Belanja Subsidi
55111 Belanja Subsidi Lembaga Keuangan Perusahaan Negara 55121 Belanja Subsidi BBM
55131 Belanja Subsidi Non BBM-Harga Biaya 55132 Belanja Subsidi Non BBM–Pajak 55133 Belanja Subsidi Non BBM Lainnya 55134 Belanja Subsidi Non BBM – Harga Biaya II 55141 Belanja Subsidi dalam Rangka PSO
55211 Belanja Subsidi Lembaga Keuangan Perusahaan Swasta 55212 Belanja Subsidi Bunga Kredit
55221 Belanja Subsidi Lembaga Non Keuangan 55214 Belanja Subsidi Kredit Program II
55221 Belanja Subsidi Lembaga Non Keuangan Kode Akun
Uraian Belanja Lain-Lain
58111 Belanja Lain-Lain Cadangan I 58112 Belanja Lain-Lain Cadangan II
58121 Belanja Lain-Lain Lembaga Non Kementerian 58131 Belanja Lain-Lain Jasa Pelayanan BUN 58141 Belanja Lain-Lain BUN
58151 Belanja Lain-Lain Tanggap Darurat 58191 Belanja Lain-Lain Lainnya
Perkiraan
3. Piutang dari KPPN xxx
Allotment Belanja Subsidi Non BBM Harga/Biaya……
xxx
Allotment Belanja Subsidi Non BBM Pajak No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
4. Piutang dari KPPN xxx
Allotment Belanja Subsidi
Subsidi Non BBM Pajak…… xxx
Allotment Belanja Subsidi Non BBM Lainnya No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
5. Piutang dari KPPN xxx
Allotment Belanja Subsidi Non BBM Lainnya…………
xxx
Allotment Belanja Subsidi Dalam Rangka PSO No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
6. Piutang dari KPPN xxx
Allotment Belanja Subsidi Dalam Rangka PSO………….
xxx
Allotment Belanja Subsidi Bunga Kredit No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
7. Piutang dari KPPN xxx
Allotment Belanja Bunga Kredit ……….
xxx
Allotment Belanja Subsidi Kredit Program No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
8. Piutang dari KPPN xxx
Allotment Belanja Subsidi Kredit Program………
xxx
Allotment Belanja Subsidi Non Lembaga Keuangan No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
9. Piutang dari KPPN xxx
Allotment Belanja Subsidi Non Lembaga Keuangan …..
xxx
2. Allotment/DIPA Belanja Lain-Lain Allotment Belanja Lain-Lain Cadangan….
No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
1. Piutang dari KPPN xxx
Allotment Belanja Lain-Lain Cadangan ……
xxx
Allotment Belanja Lain-Lain Lembaga Non Keuangan No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
2. Piutang dari KPPN xxx
Allotment Belanja Lain-Lain Lembaga Non Keuangan…..
xxx
Allotment Belanja Lain-Lain Jasa Pelayanan BUN No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
3. Piutang dari KPPN xxx
Allotment Belanja Lain-Lain Jasa Pelayanan BUN………..
xxx
Allotment Belanja Lain-Lain BUN No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
4. Piutang dari KPPN xxx
Allotment Belanja Lain-Lain BUN……..
xxx
Allotment Belanja Lain-Lain Tanggap Darurat No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
5. Piutang dari KPPN xxx
Allotment Lain-Lain Tanggap Darurat………
xxx
Allotment Belanja Lain-Lain Lainnya No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
6. Piutang dari KPPN xxx
Allotment Belanja Lain-Lain Lainnya……..
xxx
3. Jurnal Belanja Subsidi
Belanja Subsidi Lembaga Keuangan………….
No. Nama Perkiraan Debet Kredit
Perkiraan
1. Belanja Subsidi Lembaga Keuangan…..
xxx
Piutang dari KPPN xxx
Belanja Subsidi BBM No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
2. Belanja Subsidi BBM xxx
Piutang dari KPPN xxx
Belanja Subsidi Non BBM–Harga/Biaya No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
3. Belanja Subsidi Non BBM–
Harga/Biaya
xxx
Piutang dari KPPN xxx
Belanja Subsidi Non BBM-Pajak No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
4. Belanja Subsidi Non BBM-Pajak xxx
Piutang dari KPPN xxx
Belanja Subsidi Non BBM Lainnya No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
5. Belanja Subsidi Non BBM Lainnya xxx
Piutang dari KPPN xxx
Belanja Subsidi Dalam Rangka PSO No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
6. Belanja Dalam Rangka PSO xxx
Piutang dari KPPN xxx
Belanja Subsidi Bunga Kredit No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
7. Belanja Bunga Kredit xxx
Piutang dari KPPN xxx
Belanja Subsidi Kredit Program II No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
8. Belanja Kredit Program II xxx
Piutang dari KPPN xxx
Belanja Subsidi Non Lembaga Keuangan
No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
9. Belanja Subsidi Non Lembaga Keuangan
xxx
Piutang dari KPPN xxx
4. Jurnal Belanja Lain-Lain
Belanja Lain-Lain Cadangan ………
No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
1. Belanja Lain-Lain Cadangan ……… xxx
Piutang dari KPPN xxx
Belanja Lain-Lain Lembaga Non Kementerian No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
2. Belanja Lain-Lain Lembaga Non Kementerian………….
xxx
Piutang dari KPPN xxx
Belanja Lain-Lain Jasa Pelayanan BUN No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
3. Belanja Lain-Lain Jasa Pelayanan BUN……….
xxx
Piutang dari KPPN xxx
Belanja Lain-Lain BUN No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
4. Belanja Lain-Lain BUN………. xxx
Piutang dari KPPN xxx
Belanja Lain-Lain Tanggap Darurat No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
5. Belanja Lain-Lain Tanggap Darurat………
xxx
Piutang dari KPPN xxx
Belanja Lain-Lain Lainnya No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
6. Belanja Lain-Lain Lainnya
………
xxx
Piutang dari KPPN xxx
5. Jurnal Escrow Account No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
1. Dana yang harus disediakan untuk pembayaran utang
xxx Utang Kepada Pihak Ketiga/utang subsidi
xxx
No.
Perkiraan
Nama Perkiraan Debet Kredit
2. Kas yang dibatasi penggunaannya xxx Diinvestasikan dalam aset lainnya
xxx
BAB IV
SISTEM DAN PROSEDUR SISTEM AKUNTANSI BELANJA SUBSIDI DAN BELANJA LAIN-LAIN
A. Sistem dan Prosedur Perencanaan Belanja Subsidi dan Belanja Lain-Lain Dalam rangka penyusunan rancangan APBN, Menteri/Pimpinan lembaga selaku pengguna anggaran/pengguna barang Belanja Subsidi dan pengguna anggaran/pengguna barang Belanja Lain-Lain menyusun rencana kerja dan anggaran Kementerian Negara/Lembaga tahun berikutnya, kemudian menyusun rencana kerja dan anggaran berdasarkan prestasi kerja yang akan dicapai. Rencana kerja dan anggaran tersebut disertai dengan prakiraan belanja untuk tahun berikutnya setelah tahun anggaran yang sedang disusun dan disampaikan kepada Dewan Perwakilan Rakyat untuk dibahas dalam pembicaraan pendahuluan rancangan APBN. Hasil pembahasan rencana kerja dan anggaran disampaikan kepada Menteri Keuangan sebagai bahan penyusunan rancangan Undang-Undang tentang APBN tahun berikutnya. APBN yang disetujui oleh Dewan Perwakilan Rakyat terinci sampai dengan unit organisasi, fungsi, program, kegiatan, dan jenis belanja, apabila Dewan Perwakilan Rakyat tidak menyetujui Rancangan Undang-undang maka Pemerintah Pusat dapat melakukan