NARASI NILAI PERJUANGAN PADA KARAKTER UTAMA FILM
KERETA API TERAKHIR (1981)
TUGAS AKHIR SKRIPSI
Oleh:
NADYA SALZA SANDRA DEVI NIM. 16148130
PROGRAM STUDI FILM DAN TELEVISI JURUSAN SENI MEDIA REKAM FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN
INSTITUT SENI INDONESIA SURAKARTA
2021
NARASI NILAI PERJUANGAN PADA KARAKTER UTAMA FILM
KERETA API TERAKHIR (1981)
TUGAS AKHIR SKRIPSI
Untuk memenuhi sebagian persyaratan Mencapai derajat Sarjana Strata-1 (S-1)
Program Studi Film dan Televisi Jurusan Seni Media Rekam
Oleh:
NADYA SALZA SANDRA DEVI NIM. 16148130
FAKULTAS SENI RUPA DAN DESAIN INSTITUT SENI INDONESIA
SURAKARTA
2021
ii
iii
PERNYATAAN
Yang bertanda tangan di bawah ini : Nama : Nadya Salza Sandra Devi NIM : 16148130
Menyatakan bahwa laporan Tugas Akhir Skripsi berjudul:
NARASI NILAI PERJUANGAN PADA KARAKTER UTAMA FILM
KERETA API TERAKHIR (1981) adalah karya saya sendiri dan bukan jiplakanatau plagiarisme dari karya orang lain. Apabila di kemudian hari, terbukti sebagai hasil jiplakan atau plagiarisme, maka saya bersedia mendapatkan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.
Selain itu, saya menyetujui laporan Tugas Akhir ini dipublikasikan secara online dan cetak oleh Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta dengan tetap memperhatikan etika penulisan karya ilmiah untuk keperluan akademis.
Demikian, surat pernyataan ini saya buat dengan sebenar-benarnya.
Surakarta, 15 Maret 2021 Yang menyatakan,
Nadya Salza Sandra Devi
NIM. 16148130
iv
MOTTO
“We owe it to ourselves to be happy. Instead of looking for reason we’re not, maybe we’re better off looking for reasons we should be?”
- Jae, Day6
v
ABSTRAK
NARASI NILAI PERJUANGAN PADA KARAKTER UTAMA FILM
KERETA API TERAKHIR (1981) (Nadya Salza Sandra Devi, 16148130, 2021,xiv dan 122 halaman) Skripsi S-1 Program Studi Film dan Televisi, Jurusan Seni Media Rekam, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta.
Penelitian ini mengkaji mengenai karakter utama dalam film Kereta Api Terakhir (1981). Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui bagaimana nilai perjuangan tokoh Letnan Firman yang divisualisasikan melalui garap narasi. Penelitian ini menggunakan penelitian bersifat deskriptif kualitatif. Pengumpulan data melalui observasi dengan mengamati langsung film Kereta Api Terakhir (1981), sedangkan analisis data dilakukan dengan menggunakan model analisis interaktif Miles dan Huberman. Penelitian dilakukan dengan mengambil scene film yang menunjukkan nilai perjuangan dari tokoh Letnan Firman yang divisualisasikan melalui narasi.
Scene yang terpilih kemudian dianalisis menggunakan unsur narasi yang terdiri dari karakter, fungsi karakter, dialog, dan konflik. Hasil dari penelitian yang meliputi unsur-unsur narasi terhadap karakter utama film Kereta Api Terakhir (1981) dapat ditemukan adanya visualisasi empat narasi nilai perjuangan, yaitu 1) Nilai mencintai tanah air, 2) Nilai rela berkorban dengan mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan sendiri, 3) Nilai pengabdian kepada negara, 4) Nilai kesetiaan kepada negeri.
Kata Kunci: Karakter Utama, Narasi Nilai Perjuangan, Kereta Api Terakhir 1981
vi
KATA PENGANTAR
Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam yang telah memberikan rahmat serta petunjuk-Nya sehingga penulis diberikan kemudahan dalam menyusun tugas akhir skripsi. Penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih pada semua pihak yang telah membantu, terlibat, dan memberikan dukungan dalam penyusunan skripsi ini, tanpa adanya pihak-pihak ini penulis tidak akan berjalan dengan lancar, 1. Drs. Achmad Sjafi’i, M.Sn., selaku Dosen Pembimbing Tugas Akhir Skripsi yang telah meluangkan waktu, pikiran, dan tenaganya untuk memberikan bimbingan, arahan, masukan, dan saran kepada penulis selama proses penyusunan skripsi ini dari awal sampai akhir.
2. Ranang Agung Sugihartono, S.Pd., M.Sn., selaku Ketua Penguji Tugas Akhir Skripsi yang telah memberikan arahan, masukan, dan saran agar skripsi ini menjadi lebih baik.
3. Donie Fadjar Kurniawan, S.S., M.Si., M.Hum., selaku Penguji Utama Tugas Akhir Skripsi yang telah memberikan arahan, masukan, dan saran agar skripsi ini menjadi lebih baik.
4. Citra Ratna Amelia, S.Sn., M.Sn. (Almh) dan Sapto Hudoyo, S.Sn., M.A., selaku Dosen Pembimbing Akademik yang telah memberikan semangat kepada penulis untuk segera menyelesaikan tugas akhir skripsi ini.
5. Seluruh Dosen Program Studi Film dan Televisi yang telah memberikan dan
membagikan ilmunya kepada penulis selama menempuh perkuliahan di Institut
Seni Indonesia Surakarta.
vii
6. Kedua orang tua, ayahanda Alhadi dan ibunda Linawati, serta kakak Wan Faizal Erkham Thariq Ariestya yang telah memberikan dukungan dalam hal materi maupun moril kepada penulis selama melaksanakan proses penyusunan tugas akhir skripsi.
7. Olivia Cholifatul, Diandra Sekar, Faisal Dwi Laksono, Nining Yunikasari, Frisiananda Yuasa Giri, Hima Laily, Aulya Dita Alhazari, Cindy Rahmawati, dan Dea Pitaloka, selaku teman semasa perkuliahan yang selalu memberikan dukungan dan menerima keluh kesah penulis dalam proses menyelesaikan tugas akhir skripsi.
8. Teman-teman Program Studi Film dan Televisi angkatan 2016 yang saling memberikan saran dan semangat selama masa perkuliahan hingga proses penyusunan tugas akhir skripsi.
9. Semua pihak yang telah membantu proses penyelesaian tugas akhir skripsi yang tidak bisa penulis sebutkan satu persatu.
10. Last but not least, I wanna thank me, for believing in me, for doing all this hard work, for having no days off, for never quitting, for just being me at all times.
Penulis sangat menyadari bahwa penulisan tugas akhir skripsi ini masih terdapat banyak kekurangan. Masukan dan kritik dari berbagai pihak untuk kesempurnaan skripsi ini sangat penulis hargai. Penulis berharap skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Surakarta, Januari 2021
Penulis
ix
DAFTAR ISI
HALAMAN PENGESAHAN ... ii
HALAMAN PERNYATAAN ... iii
MOTTO ... iv
ABSTRAK ... v
KATA PENGANTAR ... vi
DAFTAR ISI ... ix
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR TABEL ... xiii
DAFTAR BAGAN ... xiv
BAB I PENDAHULUAN ... 1
A. Latar Belakang ... 1
B. Rumusan Masalah ... 4
C. Tujuan Penelitian ... 4
D. Manfaat Penelitian ... 4
E. Tinjauan Pustaka ... 5
F. Kerangka Konseptual ... 7
1. Unsur Narasi... 7
2. Struktur Film ... 17
3. Identifikasi Karakter Tokoh ... 20
4. Nilai Perjuangan ... 23
G. Metode Penelitian... 25
1. Jenis Penelitian ... 25
2. Objek Penelitian ... 26
3. Sumber Data ... 26
4. Teknik Pengumpulan Data ... 27
5. Analisis Data ... 28
x
H. Sistematika Penelitian ... 31
BAB II GAMBARAN UMUM FILM KERETA API TERAKHIR (1981) ... 33
A. Film Kereta Api Terakhir (1981) ... 33
B. Sinopsis Film Kereta Api Terakhir (1981) ... 36
C. Profil Sutradara ... 37
D. Tokoh Film Kereta Api Terakhir (1981) ... 38
E. Analisis Karakter Tiga Dimensi ... 45
F. Sequence Film Kereta Api Terakhir (1981) ... 59
BAB III NARASI NILAI PERJUANGAN KARAKTER UTAMA FILM KERETA API TERAKHIR (1981) ... 76
A. Narasi Nilai Perjuangan Tokoh Utama dan Tokoh Pendukung yang terkait melalui Karakter, Dialog, dan Konflik dalam Film Kereta Api Terakhir (1981) ... 76
1. Adegan 5 ... 77
2. Adegan 34 ... 79
3. Adegan 40 ... 83
4. Adegan 44 ... 87
5. Adegan 50 ... 91
6. Adegan 57 ... 95
7. Adegan 60 ... 99
8. Adegan 67 ... 103
9. Adegan 81 ... 107
B. Nilai-Nilai Perjuangan dalam Film Kereta Api Terakhir (1981) ... 112
BAB IV PENUTUP ... 117
A. Kesimpulan ... 117
B. Saran ... 120
DAFTAR PUSTAKA ... 121
xi
DAFTAR GAMBAR
Gambar 1. Perbedaan cerita dan alur ... 9
Gambar 2. Poster Film Kereta Api Terakhir (1981) ... 35
Gambar 3. Tokoh Letnan Firman ... 45
Gambar 4. Letnan Firman dalam adegan 67 ... 47
Gambar 5. Letnan Firman dalam adegan 24 ... 47
Gambar 6. Letnan Firman dalam adegan 34 ... 48
Gambar 7. Letnan Firman bersama Wida dalam adegan 34 ... 49
Gambar 8. Letnan Firman dalam adegan 67 ... 50
Gambar 9. Kondektur Bronto saat bertemu Letnan Firman dalam adegan 37... 51
Gambar 10. Kondektur Bronto saat melakukan serangan ke ‘cocor merah’ dalam adegan 69... 52
Gambar 11. Tokoh Wida bersama Letnan Firman dalam adegan 34 ... 53
Gambar 12. Tokoh Retno Widuri... 54
Gambar 13. Retno Widuri saat bertemu kembarannya Retno Windarti dalam adegan 76... 55
Gambar 14. Retno Widuri saat bersama Letnan Firman dalam adegan 50 ... 56
Gambar 15. Nuni bersama Letnan Firman dalam adegan 57 ... 57
Gambar 16. Willy bersama Letnan Firman dalam adegan 67 ... 59
Gambar 17. Letnan Firman saat melakukan penyerangan dalam adegan 5 ... 77
Gambar 18. Letnan Firman dan Wida dalam adegan 34 ... 80
Gambar 19. Letnan Firman dan Kepala Stasiun Kebasen dalam adegan 40 ... 84
Gambar 20. Letnan Firman, Kapten Syafei, dan pegawai kereta lainnya sedang berunding di gerbong kereta api dalam adegan 44 ... 88
Gambar 21. Letnan Firman dan Retno dalam adegan 50 ... 92
Gambar 22. Letnan Firman pada saat mengikuti organisasi bawah tanah saat melawan Jepang ... 94
Gambar 23. Letnan Firman dan Nuni dalam adegan 57 ... 98
xii
Gambar 24. Letnan Firman dan Kepala Stasiun Kroya dalam adegan 60 ... 100 Gambar 25. Letnan Firman dalam adegan 67 ... 105 Gambar 26. Willy dan pegawai rel dalam adegan 67 ... 106 Gambar 27. Teman seperjuangan Letnan Firman dalam mengawal jalannya kereta
api dalam adegan 81 ... 107
Gambar 28. Letnan Firman dan Kepala Stasiun Yogyakarta dalam adegan 81... 108
Gambar 29. Letnan Firman dan Kondektur Bronto dalam adegan 81 ... 111
xiii
DAFTAR TABEL
Tabel 1. Fungsi narasi ... 12
Tabel 2. Karakter fungsi narasi ... 15
Tabel 3. 19 tokoh film Kereta Api Terakhir (1981) ... 38
Tabel 4. Sequence film Kereta Api Terakhir (1981) ... 60
Tabel 5. Adegan yang dianalisis ... 72
Tabel 6. Fungsi karakter pada adegan 5 ... 78
Tabel 7. Fungsi karakter pada adegan 34 ... 81
Tabel 8. Fungsi karakter pada adegan 40 ... 85
Tabel 9. Fungsi karakter pada adegan 44 ... 89
Tabel 10. Fungsi karakter pada adegan 50 ... 93
Tabel 11. Fungsi karakter pada adegan 57 ... 96
Tabel 12. Fungsi karakter pada adegan 60 ... 101
Tabel 13. Fungsi karakter pada adegan 67 ... 104
Tabel 14. Fungsi karakter pada adegan 81 ... 109
Table 15. Rangkuman narasi nilai perjuangan melalui karakter, dialog, dan
konflik ... 112
xiv
DAFTAR BAGAN
Bagan 1. Kerangka Konseptual Penelitian ... 25
Bagan 2. Komponen Analisis Data Model Interaktif ... 29
1
BAB I PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Film merupakan institusi sosial penting, isi film tidak saja mampu merefleksikan tetapi juga menciptakan realitas. Film juga diartikan sebagai sebuah karya yang ditampilkan melalui gambar bergerak. Sejauh ini perfilman di Indonesia masih digunakan sebagai media hiburan, media informasi dan media pendidikan. Banyak pesan moral yang disampaikan oleh si pembuat kepada penonton. Film sebagai media penyampai pesan. Semua aspek film, mulai dari cerita, dialog, maupun gambar dapat dikonversi menjadi rangkaian kata (naratif).
1Menurut Undang-Undang Tentang Perfilman; “Film adalah karya seni budaya yang merupakan pranata sosial dan media komunikasi massa yang dibuat berdasarkan kaidah sinematografi dengan atau tanpa suara dan dapat dipertunjukkan.”
2Beberapa film di Indonesia masih menggunakan artistik serta cerita yang sederhana tetapi pesan yang disampaikan sangat kuat dan kental.
Selain pendukung artistik dan cerita yang sederhana, sebagai penunjang suatu film menjadi kuat ada pada karakter tokoh yang dibangun sedemikian rupa sehingga dapat memperkuat film tersebut.
Peran unsur sinematik dan narasi tidak akan lepas. Narasi dalam sebuah film berupa alur cerita yang terdapat pesan yang ingin disampaikan kepada
1 Redi Panuju, Film sebagai Proses Kreatif (Inteligensia Media, 2019).
2 ‘Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 33 Tahun 2009 Tentang Pefilman’, 2009 https://www.bpi.or.id/doc/73283UU_33_Tahun_2009.pdf [accessed 7 April 2020].
2
penonton melalui tokoh yang diperankan. Kebanyakan cerita, dalam menyampaikan sebuah pesan kepada audience karakter utama yang ditunjuk sebagai pembawa pesan. Dalam pembangunan karakter tokoh film terdapat beberapa macam karakter yang dimunculkan dengan berbagai kepribadian, watak dan perilaku. Pembentukan karakter tokoh didukung keberadaan setting, kostum, tata rias wajah, pencahayaan, pemain serta dialog. Karakter tokoh yang kuat dan jelas akan membantu pencapaian kesan dan tema yang disodorkan.
3Salah satu contoh karakter tokoh utama yang membantu memberikan maksud dan pesan isi film adalah karakter Letnan Firman pada Film Kereta Api Terakhir (1981).
Film Kereta Api Terakhir (1981) yang diproduksi pada tahun 1981 ini diangkat dari novel karya Pandir Kelana dengan judul yang sama yaitu Kereta Api Terakhir (1981) dan merupakan salah satu film super kolosal yang melibatkan 15.000 pemain. Film garapan Mochtar Soemodimedjo ini mengisahkan tentang perjalanan pengungsian kereta api dari Purwokerto menuju Yogyakarta yang dipimpin oleh Letnan Firman. Pada kala itu Republik Indonesia masih dalam keadaan setelah merdeka dan dari pihak Belanda belum sepenuhnya melepaskan kemerdekaan seutuhnya kepada Republik Indonesia. Dampak yang terjadi, Belanda akhirnya terus menyerang basis Republik dan ingin menguasai beberapa kota di pulau Jawa, salah satunya adalah jalur perkeretaapian yang melintas di pulau Jawa. Pada masa itu, kereta api menjadi alat transportasi utama bagi warga untuk berpergian dari daerah satu ke daerah yang lain. Belanda pun akhirnya menyerang melalui serbuan pesawat ‘cocor merah’ ke jalur-jalur kereta api, salah
3 H Pratista, Memahami Film (Homerian Pustaka, 2008).
3
satunya kereta api terakhir yang dipimpin oleh Letnan Firman menuju Yogyakarta. Kisah perjalanan film Kereta Api Terakhir (1981) yang penuh rintangan ini dikemas dengan adegan romantis dan komedi. Para analis film mengatakan, bisa jadi bahwa film Kereta Api Terakhir (1981) adalah film road movie pertama yang dibuat oleh Indonesia. Meski romansa yang dijadikan kisah utama, namun tidak menghilangkan esensi perjuangannya.
4Perjuangan memiliki arti jiwa yang pantang menyerah, tidak mudah putus asa, ikhlas dalam melakukan sesuatunya, dan tidak pernah menganggap suatu kegagalan merupakan akhir dari segalanya. “Life is Struggle” begitulah orang Inggris mengatakan bahwa hidup adalah sebuah perjuangan yang artinya dalam hidup harus ada sebuah usaha dari diri kita untuk bisa maju.
5Film Kereta Api Terakhir (1981) menjadi film yang ramai diperbincangkan pada tahun 1981, karena pada saat itu banyak film yang bertemakan revolusi hadir di Indonesia. Nilai-nilai penting yang dapat diamati dalam film Kereta Api Terakhir (1981) adalah semangat perjuangan para tentara serta pegawai kereta api yang pada era saat ini sangat dibutuhkan generasi muda yang mulai meluntur akan semangat nasionalismenya dan pemahaman akan nilai kebangsaan.
6Pesan-pesan nilai perjuangan yang terkandung dalam film Kereta Api Terakhir (1981) selanjutnya akan dijadikan fokus kajian melalui garap narasi
4 dhila13, ‘Kereta Api Terakhir’, 2011. https://dhila13.wordpress.com/2011/11/24/kereta- api-terakhir/. [accessed 5 November 2020].
5 Siti Rodhotul Janah, Perjuangan (CV Jejak (Jejak Publisher), 2018).
6 S Widiyono, ‘Pengembangan Nasionalisme Generasi Muda di Era Globalisasi’, Jurnal Populika, 7.1 (2019), 16.
4
yang meliputi unsur-unsur narasi yaitu karakter, fungsi karakter, dialog, dan konflik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan dari latar belakang di atas, rumusan masalah yang diambil terkait dengan penelitian ini; bagaimana nilai perjuangan karakter utama film Kereta Api Terakhir (1981) divisualisasikan melalui garap narasi.
Rumusan masalah ini secara khusus akan mengkaji bagaimana nilai perjuangan karakter utama film Kereta Api Terakhir (1981) dibangun melalui karakter dan fungsi karakter, dialog, dan konflik yang terjadi.
C. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan peneliti adalah untuk mendeskripsikan nilai perjuangan karakter utama film Kereta Api Terakhir (1981) melalui garap narasi meliputi karakter dan fungsi karakter, dialog, dan konflik.
D. Manfaat Penelitian
Sesuai dengan tujuan penelitian, manfaat dari penelitian ini adalah untuk
memahami nilai-nilai perjuangan karakter tokoh utama yang divisualisasikan
melalui film Kereta Api Terakhir (1981). Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan
5
sebagai bahan referensi bagi mahasiswa yang akan melakukan penelitian menggunakan metode narasi.
E. Tinjauan Pustaka
Berdasarkan dengan judul yang penulis ambil, penulis mendapatkan berbagai referensi sebagai penunjang penelitian. Tinjauan pustaka ini berisi penemuan penelitian terdahulu yang masih memiliki kesamaan dengan penelitian penulis.
Skripsi Analisis Narasi Fungsi Karakter Makna Perjuangan dalam Film Surat dari Praha oleh Muhammad Badruzzaman, mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi, Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tahun 2017. Penelitian tersebut menganalisis pesan yang terdapat pada isi teks narasi dari adegan dan dialog dari film Surat Dari Praha yang berkaitan dengan perjuangan. Penelitian ini menganalisis makna perjuangan dengan analisis narasi melalui karakter dalam film. Penelitian ini digunakan penulis sebagai referensi bagaimana menganalisis karakter tokoh utama dalam memaknai makna perjuangan dengan menggunakan analisis narasi. Perbedaan penelitian ini yaitu metode yang digunakan berbeda.
Skripsi Konstruksi Nasionalisme dalam Film Jenderal Soedirman Karya
Tubagus Deddy oleh Khapsoh Nur Alifah, mahasiswi Prodi Studi Komunikasi dan
Penyiaran Islam, Jurusan Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah, Institut Agama
Islam Negeri Purwokerto tahun 2019. Penelitian tersebut menganalisis bagaimana
konstruksi nasionalisme dalam film Jenderal Soedirman ketika berperang
6
melawan Belanda. Penelitian ini menggunakan metode analisis naratif menurut Vladimir Propp. Penelitian ini digunakan penulis sebagai referensi dalam hal menganalisis nilai-nilai nasionalisme yang dikontruksi melalui peran masing- masih tokoh dalam film tersebut melalui dialog, maupun melalui perilaku para tokoh.
Skripsi Analisis Naratif Tentang Perlawanan Islam terhadap Isu Terorisme dalam Film Bulan Terbelah di Langit Amerika oleh Deina Safira, mahasiswi Program Studi Televisi dan Film, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Seni Indonesia Surakarta tahun 2019. Penelitian ini menganalisis tentang perlawanan Islam terhadap isu terorisme yang terjadi di Amerika Serikat. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif deskriptif. Penelitian ini digunakan oleh peneliti sebagai referensi penggunaan analisis melalui dialog dan fungsi karakter.
Perbedaan dengan penelitian ini yaitu objek yang digunakan berbeda.
Skripsi Perlawanan Perempuan Batak terhadap Budaya Patriarki dalam
Film Tiga Nafas Likas (Analisis Naratif Film) oleh Neni Munthi Rima Sembiring
Brahman, mahasiswi Program Studi Televisi dan Film, Fakultas Seni Media
Rekam, Institut Seni Indonesia Yogyakarta tahun 2017. Penelitian ini membahas
mengenai perlawanan Likas Tarigan sebagai perempuan terhadap budaya
patriarki yang dinarasikan pada film 3 Nafas Likas. Penelitian ini menggunakan
pendekatan kualitatif dengan analisis naratif. Penelitian ini digunakan penulis
dalam penggunaan metode yang digunakan dengan menganalisis elemen naratif
melalui dialog, fungsi karakter, dan narasi para tokoh utama.
7
F. Kerangka Konseptual 1. Unsur Narasi
Narasi berasal dari kata Latin narre, yang artinya “membuat tahu” yang berarti, narasi berkaitan dengan upaya untuk memberitahu sesuatu atau peristiwa.
7Tetapi tidak semua informasi atau penyampaian suatu peristiwa bisa disebut sebagai narasi. Oleh beberapa ahli sendiri terdapat perbedaan mengenai definisi narasi sendiri. Berikut tiga definisi narasi menurut beberapa ahli.
Girard Ganette: Representation of events or of a sequence of events.
8“Representasi dari sebuah peristiwa atau rangkaian peristiwa-peristiwa.”
Gerald Prince: The representation of one or more real or fictive events communicated by one, two, or several narrators to one, two, or several narrates.
9“Representasi dari satu atau lebih peristiwa nyata atau fiktif yang dikomunikasikan oleh satu, dua, atau beberapa narrator untuk satu, dua, atau beberapa naratee.”
Porter Abbott: Representation of events, consisting of story and narrative discourse, story is an events or sequence of events (the action) and narrative discourse is those events as represented.
10“Representasi dari peristiwa-peristiwa, memasukkan cerita dan wacana naratif, di mana cerita adalah peristiwa-peristiwa atau rangkaian
7 Eriyanto, Dasar-Dasar dan Penerapannya dalam Analisis Teks Berita Media, Jakarta:
Kencana Prenada Media Group, 2013.
8 Ibid. hal 1
9 Ibid. hal 1
10 Ibid. hal 2
8
peristiwa (tindakan) dan wacana naratif adalah peristiwa sebagaimana ditampilkan.”
Dari berbagai definisi narasi yang dikemukakan oleh para ahli tersebut, terdapat benang merah. Narasi adalah representasi dari peristiwa-peristiwa atau rangkaian dari peristiwa-peristiwa. Dengan kesimpulan, sebuah cerita baru bisa disebut sebagai narasi apabila terdapat beberapa peristiwa atau rangkaian dari peristiwa-peristiwa.
11Menurut Bordwell dan Thompson, narasi juga dikatakan “A narrative is a chain of events in cause-effect relationship occurring in time and space”
12yang diartikan narasi merupakan rangkaian peristiwa yang disusun melalui hubungan sebab akibat dalam ruang waktu tertentu. Titik utama dari analisis suatu narasi adalah untuk mengetahui bagaimana peristiwa tersebut disusun dan bagaimana peristiwa tersebut dijalin antara satu dengan yang lainnya. Setiap peristiwa yang terjadi pada cerita juga digerakkan oleh tokoh. Adegan dalam cerita dimulai dari alur, dialog, hingga tindakan tokoh mempunyai fungsi untuk membangun suatu narasi yang berkaitan satu dengan yang lainnya. Pada unsur narasi terdapat suatu cerita yang di dalamnya terbagi menjadi cerita secara keseluruhan, plot/alur, dan fungsi karakter.
a. Cerita
Cerita adalah salah satu bagian terpenting dalam struktur narasi. Cerita juga sebagai satu aspek yang harus ada dalam sebuah narasi. Dengan adanya
11 Eriyanto. 2013. hal 2
12 David Bordwell, Kristin Thompson, and Jeff Smith, Film Art: An Introduction (McGraw-Hill New York, 1993), VII.
9
cerita, maka dapat dipahami bagaimana narasi bekerja dan bagaimana suatu peristiwa disajikan dalam narasi. Tanpa adanya unsur narasi sebuah cerita tidak akan ada. Cerita juga dapat diartikan satu rangkaian peristiwa secara utuh, kronologis yang disajikan dari awal hingga akhir.
Menurut Nick Lacey sebagaimana dikutip Eriyanto, cerita adalah urutan kronologis dari suatu peristiwa, di mana peristiwa tersebut bisa ditampilkan dalam teks bisa juga tidak ditampilkan dalam teks.
13Cerita dan plot memiliki perbedaan, dengan memahami perbedaan cerita dan plot, seorang peneliti bisa menggambarkan apakah sebuah narasi menampilkan peristiwa secara utuh dan disajikan berdasarkan urutan kronologinya. Menurut David Brodwell dan Kristin Thompson melalui buku Film Art: An Introduction yang dikutip oleh Eriyanto dalam buku Analisis Naratif, cerita dan plot dapat dibedakan melalui skemanya:
Cerita (story)
Peristiwa utuh yang disimpulkan (inferred events)
Peristiwa yang ditampilkan secara eksplisit
Bahan pendukung (tambahan) lain
Alur (plot)
Gambar 1. Perbedaan cerita dan alur
b. Plot/Alur Cerita
Plot adalah apa yang ditampilkan secara nyata dan tegas dalam sebuah cerita.
Plot disusun oleh pembuat cerita (storyteller) dengan tujuan untuk mengungkapkan pikirannya. Narasi, apapun bentuknya apakah fiksi atau fakta
13 Eriyanto. 2013. hal 16
10
(berita), umumnya menampilkan peristiwa dalam bentuk alur (plot). Pembuat cerita (storyteller) berkepentingan untuk membuat narasi yang disajikan menarik, maka dalam plot umumnya urutan peristiwa yang disajikan tidak selalu mengikuti urutan kronologi waktu, tetapi diatur peristiwa mana yang menarik terlebih dahulu lalu kemudian disusul dengan peristiwa pendukung.
14Adapun pembagian plot berdasarkan urutan waktu.
1) Plot Linier
Plot linier memiliki alur cerita yng terfokus hanya pada konflik seputar tokoh sentral, namun semua konflik tetap harus berkesinambungan dengan benang merah cerita.
15Plot linier dimana waktu berjalan sesuai urutan aksi peristiwa tanpa adanya interupsi waktu yang signifikan. Penuturan cerita secara linier memudahkan untuk melihat hubungan kasualitas jalinan suatu peristiwa dengan peristiwa yang lainnya. Jika urutan waktu cerita dianggap sebagai A-B- C-D-E maka urutan waktu plotnya juga sama, yakni A-B-C-D-E.
Sepanjang apapun rentang waktu cerita jika tidak terdapat interupsi waktu yang signifikan maka tetap menggunakan plot linier.
162) Plot Nonlinier
Plot nonlinier adalah plot dengan urutan waktu yang jarang digunakan dalam film cerita. Plot nonlinier memanipulasi urutan waktu kejadian dengan mengubah urutan plotnya sehingga membuat
14 Eriyanto. 2013. hal 17
15 Elizabeth Lutters, Kunci Sukses: Menulis Skenario (Grasindo, 2004).
16 H Pratista. 2008. hal 36
11
hubungan kausalitas menjadi tidak jelas. Jika urutan waktu cerita dianggap A-B-C-D-E maka urutan waktu plotnya dapat C-D-E-A-B atau D-B-C-A-E atau lainnya. Plot nonlinier akan semakin kompleks jika dikombinasi dengan penggunaan multi-plot (tiga cerita atau lebih).
17Dengan penggunaan plot seperti ini akan menyulitkan penonton untuk memahami bagaimana cerita tersebut disajikan.
3) Plot Bercabang
Plot bercabang bisa disebut dengan multi-plot. Plot bercabang sering kali dipakai untuk membuat skenario serial panjang. Multi-plot adalah plot yang jalan ceritanya sedikit melebar ke tokoh lain. Meski begitu, melebarnya tidak terlalu jauh, harus masih berhubungan dengan tokoh sentral. Pada plot ini meskipun bercabang, pada akhirnya cerita akan kembali lagi pada inti permasalahan utamanya.
18c. Fungsi Karakter
Dalam narasi terdapat karakter, yaitu orang atau tokoh yang mempunyai sifat atau perilaku tertentu. Karakter-karakter tersebut masing- masing mempunyai fungsi dalam narasi, sehingga narasi menjadi menyatu.
Narasi tidak hanya menggambarkan isi, tetapi juga di dalamnya terdapat karakter-karakter. Dengan adanya karakter, akan memudahkan bagi pembuat cerita dalam mengungkapkan gagasannya.
19Karakter pada cerita biasanya digambarkan dekat dengan kehidupan sehari-hari dan dapat
17 H Pratista. 2008. hal 37
18 Elizabeth Lutters. 2010. hal 51
19Eriyanto. 2013. hal 65
12
menggambarkn realitas. Agar isi pesan dalam cerita dapat tersampaikan, dibutuhkan berbagai macam karakter, seperti karakter pahlawan (orang baik), karakter penjahat hingga karakter yang membantu para penjahat dan pahlawan.
Dalam suatu narasi, karakter yang sudah terbentuk masing-masing dapat menempati fungsinya sehingga narasi menjadi utuh. Vladimir Propp menemukan 31 fungsi karakter dalam narasi. Fungsi karakter dikonseptualisasikan oleh Vladimir Propp melalui dua aspek. Pertama, tindakan dari karakter tersebut dalam narasi. Tindakan ini bisa jadi perbuatan yang dilakukan oleh tokoh yang sedang memerankan suatu karakter yang sedang memberikan makna atau pesan yang ingin disampaikan oleh si pembuat cerita. Kedua, akibat atau tindakan dalam cerita. Tindakan dari karakter akan mempengaruhi karakter-karakter lain dalam cerita.
20Tabel 1. Fungsi narasi
No Simbol Fungsi Deskripsi Fungsi
α
Situasi awalAnggota keluarga atau sosok pahlawan diperkenalkan. Pahlawan sering kali digambarkan sebagai orang biasa.
1 β
Ketidakhadiran (Absensi)Salah seorang anggota keluarga tidak berada di rumah. Dalam banyak cerita, ini menjadi awal dari sebuah malapetaka.
2 γ
Pelarangan( Penghalangan)
Larangan yang ditujukan kepada pahlawan.
Pahlawan diperingatkan agar tidak melakukan suatu tindakan (Jangan ke sana, jangan melakukan ini itu dan sebagainya).
3 δ
KekerasanLarangan dilanggar
Pahlawan melanggar larangan. Ini umumnya menjadi pintu masuk hadirnya penjahat ke dalam cerita, meskipun tidak selalu menghadapi pahlawan.
4 E
Pengintaian Penjahat melakukan usaha pengintaian.Penjahat membuat sebuah upaya
20 Eriyanto. 2013. hal 66
13
pengintaian (misalnya mencoba untuk menemukan anak-anak/permata dll).
5 ζ
PengirimanPenjahat menerima informasi mengenai korban. Para penjahat memperoleh beberapa bentuk informasi, misalnya mengenai pahlawan atau korban.
6 η
Tipu dayaPenjahat berusaha menipu korbannya.
Penjahat mencoba menipu korban untuk menguasai korban atau barang-barang korban (tipu daya; penjahat menyamar, mencoba untuk memenangkan kepercayaan dari korban). Para penjahat menggunakan berbagai cara untuk menipu pahlawan atau korban.
7 θ
KeterlibatanKorban tertipu, tanpa disadari membantu musuhnya. Tipu daya dari penjahat bekerja dan pahlawan atau korban masuk dalam perangkap yang dibuat oleh penjahat. Dalam banyak cerita ini berupa memberikan penjahat suatu informasi yang penting (peta, tempat rahasia, gua persembunyian, senjata magis).
8 A
Kejahatan atau kekuranganPenjahat melukai anggota keluarga pahlawan. Tindakan penjahat menyebabkan kerugian/cedera pada anggota keluarga (dengan penculikan, pencurian, menyebabkan hilangnya seseorang, melakukan pembunuhan, memenjarakan/
menahan seseorang, mengancam perkawinan paksa, melakukan siksaan).
9 B
MediasiTerjadi keadaan yang malang, pahlawan dikirim untuk mengejar dan menumpas penjahat. Pahlawan menemukan kondisi yang mengenaskan (misalnya menemui anggota keluarga yang dibawa lari penjahat, orang yang tidak berdosa terbunuh dsb).
10 C
Tindakanbalasan
Seseorang setuju untuk melakukan aksi balasan. Pahlawan bertekad untuk menghentikan penjahat. Pahlawan memutuskan bertindak untuk mengatasi kekacauan.
11 ↑
KeberangkatanPahlawan meninggalkan rumah.
Pahlawan memutuskan untuk mengejar penjahat dan menghentikan kekacauan.
12 D
Fungsi pertama seorang penolongPahlawan mendapat ujian dan menrima pertolongan dari orang pintar (dukun/paranormal). Pahlawan pertama kali kalah (menerima serangan, terluka, tidak bisa menemukan kelemahan penjahat, terluka).
13 E
Reaksi daripahlawan
Penolong bereaksi terhadap penolong masa depannya. Pahlawan bereaksi terhadap bantuan dari penolong seperti membebaskan tawanan, mendamaikan pihak yang berselisish, menggunakan kekuatan musuh terhadap dirinya dan sebagainya.
14
14 F
Resep daridukun/
paranormal
Pahlawan belajar menggunakan magis (kekuatan supra natural) yang bisa menghindari dari kesulitan besar.
15 G
Pemindahanruang
Pahlawan mengarah pada objek yang diselidiki. Pahlawan dikirimkan ke lokasi di mana objek berada, tempat di mana tawanan ditahan.
16 H
PerjuanganPahlawan dan penjahat bertarung secara langsung Pahlawan bertemu dengan penjahat, bertarung secara langsung, hidup dan mati.
17 J
CapPahlawan mulai dikenali kepahlawanannya.
Pahlawan menunjukkan kepahlawanannya, menggunakan cincin atau pedang yang menentukan kemenangan.
18 I
KemenanganPenjahat dikalahkan.
Pahlawan berhasil mengalahkan penjahat.
Penjahat terbunuh, menyerah.
19 K
PembubaranKemalangan dan kesulitan berhasil dihilangkan. Kemenangan membawa awal baru yang baik. Tawanan bisa dibebaskan, orang yang terbunuh bisa dihidupkan kembali.
20 ↓
KembaliPahlawan kembali dari tugas.
Pahlawan kembali dari peperangan, bersiap untuk kembali ke rumah.
21 Pr
PengejaranPenjahat melakukan pembalasan, pahlawan dikejar. Penjahat atau pengikut penjahat tidak terima dengan kekalahan. Melakukan pengejaran terhadap pahlawan, merusak nama baik pahlawan.
22 Rs
PertolonganPahlawan ditolong dari pengejaran.
Pahlawan diselamatkan oleh seseorang dari pengejaran, disembunyikan, diselamatkan nyawanya.
23 O
Kedatangantidak dikenal
Pahlawan tidak dikenal, pulang ke rumah atau ke negeri lain yang tidak dikenal.
24 L
Tidak bisamengklaim
Pahlawan palsu hadir tanpa mendapatkan kepahlawanannya. Muncul pahlawan palsu, mengaku mengalahkan penjahat.
25 M
Tugas beratTugas berat ditawarkan kepada pahlawan.
Pahlawan diberikan ujian untuk membuktikan dirinya asli, misalnya dengan uji kekuatan, pertarungan hidup mati dengan pahlawan palsu.
26 N
SolusiTugas diselesaikan. Pahlawan lolos dari ujian, bisa membuktikan dirinya adalah pahlawan asli.
27 R
Pengenalan Pahlawan dikenali. Pahlawan asli dikenali dengan tanda yang melekat pada dirinya.28 Ex
PemaparanKedok terbuka: penjahat dan pahlawan palsu. Kedok pahlawan palsu terbuka.
Pahlawan palsu menampilkan dirinya sebagai sosok yang jahat.
29 T
Perubahan rupaPahlawan mendapat penampilan baru.
Pahlawan tampil dengan wajah baru, pakaian baru. Dibebaskan dari mantra atau
15
kutukan, menjadi pangeran tampan atau putri yang cantik.
30 U
HukumanPahlawan dihukum. Penjahat dihukum.
Penjahat mengalami depresi, gila, berubah menjadi jelek.
31 W
PernikahanPahlawan menikah dan memperoleh tahta.
Pahlawan menikah dengan putri raja, naik tahta (menjadi raja baru, mendapat posisi baru di kerajaan seperti menjadi panglima perang atau penasehat kerajaan).
Dari ke-31 fungsi narasi yang dikemukakan oleh Vladimir Propp adalah cerita yang sempurna, di mana setiap karakter dan fungsi terdapat dalam cerita. Sering kali terjadi tidak semua karakter dan fungsi ada dalam cerita. Sebuah cerita mungkin hanya memuat beberapa karakter dan fungsi yang ditunjukkan. Dalam melakukan analisis fungsi narasi, peneliti tidak perlu membuktikan atau menemukan ke-31 fungsi yang dikemukakan oleh Vladimir Propp. Dalam sebuah narasi/cerita hanya ditemukan beberapa fungsi saja. Dari 31 fungsi tersebut, ada 7 karakter dalam suatu narasi. Masing-masing karakter memiliki dan menjalankan fungsi yang berbeda pada setiap cerita yang dibuat.
Tabel 2. Karakter fungsi narasi
No Karakter Simbol
Fungsi
Deskripsi
1 Penjahat A, H, Pr Melawan pahlawan.
2 Donor
(Penderma) D, F
Menolong pahlawan dengan kekuatan magic (supranatural).
3 Penolong G, K, Rs, N, T
Membantu pahlawan menyelesaikan tugas berat.
4 Putri
Ayah sang putri
M, J, Ex, U, W
Mencari calon suami.
Memberikan tugas berat.
16
5 Pengirim B
Mengirim pahlawan menjalankan misi.
6 Pahlawan C, E, W
Mencari sesuatu dan menjalankan misi.
7 Pahlawan palsu C, E, L
Mengklaim sebagai pahlawan, tetapi kedok terbuka.
Dari ke-7 karakter fungsi narasi dapat dijelaskan, karakter fungsi pertama, penjahat (villain). Karakter ini adalah orang atau sosok yang membentuk komplikasi atau konflik dalam narasi. Situasi yang normal berubah menjadi tidak normal dan berujung pada terjadinya konflik dengan hadirnya penjahat. Kedua, penderma (donor). Karakter ini memberikan sesuatu kepada pahlawan, bisa berupa benda (pedang/alat/keris), informasi atau nasihat, kekuatan supranatural, di mana pertolongan atau pembrian tersebut bisa membantu pahlawan dalam penyelesaian masalah pada narasi. Ketiga, penolong (helper). Karakter ini membantu secara langsung pahlawan dalam mengalahkan penjahat dan mengembalikan situasi kembali kepada situasi normal. Berbeda dengan penderma (donor), penolong adalah karakter yang terlibat secara langsung dalam melawan penjahat. Keempat, putri (princess) dan ayah (father).
Karakter putri adalah orang yang mengalami perlakuan buruk secaea
langsung dari penjahat. Dalam narasi, putri ini bisa diculik, disihir,
disekap, yang pada akhir cerita umumnya digambarkan akan dibebaskan
oleh pahlawan. Sementara ayah (father) umumnya adalah raja yang
berduka atas nasib putri yang diperlakukan buruk oleh penjahat. Di akhir
17
cerita, ayah ini umumnya akan merestui hubungan putri dengan pahlawan.
Kelima, pengirim (dispatcher). Karakter ini dalam narasi digambarkan sebagai orang yang mengirim pahlawan untuk menyelesaikan tugas dalam melawan penjahat. Pengirim dalam narasi umumnya dalah seorang raja atau seorang bijak yang dihormati. Keenam, pahlawan (hero). Karakter ini dalam narasi adalah orang yang mengembalikan situasi kacau akibat kehadiran penjahat menjadi normal. Pahlawan di akhir cerita bisa mengalahkan musuh, dan di banyak cerita digambarkan bisa menyelamatkan putri raja. Ketujuh, pahlawan palsu (false hero). Karakter ini dalam narasi pada awal cerita digambarkan baik dan membantu pahlawan, tetapi di akhir cerita baru terbongkar kedoknya bahwa ternyata seorang penjahat.
212. Struktur Film
Seperti halnya dengan sebuah karya literatur yang dapat dipecah menjadi bab (chapter), alinea, dan kalimat. Pada film jenis apapun, mau panjang atau pendek juga memuliki struktur fisik. Menurut Himawan Pratista dalam buku Memahami Film, secara fisik sebuah film dapat dipecah menjadi beberapa unsur, yakni shot yang merupakan unsur terkecil dari suatu film, adegan yang merupakan satu segmen pendek dari keseluruhan cerita, dan sekuen (sequence) satu segmen besar yang meliputi satu rangkaian peristiwa secara utuh. Pemahaman mengenai shot, adegan, dan sekuen akan berguna untuk membagi segmentasi atau urutan-urutan pada film secara sistematik.
21 Eriyanto. 2013. hal 71-72
18
a. Shot
Shot merupakan proses pengambilan gambar yang dapat diartikan juga sebagai unsur terkecil dari sebuah film. Selama produksi film berlangsung, shot juga diartikan sebagai proses perekaman gambar sejak kemera diaktifkan (on) hingga kamera dimatikan (off) atau juga sering diistilahkan dengan satu kali take (pengambilan gambar. Sementara shot setelah film telah jadi (pasca produksi) memiliki arti satu rangkaian gambar utuh yang tidak terinterupsi oleh potongan gambar (editing).
Sekumpulan beberapa shot biasanya dapat dikelompokkan menjadi sebuah adegan. Satu adegan bisa berjumlah belasan hingga puluhan shot.
Satu shot dapat berdurasi kurang dari satu detik, beberapa menit, bahkan jam.
22b. Adegan (scene)
Adegan adalah suatu hal penting dalam penggarapan sebuah film.
Adegan merupakan satu segmen pendek dari keseluruhan cerita yang memperlihatkan suatu aksi yang diikat oleh ruang dan waktu, isi, tema, karakter, atau motif untuk menjawab gambaran adegan selanjutnya. Satu adegan umumnya terdiri dari beberapa shot yang saling berhubungan.
Adegan juga dapat menunjukkan suasana yang berbeda-beda dari setiap scene. Biasanya film cerita memiliki tiga puluh sampai lima puluh adegan.
2322H Pratista. 2008. hal 29
23 Ibid. hal 29
19
d. Sekuen (Sequence)
Sekuen adalah satu segmen besar yang memperlihatkan satu rangkaian peristiwa yang utuh. Satu sekuen umumnya terdiri dari beberapa adegan yang saling berhubungan. Dalam karya literature, sekuen bisa diibaratkan seperti sebuah baba tau sekumpulan bab. Satu sekuen biasanya dikelompokkan berdasarkan satu periode (waktu), lokasi, atau satu rangkaian aksi panjang. Biasanya film cerita terdiri dari delapan sampai lima belas sekuen. Dalam beberapa kasus film, sekuen dapat dibagi berdasarkan usia karakter utama, yakni masa balita, kanak- kanak, remaja, dewasa, serta lanjut usia. Dalam film-film petualangan yang umumnya mengambil banyak tempat, sekuen biasanya dibagi berdasarkan lokasi cerita.
24e. Dialog
Dialog yang menarik dalam sebuah cerita tidak sekedar berkaitan dengan variasi penuturan narasi-dialog saja. Dialog yang dihadirkan akan menjadi lebih penting dan berdaya jika sekaligus di fungsikan sebagai pendukung pengembangan plot dan karakter tokoh. Sebagai pendukung dan penggambaran karakter tokoh, dialog juga dapat memperlihatkan dan memperkuat karakter seorang tokoh.
25Narasi dan dialog saling berkesinambungan dalam mendukung dan menghidupkan sebuah cerita.
24 H Pratista. 2008. hal 30
25 Burhan Nurgiyantoro, Teori Pengkajian Fiksi (UGM press, 2018).
20
f. Permasalahan/Konflik
Konflik merupakan salah satu unsur yang penting didalam sebuah cerita. Konflik digunakan sebagai arah pengembangan alur cerita.
Konflik menunjuk pada pengertian sesuatu yang bersifat tidak menyenangkan yang terjadi dan dialami oleh tokoh dalam cerita. Konflik dalam artian lain mempunyai arti sesuatu yang dramatik, mengacu pada pertarungan antara dua kekuatan yang seimbang dan menyiratkan adanya aksi-aksi balasan.
26Konflik bisa terjadi di dalam sebuah cerita karena adanya dorongan dari tokoh utama untuk mencapai tujuannya.
3. Identifikasi Karakter Tokoh
Setiap cerita mempunyai tokoh utama dan tokoh pendukung yang menjadi unsur dari cerita yang dibuat. Tokoh utama biasanya menempati sebagai pembawa sebuah pesan, amanat atau moral dari cerita yang akan disampaikan kepada audience. Sehingga seorang tokoh utama memerlukan karakter yang kuat agar dapat meninggalkan kesan kepada penontonnya.
Dalam membentuk karakrer yang kuat dan berkesan, diperlukan karakterisasi tokoh serta tujuan dari tokoh tersebut dengan jelas.
27Penokohan sebagai salah satu unsur pembangun fiksi dapat dikaji dan dianalisis keterjalinannya dengan unsur-unsur pembangun lainnya.
2826 Burhan Nurgiyantoro. 2018. hal 179
27 Yuliatik Ella and Citra Dewi Utami, ‘Perkembangan Karakter 3 Dimensi Tokoh Mada dalam Film Haji Backpacker Berdasarkan Pola Struktur Naratif’, TEXTURE: Art and Culture Journal, 1.1 (2018), 20–43.
28 Burhan Nurgiyantoro. 2018.. hal 254
21
Penokohan sering juga disamakan artinya dengan karakter dan perwatakan menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak tertentu dalam sebuah cerita. Penokohan juga berarti pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita.
29Kedudukan karakter tokoh dalam cerita dapat dibagi menjadi tiga bagian yaitu, antagonis, protagonis dan tritagonis. Sifat dan karakter dari tokoh utama dalam cerita bisa dianalisis melalui karakter tiga dimensi yang dibedakan ke dalam fisiologis, psikologis, dan sosiologis. Ketiga karakter tersebut saling berkesinambungan dalam membentuk karakter dan sifat dari tokoh utama dan tokoh pendukungnya. Lajos Egri mendefinisikan pada setiap dimensi karakter tersebut menjadi;
a. Fisiologis
The first dimension, in the order of simplicity, is the physiological.
It would be idle to argue that a hunchback sees the world exactly opposite from a perfect physical specimen. A lame, a blind, a deaf, an ugly, a beautiful, a tall, a short person – each of these sees everything differently from the other. A sick man sees health as the supreme good; a healthy person belittles the importance of health, if he thinks of it all.
30“Dimensi pertama dalam urutan yang sederhana adalah fisiologis.
Akan pas ketika seseorang yang bungkuk melihat dunia yang sebenarnya berlawanan dengan manusia biasa. Orang lumpuh, buta, tuli, jelek, cantik, tinggi, pendek – masing-masing dari mereka melihat segala sesuatu yang berbeda dari orang lain.
Orang yang sakit menilai kesehatan sebagai hal yang berharga;
orang yang sehat akan meremehkan pentingnya kesehatan, jika mereka memikirkan itu semua.”
29 Burhan Nurgiyantoro. 2018. hal 247
30 Lajos Egri, The Art of Dramatic Writing: Its Basis in the Creative Interpretation of Human Motives (Simon and Schuster, 1972).
22
Dimensi fisiologis adalah dimensi yang paling mudah dijabarkan yaitu dengan memperhatikan melalui segi fisiknya. Dimensi fisiologis mencangkup warna rambut, tinggi badan, umur, jenis kelamin, berat badan, postur tubuh serta penggunaan busana yang dipakai. Dari dimensi ini dapat dibedakan antara karakter satu dengan karakter yang lainnya.
b. Sosiologis
Sosiology is the second dimension to be studied. If you were born in a basement, and your playground was the dirty city street, your reactions would differ from those of the boy who was born in a mansion and played in beautiful and antiseptic surroundings.
31“Sosiologi adalah dimensi kedua yang penting untuk dipelajari.
Jika anda dilahirkan di lingkungan yang kotor, dan biasa bermain pada area yang kotor, maka sikap anda akan berbeda dengan orang yang tinggal di rumah mewah dan tempat bermain di lingkungan yang indah dan bersih.”
Dimensi sosiologis memperlihatkan bagaimana keadaan tokoh terhadap kehidupan sosialnya, lingkungan sekitarnya, pekerjaan, pendidikan, lingkungan tempat tinggal, agama, ras, suku, budaya, dan hubungan politik. Dalam dimensi sisologis ini digunakan sebagai penguat dari latar belakang karakter seorang tokoh.
c. Psikologis
The third dimension, psychology, is the product of other two, their combined influence gives life to ambition, frustration, temperament, attitudes, complexes. Psychology, then, rounds out the three dimensions.
32“Dimensi ketiga adalah psikologi, hasil dua kombinasi dimensi pertama dan kedua yang memberikan pengaruh dalam kehidupan
31 Lajos Egri. 1972. hal 33
32 Lajos Egri. 1972. hal 34
23
pada ambisi, frustasi, temperamen, perilaku. Sehingga psikologi merangkum ketiga dimensi tersebut.”
Dimensi ini terlihat bagaimana watak tokoh dapat terbentuk. Pada dimensi psikologis mencakup kehidupannya, prinsip dan ambisi, sikap terhadap kehidupannya, kepribadian, ciri khusus dan bagaimana tokoh menghadapi setiap rintangan dihidupnya. Melalui dimensi ini dapat mengetahui bagaiman karakter tokoh dalam berfikir terhadap tindakan yang dihadapinya.
4. Nilai Perjuangan
Nilai perjuangan merupakan pencerminan nilai budaya bangsa Indonesia sendiri dalam usaha untuk merebut, menegakkan, dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Perjuangan mengisi kemerdekaan akan berhasil dengan baik, sebaik perjuangan menegakkan dan mempertahankan kemerdekaan, apabila para pejuangnya juga bermodalkan jiwa, semangat dan nilai-nilai perjuangan seperti yang dimiliki pada masa perjuangan 1945.
33Nilai-nilai perjuangan bangsa senantiasa tumbuh dan berkembang.
Kesamaan nilai-nilai ini dilandasi oleh jiwa, tekad, dan semangat kebangsaan.
34Semangat kepahlawanan yang tealh diwujudkan oleh para pejuang merupakan amal perjuangan yang dipersembahkan kepada bangsa.
Perjuangan mereka berlandaskan jiwa dan semangat rela berkorban untuk
33 Mulyono Joyomartono, Jiwa, Semangat, dan Nilai-Nilai Perjuangan Bangsa Indonesia (IKIP Semarang Press, 1990).
34 Susarso Sumarsono, Pendidikan Kewarganegaraan (Gramedia Pustaka Utama, 2001).
24
bangsanya.
35Semangat para pahlawan pejuang terdahulu dapat diwujudkan dalam sebuah film dan dapat diambil pesan dan maknanya. Film yang mengandung pesan perjuangan dampat memberikan kesan positif bagi penikmat film.
Nilai-nilai perjuangan juga dapat diartikan sebagai Nasionalisme.
Nasionalisme sendiri berarti penggambaran betapa besarnya rasa cinta terhadap suatu bangsa dan negara, serta rasa rela berkorban untuk bangsa.
Penerapan arti nasionalisme bisa diwujudkan melalui;
36a. Mencintai tanah air dan bangsa, bangga berbangsa dan bernegara Indonesia.
b. Rela berkorban dan mengutamakan kepentingan bersama daripada kepentingan diri sendiri.
c. Adil kepada negara membagi tugas sesuai dengan kemampuan masing-masing.
d. Pengabdian kepada negara, menyediakan diri untuk membantu negara.
e. Rasa memiliki budaya bangsa, turut melestarikan dan mengembangkan budaya bangsa sendiri.
35 Edwin Mirza Chaerulsyah, ‘Persepsi Siswa tentang Keteladanan Pahlawan Nasional untuk Meningkatkan Semangat Kebangsaan’, Indonesian pan of History Education, 3.1 (2014), 2.
36 Wahyu Iskandar, ‘Nasionalisme dalam Film (Analisis Semiotika Representasi
Nasionalisme dalam Film “Habibie dan Ainun”)’ (Universitas Muhammadiyah Surakarta, 2014).
25
f. Kesetiaan pada negeri, menepati janji untuk mendukung kegiatan masyarakat di sekitarnya dan melaksanakan apa yang telah menjadi tugas dan kewajibannya.
Berdasarkan paparan di atas, pemahaman atas permasalahan penelitian berbasis pada kerangka konseptual yang dapat digambarkan sebagai berikut:
Film Kereta Api Terakhir 1981
Bagan 1. Kerangka Konseptual Penelitian
G. Metode Penelitian 1. Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian kualitatif.
Penelitian kualitatif tidak menggunakan statistik, tetapi melalui pengumpulan data
Nilai PerjuanganKarakter Utama
Unsur Narasi
Konflik Dialog
Fungsi Karakter Karakter
Kesimpulan
26
dan analisis, kemudian diinterpretasikan. Penelitian kualitatif dilakukan dengan karakteristik yang mendeskripsikan suatu keadaan yang sebenarnya atau fakta.
37Penelitian ini dijabarkan secara terperinci dengan menggunakan kalimat yang mudah dipahami.
2. Objek Penelitian
Objek penelitian ini adalah sebuah film kemerdekaan yang berjudul Kereta Api Terakhir (1981), diproduksi pada tahun 1981 dan disutradarai oleh Mochtar Soemodimedjo. Film Kereta Api Terakhir (1981) merupakan produksi kerjasama antara Pusat Produksi Film Negara (PPFN) dengan Perusahaan Jawatan Kereta Api (PJKA) dengan durasi film 172 menit. Film Kereta Api Terakhir (1981) diangkat dari novel karya Pandir Kelana dengan judul yang sama yaitu Kereta Api Terakhir.
3. Sumber Data
Sumber data dapat berupa dokumen atau berupa informasi. Dalam penelitian ini penggunaan sumber data berupa sumber data primer dan sumber data sekunder.
Sumber data primer adalah sumber data yang langsung diperoleh secara langsung (dari data pertama) pada penelitian atau objek penelitian. Sedangkan sumber data sekunder adalah sumber data pendukung yang diperoleh secara tidak langsung.
a. Data Primer
Data primer dalam penelitian ini mengambil adegan dan dialog pada film Kereta Api Terakhir (1981). Sumber data yang digunakan dalam penelitian ini adalah copy DVD dari arsip koleksi Sinematek Indonesia
37 Albi Anggito and Johan Setiawan, Metodologi Penelitian Kualitatif (CV Jejak (Jejak Publisher), 2018).
27
yang telah dikonversi ke dalam bentuk digital. Penulis mengamati narasi dari karakter tokoh utama yang divisualisasikan dalam film Kereta Api Terakhir (1981) melalui karakter dan fungsi karakter, dialog, dan konflik.
b. Data Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini nerupa sumber data tertulis yang relevan dengan penelitian guna mendapatkan informasi tambahan, data tertulis ini berupa, buku, artikel, jurnal, maupun situs internet yang berkaitan dengan permasalahan penelitian.
4. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data adalah prosedur yang sistematik dan standar untuk memperoleh data yang diperlukan untuk penelitian. Dalam kegiatan pengumpulan data dapat dilakukan dengan teknik tertentu dan menggunakan alat tertentu yang sering disebut instrumen. Kemudian data yang telah diperoleh dari proses tersebut kemudian dihimpun, ditata, dianalisis untuk menjadi suatu informasi.
38Penelitian ini menggunakan teknik cuplikan purposive sampling dalam pengambilan sampel penelitian. Pada penelitian kualitatif, teknik cuplikan cenderung bersifat purposive karena dipandang dapat menangkap kelengkapan serta kedalaman data dalam menghadapi realitas. Sampel yang sudah ada kemudian diarahkan pada sumber data yang dipandang memiliki data yang penting berkaitan dengan permasalahan yang sedang diteliti. Cuplikan ini kedudukannya bukan mewakili populasinya akan tetapi mewakili informasinya, sehingga bilamana
38 Mamik, Metodologi Kualitatif (Zifatama Jawara, 2015).
28
generalisasi harus dilakukan, maka arahnya cenderung sebagai generalisasi teori.
39Pada penelitian ini secara purposive dipilih adegan-adegan yang mengandung makna nilai perjuangan tokoh utama. Dalam film Kereta Api Terakhir (1981) terdapat 84 adegan. Kemudian dari 84 adegan tersebut dipilih sembilan adegan yang diduga mengandung makna nilai perjuangan rokoh utama. Pada 75 adegan yang lain memungkinkan adanya makna nilai perjuangan yang terjadi, namun tidak begitu berpengaruh terhadap tokoh utama dalam menjelaskan maksud dan tujuannya.
Dalam hal pengumpulan data, peneliti menggunakan metode observasi yang dilakukan secara tidak langsung. Observasi merupakan kegiatan mencari data yang digunakan untuk memberikan suatu kesimpulan atau diagnosis.
40Pada penelitian ini observasi secara tidak langsung dilakukan melalui media, yakni rekaman video DVD untuk menganalisis narasi nilai perjuangan tokoh utama melalui karakter dan fungsi karakter, dialog, dan konflik yang ada pada film Kereta Api Terakhir (1981).
5. Analisis Data
Analisis data adalah proses untuk mengatur, mengurutkan, mengelompokkan, memberi kode atau tanda, dan mengkategorikannya sehingga diperoleh suatu temuan berdasarkan fokus atau masalah yang diteliti. Analisis data dimaksudkan untuk memahami apa yang terdapat di balik semua data tersebut, kemudian mengkelompokkanmya, meringkasnya menjadi suatu data yang mudah
39 H.B Sutopo, ‘Metodologi Penelitian Kualitatif’ (Surakarta: Sebelas Maret University Press, 2002).
40 Sugiyono, ‘Memahami Penelitian Kualitatif’, Bandung: Alfabeta, 2012.
29
dimengerti.
41Berikut merupakan komponen analisis data model interaktif menurut Miles dan Huberman;
Bagan 2. Komponen Analisis Data Model Interaktif (Sumber: Miles dan Huberman 1994:12)
Adapun penjelasan mengenai ketiga komponen metode analisis data tersebut adalah sebagai berikut:
a. Reduksi Data
Reduksi data diartikan sebagai proses pemilihan pemusatan perhatian pada penyederhanaan pengabstrakan dan transformasi data kasar yang muncul dari catatan-catatan hasil penelitian di lapangan.
42Data yang diamati adalah film Kereta Api Terakhir (1981) yang kemudian akan diambil pemasalahan yang akan diteliti. Fokus pencarian data penelitian ini dengan mengambil beberapa potongan scene karakter tokoh utama yang divisualisaikan melalui garap narasi dengan mengamati nilai perjuangan melalui karakter dan fungsi karakter, dialog,
41 Mamik. 2015. hal 135
42 Rukin, Metodologi Penelitian Kualitatif (Yayasan Ahmar Cendekia Indonesia, 2019).
Penyajian Data Pengumpulan
Data
Reduksi Data
Kesimpulan atau verifikasi
30
dan konflik yang telah dihadirkan dan dapat dipahami dengan mudah oleh penonton.
b. Penyajian Data
Dalam penyajian data akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, kemudian merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan dari data- data yang telah didapatkan. Dalam penelitian ini penyajian data berbentuk narasi untuk mengidentifikasi nilai perjuangan pada tokoh utama dalam film Kereta Api Terakhir (1981) melalui garap narasi. Data yang diteliti disajikan dengan memberikan bentuk potongan gambar dari film Kereta Api Terakhir (1981) terkait dengan beberapa adegan yang sesuai dengan reduksi data.
c. Kesimpulan dan Verifikasi
Pada tahap ini semua data yang telah diteliti menjadi jelas dan
terverifikasi maka kesimpulan yang dapat dikemukakan menjadi
kesimpulan yang kredibel. Kesimpulan dan verifikasi data disajikan dari
data yang telah dianalisis kemudian akan ditarik menjadi kesimpulan dan
saran yang diperlukan. Kesimpulan dan verifikasi data disajikan dari data
yang telah dianalisis kemudian akan ditarik menjadi kesimpulan dan
saran yang diperlukan. Penarikan kesimpulan dilakukan dengan
mengamati ulang rekaman film dan melihat kembali data yang telah
didapat kemudian membandingkan hasil penelitian serta melihat kembali
31
rekaman film Kereta Api Terakhir (1981). Pada tahapan ini dipergunakan agar peneliti dapat mempertanggungjawabkan hasil penelitiannya.
H. Sistematika Penulisan
Penyusunan penelitian ini terdiri dari beberapa bab yang berdasarkan atas uraian penjelasan dan permasalahan yang diteliti pada setiap babnya. Berikut sistematika penulisan penelitian:
BAB I PENDAHULUAN
Bab ini membahas tentang latar belakang masalah, yang berisi tentang apa yang membuat film Kereta Api Terakhir (1981) layak untuk dilakukan penelitian.
Selain itu juga berisi rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, tinjauan pustaka, kerangka konseptual, metode penelitian, dan sistematika penulisan yang dilakukan oleh peneliti.
BAB II GAMBARAN UMUM FILM KERETA API TERAKHIR (1981)
Bab ini berisi penjelasan mengenai objek yang diteliti yaitu film Kereta Api Terakhir (1981) meliputi; sinopsis cerita, profil sutradara, tokoh-tokoh dalam film, analisis karakter tiga dimensi, dan sequence film Kereta Api Terakhir (1981).
BAB III VISUALISASI NILAI PERJUANGAN KARAKTER UTAMA FILM KERETA API TERAKHIR (1981) MELALUI GARAP NARASI
Bagian bab ini merupakan inti dari penelitian yang berisi pembahasan mengenai
garap narasi nilai perjuangan melalui unsur karakter dan fungsi karakter, dialog,
serta konflik, meliputi; analisis narasi nilai perjuangan tokoh utama melalui
32
karakter, dialog, dan konflik dan rangkuman narasi nilai perjuangan tokoh utama melalui karakter, dialog, dan konflik.
BAB IV PENUTUP
Bagian penutup berisi kesimpulan dan saran. Kesimpulan berisi pernyataan yang singkat dari hasil analisis yang telah dilakukan oleh peneliti pada bab sebelumnya.
Kemudian saran berisi pertimbangan dan pengalaman dari peneliti yang
ditunjukkan kepada peneliti lain yang akan melakukan penelitian dalam bidang
sejenis.
33
BAB II
GAMBARAN UMUM FILM KERETA API TERAKHIR (1981)
Bab ini akan memaparkan mengenai gambaran umum dari film Kereta Api Terakhir (1981) meliputi; ringkasan isi film Kereta Api Terakhir (1981), sinopsis film, profil sutradara, tokoh film, dan sequence film Kereta Api Terakhir (1981).
A. Film Kereta Api Terakhir 1981
Film Kereta Api Terakhir (1981) diproduksi pada tahun 1981, karya sutradara Mochtar Soemodimedjo. Film Kereta Api Terakhir (1981) diangkat dari novel karya Pandir Kelana tentang peristiwa sejarah perang kemerdekaan RI. Film Kereta Api Terakhir (1981) meengisahkan mengenai perjuangan revolusi keemerdekaan Indonesia tahun 1945-1947 dan merupakan salah satu film super kolosal yang melibatkan 15.000 pemain. Kala itu Belanda menganggap pihaknya tidak terikat lagi dengan persetujuan Perjanjian Linggarjati. Belanda yang telah diperkuat oleh kedatangan “Divisi 7 Desember” kemudian menyerbu dan memasuki wilayah-wilayah yang sepenuhnya masih dikuasai oleh Pemerintah Republik Indonesia. Film ini merupakan produksi dari Pusat Produksi Film Negara (PPFN).
43Film Kereta Api Terakhir (1981) dilatarbelakangi oleh Perjanjian Linggarjati antara pemerintah Republik Indonesia dan pemerintah Belanda.
Perjanjian tersebut telah ditandatangani pada tanggal 20 Maret 1947, namun
43 ‘Kemendikbud Berhasil Merestorasi Film “Kereta Api Terakhir”’, 2019
https://kemdikbud.go.id/index.php/b;og/2019/12/kemdikbud-berhasil-merestorasi-film- kereta-api-terakhir [accessed 15 December 2020].
34
hubungan antara Republik Indonesia dan Belanda tidak menjadi baik dikarenakan perbedaan tafsir tentang pasal-pasal tertentu dalam naskah persetujuan Perjanjian Linggarjati. Pihak Republik Indonesia menganggap dirinya masih tetap sebagai negara yang berdaulat penuh, sebaliknya pihak Belanda beranggapan bahwa dengan disetujuinya dan ditandatanganinya naskah perjanjian tersebut, Republik Indonesia sudah tidak lagi mempunyai hak untuk bersikap sebagai negara yang berdaulat. Belanda kemudian menyampaikan nota kepada Republik Indonesia yang berisi ancaman yang harus disetujui dalam waktu 14 hari.
44Adanya nota ancaman kepada Republik Indonesia itu diangap sebagai ultimatum. Kala itu Perdana Menteri Sutan Syahrir menyatakan bahwa Republik Indonesia bersedia mengakui kedaulatan Belanda. Pernyataan Sutan Syahrir tersebut diangap suatu kelancangan oleh partai-partai politik. Lalu Kabinet Sutan Syahrir jatuh dan diganti oleh kabinet Amir Syarifuddin. Kabinet Amir Syarifuddin menuliskan balasan nota ancaman dari Belanda dengan menyatakan tetap pada pendiriannya bahwa mengakui kedaulatan Belanda pada masa peralihan dan menolak penyelenggaraan ketertiban dan keamanan bersama.
Kemudian Belanda yang menganggap dirinya tidak terikat lagi dengan Perjanjian Linggarjati itu memberikan kuasa kepada wakil gubernur Jendral H.J. Van Mook untuk mengambil tindakan seperlunya terhadap Republik Indonesia dan Belanda melakukan penyerangan umum di semua medan pertempuran di beberapa titik di pulau Jawa Republik Indonesia.
4544 Pandir Kelana, Kereta Api Terakhir (Gramedia Pustaka Utama, 1981).
45 Ibid. hal 6-7