SEPAK BOLA DI SUMATERA UTARA: HARIMAU TAPANULI (1989-2004)
Skripsi Sarjana
Dikerjakan
o
L
E
H
NAMA : ALFREDO FRANCE
NIM
: 150706027PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS ILMU BUDAYA
UNTVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN
202s
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING SKRIPSI
SEPAI( BOLA DI SUMATERA UTARA: HARIMAU TAPANULI (1989-2004)
SKRIPSI SARJANA DIKERJAKAN
o
L
E H NAMA NIM
: ALFRE,DO FRANCE t 150746427
NIP.
I
1987031001untuk melengkapi salah satu hidang Ilmu Sejarah
panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya USU Medan, syarat ujian Sarjana Fakultas IImu Budaya dalam
PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAKULTAS ILMU BUI}AYA
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAl\[
2020
LEMBAR PERSETUJUAN UJIAN SKRIPSI
SEPAK BOLA
Ilt
SUMATERA UTARA: HARIMAU TAPAIIULI (1989-2004)Yang Iliajukan Oleh
NAMA
: ALFREDOFRANCENIM
t150706027Telah disetujui untuk diajukan dalam ujian skripsi oleh :
Pembimbing
Dr. Budi Tanggal .24 JufiZAZO
1987mlml
Ketua Progra Studi IImu Sejarah
Ilrs. Edi Sumarno" lE.Hum NrP. 196409221989031001
Tanggal : 24 Agustus 2020
PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH FAI(ULTAS ILMU BUDAYA T]NTVERSITAS SUMATERA UTARA
MEI}AN
Lembar Pengesahan Skripsi oleh Dekan Fakultas trmu Budaya USU dan Panitia Ujian Skripsi
Diterima oleh :
Panitia ujian Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera Utara untuk melengkapi salah satu syarat ujian Sarjana dalam Ilmu Sejarah pada Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera UtaraMedan, pada :
' Ju,n^L
: 01 S*nA*
e-oLoHari Tanggal
Panitia Ujian
1.
Drs. Edi Sumarno, M.Hum.2.
I)ra. Nina Karina, MSP3.
Dr. Budi Agustono, MS4.
Dra. Lila Pelita Hati' M. Sif,'akultas Ilmu Budaya
LEMBAR PERSDTUJUAN Kf, TUA PROGRAM STUDI
DISETUJIII OLEH
FAI(ULTAS ILMU BUDAYA
I]NIYERSTTAS SUMATERA UTARA MEI}AN
PROGRAM STUDI ILMU SEJARAH Ketua Program Studi Ilmu Sejarah
Ilrs. Edi Sumarno, M.Hum NrP. 1 96,40922 I 989031001
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkau kepada Tuhan Yang Maha Esa alas berkat-
Nya pada penulis sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul
"Sepak BoIa
Ili
Sumatera Utara: Harimau Tapanuli (1989-2004)'Dalam proses penulisan skripsi
ini
penulis banyak mengalami rintangan maupun hambatan, rurmun penulis banyak memproleh bantuan serta bimbingan yang sangat bernilai dari berbagai pihak tak terkecuali dari staf pengajar jurusan IlmuSejarah.
Penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif dari pembaca demi kesempumaan pnulisan ini. Akhir kata dengan segala kerendahan hati, besar harapan penulis kiranya skripsi ini bermanfaat bagi penulis dan siapapun ke depannya.
MedarL September 2020 Penulis
Alfredo France
NIM 150706027
UCAPAN TERIMA KASIH
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas segala limpahan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir penulis.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan tugas akhir mulai dari awal hingga akhir tidak terlepas dari masukan dan bimbingan dari berbagai pihak. Oleh karena itu pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih kepada:
1.
BapakDr. Budi
Agustono,MS
selaku Dekan FakultasIlmu
Budaya Universitas Sumatera Utara Medan yang juga selaku dosen pembimbing skripsi penulis. Penulis juga tak lupa menyampaikan rasa terima kasih kepadaWakil Dekan
I
Prof. Drs. Mauly Purba, M.A. Ph.d, Wakil DekanII
Dra.Heristina Dewi, M.pd, dan Wakil Dekan III Prof. Dr. Ikhwanuddin Nasution, M.Si atas berkat bantuan dan fasilitas yang penulis peroleh di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Sumatera
Utara
Medan hingga penulis dapat menyelesaikan studi.Bapak Drs. Edi Sumarno, M. Hum selaku Ketua Program Studi Ilmu Sejarah
f*uttu,
Ilmu Budaya USU yang telah memberikan dorongan dan nasehat kepada penulis baik selama perkuliahan maupun pada saat proses pengerjaan tugas akhir penulis. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada lbu Dra.Nina Karina, MSP selaku Sekretaris Program Studi Ilmu Sejarah.
Seluruh staff dosen pengajar Program Studi Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya yang telah banyak memberi ilmu pengetahuan, bimbingan, nasehat 2.
3.
dan dorongan selama penulis menjadi mahasiswa. Semoga iimu yang telah penulis terima bisa dapat bermanfaat bagi penulis. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Bapak Ampera Wira yang telah membantu penulis prihal
administrasi di Program Studi Ilmu Sejarah.
4.
Kedua orang tua penulis Alm. Bapak A. Siburian (+) d*n lbunda tersayang M.Simanjuntak yang telah ftretawat, membesarkan, mendidik, menafkahi, memberi dukungan dan nasehat kepada penulis. Terima kasih atas segala doa, didikan, kasih sayang pengorbanan serta segala hal yang tak terbatas dan tak henti-hentinya kepada penulis yang bisa penulis sebutkan dengan kata-kata yang menjadikan penulis bisa berada dalam tahap ini. Semoga aimarhum bapak tenang di alarn sana danjuga kepada ibunda tersayang penulis doakan agar selalu diberikan yang terbaik oleh Sang Khalik. Selain itu, penulis juga menyampaikan rasa terima kasih kepada saudara-saudari penulis (Talita Christeva Siburian dan Septiaa Yosafat Siburian) yang selalu mendukung penulis untuk tetap semangat. Terima kasih juga kepada semua keluarga besar pqnulis {Keluarga Besar Op. Jeremi Simanjuntak dan Keluarga Besar Op.
Bornok Siburian) atas kasih
saya$g?
dan nasehat yang tak hentidiberikan kepada penulis hingga saat ini,
5.
Abangda terbaik Rusman Sere Manik atas masulGn baik dukungan dankritikan selama proses perkuiiahan penulis yang juga
tak
leiah untuk mengingatkan penulis daiam segala hal untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.6.
Narasumber/informan yang bersedia meluangkan rvaktu dan kesempatanuntuk membantu penulis dalam memberikan data ataupun informasi yang berhubungan dengan obj ek penelitian pensulis.
7.
Kawau-kawan penulis sejak masih duduk di bangku SMA hingga saat ini ( Antonius Silalahi, Ivan Siahaan, Rox Tommy Silalahi dan Oloan Silalahi)hingga saat
ini
yengtak
hentijuga
mendorong, mensupport hingga mengingatkan penulis agar tetap semangat dantak
menyerah dalam menyelesaikan tugas akhir penulis.L
Chandra B. Sihotang selaku lae terbaik dan sekaligus salah seorang sahabatyang juga telah ada sejak penulis menginjakkan kaki di bangku perkuliahan hingga saat ini serta tak kenal lelah juga dalarn memberikan masukan baik berupa saran dan kritik kepada penulis baik dalam proses perkuliahan maupun di luar perkuliahan.
9.
Kawan-kawan penulis, seperti:Novita Sari
Tambunan, Ardiansyah Panggabean, Suprizal Naibaho, Teguh Marbun, Jati Indra, Jenni Adelia Damanik dan FaridaR.
Simbolon ya$g juga memberikan semangat dankepada penulis"
10. Satu stambuk penulis (2015) yangtelarh ada bersama penulis selama proses perkuliahan
11. Abang, kakak, serta adik-adik di Himpunan Mahasiswa Iknu Sejarah USU atas segala warna-warni suasana kampus yang penulis rasakan baik selama
aktif sebagai anggota maupun pengurus dalam Himpunan Mahasiswa Ilmu Sejarah USU.
12. Semua pihak yang terlibatyangtak bisa penulis sebutkan pribadi lepas pribadi yang telah membantu penulis baik sebelum proses penyusunan, proses penyusunan hingga setelah proses penyusulmn tugas akhir penulis.
Medan" 04 September 2020
Penulis
Alfredo France NIM: fi4706027
ABSTRAK
Sepak bota adalah salah satu olahraga yang paling banyak digemari tak terkecuali juga di Indonesia. Sepak bola juga semakin berkembang serta memiliki banyak manfaat seperti sebagai sebuah untuk mengenalkan suatu wilayah kepada masyarakat luas baik secara nasional ataupun internasional.
Metode penelitian
ini
menggunakan metode penelitian sejarah, yaitu:Heuristik, Kdtih Interpretasi dan Historiografi .
Harimau Tapanuli adalah klub sepak bola semi profesional yang didirikan oleh Johny Pardede dengan tujuan untuk mengangkat martabat orang kampung dan juga daerah asal DR. TD. Pardede, yakni: Tapanuli Utara. Johny Pardede yang juga gila akan sepak bola seperti ay*nya DR. TD. Pardede membangun Harimau Tapanuli menjadi sebuah klub sepak bola yang dikelola secara profesional meskipun hanya mengikuti kompetisi liga amatir. Berbagai macam terobosan yang dilalrukan untuk
Harimau Tapanuli, seperti: mengikuti turnamen berskala nasional maupun internasional, mendatangkan pemain-pmain
dari
benuabiru
(Eropa) hingga berprestasi dalam beberapa ajang tumamen sepak bola hingga menjadikan Tapanuli khususnya Tapanuli Utara sebagai kampung halaman DR. TD. Pardede semakin dikenal ke berbagai penjuru.Meski saat
ini
semakin banyak klub sepak bola yang dikelola pihak dri kalangan pebisnis bermunculan khususayadi
daerah Tapanuli ftrmun masih tak cukup juga untuk mengikuti jejakHarimau Tapanuli.Kata Kunci: Sepak bola, Harimau Tapanuli, DR. TD. Pardede.
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ... ... i
UCAPAN TERIMA KASIH... ... ii
ABSTRAK ... ... v
DAFTAR ISI ... ... vi
DAFTAR TABEL... .... vii
BAB I PENDAHULUAN ... ... 1
1.1 Latar Belakang Masalah ... ... 1
1.2 Rumusan Masalah ... ... 7
1.3 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... ... 7
1.4 Tinjauan Pustaka ... ... 8
1.5 Metode Penelitian... ... 13
BAB II LATAR BELAKANG PERKEMBANGAN HARIMAU TAPANULI... ... ……... ... 16
2.1 Sejarah Terbentuknya Harimau Tapanuli ... ... 16
2.2 Identitas Harimau Tapanuli ... ... 18
2.2.1 Lambang Harimau Tapanuli ... ... 18
2.2.2 Slogan Harimau Tapanuli ... ... 21
2.3 Sarana dan Prasarana Klub Sepak Bola Harimau Tapanuli ... ... 23
2.3.1 Markas Harimau Tapanuli ... ... 23
2.3.2 Mess ... ... 24
2.3.3 Kesekretariatan ... ... 27
2.4 Profil Umum Harimau Tapanuli ... ... 28
2.4.1 Struktur Kepengurusan Klub Harimau Tapanuli ... ... 28
2.4.2 Ketua Umum Harimau Tapanuli ... ... 29
2.4.3 Anggaran, Sumber Dana dan Jersey Harimau Tapanuli ... ... 35
BAB III MASA PERKEMBANGAN HARIMAU TAPANULI ... ... 40
3.1 Kiprah Harimau Tapanuli Sebagai Tim Non Perserikatan ... ... 40
3.2 Kiprah Harimau Tapanuli Pada Turnamen-Turnamen Sepak Bola ... ... 41
3.2.1 Marah Halim Cup ... ... 41
3.2.2 TD. Pardede Cup ... ... 47
3.2.3. Kejurnas Antar Klub Amatir ... ... 53
3.3 Prestasi-Prestasi Harimau Tapanuli ... ... 56
BAB IV MASA SURUT HARIMAU TAPANULI ... ... 58
4.1 Faktor Penyebab Bubarnya Harimau Tapanuli ... ... 58
4.1.1 Faktor Internal Klub Harimau Tapanuli ... ... 59
4.2.2 Faktor Eksternal Klub Harimau Tapanuli ... ... 63
4.2 Senja Kala Harimau Tapanuli ... ... 67
4.3 Dampak Bubarnya Harimau Tapanuli ... ... 69
4.3.1 Dampak Terhadap Persepakbolaan di Sumatera Utara ... ... 70
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN……… ……….. ... 73
5.1 Kesimpulan ... ... 73
5.2 Saran ... ... 76
DAFTAR SINGKATAN ... ... 79
DAFTAR PUSTAKA ... ... 81
DAFTAR INFORMAN ... ... 84
LAMPIRAN ... ... 85
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Klasemen Akhir Grup A Marah Halim Cup 1995 ... ... 43
Tabel 2 Klasemen Akhir Grup B Marah Halim Cup 1995 ... ... 44 Tabel 3 Klasemen Akhir TD Pardede Cup 1999 ... ... 52
DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I Daftar pemain Harimau Tapanuli ... 85
Lampiran II Johny Pardede selaku pemilik Hartap ... 87
Lampiran III Salah satu sisi bagian dalam ruang sekretariat Hartap ... 88
Lampiran IV Skuat Harimau Tapanuli ... 89
Lampiran V Lambang klub Harimau Tapanuli ... 90
Lampiran VI Stadion DR. TD. Pardede ... 91
Lampiran VII Mess pemain Harimau Tapanuli ... 92
Lampiran VIII Hartap saat juara kejurnas antarklub amatir se-Indonesia ... 93
Lampiran IX Harimau Tapanuli tur Eropa di Jerman tahun 1991 ... 94
Lampiran X Harimau Tapanuli juara TD. Pardede Cup tahun 2000 ... 95
Lampiran XI Beberapa pemain Hartap saat tur ke Malaysia ... 96
Lampiran XII Skuat Harimau Tapanuli tur ke Malaysia ... 97
Lampiran XIII Beberapa pemain Hartap yang ikut tur ke Malaysia ... 98
Lampiran XIV Pemain Hartap menikmati makanan saat tur Malaysia ... 99
Lampiran XV Perlengkapan pemain Harimau Tapanuli ... 100
Lampiran XVI Pemain Hartap ketika membawa perlengkapan ... 101
Lampiran XVII Skuat Hartap bersesi foto sebelum pertandingan ... 102
Lampiran XVIII Jairo Matos (salah satu pelatih Hartap) ... 103
Lampiran XIX Sesi wawancara dengan salah satu narasumber ... 104
Lampiran XX Stadion Sisingamangaraja Balige ... 105
BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Masalah
Hampir semua masyarakat di dunia mengenal sepak bola. Sepak bola telah menjadi bagian hidup masyarakat manapun di dunia. Kepopuleran sepak bola dapat dilihat dengan semakin banyaknya penikmat sepak bola baik pria dan wanita dari berbagai kalangan umur bermain sepak bola, antusias dalam menonton pertandingan sepak bola baik lewat layar kaca dan datang langsung ke stadion serta banyaknya pemain sepak bola yang menjadi ikon produk olahraga terkemuka. Sepak bola merupakan jenis permainan yang paling populer di dunia termasuk di Indonesia. Kapan pertama kali permainan ini belum dapat diketahui secara pasti. Namun, diperkirakan sepak bola muncul jauh sebelum tahun Masehi.1
Di Cina, dalam sebuah dokumen militer disebutkan sejak 2500 SM pada masa pemerintahan Dinasti Tsin dan Han, orang-orang sudah memainkan permainan bola yang disebut tsu chu.2 Mereka bermain bola yang terbuat dari kulit binatang dan berisi bulu dan rambut dengan cara menendang serta menggiringnya ke sebuah jaring sutra yang dibentangkan pada dua tiang setinggi
1Eddy Elison, PSSI Alat Perjuangan Bangsa, Jakarta: PSSI, 2005, hal. 1.
2Tsu artinya menendang bola dengan kaki. Sedangkan chu berarti bola dari kulit dan ada isinya.
10 cm dan lebar 40 cm. Permainan ini dilakukan untuk melatih fisik prajurit perang Cina.
Sedangkan standar aturan sepak bola diterapkan pertama kali di Inggris pada tahun 1863. Inggris memang tercatat sebagai negara yang menyebarkan sepak bola dan aturannya ke seluruh dunia khususnya ke negara-negara koloninya yang menyebar di hampir semua benua.
Pada tahun 1885, permainan sepak bola di Eropa terutama di Inggris mulai dianggap sebagai salah satu industri, bisnis serta untuk mengangkat status sosial.
Saat itu mulai dikenal adanya pemain bayaran atau disebut pemain profesional seperti sekarang. Kompetisi liga antar klub dalam satu negara pertama kali diselenggarakan oleh Inggris pada tahun 1888. Kompetisi tersebut mendorong berkembangnya sepak bola modern di dunia.3 Tidak adanya badan internasional yang mengatur permainan sepak bola di dunia internasional membuat perkembangan sepak bola sedikit terhambat sehingga pada tanggal 21 Mei 1904 dibentuk badan sepak bola internasional yang disebut Federation International de Football Association (FIFA) di Paris, Perancis.4 Sejak FIFA terbentuk, sepak bola di dunia berkembang dengan pesat. Hal tersebut karena tugas FIFA juga untuk melakukan promosi dan sosialisasi tentang sepak bola. Hingga kini FIFA telah memiliki anggota lebih dari 200 negara.
3Rangga, Muhammad Ariefuddin. ”PSSI Pada Masa Kepemimpinan Djojohadikoesoemo”.
Skripsi Ilmu Sejarah. Belum Diterbitkan. Jakarta: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, 2009, hal. 3.
4Hendri Firzani, Segalanya Tentang Sepak Bola, Jakarta: Penerbit Erlangga, 2010, hal.14.
Di Indonesia, awal mula sepakbola tidak terlepas dari pengaruh kolonial Belanda. Sepak bola di Hindia Belanda pertama kali diperkenalkan oleh bangsa Belanda yang datang sebagai pekerja di instansi pemerintah Hindia Belanda.
Pekerjaan yang dilakukan bangsa Belanda di instansi pemerintahan Hindia Belanda, seperti: pegawai perkebunan, pegawai kantor perdagangan, perkapalan dan karyawan pertambangan. Mereka bermain sepak bola sebagai rekreasi dan menjaga kesehatan tubuh.5
Orang Belanda dianggap sebagai perintis sepak bola di Hindia Belanda dikarenakan letak geografis wilayah Belanda yang dekat dengan Inggris dan Inggris adalah pelopor sepak bola modern. Maka sudah tentu sebagai negara yang berdekatan dengan Inggris menjadikan sepak bola dengan cepat menyebar di Belanda. Bukti dari cepatnya pengaruh sepak bola menyebar dan diterima di Belanda adalah pendirian organisasi sepak bola, seperti: Football Association (FA) milik Inggris, yakni: bernama Koninklijke Nederlandsche Voetbal Bond (KNVB) pada tahun 1889 di Belanda yang merupakan organisasi kedua setelah Perancis (1872) yang terlebih dahulu membentuk organisasi sepak bola seperti FA.6
Pada awalnya sepak bola di Indonesia hanya dimainkan oleh bangsa- bangsa barat terutama orang Belanda. Kemudian etnis Tionghoa mengikutinya
5Srie Agustina Palupi, Politik dan Sepak bola, Yogyakarta: Ombak, 2004, hal. 24.
6M. Daud Darmawan, Menelusuri Jejak-jejak Kuno Sejarah Sepak bola Dunia, Yogyakarta:
Pinus Book Publisher, 2007, hal. 45.
sedangkan bagi orang-orang Indonesia asli atau bumi putera yang mengikuti terbatas. Dalam artian bahwa hanya orang Indonesia asli yang sederajat dengan orang Belanda yang boleh memainkannya. Ketika sepak bola semakin umum dimainkan oleh orang Belanda, masyarakat Indonesia mulai menaruh perhatian dan dengan mudah memahami permainan sepak bola. Hal tersebut disebabkan orang Indonesia telah mengenal sebuah permainan yang mirip dengan sepak bola, yaitu: sepak takraw yang menggunakan bola dari anyaman rotan.7
Perkembangan sepak bola di Sumatera Utara khususnya di kota Medan sendiri telah dimulai sebelum Indonesia merdeka. Artikel yang dirilis oleh Rec.Sprot.Soccer Statistic Foundation (RSSSF) mencatat, sepak bola pertama kali di Hindia Belanda terjadi di Medan. Organisasi bernama Gymnastiek Vereeniging yang berdiri pada tanggal 16 November 1887 yang merupakan organisasi olahraga senam pada awalnya memainkan olahraga kriket dan sepak bola. Pada akhir 1890- an, sebuah tim dari Penang datang bertanding. Setelah pertandingan melawan tim dari Penang, sepak bola sempat terhenti menyusul vakumnya kegiatan organisasi senam tersebut. Surat kabar De Sumatera Post edisi 31 Mei 1904 mengemukakan bahwa pada Juni 1899 sepak bola kembali dimainkan menyusul lahirnya klub olahraga Sportclub Sumatra’s Oostkust. Kehadiran klub olahraga tersebut untuk melanjutkan kegiatan Gymnastiek Vereeniging sejak 1887.Klub sepak bola
7Srie Agustina Palupi, Op.Cit., hal. 25.
tersebut didirikan bukan untuk mengukir prestasi namun hanya sekedar untuk bersenang-senang.8
Hingga akhirnya berdiri organisasi sepak bola selama kependudukan Belanda dan semasa Negara Sumatera Timur, Oost Sumatera Voetbal Bond (OSVB) pada tahun 1915 dan Voetbal Bond Medan en Omstreken (VBMO) pada tahun 1949.
Kemudian pada tahun 1950 diubah namanya menjadi Persatuan Sepak Bola Medan Sekitarnya atau yang disingkat menjadi PSMS.9 Oost Sumatera Voetbal Bond (OSVB) yang berada di bawah naungan Nederland Indische Voetbal Bond (NIVB)10 merupakan cikal bakal PSMS berdiri. Dalam surat kabar De Sumatera Post edisi 15 November 1917 juga ditemukan artikel berjudul “Deli, de Volksraad en de Voetbal” (Deli, Dewan Perwakilan Rakyat dan Sepak bola) menjelaskan bagaimana sebuah klub sepak bola bernama Boeih Merdeka menjadi bagian dari kampanye pemilihan anggota volksraad (dewan perwakilan rakyat).
Kandidat anggota tersebut di antaranya Mr. Baradja, T. Moesa dan Dr. Abdul
8Zen RS. “Genealogi Sepakbola Indonesia (Bagian 2): Sepakbola dan Kolonialisme, Detik, https://m.detik.com/sepakbola/pandit/d-2221733/voetbal-volksraad-dan-hari-sepakbola-hindia- belanda diakses pada tanggal 8 Juli 2019 pukul 17:12 WIB.
9Tim Penyusun Sejarah Olahraga Sumatera Utara, Sejarah Olahraga Sumatera Utara, Medan:
Hasmar, 1992, hal. 64.
10NIVB (Nederlandsche Indische Voetbal Bond) adalah organisasi sepak bola bentukan orang- orang Belanda di Indonesia pada zaman penjajahan.
Rasjid. Nama terakhir berhasil menjadi anggota volksraad mewakili Sumatera Utara dan karir politiknya bertahan hingga kedatangan Jepang.11
Selain PSMS Medan, ada juga berdiri sebuah tim sepak bola bernama Harimau Tapanuli. Klub sepak bola yang biasa disebut Hartap ini merupakan klub semi profesional asal Sumatera Utara yang didirikan di Balige pada tahun 1989 oleh Johny Pardede. Johny Pardede merupakan putra ketiga DR. TD. Pardede, tokoh sepak bola nasional yang juga pemilik eks klub papan atas Galatama,12 Pardedetex.13
Setelah Pardedetex bubar, DR. TD. Pardede melalui anaknya Johny Pardede yang sebelumnya merupakan manajer Pardedetex mendirikan Hartap dengan maksud mengangkat citra orang Batak terutama etnis Tapanuli Utara.14 Nama Harimau Tapanuli sendiri memiliki makna. Harimau sendiri adalah raja hutan. Hingga Johny bercita-cita untuk menjadikan Hartap sebagai raja sepak bola.15
Uniknya, meski dikelola secara serius Hartap tidak pernah mengikuti Galatama yang merupakan kompetisi nasional resmi bagi klub
11Zen RS. “Genealogi Sepak bola Indonesia (Bagian 2): Sepak bola dan Kolonialisme, Detik, https://m.detik.com/sepakbola/pandit/d-2221733/voetbal-volksraad-dan-hari-sepakbola-hindia- belanda diakses pada tanggal 10 Juli 2019 pukul 17:05 WIB.
12Galatama (Liga Sepak bola Utama) adalah kompetisi sepak bola nasional pertama di Indonesia sejak PSSI berdiri.
13Pardedetex bahwa Pardedetex adalah tim sepak bola yang berbasis di Medan yang dibentuk oleh DR. T. D. Pardede pada tahun 1969 dan dibubarkan pada tahun 1984.
14Eko Nurhada. “Harimau Tapanuli”, Kompasiana, diakses dari https://www.kompasiana.com/bungeko/550b635a813311f813b1e5c0/harimau-tapanuli pada tanggal 20 Juni 2019 pukul 20:14 WIB.
15Team Tobatabo. “Klub Sepakbola Harimau Tapanuli Riwayatmu Dulu”, Tobatabo, diakses dari https://www.tobatabo.com/1637+klub-sepakbola-harimau-tapanuli-riwayatmu-dulu.htm pada tanggal 21 Juni 2019 pukul 16:50 WIB.
nonperserikatan saat itu. Hartap memilih malang melintang di turnamen- turnamen antarklub, seperti: Piala TD. Pardede, Marah Halim Cup, Piala Cakradonya (Aceh) dan Piala Tirtanadi. Harimau Tapanuli bubar pada pertengahan 2004.
Berdasarkan pemaparan di atas, penulis tertarik untuk membahas
“Sepak bola di Sumatera Utara (Studi Kasus: Harimau Tapanuli (1989- 2004))”. Alasan penulis membahas Harimau Tapanuli dikarenakan Harimau Tapanuli merupakan salah satu tim sepak bola asal Sumatera Utara yang pernah berkiprah di dunia persepakbolaan Indonesia namun tidak pernah terlibat dalam kompetisi resmi PSSI dan juga merupakan salah satu klub sepak bola yang cukup eksis di daerah Sumatera Utara khususnya Tapanuli di balik adanya nama besar PSMS Medan dan PSDS Deli Serdang. Sedangkan dalam hal pembatasan tahun, penulis memilih tahun 1989 sebagai awal penulisan dikarenakan Hartap berdiri pada tahun 1989 dan tahun 2004 sebagai batas akhir penulisan dikarenakan Hartap dibubarkan pada tahun 2004.
1.2 Rumusan Masalah
Rumusan masalah merupakan sebuah landasan penelitian yang berguna untuk mengetahui hal-hal apa saja yang akan dibahas dan menjadi akar permasalahan dalam sebuah penelitian. Maka sesuai dengan judul penelitian
“Sepak bola di Sumatera Utara, Studi Kasus: Harimau Tapanuli (1989-2004)”
dibuat suatu batasan pokok masalah penelitian yang dirangkum dalam beberapa pertanyaan, yaitu:
1. Bagaimana latar belakang berdirinya Harimau Tapanuli sebagai sebuah klub sepak bola di Sumatera Utara tahun 1989?
2. Bagaimana pasang surut Harimau Tapanuli pada tahun 1989-2004?
3. Bagaimana proses bubarnya Harimau Tapanuli tahun 2004?
1.3 Tujuan Penelitian
Setelah mengetahui apa yang menjadi pokok permasalahan dalam penelitian, maka ada hal yang menjadi tujuan dan manfaat yang dapat diambil dari penelitian ini.
Adapun tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk menjelaskan awal Harimau Tapanuli dibentuk sebagai sebuah klub sepak bola.
2. Untuk menjelaskan proses perkembangan Harimau Tapanuli dalam dunia sepak bola khususnya di Sumatera Utara.
3. Untuk menjelaskan hal-hal yang menjadi akar permasalahan Harimau Tapanuli dibubarkan sebagai sebuah klub sepak bola.
Adapun manfaat dari penelitian ini adalah :
1. Sebagai bahan edukasi bagi penulis dan masyarakat tentang sepak bola khususnya klub sepak bola Harimau Tapanuli tahun 1989-2004.
2. Diharapkan penelitian ini dapat menjelaskan dampak Harimau Tapanuli bagi perkembangan sepak bola di Sumatera Utara.
3. Penelitian ini dapat berguna bagi para sejarawan sebagai bahan rujukan dalam penulisan tentang persepakbolaan di Sumatera Utara secara khusus.
1.4 Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka adalah pintu gerbang pengantar dalam melakukan penelitian untuk menelusuri kajian yang akan diteliti. Sebagai gambaran teori, tinjauan pustaka menjadi acuan awal penelitian. Untuk itu beberapa referensi penulis pergunakan di antaranya:
Eri Arianto (2010) dalam skripsi Marah Halim Cup (1972-1995) menjelaskan bahwa turnamen Marah Halim Cup merupakan turnamen sepak bola yang awalnya diikuti klub-klub lokal di Indonesia lalu menjelma menjadi turnamen internasional yang dijadikan kalender tahunan FIFA dan AFC.
Pemberian nama “MARAH HALIM CUP” tidak lain sebagai tanda terima kasih masyarakat di Sumatera Utara khususnya atas pembinaan Gubernur Sumatera Utara, Marah Halim Harahap terhadap semua cabang olahraga terutama sepak bola. Literatur ini membantu penulis untuk melihat rekam jejak Harimau Tapanuli
ketika mengikuti turnamen Marah Halim Cup yang merupakan salah satu turnamen sepak bola bergengsi pada masa itu.
Hinca Panjaitan (2013) dalam Kedaulatan negara versus kedaulatan FIFA menjelaskan tentang pertandingan sepak bola yang selalu menarik perhatian banyak kalangan. Pertandingan sepak bola yang dikelola dengan baik dapat menjadi sarana memajukan kesejahteraan umum. Oleh karena itu, negara kerap tergoda untuk melakukan intervensi atas sepak bola dengan menerapkan hukum nasionalnya. Negara dan pihak-pihak yang berkepentingan lupa bahwa sepak bola milik FIFA bukan milik negara. Jika negara mengintervensi, FIFA bisa dan berhak melarang sepak bola dipertandingkan di suatu negara. Intervensi negara bisa membuat sepak bola tidak pernah ada di negara tersebut.
Sepak bola adalah permainan yang dikuasai dan dikontrol FIFA secara penuh dan berdaulat, maka kompetisi sepak bola pun dikelola dan dimiliki oleh FIFA. Tetapi karena pertandingan sepak bola membutuhkan lapangan yang merupakan milik dan ada di bawah kedaulatan sebuah negara, maka tak ada pertandingan sepak bola tanpa izin negara. Literatur ini membantu penulis untuk melihat sejauh mana peran pemerintah terhadap Hartap dalam hal penyelenggaraan pertandingan, seperti: penyediaan lapangan atau stadion sepak bola sebagai tempat berlangsungnya pertandingan sepak bola.
R. N. Bayu Aji (2018) dalam Mewarisi Sepak Bola, Budaya dan Kebangsaan Indonesia menjelaskan bahwa sepak bola adalah simbol ideologi, perlawanan, politik, semangat daerah (golongan), jati diri bangsa, candu dan penggerak massa terbesar di bumi ini. Di Indonesia, simbol perlawanan adalah saat berdirinya organisasi sepak bola Indonesia bernama PSSI pada 19 April 1930.
PSSI secara nama adalah simbol perlawanan Bumi Putera terhadap kolonialisme Belanda yang juga memiliki organisasi sepak bola bernama Nederland Indische Voetbal Bond (NIVB). Berdirinya PSSI juga bukan hanya tentang sepak bola melainkan terdapat juga muatan politis, jati diri bangsa dan penggerak massa.
Bukan hanya tentang jati diri bangsa, sepak bola juga menjadi identitas kedaerahan bagi para pelaku dan pendukung.
Dinamisnya geliat sepak bola pun tidak hanya melahirkan konflik vertikal.
Tetapi, konflik horizontal yang melibatkan antar klub daerah di mana banyaknya gesekan suporter sepak bola antar daerah yang merebak baik di dalam negeri dan luar negeri.
Namun, kembali bahwa sepak bola adalah candu dan jati diri bangsa yang terlihat di mana para suporter sepak bola akan melepas identitas kedaerahannya pada saat mendukung tim sepak bola nasional.
Dalam lampauan batas lainnya, sepak bola juga menjelma menjadi
„agama‟ tidak hanya bagi pemainnya, tetapi juga bagi para pendukungnya.
Literatur ini membantu penulis untuk melihat pengaruh Hartap sebagai sebuah klub sepak bola serta sebagai sebuah identitas kedaerahan yang pernah ada di
Sumatera Utara terhadap kehidupan masyarakat khususnya masyarakat Balige yang menikmati sepak bola.
Anung Handoko (2008) dalam Sepak Bola Tanpa Batas: City of Tolerance menjelaskan bahwa pada mulanya sepak bola diciptakan sebagai sarana mengisi waktu luang sembari utuk berolahraga. Akan tetapi saat ini, sepak bola menjelma menjadi permainan mahal karena menjadi media bisnis besar- besaran yang melibatkan para penguasa di dunia. Sepak bola memiliki keunikan, seperti: sepak bola memiliki magnet luar biasa bagi masyarakat luas. Selain itu, sepak bola juga bukan sekedar menarik dalam kompetisi olahraga atau event besar.
Olahraga yang paling digemari di seluruh dunia ini juga menjadi fokus interaksi publik. Suporter yang merupakan salah satu elemen penting dalam sepak bola yang turut juga mewarnai perkembangan sepak bola dari masa ke masa.
Literatur ini membantu penulis untuk melihat sejauh mana Harimau Tapanuli sebagai klub sepak bola profesional mampu menarik minat masyarakat dan juga melihat respon masyarakat untuk menyaksikan ataupun mendukung Harimau Tapanuli ketika masih berdiri sebagai sebuah klub sepak bola.
Ubaidillah Nugraha (2008) dalam Republik Gila Bola menjelaskan tentang suporter yang erat kaitannya akan perasaan cinta dan fanatisme terhadap klub kebanggaan. Sepak bola tidak hanya terlibat dalam bidang bisnis, sosial, politik dan lifestyle (gaya hidup). Suporter bisa dikatakan sebagai inspirator permainan dan sering disebut sebagai pemain kedua belas dalam dunia sepak bola.
Literatur ini membantu penulis untuk melihat reaksi ataupun dukungan masyarakat Balige khususnya para kaum pria mendukung Harimau Tapanuli sebagai klub kebanggaan yang pernah malang melintang dalam dunia sepak bola Indonesia.
Arief Natakusumah (2013) dalam Drama Itu Bernama Sepak Bola:
Gambaran silang sengkarut olah raga, politik dan budaya menjelaskan tentang sepak bola dapat mengatasnamakan apa saja mulai dari politik, sosial, ekonomi, budaya hingga agama. Sepak bola menjadi barometer ideal dalam hubungan internasional hingga ketegangan antarbangsa.
Sepak bola juga dapat menjadi alat politik dalam skala nasional bahkan internasional. Banyak negara mengekspresikan jati diri melalui tim sepak bolanya.
Literatur ini membantu penulis untuk melihat bahwa sepak bola tidak lepas dari pengaruh politik dan melihat kondisi Hartap sebagai sebuah klub sepak bola yang dibentuk dan dimiliki oleh pebisnis dan juga merupakan anak politikus.
1.5 Metode Penelitian
Dalam penulisan sejarah ilmiah, pemakaian metode sangatlah penting.
Metode penelitian sejarah sering disebut sebagai metode sejarah. Metode adalah suatu prosedur atau cara untuk mengetahui sesuatu yang mempunyai langkah- langkah sistematis. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
historis, yaitu: proses menguji dan menganalisis secara kritis rekaman dan peninggalan masa lalu berdasarkan data yang diperoleh. Menurut Louis Gottschalk, ada empat tahap yang digunakan dalam penelitian.16 Langkah-langkah yang dilakukan dalam penelitian ini adalah:
1. Heuristik, yaitu: tahap awal yang dilakukan untuk mencari data-data melalui berbagai sumber-sumber yang relevan dengan penelitian yang dilakukan.
Dalam tahap ini sumber data dapat diperoleh melalui dua cara, yaitu: studi lapangan dan studi kepustakaan. Data hasil dari studi lapangan dapat melalui wawancara dengan berbagai informan yang terkait dengan penelitian yang digunakan terhadap masyarakat Balige, mantan pemain dan mantan jajaran manajemen Harimau Tapanuli. Sedangkan studi kepustakaan dapat diperoleh dari berbagai buku, dokumen, arsip, dan lain sebagainya. Penelitian ini menggunakan teknik-teknik sebagai berikut:
Teknik wawancara. Cara ini merupakan teknik pengumpulan data yang
secara langsung ke Balige sebagai kota Harimau Tapanuli didirikan untuk memperoleh data dari pelaku sejarah itu sendiri dengan terlebih dahulu menerapkan kriteria informan dan model wawancara.
Studi kepustakaan. Cara ini dilakukan sebelum ke lapangan untuk
mengumpulkan sumber sekunder yang relevan dengan masalah yang dikaji.
Sumber sekunder diperoleh dari Perpustakaan Universitas Sumatera Utara, tesis-
16Louis Gottschalk, Mengerti Sejarah, diterjemahkan oleh Nugroho Notosusanto, Jakarta: UI Press, 1985, hal. 32.
tesis, buku-buku, hasil laporan penelitian, jurnal-jurnal, Sumatera Utara, Perpustakaan dan Arsip Provinsi Sumatera Utara.
2. Kritik Sumber, yaitu: proses yang dilakukan peneliti untuk mencari nilai kebenaran data sehingga dapat menjadi penelitian yang objektif. Di mana dalam tahap ini sumber-sumber yang telah terkumpul dilakukan kritik baik kritik internal maupun eksternal.
Kritik internal, kritik yang dilakukan untuk mencari kesesuaian data
dengan permasalahan yang diteliti dan memperoleh dokumen yang kredibel dengan menganalisis dokumen yang tertulis. Menganalisis buku-buku atau dokumen yang berkaitan dengan perkembangan tim sepak bola Harimau Tapanuli melalui metode membandingkan dengan sumber yang lain.
Kritik eksternal, kritik yang mencari kebenaran sumber yang diambil oleh
peneliti maupun fakta yang diperoleh dari wawancara yang dilakukan dengan informan.
3. Interpretasi, yaitu: hasil penganalisaan terhadap sumber-sumber yang diteliti. Dalam hal ini data yang diperoleh dianalisis sehingga sifatnya lebih objektif. Dengan perkataan lain data-data yang diperolehdi analisis sehingga menjadi fakta.
4. Historiografi, yaitu: penyusunan kesaksian yang dapat dipercaya menjadi satu kisah atau kajian yang menarik dan selalu berusaha memperhatikan aspek kronologisnya. Historiografi juga merupakan klimaks dari sebuah metode
sejarah.17 Metode yang dipakai dalam penulisan ini adalah deskriptif analisis, yaitu: dengan menganalisis setiap data dan fakta yang ada untuk mendapatkan penulisan sejarah yang kritis. Dari fakta-fakta tentang perkembangan dan bubarnya Harimau Tapanuli yang sudah diuji dengan metode sejarah maka ditulis berdasarkan kronologi waktu.
17Sartono Kartodirdjo, Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia, Jakarta:
Gramedia, 1982, hal. 58.
BAB II
LATAR BELAKANG PERKEMBANGAN HARIMAU TAPANULI
2.1 Sejarah Terbentuknya Harimau Tapanuli
Sepak bola adalah suatu cabang olahraga yang sangat populer dan digemari di seluruh dunia termasuk di Indonesia. Banyak hal dalam sepak bola yang kemudian menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk memainkan ataupun hanya untuk sekedar menonton pertandingan sepak bola.
Belum ada keterangan pasti tentang kapan masuknya sepak bola di wilayah Hindia Belanda Pada tahun 1890 didirikan Football Clubs di Hindia Belanda. Kemudian berlanjut di Bandung pada tahun 1900 dengan didirikannya Bandung Voetbal Club (BVC) yang merupakan perkumpulan pemain sepak bola Oud Holland yang bekerja di kota tersebut. Tak ketinggalan, orang-orang Tionghoa juga membentuk organisasi sepak bola bernama Tiong Hoa Un Tong Hwee (THUTH) pada tahun 1905 dan Union Makes Strength (UMS) pada tahun 1912. Hal tersebut juga memacu para pribumi untuk ikut membentuk organisasi sepak bola bernama Indonesia Voetbal Bond pada tahun 1902 di Surabaya yang diprakarsai oleh pedagang pribumi bernama H.M. Djen.
Lalu di tahun 1908, diprakarsai oleh kerabat dan pegawai Keraton Kesunanan Surakarta masa Susuhunan Pakubuwono X dibentuk organisasi sepak bola romeo yang merupakan perkumpulan pribumi pertama.18
Dalam dunia sepak bola Indonesia khususnya Sumatera Utara, Harimau Tapanuli adalah salah satu klub sepak bola semi profesional yang cukup dikenal dengan prestasi gemilang.
Harimau Tapanuli atau biasa disebut Hartap didirikan oleh anak ketiga DR.TD. Pardede, Johny Pardede. Johny Pardede juga sebelumnya merupakan manajer dari klub sepak bola Pardedetex.19 Tujuan pembentukan klub semata- mata hanya mengangkat nama Tapanuli Utara di tingkat nasional. Pembentukan Hartap yang ada pada dasarnya muncul dari ide Pak Ketua (sebutan untuk DR.
TD. Pardede) telah banyak mengandung unsur positif terutama dalam perluasan wawasan Tapanuli Utara di bidang olahraga sepak bola. Oleh karena itu sampai sekarang masyarakat Tapanuli Utara tetap menyelenggarakan TD. Pardede Cup. 20
Hal lain yang menginisiatif Johny Pardede untuk kembali menjadikan sepak bola sebagai salah satu cara memperkenalkan Tapanuli Utara secara khusus
18Adilhaksono Dwi Dody. Persija (1970-1990), “Dinamika Perkembangan Sepak Bola di Jakarta”. Skripsi Ilmu Sejarah. Belum Diterbitkan. Depok: Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia, 2012, hal. 3.
19Pardedetex adalah sebuah klub sepak bola yang pernah didirikan oleh DR.T.D. Pardede sekaligus menjadi salah satu klub sepak bola yang merintis pendirian Galatama (Liga Sepak Bola Utama).
20Ny. Sariaty P.R. Siregar Br. Pardede, dkk, IN-MEMORIAM Delapan Tahun DR.TD.
Pardede (18-11-1991 s/d 18-11-1999), Medan: Bali Scan dan Percetakan Jln. Mesjid, 1999, hal.
109.
kepada masyarakat adalah dikarenakan Johny Pardede termasuk dalam kepengurusan Perstu (Persatuan Sepak bola Tapanuli Utara) saat itu.
Belum merasa puas dengan posisi sebagai salah satu pengurus Perstu untuk memajukan dan mengenalkan Tapanuli Utara membuat Johny Pardede akhirnya mendirikan Harimau Tapanuli sebagai salah satu klub yang berada di bawah bonden Perstu.21
2.2 Identitas Harimau Tapanuli
Setiap klub sepak bola pada umumnya memiliki identitas tersendiri hingga membuat sebuah klub sepak bola berbeda dengan klub sepak bola lainnya. Selain sebagai alat untuk membedakan dengan klub sepak bola lainnya, identitas sebuah klub sepak bola juga memiliki ciri khas masing-masing. Mulai dari lambang, suporter hingga julukan klub sepak bola itu sendiri.
2.2.1 Lambang Harimau Tapanuli
Setiap klub sepak bola memiliki logo atau lambang yang merupakan identitas dan juga kebanggaan dari klub sepak bola tersebut. Lambang ataupun logo dari sebuah klub sepak bola biasanya tercipta ataupun terinspirasi dari identitas kedaerahan klub sepak bola tersebut. Hal tersebut dapat kita lihat pada sejumlah klub sepak bola di Indonesia yang telah ada sejak era Galatama dan Perserikatan, seperti: PSMS Medan yang memiliki lambang klub Tembakau Deli
21Wawancara. Viktor Simamora, Mess Pemda TK. II. Tapanuli Utara, Jln. Kemiri II No. 11, Sudirejo II, Medan Kota, Medan pada tanggal 29 Januari 2020.
sebagai komoditas kebanggaan pada zaman penjajahan dulu yang terkenal hingga ke mancanegara.
Selain itu ada juga Persija Jakarta yang juga menggunakan Monumen Nasional sebagai ikon terkenal dari Daerah Khusus Ibukota Jakarta. Tak berbeda dengan Harimau Tapanuli yang juga memiliki lambang klub sebagai identitas dan juga kebanggaan dari adanya Harimau Tapanuli.
Namun pembentukan sebuah klub sepak bola dengan nama Harimau Tapanuli cukup unik saat itu. Hal tersebut didasarkan pada di mana “persatuan sepak bola” dengan menggunakan awalan “per” dan “ps” adalah awalan-awalan yang paling lazim digunakan kesebelasan-kesebelasan di seluruh Indonesia terutama bagi yang dulunya berkompetisi di Perserikatan. Kesebelasan- kesebelasan tersebut menggunakan “persatuan sepak bola” baik ditulis dengan menggunakan “per” atau “ps” di bagian awal nama yang kemudian dilanjutkan dengan identitas mereka. Kebanyakan kesebelasan-kesebelasan tersebut berkompetisi di Perserikatan sehingga fanatisme daerah sangat pekat dalam sejarah mereka. Oleh karena itu, memasukkan elemen nama daerah seperti menjadi suatu keharusan agar seluruh Indonesia secara khusus mengetahui dari mana asal klub tersebut.22
22Muhartadi Siregar. Sepak bola Indonesia di Antara “Per” dan ”PS”, Pandit Football, https://www.panditfootball.com/panditcamp/184386/PSH/150828/sepakbola-indonesia-di-antara- per-dan-ps diakses pada tanggal 1 April 2020 pukul 22:23 WIB.
Harimau Tapanuli sendiri memiliki lambang klub, yakni: Kepala Harimau Sumatera (Panthera Tigris Sumatrae) dengan tulisan Harimau Tapanuli di bawah kepala harimau tersebut.23 Nama Harimau Tapanuli sendiri memiliki makna.
Harimau sendiri adalah raja hutan. Sedangkan Tapanuli adalah wilayah yang mayoritas ataupun domisili masyarakat suku Batak. (Lihat di lampiran gambar 4:
Lambang Klub Harimau Tapanuli)
Selain itu, nama kota Balige (ibu kota Kabupaten Toba saat ini) sebagai kota asal sekaligus kota kelahiran DR. T. D. Pardede yang merupakan ayah dari Johny Pardede disematkan pada logo Harimau Tapanuli. Hingga Johny bercita- cita untuk menjadikan Hartap sebagai raja sepak bola.24
Tujuan pembentukan klub ini semata-mata hanya untuk mengangkat nama Tapanuli Utara di tingkat nasional walaupun pada akhirnya nama Harimau Tapanuli (Hartap) sudah tidak asing lagi di dunia internasional.
Pembentukan Hartap mendapat dukungan dari berbagai pihak baik dari pihak Pemda Taput maupun dari masyarakat setempat. Hal ini terbukti dari ambisi pecinta sepak bola yang menyaksikan setiap pertandingan yang diselenggarakan oleh Hartap. Pembentukan Hartap yang pada dasarnya muncul dari ide Pak
23Wawancara. Tamrin Sihombing, Stadion DR. TD. Pardede, Jln. Binjai KM 10,8, Medan pada tanggal 22 September 2019.
24Team Tobatabo. “Klub Sepak bola Harimau Tapanuli Riwayatmu Dulu”, Tobatabo, diakses dari https://www.tobatabo.com/1637+klub-sepakbola-harimau-tapanuli-riwayatmu-dulu.htm pada tanggal 30 Oktober 2019 pukul 12:03 WIB.
Ketua25 telah banyak mengandung unsur positif terutama dalam perluasan wawasan Taput di bidang olahraga khususnya sepak bola. Oleh karena itu sampai sekarang masyarakat Taput tetap menyelenggarakan TD. Pardede Cup.26
2.2.2 Slogan Harimau Tapanuli
Setiap klub sepak bola pasti memiliki slogan masing-masing. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, slogan memiliki arti perkataan atau kalimat pendek yang menarik atau mencolok dan mudah diingat untuk menejelaskan tujuan suatu ideologi golongan, organisasi, partai politik dan sebagainya. Slogan sebuah klub sepak bola bermaksud atau bertujuan untuk menyemangati klub kebanggaan ketika sedang bertanding di lapangan hijau.
Slogan juga biasanya disuarakan oleh suporter kesebelasan klub sepak bola terutama sejak awal hingga akhir pertandingan. Di Eropa, dapat ditemui slogan klub-klub sepak bola, seperti: Manchester United dengan slogan “Glory- Glory Manchester United (Jayalah-Jayalah Manchester United)” Chelsea dengan slogannya “Keep The Blue Flag Flying High (Jagalah Bendera Biru Terbang Tinggi)”, Real Madrid dengan slogannya “Hala Madrid (Jayalah Madrid)” dan slogan klub lainnya. Di Indonesia juga tak jarang slogan sepak bola ditemukan, seperti: PSMS Medan dengan slogannya “Ribak Sude” dan lain sebagainya.
25Pak Ketua merupakan panggilan kepada DR. T. D. Pardede.
26Ny. Sariaty P.R. Siregar Br. Pardede, dkk. Op. Cit., hal.109.
Slogan klub sepak bola juga terdapat pada tubuh Harimau Tapanuli sebagai klub sepak bola profesional. Hartap memiliki slogan “Hidup Harimau Tapanuli”.27 Hal ini menunjukkan bahwa Harimau Tapanuli saat itu telah berhasil menarik minat masyarakat terhadap sepak bola hingga animo masyarakat dalam mendukung Hartap terlihat dengan menciptakan slogan Harimau Tapanuli.
Meskipun pada saat itu Harimau Tapanuli tidak memiliki kelompok suporter dengan nama-nama identik yang ada pada kelompok suporter kesebelasan sepak bola sekarang.
Disadari atau tidak suporter merupakan komponen penting dalam setiap pertandingan sepak bola. Kehadiran mereka seperti nyawa ke-12 atau biasa juga disebut sebagai pemain ke-12 bagi tim karena dukungan suporter dengan teriakan slogan bisa menyuntik semangat pemain yang bertanding di lapangan. Kehadiran dan dukungan suporter juga bagi pemain di dalam stadion dapat memberikan motivasi yang lebih besar untuk meraih kemenangan.
Suporter adalah orang yang memberikan dukungan sehingga bersifat aktif.
Di lingkungan sepak bola, suporter erat kaitannya dengan dukungan yang dilandasi oleh perasaan cinta dan fanatisme terhadap tim. Jika manajer adalah otak tim, pemain adalah energi tim, maka suporter adalah inspirator permainan. Tidak salah apabila mereka sering disebut pemain kedua belas.28
27Tamrin Sihombing, Op. Cit.
28Ubaidilah Nugraha, Republik Gila Bola, Jakarta: Ufuk Press, 2008, hal. 53.
Para pemain juga tentunya ingin menyuguhkan permainan yang indah dan menghibur dan juga tak ingin mengecewakan suporter dan klub pemain sendiri.29 Karena pada dasarnya sepak bola bersifat menghibur sehingga membuat banyak orang tertarik. Ketika permainan sepak bola dimainkan dengan unsur-unsur keterampilan dan sportifitas, penonton pun tidak ragu untuk datang langsung menyaksikan permainan kesebelasan Hartap.
Hal tersebut juga mendorong Johny Pardede selaku pemilik Hartap untuk mengapresiasi sikap masyarakat baik di sekitar Stadion DR. TD. Pardede ataupun di sekitar Stadion Sisingamangaraja Balige30 (home base atau markas Harimau Tapanuli selain markas Perstu)31 yang hadir untuk mendukung ataupun menyaksikan Harimau Tapanuli ke stadion tanpa membayar biaya masuk atau ditiadakannya tiket.32
2.3 Sarana dan Prasarana Klub Sepak Bola Harimau Tapanuli
Keadaan sarana dan prasarana yang mendukung sangat diperlukan dalam memperlancar untuk melakukan suatu kegiatan. Hal tersebut dikarenakan setiap cabang olahraga memerlukan dan harus memiliki sarana dan prasarana sendiri.
Dalam berolahraga tidak hanya cukup dengan mengandalkan fisik, namun perlu
29Viktor Simamora. Op. Cit.
30Stadion atau Lapangan Sisingamangaraja XII adalah salah satu stadion yang terletak di Kecamatan Balige, Kabupaten Toba Samosir (sekarang Kabupaten Toba).
31Zul Imri Purba, Op. Cit.
32Zul Imri Purba, Ibid.
didukung juga dengan sarana dan prasarana yang memungkinkan agar dapat mendapatkan hasil yang maksimal.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2019), sarana dan prasarana memiliki defenisi sebagai berikut:
a. Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan; alat; media.
b. Prasarana adalah segala sesuatu yang merupakan penunjang utama terselenggaranya suatu proses.
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa sarana dan prasarana merupakan alat atau fasilitas yang dapat digunakan untuk untuk mencapai suatu usaha.
Dalam meningkatkan kualitas klub sepak bola Hartap harus memiliki sarana dan prasarana yang baik dan bisa digunakan secara maksimal. Sarana dan prasarana klub dimaksud antara lain, seperti: stadion yang mencakup lapangan sepak bola, tempat latihan, mess pemain, kesekretariatan, poliklinik, transportasi serta sarana lain yang menunjang kualitas klub agar menjadi lebih baik.
2.3.1 Markas Harimau Tapanuli
Selain menggunakan hukum dan tata aturan kompetisi sepak bola profesional yang disebut Lex Sportiva dan Lex Ludica (the Laws of The Game) sebagai aturan pertandingan sepak bola profesional yang dikeluarkan Federation
International de Football Association (FIFA) federasi internasional sepak bola yang menguasai dan memiliki kedaulatan atas sepak bola, penyelenggaraan kompetisi sepak bola profesional juga membutuhkan jaminan hukum dan jaminan keamanan dari negara yang dituangkan dalam mekanisme perizinan. Selain itu juga membutuhkan ruang yang disebut stadion dan lapangan sepak bola yang cukup memadai untuk menyelenggarakan pertandingan sepak bola.33
Dibentuk sebagai sebuah klub sepak bola yang dikelola secara profesional, Hartap juga memiliki markas klub. Markas yang dimaksud menunjukkan tempat atau lokasi. Markas memiliki wujud nyata dalam bentuk bangunan. Markas Harimau Tapanuli sendiri berada di Stadion DR. TD. Pardede, Jln. Binjai KM 10,8, Medan.34 Selain Stadion DR. TD. Pardede, Hartap juga menggunakan Stadion Sisingamangaraja Balige sebagai tempat untuk melangsungkan pertandingan-pertandingan yang akan dijalani oleh Harimau Tapanuli. Hal tersebut dikarenakan Hartap merupakan bonden35 dari Perstu (Persatuan Sepak Bola Tapanuli Utara) saat itu. Selain itu juga, Balige juga merupakan tempat asal dan kelahiran DR.TD. Pardede hingga menjadikan Stadion Sisingamangaraja Balige sebagai tempat Hartap melangsungkan laga yang dijalani Hartap.
Tujuan tersebut tidak lain dan tidak asing adalah untuk menghibur masyarakat Tapanuli Utara secara khusus di Balige dan juga untuk menarik minat
33Hinca Panjaitan, Kedaulatan Negara Versus Kedaulatan FIFA. Jakarta: Gramedia, 2013, hal.7.
34Tamrin Sihombing, Op. Cit.
35Bonden (Bahasa Belanda) adalah serikat pekerja.
masyarakat untuk mendukung Hartap.36 Di dalam sebuah klub sepak bola, fasilitas pemain selain markas juga diperlukan untuk menunjang kualitas pemain. Selain stadion yang berfungsi sebagai sarana dan prasarana penunjang kualitas pemain dan klub, ada beberapa aspek lain yang juga menjadi penunjang kualitas pemain.
Lapangan Sepak Bola
Ukuran lapangan standard minimalnya untuk pertandingan sepak bola normal adalah 100 m x 64 m (110 yard x 70 yard) atau juga ada ukuran yang lebih besar, yakni: 110m x 75 m (120yard x 20 yard). Dalam lapangan sepak bola sendiri ada batas-batas garis samping, garis gawang, garis tengah dan garis bendera sudut dengan jari-jari kira 1 meter dan bagian tengah lapangan sepak bola ada yang dibatasi oleh garis yang ditarik tegak lurus pada garis gawang yang jaraknya dari tiang gawang 5,5 m.
Gawang
Ukuran Gawang dari tanah sampai sisi bawah paling bawah 2,44 m. Lebar gawang diukur dari sisi dalam kedua tiang gawang 7, 23 m. Tiang dan palang gawang dibuat dari kayu atau logam yang tebalnya maksimal 12 cm dicat berwarna putih. Tiang dan palang gawang dapat berbentuk bulat, setengah bulat atau empat persegi.
Bola
36Zul Imri Purba, Op.Cit.
Bola dalam olahraga sepak bola berbentuk bulat. Bagian luar terbuat dari kulit atau bahan-bahan lain yang diperkenankan. Tidak diperbolehkan memakai bahan-bahan yang dapat membahayakan pemain. Ukuran lingkaran bola dalam sepak bola adalah 68-71 cm dan beratnya 396-453 gram.
2.3.2 Mess
Mess merupakan fasilitas berupa rumah atau kamar yang disediakan untuk para pelatih, pemain sebagai tempat tinggal selama menjaadi pemain dalam klub tersebut. Hartap sebagai salah satu klub sepak bola yang telah berstatus semi profesional waktu itu juga menyediakan mess bagi jajaran pelatih, staf hingga para pemain. Setiap rumah dihuni oleh 1-2 orang pemain yang belum berkeluarga dan 1 rumah untuk pemain yang telah berkeluarga.37 Mess atlet Harimau Tapanuli terletak di kawasan perindustrian Pardedetex yang masih berdekatan langsung dengan Stadion T.D. Pardede.
2.3.3 Kesekretariatan
Sekretariat merupakan tempat yang sangat penting bagi sebuah organisai dikarenakan sekretariat digunakan sebagai tempat untuk melakukan rapat-rapat, menyimpan dokumen-dokumen, membahas rencana kegiatan, tempat latihan dan lain sebagainya. Harimau Tapanuli sendiri memiliki tempat sekretariat di sekitaran kompleks Pardede tepatnya di Stadion TD. Pardede. Sekretariat tersebut
37Viktor Simamora, Op. Cit.
juga berisikan tempat-tempat untuk menyimpan berkas-berkas Harimau Tapanuli, foto-foto tentang pemain Harimau Tapanuli hingga tempat menyimpan sejumlah trofi yang pernah diraih oleh Harimau Tapanuli. Namun, akhir-akhir ini, banyak berkas-berkas ataupun trofi-trofi tentang Harimau Tapanuli banyak dipindahkan ke kediaman Johny Pardede.38
2.4 Profil Umum Harimau Tapanuli
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, manajemen merupakan penggunaan sumber daya secara efektif untuk mencapai sasaran. Manajemen sangat berarti agar tercapainya suatu tujuan. Sebuah klub sepak bola juga harus memiliki manajemen yang baik dan terstruktur. Manajemen klub meliputi pengurus-pengurus klub, skuat atau para pemain hingga sumber dana klub yang dapat memenuhi kebutuhan sebuah klub sepak bola.
2.4.1 Struktur Kepengurusan Klub Harimau Tapanuli
Dalam mengelola sebuah klub sepak bola agar benar-benar menjadi sebuah klub sepak bola yang profesional dan terus berkembang harus memiliki struktur kepengurusan yang baik dan cukup mumpuni. Sebuah klub sepak bola harus memiliki pengurus yang berkompeten untuk mengatur kepentingan klub.
Jika tidak dikelola dengan baik, sebuah klub sepak bola akan terjebak di jurang kehancuran atau klub bisa saja akan gulung tikar alias bubar. Oleh karena itu,
38Tamrin Sihombing, Op. Cit.
dalam membentuk suatu kesebelasan yang tangguh dan baik di lapangan maupun secara organisasi harus dimulai dari pondasi yang kuat, dalam hal ini menyangkut tentang kepengurusan tim.
Biasanya sebuah organisasi memiliki bagian-bagian dalam kepengurusan.
Begitu juga dengan klub sepak bola. Setiap klub sepak bola memiliki masing- masing pengurus untuk mengurus kepentingan-kepentingan klub. Harimau Tapanuli sebagai klub yang telah berstatus sebagai klub semi profesional pada saat itu juga memiliki pengurus klub. Namun, uniknya semua pengurus klub Harimau Tapanuli adalah orang-orang yang bekerja di perusahaan-perusahaan milik keluarga Pardede. Hal tersebut dilakukan oleh Johny Pardede agar proses pengurusan klub yang lebih mudah dan terstruktur.39 Untuk jabatan sebagai ketua umu Harimau Tapanli dipegang oleh Johny Pardede yang juga sekaligus menjadi pemilik klub. Selain itu, para pegawai di perusahaan keluarga Pardede menduduki jabatan sebagai pengurus di Harimau Tapanuli dikarenakan perusahaan- perusahaan Pardede berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan Harimau Tapanuli.40
2.4.2 Ketua Umum Harimau Tapanuli
Jabatan ketua umum hendaknya dan biasanya dipegang oleh orang-orang yang benar berkompeten dalam menangani sebuah klub. Ketua umum harus memiliki visi dan misi yang jelas untuk kebaikan suatu organisasi tak terkecuali
39Viktor Simamora, Op. Cit.
40Zul Imri Purba, Op. Cit.
klub sepak bola. Disadari atau tidak juga, keberhasilan suatu klub sepak bola atau organisasi tidak terlepas dari ketua umum.
Selama Harimau Tapanuli aktif dan malang melintang dalam persepakbolaan Indonesia, Johny Pardede yang berperan selaku penggagas berdirinya Harimau Tapanuli, pemilik hingga sekaligus ketua umum Harimau Tapanuli memberikan dampak yang cukup besar bagi keberhasilan prestasi- prestasi Harimau Tapanuli. Karakter Johny Pardede yang tegas dan berjiwa pemimpin seperti DR. TD. Pardede berhasil membuat Harimau Tapanuli saat itu cukup dikenal dan disegani klub sepak bola lain.
Kiprah Johny Pardede dalam hal sepak bola juga sudah tidak asing dan lain bagi beliau. Sebelum membentuk Harimau Tapanuli, Johny Pardede telah lebih awal terlibat dalam sepak bola sebagai manajer bersama saudaranya Rudolf M. Pardede saat ikut menangani Pardedetex yang dibentuk oleh DR. TD. Pardede di mana Pardedetex saat itu adalah klub sepak bola profesional pertama di Indonesia. Namun, Johny Pardede terpaksa harus berhenti dari sepak bola dikarenakan Pardedetex dibubarkan oleh DR. TD. Pardede pada Kompetisi Galatama Periode Keempat tahun 1983-1984 dan juga dikarenakan Johny Pardede yang jatuh sakit akibta terlalu memikirkan klub PS. Pardedetex.41
Johny Pardede kemudian kembali terlibat dalam sepak bola ketika mendirikan Harimau Tapanuli sebagai jawaban atas pertanyaan DR. TD. Pardede
41Ny. Sariaty P.R. Siregar Br. Pardede, dkk. Op. Cit., hal.106.