EDITORIAL TEAM
PROCEEDING INTERNATIONAL CONFERENCE ON ISLAMIC STUDIES FAKULTAS USHULUDDIN ADAB DAN DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI PALANGKA RAYA 2021
Editor-in-Chief
Cecep Zakarias El Bilad, S.IP., M.Ud.
Managing Editor
Muhammad Husni, M.Hum
Associate Editors Heri Setiawan, M.Kom.
Munirah, M.Hum.
Selvia Santi, M.A.
International Editorial Boards (Invited Speakers of The 1st F-ICIS 2021)
Faried Saeonong, Ph.D, University of New South Wales (UNSW) Canberra, Australia Dr. Fouad Larhzizer, Hassan First University Settat- Morocco
Dr. Sahiron Syamsuddin , UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Indonesia Prof. Dr. Mujiburrahman, UIN Antasari Banjarmasin, Indonesia Dr. Desi Erawati, IAIN Palangka Raya, Indonesia
IT Support
Muhammad Nuruddin Utomo, S.Kom.
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI……….... ii ACCULTURATION OF BATUMBANG APAM TRADITION VALUES IN HULU SUNGAI SELATAN……… 1
ISLAMIC HARMONIZATION MODEL IN SOCIAL LIFE GENERATION Z IN SOUTH KALIMANTAN………. 7 PEMAKNAAN HADIS WABAH PENYAKIT MASA PANDEMI COVID-19 MELALUI ANALISIS WACANA DAN KUASA PERSPEKTIF FOUCAULT…... 20 PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP INDIVIDU BERKEBUTUHAN KHUSUS………. 30
DESENTRALISASI PERAN PEREMPUAN DALAM TRADISI
“PENGAGUNGAN” TERHADAP ROH LELUHUR: SEBUAH POTRET DI DUSUN GAMPINGAN, WONOKERTO, MALANG………. 44 UPAYA ORANGTUA DALAM MENGENALKAN AURAT BAGI ANAK USIA DINI………... 54 PERSEPSI MAHASANTRI MA‟HAD AL JAMI‟AH IAIN PALANGKA RAYA TERHADAP MODERASI BERAGAMA………... 67 ANALYSIS OF RELIGIOUS-BASED CHARACTER EDUCATION IN HIGHER EDUCATION IN INDONESIA………... 76
1
ACCULTURATION OF BATUMBANG APAM TRADITION VALUES IN HULU SUNGAI SELATAN
Helda Yuliani1*, Arief Rahman2
1Politeknik Negeri Banjarmasin, Banjarmasin, Indonesia
2 Akademi Pariwisata Nasional Banjarmasin, Banjarmasin, Indonesia
Keywords : Acculturation Batumbang Apam Tradition
Abstract
Each region has its own culture, customs, and traditions. This tradition is unique and wealthy that should be preserved and preserved so that this tradition does not become extinct. The Batumbang Apam tradition is no exception in Hulu Sungai Selatan Regency. The approach used in this article uses anthropology to understand in depth the meaning contained in the object of research. This article also uses a qualitative descriptive method. data collected The results of this article through interviews and observations. The results of the study indicate that the motifs carried out by the batumbang apam tradition include the fulfillment of prayers, vows, and gratitude for the birth of a child which is carried out on every holiday, both Eid al-Fitr and Eid al-Adha.
Kata Kunci : Akulturasi Batumbang Apam Tradisi
Abstrak
Setiap daerah memiliki kebudayaan, kebiasaan dan tradisi sendiri. Tradisi tersebut merupakan keunikan dan kekayaan yang patut dipertahankan serta dilestarikan agar tradisi tersebut tidak punah. Tidak terkecuali tradisi Batumbang Apam yang ada di Kabupaten Hulu Sungai Selatan. Pendekatan yang digunakan dalam artikel ini menggunakan antropologis, untuk memahami secara mendalam makna yang terkandung dari objek penelitian. Artikel ini juga menggunakan metode deskriptip kualitatif. data yang dikumpulkan Hasil dari artikel ini melalui wawancara serta observasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa motif dilaksanakan tradisi batumbang apam tersebut yakni meliputi terkabulnya doa, nazar dan rasa syukur atas kelahiran anak yang dilaksanakan pada setiap hari raya, baik idul fitri maupun idul adha.
PENDAHULUAN
Islam di nusantara sesungguhnya telah berkembang dengan pesat karena melalui proses akulturasi budaya. Integrasi pemikiran Islam selalu disesuaikan dengan kekhasan budaya lokal. Dakwah Islam selalu melihat lingkungan sosial budaya dengan kacamata kearifan. Kemampuan adaptasi ini merupakan kecerdasan sosial, intelektual dan spiritual yang dimuiliki ulama dahulu dalam bertugas menyebarkan Islam. Kearifan lokal menjadi basis implementasi nilai-nilai keislaman, sehingga terjadi sebuah hubungan harmonis antra agama dengan budaya (Mujamil Qomar, 2021: 206).
Akulturasi yang menjadi antara satu kebudayaan dengan kebudayaan lain bisa
saja minim konflik, karena persentuhan antara keduanya berjalan mulus dan bisa diterima oleh dua kebudayaan yang saling berbeda. Kontak antara dua kebudayan sebenarnya dapat menimbulkan reaksi yang berbeda. Tetapi, sikap toleransi terhadap kebudayaan asing sanagt membantu sukesenya proses akulutusi budaya.
Sebaliknya, proses akulturasi tidak akan berhasil sukses bila terganjal karena minimnya pengetahuan terhadap budaya yang dihadapi. Selain itu, juga disebakan khawatir terhadap kekuatan dari kebudayaan asing tersebut, ditambah lagi dengan adanya sikap superioritas di luar kelompok sendiri. (Sofyan A. P. Kau, Kasim Yahiji· 2018: 8)
Interaksi antara agama dan
2
kebudayaan itu dapat terjadi dengan:
Pertama, agama mempengaruhi kebudayaan dalam pembentukannya, nilainya adalah agama, tapi simbolnya adlaah kebudayaan. Kedua, kebudayaan dapat mempengaruhi simbol agama.
Ketiga, kebudayaan dapat menggantikan sistem nilai dan simbol agama.
(Kuntowijoyo: 2018. 211)
Namun demikian, karena begitu sangat lues dan luasnya cakupan nilai-nilai ajaran Islam dibuktikan dengan adanya sifat yang mencakup berbagai aspek kehidupan manusia, maka nilai-nilai ajaran Islam tersebut dapat masuk dengan begitu mudahnya kepada siapa saja, kapan saja dan juga dimana saja dapat diterima dengan baik. Selama konteks pembicaraan tersebut menggiring kepada suatu kebaikan dan kebenaran, mencegah suatu kebitilan serta mengajak keimanan kepada tuhan Yang Maha Esa (Rofiq: 2019).
Tradisi berarti traditum, segala sesuatu yang ditransmisikan, diwariskan oleh masa lalu masa sekarang, berupa pola- pola atau citra (image) dari tingkah laku termasuk di dalamnya kepercayaan, aturan, anjuran dan larangan untuk menjalankan kembali pola-pola tingkah laku yang terus mengalami perubahan. Dalam prakteknya, tradisi berwujud pada suatu aktivitas yang dilakukan secara terus menerus dan berulang sebgai upaya peneguhan pola-pola tingkah laku yang bersandar pada norma- norma bagi Tindakan-tindakan di masa depan. Perwujudan tradisi seperti itu, berupa aktivitas sekitar daur kehidupan, lingkungan alam dan lingkungan social yang kemudian diinterpretasi sebagai pengetahuan lokal atau juga disebut kearifan lokal (Tim Kemenparekraf, 2011).
Sedangkan dalam Bahasa hukum islam tradisi dikenal dengan istilah urf dan
adah (adat). Secara etimologis, berarti sesuatu yang diketahui. Kata „urf sinomim dengan kata „adah (adat), yang berarti kebiasaan atau praktek. Itu berarti, kedua term aini mempunyai arti yang sama, yaitu sesuatu yang dibiasakan oleh rakyat umum atau golongan masyarakat (Sofyan A. P.
Kau, Kasim Yahiji· 2018: 28)
Tradisi batumbang apam merupakan upacara yang biasa dilaksanakan oleh keturunan Kerajaan Banjar yang bertujuan untuk memenuhi hajad seseorang. Pelaksanaan upacara ini bisa dilakukan di rumah, tetapi bisa juga dilakukan di masjid. Pada upacara ini disediakan makanan sebagai sajian kepada tetamu. Beberapa macam kue yang dipersiapkan antara lain apam putih, apam merah, cucur putih, cucur merah dan ketupat. Persiapan sebelum upacara dimulai yaitu menghampar tikar di ruang tengah, kemudian ditengah-tengah hamparan tikar tadi disusun lipatan-lipatan kain sarung sampai beberapa puluh lembar, hingga susunan itu cukup tingginya.
Di puncak susunan sarung itu ditutupi dengan selembar kain kaci putih, dan diatasnya ditaruh selembar daun pisang panurun (sejenis pohon pisang yang besar).
Tepat di atas daun pisang itu didirikan dua buah pelepah daun kelapa yang dibersihkan daunnya, tetapi masih ada bilah lidinya sepanjang sejengkal. Pelepah itu dibuat setinggi badan orang yang melaksanakan adat betumbang tersebut. Itulah sebabnya dinamakan batumbang karena tinggi pelepah itu setumbang atau setinggi orang yang melaksanakannya. Ujung kedua pelepah itu disandarkan pada dinding ruangan agar dapat berdiri dengan kokoh.
Putih di deretan sebelah kanan dan apam merah di sebelah kiri. Demikian juga pelepah satunya dengan kue cucur putih di
3
sebelah kanan dan cucur merah di sebelah kiri. Kemudian di bagian puncak pelepah tersebut digantungkan beberapa biji ketupat, dan di puncaknya dipasang lilin yang menyala. Kemudian saat acara adat batumbang dimulai, orang yang berhajat itu berdiri di depan sajian sambil memegang kedua pelepah daun kelapa yang penuh dengan kue-kue tersebut. Ketika itu diserukan dengan nyaring bacaan Shalawat Nabi Muhammad SAW sambil menaburkan beras kuning yang dicampur dengan beberapa uang sebagai hadiah untuk anak-anak yang hadir di situ. Setelah selesai, kue-kue tersebut diambil dan diletakkan di piring. Para undangan kemudian membaca Surat Yasin dan terakhir dengan pembacaan doa selamat.
Selesai pembacaan doa maka selesai juga upacara Batumbang, lalu acara dilanjutkan dengan makan kue bersama yang telah disajikan pihak acara.
Pada masyarakat Banjar di Kalimantan Selatan, tradisi batumbang apam tidak hanya sekedar tradisi yang diwariskan secara turun temurun, tetapi kini menjadi juga menjadi warisan budaya serta wisata menarik untuk dilihat.
Upacara tradisi batumbang apam yang dilaksanakan pada Hulu Sungai Selatan menarik untuk diteliti, karena memperlihatkan persentuhan budaya dan Islam. Persentuhan tersebutlah menjadikan akulturasi budaya yang menjalani akulturasi budaya dari batumbang apam yang dilakukan secara Islamisasi, yakni menanampakn nilai-nilai keislaman pada budaya tersebut.
Terjadinya akulturasi bisa secara paksaan ataupun sukarela. Secara paksaan bisa dilihat contoh pada negara-negara yang menajdi jajahan kolonialisme bangsa Eropa terhadap bangsa Timur. Bangsa
Eropa memaksakan hal-hal baru pada wilayah jajahannya untuk memeluk agama mereka (kristenisasi), menggunakan Bahasa dan hukum peradilannya, memaksakan berpakaian denagn cara modern, mencontoh gaya hidup hedonis. Bila ditinjau dari sejarah kebudayaan Indonesia, dapat dikatakan akulturasi kebudayaan hindu dan kebudayaan islam lebih bersifat sukarela, tanpa paksaan. Lain halnya dengan kebudayaan barat yang cinderung memaksakan kebudayaannya agar diterima oleh wilayah jajahannya. (Sofyan A. P. Kau, Kasim Yahiji· 2018: 7)
HASIL DAN PEMBAHASAN Temuan Hasil Penelitian 1. Gambar Umum Lokasi
Desa Batang Kulur Kanan termasuk dalam 10 desa/kelurahan dalam wilayah pemerintahan kecamatan Sungai Raya. Secara administratif desa Batang Kulur Kanan berada dalam Wilayah Hulu Sungai Selatan. Ibu kota Kabupaten Hulu Sungai Selatan ialah Kandangan. Letak kota kandangan berada ditepi sungai amandit yang berjarak 145,7 km disebelah utara Kota Banjarmasin. Desa Batang Kulur Kanan Kecamatan Sungai Raya mempunyai jarak 5,7 km menuju ibu kota Kebupaten Hulu Sungai Selatan.
Gambar. 1 Peta Lokasi Desa Batang Kulur Kanan
Sumber: google maps
4
2. Konsep akulturasi
Dalam Dwi Ratna Nurhajarini, Koentjaraningrat (1990:91) mendefinisikan akulturasi sebagai seuatu proses social yang terjadi apabila manusia dalam suatu masyarakat dengan kebudayaan tertentu dipengaruhi oleh unsur-unsur dari kebudayaan lain dan lambat alun unsur kebudayaan asing itu diakomodasi dan diintegrasikan ke dalam kebudayaan sendiri tanpa kehilangan kepribadian dari kebudayaan.
Akulturasi adalah perpaduan dua kebudayaan yang berbeda dan membentuk suatu kebudayaan baru dengan tidak menghilangkan ciri kepribadian masing-masing (Kun Maryati dan Jujur Suryawati, 2016: 79) Masuknya Islam ke Nusantara mempengaruhi sendi-sendi kehidupan masyarakat, khususnya di Kalimantan Selatan. Islam mengatur kehidupan sampai hal yang terkecil, walaupun demikian, masuknya Islam di Nusantara tidak serta merta langung menghapus budaya-budaya yang masih dilaksanakan oleh masyarakat.
Menyikapi akulturasi budaya analisis dari perspektif sejarah masuk dan berkembangnya Islam di Indonesia.
Karena dalam proses Islamisasi di Indonesia tidak berjalan satu arah, tetapi banyak arah atau melalui berbagai macam pintu. Pintu-pintu itu, misalnya melalui kesenian, pewayangan, perkawinan, pendidikan, perdagangan, aliran kebatinan, istisisme dan tasawuf (Limah Al-Amri &
Muhammad Haramain: 2017).
3. Deskripsi Ritual Batumbang Apam Sejak runtuhnya kekuasaan kerajaan yang bercorak Hindu-Budha pada akhir abad ke-15 kehidupan masyarakat Nusantara mengalami banyak perubahan dalam segala aspek, terlebih perkembangan Islam di Kalimantan Selatan lebih pesat dibandingkan dengan perkembangan Islam di Aceh (Alfrida Dyah Miranti dan Lufiah Ayundasari, 2021).
Dalam perkembangan Islam di Nusantara, masyarakat setempat sebelumnya meyakini budaya dan kepercayaan nenek moyang (Kaharingan), Hindu-Budha sehingga mempengaruhi dan memberikan ciri tersendiri pada kebudayaan yang ada di Banjar salah satunya Batumbang Apam.
Batumbang Apam merupakan tradisi turun temuruan masyarakat Batang Kulur Kanan, Kecamatan Sungai Raya, Hulu Sungai Selatan (HSS) yang hanya dapat dijumpai ketika lebaran tiba, baik saat lebaran Idul Fitri maupun Idul Adha. Tradisi tersebut perwujudan dari ungkapan rasa syukur terhadap sang pencipta dan juga untuk menunaikan hajat atau nazar seseorang.
Tradisi Batumbang Apam ternyata tidak hanya dijumpai di Hulus Sungai Selatan, nyatanya setiap dadari beberapa penelitian tradisi Batumbang Apam juga digelar di Desa Pajukungan Kecamatan Barabai sebagaimana penelitian dari Helda Hermawati, Universitas Lambung Mangkurat (2012) selain itu juga terdapat di daerah lain seperti di Sumatera Utara, tepatnya di Desa Kubah Sentang Kecamatan Pantai Labu menurut penelitian dari Zuraidah (2018).
5
Dari hasil penelitian di atas, proses pelaksanaan yang dilakukan pada tiap daerah hampir mempunyai kesamaan, yaitu mempersiapkan kue apam yang ditusuk pada sebatang pelepah kelapa pada bagian daunnya sudah dibersihkan atau dipotong-potong hingga menyisakan lidi. Adapun tinggi pelepah yang digunakan untuk betumbang, sebanding dengan tinggi orang yang akan batumbang. Ritual pelaksanaan saat batumbang apam diawali dengan pembacaan surat Yasin disusul prosesi pemajangan kue apam dipelepah kelapa dan diringi dengan pembacaan doa.
Gambar. 2 Ilustrasi Prosesi pelaksanaan Batumbang Apam
Sumber: kesultananbanjar.id/batumbang
Upacara batumbang apam yang dilakukan oleh masyarakat batang kulur kanan adalah bentuk pengertian upacara
untuk menjembatani antara symbol- simbol yang suci agar dapat mencapai kehidupan sehari-hari yang nyata.
Dalam upacara, simbol berperan sebagai alat penghubung antara sesama manusia dan antara manusia dengan benda, dan antara yang gaib dan yang nyata.
Simbol-simbol yang dipakai dalam upacara sebagai alat komunikasi juga menyuarakan pesan-pesan ajaran agama dan kebudayaan yang dipunyai sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai oleh adanya upacara tersebut dan sesuai dengan tujuan yang ada pada warga masyarkat yang melakukannya. Upacara juga menyucikan sesuatu yang pada mulanya kotor. Dengan demikian, yang kotor (profan) menjadi hilang, dan diganti menjadi suci (sacred) dan bermakna simbolik (Sofyan A.P dan Kasim Yahiji, 2018: 11).
PENUTUP
Upacara tradisi Batumbang Apam yang dilaksanakan di Desa Batang Kulur Kecamatan Sungai Raya Kabupaten Hulu Sungai Selatan biasanya hanya dijumpai paad setiap peryaan lebaran, baik idul fitri maupun idul adha. Tradisi tersebut merupakan ungkapan wujud rasa syukur atau memenuhi nazar seseorang
6
DAFTAR PUSTAKA Buku
Sofyan A, Kasim Yahiji. 2018, Akulturasi Islam dan Budaya Lokal: Studi Islam tentang Ritus- Ritus Kehidupan dalam Tradisi Lokal Muslim Gorontalo. Malang: Inteligensia Media.
Kuntowijoyo. 2018, Muslim tanpa Masjid. Yogyakarta: IRCiSoD.
Qomar, M. 2021, Moderasi Islam Indonesia, Yogyakarta: IRCISOD.
Tim Penyusun. 2011. Buku Kearifan Lokal di Tengah Modernisasi. Jakarta: Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia.
M. Kun,. Juju Suryawati. 2006, SOSIOLOGI : - Jilid 1, Jakart Timur: PT. Penerbit Erlangga.
Nurhajarini, D. R., Purwaningsih, E., Fibiona, I. 2015. Akulturasi lintas zaman di Lasem:
perspektif sejarah dan budaya (kurun niaga-sekarang). Indonesia: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Balai Pelestarian Nilai Budaya (BPNB) Yogyakarta.
Artikel jurnal
Rofiq, A. 2019. Tradisi Slametan Jawa dalam Perpektif Pendidikan Islam. Attaqwa: Jurnal Ilmu Pendidikan Islam, 15(2), 93-107. Retrieved from https://jurnal.staidagresik.ac.id/index.php/attaqwa/article/view/13
M, Alfrida Dyah & Luftiah Ayundasari. 2021. Kesultanan Banjar: Peran dalam Persebaran Islam di Kalimantan (abad XVI M – XIX M). Jurnal Integrasi dan Harmoni Inovatif Ilmu-ilmu Sosial (JIHI3S), 1(2), 227-237. DOI: 10.17977/um063vli2p227-237
Al-Amri, L., & Haramain, M. 2017. AKULTURASI ISLAM DALAM BUDAYA LOKAL.
KURIOSITAS: Media Komunikasi Sosial Dan Keagamaan, 10(2), 87-100. DOI:
10.35905/kur.v10i2.594 Format Sumber Elektronik
_. 2010. Batumbang, https://warisanbudaya.kemdikbud.go.id/?newdetail&detailCatat=925