• Tidak ada hasil yang ditemukan

SNKA Seminar Hasil Penelitian 2021

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "SNKA Seminar Hasil Penelitian 2021"

Copied!
11
0
0

Teks penuh

(1)

SNKA

Seminar Hasil Penelitian 2021

14

GAMBARAN TINGKAT STRES REMAJA PADA MASA PANDEMI COVID-19 DI SMKN 3 KOTA BENGKULU

Yogi Wahyu Pratama, Ns. Yusran Hasymi, M.Kep,Sp.KMB, Nurlaili, S.Sos,M.Kes Jurusan Keperawatan Program Studi D3 Keperawatan, Universitas Bengkulu

*Email: [email protected]

ABSTRAK

Pandemi Covid-19 saat ini semakin menunjukkan bahwa masyarakat harus lebih waspada dengan segala aktivitasnya. Kasus terkontaminasi Covid-19 tiap tahun yaitu selalu bertambah di Indonesia bahkan belum menunjukkan tanda usainya wabah tersebut. Pada tanggal 15 April 2020 kasus konfirmasi ada di angka 4.839 orang, dimana rasio kematian sebesar 9,5% (459 orang), PDP yang dalam perawatan sebanyak 3.954 orang, dan pasien sembuh 426 orang, 34 provinsi telah dinyatakan terinfeksi Covid-19, dimana ada 5 provinsi dengan kasus konfirmasi lebih dari 100 orang (DKI Jakarta, Jabar, Jatim, Banten, Jateng, dan Sulsel), DKI Jakarta terbesar dengan 2.335 kasus terkonfirmasi Covid-19. Kehidupan remaja pun nyatanya ikut terpengaruh akibat dilakukannya berbagai kebijakan untuk mengurangi dampak dari pandemi ini.

Kondisi mental remaja semakin diuji dan banyak remaja yang akhirnya menjadi stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana tingkat stres remaja pada masa pandemi Covid -19 di SMKN 3 Kota Bengkulu. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif melalui pendekatan kuantitatif. Teknik pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan metode Quota Sampling dengan jumlah sampel sebanyak 95 orang responden. Hasil penelitian menyatakan bahwa tingkat stres remaja di SMKN 3 Kota Bengkulu sebagian besar (56,8 %) mengalami tingkat stres yang normal yang kebanyakan dialami remaja perempuan (62,1%). Diharapkan remaja bias mengelola dan mengendalikan stres menuju hal positif yang membentuk jiwa yang baik terhadap remaja itu sendiri.

Kata Kunci : Pandemi Covid-19, remaja, stres

PENDAHULUAN

World Health Organization (WHO) pertama kali menyebut corona virus disease yang ditemukan pertama kali di Wuhan dengan novel coronavirus 2019 (2019-nCoV) yang disebabkan oleh virus Severe Acute Respiratory Syndrome Coronavirus-2 (SARS- CoV-2). Indonesia pertama kali melaporkan 2 kasus positif Covid-19 pada tanggal 2 Maret 2020 (WHO, 2020, dalam Ahadi, 2020). Pada tanggal 15 April 2020 kasus konfirmasi ada di angka 4.839 orang, dimana rasio kematian sebesar 9,5% (459 orang), PDP yang dalam perawatan sebanyak 3.954 orang, dan pasien sembuh 426 orang, 34 provinsi telah dinyatakan terinfeksi Covid-19, dimana ada 5 provinsi dengan kasus konfirmasi lebih dari 100 orang (DKI Jakarta, Jabar, Jatim, Banten, Jateng, dan Sulsel), DKI Jakarta terbesar dengan 2.335 kasus terkonfirmasi Covid-19 (Ahadi, 2020).

Pandemi mengharuskan pentingnya memutus rantai transmisi dan melindungi populasi dari risiko. Pemutusan rantai penularan virus bias dilakukan secara individu

dengan melakukan kebersihan diri terutama cuci tangan dan secara kelompok dengan cara social distancing. Social distancing adalah praktik dengan cara memperlebar jarak antar orang sebagai upaya menurunkan peluang penularan penyakit (Sen-crowe B, 2020).

Indonesia telah menghimbau adanya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) sebagai upaya dari social distancing. PSBB adalah pembatasan kegiatan tertentu penduduk dalam suatu wilayah yang diduga terinfeksi Covid-19 sedemikian rupa untuk mencegah kemungkinan penyebaran virus. PSBB mengatur tentang peliburan sekolah dan tempat kerja, kegiatan keagamaan, kegiatan di tempat atau fasilitas umum, kegiatan social dan budaya, moda transportasi, serta pembatasan kegiatan lainnya khusus terkait aspek pertahanan dan keamanan (Kemenkes RI, 2020, dalam Ahadi, 2020). Karantina perorangan yang hanya diperuntukkan bagi pasien individu, sudah dianggap tidak lagi efektif dalam memutus mata rantai virus saat masa pandemi (Sohrabi C, dkk, 2019, dalam Ahadi, 2020).

(2)

SNKA

Seminar Hasil Penelitian 2021

15 Perkembangan virus Corona saat ini semakin menunjukkan bahwa masyarakat harus semakin waspada dengan segala sesuatunya. Virus ini berdampak bagi kehidupan masyarakat di seluruh dunia dimana mempengaruhi berjalannya sektor- sektor pembangunan. Kehidupan para remaja pun nyatanya ikut terpengaruh seiring dengan dilakukannya berbagai kebijakan untuk mengurangi dampak dari pandemi ini.

Kondisi mental para remaja semakin diuji dan tidak sedikit dari mereka yang akhirnya menjadi stres. Stres adalah salah satu tanda bahwa pemikiran seseorang menjadi irasional / negatif (Sekar, 2020).

Sebanyak 64,3 persendari 1.522 orang responden memiliki masalah psikologis cemas atau depresi setelah melakukan periksa mandiri via daring terkait kesehatan jiwa dampak dari pandemi Covid-19 yang dilakukan di laman resmi Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa Indonesia (PDSKJI).

Seperti yang kita ketahui bersama, bahwasanya Istilah cemas atau depresi sudah begitu popular dalam masyarakat dan semua orang sudah mengetahuinya, termasuk orang yang awam dalam bidang kedokteran dan psikologi. Akan tetapi, arti sebenarnya dari depresi itu sukar didefinisikan secara tepat.

Istilah dan kata yang identik maknanya dengan depresi dalam bahasa Indonesia sehari-hari tidak ada. “Sedih” tidak identik dengan depresi demikian juga dengan “putus asa”, meski keduanya merupakan gejala penting dari depresi. Orang awam menggunakan istilah depressi dengan sangat bebas dan umum sehingga mengaburkan makna dari istilah itu sendiri. Ada yang beranggapan bahwa depresi itu berarti suatu keadaan kesedihan dan ketidakbahagiaan.

Pengertian stres itu sendiri menurut (Herdiyani, 2013) merupakan respon tubuh yang bersifat tidak spesifik terhadap setiap tuntutan atau beban atasnya. Berdasarkan pengertian tersebut dapat dikatakan stres apabila seseorang mengalami beban atau tugas yang berat tetapi orang tersebut tidak dapat mengatasi tugas yang dibebankan itu,

maka tubuh akan berespon dengan tidak mampu terhadap tugas tersebut, sehingga orang tersebut dapat mengalami stres.

Respons atau tindakan ini termasuk respons fisiologis dan psikologis. Stres dapat menyebabkan perasaan negatif atau yang berlawanan dengan apa yang diinginkan atau mengancam kesejahteraan emosional. Stres dapat menggangu cara seseorang dalam menyerap realitas, menyelesaikan masalah, berfikir secara umum dan hubungan seseorang dan rasa memiliki.

Terjadinya stres dapat disebabkan oleh sesuatu yang dinamakan stressor, stressor ialah stimuli yang mengawali atau mencetuskan perubahan. Stressor secara umum dapat diklasifikasikan sebagai stressor internal atau eksternal. Stressor internal berasal dari dalam diri seseorang (misanya kondisi sakit, menopause, dll).

Stressor eksternal berasal dari luar diri seseorang atau lingkungan (misalnya kematian anggota keluarga, masalah di tempat kerja, dll ).

“Gejala cemas atau depresi yang dirasakan dalam hal peristiwa ini ialah rasa takut dan khawatir berlebih, merasa tidak biasa rileks dan nyaman mengalami gangguan tidur, dan kewaspadaan berlebih,” kata Psikiater dari PDSKJI dr Lahargo Kembaren, Sp. KJ pada konferensi pers Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19, di Graha BNPB Jakarta, Jumat (1/5/2020). Dari 1.522 responden tersebut paling banyak adalah perempuan 76,1 persen dengan usia minimal 14 tahun dan maksimal 71 tahun (Antara, 2020). Responden paling banyak berasal dari Jawa Barat 23,4 persen, DKI Jakarta 16,9 persen, Jawa Tengah 15,5 persen, dan Jawa Timur 12,8 persen. Swaperiksa kesehatan jiwa terkait Covid-19 tersebut memeriksa tiga masalah psikologis yaitu cemas, depresi, dan trauma psikologis (Antara, 2020).

Gejala cemas paling utama yang dirasakan responden adalah merasa sesuatu yang buruk akan terjadi, khawatir berlebih, mudah marah atau jengkel, dan sulit untuk rileks. Sementara gejala depresi utama yang dirasakan gangguan tidur, kurang percaya diri, lelah

(3)

SNKA

Seminar Hasil Penelitian 2021

16 tidak bertenaga, dan kehilangan minat. Hal itu dirasakan oleh para responden pada separuh waktu dan hampir sepanjang hari dalam dua minggu terakhir. Lahargo juga menyebut sebanyak 80 persen responden mengalami trauma psikologis terkait Covid-19. Sebanyak 80 persen orang memiliki gejala stres pasca trauma psikologis karena mengalami atau menyaksikan peristiwa tidak menyenangkan terkait Covid-19.

Responden yang mengalami trauma psikologis tersebut, 46 persen mengalami gejala berat, 33 persen gejala sedang, 2 persen gejala ringan, dan 19 persen tidak ada gejala.

Gejala stres setelah trauma yang menonjol adalah merasa berjarak dan terpisah atau tidak terhubung dengan orang lain, dan merasa terus waspada, berhati-hati, berjaga-jaga.

Selain itu ada pula gejala lain seperti mati rasa, ledakan kemarahan atau mudah kesal, sulit tidur, dan memiliki masalah konsentrasi (Antara, 2020). Remaja itu sendiri adalah tahap umur yang datang setelah masa kanak- kanak berakhir, ditandai oleh pertumbuhan fisik cepat. Pertumbuhan cepat yang terjadi pada tubuh remaja luar dan dalam itu membawa akibat yang tidak sedikit terhadap sikap, perilaku, kesehatan serta kepribadian remaja. Masa remaja juga penuh dengan berbagai perasaan yang tidak menentu, cemas dan bimbang, dimana berkecambuk harapan dan tantangan, kesenangan dan kesengsaraan, semuanya harus dilalui dengan perjuangan yang berat, menuju hari depan dan dewasa yang matang. Oleh karena itu, psikis atau pun kejiwaan remaja sangat diuji dengan datangnya pandemi Covid-19 ini. Mengapa remaja lebih di utamakan, karena remaja adalah generasi muda sebagai elemen yang sangat penting dan tidak bisa digantikan dengan apapun dalam melestarikan kebudayaan yang ada di Indonesia dan sekaligus berkontribusi sangat besar dalam pembangunan bangsa dan begara, yang manambah wawasanya, di pundak pemudalah masa depan pembangunan bangsa dan negara Indonesia, karena pada diri generasi muda tersimpan potensi yang besar dan memiliki daya kreatifitas yang tidak terbatas untuk kesuksesan suatu pembangunan. Begitu juga dalam pelestarian budaya di suatu negara.

Kontribusi dan apresiasi yang besar dari generasi muda sangat diperlukan karena generasi muda sebagai tenaga-tenaga professional yang energik, kreatif, dan inovatif (https:// pakdosen. pengajar.co.id/

generasi- muda/).

Menurut Depkes RI (2011) kategori umur antara lain, yaitu masa balita (0 – 5 tahun), masa kanak- kanak (5 – 11 tahun), masa remaja awal (12 – 16 tahun), masa remaja akhir (17 – 25 tahun), masa dewasa awal (26- 35 tahun), dan masa dewasa akhir (36- 45 tahun). (Yhantiaritra, 2015).

Remaja terletak di tengah atau sebagai pengantar atau pun sebagai stake holder dari kanak-kanak menuju tahap kedewasaan. Dan jikalau remaja mengalami permasalahan terutama terhadap mental dan psikis mereka. Maka, akan berdampak pula dengan usia lanjut mereka yaitu dewasa.

Mengapa dikatakan demikian, Karena pada usia remaja itu adalah tahap pembentukan karakter dan tahap menemukan jati diri. Oleh karena itu remaja sangatlah penting untuk dibahas dan dikaji supaya terbentuklah jati diri yang berkualitas yang akan bermanfaat bagi remaja itu sendiri dan sekaligus menjadi

“Agent of change” negara ini. Jika sebuah pondasi rumahnya bagus, maka rumahnya akan kokoh dan kuat. Begitu pula dengan tongkat estafet negara kita bagus dan berkualitas yaitu remaja itu sendiri, maka akan terbentuklah juga negara yang bagus serta berkualitas.

Berdasarkan fenomena dan hasil studi pendahuluan yang dilakukan tersebut maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul “Gambaran tingkat stres remaja pada masa pandemi Covid-19 di SMKN 3 Kota Bengkulu“.

Tujuan Penelitian ini adalah antara lain tujuan umum yaitu mengetahui sejauh mana tingkat stres remaja pada masa pandemi Covid-19. Tujuan khusus untuk mengetahui jenis kelamin remaja yang paling banyak mengalami stress dan untuk mengetahui umur berapa remaja yang paling banyak mengalami stress.

METODE PENELITIAN

Jenis dan rancangan penelitian yakni

(4)

SNKA

Seminar Hasil Penelitian 2021

17 sesuai dengan judul penelitian yang diambil, peneliti menetapkan metode yang digunakan adalah metode deskriptif melalui pendekatan kuantitatif, yang bertujuan untuk mendeskripsikan suatu fenomena, peristiwa, gejala, dan kejadian yang terjadi secara faktual, sistematis, serta akurat. Fenomena dapat berupa bentuk, aktivitas, hubungan, karakteristik, serta persamaan maupun perbedaan antar fenomena.

Adapun pengertian metode deskriptif menurut Sugiyono (2017) bahwa metode deskriptif ini adalah suatu metode yang digunakan untuk menggambarkan atau menganalisi suatu hasil penelitian tetapi tidak digunakan untuk membuat kesimpulan yang lebih luas. Sugiyono (2017) mendefinisikan penelitian kuantitatif yakni metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel tertentu, pengumpulan data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif atau statistik dengan tujuan untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan. Pada penelitian ini populasi objek penelitian yaitu siswa dan siswi SMKN 3 Kota Bengkulu yang berjumlah 1589 siswa/i.

Teknik sampel yang digunakan yaitu Quota Sampling yang mana teknik ini adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri-ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.

Sampel diambil dengan memberikan jatah atau qourum tertentu terhadap kelompok. Pengumpulan data dilakukan langsung pada unit sampling. Setelah kuota terpenuhi, pengumpulan data dihentikan (Sugiyono, 2017). Rumus yang digunakan adalah rumus Slovin, secara matematis, rumus Slovin yang kita gunakan untuk menentukan jumlah sampel adalah sebagai berikut:

Rumus Sampel n = N / ( 1 + N x (e)2 ) keterangan :

n : Jumlah sampel N : Jumlah Total Populasi E : Batas Toleransi Eror

Data penelitian adalah data primer, maka penulis meneliti tingkat stress pada remaja di SMKN 3 Kota Bengkulu dengan

populasi 1589 orang siswa/i, penulis meyakini tingkat ke valid tan data sebesar 90%, maka tingkat kesalahan 10%. Sehingga penulis dapat menentukan batas minimal sampel yang dapat memenuhi syarat margin of error 10%

dengan memasukkan margin of error tersebut ke dalam formula atau rumus Slovin.

Perhitunganya adalah : n = N / ( 1 + (N x (e)2 )

n = 1589 / ( 1 + ( 1589 x (10%) 2) n = 1589 / ( 1 + ( 1589 x ( 0,1) 2 ) n = 1589 / ( 1 + ( 1589 x ( 0,01)) n = 1589 / ( 1 + ( 15,89)

n = 1589 / ( 16,89) n = 94,0793369

Jadi, apabila dibulatkan maka besar sampel minimal dari 1589 populasi pada margin of error 10% adalah sebesar 95.Teknik pengumpulan data menurut Sugiyono (2017) dapat dilakukan berbagai setting, sumber dan cara. Dalam penelitian ini sumber memberikan waktu satu hari untuk Sugiyono menambahkan teknik pengumpulan data primer dapat dilakukan dengan interview (wawancara), kuesioner (angket), observasi (pengamatan) dan gabungan ketiganya. Dalam penelitian ini teknik pengumpulan data yang digunakan adalah kuesioner (angket).

Angket tertutup merupakan angket yang menyediakan alternatif jawaban atas pertanyaan atau pernyataan yang diberikan, sehingga responden tidak mempunyai kebebasan untuk menjawab pertanyaan atau peryataan di luar alternatif jawaban yang disediakan dalam angker tersebut (Masruroh, 2015). Pada saat pengumpulan data, angket (kuesioner) akan diberikan kepada siswa / siswi yang berada di SMKN 3 Kota Bengkulu. Kemudian siswa/i akan diberikan waktu 10-15 menit untuk melakukan pengisian pada angket atau kuesioner tersebut, jika siswa/i tidak sekolah maka peneliti akan mengumpulkan data menggunakan google form untuk mengisi kuesioner dan peneliti akan siswa/i untuk melakukan pengisian angket atau kuesioner tersebut. Pada kuesioner, siswa/i hanya memberikan tanda “centang” atau “check list (√)”.

Kuesioner adalah teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan

(5)

SNKA

Seminar Hasil Penelitian 2021

18 cara memberi seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk dijawabnya (Nursalam, 2016). Kuesioner yang digunakan peneliti dalam penelitian ini adalah kuesioner tertutup mengenai psikososial remaja pada masa pandemi covid- 19 di SMKN 3 Kota Bengkulu. Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang sudah disediakan jawabannya, sehingga responden tinggal memilih. Untuk variabel tingkat stres pada remaja peneliti menggunakan kuesioner DASS (Depression Anxiety Stres Scale) dengan jumlah pertanyaan sebanyak 14 pertanyaan. Kemudian responden menjawab pertanyaan dengan memberikan tanda check list (√) atau centang pada jawaban yang dipilih oleh responden pada pertanyaan yang ada dalam kuesioner. Pada kuesioner ini berisi tentang pertanyaan skala stres.

Uji validitas dan realibitas sebagai berikut :

1. Uji validitas

Validitas adalah suatu ukuran atau indeks yang menunjukkan tingkat- tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrument, dimana sebuah instrument dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkapkan data dari variabel yang diteliti secara tepat (Arikunto, 2021). Ketentuan hasil pengujinya adalah apabila diperoleh nilai r hitung lebih besar dari r tabel. Maka item pertanyaan tersebut dinyatakan valid.

Tingkat stres diukur dengan menggunakan Depresion Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42) dari Lovibond (1995), yang sudah teruji validitas secara internasional.

Psychometric Properties of the Depression Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42) terdiri dari 42 pertanyaan menurut Lovibond (1995) yang dikutip oleh Crawford dan Henry (2003) dalam jurnalnya yang berjudul “DASS:

Normative data & latent structure in large non clinical sample”. DASS mempunyai tingkatan discrcrimant validity.

2. Uji reliabilitas

Reliabilitas instrument merupakan suatu indeks yang menunjukkan sejauh mana suatu alat pengukur dapat dipercaya atau diandalkan sehingga hasil pengukurannya

tetap konsisten bila dilakukan pengukuran untuk kedua kalinya atau lebih terhadap konstruk yang sama (Notoatmodjo, 2018).

Kuesioner stres tidak dilakukan uji reliabilitas karena kuesioner sudah berlaku secara internasional dan telah teruji reliabilitas secara internasional. Kuesioner ini diukur dengan menggunakan Depresion Anxiety Stress Scale 42 (DASS 42) dari Lovibond (1995) dan mempunyai nilai reliabilitas sebesar 0,91 yang diolah berdasarkan penilaian Cronbac’s alpha.

Setelah dilakukan uji reliabilitas pada 36 pertanyaan yang valid dari kuesioner DASS 42 yang dilakukan oleh (Isnaeni, 2010).

Pengolahan data adalah salah satu langkah yang penting. Hal ini disebabkan karena data yang diperoleh langsung dari penelitian masih mentah, belum memberikan informasi apa - apa dan belum siap untuk disajikan. Proses pengolahan data dilakukan melalui beberapa tahap - tahap menurut Notoatmodjo (2018) :

1. Editing (penyuntingan data)

Hasil data dari lapangan harus dilakukan penyuntingan (editing) terlebih dahulu. Secara umum editing merupakan kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan.

Apabila ada data - data yang belum lengkap, jika memungkinkan perlu dilakukan pengambilan data ulang untuk melengkapi data - data tersebut. Tetapi apabila tidak memungkinkan, maka data yang tidak lengkap tersebut tidak diolah atau dimasukkan dalam pengolahan “data missing”.

2. Scoring (pemberian skor)

Menentukan skor atau nilai untuk setiap item pertanyaan dan tentukan nilai terendah dan tertinggi. Tahapan ini dilakukan setelah ditentukan kode jawaban atau hasil observasi sehingga setiap jawaban responden atau hasil observasi dapat diberikan skor. Dan apabila responden menjawab pertanyaan dengan jawaban iya maka diberi skor 1 dan jika responden menjawab pertanyaan dengan jawaban tidak maka diberi skor 0.

Skor pada variabel tingkat stres pada remaja putri didapatkan skor minimal 0 dan skor maksimal 15 sehingga diperoleh skor sebagai berikut: 0-14 (Normal), 15-18

(6)

SNKA

Seminar Hasil Penelitian 2021

19 (Ringan), 19-25 (Sedang), 26-33 (Berat), >34 (Sangat berat).

Menurut (Sugiyono, 2010, dalam Setiawan, 2015), yang dimaksud dengan teknik analisis data adalah proses mencari data, menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit- unit, melakukan sintesis, menyusun ke dalam pola memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah dipahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

Pada penelitian ini, peneliti menggunakan analisis data deskriptif dengan menampilkan data dalam bentuk dsitribusi frekuensi. Analisis data deskriptif (analisis univariat) adalah analisa yang bertujuan untuk memberikan deskripsi mengenai subjek penelitian berdasarkan data dari variabel yang diperoleh dari kelompok subjek yang diteliti, dan bertujuan untuk meringkas, dan menyajikan data agar mudah dipahami maknanya. Pada analisis deskriptif (analisis univariat), data yang diperoleh disajikan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi.

HASIL DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian

1. Gambaran Umum Tempat Penelitian a. Gambaran Geografis

Berdasarkan profil Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu merupakan sekolah kejuruan yang berada di wilayah Kecamatan Ratu Samban yang terletak di Jl. Jati Nomor 42 Kelurahan Padang Jati Kecamatan Ratu Samban Kota Bengkulu Provinsi Bengkulu.

b. Gambaran Demografis

Sarana dan prasarana UPTD Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu memiliki 50 ruang kelas, tidak ada laboratorium, 1 gedung perpustakaan, 4 gedung sanitasi siswa, dan didukung oleh penerangan listrik, PDAM, telepon, akses internet. Jumlah sumberdaya pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu yaitu 110 guru, 474 siswa laki-laki,

1.115 siswi perempuan, dan 51 rombongan belajar. Mayoritas siswa dan siswi

di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu adalah remaja yang usianya berkisar antara 15 sampai 20 tahun.

2. Jalan Penelitian

Penelitian diawali dengan pengurusan surat izin ke Universitas Bengkulu melalui pihak Program Studi Keperawataan Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Bengkulu. Peneliti melanjutkan permohonan izin ke pihak Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu sebagai tempat dilakukannya penelitian.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa dan siswi di wilayah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu sebanyak 1589 orang. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara Quota Sampling, teknik ini adalah teknik untuk menentukan sampel dari populasi yang mempunyai ciri- ciri tertentu sampai jumlah (kuota) yang diinginkan.

Dalam teknik ini jumlah populasi tidak diperhitungkan akan tetapi diklasifikasikan dalam beberapa kelompok.

Sampel diambil dengan memberikan jatah atau qourum tertentu terhadap kelompok.

Sampel yang dibutuhkan dalam penelitian ini sebanyak 95 orang. Langkah awal yang dilakukan oleh peneliti adalah dengan mencari informasi mengenai kondisi siswa dan siswi di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu dengan cara mewawancarai pihak sekolah melalui guru bidang Bimbingan dan Konseling, kemudian memberikan kuesioner online kepada siswa siswi Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu. Data yang sudah didapatkan melalui google form akan diolah melalui master data, lalu data tersebut dihitung skornya.

3. Karakteristik responden a. Umur

Tabel 4.1 Karakteristik Responden Menurut Umur di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu Tahun 2020-2021 (n=95) Umum Frekuensi Presentase (%)

12-15 tahun

14,8 14

(7)

SNKA

Seminar Hasil Penelitian 2021

20 15-18

tahun

77,9 74

18-21 tahun

7,3 7

Total 95 100 Berdasarkan tabel 4.1 di atas, umur remaja di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu sebagian besar (77,9 %) berusia 15-18 tahun.

b. Jenis Kelamin

Tabel 4.2 Karakteristik Responden Menurut Jenis Kelamin di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu Tahun 2020- 2021 (n=95)

Jenis Kelamin

Frekuensi Presentase (%)

Laki-laki 36 37,9

Perempuan 59 62,1

Total 95 100

Berdasarkan tabel 4.2 di atas, jenis kelamin remaja di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu sebagian besar (62,1 %) berjenis kelamin perempuan.

c. Kelas

Tabel 4.3 Karakteristik Responden Menurut Kelas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu Tahun 2020-2021 (n=95)

Kelas Frekuensi Presentase

(%)

Kelas 10

63 66,3

Kelas 12

32 33,7

Total 95 100

Berdasarkan tabel 4.3 di atas, remaja di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu sebagian besar (66,3 %) berada di kelas 10.

4. Tingkat Stress Remaja

Tabel 4.4 Tingkat Stress Remaja di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu Tahun 2020-2021 ( n=95 )

Tingkat stress

Frekuensi Presentase (%)

Normal 54 56,8

Ringan 17 18,0

Sedang 18 18,9

Berat 4 4,2

Sangat berat

2 2,1

Total 95 100

Berdasarkan tabel 4.4 di atas, tingkat stres remaja di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu sebagian besar (56,8 %) mengalami tingkat stress yang normal.

B. Pembahasan

1. Karakteristik Responden a. Umur

Hasil penelitian, dari 95 orang remaja laki-laki dan remaja perempuan di wilayah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu sebagian besar remaja (77,9 %) berusia 15-18 tahun. Orang dikatakan remaja yaitu berlangsung antara umur 12-21 tahun, dengan pembagian 12-15 tahun adalah masa remaja awal, 15-18 tahun adalah masa remaja pertengahan, 18-21 tahun adalah masa remaja akhir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa remaja yang paling banyak mengalami stres berusia 15-18 tahun atau disebut masa remaja pertengahan.

Menurut (Monks, 2008) remaja adalah individu yang berusia antara 12-21 tahun yang sedang mengalami masa peralihan dari masa anak-anak ke masa dewasa, dengan pembagian 12-15 tahun masa remaja awal, 15-18 tahun masa remaja pertengahan dan 18-21 tahun masa remaja akhir. (Indri, 2007) menyatakan bahwa masa remaja merupakan masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa dewasa, dimulai saat anak secara seksual matang dan berakhir saat ia mencapai usia matang secara hukum.

Remaja adalah individu yang berusia 12-21 tahun yang sedang mengalami masa peralihan dari masa kanak-kanak ke masa

(8)

SNKA

Seminar Hasil Penelitian 2021

21 dewasa. Menurut (Indri, 2007) remaja pada usia 15-18 tahun mengalami banyak perubahan secara kognitif, emosional dan sosial, mereka berpikir lebih kompleks, secara emosional lebih sensitif dan lebih sering menghabiskan waktu bersama dengan teman-temannya. Hubungan antara remaja dan teman sebaya adalah hal yang utama dalam perkembangan remaja, remaja berharap bisa mandiri, tidak dihubungkan lagi dengan orang tua. Remaja lebih membutuhkan dukungan dari teman- temannya dibandingkan dengan orang tua (Indri, 2007). Semakin beranjak usia dewasa, stres emosional seorang remaja akan berubah karena perubahan fisik, emosi, sosial, ekonomi, pekerjaan dan keadaan.

Seorang remaja berusia antara 12-21 tahun kebanyakan ditemukan di pendidikan sekolah tingkat SMA/ SMK/ MA. Di Kota Bengkulu, sekolah yang banyak remaja berusia 12-21 tahun yaitu di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara yang Peneliti ambil, seorang remaja mengalami stres dengan rasa emosional yang sangat tinggi, dan sulit mengontrol emosi yang diakibatkan faktor lingkungan, tekanan, ekonomi dan pandemi Covid-19.

b. Jenis Kelamin

Berdasarkan hasil penelitian, dari 95 orang remaja laki-laki dan remaja perempuan di wilayah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu sebagian besar remaja (62,1%) berjenis kelamin perempuan.

Suatu masa ketegangan emosi meninggi sebagai akibat dari perubahan fisik dan kelenjar atau perubahan jasmaniah, terutama perubahan hormon seks. Menurut (Indri, 2007) sumber stres pada remaja laki-laki dan perempuan pada umumnya sama, namun dampak beban ini berbeda pada remaja perempuan dan laki-laki. Remaja perempuan lebih peka terhadap lingkungannya.

Kondisi stres yang berkepanjangan dan tidak teratasi dapat mempengaruhi homeostasis seluruh sistem tubuh manusia yang akan menimbulkan gangguan fisik dan psikologis, salah satunya adalah gangguan siklus menstruasi. Stres melibatkan sisteM

neuro endokrinologi sebagai sistem yang besar peranannya dalam reproduksi perempuan (Sorena, 2013).

Menurut (Shafira, 2019), bahwasanya gangguan kecemasan tingkat panik lebih sering dialami perempuan daripada laki-laki.

(Sorena, 2014) mengungkapkan bahwa berbagai macam perubahan emosi akibat suatu stresor telah dihubungkan dengan adanya fluktuasi hormonal selama siklus menstruasi. Depresi dan stres sering dialami oleh remaja perempuan dibandingkan dengan remaja laki-laki, hal ini disebabkan karena adanya rasa cemas yang tidak dapat diatasi, akibatnya remaja perempuan menderita beban psikis seperti takut, tidak senang, sakit pinggang dan sakit kepala, sedangkan remaja laki-laki yang mengalami stres akan lebih sering merokok dan minum alkohol. Stres pada remaja bertambah besar akibat pandemi Covid-19 yang sangat mempengaruhi respon fisiologis dan psikologis yang membentuk sebuah stres.

c. Tingkat Stress Remaja

Berdasarkan hasil penelitian, dari 95 orang remaja laki-laki dan remaja perempuan di wilayah Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu sebagian besar remaja (56,8%) mengalami tingkat stres yang normal.

Stres disebabkan oleh program-program, pola pikir, dan tingkat keagamaan mereka serta cara pengendalian stres itu sendiri. Stres pada remaja disebabkan oleh beberapa faktor, yaitu lingkungan, tekanan, dan pola pikir mereka.

Tingkat stres pada remaja beriringan dengan faktor tekanan, pola pikir, dan agama. Jika mereka memiliki tekanan yang banyak maka mengakibatkan tingkat stres semakin tinggi dan jika remaja memiliki tekanan yang rendah maka tingkat stresnya juga rendah.

Menurut (Sekar, 2020), seorang pelopor penelitian tentang stres, remaja rentan mengalami stres akibat mereka menanggung beban yang semakin berat, timbul rasa frustasi, mengalami gangguan/ kejadian besar dalam hidupnya, atau bahkan karena status sosial/

ekonominya. Menurut (Argiansa, 2014), stres normal yang dihadapi secara teratur dan merupakan bagian alamiah dari kehidupan.

Seperti dalam situasi kelelahan setelah

(9)

SNKA

Seminar Hasil Penelitian 2021

22 mengerjakan tugas, takut tidak lulus ujian, merasakan detak jantung berdetak lebih keras setelah aktivitas. Dampak pandemi Covid-19 membawa rasa takut dan kuawatir berlebihan terhadap seorang remaja, karena mereka dalam masa peralihan dan kematangan jasmani secara primer dan sekunder.

C. Keterbatasan Penelitian

Hasil penelitian ini memiliki kekurangan, Peneliti berharap responden yang mengisi kuesioner online terdiri dari kelas 1 (10), kelas 2 (11), dan kelas 3 (12), namun faktanya responden yang mengisi kuesioner hanya terdiri dari kelas 1 (10) dan kelas 3 (12). Penelitian ini terhambat akibat adanya covid-19, yang menyebabkan Peneliti tidak memiliki cukup waktu dan terbatasnya aktivitas secara langsung dengan siswa/siswi, sehingga apa yang diharapkan Peneliti belum terpenuhi.

KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian gambaran tingkat stress remaja pada masa pandemi covid-19 di SMKN 3 Kota Bengkulu maka dapat disimpulkan bahwa:

1. Terdapat 74 orang (77,9 %) remaja berusia 15-18 tahun.

2. Terdapat 59 orang (62,1 %) remaja berjenis kelamin perempuan.

3. Terdapat 54 orang (56,8 %) remaja yang mengalami tingkat stress normal

B. Saran

1. Bagi SMKN 3 Kota Bengkulu

Penelitian ini diharapkan dapat memberi informasi kepada guru-guru, wali murid, dan murid-murid di SMKN 3 Kota Bengkulu khususnya guru bidang Bimbingan Konseling dan guru agama agar dapat melakukan peningkatan program untuk cara mengelola dan mengendalikan stress pada siswa dan siswi di SMKN 3 Kota Bengkulu menuju ke hal positif yang membentuk jiwa yang baik terhadap remaja itu sendiri.

2. Bagi Institusi Pendidikan

Diharapkan karya tulis ilmiah ini dapat menjadi bahan bacaan bagi mahasiswa dan juga lebih meningkatkan dan memperbanyak literatur yang menunjang pada pembuatan Karya Tulis Ilmiah tentang gambaran tingkat stres remaja pada masa pandemi covid-19.

3. Bagi Peneliti Lain

Penelitian ini diharapkan mampu memberi masukan pada peneliti lain agar dapat mengembangkan penelitian ini untuk masa yang akan datang dengan variable yang berbeda.

DAFTAR PUSTAKA Dari Jurnal

[1] Ahadi Pradana, Anung. 2020. Pengaruh kebijakan social distancing pada wabah Covid-19 Terhadap Kelompok Rentan di Indonesia. Jawa Barat : Jurnal Kebijakan Kesehatan Indonesia.

[2] Antara. 2020. Survei: 64.3 % Dari 1.522 Orang Cemas dan Depresi Karena COVID-19. https://tirto.id/ survei-643- dari-1522-orang–cemas–depresi–karena–

covi –19–fgPG . Diakses pada 20 Agustus 2020.

[3] Arikunto, S., 2017, Pengembangan Instrumen Penelitian dan Penilaian Program. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

[4] Arikunto, Suharsimi., dkk. 2021.

Penelitian Tindakan Kelas. Jakarta:

Bumi Aksara.

[5] Argiansa, Afrian .2014.Hubungan Tingkat Stres. Purwekerto: UM.

[6] Ayu Yunuarti, Sri. 2014. Tari Cokek di Sanggar Sinar Betawi Padepokan Taman Mini Jakarta Timur. Jakarta Timur Universitas Pendidikan Indonesia.

[7] Fatmawaty, Riryn, 2017. Memahami Psikologi Remaja. Jurnal Reforma Vol.

VI No. 02, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, UNISLA.

[8] Lovibond, P.F., Lovibond, S.H. 1995.

(10)

SNKA

Seminar Hasil Penelitian 2021

23 The structure of negative emotional states: comparison of the Depression Anxiety Stress Scales (DASS) with the beck depression and anxiety inventories.

Behav Res Ther, 33(3), 335-343.

[9] Herdiyani, Dedeh. 2013. Jenis- Jenis Pengertian Stres. https://dedeh89- psikologi.blogspot.com/2013/04/pengerti a n-stress.html. Diakses tanggal 20 Agustus 2020.

[10] Indri Nasution, Kemala. 2007.Stress Pada Remaja. Medan: USU Repository [11] Setiawan, Kendi.2021. Tahap-tahap

Self Talk Hindari Stres Remaja di Masa Pandemi. Jakarta: Nuonline.

[12] Masruroh, F., 2015. Pengembangan Modul Akuntansi Piutang Berbasis Scientific Approach Pada Mata Pelajaran Akuntansi Keuangan. Jurnal Pendidikan Akuntansi (JPAK).

[13] Masturi. 2017. Hubungan Tingkat Stress dengan Siklus Menstruasi pada mahasiswi Keperawatan Semester VIII UIN Alauddin Makassar. Makassar: UIN Alauddin Makassar.

[14] Monks, F.J. Knoers, A.M.P., &

Haditono, S.R. 2008. Psikologi Perkembangan : Pengantar Dalam Berbagai Bagiannya, (Terjemahan Siti Rahayu Haditono). Yogyakarta: Gadjah Mada University.

[15] Notoatmodjo, S. 2018. Metodologi Penelitian Kesehatan. Cetakan Ketiga.

Jakarta: PT Rineka Cipta

[16] Nurafifah Syabaniah, Rifa. 2016.

Pengaruh Karakteristik Komputer berupa Kualitas Display Komputer dan

Pencahayaan terhadap timbulnya Computer Vision Syndrome (CVS) (Studi Kasus: Siswa-Siswi MA Al- Ma’Arif Cianjur). Sukabumi: Indonesian Journal on Computer and Information

Technology.

[17] Nursalam. 2016. Metodologi Penelitian Ilmu Keperawatan.

Jakarta: Salemba Medika.

[18] Ramadini, Indri. 2018. Gambaran Tingkat Stres Kerja Perawat Ruang Rawat Inap Instalasi Penyakit Dalam RSUP M DJAMIL PADANG. Semarang:

Jurnal SMART Keperawatan Sekolah Tingi Ilmu Kesehatan (STIKes) Karya Husada Semarang.

[19] Sekar Dwi Ananda , Sherien. 2020.

Mengatasi Stress pada Remaja Saat Pandemi Covid-19 dengan Teknik Self Talk. Jawa Barat: Prosiding Penelitian &

Pengabdian Kepada Masyarakat

[20] Sen-crowe B, Mckenney M, Elkbuli A.

2020. Social distancing during the COVID-19 PENDEMIC: Staying home save lives. Am J Emerg Med.;1–5.

[21] Setiawan, Hendra. 2015. Peranan Organisasi Intra Sekolah dalam Membentuk Karakter Siswa SMP Negeri di Kabupaten Magelang. Magelang:

Universitas Mulawarman.

[22] Shafira Putri, Hanita. 2019.

Hubungan Respon Timedengan Komunikasi terapeutik. Purwokerto:

UMP.

[23] Sorena, Esti, Samwilson Slamet. 2014.

Hubungan Tingkat Stres Terhadap Perubahan Pola Menstruasi Pada Mahasiswi Poltekkes Provinsi Bengkulu.Bengkulu: Jurnal Kesehatan Poltekkes Provinsi Bengkulu.

[24] Suci Ramadhani, Viska. 2014.

Hubungan Stress dengan Kejadian Insomnia pada Lansia di Panti Sosial Tresna Werdha Kasih Sayang Ibu Batu sangkar. Bukit Tinggi: Universitas Muhammadiyah Sumatera Barat.

[25] Sugiyono. 2017. Memahami Penelitian Kualitatif. Bandung: CV.

Alfabeta.

(11)

SNKA

Seminar Hasil Penelitian 2021

24 [26] Sudjana, N. 2016. Penilaian Hasil

Proses Belajar Mengajar. Bandung:

PT. Remaja Rosdakarya.

[27] Sugiyono. 2017. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif, dan R&D.

Bandung: Alfabeta, CV.

[28] Susilo. Adityo. 2020. Coronavirus Disease 2019: Tinjauan Literatur Terkini Coronavirus Disease 2019:

Review of Current Literatures. Jakarta:

Jurnal Penyakit Dalam Indonesia [29] Yhantiaritra. 2015. Kategori Umur

Menurut WHO. www. Wordpress.com.

Diakses tanggal 20 Agustus 2020 Tabel dan Gambar

Tabel 1. Karakteristik Responden Menurut Umur di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu Tahun 2020-2021 (n=95)

Umum Frekuensi Presentase (%) 12-15

tahun

14,8 14

15-18 tahun

77,9 74

18-21 tahun

7,3 7

Total 95 100

Tabel 2. Karakteristik Responden Menurut Jenis Kelamin di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu Tahun 2020- 2021(n=95)

Jenis Kelamin

Frekuensi Presentase (%) Laki-laki 36 37,9 Perempuan 59 62,1 Total 95 100

Tabel 3. Karakteristik Responden Menurut Kelas di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu Tahun 2020-2021 (n=95)

Kelas Frekuensi Presentase

(%)

Kelas 10

63 66,3

Kelas 12

32 33,7

Total 95 100

Tabel 4. Tingkat Stress Remaja di Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 3 Kota Bengkulu Tahun 2020-2021 (n=95)

Tingkat stress

Frekuensi Presentase (%)

Normal 54 56,8

Ringan 17 18,0

Sedang 18 18,9

Berat 4 4,2

Sangat berat

2 2,1

Total 95 100

Referensi

Dokumen terkait

Judul Response time pelayanan ambulance oleh masyarakat yang membutuhkan Dimensi mutu Tujuan Definisi operasional Frekuensi pengumpulan data Periode analisis Numerator

Berdasarkan hasil analisis kebutuhan melalui wawancara dengan pelatih renang di perkumpulan renang Taman Harapan Kota Malang, disimpulkan bahwa model latihan bervariasi

Tabel IV.8 Besar Suhu Lampu 15 Watt Terhadap Perubahan Kedudukan Sensor Suhu Robot B ...81.. Tabel IV.9 Pengiriman Data dari Robot A ke Robot B

Laporan skripsi dengan judul “Sistem Informasi Layanan Perhitungan Zakat Berbasis Web” telah dilaksanakan dengan tujuan untuk menghasilkan sebuah sistem layanan

Waralaba format bisnis adalah pemberian sebuah lisensi oleh seseorang kepada pihak lain, lisensi tersebut memberikan hak kepada penerima waralaba untuk berusaha dengan

Titik akhir titrasi adalah suatu kondisi dimana warna pada indikator berubah.20 Analisis titrimetri yang sering disebut titrasi volumetrik adalah metode penentuan kadar suatu zat

Menurut Lestari dan Sugiharto ROA adalah rasio yang digunakan untuk mengukur keuntungan bersih yang diperoleh dari penggunaan aktiva. Dengan kata lain, semakin tinggi

[r]