• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambar 2.1Buah Delima Putih Sumber : (Sudjijo, 2014)

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Gambar 2.1Buah Delima Putih Sumber : (Sudjijo, 2014)"

Copied!
26
0
0

Teks penuh

(1)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Tanaman

Tanaman ini termasuk dari famili Puniaceae yang dapat tumbuh di dataran rendah hingga dapat tumbuh pada ketinggian kurang dari 1000 mdpl. Tumbuhan ini menyukai tanah gembur yang tidak terendam air, dengan air tanah yang tidak dalam. Delima sering ditanam di kebun-kebun sebagai tanaman hias, tanaman obat, atau karena buahnya yang dapat dimakan. Berdasarkan warnanya buah delima dibedakan menjadi tiga yaitu delima merah, delima putih dan delima ungu (Sastroamidjojo, 2001).

Klasifikasi ilmiah buah delima adalah sebagai berikut:

Gambar 2.1Buah Delima Putih Sumber : (Sudjijo, 2014) Kingdom : Plantae

Divisio : Magnoliophyta Kelas : Magnoliopsida Subkelas : Rosidae Ordo : Myrtales

Familia : Lythraceae (Punicaceae) Genus : Punica

Spesies : Punica granatum L (Suranto, 2011)

(2)

Secara morfologi, buah delima putih dapat tumbuh pada dataran rendah hingga dapat tumbuh pada ketinggian kurang dari 1000 mdpl. Tanaman tumbuh subur pada iklim basah sampai kering dengan air tanah tidak dalam pada tanah gembur dan tidak terendam air. Tumbuhan ini mempunyai habitus perdu dan pohon.

Ketinggian 17pohon kurang lebih 5 m. Daun tunggal, bertangkai pendek, letakanya berkelompok, mengkilap, berbentuk lonjong dengan pangkal yang lancip, ujung tumpul, tepi rata, tulang daun menyirip dengan panjang 3-7 cm dan lebar 0,5- 0,25 cm, berwarna hijau (Sastroamidjojo, 2001).

Biji buah delima putih berbentuk bulat panjang yang bersegi – segi agak pipih. Patahan kulit buah tidak rata, berbutir – butir berwarna kuning sampai kecoklatan. Bunga delima putih berwarna putih, daging buah berwarna pucat Kulit buah delima putih memiliki rasa pahit dan sangat kesat. Kulit berwarna coklat dengan garis tengah 3 cm – 5 cm, tebal 3 mm – 5 mm. Pada bagian pangkal memiliki sisa gagang buah, pada bagian ujung terdapat sisa dasar bunga berbentuk tabung dengan tinggi kurang lebih 1 cm, lebar kurang lebih 1,5 cm. Permukaan dalam tabung berwarna coklat kemerahan, dalam tabung terdapat tangkai putik yang berbentuk silindrik. Permukaan luar kulit buah agak kasar, agak mengkilat, warna kecoklatan atau coklat kemerahan sampai coklat kehitaman, kadang terdapat bercak yang menonjol berwarna lebih tua. Permukaan dalam kulit delima licin dan berwarna kuning sampai kuning kecoklatan (Sastroamidjojo, 2001).

2.2 Kandungan Kimia Kulit Buah Delima Putih (Punica granatum L.)

Kandungan dalam kulit buah delima putih yaitu polifenol, flavonoid dantanin (Ferrazzano et al., 2011). Tanin merupakan senyawa polifenol yangmemiliki bobot molekul antara 500 – 2000 Dalton. Tanin terdiri dari komponensuatu zat anorganik senyawa fenolik dan merupakan suatu metabolit sekunderyang memiliki berbagai manfaat salah satunya sebagai antioksidan (Hagerman &Hagerman, 2002). Tanin terhidrolisis merupakan turunan dari asam galat. Kulit buah delima putih mengandung zat tanin sebanyak 25-28%. Untuk jenis senyawa tanin yang terkandung dalam kulit buah delima putih yaitu jenis ellagitanins (20-30 %), punicalins dan punicalagin. Ellagitanin terbentuk dari asam heksahidroksi definil yang terbentuk dari terikatnya dua molekul asam galat yang terhidrolisi (Wang et al., 2010).

(3)

Pada hasil peneitian Guo dkk. (2007) ekstrak kulit delima putih memiliki Ic50 (0,032 ± 0,003µg / mL). Tingkat kekuatan antioksidan dikatakan sangat kuat bila memiliki IC50<50 μg/mL jadi dapat dikatakan ekstrak kulit buah delima putih memiliki intensitas antioksidan sangat kuat.

Buah delima memiliki manfaat sebagai antioksidan, antibakteri, pencegah kanker, penyelamat ginjal. Buah delima banyak mengandung flavonoid yang mampu sebagai antioksidan. Buah delima dapat memperbaiki sel – sel yang rusak dan memberikan perlindungan terhadap penyakit jantung, kanker prostat dan kanker kulit. Antioksidan membantu mencegah terjadinya penyumbatan pada pembuluh darah arteri oleh kolesterol, membantu mengatur gula darah, meningkatkan sensitivitas terhadap insulin, mampu melawan peradangan, dan meningkatkan berbagai faktor lain yang terlibat dalam sindrom metabolis seperti obesitas dan pemicu diabetes. Daun buah delima dapat dimanfaatkan sebagai peluruh haid dan mengatasi masalah perut kembung dan perih. Bunga buah delima dapat digunakan mengobati radang gusi dan bronchitis. Kulit buah Delima dapat dimanfaatkan untuk kesehatan kulit, seperti bedak dan pada bagian kulit akar dapat mengatasi sakit perut akibat disentri, cacingan, muntah darah peradangan rahim, radang tenggorokan, radang telinga, dan keputihan (Sudjijo, 2014).

Tabel II.1Tingkat Kekuatan Antioksidan

(Molyneux, 2004).

Intensita Antioksidan Nilai IC50 (µg/mL) Sangat Kuat

Kuat Sedang

Lemah Tidak Aktif

<50 50-100 100-250 250-500

>500

2.2 Antioksidan

Di dalam tubuh kita terdapat senyawa yang disebut antioksidan yaitu senyawa yang dapat menetralkan radikal bebas, seperti: enzim SOD (Superoksida Dismutase), gluthatione, dan katalase. Antioksidan juga dapat diperoleh dari asupan

(4)

makanan yang banyak mengandung vitamin C, vitamin E dan betakaroten serta senyawa fenolik. Bahan pangan yang dapat menjadi sumber antioksidan alami, seperti rempah-rempah, coklat, biji-bijian, buah-buahan, sayur-sayuran seperti buah tomat, pepaya, jeruk dan sebagainya (Prakash, 2001).

Tubuh manusia tidak mempunyai cadangan antioksidan dalam jumlah berlebih, sehingga jika terjadi paparan radikal berlebih maka tubuh membutuhkan antioksidan eksogen. Adanya kekhawatiran akan kemungkinan efek samping yang belum diketahui dari antioksidan sintetik menyebabkan antioksidan alami menjadi alternatif yang sangat dibutuhkan (Sunarni, 2005).

Senyawa antioksidan memegang peranan penting dalam pertahanan tubuh terhadap pengaruh buruk yang disebabkan radikal bebas. Radikal bebas diketahui dapat menginduksi penyakit kanker, arteriosklerosis dan penuaan, disebabkan oleh kerusakan jaringan karena oksidasi (Kikuzaki dan Nakatani, 2002).

Antioksidan merupakan senyawa pemberi elektron (electron donor) atau reduktan. Senyawa antioksidan memiliki berat molekul kecil, tetapi mampu menginaktivasi berkembangnya reaksi oksidasi, dengan cara mencegah terbentuknya radikal. Antioksidan juga merupakan senyawa yang dapat menghambat reaksi oksidasi dengan mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif (Winarsi, 2007). Fungsi antioksidan adalah menetralisasi radikal bebas, sehingga tubuh terlindungi dari penyakit degeneratif.(Tapan, 2005).

2.2.1 Klasifikasi Antioksidan

Secara umum, antioksidan dikelompokkan menjadi dua, yaitu antioksidan enzimatis dan antioksidan non-enzimatis (Winarsi, 2007).

1. Antioksidan enzimatis merupakan antioksidan endogenus (terdapat dalam tubuh) misalnya enzim superoksida dismutase (SOD), katalase dan glutation peroksidase dimana enzim-enzim ini bekerja dengan cara melindungi jaringan dari kerusakan oksidatif yang disebabkan radikal bebas oksigen seperti anion superoksida (O2), radikal hidroksil (OH) dan hIdrogen peroksida (H2O2).

2. Antioksidan non-enzimatis merupakan antioksidan eksogenus banyak ditemukan dalam sayur-sayuran dan buah-buahan dan masih dibagi menjadi dua kelompok lagi yaitu: Antioksidan larut lemak seperti tokoferol,

(5)

karotenoid, flavonoid, quinon, bilirubin. Antioksidan larut air seperti asam askorbat, asam urat, protein pengikat logam, protein pengikat heme.

2.2.2 Antioksidan menetralisir radikal bebas

Antioksidan dapat didefinisikan sebagai suatu zat yang dapat menghambat atau memperlambat proses oksidasi. Oksidasi adalah jenis reaksi kimia yang melibatkan pengikatan oksigen, pelepasan hydrogen, atau pelepasan elektron.

Proses oksidasi adalah peristiwa alami yang terjadi di alam dan dapat terjadi dimana-mana tak terkecuali di dalam tubuh kita. Antioksidan ini secara nyata mampu memperlambat atau menghambat oksidasi zat yang mudah teroksidasi meskipun dalam konsentrasi rendah (Krisnadi, 2015).

Antioksidan merupakan nutrisi alami yang ditemukan dalam buah-buahan dan sayuran tertentu, dan telah terbukti dapat melindungi sel-sel manusia dari kerusakan oksidatif dan memberikan keuntungan lainnya, antara lain :

• Menguatkan kekebalan tubuh agar tahan terhadap flu, virus, dan infeksi.

• Mengurangi kejadian semua jenis kanker.

• Mencegah terjadinya glukoma dan degenerasi makular.

• Mengurangi risiko terhadap oksidasi kolestrol dan penyakit jantung.

• Anti-penuaan dari sel dan keseluruhan tubuh.

Gambar 2.2Cara Kerja Antiosidan

(6)

(Krisnadi,2015)

Antioksidan dapat menghambat reaksi okisidasi dengan mengikat radikal bebas dan molekul yang sangat reaktif, sehingga kerusakan sel dapat dihambat.

Apabila jumlah senyawa oksigen reaktif melebihi jumlah antioksidan dalam tubuh maka akan dapat menyerang komponen lipid, protein dan DNA sehingga mengakibatkan kerusakan sel yang disebut stres oksidatif (Winarsi, 2007). Sistem antioksidan dalam menangkap radikal bebas, dibentuk secara kontinu oleh tubuh.

Antioksidan bekerja dengan cara mencegah atau menghambat pembentukan radikal bebas yang baru, menginkativasi radikal bebas dengan cara pemutusan rantai serta memperbaiki kerusakan oleh radikal bebas. Antioksidan bekerja dengan cara menyumbangkan atom hidrogen ke radikal hidroksil sehingga membentuk sebuah molekul yang tidak berbahaya bagi tubuh (Youngson, 2005).

2.3 Radikal Bebas

Radikal bebas merupakan atom atau molekul elektron yang tidak berpasangan sehingga mengakibatkan sifatnya sangat tidak stabil.( Robert, 2008).

Hal ini karena radikal bebas mempunyai satu elektron atau lebih yang tidak berpasangan pada kulit luar. Elektron pada radikal bebas sangat reaktif dan mampu bereaksi dengan protein, lipid, karbohidrat, atau DNA sehingga terjadi perubahan struktur dan fungsi sel. Jika radikal bebas sudah terbentuk dalam tubuh, maka akan terjadi reaksi berantai dan menghasilkan radikal bebas baru. Reaksi ini dapat berakhir jika ada molekul yang memberikan elektron yang dibutuhkan oleh radikal bebas tersebut atau dua buah gugus radikal bebas membentuk ikatan non- radikal.(Kartika, 2010).

Senyawa radikal bebas di dalam tubuh dapat merusak asam lemak tak jenuh ganda pada membran sel. Akibatnya, dinding sel menjadi rapuh. Senyawa oksigen reaktif ini juga mampu merusak bagian dalam pembuluh darah sehingga meningkatkan pengendapan kolesterol dan menimbulkan arterosklerosis, merusak basa DNA sehingga mengacaukan sistem info genetika, dan berlanjut pada pembentukan sel kanker (Winarsi,2007). Radikal bebas merupakan suatu molekul yang kehilangan satu atau lebih pasangan elektronnya sehingga membutuhkan elektron pasangan dengan cara menempel pada jaringan atau sel lainnya untuk

(7)

mencapai kestabilan tersebut. Radikal bebas dapat disebut juga dengan Reactive Oxygen Species (ROS) (Manik et al., 2011).

Radikal bebas adalah produk alamiah hasil metabolisme sel. Biasanya, tubuh memiliki sistem pertahanan alami untuk menetralisir radikal bebas agar tidak berkembang dan menjadi berbahaya bagi tubuh. Namun, pengaruh lingkungan dan kebiasaan buruk seperti radiasi ultraviolet, polusi, dan merokok, dapat membuat sistem pertahanan tubuh kewalahan menghadapi radikal bebas yang berjumlah besar. Berbagai penelitian menunjukan bahwa radikal bebas yang berlebihan dapat memicu dan memperparah penyakit jantung, penyakit infeksi, tumor dan kanker, penyakit mata (seperti katarak dan glukoma), penyakit kulit (seperti alergi dan dermatitis), dan lainnya serta mempercepat proses penuaan (Krisnadi, 2015).

2.4 Penuaan Kulit

Penuaan (aging) merupakan fenomena biologis kompleks yang sering diikuti oleh perubahan sosial ekonomi yang mana mengakibatkan dampak besar pada kondisi nutrisi dan kebutuhan pada orang tua dimana disabilitas meningkat seiring dengan terjadinya penuaan. Lebih dari sepertiga orang terbatas pada kondisi kronis dan tidak mampu untuk melakukan aktivitas utama (Oliveira et al., 2010). Apabila faktor-faktor penyebab penuaan dapat dihindari, proses penuaan tentu dapat dicegah, diperlambat bahkn mungkin dihambat dan kualitas hidup dapat dipertahankan (Pangkahila,2007) Proses penuaan tidak terjadi begitu saja dengan langsung menampakan perubahan fisik dan psikis. Proses penuaan dapat berlangsung melalui tiga tahap sebagai berikut (Pangkahila, 2011):

1. Tahap subklinik (usia 25-35 tahun): Pada tahap ini, sebagian besar hormon di dalam tubuh mulai menurun, yaitu hormon testosteron, growth hormon dan hormon estrogen. Pembentukan radikal bebas dapat merusak sel dan DNA mulai mempengaruhi tubuh. Kerusakan ini biasanya tidak tampak dari luar, karena itu pada usia ini dianggap usia muda dan normal.

2. Tahap transisi (usia 35-45 tahun): Pada tahap ini kadar hormon menurun sampai 25%. Massa otot berkurang sebanyak satu kilogram tiap tahunnya.

Pada tahap ini orang mulai merasa tidak muda lagi dan tampak lebih tua.

Kerusakan oleh radikal bebas mulai merusak ekspresi genetik yang dapat

(8)

mengakibatkan penyakit seperti kanker, radang sendi, berkurangnya memori, penyakit jantung koroner dan diabetes.

3. Tahap klinik (usia 45 tahun ke atas): Pada tahap ini penurunan kadar hormon terus berlanjut yang meliputi melatonin, growth hormon, testosteron, estrogen dan juga hormon tiroid. Terjadi penurunan bahkan hilangnya kemampuan penyerapan bahan makanan, vitamin dan mineral. Penyakit kronis menjadi lebih nyata, sistem organ tubuh mulai mengalami kegagalan.

Radikal bebas akan merusak molekul yang elektronnya ditarik oleh radikal bebas tersebut sehingga menyebabkan kerusakan sel, gangguan fungsi sel, bahkan kematian sel. Molekul utama di dalam tubuh yang dirusak oleh radikal bebas adalah DNA, lemak dan protein (Suryohudoyo, 2000). Radikal bebas juga merusak kolagen dan elastin atau protein yang menjaga kulit tetap lembab, halus, fleksibel dan elastis. Jaringan tersebut akan menjadi rusak akibat paparan radikal bebas, terutama pada daerah wajah, di mana mengakibatkan lekukan kulit dan kerutan yang dalam akibat paparan yang lama oleh radikal bebas.

2.5 Kulit

Kulit adalah organ terbesar dari tubuh dan meliputi wilayah yang sangat luas.

Ketebalan kulit bervariasi di berbagai bagian tubuh. Sel-sel kulit yang paling tipis pada wajah; ini penting untuk penggunaan kosmetik yang harus mampu menembus kulit (Young, 1972). Kulit menutupi seluruh tubuh dan melindungi dari berbagai jenis rangsangan eksternal dan kerusakan serta dari hilangnya kelembapan. Luas permukaan kulit orang dewasa sekitar 1,6 m2 (Mitsui, 1997).

2.5.1 Struktur kulit

Kulit terdiri atas tiga lapisan, yaitu: lapisan epidermis, dermis, dan hipodermis. Pada lapisan epidermis terdapat lapisan stratum korneum, stratum granulosum, stratum spinosum dan stratum basale (stratum germinativum). Lapisan sratum basale dan stratum spinosum biasanya dikenal dengan lapisan Malpighi (Niyogi et al., 2012).Epidermis merupakan lapisan luar tipis kulit. Epidermis terdiri atas lima lapisan, yaitu (Mescher, 2013):

(9)

Gambar 2.3Struktur Kulit Manusia

Sumber : (Shai et al., 2009) 1. Stratum germinativum atau stratum basale

Lapisan ini terdiri dari satu lapis sel, yang terletak paling dekat dengan dermis di bawahnya. Stratum basale berisi beberapa jenis sel, yaitu:

a. Sel-sel punca: yang membelah dan memperbaharui populasi sel punca serta cmenghasilkan sel anak (keratinosit).

b. Keratinosit: sel paling banyak pada lapisan ini. Sel ini membelah 3 – 6 kali sebelum bergerak ke atas menuju stratum spinosum.

c. Melanosit: sel-sel penghasil pigmen (melanin). Terdapat 1 melanosit untuk setiap 4 – 10 keratinosit basal. Jumlah melanosit sama pada setiap orang, namun aktivitasnya jauh lebih tinggi pada orang berkulit gelap.

d. Sel-sel Merkel: sel-sel neuroendokrin yang jarang ada, yang berperan sebagai mekanoreseptor ‘taktil’ yang beradaptasi lambat. Sel-sel ini paling banyak di bibir dan lidah, namun sulit diidentifikasi karena memiliki tampilan serupa dengan melanosit.

2. Stratum spinosum

Lapisan ini terdiri dari beberapa lapis keratinosit, dan beberapa sel Langerhans.

(10)

a. Keratinosit: mengubah ekspresi keratin saat berdiferensiasi. Filamen- filamen keratin di dalam sel untuk memperkuat hubungan sel-sel dan membuat hubungan erat antar sel.

b. Sel-sel Langerhans: merupakan sel penyaji antigen khusus (sel dendritik) yang menyusun sekitar 3 – 6% sel pada lapisan stratum spinosum. Saat sel ini terpapar oleh benda asing/ antigen, sel-sel ini bermigrasi keluar epitel dan menuju kelenjar getah bening regional untuk menginisiasi respons imun.

3. Stratum granulosum

Lapisan ini terletak pada bagian atas stratum spinosum. Lapisan ini berisi keratinosit yang telah bergerak ke atas dan selanjutnya berdiferensiasi menjadi sel bergranul. Sel-sel ini menekan lipid khusus pada granula intraselular menuju celah antar sel-sel mati (skuama) pada lapisan di atasnya. Saat bergerak ke atas, sel-sel ini mulai kehilangan nukleus dan organel sitoplasmanya, kemudian mati. Sel-sel mati menjadi ‘skuama’ berkeratin dari lapisan teratas.

4. Stratum lusidum

Lapisan ini merupakan lapisan kelima yang kadang-kadang ditemukan pada kulit tebal di antara lapisan stratum granulosum dan stratum korneum. Lapisan ini tipis dan transparan serta sulit teridentifikasi pada potongan histologis rutin.

5. Stratum korneum

Lapisan ini tersusun dari lapis sel pipih, tidak mempunyai inti, tidak berwarna, sedikit mengandung air dan tidak mengalami proses metabolisme. Terdapat lapisan pelindung lembab tipis yang bersifat asam yaitu mantel asam kulit. Stratum corneum tersusun atas keratin, protein yang tidak larut air dan resiten terhadap bahan – bahan kimia. Terjadi proses regenerasi kulit sebagai salah satu proteksi kulit dari pengaruh luar.

Dermis terdiri dari jaringan ikat dan bantal tubuh, yang memiliki komponen yaitu kolagen, serat elastis dan matriks extrafibrillar. Di dalam dermis terdapat folikel rambut, papila rambut, kelenjar keringat, saluran keringat, kelenjar sebasea, otot penegak rambut, ujung pembuluh darah dan ujung saraf (Latifah & Tranggono, 2007).

(11)

Lapisan dermis berfungsi untuk proteksi, sensasi, dan termoregulasi. Lapisan ini berisi saraf, pembuluh darah, dan fibroblas yang menyekresi matriks ekstraselular, dan serat (kolagen dan elastin). Lapisan ini juga berisi kelenjar keringat (pada bagian tepi dengan hipodermis), yang membuka keluar menuju permukaan kulit.

Kolagen dan elastin memberikan kekuatan dan daya regang pada kulit (Peckham, 2014). Sel utama pada lapisan ini adalah sel fibroblast, yang akan menghasilkan kolagen (70-80%) untuk kekenyalan, elastin (1-3%) untuk elastisitas, dan proteoglikan untuk kelembaban. Sel utama yang terdapat dalam lapisan dermis adalah fibroblas. Sel ini menghasilkan substansi intraseluler serta serat kolagen.

Kolagen dan elastin merupakan protein dalam bentuk serat. Serabut yang saling terjalin dengan substansi intraselular akan memberikan kekuatan dan elastisitas pada dermis. Serat elastin lebih tipis daripada serat kolagen. Serat elastin dan kolagen memilki peran dalam elastisitas kulit. Apabila serat – serat tersebut mengalami kerusakan akibat penuaan atau akibat paparan sinar matahari yang berlebih akanmengakibatkan kulit lebih kendur, kurus, berkerut dan sulit untuk kembali ke bentuk semula (Shai et al., 2009).

Lapisan hipodermis atau lapisan subkutan adalah kelanjutan dermis atas jaringan ikat longgar, berisi sel-sel lemak di dalamnya. Lapisan ini merupakan bantalan untuk kulit, isolasi untuk mempertahankan suhu tubuh dan tempat penyimpanan energi (Anderson, 1996). Lapisan hipodermis berisikan jaringan adiposa dan kelenjar keringat. Jaringan adiposa ini penting untuk fungsi metabolisme seperti produksi trigliserida dan vitamin D. Arteri yang menyuplai kulit ditemukan di lapisan dalam pada hipodermis. Pada kondisi dingin, aliran darah menuju kapiler superfisial pada kulit dikurangi untuk mempertahankan suhu inti tubuh. Pada kondisi panas, aliran darah ke kulit meningkat dan darah pada kapiler superfisial mengalami pendinginan oleh evaporasi keringat pada permukaan kulit (Peckham, 2014).

2.5.2 Fungsi kulit

Kulit memiliki banyak fungsi, yang berguna dalam menjaga homeostasis tubuh. Fungsi-fungsi tersebut dapat dibedakan menjadi fungsi proteksi, absorpsi, ekskresi, persepsi, pengaturan suhu tubuh (termoregulasi), dan pembentukan vitamin D (Djuanda, 2007). Kulit berperan sebagai pelindung dari berbagai

(12)

gangguan dan rangsangan luar. Kulit sebagai pelindung memiliki sejumlah mekanisme biologis seperti pembentukan lapisan tanduk secara terus menerus (pelepasan sel kulit mati dan keratinisasi), pengaturan suhu tubuh, respirasi, memproduksi sebum dan keringat serta dapat membentuk pigmen melanin untuk melindungi kulit dari bahaya sinar ultraviolet, sebagai pertahanan terhadap tekanan dan infeksi dari luar serta berfungsi sebagai peraba dan perasa (Tranggono

&Latifah, 2007).

Kulit menyediakan proteksi terhadap tubuh dalam berbagai cara sebagai berikut:

1) Keratin melindungi kulit dari mikroba, abrasi (gesekan), panas, dan zat kimia.

2) Lipid yang dilepaskan mencegah evaporasi air dari permukaan kulit dan dehidrasi, selain itu juga mencegah masuknya air dari lingkungan luar tubuh melalui kulit.

3) Sebum yang berminyak dari kelenjar sebasea mencegah kulit dan rambut dari kekeringan serta mengandung zat bakterisid yang berfungsi membunuh bakteri di permukaan kulit.

4) Pigmen melanin melindungi dari efek dari sinar UV yang berbahaya. Pada stratum basal, sel-sel melanosit melepaskan pigmen melanin ke sel-sel di sekitarnya. Pigmen ini bertugas melindungi materi genetik dari sinar matahari, sehingga materi genetik dapat tersimpan dengan baik. Apabila terjadi gangguan pada proteksi oleh melanin, maka dapat timbul keganasan.

5) Selain itu ada sel-sel yang berperan sebagai sel imun yang protektif. Yang pertama adalah sel Langerhans, yang merepresentasikan antigen terhadap mikroba. Kemudian ada sel fagosit yang bertugas memfagositosis mikroba yang masuk melewati keratin dan sel Langerhans (Martini, 2006).

2.6 Ekstraksi

Ekstraksi adalah kegiatan penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga terpisah dari bahan yang tidak larut dengan pelarut cair. Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan ke dalam golongan minyak atsiri, alkaloid, flavonoid, dan lain-lain. Dengan diketahuinya senyawa aktif yang dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dan cara ekstraksi yang tepat (Ditjen POM, 2000).

(13)

2.6.1 Metode Maserasi

Pembagian metode ekstraksi menurut Ditjen POM (2000) yaitu : A. Cara dingin

1. Maserasi

Maserasi adalah proses pengekstrakan simplisia dengan menggunakan pelarut dengan beberapa kali pengocokan atau pengadukan pada temperatur ruangan (kamar). Cairan penyari akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam rongga sel yang mengandung zat aktif yang akan larut, karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel dan di luar sel maka larutan terpekat didesak keluar.

Salah satu keuntungan ekstraksi maserasi adalah adanya perendaman pada sampel tumbuhan sehingga dapat menyebabkan terjadinya pemecahan dinding dan membran sel yang disebabkan adanya perbedaan tekanan antara diluar dan di dalam, sehingga metabolit sekunder yang terdapat di sitoplasma tumbuhan akan terlarut dalam pelarut yang sesuai (Lenny, 2006). Ekstraksi maserasi tidak menyebabkan kerusakan pada metabolit sekunder yang tidak tahan terhadap panas karena dilakukan pada suhu 27oC (Departemen Kesehatan RI, 2006) Tanin merupakan senyawa polar dengan gugus hidroksi, sehingga untuk mengekstraksinya diperlukan senyawa-senyawa polar seperti air, etanol dan aseton.

Etanol merupakan pelarut yang bersifat semipolar sehingga dapat menarik komponen polar maupun nonpolar. Senyawa aktif yang terkandung dalam kulit buah delima putih yaitu senyawa polifenol. Dimana sifat dari senyawa polifenol cenderung polar, sehingga penggunaan pelarut etanol lebih sesuai dalam pengambilan senyawa aktif. Penggunaan pelarut etanol memiliki keuntungan berupa absorbsi baik, tidak toksik dan eksplosif, tidak memerlukan panas yang banyak dan tidak korosif (Lestari et al., 2014). Penelitian lain menyebutkan hasil ekstraksi kadar tanin dalam pelarut etanol lebih tinggi dibandingkan dengan pelarut air. Perbedaan ini disebabkan karena etanol lebih polar dibandingankan dengan pelarut air, sedangkan tanin yang juga memiliki sifat lebih polar lebih banyak terlarut dalam pelarut etanol (Sulatri, 2009).

2. Perkolasi

(14)

Perkolasi adalah ekstraksi dengan pelarut yang selalu baru sampai sempurna yang umumnya dilakukan pada temperatur ruangan. Proses terdiri dari tahapan pengembangan, tahap maserasi antara, tahap perkolasi sebenarnya terus-menerus sampai diperoleh ekstrak (perkolat). Cara perkolasi lebih baik dibandingkan dengan cara maserasi karena:

- Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang terjadi dengan larutan yang konsentrasinya lebih rendah, sehingga meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi.

- Ruangan diantara butir-butir serbuk simplisia membentuk saluran tempat mengalir cairan penyari. Karena kecilnya saluran kapiler tersebut, maka kecepatan pelarut cukup untuk mengurangi lapisan batas, sehingga dapat meningkatkan perbedaan konsentrasi.

B. Cara Panas 1. Refluks

Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut terbatas yang relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

2. Sokletasi

Sokletasi adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang selalu baru dan yang umumnya dilakukan dengan alat khusus sehingga terjadi ekstrak kontinu dengan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik.

3. Digesti

Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontinu) pada temperatur yang lebih tinggi dari temperatur ruangan, yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 40-500C.

4. Infundasi

Infundasi adalah proses penyarian yang umumnya dilakukan untuk menyari zat kandungan aktif yang larut dalam air dari bahan-bahan nabati. Proses ini dilakukan pada suhu 900C selama 15 menit.

5. Dekok

(15)

Dekok adalah infus pada waktu yang lebih lama dan temperatur sampai titik didih air, yakni 30 menit pada suhu 90-1000C.

2.7 Gel

Gel merupakan sediaan semipadat digunakan pada kulit, umumnya sediaan tersebut berfungsi sebagai pembawa pada obat-obat topikal, sebagai pelunak kulit, atau sebagai pembalut pelindung atau pembalut penyumbat (oklusif) (Lachman et al, 1994). Gel didefinisikan sebagai suatu sistem setengah padat yang terdiri dari suatu dispersi yang tersusun baik dari partikel anorganik yang kecil atau molekul yang besar dan saling diresapi cairan (Ansel, 1989).

Polimer-polimer yang biasa digunakan untuk membuat gel-gel farmasetik meliputi gom alam tragakan, pektin, karagen, agar, asam alginat, serta bahan-bahan sintetis dan semisintetis seperti metil-selulosa, hidroksietilselulosa, karboksimetilselulosa, dan karbopol yang merupakan polimer vinil sintetis dengan gugus karboksil yang terinosasi (Lachman et al, 1994). Penampilan gel adalah transparan atau berbentuk suspensi partikel koloid yang terdispersi, dimana dengan jumlah pelarut yang cukup banyak membentuk gel koloid yang mempunyai struktur tiga dimensi. Terbentuknya gel dengan struktur tiga dimensi disebabkan adanya cairan yang terperangkap, sehingga molekul pelarut tidak dapat bergerak. Sifat gel yang sangat khas (Lieberman et al, 1996) yaitu :

1. Dapat mengembang karena komponen pembentuk gel dapat mengabsorsi larutan yang mengakibatkan terjadi penambahan volume.

2. Sineresis, suatu proses yang terjadi akibat adanya kontraksi dalam massa gel. Gel bila didiamkan secara spontan akan terjadi pengerutan dan cairan dipaksa keluar dari kapiler meninggalkan permukaan yang basah.

3. Bentuk struktur gel resisten terhadap perubahan atau deformasi atau aliran viskoelastis. Struktur gel dapat bermacam-macam tergantung dari komponen pembentuk gel.

2.7.1 Karakteristik Gel

Zat pembentuk gel yang ideal untuk sediaan farmasi dan kosmetik ialah inert, aman dan tidak bereaksi dengan ko3m ponen farmasi lain. Pemilihan bahan pembentuk gel dalam setiap formulasi bertujuan membentuk sifat seperti padatan

(16)

yang cukup baik selama penyimpanan yang dengan mudah dapat dipecah bila diberikan daya pada sistem. Misalnya, dengan pengocokan botol, memencet tube atau selama aplikasi topikal (Lieberman et al., 1996).

2.7.2 Klasifikasi Gel

Klasifikasi gel didasarkan pada pertimbangan karakteristik dari masing- masing kedua fase gel dikelompokkan pada gel organik dan anorganik berdasarkan sifat fase koloidal. Magma bentonit merupakan contoh dari gel anorganik, sedangkan gel organik sangat spesifik mengandung polimer sebagai pembentuk gel.

Selanjutnya dibagi-bagi berdasarkan sifat-sifat kimia molekul organik yang terdispersi. Kebanyakan gom alam seperti gom arab, karagen dan gom xantan adalah polisakharida anionik sejumlah selulosa yang merupakan hasil sintesa, merupakan pembentuk gel yang efektif seperti hidroksipropil selulosa dan metilhidroksipropil selulosa. Sifat pelarut akan menentukan apakah gel merupakan hidrogel (dasar air) atau organo gel (dengan pelarut bukan air). Sebagai contoh adalah magma bentonit dan gelatin merupakan hidrogel, sedangkan organo gel adalah plastibase yang merupakan polietilen berbobot molekul rendah yang dilarutkan dalam minyak mineral dan didinginkan secara cepat. Gel padat dengan konsentrasi pelarut rendah dikenal sebagai xero gel, sering dihasilkan dengan cara penguapan pelarut, sehingga menghasilkan kerangka gel (Lieberman et al., 1996).

Zat-zat pembentuk gel digunakan sebagai pengikat dalam granulasi, koloid pelindung dalam suspensi, pengental untuk sediaan oral dan sebagai basis supositoria. Secara luas sediaan gel banyak digunakan pada produk obat-obatan, kosmetik dan makanan juga pada beberapa proses industri. Pada kosmetik yaitu sebagai sediaan untuk perawatan kulit, sampo, sediaan pewangi dan pasta gigi (Herdiana, 2007).

Dasar gel yang umum digunakan adalah gel hidrofobik dan gel hidrofilik.

1. Dasar gel hidrofobik

Dasar gel hidrofobik umumnya terdiri dari partikel-partikel anorganik, bila ditambahkan ke dalam fase pendispersi, hanya sedikit sekali interaksi antara kedua fase. Berbeda dengan bahan hidrofilik, bahan hidrofobik tidak secara spontan menyebar, tetapi harus dirangsang dengan prosedur yang khusus (Ansel, 1989).

(17)

2. Dasar gel hidrofilik

Dasar gel hidrofilik umumnya terdiri dari molekul-molekul organik yang besar dan dapat dilarutkan atau disatukan dengan molekul dari fase pendispersi. Istilah hidrofilik berarti suka pada pelarut. Umumnya daya tarik menarik pada pelarut dari bahan-bahan hidrofilik kebalikan dari tidak adanya daya tarik menarik dari bahan hidrofobik. Sistem koloid hidrofilik biasanya lebih mudah untuk dibuat dan memiliki stabilitas yang lebih besar (Ansel, 1989). Gel hidrofilik umummnya mengandung komponen bahan pengembang, air, humektan dan bahan pengawet (Voigt, 1995).

2.7.3 Keuntungan Sediaan Gel

Beberapa keuntungan sediaan gel (Voigt, 1995) adalah sebagai berikut:

- Kemampuan penyebarannya baik pada kulit .

- Efek dingin, yang dijelaskan melalui penguapan lambat dari kulit . -Tidak ada penghambatan fungsi rambut secara fisiologis

-Kemudahan pencuciannya dengan air yang baik

- Pelepasan obatnya baik Tingginya kandungan air dalam sediaan gel dapat menyebabkan terjadinya kontaminasi mikrobial, yang secara efektif dapat dihindari dengan penambahan bahan pengawet.

Untuk upaya stabilisasi dari segi mikrobial di samping penggunaan bahan- bahan pengawet seperti dalam balsam, khususnya untuk basis ini sangat cocok pemakaian metil dan propil paraben yang umumnya disatukan dalam bentuk larutan pengawet. Upaya lain yang diperlukan adalah perlindungan terhadap penguapan yaitu untuk menghindari masalah pengeringan. Oleh karena itu untuk menyimpannya lebih baik menggunakan tube. Pengisian ke dalam botol, meskipun telah tertutup baik tetap tidak menjamin perlindungan yang memuaskan (Voigt, 1995).

2.7.4 Kekurangan Gel

Kekurangan sediaan gel (Lachman, 1994) sebagai berikut:

 Untuk hidrogel: harus menggunakan zat aktif yang larut di dalam air sehingga diperlukan penggunaan peningkat kelarutan seperti surfaktan agar

(18)

gel tetap jernih pada berbagai perubahan temperatur, tetapi gel tersebut sangat mudah dicuci atau hilang ketika berkeringat

 Kandungan surfaktan yang tinggi dapat menyebabkan iritasi dan harga lebih mahal

2.8 Masker Gel Peel off

Masker wajah adalah sediaan kosmetik untuk perawatan kulit wajah. Masker wajah memiliki manfaat sebagai pemberi kelembaban, mengembalikan tekstur kulit, memberi nutrisi pada kulit, melembutkan kulit, membersihkan pori-pori kulit, mencerahkan warna kulit, mengendurkan otot-otot wajah dan menyembuhkan jerawat (Irawati dan Sulandjari, 2013).

Salah satu jenis masker wajah adalah masker gel peel off(Shai et al., 2009).

Masker gel peel offmerupakan masker yang terbuat dari bahan polimer yaitu polivinil alkohol dan (Shai et al., 2009). Masker ini membentuk tembus terang (transparan) pada kulit. Bahan dasar atau basis adalah bersifat jelly dari gum, dan latex, dan biasanya dikemas dalam bentuk tube. Penggunaannya langsung diratakan pada kulit wajah (Muliyawan et al., 2013). Keunggulan masker peel offyaitu dapat memberikan sensasi dingin hal ini dikarenakan lambatnya proses penguapan air pada kulit namun tidak menghambat fungsi respiration sensibilis karena tidak melapisi permukaan kulit secara kedap serta tidak menyumbat pori-pori kulit, pemakaian dilakukan pada bagian tubuh yang berambut, daya sebar dan daya lekat baik, serta mampu melepaskan zat aktif dengan baik (Lieberman and Banker, 1989).

Adapun cara mengangkatnya dengan cara mengelupas, diangkat pelan – pelan secara utuh mulai dagu keatas sampai kejidat dan berakhir di dahi (Muliyawan et al., 2013). Masker diaplikasikan pada permukaan kulit dengan cara dioleskan, ditunggu mengering, mengeras dan membentuk lapisan tipis, fleksibel serta transparan biasanya 15-30 menit kemudian dikelupas seperti pada gambar

(19)

Gambar 2.4Cara Menggunakan Masker Gel Peel-Off

(Shai et al., 2009)

2.9 Tinjauan Basis/Komponen Masker Gel Peel off 2.9.1 PVA (Polivinil alcohol)

Gambar 2.5Struktur Kimia Polivinil Alkohol (Rowe et al., 2009)

Sinonim : Airvol; Alcotex; Elvanol; Gelvatol; Gohsenol; Lemol;

Mowiol; Polyvinol; PVA; vinyl alcohol polymer.

Pemerian : Serbuk granular berwarna putih atau krem Kelarutan : Larut dalam air, sedikit larut dalam etanol (95%)

Inkompatibilitas : Dengan bahan pengoksidasi seperti kalium permanganate Penggunaan :Pembentuk lapisan film, lubrikan, agen penstabil,

meningkatkan viskositas.

(20)

PVA adalah polimer sintetik yang berupa serbuk berbentuk granul berwarna putih dan tidak berbau, dibuat dengan polimerisasi vinil asetat yang diikuti dengan hidrolisis parsial dari gugus ester. PVA dapat digunakan sebagai filming agent dan agen peningkat viskositas. PVA digunakan sebagai filming agent karena dapat membentuk lapisan yang dapat dikelupas setelah mengering. Film agent memiliki kemampuan untuk membentuk film setelah pelarutnya menguap. Viskositas dan kekuatan film bervariasi, tergantung pada derajat saponifikasi dan polimerisasi (Rowe et al., 2009). Polivinil alkohol memiliki sifat tidak berwarna, padatan termoplastik yang tidak larut pada sebagian besar pelarut organik dan minyak, tetapi larut dalam air bila jumlah dari gugus hidroksil dari polimer tersebut cukup tinggi (Harper & Petrie, 2003).

Secara komersial, polivinil alkohol adalah plastik yang paling penting dalam pembuatan film yang dapat larut dalam air. Hal ini ditandai dengan kemampuannya dalam pembentukan film, pengemulsi, dan sifat adesifnya.

Polivinil alkohol memiliki kekuatan tarik yang tinggi, fleksibilitas yang baik, dan sifat penghalang oksigen yang baik (Ogur, 2005). Hodgkins & Taylor (2000) melaporkan polivinil alcohol banyak diaplikasikan dalam bidang kesehatan (biomedical), bahan pembuat deterjen, lem dan film.

PVA berperan dalam memberikan efek peel off karena memiliki sifat adhesive sehingga dapat memebentuk lapisan film yang mudah dikelupas setelah kering (Brick et al., 2014). Dalam kosmetik, konsentrasi polivinil alkohol yang digunakan sekitar 7-10% yang diketahui bersifat tidak iritasi terhadap kulit dan mata. Polivinil alkohol digunakan sebagai pembentuk lapisan film masker wajah gel peel offdengan rentang konsentrasi 10-16% (Lestari et al., 2013). Pada Pembentukan gelling agent rentang PVA yang digunakan adalah 10 – 20 % (Swarbrick, 2007)

(21)

Tabel II.2Spesifikasi Farmakope Untuk Polivinil Alkohol

(Rowe et al., 2006)

Test PhEur 2005 USP 28

Viscosity - +

pH 4,5-6,5 5.0-8.0

Loss on drying ≤5.0% ≤5.0%

Residue on ignition ≤1.0% ≤2.0%

Water soluble substances - ≤0.1%

Degree of hydrolysis - ≤0.1%

Organic volatile impurities - +

Assay - 85.00-115.0%

2.9.2 PEG (Polietilen glikol)

Gambar 2.6Struktur Kimia Polietilen Glikol

(Rowe et al., 2006) Sinonim : Carbowax; Carbowax Sentry; Lipoxol; Lutrol E; Pluriol E;

polyoxyethylene glycol

Pemerian : Nilai polietilen glikol 200-600 adalah cairan; Nilai 1000 dan di atas adalah padatan pada suhu kamar. Nilai cairan (PEG 200-600) terjadi sebagai cairan yang jernih, tidak berwarna atau sedikit berwarna kuning, kental. Mereka memiliki bau sedikit tapi khas dan rasa pahit dan sedikit terbakar. PEG 600 dapat terjadi sebagai padatan pada suhu kamar. Nilai padat (PEG> 1000) berwarna putih atau putih putih, dan berkisar konsistensi dari pasta sampai serpih lilin. Mereka memiliki bau samar dan manis..

Kelarutan : Semua kadar polietilena glikol larut dalam air dan 37 tercampur dalam semua proporsi dengan polietilena glikol

(22)

lainnya (setelah mencair, jika perlu). Larutan encer dengan kadar molekul tinggi dapat membentuk gel. Polietilena glikol cair larut dalam aseton, alkohol, benzena, gliserin, dan glikol.

Polietilen glikol padat larut dalam aseton, diklorometana, etanol (95%), dan metanol; mereka sedikit larut dalam hidrokarbon alifatik dan eter, namun tidak larut dalam lemak, minyak tetap, dan minyak mineral.

Inkompatibilitas : Nilai polietilen glikol cair dan padat mungkin tidak sesuai dengan beberapa zat pewarna. Migrasi dari polietilen glikol dapat terjadi dari pelapis film tablet, yang menyebabkan interaksi dengan komponen inti.

Penggunaan : Dasar salep; plasticizer; pelarut; basis supositoria; pelumas tablet dan kapsul Polietilen glikol (PEG) disebut juga makrogol, merupakan polimer sintetik dari oksietilen dengan rumus struktur H(OCH2CH2)nOH, dimana n adalah jumlah rata-rata gugus oksietilen (Leuner and Dressman, 2000).

PEG dibuat menjadi bermacam-macam panjang rantainya.

Bahan ini terdapat dalam berbagai macam berat molekul dan yang paling banyak digunakan adalah polietilen glikol 200, 400, 600, 1000, 1500, 1540, 3350, 4000, dan 6000.

Pemberian nomor menunjukkan berat molekul rata -rata dari masing-masing polimernya. PEG yang memiliki berat molekul rata-rata 200, 400 dan 600 berupa cairan bening tidak berwarna dan mempunyai berat molekul rata-rata lebih dari 1000 berupa lilin putih, padat. PEG merupakan polimer larut air, polimer ini tidak berwarna, tidak berbau dan kekentalannya berbeda-beda (Norvisari, 2008).

PEG mempunyai sifat stabil, mudah larut dalam air hangat, tidak beracun, non-korosif, tidak berbau, tidak berwarna, memiliki titik lebur yang sangat tinggi (580°F), tersebar merata, higoskopik (mudah menguap) dan juga dapat mengikat pigmen. Sifat PEG yang lunak dan rendah racun membuatnya banyak dipergunakan sebagai dasar obat salep, dan pembawa dari bahan obat. Sifat PEG yang larut dalam

(23)

air menyebabkan bahan obat mudah terlepas dan terserap pada kulit lebih cepat dari minyak yang teremulsi dalam air (Safitri, 2010). Penggunaan PEG sebagai pelarut juga dapat meningkatkan distribusi (penyebaran) obat didalam tubuh manusia (Sweetman, 2009).

Tabel II.3Spesifikasi Polietilen Glikol

( Roweet al., 2006)

2.9.3 Propilen Glikol

Gambar 2.7Struktur Kimia Propilenglikol Sumber : (Sheskey & Paul J, 2011)

Sinonim :1,2-Dihydroxypropane; E1520; 2-hydroxypropanol;

methyl ethylene glycol; methyl glycol; propane-1,2-diol;

propylenglycolum.

Pemerian : Cairan bening kental, tidak berbau, memiliki rasa manis Kelarutan : Dapat larut dalam air, aseton, kloroform, etanol 95%,

gliserin, tidak dapat larut dalam minyak mineral,setengah larut dalam minyak essensial.

Inkompaktibilitas : Dengan bahan pengokisidasi seperti kalium permanganat Penggunaan : sebagai plasticizer

(24)

2.9.4 Metilparaben (Nipagin)

Gambar 2.0.8Struktur Kimia Metil Paraben Sumber : (Sheskey & Paul J, 2011)

Sinonim : Nipagin

Pemerian : Kristal berwarna atau sebuk kristalin putih, dan tidak berbau dengan rasa seperti sedikit terbakar

Kelarutan :Mudah larut dalam etanol, eter dan propilen glikol sedikit larut pada air, dan praktis tidak larut dalam minyak mineral Inkompaktibilitas : Akan berkurang dengan adanya surfaktan nonionik namun

dengan adanya propilen glikol dapat mencegah interaksi keduanya.

Penggunaan : Penggunaan metilparaben dalam sediaan topikal antara 0,02-0,3%.

Penambahan propilenglikol sebanyak 2-5 % dapat meningkatkan kinerja nipagin. Nipagin dapat bekerja secara efektif pada rentang pH yang luas dan sperktrum antimikroba yang luas. Aktivitas antimikroba metilparaben dapat sangat berkurang karena adanya penambahan surfaktan nonionik seperti polisorbat 80.

Keuntungan metil paraben yaitu non-mutagenik, non-teratogenik, dan non- karsinogenik dan dapat digunakan sebagai antimikroba pada sediaan obat oral maupun topikal (Sheskey & Paul J, 2011)

2.9.5 Propilparaben (Nipasol)

(25)

Gambar 2.9Struktur Kimia Propil paraben Sumber : (Sheskey & Paul J, 2011)

Sinonim : Nipasol

Pemerian :Serbuk kristalin berwarna putih, tidak berbau dan tidak berasa

Kelarutan :Sangat mudah larut dalam aseton, eter, dan minyak;

mudah larut dalam etanol dan methanol; sukar larut dalam air

Inkompaktibilitas : Aktivitas antimikroba berkurang dengan adanya surfaktan nonionik, agnesium aluminium silikat, magnesium trisilikat, oksida besi kuning, dan biru laut biru juga telah dilaporkan menyerap propil paraben, sehingga mengurangi efektivitas pengawet, propylparaben berubah warna dengan adanya besi dan hidrolisis dengan basa lemah dan asam kuat

Penggunaan : Pengawet antimikroba (0,01-0,6%)

2.9.6 Vitamin C

(26)

Gambar 2.10Struktur Kimia Vitamin C Sumber : (Sheskey & Paul J, 2011)

Sinonim : Asam arkorbat

Pemerian :Serbuk berwarna putih hingga kuning, tidak berbau, dan rasa asam. Berwarna gelap apabila terpapar cahaya Kelarutan : tidak larut dalam kloroform, larut pada 1 : 3,5 air Inkompaktibilitas :Tidak kompatibel dengan alkali, ion logam berat,

terutama tembaga dan besi, bahan pengoksidasi, methenamine,phenylephrine hydrochloride,pyrilamine maleate, salicylamide, sodium nitrite, sodium salisilat, theobromine salicylate, dan picotamide.

Penggunaan : Antioksidan (Sheskey & Paul J, 2011)

Referensi

Dokumen terkait