• Tidak ada hasil yang ditemukan

Menilik Perpres 75 Tahun 2021 tentang Dana Bersama Penanggulangan Bencana

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Menilik Perpres 75 Tahun 2021 tentang Dana Bersama Penanggulangan Bencana"

Copied!
8
0
0

Teks penuh

(1)

Vol. 01, Ed. 15, September 2021

Menilik Perpres 75 Tahun 2021 tentang Dana Bersama Penanggulangan Bencana

Hal. 1

Perkembangan Anggaran Kementerian Kesehatan Periode 2018 – 2022

Hal. 3

Anggaran Pendidikan Tahun 2022 & Perkembangannya

Hal. 5

(2)

Penanggung Jawab

Dr. Asep Ahmad Saefuloh, S.E., M.Si.

Pemimpin Redaksi Slamet Widodo

Redaktur

Marihot Nasution * Martha Carolina Savitri Wulandari * Mutiara Shinta Andini

Editor Marihot Nasution

Sekretariat

Husnul Latifah * Musbiyatun Memed Sobari * Hilda Piska Randini

Budget Issue Brief Kesejahteraan Rakyat ini diterbitkan oleh Pusat Kajian Anggaran,Badan Keahlian DPR RI. Isi dan hasil penelitian dalam tulisan-tulisan di terbitan ini sepenuhnya tanggung jawab para penulis dan bukan merupakan pandangan resmi Badan Keahlian DPR

RI.

Menilik Perpres 75 Tahun 2021 tentang Dana Bersama Penanggulangan Bencana ... 1

Perkembangan Anggaran Kementerian Kesehatan Periode 2018 - 2022 ... 3

Anggaran Pendidikan Tahun 2022 & Perkembangannya ... 5

(3)

www.puskajianggaran.dpr.go.id puskajianggaran @puskajianggaran

Kesejahteraan Rakyat Budget Issue Brief Vol 01, Ed 15, September 2021 ISSN 2775-7994 1

Komisi VIII KESEJAHTERAAN RAKYAT

Kementerian Keuangan (Kemenkeu) sudah menganggarkan dana untuk menanggulangi bencana alam dalam anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Sayangnya, anggaran tersebut tidak cukup untuk membiayai kerugian ekonomi akibat bencana alam. Berdasarkan data dari Badan Kebijakan Fiskal (BKF), pemerintah rata-rata mengalokasikan dana cadangan bencana sebesar Rp3,1 triliun pada periode 2005-2017. Namun, rata-rata kerugian ekonomi langsung akibat bencana pada periode tersebut mencapai Rp22,8 triliun. Sehingga, terdapat kesenjangan pembiayaan Rp19,75 triliun atau 78 persen.

Jumlah Bencana Alam di Indonesia (per 26 Mei 2021)

Sumber: BNPB Mei 2021

Pembiayaan risiko bencana di Indonesia penting jika melihat gambar di atas, dimana masih terdapat lebih dari 1.400 kejadian bencana alam di Indonesia sepanjang tahun berjalan (hingga Mei 2021). Tingginya risiko bencana tersebut membutuhkan inovasi pembiayaan risiko bencana. Sehingga pemerintah didorong untuk menjalankan kemitraan antara pemerintah dan sektor swasta atau public-private partnership (PPP).

Dalam menjawab tantangan pembiayaan anggaran penanggulangan bencana tersebut, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meresmikan payung hukum untuk membentuk dana bersama penanggulangan bencana yang nantinya bersumber dari APBN, APBD, serta sumber pendanaan lain yang sah. Keputusan tersebut tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) 75/2021 tentang Dana Bersama Penanggulangan Bencana. Aturan tersebut diteken Jokowi pada 13 Agustus 2021 lalu, dan berlaku di hari yang sama.

Aturan ini terbit untuk menjamin ketersediaan dana penanggulangan bencana yang memadai, tepat waktu, tepat sasaran, terencana, berkelanjutan, dan melindungi keuangan negara serta memperkuat kapasitas baik pemerintah pusat maupun pemerintah

568 354

265 100

19 17 2 0

0 100 200 300 400 500 600

Banjir Puting beliung Tanah longsor Karhutla Gempa bumi Gelombang pasang Kekeringan Erupsi gunung api

❖ Kemenkeu sudah menganggarkan dana untuk menanggulangi bencana alam dalam APBN, namun anggaran tersebut tidak cukup untuk menutup kerugian ekonomi akibat bencana alam dengan kesenjangan pembiayaan sekitar 78 persen setiap tahunnya.

❖ Menjawab tantangan pembiayaan anggaran penanggulangan bencana tersebut, Presiden meresmikan payung hukum pembentukan dana bersama penanggulangan bencana melalui Peraturan Presiden (Perpres) 75/2021 tentang Dana Bersama Penanggulangan Bencana pada 13 Agustus 2021 lalu.

❖ Melalui beleid tersebut dijelaskan batasan-batasan definisi ketentuan umum perihal dana bersama penanggulangan bencana, mulai dari pengelolaan, pengumpulan, pengembangan, penyaluran, biaya operasioanl hingga ketentuan akutabilitas yang ditetapkan oleh pemerintah.

❖ Pembentukan dana bersama ini diharapkan dapat berjalan untuk menjawab tantangan pembiayaan penanggulangan bencana bukan sebaliknya, terlebih dengan adanya beban biaya operasional unit pengelola sehingga sangat membutuhkan akurasi tata kelola dana yang tinggi.

HIGHLIGHTS

PUSAT KAJIAN ANGGARAN

Badan Keahlian DPR RI

Penanggung Jawab Dr. Asep Ahmad Saefuloh, S.E Redaktur:

Slamet Widodo · Marihot Nasution · Martha Carolina · Mutiara Shinta Andini · Savitri Wulandari Penulis

Mutiara Shinta Andini

Menilik Perpres 75 Tahun 2021 Tentang Dana Bersama

Penanggulangan Bencana

(4)

2 Kesejahteraan Rakyat Budget Issue Brief Vol 01, Ed 15, September 2021 ISSN 2775-7994

daerah dalam pendanaan penanggulangan bencana dalam melakukan inovasi pengelolaan dana untuk pendanaan penanggulangan bencana.

BKF Kemenkeu menyatakan dana bersama penanggulangan bencana (Pooling Fund Bencana/PFB) dapat mengelola Rp7,3 triliun pada tahap awal. Menurut Kepala BKF, PFB sangat khas dengan model gotong royong di Indonesia. Dana PFB akan diisi oleh pemerintah pusat, pemerintah daerah, masyarakat hingga swasta. Skema ini diharapkan bisa memperkuat ketahanan fiskal dalam menanggulangi bencana alam dan non alam. Isi yang dijabarkan dalam Perpres ini secara umum adalah:

Bab I tentang ketentuan umum menjelaskan batasan-batasan definisi bencana, risiko bencana, dana penanggulangan bencana, serta definisi dana bersama. Dana bersama bertujuan untuk mendukung dan melengkapi ketersediaan dana penanggulangan bencana yang memadai, tepat waktu, tepat sasaran, terencana, dan berkelanjutan dalam upaya penanggulangan bencana secara berdaya guna, berhasil guna, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Kemudian pada Bab II tentang pengelolaan dana bersama disebutkan bahwa dana bersama akan ditempatkan dan dikelola oleh Badan Layanan Usaha (BLU) di bawah Kemenkeu. Sehingga aturan pengumpulan, pengembangan, hingga penyaluran dana mengikuti aturan BLU. Kemudian disebutkan juga pengelolaan dana bersama memenuhi prinsip paling sedikit: a. kehati-hatian; b. transparansi; c.

akuntabilitas; d. tepat waktu; dan e. tepat sasaran. Selanjutnya, pada Bab III mengenai pengumpulan dana bersama disebutkan dapat bersumber dari: a. APBN; b. APBD; dan c. sumber dana lainnya yang sah. Sumber dana lainnya yang dimaksud termasuk namun tidak terbatas pada: a. penerimaan pembayaran klaim asuransi dan/atau asuransi syariah; b. hasil investasi dari dana yang dikelola; c.

hibah yang diterima unit pengelola dana di lingkungan kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan; d. hasil kerja sama dengan pihak lain; dan/atau e. dana perwalian, baik dari dalam negeri maupun luar negeri dan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang- undangan.

Selanjutnya pada Bab IV perihal pengembangan dana bersama disebutkan bahwa dana bersama dikembangkan ke dalam bentuk: a. investasi jangka pendek; dan/atau b. investasi jangka panjang, sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Kemudian pada Bab V tentang penyaluran dana bersama juga disebutkan penyaluran dana melalui transfer risiko, yakni melalui skema asuransi dan asuransi syariah yang artinya boleh mendapat sumber dana dari klaim asuransi yang sudah berjalan. Kepala pusat data, informasi, dan komunikasi BNPB Raditya Jati menilai, keterlibatan unsur masyarakat dalam pendanaan kegiatan penanggulangan bencana mulai dari fase pra, saat dan paska bencana yang diatur perpres akan membuka ruang yang lebih luas untuk upaya-upaya yang lebih komprehensif dan multi sektor dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyaluran pembayaran premi asuransi atau kontribusi asuransi syariah dan penggunaan penerimaan pembayaran klaim asuransi diatur dengan Peraturan Menteri.

Selanjutnya dalam Bab VI, Biaya Operasional Unit Pengelola Dana disebutkan unit pengelola dana di lingkungan kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan dapat menggunakan Dana Bersama untuk biaya operasional unit pengelola dana di lingkungan kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan. Bab VII mengenai akuntabilitas dijelaskan bahwa unit pengelola dana di lingkungan kementerian yang menyelenggarakan urusan pemerintahan di bidang keuangan melaporkan pengelolaan dana bersama kepada Menteri sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Beberapa hal yang menjadi perhatian dalam proses penerbitan Perpres 75 Tahun 2021 adalah perihal besaran dana yang ideal untuk dikelola PFB. Dimana hal tersebut masih membutuhkan kajian secara lebih mendalam. Diperlukan exercise/simulasi serta data yang lebih akurat untuk menentukan angka ideal besaran dana yang perlu dikelola oleh BLU PFB sehingga mampu menyediakan dana yang memadai. Terlebih dengan adanya beban operasional yang masuk ke dalam komponen kebutuhan anggaran unit terkait dalam proses pengelolaan dana dengan sistem BLU yang dirumuskan.

Pembentukan dana Bersama ini diharapkan dapat berjalan untuk menjawab tantangan pembiayaan

penanggulangan bencana bukan sebaliknya.

(5)

www.puskajianggaran.dpr.go.id puskajianggaran @puskajianggaran

Kesejahteraan Rakyat Budget Issue Brief Vol 01, Ed 15, September 2021 ISSN 2775-7994 1

Komisi IX KESEJAHTERAAN RAKYAT

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mempunyai tugas dan fungsi menyelenggarakan perumusan, penetapan, dan pelaksanaan kebijakan di bidang kesehatan masyarakat, pencegahan dan pengendalian penyakit, pelayanan kesehatan, kefarmasian dan alat Kesehatan (alkes), pengembangan dan pemberdayaan Sumber Daya Manusia (SDM) di bidang kesehatan, pengelolaan tenaga kesehatan, pelaksanaan penelitian dan pengembangan di bidang kesehatan, dan pelaksanaan bimbingan teknis dan supervisi atas pelaksanaan urusan Kemenkes di daerah.

Anggaran Kemenkes secara garis besar ditujukan untuk memperkuat upaya peningkatan akses dan mutu pelayanan kesehatan dalam rangka pembangunan SDM yang berkualitas.

Anggaran lembaga ini setiap tahunnya berbeda disesuaikan dengan program kerja yang akan dilaksanakan pada tahun anggaran tersebut, seperti anggaran Kemenkes periode 2018 - 2022 berikut ini:

Sumber: Himpunan RKA K/L 2018-2022, NK APBN 2018-2021, NK RAPBN 2022

Anggaran Kemenkes tahun 2018 sebagian besar digunakan untuk program pembinaan pelayanan kesehatan sebesar Rp15.388,1 miliar, yang dialokasikan melalui 2 (dua) jenis kegiatan yaitu: (1) pembinaan pelayanan kesehatan primer, seperti:

pembinaan 1.400 Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) bekerja sama dengan Unit Transfusi Darah (UTD) dan Rumah Sakit (RS) dalam pelayanan darah untuk menurunkan Angka Kematian Ibu (AKI), dan pembinaan 2.926 puskesmas dalam Program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga; dan (2) mutu dan akreditasi pelayanan kesehatan, seperti: RS yang siap diakreditasi di 147 kabupaten/kota, dan puskesmas yang siap diakreditasi di 1.200 kecamatan.

59.097,70 58.746,50 57.400,00 84.299,60 96.055,60

59.097,70 58.746,50 78.506,70 84.299,60 96.055,60

2018 2019 2020 2021 2022

Anggaran Kemenkes Periode 2018 - 2022 (dalam miliar Rp)

Himpunan RKA K/L NK APBN NK RAPBN

• Sejak tahun 2020, anggaran Kemenkes meningkat signifikan disebabkan adanya pandemi Covid- 19, anggaran ini digunakan untuk melaksanakan beberapa kegiatan di bidang kesehatan salah satunya reformasi sistem Kesehatan dan penanganan pandemi Covid-19.

• Anggaran Kemenkes tahun 2022 meningkat, sebagian besar anggaran tersebut akan digunakan untuk program pelayanan kesehatan dan JKN.

• Tahun 2022 pemerintah melaksanakan berbagai langkah penanganan Covid-19 seperti program vaksinasi, penerapan protokol kesehatan, dan PPKM.

• Anggaran untuk memulihkan kesehatan dan perekonomian nasional tidaklah sedikit, pemerintah perlu memperkuat instrumen APBN untuk merespon dampak negatif Covid-19, tanpa mengesampingkan pengendalian pandemi Covid-19 termasuk percepatan pelaksanaan vaksinasi.

HIGHLIGHTS

PUSAT KAJIAN ANGGARAN

Badan Keahlian DPR RI

Penanggung Jawab Dr. Asep Ahmad Saefuloh, S.E Redaktur:

Slamet Widodo · Marihot Nasution · Martha Carolina · Mutiara Shinta Andini · Savitri Wulandari Penulis

Marihot Nasution · Firly Nur Agustiani

Perkembangan Anggaran Kementerian Kesehatan

Periode 2018 - 2022

(6)

2 Kesejahteraan Rakyat Budget Issue Brief Vol 01, Ed 15, September 2021 ISSN 2775-7994

Anggaran Kemenkes tahun 2019 akan digunakan untuk mencapai sasaran prioritas pembangunan di bidang kesehatan, anggaran terbesar untuk mencapai sasaran tersebut digunakan untuk program pembinaan pelayanan kesehatan sebesar Rp15.952,0 miliar, yang dialokasikan melalui pembinaan pelayanan kesehatan primer, seperti: pembinaan 1.200 puskesmas yang bekerja sama dengan UTD dan RS dalam pelayanan darah untuk menurunkan AKI, dan pembinaan 3.973 puskesmas dalam Program Indonesia Sehat dengan pendekatan keluarga.

Anggaran Kemenkes tahun 2020 sebesar Rp57.400,0 miliar lebih banyak digunakan untuk program pembinaan pelayanan kesehatan sebesar Rp16.711,1 miliar bertujuan untuk meningkatkan akses dan kualitas layanan kesehatan, serta penguatan penanganan stunting didukung oleh inovasi dan pemanfaatan teknologi. Akan tetapi sejak ditetapkannya pandemi Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) pada Maret 2020, pemerintah melakukan perubahan sebagian arah kebijakan untuk memfokuskan kepada program penanganan Covid-19 di bidang ekonomi, kesehatan, dan sosial yang mengakibatkan perubahan anggaran Kemenkes tahun 2020 yaitu meningkat menjadi Rp78.506,7 miliar.

Dalam rangka penanganan kesehatan, pemulihan ekonomi, dan sosial akibat dampak Covid-19 pada tahun 2020 Kemenkes memanfaatkan tambahan anggaran untuk melaksanakan beberapa kegiatan seperti: penyelenggaraan pelayanan laboratorium Covid-19; penyelidikan epidemiologi dan deteksi kasus baru; penyediaan screening test Covid-19; penyediaan biaya klaim pasien rawat inap Covid-19; penyediaan sarana dan prasarana kesehatan rumah sakit rujukan Covid-19; pemberian insentif dan santunan kematian tenaga kesehatan; dan penyediaan obat buffer bencana/KLB/

penanganan darurat; serta penanggulangan Covid-19 di masyarakat.

Tahun 2021 Kemenkes melanjutkan kegiatan prioritas dan strategis di bidang kesehatan salah satu fokusnya adalah reformasi sistem kesehatan yang kegiatannya terdiri dari: 1) menjaga pemenuhan cakupan Penerima Bantuan Iuran (PBI) dalam rangka JKN dengan target 96,8 juta jiwa, dan peningkatan ketepatan sasaran; dan 2) melakukan reformasi sistem kesehatan nasional dengan melakukan percepatan pemulihan Covid-19, memperkuat pelaksanaan program generasi unggul, meningkatkan sinergi dan koordinasi pusat dan daerah, memperkuat kesiapan dan kesiagaan sistem kesehatan nasional, dan meningkatkan pelayanan kesehatan menuju cakupan kesehatan semesta dalam pemenuhan target prioritas nasional dalam pembangunan kesehatan.

Anggaran Kemenkes tahun 2021 sebagian besar digunakan untuk program pelayanan kesehatan dan JKN sebesar Rp66.853,2 miliar dengan melakukan kegiatan percepatan pemulihan di bidang kesehatan yang terdampak Covid-19 seperti: menyelenggarakan penyediaan vaksin, penggantian klaim biaya perawatan pasien, penguatan kesiapsiagaan bidang kesehatan dalam menghadapi pandemi Covid-19, dan peningkatan layanan kesehatan online melalui dashboard satu data kesehatan.

Dan anggaran Kemenkes tahun 2022 sebagian besar akan digunakan untuk program pelayanan kesehatan dan JKN sebesar Rp78.182,12 miliar. selain dari program pelayanan kesehatan, adapun beberapa kebijakan yang akan dilakukan pada tahun 2022 terkait dengan pandemi Covid-19.

Kebijakan pemerintah tahun 2022 dalam pemulihan pandemi Covid-19 akan lebih terkendali dengan berbagai langkah penanganan sistematis dan program vaksinasi yang sebagian besar sudah menjangkau masyarakat, menerapkan protokol kesehatan, dan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) secara komprehensif dan massif akan menjadi keberhasilan penanganan Covid- 19, pulihnya konsumsi masyarakat, dan prospek pertumbuhan ekonomi yang secara langsung mampu meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk melakukan aktivitas dan mobilitas.

Di tengah upaya keras untuk menangani masalah kesehatan dan memulihkan perekonomian

nasional dengan anggaran yang tidak sedikit, pemerintah perlu memperkuat instrumen APBN untuk

merespon dampak negatif peningkatan kasus Covid-19 kepada perekonomian. Ekspektasi pemulihan

ekonomi harus terus didorong dengan tanpa mengesampingkan pengendalian pandemi Covid-19,

termasuk mempercepat pelaksanaan vaksinasi dan kedisiplinan masyarakat dalam menerapkan

protokol kesehatan yang akan sangat menentukan laju pemulihan perekonomian ke depan.

(7)

www.puskajianggaran.dpr.go.id puskajianggaran @puskajianggaran

Kesejahteraan Rakyat Budget Issue Brief Vol 01, Ed 15, September 2021 ISSN 2775-7994 1

Komisi X KESEJAHTERAAN RAKYAT

Fokus pemerintah dalam hal peningkatan kualitas sumber daya manusia salah satunya ditunjukkan dengan ditetapkannya mandatory spending pada sektor pendidikan dalam APBN sebesar 20 persen sejak tahun 2009. Alokasi anggaran yang besar pada sektor pendidikan diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, alokasi anggaran tersebut belum menunjukkan kinerja yang maksimal yang dapat terlihat dari Human Capital Index (HCI) yang belum optimal, rendahnya rata- rata lama sekolah, skor PISA yang belum meningkat secara signifikan, ketimpangan akses pendidikan terutama pada tingkat pendidikan menengah ke atas, ketersediaan sarana dan prasarana (sarpras) yang belum merata, tingkat partisipasi PAUD yang masih belum optimal, dan masih adanya mismatch pendidikan vokasi dengan kebutuhan industri.

Selama periode 2017-2019, pemerintah telah memanfaatkan anggaran pendidikan untuk melaksanakan beberapa kebijakan dalam mengatasi tantangan dan permasalahan di bidang pendidikan, antara lain: (1) penerapan BOS berbasis kinerja pada tahun 2019; (2) pelaksanaan rehabilitasi sarpras pendidikan oleh KemenPUPR; (3) perluasan program beasiswa melalui KIP Kuliah; (4) memperkuat pendidikan vokasi melalui pengembangan BLK Komunitas; (5) pelaksanaan Program Kartu Prakerja mulai tahun 2020; (6) pengalokasian dana abadi bidang pendidikan; dan (7) pelaksanaan bantuan kuota internet.

Kebijakan-kebijakan tersebut telah mencapai beberapa capaian, diantaranya (1) pemberian bantuan PIP mencapai kisaran 20,1 juta jiwa; (2) pemberian beasiswa Bidikmisi dan diperluas menjadi KIP kepada 1.164,8 ribu mahasiswa tahun 2021; (3) pemberian beasiswa melalui program LPDP telah mencapai 42.616 sampai dengan akhir Juli 2021; (4) revitalisasi pendidikan vokasi; dan (5) memperkuat lembaga pengelola dana abadi pendidikan sebagai Endowment Fund (EF) pendidikan.

Pada tahun 2022, arah kebijakan anggaran pendidikan akan melanjutkan pelaksanaan reformasi pendidikan yang telah dilaksanakan pada tahun 2021 dan untuk merespon dinamika pembangunan di bidang pendidikan. Secara umum kebijakan pendidikan akan difokuskan untuk mendukung beberapa hal sebagai berikut: (1) peningkatan sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah serta antara kementerian/lembaga; (2)

• Alokasi anggaran yang besar pada sektor pendidikan diharapkan mampu meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Namun, alokasi anggaran tersebut belum menunjukkan kinerja maksimal.

• Selama periode 2017-2019, pemerintah telah memanfaatkan anggaran pendidikan untuk melaksanakan beberapa kebijakan dalam mengatasi tantangan dan permasalahan di bidang pendidikan,

• Pada tahun anggaran 2022, arah kebijakan anggaran pendidikan akan melanjutkan pelaksanaan reformasi pendidikan dan

merespon dinamika

pembangunan di bidang pendidikan.

• Alokasi anggaran pada RAPBN tahun 2022 sebesar Rp541,7 triliun. Jumlah tersebut dialokasikan melalui Belanja Pemerintah Pusat, TKDD, dan investasi pemerintah.

HIGHLIGHTS

PUSAT KAJIAN ANGGARAN

Badan Keahlian DPR RI

Penanggung Jawab Dr. Asep Ahmad Saefuloh, S.E Redaktur:

Slamet Widodo · Marihot Nasution · Martha Carolina · Mutiara Shinta Andini · Savitri Wulandari Penulis

Savitri Wulandari · Iranisa

Anggaran Pendidikan Tahun 2022 & Perkembangannya

(8)

2 Kesejahteraan Rakyat Budget Issue Brief Vol 01, Ed 15, September 2021 ISSN 2775-7994

penguatan penyelenggaraan PAUD melalui penguatan dukungan anggaran BOP PAUD dan Dana Desa;

(3) pemerataan sarpras pendidikan dengan mempercepat rehabilitasi sarpras dan pengembangan platform pembelajaran berbasis TIK; (4) peningkatan kompetensi dan profesionalisme guru; (5) penguatan pendidikan vokasi; (6) penguatan investasi pemerintah di bidang pendidikan; (7) penguatan pendidikan karakter bangsa yang berlandaskan pada Pancasila; (8) peningkatan literasi melalui penyediaan bahan bacaan non teks khusus wilayah 3T dan pelatihan instruktur literasi serta pembinaan komunitas literasi; (9) peningkatan infrastruktur, terutama daerah yang belum terjangkau internet; (10) penguatan dukungan penyelenggaraan pendidikan pesantren atau pendidikan agama lainnya agar dapat setara dengan pendidikan umum lainnya; dan (11) meningkatkan perhatian kepada guru honorer.

Pelaksanaan kebijakan-kebijakan tersebut didukung dengan alokasi anggaran pada RAPBN tahun 2022 sebesar Rp541,7 triliun. Jumlah tersebut dialokasikan melalui Belanja Pemerintah Pusat, Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD), dan investasi pemerintah pada pos pembiayaan.

Perkembangan anggaran pendidikan tahun 2017-2022 dapat dilihat pada gambar di bawah ini.

Anggaran pendidikan melalui Belanja Pemerintah Pusat pada tahun 2022 sebesar Rp181,7 triliun yang akan dimanfaatkan diantaranya untuk melaksanakan program-program yang bertujuan untuk membebaskan biaya pendidikan bagi siswa tidak mampu dan meringankan bagi siswa lainnya.

Pada tahun 2022, jumlah siswa yang menerima BOS sebanyak 54 juta siswa, pemberian bantuan melalui Kartu Indonesia Pintar (KIP) kepada 20,2 juta siswa, program Bidikmisi/KIP Kuliah ditargetkan sebanyak 650,6 ribu orang. Anggaran pendidikan juga dilakukan melalui TKDD yang direncanakan sebesar Rp290,5 triliun. Anggaran ini dimanfaatkan untuk mendukung perbaikan dan peningkatan sarpras pendidikan berdasarkan target “ketuntasan intervensi” dalam mendukung Program Merdeka Belajar. Anggaran pendidikan melalui TKDD terdiri dari Dana Transfer Umum, DAK Fisik Bidang Pendidikan yang direncanakan sebesar Rp18,4 triliun, DAK Nonfisik Bidang Pendidikan direncanakan sebesar Rp115,1 triliun, Dana Insentif Daerah, dan Dana Otonomi Khusus. Selanjutnya, anggaran pendidikan juga dialokasikan salah satunya melalui investasi pemerintah dalam pos pengeluaran pembiayaan melalui Dana Pengembangan Pendidikan Nasional (DPPN) sebesar Rp20 triliun dan imbal hasil yang diharapkan sepanjang tahun 2022 ialah minimal sebesar Rp3,6 triliun.

Pada tahun 2022 beberapa kebijakan akan tetap dilanjutkan, misalnya seperti Program Kartu

Prakerja masih terus akan dilanjutkan dengan target sekitar 2,8 juta peserta dengan proyeksi

kebutuhan anggaran sekitar Rp11 triliun yang ditujukan untuk meningkatkan kualitas SDM para

pencari kerja baru maupun yang sedang bekerja. Pada tingkat pendidikan vokasi juga akan dilakukan

peningkatan melalui program kampus merdeka yang ditujukan untuk menciptakan integrasi

pendidikan vokasi dan dunia kerja. Perbaikan kebijakan juga terus tetap dilaksanakan dan tidak

hanya berfokus pada perbaikan kualitas sarana dan prasarana pendidikan, namun juga pada kualitas

pembelajaran.

Referensi

Dokumen terkait