Enterprise Architecture Untuk Industri Konstruksi Indonesia
Budi Setiawan*1, Richardus Eko Indrajit2, Erick Dazki3
1,2,3
Magister Teknik Informasi, Pradita University
e-mail: * [email protected], [email protected], [email protected]
Abstrak
Enterprise Architecture erat kaitan dengan artian integrasi dari berbagai bidang dalam suatu perusahaan, juga merupakan gambaran bisnis, informasi, aplikasi, dan teknologi dalam pengembangan sebuah ataupun sekumpulan framework. Enterprise Architecture bisa mengidentifikasi strategi dan memberi informasi untuk menyeimbangkan antara bisnis dengan teknologi, juga berguna bagi manajemen suatu perusahaan karena bisa menaikkan pelaksanaan atau eksekusi kegiatan di berbagai bidang. Dengan Enterprise Architecture, resiko bisa diturunkan atau dikurangi, dan strategi bisnis bisa lebih harmonis. Untuk mengembangkan sebuah gagasan, tentu harus bisa digambarkan terlebih dahulu. Setelah bisa menggambarkan, barulah bisa dikembangkan. Enterprise Architecture menggambarkan secara keseluruhan dan ruang lingkup yang luas, selain luas juga harus lengkap, meliputi seluruh aspek. Setelah perusahaan atau organisasi digambarkan secara lengkap, kemudian masuk ke tahapan pengelolaan, bagaimana cara mengelola sumber daya yang ada dengan baik, dan memikirkan cara bagaimana pengadaan sumber daya yang belum ada, tetapi dibutuhkan. Proses selanjutnya adalah pengembangan, seperti Business Architeture, Application Architecture, Information Architecture, Technology Architecture. Semua digambarkan dan dikelola, perusahaan atau organisasi yang sehat adalah yang berkembang dengan konsep rumah tumbuh.
Kata kunci— Application Architecture, Enterprise Architecture, Information Architecture, Technology Architecture.
Abstract
Enterprise Architecture is closely related to the meaning of integration from various fields within a company, it is also a description of business, information, applications, and technology in the development of a framework or set of frameworks. Enterprise Architecture can identify strategies and provide information to balance business with technology, it is also useful for the management of a company because it can improve the implementation or execution of activities in various fields. With Enterprise Architecture, risks can be reduced or reduced, and business strategies can be more harmonious. To develop an idea, of course it must be described first. After being able to describe, then can be developed. Enterprise Architecture describes as a whole and a broad scope, in addition to being broad it must also be complete, covering all aspects. After the company or organization is described in full, then it enters the management stage, how to properly manage existing resources, and think about how to procure resources that do not yet exist, but are needed. The next process is development, such as Business Architecture, Application Architecture, Information Architecture, Technology Architecture. All described and managed, a healthy company or organization is one that develops with the concept of growing houses.
Jatisi ISSN 2407-4322
Vol. 9, No. 2, Juni 2022, Hal. 1175-1186 E-ISSN 2503-2933 1176
1. PENDAHULUANerusahaan atau organisasi sebenarnya sadar akan pentingnya digitalisasi untuk perubahan perusahaan ke arah yang lebih baik, tetapi biasanya terburu-buru melakukan perubahan tanpa mengetahui dengan jelas struktur bisnis yang dijalankan. Dengan Enterprise Architecture, roda bisnis perusahaan dapat digambarkan dan didefinisikan dengan baik, agar dapat membuat perencanaan strategis dan dapat mempertahankan perubahan tersebut tetap dalam jalur yang direncanakan. Banyak yang percaya bahwa Enterprise Architecture akan membantu organisasi mengatasi medan yang sulit seperti itu dengan memandu desain perusahaan yang adaptif dan tangguh serta sistem informasi mereka [1]. Dengan Enterprise Architecture, perusahaan atau organisasi dapat menyelaraskan teknologi dengan tujuan yang ingin dicapai, baik untuk meningkatkan meningkatkan kemampuan bisnis perusahaan, mengadakan perubahan misi dan visi, dan untuk mencapai tujuan strategis dari perusahaan atau organisasi.
Beberapa penelitian terdahulu yang membahas mengenai Enterprise Architecture pada tabel 1.
Tabel 1. Pembahasan Penelitian Terdahalu, Enterprise Architecture
Penelitian Kelebihan Kelemahan
Enterprise Arsitektur Planning (EAP) untuk Universitas Pattimura
menggunakan TOGAF ADM [2]
Membahas mengenai
Preliminary, Business Vision, Aplikasi arsitektur, informasi arsitektur dan teknologi arsitektur
Belum membahas empat domain, seperti migrasi, opportunity.
Perancangan Enterprise Architecture Menggunakan TOGAF di Universitas ABC [3]
Pembahasan didalam penelitian ini hanya membahas mengenai Preliminary, Business Vision, Aplikasi arsitektur, informasi dan teknologi arsitektur.
Belum membahas mengenai Strategi dan Planning untuk penerapan Enterprise Architecture.
Enterprise Architecture Planning Sistem Informasi PUSKESMAS
PASIRKALIKI [4]
Membahas mengenai
Preliminary, Business Vision, Aplikasi arsitektur, informasi arsitektur dan teknologi arsitektur
Belum membahas domain lain dari framework TOGAF, Strategi dan Planning.
Dari ketiga penelitian terdahalu yang telah membahas mengenai Enterprise Architecture, hanya membahas mengenai Preliminary, Business Vision, Aplikasi arsitektur, informasi dan teknologi arsitektur. Riset gap pada penelitian tersebut belum membahas bagaimana strategi dan penerapan Enterprise Architecture. Penelitian ini melengkapi dari ketiga penelitian terdahalu dengan memberikan solusi untuk penerapan Enterprise Architecture.
P
2. METODE PENELITIAN
2.1. Parsial Menjadi Integrasi
Perusahaan atau organisasi yang besar, telah memiliki divisi atau departemen untuk mendukung setiap proses dan tahapan. Biasanya divisi atau departemen ini memiliki resistensi yang cukup tinggi untuk menerima masukkan atau complain dari divisi lain. Cara kerja divisi atau departemen ini menjadi seperti perusahaan di dalam perusahaan, sehingga sering terjadi bahwa kepentingan depertemen ini menjadi lebih didahulukan dari kepentingan perusahaan.
Dalam jangka waktu yang lama, bila hal ini terjadi, maka roda bisnis perusahaan menjadi terganggu, oleh karena itu diperlukan hadirnya Enterprise Architecture untuk mengintegrasi divisi-divisi atau departemen yang ada sehingga pekerjaan dan tanggung jawab menjadi tidak tumpang tindih dan tercipta harmoni di dalam menjalankan proses yang ada. Sehingga strategi bisnis dapat dijalankan dengan lebih efektif. Arsitektur perusahaan terdiri dari beberapa artefak berbeda yang memberikan pandangan tertentu tentang suatu organisasi dan literatur arsitektur perusahaan yang tersedia menawarkan sejumlah daftar artefak yang komprehensif yang dapat digunakan sebagai bagian dari praktik arsitektur perusahaan [5].
Gambar 1. Business Architecture Untuk Industri Konstruksi
2.2. Penerapan Enterprise Architecture Dalam Berbagai Bidang
Enterprise Architecture dibutuhkan dalam berbagai bidang, untuk membantu mengintegrasikan sistem informasi di dalam perusahaan atau organisasi, dengan Enterprise Architecture, maka rencana jangka panjang dapat direncanakan dengan baik, dan pengembangan lebih terarah dan lebih tepat sasaran. Selain itu, masalah keamanan kerja dalam bidang konstruksi juga menjadi perhatian penting, agar proses dapat berjalan lancar tanpa terjadinya kecelakaan kerja [6].
Jatisi ISSN 2407-4322
Vol. 9, No. 2, Juni 2022, Hal. 1175-1186 E-ISSN 2503-2933 1178
Gambar 2. Enterprise Architecture Dengan 8 Domain dari TOGAF
Enterprise Architecture dapat diungkapkan dengan cara menganalisis mekanisme yang bergantung pada konteks di balik EA yang menghasilkan penciptaan nilai dan mengembangkan pendekatan berbasis bukti yang ketat untuk lebih memahami EA tersebut. [7]. Dalam pelaksanaannya, ada beberapa metode atau turunan yang digunakan dalam Enterprise Architecture, yaitu Basic Enterprise Architecture Methodology (BEAM), Federal Enterprise Architecture (FEA), Enterprise Architecture Strategy (EAS), Archirecture Development Method (ADM), Enterprise Architecture Planning (EAP). The Open Group Architecure Framework (TOGAF).
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Sebagai bahan analisis diambil contoh dari bidang industri konstruksi, karena proses yang terjadi di dalam industri ini relative kompleks, dengan hadirnya Enterprise Architecture akan lebih jelas apa saja yang menjadi strength and weakness sehingga perencanaan jangka panjang dapat lebih terarah dan fokus sehingga perkembangan dan pencapaian perusahaan dapat terukur dan visi misi perusahaan bisa tercapai dengan baik. Manajemen proyek konstruksi dimulai dengan analisis sejumlah besar data persyaratan fungsional, yang harus ditransfer ke kriteria penerimaan yang terukur sebelum desainer mulai mengembangkan solusi. [8].
3.1. Enterprise Architecture.
Customer dan supplier yang mendukung proses bisnis dari industri konstruksi, sebagai berikut:
Gambar 3. Application Architecture Industri Konstruksi Proses bisnis terdiri dari beberapa komponen:
3.1.1. Business Core Process Dalam Industri Konstruksi
Bank Land – Perusahaan developer properti yang memiliki dana berlebih, akan membeli sebidang tanah yang belum tentu dibangun dalam waktu dekat, tujuan dari proses bisnis ini adalah harga tanah akan naik, sehingga pada saat nanti dibangun, nilai properti juga ikut naik. Sebidang tanah yang sudah dibeli, juga bisa dijual dalam bentuk tanah kepada investor maupun developer lain tanpa dibangun, untuk mengurangi resiko penjualan yang belum tentu hasilnya cepat, dan lebih memilih mengambil keuntungan dari selisih harga tanah pada saat membeli.
Loan – Developer properti bisa membantu pembiayaan dari transaksi pembelian dengan nilai bunga tertentu, sehingga proses bisnis ini mirip dengan bank konvensional yang memberikan KPR, tetapi dengan persyaratan dan bunga yang lebih ringan.
Bahan Bangunan – Proses bisnis ini mengambil keuntungan dari kontrak payung atau kontrak dengan jumlah besar dalam jangka waktu yang lama, sehingga developer bebas terhadap kenaikan harga bahan bangunan. Sebagai contoh developer mengadakan kesepakatan dengan pabrik semen, sebanyak 100 ton semen dengan harga yang sudah disepakati, pembayaran lunas di depan, dalam jangka waktu tertentu sesuai kesepakatan.
Sewa Tenant – Properti atau bangunan yang telah dibangun, bila lokasi strategis dan ramai, tidak semua dijual, tetapi bisa disewakan, misalnya ruko atau perkantoran. Selain itu juga bisa mendapatkan keuntungan dari sewa kios atau toko di dalam suatu pusat perbelanjaan / mall.
Supermarket – Salah satu kebutuhan dari komunitas suatu area adalah adanya pasar, pada masa ini masyarakat lebih suka berbelanja di pasar modern atau supermarket karena beberapa keunggulannya dibanding dengan pasar tradisional, yaitu tempat yang lebih kering
Jatisi ISSN 2407-4322
Vol. 9, No. 2, Juni 2022, Hal. 1175-1186 E-ISSN 2503-2933 1180
dan bersih serta harga sudah merupakan harga pas. Developer properti yang membuka suatu kawasan tentu juga menyediakan supermarket yang juga menjadi salah satu sumber income dari developer tersebut. Tentu hal ini tidak berlaku general tergantung dengan kebijakan dan kemampuan perusahaan developer.
Rumah sakit – Kesehatan sangat penting bagi masyarakat, oleh karena itu keberadaaan rumah sakit juga menjadi keharusan dalam rencana pengembangan perusahaan developer. Bila memiliki cukup kemampuan finansial, perusahaan developer akan membeli sebagian saham atau Sebagian kepemilikan dari sebuah rumah sakit yang akan dibangun di dalam suatu kawasan baru tersebut.
Sekolah – Pendidikan juga adalah aspek pokok dalam masyarakat, yang menjadi nilai jual suatu kawasan baru. Untuk beberapa developer terkenal, bahkan mereka mendirikan yayasan sendiri untuk mengelola sekolah atau universitas di sebuah kawasan baru.
Beberapa core process tadi adalah yang umum di sebuah perusahaan developer, tentu berbeda perusahaan, akan berbeda kemampuan finansial dan kemampuan teknis dalam pengelolaan core process. Perusahaan yang ingin berkembang harus bisa menggambarkan apa saja yang menjadi core process dalam perusahaan mereka, sehingga bisa fokus dalam strength atau kelebihan perusahaan, dan bisa meng upgrade di bagian yang menjadi weakness mereka, atau bisa mengambil keputusan ekstrim, misalnya menutup core process yang sebenarnya di luar kemampuan perusahaan.
Gambar 4. Business View dari Industri Konstruksi
Business View menggambarkan mengenai proses yang terdapat di industri konstruksi, dimana perencanaan Information Teknologi mengikuti dengan business process yang ada.
Tetapi perencanaan Information Technology juga harus simple dan efisien, mengingat proses kerja yang terlalu komplek menyebabkan bisnis menjadi lambat dalam memutuskan bisnis di industri konstruksi.
Gambar 5. Information Architecture Industri Konstruksi
3.1.2. Resources (Sumber Daya)
Dalam Enterprise Architecture, juga harus bisa mendefinisikan dan menggambarkan apa saja yang menjadi Resources diteruskan akan memakan waktu, biaya serta menguras semua pikiran dari manajemen perusahaan. (Sumber Daya) pendukung proses bisnis di perusahaan.
Dengan mendefinisikan, tentu akan lebih mudah dalam menemukan Resources mana saja yang bisa diintegrasikan agar mendapat hasil yang lebih baik, juga lebih mudah memperbaiki dan meningkatkan Resources tertentu yang belum memberikan kontribusi yang maksimal.
Beberapa sumber daya yang mendukung industri konstruksi, sebagai berikut:
(1) Gedung, dengan memiliki gedung, akan meyakinkan calon customer maupun customer.
Semakin besar dan semakin baik lokasi gedung kantor yang dimiliki maka rasa trust yang terbangun juga lebih baik.
(2) Pegawai, proses bisnis dapat berjalan dengan baik tidak terlepas dari dukungan pegawai atau sumber daya manusia yang ada, dengan keahlian dari pegawai, dapat mempercepat proses yang ada. Hal ini juga perlu dukungan manajemen yang baik, agar antar pegawai dapat bekerja sama dengan baik.
(3) IT dan Data, proses dalam industri konstruksi sangat kompleks dan banyak data yang harus diolah, sumber daya IT dan Data sangat berperan agar berbagai departemen dapat terintegrasi dengan baik.
(4) Admin, setiap kegiatan dalam industri konstruksi juga tidak terlepas dari administrasi, sehingga sistem administrasi yang baik akan memperlancar proses yang ada dan akan mempercepat proses pencarian data maupun dokumen yang diperlukan. Sistem administrasi ini harus terhubung dengan IT agar semua dapat disimpan dengan baik.
(5) HRIS, human resource information system berkaitan erat dengan sumber daya manusia pada poin sebelumnya [9], dengan HRIS yang baik, maka sumber daya manusia dapat dikelola dengan lebih efisien dan efektif, serta dapat memberikan output laporan-laporan yang nantinya akan menjadi dasar pengambilan keputusan atau kebijakan.
Jatisi ISSN 2407-4322
Vol. 9, No. 2, Juni 2022, Hal. 1175-1186 E-ISSN 2503-2933 1182
(6) Truck, merupakan salah satu sumber daya yang mempengaruhi kecepatan proses konstruksi, karena kebutuhan mengirimkan bahan bangunan ke lokasi konstruksi akan jauh lebih cepat dengan transportasi milik sendiri dan mengurangi ketergantungan dengan pihak luar.
3.1.3. Customer Industri Konstuksi
Enterprise Architecture juga perlu memetakan dan mendefinisikan pihak-pihak yang bersedia mengeluarkan dana untuk membeli produk dan jasa. Berdasarkan Core Process yang ada, maka pelanggan dari industri konstruksi dapat didefinisikan sebagai berikut:
1. Investor atau developer lain, yang tertarik membeli tanah dari Bank Land, untuk dibangun oleh mereka, maupun untuk investasi.
2. Pembeli properti, menggunakan fasilitas pinjaman yang disediakan oleh perusahaan developer properti, karena bunga yang diberikan lebih murah daripada pinjaman melalui bank.
3. Kontraktor, yang membeli bahan bangunan dari perusahaan developer properti yang telah memiliki kontrak payung dengan pabrik bahan bangunan, sehingga mendapatkan harga yang lebih murah.
4. Pedagang, yang menyewa tenant atau ruko yang disediakan oleh perusahaan developer properti.
5. Umum, adalah masyarakat umum yang menjadi pelanggan supermarket.
3.1.4. Top 3 Real Estate Revenue
Sumber pendapatan dari sebuah industri sangat penting untuk didefinisikan agar proses bisnis dapat berjalan dengan baik. Dengan pengelolaan yang baik, pendapatan dapat semakin ditingkatkan dan bisa membuka sumber baru dari lini bisnis yang baru untuk mendukung proses bisnis yang telah berjalan. Gambar di bawah merupakan contoh penjelasan dengan gambar menggunakan program Archimate untuk menjelaskan struktur revenue atau pendapatan dari industri konstruksi (real estate), perbedaan strategi bisnis dan perbedaan lokasi perusahaan bisa menghasilkan urutan sumber pendapatan yang berbeda pula. Tahap konstruksi adalah di mana desain proyek oleh arsitek atau insinyur diwujudkan dengan merakit elemen-elemen yang bisa juga anak-anak yang dari luar kawasan. membentuk desain. Tahap Commissioning / serah terima menunjukkan penyelesaian praktis proyek dan serah terima oleh konstruktor kepada klien. [10]
Perubahan perilaku ekonomi dari Customer juga perlu diperhatikan, agar dapat menyediakan jasa dan produk sesuai dengan kebutuhan saat ini. Konstruksi yang spesifik bukan hanya sumber perubahan lingkungan tetapi merupakan pendorong seleksi yang dapat menghasilkan hasil evolusi kontruksi yang baru. [11]. Dengan pemahaman yang jelas mengenai struktur revenue, dapat menjaga dan memastikan agar flow tersebut berjalan dengan lancar.
Beberapa hambatan dalam konsruksi adalah hambatan internal, tenaga kerja, material, dan hambatan eksternal. [12]
Gambar 6. Business Architecture (Industri Konstruksi) Dengan Archimate
Gambar 7. Top 3 Real Estate Revenue Dengan Archimate
Jatisi ISSN 2407-4322
Vol. 9, No. 2, Juni 2022, Hal. 1175-1186 E-ISSN 2503-2933 1184
3.2. Strategi dan Penerpan Enterprise Architecture
Penerapan dan strategi dari Enterprise Architecture adalah langkah bagaimana IT Planning atau Blueprint industri konstruksi diterapkan. Hal inilah langkah yang sangat penting.
1. Analisa dari Enterprise Architecture, karena Enterprise Architecture industri konstruksi sangatlah besar, maka pengukuran dari besarnya sistem dan aplikasi haruslah diukur untuk waktu penerapan.
2. Setelah itu disusun skala prioritas, sistem aplikasi mana yang akan diterapkan terlebih dahulu. Peranan project management sangat diperlukan mengingat pekerjaan ini membutuhkan resource yang besar.
3. Keterlibatan user sangat diperlukan untuk pembangunan Enterprise Architecture.
4. Testing dan evaluasi diperlukan.
4. KESIMPULAN
Enterprise Architecture merupakan gambaran besar dari sebuah organisasi atau perusahaan, dari gambaran besar tersebut bisa disusun rencana strategis, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Untuk rencana yang saat ini masih terlalu tinggi biayanya, bisa ditunda pelaksanaannya tetapi sudah masuk dalam Planning. Setiap peluang yang potensial harus mempertimbangkan aspek biaya dan aspek resiko.
Rencana atau peluang yang menghabiskan banyak biaya investasi maupun biaya operasional bisa menjadi bahan pertimbangan apakah sepadan dengan manfaat atau hasil yang didapatkan. Rencana yang mengandung resiko tinggi terhadap nama baik, terhadap relasi, maupun aspek lain, juga harus dipertimbangkan dengan matang.
Dengan Enterprise Architecture, bisa melihat dengan lebih jelas value dari setiap core process, apa saja yang menjadi revenue utama dari bisnis yang berjalan, dan masih banyak yang bisa dipelajari dan dikembangkan dalam Architecture Vision. Saat ini, juga telah dikembangkan konstruksi cerdas menggunakan teknologi "pintar" IoT terbaru, seperti Cyber Physical System (CPS), untuk membantu proses konstruksi. CPS adalah penggabungan komputasi, jaringan, dan objek fisik. Ada berbagai contoh CPS yang telah digunakan di berbagai sektor mulai dari manufaktur, robotika, dan kota pintar.
[13]
Di masa pandemic seperti saat ini, perusahaan perlu menata ulang strategi
bisnisnya untuk dapat bertahan dalam persaingan. Perusahaan yang bisa move on dari
masa kejayaaan dan keemasannya akan dapat bertahan, bahkan lebih kuat dari
sebelumnya. Enterprise Architecture yang terdefinisi dengan baik bisa membawa
perusahaan ke arah yang semakin baik dan bisa mengantisipasi masa depan, dan bisa
menjawab kebutuhan customer yang dinamis. Bidang konstruksi menghadapi banyak
tantangan dalam menghadapi dampak pandemi COVID-19 terhadap perekonomian dan
lingkungan kerja konstruksi. Meskipun setiap organisasi menerapkan strateginya sendiri
untuk mengurangi dampak pandemi ini pada operasi dan pekerja, industri konstruksi
secara keseluruhan sangat perlu mengidentifikasi strategi yang paling efektif untuk
mengurangi dampak COVID-19 pada operasinya dalam jangka pendek sambil
sangat besar dan berada di ujung jari dengan Smartphone bisa mengendalikan banyak hal.
5. SARAN
Penelitian ini dapat dilanjutkan dengan evaluasim jika Enterprise Architecture diterapkan didalam industri konstruksi.
DAFTAR PUSTAKA
[1] J. Lapalme, A. Gerber, A. Van Der Merwe, J. Zachman, M. De Vries, and K.
Hinkelmann, “Exploring The Future of Enterprise Architecture: A Zachman Perspective,” Comput. Ind., Vol. 79, 2016, doi: 10.1016/j.compind.2015.06.010.
[2] R. E. Pariama, “Enterprise Arsitektur Planning (EAP) Untuk Universitas Pattimura Menggunakan TOGAF ADM,” JATISI (Jurnal Tek. Inform. dan Sist. Informasi), Vol. 7, No. 2, pp. 277–288, 2020, doi: 10.35957/jatisi.v7i2.209.
[3] L. Retnawati, “Perancangan Enterprise Architecture Menggunakan TOGAF di Universitas ABC,” J. IPTEK, Vol. 22, No. 1, p. 13, 2018, doi:
10.31284/j.iptek.2018.v22i1.221.
[4] T. S. M. Yusuf Sanny, Deden A Wahab Sya’roni, “Enterprise Architecture Planning Sistem Informasi Puskesmas Pasirkaliki,” Maj. Ilm. Unikom, Vol. 9 No.1, pp. 21–32, 2019.
[5] S. Kotusev, “Enterprise Architecture And Enterprise Architecture Artifacts: Questioning The Old Concept In Light of New Findings,” J. Inf. Technol., Vol. 34, No. 2, 2019, doi:
10.1177/0268396218816273.
[6] F. AL-Sahar, A. Przegalińska, and M. Krzemiński, “Risk Assessment On The Construction Site With The Use of Wearable Technologies,” Ain Shams Eng. J., 2021, doi: 10.1016/j.asej.2021.04.006.
[7] Y. Gong and M. Janssen, “The Value of And Myths About Enterprise Architecture,” Int.
J. Inf. Manage., Vol. 46, 2019, doi: 10.1016/j.ijinfomgt.2018.11.006.
[8] P. Schönbeck, M. Löfsjögård, and A. Ansell, “Quantitative Review of Construction 4.0 Technology Presence In Construction Project Research,” Buildings, Vol. 10, No. 10.
2020, doi: 10.3390/buildings10100173.
[9] E. D. Nurmawan and M. Mulyati, “Sistem Informasi Kepegawaian Berbasis Website pada PT Sumatera Panca Rajo Palembang,” JATISI (Jurnal Tek. Inform. dan Sist.
Informasi), Vol. 5, No. 2, pp. 147–157, 2019, doi: 10.35957/jatisi.v5i2.143.
[10] J. G. Sarhan, B. Xia, S. Fawzia, and A. Karim, “Lean Construction Implementation In The Saudi Arabian Construction Industry,” Constr. Econ. Build., Vol. 17, No. 1, 2017, doi: 10.5130/AJCEB.v17i1.5098.
Jatisi ISSN 2407-4322
Vol. 9, No. 2, Juni 2022, Hal. 1175-1186 E-ISSN 2503-2933 1186
[11] K. Laland, B. Matthews, and M. W. Feldman, “An Introduction To Niche Construction Theory,” Evol. Ecol., Vol. 30, No. 2, 2016, doi: 10.1007/s10682-016-9821-z.
[12] W. Albalkhy and R. Sweis, “Barriers to Adopting Lean Construction In The Construction Industry: A Literature Review,” International Journal of Lean Six Sigma, Vol. 12, No. 2. 2021, doi: 10.1108/IJLSS-12-2018-0144.
[13] S. M. Hasan, K. Lee, D. Moon, S. Kwon, S. Jinwoo, and S. Lee, “Augmented Reality and Digital Twin System For Interaction With Construction Machinery,” J. Asian Archit. Build. Eng., 2021, doi: 10.1080/13467581.2020.1869557.
[14] M. Raoufi and A. R. Fayek, “Identifying Actions to Control and Mitigate the Effects of The COVID-19 Pandemic on Construction Organizations: Preliminary Findings,”
Public Works Management and Policy, Vol. 26, No. 1. 2021, doi:
10.1177/1087724X20969164.